Anda di halaman 1dari 4

UJIAN AKHIR SEMESTER

RESUME JURNAL KULTUR JARINGAN: MICROGRAFTING

Disusun Oleh :

HERKOENCORO BAGAS Y (D1A016160)

Dosen Pengampu:

Dr. Ir. ELIYANTI, M.Si.

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019
Jurnal 1:

Micrografting of almond (Prunus dulcis Mill.) cultivars “Ferragnes” and


“Ferraduel”

Sambung mikro tanaman almond (Prunus dulcis Mill.) kultivar “Ferragnes” dan
Ferraduel”

Almond adalah salah satu tanaman pohon yang penting di dunia.Pemulia


konvesional sulit mengembangkan benih almond karena tingginya tingkat
heterozigositas dan tanaman dengan siklus generasi yang lama.di karenakan almond
termasuk tanaman menyerbuk silang,perubahan variasi genetic terus menerus terjadi
pada almond selama berabad-abad yang menyebabkan timbulnya variasi baru pada
kualitas buah dan hasil serta toleransi terhadap tekanan lingkungan . Pengembangan
kultivar secara tradisional yaitu persilangan yang dikendalikan antara klon yang di pilih
dan diikuti isolasi biji di germinator,seleksi dan perbanyakan vegetatif ,semuanya
membutuhkan waktu yang cukup lama,oleh karena itu perbanyakan almond dapat
dilakukan atau dapat di persingkat dengan pengembangan in-vitro secara
micrografting.Metode yang digunakan pada almond ini adalah metode bentuk-V dan
dilakukan dengan rancangan acak kelompok dengan 10 eksplan dan 2 kali
ulangan.Berdasarkan penelitian jenis eksplan yang baik adalah setengah inti dengan
embrio dengan tingkat perkecambahan 90% serta metode yang baik untuk kultivar
“Ferragnes” dan “Ferraduel” adalah vertical slit atau celah vertikal dengan tingkat
kesuksesan mincrografting 90% dan 100%. Tiga minggu setelah aklimatisasi hasil
micrograft yang berhasil bertahan hidup adalah pada media kultur PM dan RM dengan
tingkat kehidupan 100% .

Keuntungan dari dilakukannya micrografting pada tanaman almond adalah di


dapatkannya bibit dengan cepat dan memiliki sifat unggul daripada perbanyakan secara
tradisional yang memakan waktu cukup lama,sedangkan kelemahan dari micrografting
ini adalah tenaga ahli bioteknologi masih terbatas di balai penelitian atau perguruan
tinggi, biaya mahal, serta masyarakat masih rendah minat serta daya belinya karena
dianggap relatif mahal.

Micrografting pada almond dilakukan pada saat pengembangan tanaman secara


tradisional seleksi dan perbanyakan vegetatif di anggap terlalu lama sehingga tidak
dapat memenuhi kebutuhan akan bibit tanaman almond.

Jurnal 2:

The use of consecutive micrografting improves micropropagation of cherimoya


(Annona cherimola Mill.) cultivar

Penggunaan sambung mikro secara berturut-turut untuk meningkatkan budidaya


mikro cherimoya (Annona cherimola Mill.) kultivar

Cherimoya merupakan buah subtropics di bagian selatan Spanyol dan


merupakan tanaman ekonomis penting untuk daerah tersebut,Spesies ini sulit untuk di
kembang biakkan dengan cara vegetatif (cangkok atau stek).

Berdasarkan hasil penelitian benih cherimoya yang dilakukan micrografting


dengan yang tidak di lakukan micrografting memiliki perbedaan yang cukup signifikan
dimana pada eksplan yang tidak di lakukan micrografting tunas tumbuhnya hanya 40%
pada kultival Fino de Jete dan 0% pada kultivar Bonita dan Pazicas pada bagian
tunasnya,sedangkan bagian tunas yang di micrografting memiliki persentase tunas
tumbuh 70% pada kultivar Fino de Jete ,53% pada kultivar Bonita dan 31% pada
kultivar Pazicas.Sedangkan pada pengamatan persen akar tumbuh perubahan terjadi
cukup signifikan tiap dilakukannya micrografting secara berturut-turut selama tiga kali
dimana pada micrografting ke-tiga persen akar pada kultivar Fino de Jete 70% dari
awal pengamatan yaitu 30%,sedangkan pada kultivar Bonita dan Pazicas yang awalnya
tidak di lakukan micrografting setelah di lakukan micrografting menjadi 60% dan 50%.
Micrografting terbukti menjadi teknik yang sukses untuk meningkatkan respon
morfogenetik tanaman in-vitro yang sulit di kembangbiakkan seperti kultivar tanaman
cherimoya yang sulit di kembang biakkan dengan cara vegetatif,serta metode
micrografting secara teru-menerus dapat meningkatkan perkembangan dari tanaman
itu sendiri di bandingkan dengan tidak dilakukan metode micrografting. Adapun
kesulitan melakukan micrografting pada tanaman cherimoya ini adalah tenaga ahli
bioteknologi masih terbatas di balai penelitian atau perguruan tinggi, biaya mahal, serta
masyarakat masih rendah minat serta daya belinya karena dianggap relatif mahal.

Micrografting dilakukan pada saat tanaman tidak dapat di kembangbiakkan


secara vegetatif melalui stek ataupun cangkok,maka alternative lain adalah dengan
metode in-vitro yaitu micrografting