Anda di halaman 1dari 10

TEMU 8

STANDAR AKUNTANSI YANG BERLAKU

KELOMPOK 2

Nama Kelompok : No Absen :

Ni Putu Swandewi (28)

Ni Made Leny Pebriyaningrum (30)

Ni Luh Yuni Pratiwi (31)

PROGRAM REGULER SORE 2018

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR BALI
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...................................................................................................................i

PETA KONSEP ..............................................................................................................ii

PEMBAHASAN

A. PSAK No.1 : Penyajian Laporan Keuangan ...........................................................1

B. IFRS 1 : First-time Adoption of International Financial Reporting Standards ......3

SIMPULAN ....................................................................................................................6

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................................7

i
PETA KONSEP

ii
A. PSAK No. 1 : PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN

PSAK No 1

Pernyataan ini mengatur persyaratan penyajian laporan keuangan, struktur laporan


keuangan, dan persyaratan minimal isi laporan keuangan. Entitas menerapkan Pernyataan ini
dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan bertujuan umum sesuai dengan SAK.
Pernyataan ini tidak berlaku bagi penyusunan dan penyajian laporan keuangan entitas syariah.

Komponen laporan keuangan lengkap terdiri dari:

a) laporan posisi keuangan pada akhir periode;


b) laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain selama periode;
c) laporan perubahan ekuitas selama periode;
d) laporan arus kas selama periode;
e) catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan dan
informasi penjelasan lain;
 informasi komparatif mengenai periode terdekat sebelumnya sebagaimana
ditentukan dalam paragraf 38 dan
f) 38A; dan laporan posisi keuangan pada awal periode terdekat sebelumnya ketika entitas
menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian
kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam
laporan keuangannya sesuai dengan paragraf 40A-40D.

Karakteristik Umum Penyajian Laporan Keuangan


1. Penyajian secara Wajar dan Kepatuhan terhadap SAK
Laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan,
dan arus kas entitas. Penyajian yang wajar mensyaratkan penyajian secara jujur dampak
dari transaksi, peristiwa lain dan kondisi sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan
aset, liabilitas, penghasilan dan beban yang diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan
dan Penyajian Laporan Keuangan. Entitas yang laporan keuangannya telah patuh
terhadap SAK membuat pernyataan secara eksplisit dan tanpa kecuali tentang
kepatuhan terhadap SAK dalam catatan atas laporan keuangan.
2. Kelangsungan Usaha

1
Penyajian laporan keuangan harus disusun berdasar asumsi kelangsungan
usaha. Dalam mempertimbangkan apakah asumsi kelangsungan usaha adalah tepat,
manajemen memperhatikan informasi masa depan paling sedikit namun tidak dibatasi
untuk 12 bulan dari akhir periode pelaporan. Jika terdapat ketidakpastian mengenai
kelangsungan usaha entitas harus mengungkapkan ketidakpastian tersebut, dasar
penyajian laporan keuangan, dan alasannya.

3. Dasar Akrual
Entitas menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas.
Aset, liabilitas, ekuitas, pendapatan diakui ketika memenuhi definisi dan kriteria
pengakuan di kerangka dasar (framework).
4. Materialitas dan Penggabungan
Pengelompokan secara terpisah berdasar sifat atau fungsi. Jika nilainya tidak
material, penyajian bisa digabung dengan pos lain yang sejenis dalam laporan keuangan
atau disajikan terpisah dalam catatan atas laporan keuangan.
5. Saling Hapus
Entitas tidak boleh melakukan saling hapus atas aset dan liabilitas atau
pendapatan dan beban kecuali disyaratkan atau diijinkan oleh PSAK. Pengecualian:
pengukuran aset secara neto setelah dikurangi penyisihan penilaian misalnya
keusangan atas persediaan dan penyisihan piutang tak tertagih, bukan kategori saling
hapus.
6. Frekuensi Pelaporan
Entitas menyajikan laporan keuangan lengkap setidaknya secara tahunan. Jika
akhir periode pelaporan entitas berubah dan laporan keuangan disajikan untuk periode
yang lebih panjang atau lebih pendek daripada 1 tahun
7. Informasi Komparatif
Informasi kuantitatif diungkapkan secara komparatif dengan periode
sebelumnya untuk seluruh jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan periode
berjalan, kecuali dinyatakan lain oleh PSAK/ ISAK. Informasi komparatif yang bersifat
naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya diungkapkan kembali
jika relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan.
8. Konsistensi Penyajian
Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam Laporan Keuangan antar periode
dilakukan secara konsisten, kecuali : Setelah terjadi perubahan yang signifikan terhadap

2
sifat operasi entitas atau kajian ulang atas laporan keuangan, terlihat secara jelas bahwa
penyajian atau pengklasifikasian yang lain akan lebih tepat untuk digunakan dengan
mempertimbangkan kriteria untuk penentuan dan penerapaan kebijakan akuntansi
dalam PSAK 25 : Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan
kesalahan.

Perbedaan antara PSAK No. 1 Tahun 2013 dengan PSAK No. 1 Tahun 2009
Terdapat perubahan antara PSAK No. 1 Tahun 2013 dengan PSAK No. 1 Tahun 2009.
Perubahan tersebut didasarkan atas:

1. Perbaikan dengan penggunaan istilah yang lebih tepat


2. Pengaruh perkembangan PSAK lain yang belum dikeluarkan tahun 2009
3. Mengikuti perubahan terakhir IAS 1 Tahun 2010 yaitu pemisahaan
penghasilan komprehensif lain dan penyajian informasi komparatif
4. Sikronisasi dengan IAS terkait format
5. Pendekatan penyajian standar dengan revisi – tidak menyajikan ulang semua
standar
6. Efektif berlaku 1 Januari 2015, tidak ada penerapan dini
7. Terdapat perbedaan IAS 1 dengan PSAK 1.

B. IFRS 1 : FIRST-TIME ADOPTION OF INTERNATIONAL FINANCIAL


REPORTING STANDARDS
Pengertian IFRS
IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International
Accounting Standard Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional (International
Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar
Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional
Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasioanal (IFAC). Badan Standar
Akuntansi Internasional (IASB) yang dahulu bernama Komisi Standar Akuntansi Internasional
(AISC), merupakan lembaga independen untuk menyusun standar akuntansi. Organisasi ini
memiliki tujuan mengembangkan dan mendorong penggunaan standar akuntansi global yang
berkualitas tinggi, dapat dipahami dan dapat diperbandingkan (Choi et al., 1999 dalam Intan
Immanuela, puslit2.petra.ac.id) Natawidnyana(2008), menyatakan bahwa Sebagian besar
standar yang menjadi bagian dari IFRS sebelumnya merupakan International Accounting
Standards (IAS). IAS diterbitkan antara tahun 1973 sampai dengan 2001 oleh International
Accounting Standards Committee (IASC). Pada bulan April 2001, IASB mengadospsi seluruh
IAS dan melanjutkan pengembangan standar yang dilakukan.

3
Konvergensi IFRS
Pengertian konvergensi IFRS yang digunakan merupakan awal untuk memahami
apakah penyimpangan dari PSAK harus diatur dalam standar akuntansi keuangan. Pendapat
yang memahami konvergensi IFRS adalah full adoption menyatakan Indonesia harus
mengadopsi penuh seluruh ketentuan dalam IFRS, termasuk penyimpangan dari IFRS
sebagaimana yang diatur dalam IAS 1 (2009): Presentation of Financial Statements paragraf
19-24. IFRS menekankan pada principle base dibandingkan rule base.
Tujuan akhir dari konvergensi IFRS adalah PSAK sama dengan IFRS tanpa adanya
modifikasi sedikitpun. Di sisi lain, tanpa perlu mendefinisikan konvergensi IFRS itu sendiri,
berdasarkan pengalaman konvergensi beberapa IFRS yang sudah dilakukan di Indonesia tidak
dilakukan secara full adoption.
Sistem kepengurusan perusahaan di Indonesia yang memiliki dewan direksi dan dewan
komisaris (dual board system) berpengaruh terhadap penentuan kapan peristiwa setelah tanggal
neraca, sebagai contoh lain dari perbedaan antara PSAK dengan IFRS. Indonesia melalui
Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) – Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sedang
melakukan proses konvergensi IFRS dengan target penyelesaian tahun 2012. IFRS
menekankan pada principle base dibandingkan rule base.
Indonesia mengadopsi IFRS secara penuh pada 2012, Strategi adopsi yang dilakukan
untuk konvergensi ada dua macam, yaitu big bang strategy dan gradual strategy. Big bang
strategy mengadopsi penuh IFRS sekaligus, tanpa melalui tahapan – tahapan tertentu. Strategi
ini digunakan oleh negara – negara maju. Sedangkan pada gradual strategy, adopsi IFRS
dilakukan secara bertahap. Strategi ini digunakan oleh negara – negara berkembang seperti
Indonesia.
Sasaran Konvergensi IFRS tahun 2012, yaitu merevisi PSAK agar secara material
sesuai dengan IFRS versi 1 Januari 2009 yang berlaku efektif tahun 2011/2012, Konvergensi
IFRS di Indonesia dilakukan secara bertahap. Adapun manfaat yang diperoleh dari konvergensi
IFRS adalah memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan penggunaan SAK yang
dikenal secara internasional, meningkatkan arus investasi global melalui transparansi,
menurunkan biaya modal dengan membuka peluang fund raising melalui pasar modal secara
global, menciptakan efisiensi penyusunan laporan keuangan.

Alasan perlunya konvergensi ke IFRS adalah :

4
1. Mengurangi peran dari badan otoritas dan panduan terbatas pada industri-industri
spesifik.
2. Pendekatan terbesar pada subtansi atas transaksi dan evaluasi dimana merefleksikan
realitas ekonomi yang ada.
3. Peningkatan daya banding laporan keuangan dan memberikan informasi yang
berkualitas di pasar modal internasional.
4. Menghilangkan hambatan arus modal internasional dengan mengurangi perbedaan
dalam ketentuan pelaporan keuangan.
5. Mengurangi biaya pelaporan keuangan bagi perusahaan multinasional dan biaya untuk
analisis keuangan bagi para analis.
6. Meningkatkan kualitas pelaporan keuangan menuju “best practise”.

Manfaat Konvergensi IFRS :


1. Memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan penggunaan Standar
Akuntansi keuangan yang dikenal secara internasional
2. Meningkatkan arus investasi global melalui transparansi
3. Menurunkan modal dengan membuka peluang fund raising melalui pasar modal secara
global.

5
SIMPULAN

PSAK No.1 mengatur tentang persyaratan penyajian laporan keuangan, struktur


laporan keuangan, dan persyaratan minimal isi laporan keuangan. Entitas menerapkan
Pernyataan ini dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan bertujuan umum sesuai
dengan SAK. Karakteristik Umum Penyajian Laporan Keuangan : (1) Penyajian secara Wajar
dan Kepatuhan terhadap SAK; (2) Kelangsungan Usaha; (3) Dasar Akrual; (4) Materialitas dan
Penggabungan; (5) Saling Hapus; (6) Frekuensi Pelaporan; (7) Informasi Komparatif;
(8)Konsistensi Penyajian

Tujuan akhir dari konvergensi IFRS adalah PSAK sama dengan IFRS tanpa adanya
modifikasi sedikitpun. Di sisi lain, tanpa perlu mendefinisikan konvergensi IFRS itu sendiri,
berdasarkan pengalaman konvergensi beberapa IFRS yang sudah dilakukan di Indonesia tidak
dilakukan secara full adoption.
Sistem kepengurusan perusahaan di Indonesia yang memiliki dewan direksi dan dewan
komisaris (dual board system) berpengaruh terhadap penentuan kapan peristiwa setelah tanggal
neraca, sebagai contoh lain dari perbedaan antara PSAK dengan IFRS. Indonesia melalui
Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) – Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sedang
melakukan proses konvergensi IFRS dengan target penyelesaian tahun 2012. IFRS
menekankan pada principle base dibandingkan rule base.

6
DAFTAR PUSTAKA

Suwardjono. Teori Akuntansi. Yogyakarta: BPFE.

Indonesia, Ikatan Akuntan. "PSAK No. 1." Penyajian Laporan Keuangan. Jakarta (2009).

http://hobiakuntansi.blogspot.co.id/2015/04/penyajian-laporan-keuangan-menurut-psak.html
(diakses pada tanggal 27 April 2017)
https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/04/ED_PSAK_1_2013-2013-JULI-23.pdf
(diakses pada tanggal 23 Juli 2013)
http://accounting.binus.ac.id/2014/07/11/perbedaan-antara-psak-no-1-tahun-2013-degnan-
psak-no-1-tahun-2009/
(diakses pada tanggal 11 Juni 2014)
https://galuhwardhani.wordpress.com/2012/04/18/alasan-perlunya-konvergensi-ke-ifrs/
(diakses pada tanggal 18 Maret 2012)