Anda di halaman 1dari 19

PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN

LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengujian kuat geser dilakukan untuk mengetahui sifat mekanik dari batuan
yang menjadi spesimen yaitu dari segi berapa kekuatan spesimen terhadap suatu geseran
disertai adanya pembebanan yang masih mampu di tahan oleh spesimen tersebut, hal ini
banyak digunakan dalam analisis stabilitas lereng pada tambang terbuka, analisis
stabilitas batuan samping pada lubang bukaan bawah tanah dan lain sebagainya.
Mekanika batuan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
perilaku (behaviour) batuan baik secara teoritis maupun terapan, merupakan cabang
dari ilmu mekanika yang berkenaan dengan sikap batuan terhadap medan-medan gaya
pada lingkungannya. Atau juga Secara umum mekanika batuan adalah ilmu yang
mempelajari sifat dan perilaku batuan bila terhadapnya dikenakan gaya atau tekanan.
Sehingga untuk mengetahui sifat mekanik batuan dan massa batuan dilakukan berbagai
macam uji coba baik itu dilaboratorium maupun dilapangan langsung atau secara insitu.
Untuk mengetahui sifat mekanik batuan dilakukan beberapa percobaan seperti uji kuat
tekan uniaksial, uji kuat tarik, uji triaksial dan uji tegangan insitu.
Kekuatan batuan dapat diukur secara insitu (di lapangan) sebaik pengukuran di
laboratorium. Regangan (deformasi) diukur di area tambang kemudian dihubungkan
terhadap tegangan dengan berpedoman pada konstanta elastik dari laboratorium.
Tegangan sebelum penambangan merupakan kondisi tegangan asli, sulit dihitung, tetapi
merupakan parameter desain tambang yang penting
Mekanika batuan sendiri mempunyai karakteristik mekanik yang diperoleh dari
penelitian ini adalah kuat tekan batuan (σt), kuat tarik batuan (σc ), Modulus Young (E),
Nisbah Poisson (v), selubung kekuatan batuan (strength envelope), kuat geser (τ),
kohesi (C) dan sudut geser dalam (φ).
Pengujian ini untuk mengetahui kekuatan batuan terhadap suatu geseran pada
tegangan normal tertentu. Praktikum ini yaitu Pengujian Kuat Geser Langsung Batuan,
bertujuan untuk mendapatkan parameter parameter yang digunakan untuk mendesain
lereng tambang tersebut, diantaranya kohesi (c) dan Sudut gesek dalam (Ф). Pengujian
kuat geser langsung batuan ini merupakan pengujian yang merusak conto batuan

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

1.2 Maksud Dan Tujuan

1.2.1 Maksud
Adapun maksud dari tujuan praktikum mekanika batuan ini yaitu kita dapat
mengenal, mengetahui dan menguasai ilmu tentang mekanika batuan yang menjadi
salah satu aplikasi dasar terpenting dalam dunia pertambangan.

1.2.2 Tujuan
Mengidentifikasi parameter-parameter yang mempengaruhi kelakuan/sifat geser
batuan. Membagi massa batuan ke dalam kelompok-kelompok yang mempunyai
kesamaan sifat dan kualitas. Menyediakan pengertian dasar mengenai sifat karakteristik
setiap kelas massa batuan dan mengetahui kuat geser langsung batuan pada tegangan
normal tertentu, mekanisme pengujian kuat geser langsung batuan dan aplikasi
pengujian sifat fisik pada dunia pertambangan.

1.3 Alat dan Bahan

1.3.1 Alat
1. Peralatan Direct Shear Test
2. Beban
3. Sepatu Safety
4. Kacamata Safety

1.3.2 Bahan
1. Problem Set
2. Tabel Kalibrasi
3. Sampel Housing

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

2.1 Konsep Dasar

Kuat geser batuan adalah perlawanan internal batuan terhadap tegangan yang
bekerja sepanjang bidang geser dalam batuan tersebut yang dipengaruhi oleh
karakteristik intrinstik dan faktor eksternal.
Kuat geser batuan dibagi dengan dua jenis, yaitu Kuat geser puncak (peak) dan
Kuat geser Residu (sisa). Kuat geser puncak ialah kuat geser yang terjadi ketika
tegangan geser mencapai titik maksimalnya (puncak) disitu pula batuan mengalami
deformasi plastic yang kemudian runtuh. Setelah itu tegangan geser akan menurun
hingga menunjukan angka yang konstan untuk menggeser batuan tersebut atau disebut
kuat geser residu ( setelah batuan runtuh).

Gambar 2.1 Grafik Tegangan Geser Berbanding Perpindahan

Nilai kuat geser didapat dengan minimal tiga kali pengujian. Nilai kuat geser
beseta parameter parameternya didapat dengan mengeplot nilai tegangan geser dan
tegangan normal dalam kurva Mohr Coloum dan dengan persamaan t = C + σn tan Ф

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

t = C + σn tan Ф
Ф

Gambar 2.2 Grafik Tegangan Geser Berbaning Tegangan Normal

2.2. Faktor yang Mempengaruhi

1. Tegangan Normal
Tegangan normal yang diberikan tidak melebihi batas elastisitas batuan. Dalam
hal ini yang dimaksud batas elastisitas adalah batas dimana belum terjadi pembentukan
rekahan awal ketika beban normal diberikan. Oleh karena itu diusahakan agar deformasi
maupun runtuhan yang terjadi hanya disebabkan oleh tegangan geser dan bukan oleh
tegangan normal.
2. Mineralogi dan Ukuran Butiran
Butiran yang kecil biasanya monocrystalline dan ikatannya ataupun nilai
kohesinya relatif lebih tinggi dibandingkan dibandingkan butiran besar. Pada batuan
yang ukuran butirnya lebih besar, permukaan gesernya cenderung membentuk
gelombang gelombang kasar ketika mengalami pergeseran. Hal ini menyebabkan sudut
gesek dalam batuan yang diperoleh dari uji laboratorium lebih besar dari aslinya.
3. Kekasaran Permukaan Geser
Semakin kasar permukaan geser, semakin besar kekuatan geser batuan. Tetapi
kekasaran geser ini akan berpengaruh hanya pada tegangan normal yang rendah, karena
pada tegangan normal yang cukup tinggi permukaan geser akan hancur sehingga pada
perilaku kekuatan geser batuan akan lebih dipengaruhi oleh kekuatan batuan utuh
(intact rock) daripada kekasaran permukaan geser

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

4. Banyaknya Bidang Diskontinu


Dengan keberadaan bidang-bidang diskontinu perambatan rekahan pada batuan
dapat dengan mudah terjadi ketika mendapat gaya dari luar. Hal ini menyebabkan
kekuatan batuan menurun.
5. Tingkat Kerusakan Conto
Proses pengambilan serta pengangkutan bongkahan batu ke laboratorium dapat
mengakibatkan conto batuan terganggu. Semakin besar gangguan ataupun kerusakan
yang dialami batuan sebelum diuji, semakin batuan tersebut tidak mempresentasikan
kondisi masa batuan.

2.3 Kuat Geser Dari Permukaan Planar

Bahwa sejumlah contoh dari suatu batu diperoleh untuk uji kuat geser. Masing-
Masing contoh berisi suatu through-going bidang perlapisan yang disemen; dengan kata
lain, suatu kekuatan yang dapat diterapkan menjadi berlaku untuk membelah dua
spesimen dalam order memisahkan nya. Bidang perlapisan tersebut pastinya planar,
tidak punya ketidak teraturan permukaan atau gerak mengombak. Di dalam suatu uji
kuat geser spesimen masing-masing diperlakukan untuk tekana normal pada bidang
perlapisan, dan tekanan geser, diperlukan untuk menyebabkan suatu penggantian ,
yang terukur. Tekanan geser akan meningkat dengan cepat sampai kekuatan puncak
dicapai. Ini sesuai dengan penjumlahan kekuatan dari material semen mengikat kedua
belahan dari bidang perlapisan bersama-sama dan mempertemukan pembalasan tentang
geseran dari permukaan.
Ketika perpindahan berlanjut, tekanan geser akan jatuh ke beberapa nilai sisa yang
kemudian sisa tetap, bahkan untuk penggantian pergeseran besar. Rencanakan puncak
dan kuat geser bersifat sisa untuk mengakibatkan perbedaan tegangan normal. Untuk
bidang lemah permukaan planar poin-poin yang bersifat percobaan akan biasanya jatuh
sepanjang garis lurus. Garis Kekuatan Puncak mempunyai suatu kemiringan dari  dan
suatu menginterupsi c pada poros kuat geser. Garis Kekuatan yang bersifat sisa
mempunyai suatu kemiringan dari r. Hubungan antara kuat geser p dan tegangan
normal n dapat diwakili oleh persamaan Mohr Coulomb

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

p = c + n tan 

dimana:
c = kekuatan kohesi pada permuakaan semen

 = sudut geser

n = Tegangan (MPa)

p = Tegangan Geser (MPa)

Gambar 2.3 Grafik Tekanan Batuan

Di dalam kasus kekuatan sisa, kohesi c mempunyai nilai nol dan hubungan antara
r dan n dapat diwakili oleh:

Dimana;

r = sudut geser sisa

p = Tegangan Geser (MPa)

n = Tegangan (MPa)

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

Conto ini telah dibahas dalam menggambarkan arti fisik tentang istilah kohesi,
suatu istilah mekanika lahan, yang telah diadopsi oleh kumpulan mekanika batuan. Di
dalam menguji kuat geser tanah, tingkatan tekanan biasanya suatu penting/besar lebih
rendah dari yang melibatkan pengujian mekanika batuan dan yang kekuatan tanah
adalah suatu hasil adhesi partikel butir l. Di dalam mekanika batuan, kohesi benar
terjadi ketika permukaan disemen dipotong. Bagaimanapun, di dalam aplikasi praktis,
istilah kohesi digunakan untuk kenyamanan dan itu mengacu pada suatu kuantitas
matematik berhubungan dengan kekasaran permukaan, seperti dibahas untuk sesion
berikutya. Kohesi hanya menginterupsi pada atas  poros pada nol tegangan normal.
Sudut gesek yang basis dasar b adalah suatu kuantitas yang pokok kepada
pemahaman kekuatan geser diskontinu permukaan. Ini adalah kira-kira sepadan dengan
sudut gesek yang bersifat sisa r tetapi umumnya disepakati diukur dengan pengujian
memotong permukaan batuan. Test ini, dapat dilaksanakan pada permukaan sekecil 50
mm x 50 mm, akan menghasilkan suatu alur cerita garis lurus yang digambarkan oleh
persamaan:

Dimana;

r = sudut geser sisa

p = Tegangan Geser (MPa)

n = Tegangan (MPa)

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

2.4 Sifat Fisik Batuan

1. Porositas
Porositas didefinisikan sebagai perbandingan volume pori-pori (yaitu volume
yang ditempati oleh fluida) terhadap volume total batuan. Ada dua jenis porositas yaitu
porositas antar butir dan porositas rekahan. Secara matematis porositas dapat dituliskan
sebagai berikut:
2. Kecepatan Aliran Fluida
Kecepatan aliran darcy atau flux velocity (v) adalah laju alir rata-rata volume flux
per satuan luas penampang di media berpori. Sedangkan kecepatan rata-rata fluida yang
melalui media berpori dikenal sebagai interstitial velocity(u). Hubungan antara kedua
parameter kecepatan tersebut adalah sebagai berikut: Harga flux velocity pada umumnya
sekitar 10-6 m/s. Besarnya interstitial velocity digunakan untuk kecepatan suatu partikel
(partikel kimia penjejak atau tracer) yang mengalir pada media berpori.
3. Permeabilitas
Permeabilitas adalah parameter yang memvisualisasikan kemudahan suatu fluida
untuk mengalir pada media berpori. Parameter ini dihubungkan dengan kecepatan alir
fluida oleh hukum Darcy seperti di bawah ini Tanda negatif dalam persamaan di atas
menunjukkan bahwa apabila tekanan bertambah dalam satu arah, maka arah alirannya
berlawanan arah dengan pertambahan tekanan tersebut. Dari persamaan (2.3) dapat
dinyatakan bahwa kecepatan alir fluida (kecepatan flux) berbanding lurus dengan k/m,
dimana didalam teknik perminyakan, k/mdikenal sebagai mobility ratio.
Permeabilitas mempunyai arah, dimana ke arah x dan y biasanya mempunyai
permeabilitas lebih besar dari pada ke arah z. Sistem ini disebut anisotropic. Apabila
permeabilitas tersebut seragam ke arah horizontal maupun vertikal disebut sistem
isotropik. Satuan permeabilitas adalah m2. Pada umumnya pada reservoir panasbumi,
permeabilitas vertikal berkisar antara 10-14 m2, dengan permeabilitas horizontal dapat
mencapai 10 kali lebih besar dari permeabilitas vertikalnya (sekitar 10-13 m2). Satuan
permeabilitas yang umum digunakan didunia perminyakan adalah Darcy (1 Darcy = 10-
12
m2).
4. Densitas Batuan
Densitas batuan dari batuan berpori adalah perbandingan antara berat terhadap
volume (rata-rata dari material tersebut). Densitas spesifik adalah perbandingan antara

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

densitas material tersebut terhadap densitas air pada tekanan dan temperatur yang
normal, yaitu kurang lebih 103 kg/m3.
Batuan mempunyai sifat-sifat tertentu yang perlu diketahui, dalam mekanika
batuan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu ;
a. Sifat fisik batuan seperti bobot isi Spesific Gravity porositas dan absorbsi Void
Ratio.
b. Sifat mekanika batuan seperti kuat tekan, kuat tarik, modulus elastisitas, Poisson
`s Ratio.
Kedua sifat tersebut dapat ditentukan, pada umumnya ditentukan terhadap sampel
yang diambil dari lapangan. Satu persatu dapat digunakan untuk menentukan kedua
sifat batuan. Pertama-tama adalah penetuan sifak fisik batuan yang merupakan
pengujian tanpa merusak (Non Destructive Test), kemudian dilanjutkan dengan
penentuan sifat mekanik batuan yang merupakan pengujian merusak (Destructive Test)
sehingga contoh fracture (hancur).

2.5 Parameter Uji kuat Geser

Ada dua parameter dalam uji kuat geser yaitu kohesi dan sudut geser dalam.
Dimna kohesi dan sudut geser dalam adalah suatu parameter mekanika tanah dan batuan
yang sangat sering dijadikan acuan dalam suatu desain, pengujian serta analisis suatu
rancangan. Kohesi adalah gaya tarik menarik antara partikel dalam batuan, dinyatakan
dalam satuan berat per satuan luas. Kohesi batuan akan semakin besar jika kekuatan
gesernya makin besar. Nilai kohesi (c) diperoleh dari pengujian laboratorium yaitu
pengujian kuat geser langsung (direct shear strength test) dan pengujian triaxial
(triaxial test). Dikutip dari wikipedia bahwa kohesi adalah gaya tarik-menarik antar
molekul yang sama. Salah satu aspek yang memengaruhi nilai kohesi adalah kerapatan
dan jarak antar molekul dalam suatu benda. Kohesi berbanding lurus dengan kerapatan
suatu benda, sehingga bila kerapatan semakin besar maka kohesi yg akan didapatkan
semakin besar. Dalam hal ini, benda berbentuk padat memiliki kohesi yang paling besar
dan sebaliknya pada cairan. Sedangkan sudut geser dalam batuan secara sederhana
dapat kita lihat saat kita ambil sejumlah pasir dan kita tuang diatas permukaan, pasir
tersebut akan membentuk sudut tertentu dengan permukaan. Inilah makna fisik dari
sudut geser tanah pada kondisi tanpa tegangan pengekang.

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

BAB III
PROSEDUR KERJA

3.1 Prosedur Kerja

Sebelum melakukan praktikum, kami mendengarkan beberapa materi pengantar


tentang uji kuat geser.
a) Setelah itu praktikan menyiapkan alat terlebih dahulu sebelum melakukan
pengukuran uji geser. Kemudian praktikan mulai menggunakan safety glasses
dan safety shoes,
b) setalah itu core yang terbuat dari semen diletakkan dalam suatu cetakan beton
dengan perbandingan tertentu sehingga merupakan suatu kesatuan dengan beton
tersebut.
c) Selanjutnya core yang telah berada dalam cetakan beton ke dalam alat shear
box. Pasang dial gauge untuk mrngukur perpindahan pada arah pergeseran.
Diatur pada posisi nol. Kemudian diberikan gaya normal menggunakan bandul
dengan berat tertentu.
d) Lalu diberikan gaya geser dengan besar tertentu menggunakan mesin direct
shear otomatis. Selanjutnya praktikan membaca pertambahan gaya setiap
interval deformasi sebesar 0,5 mm.
e) Praktikan kemudian memberikan tegangan geser dengan memutar berlawanan
arah jarum jam pada pengerak shear box sehingga mencapai puncak (kondisi
residual).
f) Setelah core patah, praktikan memberikan gaya yang berlawanan arah dengan
gaya yang sebelumnya sampai tegangan gesernya mencapai puncak (kondisi
residual). Selama pemberian gaya, praktikan melakukan pula pembacaan gaya
setiap interval deformasi sebesar atau 0,5 mm.

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Percobaan

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

4.1.1 Problem Set Direct Shear test

Diameter Sudut Diameter Sudut


Sampel Bid. Sampel Bid.
(mm) (mm)
Geser Geser
47,5 45,2
1 44,8 Lembap 2 48,95 kering
45,5 47,15

Diameter Sudut
Sampel Bid.
(mm)
Geser
44,45
3 47,6 kering
46,65

Gaya Normal = 0,2 kN Gaya Normal = 0,4 kN


Gaya Horisontal Gaya Horisontal
Pergeseran Puncak Residual Pergeseran Puncak Residual
(mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm)
0 0 0 0 0 0
0,5 0 83 0,5 8 22

1 0 82 1 11 24

1,5 0,1 80,5 1,5 17,5 24,5

2 0,2 80,5 2 25 25

2,5 2 19,5 2,5 38 25,1

3 2,1 19,5 3 37 26

3,5 4 19,5 3,5 55 28,5

4 5 19,1 4 57 29

4,5 6,5 19 4,5 57,5 29,1

5 10 19 5 31 30

5,5 15 19 5,5 35 32

6 25 19 6 34,5 33,5

6,5 34 19,1 6,5 34,5 33,5

7 35 19,1 7 33,5

7,5 35 19,1 7,5 33

8 34 8
8,5 33 8,5
9 31 9
9,5 30 9,5
10 31 10

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

Gaya Normal = 0,6 kN


Gaya Horisontal
Pergeseran Puncak Residual
(mm) (mm) (mm)
0 0 0
0,5 4 4

1 8 6

1,5 10 6

2 18 6

2,5 24 4,5

3 32

3,5 42

4 60

4,5 72

5 64

5,5 49

6 48

6,5 47

7 47

7,5 44

8
8,5
9
9,5
10

4.1.2 Tabel Hasil Perhitungan Kuat Geser


D1 D2 D3
σn (MPa) = (Fnormal / A )*1000 4,75 4,52 4,45
3.14 * (D1/3) A 4,48 4,89 4,76
A= 4,55 4,71 4,66
*(D2/3) (D3/3)
Fgeser = 0.02031 * deformasi
τ (MPa) (Fgeser / A )*1000
Peak > Residual
Depth Deformasi (x 0,01 mm) σn
Kode Litologi F normal A
(m) Peak Residual (MPa)
1 0,2 35 19 18,1589 11,0139
2 0,4 57 33 33,1969 12,0493

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

3 0,6 72 6 52,0012 11,5382

F geser τ (MPa) keterangan


Peak Residual Peak Residual σ tegangan
0,7109 0,396 64,5457 34,3987 (sigma) normal
τ (torsi) tegangan geser
1,1678 0,6803 96,9184 56,4597
1,4623 0,1219 126,7355 10,5649

Area Fnormal Fgeser (kN)


No.
(mm2) (kN) Peak Residual
1 0,2 0,12186 0,08124
2 0,4 0,16248 0,08124
3 0,6 0,38589 0,24372

τ (MPa)
σ normal (MPa)
Peak Residual
18,1589 7,49930767 4,99954
33,1969 10,2212786 5,11064
52,0012 23,7707746 15,0131

𝒚 = 𝒂𝒙 + 𝒄 atau 𝝉 = 𝝈𝒏 𝒕𝒂𝒏𝝓 + 𝒄

Residual Peak
Cohesion (Mpa) 1,5564 Cohesion (Mpa) 2,3798
Sudut Geser Dalam (o) 21,81622583 Sudut Geser Dalam (o) 33,1606

4.1.3 Grafik Direct Shear Test gaya geser dan tegangan geser

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

25
23.77077456
y = 0.6534x - 2.3798
20

15 15.01312077peak
y = 0.4003x - 1.5564 residual

10 10.2212786 Linear (peak)

7.499307671 Linear (residual)


5 4.999538447 5.110639302

0
0 10 20 30 40

4.2. Pembahasan

4.2.1 Hasil Perhitungan


1. Tegangan Normal (σn (MPa) = (Fnormal / A )*1000)
a. Sampel 1 didapatkan 18,1589 MPa.
b. Sampel 2 didapatkan 33,1969 MPa.
c. Sampel 3 didapatkan 52,0012 MPa.
2. Luas ( A = 3.14 * (D1/3) * (D2/3) (D3/3) )
a. Sampel 1 didapatkan 4,75 cm2.
b. Sampel 2 didapatkan 4,52 cm2
c. Sampel 3 didapatkan 4,45 cm2
3. Gaya Geser Peak (Fgeser = 0.02031 * deformasi)
a. Sampel 1 didapatkan 0,7109 kN
b. Sampel 2 didapatkan 1,1678 kN
c. Sampel 3 didapatkan 1,4623 kN
4. Gaya Geser Residual (Fgeser = 0.02031 * deformasi)
a. Sampel 1 didapatkan 0,396 kN
b. Sampel 2 didapatkan 0,6803 kN
c. Sampel 3 didapatkan 0,1219 kN
5. Tegangan Geser Peak (τ (MPa) = (Fgeser / A )*1000))
a. Sampel 1 didapatkan 64,5457 MPa
b. Sampel 2 didapatkan 96,9184 MPa.

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

c. Sampel 3 didapatkan 126,7355 MPa


6. Tegangan Geser residual (τ (MPa) = (Fgeser / A )*1000))
a. Sampel 1 didapatkan 34,3987 MPa
b. Sampel 2 didapatkan 56,4597 MPa.
c. Sampel 3 didapatkan 10,5649 MPa

4.2.2 Pembahasan Kurva Kuat Geser


Dari kurva yang terbentuk diperoleh tegangan normal dan tegangan geser yang
berbanding lurus dengan nilai peak selalu lebih besar dari nilai residual. Hal ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti gaya normal, gaya geser, dan deformasi yang
terjadi.

BAB V

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa ada beberapa parameter
yang mempengaruhi kelakuan atau sifat dari massa batuan yaitu Kekuatan batuan (Rock
strength), Dalam uji kuat geser yaitu kohesi dan sudut geser dalam. Dimana kohesi dan
sudut geser dalam adalah suatu parameter mekanika tanah dan batuan yang sangat
sering dijadikan acuan dalam suatu design, pengujian serta analisis suatu rancangan.
Kohesi adalah gaya tarik menarik antara partikel dalam batuan, dinyatakan dalam satuan
berat per satuan luas. Kohesi batuan akan semakin besar jika kekuatan gesernya makin
besar. Nilai kohesi (c) diperoleh dari pengujian laboratorium yaitu pengujian kuat geser
langsung (direct shear strength test) dan pengujian triaksial (triaxial test). Dikutip dari
wikipedia bahwa kohesi adalah gaya tarik-menarik antar molekul yang sama. Salah satu
aspek yang memengaruhi nilai kohesi adalah kerapatan dan jarak antar molekul dalam
suatu benda. Kohesi berbanding lurus dengan kerapatan suatu benda, sehingga bila
kerapatan semakin besar maka kohesi yg akan didapatkan semakin besar. Dalam hal ini,
benda berbentuk padat memiliki kohesi yang paling besar dan sebaliknya pada cairan.
Sedangkan sudut geser dalam batuan secara sederhana dapat kita lihat saat kita ambil
sejumlah pasir dan kita tuang diatas permukaan, pasir tersebut akan membentuk sudut
tertentu dengan permukaan. Inilah makna fisik dari sudut geser tanah pada kondisi tanpa
tegangan pengekang.

5.2 Saran

5.2.1 Asisten
Agar hal – hal yang diperlukan dapat dipersiapkan sebelum praktikum dimulai
dan aturan yang dibuat untuk dijalankan dengan baik. Caranya dengan memberikan
waktu beberapa hari praktikan untuk membuat sampel dan menyangkut aturan agar
membuat aturan yang mendisplinkan bukan yang berorientasi hanya pada penjerahan
yang sifatnya sementara.

5.2.2 Laboratorium

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

Kedepannya agar alat praktikum seperti alat kuat tarik, UCS dan lainnya dapat
dilakukan pengadaan. Dapat dengan melakukan kerjasama pengembangan alat bersama
lembaga yang lebih mengetahui dan kompeten dengan bidang mekanika batuan ini.

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230
PRAKTIKUM MEKANIKA BATUAN
LABORATORIUM GEOMEKANIKA
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

UJI KUAT GESER

DAFTAR PUSTAKA

Kramadibrata Suseno, 2009.”Karakteristik Massa Batuan”.Departemen Teknik


Pertambangan.Institut Teknologi Bandung.
Tim asisten mekanika batuan, 2017.”Penuntun Praktikum Mekanika Batuan”.Fakultas
Teknologi Industri.Universitas Muslim Indonesia.

A.BASO LOVAN ALTAMAR MUHAMMAD


093201450230 09320150230