Anda di halaman 1dari 19

NOSISEPTOR: KLASIFIKASI DAN FISIOLOGI

NOSISEPTOR: KLASIFIKASI DAN FISIOLOGI HALAMAN JUDUL Oleh : Kevin Kristian Putra dr. I Gede Budiarta,SpAn.KMN DALAM

HALAMAN JUDUL

Oleh :

Kevin Kristian Putra

dr. I Gede Budiarta,SpAn.KMN

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA DI SMF/BAGIAN ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVESITAS UDAYANA RSUP SANGLAH DENPASAR

2017

KLINIK MADYA DI SMF/BAGIAN ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVESITAS UDAYANA RSUP SANGLAH DENPASAR 2017 i

i

Daftar Isi

HALAMAN JUDUL

i

KATA PENGANTAR

ii

DAFTAR GAMBAR

iv

DAFTAR TABEL

v

DAFTAR SINGKATAN

vi

BAB I PENDAHULUAN

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2

2.1. Definisi Nyeri

2

2.2. Definisi Nosiseptor

3

2.3. Anatomi Nosiseptor

4

2.4. Klasifikasi Nosiseptor

6

2.5. Fisiologi Nosiseptor

8

BAB III PENUTUP

13

DAFTAR PUSTAKA

14

iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Anatomu jalur fiber-C dan fiber-A

4

Gambar 2.2 Histogram diameter akson terhadap kecepatan konduksi

5

Gambar 2.3 Mekanismet transduksi terhadap rangsangan suhu tinggi

10

Gambar 2.4 Mekanisme transduksi terhadap rangsangan suhu rendah

11

iv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Karakteristik fiber-C nosiseptor

7

Tabel 2.2 Karakteristik fiber-A nosiseptor

7

Tabel 2.3 Perbedaan tipe I dan tipe II fiber-A nosiseptor

8

Tabel 2.4 Karakteristik transduktor

9

v

DAFTAR SINGKATAN

: Fiber-A alfa

: Fiber-A beta

: Fiber-A delta

A-M

: Fiber-A Mechanic

A-MH I

: Fiber-A Mechano-Heat Tipe 1

A-MHII

: Fiber-A Mechano-Heat Tipe 2

C-MC

: Fiber-C Mechano-Cold

C-MH

: Fiber-C Mechano-Heat

C-MHC

: Fiber-C Mechano-Heat-Cold

DTT

: Data tidak tersedia

HTMs

: High-treshold mechanoreceptors

KK

: Kecepatan konduksi

MIAs

: Mechanical insensitive afferents

MSAs

: Mechanical sensitive afferents

NSC

: Non-selective action

TRPA1

: Transient receptor potential cation channel subfamily A member 1

TRPM8

: Transient receptor potential cation channel subfamily M member 8

TRPV1

: Transient receptor potential V I

TRPV2

: Transient receptor potential V II

vi

BAB I PENDAHULUAN

Nyeri merupakan merupakan suatu sensasi somatis, yang didefinisikan

sebagai hal yang kompleks yang terdiri dari rasa tidak nyaman dari sistem sensorik,

emosional dan kognitif yang merusak atau memiliki kemampuan untuk merusak

jaringan dan bermanifestasi pada sistem otonom, psikologis, dan perilaku. Hal ini

memberikan sinyal ke sistem saraf pusat untuk menginisiasi respon motorik untuk

meminimalisir kerusakan jaringan. Ketidakmampuan untuk mengenali rasa nyeri

oleh karena kondisi kongenital yang langka dapat memicu masalah kesehatan yang

serius seperti mutilasi diri sendiri, auto-amputasi, dan kerusakan kornea. 1,2

Nyeri sangat sering dikeluhkan oleh pasien. Maka daripada itu, sebagai klinisi

harus memperhatikan keluhan nyeri pada pasien tersebut. Nyeri adalah suatu

fenomena perseptual dan sensual serta penting bagi tubuh untuk terlindung dari

cedera sehingga manusia dapat betahan hidup. Nyeri dapat berfungsi sebagai

mekanisme proteksi, defensif, dan penunjang diagnostik. 2

Manifestasi nyeri berpengaruh pada sistem otonom, psikologis dan perilaku.

Sehingga terjadi perubahan pada sistem sensorik, emosional dan kognitif yang tidak

nyaman pada seluruh pasien. Stimulus atau nosisepsi dan persepsi nyeri akan dipicu

berdasarkan tekanan dan suhu ekstrem, serta molekul toksik dan mediator inflamasi

yang berpotensi untuk merusak jaringan. Adanya kualitas stimulus fisik dan nousius

yang tinggi akan terdeteksi oleh saraf sensorik peripheral berupa nosiseptor. Hal ini

berbeda dengan rangsang visual, pendengaran, penciuman, perasa dan

somatosensorik pada umumnya. 1,2

Menurut National Pharmaceutical Council, 9 dari 10 penduduk Amerika

Serikat mengalami nyeri secara reguler dan alasan utama datang ke klinisi.

Setidaknya 25 juta penduduk Amerika Serikat mengalami nyeri kronik. Nyeri

kronik adalah penyebab tersering disabilitas lama dan hampir satu per tiga

penduduk Amerika Serikat akan mengalami nyeri kronik hebat pada hidupnya.

Nyeri kronik adalah nyeri yang sudah berlangsung atau terjadi setidaknya 3-6

bulan. 1,2

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Nyeri

Menurut International Association for the Study of Pain, nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau kerusakan jaringan yang sebenarnya.

Penilaian nyeri selalu subjektif, yang dimana dipengaruhi oleh pengalaman, situasi,

efek, pengaruh kognitif, jenis kelamin, serta ekspektasi yang diharapkan. 2,3

Kata nyeri, berasal dari Bahasa Yunani yakni poine, yang artinya pinalti.

Fisiolog membedakan antara nyeri dan nosisepsi. Nosisepsi merujuk pada impuls

yang diterima sistem saraf pusat yang menghasilkan aktifasi dari reseptor sensorik

khusus yang disebut nosiseptor yang memberikan informasi tentang kerusakan

jaringan. Sedangkan nyeri lebih mengarah pada suatu perasaan emosional yang

tidak nyaman yang selalu dibarengi dengan nosisepsi. Terdapat dua tipe nyeri

nosisepsi yakni nyeri yang berasal dari kulit dan jaringan dibawahnya seperti sendi

atau otot, disebut dengan nyeri somatik. Sedangkan nyeri yang berasal dari organ

dalam disebut nyeri viseral. Lokasi nyeri somatik lebih mudah diketahui karena

pasien mampu menunjukkan lokasi nyerinya dibandingakan dengan viseral. 4

Rangsangan nyeri muncul oleh karena zat-zat algesik pada reseptor nyeri

yang banyak dijumpai pada lapisan superfisial kulit dan pada beberapa jaringan di

dalam tubuh. Stimulus nyeri yang dimaksud adalah rangsang atau stimulus yang

dapat merusak atau berpotensi merusak jaringan, berupa suhu ekstrem, mekanis,

maupun alogen atau kimiawi. Nosiseptor yang teraktivasi oleh stimulus nyeri, akan

mengirimkan impuls melalui neuron aferen primer, menuju kornu dorsalis medula

spinalis, dan diteruskan melalui traktus spinotalamikus menuju thalamus hingga ke

cerebri. Terdapat empat proses yang menjelaskan proses elektro-fisiologik

nosisepsi: transduksi, transmisi, modulasi, dan persepi. Proses tranduksi adalah

proses dimana stimulus nyeri akan diterjemahkan menjadi suatu aktivitas listrik

apda ujung-ujung saraf. Proses transmisi adalah proses penyaluran impuls melalui

saraf sensoris menyusul proses transduksi yang disalurkan melalui serabut saraf A

delta dan serabut C ke medulla spinalis. Proses modulasi adalah proses interaksi

antara sistem analgesik endogen dengan impuls nyeri yang masuk ke kornu

2

3

posterior medulla spinalis. Interaksi ini membuat perubahan transmisi impuls nyeri berupa peningkatan transmisi impuls atau penurunan impuls nyeri. Proses persepsi adalah bagian terakhir dari ketiga proses kompleks yang menghasilkan suatu perasaan subjektif yang dikenal dengan persepsi nyeri. 2-4

2.2. Definisi Nosiseptor

Nosiseptor adalah reseptor yang terletak secara perifer, yang dimana sensitif terhadap rangsang nyeri atau rangsangan yang semakin lama akan menyebabkan nyeri. Reseptor ini adalah reseptor sensorik akhir pada organ kulit, otot, sendi dan visera. Nosiseptor memiliki kemampuan untuk menilai tingkatan nyeri, dari yang tidak nyeri hingga sangat nyeri, tetapi respon yang diberikan nosiseptor mencapai puncaknya pada skala nyeri. Reseptor ini juga salah satu reseptor yang tidak setiap saat aktif, tetapi berespon cepat pada rangsangan suhu tinggi ataupun mekanis dengan stimulus yang berkepanjangan. Nosiseptor ini yang nantinya akan mengubah rangsangan nyeri menjadi impuls saraf yang akhirnya akan dibawa ke korteks melalui dorsum ganglion melalui traktur spinothalamikus. 2,4,5 Cara kerja sistem nosiseptor secara seluler dan molekuler baik pada manusia maupun hewan, sudah memberikan pandangan yang signifikan. Berbeda dengan persepsi nyeri secara seluler yang masih perlu penelitian lebih lanjut. Dari penelitian-penelitian, dapat disimpulkan bahwa nosiseptor merupakan kelompok neuron yang heterogen, yang terletak perifer di bagian sensorik dari ganglia pada sistem saraf pusat yang nantinya akan mentranduksi rangsangan eksternal nyeri pada kulit. Pada penelitian yang menggunakan elektroda intraseluler, yang diimplankan pada badan sel neuron sensorik dari dorsal ganglion, ditemukan adanya perbedaan kelas atau reseptor berdasarkan rangsangan nyerinya. Selain itu, ditemukan juga adanya perbedaan kecepatan konduksi pada setiap rangsangan. Berdasarkan dari penelitian ini, didapatkan bahwa saraf aferen terisolasi atau memberikan respon minimal saat dilakukan rangsangan mekanis dan stimulasi suhu yang dimana menurut pemeriksa tidak merasa nyeri. Sebaliknya, saat dilakukan rangsangan mekanis dan stimulasi suhu dengan intensitas nyeri yang tinggi hingga berpotensi merusak jaringan, terdapat aktifitias yang tinggi pada saraf aferen

4

tersebut. Aferen neuron yang terstimulus oleh rangsangan mekanis, suhu, maupun kimiawi ini, disebut dengan aferen nosiseptor primer. 4-7

2.3. Anatomi Nosiseptor

Secara struktural, karena nosiseptor adalah suatu neuron, maka nosiseptor terdiri dari akson, badan sel, dan sentral terminal yang berhubungan kepada organ. Ujung nosiseptor yang menempel pada jaringan umumnya tidak berkapsul oleh myelin atau disebut dengan fiber-C atau terlindungi myelin yang disebut dengan

fiber-A. nantinya fiber-C dan fiber-A akan memasuki ganglion dorsalis akson dengan posisi akhirnya di medulla spinalis. Di medulla spinalis, akson akan memasukin melalui lamia I, II, dan V pada dorsal horn. Pada fiber-C akan memasuki lamina I dan II. Sedangkan fiber-A akan memasuki lamina I dan V. Cabang fiber-C lokasinya lebih tergeneralisir dan akurasi lokasi rangsang lebih akurat. 4,5,7

dan akurasi lokasi rangsang lebih akurat. 4 , 5 , 7 Gambar 2.1 Anatomi jalur fiber-C
dan akurasi lokasi rangsang lebih akurat. 4 , 5 , 7 Gambar 2.1 Anatomi jalur fiber-C

5

Kecepatan konduksi atau transmisi impuls antar saraf hingga sistem saraf pusat maupun efektor, dipengaruhi oleh diameter dari saraf tersebut. Pada fiber dengan myelin yang besar, akan meningkatkan kecepatan konduksi enam kali lipat (gambar 2.2). Pada nosiseptor, kecepatan konduksi fiber-C lebih lambat karena memiliki diameter yang kecil dibandingkan dengan fiber-A. Fiber-A terbagi menjadi Aδ, Aβ, dan Aα. Namun, pada umumnya cabang fiber yang membawa impuls aferen nyeri dari nosiseptor adalah fiber-C dan A(δ-β). Namun kebalikannya belum tentu terjadi, yang artinya tidak semua fiber-C dan Aδ adalah nosiseptor. Fiber-C dan A(δ-β) juga membawa rangsangan aferen primer, namun tidak melalui batas persepsi nyeri. 4,5,7

Karena perbedaan konduski antara fiber-C dan A(δ-β), sinyal dari A(δ-β) ke medulla spinalis akan diterima lebih dulu dibandingkan dari fiber-C. Fiber-A dideskripsikan sebagai sensasi tajam atau menusuk dan menyakitkan sedangkan fiber-C dideskripsikan sebagai sensasi tumpul atau sensai nyeri terbakar. Pada rangsangan yang sangat nyeri, terjadi respons bifasik, yang artinya terdapat rasa tajam yang diikuti oleh sensasi terbakar dengan kualitas nyeri yang tidak bisa ditahan. 4,7

dengan kualitas nyeri yang tidak bisa ditahan. 4 , 7 Gambar 2.2. Histogram perbandingan diameter (micrometer

Gambar 2.2. Histogram perbandingan diameter (micrometer /µm) akson terhadap kecepatan konduksi (meter per detik m / s) . 4

6

2.4. Klasifikasi Nosiseptor

Klasifikasi nosiseptor dibagi berdasarkan kecepatan konduksi dan sensitfitas terhadap rangsang. Rangsangan yang dimaksud adalah rangsang mekanis (M), suhu tinggi (H), suhu rendah (C). Sehingga, klasifikasi nosiseptor dapat dibagi menjadi lima, yakni mekanik, thermal, mekano-thermal, polimodal, dan silent. Mekanik nosiseptor berespon pada tekanan atau rangsang mekanis. Nosiseptor suhu berespon pada suhu tinggi diatas 45 o C dan suhu rendah dibawah 5 o C. Nosiseptor mekano-thermal berespon pada kedua rangsangan. Ketiga nosiseptor ini dikonduksikan oleh fiber-A dengan kecepatan 3-40 m / s . sehingga ketiga nosiseptor ini dapat disebut dengan A(δ-β) nosiseptor. A(δ-β) nosiseptor terdiri dari A-MH, A-H, dan A-M. Polimodal nosiseptor berespon pada rangsang mekanis, suhu, dan kimia yang dikonduksikan oleh fiber-C dengan kecepatan konduksi kurang dari 3 m / s . Yang termasuk dalam polimodal nosiseptor adalah C-MH, C-MC, dan C-MHC. Silent nosiseptor harus teraktifasi oleh rangsangan kimiawi berupa agen inflamasi. Setelah teraktifasi, silent nosiseptor baru akan berespon pada rangsang mekanis dan suhu. Nosiseptor ini di konduksi oleh fiber-C dengan kecepatan konduksi kurang dari 3 m / s. Silent nosiseptor biasanya disebut dengan C-MiHi. 4-7 Terdapat dua tipe fiber-A yang sensitif dengan suhu tinggi (A-H), yakni tipe I (A-MH I) dan tipe II (A-MH II). Tipe I berespon pada rangsang mekanik dan kimia tetapi memiliki kompensasi nyeri dengan suhu tinggi saat durasi yang singkat. Hal ini disebut juga dengan high-treshold mechanoreceptors (HTMs). Namun, kebanyakan dari tipe I ini berespon pada suhu tinggi dengan durasi yang lama, sehingga toleransi pada rangsangan suhu tinggi dengan durasi yang lama lebih rendah. Tipe I ini umumnya ditemukan pada rambut atau glabrous skin. Tipe II nosiseptor dideskripsikan sebagai nosiseptor yang berespon cepat terhadap rangsang panas dan cepat untuk beradaptasi. Batas toleransi suhu dengan durasi yang singkat lebih rendah dibandingkan dengan yang tipe I. Kebanyakan tipe II memiliki toleransi rangsang mekanis yang tinggi atau tidak berespon dengan rangsang mekanis dan biasa disebut dengan mechanical insensitive afferents (MIAs). 4-7

7

Tabel 2.1 Karakteristik fiber-C nosiseptor 5,6

Keterangan

C-MH

C-M

C-H

C-MiHi

KK ( m / s) Korelasi suhu tinggi terhadap SN Toleransi suhu Korelasi respon “ditusuk” dengan SN Toleransi mekanis Korelasi respon pinch” dengan SN

0,8-10

0,84

0,81

0,8

Ya

DTT

Tidak tahu

DTT

39 o C-51 o C Statis: tidak Akselerasi:

DTT

42 o C-48 o C

DTT

Akselerasi:

 

DTT

DTT

 

Ya

ya

30 mN

30mN

Tinggi

Tinggi

Ya; nyeri di awal; teradaptasi

Ya; nyeri di awal; teradaptasi

Ya:

Ya:

terakselerasi

terakselerasi

TRPV1;

 

TRPV1;

Senyawa

TRPV1;

TRPA1

histamine,

TRPA1;

aktifator

TRPA1

histamine,

 

BK, PGE2

 

BK, PGE2

Tabel 2.2 Karakteristik fiber-A nosiseptor 5,6

Keterangan

A-MH II

A-MH I

A-M

Korelasi suhu tinggi terhadap SN

Ya. Sifat:

Ya; respon lama

DTT

sementara. Berulang: lemah 43 o C-47 o C Ya, diluar toleransi

DTT

Toleransi suhu Korelasi respon “ditusuk” dengan SN Senyawa aktifator

>53 o C Ya

Ya

TRPV1

DTT

DTT

8

Tabel 2.3 Perbedaan tipe I dan tipe II fiber-A nosiseptor 5,6

Perbedaan

Tipe I

Tipe II

Toleransi suhu dengan durasi singkat Toleransi suhu dengan durasi lama Respon terhadap suhu Toleransi mekanis KK ( m / s) Lokasi

Tinggi

Rendah

Rendah

Rendah

Onset lama, akselerasi Rendah (MSAs) A(δ-β) Rambut dan glabrous skin

Onset cepat, adaptasi Tinggi (MIAs) Kulit berambut

2.5. Fisiologi Nosiseptor

Aktifasi nosiseptor memerlukan rangsangan yang cukup untuk memproduksi potensial reseptor melalui depolarisasi perifer terminalis dengan syarat amplitudo dan durasi yang dihasilkan cukup. Sehingga, aferen primer tersebut dapat diubah menjadi impus listrik yang nantinya akan dibawa ke sistem saraf pusat menjadi aksi potensial. Aksi potensial ini dapat dihasilkan dalam perbedaan jarak dari terminal ending berdasarkan kekuatan depolarisasi fiber yang nantinya akan meng-inaktifasi voltage gated channel saat konduksi. 4,7 Secara teori, reseptor potensial akan terdepolarisasi melalui multipel membran konduksi dan aktifitas pompa elektron. Karena bahan aktifitas elektron adalah sodium (Na + ), kalsium (Ca +2 ) dan klorida (Cl - ) bersifat lebih positif dibandingkan kondisi potensial membrane pada saraf sensorik saat istirahat, maka saat terjadi aktifitas elektron, membran potensial akan depolarisasi. Sedangkan potasium (K + ) bersifat negatif dari pada potensial membran saat istirahat, penutupan dari kanal potassium akan membuat membran potensial depolarisasi dan menguatkan voltase pada impuls sehingga adanya resistensi membran. Konduksi K+ ini berlawanan dengan permeabilitas membrane untuk depolarisasi Na+ dan Ca2+. Adanya depolarisasi menunjukkan transduksi berhubungan dengan penutupan kanal ion K+. Saat kondisi depolarisasi, juga dihasilkan oleh kondisi membran potensial saat istirahat di nosiseptor. Beberapa transduktor membutuhkan perbedaan voltase, maka potensial membrane saat istirahat itu akan berpengaruh

9

pada transduksi dan inisiasi. Hal ini menunjukkan obat yang bersifat state dependent, seperti lokal anestesi yang bersifat memblok kanal yang terbuka, lebih cocok untuk memblok nosiseptor secara selektif. 4,7

Tabel 2.4 Karakteristik transduktor 6

Rangsang nyeri Suhu tinggi ≥ 43 o C

Suhu rendah

Transduktor TRPV1 ≥43 o C

TRPV2 ≥52 o C

TRPM8,

10 o C-28 o C

TRPA1

NaV1,8

Peran pada nosiseptor Diaktifasi oleh capcaisin. Mengaktifasi fiber C-H. Bekerja Bersama TRPV1 Teraktifasi langsung terhadap stimulus. Kontribusi dalam mencegah kerusakan jaringan pada suhu rendah-sedang. Teraktifasi langsung terhadap stimulus. Kontribusi dalam berespon pada suhu 0 o C - 10 o C Resisten terhadap inaktivasi yang terinduksi oleh suhu dingin. Berespon indirek terhadap suhu terhadap proses transduksi.

2.5.1. Transduksi nosiseptor terhadap rangsang suhu tinggi Setidaknya ada tiga nosiseptor yang akan teraktifasi saat diberikan rangsang suhu tinggi diatas batas toleransi yakni sekitar 40 o C-45 o C. Dalam kondisi normal, nosiseptor yang teraktifasi adalah C-MH, A-MH I, A-MH II. Fiber-A akan berespon dengan suhu yang sedikit lebih rendah dari persepsi nyeri untuk memediasi sensasi nyeri awal. Fiber ini akan beraktifasi dengan cepat, beradaptasi terhadap situmulasi suhu tinggi yang berkepanjangan, semakin lama akan melemah, dan sensitif terhadap capcaisin. Capcaisin adalah selektif agonis dari nonselectivication (NSC) yang teraktifasi oleh panas, yang menghubungkan transient receptor potential VI (TRPV1). Persepi nyeri selanjutnya akan diaktifasi oleh fiber-C dan A-MH I, yang dimana membutuhkan paparan panas yang lebih

10

lama dengan suhu yang lebih tinggi. Aktifitas C-MH yang terinduksi oleh panas berkolerasi terhadap persepi nyeri walaupun tidak disertai dengan cedera. 5-7 TRPV1 adalah kontributor utama dalam nyeri yang terinduksi oleh panas. Hasil ekspresi TRPV1 mencapai 50% dari neuron dan 75% pada neuron berdiameter kecil hingga sedang. Selain TRPV1, TRPV2 dikatakan mampu untuk memediasi potensial reseptor di A-MH I, yang dimana diaktivasi dengan suhu yang lebih tinggi dari 52 o C. 5-7

dengan suhu yang lebih tinggi dari 52 o C. 5 - 7 Gambar 2.3. Mekanisme tranduksi

Gambar 2.3. Mekanisme tranduksi terhadap rangsangan suhu tinggi 5

2.5.2. Transduksi nosiseptor terhadap rangsang suhu rendah Menurunkan suhu kulit menjadi 4 o C akan mengaktifasi fiber-A dan fiber-C yang sensitif terhadap suhu rendah. NSC yang teraktivasi oleh menthol, TRPM8, bertanggung jawab dalam mendeteksi terjadinya penurunan suhu. Efektifitas deteksi TRPM8 yakni dari penurunan suhu dibawah suhu kulit hingga 10 o C - 15 o C. Kerja TRPM8 juga dipengaruhi oleh aktifitas pompa ion K+. Penurunan aktifitas kanal K+ mengakibatkan peningkatan fraksi neuron yang berespon pada suhu dingin. Sehingga, kanal ion Na+ (NaV) akan ter-inaktifasi oleh suhu dingin. Hal ini berkontradiksi dengan aktifitas NaV1,8, suatu kanal yang berlokasi di nosiseptor terminal, resisten terhadap inaktifasi yang disebabkan oleh penurunan suhu. Sehingga, NaV1,8 memiliki peran penting dalam transduksi rangsang suhu rendah. Selain penurunan aktifitas K+, dan fungsi Na+/K+-ATPase pada umumnya,

11

terjadi aktifasi NSC dan influks kalsium. Influks kalsium dipengaruhi oleh kerjai TRPA1. 5-7 Kemampuan TRPA1 dalam berkontribusi dalam penurunan suhu, harus diikuti dengan adanya kerusakan jaringan. TRPA1, yang memiliki batar toleransi pada suhu 17 o C, diekspresikan bersama dengan TRPV1 di nosiseptor. TRPA1 akan berespon pada suhu dingin secara indirek melalui kalsium influks dari intraseluler yang diinduksi oleh penurunan suhu. Kemajuan dalam mengidentifikasi mekanisme transduksi terhadap rangsangan dingin, sangat terhambat dibandingkan dengan rangsangan suhu tinggi. Yang dimaksud suhu dingin hingga mencapai nyeri adalah diantara 0 o C. -20 o C, dengan mayoritas berada pada 15 o C. Salah satu hal yang membuat identifikasi terhambat, adalah resiko kerusakan jaringan yang terjadi pada suhu sub-beku yang memungkinkan adanya reaksi indirek dari luar sel yang akan mempengaruhi respon nosiseptor sehingga respon nosiseptor terhadap suhu tidak secara direk terpantau. 6-8

terhadap suhu tidak secara direk terpantau. 6 - 8 Gambar 2.4. Mekanisme tranduksi terhadap rangsangan suhu

Gambar 2.4. Mekanisme tranduksi terhadap rangsangan suhu rendah 5

2.5.3. Transduksi nosiseptor terhadap rangsang mekanis Respon terhadap rangsangan suhu tinggi dan kimiawi pada nosiseptor berkorelasi dengan persepsi nyeri. Tetapi belum berlaku bagi C-MH dan A-HTM yang berespon pada rangsang mekanis. Persepsi nyeri oleh karena “dicubit” teraktifasi oleh capcaisin-insensitive fiber-A nosiseptor. Belum ditemukan juga adanya bukti yang kuat yang dapat menjelaskan transduksi neuron pada rangsangan

12

mekanis. Kemajuan didapatkan dengan ditemukannya pengaruh protein seperti stomatin, yang berespon pada rangsangan sentuhan yang tidak menyebabkan nyeri. Kanal TRP juga menjadi kandidat kuat dalam menjelaskan respon mekanik, tetapi mekanisme yang tepat apakah mempengaruhi pada kondisi molekuler atau fungsi dalam menerima rangsang masih belum jelas. 6-8

BAB III

PENUTUP

Nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau kerusakan jaringan yang sebenarnya. Rangsangan nyeri adalah rangsang atau stimulus yang dapat merusak atau berpotensi merusak jaringan, berupa suhu ekstrem, mekanis, maupun alogen atau kimiawi. Nosiseptor akan teraktivasi sebagai reseptor rangsang nyeri dan mengubah stimulus tersebut menjadi impuls yang akan di alirkan dan diproses di sistem saraf pusat. Nosiseptor adalah reseptor yang terletak secara perifer, yang dimana sensitif terhadap rangsang nyeri atau rangsangan yang semakin lama akan menyebabkan nyeri. Nosiseptor mampu menerima stimulus nyeri berupa mekanis, suhu dan kimiawi yang disebut dengan aferen nosiseptor primer. Klasifikasi nosiseptor dibagi berdasarkan kecepatan konduksi dan sensitifitas terhadap rangsang aferen primer. Klasifikasi nosiseptor dapat dibagi menjadi lima, yakni mekanik, thermal, dan mekano-thermal yang biasanya disebut dengan fiber- A nosiseptor karena kecepatan konduksinya lebih cepat karena memiliki diameter akson yang lebih besar, serta polimodal dan silent yang disebut sebagai nosiseptor fiber-C, karena aksonnya tidak dilapisi myelin, sehingga kecepatan konduksinya lebih lama. Pada fiber-A terdapat dua macam tipe, yakni tipe I (A-MH I) dan tipe II (A-MH II). Aktifitas nosiseptor dalam megubah rangsangan menjadi impuls dipengaruhi oleh transduktor spesifik dan kanal ion. Pada respon nosiseptor terhadap suhu, akan dipengaruhi oleh TRPV1, TRPV2, aktifasi kanal K+, pada suhu tinggi, serta TRPM8, TRPA1, dan NaV1,8, pada suhu rendah.

13

14

DAFTAR PUSTAKA

1. Patel NB. Physiology of Pain. Journal of International Association for the S Patel NB. Physiology of Pain. Journal of International Association for the Study of Pain. 2010. p 13-17.

2. Mangku G, Senopathi TGA. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Indeks. Jakarta Barat. 2010. hal 217-232.

3. Aydede M. Defending the IASP Definition of Pain. The Monist. 2017

4. Fein A. Nociceptors and The Perception of Pain. 2014

5. Dubin A, Patapoutian A. Nociceptors: the sensors of the pain pathway. Journal of Clinical Investigation. 2010;120(11):3760-3772.

6. Gold M, Gebhart G. Nociceptor sensitization in pain pathogenesis. Nature Medicine. 2010;16(11):1248-1257.

7. Patel NB. Physiology of Pain. Journal of International Association for the Study of Pain. 2010. p 13-17.

8. Ringkamp M, Meyer R. Physiology of Nociceptors. In: Bushnell C, Basbaum A, Kaneko A, Sheperd G, Westheimer G, ed. by. 5th ed. San Diego: Elsevier; 2008. p. 98-113.