Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Elemen Sistem Manajemen Bencana


Manajemen bencana harus dikembangkan dan dilaksanakan secara terencana
dan sistematis. Penerapannya tidak sederhana namun membutuhkan berbagai
aktivitas yang saling terkait satu sama lainnya. Manajemen bencana juga harus
mencakup seluruh fase di mulai dari pra bencana, bencana dan pasca bencana.
Banyak sekali tugas atau kegiatan yang harus dilakukan dalam setiap fase
tersebut. Untuk itu manajemen bencana memerlukan berbagai elemen yang
mendukung penerapannya antara lain :
1. Kebijakan Manajemen
2. Identifikasi Keadaan Darurat
3. Perencanaan Awal
4. Prosedur Tanggap Darurat
5. Organisasi Tanggap Darurat
6. Sumberdaya dan Sarana
7. Pembinaan dan Pelatihan
8. Komunikasi
9. Inspeksi dan Audit
10. Investigasi dan Pelaporan

Kesepuluh elemen ini sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan


penerapan manajemen bencana.

1. Kebijakan Manajemen
Manajemen tanggap darurat harus menjadi kebutuhan dan dituangkan dalam
kebijakan manajemen. Tanpa dukungan dan keinginan dari manajemen, maka
program pengelolaan tanggap darurat tidak akan berhasil.
Kebijakan ini juga sangat penting karena sekaligus menjadi bukti komitmen
pimpinan setempat terhadap penerapan manajemen bencana di lingkungannya
masing-masing. Dengan demikian, semua pihak terkait, bawahan dan anggota tim
pengendalian bencana akan memperoleh dukungan nyata dari pimpinan setempat.

2. Identifikasi dan Penilaian Risiko Bencana (Disaster Risk Assessment)


Menurut PP No. 21 tahun 2008, risiko bencana adalah potensi kerugian yang
ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat
berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi,
kerusakan atau kehilangan harta dan gangguan kegiatan masyarakat.
Persyaratan analisis risiko bencana sebagaimana ditetapkan dalam PP tersebut
antara lain sebagai berikut :
a. Tujuan Identifikasi Bencana adalah untuk mengetahui dan menilai tingkat risiko
dari suatu kondisi atau kegiatan yang dapat menimbulkan bencana.
b. Persyaratan analisis risiko bencana disusun dan ditetapkan oleh kepala BNPB
dengan melibatkan instansi/lembaga terkait.
c. Persyaratan analisis risiko bencana digunakan sebagai dasar dalam penyusunan
analisis mengenai dampak lingkungan, penataan ruang serta pengambilan tindakan
pencegahan dan mitigasi bencana.
d. Pasal 12 : Setiap kegiatan pembangunan yang mempunyai risiko tinggi
menimbulkan bencana, wajib dilengkapi dengan analisis risiko bencana.
e. Analisis risiko bencana sebagaimana dimaksud disusun berdasarkan persyaratan
analisis risiko bencana melalui penelitian dan pengkajian terhadap suatu kondisi
atau kegiatan yang mempunyai risiko tinggi menimbulkan bencana.
f. Analisis risiko bencana dituangkan dalam bentuk dokumen yang disahkan oleh
pejabat pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
g. BNBP atau BPBD sesuai dengan kewenangannya melakukan pemantauan dan
evaluasi terhadap pelaksanaan analisis risiko bencana.
ARISCANA ( Analisa Risiko Bencana) dilakukan dengan tujuan untuk
memperoleh informasi dan data mengenai potensi bencana yang mungkin dapat
terjadi di lingkungan masing – masing serta potensi atau tingkat risiko atau
keparahannya.

Risiko adalah merupakan kombinasi antara kemungkinan dengan tingkat


keparahan bencana yang mungkin terjadi.

Risiko = Kemungkinan X Keparahan

atau dengan rumus:

Risiko = f(Bahaya X Kerentanan/Kemampuan

Kemungkinan bencana (likelihood) adalah perkiraan kemungkinan suatu


bencana dapat terjadi yang digambarkan dalam bentuk peringkat misalnya dengan
memberi angka 1 sampai 4.

Nilai Kemungkinan
1 Sangat jarang terjadi
2 Pernah terjadi misalnya sepuluh tahun yang lalu
3 Sering terjadi lebih dari 1 kali dalam setahun
4 Sering artinya dapat terjadi setia saat atau lebihh 1 kali dalam
setahun
Menurut pedoman BNPB, kemungkinan terjadinya bencana diberi peringkat
sebagai berikut:

5 Pasti Hampir dipastikan 80-90%


4 Kemungkinan besar 60-80% terjadi tahun depan, atau sekali dalam
10 tahun mendatang
3 Kemungkina terjadi 40-60% terjadi tahun depan, atau sekali dalam
100 tahun
2 Kemungkinan kecil 20-40% dalam 100 tahun
1 Kemungkinan sangat Hingga 20%
kecil

Keparahan bencana (severity) adalah perkiraan dampak atau akibat yang


ditimbulkan oleh suatu bencana baik terhadap manusia, aset, lingkungan atau sosial.
Keparahan suatu bencana dapat dibuat peringkatnya dengan memberi angka dari 1
untuk risiko yang sangat ringan sampai 4 untuk risiko atau dampak yang sangat serius
seperti contoh berikut:

Nilai Keparahan
1 Tidak memiliki dampak signifikan baik terhadap manusia maupun
terhadap manusia maupun terhadap aset atau bisnis perusahaan atau
kerugian dibawah 1 juta.
2 Menimbulkan kerugian ringan, cedera ringan, dan dampak tidak
besar terhadap organisasi, misalnya kerugian tidak lebih dari 1 juta.
3 Dampak signifikan, menimbulkan cedera serius atau kerugian besar
bagi organisasi, misalnya kerugian materi lebih dari 10 juta sampai
100 juta
4 Dampak sangat serius, jika kejadian dapat menimbulkan korban jiwa
atau kerusakan parah yang dapat mengganggu jalannya bisnis dengan
nilai kerugian lebih 1 milyar
Menurut pedoman BNPB , keparahan bencana diberi bobot sebagai berikut

5 Sangat parah 80-90% wilayah hancur


dan lumpuh total
4 Parah 60-80% wilayah hancur
3 Sedang 20-40% wilayh terkena
rusak
2 Rigan 20-40% wilayah yang
rusak
1 Sangat ringan Kurang dari 20% wilayah
rusak
Disamping cara diatas masih banyak metode lain yang dapat digunakan misalnya
metode vulnerability analisys, quantitative risk assement dan lainnya
Dari hasil analisis diatas, dapat dibuat matrik risiko sebagai kombinasi anatar
kemungkinan dan keoarahan yang menggambarkan tingkat atau peringkat suatu risiko
bencana, misalnya risiko paling tinggi bernilai 4x4 atau sama dengan 16. Selanjutnya
dari peringkat ini , dapat ditetapkan kriteria risiko bencana bagi organisasi musalnya:

I.Risiko kecil, dengan nilai risiko antara 1-8

II Risiko sedang, dengan nilai risiko antara 9-10

III.Risiko besar, dengan nilai antara 11-16

Matrik risiko dapat disusun dengan menggabungkan anatara kemungkinan


terjadinya bencana dengan keparahan jika terjadi. Pedoman penentuan risiko yang
digunakan dalam standar tersebut dapat diaplikasikan dalam manajemen bencana..

Penilaian risiko(risk analisys) yaitu kombinasi antara kemungkinan(likelihod) dengan


keparahan (severity)

3. Proses manajemen bencana


Ada tiga langkah yaitu
1. Identifikasi bencana
Identifikasi bencana dilakukan dengan melihat berbagai aspek yang ada
disuatu daerah atau perusahaan seperti lokasi, jenis kegiatan,kondisi
geografis, cuaca, alam, aktivitas manuai dan idstri dan sumber daya alam dan
lainnya yang berpotensi menimbulakn bencana. Identifikasi ini dapat
didasarkan kepada pengalaman bencana yang pernah terjadi sebelumnya dan
prediksi kemungkinan suatu bencana dapat terjadi
2. Penilaian dan evaluasi risiko bencana
a. Penilaian risiko bencana
Untuk meningkatkan tingkat risiko bencana teresebut, dapat dilakukan
melalui penilaian risiko bencana. Banyak metode dilakukan untuk
menilai risiko bencana. Misalnya dengan menggunakan sistem matrik
atau dengan menggunakan teknik yang lebih kuantitatif misalnya dengan
permodelan risiko.
b. Evaluasi risiko
Berdasarkan hasil penilaian risiko tersebut, selanjutnya ditentukan tingkat
risiko yang mungkin timbul dengan mempertimbangkan kerentanan dan
kemampuan untuk menahan atau menanggung risiko. Risiko tersebut
dibandingkan dengan kriteria yang ditetapkan, misalnya oleh pemerintah
atau berdasarkan reverensi yang ada. Untuk itu semua kegiatan seperti
pembangunan pemukiman, industri atau bangunan umum harus dibangun
dengan persyaratan tertentu sehingga tingkat risikonya dibawah batas dan
ditentukan.
3. Menentukan pengendalian bencana
Pengendalian risiko bencana menurut konsep manajemen risiko dapat
dilakukan melalui beberapa cara sebagai berikut:
a. Mengurangi kemungkinan ( reduce likelihood)
Strategi pertama adalah dengan mengurangi terjadinya bencana kecuali
bencana alam,semua bencana pada dasarnya dapat dicegah. Bencana
industri misalnya terjadi karena kesalahan manusia atau kegagalan
teknologi. Hal ini dapat dicegah atau dikurangi kemungkinan terjadinya
dengan menerapkan cara kerja yang aman, prosedur operasi yang baik
serta perencanaan teknis yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
Bencana alampun seperti fenomena pemanasan global sebenarnya dapat
dicegah karena manusia sudah tahu apa penyebabnya yaiut aktivitas
manusia dimuka bumi yang berlebihan.
b. Mengurangi keparahan(reduce consequences)
Jika kemungkinan bencana tidak dapat dikurangi atau dihilangkan maka
langkah yang harus dilakukan adalah mengurangi keparahan atau
konsekuensi yang ditimbulkannya.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan

3.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA