Anda di halaman 1dari 12

NAMA : AHMAT SYAFAK

NIM : 161741019150037
Tugas Hukum Acara Pidana

HAK DAN KEWAJIBAN PIHAK-PIHAK TERKAIT DALAM


HUKUM ACARA PIDANA

PELAKU

1. Berhak sepenuhnya atas hasil kerja pekerja.


2. Berhak atas ditaatinya aturan kerja oleh pekerja, termasuk pemberian sanksi
3. Berhak atas perlakuan yang hormat dari pekerja
4. Berhak melaksanakan tata tertib kerja yang telah dibuat oleh pengusaha

KEWAJIBAN PENGUSAHA

1. Memberikan ijin kepada buruh untuk beristirahat, menjalankan kewajiban menurut


agamanya
2. Dilarang memperkerjakan buruh lebih dari 7 jam sehari dan 40 jam seminggu, kecuali ada
ijin penyimpangan
3. Tidak boleh mengadakan diskriminasi upah laki/laki dan perempuan
4. Bagi perusahaan yang memperkerjakan 25 orang buruh atau lebih wajib membuat
peraturan perusahaan
5. Wajib membayar upah pekerja pada saat istirahat / libur pada hari libur resmi
6. Wajib mengikut sertakan dalam program Jamsostek

Lebih Lanjut
HAK DAN KEWAJIBAN PENGUSAHA

Berdasarkan UU No 13, tahun 2003 :


“Pasal 50 UU No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan menyatakan: Hubungan kerja
terjadi karena adanya perjanjian kerja antara pengusaha danpekerja/buruh”.

Bahwa pengertian istilah "Hubungan kerja" merunjuk pada hubungan antara pengusaha
dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah,
dan perintah.
Terkait dengan 3 unsur dalam hubungan kerja diatas (pekerjaan, upah dan perintah),
tentunya sebagai pemberi kerja/ pengusaha, Anda dapat memberikan perintah kerja kepada
karyawan/ pekerja Anda. Dalam konteks dunia kerja, perintah sudah menjadi bagian
keseharian dalam proses kerja sekaligus menjadi jaminan keberlangsungan usaha perusahaan.
Dalam budaya kerja, perintah dapat dimanifestasikan dalam bentuk instruksi, petunjuk, dan
pedoman.
Berdasarkan konteks di atas, jelas dan tegas, perintah kerja merupakan unsur utama
dalam hubungan kerja. Tanpa adanya perintah kerja, tentunya tidak ada pekerjaan dan tidak
ada upah yang harus dibayarkan. Terhadap pembangkangan perintah kerja, Hukum
ketenagakerjaan melindungi kepentingan pengusaha. Hal ini dapat dilihat dalam pasal-pasal
Hukum Ketenagakerjaan sebagai berikut :
“Pasal 95 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 : Pelanggaran yang dilakukan oleh
pekerja/buruh karena kesengajaan atau kelalaiannya dapat dikenakan denda”.
NAMA : AHMAT SYAFAK
NIM : 161741019150037
Tugas Hukum Acara Pidana

Artinya, bilamana atas pembangkangan tersebut tenyata Perusahaan dirugikan maka


Pengusaha dapat menerapkan denda pengganti kepada si pekerja yang bersangkutan.

Pasal 158 UU No. 13 Tahun 2003 :


“Pengusaha dapat memutuskan hubungan kerja terhadap pekerja/buruh dengan alasan
pekerja/buruh telah melakukan kesalahan berat sebagai berikut :
a. melakukan penipuan, pencurian, atau penggelapan barang dan/atau uang
milikperusahaan;
b. memberikan keterangan palsu atau yang dipalsukan sehingga merugikan perusahaan;
c. mabuk, meminum minuman keras yang memabukkan, memakai dan/atau
mengedarkan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya di lingkungan kerja;
d. melakukan perbuatan asusila atau perjudian di lingkungan kerja;
e. menyerang, menganiaya, mengancam, atau mengintimidasi teman sekerja atau
pengusaha di lingkungan kerja;
f. membujuk teman sekerja atau pengusaha untuk melakukan perbuatan yang
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan;
g. dengan ceroboh atau sengaja merusak atau membiarkan dalam keadaan bahaya barang
milik perusahaan yang menimbulkan kerugian bagi perusahaan;
h. dengan ceroboh atau sengaja membiarkan teman sekerja atau pengusaha dalam
keadaan bahaya di tempat kerja;
i. membongkar atau membocorkan rahasia perusahaan yang seharusnya dirahasiakan
kecuali untuk kepentingan negara; atau
j. melakukan perbuatan lainnya di lingkungan perusahaan yang diancam pidana penjara
5 (lima) tahun atau lebih.
Kesalahan berat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus didukung dengan bukti
sebagai berikut :
a. pekerja/buruh tertangkap tangan;
b. ada pengakuan dari pekerja/buruh yang bersangkutan; atau
c. bukti lain berupa laporan kejadian yang dibuat oleh pihak yang berwenang
diperusahaan yang bersangkutan dan didukung oleh sekurang-kurangnya 2 (dua) orang
saksi.
Pekerja/buruh yang diputus hubungan kerjanya berdasarkan alasan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), dapat memperoleh uang penggantian hak sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 156 ayat (4).
Bagi pekerja/buruh sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang tugas dan fungsinya
tidak mewakili kepentingan pengusaha secara langsung, selain uang penggantian hak sesuai
dengan ketentuan Pasal 156 ayat (4) diberikan uang pisah yang besarnya dan pelaksanaannya
diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.
“Pasal 18 KEPMENAKER NO. 150/MEN/2000 tentang PENYELESAIAN
PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA DAN PENETAPAN UANG PESANGON, UANG
PENGHARGAAN MASA KERJA DAN GANTI KERUGIAN DI PERUSAHAAN
menyatakan :
(1). Ijin pemutusan hubungan kerja dapat diberikan karena pekerja melakukan kesalahan
berat sebagai berikut:
NAMA : AHMAT SYAFAK
NIM : 161741019150037
Tugas Hukum Acara Pidana

a. penipuan, pencurian dan penggelapan barang/uang milik pengusaha atau milik teman
sekerja atau milik teman pengusaha;
b. atau memberikan keterangan palsu atau yang dipalsukan sehingga merugikan pengusaha
atau kepentingan Negara; atau
c. mabok, minum-minuman keras yang memabokkan, madat, memakai obat bius atau
menyalahgunakan obat-obatan terlarang atau obat-obatan perangsang lainnya yang
dilarang oleh peraturan perundang-undangan, di tempat kerja, dan di tempat-tempat
yang ditetapkan perusahaan; atau
d. melakukan perbuatan asusila atau melakukan perjudian di tempal kerja; atau
e. menyerang, mengintimidasi atau menipu pengusaha atau teman sekerja dan
memperdagangkan barang terlarang baik dalam lingkungan perusahaan maupun diluar
lingkungan perusahaan; atau
f. menganiaya, mengancam secara physik atau mental, menghina secara kasar pengusaha
atau keluarga pengusaha atau teman sekerja; atau
g. membujuk pengusaha atau teman sekerja untuk melakukan sesuatu perbuatan yang
bertentangan dengan hukum atau kesusilaan serta peraturan perundangan yang berlaku;
atau
h. membongkar atau membocorkan rahasia perusahaan atau mencemarkan nama baik
pengusaha dan atau keluarga pengusaha yang seharusnya dirahasiakan kecuali untuk
kepentingan Negara; dan
i. hal-hal yang diatur dalam perjanjian kerja atau peraturan perusahaan atau kesepakatan
kerja bersama.
(2). Pengusaha dalam memutuskan hubungan kerja pekerja dengan alasan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) harus menyertakan bukti yang ada dalam permohonan ijin
pemutusan hubungan kerja.
(3). Terhadap kesalahan pekerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan
tindakan skorsing sebelum izin pemutusan hubungan kerja diberikan oleh Panitia
Daerah atau Panitia Pusat.
(4). Pekerja yang diputuskan hubungan kerjanya karena melakukan kesalahan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) tidak berhak atas uang pesangon tetapi berhak atas uang
penghargaan masa kerja apabila masa kerjanya telah memenuhi syarat untuk
mendapatkan uang penghargaan masa kerja dan uang ganti kerugian
(5). Pekerja yang melakukan kesalahan di luar kesalahan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) dapat diputuskan hubungan kerjanya dengan mendapat uang pesangon, uang
penghargaan masa kerja dan ganti kerugian.
(6). Dalam hal terjadi pemutusan hubungan Kerja karena alasan pekerja melakukan
kesalahan berat tetapi pengusaha tidak mengajukan permohonan ijin
pemutusanhubungan kerja, maka sebelum ada putusan Panitia Daerah atau Panitia
Pusat upah pekerja selama proses dibayar 100% (seratus perseratus).
Berdasarkan ketentuan di atas, terkait dengan kerugian perusahaan akibat
pembangkangan pekerja terhadap perintah kerja, tentunya hal tersebut dapat dikategorikan
pelanggaran ketentuan Pasal 18 ayat (1) huruf (b) yang artinya berdasakan Pasal 18 ayat (4),
Anda sebagai Pengusaha dapat mem- PHK-kan si pekerja tanpa pesangon.
Sesungguhnya setiap perbuatan melawan hukum yang merugikan orang lain,
mewajibkan bagi si pelanggarnya untuk memberikan ganti rugi. Pemberian ganti kerugian ini
NAMA : AHMAT SYAFAK
NIM : 161741019150037
Tugas Hukum Acara Pidana

tidak terbatas pada tanggungjawab atas perbuatannya sendiri tetapi juga mencakup pada
kesalahan orang lain yang berada dibawah pengawasannya. Hal ini sebagaimana dimaksud
Pasal 1367 KUHPerdata yang menyatakan, "Seseorang tidak hanya bertanggung jawab, atas
kerugian yang disebabkan perbuatannya sendiri, melainkan juga atas kerugian yang
disebabkan perbuatan-perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan
barang-barang yang berada di bawah pengawasannya".
Dalam hal pekerja, ternyata atas pekerjaannya telah mengakibatkan kerugian bagi orang
lain, tidak tertutup kemungkinan, Anda sebagai pengusaha yang menanggung dan yang
secara hukum mengawasi pekerjaan dari si pekerja, harus menanggung kerugian atas
kelalaian/ kesalahan si pekerja tersebut. Namun demikian, tanggung jawab si Pengusaha atas
kesalahan/ kelalaian pekerja ada batasannya secara hukum yakni bilamana sebagai pengusaha
dapat membuktikan bahwasanya tidak dapat mencegah perbuatan itu. Hal ini sebagaimana
dimaksud dan di atur alinea terakhir Pasal 1367 KUHPerdata :
"Tanggung jawab yang disebutkan di atas berakhir, jika orangtua, guru sekolah atau
kepala tukang itu membuktikan bahwa mereka masingmasing tidak dapat mencegah
perbuatan itu atas mana mereka seharusnya bertanggung jawab."

HAK DAN KEWAJIBAN PEKERJA

HAK PEKERJA

Pasal 5: Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk
memperoleh pekerjaan
Pasal 6: Setiap pekerja berHak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari
pengusaha
Pasal 11: Setiap tenaga kerja berHak untuk memperoleh dan/atau meningkatkan dan/atau
mengembangkan kompetensi kerja sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya melalui
pelatihan kerja
Pasal 12 ayat ( 3 ): Setiap pekerja memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti
pelatihan kerja sesuai dengan bidang tugasnya
Pasal 18 ayat ( 1 ): Tenaga kerja berHak memperoleh pengakuan kompetensi kerja setelah
mengikuti pelatihan kerja yang diselenggarakan lembaga pelatihan kerja pemerintah, lembaga
pelatihan kerja swasta atau pelatihan ditempat kerja
Pasal 23: Tenaga kerja yang telah mengikuti program pemagangan berHak atas pengakuan
kualifikasi kompetensi kerja dari perusahaan atau lembaga sertifikasi
Pasal 31: Setiap tenaga kerja mempunyai Hak dan kesempatan yang sama untuk memilih,
mendapatkan atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang layak didalam atau
diluar negeri
Pasal 67: Pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang cacat wajib memberikan
perlindungan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatannya
Pasal 78 ayat ( 2 ): Pengusaha yang mempekerjakan pekerja melebihi waktu kerja
sebagaimana dimaksud pada Pasal 78 ayat (1) wajib membayar upah kerja lembur
Pasal 79 ayat ( 1 ): Pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada pekerja
NAMA : AHMAT SYAFAK
NIM : 161741019150037
Tugas Hukum Acara Pidana

Pasal 80: Pengusaha wajib memberikan kesempatan yang secukupnya kepada pekerja untuk
melaksanakan ibadah yang diwajibkan oleh agamanya
Pasal 82 : Pekerja perempuan berHak memperoleh istirahat selam 1,5 (satu setengah)
bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 (Satu setengah) bulan sesudah melahirkan
menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan
Pasal 84: Setiap pekerja yang menggunakan hak waktu istirahat sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 79 ayat (2) huruf b, c dan d, Pasal 80 dan Pasal 82 berHak mendapatkan upah
penuh
Pasal 85 ayat ( 1 ): Pekerja tidak wajib bekerja pada hari-hari libur resmi
Pasal 86 ayat ( 1 ): Setiap pekerja mempunyai Hak untuk memperoleh perlindungan atas :
a. Keselamatan dan kesehatan kerja
b. Moral dan kesusilaan dan
c. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama
Pasal 88: Setiap pekerja berHak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang
layak bagi kemanusiaan
Pasal 90: Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 89
Pasal 99 ayat ( 1 ): Setiap pekerja dan keluarganya berHak untuk memperoleh jaminan sosial
tenaga kerja
Pasal 104 ayat ( 1 ): Setiap pekerja berHak membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja
Pasal 137: Mogok kerja sebagai Hak dasar pekerja dan serikat pekerja dilakukan secara sah,
tertib dan damai sebagai akibat gagalnya perundingan
Pasal 156 ayat ( 1 ): Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja, pengusaha diwajibkan
membayar uang pesangon dan uang penghargaan masa kerja serta uang pengganti Hak yang
seharusnya diterima

KEWAJIBAN PEKERJA
Pasal 102 ayat ( 2 ): Dalam melaksanakan hubungan industrial, pekerja dan serikat pekerja
mempunyai fungsi menjalankan pekerjaan sesuai dengan keWajibannya, menjaga ketertiban
demi kelangsungan produksi, menyalurkan aspirasi secara demokrasi, mengembangkan
keterampilan dan keahliannya serta ikut memajukan perusahaan dan memperjuangkan
kesejahteraan anggota beserta keluarganya
Pasal 126 ayat ( 1 ): Pengusaha, serikat pekerja dan pekerja Wajib melaksanakan
ketentuan yang ada dalam perjanjian kerja bersama
( 2 ): Pengusaha dan serikat pekerja Wajib memberitahukan isi perjanjian
kerja bersama atau perubahannya kepada seluruh pekerja
Pasal 136 ayat ( 1 ): Penyelesaian perselisihan hubungan industrial Wajib dilaksanakan oleh
pengusaha dan pekerja atau serikat pekerja secara musyawarah untuk mufakat
Pasal 140 ayat ( 1 ): Sekurang kurangnya dalam waktu 7 (Tujuh) hari kerja sebelum mogok
kerja dilaksanakan, pekerja dan serikat pekerja Wajib memberitahukan secara tertulis kepada
pengusaha dan instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan setempat
PERAN PEMERINTAH

Pelatihan Kerja
Pelatihan kerja diselenggarakan dan diarahkan untuk membekali, meningkatkan, dan
mengembangkan kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan, produktivitas, dan
NAMA : AHMAT SYAFAK
NIM : 161741019150037
Tugas Hukum Acara Pidana

kesejahteraan dengan memperhatikan kebutuhan pasar kerja dan dunia usaha, baik di dalam
maupun di luar hubungan kerja yang diselenggarakan berdasarkan program pelatihan yang
mengacu pada standar kompetensi kerja dan dapat dilakukan secara berjenjang. Pelatihan
kerja diselenggarakan oleh lembaga pelatihan kerja pemerintah dan/atau lembaga pelatihan
kerja swasta dan diselenggarakan di tempat pelatihan atau tempat kerja serta dapat bekerja
sama dengan swasta. Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah melakukan pembinaan
pelatihan kerja dan pemagangan yang ditujukan ke arah peningkatan relevansi, kualitas, dan
efisiensi penyelenggaraan pelatihan kerja dan produktivitas yang dilakukan melalui
pengembangan budaya produktif, etos kerja, teknologi, dan efisiensi kegiatan ekonomi,
menuju terwujudnya produktivitas nasional.

Penempatan Tenaga Kerja


Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memilih,
mendapatkan, atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang layak di dalam atau
di luar negeri. Penempatan tenaga kerja dilaksanakan berdasarkan asas terbuka, bebas,
obyektif, serta adil, dan setara tanpa diskriminasi. Penempatan tenaga kerja ini diarahkan
untuk menempatkan tenaga kerja pada jabatan yang tepat sesuai dengan keahlian,
keterampilan, bakat, minat, dan kemampuan dengan memperhatikan harkat, martabat, hak
asasi, dan perlindungan hukum yang dilaksanakan dengan memperhatikan pemerataan
kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan program nasional
dan daerah. Pemberi kerja yang memerlukan tenaga kerja dapat merekrut sendiri tenaga kerja
yang dibutuhkan atau melalui pelaksana penempatan tenaga kerja. Pelaksana penempatan
tenaga kerja ini wajib memberikan perlindungan sejak rekrutmen sampai penempatan tenaga
kerja yang mencakup kesejahteraan, keselamatan, dan kesehatan baik mental maupun fisik
tenaga kerja.
Penempatan tenaga kerja oleh pelaksana sebagaimana dimaksud dilakukan dengan
memberikan pelayanan penempatan tenaga kerja yang bersifat terpadu dalam satu sistem
penempatan tenaga kerja yang meliputi unsur-unsur:
 pencari kerja;
 lowongan pekerjaan;

 informasi pasar kerja;


 mekanisme antar kerja; dan
 kelembagaan penempatan tenaga kerja.

Unsur-unsur sistem penempatan tenaga kerja sebagaimana dimaksud dapat dilaksanakan


secara terpisah yang ditujukan untuk terwujudnya penempatan tenaga kerja. Pelaksana
penempatan tenaga kerja sebagaimana dimaksud terdiri dari:
 instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan; dan
 lembaga swasta berbadan hukum.

Lembaga penempatan tenaga kerja swasta sebagaimana dimaksud dalam melaksanakan


pelayanan penempatan tenaga kerja wajib memiliki izin tertulis dari Menteri atau pejabat
yang ditunjuk. Pelaksana penempatan tenaga kerja dari instansi pemerintah yang
bertanggungjawab di bidang ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dilarang memungut
biaya penempatan, baik langsung maupun tidak langsung, sebagian atau keseluruhan kepada
tenaga kerja dan pengguna tenaga kerja. Lembaga penempatan tenaga kerja swasta hanya
dapat memungut biaya penempatan tenaga kerja dari pengguna tenaga kerja dan dari tenaga
kerja golongan dan jabatan tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri.
NAMA : AHMAT SYAFAK
NIM : 161741019150037
Tugas Hukum Acara Pidana

Perluasan Kesempatan Kerja


Pemerintah bertanggung jawab mengupayakan perluasan kesempatan kerja baik di dalam
maupun di luar hubungan kerja dengan cara bersama-sama dengan masyarakat
mengupayakan perluasan kesempatan kerja baik di dalam maupun di luar hubungan kerja.
Semua kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah di setiap sektor diarahkan untuk
mewujudkan perluasan kesempatan kerja baik di dalam maupun di luar hubungan kerja.
Lembaga keuangan baik perbankan maupun non perbankan, dan dunia usaha perlu membantu
dan memberikan kemudahan bagi setiap kegiatan masyarakat yang dapat menciptakan atau
mengembangkan perluasan kesempatan kerja. Perluasan kesempatan kerja di luar hubungan
kerja dilakukan melalui penciptaan kegiatan yang produktif dan berkelanjutan dengan
mendayagunakan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan teknologi tepat guna
yang dilakukan dengan pola pembentukan dan pembinaan tenaga kerja mandiri, penerapan
sistem padat karya, penerapan teknologi tepat guna, dan pendayagunaan tenaga kerja sukarela
atau pola lain yang dapat mendorong terciptanya perluasan kesempatan kerja. Pemerintah
menetapkan kebijakan ketenagakerjaan dan perluasan kesempatan kerja serta bersama-sama
masyarakat mengawasi pelaksanaan kebijakan sebagaimana dimaksud. Dalam melaksanakan
tugas sebagaimana dimaksud dapat dibentuk badan koordinasi yang beranggotakan unsur
pemerintah dan unsur masyarakat. Semua ketentuan mengenai perluasan kesempatan kerja,
dan pembentukan badan koordinasi sebagaimana dimaksud diatur dengan Peraturan
Pemerintah.

Menanggulangi Pekerja Anak Di Luar Hubungan Kerja


Pemerintah berkewajiban melakukan upaya penanggulangan anak yang bekerja di luar
hubungan kerja dan mengaturnya melalui Peraturan Pemerintah.

Menetapkan Kebijakan Pengupahan Yang Melindungi Pekerja


Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang
layak bagi kemanusiaan. Untuk mewujudkan penghasilan yang memenuhi penghidupan yang
layak bagi kemanusiaan sebagaimana dimaksud, pemerintah menetapkan kebijakan
pengupahan yang melindungi pekerja/buruhyang meliputi:
 upah minimum;
 upah kerja lembur;

 upah tidak masuk kerja karena berhalangan;


 upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya;
 upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya;
 bentuk dan cara pembayaran upah;
 denda dan potongan upah;
 hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah;
 struktur dan skala pengupahan yang proporsional;
 upah untuk pembayaran pesangon; dan
 upah untuk perhitungan pajak penghasilan.

Dalam menetapkan upah minimum, Pemerintah harus berdasarkan kepada kebutuhan hidup
layak dan dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.
Upah minimum sebagaimana dimaksud dapat terdiri atas:
NAMA : AHMAT SYAFAK
NIM : 161741019150037
Tugas Hukum Acara Pidana

 upah minimum berdasarkan wilayah provinsi atau kabupaten/kota;


 upah minimum berdasarkan sektor pada wilayah provinsi atau kabupaten/kota;

Upah minimum sebagaimana dimaksud diarahkan kepada pencapaian kebutuhan hidup layak
dan ditetapkan oleh Gubernur dengan memperhatikan rekomendasi dari Dewan Pengupahan
Provinsi dan/atau Bupati/Walikota. Komponen serta pelaksanaan tahapan pencapaian
kebutuhan hidup layak sebagaimana dimaksud diatur dengan Keputusan Menteri. Untuk
memberikan saran, pertimbangan, dan merumuskan kebijakan pengupahan yang akan
ditetapkan oleh pemerintah, serta untuk pengembangan sistem pengupahan nasional dibentuk
Dewan Pengupahan Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota yang terdiri dari unsur
pemerintah, organisasi pengusaha, serikat pekerja/serikat buruh, perguruan tinggi, dan pakar.
Keanggotaan Dewan Pengupahan tingkat Nasional diangkat dan diberhentikan oleh Presiden,
sedangkan keanggotaan Dewan Pengupahan Provinsi, Kabupaten/Kota diangkat dan
diberhentikan oleh Gubenur/Bupati/ Walikota. Semua ketentuan mengenai tata cara
pembentukan, komposisi keanggotaan, tata cara pengangkatan dan pemberhentian
keanggotaan, serta tugas dan tata kerja Dewan Pengupahan sebagaimana dimaksud, diatur
dengan Keputusan Presiden.

Memfasilitasi Usaha - Usaha Produktif Pekerja


Untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh, dibentuk koperasi pekerja/buruh dan
usaha-usaha produktif di perusahaan. Pemerintah, pengusaha, dan pekerja/buruh atau serikat
pekerja/serikat buruh berupaya menumbuhkembangkan koperasi pekerja/buruh, dan
mengembangkan usaha produktif sebagaimana dimaksud. Pembentukan koperasi
sebagaimana dimaksud, dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Upaya-upaya untuk menumbuhkembangkan koperasi pekerja/buruh sebagaimana
dimaksud, diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Menetapkan Kebijakan Dan Memberikan Pelayanan


Dalam melaksanakan hubungan industrial, pemerintah mempunyai fungsi menetapkan
kebijakan, memberikan pelayanan, melaksanakan pengawasan, dan melakukan penindakan
terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan. Dalam melaksanakan
hubungan industrial, pekerja/buruh dan serikat pekerja/serikat buruhnya mempunyai fungsi
menjalankan pekerjaan sesuai dengan kewajibannya, menjaga ketertiban demi kelangsungan
produksi, menyalurkan aspirasi secara demokratis, mengembangkan keterampilan, dan
keahliannya serta ikut memajukan perusahaan dan memperjuangkan kesejahteraan anggota
beserta keluarganya. Dalam melaksanakan hubungan industrial, pengusaha dan organisasi
pengusahanya mempunyai fungsi menciptakan kemitraan, mengembangkan usaha,
memperluas lapangan kerja, dan memberikan kesejahteraan pekerja/buruh secara terbuka,
demokratis, dan berkeadilan.

Memfasilitasi Penyelesaian Hubungan Industrial


Hubungan Industrial dilaksanakan melalui sarana:
 serikat pekerja/serikat buruh;
 organisasi pengusaha;

 lembaga kerja sama bipartit;


 lembaga kerja sama tripartit;
 peraturan perusahaan;
 perjanjian kerja bersama;
NAMA : AHMAT SYAFAK
NIM : 161741019150037
Tugas Hukum Acara Pidana

 peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan; dan


 lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial.

Lembaga kerja sama tripartit memberikan pertimbangan, saran, dan pendapat kepada
pemerintah dan pihak terkait dalam penyusunan kebijakan dan pemecahan masalah ketenaga-
kerjaan. Lembaga Kerja sama Tripartit sebagaimana dimaksud, terdiri dari:
 Lembaga Kerja sama Tripartit Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota; dan
 Lembaga Kerja sama Tripartit Sektoral Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota.

Keanggotaan Lembaga Kerja sama Tripartit terdiri dari unsur pemerintah, organisasi
pengusaha, dan serikat pekerja/serikat buruh. Tata kerja dan susunan organisasi Lembaga
Kerja sama Tripartit sebagaimana dimaksud diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Mensahkan Peraturan Perusahaan Dan Perjanjian Kerja Bersama


Pengesahan peraturan perusahaan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk harus sudah
diberikan dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak naskah peraturan
perusahaan diterima. Apabila peraturan perusahaan telah sesuai sebagaimana ketentuan, maka
dalam waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sudah terlampaui dan peraturan perusahaan belum
disahkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk, maka peraturan perusahaan dianggap telah
mendapatkan pengesahan.
Dalam hal peraturan perusahaan belum memenuhi persyaratan, Menteri atau pejabat yang
ditunjuk harus memberitahukan secara tertulis kepada pengusaha mengenai perbaikan
peraturan perusahaan. Dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak tanggal
pemberitahuan diterima oleh pengusaha sebagaimana dimaksud, pengusaha wajib
menyampaikan kembali peraturan perusahaan yang telah diperbaiki kepada Menteri atau
pejabat yang ditunjuk.
Perubahan peraturan perusahaan sebelum berakhir jangka waktu berlakunya hanya dapat
dilakukan atas dasar kesepakatan antara pengusaha dan wakil pekerja/buruh. Peraturan
perusahaan hasil perubahan sebagaimana dimaksud harus mendapat pengesahan dari Menteri
atau pejabat yang ditunjuk
Perjanjian kerja bersama mulai berlaku pada hari penandatanganan kecuali ditentukan lain
dalam perjanjian kerja bersama tersebut yang ditandatangani oleh pihak yang membuat
perjanjian kerja bersama selanjutnya didaftarkan oleh pengusaha pada instansi yang
bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan.

Melakukan Pengawasan Dan Penegakan Aturan Ketenagakerjaan


Dalam mewujudkan pelaksanaan hak dan kewajiban pekerja/buruh dan pengusaha,
pemerintah wajib melaksanakan pengawasan dan penegakan peraturan perundang-undangan
ketenagakerjaan. Pelaksanaan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan dalam
mewujudkan hubungan industrial merupakan tanggung jawab pekerja/buruh, pengusaha, dan
pemerintah.

Menerima Pemberitahuan Mogok Kerja


Sekurang-kurangnya dalam waktu 7 (tujuh) hari kerja sebelum mogok kerja dilaksanakan,
pekerja/buruh dan serikat pekerja/serikat buruh wajib memberitahukan secara tertulis kepada
pengusaha dan instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat.
Pemberitahuan sebagaimana dimaksud sekurang-kurangnya memuat:
 waktu (hari, tanggal, dan jam) dimulai dan diakhiri mogok kerja;
 tempat mogok kerja;

 alasan dan sebab-sebab mengapa harus melakukan mogok kerja; dan


NAMA : AHMAT SYAFAK
NIM : 161741019150037
Tugas Hukum Acara Pidana

 tanda tangan ketua dan sekretaris dan/atau masing-masing ketua dan sekretaris serikat
pekerja/serikat buruh sebagai penanggung jawab mogok kerja.

Instansi pemerintah dan pihak perusahaan yang menerima surat pemberitahuan mogok kerja
sebagaimana dimaksud wajib memberikan tanda terima.

Memediasi Perundingan Dalam Mogok Kerja


Sebelum dan selama mogok kerja berlangsung, instansi yang bertanggung jawab di bidang
ketenagakerjaan wajib menyelesaikan masalah yang menyebabkan timbulnya pemogokan
dengan mempertemukan dan merundingkannya dengan para pihak yang berselisih. Dalam hal
perundingan sebagaimana dimaksud menghasilkan kesepakatan, maka harus dibuatkan
perjanjian bersama yang ditandatangani oleh para pihak dan pegawai dari instansi yang
bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan sebagai saksi.
Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud tidak menghasilkan kesepakatan, maka
pegawai dari instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan segera
menyerahkan masalah yang menyebabkan terjadinya mogok kerja kepada lembaga
penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang berwenang.
Dalam hal perundingan tidak menghasilkan kesepakatan sebagaimana dimaksud, maka atas
dasar perundingan antara pengusaha dengan serikat pekerja/serikat buruh atau penanggung
jawab mogok kerja, mogok kerja dapat diteruskan atau dihentikan untuk sementara atau
dihentikan sama sekali.

Mengantisipasi Terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja


Pengusaha, pekerja/buruh, serikat pekerja/serikat buruh, dan pemerintah, dengan segala
upaya harus mengusahakan agar jangan terjadi pemutusan hubungan kerja. Dalam hal segala
upaya telah dilakukan, tetapi pemutusan hubungan kerja tidak dapat dihindari, maka maksud
pemutusan hubungan kerja wajib dirundingkan oleh pengusaha dan serikat pekerja/serikat
buruh atau dengan pekerja/buruh apabila pekerja/buruh yang bersangkutan tidak menjadi
anggota serikat pekerja/serikat buruh.
Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud benar-benar tidak menghasilkan persetujuan,
pengusaha hanya dapat memutuskan hubungan kerja dengan pekerja/buruh setelah
memperoleh penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial.
Permohonan penetapan pemutusan hubungan kerja diajukan secara tertulis kepada lembaga
penyelesaian perselisihan hubungan industrial disertai alasan yang menjadi dasarnya.
Permohonan penetapan sebagaimana dimaksud dapat diterima oleh lembaga penyelesaian
perselisihan hubungan industrial apabila telah dirundingkan dengan Pekerja/Serikat Pekerja.
Penetapan atas permohonan pemutusan hubungan kerja hanya dapat diberikan oleh lembaga
penyelesaian perselisihan hubungan industrial jika ternyata maksud untuk memutuskan
hubungan kerja telah dirundingkan, tetapi perundingan tersebut tidak menghasilkan
kesepakatan.

Melakukan Pembinaan
Pemerintah melakukan pembinaan terhadap unsur-unsur dan kegiatan yang berhubungan
dengan ketenagakerjaan dengan mengikutsertakan organisasi pengusaha, serikat
pekerja/serikat buruh, dan organisasi profesi terkait dan dilaksanakan secara terpadu dan
terkoordinasi.
Dalam rangka pembinaan ketenagakerjaan, pemerintah, organisasi pengusaha, serikat
pekerja/serikat buruh dan organisasi profesi terkait dapat melakukan kerja sama internasional
di bidang ketenagakerjaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pemerintah dapat memberikan penghargaan kepada orang atau lembaga yang telah berjasa
dalam pembinaan ketenagakerjaan dalam bentuk piagam, uang, dan/atau bentuk lainnya.
NAMA : AHMAT SYAFAK
NIM : 161741019150037
Tugas Hukum Acara Pidana

Melakukan Pengawasan
Pengawasan ketenagakerjaan dilakukan oleh pegawai pengawas ketenagakerjaan yang
mempunyai kompetensi dan independen guna menjamin pelaksanaan peraturan perundang-
undangan ketenagakerjaan yang ditetapkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk.
Pengawasan ketenagakerjaan dilaksanakan oleh unit kerja tersendiri pada instansi yang
lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang ketenagakerjaan pada pemerintah pusat,
pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota yang diatur dengan Keputusan Presiden.
Unit kerja pengawasan ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud, pada pemerintah provinsi
dan pemerintah kabupaten/kota wajib menyampaikan laporan pelaksanaan pengawasan
ketenagakerjaan kepada Menteri yang tata cara penyampaian laporannya ditetapkan dengan
Keputusan Menteri. Ketentuan mengenai persyaratan penunjukan, hak dan kewajiban, serta
wewenang pegawai pengawas ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pegawai pengawas ketenagakerjaan dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud
dalam wajib:
 merahasiakan segala sesuatu yang menurut sifatnya patut dirahasiakan;
 tidak menyalahgunakan kewenangannya.

Melakukan Penyelidikan
Selain penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, juga kepada pegawai pengawas
ketenagakerjaan dapat diberi wewenang khusus sebagai penyidik pegawai negeri sipil sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang memiliki kewenangan:
 melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan tentang tindak
pidana di bidang ketenagakerjaan;
 melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di
bidang ketenagakerjaan;
 meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan
dengan tindak pidana di bidang ketenagakerjaan;
 melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti dalam perkara tindak
pidana di bidang ketenaga-kerjaan;
 melakukan pemeriksaan atas surat dan/atau dokumen lain tentang tindak pidana di
bidang ketenagakerjaan;
 meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak
pidana di bidang ketenagakerjaan; dan
 menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti yang membuktikan
tentang adanya tindak pidana di bidang ketenagakerjaan.

Kewenangan penyidik pegawai negeri sipil sebagaimana dimaksud dilaksanakan sesuai


dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sosialisasi Aturan Ketenagakerjaan

Ini merupakan satu hal penting yang menjadi kunci dari sebagian permasalahan yang muncul.
Keterbatasan anggaran untuk sosialisasi menjadi salah satu alasan klise dari masalah ini.
Idealnya, sosialisai aturan ketenagakerjaan ini dilaksanakan dengan cara - cara yang lebih
bisa menyentuh semua komponen. Pekerja dan pengusaha harus mengetahui aturan
ketenagakerjaan untuk meminimalisir pelanggaran yang terjadi. Fungsi dan peran Pemerintah
NAMA : AHMAT SYAFAK
NIM : 161741019150037
Tugas Hukum Acara Pidana

dalam mensosialisasikan aturan ketenagakerjaan sangat diharapkan menjadi alternatif


preventif yang seimbang.