Anda di halaman 1dari 24

1

STATUS PASIEN PSIKIATRI

Identitas Pasien

Nama : Tn. B
Tempat/Tanggal Lahir : Tentena, 14 April 1978
Alamat : Ds. Kapiroe, Kab. Sigi
Pekerjaan : Kuli
Pendidikan Terakhir : SMA
Status Perkawinan : Menikah
Tanggal Pemeriksaan : 23 Oktober 2018
Tempat Pemeriksaan : Poli Jiwa RSU Anutapura Palu
2

LEMBAR WAWANCARA

Co-Ass : Assalamualaikum, selamat pagi, Pak. Maaf mengganggu waktunya

sebentar. Saya dokter Rafi, yang sedang dinas di poli jiwa. Boleh saya tahu

apa keluhannya pak ?

Pasien : Walaikumsalam. Oh iya dokter. Saya ada rasa takut dok. Seperti

cemas, sudah lama seperti ini belum bisa hilang sampai sekarang.

Co-Ass : Kira-kira sudah berapa lama ada perasaan seperti ini pak ?

Pasien : Pas puasa dokter, pertengahan Agustus kemarin. Sebenarnya ini

sudah yang kedua kali saya datang ke dokter Soraya, mau kontrol obat.

Co-Ass : Kenapa bisa ada rasa takut pak? Ada yang dipikirkan ?

Pasien : Saya takutkan sudah tidak bisa dapat kerja lagi, seperti hampir

habis akal, tidak bisa bikin apa-apa lagi, saya kerja kuli sekarang ini dok,

hampir tiap bulan kirim uang ke istri di kampung.

Co-Ass : Oh iya pak, mohon maaf sebelumnya pak, kalo boleh saya tahu

bisa diceritakan masalahnya bagaimana pak ?

Pasien : Begini sebenarnya, pas dekat-dekat mau lebaran saya dipecat

bosku, katanya saya bekerja tidak becus, mending ndak usah kerja, saya

tidak tahu di mana saya punya salah, sempat ada adu mulut kemarin itu

cuma tetap keputusannya dia mau kasih keluar saya dari proyek

bangunannya, jadi apa boleh buat dok, kecewa saya pulang itu, padahal saya
3

tidak tanggung-tanggung kalo ambil bagian semua saya kerja selagi masih

ada bagian, sudah saya kasih tahu istriku dalam satu bulan ini saya cari

kerjaan lain dulu. Saya tahan-tahan terus niat jahatku mau mencuri, cuma

dalam hati ini masih ada juga rasa manusia yang bilang itu tindakan jelek.

Co-Ass : Keluarga sekarang di mana pak ? Istri sama anaknya bagaimana ?

Pasien : Istri sama anak di kampung dok. Terutama anak perempuanku ini

yang saya pikirkan bagaimana saya bisa bayarkan uang sekolahnya, soalnya

dia bilang harus cepat dibayar, dia sekarang SMA. Untungnya pas

September kemari ada teman ajak kerja di proyek lain, Alhamdulillah dok biar

tidak seberapa seperti yang proyek sebelumnya itu, sudah cukup saya

nafkahi keluargaku. Sengaja saya titip di Tentena dulu mereka, di rumah

mertua, untuk sementara tinggal di sana, di sini saya tabung terus uang

supaya dikirim, supaya fokus dulu saya kerja di sini, sebenarnya saya malu

juga dengan keluargaku dok, makanya saya cari-cari terus pekerjaan dan

keras berpikir supaya bisa saya hidupi keluargaku.

Co-Ass : Sekarang masih tetap ada rasa cemasnya bapak biarpun sudah

bekerja kembali ?

Pasien : Masih ada dok. Sudah bisa saya tabung sedikit-sedikit hasil kerja,

tapi tetap ada terus itu “jangan-jangan…” kayak perasaan was-was jangan-

jangan bagaimana nanti kalau saya dipecat, hilang lagi kerja, akhirnya stress

lagi dok.
4

Co-Ass : Oh iya pak, jadi cemasnya belum hilang. Selama ada perasaan

was-was itu apa yang kira-kira mengganggu bapak ? Maksudnya pak, apa

yang berbeda sebelum dan setelah ada rasa khawatirnya bapak ?

Pasien : Cuma itu saja dok kalo datang lagi cemas, tidak tenang sudah

perasaan, takut.

Co-Ass : Jadi itu yang mengganggu, pak ? Keluarga dan temannya bapak

sudah tahu bagaimana kondisi bapak ?

Pasien : Iya mereka sudah tahu dok, tiap minggu saya telpon istriku

dikampung, teman-temanku yang kerja juga, saya kasih tahu mereka saya

ada berobat, rata-rata mereka bilang tidak perlu terlalu stress bekerja,

pengaruh pikiran katanya mereka bilang makanya saya begini.

Co-Ass : Kemudian bagaimana kalo ada rasa cemas atau takutnya datang

lagi, pak. Apa yang bapak lakukan ?

Pasien : Saya juga belum mengerti kenapa belum hilang perasaan tidak

enak dok, cuma pasrah saja saya, saya biasanya merokok kalo sudah ada

perasaan cemas. Setiap kali habis sholat selalu tenang lagi perasaan.

Co-Ass : Bagaimana tidurnya pak,?

Pasien : Malah sampai sekarang sering saya tidak tidur, ada tidur tapi kira-

kira hanya ada 3 atau 4 hari dalam 1 minggu saya tidur agak nyenyak,

sisanya tidak bisa, saya selalu pikirkan rencana-rencana supaya tidak hilang

pekerjaanku. Sering juga saya sakit kepala, makanya saya datang kontrol
5

obat lagi ini dengan dokter, ada yang obat racikannya dokter itu yang saya

minta.

Co-Ass : Kalo makan masih bagus pak ?

Pasien : Kalo sudah muncul cemas sudah tidak enak makanku dok, saya

merokok lagi, nanti kalo sudah agak mendingan baru saya coba makan lagi.

Co-Ass : Kalo aktifitas sehari-harinya bagaimana pak, ikut terganggu juga ?

Pasien : Kalo sedang kerja jarang dok, kendati muncul cemas tetap saya

kerja, kecuali kalo memang sudah berat sekali saya rasa, biasanya saya

duduk dulu sejenak, merokok lagi, kalo sudah reda, mulai lagi saya lanjut.

Saya bersyukur masih bisa kerja keras untuk keluarga, cuam tidak enak kalo

sudah ada lagi pikiran-pikiran yang bikin cemas dok.

Co-Ass : Pernah pikiran cemas bapak muncul karena dengar bisikan-bisikan

? Atau seperti sosok makhluk yang bapak lihat ?

Pasien : Tidak pernah dok. Tidak ada bisikan atau bayangan sosok yang

saya lihat

Co-Ass : Ada bagian badannya bapak yang sakit selama ini ?

Pasien : Saya rasa tidak ada dokter, cuma itu dok kalo sudah cemas jadi

susah tidur, tidak enak makan dan sakit-sakit kepala

Co-Ass : Kalo berdebar-debar, sesak napas, nyeri dada pernah pak ?

Pasien : Tidak pernah dok, cuma saya rasa seperti keringat dingin kalo

sudah datang rasa takut.

Co-Ass : Baik. Terima kasih banyak atas waktunya pak.


6

BAGIAN I

RIWAYAT PENYAKIT

A. Keluhan Utama

Cemas

B. Riwayat Gangguan Sekarang

1. Keluhan dan Gejala

Pasien pria usia 40 th masuk rumah sakit dengan keluhan cemas, yang

dialami sudah semenjak ± 2 bulan yang lalu. Keluhan tersebut disertai

dengan perasaan tidak nyaman berupa takut dan gelisah, juga membuat

pasien sulit tidur pada malam hari. Menurut pasien, keadaan ini dimulai

setelah dua bulan yang lalu berhenti bekerja karena dipecat oleh atasan

dengan alasan bahwa kinerja pasien kurang efektif selama terikat kontrak

kerja, dan sampai saat ini pasien merasa kecewa karena tidak memperoleh

pengakuan dari jerih payahnya, yang mana hal ini membuat pasien terus

berpikir, terutama sepanjang malam digunakan untuk mencari-cari ide dan

pekerjaan lainnya.

Karena belum bisa menafkahi istri dan 1 orang anak perempuannya,

untuk sementara waktu pasien menitipkan mereka tinggal di rumah mertua

pasien di Tentena. Berbagai macam ide sudah dipikirkan pasien, termasuk

kehendak untuk mencuri, namun menambah beban pikiran dan menjadi


7

dilema karena pasien paham bahwa hal tersebut tidak benar dan

bertentangan dengan nilai, sementara di sisi lain situasi yang dialami pasien

sudah terdesak. Pasien takut bagaimana kondisi ekonomi keluarganya di

masa depan, terutama harus membayar biaya sekolah anaknya dalam waktu

dekat ini. Sampai akhirnya ada tawaran kerja dari teman dekat pasien di

proyek bangunan lain, dan dengan upah yang tidak lebih besar seperti pada

proyek sebelumnya, tetapi sudah lumayan cukup untuk ditabung dan

menghidupi keluarga serta mencicil biaya pendidikan anaknya. Namun,

perasaan khawatirnya belum dapat hilang, pasien masih terus berpikir

bagaimana jika pekerjaannya hilang lagi seperti sebelumnya. Belakangan ini

pasien sering sakit kepala. Juga saat perasaan cemas muncul, pasien

merasa tidak enak makan. Terkadang juga pasien merindukan istri dan

anaknya.

2. Hendaya/Disfungsi

Dengan gangguan atau kondisi kejiwaan pasien saat ini, menyebabkan ia

memiliki ketidakmampuan (disabilitas) dalam hal penggunaan waktu

senggang, yang mana waktu istirahat pasien terganggu dengan kesibukan

pikiran yang disertai perasaan cemas, takut dan gelisah

3. Faktor Stressor Psikososial

Adapun stressor psikososial yang mendukung gangguan kejiwaan pasien

saat ini ialah masalah pekerjaan, yakni pemutusan hubungan kerja pasien
8

dengan proyek sehingga produktifitas pasien tidak berjalan untuk sementara

waktu.

4. Hubungan Gangguan Sekarang dengan Riwayat Fisik dan Psikis

Sebelumnya

Riwayat fisik sebelumnya dan sekarang diketahui tidak ada masalah.

Pasien pernah berobat di poliklinik jiwa RSU Anutapura dengan keluhan yang

sama sekitar 2 bulan yang lalu.

C. Riwayat Penyakit Sebelumnya

1. Riwayat Gangguan Psikiatri

Pasien sudah pernah berobat di poliklinik Jiwa RSU Anutapura dengan

keluhan yang sama sekitar 2 bulan yang lalu, kunjungan kali ini merupakan

yang kedua kalinya

2. Riwayat Gangguan Medis

Tidak ada riwayat gangguan medis maupun riwayat operasi/opname di

rumah sakit sebelumnya. Tidak ada riwayat kejang, penyakit infeksi otak dan

trauma/cedera kepala.

3. Riwayat Penggunaan NAPZA

Diketahui bahwa pasien tidak memiliki riwayat penggunaan zat-zat

terlarang, selain merokok semenjak SMA.


9

D. Riwayat Kehidupan Pribadi

1. Riwayat Prenatal dan Perinatal

Pasien lahir tahun 1978 di Tentena, persalinan normal, tidak ada riwayat

trauma, riwayat infeksi, dan riwayat kejang. Pasien lahir tanpa penyulit

apapun dalam persalinan.

2. Riwayat Masa Kanak Awal (1-3 tahun)

Tidak terdapat persoalan-persoalan makan diusia ini. Pertumbuhan

dan perkembangan sesuai umur dan tidak terdapat gejala-gejala problem

perilaku. Tidak ada riwayat kejang, trauma atau infeksi pada masa ini. Pasien

mendapatkan kasih sayang dari orang tua dan saudara-saudaranya

3. Riwayat Masa Pertengahan (4-11 tahun)

Pasien bersekolah dasar di Tentena dengan baik sama seperti anak

seusianya. Hubungan dengan teman sekolah dan teman bermain baik

4. Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja (12-18 tahun)

Hubungan pasien dengan keluarga, kerabat, dan lingkungan tempat

tinggal baik. Selama periode di sekolah tidak ada permasalahan yang dialami

pasien. Perkembangan emosional, kognisi, dan motorik pasien baik. Pasien

tidak terlibat kenakalan remaja, baik itu perkelahian, minum-minuman keras,

ataupun penggunaan obat-obatan terlarang, dan mulai dari sini pasien

merokok.
10

5. Riwayat Masa Dewasa (18 tahun ke atas)

Pasien menikah di usia 24 tahun, dan memiliki satu anak perempuan

yang sekarang berumur 16 tahun yang bersekolah di SMA. Hubungan pasien

dengan rekan kerjanya berjalan baik. Pasien mulai merasa cemas setelah

dipecat dari pekerjaannya dengan alasan tidak becus bekerja, pasien takut

tidak dapat menafkahi diri dan keluarganya, yang membuat pasien tidak

dapat tidur tenang serta mengalami penurunan nafsu makan akibat beban

pikiran yang dimilikinya. Interaksi pasien dengan lingkungan kerja, tempat

tinggal, bahkan keluarganya masih baik.

E. Riwayat Keluarga

Tidak ada anggota keluarga pasien yang memiliki riwayat masalah

kejiwaan. Pasien merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, dua

saudara yang lain sudah bekerja. Keluarga pasien memahami suasana

perasaan pasien saat ini terkait usaha kerasnya sebagai kepala keluarga

untuk mencari nafkah.

F. Situasi Sekarang

Pasien menjalani hari-harinya dengan tetap bekerja sebagai kuli

bangunan, interaksi dengan rekan kerja masih baik, begitu pula dengan

keluarga pasien. Pasien tinggal sendiri di rumahnya, sering pula menginap di

rumah teman kerjanya. Pasien juga tetap berusaha mengendalikan perasaan

khawatirnya secara perlahan.


11

BAGIAN II

STATUS MENTAL

A. Deskripsi Umum

1. Penampilan

Pasien pria usia 40 tahun, wajah sesuai usia, postur dan gestur tubuh

baik, warna kulit sawo matang. Tampak sehat dan cukup rapi, memakai kaos

oblong lengan panjang berwarna putihdengan celana jeans.

2. Kesadaran

Compos Mentis

3. Perilaku dan aktivitas motorik

Pasien tampak tenang

4. Pembicaraan

Pasien diketahui berbicara spontan dengan intonasi biasa, lancar, serta

menjawab sesuai pertanyaan.

5. Sikap terhadap pemeriksa

Kooperatif dan terbuka


12

B. Keadaan Afektif

1. Mood : Eutimia

2. Afek : Serasi

3. Empati : Dapat diraba-rasakan

C. Fungsi Intelektual atau Kognitif

1. Taraf pendidikan : Pengetahuan umum dan kecerdasan sesuai dengan

pendidikan pasien

2. Daya konsentrasi : Baik

3. Orientasi : Baik

4. Daya ingat : Baik

5. Pikiran abstrak : Baik

6. Bakat kreatif : (-)

7. Kemampuan menolong diri sendiri : Mampu menolong diri sendiri

D. Gangguan Persepsi

1. Halusinasi : Tidak ada

2. Ilusi : Tidak ada

3. Depersonalisasi : Tidak ada

4. Derealisasi : Tidak ada


13

E. Proses Berpikir

1. Arus Pikir

a. Produktivitas : Lancar, membanjir

b. Kontinuitas : Relevan

c. Hendaya berbahasa : Tidak terdapat hendaya berbahasa

2. Isi Pikiran

a. Preokupasi : Tidak ada

b. Gangguan isi pikiran : Tidak ada

F. Pengendalian impuls

Saat diwawancara impuls pasien baik (tenang)

G. Daya Nilai

1. Norma Sosial : Baik

2. Uji daya nilai : Baik

3. Penilaian Realitas : Tidak terganggu

H. Tilikan (insight)

Derajat 6 : Memahami sepenuhnya tentang situasi dirinya disertai

motivasi untuk mencapai perbaikan.

I. Taraf Dapat Dipercaya

Dapat dipercaya
14

BAGIAN III

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT

A. Status Internus

Tanda Vital :

a. Tekanan Darah : 130/90 mmHg

b. Nadi : 84 x/menit

c. Pernapasan : 20 x/menit

d. Suhu : 36,5 ºC

Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), sianosis (-/-). Pemeriksaan

kelenjar leher normal. Pemeriksaan organ thorax dan abdomen normal.

B. Status Neurologis :

GCS E4M6V5, pupil bundar isokor, ukuran 3 mm, reflex cahaya +/+, reflex

cahaya tidak langsung +/+, Pemeriksaan kaku kuduk : (-), reflex fisiologis (+),

reflex patologis (-). fungsi kortikal luhur dalam batas normal.


15

BAGIAN IV

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

1. Pasien laki-laki usia 40 tahun datang dengan keluhan cemas.

2. Pasien juga mengeluhkan perasaan takut, gelisah, sering sakit kepala,

tidak enak makan dan sulit tidur.

3. Pasien memiliki hendaya penggunaan waktu senggang.

4. Pasien memiliki pemicu yang mendukung gangguan kesehatan jiwa yang

dialami pasien saat ini, yakni masalah pekerjaan.

5. Pada saat anamnesis pasien tampak tenang dengan produktifitas kalimat

lancar dan membanjir.

6. Pasien sudah merokok sejak SMA.


16

BAGIAN V

EVALUASI MULTIAKSIAL

A. Axis I

1. Pada autoanamnesis diketahui bahwa pasien ini mengalami gejala

cemas, memiliki perasaan takut, gelisah, siklus tidur terganggu, hal ini

menimbulkan distress dan disability, maka hal ini dapat dikatakan

sebagai suatu gangguan jiwa.

2. Pasien tidak memiliki riwayat kelainan status internus dan neurologis,

maka pasien ini tidak mengalami gangguan mental organik (F0).

3. Pasien memiliki tidak memiliki riwayat penggunaan zat psikoaktif, selain

merokok yang sudah dimulai sejak SMA, namun hal tersebut bukanlah

pemicu gangguan kejiwaan pasien saat ini, melainkan faktor

pekerjaannya, sehingga hal ini bukan gangguan mental dan perilaku

akibat zat psikoaktif (F1).

4. Dari pemeriksaan status mental tidak didapatkan hendaya berat dalam

menilai realita sehingga hal ini ialah bukan gangguan jiwa psikotik

(F2).

5. Tidak ada peningkatan mood/afek dan psikomotor pada pasien ini, juga

tidak ditemukan adanya flight of ideas, sehingga tidak menunjukkan

gejala mania. Pasien mengalami penurunan nafsu makan dan gangguan


17

tidur, namun hal tersebut tidak berkaitan dengan keadaan mudah lelah,

penurunan aktifitas yang berat, kehilangan minat dan kegembiraan, serta

gagasan-gagasan negatif mengenai diri sendiri dan masa depan

sehingga tidak menunjukkan gejala depresi. Karena tidak menderita

mania dan depresi, maka pada pasien ini tidak menderita gangguan

perasaan (F3).

6. Diketahui bahwa pasien mengalami gejala cemas, takut, gelisah, yang

mana hal tersebut dialami semenjak pasien kehilangan pekerjaannya,

maka hal ini merupakan suatu gangguan terkait stress (F4).

7. Kecemasan atau rasa takut yang dialami pasien mengarah pada objek

atau situasi yang belum jelas nasib, keberadaan dan kejadiannya di

masa depan, yaitu kondisi kehidupan ekonomi keluarganya yang akan

lumpuh, sehingga bukan merupakan gangguan anxietas fobik (F40).

8. Cemas/ketakutan yang dialami pasien tidak terjadi secara spontan atau

tidak terduga, dan tidak menunjukkan gejala otonomik terutama sistem

kardiovaskular dan pernapasan sebagai manifestasi dari gejala mental

terhadap rasa takut yang hebat dan ancaman kematian/bencana

sehingga bukan merupakan gangguan panik (F41.0)

9. Cemas/ketakutan yang dialami tidak mempengaruhi/dipengaruhi seluruh

aspek kehidupan pasien sehari-hari, terlihat bahwa pasien hanya

berfokus pada satu masalah dan hanya sebatas dampak yang akan
18

terjadi setelah masalah tersebut, sehingga hal ini bukan gangguan

anxietas menyeluruh (F41.1).

10. Karena tidak tergolong dalam tipe anxietas fobik, gangguan panik,

gangguan anxietas menyeluruh, gangguan campuran anxietas & depresi,

serta gangguan anxietas campuran lainnya, maka pasien ini tergolong

dalam gangguan anxietas yang tidak tergolongkan (F41.9).

B. Axis II :

Gangguan kepribadian tidak dapat ditentukan

C. Axis III :

Tidak ada diagnosis

D. Axis IV :

Masalah dengan produktifitas/pekerjaan

E. Axis V:

Global Assesment Of Functioning (GAF) : Scale 70-61 (beberapa gejala

ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih

baik)
19

F. Daftar Problem

1. Organobiologik

Pasien memiliki gangguan keseimbanagan neurotransmitter di otak,

sehingga memerlukan terapi farmakoterapi.

2. Psikologik

Pasien juga memiliki faktor stressor psikososial sehingga perlu diberikan

terapi berupa psikoterapi.

G. Prognosis

1. Faktor Pendukung :

a. Pasien menyadari kondisi kesehatan mental dan jiwanya, serta

membutuhkan bantuan untuk sembuh serta motivasi untuk mencapai

perbaikan.

b. Tidak ada riwayat penyakit komorbid yang dialami.

2. Faktor Pemberat :

Hendaya penggunaan waktu senggang

Melalui pertimbangan faktor pendukung dan pemberat tersebut, maka

prognosis penyakit pada pasien ini ialah

1) Qua Ad Vitam : Dubia ad bonam

2) Qua Ad Functionem : Dubia ad bonam

3) Qua Ad Sanationem : Dubia ad bonam


20

BAGIAN VI

RENCANA TERAPI

A. Farmakoterapi

Golongan benzodiazepin : clobazam 10 mg 2x1 (20-30 mg/hari) (Axis I)

B. Psikoterapi

1. Ventilasi : memberikan kesempatan kepada pasien untuk menceritakan

keluhan pasien. (Axis IV)

2. Konseling : memberikan penjelasan dan pengertian kepada pasien

tentang penyakitnya, agar pasien memahami kondisi dirinya, dan

memahami cara menghadapinya, serta memotivasi agar pasien dapat

teratur meminum obatnya. (Axis V)

3. Relaksasi : Latihan pernapasan untuk membantu mengontrol kecemasan

dan rasa takut. (Axis V)


21

BAGIAN VII

DIAGNOSIS BANDING

Terdapat satu hal yang tersirat terkait kondisi kejiwaan yang dialami

pasien saat ini, yakni adanya faktor kehilangan (loss). Pasien sebelumnya

tidak memiliki pekerjaan karena dipecat oleh atasan dan terus memikirkan

bagaimana kondisi ekonomi kehidupan keluarganya, yang mana hal tersebut

telah menjadi fokus utama kekhawatiran atau beban pikiran pasien. Faktor

kehilangan tersebut merupakan suatu pemicu yang mengarah pada sindroma

depresi sebagai bagian dari psikodinamika pasien, meskipun tidak

menunjukkan adanya tanda-tanda depresi. Oleh karena itu, pasien dapat

dianggap mengalami sindroma depresi, yang sifatnya lebih ringan daripada

episode depresif pada diagnosis gangguan suasana perasaan (F3).

Karena pasien memiliki gejala kecemasan dan juga telah dianggap

mengalami depresi, maka diagnosis banding untuk pasien ini ialah gangguan

campuran anxietas dan depresi (F41.2), yang mana anxietas dan depresi

pada pasien tidak menunjukkan dominansi yang lebih menonjol pada satu

pihak, serta keduanya tidak menunjukkan gejala yang cukup berat untuk

menegakkan diagnosis tersendiri, sehingga tidak dapat dipisahkan.


22

BAGIAN VIII

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Anxietas merupakan kondisi gangguan yang ditandai dengan perasaan

was-was atau kekhawatiran terhadap peristiwa tertentu. Anxietas memiliki

dua komponen yaitu kesadaran akan sensasi fisiologis sperti (palpitasi dan

berkeringat) serta kesadaran bahwa ia gugup dan ketakutan.

B. Etiologi

1. Teori psikoanalitik

Anxietas dipandang sebagai akibat konflik psikis antara keinginan tidak

disadari yang bersifat agresif dan ancaman terhadap hal tersebut dari

superego atau realitas eksternal.

2. Teori Eksistensial

Individu menyadari rasa kosong yang mendalam di dalam hidup mereka,

perasaan yang mungkin bahkan lebih membuat tidak nyaman daripada

penerimaan terhadap kematian yang tidak dapat dielakkan.

3. Teori Neurontransmiter

Suatu hipotesis menyatakan bahwa sindroma ini sebagai akibat dari

hiperaktifitas sistem limbik SSP yang terdiri dari dopaminergic, noradrenergic

dan serotoninergic neurons yang dikendalikan oleh GABA-ergic neuron


23

(Gamma Amino Butiric Acid), yang merupakan suatu neurotransmitter

inhibitorik.

C. Diagnosis Anxietas

Diagnosis berdasarkan kasus diatas adalah pasien mengalami Anxietas

yaitu (F41.9) Anxietas yang tak Tergolongkan. Keluhan tidak sesuai dengan

F40, F41.0 dan F41.1 dan F41.8.

D. Penatalaksanaan

Pilihan pengobatan pada gangguan cemas dapat diberikan terapi obat-

obatan golongan benzodiapzepin dan non benzodiazepin. Anti anxietas

benzodiazepine yang bereaksi dengan reseptornya (benzodiazepine

receptors) akan meng-reinforce aksi hambatan neuron GABA (GABA re-

uptake inhibitor) sehingga hiperaktifitas tersebut di atas mereda. Golongan

Benzodiazepin sebagai obat anti-anxietas mempunyai ratio terapeutik lebih

tinggi dan lebih kurang menimbulkan adiksi dengan toksisitas yang rendah,

dibandingkan dengan meprobamate atau phenobarbital. Adapun golongan

benzodiazepin antara lain seperti Diazepam, Lorazepam, Clobazam,

Bromazepam dan Aprazolam. Adapun golongan non benzodiazepin yaitu

sulpride dan buspiron.


24

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, I. H. and Sadock, J. B. Sinopsis Psikiatri Ilmu Perilaku Psikiatri

Klinis, Edisi Ketujuh. Binarupa Aksara Publisher: Jakarta. 2010.

2. Maslim R (ed). Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III.

Jakarta: Bagian Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya, PT Nuh Jaya;

2001.

3. Maslim, R. 2014. Obat Anti-Psikosis. Panduan Praktis Penggunaan Klinis

Obat Psikotropik (Psychotropic Medication). Edisi Ke-Empat. Bagian Ilmu

Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma

Jaya. Jakarta : PT Nuh Jaya. Hal. 10-25.

4. Gunawan, S. G; Arozal, W. 2013. Psikotopik. Farmakologi dan Terapi.

Edisi Ke-Tujuh. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : Gaya Baru. Hal 161-178.

5. UI, Fakultas Kedokteran : Buku Ajar Psikiatri edisi 5