Anda di halaman 1dari 6

UNIVERSITAS INDONESIA

PRAKTIKUM KOROSI DAN PROTEKSI LOGAM


LAPORAN AWAL

MODUL I
JENIS-JENIS KOROSI

MOHAMMAD ILHAM DARADJAT


1606904964
KELOMPOK 12

LABORATORIUM KOROSI DAN METALURGI EKSTRAKSI


FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK METALURGI DAN MATERIAL
DEPOK
FEBRUARI 2018

1
2

1. Tujuan Percobaan
1) Memperlihatkan adanya beda potensial antara dua logam yang berbeda.
2) Membedakan anoda dan katoda serta reaksi pada masing-masing
elekroda.
3) Menjelaskan proses terjadinya korosi akibat sel galvanic.

2. Dasar Teori
Korosi dapat terjadi diberbagai lingkungan disekitar kita. Jenis logam dan
kondisi lingkungan akan mempengauhi korosi yang terbentuk. Korosi terbagi
menjadi dua secara garis besar, korosi terlokalisasi dan korosi tak terlokalisasi.
Berikut beberapa contoh korosi yang umum ditemukan:
a. Korosi seragam (uniform corrosion)
Korosi seragam merupakan serangan logam secara merata keseluruh
permukaan logam yang terpapar oleh lingkungan korosif. Korosi ini
ditandai dengan adanya penipisan logam secara merata tanpa serangan
terlokalisasi. Luas permukaan serangan yang merata menyebabkan korosi
jenis ini dapat dihitung kecepatan korosinya dengan mudah.

Gbr. Skema korosi seragam


b. Korosi sumuran (pitting corrosion)
Korosi sumuran merupakan korosi yang terjadi pada logam dengan lapisan
pasif. Lapisan pasif yang terbuka akibat lingkungan yang agresif
(misalnya ion Cl-), akan menyebabkan korosi yang terpenetrasi pada
lubang tersebut. Hal ini disebabkan perbedaan potensial yang tinggi antara
lapisan pasif dan logam didalamnya, sehingga arus mengalir kedalam
lubang.
3

Gbr. Skema korosi sumuran.


c. Korosi galvanic
Korosi galvanic adalah korosi yang terjadi apabila dua logam dengan
potensial berbeda terhubung satu sama lain secara metalik dan elektrolit
hal ini menyebabkan logam yang memiliki kecenderungan anodik akan
terkorosi.

Gbr. Skema korosi galvanik

d. Korosi intergranular
Korosi intergranular merupakan korosi terlokalisasi pada batas butir yang
diakibatkan oleh segregasi dan presipitasi. Baja kromium pada temperatur
425°-815°C akan membentuk kromium karbida dengan menarik kromium
dan karbon dari dalam butir kebatas butir membentuk Cr23C6(krom
karbida). Menyebabkan wilayah sekitar batas butir kekurangan kromium
sehingga kehilangan lapisan pasif krom.
4

Gbr. Skema korosi bats butir pada baja tahan karat.

e. Environmetally Induced Cracking


 Stress Corrosion Cracking

Gbr. Skema korosi tegangan retak.


Korosi ini dipicu oleh tegangan tarik yang diterima material baik
aplikatif atau sisa, pada logam yang rentan terkorosi pada
lingkungan korosif. Ketiga faktor ini menimbulkan inisiasi retak
baik intergranular maupun transgranular.
5

Gbr. Faktor pemicu korosi tegangan retak.


 Hydrogen Induced Cracking
HIC dipicu dari masuknya atom hidrogen dari lingkungan ke
dalam maupun permukaan logam (membentuk blister). Hal ini
dapat memicu perambatan retak dari ujung ujung retak tersebut.

Gbr. Skema retak hidrogen.


Adapun beberapa jenis korosi lain seperti corrosion under
insulation, crevice corrosion, erossion corrosion, dan lain
sebagainya.
6

3. Alat dan Bahan


Alat Bahan

 Beaker Glass 2 buah  Larutan NaCl 3% 500ml


 Multitester 1 buah  Logam Cu 1 buah
 Logam Fe 1 buah
 Logam Zn 1 buah

4. Prosedur Kerja

Gbr. Diagram alir proses

5. Skema Kerja

Logam A Logam B

Larutan NaCl
Gbr. Skema

6. Referensi
1. Modul Praktikum Korosi dan Proteksi Logam 2019
2. Principles and Prevention of Corrrosion-Second Edition 1996, Denny A. Jones
3. Priciple of Corrosion Engineering and Corrosion Control-2006, Zaki Ahmad
4. Power Point Kuliah Korosi