Anda di halaman 1dari 6

Abstrak

Prinsip pembiayaan bank syariah dapat dikelompokkan kedalam prinsip bagi hasil, bagi hasil,
dan prinsip sewa. Prinsip jual beli dan sewa menetapkan margin pada wal akad tanpa risiko
keselahan dalam menetapkan margin. Prinsip bagi hasil (lost and profit sharing) keuntungan dan
kerugiann dibagi berdasar rasio yang ditetapkan pada saat akad, dan mudharabah bahwa
kerugian akan menjadi beban mudharib (shohibul mall). Ketiga prisip produk bank syariah
tersebut masing masing mempunyai karakteristik yang berbeda dengan risiko yang berbada juga.
Pembiayaan prinsip bagi hasil identik dengan pola pendanaan persekutuan (partnership
financing). Pembiayaan dengan prinsip penjualan menetapkan margin yang sering mangacu pada
rate bunga, demikian juga prinsip ijaroh. Efisiensi bank syariah sebagai salah satu indikator
untuk mengukur kemapuan bersaing dengan lambaga keuangan lain. Untuk mengukur efisiensi
bank syariah harus berdasar pada factor yang dapat mempengaruhi efisiensi. Mudharabah dan
Surkah adalah produk bank syariah menjadi factor yang dapat mendorong tingkat efisiensi. Hal
ini bisa terjadi karena prinsip pengakuan laba dan seleksi pemilihan mitra kerja dan profitabilitas
proyek yang dibiayai
Efisiensi institusi perbankan syariah tidak seharusnya mengadopsi sepenuhnya pada bank
konvensional karena mempertimbangkan perbedaan produk dan perbedaan sumber dana.
efisiensi bank syariah menjadi lebih bermakna apabila diukur per kelompok produk sesuai
dengan karakternya. Musyarakah dan mudharabah lebih dekat dengan kinerja partnership
financing. Murabahah, istishna dan salam lebih denkat dengan karakter penyaluran pembiayaan
bank konvensional.
Dalam pengujian efisiensi lima bank syariah di Indonesia dengan SFA di awali dari efisiensi per
produk dan kemudian efisiensi institusi. Pengukuran perubahan efisiensi karena perubahan
proporsi mudharabah dan musyarakah
Pendahuluan
Kelangsungan operasional sektor perbankan sangat tergantung pada kemampuan setiap institusi
perbankan dalam mempertahankan daya saing yang tinggi. Daya saing tersebut dapat tercermin
dari tingkat efisiensi operasional serta kemampuan bank dalam menghadapi setiap gangguan
yang muncul, baik secara internal maupun eksternal. Setiap bank tertantang untuk dapat bersaing
dengan lembaga perbankan lainnya yang telah memiliki tingkat efisiensi operasional yang relatif
lebih tinggi.
Besarnya tingkat efisiensi ini sangat bergantung pada berbagai faktor, baik yang bersifat internal,
mikro maupun makro. Factor internal tergantung pada kinerja manajemen institusi, dan faktor-
faktor makro antaranya adalah suku bunga pasar, pertumbuhan ekonomi, volatilitas pasar, tingkat
harga tenaga kerja, biaya energi, dan faktor-faktor lainnya. Di antara faktor-faktor penentu
efisiensi tersebut, tingkat suku bunga dana di pasar merupakan salah satu faktor yang sangat
menentukan tingkat efisiensi operasional bank karena menentukan besarnya cost of fund bank
(Muljaman at al, 2014). Pola pasar kredit juga menjadi factor yang cukup dominan
mempengaruhi tingkat efisiensi operasional, karena pola pasar banyak dibentuk oleh tingkat
persaingan supply kredit.

Pengukuran efisisensi operasional bank Islam selama ini masih mengadopsi model pengukuran
efisiensi bank konvensional, berarti dengan meng asumsikan persamaan sifat dan karakter
berbagai variable yang semestinya berbeda yang dapat menyebabkan hasil pengukuran analisis
efisiensi tidak merepresentasikan efisiensi yang sebenarnya. Sebagai bank intermediasi
penerimaan dana dari masyarakat dan penyalurannya kembali didasarkan pada pola utang dan
bunga sebagai beban atau penghasilan. Bank Islam tidak mendasarkan pada pola utang piutang
dalam pengumpulan dana dan penyalurannya. Perbedaan pola penyaluran dana dan hasilnya serta
penghimpunan dana dan beban operasional bank harus menjadi pertimbangan dalam
pengukuran kinerja dan pengukuran efisiensi bank Islam.

Hubungan antara bank Islam dengan nasabah bukanlah hubungan kreditur debitur seperti
didalam hubungan bank konvesional, tetapi hubungan bank dengan penguna dana akan diatur
sesuai dengan akad. Bank Islam bisa berperan sebagai pemilik usaha, mitra usaha, ataupun
sebagai penjual jasa.

Prinsip bunga sebagai hasil utama dalam bank konvensional digantikan dengan berbagai jenis
sumber penghasilan dengan prinsip bagi hasil (Proofit Lost Sharing), prinsip jual beli dan prinsip
sewa. Prinsip bagi hasil seharusnya menjadi program utama bank Islam untuk menggantikan
peran bunga dan prinsip ini di nilai paling adil antara bank dengan mitra kerjanya.

Pola pembiayaan mudharabah dan musyarakah mendasarkan pada prinsip PLS dan
operasionalnya lebih identik dengan joint venture dan partnership financing (Mughal, 2017).
Bahwa return yang diharapkan oleh investor bukan ditentukan oleh rate bunga tetapi keuntungan
yang dapat dihasilkan dalam kerjasama. Norfaizah (2017) menyatakan bahwa bank beroperasi
dengan partnership financing lebih efisien, dan lebih rendah risiko. Ada kecenderungan bahwa
semakin besar porsi pembiayaan pola partnership financing menjadi semakin efisien (Farooq,
2007).

Tulisan ini bertujuan untuk menghitung efisiensi bank syariah dengan pendekatan (pembiayaan
persekutuan (partnership financing) atau model joint venture.

Literature review

Bank Islam adalah bank yang beroperasi dengan ketentuan hukum hukum Islam yang didasarkan
pada tiga prinsip utama yaitu pengharaman riba (bunga), pelarangan gharar (risiko dan ketidak-
pastian), dan pelarangan untuk pembiayaan produksi tidak halal (Imam dan Kpodar, 2013).
Prinsip pertama pengharaman riba bunga, karena bunga pinjaman adalah bentuk ketidak adilan
dan eksploitasi dari pemegang dana kepada pengguna dana (Norfaizah at al, 2017). Dalam
perbankan konvensional pendapatan bunga adalah pendapatan utama yang bersifat tetap dalam
usaha perbankan, dan dari tingkat rate bunga ini seluruh kebijakan dan pengukuran kinerja
ditetapkan.

Secara operasional Mudharabah dan Musyarakah tidak berbeda dengan Pembiayaan Persekutuan
(partnership financing).
Mudharabah adalah akad kerja sama suatu usaha antara pemilik modal (malik/shahib al-mal)
yang menyediakan seluruh modal dengan pengelola ('amil/mudharib) dan keuntungan usaha
dibagi di antara mereka sesuai nisbah yang disepakati dalam akad. kerugian merupakan beban
pemilik modal.
Akad syirkah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu di
mana setiap pihak memberikan kontribusi dana/modal usaha (ra's al-mal) dengan ketentuan
bahwa keuntungan dibagi sesuai nisbah yang disepakati atau secara proporsional.
Bank syariah yang menyediakan pembiayaan Mudharabah berarti sama dengan bank berpartner
dengan nasabah dalam satu usaha. Bank sebagai penyedia dana dan partner (nasabah) sebagai
penyedia manajemen dan skill. Dari berbagai penelitian model partnership financing telah
dilakukan untuk mengetahui tingkat stabilitas dan pertumbuhan ekonomi (Hasan,2014), tingkat
pritabilitas (Hasan dan Dridi, 2011) dan tingkat ketahannya dalam menghadapi krisis (Back et
al., 2013). Bank Islam yang berfokus pada profitailitas dan rate of return dalam partnership
financing akan mendorong untuk menkonsentrasikan pembiayaan pada usaha yang lebih
produktif dan berarti akan meningkatkan efisiensi manajemen (Khoutem and Nedra, 2012).
Proses efisiensi dalam financing partnership akan mengarah pada efisiensi manajemen. Investor
diharapkan untuk dapat melakukan seleksi terhadap jenis proyek yang relative lebih profitable
untuk partnership financing yang akhirnya dapat meningkatkat efisiensi bank.
Factor lain yang cukup signifikan berpengaruh terhadap partnership financing adalah struktur
beban (cost structure), rasio beban terhadap income, price income ratio, dan return on asset
(Wanke et al., 2016). Demikian juga ukuran perusahaan juga berpengaruh terhadap efisiensi bank
(Hasan et al., 2009)

Didalam biaya operasional bank syariah terdapat bagi hasil untuk mudharabah dan syirkah yang
proporsinya ditetapkan didepan berdasar hasil yang dapat diperoleh oleh bank.

Perbandingan antara biaya operasional perbankan syariah terhadap pendapatan operasional dapat
digunakan untuk mengukur efisiensi operasonal manajemen, rasio sebagai alat analisis
mempunyai keunggulan karena kemudahan penggunaan dan katersediaan data serta
kesederhanaan dalam perhitungannya. Namun kelemahan rasio biaya operasional dengan
pendapat rasional bahwa tidak dapat menunjukkan apakah hasil perhitungan tersebut baik atau
buruk dan sulit untuk menyatakan apakah manajemen perusahaan tersebut kuat atau lemah,
demikian juga tidak memperhitungkan biaya moda (Endri, dan Wakil, 2008). Demikian juga
dengan rasio dalam capital, asset, management, earning, dan liability (CAMEL) kurang
memperhatikan factor efisiensi karena bobot efisieni dalam CAMEL yang diatur oleh BI.

Venture capital (CV) dan bank mempunyai kesamaan peran dalam hal pengunpulan dana dari
masyarakat sebagai operator dalam financial intermediary, bahwa keduanya adalah institusi yang
bertujuan untuk institusi yang profit maximization. Penerapan VC merupakan strategi yang tepat
untuk meningkatkan kinerja perbankan. Bank Islam mempunyai konsep utama yang dapat
disamakan dengan model partnership financing (Mughal, 2017). Parnership financing tersebut
dalam bentuk pembiayaan mudharabah dan musyarakah. Dalam pembiayaan mudharabah,
entrepreneur

Teori

Jenis efisiensi

Efisiensi adalah indikator yang menunjukkan kemampuan manajer dan staf perusahaan dalam
menjaga tingkat kenaikan pendapatan dan laba diatas tingkat kenaikan beban operasional
(Siudek, 2008). Silkman dalam Bastian (2009) mendifinisikan efisien sebagai
kemampuanmnyelesaikan pekerjaan dengan benar yang dapat dinyatakan secara matematika
sebagai rasio ouput dan input atau jumlah output yang dihasilkan dari suatu input yang
digunakan.

Dalam pengukuran efisiensi kinerja bank terdapat dua pendekatan yang lazim digunakan.
Pertama pendekatan parametric antara lain Stochatic Frontier Approach (SFA), Thick Frontier
Approach (TFA), dan Distribution Free Approach (DFA). Dan pendekatan non-paramtrik antara
lain Free Disposable Approach dan Data Envelopment Analysis (DEA).

Didalam tulisan ini akan dilakukan analisis efisiensi operasional bank syariah dengan
menggunakan pendekatann Stochastic Frontier Approach (SFA) yang hasilnya diperbandingkan
dengan hasil Data Envelopment Analysis (DEA). Kinerja bank syariah sangat dipengaruhi dari
produk produknya yang berbeda dengan produk bank konvensional. Mudharabah dan
Musyarakah adalah produk bank syariah yang identic dengan operasional partnership financing
pada lembaga keuangan konvensional sehingga pengukuran efisiensi kinerja bank syariah diukur
dari efisiensi produk mudhaharabah dan musyarakah.