Anda di halaman 1dari 5

BAB IV

PEMBAHASAN
Percobaan kali ini mengenai ekstraksi metabolit sekunder dari simplisia
tumbuhan obat yang memiliki tujuan untuk melakukan penyarian metabolit
sekunder dari simplisia tumbuhan obat dengan beberapa metode ekstraksi.
Simplisia adalah sediaan obat tradisional yang berupa bahan alamiah yang
digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun kecuali
dinyatakan lain berupa bahan yang telah dikeringkan. Bahan yang digunakan dalam
percobaan ini yaitu tumbuhan obat berupa bawang dayak. Didalam referensi Buku
Tanaman Obat Indonesia disebutkan bahwa kandungan bawang dayak meliputi
alkaloid yang berkhasiat sebgai antimikroba, flavonoid sebagai antivirus, anti
kanker, anti diabetes, anti depresi, juga diuretik, glikosida yang bermanfaat untuk
obat kolesterol alami, obat kanker, dan menjaga daya tahan tubuh, saponin , serta
tanin sebagai anti diare, anti kanker, juga antidotum.
Pembuatan simplisia dilakukan dengan berbagai proses meliputi
pengumpulan bahan, sortasi basah dan penimbangan bahan baku, pencucian,
perajagan, pengeringan, sortasi kering, pewadahan dan penyimpanan simplisia
serta penimbangan simplisia yang dihasilkan. Setelah dilakukan proses awal
pembuatan simplisia yaitu pengumpulan bahan maka dilanjutkan dengan sortasi
basah. Sortasi basah yaitu pemisahan dan pembuangan bahan organik asing atau
bahan tumbuhan lain yang tidak dibutuhkan. Sortasi basah harus dilakukan dengan
teliti agar tidak ada kotoran ataupun bagian tumbuhan yang tidak digunakan yang
masih tetinggal. Kemudian bahan baku tersebut ditimbang. Dari hasil penimbangan
didapatkan bobot awal bawang dayak yaitu sebanyak 912,11 gram. Setelah
dilakukansortasi basah dan penimbangan bobot awal, tahapan selanjutnya
pencucian. Proses pencucian bawang dayak menggunakan air yang mengalir. Hal
tersebut dilakukan agar bahan baku simplisia bersih dari bahan pengotor yang
menempel. Tahapan berikutnya yaitu perajangan yang dilakukan untuk
mempermudah dalam proses selnjutnya yaitu pengeringan , pewadahan dan
penyimpanan. Setelah perajangan dilakukan pengeringan dengan penyinaran
matahari langsung. Tujuan dilakukannya proses pengeringan untuk mendapatkan
simplisia yang tidak mudah rusak sehingga dapat disimpan dalam jangka waktu
yang lama dan menghindari terurainya kandungan kimia. Setelah simmplisia sudah
kering, dilakukan sortasi kering yaang bertujuan hampir sama seperti sortasi basah.
Kemudian simplisia tersebut ditimbang untuk mengetahui nilai susut
pengeringannya. Nilai susut pengeringan kemudian dibandingkan dengan bobot
awal bahan baku untuk mengetahui rendemen simplisia. Sehingga hasil yang
didapat rendemen simplisia bawang dayak yaitu 51,53%. Proses terakhir simplisia
dilakukan penyerbukan untuk memperkecil bagian-bagian dari simplisia yang
kemudian dilanjutkan dengan pewadahan untuk mencegah tercemarnya simplisia
dan kemudian simplisia disimpan.
Metode ekstraksi simplisia bawang Dayak pada percobaan kali ini
menggunakan metode ekstraksi secara maserasi dan ekstraksi secara sokletasi.
Alasan pemilihan metode ekstrasi maserasi dan sokletasi karena mempunyai
banyak keuntungan dibandingkan dengan metode ekstraksi lainnya. Keuntungan
utama metode ekstraksi maserasi yaitu, prosedur dan peralatan yang digunakan
sederhana, metode eskraksi maserasi tidak dipanaskan sehingga bahan alam tidak
menjadi terurai. Ekstraksi dingin (maserasi) memungkinkan banyak senyawa
terekstraksi, meskipun beberapa senyawa memiliki kelarutan terbatas dalam pelarut
esktraksi pada suhu kamar. Sedangkan metode ekstraksi cara panas (sokletasi)
merupakan metode esktraksi terbaik untuk memperoleh hasil esktrak yang banyak
dan juga pelarut yang digunakan lebih sedikit (efisiensi bahan) waktu yang
digunakan lebih cepat, sampel yang diekstraksi secara sempurna karena dilakukan
berulang-ulang.
Maserasi adalah proses ekstraksi simplisia yang menggunakan pelarut
dengan beberapa kali pengadukan pada temperature ruangan. Maserasi merupakan
cara ekstraksi yang paling sederhana. Dasar dari maserasi adalah melarutnya bahan
kandungan simplisia dari sel yang rusak, yang terbentuk pada saat penghalusan,
ekstraksi (difusi) bahan kandungan dari sel yang masih utuh. Selama maserasi atau
proses perendaman dilakukan pengadukan berulang - ulang. Upaya ini menjamin
keseimbangan konsentrasi bahan ekstraksi yang lebih cepat didalam cairan.
Sedangkan keadaan diam selama maserasi menyebabkan turunannya perpindahan
bahan aktif. Setelah dilakukan maserasi, selanjutnya dilakukan remaserasi.
Remaserasi merupakan metode ekstraksi yang terjadi pengulangan penambahan
pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama, dan seterusnya. Pelarut
kedua ditambahkan sebanyak penambahan pelarut pertama. Keuntungan cara
penyarian dengan maserasi dan remaserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan
yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Sedangkan kerugiannya adalah
pengerjaannya lama, membutuhkan larutan penyari yang lebih banyak dibanding
larutan penyari pada metode maserasi dan hasil penyariannya kurang sempurna.
Berdasarakan hasil yang diperoleh dari metode ekstraksi secara maserasi dan
setelah diuapkan dan kemudian ditimbang sehingga diperoleh bobot tetap sebesar
18,55 gram. Selanjutnya dihitung randemennya, sehingga diperoleh persen
randemen sebesar 6,18 %.
Sokletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang
umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan
jumlah pelarut yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Biomasa
ditempatkan dalam dalam wadah soklet yang dibuat dengan kertas saring, melalui
alat ini pelarut akan terus direfluks. Alat soklet akan mengkosongkan isinya
kedalam labu dasar bulat setelah pelarut mencapai kadar tertentu. Setelah pelarut
segar melawati alat ini melalui pendingin refluks, ekstraksi berlangsung sangat
efisien dan senyawa dari biomasa secara efektif ditarik kedalam pelarut karena
konsentrasi awalnya rendah dalam pelarut. Berdasarakan hasil yang diperoleh dari
metode ekstraksi secara sokletasi dan setelah diuapkan dan kemudian ditimbang
sehingga diperoleh bobot tetap sebesar 4,29 gram. Selanjutnya dihitung
randemennya, sehingga diperoleh persen randemen sebesar 6,6 %.
Metode ketiga dalam proses ekstraksi adalah metode secara infundasi.
Metode ini dilakukan dengan cara merebus simplisia. Infundasi merupakan metode
ekstraksi dengan pelarut air. Pada waktu proses infundasi berlangsung, temperatur
pelarut air harus mencapai suhu 90ºC selama 15 menit. Rasio berat bahan dan air
adalah 1 : 10, artinya jika berat bahan 100 gram maka volume air sebagai pelarut
adalah 1000 ml. Untuk kelebihan metode infundasi adalah peralatan sederhana,
mudah dipakai, biaya murah, dan dapat menyari simplisia dengan pelarut air dalam
waktu singkat. Sedangkan kekurangannya adalah sari yang dihasilkan tidak stabil
dan mudah tercemar oleh bakteri dan kapang, oleh karena itu ekstrak yang diperoleh
dengan cara ini tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam. Berdasarkan hasil metode
ekstraksi secara infundasi dari bobot simplisia yang ditimbang sebesar 25 gram
diperoleh persen randemen sebesar 50 %.
BAB V
KESIMPULAN

Kesimpulan yang di peroleh dari praktikum ini adalah :


1. Metode ekstraksi yang dilakukan pada praktikum ini adalah metode secara
panas (sokletasi), secara dingin (maserasi), dan perebusan (infundasi).
2. Untuk mendapatkan metabolit sekunder, pada praktikum ini dilakukan tiga
metode ekstraksi yaitu maserasi, sokletasi, dan infundasi sehingga dari ketiga
metode ini didapatkan persen randemen yang diinginkan.