Anda di halaman 1dari 4

TUGAS ZOONOSIS

RABIES DI INDONESIA

DAN INOVASI MEWUJUDKAN INDONESIA BEBAS RABIES

Disusun Oleh:

Nadila Rahmadhani (130210160004)

Dosen Pengampu
drh Okta Wismandanu,M.Epid

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2019
RABIES

Rabies merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular melalui semua hewan berdarah
panas dan hampir semua kejadian infeksinya akan berakhir dengan kematian. Penyakit ini
disebabkan oleh Rhabdovirus.

Berdasarkan data dari Ditjen P2P Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektro
Zoonotik tahun 2017, kasus kematian akibat rabies (LYSSA) mengalami penurunan sekitar
27.12%, diikuti dengan kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR), yakni dalam rentang waktu
tahun 2012 – 2016 setelah sebelumnya meningkat perlahan di tahun 2014 – 2015, kemudian
menurun cukup signifikan di tahun 2016. Berkurangnya angka tersebut bila dianalisis belum
dapat mengindikasikan bahwa implementasi program oleh pemerintah provinsi telah berjalan
dengan baik, mengingat tidak stabilnya persentase kasus GHPR maupun LYSSA yang
meningkat setelah menurun drastis di tahun 2012 – 2013. Kasus GHPR di tahun 2016 hanya
turun sekitar 19,44% menjadi 64.774 laporan (Infodatin, 2017), sedangkan penatalaksanaan
kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) pada manusia juga berkurang hingga 26,53%, tentu
tidak linear dengan kasus GHPR yang terbilang masih cukup tinggi.
Data di atas mengindikasikan masyarakat belum sepenuhnya berperan serta dalam hal
pencegahan penularan rabies, hal ini dimungkinkan sebab sosialisasi dan edukasi dilaksanakan
hanya sebatas formalitas namun tidak menyentuh masyarakat secara menyeluruh. Ditambah saat
ini hanya ada 9 (sembilan) provinsi di Indonesia dinyatakan sebagai daerah bebas rabies baik
secara historis maupun perlakukan (Infodatin, 2017), menunjukkan masih panjangnya perjalanan
Indonesia menuju bebas rabies, mengingat perlu perencanaan strategis lebih matang lagi dalam
menangani 25 provinsi lainnya yang endemis.
Membahas implementasi program nasional menuju Indonesia bebas rabies 2020,
hakikatnya berbasis pada Strategi Eliminasi Rabies oleh ASEAN dalam kerangka “one health”
yakni terkonsentrasi pada kesehatan semua spesies dan lingkungan adalah prioritas (ASEAN,
2016). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengembangkannya ke dalam 10 (sepuluh)
strategi yakni (a) sosialisasi; (b) penguatan regulasi; (c) komunikasi risiko; (d) pengembangan
atau peningkatan kapasitas; (e) vaksinasi massal pada HPR; (f) manajemen populasi HPR; (g)
profilaksis pra/ pasca gigitan HPR (PEP); (h) surveilans dan respon terpadu; (i) penelitian
operasional dan (j) kemitraan (Infodatin, 2014).
Pada tahun 2017, data subdit zoonosis Kementrian Kesehatan menunjukkan angka
kematian tertinggi akibat rabies berada pada provinsi Sulawesi Selatan. Dengan kejadian
tersebut munculah inovasi CEKAL (Cegah Tangkal) dengan Rabies Centre sebagai bentuk
keprihatinan terhadap kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang terbilang masih
cukup tinggi.
Beberapa inovasi Rabies Center yaitu :

1. Terselenggara koordinasi & kolaborasi dengan kesehatan hewan terhadap kasus GHPR,

2. Terbentuknya unit Rabies Centre yang bertujuan sebagai sumber informasi, komunikasi,
edukasi & layanan kesehatan kasus GHPR yang diharapkan dapat menjadi role model
Rabies Centre dengan pendekatan One Health.

3. Terbentuknya tim rapid Response yang berperan dalam merespon cepat kasus GHPR.
Untuk memudahkan komunikasi dan koordinasi dibuat wadah komunikasi bagi
stakeholders internal dan stakeholder eksternal dalam bentuk Whatsapp Group.

4. Adanya aplikasi Pusat Data & Informasi Rabies Centre yang dapat diakses
menggunakan android dan buku Model Praktik & Panduan Implementasi yang berjudul
CEKAL dengan Rabies Centre yang menjadi acuan bagi tenaga kesehatan, pemangku
kepentingan dan pengambil kebijakan di semua jenjang administrasi dalam Pencegahan
dan Pengendalian Penyakit Rabies.
DAFTAR PUSTAKA

https://jurnal.ugm.ac.id/jkki/article/download/40619/23213 diakses pada 4 April 2019

http://jipp.sulselprov.go.id/direktori/read/105 diakses pada 4 April 2019

https://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/19753/5/PKM%20GT%20Fix%20edit%2
0estu.docx diakses pada 4 April 2019