TUGAS 11 Distribusi Normal
TUGAS 11 Distribusi Normal
(KELOMPOK 3)
DISTRIBUSI NORMAL
DISUSUN OLEH :
FAKULTAS FISIOTERAPI
TAHUN AJARAN 2016/2017
DISTRIBUSI NORMAL
Diantara sekian banyak distribusi, barangkali distribusi normal merupakan distribusi yang secara
luas banyak digunakan dalam berbagai penerapan. Distribusi normal merupakan distribusi
kontinu yang mensyaratkan variable yang di ukur harus kontinu, misalnya tinggi badan, berat
badan, skor IQ, Jumlah curah hujan, isi botol Coca-cola, hasil ujian dan sebagainya.
Kurva Normal
Suatu variable acak kontinu X, yang memiliki distribusi berbentuk lonceng seperti yang
diperlihatkan dalam Peraga 2.2, disebut Variabel acak normal. Persamaan matematika bagi
distribusi probabilitas acak normal tergantung pada dua parameter, yaitu 𝜇 𝑑𝑎𝑛 𝜎 atau nilai
tengah dan simpangan bakunya. Fungsi kepadatan probabilitas normal dapat distuliskan sebagai
berikut.1
1 𝑥−𝜇)2
1 (
F(x)=𝜎√2𝜋 𝑒 2 𝜎
, untuk -∞ ≤ 𝑥 ≤ ∞,
Di mana :
𝜋 = 3,14159
𝜇 = 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑋
e = 2,71828
Bila nilai-nilai 𝜇 𝑑𝑎𝑛 𝜎 diketahui maka kita dapat menggambarkan kurva normal itu dengan
pasti. Bagaimanapun bentuk dan ketinggian dari kurva normal sangat tergantung pada dua
variable ini. Dalam peraga 2.2 diberiakn sketsa dua kurva normal yang mempunyai dua
simpangan baku yang sama, namun nilai tengahnya berbeda. Kedua kurva itu sama bentuknya,
tetapi berpusat pada posisi yang berbeda sepanjang sumbu mendatar.
PERAGA 2.2
Kurva Normal
𝜎1 𝜎2
𝜇1 𝜇2 x
1
J. Supranto, M.A., Statistik Teori dan Aplikasi (Jakarta : Penerbit Erlangga, 2009), hlm. 49.
Dalam peraga 2.3 diberikan sketsa dua kurva normal dengan nilai tengah yang sama, tetapi
simpangan bakunya berbeda. Perhatikan bahwa kedua kurva itu berpusat diposisi yang sama,
tetapi kurva dengan simpangan baku yang lebih besar berentuk lebih rendah dan lebih menyebar
ke samping.
Sementara dalam peraga 2.4 menunjukan sketsa dua kurva normal yang mempunyai nilai tengah
dan simpangan baku berbeda. Keduanya berpusat pada dua posisi yang berbeda dan bentuk yang
mencerminkan nilai 𝜎 yang berbeda juga.2
Kurva normal mempunyai bentuk yang simetris terhadap rata-rata 𝜇. Bentuk kurva normal
sangat dipengaruhi oleh besar/ kecilnya rata-rata 𝜇 dan simpangan bsku 𝜎. Makin kecil 𝜎 bentuk
kurva makin runcing dan sebagian besar nilai X mengumpul mendekati rata-rata 𝜇, dan
sebaliknya, bila 𝜎 makin besar maka bentuknya makin tumpul dan nilai-nilai X makin menjauhi
rata-rata 𝜇.
2
Ibid, hlm. 49-50.
4. Simpangan baku (standar deviasi) 𝜎, menentukan lebarnya kurva. Makin kecil 𝜎 bentuk
kurva makin runcing. Dua distribusi normal dengan rata-rata 𝜇 sama tetapi dengan
simpangan baku berbeda telah ditunjukan pada peraga 2.3 di atas
5. Total luas daerah dibawah kurva normal adalah 1
6. Jika jarak dari masing-masing nilai X terhadap rata-rata 𝜇 diukur dengan simpangan baku
𝜎 maka kira-kira 68% berjarak 1𝜎, 95% 𝑏𝑒𝑟𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 2𝜎 𝑑𝑎𝑛 99% 𝑏𝑒𝑟𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 3𝜎
3
PERAGA 2.5 Kurva Normal dengan Skala Biasa (X) dan Skala Baru (Z)
𝜇 − 3𝜎 𝜇 - 2𝜎 𝜇 -𝜎 𝜇 𝜇 +𝜎 𝜇 + 2𝜎 𝜇 + 3𝜎
Z
-3 -2 -1 0 1 2 3
68,26%
95,46%
99,74%
Sebagai ilustrasi, diberikan data hasil pengukuran tinggi para atlet yang disajikan dalam bentuk
tabel dan grafik sebagai berikut.
TABEL 2.7 Frekuensi Relatif dan Frekuensi Kumulatif dari Tinggi 100 Orang
Atlet
3
Ibid, hlm. 50-51.
Tinggi Atlet dalam Frekuensi
Banyak Atlet Frekuensi Relatif
cm Kumulatif
(f) (fr)
(X) (fk)
154-155 3 0,03 0,03
Kurva fungsi normal teoretis sangat sempurna bentuknya dan sering disebut “ideal curve”.
Akan tetapi, di dalam prakteknya , hanya mendekati saja. Perhatikan bentuk kurva empiris dari
tinggi mahasiswa berikut , dimana bentuknya mendekati/menyerupai kurva normal.4
PERAGA
K 2.5 Kurva Empiris dari Tinggi 100 orang Atlet
Frekuensi Relatif
0,4
Keterangan
= kurva normal
0,3
= kurva mendekati normal
0,2
0,1
Untuk membuat histogram harus dibuat batas kelas yang sesungguhnya, mulai dari kelas
pertama 153,5 – 155,5 sampai dengan kelas terakhir 165,5 – 167,5. Setiap histogram dibuat
berdasarkan batas kelas yang baru tersebut. Suatu kurva yang diperoleh dengan menghubungkan
4
Ibid, hlm. 51-52.
titik tengah dari puncak setiap histogram disebut polygon frequency. Perhatikan peraga di atas,
kurva polygon mendekati bentuk kurva normal.
Perlu diketahui disini bahwa rata-rata dan varians distribusi normal adalah sebagai berikut.
1 𝑥−𝜇 2
∞ 1 − ( )
E(X) = ∫−∞ 𝑥 𝑒 2 𝜎 𝑑𝑥 = 𝜇
𝜎 √2𝜋
1 𝑥−𝜇 2
2 ∞ (𝑋−𝜇)2 − ( )
Var(X) = 𝐸{𝑋 − 𝜇} = ∫∞ 𝜎 √2𝜋 𝑒 2 𝜎 𝑑𝑥 = 𝜎 2
Fungsi distribusi atau distribusi kumulatif dari fungsi normal adalah sebagai berikut.
x
1 1 x−μ 2
F(x) = P(X ≤ x) = ∫ e−2( σ
)
dx
σ√2π −∞
dimana :
𝜎 = √𝜎 2 = simpangan baku
5
Loc.cit.
Luas daerah untuk dua kurva normal
II
6
Untuk mengunbah distribusi normal menjadi distribusi normal baku adalah dengan cara
mengurangi nilai nilai variabel X dengan rata rata µ dan membaginya dengan standar deviasi
diperoleh variabel baru Z.
𝑋−μ
Z= ơ
𝑋−μ 2
Var (Z) = E(Z – E(Z)) = E( 𝑍)2 = E( ) =1
ơ
x1 x2
6
Ibid, hlm. 53.
Karena nilai nilai antara x1 dan x2 ditransformasikan ke z1 dan z2. Maka luas daerah antara x1
dan x2 sama denga luas daerah z1 dan z2, dengan kata lain :
Untuk keperluan perhitugan probabilitas, luas kurva normal disamakan dengan satuan (100%)
O Z=1,96
= p (Z ≤ 0)
= 0,5000
Jadi kurva berbentuk simetris. Dab luas kurva sebelah kanan titik O = 0,5000 (=50%)
Uuntuk mencari berapakah Luas A (lihat peraga di atas) , dapat digunakan tabel Distribusi
normal pada lampiran III, yaitu sebesar 0,4750.
Untuk mencari luas A dengan menggunakan tabel tersebut, dapat dilakukan cara berikut ini:
Perhatikan harga tertinggi yang membatasi luas tersebut , dalam hal ini adalah 1,96, dan
uraiakan menjadi 1,90 + 0,06.
Lihat kolom Z pada tabel dan cari di mana letak 1,90.
Setelah anda menemukan letak 1,90 segeralah bergeser ke arah kanan dan perhatikan
perpotongannya dengan kolom 0,06 (perpotongan baris 1,9 dengan kolom 0,06)
Pada perpotongan tersebut di dapatkan angka sebesar 0,4750 yang merupakan luas A atau
P(0≤ X≤1,96)
Seandainya tabel distribusi normal tidak tersedia , maka untuk mecri nilai luas A harus kita
hitung dengan Rumus 2.15 yang menggunakan integral terhadap fungsi normal dan tentu saja
tidak mudah. Tetapi dengan bantuan komputer hal ini bisa dilakukan.7
7
Ibid, hlm. 54.
PENYELESAIAN. Tabel Distribusi Normal dibuat berdasarkan variabel Z, yang juga sudah
dibakukan berdasarkan variabel X, untuk menggunakan Tabel Distribusi Normal, variabel X
harus diubah menjadi Z, dan harus dibakukan dahulu (standardized).8
𝜒−𝜇
Z ~ 𝑁 (0,1)
𝜎
a)
𝜎 = √4 = 2
11−12
Untuk 𝜒 = 11 → 𝑍 = 2
= −0,50
X
14−12
11 12 14 Untuk 𝜒 = 14 → Ζ = =1
2
Z * * * Ρ(11 ≤ 𝜒 ≤ 14 = Ρ(−0,5 ≤ Ζ ≤ 1)
-0,50 0 1
= Ρ(0 ≤ 𝑍 ≤ 0,5) + 𝑃(0 ≤ 𝑍 ≤ 1)
= 0,1915 + 0,3413
= 0,5328
b)
𝜎 = √9 = 3
−2−4
𝑋 = −2 → 𝑍 = = −2
3
5−4
𝑋 = 5 → 𝑍 = 3 = 0,33
𝑃(−2 ≤ 𝑋 ≤ 5 = 𝑃(−2 ≤ 𝑍 ≤ 𝑍0,33)
= 𝑃(0 ≤ 𝑍 ≤ 2) + 𝑃(0 ≤ 𝑍 ≤ 0,33)
x -2 4 5
= 0,4772 + 0,1293
Z * * * *
-2 0 0,33
= 0,6065
c)
𝜎 = √144 = 12
17,4−24
𝑋 = 17,4 → 𝑍 = = −0,55
12
58,8−24
𝑋 = 58,8 → 𝑍 = 12
= 2,90
𝑃(17,5 < 𝑋 < 58,8 = 𝑃(−0,55 < 𝑍 < 2,90)
8
Ibid, hlm. 56.
X 17,4 24 58,8 = 0,2088 + 0,4981 = 0,7069
Z -0,55 0 2,90
CONTOH 2.10 Satu mata uang logam Rp.50 dilemparkan ke atas sebanyak 4 kali, X menyatakan
banyaknya gambar burung (B) yang muncul.9
PENYELESAIAN
a. 𝑋 = 0 → 𝑝(0) = 0,0625
𝑋 = 1 → 𝑝(1) = 0,2500
𝑋 = 2 → 𝑝(2) = 0,3750
𝑋 = 3 → 𝑝(3) = 0,2500
𝑋 = 4 → 𝑝(4) = 0,0625
b. Untuk membuat histogram, harus dibuat kelas-kelas baru yang memuat X=0,1,2,3,4 sebagai nilai
tengah dari masing-masing kelas. Kelas-kelas yang dimaksud ialah -0,5-0,5 sampai 3,5-4,5.
P(x)
0,4
0,3
0,2
0,1
* * * * * * * * * * x
- 0,5 0 0.5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 4,5
1
𝜇 = 𝐸(𝑋) = 𝑛𝑝 = 4 × = 2
2
1 1
𝜎 = √𝑛𝑝𝑞 = √4 × 2
×2 =1
9
Ibid, hlm. 56-57.
Apabila X merupakan variabel diskrit sekaligus normal kontinu, maka perlu diadakan koneksi
yaitu dengan menambah dan mengurangi nilainya dengan 0,5.kelas-kelas yang baru diperoleh
berdasarkan koneksi tersebut.
𝑥−𝜇
𝑍= = 𝑋 − 𝜇, 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝜎 = 1
𝜎
𝑃(𝑋 = 0) = 𝑃(−0,5 ≤ 𝑋 ≤ 0,5)
−0,5 − 2 0,5 − 2
= 𝑃( ≤𝑍≤ )
1 1
= 𝑃(−2,5 ≤ 𝑍 ≤ −1,5)
= 𝑃(0 ≤ 𝑍 ≤ 2,5) − 𝑃(0 ≤ 𝑍 ≤ 1,5)
= 0,4938 − 0,4332
= 0,0606
𝑃(𝑋 = 2)𝑝(2) = 𝑃(1,5 ≤ 𝑋 ≤ 2,5
= 𝑃(−0,5 ≤ 𝑍 ≤ 0,5)
= 2𝑃(0 ≤ 𝑍 ≤ 0,5)
= 0,3830
𝑃(𝑋 = 3) = 𝑝(3) = 𝑃(2,5 ≤ 𝑋 ≤ 3,5)
= 𝑃(0,5 ≤ 𝑍 ≤ 1,5)
= 𝑃(0 ≤ 𝑍 ≤ 1,5) − 𝑃(0 ≤ 𝑍 ≤ 0,5)
= 0,4332 − 0,1915
= 0,2417
2,5−2
𝑍= 1
=0,5
Jadi, 𝑃(𝑋 > 2) = 𝑃(𝑍 > 0,5)
= 𝑃(𝑍 ≥ 0) − 𝑃(0 ≤ 𝑍 ≤ 0,5)
= 0,5000 − 0,1915
= 0,3125
Menurut distribusi Binomial:
𝑃(𝑋 > 2) = 𝑃(𝑋 = 3) + 𝑃(𝑋 = 4)
= 0,2500 + 0,0625
= 0,3125
10
Ibid, hlm. 57-58.
Dengan demikian,terdapat selisih sebesar 0,3125-0,3085=0,004(0,4%). Untuk n > 40 ,biasanya
pendekatan ini menajadi lebih baik.
CONTOH 2.11 Seorang pemilik pabrik ban angin mendapatkan perkiaraan mengenai rata-rata panjang
jalan yang dapat ditempuh(dalam 1000 km) oleh ban merek terbaru,sampai ban tersebut rusak.
Asumsinya, ban tersebut dipergunakan secara wajar dalam kondisi jalan yang relatif sama. Untuk
keperluan tersebut, telah dilakukan penelitian terhadap 400 ban merek baru yang telah dipakai sampai
rusak. Ada yang dapat menempuh jalan sepanjang 30.000 kilometer kemudian rusak, dan ada pula yang
menempuh legih jauh lagi.
Hasinya disajikan dalam tabel berikut.
TABEL 2.8 frekuensi relative (fr) dan frekuensi kumulatif (fk) dari umur Ban Merek Baru
13 – 15 14 20 0,050 0,050
16 – 18 17 40 0,100 0,150
19 – 21 20 50 0,125 0,275
22 – 21 23 70 0,175 0,450
25 – 27 26 80 0,200 0,650
28 – 30 29 60 0,150 0,800
31 – 33 32 40 0,100 0,900
34 – 46 35 30 0,075 0,975
37 – 39 38 10 0,025 1,000
Dari data aslinya dapat dihitung rata-rata jalan yang ditempuh sampai ban rusak, yaitu 25.300 km, dan
simpangan bakunya berdasarkan perkiraan adalah 6.100 km. di dalam soal in, nilai perkiraan tersebut kita
anggap nilai sebenarnya, jadi 𝜇 = 25,3 𝑟𝑖𝑏𝑢 𝑘𝑖𝑙𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟, 𝑑𝑎𝑛 𝜎 = 6,1 𝑟𝑖𝑏𝑢 𝑘𝑖𝑙𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟.
Dengan mengunakan pendekatan distribusi normal, buatlah distribusi normal kumulatif (sebagai
pendekatan frekuensi kumulatif). Kemudian buatlah gambar kurva dari kedua distribusi kumulatif
tersebut.11
Penyelesaiian Agar dapat menggunakan tabel distribusi normal ,nilai variabel X harus dibakukan
menjaadi nilai Z (standardized normal)
Z = X – μ = X – 25,3
O 6,1
11
Ibid, hlm. 58-59.
Di mana X = nilai tengah = ½ (nilai batas bawah + nilai batas atas) dari kelas tertentu.Setelah
dilakukan perhitungan misalny:
Z1 = 14 – 25,3
6,1
= -11,3
6,1
= -1,85
Z5 = 26 – 25,3
6,1
= 0,7
6,1
= 0,11
Z9 = 38 – 25,3
6,1
= 12,7
6,1
= 2,08
12
Loc.cit.
TABEL 2.9 Distribusi Normal Komulatif dan Frekuensi Komulatif
Cara lain adalah dengan menggunakan uji kompeten penerapan suatu fungsi .Ingat bahwa dalam
menggunakan pendekatan normal ,pada variabel asli yang diskrit harus dilakukan koreksi dengan
jalan menambah atau mengurangi dengan 0,5 untuk tiap nilai X, sehingga bentuk variabel
normal baku Z adalah sebagai berikut.13
Z = ( X – 0,5 ) – μ
O
Catatan : Penetapan variabel asli diskrit dengan pendekatan normal lebih baik kalau dimulai
12,5 (= 13 – 0,5 ) dan berakhir dengan 39,5 (= 39 + 0,5 )
X F
150-158 9
159-167 24
168-176 51
177-185 66
186-194 72
195-203 48
204-212 21
213-221 6
222-230 3
Jumlah 300
13
Ibid, hlm. 60-61.
Dari data asli telah dihitung E(X) = μ = 184,3 ; dan o = 14,54.
PENYELESAIAN Harus dibuat batas kelas baru dengan menambah dan menguranginya dangen
0,5. Jadi kelas pertama (150 – 158 ) menjadi ( 149,5 – 158,5 )dan kelas terakhir (222 – 230)
menjadi (221,5 – 230,5).Kemudian kita hitung frekuensi kurfa normal untuk setiap kelas.
Sekarang perhatikan kelas ke-7 dari Tabel 2.10 denganbtas kelas 204 – 121. Selesai
14
dilakukan koreksi dengan mengurangi 0,5 terhadap 201 dan menambah 0,5 terhadap 212 kita
peroleh btas kelas baru (204 – 0,5) – (212 + 0,5) = 203,3 – 212,5.
14
Ibid, hlm. 61-62.
Kemudian melalui pembakuan, kita peroleh Z₇ = 1,32 dan Z₈= 1,94.
Luas daerah kurva normal antara 0 – 0,132 adalah 0,4066 dan antara 0 – 1,94 adalah
0,4738 (dari Tabel Distribusi Normal). Dengan demikian, luas daerah kurva normal antara 203,5
– 212,5 = 0,4738 – 0,4066 = 0,0672.
Juga, apabila kita lihat batas kelas pertama (150 – 158), maka setelah dilakukan koreksi
menjadi (149,5 - 158,5). Luas daerah kurva normal antara (149,5 - 158,5) = 0,4616 – (0,4916) =
0,4916 – 0,4616 = 0,0300. (Ingat tanda Z. Jika –Z, daerahnya diberi tanda -). Hasil perhitungan
di atas kita susun dalam tabel berikut.15
15
Loc.cit.
TABEL 2.11 Frekuensi Kurva Normal
16
𝜇 = 184,3
𝜎 = 14,54
Distribus
Batas Nilai Batas 𝑓 𝑓𝑟 𝑓𝑘 Z 𝑃(0 𝑓𝑟 i Frekuensi
Kleas Tenga Bawah/Ata = 𝑓𝑙𝑛 <𝑍 Norm Kumulati Normal
h s <𝑙𝑧𝑙 al f Normal
- - 1,000 300*
0*
Dibulatk
an
16
Ibid, hlm. 63.
Keterangan Tabel Frekuensi Kurva Normal.
Kolom (3): Batas kelas baru, darikolom (1) yang telah dilakukan koreksi untuk mengubah
variabel, diskrit menjadi kontinu yaitu dengan menambah atau mengurangi setiap
nilai batas kelas dengan 0,5. Misalnya,
Angka 158,5 bisa diperoleh dari 158 + 0,5 (batas atas kelas pertama) atau 159 –
0,5 (batas bawah kelas kedua). Begitu juga untuk kelas-kelas lainnya.
Kolom (7): Varaiabel dari kolom (2) dibakukan (standardized) dengan rumus:
𝑋−𝜇
Z= 𝜎
203,5−184,3
Z₇ = = 1,32 dan seterusnya.
14,54
Kolom (8): Luas daerah dari kurva variabel Z = N(0,1), dari 0 sampai dengan Z.17
17
Ibid, hlm. 64.
𝑃(0 ≤ 𝑍 ≤ 𝑍1 ) = 𝑃(−𝑍 ≤ 𝑍 ≤ 0) karena simetris (diperoleh dari Tabel
Distribusi Normal).
Kolom(9): Luas daerah kurva dalam setiap kelas, nilainya sama dengan selisih antara nilai Zі
dengan nilai Z(і-₁) .
Misalnya, untuk kelas 150 – 158 → 149,5 – 158,5 maka luas daerah kurvanya adalah
= -Z₁ - (Z₂) = Z₂ - Z₁ = 0,4916 – 0,4616 = 0,0300.
Sedangkan, untuk kelas 186 -194 → 185,5 – 194,5 maka luas daerah kurvanya adalah
= Z₆ - Z₅ = 0,2580 – 0,0319 = 0,2261 dan seterusnya.
18
18
Loc.cit.