Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


1. Menentukan kecepatan disolusi suatu zat.
2. Mempelajari pengaruh suhu dan kecepatan pengadukan terhadap
kecepatan disolusi suatu zat.

1.2 Landasan Teori


1.2.1 Larutan
Larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atai lebih zat. Zat
yang jumlahnya lebih sedikit didalam larutan tersebut disebut zat terlarut,
sedangkan yang jumlahnya lebih banyak daripada zat lain yang ada didalam
larutan disebut pelarut. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan
dinyatakan dalam konsentrasi larutan, sedangkan proses pencampuran zat terlarut
dan pelarut membentuk larutan disebut pelarutan (Underwood, 1981).
Konsentrasi larutan menyatakan secara kuantitatif komposisi zat terlarut
dan pelarut dalam larutan. Konsentrasi umumnya dinyatakan dalam perbandingan
jumlah zat terlarut dengan jumlah pelarut. Contoh, beberapa satuan konsentrasi
adalah molar, molal, dan ppm. Sementara itu secara kualitatif komposisis larutan
dapat dinyatakan sebagai encer atau pekat (Underwood, 1981).
Bila komponen pada zat terlarut ditambahkan terus menerus ke dalam
pelarut, pada suatu titik komponen yang ditambahkan tidak dapat larut lagi.
Jumlah zat terlarut dalam larutan adalah maksimal dan larutannya disebut laruan
jenuh. Titik tercapainya keadaan jenuh larutan sangat mempengaruhi oleh
berbagai faktor lingkungan seperti suhu, tekanan, dan kontaminasi. Secara umum,
kelarutan zat (yaitu jumlah zat yang dapat terlarut dalam pelarut tertentu)
sebanding terhadap suhu. Hal ini terutama berlaku pada zat padat, walaupun ada
pengecualian. Kelarutan zat cair lainnya secara umum kurang peka terhadap suhu
daripada kelarutan padatan atau gas dalam zat cair (Underwood, 1981).

1
1.2.2 Disolusi
Pelepasan zat aktif sangat dipengaruhi oleh sifat fisikokimia zat aktif dan
bentuk sediaan. Ketersediaan zat aktif biasanya ditetapkan oleh kecepatan
pelepasan zat aktif dari bentuk ditentukan oleh kecepatan melarutnya dalam medai
sekelilingnya. Disolusi didefinisikan sebagai zat proses dimana suatu zat padat
masuk kedalam pelarut menghasilkan suatu larutan. Secara sederhana, disolusi
merupakan proses dimana zat padat melarut secara prinsip dikendalikan oleh
afinitas zat padat dan pelarut (Bird, 1987).
Karakteristik fisik sediaan, proses pembahasan sediaan kemampuan
penetrasi media disolusike dalam sediaan, proses pengembangan, proses integrasi
dan degrasi. Sediaan merupakan sebagian dari faktor yang mempengaruhi proses
karakteristik disolusi suatu zat (Bird, 1987).
Disolusi adalah suatu jenis khusus dari suatu reaksi heterogen yang
menghasilkan transfer massa karena adanya pelepasan dari pembahasan
menyeluruh ke pelarut dari permukaan padat. Didalam pembahasan untuk
memahami mekanisme disolusi, digunakan model atau gabungan dari beberapa
model, antara lain: (Bird, 1987)
a. Model Lapisan Difusi
Model ini pertama kali diusulkan oleh Nerst dan Bunner. Pada
permukaan padat terdapat satu lapisan tipis cairan dengan ketebalan L,
merupakan komponen kecepatan negatif dengan arah berlawanan dengan
permukaan padat. Reaksi pada permukaan padat-cair berlangsung cepat.
Begitu model solute melewati antar muka liquid film – bulk film,
pencampuran secara cepat akan terjadi dan gradien konsentrasi akan
hilang. Karena itu kecepatan disolusi ditentukan oleh difusi dengan
gerakan Brown dari molekul dalam liquid film.
b. Model Barrier Antar Muka
Model ini menggambarkan reaksi yang terjadi pada permukaaan
padat dan dalam hal ini terjadi difusi sepanjang lapisan tipis cairan.
Sebagai hasilnya, tidak dianggap adanya kesetimbangan padatan-larutan,
dan hal ini harus dijadikan pegangan dalam membahas model ini. Proses
pada antar muka padat-cair sekarang menjadi pembatas kecepatan ditinjau

2
dari proses transpor. Transpor yang relatif cepat terjadi secara difusi
melewati lapisan tipis statis.
c. Model Dankwart
Model ini beranggapan bahwa transpor solut menjauhi permukaan
padat terjadi melalui cara paket makroskopik pelarut mencapai antar muka
padat-cair karena terjadi pusaran difusi secara acak. Paket pelarut terlihat
pada permukaan padatan. Selama berada pada antar muka, paket mampu
mengarbsorpsi solute menurut hukum difusi iasa, dan kemudian
digantikan oleh paket pelarut segar. Jika dianggap reaksi pada permukaan
padat terjadi segera, proses pembaharuan permukaan tersebut terkait
dengan kecepatan transpor solute atau dengan kata lain disolusi.
Menurut Brady (1992), kecepatan disolusi dapat ditentukan menurut
beberapa metoda sebagai berikut:
a. Metoda Suspensi
Serbuk zat padat ditambahkan kedalam pelarut tanpa pengontrolan
eksak terhadap luar permukaan partikelnya. Sampel diambil pada waktu-
waktu tertentu dan jumlah zat yang larut ditentukan dengan cara yang
sesuai.
b. Metoda Permukaan Konstan
Zat ditempatkan dalam suatu wadah yang diketahui luatnya
sehingga variabel perbedaan luas permukaan efektif dapat diabaikan.
Penentuan dengan metoda suspensi dapat dilakukan dengan alat uji
disolusi tipe dayung. Sedangkan untuk metoda permukaan tetap digunakan
alat.

Gambar 1.1 Alat Uji Disolusi

3
Menurut Martin (2008), faktor yang mempengaruhi disolusi sebagai
berikut:
a. Suhu
Suhu akan mempengaruhi kecepatan melarut zat. Perbedaan sejauh
5% akan menyebabkan oleh adanya perbedaan suhu satu derajat.
b. Medium
Medium yang paling aman adalah air, bufer dan 0,1 N HCl. Dalam
beberapa hal zat tidak larut dalam larutan air, maka zat organik yang dapat
berubah. Sifat ini atau surfaktan digunakan untuk menambah kelarutan zat
didalam medium bukan meripakan faktor penentu dalam proses disolusi.
Untuk mencapai keadaan “sink” maka perbandingan zat aktif dalam
volume medium harus dijaga tetap pada kadar 3-10 kali lebih besar
daripada jumlah yang diperlukan bagi satuan larutan jenuh.
c. Kecepatan Pengadukan
Kenaikan dalam pengadukan akan mempercepat kelarutan.
Umumnya kecepatan pengadukan yang dipakai adalah 50 rpm atau 100
rpm. Perputaran diatas 100 rpm tidak menghasilkan data yang dapat
dipakat untuk membeda-bedakan hasil kecepatan pengadukan.
d. Kecepatan Letak Vertikal Poros
Disini termasuk tegak lurusnya poros perputaran dayung atau
wadah, tinggi dan ketepatan posisi dayung atau wadah harus sentris. Letak
yang kurang sentral dapat menimbulkan hasil yang tinggi, karena hal ini
mengakibatkan pengadukan yang lebih hebat didalam wadah.
e. Ukuran Partikel
Jika partikel zat berukuran kecil maka luar permukaan efektif
menjadi besar sehingga kecepatan disolusi meningkat.
f. Polimorfisme
Kelarutan zat dipengaruhi oleh polimorfisme. Struktur internal zat
yang berlainan dapat memberikan tingkat kelarutan yang berbeda juga.
g. Sifat Permukaan Zat
Pada umumnya zat-zat yang digunakan sebagai bahan obat bersifat
hidrofob. Dengan adanya surfaktan didalam pelarut, tegangan permukaan

4
antar partikel zat dengan pelarut akan menurun sehingga zat mudah
terbasahi dan kecepatan disolusi bertambah.

1.2.3 Asam Salisilat

Gambar 1.2 Struktur Asam Salisilat


Asam salisilat memiliki rums molekul C6H4COOHOH berbentuk kristal
berwarna merah muda terang hingga kecoklatan yang memiliki berat molekul
sebesar 138,123 g/mol dengan titik leleh sebesar 156oC dan senditas pada 25oC
sebesar 1.443 g/ml. Mudah larut dalam air dingin tetapi dapat melarutkan dalam
keadaan panas. Asam salisilat dapat menyublim tetapi dapat terdekomposisi
dengan mudah menjadi karbon dioksida dan phenol bila dipanaskan secara cepat
pada suhu sekitar 200oC (Perry, 2009).
Bahan baku utama dalam pembuatan asam salisilat adalah phenol, NaOH,
karbon dioksida dan asam sulfat. Asam salisilat kebanyakan digunakan sebagai
obat-obatan dan sebagai bahan intermediet pada pabrik obat dan pabrik farmasi
seperti aspirin dan beberapa turunannya. Sebagai antiseptik, asam salisilat zat
yang mengiritasi kulit dn selapus lendir. Asam salisilat tidak diserap oleh kulit,
tetapu membunuh sel epidermis dengan sangat cepat tanpa memberikan efek
langsung pada sel epidermis (Perry, 2009).
Setelah pemakaian beberapa hari akan menyebabkan terbentuknya lapiran-
lapisan kulit yang bar. Obat ini sangat spesifik yang biasanya terjadi akibat
rematik, menghilangkan sakit secara keseluruhan, dan beberapa saat setelah
pemakainnya akan menurunkan temperatur suhu tubuh kembali normal (Perry,
2009).

5
Asam salisilat (10-20%) dalam larutan yang terdiri dari asam nitrat,
selulosa dalam eter dan alkohol digunakan sebagai penghilang kutil. Selain
digunakan sebagai bahan utama pembuatan aspirin, asam salisilat dapat digunakan
sebagai bahan baku obat (Perry, 2009).

Menurut Brady (1992), sifat fisika dan Kimia asam salisilat sebagai
berikut:

Tabel 1.1 Sifat Fisika Asam Salisilat


Rumus Molekul C7H6O3
Titik Lebur 1590C
Titik Didih 2110C
Tekanan Uap 1 mmHg pada 330C
Densitas 1,44 gram/cm3
Massa Molar 138,2 gram/mol

Tabel 1.2 Sifat Kimia Asam Salisilat


Kelarutan Larut dalam 550 bagian air dan dalam
4 bagian etanol (195%) mudah larut
dalam kloroform dan ester.
Sifat Larutannya - Tidak cepat menguap
- Tidak mudah terbakara

6
BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

2.1 Alat yang Digunakan


1. Mechanical Stirrer
2. Water bath
3. Gelas kimia 500 ml (1buah)
4. Termometer (1 buah)
5. Pipet ukur 50 ml (1 buah)
6. Gelas ukur 100 ml (1 buah)
7. Buret 50 ml (1 buah)
8. Erlenmeyer 100 ml (4 buah)
9. Stopwatch
10. Statip dan Klem
11. Neraca analitik

2.2 Bahan yang Digunakan


1. Asam salisilat
2. NaOH
3. Indikator pp
4. Akuadest

2.3 Prosedur Kerja


2.3.1 Pengaruh kecepatan pengadukan terhadap kecepatan disolusi zat
1. Gelas kimia diisi dengan 400 ml akuades.
2. Termometer dipasang pada bejana, untuk mengamati suhu larutan.
3. Bejana ditempatkan dalam water bath pada suhu ruang, 1 gram asam
salisilat dimasukkan ke dalam bejana, lalu hidupkan motor pengaduk pada
kecepatan 100 rpm.
4. Diambil sebanyak 20 ml larutan dari bejana selang waktu 1, 5, 10, 15, dan
20 menit setelah pengadukan. Setiap selesai pengambilan sampel, segera
gantikan dengan 20 ml akuades.

7
5. Kadar asam salisilat yang terlarut ditentukan dari setiap sampel dengan
cara titrasi asam basa menggunakan NaOH 0,05 N dan indikator pp.
Koreksi perhitungan kadar yang diperoleh dilakukan setiap waktu terhadap
pengenceran yang dilakukan karena penggantian larutan dengan akuades.
6. Percobaan yang sama dilakukan untuk kecepatan pengadukan 200 rpm.
7. Hasil yang diperoleh ditabelkan.
2.3.2 Pengaruh suhu terhadap kecepatan disolusi zat
1. Gelas kimia diisi dengan 400 ml akuades.
2. Termometer dipasang pada bejana, untuk mengamati suhu larutan.
3. Bejana ditempatkan dalam water bath pada suhu ruang, 1 gram asam
salisilat dimasukkan ke dalam bejana, lalu hidupkan motor pengaduk pada
kecepatan 100 rpm.
4. Diambil sebanyak 20 ml larutan dari bejana selang waktu 1, 5, 10, 15, dan
20 menit setelah pengadukan. Setiap selesai pengambilan sampel, segera
gantikan dengan 20 ml akuades.
5. Kadar asam salisilat yang terlarut ditentukan dari setiap sampel dengan
cara titrasi asam basa menggunakan NaOH 0,05 N dan indikator pp.
Koreksi perhitungan kadar yang diperoleh dilakukan setiap waktu terhadap
pengenceran yang dilakukan karena penggantian larutan dengan akuades.
6. Percobaan yang sama dilakukan untuk suhu 40oC dan 50oC.
7. Hasil yang diperoleh ditabelkan.

8
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Praktikum


Tabel 3.1 Pengaruh Kecepatan Pengadukan terhadap Kecepatan Disolusi pada
Suhu Ruang

Waktu 100 rpm 200 rpm

(Menit) N(A.salisilat) V(NaOH) N(A.salisilat) V(NaOH)

1 menit 0,00125 N 0,5 ml 0,0015 N 0,6 ml

5 menit 0,00175 N 0,7 ml 0,002 N 0,8 ml

10 menit 0,00225 N 0,9 ml 0,003 N 1,2 ml

15 menit 0,00275 N 1,1 ml 0,003 N 1,2 ml

20 menit 0,003 N 1,2 ml 0,00325 N 1,3 ml

Tabel 3.2 Pengaruh Suhu terhadap Kecepatan Disolusi pada Kecepatan 100 rpm

Waktu 400 C 500 C

(Menit) N(A.salisilat) V(NaOH) N(A.salisilat) V(NaOH)

1 menit 0,00225 N 0,9 ml 0,0025 N 1 ml

5 menit 0,0025 N 1 ml 0,00275 N 1,1 ml

10 menit 0,003 N 1,2 ml 0,00275 N 1,1 ml

15 menit 0,003 N 1,2 ml 0,003 N 1,2 ml

9
20 menit 0,00325 N 1,3 ml 0,0035 N 1,4 ml

3.2 Pembahasan

Pada percobaan ini, dilakukan uji kecepatan disolusi yang bertujuan untuk
menentukan kecepatan disolusi suatu zat dengan variabel yang mempengaruhi
adalah kecepatan pengadukan dan suhu. Faktor tersebut yang dapat menentukan
banyaknya suatu zat larut terhadap pelarut tertentu. Kecepatn disolusi adalah
suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu zat terlarut pada pelarut tertentu
pada setiap satuan waktu. Proses penentuan kecepatan disolusi pada percoban
yaitu menggunakan variabel suhu dan kecepatan pengadukan yang divariasikan.
Kecepatan pengadukan dan suhu merupakan faktor yng mempengaruhi besarnya
kecepatan disolusi.
Langkah awal untuk penentuan laju disolusi dengan variabel kecepatan
pengadukan ialah menyiapkan akuades sebanyak 400 ml kedalam gelas kimia dan
kemudian serbuk asam salisilat sebanyak 0,1 gram ditambahkan kedalam gelas
kimia yang telah berisi aquades yang bertujuan sebagai bahan yang akan diaduk
untuk penentuan kecepatan disolusi zat.
Suhu larutan ditentukan menggunakan termometer untuk menentukan suhu
ruangan, motor pengaduk disiapkan dengan kecepatan 100 rpm untuk mengaduk
larutan asam salisilat. Pada selang waktu 1 menit, 5 menit, 10 menit, 15 menit,
dan 20 menit pada pengadukan diambil 20 ml larutan dengan menggunakan
corong volume selanjutnya larutan tersebut diganti dengn 20 ml aquades. Larutan
yng diambil tersebut dititrasi dengan NaOH 0,05 N dan indikator pp yang
bertujuan untuk menentukan asam salisilat yang larut dan konsentrasi dari asam
salisilat tersebut ditunjukkan dengan banyaknya NaOH yang terpakai. Langkah
penentuan kecepatan disolusi ini berlaku untuk kecepatan 200 rpm.
Dari tabel hasil 3.1 terlihat bahwa kecepatan pengadukan mempengaruhi
konsentrasi asam salisilat. Pada selang waktu pengadukan yang semakin
bertambah maka semakin bertambah pula besarnya konsentrasi asam salisilat
yang ditunjukkn dengan banyaknya larutan NaOH yang terpakai untuk proses
titrasi. Pada kecepatan 200 rpm, konsentrasi asam salisilat lebih besar

10
dibandingkan dengan konsentrasi asam salisilat pada kecepatan pengadukan 100
rpm. Hal ini dikarenakan semakin cepat pengadukan maka akan mempengtruhi
tebalnya lapisan difusi berkurang.
Lapisan difusi adalah lapisan molekul air yang tidak dapat bergerak oleh
adanya kekutan adhesi dengan lapisan padatan sehingga semakin tebal lapisan
difusi suatu zat makan akan semakin sulit larutnya suatu zat (Martin, 2008). Dapat
disimpulkan dari tabel 3.1 semakin besar dan lama kecepatan pengadukan maka
akan semakin banyak konsentrasi terlarut. Hal ini dikarenakan oleh semakin
banyaknya molekul-molekul zat yang bertumbukan sehingga konsentrasi zat
terlarut akan semakin besar (Martin, 2008).
Langkah awal untuk penentuan laju disolusi dengan variabel suhu ialah
menyiapkan akuades sebanyak 400 ml kedalam gelas kimia kemudian serbuk
asam salisilat sebanyak 0,1 gram ditambahkan kedalam gelas kimia yang telah
berisi aquades yang bertujuan sebagai bahan yang akan diaduk untuk penentuan
kecepatan disolusi zat. Suhu larutan ditentukan menggunakan termometer untuk
menentukan suhu ruangan, motor pengaduk disiapkan dengan kecepatan 100 rpm
untuk mengaduk larutan asam salisilat.
Gelas kimia yang berisi larutan asam salisilat tersebut diletkkan diwater
bath yang bertujuan agar suhu larutan naik menjadi 40oC. Selanjutnya motor
pengaduk dihidupkan dengan kecepatan 100 rpm dimana pada proses pengadukan
berada diwater bath yang telah dijaga suhu larutannya. Pada selang waktu 1
menit, 5 menit, 10 menit, 15 menit, dan 20 menit pada pengadukan diambil 20 ml
larutan dengan menggunakan corong volume selanjutnya larutan tersebut diganti
dengn 20 ml akuades. Larutan yng diambil tersebut dititrasi dengan NaOH 0,05 N
dan indikator pp yang bertujuan untuk menentukan asam salisilat yang larut dan
konsentrasi dari asam salisilat tersebut ditunjukkan dengan banyaknya NaOH
yang terpakai. Langkah penentuan kecepatan disolusi ini berlaku untuk suhu
50oC.
Dari tabel 3.2 terlihat bahwa suhu larutan mempengaruhi besarnya
konsentrasi asam salisilat. Semakin tinggi suhu larutan, maka semakin bertambah
konsentrasi asam salisilat yng ditunjukkan dengan banyaknya volume NaOH yang
terpakai pada proses titrasi. Pada suhu 50oC, konsentrasi asam salisilat yang lebih

11
besar dibandingkan pada suhu 40oC. Hal ini dikarenakan suhu akan memperbesar
kelarutan zat yang bersifat endotermik dan memperbesar koefisien suatu zat
dengan meningkatnya suhu akan menurunkan viskositas dan memperbesar
kecepatan disolusi (Martin, 2008).

12
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
1. Semakin tinggi suhu maka kecepatan disolusinya semakin besar, sehingga
kadar asam salisilat didalam larutan semakin bertambah.
2. Semakin cepat pengadukan, maka kecepatan disolusinya bertambah.

4.2 Saran
1. Persiapan alat sebelum praktikum merupakan hal yang utama mengingat
jumlah alat yang tersedia dilaboratorium tidak mencukupi.
2. Sebelum melakukan proses titrasi, lakukan pengecekan alat, terutama pada
buret. Buret yang digunakan harus dalam kondisi baik karena proses titrasi
yang dilakukan harus teliti dan berhati-hati
3. Gunakan alat pelindung diri seperti jas lab, masker serta sarung tangan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Bird, T. 1987. Kimia Fisika Untuk Universitas. PT Gramedia Pustaka Utama.


Jakarta.
Brady, J.E. 1992. Kimia Universitas Asas dan Struksur. Binapura Aksara.
Bandung.

Martin, A. 2008. Farmasi Fisik. UI-Press. Jakarta.

Perry, S. 2009. Chemical Engineering Handbook. Mc Graw Will. New York.

Unverwood, A.L dan R.A. Day. 1981. Analisa Kimia Kuantutatif. Edisi Keempat.
Erlangga. Jakarta.

14