Anda di halaman 1dari 20

RADIOGRAPH BASED DISCUSSION

BRONKOPNEUMONIA

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi


Salah Satu Syarat Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian Ilmu Radiologi di RS Islam Sultan Agung Semarang

Disusun oleh :
Ali Rifqi Alkaff 30101306860
Binti Maratus S 30101306896
Hana Rahmi F 30101306959

Pembimbing :
Dr. dr. Bambang Satoto, Sp.Rad(K)., M.Kes

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2019

1
2

LEMBAR PENGESAHAN

RADIOGRAPH BASED DISCUSSION

BRONKOPNEUMONIA

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi


Salah Satu Syarat Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian Ilmu Radiologi di RS Islam Sultan Agung Semarang

Disusun oleh :
Ali Rifqi Alkaff 30101306860
Binti Maratus S 30101306896
Hana Rahmi F 30101306959

Judul : Bronkopneumonia
Bagian : Ilmu Radiologi
Fakultas : Kedokteran UNISSULA
Pembimbing : Dr. dr. Bambang Satoto, Sp.Rad(K)., M.Kes

Telah diajukan dan disahkan,


Semarang, Januari 2019
Pembimbing,

2
3

Dr. dr. Bambang Satoto, Sp.Rad(K)., M.Kes

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................... 1


LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................... 2
DAFTAR ISI ............................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ........................................................... 5
1.1. Latar Belakang ............................................... 5
1.2. Tujuan Penulisan ............................................... 6
1.3. Metode Penulisan ............................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................... 7
2.1 Anatomi Uretra ............................................... 7
2.1. Epidemiologi ...................................................13
2.2. Etiologi ........................................................... 13
2.3. Patofisiologi ........................................................... 14
2.4. Manifestasi Klinik ............................................... 14
2.5. Diagnosis Radiologi ............................................ 16
2.6. Penatalaksaan ............................................... 19
BAB III LAPORAN KASUS ........................................................... 22
3.1 Identitas Pasien ............................................... 22
3.2 Anamnesis ........................................................... 22
3.3 Pemeriksaan Fisik ............................................... 23
3.4 Pemeriksaan Penunjang ................................... 25
3.5 Diagnosis ........................................................... 28
BAB IV PEMBAHASAN ........................................................... 29
BAB V SIMPULAN ....................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 31

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pneumonia merupakan infeksi yang mengenai parenkim paru.


Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi ada
sejumlah penyebab non infeksi yang kadang-kadang perlu
dipertimbangkan. Penyebab non infeksi ini meliputi aspirasi makanan dan
atau asam lambung, benda asing, hidrokarbon, dan hipersensitivitas serta
pneumonitis akibat obat atau radiasi. (Alexander, 2017).

Bronkopneumonia merupakan salah satu klasifikasi dari


pneumonia berdasarkan predileksi infeksi. Dapat disebabkan oleh bakteri
maupun virus dan sering terjadi pada bayi dan orangtua. (PDPI, 2003)

Manifestasi klinis yang tidak khas seperti hilangnya nafsu makan,


penurunan status fungsional, inkontinensia urin dan jatuh bisa muncul
sebagai penanda pneumonia pada pasien usia lanjut. Menegakkan
diagnosis suatu penyakit akibat infeksi bakteri, termasuk pneumonia pada
pasien usia lanjut seringkali sulit. Sebab, riwayat penyakit sulit didapat
dan seringkali sulit dipercaya akibat adanya sensory loss, gangguan
kognisi dan isolasi sosial. Adanya komorbiditas merancukan pemeriksaan
fisik dan tandatanda utama pneumonia seringkali tidak muncul, seperti
demam, batuk produktif, dan tanda-tanda konsolidasi paru. Selain itu,
parameter laboratorium seperti tidak adanya peningkatan leukosit, serta
gambaran radiologis yang sulit diinterpretasi membuat penegakkan
diagnosis pneumonia pada usia lanjut masih menjadi tantangan para
klinisi. (Elza, 2016)

4
5

Bronkopneumonia, juga dikenal sebagai pneumonia multifokal


atau lobular, secara radiografi diidentifikasi oleh penampilannya yang
tidak merata dengan penebalan peribronkial dan kekeruhan ruang udara
yang tidak jelas. Ketika penyakit menjadi lebih parah, konsolidasi yang
melibatkan terminal dan bronkiolus pernafasan dan alveoli menghasilkan
perkembangan kekeruhan nodular centrilobular atau nodul ruang udara.
Konsolidasi dapat berkembang lebih lanjut dan menyatu untuk
memberikan pola keterlibatan lobular atau lobar (Medscape).

1.2 Tujuan Penulisan

1.2.1 Memahami definisi, etiologi, patofisiologi, diagnosis,


penatalaksanaan bronkopneumonia.
1.2.2 Memahami gambaran radiologi bronkopneumonia.

1.1. Manfaat Penulisan


1.3.1 Dapat menerapkan cara penegakan diagnosis bronkopneumonia.
1.3.2 Dapat mengusulkan jenis pemeriksaan radiologi bronkopneumonia.
1.3.3 Dapat mendeskripsikan gambaran radiologi bronkopneumonia.

5
6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Pulmo


Merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri atas
gelembung-gelembung kecil ( alveoli ). Alveolus yaitu tempat pertukaran
gas assinus terdiri dari bronkhiolus dan respiratorius yang terkadang
memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. Ductus
alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus alveolaris terminalis
merupakan akhir paru-paru, asinus atau.kadang disebut lobolus primer
memiliki tangan kira-kira 0,5 s/d 1,0 cm. Terdapat sekitar 20 kali
percabangan mulai dari trachea sampai Sakus Alveolaris. Alveolus
dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn (Ni Putu, 2010)
Paru-paru dibagi menjadi dua bagian, yaitu paru-paru kanan yang
terdiri dari 3 lobus ( lobus pulmo dekstra superior, lobus pulmo dekstra
media, lobus pulmo dekstra inferior) dan paru-paru kiri yang terdiri dari 2
lobus ( lobus sinistra superior dan lobus sinistra inferior) (Ni Putu, 2010)
Tiap-tiap lobus terdiri dari belahan yang lebih kecil yang bernama
segmen. Paru-paru kiri memiliki 10 segmen yaitu 5 buah segmen pada
lobus superior dan lima lobus inferior. Paru-paru kiri juga memiliki 10
segmen, yaitu 5 buah segmen pada lobus superior, 2 buah segmen pada
lobus medialis, dan 3 segmen pada lobus inferior. Tiap-tiap segmen masih
terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang bernama lobulus (Ni Putu,
2010)
Letak paru-paru di rongga dada datarnya menghadap ke tengah
rongga dada / kavum mediastinum.. Pada bagian tengah terdapat tampuk
paru-paru atau hilus. Pada mediastinum depan terletak jantung.Paru-paru
dibungkus oleh selapus tipis yang pernama pleura . Pleura dibagi menjadi
dua yaitu pleura visceral ( selaput dada pembungkus) yaitu selaput paru
yang langsung membungkus paru-paru dan pleura parietal yaitu selaput

6
7

yang melapisi rongga dada sebelah luar. Antara kedua lapisan ini terdapat
rongga kavum yang disebut kavum pleura. Pada keadaan normal, kavum
pleura ini vakum/ hampa udara (Ni Putu, 2010)
Vaskularisasi
Setiap arteria pulmonalis, membawa darah deoksigenasi dari
ventrikel kanan jantung, memecah bersama dengan setiap bronkus menjadi
cabang-cabang untuk lobus, segmen dan lobules. Cabang-cabang terminal
berakhir dalam sebuah jaringan kapiler pada permukaan setiap alveolus.
Jaringan kapiler ini mengalir ke dalam vena yang secara progresif makin
besar, yang akhirnya membentuk vena pulmonalis, dua pada setiap sisi,
yang dilalui oleh darah yang teroksigenasi ke dalam atrium kiri jantung.
Artheria bronchiale yang lebih kecil dari aorta menyuplai jaringan paru
dengan darah yang teoksigenasi (Ni Putu, 2010)
Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian
kira-kira vertebrata torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan
trachea dan dilapisi oleh.jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan
ke bawah dan kesamping ke arah tampuk paru. Bronckus kanan lebih
pendek dan lebih lebar, dan lebih vertikal daripada yang kiri, sedikit lebih
tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama lewat
di bawah arteri, disebut bronckus lobus bawah (Ni Putu, 2010)
Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan, dan
berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa
cabang yang berjalan kelobus atas dan bawah. Cabang utama bronchus
kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus lobaris dan kernudian
menjadi lobus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi
bronchus yang ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi
bronkhiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak
mengandung alveoli (kantong udara) (Ni Putu, 2010)
Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih I mm.
Bronkhiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. Tetapi dikelilingi
oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara

7
8

ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran


penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara
ke tempat pertukaran gas paru-paru
yaitu alveolus (Ni Putu, 2010)

2.2 Epidemiologi
Di Indonesia, prevalensi kejadian pneumonia pada tahun 2013
sebesar 4,5%.6 Pneumonia merupakan salah satu dari 10 besar penyakit
rawat inap di rumah sakit, dengan proporsi kasus 53,95% laki-laki dan
46,05% perempuan. Pneumonia memiliki tingkat Case Fatality Rate (CFR)
yang tinggi, yaitu 7,6%.1 Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2013, prevalensi pneumonia pada geriatri mencapai 15,5%
(Mecy, 2018).
Kejadian pneumonia cukup tinggi di dunia, yaitu sekitar 15%-20%. Dan
pneumonia menjadi penyebab kematian kelima pada geriatric (Mecy,
2018). Insiden pneumonia komunitas dilaporkan meningkat sesuai dengan
bertambahnya usia. Pada pasien usia ≥65 tahun yang dirawat di rumah
sakit, pneumonia merupakan diagnosis terbanyak ketiga (Elza, 2016).
2.3 Etiologi
Organisme penyebab pneumonia pada populasi lansia sangat mirip dengan
populasi yang lebih muda. Organisme paling umum yang ditemukan pada
kasus CAP pasien tua tetap menjadi streptococcus pneumonia.
Streptococcus pneumonia diidentifikasi hingga 58% dari kasus. Organisme
lain yang sering diidentifikasi adalah haemophilus influenza yang
menyumbang hingga 14% dari CAP di antara orang tua, dan dikaitkan
dengan penyakit paru obstruktif kronis ‘COPD’. Moraxella catarrhalis dan
staphylococcus aureus yang sensitif terhadap metisilin juga dapat
ditemukan pada kasus CAP tetapi dengan insiden yang relatif lebih rendah
(sekitar 7%). Organisme gram negatif yang bertanggung jawab untuk
kasus pneumonia yang didapat di rumah sakit (HAP) daripada CAP.

8
9

Organisme gram negatif paling umum yang bertanggung jawab untuk HAP
termasuk pseudomonas aeruginosa, burkholderia cepacia complex,
klebsiella pneumonia, dan Escherichia coli (Ohood, 2018).
2.4 Patofisiologi
Dalam keadaan sehat, tidak terjadi pertumbuhan mikroornagisme
di paru. Keadaan ini disebabkan oleh mekanisme pertahanan paru. Apabila
terjadi ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh, mikroorganisme dapat
berkembang biak dan menimbulkan penyakit. Resiko infeksi di paru
sangat tergantung pada kemampuan mikroorganisme untuk sampai dan
merusak permukaan epitel saluran napas. Ada beberapa cara
mikroorganisme mencapai permukaan :
1. Inokulasi langsung
2. Penyebaran melalui pembuluh darah
3.Inhalasi bahan aerosol
4. Kolonisasi dipermukaan mukosa
Dari keempat cara tersebut diatas yang terbanyak adalah
secara Kolonisasi. Secara inhalasi terjadi pada infeksi virus,
mikroorganisme atipikal, mikrobakteria atau jamur. Kebanyakan bakteri
dengan ukuran 0,5 -2,0 m melalui udara dapat mencapai bronkus terminal
atau alveol dan selanjutnya terjadi proses infeksi. Bila terjadi kolonisasi
pada saluran napas atas (hidung, orofaring) kemudian terjadi aspirasi ke
saluran napas bawah dan terjadi inokulasi mikroorganisme, hal ini
merupakan permulaan infeksi dari sebagian besar infeksi paru. Aspirasi
dari sebagian kecil sekret orofaring terjadi pada orang normal waktu tidur
(50 %) juga pada keadaan penurunan kesadaran, peminum alkohol dan
pemakai obat (drug abuse). Sekresi orofaring mengandung konsentrasi
bakteri yang tinggi 10 8-10/ml, sehingga aspirasi dari sebagian kecil sekret
(0,001 - 1,1 ml) dapat memberikan titer inokulum bakteri yang tinggi dan
terjadi pneumonia. Pada pneumonia mikroorganisme biasanya masuk
secara inhalasi atau aspirasi. Umumnya mikroorganisme yang terdapat
disaluran napas bagian atas sama dengan di saluran napas bagian bawah,

9
10

akan tetapi pada beberapa penelitian tidak di temukan jenis


mikroorganisme yang sama (PDPI, 2003).
Basil yang masuk bersama sekret bronkus ke dalam alveoli
menyebabkan reaksi radang berupa edema seluruh alveoli disusul dengan
infiltrasi sel-sel PMN dan diapedesis eritrosit sehingga terjadi permulaan
fagositosis sebelum terbentuknya antibodi. Sel-sel PMN mendesak bakteri
ke permukaan alveoli dan dengan bantuan leukosit yang lain melalui
psedopodosis sitoplasmik mengelilingi bakteri tersebut kemudian
dimakan.
Pada waktu terjadi peperangan antara host dan bakteri maka akan
tampak 4 zona pada daerah parasitik terset yaitu :
1. Zona luar : alveoli yang tersisi dengan bakteri dan cairan edema.
2. Zona permulaan konsolidasi : terdiri dari PMN dan beberapa
eksudasi sel darah merah.
3. Zona konsolidasi yang luas : daerah tempat terjadi fagositosis
yang aktif dengan jumlah PMN yang banyak.
4. Zona resolusi : daerah tempat terjadi resolusi dengan banyak
bakteri yang mati, leukosit dan alveolar makrofag.
Red hepatization ialah daerah perifer yang terdapat edema dan
perdarahan 'Gray hepatization' ialah konsolodasi yang luas (PDPI, 2003).

10
11

Gambar 1.
Patofisiologi Pneumonia
Pada pasien usia lanjut, sistem kekebalan tubuh sering terganggu.
selain penurunan aktivitas kekebalan terkait usia, ada obat yang mengubah
fungsi kekebalan tubuh. Misalnya, penggunaan jangka panjang
kortikosteroid sistemik pada penyakit rematik, secara signifikan
meningkatkan risiko pneumonia berat dengan kebutuhan rawat inap
(Gossner, 2013).
2.5 Klasifikasi Pneumonia
1. Berdasarkan klinis dan epideologis :
a. Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia)
b. Pneumonia nosokomial (hospital-acqiured pneumonia / nosocomial
pneumonia)
c. Pneumonia aspirasi
d. Pneumonia pada penderita Immunocompromised pembagian ini
penting untuk memudahkan penatalaksanaan.
2. Berdasarkan bakteri penyebab
a. Pneumonia bakterial / tipikal. Dapat terjadi pada semua usia.
Beberapa bakteri mempunyai tendensi menyerang sesorang yang peka,

11
12

misalnya Klebsiella pada penderita alkoholik, Staphyllococcus pada


penderita pasca infeksi influenza.
b. Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella dan
Chlamydia
c. Pneumonia virus
d. Pneumonia jamur sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi
terutama pada penderita dengan daya tahan lemah
(immunocompromised)
3. Berdasarkan predileksi infeksi
a. Pneumonia lobaris. Sering pada pneumania bakterial, jarang pada
bayi dan orang tua. Pneumonia yang terjadi pada satu lobus atau
segmen kemungkinan sekunder disebabkan oleh obstruksi bronkus
misalnya : pada aspirasi benda asing atau proses keganasan
b. Bronkopneumonia. Ditandai dengan bercak-bercak infiltrat pada
lapangan paru. Dapat disebabkan oleh bakteria maupun virus. Sering
pada bayi dan orang tua. Jarang dihubungkan dengan obstruksi bronkus
c. Pneumonia interstisial (PDPI, 2003).

Gambar 2.
Klasifikasi Pneumonia

12
13

http://www.japi.org/january_special_2012/05_investigations_for_pneu
monia.html

2.6 Manifestasi Klinis


Gambaran klinik biasanya ditandai dengan demam, menggigil,
suhu tubuh meningkat dapat melebihi 400C, batuk dengan dahak mukoid
atau purulen kadang-kadang disertai darah, sesak napas dan nyeri dada
(PDPI, 2003).
Temuan pemeriksaan fisis dada tergantung dari luas lesi di paru.
Pada inspeksi dapat terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas,
pasa palpasi fremitus dapat mengeras, pada perkusi redup, pada auskultasi
terdengar suara napas bronkovesikuler sampai bronkial yang mungkin
disertai ronki basah halus, yang kemudian menjadi ronki basah kasar pada
stadium resolusi (PDPI, 2003).
Gejala dan tanda pneumonia yang khas sering tidak didapatkan
pada pasien usia lanjut. Metlay, dkk. dan Fernandez, dkk. yang melakukan
studi pada pasien usia lanjut dengan pneumonia, melaporkan bahwa
gejala-gejala saluran pernapasan seperti batuk dan sesak napas lebih jarang
dikeluhkan pada kelompok usia yang lebih tua. Hasil temuan fisik yang
konsisten dengan diagnosis pneumonia komunitas sama sekali tidak
ditemukan pada 20%-47% pasien usia lanjut. Sesak napas dan ronki pada
umumnya lebih sering ditemukan (Elza, 2016).
Manifestasi klinis yang tidak khas seperti hilangnya nafsu makan,
penurunan status fungsional, inkontinensia urin dan jatuh bisa muncul
sebagai penanda pneumonia pada pasien usia lanjut. Menegakkan
diagnosis suatu penyakit akibat infeksi bakteri, termasuk pneumonia pada
pasien usia lanjut seringkali sulit. Sebab, riwayat penyakit sulit didapat
dan seringkali sulit dipercaya akibat adanya sensory loss, gangguan
kognisi dan isolasi sosial. Adanya komorbiditas merancukan pemeriksaan
fisik dan tandatanda utama pneumonia seringkali tidak muncul, seperti
demam, batuk produktif, dan tanda-tanda konsolidasi paru (Elza, 2016).

13
14

2.7 Diagnosis radiologi


a. Radiografi thorax
Pemeriksaan standar yang menggambarkan paru-paru adalah radiografi
toraks dengan proyeksi posterior-anterior dan lateral. Radiografi thoraks
mudah dilakukan, murah, dan, sesuai dengan Kriteria Ketepatan ACR,
dalam kebanyakan tes awal ketika diduga penyakit paru-paru. Pada pasien
yang lemah, proyeksi standar dada sering tidak dapat diperoleh, dan
radiografi dada dalam posisi terlentang harus diambil dengan keterbatasan
yang sudah diketahui (Gossner, 2013).
Bronkopneumonia ditandai oleh beberapa kekeruhan nodular kecil
atau retikulonodular yang cenderung tambal sulam dan / atau konfluen. Ini
merupakan area paru-paru di mana ada patch peradangan yang dipisahkan
oleh parenkim paru normal. Distribusi ini sering bilateral dan asimetris
dan sebagian besar melibatkan basis paru-paru (Medscape ).

Gambar 3.
Foto Polos Thorax posisi AP
https://radiopaedia.org/articles/bronchopneumonia?lang=us

14
15

Gambar 4
Foto Polos Thorax posisi lateral
https://radiopaedia.org/articles/bronchopneumonia?lang=us

b. CT Scan
Selain X-ray konvensional, tes ideal dalam kasus yang lebih kompleks
adalah menggunakan computed tomography (CT). Dengan pemindai CT
multi slice modern, paru-paru dapat diperiksa dalam beberapa detik. Tetapi
bahkan dengan pemindai CT modern, artefak gerak karena pernapasan
mungkin merupakan masalah pada orang tua. Strategi untuk mengurangi
artefak gerak ini meliputi awal pemindaian, di mana artefak gerak akibat
bernafas, dan penggunaan nada yang lebih tinggi. Jika masih ada artefak
gerak yang ditandai yang menyebabkan masalah dengan interpretasi
gambar, kami menambahkan beberapa irisan aksial dalam teknik CT
resolusi tinggi klasik (Gossner, 2013).

15
16

Pencitraan parenkim paru dimungkinkan tanpa media kontras, tetapi


untuk pencitraan pembuluh paru dengan computed tomographic
pulmonary angiography (CTPA) atau pementasan tumor, media kontras
wajib dilakukan. Pasien usia lanjut memiliki risiko lebih tinggi untuk
kontras nefropati yang diinduksi sedang (CIN). Insiden, fungsi ginjal
sudah terganggu dan ada faktor risiko lain seperti diabetes, tekanan darah
tinggi, insufisiensi jantung, hipovolemia, dan aterosklerosis. Usia> 75
tahun juga merupakan faktor risiko independen untuk CIN (Goosner,
2013).
Beberapa fokus opacity dapat dilihat dalam pola lobular, berpusat di
bronkiolus centrilobular. Ini dapat menghasilkan penampilan tree-in-bud.
Fokus konsolidasi ini dapat tumpang tindih untuk menciptakan area
pertemuan heterogen yang lebih besar dari konsolidasi atau penampilan
'patchwork quilt' (Medscape).

Gambar 5
Gambaran tree-in-bud pada pneumonia
http://pulmonarychronicles.com/index.php/pulmonarychronicles/article
/view/155/399

16
17

c. Ultrasonografi Transthoracic.
Ultrasonografi transthoracic dapat menawarkan informasi
tambahan untuk radiografi toraks konvensional. Pada pasien yang
lemah, mudah untuk menggunakan tes disamping tempat tidur. Dalam
kasus efusi pleura, itu lebih sensitif daripada radiografi (terutama
dibandingkan dengan radiografi supine) dan menambahkan informasi
lebih lanjut tentang komposisi cairan pleura. Dengan USG
transthoracic, informasi lebih lanjut tentang gagal jantung kongestif,
pneumotoraks, atau pemindaian konsolidasi berbasis pleura diperoleh
(Goosner, 2013).
d. MRI
Meskipun kemajuan terbaru dengan MRI tidak digunakan dalam
pencitraan paru-paru setiap harinya, pengecualian pada pencitraan rinci
tumor Pancoast. Jika pencitraan paru dengan MRI dilakukan pada
orang tua, pemeriksaan komprehensif untuk menghindari waktu
pemeriksaan yang berlebihan harus dilakukan. Dengan fungsi ginjal
yang buruk, penggunaan media kontras juga menjadi perhatian karena
kemungkinan fibrosis sistemik nefrogenik. Banyak pasien yang lebih
tua memiliki kontraindikasi untuk MRI seperti alat pacu jantung atau
bahan bedah feromagnetik yang lebih tua (Goosner, 2018).
2.8 Penatalaksanaan
Pengobatan terdiri atas antibiotik dan pengobatan suportif.
Pemberian antibiotik pada penderita pneumonia sebaiknya berdasarkan
data mikroorganisme dan hasil uji kepekaannya, akan tetapi karena
beberapa alasan yaitu :
1. Penyakit yang berat dapat mengancam jiwa
2. Bakteri patogen yang berhasil diisolasi belum tentu sebagai penyebab
pneumonia.
3. Hasil pembiakan bakteri memerlukan waktu.
maka pada penderita pneumonia dapat diberikan terapi secara empiris
(PDPI, 2003).

17
18

Modalitas paling penting dari pengobatan pneumonia adalah


antibiotik (tanpa memandang usia). Namun, ketika berhadapan dengan
lansia, perbedaan dalam pengobatan dapat terjadi karena fakta bahwa
pneumonia juga akan menyebabkan lebih banyak manifestasi sistemik
yang parah. Bahkan, sebagian besar lansia dengan pneumonia hadir
dengan gejala non-paru seperti gangguan kognitif dan / atau disfungsi
ginjal (Ohood, 2018).
a. Antibiotika
Pasien tua dengan pneumonia sangat disarankan untuk segera
menerima pengobatan antibiotik agresif. Pedoman terbaru
merekomendasikan untuk mengklasifikasikan perawatan menurut situs
(layanan bangsal atau ICU). Pasien tua dengan pneumonia yang dirawat di
bangsal akan menerima antibiotik melawan S. pneumoniae, H. influenzae,
M. pneumonia, C. pneumonia, dan patogen umum lainnya. Antibiotik yang
direkomendasikan termasuk fluoroquinolone (seperti moxifloxacin dan
levofloxacin) yang diberikan sendiri, atau B-laktam (ertapenem,
sefalosporin generasi ketiga, atau ampisilin dengan sulbaktam) bersama
dengan makrolida, diberikan bersama-sama (Ohood, 2018).
Namun, ketika berhadapan dengan pasien yang dirawat di ICU, risiko
spesies Pseudomonas harus dievaluasi. Kehadiran penyakit struktural
paru-paru secara bersamaan seperti bronkiektasis dianggap sebagai faktor
paling signifikan yang mempengaruhi infeksi pseudomonas. Umumnya,
pasien pneuonia lanjut usia yang dirawat di ICU direkomendasikan untuk
menerima Blactam bersama dengan makrolida atau fluoroquinolone
(untuk menyediakan perlindungan bagi organisme yang menyebabkan
pneumonia atipikal). Namun, pasien ICU dengan risiko tinggi terkena
pseudomonas, pengobatan empiris dengan antibiotik yang mencakup
pseudomonas harus ditambahkan ke rejimen ini. Pada infeksi berat,
dianjurkan untuk memberikan perlindungan ganda terhadap pseudomonas.
Lansia dengan pneumonia tidak dianjurkan untuk menerima
aminoglikosida, karena tingkat ototoksisitas dan nefrotoksisitasnya yang

18
19

tinggi. Namun, pasien yang sakit parah dapat menerima aminoglikosida.


Ketika patogen yang tepat diisolasi dan diidentifikasi, penggunaan
antibiotik narrowspectrum khusus harus diberikan (Ohodd, 2018).
b. Terapi non Antibiotik
Selain antibiotik, lansia dengan kondisi kritis dengan pneumonia
(terutama yang dirawat di ICU) direkomendasikan untuk menerima
kortikosteroid sistemik, protein C rekombinan teraktivasi (dalam kasus
sepsis dan kegagalan banyak organ), dan strategi ventilasi-pelindung paru
(dalam kasus sindrom gangguan pernapasan akut, meskipun bukti kuat
tentang perawatan ini masih tidak ada. Selain kortikosteroid, beberapa
agen imunomodulator (seperti statin dan ACEI) dapat secara positif
mempengaruhi hasil pneumonia, tetapi penggunaannya belum diteliti
dengan benar, dan RCT lebih lanjut diperlukan sebelum
merekomendasikan penggunaan rutin mereka (Ohodd, 2018).

19