Anda di halaman 1dari 4

Nama: elsa rahmadi januastuti

Nim: 017013383

Laporan tutor kasus II

A. Infard miokard
1. Apa saja tanda dan gejala dariinfard miokart
Gejala umum dari infark miokard adalah nyeri dada yang menyebar sampai ke
punggung dan tangan. Beberapa pasien memiliki gejala prodromal (cepat lelah, sakit
dada ringan, sesak nafas ringan, nyeri ulu hati ) atau mempunyai riwayat CAD
(Coronary Artey Disease), tetapi sekitar setengah laporan dari kasus Infark Miokard
mengatakan tidak ada gejala yang dirasakan sebelumnya (Silent Heart Attack)
Namun pada umunya manifestasi klinis yang terjadi meliputi:
a. Sakit dada : Ini adalah gejala kardinal dari Infark Miokard. Biasanya nyeri
berada pada daerah substernal yang dapat menyebar ke lengan, rahang, leher,
atau bahu kiri. Nyeri biasanya digambarkan seperti tertumpuk benda berat,
meremas, dada seperti remuk dan dapat bertahan selama 12 jam atau lebih.
b. Sesak napas : Karena kebutuhan oksigen meningkat dan penurunan pasokan
oksigen, maka terjadilah sesak napas.
c. Gangguan pencernaan : Gangguan pencernaan hadir sebagai hasil dari
stimulasi sistem saraf simpatik.
d. Takikardia dan takipnea : Untuk mengimbangi pasokan darah kaya oksigen
yang menurun, sistem saraf menstimulasi denyut jantung dan laju pernapasan
menjadi cepat.
e. Efek Katekolamin : Pasien mungkin mengalami seperti kesejukan di
ekstremitas, berkeringat, dan gelisah.
f. Demam : Biasa terjadi pada awal infark.[2]
2. Apa saja factor resiko infard miokard?
a. Individu dengan defisiensi vitamin C menahun.[4]
b. Riwayat merokok.
Rokok ditengarai mengandung radikal bebas/ molekul agresif yang merusak sel-
sel dalam pembuluh darah.[4] Vitamin C selain bekerja sebagai koenzim juga
bekerja sebagai antioksidan untuk menghancurkan substansi asing.[7] Oleh karena
vitamin C berhadapan langsung melawan radikal bebas tersebut, ia lah yang akan
pertama kali hancur. Jumlah vitamin C yang sedikit akan menyebabkan kerusakan
sel-sel pembuluh darah.[4]
c. Stres berkepanjangan serta aktivitas fisik tidak sehat
Hormon stres seperti adrenalin yang dilepaskan saat stres akan menggunakan
vitamin C tubuh.[4] Dalam publikasi katalog Prevention of Cardiovascular
Disease, aktivitas fisik yang kurang akan menyebabkan penurunan fungsi endotel,
yang menyebabkan penurunan fungsi pelebaran dan kontrol terhadap otot dalam
pembuluh darah.[8]
d. Riwayat penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus
Jika faktor genetik yang ada diperkuat dengan faktor-faktor lain di atas, kondisi
ini semakin memperkuat risiko terjadinya penyakit jantung.[3] Kelebihan glukosa
pada diabetes yang lalu dipicu oleh defisiensi vitamin C akan meningkatkan
risiko. Studi klinis telah membuktikan bahwa vitamin C berkontribusi tidak hanya
dalam mencegah komplikasi kardiovaskular, tetapi juga membantu menormalkan
keseimbangan metabolisme glukosa.[4]
3. Apa penyebab infard miokard?
Penyebab paling sering adalah oleh ruptur lesi aterosklerotik pada arteri koroner yang
menyebabkan pembentukan trombus yang menyumbat arteri lalu mengakibatkan
terhentinya pasokan darah ke regio jantung yang disuplainya.[3]
4. pemeriksaan penunjanga apa saja yang dilakukan pada inafart miokar?
a. EKG
Elevasi segmen ST menunjukkan nekrosis pada dinding ventrikel miokard.[3] Hal
ini turut memicu munculnya Q patologis.[2]
b. Laboratorium
Peningkatan terhadap kadar enzim kreatinin kinase (CK dan CK-MB), mioglobin
dan troponin menunjukkan adanya nekrosis pada miokard.[11] Pada saat terjadi
infark juga ditunjukkan dengan peningkatan laktit dehidrogenase (LDH) dan
serum glutamik oksaloasetik transminase (SGOT).[12]
c. Radiografi dada
Normal ukuran jantung yang terlihat pada foto rontgen adalah kurang dari 50%
rongga thoraks.[3]

Daftar fustaka (Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

1. Marelli, T.M. (2008). Buku Saku Dokumentasi Keperawatan. EGC. ISBN 979-448-717-1.
2. Infark Miokard : Penjelasan Lengkap, Askep dan Semua Hal yang Harus Kamu Tahu.
Nurse In Asia: Indonesia. Diakses tanggal 2016-10-13.
3. (Inggris) Aaronson, Philip I. & Ward, Jeremy P.T. (2010). At a Glance Sistem
Kardiovaskular. Erlangga. ISBN 978-979-075-332-7.
4. (Inggris) Rath, Matthias (2003). Why Animal Don’t Get Heart Attacks - But People Do!,
4th Revised Edition. MR Publishing. ISBN 0-9679546-8-1.
5. (Inggris)"Cholestherol". Dr. Rath Research Institute. Diakses tanggal 2013-03-13.
6. Guyton, C. Arthur & Hall, John E. (2008). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11.
EGC. ISBN 978-979-448-850-8.
7. (Inggris) Grodner, Michele, Sara Long Roth, Bonnie C. Walkingshaw (2012). Nutrition
Foundations and Clinical Applications. Elsevier. ISBN 978-0-323-07456-8.
8. (Inggris)"Prevention of Cardiovascular Disease" Periksa nilai |url= (bantuan). World
Health Organization. WHO Press: Swiss. Diakses tanggal 2013-02-13.
9. Sudoyo, Aru W., Bambang Setiyohadi, Idrus Alwi, Marcellus Simabadibrata K., Siti
Setiati (Eds). (2010). Penyakit Dalam, Jilid II Edisi V. Interna Publishing. ISBN 978-
979-9455-98-7.
10. Sudiharto & Sartono (2008). Basic Trauma Cardiac Life Support. CV Sagung Seto. ISBN
978-602-8674-45-4.
11. (Inggris) Diepenbrock, Nancy H. (2008). Quick Reference to Critical Care, Third
Edition. Lippincott Williams & Wilkins. ISBN 978-1608314645.
12. Rab, Tabrani (2008). Agenda Gawat Darurat (Critical Care), jilid 2. PT. Alumni. ISBN
979-414-006-6.
B. Intermitten
1. Apa itu intermiten?
intermiten adalah ketidaknyamanan otot ekstremitas bawah yang dirasakan saat
latihan dan hilang dengan istirahat dalam 10 menit. Pasien akan merasakan
kelelahan otot, sakit atau kram pada saat aktivitas. Klaudikasio intermiten
merupakan gejala yang paling sering muncul pada penyakit arteri perifer.
2. Penyebab terjadinya intermitten?
Faktor resiko tersebut diantaranya adalah hipertensi, diabetes mellitus, merokok
dan faktor keturunan. Faktor keturunan dan merokok tampaknya menjadi faktor
risiko yang paling penting untuk pengembangan dan perkembangan klaudikasio
intermiten.4
3. Cara pemeriksaan intermitten?
Penanganan klaudikasio intermiten yang segera dilakukan dapat mencegah
penyakit ini memburuk, serta mengurangi efek dari gejala-gejala yang
ditimbulkan. Pengobatan klaudikasio intermiten umumnya dimulai dengan usaha
mengubah atau memperbaiki pola hidup yang kurang sehat menjadi lebih sehat.
Misalnya dengan:

 Mengonsumsi makanan sehat untuk mencukupi kebutuhan nutrisi, serta


memperbanyak asupan buah-buahan dan sayur-sayuran.
 Melakukan latihan atau olah raga secara teratur, yang disesuaikan dengan
kondisi tubuh.
 Selalu memosisikan tubuh bagian bawah, terutama tungkai atau kaki, tetap
lebih rendah dari posisi jantung ketika tidur.
 Menghindari cedera pada tungkai dan kaki.
 Tidak mengonsumsi obat-obatan yang mengandung pseudoephedrine, karena
efeknya dapat makin menyempitkan pembuluh darah.