Anda di halaman 1dari 165

LAPORAN MANAJEMEN KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP

MARWAH RUMAH SAKIT HARAPAN DAN DOA

KOTA BENGKULU

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Praktik Profesi Ners Stase Manajemen

Keperawatan

isusun Oleh:

PROGRAM STUDI PROFESI NERS SEKOLAH TINGGI

ILMU KESEHATAN BHAKTI HUSADA BENGKULU

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Kuasa atas limpahan

rahmat dan HidayahNya kami dapat menyelesaikan penyusunan “LAPORAN

MANAJEMEN KEPERAWATAN DI INSTALASI RAWAT INAP I (IRNA I)

RUANG MARWAH RSUP

DR. SARDJITO YOGYAKARTA” ini dengan lancar. Dalam proses penyusunan

laporan ini tentu banyak pihak yang berperan, oleh karena itu penulis ingin

mengucapkan terima kasih kepada:

1. dr. Faisal Heryono, Sp.PD., sebagai Kepala IRNA 1 RS. Harapan dan Doa,

2. Retno Koeswandari, S.Kep, Ns., M.Kep., sebagai penanggungjawab

administrasi dan SDM RS. Harapan dan Doa,

3. Tutik Purwaningsih, S.Pd., S.ST. sebagai Kepala Ruang Marwah RS. Harapan

dan Doa,

4. Totok Harjanto, S.Kep., Ns., M.Kes. sebagai Pembimbing Akademik I yang

telah memberikan bimbingan dan arahan dalam pelaksanaan praktik profesi

stase manajemen keperawatan,

5. Nuryandari, SKM, M.Kes., sebagai Pembimbing Akademik II yang telah

memberikan bimbingan dan arahan dalam pelaksanaan praktik profesi stase

manajemen keperawatan,

6. Seluruh staf dan perawat di Ruang Marwah RS. Harapan dan Doa atas

kerjasama dan bantuannya,

7. Rekan-rekan kelompok Stase Manajemen Keperawatan atas kerjasama

selama kegiatan praktek profesi ini,


8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu

kelancaran proses praktik dan pembuatan laporan ini.

Semoga hasil laporan ini memberikan manfaat untuk Ruang Marwah IRNA 1.

Yogyakarta, Desember 2015


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proses manajemen berlaku untuk semua orang yang mencari cara untuk

mempengaruhi perilaku orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Proses

ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses manajemen dengan

melibatkan semua anggota untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Keperawatan sebagai salah satu bentuk pelayanan profesional yang

merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari upaya pelayanan

kesehatan secara keseluruhan. Selain itu, pelayanan keperawatan merupakan

faktor penentu baik buruknya mutu dan citra dari rumah sakit, oleh karena itu

kualitas pelayanan keperawatan perlu dipertahankan dan ditingkatkan hingga

tercapai hasil yang optimal. Dengan memperhatikan hal tersebut, proses

manajemen yang baik perlu diterapkan dalam memberikan asuhan keperawatan

sehingga dicapai suatu asuhan keperawatan yang memenuhi standar profesi yang

ditetapkan, sumber daya untuk pelayanan asuhan keperawatan dimanfaatkan

secara wajar, efisien, efektif, aman bagi pasien dan tenaga keperawatan,

memuaskan bagi pasien dan tenaga keperawatan serta aspek sosial, ekonomi,

budaya, agama, etika dan tata nilai masyarakat diperhatikan dan dihormati

Manajemen keperawatan merupakan suatu proses bekerja melalui anggota staf

keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional (Gillies,

1986). Manajemen keperawatan merupakan pelayanan keperawatan profesional

dimana tim keperawatan dikelola dengan menjalankan empat fungsi manajemen,


yaitu perencanaan, pengorganisasian, motivasi dan pengendalian. Keempat

fungsi tersebut saling terkait serta saling berhubungan dan memerlukan

ketrampilan-ketrampilan teknis, hubungan antar manusia dan konseptual yang

mendukung tercapainya asuhan keperawatan yang bermutu, berdaya guna dan

berhasil guna kepada klien. Dengan alasan tersebut, manajemen keperawatan

perlu mendapat perhatian dan prioritas utama dalam pengembangan keperawatan

di masa depan. Hal tersebut berkaitan dengan tuntutan profesi dan tuntutan

global bahwa setiap perkembangan dan perubahan memerluka pengelolaan secara

profesional dengan memperhatikan setiap perubahan yang terjadi (Nursalam, 2002).

Rumah sakit merupakan organisasi yang sangat kompleks dan sangat

penting dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Rumah sakit sebagai salah satu penyelenggara pelayanan kesehatan, salah

satunya adalah penyelenggara pelayanan asuhan keperawatan senantiasa

memberikan pelayanan yang memuaskan kepada klien maupun keluarganya

(Depkes, 1987). Oleh karena itu, diperlukan cara pengelolaan pelayanan

keperawatan yang mengikuti prinsip-prinsip manajemen.

Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta sebagai salah

satu penyelenggara pelayanan kesehatan, pendidikan dan penelitian serta usaha

lain di bidang kesehatan, bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan

senantiasa berorientasi kepada kepentingan masyarakat, maka rumah sakit perlu

didukung dengan adanya organisasi yang mantap dan manajemen yang baik

dengan berorientasi pada mutu pelayanan bagi masyarakat.

Perawat sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan, dituntut untuk

memiliki kemampuan manajerial yang tangguh sehingga pelayanan yang


diberikan mampu memuaskan kebutuhan klien. Kemampuan manajerial yang

dimiliki perawat dapat dicapai melalui banyak cara. Salah satu cara untuk dapat

meningkatkan ketrampilan manajerial yang handal selain didapatkan di bangku

kuliah juga harus melalui pembelajaran di lahan praktik. Mahasiswa Program

Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (PSIK FK

UGM) dituntut untuk dapat mengaplikasikan langsung pengetahuan manajerialnya

di Ruang Marwah RS. Harapan dan Doa Yogyakarta yang berlangsung selama 3

minggu yaitu tanggal 28 Desember 2015 - 16 Januari 2016 dengan arahan

dari pembimbing lapangan maupun dari pembimbing pendidikan yang intensif.

Adanya praktik manajemen ini diharapkan mahasiswa mampu menerapkan ilmu

yang didapat dan mengelola ruang perawatan dengan pendekatan proses

manajemen.

B. Tujuan

a. Tujuan Umum

Setelah melakukan praktik manajemen keperawatan selama 3 minggu di

Ruang Marwah RS. Harapan dan Doa, mahasiswa mampu memahami

manajemen keperawatan baik pengelolaan sarana maupun kegiatan

keperawatan dalam tatanan klinik

b. Tujuan Khusus

Secara kelompok dan individu mahasiswa dapat menunjukkan kemampuan

dalam hal manajemen keperawatan baik pengelolaan sarana maupun kegiatan

keperawatan dalam tatanan klinik.

Kemampuan managemen diantaranya meliputi :

1) Mengaplikasikan keterampilan dalam mengorganisasi dan mengkoordinasi


kegiatan-kegiatan keperawatan secara efektif dengan menggunakan fungsi-

fungsi manajemen.

2) Menjalin kerjasama yang baik dalam tim.

3) Menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat, pendekatan dan strategi

untuk mempengaruhi individu atau kelompok untuk melakukan

perubahan yang positif dan pencapaian tujuan.

4) Menggunakan metode pendekatan pemecahan masalah yang efektif dan

konstruktif.

5) Menggunakan konsep penjaminan mutu dan penampilan kerja dalam

melakukan asuhan keperawatan.

C. Waktu

Pelaksanaan praktek manajemen keperawatan ini dilakukan di Ruang Marwah SUP

Dr. Sardjito berlangsung selama 3 minggu mulai tanggal 28 Desember 2015 – 16

Januari 2016.

D. Peserta

Mahasiswa tahap profesi Ners Program Studi Ilmu Keperawatan FK UGM

yang sedang menjalani tahap profesi manajemen periode 28 Desember 2015 - 16

Januari 2016 di Ruang Marwah RS. Harapan dan Doa dengan anggota :
BAB II

HASIL PENGKAJIAN

A. Profil dan Gambaran Umum Ruang Marwah

Ruang Marwah merupakan bagian dari Instalasi Rawat Inap (IRNA) I yang

berlokasi di lantai II di atas poli bedah RS. Harapan dan Doa Yogyakarta.

Ruang Marwah digunakan sebagai ruang rawat inap yang memberikan

pelayanan pada pasien dengan kasus THT/gigi dan mulut. Kapasitas Ruang

Marwah adala 23 tempat tidur dengan tingkat pelayanan kelas I terdiri dari 1

tempat tidur, kelas II terdiri dari 7 tempat tidur dan kelas III yang terdiri dari 9

tempat tidur.

Ruang Marwah RS. Harapan dan Doa dipimpin oleh seorang kepala ruang

yang dibantu 2 orang primary nurse (PN) serta 10 assosiate nurse (AN). Untuk

kelancaran administrasi ada 1 orang di bagian tata usaha dan 1 orang sebagai

penata jasa. Pelayanan pemberian asuhan keperawatan dibantu oleh 1 orang

pramu husada dan 1 orang pekarya rumah tangga. Ruang Marwah merupakan

ruang rawat inap yang memberikan pelayanan rawat inap bagi pasien umum,

pasien BPJS serta pasien dengan jaminan kesehatan lainnya. Spesifik pelayanan

ruang Marwah adalah tempat pendidikan, praktek dan penelitian bagi calon dokter

spesialis, calon dokter umum, calon perawat DIII, calon perawat DIV, calon ners,

dan calon ahli gizi.

B. Struktur Organisasi

Untuk memperjelas koordinasi di ruang Dahlia 5 dapat dilihat pada

struktur organisasi sebagai berikut :


Struktur Organisasi Ruang Marwah RSUP Dr.Sardjito

Kepala Ruang
Tutik Purwaningsih, S.Pd., S.ST

PENATA JASA
Baruningsih

Primary Nurse Primary Nurse


Sudaryono, AMK Siti Sumaryati, AMK

Associate Nurse
Associate Nurse Sri
Surat S, AMK
Welas Asih, AMK
Imroatin K. AMK
Asima Siregar, AMK
Puspita Rahma D, AMK
Tenty Bintari, AMK
Riana M, AMK
Asni I. S.Kep. Ns
Ruslan S. Kep. Ns
Wijayanto, AMK

Keterangan:

: Hubungan tanggung jawab


: Hubungan koordinasi
1 Unsur Input

a Row Input

1) Pasien

RS. Harapan dan Doa sebagai rumah sakit tipe A pendidikan dan

rujukan untuk provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah

bagian selatan yang saat ini berstatus perusahaan jawatan milik Depkes RI

(SK Menkes, 2004). RS. Harapan dan Doa Yogyakarta merupakan salah satu

unit pelayanan kesehatan kelas A yang merupakan rujukan untuk daerah

Propinsi DIY dan Jawa Tengah Bagian Selatan. RS. Harapan dan Doa

Yogyakarta sebagai rumah sakit tipe A pendidikan dan rujukan untuk propinsi

Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan sesuai dengan

Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1174/MENKES/SK/2004 pada

tanggal 18 Oktober 2004 tentang Penetapan Kelas RS Dr. Sardjito Yogyakarta

sebagai RS Umum (Humas RS. Harapan dan Doa, 2009). Mulai tanggal 1

Januari 2006 RS. Harapan dan Doa berubah status dari Perusahaan Jawatan

menjadi Badan Layanan Umum (BLU). BLU adalah institusi dilingkungan

Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat

berupa penyediaan barang atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan

mencari keuntungan atau dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada

prinsip efisiensi dan produktivitas

Ruang Marwah adalah ruang yang merawat pasien dengan THT dan

bedah mulut. Namun juga merawat kasus-kasus yang lain, bahkan kasus-

kasus non bedah / titipan juga sering dirawat di ruang Marwah.


Kajian Data

Jumlah pasien yang dirawat selama periode Januari sampai Desember

2014 ditunjukan pada tabel 1.

Tabel 1
Jumlah Pasien Masuk di Ruang Marwah RS. Harapan dan Doa Kota
Bengkulu Periode Januari – Desember 2018
No Bulan Anak Dewasa Jumlah

1 Januari
2 February
3 Maret
4 April
5 Mei
6 Juni
7 Juli
8 Agustus
9 September
1 Oktober
1 November
01 Desember
1 Jumlah
2
Sumber : Catatan pelyanan indikator mutu ruang Marwah 2014

Tabel 3
Sepuluh Besar Kasus Penyakit di ruang Marwah
RS. Harapan dan Doa 2018
No Keterangan Diagnosis Jumla

h
1 74
2 52
3 34
4 23
5 22
6 21
7 21
8 20
9 18
10 18
Sumber : Instalasi Catatan Medik RS. Harapan dan Doa 2015
Analisis

Rata-rata jumlah pasien di ruang Marwah periode Januari – Desember

2014 adalah sebanyak 31,1 (31) orang perbulan sedangkan periode Januari –

November 2015 adalah sebanyak 27,3 (27) orang perbulan. Semua data pasien

masuk sudah tercatat didalam buku register ruang Marwah dan di rekap setiap

bulan. Kasus terbanyak di ruang Marwah berdasarkan Laporan Tahunan Dahlia

2014 dari bulan Januari 2014 – Desember 2014 adalah Impacted teeth, sedangkan

Januari – November 2015 adalah OMSK (Otitis Media Supuratif Kronik).

2) Peserta Didik

Kajian Pustaka

Pendidikan dan praktik keperawatan profesional merupakan aspek yang

tidak dapat dipisahkan dalam mengembangkan calon perawat profesional secara

komprehensif dalam hal pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Pengetahuan

yang didapat dari pendidikan, baik di kelas maupun di laboratorium akan

digunakan pada situasi nyata di lapangan/klinik, sehingga keselarasan antara

pendidikan dan praktik klinis sangatlah penting (Komite Keperawatan dan

Bidang Pelayanan Keperawatan

RS. Harapan dan Doa, 2007).

RSUP Dr.Sardjito merupakan rumah sakit tipe A pendidikan yang

digunakan sebagai lahan praktik klinik untuk mahasiswa keperawatan dan

kedokteran serta mahasiswa bidang kesehatan lain. Pendidikan dan praktek

keperawatan profesional merupakan aspek yang tidak bisa dipisahkan dalam

mengembangkan calon perawat, bidan, dan dokter secara komprehensif dalam hal
pengetahuan (Sardjito, 2000). Mahasiswa praktikan berhak mendapatkan

bimbingan yang optimal dari pembimbing, baik pembimbing klinik maupun

pembimbing akademik (Pusdiknakes). Ikatan Rumah Sakit Pendidikan Indonesia

(IRSPI) yang dikutip oleh Aditama (2003) menyatakan bahwa untuk menjadi

rumah sakit pendidikan perlu memiliki sumber daya yang

profesional seperti:

1 Organisasi

2 Sarana dan fasilitas medik maupun penunjang

3 Jumlah dan variasi teaching material

4 Budaya profesional dan atmosfer akademik

5 Transformasi perilaku pada peserta didik

6 Perpustakaan

7 Komitmen segenap pihak yang terkait

Data mahasiswa keperawatan yang praktik di ruang Marwah periode

Januari sampai Desember 2014 berjumlah 17 orang yang dibagi dalam kelompok-

kelompok,.

Kajian Data

Tabel 5
Data mahasiswa praktek di Ruang Marwah periode
Januari sampai Desember 2018
N Nama Institusi Lama praktek Jumlah Jumlah
o (hari ) mahasiswa

2
3
4
5
6
Jumlah 100 %
Sumber: Laporan Tahunan Marwah 2015
Analisis Data

Berdasarkan hasil kajian data, ruang Marwah selama ini digunakan

sebagai lahan praktek bagi mahasiswa S1 dan D3 Keperawatan. Pada data diatas

dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan jumlah mahasiswa praktik dari 17

mahasiswa pada tahun 2014 menjadi 95 mahasiswa dalam tahun 2015.

c. Instrumental Input

1 Ketenagaan (MAN)

Kuantitas

Kajian Pustaka

Penetapan jumlah tenaga keperawatan merupakan suatu proses membuat

perencanaan untuk menentukan berapa banyak tenaga yang dibutuhkan dan

dengan kriteria seperti apa pada suatu unit untuk setiap shiftnya. Untuk

penetapan ini ada beberapa rumus yang dikembangkan oleh para ahli.

Selain untuk menetapkan rumus ini juga dapat digunakan untuk menilai dan

membandingkan apakah tenaga yang ada saat ini cukup, kurang atau

berlebih. Rumus tersebut antara lain:

 Menurut Gillies (1982)

Kebutuhan tenaga perawat secara kuantitatif dapat dirumuskan

dengan perhitungan sebagai berikut:

Tenaga Perawat (TP) = jumlah jam perawatan yang dibutuhkan/tahun

jumlah hari kerja perawat/tahun x jam kerja perawat/hari

atau
Tenaga Perawat (TP) = A x B x 365
(365 - C) x jam kerja/hari

Keterangan :

A : jam efektif/24 jam waktu perawatan yang dibutuhkan pasien/hari

B : rata-rata jumlah pasien per hari BOR x jumlah tempat tidur

C : jumlah hari libur, 365 = jumlah hari kerja dalam 1 tahun

 Menurut Douglas (1984)

Penghitungan jumlah tenaga keperawatan menurut Douglas dihitung

berdasarkan tingkat ketergantungan setiap shift klien seperti pada tabel

berikut:

Tabel 8
Jumlah Tenaga Keperawatan Berdasarkan
Klasifikasi Ketergantungan Klien
Waktu klasifikasi Kebutuhan perawat
Pagi Sore Malam
Minimal
Intermediate
Maksimal
Sumber: Douglas, 1984

Jumlah perawat yang diperlukan untuk jaga adalah pagi, sore,

dan malam, sedangkan klasifikasi derajat ketergantungan klien terhadap

keperawatan menurut Douglas berdasarkan kriteria sebagai berikut :

Perawatan minimal memerlukan waktu selama 1-2 jam/24 jam,

dengan kriteria:

o Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri.

o Ambulasi dengan pengawasan.

o Observasi tanda-tanda vital dilakukan tiap shift.

o Pengobatan minimal, status psikologi stabil.


o Persiapan pengobatan memerlukan prosedur.

Perawatan intermediate memerlukan waktu 3-4 jam/24 jam dengan kriteria:

o Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu.

o Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam.

o Ambulasi dibantu, pengobatan lebih dari sekali.

o Folley catheter/intake output dicatat.

o Klien dengan pemasangan infus, persiapan pengobatan

memerlukan prosedur.

Perawatan maksimal atau total memerlukan waktu 5-6 jam/24jam

dengan kriteria:

o Segalanya diberikan/dibantu.

o Posisi diatur, observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam.

o Makan memerlukan NGT, menggunakan terapi intravena.

o Pemakaian suksion.

o Gelisah, disorientasi.

 Menurut Depkes, 2005

Menurut Depkes, modal pendekatan yang dapat digunakan dalam

penghitungan tenaga keperawatan di rumah sakit memperhatikan unit

kerja yang ada pada rumah sakit. Penetapan didasarkan klasifikasi

pasien dengan cara penghitungan adalah:


o Tingkat ketergantungan pasien berdasarkan kasus

o Rata-rata pasien/hari

o Jam perawatan yang diperlukan/hari/pasien

o Jam perawatan yang diperlukan/ruangan/hari

o Jam kerja efektif setiap perawat 7 jam/hari

Dirumuskan sebagai berikut:

- Tenaga keperawatan rawat inap :

Jumlah jam perawatan / ruangan / hari

- Tenaga keperawatan rawat jalan

Jumlah jam perawatan efektif x rata-rata jumlah pasien setiap hari

Perhitungan tenaga tersebut perlu ditambah (faktor koreksi) yang terdiri

dari:

- Loss day (Hari libur/cuti/ hari besar):

Jumlah hari minggu/ th + cuti + hari besar x keb.tenaga

- Non nursing job

Jumlah tenaga keperawatan yang mengerjakan tugas-tugas non

keperawatan seperti contohnya membuat perincian pasien pulang,

kebersihan ruangan, kebersihan alat makan pasien, dll

Diperkirakan 25 % dari jumlah jam pelayanan keperawatan


Asuhan keperawatan Ringan

o Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri

o Makan dan minum dilakukan sendiri

o Ambulasi dengan pengawasan

o Observasi tanda – tanda vital dilakukan setiap shift

o Pengobatan minimal, status psikologis stabil


Asuhan keperawatan sedang, dengan kriteria:

o Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu

o Observasi tanda – tanda vital setiap 4 jam

o Ambulasi dibantu, pengobatan lebih dari sekali Asuhan

keperawatan agak berat, dengan criteria:

o Sebagian besar aktivitas dibantu

o Observasi tanda – tanda vital setiap 2 – 4 jam sekali

o Terpasang volley cateter, input output dicatat

o Terpasang infuse

o Pengobatan lebih dari sekali

o Persiapan pengobatan perlu prosedur Perawatan maksimal (total),

dengan criteria:

o Segala aktivitas diberikan perawat

o Posisi diatur, observasi tanda – tanda vital setiap 2 jam

o Makan memerlukan NGT, terapi intravena

o Penggunaan suction

o Gelisah / disorientasi

Kajian Data

 Berdasarkan Rumus Gillies adalah

Tenaga Perawat (TP) = A x B x 365


(365 - C) x jam kerja/hari

o Ruangan rawat inap

Diketahui jam efektif perawatan per 24 jam di Ruang

Marwah sebesar 4 jam dengan rata-rata BOR dari proyeksi data


Januari- Desember 2014 sebesar 80,71% kapasitas tempat tidur 30.

Libur total 78 hari, sehingga didapatkan hasil :

Tenaga Perawat (TP) di MARWAH :

= 4 x (54,67% x 23) x 365

(365 – 78) x 7 jam kerja/hari

= 18133

2009

= 9,02 = 9 orang

Kebutuhan menurut Gillies sebanyak 9 orang + 1 kepala ruang =

10 orang. Maka kebutuhan tenaga keperawatan di Ruang Marwah

adalah 10 orang

 Perhitungan kebutuhan tenaga perawatan berdasarkan rumus

Depkes (2005)

Di Ruang rawat inap Marwah jam kerja efektif 4

jam/pasien/hari. Rata-rata proyeksi BOR bulan Januari 2014-

Desember 2014 sebesar 87% dengan jumlah tempat tidur 30. Jumlah

hari libur total 78 hari. Jumlah jam kerja per shift 7 jam.

Kebutuhan tenaga = 4 x (54,67% x 23) = 7,09= 7

Loss day = 78 x 7 /287= 1,90 = 2

Tugas non keperawatan = (7+ 2) x 25% = 2,25 = 2

Jadi tenaga yang dibutuhkan = 7 + 2 + 2 = 11 + 1 KaRu = 12 orang


Analisis Data

Tabel 9
Hasil Perhitungan Tenaga Perawat di Ruang MARWAH

HASIL
Metode Jumlah tenaga Jumlah tenaga yang Keterangan
yang dibutuhkan ada
Gillies 10 orang 15 orang Lebih 5
Depkes 12 orang 15 orang Lebih 3
Sumber : Data Primer Ruang Marwah, 2015

Berdasarkan perhitungan dengan Gillies jumlah perawat yang

dibutuhkan adalah 10 orang perawat di ruang Marwah. Menurut perhitungan

Depkes diperoleh hasil dibutuhkan 15 perawat. Sedangkan jumlah

perawat yang ada sebanyak 15 orang. Jumlah perawat yang ada di ruang

MARWAH menurut Gillies kelebihan 5 orang dan menurut depkes kelebihan

3 orang.

Saat dilakukan pengkajian perbandingan antara perawat dengan

pasien adalah 15 perawat : 4 pasien . terbatasnya jumlah pasien saat

dilakukan pengkajian membuat ruangan kelebihan jumlah tenaga keperawatan

a) Kualitas

Kajian pustaka

Salah satu indikator keberhasilan RS dalam memberikan pelayanan

kesehatan ditentukan oleh pemberian asuhan keperawatan yang berkualitas. Asuhan

keperawatan yang berkualitas didukung oleh sumber daya yang berkualitas dan

profesional dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.

Pola tenaga keperawatan RS. Harapan dan Doa mengacu pada pola Depkes
tahun 2011, untuk RS. Harapan dan Doa tahun 2015, S3 0,5%, S2 2,5%, S1

20%, DIII 70%, dan SPK 2% (Kumpulan kebijakan dan protap keperawatan RS

dr. Sardjito, 2011). Menurut standar pelayanan minimal rumah sakit (2008),

pemberi pelayanan di rawat inap adalah dokter spesialis dan perawat minimal

berpendidikan DIII.

Uraian jabatan pegawai keperawatan di RS. Harapan dan Doa (Struktur

Organisasi dan Uraian Jabatan Keperawatan RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta, 2011)

antara lain:

 PJ Pelayanan dengan syarat:

Pangkat/golongan :

Jenis Pendidikan :

Kursus /Pelatihan :

Pengalaman Kerja :

 Jabatan Kepala Ruang rawat dengan syarat

Pangkat/golongan :

Jenis Pendidikan :

Kursus /Pelatihan :

Pengalaman Kerja :

 Jabatan Primary Nurse dengan syarat :

Pangkat/golongan Jenis Pendidikan

Kursus /Pelatihan

Pengalaman Kerja
 Jabatan Clinical Instructor dengan syarat :

Pangkat/golongan

Jenis Pendidikan

Kursus /Pelatihan

Pengalaman Kerja :

 Jabatan Associate Nurse dengan syarat:


Tabel 10
Distribusi Jumlah SDM Ruang MARWAH
No Kategori Tenaga Jumlah Keterangan

1. 1.1. Dokter jumlah dokter jaga baik


- Dokter Ahli Tidak terhitung dokter ahli dan dokter
- Dokter Residen Tidak terhitung residen di Marwah tidak
dapat di hitung dengan
pasti disetiap waktunya
karena jumlah dokter
disesuaikan dengan kasus
yang terjadi
1.2 . Keperawatan :
- SPK
- D4 Keperawatan
- D3 Keperawatan
- S1 Keperawatan

1.3. Tenaga Non Medis :


Pramu Husada
Pekarya
Penata Jasa
Tabel 11
Distribusi Nama, Jabatan, Pendidikan dan Golongan SDM MARWAH
NO NAMA JABATAN PENDIDIKAN GOL

Tabel 12
Distribusi Perawat Marwah Berdasarkan Jenis Pendidikan dan Pelatihan
NO NAMA PELATIHAN
Tabel 13
Kualifikasi Pendidikan Formal Tenaga Keperawatan Di Ruang MARWAH RS.
Harapan dan Doa
No Jenis Pendidikan Jumlah Persentase
1 SPK
2 D-IV Keperawatan
3 D-III Keperawatan
4 S1 Keperawatan
Jumlah

Analisis Data

Dari data diatas tenaga perawat ruang Marwah RS. Harapan dan Doa

berdasarkan tingkat pendidikan sebagai berikut, terdapat satu orang (6,7%)

perawat yang berpendidikan DIV,orang (80%) yang berpendidikan D3

keperawatan, 2 orang (13,3%) yang berpendidikan S1 keperawatan.

Dari kajian data diatas dapat dilihat bahwa kualitas tenaga keperawatan di

ruang Marwah berdasarkan tingkat pendidikan belum cukup memadai, dimana

hanya terdapat tenaga perawat yang berpendidikan S1 sebanyak 2 orang, dua

orang terebut sebagai perawat pelaksana. PN di Ruang Marwah sebanyak dua

orang dengan tingkat pendidikan D3 keperawatan. tidak ada perawat yang

berpendidikan SPK.

Menurut data administrasi Marwah, 94,7 % perawat yang ada telah

mengikuti pelatihan BLS. Semua perawat Marwah telah mengikuti pelatihan

THT.
3) Money

Kajian teori

Mulai tanggal 1 Januari 2006 RS. Harapan dan Doa berubah status dari

Perusahaan Jawatan menjadi Badan Layanan Umum (BLU). BLU adalah

institusi dilingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan

kepada masyarakat berupa penyediaan barang atau jasa yang dijual tanpa

mengutamakan mencari keuntungan atau dalam melakukan kegiatannya

didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Sehubungan dengan

peraturan pemerintah RI No. 23 tahun 2005 yang telah ditetapkan pada

tanggal 13 juni 2005 tentang pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum

(BLU) pada pasal 14 dijelaskan tentang sumber pendapatan BLU:

 Penerimaan anggaran yang bersumber dari APBN/APBD diberlakukan

sebagai pendapatan BLU

 Pendapatan yang diperoleh dari jasa layanan yang diberikan kepada

masyarakat dan hibah tidak terikat yang diperoleh dari masyarakat atau badan

lain merupakan pendapatan operasional BLU

 Hibah terikat yang diperoleh dari masyarakat atau badan lain

merupakaN pendapatan yang harus diperlakukan sesuai dengan peruntukan.

 Hasil kerjasama BLU dengan pihak lain dan/atau hasil usaha lainnya

merupakan pendapatan bagi BLU.


Kajian Data

RS. Harapan dan Doa merupakan rumah sakit pemerintah dan juga

merupakan rumah sakit pendidikan. Dana Ruang Marwah bersumber pada

anggaran RS yang harus dipertanggungjawabkan dan dikelola secara

desentralisasi oleh IRNA 1 dengan pertimbangan prioritas program dari ruangan

yang ada di IRNA.

Analisis Data

Dari hasil wawancara didapatkan bahwa MARWAH tidak memiliki

sumber dana tersendiri. Sumber dana terintegrasi bersama dengan bagian

keuangan IRNA 1 RS. Harapan dan Doa.

4) Material

Kajian Teori

Di dalam manajemen keperawatan sangat diperlukan adanya pengelolaan

peralatan sebagai faktor pendukung dan penunjang terlaksananya pelayanan

keperawatan. Peralatan kesehatan untuk pelayanan keperawatan adalah semua

bentuk alat kesehatan yang dipergunakan dalam melaksanakan tindakan untuk

menunjang kelancaran pelaksanaan asuhan keperawatan, sehingga diperoleh

tujuan keperawatan

yang efisien dan efektif.

Kajian Data

Marwah merupakan ruangan untuk kasus THT dan bedah Mulut. Ruang

Marwah terdiri dari kelas 1, kelas 2,kelas 3 dengan memberikan pelayanan

Rawat Inap bagi pasien umum, PBI dan Non-PBI.


Tabel 14
Jumlah tempat tidur Marwah RS. Harapan dan Doa Yogyakarta
Kondisi
Jumla Baik Rusak
Keterangan
h

Total 23
Sumber: Observasi

Tabel 15
Daftar Alat Medis dan non Medis di Ruang Marwah
NO NAMA ALAT JMLH KONDISI
BAIK RUSAK
1 Tensimeter 2 2
2 Stetoskop 2 2
3 Flow meter dinding 7 7
Flow meter tabung 4 3 1
4 GV Set 11 11
5 Termometer 3 3
6 Korentang 3 3
7 Bak instrumen 2 2
8 Bak suntik 1 1
9 Tromol besar 1 1
10 Tromol kecil 2 2
11 Gunting verban 2 2
12 Bengkok 5 5
13 Troli mandi 1 1
14 Troli pengobatan 2 2
15 Kursi roda 4 4
16 Brankart 2 2
17 Suction pump 5 3
18 Baki 3 3
19 Timbangan injak 1 1
20 Meteran 1 1
21 Animak 1 1
22 Ambubag 1 1
23 Tempat bran kapas 3 3
24 Nursing Call/ bel pasien 1 1
25 Tempat gerus obat 1 1
26 Irigator 2 2
27 Pispot 14 14
28 Waskom mandi 16 16
29 Gelas ukur 2 2
30 Lampu emergency 1 1
31 Tornikuet 2 2
32 EKG portable 1 1
33 Tas laborat 1 1
34 Tas kemoterapi 1 1
35 Tas CSSD 1 1
36 Spekulum hidung 3 3
37 Tongue spatel steinlis 6 6
38 Spekulum telinga 2 2
39 Pinset telinga 2 2
40 Pinset hidung 2 2
41 Syringe pump 1 1
42 Lampu duduk baca 3 3
43 Sundblasting pintu jendela 1 1
44 Almari besi 1 1
45 Almari standing penyimpanan alat 1 1
46 Nurse call 20 20
47 keperawatan
Almari alat sliding A 1 1
48 Kursi kerja 6 6
49 Jam dinding 6 6
50 Kursi tunggu 4 set 1 1
51 Transfer strecther 1 1

Tabel 16
Daftar Buku Bantu di Ruang Marwah RS. Harapan dan Doa
No Nama Buku Standar Jumlah Ketera

1. Buku Vital Sign 1 1 Cuk


ngan
2. Buku suhu monitoring kulkas 1 1 Cuk
3. Buku daftar hadir mahasiswa 1 1 up
Cuk
4. Buku ekspedisi PA 1 1 up
Cuk
5. Buku Ekspedisi Lab 1 1 up
Cuk
6. Buku pinjam alat medis 1 1 up
Cuk
7. Buku pemeliharaan alat medis 1 1 up
Cuk
8. Buku laporan kerusakan 1 1 up
Cuk
9. Buku inventaris 1 1 up
Cuk
10. Buku Ekspedisi mencuci 1 2 up
Cuk
11. Buku peminjaman alat vakum 1 1 up
Cuk
12. Buku pembagian pasien untuk perawat 1 1 up
Cuk
13. Buku pemakaian alat 1 1 up
Cuk
14. THT ekspedisi kassa
Buku 1 1 up
Cuk
15. Buku ekspedisi laporan harian penata 1 1 up
Cuk
up
jasa/operasional billing system up
16. Buku penempelan barcode pasien baru 1 1 Cuk
17. Buku catatan pasien THT transfusi 1 1 Cuk
up
darah up
18. Buku ekspedisi pengembalian label 1 1 Cuk
19. Buku pasien operasi 1 1 Cuk
20. transfusi
Buku ekspedisi konsul THT 1 1 up
Cuk
21. Buku pelaporan gratifikasi 1 1 up
Cuk
22, Buku oplos kemoterapi 1 1 up
Cuk
23. Buku serah terima barang/material ke 1 1 up
Cuk
keluarga pasien up
24. Buku ekspedisi radiologi 1 1 up
Cuk
25. Buku ekspedisi kipo 1 1 Cuk
26. Buku operan 1 1 up
Cuk
Sumber: Observasi up
up
Analisis Data

Ruang Marwah sudah memiliki kelengkapan alat medis ataupun

alat non medis sudah sesuai dengan tandar RS. Harapan dan Doa. Ruangan

ini sudah memiliki buku bantu yang lengkap.

5) Machine

Kajian Teori

Mesin merupakan peralatan yang berupa barang elektronik dan

membutuhkan

tenaga listrik yang digunakan untuk membantu menangani pasien baik secara

medis maupun keperawatan.

Kajian Data

Ruang Marwah tidak memiliki fasilitas mesin khusus sendiri untuk

membantu menangani pasien baik secara medis maupun keperawatan,

beberapa alat yang terdapat di ruangan antara lain adalah sebagai berikut:
Tabel 17
Daftar Mesin di Ruang Marwah RS. Harapan dan Doa Yogyakarta
No Jumlah Keterangan

. Nama Alat
1. EKG Fortable (Rusak) 1 Ada

2. Suction pump 1 Ada


3. Syringe pump 1 Ada
4. Nebulizer 1 Ada
Sumber: observasi dan wawancara 2015

Analisis Data

Berdasarkan data mesin yang dimiliki ruang Marwah RS. Harapan dan

Doa, ruangan ini sudah memiliki mesin yang sesuai standar minimal RS.

Harapan dan Doa. pemeliharaan dan pengecekan mesin di ruangan ini juga

sudah cukup baik dan dilakukan setiap hari untuk memastikan apakah mesin

masih berfungsi dengan baik atau tidak.

6) Methode

Kajian teori Standar

Standar adalah suatu tingkat kinerja yang secara umum dikenal sebagai

sesuatu yang dapat diterima, adekuat, memuaskan dan digunakan sebagai

tolak ukur atau titik acuan yang digunakan sebagai pembanding (Marr dan

Biebing, 2001). Menurut Asrul Azwar (1994) standar menunjukkan pada

tingkat ideal tercapai yang diinginkan, diukur dalam bentuk minimal dan

maksimal, penyimpangan masih dalam batas atas yang dibenarkan toleransi.

Menurut Nursalam (2002) standar merupakan pernyataan yang absah, model

yang disusun berdasarkan wewenang, kebiasaan atau kesepakatan mengenai

apa yang memadai dan sesuai, dapat diterima dengan layak.


Standar praktik keperawatan adalah norma atau penegasan tentang mutu

pekerjaan seorang perawat yang dianggap baik, tepat, dan benar, yang

dirumuskan sebagai pedoman pemberian asuhan keperawatan serta sebagai

tolak ukur dalam penilaian penampilan kerja seorang perawat (Nursalam,

2002). Menurut Gillies (1994) Standar Asuhan Keperawatan mempunyai tiga

tujuan, yaitu:

 Meningkatkan mutu asuhan keperawatan dengan memusatkan

Upaya meningkatkan motivasi perawat terhadap pencapaian tujuan.

 Mengurangi biaya asuhan keperawatan dengan mengurangi kegiatan

asuhan keperawatan yang tidak penting.

 Memberikan landasan untuk menentukan kelalaian keperawatan dengan

mengantisipasi suatu hasil yang tidak memenuhi standar asuhan

keperawatan serta menentukan bahwa kegaggalan dari perawat untuk

memenuhi standar, membahayakan pasien.

Standar keperawatan yang dipakai di Indonesia sebagai dasar pedoman

dan instrumentasi penerapan Standar Asuhan Keperawatan disusun oleh

DepKes (1997), yaitu:

 Standar I. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian keperawatan adalah data anamnesa, observasi yang paripurna

dan lengkap serta dikumpulkan secara terus menerus tentang keadaan pasien

untuk menetukan asuhan keperawatan sehingga data keperawatan harus

bermanfaat bagi semua anggota tim, data pengkajian meliputi

pengumpulan data, pengelompokan data, dan perumusan masalah.


 Standar II. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah respon pasien yang dirumuskan

berdasarkan data status kesehatan pasien, dan komponennya terdiri dari

masalah, penyebab,

dan gejala (PES), bersifat actual dan potensial dan dapat ditanggulangi perawat.

 Standar III. Perencanaan Keperawatan

Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnose keperawatan,

komponennya meliputi prioritas masalah, tujuan asuhan keperawatan

dan rencana tindakan.

 Standar IV. Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan adalah pelaksanaan tindakan yang ditentukan

dengan maksud agar kebutuhan pasein terpenuhi secara maksimal yang

mencakup aspek peningkatan, pencegahan, pemeliharaan serta pemulihan

kesehatan dengan mengikutsertakan keluarga.

 Standar V. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan dilakukan secara periodic, sistematis, terencana

untuk menilai perkembangan pasien.

 Standar VI. Catatan Asuhan Keperawatan

Dokumentasi keperawatan dilakukan secara individu oleh perawat

selama pasein dirawat inap maupun rawat jalan, digunakan sebagai informasi,

komunikasi dan laporan, dilakukan setelah tindakan dilakukan, sesuai

dengan pelaksanaan proses keperawatan, setiap mencatat harus

mencantumkan inisial atau paraf nama perawat, menggunakan formulir

yang baku, simpan sesuai peraturan yang berlaku.


Dasar hukum Standar Profesi Keperawatan adalah UU Kesehatan RI

No.23 tahun 1992 pasal 43, Ayat 1 : “tenaga kesehatan memperoleh

perlindungan dalam melaksanakan tugas sesuai profesinya”.

Ayat 2 : “tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban

standar profesi dan pasien”.

Standar Keperawatan menurut DepKes RI meliputi:

o Standar Pelayanan Keperawatan (SPK)

o Standar Asuhan Keperawatan (SAK)

Suatu ruang perawatan di dalam sebuah rumah sakit idealnya

mempunyai prosedur tetap (protap) tindakan yang berlaku secara resmi yang

dipahami dan diterapkan oleh seluruh staf di ruangan, ruang perawatan

mempunyai prosedur tetap semua tindakan perawatan dan SAK (Standar

Asuhan Keperawatan) minimal 10 kasus diagnosis terbanyak. Standar

Asuhan Keperawatan (SAK) RS. Harapan dan Doa disusun berdasarkan

standar asuhan keperawatan internasional. Standar acuan yang dipakai adalah

Standarized Nursing Language, yaitu NANDA (North American Nursing

Diagnosis Association) taksonomi II untuk diagnosa keperawatan, NOC

(Nursing Outcome Classification) untuk tujuan dan outcome yang ingin

dicapai, dan NIC (Nursing Intervention Classification) untuk rencana

tindakan/ intervensinya. SAK berisi penjelasan/informasi tentang penyakit

dan rencana asuhan keperawatan. Informasi tentang penyakit meliputi

Pengertian, Tanda dan Gejala, Etiologi, Patofisiologi, Pemeriksaan

penunjang, dan Manajemen terapi, serta Prinsip pengkajian kasus penyakit

(Brunner, 2002).
Standar asuhan keperawatan adalah acuan dalam proses pengambilan

keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh perawat sesuai dengan

wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan llmu dan kiat

keperawatan. Mulai dari pengkajian, perumusan diagnosa dan atau masalah

keperawatan, perencanaan, implementasi evaluasi dan pencatatan asuhan

keperawatan.

STANDAR I : Pengkajian

 Pernyataan standar

Perawat mengumpulkan semua informasi yang akurat, relevan dan lengkap

dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.

 Kriteria pengkajian

o Data tepat, akurat dan lengkap

o Terdiri dari data subjektif

STANDAR II: Perumusan diagnosa dan atau masalah keperawatan

 Pernyataan Standar

Perawat menganalisis data yang diperoleh pada

pengkajian, menginterpretasikannya secara akurat dan logis untuk

menegakkan diagnosa dan

masalah keperawatan yang tepat.

 Kriteria perumusan diagnosa dan atau masalah

o Diagnosa sesuai dengan nomenklatur keperawatan

o Masalah dirumuskan sesuai dengan kondisi klien

o Dapat diselesaikan dengan asuhan keperawatan secara

mandiri,
kolaborasi dan rujukan

STANDAR III: Perencanaan

 Pernyataan standar

Perawat merencanakan asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa dan

masalah yang ditegakkan.

 Kriteria perencanaan
o Rencana tindakan disusun berdasarkan prioritas masalah dan

kondisi klien, tindakan segera, tindakan antisipsi dan asuhan

secara komprehensif.

o Melibatkan klien / pasien dan keluarga

o Mempertimbangkan kondisi psikologi, sosial budaya klien

o Memilih tindakan yang aman sesuai kondisi dan

kebutuhan

klien berdasarkan evidence based dan memastikan bahwa asuhan

yang diberikan bermanfaat untuk klien

o Mempertimbangkan kebijakan dan peraturan yang berlaku, sumberdaya

serta fasilitas yang ada

STANDAR IV: Implementasi

 Pernyataan Standar

Perawat melaksanakan rencan asuhan keperawatan secara komprehensif.

Efektif, efisien dan aman berdasarkan evidence based kepada klien/pasien

dalam bentuk upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Dilaksanakan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan.

 Kriteria

o Memperhatikan keunikan klien sebagai makhluk bio-psiko-sosial –

spiritual

– kultural

o Setiap tindakan asuhan harus mendapatkan persetujuan dari klien

atau

keluarganya
o Melaksanakan tindakan asuhan berdasarkan evidence based

o Melibatkan klien dalam setiap tindakan

o Menjaga privacy klien

o Melaksanakan prinsip pencegahan infeksi

o Mengikuti perkembangan kondisi klien secara berkesinambungan o

Menggunakan sumberdaya, sarana dan fasilitas yang ada dan sesuai o

Melakukan tindakan sesuai standar

o Mencatat semua tindakan yang telah dilakukan

STANDAR V : Evaluasi

 Pernyataan Standar

Perawat melakukan evaluasi secara sistimatis dan berkesinambungan

untuk melihat kefektifan dari asuhan yang sudah diberikan sesuai dengan

perubahan

perkembangan kondisi klien.

 Kriteria evaluasi

o Penilaian dilakukan segera setelah selesai melaksanakan asuhan

sesuai

kondisi klien

o Hasil evaluasi segera dicatat dan didokumentasikan pada klien

o Evaluasi dilakukan sesuai dengan standar


o Hasil evaluasi ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi klien

STANDAR VI : Pencatatan asuhan keperawatan

 Pernyataan standar

Perawat melakukan pencatatan secara lengkap akurat, singkat, dan

jelas mengenai keadaan/kejadian yang ditemukan dan dilakukan dalam

memberikan

asuhan keperawatan.

 Kriteria pencatatan asuhan keperawatan

o Pencatatan dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan pada

formulir

yang tersedia

o Ditulis dalam bentuk catatan perkembangan SOAP S adalah data subyektif,

mencatat hasil anamnesa

O adalah data obyektif, mencatat hasil pemeriksaan

A adalah data hasil Analisis, mencatat diagnosa dan masalah

keperawatan P adalah penatalaksanaan

mencatat seluruh perencanaan dan

penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan

antisipatif, tindakan segera, tindakan secara komprehensif :

penyuluhan, dukungan, kolaborasi evaluasi / follow up dan rujukan.

Struktur Organisasi

Struktur organisasi merupakan susunan kepengurusan yang diletakkan

di dalam ruang perawatan dan bertujuan untuk memberikan informasi secara

jelas kepada pasien, keluarga, maupun pengunjung ruangan terkait


kepengurusan dan

pengelolaan ruangan.

Media informasi

Media informasi ini digunakan untuk pasien dan keluarga guna

memperoleh informasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan ruangan

maupun proses

perawatan pasien.

Kajian Data

 Struktur Organisasi

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, sudah terdapat

papan struktur organisasi di ruang DAHLIA 5, namun belum

dilakuakn

pembaharuan sesuai dengan struktur organisasi yang baru per Desember 2015.

 Media informasi

Media informasi untuk pasien baru di ruang MARWAH sudah ada

dalam bentuk leaflet, tetapi tidak disosialisaikan pada pasien. Orientasi

pasien baru biasanya dilakukan dengan mengumpulkan beberapa keluarga

pasien baru dan

disampaikan secara lisan dengan metode ceramah.

 SPO dan SAK

SPO dan SAK yang ada diruang Marwah bisa dilihat pada tabel di

bawah ini. Tindakan yang sering dilakukan di MARWAH antara lain

perawatan luka post operasi, pengambilan darah untuk cek laboratorium,

terapi intravena.
Tabel 18 Daftar Standar Prosedur Operasional (SPO) Gigi dan Mulut

RS. Harapan dan Doa Yogyakarta: Tanggal Terbit APRIL 2007

No Dokumen Judul SPO

Sumber: Pedoman Standar Prosedur Operasional Khusus Keperawatan Gigi dan

Mulut

RS. Harapan dan Doa 2007


Tabel 19
Daftar Standar Asuhan Keperawatan (SAK) Bedah RS. Harapan dan
Doa Yogyakarta 2009
No Judul SAK

1
2
3

Analisis

Ruang MARWAH sudah memiliki Standar Asuhan Keperawatan (SAK)

dan Standar Prosedur Operasional (SPO) di ruangan ini mengacu pada

Standar Asuhan Keperawatan (SAK) dan Standar Prosedur Operasional (SPO)

penyakit THT dan Gigi Mulut RS. Harapan dan Doa namun , SPO dan SAK

yang tersedia yaitu SPO 2007 dan SAK 2009. Selain itu, merujuk pada 10

besar penyakit tahun 2015 yang ada di ruang MARWAH, ketujuh penyakit

terbanyak sudah ada SAK nya, kecuali penyakit Massa colli, abses mandibula,

rinosinusitis kronik. Selain itu struktur organisasi belum diperbaharui.


Unsur Proses

Proses Asuhan Keperawatan

1 Instrumen A Standar Asuhan Keperawatan (SAK)

Kajian teori

Proses asuhan keperawatan adalah metode ilmiah dalam pemberian

asuhankeperawatan. Proses asuhan keperawatan juga merupakan proses

terapeutik yang melibatkan hubungan kerja sama antara perawat dengan klien,

keluarga dan atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal

(Carpenito, 1989 cit Keliat 1999). The Washington State Board Of Nursing

(Swansburg, 1996) menyebutkan definisi legal praktek keperawatan meliputi

observasi, pengkajian, diagnosis, asuhan atau konseling, dan penyuluhan

kesehatan kepada individu yang sakit, cedera, atau pemeliharaan kesehatan

atau pencegahan sakit yang dilaksanakan oleh perawat berlisensi. Pelaksanaannya

diterima dan disepakati oleh profesi keperawatan dan kedokteran. UU RI No. 23

tahun 1992 tentang Kesehatan dalam penjelasan pada Pasal 93 ayat 2

mendefinisikan standar profesi sebagai “pedoman yang harus dipergunakan

sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik” atau secara singkat

dapat dikatakan standar adalah pedoman kerja agar pekerjaan berhasil dan

bermutu. Berdasarkan alasan ini maka kehadiran Standar Asuhan Keperawatan

yang identik dengan standar profesi keperawatan, berguna sebagai kriteria

untuk mengukur keberhasilan dan mutu asuhan keperawatan.SAK terdiri dari 6

standar:

 Standar Pengkajian Keperawatan

 Standar Diagnosis Keperawatan


 Standar Perencanaan Keperawatan

 Standar Pelaksanaan / Intervensi

 Standar Evaluasi

 Standar Catatan Asuhan Keperawatan (Depkes RI, 1998).

Standar Asuhan Keperawatan tidak harus baku, melainkan sewaktu-waktu

dapat ditinjau kembali dan disesuaikan dengan perkembangan IPTEK

Kesehatankhususnya keperawatan, serta sistem nilai masyarakat yang berlaku.

Sistematika penyusunan Standar Asuhan Keperawatan (SAK) sebagai berikut:

 Standar Pengkajian Keperawatan

Asuhan keperawatan paripurna memerlukan data yang lengkap dan

dikumpulkan secara terus menerus, tentang keadaannya untuk menentukan

kebutuhan asuhan keperawatan. Data kesehatan harus bermanfaat bagi semua

anggota tim kesehatan. Komponen pengkajian keperawatan meliputi:

 Pengumpulan data dengan kriteria: o Menggunakan format yang ada o

Sistematis

o Diisi sesuai item yang tersedia

o Aktual (baru)

o Absah (valid)

 Pengelompokan data dengan kriteria:

o Data Biologis o Data Psikologis o Data Sosial

o Data Spiritual

 Perumusan masalah dengan kriteria:

o Kesenjangan antara status kesehatan dengan norma dan pola

fungsi
kehidupan.

o Perumusan masalah ditunjang oleh data yang telah dikumpulkan.

 Standar Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan dirumuskan berdasarkan data status kesehatan

pasien, dianalisis dan dibandingkan dengan norma fungsi kehidupan pasien

dengan kriteria:
 Diagnosa keperawatan dihubungkan dengan penyebab kesenjangan

dan

pemenuhan kebutuhan pasien.

 Di buat sesuai dengan wewenang perawat.

 Komponennya terdiri dari masalah, penyebab dan gejala/tanda (PES)

atau

terdiri dari masalah dan penyebab (PE).

 Bersifat aktual apabila masalah kesehatan pasien sudah nyata terjadi.

 Bersifat potensial apabila masalah kesehatan pasien

kemungkinan

besarakan terjadi.

 Dapat ditanggulangi oleh perawat.

 Standar Perencanaan Keperawatan

Perencanaan Keperawatan disusun berdasarkan diagnosa

keperawatan.

Komponen perencanaan keperawatan meliputi:

 Prioritas masalah dengan kriteria:

o Masalah-masalah yang mengancam kehidupan merupakan

priorias

pertama

o Masalah-masalah yang mengancam kesehatan seseorang

adalah

prioritas kedua

o Masalah-masalah yang mempengaruhi perilaku merupakan


prioritas

ketiga

 Tujuan asuhan keperawatan dengan kriteria;

o Spesifik

o Bisa diukur o Bisa dicapai o Realistik

o Ada batas waktu

 Rencana tindakan dengan kriteria;

o Disusun berdasarkan tujuan asuhan keperawatan

o Melibatkan pasien/keluarga

o Mempertimbangkan latar belakang budaya pasien/keluarga

o Menentukan alternatif tindakan yang tepat

o Mempertimbangkan kebijaksanaan dan peraturan yang

berlaku,

lingkungan, sumber daya dan fasilitas yang ada

o Menjamin rasa aman dan nyaman bagi pasien

o Kalimat perintah ringkas, tegas dengan bahasanya mudah

dimengerti.

 Standar Intervensi Keperawatan

Intevensi keperawatan adalah pelaksaaan rencana tindakan yang

ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara

maksimal yang mencakup aspek peningkatan, pencegahan,

pemeliharaan serta pemulihan kesehatan dengan mengikutsertakan

pasien dan keluarganya

dengan kriteria:
 Dilaksanakan sesuai dengan rencana keperawatan
 Menyangkut keadaan bio-psiko-sosio spiritual pasien

 Menjelaskan setiap tindakan keperawatan yang akan

dilakukan

kepadapasien/keluarga

 Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan

 Menggunakan sumberdaya yang ada

 Menerapkan prinsip aseptik dan antiseptic

 Menerapkan prinsip aman, nyaman, ekonomis, privacy dan

mengutamakan

keselamatan pasien

 Melaksanakan perbaikan tindakan berdasarkan respon pasien

 Merujuk dengan segera bila ada masalah yang

mengancam

keselamatanpasien

 Mencatat semua tindakan yang telah dilaksanakan

 Merapikan pasien dan alat setiap selesai melakukan tindakan

 Melaksanakan tindakan keperawatan berpedoman pada prosedur

teknis

yang telah ditentukan.

Intervensi keperawatan berorientasi pada 14 komponen keperawatan

dasar

yang meliputi :

 Memenuhi kebutuhan oksigen

 Memenuhi kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit


 Memenuhi kebutuhan eliminasi

 Memenuhi kebutuhan keamanan

 Memenuhi kebutuhan kebersihan dan kenyamanan fisik

 Memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur

 Memenuhi kebutuhan aktivitas dan kegiatan jasmani

 Memenuhi kebutuhan spiritual

 Memenuhi kebutuhan emosional

 Memenuhi kebutuhan komunikasi

 Mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis

 Memenuhi kebutuhan pengobatan dam membantu proses penyembuhan

 Memenuhi kebutuhan penyuluhan

 Memenuhi kebutuhan rehabilitasi

 Standar Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan dilakukan secara periodik, sistematis dan

berencanauntuk menilai perkembangan pasien, dengan kriteria;

 Setiap tindakan keperawatan dilakukan evaluasi

 Evaluasi hasil menggunakan indikator yang ada pada rumusan tujuan

 Hasil evaluasi segera dicatat dan dikomunikasikan

 Evaluasi melibatkan pasien, keluarga dan tim kesehatan

 Evaluasi dilakukan sesuai dengan standar

 Standar Catatan Asuhan Keperawatan

Catatan asuhan keperawatan dilakukan secara individual dengan kriteria:

 Dilakukan selama pasien dirawat inap dan rawat jalan

 Dapat digunakan sebagai bahan informasi, komunikasi dan laporan


 Dilakukan segera setelah tindakan dilaksanakan

 Penulisannya harus jelas dan ringkas serta menggunakan istilah yang

baku

 Sesuai dengan pelaksanaan proses keperawatan

 Setiap pencatatan harus mencantumkan initial/ paraf/ nama perawat yang

 Melaksanakan tindakan dan waktunya

 Menggunakan formulir yang baku

 Disimpan sesuai dengan peraturan yang berlaku (Depkes RI, 199)


Tabel 20. Pengkajian di Ruang Marwah RSUP dr Sardjito Tanggal 28-

30 Desember 2015 (n=7)

Aspek yang Nomer rekam medis Skor Interpretasi Catatan

No Dinilai
1 2 3 4 5 6 7
1. Pengkajian √ √ √ √ √ √ √ 7 Tercapai

lengkap maksimal penuh

2. 1 x 8 jam alergi
Pengkajian √ √ √ √ √ - √ 6 Terdapat satu rek

Tercapai medik yang ti

sebagian terdokumentasi
3. Pengkajian alasan √ √ √ √ √ √ √ 7 Tercapai
pengkajian alergi
masuk RS penuh
4. Pengkajian riwayat √ √ √ √ √ - √ 6 Terdapat satu rek

kesehatan medik yang ti

Tercapai terdokumentasi

sebagian pengkajian riway


5. Pemeriksaan fisik √ √ √ √ √ - √ 6 Terdapat satu rek
kesehatan
Tercapai medik yang ti

sebagian terdokumentasi
6. Pengkajian status √ √ √ √ √ √ √ 7 Tercapai
pemeriksaan fisik
fungsional penuh
7. Pengkajian status √ √ √ √ √ √ √ 7 Tercapai

psikososial sebagian
8. Pengkajian risiko √ √ √ √ √ - - 5 Terdapat dua rek

jatuh medik yang ti

Tercapai terdokumentasi

sebagian pengkajian resiko

jatuh
9. Pengkajian nutrisi √ √ √ √ √ √ √ 7 Tercapai

penuh
10. Pengkajian nyeri √ √ √ √ √ - √ 6 Tercapai Terdapat satu reka

sebagian medik yang tidak


terdokumentasi

pengkajian nyeri
11. Pengkajian √ √ √ √ - √ √ 6 Terdapat satu rek

dekubitus medik yang ti

Tercapai terdokumentasi

sebagian pengkajian
12. Pengkajian √ √ √ √ √ √ √ 7 Tercapai
dekubitus
kebutuhan edukasi penuh
13. Pengkajian √ √ √ √ √ √ √ 7

discharge planning Tercapai

dalam penuh
SUBTOTAL A 84 92,3%
2x24 jam
Tabel 21. Diagnosis di Ruang Marwah RSUP dr Sardjito Tanggal 28-30

Desember 2015 (n=7)

No Aspek yang Kode Rekam Medik Skor Interpretasi Catatan

Dinilai Pasien
1 2 3 4 5 6 7
1. Masalah √ √ √ √ √ √ √

keperawatan

dirumuskan sesuai Tercapai

dengan hasil 7 penuh


2. Masalah - √ √ √ √ √ √ 6 Tercapai
pengkajian
dirumuskan sebagian

berdasarkan
NANDA
3. Masalah utama √ √ √ √ √ √ √

ditetapkan Tercapai

maksimal 1x 24 7 penuh
SUBTOTAL B 20 95,2%
jam
Sumber: Data Primer Studi Dokumentasi Mahasiswa PSIK UGM, 2015
Tabel 22. Rencana Tindakan di Ruang Marwah RSUP dr Sardjito Tanggal

28-30

Desember 2015 (n=7)

N Aspek yang Kode Rekam Medik Pasien Skor Interpretasi Catatan


1 2 3 4 5 6 7
o Dinilai
1. Tujuan terukur √ √ √ √ √ √ √

ditetapkan Tidak

maksimal 1x 24 7 tercapai
2. Rencana √ - √ √ √ - √
jam
tindakan

menggambarka

n cara mengatasi 5 Tercapai

masalah pasien sebagian


3. Rencana utama √ √ √ √ √ √ √ 7 Tercapai
ditetapkan

maksimal 1x24 penuh

4. jam
Discharge √ √ √ √ √ √ √

planning

direncanakan Tercapai

sejak pasien 7 penuh


SUBTOTAL C 26 92,8%
Sumber: dirawat
Data Primer Studi Dokumentasi Mahasiswa PSIK UGM, 2015

Tabel 23. Tindakan di Ruang Marwah RSUP dr Sardjito Tanggal 28-30 Desember

2015 (n=7)

Aspek yang Kode Rekam Medik Pasien Interpretas Catatan

No Dinilai Skor i
1 2 3 4 5 6 7
Perawat √ √ √ √ √ √ √ Tercapai

memberikan penuh

penjelasan

tentang hak

dan kewajiban

pasien dalam

1. waktu 1 x 24 7
2. Melaksanaka √ √ √ √ √ √ √ 7 Tercapai
jam
n pengukuran penuh

dan tanda

vital (suhu,
nadi,

kecepatan

respirasi,

tekanan darah,

dan

skala nyeri)

sesuai dengan
Melaksanaka √ √ √ √ √ √ √ Tercapai
kondisi
3. n monitoring 7 penuh
pasien
asupan nutrisi √
Melaksanaka √ √ √ √ √ √ Tercapai

n pemberian penuh

4. obat sesuai 7
Melaksanaka √ √ √ √ √ √ √ Tercapai
order
5. n monitoring 7 penuh

reaksi obat
Melaksanaka √ √ √ √ √ - - Tercapai

n monitoring sebagian

pasien dengan

risiko jatuh/

risiko bunuh

diri/ risiko

mencederai

diri atau

6. orang lain 5

(sesuai

karakteristik

pasien)
7. Melaksanaka √ √ √ √ √ √ √ Tercapai

n monitoring 7 penuh

8. Melaksanaka √
decubitus √ √ √ √ √ √ 7 Tercapai
n tindakan penuh

sesuai

9. rencana
Melaksanaka - - - - √ √ √ 3 Tercapai

n edukasi pada sebagian

pasien dan

keluarga

10. tentang nyeri √


Melaksanaka √ √ √ √ √ √ Tercapai

n edukasi penuh

pada pasien

dan keluarga

tentang cara 7

11. penggunaan √
Melaksanaka √ √ √ √ √ √ Tercapai

obat edukasi
n penuh

pada pasien

dan keluarga

tentang

pemakaian 7
12. Melaksanaka - - - - - - √ Tercapai
gelang
n edukasi sebagian
identitas
pada pasien

dan keluarga 1

tentang

infeksi
13. Melaksanaka √ √ √ √ √ √ √ 7 Tercapai

n edukasi penuh

pada pasien

dan keluarga

tentang
penggunaan

alat bantu
14. Melaksanaka √ √ √ √ √ √ √ Tercapai

n edukasi penuh

pada pasien

dan keluarga

tentang 7

Discharge SUBTOTAL D 86 87,7%


Sumber: Data Primer Studi Dokumentasi Mahasiswa PSIK UGM, 2015
planning

Tabel 24. Evaluasi di Ruang Marwah RSUP dr Sardjito Tanggal 28-30

Desember 2015 (n=7)

No Aspek yang Kode Rekam Medik Pasien Skor Interpretasi Catata


1 2 3 4 5 6 7
Dinilai n
Evaluasi hasil √ √ √ √ √ √ √

dilaksanakan

minimal 1x

1. per hari dan 7 Tercapai

perubahan penuh

kondisi
Evaluasi √ √ √ √ √ √ √

proses

merupakan

bagian yang

tidak dapat Tercapai

2. dipisahkan 7 penuh
3. Discharge √ √ √ √ √ √ √ 7 Tercapai
dari
planning penuh
implementasi
dilengkapi

pada saat
pasien akan

pulang

SUBTOTAL E 21 100%
Sumber: Data Primer Studi Dokumentasi Mahasiswa PSIK UGM, 2015

Tabel 25. Catatan Asuhan Keperawatan di Ruang Marwah RSUP dr Sardjito

Tanggal

28-30 Desember 2015 (n=7)

No Aspek yang Kode Rekam Medik Pasien Skor Interpretas Catatan


1 2 3 4 5 6 7
Dinilai i
Pencatatan √ √ √ √ √ √ √

ditulis

menggunakan Tercapai

1. formulir yang 7 penuh


Pencatatan √ √ √ √ √ √ √
baku
ditulis dengan

jelas, ringkas,

istilah dan Tercapai

2. singkatan yang 7 penuh

3. baku
Setiapdan √ √ - √ √ √ √ 6 Tercapai

benar
dokumentasi sebagian

keperawatan

mencantumka
n paraf/nama

jelas, tanggal

dan jam

dilakukannya
SUBTOTAL F 20 95,2%
tindakan
Sumber: Data Primer Studi Dokumentasi Mahasiswa PSIK UGM, 2015

Nilai Rata-Rata Studi Dokumentasi Standar Asuhan Keperawatan di Ruang

Marwah RSUP dr Sardjito Tanggal 29 Desember 2015 adalah sebagai berikut:

TOTAL (Nilai Skor Subtotal A+ B+C+D+E+F)


PRESENTASE = X
100%
Nilai skor maksimal x Jumlah aspek yang dinilai

84+20+31+86+21+20

PRESENTASE = X 10 0%
7 X 40

PRESENTASE = 93,57%
Analisa Data

Persentase proses asuhan keperawatan di Ruang Dahlia 5 sebesar 93,57%.

Berdasarkan data yang didapat, maka dapat dilakukan analisis sebagai berikut:

 Diagnosa keperawatan secara umum sudah berdasarkan NANDA, namun diagnosa

aktual masih belum ditegakkan bersama etiologinya. Masalah utama sudah

ditetapkan maksimal 1x24 jam. Diagnosa yang ditemukan di antaranya: cemas,

nyeri, risiko infeksi, proteksi

tidak efektif, nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

 Perencanaan sudah ditetapkan sesuai dengan diagnosa dengan tujuan belum

terukur (jika dinilai berdasarkan SMART) yang ditetapkan maksimal 1x24 jam,

namun rencana tersebut belum mampu mengukur sejauh mana masalah

terselesaikan. Sebagian besar pengkajian discharge planning sudah

direncanakan sejak pasien dirawat. Implementasi keperawatan sudah dilakukan,

namun saat tindakan masih sering ditemukan kurang sesuai dengan SOP terutama

tekait dengan pemakaian APD, penerapan cuci tangan dan peralatan yang

kurang disiapkan dengan lengkap. Pada sebagian data didapatkan bahwa

kegiatan monitoring pada mutu klinik sudah terisi. Selain itu, edukasi mengenai

nyeri, gelang identitas, pengendalian infeksi, penggunaan alat bantu, hak dan

kewajiban pasien, discharge planning perlu ditingkatkan dan

didokumentasikan secara tepat pada

lembar/berkas yang ada.

 Evaluasi secara umum catatan rekam medis pasien sudah dilakukan dengan baik.

Evaluasi

yang digunakan perawat adalah menggunakan sistim SOAP.


 Pendokumentasian secara umum telah dilakukan dengan baik dengan

menggunakan formulir yang baku, telah dicatat dengan jelas, ringkas, istillah dan

singkatan yang baku dan benar serta telah mencantumkan paraf ,tanggal dan jam

tindakan pada dokumentasi keperawatan. Namun masih ditemukan adanya

dokumentasi pada evaluasi SOAP yang belum mencantumkan jam.

7) Instrumen C

a Pelaksanaan Asuhan Keperawatan

Kajian Teori

Standar praktek keperawatan adalah ekspektasi minimal dalam

memberikan asuhan keperawatan yang aman, efektif dan etis (PPNI, 1999).

Pada dasarnya ada tiga sumber informasi utama, untuk mengembangkan

standar yaitu: penelitian, keputusan kelompok ahli/spesialis, observasi cara

praktek keperawatan aktual. Kriteria kualitas asuhan keperawatan mencakup:

aman, akurasi, kontuinitas, efektif biaya, manusiawi dan memberikan harapan

yang sama tentang apa yang baik bagi perawat dan pasien. Standar

1
menjamin perawat mengambil keputusan yang layak dan wajar dan

melaksanakan

intervensi–intervensi yang aman dan akuntabel.

Tujuan standar praktek keperawatan menurut Gillies (1989) adalah

untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan, mengurangi biaya asuhan

keperawatan dan melindungi perawat dari kelalaian dalam melaksanakan tugas

dan melindungi pasien dari tindakan yang tidak terapeutik. Ruang lingkup standar

praktik keperawatan menurut PPNI

(1999):

 Standar I : Ilmu Pengetahuan

 Standar II : Akuntabilitas professional

 Standar III : Pengkajian

 Standar IV : Perencanaan

 Standar V : Pelaksanaan

 Standar VI : Evaluasi

Standar intervensi keperawatan di rumah sakit mengacu pada teori

kebutuhan dasar manusia yang dikemukakan oleh Handerson, yang terdiri dari

14 kebutuhan dasar

manusia, yaitu:

 Memenuhi kebutuhan oksigen

 Memenuhi kebutuhan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit

 Memenuhi kebutuhan eliminasi

 Memenuhi kebutuhan keamanan

 Memenuhi kebutuhan kebersihan dan kenyamanan fisik


 Memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur

 Memenuhi kebutuhan gerak dan kebutuhan jasmani

 Memenuhi kebutuhan spiritual

 Memenuhi kebutuhan emosional

 Memenuhi kebutuhan komunikasi

 Mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis

 Memenuhi kebutuhan pengobatan dan membantu proses penyembuhan

 Memenuhi kebutuhan pendidikan kesehatan/penyuluhan

 Memenuhi kebutuhan rehabilitasi

Berdasarkan nilai observasi selama 3 hari dari tindakan pelaksanaan

keperawatan

yang dilakukan di ruangan, maka dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel 26. Nilai Rata-Rata Penilaian Observasi Pelaksanaan Tindakan

Keperawatan di

Ruang Marwah

No Perasat F Nilai rata- Keterangan

rata (%)
1. Penerimaan pasien 3 100% Selama 3 hari observasi terdapat 3 pasien

baru baru masuk ruang Cendana 5. Perawat jaga

sudah melaksanakan penerimaan pasien

baru sesuai SPO.


2
2. Observasi kesadaran 3 100% Selama observasi didapatkan sebanyak

umum 100% perawat telah melakukan observasi

3. Pemenuhan kebutuhan - TDD kesadaran


Selama umum sesuai
observasi SPO.
tidak didapatkan perawat

BAB dan BAK pasien yang sedang melakukan pemenuhan

4. Penggantian alat tenun - TDD kebutuhanobservasi


Selama BAB dan BAK pasien.didapatkan
tidak

kotor pada tempat tidur perawat yang sedang melakukan

tanpa mengganti alat tenun kotor pada tempat


5. Pengukuran vital sign - TDD Selama observasi vital sign dilakukan oleh
memindahkan pasien tidur.
(tekanan darah, nadi, koas.

respirasi, suhu, dan


6. Pemasangan infus 1 100% Selama observasi didapatkan sebanyak
nyeri)
100 % perawat melakukan pemasangan

7. Pemberian cairan infus 1 100% infus


Selamasesuai SOP.
observasi didapatkan sebanyak

intravena 100% perawat telah melakukan pemberian

cairan infus intravena sesuai SPO, akan

tetapi terdapat beberapa item yang masih

perlu ditingkatkan di antara pemberian


8. Penghitungan tetesan 2 100% Selama observasi didapatkan sebanyak
label pada cairan infus.
infuse 100% perawat telah melakukan

9. Pemberian suntikan 2 50% penghitungan


Selama tetesan didapatkan
observasi infus sesuai SPO.
sebanyak

intravena 50% perawat telah melakukan pemberian

10. Pemberian suntikan - TDD suntikan intravena


Selama observasisesuaitidak
SPO. didapatkan

subkutan perawat yang sedang melakukan

melakukan pemberian suntikan subkutan.


11. Pemberian obat per 1 100% Selama observasi didapatkan sebanyak

oral 100% perawat telah melakukan pemberian

12. Perawatan luka - TDD obat per oral


Selama sesuai SPO.tidak
observasi didapatkan

perawat yang sedang melakukan

3
perawatan luka.
13. Pelatihan teknik napas - TDD Selama observasi tidak didapatkan

dalam perawat yang sedang melakukan pelatihan

14. Perekaman EKG - TDD teknik napas


Selama dalam pada tidak
observasi pasien. didapatkan

perawat yang sedang melakukan

15. Pengaturan posisi 3 100% perekamanobservasi


Selama EKG. didapatkan sebanyak

(posisi sims, posisi 100% perawat telah melakukan pengaturan

16. semifowler)pemindahan -
Bantuan TDD posisi sesuai
Selama SPO.
observasi tidak didapatkan

pasien dari tempat perawat yang sedang membantu pasien

tidur ke kursi roda dan pindah dari tempat tidur ke kursi roda dan
17. Pengambilan sampel 3 100% Selama observasi didapatkan sebanyak
sebaliknya sebaliknya.
laboratorium 100% perawat telah melakukan

pengambilan sampel laboratorium sesuai


18. Pengkajian resiko jatuh 7 71,42% Selama observasi didapatkan sebanyak
SPO.
100% perawat telah melakukan pengkajian

19. Pencegahan dan 4 75% untuk resiko


Selama jatuh sesuai
observasi SPO.
didapatkan sebanyak

penanganan resiko 80% perawat melakukan pencegahan dan

jatuh penanganan resiko jatuh sesuai SPO. 20 %

perawat cenderung tidak menaikkan side

rail saat operan/post tindakan. Akan tetapi

terdapat beberapa item yang masih perlu


Rata-rata 90,58%
ditingkatkan yaitu pemberian label/sticker
Analisis Data
resiko jatuh di gelang pasien
Hasil observasi pada pelaksanaan tindakan keperawatan di Ruang Marwah
sebesar 90,58 %. Nilai rerata tersebut dapat dipengaruhi oleh tindakan yang

dilakukan. Tindakan yang dilakukan bukan merupakan tindakan yang harus rutin

dilakukan di ruangan.Tindakan yang dilakukan di ruangan disesuaikan dengan

kebutuhan pasien. Observasi dilakukan dengan menggunakan “Instrumen Evaluasi

Observasi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan

4
menggunakan instrument C”. Tindakan yang perlu dioptimalkan adalah

pemasangan infus, pemberian label pada cairan infus, pemberian suntikan

intravena, serta pencegahan dan penanganan resiko jatuh.

b) Pelaksanaan PPI

Kajian Teori

Universal precaution atau kewaspadaan universal adalah suatu

pedoman yang ditetapkan oleh Center for Disease Control (CDC) tahun

1989 untuk mencegah penyebaran dari berbagai penyakit yang yang

ditularkan melalui darah di lingkungan Rumah Sakit maupun sarana

kesehatan lainnya (RSUP. dr. Sardjito, 2004).

Upaya pokok pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) berorientasi

pada kewaspadaan standard (standard precaution) yang merupakan

gabungan kewaspadaan universal (universal precaution) dan BSI (Body

Substance Isolation) yang keduanya merupakan pedoman penyakit yang

menular melalui cairan tubuh khususnya darah (Pedoman PPI RSUP dr

Sardjito, 2008).

Upaya pencegahan dan pengendalian infeksi dirancang untuk

memutus siklus penularan penyakit dan memberikan perlindungan pasien,

petugas kesehatan, pengunjung, dan masyarakat. Komponen standard

kewaspadaan meliputi:

 Mencuci tangan

 Penggunaan sarung tangan

 Penggunaan pelindung wajah

 Penggunaan gaun/ apron


 Pengelolaan alat perawatan pasien

 Pengelolaan linen

 Pengelolaan kebersihan lingkungan

 Pengelolaan alat tajam

 Resusitasi cairan

 Penempatan pasien

Tabel 27. Pelaksanaan Kewaspadaan Standar di Marwah RS. Harapan dan

Doa Daftar Tilik Ketepatan Petugas Dalam Hand Hygiene

DR CLEANI MAHASIS

DR RESID PERAW NG WA

PETUGAS YANG AHLI EN AT (n=3) PH SERVIC PRAKTE KE

DIAMATI (n=0) (n=1) (n=0) E K T


KRITERIA Y TD Y TD Y TD Y TD YA TD YA TD
(n=0) (n=0 )
OBSERVASI A K A K A K A K K K

5
A HAND

. RUBBING

1 Sebelum

Kontak - - - - - 3 - - - - - -

Pasien
2 Sebelum
Langsung
Tindakan - - - - - - - - - - -

3 Asepsis
Setelah

Kontak

Cairan - - - - - - - - - - -
4 Setelah
Tubuh
Kontak - - - - 2 - - - - - -

5 Pasien
Setelah

Kontak

Lingkungan

Sekitar - - 1 1 - - - - - -
6 Sebelum/
Pasien
Setelah

Pakai Sarung

Tangan - - - - 2 - - - - - -
Total - - 0 1 5 3 - - - - - -

Kesempatan
Proporsi 50% -

Ketepatan
B HAND - - - - - 3 - - - - - -

. WASHING

1 Sebelum

Kontak

Pasien

Langsung
6
2 Sebelum

Tindakan - - - - - - - - - - - -

3 Asepsis
Setelah

Kontak

Cairan - - - - - - - - - - - -
4 Setelah
Tubuh
Kontak - - - - - - - - - - - -

5 Pasien
Setelah

Kontak

Lingkungan

Sekitar - - - 1 1 2 - - - - - -
6 Sebelum/
Pasien
Setelah

Pakai Sarung

Tangan - - - - 1 2 - - - - - -
Total 2 7

Kesempatan
Proporsi 50%

Ketepatan
Analisis Data

Kepatuhan petugas dalam hand hygiene keseluruhan ratarata tergolong dalam

kategori kurang (50 %). Kepatuhan petugas dalam hand washing keseluruhan

ratarata tergolong dalam kategori kurang (50 %). Beberapa hal seperti,

penempatan tempat sampah dan ketersedian ruang persiapan perlu

dioptimalkan. Kewaspadaan standar dalam merawat pasien dengan tujuan

mencegah dan memutus rantai infeksi berjalan baik.


Tabel 28. Pelaksanaan Kewaspadaan Standar di Ruang Marwah

RS. Harapan dan Doa Tanggal 28-30 Desember 2015

N INDIKATOR YA TIDA KETERANGAN

O K
A. PENAMPILAN PERSONAL
1. Mengenakan seragam sesuai ketentuan, ID √

7
card, pakaian bersih, rambut rapi
2. Kuku pendek, bersih, tidak memakai √

asesoris tangan saat bertugas


Persentase 100%
B. KEBERSIHAN TANGAN
1. Ketersediaan handrub √
2. Ketersediaan sabun cuci tangan √
3. Ditulis tanggal buka di label BMHP HH √
4. Ketersediaan tisu pengering √ Tisu pengering tidak

ada di semua wastafel


5. Tidak ada handuk tergantung di ruang √
6. Semua wastafel berfungsi baik, bersih √
7. Ketepatan HH petugas √ Tidak semua petugas

menerapkan HH pada

setiap tindakan ke
Persentase 85,72
pasien.
%
C. ALAT PELINDUNG DIRI (APD)
KETERSEDIAAN APD (sesuai kebutuhan ruangan)
1. Sarung tangan √
2. Apron/gaun √
3. Masker bedah √
4. Masker N95 √ Masker N95 tidak

menjadi kebutuhan

5. Topi √ utama ruangan


6. Google √
7. Sepatu boot √
Persentase 100%
KETEPATAN PEMAKAIAN APD (sesuai analisis resiko)
1. Sarung tangan √
2. Apron/gaun -
3. Masker bedah √
4. Masker N95 -
5. Topi -
6. Google -
7. Sepatu boot -
Persentase 100%
PENYIMPANAN APD
1. Penyimpanan di ruang khusus √
2. Penyimpanan dalam almari khusus, terjaga √

bersih
Persentase 100%

8
D. PEMBUANGAN SAMPAH/LIMBAH/BENDA TAJAM
1. Tersedia cukup tempat sampah sesuai √

jenisnya
2. Penempatan sampah/limbah sesuai √

jenisnya tepat/tertib
3. Tidak ada tempat sampah terbuka √
4. Ketersediaan container benda tajam sesuai √

standar
5. Penempatan tempat sampah tidak di dekat √

barang bersih
6. Sampah dibuang setelah terisi ¾ √
Persentase 66,67

%
E. KEBERSIHAN RUANG RAWAT
1. Pembersihan permukaan dengan √

desinfektan standar RS
2. Desinfeksi area perawatan dengan khlorin √

0,05% atau desinfektan lain sesuai standar

3. ISLRS
Pembersihan tempat tidur dan kasur pasca √

pakai
4. Tempat tidur pasien bersih tidak berdebu √
5. Kasur bersih dan vinil intak (tidak √

berlubang)
6. Tidak ada sisa makanan/kotoran menempel √

di lingkungan
7. Linen bersih, rapi dan terpasang kencang √
8. Bantal, restrain bersih √
9. Meja pasien bersih, tidak berdebu, barang √

seperlunya
10. Ruang persiapan bersih dan tidak berdebu √
11. Tidak ada sapu ijuk untuk pembersihan √

ruang perawatan
12. Tidak ada kemoceng/sulak/penebah/seblak √

untuk pembersihan
13. Lingkungan bersih, tidak ada ember √

penampung, dll container sejenis yang

14. tidak standar


Mebeler/kursi/sofa tidak ada yang robek √
Persentase 92,86

9
F. ALAT KESEHATAN
1. Alat kesehatan/keperawatan bersih, tidak √ Beberapa standar infuse

berkarat, dll (kursi roda, brancard, troli berkarat, besi kursi roda

pengobatan, standar infuse, syringe pump, bagian bawah dan r

infuse pump, EKG, suction pump, tabung

oksigen/oksigen dinding, humidifier,


2. Ada jadwal & bukti pembersihan alat-alat √
pispot, urinal)
tersebut
PEMBERSIHAN ALAT KEPERAWATAN
3. Stetoskop didesinfeksi alcohol 70% antar √

pasien
4. Manset tensimeter dicuci sekali seminggu √

atau setiap kali terkena darah/cairan tubuh

5. segera
Ambubagdicucidilakukan DTT/steril setiap √

ganti pasien
6. Thermometer diusap alcohol 70% setiap √

ganti pasien
7. Syringe pump diusap alcohol 70% setiap TDD

habis pakai
8. EKG : cas electrode diusap alcohol 70% TDD

setiap habis pakai


9. Kursi roda diusap permukaan khlorin √

0,05% setiap habis digunakan


10. Brandcart diusap permukaan chlorine √

0,05% setiap habis digunakan


11. Tabung oksigen diusap permukaan dengan √

chlorine 0,05% sekali sehari


12. Pispot dibersihkan dengan rendam klorin √

0.5%
Persentase 60%
G. PENGELOLAAN LINEN
1. Tersedia kereta linen kotor infeksius- non √

infeksius
2. Penempatan linen infeksius dalam √

container atau ember berlapis plastic warna

3. Penempatan linen kotor infeksius dan non √


kuning

10
infeksius tanpa mengkontaminasi

lingkungan
4. Petugas menggunakan APD saat √

mengelola linen kotor dan melepasnya saat

5. melakukan transportasi
Transportasi linen menggunakan √
linen ke binatu

troli linen kotor dengan kantong linen

berplisir merah. Linen bersih dibawa

dengan troli dan kantong linen berplisir


6. Penyimpanan linen bersih dalam almari √ Terdapat linen bersih di
biru
bersih, kering dan bertutup dalam troli di dekat

tempat sampah medis


Persentase 83,33
dan non medis.
%
H. KEAMANAN MEDIKASI
1. Obat oral (ed. Penyimpanan, labeling, dan √

lain lain)
2. Obat parenteral (ed, penyimpanan, √

pencampuran, dll)
3. O2 (isi, dll) √
4. AMHP (steril/bersih, packing, √

penyimpanan, ed)
Persentase 100%
I. ALAT SINGLE USE YANG DI-REUSE
1. Penggunaan alat re-used sesuai dalam √

daftar alat re-used di rumah sakit (bagi

2. yang menggunakan
Sudah alat re-used) pelabelan, √
dilakukan monitoring

batas ed, alat-alat yang di re-used


3. Monitoring pasien yang menggunakan √

alat-alat re-used dilakukan perawat dan

dokter
Persentase 66,67

%
J. PENCATATAN PELAPORAN
1. Pengawasan, resiko kejadian IRS pada √

seluruh pasien rawat inap

11
2. Dilakukan entry data hasil pengamatan √

surveillans IRS melalui system, tepat

3. waktu
Laporan penggunaan AMHP- BMHP √

setiap bulan tepat waktu


Persentase 100%
K. PENGELOLAAN ALAT
1. Proses perendaman/pembersihan √

instrumen sesuai dengan SPO


2. Hasil pencucian bersih (dilihat secara √

visual)
3. Proses DTT sesuai SPO √
4. Alat atau instrumen yang akan disterilkan √

ditempatkan dalam wadah tertutup


5. Penyimpanan alat atau instrumen steril √

pada tempat yang kering, bersih dan

6. terpisah dari alat


Penempatan atau instrumen
barang bersih dan kotor √
non steril

dipisahkan
Persentase 100%
Analisis Data

Kepatuhan petugas dalam hand hygiene keseluruhan rata-rata tergolong

dalam kategori sangat baik (85,72 %). Beberap hal seperti penempatan tisu

pengering dan penempatan sampah medis di dekat linen bersih perlu

diperhatikan ulang. Kewaspadaan standar dalam merawat pasien dengan tujuan

mencegah dan memutus rantai infeksi berjalan baik.

c) Pelaksanaan Patient Safety

Kajian Teori

Solusi keselamatan pasien adalah sistem atau intervensi yang dibuat,

mampu mencegah atau mengurangi cedera pasien yang berasal dari proses

pelayanan kesehatan. Patient safety merupakan salah satu komponen penting


dalam proses pelayanan kesehatan. Dalam rangka JCI, RS. Harapan dan Doa

mengadopsi standar internasional keselamatan pasien atau International Patient

Safety Goals (IPSG). Dalam IPSG terdapat 6 sasaran meliputi:

Tabel 29. Standar internasional keselamatan pasien atau International Patient

Safety

Goals (IPSG)

SASARAN I : Mengidentifikasi Pasien dengan Benar

12
Standar IPSG I : rumah sakit menyusun pendekatan untuk memperbaiki ketepatan identifikasi

pasien

Elemen Penilaian IPSG I

1. Pasien diidentifikasi dengan menggunakan dua pengidentifikasianpasien, tidak termasuk

penggunaan nomor kamar pasien atau lokasi

2. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk darah

3. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lainuntuk uji klinis
SASARAN II : Meningkatkan Komunikasi yang Efektif
Standar IPSGdiidentifikasi
4. Pasien II : rumah sebelum
sakit menyusun pendekatan
pemberian perawatanagar komunikasi di antara para petugas
dan prosedur
pemberi perawatan
5. Kebijakan dansemakin efektif
prosedur mengupayakan tercapainya konsistensi dalamsegala situasi dan
Elemen Penilaian IPSG II
lokasi
1. Perintah lengkap, lisan dan via telepon, atau hasil tes dicatat si penerima

2. Perintah lengkap, lisan dan via telepon, atau hasil tes dibaca-ulang si penerima

3. Perintah
SASARAN IIIdan hasil tes dikonfirmasikan
: Meningkatkan oleh individu
Keamanan Obat-obatan si pemberi
yang perintah atau hasil tes
Harus Diwaspadai
Standar IPSG III : rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk memperbaiki keamanan obat-
4. Kebijakan dan prosedur disusun agar verifikasi tepat-tidaknya komunikasi lisan dan via
obat yang harus diwaspadai (high-alert)
telepon dijalankan secara konsisten
Elemen Penilaian IPSG III

1. Kebijakan dan/atau prosedur disusun untuk mengatasi masalah identifikasi, lokasi,

pemberian label, dan penyimpanan obat yang patut diwaspadai

2. Kebijakan dan/atau prosedur ini diterapkan

3. Elektrolit konsentrat tidak boleh ada di unit perawatan pasien kecuali jika secara klinis
SASARAN IV : Memastikan Lokasi Pembedahan yang benar, Prosedur yang benar,
diperlukan
Pembedahan pada Pasien yang benar
4. Elektrolit konsentrat yang disimpan di unit perawatan pasien diberi label jelas dan

disimpan sedemikian rupa hingga tidak mudah mudah diakses


Standar IPSG IV : rumah sakit menyusun pendekatan untuk memastikan lokasi pembedahan

yang benar, prosedur yang benar, pembedahan pada pasien yang benar.

Elemen Penilaian IPSG IV

1. Rumah sakit menggunakan tanda yang langsung dikenali untuk mengidentifikasi lokasi

pembedahan dan melibatkan pasien dalam proses pemberian tanda

2. Rumah sakit menggunakan daftar atau proses lain untuk sebelum operasi untuk
13
memverifikasi apakah lokasinya, prosedur, dan pasien sudah benar dan bahwa seluruh
dokumen dan perawatan yang dibutuhkan

3. Tim bedah lengkap melakukan dan mendokumentasi prosedur jeda sesaat sebelum

memulai prosedur pembedahan

4. Kebijakan dan prosedur disusun sedemikian sehingga semua proses seragam sehingga
SASARAN V : Mengurangi Risiko Infeksi Akibat Perawatan Kesehatan
dapat dipastikan lokasi benar, prosedur benar, dan pasien juga benar, termasuk prosedur
Standar IPSG V : rumah sakit menyusun pendekatan untuk mengurangi risiko infeksi akibat
medis dan gigi yang dilakukan tidak di ruang operasi.
perawatan kesehatan

Elemen Penilaian IPSG V

1. Rumah sakit telah mengadopsi atau mengadaptasi panduan kebersihan tangan yang baru

diterbitkandan umumnya diterima Rumah sakit mengimplementasikan program kebersihan

tangan yang efektif


SASARAN VI : Pengurangan Risiko pasien Jatuh
2. Kebijakan
Standar dan/atau
IPSG VI prosedur
: rumah sakit yang dikembangkan
mengembangkan yangpendekatan
suatu mendukunguntuk
secaramengurangi
terus-menerus
risiko

pengurangan
pasien dari cederainfeksi
karenaterkait
jatuh dengan perawatan kesehatan

Elemen Penilaian IPSG VI

1. Rumah sakit menerapkan proses dilakukannya penilaian awal pasien akan risikonya

terjatuh dan dilakukannya penilaian ulang pada pasienbilaantara lain, terlihat adanya

perubahan kondisi atau obat-obatan

2. Dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi risiko jatuh bagi merekayang dinilai berisiko

3. Usaha-usaha itu dipantau untuk dilihat keberhasilannya dalam upayamengurangi cedera

akibat jatuh dan konsekuensi lainnya yang tidakdiperhitungkan sebelumnya

4. Kebijakan dan/atau prosedur mengarah pada pengurangan secarakontinyu risiko pasien

cedera akibat jatuh di rumah sakit

Tabel 30. Pelaksanaan International Patient Safety Goals (IPSG) di Ruang


Marwah RS. Harapan dan Doa Tanggal 28-30 Desember

2015

No Indikator Pelaksanaan Keterangan


Ya Tidak
1. SASARAN I : Mengidentifikasi Pasien dengan Benar

14
a. Pasien diidentifikasi dengan menggunakan Perawat hanya

dua pengidentifikasian pasien, tidak memanggil nama pasien

termasuk penggunaan nomor kamar pasien dan menanyakan nama

atau lokasi sebelum melakukan

tindakan (satu

√ pengidentifikasian)

tanpa melihat gelang


b. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian Perawat
pasien.
obat,darah, atau produk darah mengidentifikasi order

obat yang harus

diberikan kepada pasien

√ melalui label yang ada

di obat dan catatan order


c. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil Pasien diidentifikasi
dari
darah dan spesimen lain untuk uji klinis kebenaran pasien
dokter.
√ melalui nama saja

(tanpa melihat gelang).


d. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian Dilakukan identifikasi

perawatan dan prosedur √ pada pasien dan

dijelaskan tujuan dari


e. Kebijakan dan prosedur mengupayakan √ Perawatan tidak selalu
tindakan perawatan
tercapainya konsistensi dalam segala situasi melakukan identifikasi

dan lokasi. pasien dengan lengkap,

akan tetapi prosedur

tindakan dilakukan
Persentase 60%
dengan cenderung baik.
2. SASARAN II : Meningkatkan Komunikasi yang Efektif

15
a. Perintah lengkap, lisan dan via telepon, atau √ Perawat

hasil tes dicatat si penerima mengkonfirmasi

kembali informasi yang


b. Perintah lengkap, lisan dan via telepon, atau √ Perawat membaca ulang
diterima.
hasil tes dibaca-ulang si penerima apabila kurang

c. Perintah dan hasil tes dikonfirmasikan oleh √ jelas terdengar.

individu si pemberi perintah atau hasil tes


d. Kebijakan dan prosedur disusun agar √ Perawat

verifikasi tepat-tidaknya komunikasi lisan mengkonfirmasi

dan via telepon dijalankan secara konsisten kembali informasi yang


Persentase 100%
diterima.
3. SASARAN III : Meningkatkan Keamanan Obat-obatan yang Harus Diwaspadai
- Kebijakan dan/atau prosedur disusun untuk √ Label di kotak

mengatasi masalah identifikasi, lokasi, penyimpanan obat

pemberian label, dan penyimpanan obat belum terpasang dengan

yang patut diwaspadai konsisten.

- Kebijakan dan/atau prosedur ini diterapkan

- Elektrolit konsentrat tidak boleh ada di unit

perawatan pasien kecuali jika secara klinis √

diperlukan √

- Elektrolit konsentrat yang disimpan di unit 75%


Persentase
4. SASARAN IV : Memastikan Lokasi Pembedahan yang benar, Prosedur yang benar,
perawatan pasien diberi label jelas dan
Pembedahan pada Pasien yang benar
a. disimpan
Rumah sedemikian
sakit menggunakan tanda
rupa hingga yang √
tidak

langsung
mudah diakses. dikenali untuk √

mengidentifikasi lokasi pembedahan dan

melibatkan pasien dalam proses

pemberian tanda
b. Rumah sakit menggunakan daftar atau √

proses lain untuk sebelum operasi

16
untuk memverifikasi

c. Apakah lokasinya, prosedur, dan pasien √

sudah benar dan bahwa seluruh

dokumen dan perawatan yang


d. Tim bedah lengkap melakukan dan √
dibutuhkan
mendokumentasi prosedur jeda sesaat

sebelum memulai prosedur


e. Kebijakan dan prosedur disusun √
pembedahan
sedemikian sehingga semua proses

seragam sehingga dapat dipastikan

lokasi benar, prosedur benar, dan pasien

juga benar, termasuk prosedur medis

dan gigi yang dilakukan


Persentasetidak di ruang 100%
5. SASARAN V : Mengurangi Risiko Infeksi Akibat Perawatan Kesehatan
operasi.
a. Rumah sakit telah mengadopsi atau √

mengadaptasi panduan kebersihan tangan

yang baru diterbitkandan umumnya


b. Rumah sakit mengimplementasikan √
diterima
program kebersihan tangan yang efektif
c. Kebijakan dan/atau prosedur yang √

dikembangkan yang mendukung secara

terus-menerus pengurangan infeksi terkait

dengan perawatan kesehatan


Persentase 100%
6. SASARAN VI : Pengurangan Risiko Pasien Jatuh
17
a. Rumah sakit menerapkan proses √

dilakukannya penilaian awal pasien akan

risikonya terjatuh dan dilakukannya

penilaian ulang pada pasien bila, antara

lain, terlihat adanya perubahan kondisi atau


a. Dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi √
obat-obatan
risiko jatuh bagi mereka yang dinilai

Usaha-usaha itu dipantau untuk dilihat √


b. berisiko

keberhasilannya dalam upaya mengurangi

cedera akibat jatuh dan konsekuensi

lainnya yang tidak diperhitungkan


c. Kebijakan dan/atau prosedur mengarah √
sebelumnya
pada pengurangan secara kontinyu risiko
Persentase 100%
Rata-rata persentase 89,17%
Analisa Data

Dari hasil pengamatan dari tanggal 12 Desember 2015 dengan

menggunakan indikator International Patient Safety Goals (IPSG) sesuai tabel

diatas, menunjukan pelaksanaan IPSG di Cendana 5 mencapai presentase

89,17%. Hal ini berarti sangat baik dalam pelaksanakan tujuan keselamatan

pasien. Kekurangannya terletak pada identifikasi pasien pada saat pemberian

obat dengan minimal menggunakan 2 identifikasi pasien dan labeling pada

kotak obat di ruang penyimpanan.

Pelaksanaan patient safety di RS. Harapan dan Doa menggunakan

International Patient Safety Goals (IPSG). Sedangkan dari ICN (Infection

Control Nursing) RS. Harapan dan Doa dijelaskan ada beberapa indikator untuk
9 Solusi live savingPatient Safety yaknisebagai berikut:

 Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip (NORUM) (LookAlike,

Sound Alike Medication Names)

Nama obat, rupa dan ucapan mirip, yang membingungkan staf

pelaksana adalah salah satu penyebab yang paling sering dalam kesalahan

obat (medication error) dan ini merupakan satu keprihatinan di seluruh dunia.

Dengan puluhan ribu obat yang ada saat ini di pasar, maka sangat signifikan

potensi terjadinya kesalahan akibat bingung terhadap

18
nama merk atau generik serta kemasan. Solusi NORUM ditekankan pada

penggunaan protokol untuk pengurangan risiko dan memastikan terbacanya resep,

label atau perintah yang dicetak lebih dulu, maupun pembuatan resep secara

elektronik.

 Pastikan identifikasi pasien

Kegagalan yang meluas dan terus menerus untuk mengidentifikasi pasien

secara benar sering mengarah kepada kesalahan pengobatan, tranfusi maupun

pemeriksaan dsb. Rekomendasi ditekankan kepada metode untukverifikasi

terhadap identitas pasien, termasuk keterlibatan pasien dalam proses ini,

standarisasi dalam metode identifikasi di semua RS dalam suatu sistem layanan

kesehatan dan partisipasi pasien dalam konfirmasi ini, serta penggunaan protokol

untuk membedakan identifikasi pasien dengan nama yang

sama.

 Komunikasi secara benar saat serah terima/pengoperan pasien.

Kesenjangan dalam komunikasi saat serah terima/pengoperan pasien antar

unitunit pelayanan, dan di dalam serta antar tim pelayanan, bias

mengakibatkan terputusnya kesinambungan layanan, pengobatan yang tidak tepat

dan potensial dapat mengakibatkan cedera terhadap pasien. Rekomendasi

ditujukan untuk memperbaiki serah terima pasien termasuk penggunaan protokol

untuk mengkomunikasikan informasi yang bersifat kritis; memberikan

kesempatan bagi para praktisi untuk bertanya dan menyampaikan

pertanyaanpertanyaan pada saat serah terima dan melibatkan para pasien serta

keluarga dalam proses serah terima.

 Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar.


Penyimpangan pada hal ini seharusnya sepenuhnya dapat dicegah.

Kasuskasus dengan pelaksanaan prosedur yang keliru atau pembedahan sisi

tubuh yang salah sebagian besar adalah akibat dari miskomunikasi dan tidak

adanya informasi atau informasinya tidak benar. Faktor yang paling banyak

kontribusinya terhadap kesalahankesalahan macam ini adalah tidak ada atau

kurangnya proses pra bedah yang distandarisasi. Rekomendasinya adalah untuk

mencegah jenisjenis kekeliruan yang tergantung pada pelaksanaan proses

verifikasi pra pembedahan; pemberian tanda pada sisi yang akan dibedah oleh

petugas yang akan melaksanakan prosedur, dan adanya tim yang terlibat dalam

prosedur untuk mengkonfirmasikan identitas pasien, prosedur dan sisi yang akan

dibedah.

 Kendalikan cairan elektrolit pekat (concentrated)

Sementara semua obatobatan, biologis, vaksin, dan kontras memiliki profil

risiko, cairan elektrolit pekat yang digunakan untuk injeksi khususnya

adalah berbahaya.

19
Rekomendasinya adalah membuat standarisasi dari dosis untuk unit ukuran dan

istilah dan pencegahan atas campur aduk atau bingung tentang cairan

elektrolit pekat yang spesifik.

 Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan

Kesalahan medikasi terjadi paling sering pada saat transisi atau

pengalihan. Rekonsiliasi (penuntasan perbedaan) medikasi adalah suatu proses

yang didesain untuk mencegah salah obat (medication error) pada titiktitik

transisi pasien. Rekomendasinya adalah menciptakan suatu data yang paling

lengkap dan akurat dari seluruh medikasi yang sedang diterima pasien. Juga

disebut sebagai ”home medication list”, sebagai perbandingan dengan daftar saat

admisi, penyerahan dan atau perintah pemulangan bilamana menuliskan perintah

medikasi; dan komunikasikan daftar tersebut kepada petugas layanan yang berikut

dimana pasien akan ditransfer atau dilepaskan.

 Hindari salah kateter dan salah sambung selang (tube)

Selang, kateter, dan spuit yang digunakan harus di desain sedemikian

rupa agar mencegah kemungkinan terjadinya KTD yang bisa menyebabkan

cedera atas pasien melalui penyambungan spuit dan selang yang salah, serta

memberikan medikasi atau cairan melalui jalur yang keliru. Rekomendasinya

adalah menganjurkan perlunya perhatian atas medikasi serta pemberian makan

(misalnya selang yang benar), dan bilamana menyambung alatalat kepada pasien

(misalnya menggunakan sambungan dan selang yang benar).

 Gunakan alat injeksi sekali pakai.

Salah satu keprihatinan global yang terbesar adalah penyebaran dari HIV,

HBV, dan HCV yang diakibatkan oleh pakai ulang (reuse) dari jarum suntik.
Rekomendasinya adalah perlunya melarang pakai ulang, jarum difasilitas

pelayanan kesehatan; pelatihan periodik para petugas di lembagalembaga

layanan kesehatan khusunya tentang prinsipprinsip pengrendalian infeksi,

edukasi terhadap pasien dan keluarga mengenai penularan infeksi melalui

darah; dan praktik jarum sekali pakai yang aman.

 Tingkatkan kebersihan tangan (hand hygiene) untuk mencegah infeksinosokomial.

Diperkirakan bahwa setiap saat lebih dari 1,4 juta orang di seluruh

duniamenderita infeksi yang diperoleh di RS. Kebersihan tangan yang

efektifadalah ukuran preventif yang primer untuk menghindari masalah

ini.Rekomendasinya adalah mendorong implementasi penggunaan cairan,alkohol

base hand rubs, yang tersedia pada titiktitik pelayanan pasien,tersedianya

sumber air pada semua kran, pendidikan staf mengenai

20
teknikkebersihan tangan yang benar, petunjuk mengingatkan penggunaan

tanganbersih di tempat kerja, dan pengukuran kepatuhan penerapan

kebersihantangan melalui pemantauan atau observasi dan teknikteknik

yang lain.

Tabel 31. Evaluasi Pelaksanaan 9 Solusi Life Saving Patient Safety di

Ruang Marwah RS. Harapan dan Doa Tanggal 28-30

Desember 2015

Pelaksanaan
Ya Tidak
No Komponen yang Dinilai Keterangan
1. Perhatikan nama obat, rupa dan Perawat mengidentifikasi oba

ucapan mirip (Norum) √ sesuai order dan dilakukan

a. Perawat memberi obat sesuai pengecekan di rekam medi

dengan prinsip 6 benar (obat, pasien namun tidak melakukan

dosis, waktu, tempat, orang, pengecekan ulang di gelang

pendokumentasian). pasien. Waktu pemberian kutan

tepat.

b. Perawat melakukan

pendokumentasikan setelah Perawat mendokumentasikan

memberi obat direkam catatan kegiatannya setelah

perkembangan. √ melakukannya

c. Obat disusun per pasien pada

tempatnya masing-masing Obat pasien disimpan di loke

obat pasien. Setiap pasien

memiliki 1 kotak obat yang

d. Adanya pencatatan obat masuk ditempatkan di lemari .

dan keluar

√ Pencatatan obat keluar masuk

e. Memastikan resep obat yang dilakukan oleh perawat dan


21
diterima dan obat yang diberikan didokumentasikan

sama

f. Perawat mengklarifikasi kembali Double check dengan perawat


terapi diberikan dokter dengan lain saat memberikan oba

mengeja setiap huruf nama obat dilakukan.

g. Perawat menulis nama obat yang

mirip dengan tulisan yang besar Klarifikasi berupa tanya-jawab

dan jelas √ langsung, tidak dilakukan

pengejaan.

Sudah dilabeli dari farmas


2. Pastikan identitas pasien
sehingga perawat tidak
a. Perawat menuliskan identitas √ Tidak terdapat papan nama
melakukannya lagi.
pasien dengan lengkap pada diatas tempat tidur pasien

papan nama pasien yang

diletakkan diatas tempat tidur

pasien

b. Perawat memakaikan gelang

identitas pasien

c. Perawat sebelum melakukan

tindakan selalu mengecek

minimal 2 identitas pasien (misal

nama dan umur) √

d. Status pasien terpisah antara 1

pasien dengan pasien yang lain Perawat mengidentifikasi pasien

hanya dengan nama saja.


3. Komunikasi secara benar saat serah

terima atau pengoperan

pasien

a. Menyebutkan identitas pasien;

√ Saat operan jaga, perawat


22
diagnosa medis, diagnose menyebutkan diagnosa medi

keperawatan, tindakan yang muncul dan tindakan

keperawatan yang telah keperawatan yang telah

dilakukan beserta waktu dilakukan. Tidak menyebutkan

pelaksanaan diagnosa keperawatan.

b. Menginformasikan jenis dan

waktu rencana tindakan yang

belum dilakukan Perawat selalu melakukan

konfirmasi pada setiap tindakan

yang sebelumnya dilakukan dan

yang belum dilakukan sert

√ rencana tindakan yang haru

c. Menyebutkan perkembangan dilakukan shift berikutnya.

pasien yang ada selama shift

Perawat menyebutkan

perkembangan pasien pada saa

d. Menyebutkan terapi dan operan dan menuliskan d

tindakan medis beserta catatan perkembangan pasien

waktunya yang telah dilakukan

selama shift Perawat menyebutkan terap

e. Menyebutkan tindakan medis √ medis yang telah dilakukan

yang belum dilakukan selama selama shift nya.

shift

Perawat menyebutkan tindakan


4. Pastikan tindakan yang benar pada

sisi tubuh yang benar

sebelum tindakan operasi:

a. Ada dokumentasi tindakan di

status pasien √

b. Memastikan rencana tindakan

23 pada catatan perawatan sebelum


melakukan tindakan √

c. Memastikan hasil pemeriksaan

penunjang sebelum dilakukan

tindakan operasi
5. Kendalikan cairan elektrolit

(konsentrat)

a. Ada dokumentasi mengenai

pemberian cairan √ Terdapat dokumentasi

pemberian cairan infuse berapa

cairannya apa, tetapi tidak ad

pencatatan balance cairan pad

lembar monitoring 24 jam

b. Perawat mengecek program

terapi sebelum memberikan Perawat melihat program terap

cairan sesuai instruksi dokte

c. Terapi cairan pada pasien sebelum memberikan terapi

perawat memprogram pemberian

cairan elektrolit pekat sesuai √

dengan aturan pemberian

d. Perawat memonitor reaksi Program pemberian terap

pemberian cairan cairan yang diberikan oleh

perawat sesuai dengan catatan

e. Perawat menggunakan alat yang instruksi terapi dokter

tepat dalam pemberian cairan √

f. Perawat mengatur tetesan infus Perawat telah menuliskan

atau hasil perhitungan sesuai laporan pemberian infus secar

dengan order terperinci di monitor 24 jam.

g. Perawat menuliskan catatan


24
pemberian infus secara

terperinci (tanggal, jam dan

macam cairan) √
yang berisi nama pasien

tetesan, waktu (tanggal dan jam

pemberian), jam cairan habis.

6. Pastikan akurasi pemberian obat

pada pengalihan pelayanan Perawat mengisi data obat

a. Ada dokumentasi tentang obat- obatan dengan benar pada form

obatan yang sudah diberikan, pemberian obat pasien dan

waktu pemberian dan rute √ melakukan double cek sebelum

pemberian memberikan obat.

b. Perawat mengecek ulang

program terapi dari dokter


7. Hindari salah kateter, salah sambung

slang (tube)

a) Perawat mengecek order adanya

pemberian tindakan, misalnya

pemasangan kateter atau NGT

b) Sebelum melakukan tindakan TDD

ada persetujuan klien dan

keluarga

c) Perawat memastikan slang

kateter atau NGT sesuai dengan

ukurannya

d) Perawat menggunakan alat yang

steril

e) Perawat memastikan bahwa


25
selang masuk ke dalam kandung
kemih

f) Perawat memastikan balon

sudah difiksasi

g) Perawat melakukan tindakan

pemasangan secara atraumatik

8. Gunakan alat injeksi sekali pakai:

a. Perawat mengecek program

pemberian obat dalam catatan

perawatan √

b. Satu spool digunakan sekali

pakai untuk satu obat

c. Perawat memastikan bahwa

spuit dibuang ditempat sampah √ Terdapat perawat yang memaka

medis spuit untuk 2 obat yang berbed

d. Perawat membuang spuit dalam secara bergantian.

keadaan tertutup


9. Tingkatkan kebersihan tangan untuk

mencegah infeksi

Nosokomial

1. Perawat mencuci tangan

sebelum dan sesudah melakukan √

tindakan

2. Perawat mencuci tangan

menggunakan antiseptic

3. Perawat mencuci tangan dengan

teknik yang benar


26


4. Ada pedoman mengenai cuci

tangan yang benar

Jumlah
Skor total = Ya x 75% √ 25%

(Ya +Tidak)
Analisis Data

Hasil observasi yang telah dilakukan dari tanggal 28-30 Desember 2015,

pelaksanaan patient safety di Ruang Marwah dengan menggunakan indikator 9

Solusi Live Saving Patient Safety termasuk dalam kategori baik (75%). Hal

yang perlu dioptimalkan terletak pada pemberian label pada cairan infus

belum semua perawat melakukan, belum semua perawat melakukan 6

langkah cuci tangan, belum ada papan nama di atas tempat tidur pasien, belum

ada monitoring balance cairan selama 24 jam. Perbedaan kedua instrumen ini

adalah pada instrumen 9 Solusi Live Saving Patient Safety tidak menyertakan

penilaian resiko jatuh.

d) Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik

Kajian Teori

Komunikasi merupakan proses yang sangat khsus dan berarti dalam

hubungan anatar manusia. Pada profesi keperawatan komunikasi menjadi

lebih bermakna karena merupakan metoda utama dalam

mengimplementasikan proses keperawatan. Menurut As Hornby (1974)

terapeutik adalah merupakan kata sifat yang dihubungkan dengan seni dari

penyembuhan, sehingga mampu menjadi terapeutik berarti seseorang mampu


melakukan atau mengkomunikasikan perkataan, perbuatan, atau ekspresi yang

memfasilitasi proses penyembuhan.

Dalam membina hubungan terapeutik perawat mempunyai 4 tahap

yang pada setiap tahapnya mempunyai tugas yang harus diselesaikan oleh

perawat. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut:

 Tahap Preinteraksi

Merupakan tahap dimana perawat belum bertemu dengan pasien. Tugas

perawat dalam tahap ini adalah:

 Mendapatkan informasi tentang klien (dari medical record atau

sumber yang lainnya)Mencari literature yang berkaitan dengan

masalah yang dialami klien

 Mengekplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan diri

27
 MengAnalisis kekuatan dan kelemahan professional diri

 Membuat rencana pertemuan dengan klien:

 Tipe spesifik data yang akan dicari

 Metode yang tepat untuk wawancara

 Setting ruangan/waktu yang tepat

 Menyiapkan alat dan cuci tangan

 Tahap Orientasi/perkenalan

Merupakan tahap dimana perawat pertama kali bertemu dengan klien. Tugas perawat

dalam tahap ini adalah:

 Melakukan kontrak dengan pasien, komponen kontrak :

 Nama pasien

 Peran yang diharapkan dari perawat dan klien

 Tujuan

 Kerahasiaan

 Harapan

 Topik

 Waktu dilakukannya interaksi

 Membina hubungan saling percaya dengan klien

 Tahap Kerja

Merupakan tahap dimana klien memulai kegiatan wawancara. Tugas perawat pada

saat ini adalah melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan pada tahap pra

interaksi.

 Tahap Terminasi

Merupakan tahap dimana perawat akan menghentikan interaksinya dengan klien,


tahap ini bisa merupakan terminasi sementara maupun terminasi akhir.Pada tahap

ini perawat mempunyai tugas:

 Mengevaluasi kegiatan kerja yang telah dilakukan baik secara kognitif maupun

afektif

 Merencanakan tindak lanjut dengan pasien

 Melakukan kontrak

 Mengakhiri terminasi dengan baik

Tabel 32. Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik di Ruang Marwah RS.

Harapan dan Doa Tanggal 28-30 Desember 2015

28
Pelaksanaan
Ya Tidak
No Komponen N % N %
A. PRE INTERAKSI
1. Mengumpulkan data tentang klien
2. Menyiapkan alat
3. Membuat rencana pertemuan dengan

klien/keluarga klien
B. FASE ORIENTASI
1. Memberi salam dan tersenyum pada

klien/keluarga klien
2. Melakukan validasi (kognitif, psikomotor,

afektif, biasanya pada pertemuan lanjutan)


3. Memperkenalkan nama perawat
4. Menanyakan nama panggilan kesukaan

klien/keluarga klien
5. Menjelaskan tanggung jawab perawat
6. Menjelaskan peran perawat
7. Memberitahukan kegiatan yang

akandilakukan
8. Menjelaskan tujuan kegiatan
9. Menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk

kegiatan
10. Menyatakan kerahasiaan
C. FASE KERJA
1. Memberi kesempatan pada klien/keluarga

klien bertanya
Menanyakan keluhan klien /keluarga klien

2. yang mungkin berkaitan dengan kelancaran

3. pelaksanaan
Memulai kegiatan
kegiatan dengan cara yang baik
4. Melaksanakan kegiatan cara dengan baik
D. FASE TERMINASI
1. Menyimpulkan hasil kegiatan: evaluasi proses

dan evaluasi hasil


2. Memberikan reinforcement positif
3. Merencanakan tindak lanjut dengan

klien/keluarga klien
E. DIMENSI RESPON (RESPON

NONVERBAL)
1. Berhadapan
2. Mempertahankan kontak mata
3. Tersenyum pada saat yang tepat

29
4. Mempertahankan sikap terbuka
Jumlah 19 5
Persentase 90,47% 23,8%
Analisis Data

Hasil observasi pelaksanaan komunikasi terapeutik di Marwah RS. Harapan

dan Doa Yogyakarta termasuk dalam kategori sangat baik (90,47%). Beberapa item

yang perlu mendapat perhatian pada tahap preinteraksi, yaitu Membuat rencana

pertemuan dengan klien/keluarga klien. Untuk tahap orientasi, yaitu

memperkenalkan diri dan menjelaskan, menanyakan nama panggilan kesukaan

klien/keluarga klien, dan penjelasan waktu yang dibutuhkan. Tahap orientasi sangat

penting terutama untuk membangun hubungan yang saling percaya terlebih dahulu

dengan pasiennya. Tahap terminasi yang perlu mendapatkan perhatian adalah

menyimpulkan hasil kegiatan: evaluasi proses dan evaluasi hasil.

d. Proses Manajemen Pelayanan Keperawatan

Standar manajemen pelayanan keperawatan adalah proses pengelolaan

pelayanan keperawatan melalui pelaksanaan fungsi manajemen yaitu perencanaan,

pengorganisasian, pengaturan tenaga, pengarahan, evaluasi, dan pengendalian mutu

pelayanan keperawatan untuk mencapai tujuan pelayanan keperawatan (Depkes,

2001) Menurut Monica (1998) cit. Hersey dan Blancard (1977) menyebutkan bahwa

manajemen yang komprehensif yaitu bekerja dengan dan melalui individu dan

kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Mekanisme kerja dari fungsi-fungsi

manajemen dapat digambarkan dalam skema :

Perencanaan P
Keinginan kebutuhan
e
ngorganisasian

Pengarahan Tujuan

Pengkoordinasian

Infor Pengawasan

masi

Gambar 3. Mekanisme kerja dari fungsi-fungsi manajemen Proses

manajemen pelayanan keperawatan terdiri dari:

1 Planning

Kajian Teori

Perencanaan adalah sebuah keputusan untuk suatu kemajuan yang berisikan

apa yang akan dilakukan serta bagaimana, kapan, dan dimana akan dilaksanakan

(Marquis, 2000). Perencanaan dimaksudkan untuk menyusun suatu perencanaan

yang strategis dalam mencapai suatu tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Perencanaan dibuat untuk

30
menentukan kebutuhan dalam asuhan keperawatan kepada semua pasien, menegakkan

tujuan, mengalokasikan anggaran belanja, memutuskan ukuran dan tipe tenaga

keperawatan yang dibutuhkan, membuat pola struktur organisasi yang dapat

mengoptimalkan efektifitas staf serta menegakkan kebijaksanaan dan prosedur

operasional untuk mencapai visi dan misi institusi yang telah ditetapkan.

Unit perawatan merupakan unit terkecil dalam kegiatan pelayanan rumah sakit.

Perencanaan yang disusun mengacu kepada kerangka utama rencana strategi rumah

sakit dengan mempertimbangkan kekuatan, kelemahan, peluang yang nyata, dan

ancaman eksternal yang harus diantisipasi. Kerangka perencanaan yang matang

sangat membantu dalam upaya melakukan perbaikan atau improvisasi apabila dalam

perjalanan kegiatan usaha keluaran yang tidak diharapkan. Dengan demikian

perencanaan dapat dikoreksi tanpa kehilangan waktu dan efisiensi. Kerangka

perencanaan terdiri dari:

 Misi, berisi tujuan jangka panjang mengenai bagaimana langkah mencapai visi.

 Filosofi, sesuatu yang bisa menguatkan motivasi.

 Tujuan, berisikan tujuan yang ingin dicapai.

 Obyektif, berisi langkah-langkah rinci bagaimana mencapai tujuan.

 Prosedur, berisi pelaksanaan perencanaan.

 Aturan, berisi langkah-langkah antisipasi untuk hal-hal yang menyimpang.

Model perencanaan meliputi:

 Reactive planning, yaitu tak ada perencanaan, manajer langsung melakukan

tindakan

begitu menemukan masalah. Perubahan yang terjadi tidak pasti karena

dipengaruhi oleh masalah dan kondisi yang ada


 Inactive planning, yaitu perencanaan sudah dibuat sejalan dengan masalah

yang muncul (telah ada bayangan atau perencanaan tetapi dalam

pelaksanaannya dilakukan sejalan dengan pekembangan masalah)

 Preactive planning, yaitu penyusunan perencanaan dengan mengetahui

rencana ke depan pencapaian target yang sudah pasti (sudah jelas dan tidak

berubah). Ciri dari perencanaan ini adalah tujuan yang akan dicapai jelas,

terdapat pembatasan waktu perencanaan berlangsung, terdapat indikator

pencapaian target, risiko, dan ketidakpastian jelas

 Proactive planning, yaitu pembuatan perencanaan dengan memperhatikan

masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Masa lalu digunakan sebagai

pengalaman untuk

31
menyusun perencanaan sekarang dan masa depan, masa sekarang sebagai

pelaksanaan perencanaan, dan masa depan merupakan perencanaan yang

disusun berdasarkan evaluasi pelaksanaan perencanaan masa lalu dan

sekarang.

Perencanaan meliputi:

 Jangka pendek (target waktu dalam minggu/bulan)

 Meliputi perubahan jadwal dinas (pagi, siang, malam) akibat perubahan

kondisi bangsal dan permintaan fasilitas yang segera akibat kerusakan yang

tidak dapat diperkirakan sebelumnya.

 Jangka menengah (periode dalam satu tahun)

 Meliputi pengaturan dinas, perbaikan peralatan/service, permintaan

perlengkapan rutin/barang habis pakai

 Jangka panjang (untuk tahun mendatang)

 Meliputi pengembangan SDM baik perawat maupun non perawat,

penambahan peralatan, penambahan jumlah tenaga, cuti tahunan dan

sebagainya.

Berdasarkan buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di RS (Depkes RI,

1999), Tugas Kepala Ruang dalam perencanaan (P1) meliputi:

 Menyusun rencana kerja kepala ruang

 Berperan serta menyusun falsafah dan tujuan pelayanan keperawatan di

ruang rawat yang bersangkutan

 Menyusun rencana kebutuhan tenaga keperawatan dari segi jumlah maupun

kualifikasi untuk di ruang rawat, koordinasi dengan kepala perawat

instalasi/kepala instalasi.
Berdasarkan buku pedoman uraian tugas tenaga keperawatan di RS. Harapan dan

Doa (RS. Harapan dan Doa, 2007), Tugas Kepala Ruang dalam perencanaan (P1)

meliputi :

 Menyusun jadwal dinas.

 Merencanakan koordinasi.

 Menyusun perencanaan tahunan.

Tabel 33. Kajian Planning di Ruang Marwah RS.

Harapan dan Doa Tanggal 28-30 Desember 2015

Dilakukan

N Standar Metode Dokumen Keterangan


Ya Tidak
o

32
1. Pembuatan jadwal Studi Ada Pembuatan jadwal

dinas dokumentasi dinas dibuat oleh Karu

dan dengan

wawancara mempertimbangkan

jumlah jam kerja


2. Perencanaan Wawancara Tidak ada
perawat.
Koordinasi
3. Perencanaan Wawancara Ada

tahunan karu: dan Studi

pengajuan Dukumentasi

peralatan

perencanaan

pengembangan

staf dan kebutuhan


Jumlah 3 0
Total
tenaga(%) 100%
Analisa Data

Perencanaan yang telah dilakukan oleh KaRu meliputi perencanaan dinas

masing- masing perawat. Hal-hal yang berkaitan dengan koordinasi dilakukan

secara insidental tanpa perencanaan spesifik baik perbulan maupun pertahun.

Pengajuan kebutuhan logistik ruangan diatur melalui perencanaan di awal bulan ke

bagian logistik instalasi, termasuk di dalamnya pengelolaan sisa alat pada bulan

sebelumnya. Pengembangan staff dilakukan setiap adanya sesi pelatihan yang

diadakan oleh pihak rumah sakit, sehingga rencana pengembangan staf

disesuaikan dengan program yang diadakan rumah sakit. Pengajuan tenaga di

ruangan diajukan setiap tahunnya namun realisasinya diatur oleh pihak pusat bukan
otonomi ruangan.

8) Organizing

Kajian Teori

Pengorganisasian melibatkan semua sumber daya yang ada dalam suatu

sistem orang, modal, dan peralatan dalam kegiatan menuju pencapaian tujuan.

Keinginan seorang Perawat Kepala adalah memasukkan semua unsur manusia dan

situasi ke dalam suatu sistem yang akan mengemban suatu tujuan tertentu dan

mengatur mereka sedemikian rupa sehingga kelompok dapat bekerja bersama

kearah pencapaian tujuan (Monica, 1998).

33
Pengorganisasian menentukan mengenai tenaga yang akan melaksanakan

perencanaan, pembagian tugas, wewenang, tanggung jawab dan mekanisme

pertanggungjawaban masing-masing kegiatan. Berdasarkan hal tersebut maka fungsi

pengorganisasian dari kepala ruang adalah (Nursalam, 2002):

 Merumuskan metode penugasan yang digunakan

 Merumuskan tujuan metode penugasan

 Membuat rincian tugas ketua tim dan anggota secara jelas

 Membuat rentang kendali kepala unit membawahi 2 ketua tim dan

ketua tim membawahi 2-3 perawat

 Mengatur dan mengendalikan logistik unit

 Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktek

 Mendelegasikan tugas saat kepala unit tidak berada di tempat kepada ketua tim

 Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus administrasi pasien

 Mengatur penugasan jadwal pos dan pekarya

 Identifikasi masalah dan cara penanganan

Di dalam pengorganisasian asuhan keperawatan dikenal beberapa model pemberian

asuhan keperawatan. Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP) terdiri dari

9 elemen subsistem (Hoffart and Woods, 1996) yaitu:

 Nilai-nilai Profesional

 Pendekatan manajemen

 Metode pemberian askep

 Hubungan profesional

 Sistim kompensasi dan penghargaan.

Dalam sistem pemberian asuhan keperawatan ada beberapa teori mengenai metode
asuhan keperawatan. Menurut Gilles (1989) yaitu:

 Metode kasus (Total Care Method)

Metode ini merupakan metode tertua (tahun 1880) dimana seorang pasien

dirawat oleh seorang perawat selama 8 jam perawatan. Setiap perawat ditugaskan

untuk melayani seluruh kebutuhan pasien saat dinas. Pasien akan dirawat oleh

perawat yang berbeda untuk setiap shif dan tak ada jaminan bahwa pasien akan

dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa

diterapkan satu pasien satu perawat dan hal ini

34
umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk keperawatan khusus seperti di

ruang rawat intensif. Kelebihan dari metode ini adalah: Sederhana dan langsung; Garis

Pertanggung jawaban jelas; Kebutuhan pasien cepat terpenuhi; Memudahkan

perencanaan tugas.

Kekurangan dari metode ini adalah Belum dapat diidentifikasi perawat

penanggung jawab; perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan

dasar yang sama; tidak dapat dilakukan oleh perawat baru atau kurang

pengalaman; mahal, perawat profesional termasuk melakukan tugas non profesional.

 Metode fungsional

Metode ini dilakukan pada kelompok besar pasien. Pelayanan keperawatan

dibagi menurut tugas yang berbeda dan dilaksanakan oleh perawat yang berbeda

dan tergantung pada kompleksitas dari setiap tugas. Misalnya fungsi menyuntik,

membagi obat, perawatan luka. Metode ini merupakan manajemen klasik yang

menekankan pada efisiensi, pembagian tugas yang jelas dan pengawasan yang lebih

mudah. Semua prosedur ditentukan untuk dipakai sebagai standar. Perawat senior

menyibukkan diri dengan tugas manajerialnya sedangkan asuhan keperawatan pasien

diserahkan kepada perawat yunior.

Meskipun sistem ini efisien namun penugasan secara fungsi tidak memberikan

kepuasan kepada pasien dan perawat karena asuhan keperawatan yang diberikan

kepada pasien terfragmentasi menurut tugas atau perasat yang dilakukan. Cara

kerja yang diawasi membosankan perawat karena berorientasi pada tugas dan sistem

ini baik dan berguna untuk situasi dimana Rumah Sakit kekurangan tenaga perawat,

namun disisi lain asuhan ini tidak profesional dan tidak berdasar pada masalah pasien

Keuntungan dari metode ini adalah


o Lebih sedikit membutuhkan perawat

o Efisien

o Tugas mudah dijelaskan dan diberikan

o Para staff mudah menyesuaikan dengan tugas

o Tugas cepat selesai

o Kerugian dari metode ini adalah:

o Tidak efektif

o Fragmentasi pelayanan

o Membosankan

o Komunikasi minimal

o Tidak holistik

o Tidak professional

35
o Tidak memberikan kepuasan kepada pasien dan perawat

 Metode tim

Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam

memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Ketua tim bertanggung

jawab membuat perencanaan dan evaluasi asuhan keperawatan untuk semua pasien

yang ada di bawah tanggung jawab timnya. Anggota tim melaksanakan asuhan

keperawatan kepada pasien sesuai perencanaan yang telah dibuat oleh ketua tim.

Tujuan perawatan ini adalah memberikan asuhan keperawatan yang lebih baik

dengan menggunakan sejumlah staff yang tersedia.

Keuntungan dari metode ini adalah:

o Memberikan kepuasan bagi perawat dan pasien

o Kemampuan anggota tim dikenal dan dimanfaatkan secara optimal

o Komprehensif dan holistic

o Produktif, kerjasama, komunikasi dan moral

o Kerugian dari metode ini adalah:

o Tidak efektif bila pengaturan tidak baik

o Membutuhkan banyak kerjasama dan komunikasi

o Membingungkan bila komposisi tim sering diubah

o Banyak kegiatan keperawatan dilakukan oleh perawat non professional

 Metode primer

Metode ini merupakan suatu metode penugasan kerja terbaik dalam suatu

pelayanan dengan semua staff keperawatan yang profesional. Pada metode ini

setiap perawat primer memberikan tanggung jawab penuh secara menyeluruh

terhadap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan mulai dari pasien


masuk sampai keluar dari Rumah Sakit, mendorong praktek kemandirian perawat,

ada kejelasan antara pembuat rencana asuhan dan pelaksana.

Metode primer ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara

pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, mengimplementasikan

dan mengkoordinasikan asuhan keperawatan selama pasien dirawat. Penanggung

jawab dilaksanakan oleh perawat primer (primary nurse/PP). Setiap PP merawat 4-

6 pasien dan bertanggung jawab terhadap pasien selama 24 jam dari pasien masuk

sampai dengan pulang. Terdapat kontinuitas asuhan keperawatan yang bersifat

komperhensif dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam satu grup PP

mempunyai beberapa AN dan perawatan

36
dilanjutkan oleh AN. Kelebihan dari model primer ini adalah model ini bersifat

kontinu dan komprehensif dalam melakukan proseskeperawatan kepada pasien dan

perawat primer mendapatkan akontabilitas yang tinggi terhadap hasil dan

memungkinkan pengembangan diri.

Keuntungan yang dirasakan adalah pasien merasa dimanusiakan karena

terpenuhinya kebutuhan secara individu. Selain itu asuhan yang diberikan bermutu

tinggi dan tercapai pelayanan yang efektif terhadap perawatan, dukungan,

proteksi, informasi dan advokasi. Kelemahan dari model ini adalah model ini

hanya dapat dilaksanakan oleh perawat yang memiliki pengetahuan dan

pengalaman yang memadai dengan kriteria asertif, mampu mengatur diri sendiri,

kemampuan pengambilan keputusan yang tepat, penguasaan klinik, akuntabel dan

mampu bekomunikasi dan berkolaborasi dengan berbagai disiplin.

Diagram model keperawatan primer ada dalam gambar (Marquis and Huston, 1998):

Dokter Sarana RS

Perawat primer
Pasien

wat pelaksana sore


Pera

Gambar 4. Model Keperawatan Primer

 Metode manajemen kasus (nursing case management)

Pada metode ini ada seorang perawat yang menjalankan sekumpulan aktivitas,

mengerahkan, memantau dan mengevaluasi semua sumber yang digunakan oleh

pasien secara total selama sakit. Empat hal penting dalam manajemen kasus:

o Pencapaian berdasar waktu yang ditentukan tim yang terlibat

o Yang bertindak sebagai case manager adalah orang yang memberi pelayanan

langsung

37
o Seorang perawat/dokter yang terlibat bisa melampaui unit

o Perlu partisipasi aktif pasien dan keluarga untuk menyusun evaluasi

pelaksanaan kegiatan

Penerapan MPKP di RS Dr. Sardjito

Berdasarkan buku pedoman penerapan MPKP di RS. Harapan dan Doa adalah

modifikasi atau gabungan dari model keperawatan primer yang dimodifikasi yang

disebut Metode Primer Modifikasi (MPM) yang dikembangkan oleh Nuryandari

(1998).

Model keperawatan primer modifikasi didasarkan pada beberapa alasan antara lain:

o Keperawatan primer tidak digunakan secara murni karena sebagai perawat

primer harus mempunyai latar belakang pendidikan S1 Keperawatan.

o Keperawatan tim tidak digunakan secara murni karena tanggung jawab

pasien terfragmentasi pada berbagai tim.

o Melalui kombinasi kedua model tersebut diharapakan komunitas asuhan

keperawatan dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada PN.

Tugas kepala ruangan dalam pengorganisasian (RS Sardjito, 2007), meliputi: Tugas

Pokok:

o Mengelola kegiatan pelayanan dan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat

o Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain o

Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga o Bertanggung

jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK

o Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian

o Melakukan pengendalian, pemantauan dan evaluasi kegiatan guna peningkatan

mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat


o Mendukung terlaksananya program Patient safety.

Uraian tugas Kepala Ruang

Planning

o Menyusun jadwal dinas.

o Merencanakan koordinasi.

o Menyusun perencanaan tahunan

Organizing

o Mensosialisasikan, mengatur dan mengendalikan pelaksanaan kebijakan yang

telah ditentukan kepada semua staf

38
o Mengecek kelengkapan inventaris peralatan dan obat-obatan yang tersedia untuk

kelancaran pelayanan

o Mengajukan permintaan peralatan dan obat-obatan sesuai kebutuhan.

Memeriksa keadaan ruangan dan peralatan serta menyusun laporan kerusakan,

usulan perbaikan dan pemeliharaannya

o Menyusun data yang berhubungan dengan pelayanan untuk membuat laporan

harian, bulanan, triwulan serta tahunan

o Mengadakan rapat secara berkala untuk mengetahui masalah dan mendapatkan

cara penyelesaian agar pelaksanaan pelayanan berjalan baik

o Memberikan pengarahan, orientasi dan bimbingan kepada staf baru/mahasiswa

praktek di ruangan

o Mengkoordinir pelaksanaan tatatertib, disiplin, kebersihan dan keamanan

ruangan.

o Melaksanakan asuhan dengan menggunakan pendekatan proses ilmiah

o Membuat usulan nilai pra DP3 semua tenaga yang menjadi tanggung jawabnya

o Membuat usulan pengembangan tenaga

o Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka

memperlancar pelaksanaan kegiatan di instalasi. Membagi staf keperawatan ke

dalam grup MPM sesuai dengan kemampuan dan beban kerja

o Membuat jadwal dinas koordinasi dengan perawat primer (PN)

o Membagi pasien kepada grup MPM sesuai kemampuan dan beban kerja

o Memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas perawat primer dan perawatan

asosiate (PN & AN)

o Melakukan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf untuk mencapai kinerja
yang optimal

o Melakukan upaya peningkatan mutu asuhan dan pelayanan dengan

mengevaluasi melalui berbagai metode evaluasi peningkatan mutu

o Berperan sebagai konsultan/pembimbing bagi perawat primer (PN)

o Mendelegasikan tugas pada sore, malam, dan hari libur kepada penanggung

jawab tugas jaga ruangan

o Membuat laporan pelaksanaan tugas secara berkala/insidentil

o Bertanggung jawab terhadap kelengkapan entry data dalam billing system.

Berdasarkan struktur organisasi dan uraian jabatan keperawatan RS dr. Sardjito April

2007:

39
Tugas Pokok Primery Nurse:Mengelola asuhan keperawatan pasien di ruang rawat

o Melakukan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain

o Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga

o Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK

o Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian

o Melakukan pengendalian, pemantauan dan evaluasi kegiatan guna peningkatan

mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat

o Mendukung terlaksananya program Patient Safety

Tugas Primary Nurse :

o Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka

memperlancar pelaksanaan kegiatan

o Menggantikan tugas PJ ruang pada pagi hari jika PJ tidak ada.

o Mendelegasikan tugas perawat primer pada sore, malam, hari libur kepada

perawat asosiate

o Memberikan bimbingan mahasiswa praktek yang ada dalam groupnya dalam

rangka orientasi dan pelaksanaan praktek keperawatan.

o Perawat primer menginformasikan peraturan dan tata tertib yang berlaku pada

pasien/keluarga.

o Perawat primer melakukan visite/monitoring perkembangan pasien dan

memberitahukan serta menyiapkan pasien yang akan pulang

o Perawat primer menerima konsultasi/keluhan pasien/keluarga dan berupaya

mengatasinya, serta memfasilitasi pelaksanaan konsultasi dengan dokter

o Perawat primer membuat laporan tugas kepada Karu setiap akhir tugas tentang

kondisi pasien dan masalah yang ada


o Mengikuti pertemuan ilmiah/rutin yang diselenggaraan RS di lingkungan

tugasnya

o Betanggung jawab atas kelengkapan entry data dalam Billing System.

Tanggung Jawab Primary Nurse :

o Kebenaran kajian data, diagnosa dan rencana keperawatan

o Kebenaran kajian data keperawatan

o Kebenaran diagnosis

o Kebenaran rencana keperawatan

o Kebenaran layanan asuhan, evaluasi dan resume keperawatan

40
o Kebenaran dan ketepatan pelaksanaan tindakan keperawatan

o Kebenaran evaluasi keperawatan

o Kebenaran resume keperawatan

o Kebenaran dan ketetapan pendidikan/penyuluhan kesehatan pada pasien

o Pemenuhan kebutuhan kesehatan pasien dengan kolaborasi tim kesehatan lain

o Kelengkapan dan kebenaran informasi kepada pasien tentang dokter dan

perawat yang bertanggung jawab, jadwal konsultasi &rencana tindakan yang

akan dilakukan & rencana perawatan setelah pasien pulang

o Kelengkapan dan kebenaran isian dokumen asuhan keperawatan

o Kebenaran bimbingan dan arahan kepada perawat asosiet dan mahasiswa

praktek klinik keperawatan

o Kebenaran dan kelengkapan laporan dan dokumen asuhan keperawatan

Wewenang Primary Nurse :

o Mengatur, membimbing dan memberikan arahan tugas kepada AN/mahasiswa

PKK yang menjadi tanggung jawabnya

o Meminta bahan dan perangkat kerja yang dibutuhkan untuk pelaksanaan asuhan

dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pasien

o Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan

o Melakukan konsultasi dan koordinasi tugas dengan penanggung jawab ruang

dan PN lain

o Melakukan asuhan dan pelayanan yang komprehensif dan prima kepada semua

pasien yang menjadi tanggung jawabnya

o Mendelegasikan tugas pada AN bila sedang tidak bertugas.

Tugas Pokok Penanggung Jawab Tugas Jaga:


o Mengelola kegiatan pelayanan dan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat

pada sore, malam dan hari libur

o Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain o

Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga o Bertanggung

jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK

o Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian

o Melakukan pengendalian, pemantuan dan evaluasi kegiatan guna peningkatan

mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat pada sore, malan, dan hari libur

41
o Mendukung terlaksananya program Patient Safety.

Uraian Tugas Penanggung Jawab Tugas Jaga:

o Memberikan pengarahan, orientasi dan bimbingan kepada mahasiswa praktek di

ruangan

o Mengkoordinir pelaksanaan tata tertib, disiplin, kebersihan dan keamanan

ruangan

o Melaksanakan asuhan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan

o Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan dalam rangka

memperlancar pelaksanaan kegiatan di ruangan

o Membagi pasien kepada grup MPM sesuai kemampuan dan beban kerja

o Memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas asuhan dan pelayanan

o Melakukan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf untuk mencapai kinerja

yang optimal

o Melakukan upaya peningatan mutu asuhan dan pelayanan

o Berperan sebagai konsultan dari perawat asosiet (AN) pada saat PN tidak

bertugas.

Tanggung Jawab Penanggung Jawab Tugas Jaga:

o Ketepatan koordinasi tugas asuhan dan pelayanan di ruangan

o Kebenaran arahan tugas staf dan mahasiswa

o Kelancaran memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan untuk asuhan dan

pelayaan

o Kelancaran layanan dan asuhan yang komprehensif dan prima

o Kelancaran pelaksanaan pendelegasian tugas Pj. Ruang keperawatan pada sore,

malam dan hari libur


o Kebenaran dan ketepatan penggunaan sumber daya yang efisien dan efektif

o Kebenaran laporan pelaksanaan kegiatan asuhan dan pelayanan keperawatan.

Wewenang Penanggung Jawab Tim:

o Mengatur dan membimbing dan memberikan arahan anggota tim/mahasiswa

PKK yang menjadi tanggung jawabnya

o Meminta bahan dan perangkat kerja yang dibutuhkan untuk pelaksanaan asuhan

dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan pasien

o Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan

o Melakukan konsultasi dan koordinasi tugas dengan penanggung jawab ruang

dan PN lain

42
o Melakukan asuhan dan pelayanan yang komprehensif dan prima kepada semua

pasien yang menjadi tanggung jawabnya

o Mendelegasikan tugas pada AN bila sedang tidak bertugas.

Tugas Pokok Assosiate Nurse (AN) :

o Melaksanakan asuhan keperawatan pasien di ruang rawat inap o

Melaksanakan fungsi kolaboratif dengan tim kesehatan lain o

Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga o Bertanggung

jawab terhadap pelaksanaan bimbingan PKK

o Melakukan/membantu pelaksanaan penelitian

o Melakukan pengendalian, pemantauan dan evaluasi kegiatan guna peningkatan

mutu pelayanan keperawatan di ruang rawat inap

o Mendukung terlaksananya program Patient Safety

Uraian Tugas Assosiate Nurse (AN):

o Melakukan doa bersama setiap awal dan akhir tugas yang dilakukan setelah

selesai serah terima operan tugas jaga.

o Mengikuti pre conference yang dilakukan PN setiap awal tugas pagi.

o Melakukan asuhan keperawatan kepada pasien yang menjadi tanggung jawab

dan ada bukti di rekam keperawatan.

o Melakukan monitoring respon pasien dan ada bukti di rekam keperawatan.

o Melakukan konsultasi tentang masalah pasien kepada PN.

o Membimbing dan melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien yang menjadi

tanggung jawabnya dan ada bukti direkam keperawatan.

o Menerima keluhan pasien dan keluarga dan berusaha untuk mengatasinya.

o Melengkapi catatan asuhan keperawatan pada semua pasien yang menjadi


tanggung jawabnya.

o Melakukan evaluasi asuhan keperawatan setiap akhir tugas pada semua pasien

yang menjadi tanggung jawabnya dan ada bukti direkam keperawatan.

o Mengikuti post conference yang diadakan oleh PN pada setiap akhir tugas dan

melaporkan kondisi/perkembangan semua pasien yang menjadi tanggung

jawabnya kepada PN dan ada bukti di rekam keperawatan

o Bila PN tidak ada, wajib mengenalkan AN yang ada dalam satu group yang

akan memberikan asuhan keperawatan pada jaga berikutnya kepada

pasien/keluarga baru.

43
o Mengikuti diskusi kasus/conference dalam pertemuan rutin

o Melaksanakan tugas lain sesuai uraian tugas AN

o Melaksanakan tugas PN pada sore, malam, dan hari libur

o Berkoordinasi dengan Pj tugas jaga apabila ada kesulitan tentang pelayanan

o Bertanggung jawab atas kelengkapan entry data dalam Billing System.

Tanggung Jawab Assosiate Nurse (AN):

o Kebenaran asuhan keperawatan meliputi kajian diagnosis, rencana tindakan

keperawatan

o Kebenaran dan ketepatan pelayanan dan asuhan keperawatan yang

komprehensif dan prima

o Kelengkapan bahan dan peralatan kesehatan

o Kebenaran isian rekam keperawatan

o Kebenaran infomasi/bimbingan/penyuluhan kesehatan kepada pasien/keluarga

o Ketepatan penggunaan sumber daya secara efisien dan efektif Wewenang

Assosiate Nurse (AN) :

o Memeriksa kelengkapan dan alat yang diperlukan

o Meminta bahan dan perangkat kerja sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan

tugas

o Melakukan pengkajian, menetapkan diagnosa dan perencanaan keperawatan

bagi pasien baru pada saat PN tidak bertugas sore, malam, dan hari libur

o Melakukan asuhan keperawatan pasien

o Melaporkan asuhan keperawatan pasien ke PJ tugas jaga dan Perawat Primer

(PN)

Tabel 34. Kajian Organizing di Ruang Marwah RS.


Harapan dan Doa Tanggal 28-30 Desember 2015

N Standar Dilakukan Keterangan


Ya Tidak
o
1. Pembagian Tugas
2. Pendelegasian Tugas
3. Koordinasi Tugas Pengaturan/Manajemen

4. Waktu
5. Pengaturan dan pengendalian situasi tempat
praktek
6. Memberi wewenang kepada tata usaha untuk
mengurus administrasi klien

44
7. Pengembangan MPKP dengan MPM

Pelaksanaan Tugas

1. Pelaksanaan tugas Kepala Ruang

Keperawatan

2. Pelaksanaan tugas Primary Nurse

3. Pelaksanaan tugas Assosiated Nurse

Hubungan Profesional

1. Hubungan Profesional antara Staf

Keperawatan dengan Pasien

2. Hubungan Profesional Antar Staf

Keperawatan

3. Hubungan Profesional/Kemitraan

Antara Staf Keperawatan Dengan

Dokter/Tim Kesehatan Lain

4. Hubungan Profesional Antara Staf

Keperawatan Dengan Peserta Didik

Dengan MPM

5. Pelaksanaan Serah Terima Tugas Jaga

(operan)
Jumlah 18 1
6. Pelaksanaan Meeting Morning Ya = 94,73% ; Tidak = 5,26%
Analisa Data
7. Pelaksanaan Pre Conference
Berdasarkan data hasil pengkajian dengan observasi dan wawancara,
8. Pelaksanaan Post Conference

9. Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik


didapatkan bahwa organizing di Marwah dapat berjalan dengan sangat baik

(94,73%). Proses pengorganisasian yang termasuk pada penerapan MPKP dengan

MPM mulai dilakukan akan tetapi terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan

yaitu melakukan komunikasi secara

45
maksimal, karena komunikasi teraupetik akan lebih membuat hubungan antara

perawat dan pasien lebih terjalin.

Tabel 35. Pelaksanaan Tugas Kepala Ruang Keperawatan di Ruang

Marwah RS. Harapan dan Doa Tanggal 28-30 Desember

2015

No Variabel Yang Dinilai Observasi


Ya Tdk
1. Membagi staf ke dalam grup MPM sesuai dengan kemampuan

dan beban kerja


2. Membuat jadwal dinas koordinasi dengan PN
3. Menyiapkan materi tentang permasalahan pasien dan ruangan

yang ada pada hari tersebut termasuk laporan permasalahan

4. dinas
Kepalamalam
Ruang melakukan meeting morning untuk

menindaklanjuti masalah yang ada yang diawali dan diakhiri

5. dengan doapasien ke dalam grup MPM sesuai dengan


Membagi

kemampuan dan beban kerja.


6. Memfasilitasi dan mendukung kelancaran tugas PN dan AN
7. Melakukan supervisi dan memberi motivasi seluruh staf

keperawatan untuk mencapai kinerja yang optimal


8. Memberikan reinforcement positif kepada semua staf termasuk

pada saat mengakhiri meeting morning kepada dinas malam

9. dan dinas pagiupaya peningkatan mutu asuhan keperawatan


Melakukan

dengan melakukan evaluasi melalui angket setiap pasien akan

pulang
10. Mendelegasikan tugas kepada PPJR pada jaga sore, malam,

libur
11. Berperan serta sebagai konsultan
12. Melakukan pengawasan kedisiplinan tugas staff melalui daftar

hadir yang ada di ruang


13. Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga
14 Mengadakan CNE ( Continuing Nursing Education)
Jumlah 14 0
100%
Analisa Data

Berdasarkan hasil pada tabel di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan

tugas kepala ruang tergolong dalam kategori sangat baik (100%). Kepala ruang

dinilai sudah

46
optimal dalam melakukan pembagian tugas, menindaklanjuti laporan permasalahan

pasien dan ruangan, memfasilitasi serta mendukung kelancaran tugas PN dan AN.

Tabel 36. Pelaksanaan Tugas PN di Ruang Marwah RS.

Harapan dan Doa tanggal 28-30 Desember 2015

No Tugas PN Observasi
Ya Tdk
1. Bertugas pada pagi hari
2. Bersama AN menerima operan tugas jaga dari AN yang tugas

malam
3. Bersama AN melakukan konfirmasi/supervisi tentang kondisi

pasien segera setelah selesai operan tugas jaga malam


4. Bersama AN melakukan do’a bersama sebagai awal dan akhir

tugas dilakukan setelah selesai operan tugas jaga malam


5. Melakukan pre conference dengan semua AN yang ada dalam

grupnya setiap awal dinas pagi


6. Membagi tugas atau pasien kepada AN sesuai kemampuan

dan beban kerja


7. Melakukan pengkajian, menetapkan masalah atau diagnosa

dan perencanaan keperawatan kepada semua pasien yang

8. menjadi tanggung
Memonitor jawab ada bukti
dan membimbing tugasdiAN
rekam keperawatan
9. Membantu tugas AN untuk kelancaran pelaksanaan asuhan

pasien
10. Mengoreksi, merevisi, dan melengkapi catatan asuhan

keperawatan yang dilakukan oleh AN yang ada di bawah

11. tanggung jawabnya


Melakukan evaluasi hasil kepada setiap pasien sesuai tujuan

yang ada dalam perencanaan asuhan keperawatan dan ada

12. bukti dalam rekam


Melaksanakan postkeperawatan
conference pada setiap akhir dinas dan

menerima laporan akhir tugas jaga dari AN untuk persiapan

13. operan tugas jaga


Mendampingi ANberikutnya
dalam operan tugas jaga kepada AN yang

tugas jaga berikutnya


14. Memperkenalkan AN yang ada dalam satu grup atau yang

akan merawat selama pasien dirawat atau kepada

15. pasien/keluarga
Mendelegasikanbaru
tugas kepada AN pada sore malam libur

47