Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

GEOGRAFI TANAH

Kapasitas Pertukaran Kation


Kejenuhan Basa
Oksidasi Dan Reduksi

DISUSUN OLEH :

1. Abdul Wahid 1710005531009


2. Yulianita 1710005531011
3. Rengga Permana Putra 1710005531013
4. Julia Wariska 1710005531014

Fakultas Ekonomi
PROGRAM STUDI GEOGRAFI
UNIVERSITAS TAMAN SISWA PADANG
2018
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr Wb

Puji dan syukur senantiasa saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat serta hidayah sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
untuk membuat makalah Geografi tanah yang berjudul “Kapasitas Pertukaran
Kation, Kejenuhan Basa, Oksidasi Dan Reduksi”. Tujuan Makalah ini adalah untuk
memenuhi tugas dari mata kuliah Geografi tanah.

Dalam penulisan makalah ini saya menyadari mempunyai banyak kekurangan


oleh sebab itu bantuan dan dorongan telah saya terima dari semua pihak. Oleh
karena itu tiada lupa saya dengan kerendahan hati mengucapkan terima kasih
kepada:

1. Bapak Harry Febrianto, S.Pd, M.Pd selaku dosen mata kuliah Geografi tanah.
2. Teman-teman kami yang telah membantu penyususan makalah ini.

Kami mohon maaf jika terdapat kekurang sempurnaan dalam penyusunan


makalah ini, hal ini karena keterbatasan kami. Semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi pembaca semua.

Amin.

Wassalamua’alaikum Wr Wb.

Padang, 24 Oktober 2018

Penulis,

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah ....................................................................................................................... 2
1.3. Tujuan Pembelajaran .................................................................................................................. 2
1.4. Sistematika Makalah ................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................................................ 3
2.1. Pengertian Kapasitas Tukar Kation Tanah ................................................................................... 3
2.1.1. Klasifikasi KTK ...................................................................................................................... 5
2.1.2. Hubungan KTK dengan pH Tanah ......................................................................................... 6
2.1.3. Hubungan KTK dengan Tekstur dan Bahan Organik ............................................................. 7
2.2. Kejenuhan Basa .......................................................................................................................... 9
2.3. Oksidasi Dan Reduksi (Redoks) ............................................................................................... 11
BAB III PENUTUP .................................................................................................................................... 20
3.1. Kesimpulan ............................................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 22

ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Geografi tanah memerlukan ilmu-ilmu pendukung lain baik dalam


kelompok pasti alam (fisika, kimia, biologi, matematika) maupun ilmu terapan
yang berkaitan dengan pemanfaatan tanah untuk memahami perwatakan tanah
dan hubungannya dengan pemanfaatan tanah untuk kehidupan. Kajian geografi
tanah kental dengan analisis perkembangan tanah dari waktu ke waktu selain juga
analisis keruangan berupa persebaran satuan-satuan tanah di dalam ruang.
Perkembangan tanah dari waktu ke waktu dapat karena faktor-faktor yang
bersifat alami atau faktor lain sebagai akibat dari pemanfaatan tanah oleh
manusia.
Proses pembentukan tanah merupakan hal mendasar dalam kajian
geografi tanah. Geografi tanah adalah cabang ilmu geografi yang mengkaji
persebaran satuan-satuan tanah di permukaan bumi, sifat, dan karakteristik
satuan-satuan tanah yang menyelimuti permukaan bumi, dan pemanfaatan tanah
untuk kehidupan. Jadi geografi tanah ialah ilmu tanah yang menelaah tanah
menurut sudut pandang geografi. Tujuan Geografi Tanah adalah untuk mencatat
(record) dan menjelaskan genesis, perkembangan, sifat-sifat dan agihan tanah-
tanah di permukaan bumi yang diwujudkan dalam peta tanah.
Kapasitas tukar kation merupakan sifat kimia yang sangat erat
hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah dengan KTK tinggi mampu
menjerat dan menyediakan unsur hara lebih baik daripada tanah dengan KTK
rendah. Tanah dengan KTK tinggi bila didominasi oleh kation basa, Ca, Mg, K,
Na (kejenuhan basa tinggi) dapat meningkatkan kesuburan tanah, tetapi bila
didominasi oleh kation asam, Al, H (kejenuhan basa rendah) dapat mengurangi
kesuburan tanah. Karena unsur-unsur hara terdapat dalam kompleks jerapan
koloid maka unsur-unsur hara tersebut tidak mudah hilang tercuci oleh air.KTK
pada jenis tanah yang ada berbeda-beda, dipengaruhi oleh faktor lingkungan
setempat. KTK tanah pada umumnya digunakan sebagai indikator pembeda pada
proses klasifikasi tanah.

1
1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, kami merumuskan masalah sebagai berikut :


1. Apakah Pengertian Dari Kapasitas Kartion tanah?
2. Bagaimanakah Bentuk Klasifikasi dari Kapasitas Kartion Tanah ?
3. Bagaimanakah Hubungan KTK dengan pH Tanah ?

1.3. Tujuan Pembelajaran

Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk lebih mengetahui tentang sifat –
sifat tanah baik fisika maupun kimia tanah itu sendiri.

1.4. Sistematika Makalah


Dalam penulisan ini didasarkan pada metode deskriftif, yaitu menggambarkan
masalah atau isi makalah secara detil dan jelas. Sistematika makalah yang penulis
gunakan dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
Makalah ini terdiri dari kata pengantar, daftar isi, Bab I Pendahuluan, Bab II
Pembahasan, Bab III Simpulan dan Saran, dan Daftar Pustaka.
Bab I pendahuluan meliputi: latar belakang masalah mengenai disusunnya
makalah ini, rumusan masalah ini dimaksudkan ntuk mempermudah untuk menyusun
serta pembahasan makalah, tujuan makalah yaitu tujuan dari penyusunan makalah
ini, sistematika penulisan yaitu agar mengetahui sistematika penulisan yang
digunakan dalam penyusunan makalah.
Bab II pembahasan yaitu: menjelaskan isi dari makalah, dalam makalah ini
penulis membahas tentang Sifat-sifat Tanah berupa Kation Tanah, Sifat Basa Tanah
dan proses Oksidasi dan Reduksi.
Bab III Penutup yaitu: menguraikan kesimpulan dari pembahasan serta
memberi saran tentang Sifat Tanah yang dibahas pada bab pembahasan

2
BAB II PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Kapasitas Tukar Kation Tanah

Kapasitas pertukaran kation (KPK) dalam ilmu tanah diartikan sebagai


kemampuan tanah untuk menjerap dan menukar atau melepaskan kembali ke
dalam larutan tanah. Di dalam tanah, komponen yang mempunyai muatan adalah
lempung dan bahan organik tanah (senyawa organik). Muatan negatif lempung
/ bahan organik biasanya mengikat kation (ion bermuatan positif) yang ada
disekitarnya (dalam larutan tanah) sehingga terjadi reaksi elektronetralitas yang
menghasilkan keseimbangan kimia. Secara praktikal, pertukaran kation sangat
penting dalam fisika tanah, kimia tanah, kesuburan tanah, retensi hara dalam
tanah, serapan hara oleh tanaman, pemupukan dan pengapuran. Secara umum
kation yang terjerap tersedia bagi tanaman melalui pertukaran kation dengan ion
H yang dihasilkan oleh respirasi akar-akar tanaman. Hara yang ditambahakan
kedalam tanah dalam bentuk pupuk akan diretensi oleh permukaan koloid.
Kapasitas tukar kation (KTK) merupakan sifat kimia yang sangat erat
hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah-tanah dengan kandungan bahan
organik atau kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi daripada tanah-tanah
dengan kandungan bahan organik rendah atau tanah-tanah berpasir
(Hardjowogeno 2003).
Menurut Hardjowogeno (2003) nilai KTK tanah sangat beragam dan
tergantung pada sifat dan ciri tanah itu sendiri. Besar kecilnya KTK tanah
dipengaruhi oleh :
a) Reaksi tanah, semakin tinggi pH semakin tinggi KTK.
b) Tekstur tanah, semakin tinggi kadar liat semakin tinggi KTK.
c) Jenis liat, KTK liat 2:1 lebih besar dari pada 1:1
d) Kadar BO, makin tinggi BO makin tinggi KTK.
e) Pengapuran dan pemupukan kation, menaikan pH.

Kapasitas tukar kation tanah sangat beragam, karena jumlah humus dan
liat serta macam liat yang dijumpai dalam tanah berbeda-beda pula.

3
KPK atau Cation Exchange Capacity (CEC) merupakan kapasitas tanah
untuk menjerap atau menukar kation. Biasanya dinyatakan dalam
miliekuivalen/100 g tanah atau me %, tetapi sekarang diubah menjadi cmolc/kg
tanah (centimoles of charge per kilogram of dry soil ).
Nilai KPK tanah bervariasi bergantung kepada tipe and jumlah koloid di
dalam tanah. Pada umumnya KPK koloid tanah adalah sebagai berikut:

Koloid Tanah KPK (me %)


Humus 200
Vermikulit 100-150
Montmorilonit 70-95
Illit 10-40
Kaolinit 3-15
Seskuioksida 2-4

Kation dengan valensi lebih besar diabsorbsi lebih kuat dari pada kation
dengan valensi yang lebih rendah. Untuk suatu valensi tertentu, kation dengan
radius hidrasi terkecil akan bergerak merapat kepermukaan misel dan diabsorbsi
dan lebih diabsorbsi lebih kuat
Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca++, Mg+, K+, Na+,
NH4+, H+, Al3+, dan sebagainya. Di dalam tanah kation-kation tersebut terlarut
di dalam air tanah atau dijerap oleh koloid-koloid tanah. Banyaknya kation
(dalam miliekivalen) yang dapat dijerap oleh tanah per satuan berat tanah
(biasanya per 100 g) dinamakan kapasitas tukar kation (KTK). Kation-kation
yang telah dijerap oleh koloid-koloid tersebut sukar tercuci oleh air gravitasi,
tetapi dapat diganti oleh kation lain yang terdapat dalam larutan tanah. Hal
tersebut dinamakan pertukaran kation. Jenis-jenis kation yang telah disebutkan
di atas merupakan kation-kation yang umum ditemukan dalam kompleks jerapan
tanah.(Rosmarkam dan Yuwono, 2002)

4
2.1.1. Klasifikasi KTK
Kapasitas Tukar Kation (KTK) atau Cation Exchange capacity (CEC)
merupakan jumlah total kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan
koloid yang bermuatan negative. Berdasarkan pada jenis permukaan
koloid yang bermuatan negative, KTK dapat dikelompokkan menjadi
tiga, yaitu:

a) KTK koloid anorganik atau KTK liat yaitu jumlah kation yang dapat
dipertukarkan pada permukaan koloid anorganik (koloid liat) yang
bermuatan negative,
b) KTK koloid organic yaitu jumlah kation yang dapat dipertukarkan
pada permukaan koloid oerganik yang bermuatan negative, dan
c) KTK total atau KTK tanah yaitu jumlah total kation yang dapat
dipertukarkan dari suatu tanah baik kation pada permukaan koloid
organic (humus) maupun kation pada permukaan koloid anorganik
(liat) (Madjid, 2007).

Kapasitas Tukar Kation (KTK) setiap jenis tanah berbeda-beda. Humus


yang berasal dari bahan organic mempunyai KTK jauh lebih tinggi (100-
300 meq/100g). Koloid yang bersal dari batuan memiliki KTK lebih
rendah (3-150 meq/100g). Secara kualitatif KTK tanah dapat diketahui
dari teksturnya. Tanah dengan kandungan pasir yang tinggi memiliki
KTK yang lebih rendah dibandingkan dengan tanah dengan kandungan
liat atau debu. KTK tanah yang rendah dapat ditingkatkan dengan
menambahkan bahan organic seperti kompos atau pupuk kandang,
penambahan hancuran batuan zeolit secara signifikan juga dapat
meningkatkan KTK tanah (Novizan, 2005).
Pertukaran kation merupakan pertukaran antara satu kation dalam suatu
larutan dan kation lain dalam permukaan dari setiap permukaan bahan
yang aktif. Semua komponen tanah mendukung untuk perluasan tempat
pertukaran kation, tetapi pertukaran kation pada sebagaian besar tanah

5
dipusatkan pada liat dan bahan organic. Reaksi tukar kation dalam tanah
terjadi terutama di dekat permukaan liat yang berukuran seperti klorida
dan partikel-partikel humus yang disebut misel. Setiap misel dapat
memiliki beribu-ribu muatan negative yang dinetralisir oleh kation yang
diabsorby (Soares et al., 2005).

2.1.2. Hubungan KTK dengan pH Tanah


Pada kebanyakan tanah ditemukan bahwa pertukaran kation berubah
dengan berubahnya pH tanah. Pada pH rendah, hanya muatan permanen
liat, dan sebagian muatan koloid organik memegang ion yang dapat
digantikan melalui pertukaran kation. Dengan demikian KTK relatif
rendah.(Harjowigeno, 2002)
KTK tanah berbanding lurus dengan jumlah butir liat. Semakin tinggi
jumlah liat suatu jenis tanah yang sama, KTK juga bertambah besar.
Makin halus tekstur tanah makin besar pula jumlah koloid liat dan koloid
organiknya, sehingga KTK juga makin besar. Sebaliknya tekstur kasar
seperti pasir atau debu, jumlah koloid liat relatif kecil demikian pula
koloid organiknya, sehingga KTK juga relatif lebih kecil daripada tanah
bertekstur halus.(Hakim, 1986)
Nilai kapasitas tukar kation tanah pada umumnya berkisar antara 25-45
cmol/kg sampai dengan kedalaman 1 meter. Besarnya nilai KTK sangat
dipengaruhi oleh kadar lempung, C-organik, dan jenis mineral
lempungnya. Pengaruh kadar lempung dan C-organik terhadap nilai KTK
tanah terlihat dari grafik hubungan sifat-sifat fisik-kimia. Kadar lempung
berpengaruh cukup tinggi terhadap KTK dengan nilai koefisien
determinasi R2 = 0.62. Makin tinggi kadar lempung maka makin tingi
nilai KTK, sedangkan untuk C-organik pengaruhnya kacil terhadap KTK
(R2 = 0.29), hal ini mungkin karena kadar C-organik yang rendah, selain
itu jenis mineral lempung pun berpengaruh terhadap nilai KTK (Al-Jabri,
2008).

6
Dalam kondisi tertentu kation teradsorpsi terikat secara kuat oleh
lempung sehingga tidak dapat dilepaskan kembali oleh reaksi pertukaran,
kation ini disebut kation terfiksasi. Mineral lempung yang banyak
menyumbang fiksasi K+ dan NH4+ antara lain : zeolit, mika, dan ilit.
Fiksasi K penting didalam tanah pasiran untuk mencegah dari pelindian
dan pemupukan K+ dan NH4+ yang terus menerus yang dapat
menurunkan fiksasi K (Aragno dan Michel, 2005).
Masukan kapur akan menaikkan pH tanah. Pada tanah-tanah yang
bermuatan tergantung pH, seperti tanah kaya montmorillonit atau koloid
organik, maka KTK akan meningkat dengan pengapuran. Di lain pihak
pemberian pupuk-pupuk tertentu dapat menurunkan pH tanah, sejalan
dengan hal itu KTK pun akan turun. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa pengaruh pengapuran dan pemupukan ini berkaitan erat dengan
perubahan pH, yang selanjutnya memperngaruhi KTK tanah (Hakim,
dkk., 1986)
Sifat-sifat pertukaran kation dalam tanah banyak digunakan dalam
menilai tingkat kesuburan tanah dan klasifikasi tanah. Kapasitas tukar
kation berhubungan dengan kapasitas penyediaan Ca, Mg, dan K,
efisiensi pemupukan dan pengapuran pada lapisan olah. KTK digunakan
sebagai salah satu penciri untuk menentukan kelasnya. Pertukaran kation
dalam tanah terjadi karena adanya muatan negatif dari koloid tanah yang
menjerap kation-kation dalam bentuk dapat ditukarkan (exchangeable).

2.1.3. Hubungan KTK dengan Tekstur dan Bahan Organik


KTK mempunyai hubungan dengan tekstur dan bahan organik. Jika
tekstur makin halus, maka KPKnya akan makin besar. KPK biasanya
dinyatakan dalam C mol (+) kg-1 tanah atau lempung. Kation adalah ion-
ion yang bermuatan positif di dalam tanah, misalnya H+, Al3+, Ca++,
Mg++, dll. Kation-kation ini dijerap pada permukaan koloid mineral dan
ataupun organik dengan ikatan elektrostatik yang tidak terlalu kuat,
sehingga dapat dilepaskan ataupun dipertukarkan. Nilai KPK tanah

7
sangat beragam dipengaruhi jumlah dan jenis kandungan lempung, kadar,
dan takaran dekomposisi bahan organik serta pH tanah.
Besarnya KTK suatu tanah dapat ditentukan dengan menjenuhkan
kompleks jerapan atau misel dengan kation tertentu. Misalnya misel
dijenuhkan dengan kation Ba2+ atau NH4+ yang bertujuan agar seluruh
kation yang terjerap dapat digantikan oleh ion Ba2+ atau NH4+. Dengan
menghitung jumlah Ba2+ atau NH4+ yang dapat menggantikan seluruh
kation terjerap tadi, maka nilai tersebut adalah KTK tanah yang
ditentukan
Faktor yang mempengaruhi kapasitas pertukaran kation adalah pH
Larutan pengekstrak, Sifat komplek pertukaran, Konsentrasi larutan
pengekstrak, Sifat kation yang dipakai, Pendekatan Analitik, Adanya
interaksi yang tidak diinginkan, Keterbatasan metode analisis.
Suatu jenis tanah yang mempunyai nilai KPK tertentu dapat diubah
(dinaikan atau diturunkan) dengan cara mencampur dengan bahan-bahan
lain yang nilai KPKnya berbeda. Untuk membuktikan muatan negatif
zarah-zarah tanah digunakan dua macam zat warna yaitu :
1) gention violet (+) yang bermuatan positif untuk menunjukan tanah
yang bermuatan negatif dan
2) eosin red (-) yang bermuatan negatif untuk menunjukan tanah yang
bermuatan positif.

8
2.2. Kejenuhan Basa
Kejenuhan basa adalah perbandingan dari jumlah kation basa yang
ditukarkan dengan kapasitas tukar kation yang dinyatakan dalam persen.
Kejenuhan basa rendah berarti tanah kemasaman tinggi dan kejenuhan basa
mendekati 100% tanah bersifal alkalis. Tampaknya terdapat hubungan yang
positif antara kejenuhan basa dan pH. Akan tetapi hubungan tersebut dapat
dipengaruhi oleh sifat koloid dalam tanah dan kation-kation yang diserap. Tanah
dengan kejenuhan basa sama dan komposisi koloid berlainan, akan memberikan
nilai pH tanah yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh perbedaan derajat disosiasi
ion H+ yang diserap pada permukaan koloid .
Basa-basa yang dapat dipertukarkan meliputi Ca, Mg, K, dan Na.
Persentase penjenuhan basa adalah persentase kapasitas pertukaran kation-
kation itu
Secara umum jika pH tinggi, kejenuhan basa akan tinggi. Kejenuhan basa
yang rendah berarti kandungan ion H yang tinggi. Kejenuhan basa biasanya
dapat digunakan sebagai indikasi kesuburan tanah. Tanah sangat subur àdalah
derajat kejenuhan basa lebih dari 80%. Tanah kesuburan sedang àdalah derajat
kejenuhan basanya antara 50%-80%, tanah tidak subur àdalah derajat kejenuhan
basa kurang dari 50%. Pengapuran meningkatkan kejenuhan basa.
Tanah dengan fraksi pasir tinggi, pencucian basa – basa terjadi lebih
intensif dibandingkna tanah bertekstur halus. Sebagai akibat hubungan tidak
langsung, maka C organik, kation dapat ditukar, Kapasitas Pertukaran Kation
tanah yang mempunyai korelasi positif sangat nyata dengan fraksi liat, juga
berkorelasi positif sangat nyata dengan K potensial. Kandungan basa – basa
dapat ditukar yang renda, menunjukkan bahwa tanah telah mengalami
pencuciann lanjut dan bahan induk tanah tergolong miskin basa – basa dan unsur
hara .

9
Kejenuhan basa berhubungan erat dengan KPK tanah yaitu % Kejenuhan
basa = [Jumlah Kation Tertukar (dlm me %) / KPK] x 100
Contoh :
Kation Tertukar me %
Ca 10
Mg 5
K 10
Na 5
Jumlah 30

Jika KPK tanah = 50%, maka % kejenuhan basa = 30/50 x 100 = 60 %.


Ada korelasi positif antara pH tanah dan persen kejenuhan basa. Secara umum
jika pH tinggi, kejenuhan basa akan tinggi.
Kejenuhan basa yang rendah berarti kandungan H+ yang tinggi.
Kejenuhan basa biasanya dapat digunakan sebagai indikasi kesuburan tanah :
 Tanah sangat subur  derajat kejenuhan basa ≥ 80%,
 Tanah kesuburan sedang derajat kejenuhan basa 50 % - 80 %
 Tanah tidak subur  derajat kejenuhan basa ≤ 50 %
 Pengapuran (liming) dapat meningkatkan kejenuhan basa.

10
2.3. Oksidasi Dan Reduksi (Redoks)

Ion Hidrogen dan elektron (e-) adalah dua variabel yang penting dalam aturan-
aturan kimia. Ketersediaan H+ dan e–, sendiri maupun secara bersama, sering
menentukan secara langsung, kelajuan dan produk akhir reaksi-reaksi organik
maupun anorganik.

Semua elemen kimia dapat bertindak sebagai akseptor maupun donor elektron
pada reaksi oksidasi-reduksi dalam kondisi yang sesuai. Oksidasi adalah
kehilangan elektron dari suatu zat, sementara reduksi adalah pengambilan
elektron. Peristiwa oksidasi-reduksi selalu terjadi secara bersamaan, sebab suatu
zat hanya dapat melakukan donasi elektron jika zat lain menerima
elektronnya. Kondisi dan sifat kimia tanah akan membatasi jumlah elemen yang
terlibat pertukaran elektron secara alami. Jumlah yang relatif kecil dari elemen-
elemen yang mengalami pertukaran elektron-elektron adalah sangat penting,
didalamnya termasuk karbon, nitrogen dan sulfur yang terlibat dalam reaksi-
reaksi.

Banyak reaksi-reaksi kimia tanah anorganik yang sebenarnya adalah reaksi-reaksi


biologis yang melibatkan karbon, nitrogen dan sulfur dan semuanya tergolong
reaksi oksidasi-reduksi. Sebagian dari reaksi redok adalah transfer H+, arti yang
sebenarnya dari H+ versus e– dalam reaksi kimia tanah sebagian besar adalah
bergantung atas keahadiran atau adanya oksigen. Oksigen sebagai akseptor
elektron utama, yaitu sebagai agen pengoksidasi utama oleh karena itu dialam
oksigen adalah sebagai penyangga elektron. Ketersediaan elektron (e–) adalah
agak tetap pada kondisi aerobik tanah, dimana kehadiran oksigen selanjutnya
menjadikan e– tidak begitu signifikan dibandingkan dengan pentingnya H+ (donor
elektron).

Oksigen secara umum menyediakan untuk pertumbuhan akar tanaman, mikroba


tanah, dan zat-zat anorganik dalam drainase tanah. Oksigen berdifusi kebawah
dari permukaan tanah melalui pori-pori tanah. Sampai tanah menjadi sangat

11
basah, laju oksigen biasanya cepat. Air mengisi pori-pori kecil pertama,
meninggalkan pori-pori yang lebih besar dan terbuka untuk transfer gas. Jika
pori-pori besar merata diseluruh permukaan tanah, difusi oksigen hanya
memerlukan jarak yang pendek melalui larutan tanah ke akar dan
mikroorganisme. Jarak ini sangat berpengaruh dan dianggap penting, meskipun
difusi melalui fase gas 10.000 kali lebih cepat dibandingkan dengan fase cair.

Jika jalur difusi yang melalui besarnya larutan tanah sangat panjang, ini akan
menyebabkan akar dan mikroba akan kekurangan suplai oksigen. Bahkan lapisan
tipis (thin film) pada air dapat menghalangi difusi oksigen, terutama ketika
mikroorganisme secara aktif mengkonsumsi oksigen. Mikroba dan akar
mengkonsumsi oksigen untuk metabolisme, atau memperoleh energi dari molekul
organik dalam tanah dan pada akar. Kondisi anaerobik, tidak tersedianya oksigen
dalam bentuk bebas akan memperlambat tingkat metabolisme akar dan serapan
ion. Melemahkan akar terhadap pathogen tanah, dan meningkatkan konsentrasi
ion, mengurangi reduksi dalam tanah dalam larutan tanah.

Karbondioksida (CO2) terebentuk ketika oksigen menerima elektron dari tanaman


dan mikroorganisme. CO2 berdifusi dengan cara yang sama sepertihalnya
oksigen menuju ke tempat reaksi. Jika difusi lambat, konsentrasi CO2 dan
H2CO3 akan meningkat, bersama dengan peningkatan keasaman organik
tanah, dan kisaran pH akan menjadi sempit.

Sebagian besar menganggap, bahwa ketidakhadiran oksigen akan menjadi tidak


biasa, karena lingkungan manusia yang terbatas pada kondisi aerobik dan
ketersediaan oksigen yang melimpah dilingkungan. Manusia membutuhkan
oksigen sepertihalnya pada tanaman dan mereka selalu bergantung, kondisi
aerobik sebenarnya adalah kondisi yang kecil, namun sekitar 70% dari
permukaan bumi adalah air yang terttutup dan lingkungan yang relatif miskin
oksigen. Selain itu, banyak dari permukaan tanah tergenang atau sangat basah
pada musim-musin tertentu atau sepanjang tahun. Banyak sub tanah telah

12
membatasi drainase air dan konsentrasi oksigen yang rendah, dan interior pori-
pori agregat tanah dapat memiliki konsentrasi oksigen yang cukup rendah
daripada di atmosfir.

Pertanian juga telah berpengaruh dalam perubahan kemampuan tanah untuk suplai
oksigen. Irigasi, budidaya, jenis tanaman, populasi tanaman, usia tanaman yang
lebih pendek atau perubahan kadar air tanah. Sebagai contoh adalah areal
pertanian jagung di Midwest – Amerika Serikat, yang melakukan (treatment)
perlakuan dengan menghilangkan air yang terakumulasi selama musim
pertumbuhan dan mengurangi ketersediaan oksigen. Tanaman yang
dibudidayakan menjadi kurang padat, dan memiliki musim tumbuh yang yang
lebih pendek dari tanaman pendamping (tanaman liar, rumput dan
sebagainya). Budidaya dalam bidang pertanian juga dapat menghancurkan pori-
pori besar tanah dimana gas dan air cepat terbuang.

Oksidasi – Reduksi Tanah

Reaksi redoks dalam lingkungan tanah adalah hasil dari siklus yang dimulai dari
fotosintesis. Reaksi-reaksi dalam tanah melengkapi siklus tersebut, karena telah
memanfaatkan energi yang disimpan oleh fotosintesis, membuang limbah
organik, dan menghasilkan CO2 yang dibutuhkan untuk fotosintesis
tambahan. Peristiwa oksidasi tanah sering terjadi secara tidak
langsung, bagaimanapun, telah banyak menyebabkan bagian-bagian reaksi
hingga siklus selesai. Didalam peristiwa fotosintesis karbon (C) dalam
CO2 menerima elektron, yang selanjutnya terjadi perubahan bilangan oksidasi dari
C4+ ke C0 dalam karbohidrat ((CH2O)n) ;

CO2 + 4e– + 4H+ –> CH2O + H2O (10.1)

Setengan reaksi digambarkan pada oksidasi oksigen dalam air (H2O), dimana O2-
menjadi O0 dalam O2.

13
2H2O –> O2 + 4e– + 4H+ (10.2)

Oksigen dalam hal ini sebagai donor elektron, dan karbon sebagai akseptor
elektron. Dalam fotosintesis (persamaan reaksi 10.1 dan 10.2) masing-masing
menggambarkan hanya setengah reaksi, atau disebut setengah reaksi. Meskipun
dalam persamaan tersebut menyiratkan adanya elektron bebas, konsentrasi
elektron bebas sebenarnya makin kecil. Persamaan setengah reaksi sebenarnya
menyiratkan bahwa donor elektron tidak ditentukan oleh akseptor yang
ada. Keseluruhan reaksi fotosintesi digambarkan sebagai berikut ;

CO2 + H2O –> CH2O +O2 (10.3)

Setengah reaksi lainnya dari siklus karbon adalah reaksi oksidasi karbohidrat
(respirasi) dan banyak senyawa-senyawa organik disintesis dari peristiwa
respirasi. Oksidasi melepaskan energi dalam senyawa, oksidasi adalah peristiwa
pembakaran, yang merupakan bagian penting juga yang terjadi pada hewan yang
hidup pada tanaman. Sisa tanaman dan residu hewan jatuh ke tanah yang
selanjutnya dioksidasi oleh mikroorganisme tanah. Setengah reaksi oksidasi
karbohidrat ditunjukkan oleh reaksi berikut ini ;

CH2O + H2O –> CO2 + 4e– + 4H+ (10.4)

Dalam kegiatannya untuk memperoleh energi ini dan melaksanakan setengah


reaksi, organisme harus menemukan akseptor elektron untuk untuk mengambil
elektron, jika oksigen hadir maka setengah reaksi dari penerimaan elektron ini
adalah ;

O2 + 4e– + 4H+ –> 2H2O (10.5)

14
Peristiwa oksidasi yang ditunjukkan pada persamaan (10.4) sebenarnya dilakukan
melalui langkah-langkah krebs atau siklus asam sitrat, sedangkan persamaan
(10.5) adalah penyederhanaan dari proses yang sesungguhnya.

Tumbuhan tingkat tinggi dan hewan hanya dapat menggunakan oksigen (O2)
sebagai akseptor elektron, tetapi mikroba tanah juga dapat memanfaatkan
keadaan teroksidasi nitrogen, belerang, besi, mangan, dan elemen
lainnya. Jumlah akseptor elektron dalam beberapa kondisi menjadikan peristiwa
oksidasi adalah reaksi yang rumit dalam kimia tanah maupun dalam biokimia.

Reaksi rodoks yang melibatkan karbon, nitrogen, dan belerang ditentukan


terutama oleh ketersediaan elektron dan biasanya dikatalisis oleh enzim. Katalis
diperlukan karena kebanyakan terjadi pertukaran elektron unsur. Enzim
menurunkan energi aktivasi transfer elektron dan meningkatkan laju reaksi. Ini
merupakan yang dihindari untuk mencapai keseimbangan, atau sebaliknya dalam
menciptakan metastabilitas senyawa karbon.

Donor Eleketron

Sebagian besar dari donor-donor elektron didalam tanah adalah material tanaman
SOM (soil organic matter). Tabel 10.1 menunjukkan perkiraan karbon,
hydrogen, dan oksigen yang terkandung dalam dua komponen besar pada
tanaman, yaitu lignin dan sellulosa, yang menunjukkan tipikal bahan organik
(SOM). Pada tabel tersebut, diabaikan besarnya kandungan untuk nitrogen,
sulfur, dan dan elemen-eleman lainnya. Anggapan bahwa material tanaman
mengandung 1/3 lignin dan 2/3 selulosa, rumus empiris material tanaman adalah
sekitar C1.7H2.2O. lebih lanjut, bahwa semua asumsi karbon dalam bahan ini
mengoksidasi C4+ (bilangan oksidasi karbon dalam CO2). Persamaan setengah
reaksinya adalah ;


C1.7H2.2O –> 1.7C4+ + H2O + 0.2H++7e (10.6)

15
Tabel 10.1

Perkiraan kandungan unsur C, H dan O pada lignin, selulosa dan tanah bahan
organik (SOM).

C (%) H (%) O (%) Rumus Empiris

Lignin 61-64 5-6 30 C2.8H2.9O

Selulosa 44.5 6.2 49.3 C1.2H2O

Bahan Organik Tanah (SOM) 58 5 36 C2.2H2.2O

Rumus empiris bahan organik tanah (SOM) pada tabel 10.1, menunjukkan adanya
kandungan yang melimpah untuk karbon pada material tanaman. Grup karbon
yang terbentuk pada tanah bahan organik (SOM) (gambar 5.5) cenderung lebih
aromatik, dan kurang kaya akan kandungan oksigen dari material
tanaman. Perkiraan setengah reaksi oksidasi pada tanah bahan organik (SOM) :

C2.2H2.2O –> 2.2C4+ + H2O + 0.2H++9e– (10.7)

Persamaan reaksi lengkap untuk oksidasi bahan organik tanah dari persamaan
(10.6) dan (10.7) adalah ;

CH2O + O2 –> CO2 + H2O + Energi (10.8)

Energi yang dilepaskan adalah energi fotosintesis dari molekul


karbohidrat. Donor elektron lainnya dalam tanah disamping karbon-organik,
termasuk juga nitrogen dan sulfur/belerang dalam asam amino (-NH3) dan grup
sulfihydril (-SH), serta ion ammonium dalam bahan organik. Mikroorganisme
tanah membuat donor elektron lain ketika tanah mengalami kekurangan oksigen.

16
Akseptor Elektron

Peran tanah dalam reaksi oksidasi-reduksi adalah untuk menyediakan akseptor


elektron untuk oksidasi senyawa organik. Oksigen adalah akseptor elektron
terkuat dialam sehingga menghasilkan energi yang besar dalam peristiwa
oksidasi. Oksigen juga merupakan akseptor elektron yang dimanfaatkan oleh akar
tanaman. Ketika oksigen tersedia (kondisi aerobik), ia menerima elektron seperti
diperlihatkan pada persamaan 10.5.

Permintaan oksigen yang tinggi biasanya disebabkan oleh adanya senyawa


organik yang mudah terdekomposisi dan kondisi pertumbuhan yang mendukung
aktivitas mikroba. Karena jumlah yang besar dari mereka dan aktivitas yang
cukup, mikroorganisme tanah biasanya mendapatkan perubahan pertama pada
oksigen yang tersedia di tanah. Ketika permintaan oksigen tinggi, relatif terhadap
suplai oksigen hal ini bisa terjadi karena digunakan untuk dekomposisi sampah-
sampah organik. Karena difusi oksigen relatif lambat, fermentasi terjadi dan
menghasilkan gas CO2, CH4, H2 serta bau busuk dari asam-asam organik volatile
dan aldehida. Kelarutan oksigen dalam air rendah (sekitar 10 mg L-1 pada 25oC).

Kebutuhan oksigen tanah dapat menguras oksigen yang terlarut dalam tanah yang
tergenang air dalam waktu kurang dari 24 jam. Jika oksigen tidak
tersedia, mikroorganisme tanah dapat menggunakan akseptor elektron
lainnya. Akseptor elektron sekunder pada tanah ditunjukkan oleh setengah reaksi
berikut ini :

FeOOH + e– + 3H+ –> Fe2+ + 2H2O (10.9)

2MnO1.75 + 3e– + 7H+ –> 2Mn2+ +3.5H2O (10.1)

Dimana MnO1.75 menandakan adanya kompleks oksida Mn(III-IV) dalam tanah.

SO42- + 8e– + 8H+ –>S2-+4H2O (10.11)

17
NO3– + 5e– + 6H+ –> ½ N2 +3H2O (10.12)

NO3– + 2e– + 2H+ –> NO2–+H2O (10.13)

N2O + 2e- + 2H+ –> N2 +H2O (10.14)

H+ + e– –> ½H2 (10.15)

Selain dihasilkan energi yang kurang, akseptor elektron sekunder juga


menghasilkan produk yang tidak menguntungkan untuk pertanian dan
akuakultur. Sering dinyatakan lebih beracun dari oksidasi yang stabil dengan
adanya oksigen. Sebagai contoh, ammonia dan nitrit lebih beracun daripada
nitrat, dan H2S adalah lebih beracun daripada sulfat. Reduksi dari Fe(III) dan
Mn(III-IV) dapat menyebabkan phytotoxic Fe2+ dan konsentrasi Mn2+ yang
terdapat dalam tanaman padi. Reduksi dari NO3– ke gas N2 dan N2O adalah
kondisi pertanian yang tidak diinginkan. Karena tanah akan kehilangan
nitrogen. Jika oksigen dan akseptor elektron sekunder tidak
hadir, mikroorganisme dalam tanah dan system lain masih dapat mengekstrak
energi beberapa senyawa organik secara fermentasi. Fermentasi dari sudut
pandang energi adalah penataan ulang molekul organik menjadi senyawa yang
lebih stabil sehingga sebagian dari energi ikatan mereka dilepaskan. Fermentasi
karbohidrat menjadi etanol atau metana dan CO2, dan bahan tanaman untuk
gambut, melepaskan CO2 sekitar 10% dari energi. Maka produk fermentasi
(masing-masing etanol, metana, dan gambut) mempertahankan sekitar 90% dari
energi bahan asli.

Fermentasi dan reduksi akseptor elektron sekunder hanya expediencies


sementara. Produk yang dihasilkan tidak stabil dengan adanya oksigen dan
akhirnya mengoksidasi lebih lanjut saat lebih banyak oksigen tersedia. Bahan
organik tanah adalah contoh akumulasi manfaat dari produk yang tidak stabil dari
oksidasi lengkap atau fermentasi. Kandungan bahan organik tanah mencerminkan

18
perbedaan antara tingkat penambahan bahan organik dan oksidasi. Laju oksidasi
diatur oleh suhu dan laju pasokan oksigen. (mahbub alwathoni, 2011 ; Henrich L.
Bohn et al, 1985)

19
BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Kapasitas pertukaran kation (KPK) dalam ilmu tanah diartikan sebagai


kemampuan tanah untuk menjerap dan menukar atau melepaskan kembali ke dalam
larutan tanah. Di dalam tanah, komponen yang mempunyai muatan adalah lempung
dan bahan organik tanah (senyawa organik). Muatan negatif lempung / bahan organik
biasanya mengikat kation (ion bermuatan positif) yang ada disekitarnya (dalam
larutan tanah) sehingga terjadi reaksi elektronetralitas yang menghasilkan
keseimbangan kimia.
Secara praktikal, pertukaran kation sangat penting dalam fisika tanah, kimia
tanah, kesuburan tanah, retensi hara dalam tanah, serapan hara oleh tanaman,
pemupukan dan pengapuran. Secara umum kation yang terjerap tersedia bagi tanaman
melalui pertukaran kation dengan ion H yang dihasilkan oleh respirasi akar-akar
tanaman. Hara yang ditambahakan kedalam tanah dalam bentuk pupuk akan diretensi
oleh permukaan koloid
Kejenuhan basa adalah perbandingan dari jumlah kation basa yang ditukarkan
dengan kapasitas tukar kation yang dinyatakan dalam persen. Kejenuhan basa rendah
berarti tanah kemasaman tinggi dan kejenuhan basa mendekati 100% tanah bersifal
alkalis. Tampaknya terdapat hubungan yang positif antara kejenuhan basa dan pH.
Akan tetapi hubungan tersebut dapat dipengaruhi oleh sifat koloid dalam tanah dan
kation-kation yang diserap. Tanah dengan kejenuhan basa sama dan komposisi koloid
berlainan, akan memberikan nilai pH tanah yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh
perbedaan derajat disosiasi ion H+ yang diserap pada permukaan koloid (Anonim
1991).
Kejenuhan basa selalu dihubungkan sebagai petunjuk mengenai kesuburan
sesuatu tanah. Kemudahan dalam melepaskan ion yang dijerat untuk tanaman
tergantung pada derajat kejenuhan basa. Tanah sangat subur bila kejenuhan basa >
80%, berkesuburan sedang jika kejenuhan basa antara 50-80% dan tidak subur jika
kejenuhan basa < 50 %. Hal ini didasarkan pada sifat tanah dengan kejenuhan basa

20
80% akan membebaskan kation basa dapat dipertukarkan lebih mudah dari tanah
dengan kejenuhan basa 50%.
Redoks adalah istilah yang menjelaskan berubahnya bilangan oksidasi
(keadaan oksidasi) atom-atom dalam sebuah reaksi kimia. Hal ini dapat berupa proses
redoks yang sederhana seperti oksidasi karbon yang menghasilkan karbon dioksida,
atau reduksi karbon oleh hidrogen menghasilkan metana (CH4), ataupun ia dapat
berupa proses yang kompleks seperti oksidasi gula pada tubuh manusia melalui
rentetan transfer elektron yang rumit.
Istilah redoks berasal dari dua konsep, yaitu reduksi dan oksidasi. Ia dapat
dijelaskan dengan mudah sebagai berikut:
Oksidasi menjelaskan pelepasan elektron oleh sebuah molekul, atom, atau ion
Reduksi menjelaskan penambahan elektron oleh sebuah molekul, atom, atau ion.
Walaupun cukup tepat untuk digunakan dalam berbagai tujuan, penjelasan di
atas tidaklah persis benar. Oksidasi dan reduksi tepatnya merujuk pada perubahan
bilangan oksidasi karena transfer elektron yang sebenarnya tidak akan selalu terjadi.
Sehingga oksidasi lebih baik didefinisikan sebagai peningkatan bilangan oksidasi, dan
reduksi sebagai penurunan bilangan oksidasi. Dalam praktiknya, transfer elektron
akan selalu mengubah bilangan oksidasi, namun terdapat banyak reaksi yang
diklasifikasikan sebagai "redoks" walaupun tidak ada transfer elektron dalam reaksi
tersebut (misalnya yang melibatkan ikatan kovalen).

21
DAFTAR PUSTAKA

Anon , 2017 http://petanibangga.blogspot.com/2017/12/kapasitas-tukar-kation-


hubungan-ktk.html [Online]

Anon, 2018, Kapasitas Pertukaran Kation.


https://id.wikipedia.org/wiki/Kapasitas_pertukaran_kation [Online]

Winalwi, 2012. Reaksi Kimia tanah. http://winwinalwi.blogspot.com/2012/11/reaksi-


kimia-tanah_9521.html [Online]

Adi Setiadi, 2011. Oksidasi dan Reduksi tanah;


https://theadiokecenter.wordpress.com/2011/12/20/oksidasi-reduksi-pada-
tanah/ [Online]

22