Anda di halaman 1dari 7

STRUKTUR KAYU

Nama : Ines Epti Noniasari

NIM : 5160811043

Kelas : C

Pengertian Kayu

Kayu merupakan hasil hutan dari sumber kekayaan alam, merupakan bahan mentah yang
mudah diproses untuk dijadikan barang sesuai dengan kemajuan teknologi. Kayu memiliki
beberapa sifat sekaligus, yang tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain.

1. Jenis dan klarifikasi kayu


Klasifikasi kayu menurut keawetan, kekuatan kayu serta pemakaiannya pada
bangunan diterangkan sebagi berikut:
a) Klasifikasi keawetan kayu
Klasifikasi kayu berdasarkan keawetan kayu didasarkan pada keawetan kayu
terhadap pengaruh kelembaban, iklim (air dan terik matahari), rayap dan
serangga lain, serta perlakuan kayu dalam pemakaian sebagai konstruksi.
Berdasarkan Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (1961), keawetan kayu
diklasifikasikan dalam 5 (lima) kelas, yaitu: kelas ketahanan I, II, III, IV,
dan V.

Tabel 1.1 Sifat dan Kegunaan Kelompok Jenis Kayu Perdagangan Indonesia

Kuat Kuat
B.J. Kelas Kelas Lentur Desak
No. Jenis Kayu Penyebaran Kegunaan
Rata2 Awet Kuat
Kg/cm² Kg/cm²
1 2 3 4 5 6 7 8 9
725- 425-
1 Agathis 0,49 IV III 1,2,3,4,5,7 1,2,3,7,8,9,14,15,17
500 300
118 Ulin 1,04 I I 1,3 ≥1100 ≥650 1,4,6,10,11
119 Walikukun 0,98 II I 2,6 ≥1100 ≥650 1,4,5,6,9,10,11,18
Tabel 1.2. Kelas keawetan kayu menurut tegangan lentur, tegangan tekan, dan
berat jenis.

KELAS KEAWETAN

SIFAT PEMAKAIAN I II III IV V

Selalu berhubungan dengan sangat sangat


tanah lembab. 8 th 5 th 3 th pendek pendek

Hanya dipengaruhi cuaca, tetapi


dijaga supaya tidak terendam air beberapa sangat
dan tidak kekurangan udara. 20 th 15 th 10 th tahun pendek

Di bawah atap, tidak


berhubungan dengan tidak tidak
tanah lembab dan tidak terba- terba- sangat beberapa
kekurangan udara. tas tas lama tahun pendek

tidak tidak tidak


Seperti di atas tetapi dipelihara
terba- terba- terba-
dengan baik dan dicat dengan
tas tas tas
teratur. 20 th 20 th

sangat sangat
Serangan rayap tanah. tidak jarang cepat cepat cepat

hampir tidak sangat


Serangan bubuk kayu. tidak tidak tidak berarti cepat
b) Klasifikasi Kayu Berdasarkan kekuatan kayu

Klasifikasi kekuatan kayu didasarkan pada kekuatan elastis dan kekuatan


tekan pada suasana kayu kering udara. Kekuatan elastis ditentukan menurut
tegangan elastis maksimum yang diterima oleh kayu sampai putus (tegangan
elastis mutlak). Sedangkan kekuatan tekan ditentukan menurut tegangan
tekan maksimum yang diterima oleh kayu sampai pecah (tegangan desakan
mutlak).

Besarnya angka tegangan kayu ditetapkan dengan satuan kg/cm3. Biasanya


semakin kuat sebuah jenis kayu semakin besar pula Berat Jenis
(BJ)nya. Klasifikasi kayu di Indonesia menurut keterangan dari Peraturan
Konstruksi Kayu Indonesia (PKKI) tahun 1961 digolongkan ke dalam 5
(lima) ruang belajar kuat, yaitu ruang belajar kuat I, II, III, IV dan V.

Tabel 1.3. Kelas powerful kayu menurut tegangan lentur, tegangan tekan, dan
berat jenis.

Tegangan Lentur Tegangan Tekanan


Berat Jenis
Mutlak (kg/cm3) Mutlak (kg/cm3)
Kelas Kuat (BJ)

I ≥ 1100 ≥ 650 ≥ 0,90

II 1100 – 725 650 – 425 0,90 – 0,60

III 725 – 500 425 – 300 0,60 – 0,40

IV 500 – 360 300 – 215 0,40 – 0,30

V ≤ 360 ≤ 215 ≤ 0,30


 Jenis kayu yang termasuk pada tingkat I (satu) di antaranya:
kayu bengkirai, jati, merbau, resak, biasa digunakan pada konstruksi yang berat.
 Jenis kayu Pada tingkat II (dua) di antaranya:
kayu rasamala, merawan, digunakan untuk konstruksi berat terlindungi.
 Jenis kayu Tingkat III (tiga) diantaranya:
kayu puspa, kamper, kemuning digunakan konstruksi berat terlindungi.
 Jenis kayu Tingkat IV (empat) diantaranya:
kayu sungkai, meranti, suren, Mahoni, pinus, lame digunakan untuk konstruksi
ringan.
 Tingkat V (lima) diantaranya:
kayu albasia untuk pekerjaan keperluan Sementara

c) Tingkat pemakaian kayu


Menentukan tingkat pemakaian kayu didasarkan pada tingkat keawetan dan
kekuatannya, tanpa memperhatikan tentang cara mengerjakan kayu, serta mudah atau
susahnya mengolah kayu tersebut.
- Tingkat I : Untuk konstruksi-kontruksi berat yang dibangun diluar
(tidak terlindung) dan terkena tanah lembab. Jenis kayu
yang termasuk tingkat pemakaian I ialah : kayu jati,
johar, sonokeling, belian dan sebagainya.
- Tingkat II : Untuk keperluan konstruksi-konstruksi berat, tidak
terlindung dan tidak dikenai tanah lembab.
Jenis kayu yang termasuk tingkat pemakaian II di
antaranya: kayu rasamala, merawan, walikukun dan
sebagainya.
- Tingkat III : Dipergunakan untuk konstruksi-konstruksi berat yang
terlindung.
Yang termasuk tingkat pemakaian III ialah: kayu
kampier, keruwing, mahoni, jamuju dan sebagainya.
- Tingkat IV : Untuk keperluan konstruksi-konstruksi ringan yang
terlindung (di dalam rumah).
Diantaranya yang termasuk tingkat pemakaian IV ialah:
kayu meranti, suren, durian dan sebagainya.
- Tingkat V : Untuk keperluan konstruksi-konstruksi yang ringan yang
bersifat sementara.
Jenis kayu yang termasuk tingkat pemakaian V adalah
kayu-kayu yang kurang awet dan mempunyai kekuatan
dibawah tingkat pemakaian IV.

d) Bahan Struktur dan Non Struktur


 Kayu bangunan structural Ialah kayu bangunan yang digunakan untuk bagian
struktural bangunan danpenggunaannya memerlukan perhitungan beban
 Kayu bangunan non-strukturalIalah kayu bangunan yang digunakan dalam
begian bangunan, yangpenggunaannya tidak memerlukan perhitungan beban

2. Pengawetan Dan Pengeringan Kayu


a) Pengawetan Kayu
Keawetan kayu berhubungan erat dengan pemakaiannya. Kayu dikatakan awet bila
mempunyai umur pakai lama. Kayu berumur pakai lama bila mampu menahan
bermacam-macam factor perusak kayu. Dengan kata lain: keawetan kayu ialah
daya tahan suatu jenis kayu terhadap factor-faktor perusak yang datang dari luar
tubuh kayu itu sendiri.
Cara melindungi keawetan kayu diantaranya adalah :
 Cara tradisional yaitu dengan cara merendam kayu dalam air untuk waktu
tertentu kemudian dikeringkan.
 Memberi zat kimia pada kayu agar tidak disukai oleh hewan perusak kayu
misalnya solar atau oli mesin
 Melapisi/menutup pori-pori kayu dengan cat sehingga tidak mudah menyerap
air jika kena hujan dan juga untuk mencegah tumbuhnya jamur dan lumut pada
kayu
b) Pengeringan Kayu
Pengeringan kayu adalah proses untuk mengeluarkan air yang terdapat di dalam
kayu. Telah diutarakan di muka, bahwa kadar air kayu memberikan pengaruh yang
sangat besar dalam pemakaian kayu. Untuk berbagai macam kegunaan dengan
kondisi udara tertentu kayu memerlukan batas kandungan kadar air.
Pengeringan pada hakekatnya dilakukan dengan dua (2) cara yaitu pengeringan
alami dan pengeringan buatan. Pengeringan alami sering disebut pengeringan
udara.
1. Pengeringan Alami
Yang dimaksud pengeringan alami adalah proses pengeringan dengan cara
mengangin-anginkan kayu yang bersangkutan. Dalam pengeringan ini ketiga
faktor penentu kecepatan pengeringan seperti temperatur, kelembaban dan
sirkulasi udara diserahkan pada keadaan alam disekitar kayu yang dikeringkan.
Pengeringan secara alami memiliki kelebihan yaitu :
 Fasilitas yang digunakan sederhana, seperti hanya dengan memanfaatkan
cahaya matahari sebagai sumber energi untuk pengeringan.
 Sangat sederhana dan dapat pula memeberikan hasil yang memuaskan
apabila dikerjakan dengan baik.
 Tidak memerlukan biaya dan modal besar

Kekurangan pengeringan dengan metode pengeringan alami yaitu :

 Memerlukan tempat yang luas untuk pengeringan, pengeringan kayu


tergantung terhadap faktor cuaca karena memanfaatkan cara matahari,
selain itu memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan kayu yang
benar – benar kering
2. Pengeringan Buatan (Kiln Drying)
Pengeringan ini merupakan lanjutan hasil perkembangan pengeringan udara.
Dengan kemajuan dan perkembangan teknologi modern, meningkatkan
permintaan akan kayu berkualitas tinggi, maka timbul usaha pengeringan
buatan yang lebih efektif dan lebih efisien daripada pengeringan buatan yang
lebih efektif dan lebih efisien daripada pengeringan udara.
Kelebihan dari pengeringan tanur (klin drying) dibandingkan dengan
pengeringan alam adalah proses pengeringan berlangsung dengan cepat, tidak
tergantung pada perubahan cuaca dan dapat melayani pasar dalam waktu yang
singkat.
Kekurangan cara pengeringan ini adalah untuk mengoperasikan alat
pengeringan diperlukan biaya yang besar dan penggunaan alat pengering tanur
ini masih belum banyak digunakan di Indonesia