Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hukum adat merupakan suatu hukum yang sudah tertanam dalam setiap berkehidupan di
kalangan masyarakat. Hukum adat juga merupakan suatu kebiasaan yang sudah tertanam dan
tertata dengan jangka waktu yang lama. Masyarakat adat biasanya sudah membiasakan
berkehidupan dengan kesesuaiain setiap adat yang mereka tempat tinggali.
Hukum adat juga itu bukan sembarangan hukum yang hanya nama saja tetapi juga sudah
menjadi patokan masyarakat untuk hidup di Negara nya atau bahkan di tempat kota atau daerah
yang mereka tinggali. Jika ada yang tidak mengikuti aturan hukum adat tersebut biasanya ketua
adat masyarakat setempat atau pemerintahannya melakukan system persanksian.
Pada hakikatnya perkembangan hukum adat tidak dapat dipisahkan dari perkembangan
masyarakat pendukungnya. Dalam pembangunan hukum nasional, peranan hukum adat sangat
penting. Karena hukum nasional yang dibentuk, didasarkan pada hukum adat yang berlaku.
Hukum adat adalah hukum yang tidak tertulis dan bersifat dinamis yang senantiasa dapat
menyesuaikan diri terhadap perkembangan peradaban manusia itu sendiri.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Membahas tentang pengertian hukum adat beserta keterkaitan dalam Al-Qur’an
2. Proses terbentuknya hukum adat
3. Sejarah hukum adat di Indonsia
4. Salah satu contoh hukum adat perkawinan

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui bagaimana system hukum adat di Indonesia
2. Mengambil hikmah atau manfaat dari hukum adat yang berlaku
3. Mengetahui dalil yang terkandung dalam Al-Qur’an mengenai hukum adat

BAB II
PEMBAHASAN

1
A. Pengertian Hukum Adat

Masyarakat hukum adat disebut juga dengan istilah “masyarakat tradisional” atau the
indigenous people, sedangkan dalam kehidupan sehari-hari lebih sering dan populer disebut
dengan istilah “masyarakat adat. Masyarakat hukum adat adalah komunitas manusia yang patuh
pada peraturan atau hukum yang mengatur tingkah laku manusia dalam hubungannya satu sama
lain berupa keseluruhan dari kebiasaan dan kesusilaan yang benar-benar hidup karena diyakini
dan dianut, dan jika dilanggar pelakunya mendapat sanksi dari penguasa adat. Pengertian
masyarakat adat adalah masyarakat yang timbul secara spontan di wilayah tertentu, yang
berdirinya tidak ditetapkan dan diperintahkan oleh penguasa yang lebih tinggi atau penguasa
yang lainnya, dengan rasa solidaritas yang sangat besar di antara para anggota masyarakat
sebagai orang luar dan menggunakan wilayahnya sebagai sumber kekayaan yang hanya dapat
dimanfaatkan sepenuhnya oleh anggotanya.

Masyarakat merupakan sistem sosial, yang menjadi wadah dari pola-pola interaksi sosial
atau hubungan interpersonal maupun hubungan antar kelompok sosial. Maka suatu masyarakat
merupakan suatu kehidupan bersama, yang warga-warganya hidup bersama untuk jangka waktu
yang cukup lama, sehingga menghasilkan kebudayaan. Masyarakat hukum adat adalah
sekumpulan orang yang tetap hidup dalam keteraturan dan di dalamnya ada sistem kekuasaan
dan secara mandiri, yang mempunyai kekayaan yang berwujud atau tidak berwujud. Pengertian
hukum adat lebih sering diidentikan dengan kebiasaan atau kebudayaan masyarakat setempat di
suatu daerah.

Secara histori, hukum yang berada di negara Indonesia berasal dari 2 sumber, yakni
hukum yang dibawa oleh orang asing (Belanda) dan hukum yang lahir dan tumbuh di negara

2
Indonesia ini sendiri. Mr. C. van Vollenhoen adalah seorang peneliti yang kemudian berhasil
membuktikan bahwa negara Indonesia juga memiliki hukum adat asli.1

Menurut Prof. H. Hilman Hadikusuma mendefinisikan hukum adat sebagai aturan


kebiasaan manusia dalam hidup masyarakat. Kehidupan manusia berawal dari berkeluarga dan
mereka telah mengatur dirinya dan anggotanya menurut kebiasaan dan kebiasaan itu akan
dibawa dalam bermasyarakat dan bernegara.

Menurut Supomo dan Hazairin membuat kesimpulan bahwa hukum adat adalah hukum
yang mengatur tingkah laku manusia Indonesia dalam hubungan satu sama lain. Hubungan yang
dimaksud termasuk keseluruhan kelaziman dana kebiasaan serta kesusilaan yang hidup dalam
masyarakat adat karena dianut dan dipertahankan masyarakat1.

Hampir di setiap bahan bacaan mengenai hukum adat yang berisikan suatu pandangan
menyeluruh mengenai hukum adat, penjelasan perihal masyarakat hukum adat hampir pasti ada.
Hal ini menunjukkan, bahwa suatu pengantar mengenai masyarakat hukum adat sangat
diperlukan.

Apabila setiap masyarakat hukum adat tersebut ditelaah secara seksama maka masing-
masing dasar dan bentuknya. Menurut supomo, maka masyarakat-masyarakat hukum adat di
Indonesia dapat dibagi atas dua golongan menurut dasar susunannya, yaitu yang berdasarkan
pertalian suatu keturunan (genealogi) dan yang berdasar lingkungan daerah (territorial)2.

Seperti Dalil Al-Qur’an yang menerangkan tentang Adat (Kebiasaan)


Q.S.AN NISHA:3

‫فأنكحو اما طاب لكم من النساء مثنى و ثلث و رابح وانخفتم تعدلو فواحدة‬

MAKA NIKAHILAH WANITA WANITA YANG KAMU SENENGIDUA,TIGA DAN


EMPAT.KEMUDIA JIKA KAMU TAKUT TIDAK BISA BERLAKU ADIL MAKA KAWINILAH SATU
SAJA

B. Proses Terbentuknya Hukum Adat

1 Laksanto Utomo, Hukum Adat(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2016) 1-3


2 Soejono Soekanto, Hukum Adat Indonesia(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2012) 92

3
Hukum adat lahir dan dipelihara oleh putusan-putusan para warga masyarakat hukum
terutama keputusan kepala rakyat yang membantu pelaksanaan perbuatan hukum itu atau dalam
hal bertentangan kepentingan dan keputusan para hakim mengadili sengketa sepanjang tidak
bertentangan dengan keyakinan hukum rakyat, senapas, dan seirama dengan kesadarantersebut
dapat diterima atau ditoleransi. Ajaran ini dikemukakan oleh Ter Haar yang dikenal dengan teori
keputusan.

1. Hukum Adat adalah Hukum Non Statutair

Hukum adat pada umumnya memang belum/tidak tertulis. Oleh karena itu dilihat dari mata
seorang ahli hukum memperdalam pengetahuan hukum adatnya dengan pikiran juga dengan
perasaan.

2. Hukum Adat Tidak Statis

Hukum adat adalah suatu hukum yang hidup karena menjelmakan perasaan hukum yang nyata
dari rakyat sesuai dengan fitrahnya sendiri, hukum adat terus-menerus dalam keadaan tumbuh
dan berkembang seperti hidup itu sendiri1.

C. Sistem Pengendalian Sosial Hukum Adat

Setiap manusia mempunyai pendirian masing-masing mengenai apa yang dinamakan


teratur, sehingga diperlukan suatu pedoman. Pedoman atau patokan tersebut adalah norma atau
kaidah, yang merupakan suatu pandangan menilai mengenai perilaku manusia. Jika sudah
terdapat norma-norma atau kaidah-kaidah, maka diperlukan suatu mekanisme untuk
menegakannya. Artinya, agar kaidah-kaidah tersebut dipatuhi oleh banyak orang.

Pengendalian sosial dapat dilakukan oleh seseorang, terhadap pribadi lainnya. Kecuali
itu, maka seseorang dapat pula melaksanakannya terhadap suatu kelompok. Tidak jarang terjadi,
bahwa suatu kelompok dapat melakukan pengendalian sosial terhadap kelompok lainnya, atau
terhadap pribadi tertentu. Pengendalian sosial dapat bersifat preventif atau positif dan resepsif
atau negative. Para pengendalian sosial yang bersifat preventif, maka tujuan utamanya adalah
untuk mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan atau penyelewengan-penyelewengan.
Sedangkan para pengendalian sosial yang bersifat resepsif lebih bertujuan mengembalikan atau

4
memulihkan keadaan yang dianggap baik oleh masyarakat, dengan antara lain menerapkan
sanksi-sanksi negatif.

Pengendalian sosial secara sosiologis merupakan variabel kuantitatif. Artinya, kuantitas


pengendalian sosail di suatu tempat mungkin berbeda dengan kuantitas pengendalian sosial di
tempat lain. Misalnya, pengendalian sosial di suatu keluarga tertentu, mungkin lebih besar
daripada di dalam suatu organisasi tertentu pula.

Pengendalian sosial di dalam suatu masyarakat dapat dilakukan berbagai cara, misalnya
(Koentjaraningrat 1967: 196, 197, 198):

1) Mempertebal keyakinan warga-warga masyarakat akan kebaikan kaidah-kaidah


sosial tertentu.
2) Memberikan penghargaan kepada warga-warga masyarakat yang menaati kaidah-
kaidah sosial tertentu, dengan menerapkan sanksi-sanksi positif.
3) Mengembangkan rasa malu dalam diri warga-warga masyarakat, apabila mereka
menyimpang atau menyeleweng dari kaidah-kaidah atau nilai-nilai sosial tertentu.
4) Menimbulkan rasa takut.
5) Menyusun perangkat aturan hukum.2
D. Manfaat Mempelajari Hukum Adat

1) Hukum Adat Sebagai Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan bertujuan untuk meningkatkan kehidupan manusia. Di dalam meningkatkan


hukum itu dibutuhkan petunjuk-petunjuk hidup. Salah satu petunjuk hukum itu adalah norma
hokum, termasuk norma hokum adat.

Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan pada umumnya, maka hokum adat mempunyai:

a. Objek: sasaran yang harus dipelajari yaitu kebiasaan-kebiasaan yang berkonsekuensi


hukum.
b. Metode: cara untuk mempelajari, meneliti dan menganalisis hukum adat.
c. Sistematis: disusun sedemikian rupa sehingga orang mudah untuk mempelajarinya.

5
2) Dalam Rangka Pembinaan atau Pembentukan Hukum Nasional
Pembentukan hukum nasional menuju unifikasi hukum tidak bisa mengabaikan hukum adat
yang ada di masyarakat. Hukum adat merupakan sumber penting untuk memperoleh bahan-
bahan, karena hukum adat mempunyai asas-asas atau nilai-nilai universal dan lembaga.2
E. Sejarah Hukum Adat Di Indonesia

Ada beberapa macam hukumnya, yaitu sebagai berikut:


 Hukum Adat Masa Pendudukan VOC
 Hukum Adat MAsa Hindia Timur (1800-1811)
 Hukum Adat Masa Kekuasaan Inggris (1811-1816)
 Hukum Adat di Masa Hindia Belanda
 Hukum Adat di Masa Jepang.

F. Pembidangan Hukum Adat

Di dalam bukunya yang berjudul bab-babtentang Hukum Adat, Soepomo menegaskan,


bahwa antara sistem hukum adat dan system hukum Barat, terdapat perbedaan fundamental. Hal
ini disebabkan oleh karena masing-masing system mempunyai latar belakang yang beda-beda
(walaupun tidak mustahil, terdapat persamaan-persamaan; pada perbedaan terutama disebabkan
oleh karena hukum Barat dibatasi pada hukum Eropa Kontinental saja, padahal ada juga system
hukum Anglo Saxon yang juga merupakan system Hukum Barat).
Mengenai perbidangan hukum adat tersebut, terdapat berbagai variasi, yang berusaha
untuk mengidentifikasikan kekhususan hukum adat, apabila dibandingkan dengan hukum Barat.
Pembidangan tersebut biasanya dapat ditemukan pada buku-buku standar, di mana sistematika
buku-buku tersebut merupakan suatu petujuk untuk mengetahui pembandingan mana yang
dianut penulisnya. Van vollenhoven berpendapat, bahwa pembidangan hukum adat adalah
sebagai berikut:
 Bentuk-bentuk masyarakat hukum adat
 Tentang pribadi
 Pemerintahan dan peradilan
 Hukum keluarga
 Hukum perkawinan
 Hukum waris
 Hukum tanah
 Hukum utang piutang
 Hukum delik
 Sistem sanksi2

2 Soekanto, Hukum Adat Indonesia,76-80

6
G. Contoh Hukum Adat Dalam Hukum Perkawinan

 Pengertian Perkawinan Adat


Perkawinan adalah salah satu peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat
kita. Sebab perkawinan itu tidak hanya menyangkut pria dan wanita saja, tetapi juga orang tua
kedua belah pihak, bahkan keluarga mereka masing-masing.
Perkawinan biasanya diartikan sebagai ikatan lahir batin antara pria dan wanita sebagai
suami istri, dengan tujuan membentuk suatu keluarga bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan
yang Maha Esa. Sebagai contoh, bagi masyarakat Jawa perkawinan bukan hanya merupakan
pembentukan rumah tangga yang baru,tetapi juga membentuk dua ikatan keluarga besar yang
biasa jadi berbeda dalam segala hal, baik sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya.
Adapun tujuan perkawinan bagi masyarakat hukum adat yang bersifat kekerabatan adalah
untuk mempertahankan dan meneruskan keturunan menurut garis kebapakan atau keibuan atau
keibu-bapakan, untuk kebahagiaan rumah tangga/kerabat, untuk memperoleh nilai-nilai adat
budaya dan kedamaian, dan untuk mempertahankan kewarasan.

Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an Dalil tentang perkawinan:


Q.S.AN NUR :32

‫وأتكحوا الهى منكم والصلحين من عباوكم إما ئكوافقؤاء بغنهم ا من فضله وا واسح عليم‬
DAN NIKAHI LAH ORANNG ORANG YANG SENDIRI DIANTARA MU DAN HAMBA SAHAYA LAKILAKI DAN HAMBA SAHAYAMU YANG PEREMPUAN

 Bentuk-bentuk Perkawinan Adat


Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa di Indonesia dapat dijumpai tiga bentuk
perkawinan, antara lain:
 Bentuk perkawinan jujur (bridge-gift marriage).
 Bentuk perkawinan semendo (suitor service marriage).
 Bentuk perkawinan bebas (exchange marriage).
3

Kawin jujur merupakan bentuk perkawinan di mana pihak laki-laki memberikan jujur
kepada pihak perempuan. Benda yang dapat dijadikan jujur biasanya benda-benda yang
memiliki kekuatan magis. Perkawinan jujur dapat dijimpai pada masyarakat patrilineal, baik
yang murni maupun yang beralih-alih. Cirri-ciri umum perkawinan jujur adalah patrilokal,
artinya istri wajib bertempat tinggal di kediaman suami atau keluarga suami.

32 Soekanto, Hukum Adat Indonesia,76-80

7
Perkawinan semendo pada hakikatnya bersifat matrilokal dan exogami. Matrilokal berarti
bahwa istri tidak berkewajiban untuk bertempat tinggal di kediaman suami. Dalam perkawinan
ini, biasanya juga dijumpai dalam keadaan darurat, di mana perempuan sulit untuk mendapatkan
jodoh atau karena laki-laki tidak mampu untuk memberikan jujur. Kedudukan istri dan suami
tidak sederajat. Bentuk perkawinan ini dapat dijumpai dikalangan masyarakat Minangkabau dan
merupakan bentuk perkawinan yang umum di Indonesia, oleh karena itu dapat dijumpai pada
setiap bentuk masyarakat.
Sedangkan bentuk kawin bebas tidak menentukan secara tegas di mana istri atau suami
tidak harus tinggal, hal ini tergantung pada keinginan masing-masing pihak tersebut. Pada
umumnya perkawinan bebas bersifat endogamy, artinya suatu anjuran untuk kawin dengan
kelompok kerabat sendiri, bentuk perkawinan ini banyak dijumpai di Jawa, Kalimantan dan
sebagainya.

 Perempuan Yang Boleh Dinikahi Menurut Adat


Dari rukun dan syarat perkawinan menurut hukum adat, bagi masyarakat hendak
melangsungkan perkawinan, harus mengetahui lebih dahulu siapa pasangan yang akan
dinikahinya. Hal ini dimaksudkan agar nantinya setelah menjalani bahtera kehidupan rumah
tangga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan mengetahui siapa pasangan kita,
makaakan terjaga dan terpelihara status perkawinannya.
Adapun perempuan yang boleh dinikahi menurut hukum adat:
 Dalam system patrilineal yang ada dikalangan orang Batak, perempuan yang boleh
dinikahi adalah perempuan yang bukan semarga, perempuan yang tidak melakukan
perkawinan dengan laki-laki dari tulang, perempuan yang tidak menikah dengan laki-laki
tulang dari ibu si wanita, perempuan yang tidak melakukan perkawinan dengan laki-laki
dari saudara perempuan wanita tersebut, dan perempuan yang tidak mempunyai penyakit
turun temurun.
 Prinsip matrilineal pada masyarakat Minangkabau membolehkan perempuan untuk
dinikahi, asalkan perempuan tersebut tidak sesuku.
 Pada orang Jawa bilateral, perempuan yang boleh dinikahi antaranya perempuan yang
bukan saudara sepupu ayahnya, perempuan yang bukan saudara ayah atau ibunya, dan
perempuan yang bukan kakak dari istri kandungnya (yang lebih tua).

H. Hukum Adat Sebagai Aspek Kehidupan Masyarakat Indonesia

8
Hukum adat yang berlaku pada setiap masyarakat tumbuh dan berkembang bersamaan
dengan tumbuh dan berkembangnya kebudayaan suatu masyarakat karena hukum itu adalah
salah satu dari aspek dari suatu kebudayaan masyarakat. Kebudayaan adalah usaha dan hasil
usaha manusia menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekelilingnya. Karena kebudayaan
masyarakat mempunyai corak, sifat serta struktur yang khas, maka hukum yang berlaku pada
masing-masing masyarakat juga mempunyai corak dan sifat struktur masing-masing.
Proses berlangsung masyarakat manusia berlangsung terus-menerus sepanjang sejarah,
mengikuti mobilitas perindahan yang terjadi karena berbagai sebab. Hal ini memyebabkan pula
terjadinya perbedaan-perbedaan dalam hukum mereka, sedikit atau banyak, namun secara
keseluruhan akan terlihat kesamaan-kesamaan pokok, baik corak, sifat maupun strukturnya,
seperti juga yang terjadi dalam perbedaan bahasa. Hukum adat yang mengatur masyarakat harus
tetap dianut dan dipertahankan, tidak hanya pergaulan antara sesame manusia dan alam nyata,
tetapi mencakup pula kepentingan yang bersifat batiniah dan struktur rohaniah yang
berhubungan dengan kepercayaan yang mereka anut dan taati masing-masing golongan.
Budaya atau kebudayaan secara etimologi berasal dari (bahasa Sansekerta)
buddhayahyaitu bentuk jamak dari buddhiyang berasal dari “budi” atau “akal”. Dengan
demikian kebudayaan dapat diartikan: “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Menurut
Koentjaraningrat kebudayaan adalah keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil karya
manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar.
Menurut C. Klukchohn kebudayaan tediri dari 7 (tujuh) unsure yaitu:
 Peralatan dan perlengkapan hidup manusia.
 Mata pencaharian hidup dan system ekonomi-ekonomi.
 System kemasyarakatan.
 Bahasa.
 Kesenian.
 System pengetahuan.
 Religi.

Hukum adat merupakan hukum tradisional masyarakat yang merupakan perwujudan dari
suatu kebutuhan hidup yang nyata serta merupakan salah satu pandangan hidup yang secara
keseluruhannya merupakan kebudayaan masyarakat tempat hukum adat tersebut berlaku.
Hukum yang terdapat di dalam masyarakat manusia, betapa sederhana dan kecil
masyarakat itu, menjadi cerminnya. Karena setiap masyarakat, tiap rakyat, mempunyai
kebudayaan sendiri dengan corak dan sifatnya sendiri, mempunyai struktur alam pikiran sendiri,

9
maka hukum di dalam masyarakat yang bersangkutan, mempunyai corak dan sifatnya sendiri,
yaitu: hukum dari masing-masing masyarakat itu berlainan.

Tidak semua perubahan dalam jiwa struktur masyarakat merupakan perubahan


fundamental yang melahirkan suatu jiwa dan struktur yang baru, sebab masyarakat adalah
sesuatu yang kontinu (terus-menerus). Masyarakat berubah tetapi sekaligus meninggalkan yang
lama. Jadi di dalam sesuatu masyarakat terdapat realitas bahwa suatu proses perkembangan
mengatur kembali yang lama serta menghasilkan sintesis dari yang lama dan yang baru, sesuai
dengan kehendak, kebutuhan, cara hidup dan pandangan hidup suatu masyarakat.

I. Dasar Berlakunya Hukum Adat dalam Sistem Hukum Indonesia

Menurut Prof. Mubiarto, S.H., hukum adat ialah hukum Pancasila. Sepanjang
menyangkut hukum, pancasila itu merupakan kristalisasi dari hukum adat yang sesuai dengan
kepribadian bangsa Indonesia.
 Hak ulayat dan yang serupa itu dari masyarakat hukum adat (untuk selanjutnya disebut
hak ulayat), adalah kewenangan yang menurut hukum adat dipunyai oleh masyarakat
hukum adat tetentu atas wilayah tertentu yang merupakan lingkungan hidup para
warganya untuk mengambil manfaat sumber daya alam, termasuk tanah, dan wilayah
tersebut, bagi kelangsungan hidup dan kehidupannya, yang timbul dari hubungan secara
lahiriah dan batiniah turun temurun dan tidak terputus antara masyarakat hukum adat
tersebut dengan wilayah yang bersangkutan.
 Tanah ulayat: adalah sebidang tanah yang di atasnya terdapat hak ulayat dari suatu
masyarakat hukum adat tertentu.
 Masyarakat hukum adat adalah sekelompok orang yang terikat oleh tatanan hukum
adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum karena kesamaan tempat
tinggal ataupun atas dasar keturunan.

Dalam Undang-Undang Dasar 1945, yang diberlakukan kembali menurut Dekrit Presiden
tertanggal 5 Juli 1959 tiada satu pasal yang memuat dasar (perundang-undangan) berlakunya

10
hukum adat itu. Menurut pasal 11 Aturan Peralihan UUD maka “segala badan Negara dan
peraturan yang ada masih langsung berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang-
Undang Dasar ini”. Sebelum berlakunya kembali UUD ini, maka berlaku Undang-Undang
Dasar sementara tahun 1950.dalam Undang-Undang Dasar sementara itu Pasal 104 ayat 1
mengatakan bahwa “segala keputusan pengadilan harus berisi alasan-alasannya dan dalam
perkara hubungan menyebut aturan undang-undang dan aturan-aturan hukum adat yang
dijadikan aturan hukum itu”. Tetapi ketentuan ini yang jikalau kita mengartikan “hukum adat”
itu seluas-luasnya, memuat suatu grondwettelijkegrondslag(dasar konstitusional) berlakunya
hukum adat, sampai sekarang belum diberikan dasar hukum penyelenggaraannya (Undang-
Undang Organik).

Dasar berlakunya perundang-undangan hukum adat, yang berasal dari zaman kolonial
dan yang pada zaman sekarang masih tetap berlaku, adalah Pasal 131 ayat 2 sub b Is. Menurut
ketentuan tersebut, maka bagi golongan hukum Indonesia asli dan golongan hukum timur asing
berlaku hukum adat mereka. Tetapi bilamana keperluan sosial mereka memerlukannya, maka
pembuat ordonansi dapat menentukan bagi mereka:
 Hukum Eropa.
 Hukum Eropa yang telah diubah .
 Hukum bagi beberapa golongan bersama-sama dan apabila kepentingan umum
memerlukannya.
 Hukum baru, yaitu hukum yang merupakan “synthese”antara hukum adat dan hukum
Eropa.
Namun setelah amandemen konstitusi, hukum adat diakui sebagaimana dinyatakan dalam
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 18B ayat (2) yang menyatakan: Negara mengakui dan
menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya
sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-undang.

Dalam memberikan tafsiran terhadap ketentuan tersebut Jimly Ashiddiqie menyatakan perlu
diperhatikan bahwa pengakuan ini diberikan oleh Negara:

11
 Kepada eksistensi suatu masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisional yang
dimilikinya.
 Eksistensi yang diakui adalah eksistensi kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat.
Artinya pengakuan diberikan kepada satu persatu dari kesatuan-kesatuan tersebut dan
karenanya masyarakat hukum adat itu haruslah bersifat tertentu.
 Masyarakat hukum adat itu memang hidup (masih hidup).
 Dalam lingkungannya (lebensraum) yang tertentu pula.
 Pengakuan dan penghormatan itu diberikan tanpa mengabaikan ukuran-ukuran kelayakan
bagi kemanusiaan sesuai dengan tingkat perkembangan keberadaan bangsa. Misalnya
tradisi-tradisi tertentu yang memang tidak layak lagi dipertahankan tidak boleh dibiarkan
tidak mengikuti arus kemajuan peradaban hanya karena alas an sentimental.
 Pengakuan dan penghormatan itu tidak boleh mengurangi makna Indonesia sebagai suatu
Negara yang berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Memahami rumusan Pasal 18B UUD 1945 tersebut maka:
 Konstitusi menjamin kesatuan masyarakat adat dan hak-hak tradisionalnya.
 Jaminan konstitusi sepanjang hukum adat itu masih hidup.
 Sesuai dengan perkembangan masyarakat.
 Sesuai dengan prinsip Negara Kesatuan Repbulik Indonesia.
 Diatur dalam undang-undang.1
4

BAB III
KESIMPULAN
Hukum adat merupakan suatu hukum yang sudah tertanam dalam setiap berkehidupan di
kalangan masyarakat. Hukum adat juga merupakan suatu kebiasaan yang sudah tertanam dan
tertata dengan jangka waktu yang lama. Masyarakat adat biasanya sudah membiasakan
berkehidupan dengan kesesuaiain setiap adat yang mereka tempat tinggali.
Hukum adat juga itu bukan sembarangan hukum yang hanya nama saja tetapi juga sudah
menjadi patokan masyarakat untuk hidup di Negara nya atau bahkan di tempat kota atau daerah
yang mereka tinggali. Jika ada yang tidak mengikuti aturan hukum adat tersebut biasanya ketua
adat masyarakat setempat atau pemerintahannya melakukan system persanksian.

41 Utomo, Hukum Adat, 129-157

12
BAB IV

PENUTUP

Demikian makalah ini saya tulis, semoga ada manfaat yang kita ambil dari mempelajari
hukum adat ini, kurang dan lebihnya saya mohon maaf.

13
DAFTAR PUSTAKA

Utomo, Laksanto. Hukum Adat. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016.

Soekanto, Soerjono. Hukum Adat Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012.

14