Anda di halaman 1dari 3

UAS Corporate Govarnance

1. Keberadan Komite Audit penting dalam mekanisme CG


Komite audit sangat berperan penting dalam menciptakan dan memastikan good corporate governance dierapkan secara
konsisten dan memadai oleh para eksekutif. Aplikasi tugas dari komite audit yang dilakukan sesuai dengan sistem yang ada
akan membuat prinsip-prinsip good corporate governance, yaitu fairness, responsibility, accountability, dan transparency
dapat dipenuhi. Kondisi yang ada menyebabkan good corporate governance bukan hanya tujuan tertulis saja tetapi juga
mampu diwujudkan dengan adanya fungsi komite audit di perusahaan. Hal ini dikarenakan komite audit merupakan komite
khusus di perusahaan untuk mengoptimalkan fungsi pengawasan yang sebelumnya merupakan tanggung jawab Dewan
Komisaris.
a. Peran komite audit memenuhi prinsip f airness (kesetaraan)
Komite audit memiliki kemampuan untuk memenuhi prinsip kewajaran di mana komite audit memiliki kemampuan
untuk memberikan dorongan kepada manajemen perusahaan dalam rangka memberikan perlakuan yang wajar
atau setara kepada
seluruh pihak yang berkaitan dengan perusahaan. Kondisi yang ada mendatangkan kemampuan untuk
memperlakukan seluruh pihak stakeholders secara adil.
b. Peran komite audit memenuhi prinsip responsibility (pertanggungjawaban)
Keberadaan komite audit di perusahaan diharapkan mampu mewujudkan bisnis yang sehat, bukan untuk tidak
hanya mementingkan kepentingan perusahaan sendiri tetapi juga memperhatikan nilai-nilai etika dalam bisnis.
Kondisi yang ada membuat adanya prinsip responsibility ,sebab dengan adanya komite audit ada pengawasan bagi
operasional bisnis perusahaan yang dilakukan oleh anggota manajemen dengan tujuan untuk tidak melakukan
pelanggaran terhadap aturan atau undang-undang yang berlaku, sehingga perusahaan tidak melakukan
pelanggaran terhadap pihak-pihak lain,sesuai dengan aturan atau undang-undang yang berlaku. Hal ini
membuktikan bahwa keberadaan komite audit mampu menciptakan good corporate governance dengan upaya
memenuhi prinsip pertanggung-jawaban.
c. Peran komite audit memenuhi prinsip accountability (akuntabilitas)
Komite audit memiliki kekuatan untuk melakukan pemeriksaan terhadap laporan dari auditorinternal perusahaan.
Hal tersebut membuat komite audit memiliki kesempatan untuk melakukan peninjauan terhadap struktur organisasi
dan deskripsi kerja masing-masing bagian di perusahaan, beserta dengan sistem pengendalian internal yang
sudah dimiliki oleh perusahaan. Hal ini dimaksudkan guna melihat apakah ada kemampuan untuk mengelola risiko
terutama yang berkaitan dengan peluang yang akan dimanfaatkan oleh anggota manajemen perusahaan dalam
rangka melakukan kecurangan untuk mendatangkan keuntungan bagi pihak itu sendiri.
Manfaat lain dari peran komite audit untuk melakukan pemeriksaan terhadap laporan auditorinternal adalah
kemampuan meninjau anggota manajemen perusahaan yang harus bertanggung jawab atas kesalahan atau
kecurangan yang mendatangkan kerugian bagi perusahaan,sehingga dengan demikian upaya untuk menciptakan
kelejalasan akuntabilitas di perusahaan semakin jelas dengan keberadaan komite audit.
d. Peran komite audit memenuhi prinsip transparency (keterbukaan informasi)
Keberadaan komite audit di perusahaan diharapkan akan mendorong manajemen perusahaan untuk melakukan
proses penelahaan, pemeriksaan dan pengawasan terhadap upaya penyusunan laporan keuangan. Hal tersebut
diharapkan juga membuat manajemen perusahaan untuk terbuka dalam penyajian laporan keuangan bahkan
informasiinformasi lain yang dipandang penting yang disajikan bersama dengan laporan keuangan.

2. Kasus PT KAI
a. Kejanggalan dalam kasus PT KAI:
 Pajak pihak ketiga sudah tiga tahun tidak pernah ditagih, tetapi dalam laporan keuangan itu dimasukkan
sebagai pendapatan PT KAI selama tahun 2005. Kewajiban PT KAI untuk membayar surat ketetapan pajak
(SKP) pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar Rp 95,2 Miliar yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal
Pajak pada akhir tahun 2003 disajikan dalam laporan keuangan sebagai piutang atau tagihan kepada
beberapa pelanggan yang seharusnya menanggung beban pajak itu. Padahal berdasarkan Standar
Akuntansi, pajak pihak ketiga yang tidak pernah ditagih itu tidak bisa dimasukkan sebagai aset. Di PT KAI
ada kekeliruan direksi dalam mencatat penerimaan perusahaan selama tahun 2005.
 Penurunan nilai persediaan suku cadang dan perlengkapan sebesar Rp 24 Miliar yang diketahui pada saat
dilakukan inventarisasi tahun 2002 diakui manajemen PT KAI sebagai kerugian secara bertahap selama
lima tahun. Pada akhir tahun 2005 masih tersisa saldo penurunan nilai yang belum dibebankan sebagai
kerugian sebesar Rp 6 Miliar, yang seharusnya dibebankan seluruhnya dalam tahun 2005.
 Bantuan pemerintah yang belum ditentukan statusnya dengan modal total nilai kumulatif sebesar Rp 674,5
Miliar dan penyertaan modal negara sebesar Rp 70 Miliar oleh manajemen PT KAI disajikan dalam neraca
per 31 Desember 2005 sebagai bagian dari hutang.
 Manajemen PT KAI tidak melakukan pencadangan kerugian terhadap kemungkinan tidak tertagihnya
kewajiban pajak yang seharusnya telah dibebankan kepada pelanggan pada saat jasa angkutannya
diberikan PT KAI tahun 1998 sampai 2003.
 Berkaitan dengan pengalihan persediaan suku cadang Rp. 1,4 milyar yang dialihkan dari satu unit kerja ke
unit kerja lainnya di lingkungan PT. KAI yang belum selesai proses akuntansinya per 31 Desember 2005.
 Biaya dibayar dimuka sebesar Rp. 28 milyar yang merupakan gaji Januari 2006 dan seharusnya dibayar
tanggal 1 Januari 2006 tetapi telah dibayar per 31 Desember 2005 diperlakukan sebagai uang muka biaya
gaji.
b. Pencacatan yang seharusnya sesuai SAK:
 Untuk pajak Pajak pihak ketiga sudah tiga tahun tidak pernah ditagih, tetapi dalam laporan keuangan itu
dimasukkan sebagai pendapatan berdasarkan Standar Akuntansi, pajak pihak ketiga yang tidak pernah
ditagih itu tidak bisa dimasukkan sebagai aset. Di PT KAI ada kekeliruan direksi dalam mencatat penerimaan
perusahaan selama tahun 2005. Piutang PPN tersebut seharusnya dicadangkan penghapusannya pada
tahun 2005 karena diragukan kolektibilitasnya, tetapi tidak dilakukan oleh manajemen dan tidak dikoreksi
oleh auditor.
 Masalah Beban Ditangguhkan yang berasal dari penurunan nilai persediaan seharusnya dibebankan
seluruhnya dalam tahun 2005 yaitu sebagai beban depresiasi.
 Bantuan pemerintah yang belum ditentukan statusnya yang oleh manajemen PT KAI disajikan dalam neraca
per 31 Desember 2005 sebagai bagian dari hutang, Seharusnya dicatat kas pada modal karena bantuan
pemerintah yang belum ditentukan statusnya itu diterima sebagai modal bukan hutang.Menurut Komite Audit
juga harus direklasifikasikan menjadi kelompok ekuitas dalam neraca tahun buku 2005.
 Untuk pencadangan kerugian terhadap kemungkinan tidak tertagihnya kewajiban pajak seharusnya PT KAI
melakukan pencatatan terhadap cadangan piutang tak tertagih.
 Untuk masalah persediaan dalam perjalanan yang berkaitan dengan pengalihan persediaan suku cadang
yang dialihkan dari satu unit kerja ke unit kerja lainnya di lingkungan PT. KAI yang belum selesai proses
akuntansinya per 31 Desember 2005, seharusnya dicatat sebagai beban tahun 2005.
 Biaya dibayar dimuka yang merupakan gaji Januari 2006 dan seharusnya dibayar tanggal 1 Januari 2006
tetapi telah dibayar per 31 Desember 2005 yang diperlakukan sebagai uang muka biaya gaji, seharusnya
dibebankan pada tahun 2005. Karena, beban gaji diakui pada tahun berjalan.
3. Pembentukan entitas ( Special Purpose Vehicle) menjadi indikasi pelanggaran ENRON

Pembentukan SPE ini berawal dari Andrew Fastow yang membuat ide untuk menggunakan nilai kelebihan
kontrak sebagai pendapatan. Andrew dan KAP Arthur Anderson bekerjasama dan menyiapkan serial limited
partnership (perusahaan rekanan terbatas) yang disebut “Special Purpose Entities”. Aturan akuntansi
memungkinkan bahwa perusahaan dapat tidak mencantumkan special purpose entities pada laporan keuangan,
asalkan terdapat suatu pihak yang dapat mengontrol penyelenggaraannya serta memiliki setidaknya 3 persen nilai
special purpose entity. Enron mendirikan 3 SPE yaitu Chewco Investment LP, LJM Cayman LP, dan LJM 2 Cp-
Investment. Entitas untuk tujuan khusus ini kemudian mengajukan sejumlah besar hutang dengan saham Enron
sebagai penjaminnya. Uang yang dipinjam ini diakui sebagai pembelian nilai lebih kontrak dan dicatat sebagai uang
“pendapatan penjualan” meskipun sebenarnya adalah hutang. Entitas ini juga mengambil alih sejumah besar
hutang Enron. Para pemegang saham percaya bahwa Enron tidak mengalami lonjakan hutang, karena hal ini tidak
dilaporkan ke publik. Mereka percaya bahwa Enron menghasilkan lagi yang baik dan mengalami peningkatan tiap
tahunnya. Hal ini juga dikuatkan dengan pernyataan KAP Arthur Anderson bahwa laporan Enron adalah akurat.
Board of Director (dewan direktur, direktur eksekutif dan direktur non eksekutif) membiarkan kegiatan-
kegiatan bisnis tertentu mengandung unsur konflik kepentingan dan mengijinkan terjadinya transaksi-transaksi
berdasarkan informasi yang hanya bisa di akses oleh pihak dalam perusahaan (insider trading), termasuk praktek
akuntansi dan bisnis tidak sehat sebelum hal tersebut terungkap kepada publik Hal ini menjadi titik kejatuhan Enron
karena beberapa SPE yang dibentuknya tidak independen, karena dimiliki dan dikelola oleh CFO Enron. Selain itu,
ada beberapa transaksi yang tidak mungkin dilakukan antara Enron dengan pihak independen, seperti menjual dan
membeli aktiva saat melaporkan posisi keuangan.