Anda di halaman 1dari 25

PERAN OBAT HERBAL UNTUK PENYAKIT

ATHEROSKLEROSIS

DISUSUN OLEH :

1. Shiffa Arrizqi G2A016051 7. Tiara Widya H. G2A016057


2. Dhia Ramdhani G2A016052 8. Nihayatuzzulfah G2A016058
3. Shinta Mayang S. G2A016053 9. Siti Muharomah M.G2A016059
4. Lia Anis Syafaah G2A016054 10. Dinda Setyaningsih G2A016060
5. Muflikhatul Ulya G2A016055 11. Deni Purnasari G2A016061
6. Qurrata A’yun G2A016056

PROGRAM SARJANA ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KESEHATAN DAN ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

TAHUN 2018
A. Arti Degeneratif
Penyakit degenarif disebut juga sebagai penyakit yang mengiringi proses
penuaan akibat penurunan fungsi organ tubuh. Tubuh mengalami defisiensi
produksi enzim dan hormone, imunodefisiensi,peroksida ipid, keruskan sel
(dna dan pembuuh darah) secara umum dapat dikatakan bahwa penyakit ini
merupakan proses penurunan fungsi organ tubuh yang umumnya terjadi pada
usia tua. Namun adakalanya juga terjadi pada usia muda akibat yang
ditimbulkan adalah penurunan derajat kesehatan yang biasanya diikuti dengan
penyakit (Amelia, 2010).

B. Teori Degeneratif
Banyak teori tentang terjadinya degenerative sel yang memicu terjadinya
penyakit degenerative antara lain Ketuaan dan radikal bebas (Handajani, 2010).
1. Teori Ketuaan
Salah satu teori ini dikenal dengan teori tear and wear. Maksudnya adalah
bahwa semakin tua maka akan terjadi peningkatan akumulasi sampah
metabolic dalm sel. Hal ini akan berakibat pada gangguan sintesis DNA.
Gangguan ini dapat meningkatkan resiko mutasi sel, degenerasi sel, dan
kerusakan sel.
2. Teori antioksidan
Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menunda terjadinya reaksi
oksidasi karena radikal bebas. Radikal bebas tersebut dapat berasal dari
metabolism dalam tubuh tetapi dapat juga merupakan radikal eksternal.
Mekanisme antioksidan dapat menunda/menghambat reaksi radikal bebas
tersebut minimal dengan 2 cara yaitu :
(1) Anti oksidan menangkap radikal bebas. Dikenal sebagai
antioksidan primer misalnya vitamin E,C dan flavonoid.
(2) Mengikat logam, menangkap oksigen, merubah hidroperoksid
menjadi spesies non radikal dan menyerap sinar UV. Antioksidan
ini dikenal sebagai antioksidan sekunder.
Radikal bebas merupakan senyawa/molekul yang mengandung
electron bebas lebih dari satu. Hal ini menyebabkan radikal bebas
tersebut bersifat sangat reaktif. Radikal bebas merupakan rective
oxigenes species (ROS). Semua moleku yang mengandung oksigen
dengan sifat reaktivitas yang tinggi dikelompokkan dalam ROS.
Beberapa tipe ROS antara lain hydroxyl radical, the superoxide
anion radical, hydrogen peroxide, singet oxygen, dll.

C. Penyakit Degeneratif
1. Definisi
Ateroskerosis berasal dari bahasa Yunani athero (yang berarti lengket
atau lem) dan skerosis (yang berarti keras). Ini adalah sebutan untuk
proses pembentukan plak dan terdiri dari ipoprotein, matrik ekstraseular,
kalsium, otot polos pembuuh darah, se radang, dan pembuluh darah baru
pada lapisan dalam pembuuh darah. Oklusi arteri yang diakibatkan oleh
proses ini merupakan salah satu penyebab kematian akibat kardiovaskular
terbanyak di dunia. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa proses ini
adalah akibat inflamasi kronik (Sargowo, 2015).

2. Etiologi
Ateroskerosis adalah penyakit vaskuler yang kompleks, memiiki
banyak bentuk, dapat bersifat kronis dan progresif, terjadi pada pembuuh
darah besar dan sedang (aorta, arteri karotis, dan arteri pulmonalis) yang
secara perlahan mampu menyumbat dinding pembuluh darah, terutama
pada dinding pembuluh darah pada dinding percabangan. Penyebab
ateroskerosis adalah multifactorial, artinya dapat disebabkan banyak
faktor. Beberapa penyebab adaah faktor genetic, faktor gaya hidup
(kebiasaan makan-makanan yang mengandung kolesterol, merokok,
kurang olahraga, dan stress), faktor resiko lain (dyslipidemia, tekanan
darah tinggi, merokok, diabetes melitus, obesitas), dan intensitas dan lama
paparan faktor lingkungan (hemodinamika, metabolic, kimiawi eksogen,
infeksi virus dan bakteri, faktor imunitas dan faktor mekanis)
(Ruhyanudin, 2007).

3. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik dari proses aterosklerosis kompleks adalah penyakit
jantung koroner, stroke bahkan kematian. Sebelum terjadinya penyempitan
atau penyumbatan mendadak, aterosklerosis tidak menimbulkan gejala.
Gejalanya tergantung dari lokasi terbentuknya, sehinnga bisa berupa gejala
jantung, otak, tungkai atau tempat lainnya. Jika aterosklerosis
menyebabkan penyempitan arteri yang sangat berat, maka bagian tubuh
yang diperdarahinnya tidak akan mendapatkan darah dalam jumlah yang
memadai, yang mengangkut oksigen ke jaringan. Gejala awal dari
penyempitan arteri bisa berupa nyeri atau kram yang terjadi pada saat
aliran darah tidak dapat mencukupi kebutuhan oksigen. Yang khas gejala
aterosklerosis timbul secara perlahan, sejalan dengan terjadinya
penyempitan arteri oleh ateroma yang juga berlangsung secara
perlahan.Tetapi jika penyumbatan terjadi secara tiba-tiba (misalnya jika
sebuah bekuan menyumbat arteri ) maka gejalanya akan timbul secara
mendadak (Sargowo, 2015).

4. Faktor Resiko
Berikut adalah faktor-faktor resiko pada penyakit atherosclerosis
menurut Djanggan Sargowo (2015) :
a. Yang tidak dapat diubah
1) Usia
2) Jenis kelamin
3) Riwayat keluarga
4) Ras
b. Yang dapat di ubah di bagi menjadi 2, yaitu:
1) Mayor
(a) Peningkatan lipid serum
(b)Hipertensi
(c) Merokok
(d) Gangguan toleransi glukosa
(e) Diet tinggi lemak jenuh, kolestrol dan kalori

2) Minor
(a) Gaya hidup yang kurang bergerak
(b) Stres psikologis

5. Penatalaksanaan
a. Farmakologi
1) Diberikan obat-obatan untuk menurunka kadar lemak dan kolesterol
dalam darah (contohnya : kolestyramine, kolestipol, asam nikotinat,
gemfibrozil, probukol, lovastatin).
2) Aspirin, ticlopidinin dan clopidogrel/anti koagulan bisa diberikan
untuk mengurangi resiko terbentuknya bekuan darah.
3) Angioplasty balon dilakukan untuk meratakan plak dan
meningkatkan aliran darah yang melalui endapan lemak.
4) Enarterektomi merupakan suatu pembedahan untuk mengangkat
endapan.
5) Pembedahan byeass merupakan prosedur yang sangat invasive,
dimana arteri/ vena yang normal baru penderita dari penderita
digunakan untuk membuat jembatan guna menghindari arteri yang
tersumbat.
(Sargowo, 2015)
b. Non Farmakologi
1. Terapi Air
Menurut (Felker, 2011) Terapi air adalah terapi alami yang
didasari penggunaan air secara internal (dengan minum air) dan
eksternal sebagai pengobatan berbagai penyakit.. air sebagai
diuretic. Diurerik bermanfaat untuk mengatasi retensi cairan yang
terjadi pada pasien dengan gagal jantung. Diuretik berfungsi untuk
menghambat reabsorpsi dari natrium atau klorida
Prosedur terapi air dilakukan dengan cara setiap pagi
setelah bangun tidur segera minum 1,5 liter air atau sekitar 5-6 gelas.
Air harus berada pada suhu kamar. Pertamanya, minumlah 2 gelas
air. Lalu, dilanjutkan 1 gelas setiap 5 meniit sampai air sebanyak 1,5
liter habis. Terapi ini akan lebih efektif bila tidak minum atau makan
selama 1 jam sebelum dan sesudah minum 1,5 liter air tersebut.
Konsumsi air lebih dari atau 2 liter perhari adalah cara terbaik
untuk membersihkan tubuh dari racun . lebih 60% tubuh manuisia
terdiri dari air yang berbentuk darah danm cairan tubuh lain. Jika
darah kental maka jantung akan bekerja lebih keras dalam menyaring
berbagai kotoran dan racun dari luar tubuh serta mendistribusikan
nutrient ke bagian tubuh yang lain.
Kita sering mendengar bahwa tubuh memerlukan air minum
sebanyak 8 gelas sehari. Sebetulnya tidak ada standar khusu untuk
kuantitas air yang harus di minum. Yang harus diperhatikan adalah
tingkat kecukupan air minum yang dikonsumsi dan diperlukan
tubuh. Kebutuhan air minum yang dibutuhkan tubuh berbeda-beda
untuk setiap orang tergantung usia, letak geografis,aktivitas dan
lain.
Kecukupan jumlah air minum yang dikonsum,si dapat diketahui
dari urine yang dihasilkan. Jika konsumsi air cukup,warna urine akan
kuning pucat. Sebaliknya, bila kekurangan air (dehidrasi), urine
berwarna agak jingga.

2. Terapi Bekam
Menurut Amin S (2013) Bekam atau hijamah adalah
membersihkan tubuh dari darah yang mengandung toksin dengan
penyayatan tipis pada permukaan kulit. Prinsip pelaksanaan bekam
adalah penghisapsan darah dengan alat menyerupai tabung,serta
mengeluarkannya dari permukaan kulit dengan penyayatan. Hasilnya
ditampung dalam gelas. Sayatan bekam hanyai mengenai lapisan
epidermis kulit. Bekam merupakan metode pengobatan
komplementer dilakukan menggunakan vacuum cups. Titik bekam
berada di permukaan kulit, bisa merupakan titik akupungtur,
akupresur, refleksi, titik tung, tho’ dan sebagainya. Namun yang
sedang berkembang di Indonesia adalah membekam dititik meredian
akupungtur dan titik bekam Nabi (Prophet Potent Point). Titik yang
direkomendasikan adalah antara dua skapula. T1-T3 skapula tulang
belakang tepatnya titik dimaksud adalah Al kahil terletak disekitar
tonjolan tulng leher belakang nomer 7 ( processus spinosus vertebrae
cervicalis VII), antara bahu (acromion) kanan dan kiri, setinggi
pundak. Pada titik ini merupakan bagian paling lemah dari seluruh
peredaran darah tuuh sehingga menjadi tempat yang cocok untuk
pengendapan zat berahaya serta sel rusak dan tua di dalam tubuh.
Terdapat satu titik akupungtur yang sangat penting yaitu titik DU 14.
Setiap prosedur membutuhkan waktu sekitar 20 menit dan dilakukan
dalam 5 tahap. (Ahmadi A, at al 2008, Umar W.A 2008, Mahdavi,
M.R.V 2009 dan Syaraf A.R 2012). Terapi komplementer bekam
basah terbukti dapat menurunkan kolesterol LDL laki-laki normal.
Pengaruh bekam basah terhadap penurunan kolesterol pada pasien
dengan sindrom metabolik (Farahmand SK, Gang LZ, Saghebi SA,
Mohammadi M, Mohammadi S, Mohammadi G, et al 2012, Syed
K.F,2012). Terapi komplementer Bekam setelah penghisapan kulit
akan dilanjutkan dengan pengeluaran darah, maka suhu kulit area
lokal akan meningkat, disertai dilatasi kapiler, peningkatan
permeabilitas pembuluh darah, sehingga menghasilkan perbaikan
metabolisme. Proses ini mengakibatkan perbaikan sirkulasi darah,
membuang stasis darah, membuang patogen angin, dan patogen
basah, melancarkan chi dan darah, membuang patogen dingin

3. Terapi herbal
(Menurut WHO,2013) merekomendasikan penggunaan obat
tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan kesehatan
masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit terutama untuk
penyakit kronis, degenerative dan kanker.Oleh sebab itu, pemberian
obat tradisional yang aman dan efektif menjadi faktor penting untuk
meningkatkan derajat pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Untuk mengatasi penyakit degenerative ateroseklerosis herbal yang
digunakan yaitu Kunyit, Mengkudu dan Daun Sukun.

D. Obat Herbal Untuk Penyakit


1. Kunyit
a. Nama ilmiah
Curcuma longa

b. Ordo
Zingiberales

c. Cara menanam
Menurut Adi Permadi (2008) Kunyit tumbuh subur pada tanah
gembur, pada tanah yang dicangkul dengan baik akan menghasilkan
umbi kunyit yang melimpah. Jenis tanah yang ideal untuk budidaya
kunyit adalah tanah ringan dengan bahan organik tinggi, tanah lempung
berpasir yang terbebas dari genangan air/sedikit basa.

1) Pembibitan
Persyaratan Bibit : Bibit kunyit yang baik berasal dari pemecahan
rimpang, karena lebih mudah tumbuh.
Syarat bibit yang baik :
a) Bibit berasal dari tanaman yang tumbuh subur, segar, sehat,
berdaun banyak dan hijau, kokoh
b) Terhindar dari serangan penyakit
c) Cukup umur/berasal dari rimpang yang telah berumur kurang lebih
7-12 bulan
d) Memiliki bentuk, ukuran, dan warna seragam
e) Memiliki kadar air cukup
f) Benih telah mengalami masa istirahat (dormansi) cukup
g) Terhindar dari bahan asing (biji tanaman lain, kulit, kerikil).

2) Teknik Penyemaian Bibit


Pertumbuhan tunas rimpang kunyit dapat dirangsang dengan cara :
mengangin-anginkan rimpang di tempat teduh atau lembab selama 1-
1,5 bulan, dengan penyiraman 2 kali sehari (pagi dan sore hari). Bibit
tumbuh baik bila disimpan dalam suhu kamar (25-28 Derajat Celcius).
Selain itu menempatkan rimpang diantara jerami pada suhu udara
sekitar 25-28 Derajat Celcius atau merendam bibit pada larutan ZPT
(zat pengatur tumbuh) selama 3 jam. ZPT yang sering digunakan
adalah larutan atonik (1 cc/1,5 liter air) dan larutan G-3 (500-700
ppm). Rimpang yang akan direndam larutan ZPT harus dikeringkan
dahulu selama 42 jam pada suhu udara 35 Derajat Celcius. Jumlah
anakan atau berat rimpang dapat ditingkatkan dengan cara direndam
pada larutan pakloburazol sebanyak 250 ppm.
3) Pengolahan Media Tanam
a) Persiapan Lahan: Lokasi penanaman dapat berupa lahan tegalan,
perkebunan atau pekarangan. Penyiapan lahan untuk kebun kunyit
sebaiknya dilakukan 30 hari sebelum tanam.
b) Pembukaan Lahan: Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari
gulma dan dicangkul secara manual atau menggunakan alat
mekanik guna menggemburkan lapisan top soil dan sub soil juga
sekaligus mengembalikan kesuburan tanah. Tanah dicangkul pada
kedalaman 20-30 cm kemudian diistirahatkan selama 1-2 minggu
agar gas-gas beracun yang ada dalam tanah menguap dan bibit
penyakit/hama yang ada mati karena terkena sinar matahari.
c) Pembentukan Bedengan: Lahan kemudian dibedeng dengan lebar
60-100 cm dan tinggi 25-45 cm dengann jarak antar bedengan 30-
50 cm.
d) Pemupukan (sebelum tanam): untuk mempertahankan kegemburan
tanah, meningkatkan unsur hara dalam tanah, drainase, dan aerasi
yang lancar, dilakukan dengan.menaburkan pupuk dasar (pupuk
kandang) ke dalam lahan/dalam lubang tanam dan dibiarkan 1
minggu. Tiap lubang tanam membutuhkan pupuk kandang 2,5-3
kg.

4) Penanaman
Kebutuhan bibit kunyit/hektar lahan adalah 0,50-0,65 ton. Maka
diharapkan akan diperoleh produksi rimpang sebesar 20-30 ton/ha.
a) Penentuan Pola Tanaman: Bibit kunyit yang telah disiapkan
kemudian ditanam ke dalam lubang berukuran 5-10 cm dengan
arah mata tunas menghadap ke atas. Tanaman kunyit ditanam
dengan 2 pola, yakni penanaman di awal musim hujan dengan
pemanenan di awal musim kemarau (7-8 bulan) atau penanaman di
awal musim hujan dan pemanenan dilakukan dengan dua kali
musim kemarau (12-18 bulan). Kedua pola tersebut dilakukan pada
masa tanam yang sama, yaitu pada awal musim penghujan.
Perbedaannya hanya terletak pada masa panennya.
b) Pembutan Lubang Tanam: Lubang tanam dibuat di atas
bedengan/petakan dengan ukuran lubang 30 x 30 cm dengan
kedalaman 60 cm. Jarak antara lubang adalah 60 x 60 cm.
c) Cara Penanaman: Teknik penanaman dengan perlakuan stek
rimpang dalam nitro aromatik sebanyak 1 ml/liter pada media yang
diberi mulsa ternyata berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan
vegetatif kunyit, sedangkan penggunaan zat pengatur tumbuh IBA
(indolebutyric acid) sebanyak 200 mg/liter pada media yang sama
berpengaruh nyata terhadap pembentukan rimpang kunyit.
d) Periode Tanam: Masa tanam kunyit yaitu pada awal musim hujan
sama seperti tanaman rimpang-rimpangan lainnya. Hal ini
dimungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan air cukup
banyak untuk pertumbuhannya. Walaupun rimpang tanaman ini
nantinya dipanen muda yaitu 7 - 8 bulan tetapi pertanaman
selanjutnya tetap diusahakan awal musim hujan.

5) Pemeliharaan
a) Penyulaman : Penyulaman di lakukan ketika adanya rimpang
kunyit yang mati atau tidak tumbuh. Sehingga perlu melakukan
penyulaman atau pergantian tanaman pada rimpang yang mati.
b) Penyiangan: Proses penyiangan perlu di lakukan untuk
menghilangkan gulma atau tanaman yang tidak dikehendaki.
Penyiangan dilakukan agar gulma tidak mengganggu proses
penyerapan unsur hara dan penyerapan air di dalam tanah. Kegiatan
penyiangan dapat di lakukan 3 hingga 5 kali bersamaan dengan
proses penggemburan dan pemupukan tanah. Penyiangan tahap
pertama dapat dilakukan pada saat rimpang kunyit berumur 15 hari.
Proses penyiangan dapat diseragamkan dengan kegiatan
pembubunan untuk merangsang rimpang kunyit agar dapat tumbuh
maksimal.
c) Pembubunan: Proses pembubunan wajib di lakukan setiap 3 sampai
4 bulan sekali. Proses ini berguna untuk menimbun kembali tanah
di sekitar perakaran yang terbawa air. Jika perakaran dan sekitarnya
baik, maka pertumbuhan kunyit juga dapat maksimal atau sesuai
harapan.
d) Pemupukan
e) Pemupukan organik
Pemupukan organik adalah penggunaan pupuk tanpa campuran zat
kimia. Pupuk organik biasanya terbuat dari limbah organik seperti
kotoran hewan. Salah satunya adalah pupuk kandang. Penggunaan
pupuk kandang bisa meningkatkan jumlah daun, anakan, serta luas
area daun kunyit dengan nyata. Pencampuran pupuk kandang
dengan dosis 45 ton per hektar dengan jumah tanaman 160.000 per
hektar, maka dapat menghasilkan produk mencapai 29,93 ton per
hektar.

f) Pemupukan konvensional
Selain pemberian pupuk dasar, pada saat awal penanaman perlu
juga adanya pemupukan susulan. Yaitu pada saat umur tanaman 2
hingga 4 bulan. Penggunaan pupuk kedua yaitu pupuk buatan dan
pupuk kandang (TSP 10 gram tiap pohon; urea 20 gram tiap pohon;
ZK 10 gram tiap pohon dan penambahan K20 dengan dosis 112kg
per hektar). Dengan adanya pemupukan lanjutan diharapkan terjadi
peningkatan hasil produksi sebesar 38% atau setara dengan 7,5 ton
rimpang segar per hektarnya.
g) Pupuk nitrogen juga diberikan dengan dosis 60kg per hektar, K20
sebanyak 75kg per hektar dan P205 sebanyak 50kg per hektar.
Pemberian pupuk P diberikan pada awal tanam yaitu 1/3 dosis dan
sisanya 2/3 dosis. Pemberian pupuk ini diberikan pada saat umur
tanaman 2 bulan dan 4 bulan. Pengaplikasian pupuk ini dengan
cara di tebar secara merata pada sekitar tanaman Anda.
Pempupukan adalah tahapan cara budidaya kunyit yang sangat
penting.

h) Pengairan dan penyiraman: Tanaman kunyit pada dasarnya


merupakan tanaman yang tidak tahan terhadap air. Pengaturan
drainase atau pengairan perlu dicermati dengan baik. Jika kebun
tergenang air, dapat mengakibatkan rimpang membusuk.

i) Waktu penyemprotan pestisida: Untuk mengantisipasi serangan


hama dan penyakit maka perlu adanya penyemprotan pestisida
dengan skala yang teratur. Penggunaan dosis mengikuti
rekomandasi dari label pada kemasan penggunaan pestisida.

j) Pemulsaan: Pada awal tanam sebaiknya Anda melakukan


pemulsaan dengan jerami. Pemulsaan dilakukan agar tanaman tidak
mengalami kekeringan pada tanah dan menghindari rusaknya
struktur tanah. Pemulsaan bisa menghindari pertumbuhan gulma
secara cepat. Pemulsaan dengan jerami dilakukan dengan cara
ditebar secara merata pada permukaan tanah dan diantara lubang
tanam.

d. Kandungan senyawa yang ada


Kunyit mengandung 28% glukosa, 12% fruktosa, 8% protein, 52%
minyak atsiri yang terdiri 25% keton seskuiterpen, 25% zingiberina dan
50% kurkumin berserta turunannya. Kurkumin merupakan zat aktif yang
terdapat dalam ekstrak kunyit. Kurkumin dapat menjadi salah satu
tatalaksana dyslipidemia dikarenakan mampu menurunkan kadar
kolesterol dalam darah. Hal ini berkaitan dengan salah satu fungsinya
yaitu dapat menghambat kinerja enzim Hmg CoA dan pembentukan
kolesterol dari asam lemak bebas sehingga sintesis lemak dapat berjalan
dengan baik (Ardhani, dkk, 2017).
Kurkumin juga dipercaya dapat melindungi tubuh dari beberapa
jenis penyakit degeneratif dengan cara mencegah terjadinya peroksidasi
lemak. Gugus hidroksil dalam struktur kimiawi kurkumin dapat
menghambat aktivitas peroksidasi diketahui pula bahwa dari fungsinya
sebagai antioksidan yang berperan sebagai antiaterosklerosis (Nurtamin,
2014).

e. Cara membuat
Bagian yang digunakan: rimpang segar. Sebanyak 1-1,5 g serbuk
kunir putih dimasukkan ke dalam air dingin, diaduk 3-5 menit, digunakan
1 cangkir/hari. Penyimpanan: Simpan di tempat sejuk dan kering, di
dalam wadah tertutup rapat, jauh dari jangkauan anak-anak (Badan POM
RI, 2010).

f. Dosis
Menurut Martosupono (2009) Dosis yang diberikan yaitu 35 dan 70
mg/kg BB/ hari mampu menurunkan kadar trigliserida, kolesterol LDL,
dan kolesterol total dan pada dosis 70 mg/kg BB/ hari dapat
meningkatkan kadar kolesterol HDL secara signifikan (p<0,05)

2. Mengkudu
a. Nama ilmiah
Morinda citrifolia
b. Ordo
Gentianales

c. Cara menanam
Menurut Adi Permadi (2008) cara menanam mengkudu sebagai
berikut:
1) Pembibitan
Budidaya mengkudu dapat diperbanyak dengan mengunakan biji.
Untuk mendapatkan biji yang berkualitas tersebut, mengkudu harus
berasal dari pohon indukan yang berkualitas dengan kondisi sehat dan
pertumbuhan normal. Minimal didapat pohon mengkudu yang sudah
berumur 10 tahun. Pemilihan biji mengkudu yang baik ditandai
dengan berwarna putih kekuningan merata, kondisi biji sudah cukup
tuan, berwarna cokelat tua dan berdaya kecambah tinggi 10-90 %.
Selain bibit mengkudu bisa didapatkan melalui cara generatif, yaitu
dengan menggunakan biji buah. Bibit mengkudu juga bisa didapat
dengan cara vegetatif yaitu dengan menggunakan stek batang atau
cabang.
Dalam persemaian bibit mengkudu sebaiknya langsung ditanam
dalam bedengan atau polibag. Jangan lupa untuk melakukan
penyiraman setiap harinya. Penanaman mengkudu ini sebaiknya
dilakukan pada sore hari. Sementara untuk penyiraman dilakukan
setiap hari untuk mempercepat pertumbuhan tanaman mengkudu.
Langkah ini anda lakukan selama 4-5 bulan sampai tanaman
mengkudu memiliki akar dan daun yang baik. Selanjutnya bisa anda
lakukan pencabutan atau pemindahan lahan yang anda inginkan.
Jangan sampai pertumbuhan budidaya mengkudu ini besar yang akan
menyulitkan pemindahan tanaman.
2) Persiapan Lahan
Tanaman mengkudu dapat tumbuh di lahan bekas perkebunan,
ladang, sawah, hutan. Langkah yang perlu dilakukan dalam budidaya
mengkudu sebagai berikut. Anda harus melakukan pembersihan lahan
dari sisa-sisa tanaman jika akan ditanam di bekas hutan dan
perkebunan. Lahan harus diolah dengan hati-hati agar humus tidak
rusak. Jika mengkudu ditanam pada persawahan atau tegalan maka
tidak usah dibersihkan. Langsung saja dibuat lubang tanam untuk bibit
mengkudu. Sementara jika mengkudu ditanam di lahan yang miring
perlu dibuat terasering agar tidak longsor.
Selanjutnya harus melakukan pengapuran dengan cara
menaburkan kapur dolomite ke tanah dan dibiarkan selama 7-14 hari.
Keuntungan dari pengapuran tersebut ialah, tanah menjadi gembur,
mengurangi zat-zat beracun, dan mengurangi hilangnya unsure hara.
Lubang tanam dalam budidaya mengkudu dapat dibuat dengan
masing-masing ukuran panjang, lebar, dan dalam 40 cm. Jarak yang
dapat dibuat sebagai lubang tanam mengkudu adalah ukuran 3m x 4m
atau 4m x 4m. Namun, jarak tanam budidaya mengkudu dapat
diperlebar pada lahan yang miring dan tanah yang lebih subur.

3) Penanaman
Mengkudu itu sendiri dapat ditanam baik dengan cara tanam sela
ataupun tumpangsari. Kedua cara penanaman mengkudu tersebut
dapat dilakukan dalam budidaya mengkudu. Meski begitu, anda harus
memperhatikan kondisi dan lahan yang cocok dan dengan iklim
setempat dan tidak bersaing dengan tanaman pokok. Selan itu, anda
juga perlu memotong sebagian atau 1/3 daun yang untuk mengurangi
proses kelayuan.
Memotong akar tunggang bibit sampai 20-25 cm. Memasukan
media tanam buah mengkudu sampai ½ bagian. Bibit dimasukan pada
lubang tanam yang sudah disediakan seminggu sebelumnya. Timbun
dengan bagian media tanam budidaya mengkudu. Tekan media tanam
mengkudu agar tidak mudah rebah. Siram sampai media tanam
mengkudu basah.

4) Perawatan
Perawatan mengkudu dapat dilakukan 5 cara yaitu penyiraman,
penyulaman, penyiangan dan pemupukan. Penyiraman pada tanaman
mengkudu ini 2 kali dalam satu hari. Penyiraman mengkudu ini
bertujuan agar tanah tidak mudah kering. Penyulaman adalah
pergantian tanaman mati dengan tanaman yang baru. Penyiangan
dilakukan dengan cara membersihkan gulma dan tanaman yang
mengangu tanaman mengkudu. Sedangkan pemupukan mengkudu
dilakukan sejak awal 3 bulan dan diulangi setiap 6 bulan. Pupuk yang
digunakan pupuk kandang dan pupuk buatan per pohon 1: 1. Menjaga
spesies tanaman mengkudu diklasifikasikan standar seperti jenis
tanaman lain. Pemangkasan budidaya mengkudu dilakukan dengan
cara pemotongan dengan bantuan alat pemotong daun atau batang
bertujuan untuk menghindari hama dan penyakit yang menyerang.
Cabang ranting dipotong atau ranting yang padat mengakibatkan
tanaman tidak sehat, dan perlindungan tanaman terhadap hama dan
penyakit yang menganggu mengkudu.

d. Kandungan senyawa yang ada


Mengkudu mengandung zat aktif utama yaitu polisakarida dan
scopoletin. Polisakarida merupakan karbohidrat, sehingga tersusun hanya
dari atom karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Serat terdiri atas
berbagai substansi yang kebanyakan diantaranya adalah karbohidrat
kompleks. Serat makanan memberikan manfaat secara fisiologi yaitu
sebagai laksansia, kontrol kolesterol darah dan kontrol glukosa darah,
dapat mengurangi risiko kanker kolon dan juga membantu mengurangi
terjadinya obesitas dan penyakit jantung. Zat aktif utama dalam buah
mengkudu lebih berperanan dibandingkan dengan zat aktif lain dalam
buah mengkudu. Menurut Kamiya, dalam mengkudu, selain antioksidan,
zat bioaktif yang diketahui dapat menghambat Ox-LDL pada proses
atero-sklerosis adalah senyawa polifenol (3,3’-bisdemethylpinoresinol,
americanoid acid A, morindolin, americanol A, americanin A, dan
isoprincepin). Bioaktif antioksidan dan poli-fenol tersebut dapat menekan
teraktivasinya NF-kB sehingga ekspresi protein inflamasi (TNF-α,
ICAM-1) tidak terbentuk dan proses aterosklerosis dapat dihambat
(Susmiati, 2008).
Sedangkan menurut Aditya Pratama dkk (2014) senyawa scopoletin
dapat meningkatkan aktivitas antioksidan endogen (superoxide dismutase
dan catalase) dan dapat mengahambat terjadinya shear stress dengan
menghambat spasme pembuluh darah dan merelaksasikan dari otot polos
pembuluh darah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa buah mengkudu
memiliki potensi sebagai penghambat aterosklerosis.

e. Cara membuat
Cara pembuatan sediaan kering mengkudu yaitu buah mengkudu yang
sudah dipersiapkan dikupas dan disayat dengan ketebalan 1-2 mm,
kemudian dicacah dengan menggunakan pisau hingga menjadi potongan
yang lebih kecil (butiran). Hasil potongan segera dikeringkan melalui
penjemuran atau menggunakan mesin pengering hingga berwarna
kecoklatan. Setelah kering segera dikemas dan ditutup rapat. Buah
mengkudu tua yang masih mentah sebanyak 200 kg akan menghasilkan
10 kg butiran kering (Lies Suprapti, 2005:38, 56 dalam setyaningsih, s.e
2011).
Menurut perhitungan konversi dosis dari tikus ke manusia di atas
didapatkan dosis mengkudu adalah 5,6 gram mengkudu kering. Menurut
hasil penelitian Lestari Handayani (1997:30), setiap takar untuk
penggunaan satu hari terdiri dari 10 gram buah mengkudu kering yang
diminum 2 kali sehari. Sehingga dosis yang digunakan sekali minum
dalam penelitian ini adalah 5 gram mengkudu kering. Diminum 2 jam
setelah makan pagi dan makan malam. Penelitian untuk mengetahui
perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah terapi mengkudu
dilakukan selama 2 minggu atau 14 hari (Lestari Handayani, 1997:29
dalam setyaningsih, s.e 2011).

f. Dosis
Menurut Susmiati (2008) Dengan pemberian ekstrak mengkudu
berbagai dosis, yaitu 2,5 mg/kgBB, terjadi penurunan ekspresi protein
sitokin TNF-a pada kultur sel endotel dipapar Ox-LDL.

3. Daun Sukun
a. Nama ilmiah
Artocarpus altilis

b. Ordo
Rosales

c. Cara menanam
1) Pemilihan Benih
a) Cara yang pertama yaitu dengan menggunakan stek pucuk. Cara
ini dapat mengatasi masalah bibit yang terlalu lama berada di
dalam polibag.
b) Cara yang kedua yaitu dengan menggunakan okulasi. Dengan
cara ini akan mendapatkan bibit yang banyak dalam waktu yang
singkat. Cara yang selanjutnya yaitu dengan menggunakan tunas
akar alami atau pencangkokan.

Dari berbagai cara yang sudah disebutkan, cara yang terbilang paling
mudah yaitu dengan metode stek. Untuk menghasilkan panen yang
berkualitas, maka harus dipilih benih dari indukan yang berkualitas
dan unggul. Benih yang baik ditandai dengan beberapa hal
diantaranya tanaman sudah terdapat minimal 4 helai daun, semakin
banyak daun maka akan semakin bagus, namun idelanya terdapat
minimal 6 daun atau lebih. Daun pada tanaman sukun yang sudah
berjumlah 4 helai berarti tanaman tersebut sudah cukup umur untuk
dapat dipindahkan ke lahan. Daun yang bagus ditandai dengan daun
yang mengkilap dan berwarna agak gelap namun terlihat segar. Daun
tanaman sukun yang berwarna pucat, agak keputihan dan berwarna
kekuningan kemungkinan pertumbuhan dari tanaman tersebut
terganggu.

2) Persiapan Tanam
Tanaman sukun lebih optimal apabila ditanam pada awal musim
hujan, karena tanaman sukun membutuhkan air yang banyak pada
budidayanya. Oleh karena itu tanaman sukun jangan sampai
kekringan. Untuk cara tanam sukun sebaiknya di awal musim hujan.
Penanaman sukun sebaiknya dilakukan pada sore hari, hal ini
bertujuan untuk mengurangi penguapan.
Selanjutnya sebelum benih ditanam siapkan lahan dan lahan harus
bersih dari rumput, semak dan bebatuan. Jarak antar masing-masing
tanaman berkisar 12 m atau 15 m. Untuk lebih memudahkan dalam
persiapan penanaman sukun sebaiknya dipasang patok atau bilah yang
terbuat dari bambu. Lubang untuk menanam sukun dibuat dengan
ukuran 75 cm. Lubang yang dibuat harus besar karena pertumbuhan
tanaman sukun ini cepat dan besar. Tanah bagian atas harus dicampur
dengan pupuk kompos atau pupuk kandang. Lubang tanaman harus
dibuat 2 minggu sebelum penanaman benih sukun, hal ini bertujuan
agar lubang yang akan digunakan terkena sinar matahari dan dapat
mematikan bibit penyakit serta hama tanaman sukun. Apabila tanah
untuk budidaya tanaman sukun memiliki pH atau derajat keasaman
yang tinggi, maka dapat diturunkan dengan menggunakan kapur.
3) Panen dan Pasca Panen
Buah mulai tumbuh ketika tanaman sukun berumur 3 hingga 4 tahun.
Sepanjang tahun tanaman sukun dapat terus berbuah. Sedangkan
musim panen terbesar biasanya terjadi pada bulan Januari hingga
bulan Maret.

d. Kandungan senyawa yang ada


Dari hasil penelitian maharani,etw (2014) bahwa hasil uji fitokimia
ekstrak methanol daun sukun kering (Artocarpus altilis) mengandung
alkaloid, flavonoid, dan tannin yang dapat menurunkan kadar kolesterol
total dan LDL. Adanya senyawa-senyawa seperti plavanid, saponin dan
poliphenol yang memiliki kemampuan sebagai antioksidan terhadap
beberapa penyebab penyakit (naiem m, 2014).
Senyawa alkaloid dan flavonoid sendiri memiliki peran penting bagi
atherosclerosis yaitu dapat menghambat atau mencegah reaksi
autooksidasi lemak dan minyak. Setiap gugus dari flavonoid mempunyai
kapasistas yang baik sebagai antioksidan. Gugus flavon dan katekin
mempunyai aktivitas tertinggi untuk mencegah tubuh dari serangan
radikal bebas. Diketahui sel-sel tubuh secara kontinu dapat dirusak oleh
radikal-radikal bebas yang dihasilkan dari metabolisme aerobik atau yang
diinduksi oleh kerusakan eksogen. Absorbsi di saluran cerna, serta
peranannya sebagai antioksidan secara in vivo masih sangat terbatas,
akan tetapi efek antioksidan dari senyawa fenolat tersebut sangat kuat
umumnya pada pemutusan rantai peroksil (Simanjuntak, 2012 : 138).

e. Cara membuat
Menurut percobaan windarsih (2017) pada tikus, Ekstrak etanol
96% buah sukun pada dosis 3200 mg/kgBB memiliki kemampuan
diuretik dengan nilai lipschitz jam ke-5 sebesar 1,01 dan jam ke-24 1,47,
sedangkan pada dosis 200 mg/kgBB, dan 800 mg/kgBB belum memiliki
efek diuretik. Rata-rata orang Indonesia beratnya 50 kg. Dosis daun
sukun yang biasa digunakan dalam masyarakat adalah 15 g.

f. Dosis
Menurut Windarsih (2017) pemberian ekstrak etanol daun sukun
menggunakan dosis 130 mg/kg BB dan 260 mg/kg BB. Kontrol positif
berupa simvastatin dosis 10 mg/kg BB.

DAFTAR PUSTAKA
Amelia. 2010. Pengaruh Model Pembelajaran Generatif terhadap Kemampuan

Koneksi Matematis Siswa. (Skripsi). UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Ardhani, Salsabila, dkk. 2017. “Efektivitas Ekstrak Kunyit (Curcuma domestica)

Sebagai Terapi Non Farmakologi Dislipidemia dan

Antiaterosklerosis”. Vol 7 No 5. Lampung : FK Universitas Lampung

Badan POM RI. 2010. Acuan Sediaan Herbal. Volume 5. Jakarta: Direktorat OAI.

Brand, K., P. Sharon, R. Gerhard, B. Armin. 2006. Activated Transcription Factor

Nuclear Kappa B is Present in The Atherosclerotic Lesion. J. Clin.

Invest. Vol. 97. 7:1715-1722

Felker GM, Allen LA, Pocock S, et al. Red cell distribution width as a novel

prognostic marker in heart failure : data from the CHARM Program

and the Duke Databank for Cardiovascular Disease. J Am Coll Cardio

2011; 50;40-7

Handajani, adianti.dkk, (2010). Faktor- faktor yang berhubungan dengan pola

kematian pada penyakit degenartif di Indonesia.

Http://download.portalgaruda.org/article.php?article=80689&val=489

2&title . Diakses tanggal 31 desember 2018

Kemenkes. 2017. Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia. Naskah

Publikasi. Jakarta: Kemenkes RI

Maharani, etw,dkk. 2014. Uji Fitokimia Ekstrak Daun Sukun Kering (Artocarpus

altilis). Jurnal. Universitas muhammadiyah semarang. Analis

kesehatan fakultas ilmu keperawatan dan kesehatan.


Naiem,m,dkk. 2014. PENGEMBANGAN TEKNIK BUDIDAYA SUKUN

(Artocarpus altilis) UNTUK KETAHANAN PANGAN. Jakarta: IPB

Press

Nurtamin, Tomy. 2014. “Potensi Curcumin untuk Mencegah Atherosklerosis”.

Vol. 41 no. 8. Sulawesi Tenggara : Universitas Haluoleo

Permadi Adi. 2008. Membuat Kebun Tanaman Obat. Jakarta : Pustaka Bunda.

Pratama, Aditya dkk. 2014. “Noni Fruits (Morinda citrifolia) as Atherosclerosis

Inhibitor”. Vol 3 No 3. Lampung : FK Universitas Lampung

Rastini, Endah Kusuma, dkk. 2010. “Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah

Mengkudu (Morinda Citrifolio L.) Terhadap Aktivitasi Nf-kβ dan

Ekspresi Protein (TNS-α, ICAM-1) Pada Kultur Sel Endotel

(HUVECs) Dipapar Ox-LDL”. Vol. 1 no. 1. Malang : Universitas

Brawijaya

Ruhyanudin, faqih : 2007. Asuhan keperawatan pada kien dengan gangguan siste

kardiovaskuler. Malang : UPT Penerbitan Universitas Muhammadyah

Malang

Sargowo, Djanggan. 2015. Patogenesis Aterosklerosis. Malang : UB Press.

Setyaningsih, s.e .2011. Perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah terapi

mengkudu pada wanita penderita hipertensi (studi kasus di panti

wredha pucang gading semarang rahun 2010). Skripsi. Jurusan

kesehatan masyarakat. Unnes

Simanjuntak, Kristina. 2012. “Peran Antioksidan Flavonoid Dalam Meningkatkan

Kesehatan”. Vol 23 No 3. Jakarta : FK UPN Veteran


Susmiati. 2008. “Peran Serat Makanan (Dietary Fiber) Dari Aspek Pemeliharaan

Kesehatan, Pencegahan Dan Terapi Penyakit”. Vol 32 No 2. Bandung

: FK Universitas Padjajaran

Windarsih. 2017. Kemampuan uji ekstrak etanol daun sukun (arthocarpus altilis)

pada tikus. Publikasi ilmiah. Jurusan farmasi. UMS