Anda di halaman 1dari 11

A.

ANATOMI FISIOLOGI

Ginjal
Ginjal adalah suatu kelenjar yang terletak di bagian belakang kavumabdominalis di belakang
peritoneum pada kedua sisi vertebra lumbalis III, melekat langsung pada dinding belakang
abdomen. Bentuk ginjal seperti biji kacang, jumlahnya ada dua buah kiri dan kanan, ginjal kiri
lebih besar dari ginjal kanan dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari ginjal wanita.

Fungsi ginjal:

1. Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun.


2. Mempertahankan suasana keseimbangan cairan
3. Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh.
4. Mempertimbangkan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh.
5. Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir dari ureum protein.

Ureter
Terdiri dari 2 saluran pipa, masing–masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih
(vesikaurinaria), panjangnya ± 25-30 cm, dengan penampang ± 0,5 cm. Ureter sebagian terletak
dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.

Lapisan dinding abdomen terdiri dari:

1. Dinding luar jaringan ikat (jarinagnfibrosa)


2. Lapisan tengah lapisan otot polos
3. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Lapisan didnding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan
mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kamih (vesikaurinaria). Gerakan peristaltik
mendorong urine melalui ureter yang diekskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk
pancaran, melalui osteumuretralis masuk ke dalam kandung kemih.

Vesikaurinaria
Vesikaurinaria (kandung kemih) dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak
di belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul. Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang
dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan dengan ligamentumvesikaumbilikalismedius.

Bagian vesikaurinaria terdiri dari:

1. Fundus yaitu, bagian yang menghadap ke arah belakang dan bawah, bagian ini terpisah
dari rektum oleh spatiumrectovesikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferen,
vesikaseminalis dan prostat.
2. Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
3. Verteks, bagian yang mancung ke arah muka dan berhubungan dengan
ligamentumvesikaumbilikalis.
Dinding kandung kemih terdiri dari lapisan sebelah luar (peritonium), tunikamuskularis (lapisan
otot), tunika submukosa, dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam). Pembuluh
limfevesikaurinaria mengalirkan cairan limfe ke dalam nadi limfatik iliakainterna dan eksterna.

Uretra
Uretara merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi
menyalurkan air kemih keluar.
B. DEFINISI

Trauma urinaria atau trauma pada saluran perkemihan merupakan adanya benturan pada
saluran perkemihan (ginjal, ureter, vesika urinaria, uretra). Pada laki-laki dapat pula mengenai
scrotum, testis dan prostat (Muttaqin, Arif. 2011).

Trauma pada system perkemihan adalah kejadian dimana saluran kemih mengalami
gangguan bukan karena pengaruh dari dalam tubuh tetapi adanya gangguan dari luar. Saluran
kemih (termasuk ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra) dapat mengalami trauma karena luka
tembus (tusuk), trauma tumpul, terapi penyinaran maupun pembedahan.

C. ETIOLOGI
a. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain:
1) Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple)
2) Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated
3) Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan-lain-lain.

b. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain:


1) Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung
kemih yang kurang efektif
2) Mobilitas menurun
3) Nutrisi yang sering kurang baik
4) Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral
5) Adanya hambatan pada aliran urin
6) Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat.

D. PATOFISIOLOGI
Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus
urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak langsung dari tempat infeksi terdekat,
hematogen, limfogen. Ada dua jalur utama terjadinya ISK, asending dan hematogen. Secara
asending yaitu:
1) masuknya mikroorganisme dalm kandung kemih, antara lain: factor anatomi dimana pada
wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK
lebih tinggi, factor tekanan urine saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam traktus
urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi.
2) Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal
Secara hematogen yaitu: sering terjadi pada pasien yang system imunnya rendah
sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen Ada beberapa hal yang
mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu:
adanya bendungan total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan
intrarenal akibat jaringan parut, dan lain-lain.
Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensi yang
berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi
terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya
akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen
menyebar ke suluruh traktus urinarius. Selain itu, beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK,
antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang menakibtakan penimbunan cairan
bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefroses. Penyebab umum
obstruksi adalah: jaringan parut ginjal, batu, neoplasma dan hipertrofi prostate yang sering
ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun.

E. TANDA DAN GEJALA


a. Fraktur tulang pelvis disertai perdarahan hebat
b. Abdomen bagian tempat jejas/hemato
c. Tidak bisa buang air kecil kadang keluar darah dari uretra.
d. Nyeri suprapubik
e. Ketegangan otot dinding perut bawah
f. Trauma tulang panggul

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

 Hematokrit menurun ( karena perdarahan ).


 HB menurun.
 Pemeriksaan IVP : Memperlihatkan suatu daerah berwarna abu-abu didaerah trauma
karena hematom dan ekstravasi urine.
 Urogram ekskresi : Memperlihatkan gangguan fungsi / ekstravasi urine pada sisi yang
terkena.
 CT Scan : Untuk mendeteksi hematom retroperineal dan konfigurasi ginjal.
 Tes fungsi ginjal : abnormal bila traumanya bilateral.
 Urografi ekskresi : ekstravasase urine.
 Urografi retrogad : menentukan sifat dan tempat trauma.

G. PENATALAKSANAAN

 Konservatif
1. Istirahat total.
2. Transfusi.
3. Obat-obat konservatif.
 Operatif
1. Operasi untuk penjahitan suatu laserasi bila fungsi ginjal masih baik.
2. Nefrotomi.
 Terapi terbaik adalah pencegahan dimana perlunya pemasangan kateter sebelum
dilakukan operasi pada daerah ginjal dan abdomen untuk identifikasi.
 Diusahakan untuk mempertahankan aliran urine dengan cara :
1. Uretro Neosistomi bila ureter masih cukup panjang, Ureter dapat ditanamkan ke
buli-buli.
2. Uretro cutanostomi yaitu muara ureter dipindahkan ke kulit.
3. Uretro ileo sistostomi bila ureter pendek diganti dengan Ileal Lopp.
 Terapi konservatif berupa analgetik dan ruptur

H. KOMPLIKASI

 Infeksi, perdarahan.
 Stenosis 6upture6 dari arteri ginjal, hipertensi, hidronefrosis.
 Fistula ureter.
 Infeksi retroperitoneal.
 Pyelonefritis.
 Obstruksi ureter karena stenosis.

I. PENCEGAHAN

Agar penyakit saluran kemih tidak terjadi lagi, maka selain cara mengatasi penyakit saluran
kemih, maka sebaik nya cegah penyakit saluran kemih. mencegah penyakit saluran kemih bisa di
lakukan dengan meningkatkan daya tahan tubuh. jika ingin meningkatkan daya tahan tubuh agar
penyakit saluran kemih tidak terjadi dengan makan makanan yang sehat dan juga minum air
putih. Jika air putih dengan jumlah yang cukup di minum maka akan mencegah penyakit saluran
kemih. hindari menahan buang air kecil, karena mengosokan kandung kemih dapat mencegah
infeksi saluran kemih, juga akan mencegah penyakit saluran kemih lain nya. untuk mencegah
penyakit saluran kemih lain nya agar tidak terjadi sakit saluran kemih maka bisa mengurangi
penggunaan toilet umum, karena di toilet umum banyak di gunakan oleh berbagai jenis orang
yang memungkinkan memiliki penyakit sehingga jika menggunakan toilet yang sama maka akan
menyebabkan penyakit saluran kemih. hindari juga penggunaan alat kb yang bisa memicu
penyakit saluran kemih, agar tidak menyebabkan sakit pada saat buang air kecil. Suplemen alami
bisa di konsumsi setiap hari untuk pencegahan penyakit saluran kemih.
ASKEP TRAUMA SALURAN KEMIH

A. PENGKAJIAN

 PRIMER

- Airway: Biasanya tidak ditemukan sumbatan jalan napas

- Breathing : Kadang ditemukan sesak napas akibat keracunan asam dalam tubuh

- Circulation: Nadi lambat, tekanan daran menurun

- Dehidration: turgor kulit jelek, akral dingin

 PEMERIKSAAN FISIK

 Inspeksi

Perhatikan abdomen bagian bawah, kandung kemih adalah organ berongga yang
mampu membesar u/ mengumpulkan dan mengeluarkan urin yang dibuat ginjal

 Perkusi

- Pasien dalam posisi terlentang

- Perkusi dilakukan dari arah depan

- Lakukan pengetukan pada daerah kandung kemih, daerah suprapubis

 Palpasi
Lakukan palpasi kandung kemih pada daerah suprapubis.Normalnya kandung kemih
terletak di bawah simfibis pubis tetapi setelah membesar meregang ini dapat terlihat
distensi pada area suprapubis. Bila kandung kemih penuh akan terdengar dullness atau
redup pada kondisi yang berarti urin dapat dikeluarkan secara lengkap pada kandung
kemih. Kandung kemih tidak teraba. Bila ada obstruksi urin normal maka urin tidak
dapat dikeluarkan dari kandung kemih maka urin akan terkumpul. Hal ini
mengakibatkan distensi kandung kemih yang bisa di palpasi di daerah suprapubis
 Pemeriksaan pembantu

Tesbuli-buli :

 Buli-buli dikosongkan dengan kateter, lalu dimasukkan 500 ml larutan garam faal
yang sedikit melebihi kapasitas buli-buli.

 Kateter di klem sebentar, lalu dibuka kembali, bila selisihnya cukup besar
mungkin terdapat rupture buli-buli.
WOC
Saluuran Kemih

Kecelakaan Fraktur Tulang Trauma Trauma Tajam


Tumpul

Patah Tulang Kontusio/buli Ruptur


Pelvis – buli memar Luka Tusuk

Trauma Bladder

Jejas Hematom
Abdomen
Obstruksi Robekan
Dinding Bladder
Tekanan
Kandung Kemih
Inkontinensia
Perdarahan
Nyeri Tekan
Refluk Urine Supra Pubis
ke Ginjal
Resiko Syok
Hipovolemik
Dx. Gangguan
Kelainan Rasa Nyaman
pada Ginjal Nyeri

Gangguan
Keseimbangan
Asam Basa

Darah menjadi Nafas Cepat Dx. Gangguan


Sesak Nafas
Asam dan Dangkal Pola Nafas
B. DIAGNOSA DAN INTERVENSI

1. Gangguan pola napas b.d 1. Kaji frekuensi dan kualitas 1. Untuk mengetahui
gangguan asam- basa pernapasan perubahan kondisi pasien

Tujuan : 2. Berikan posisi yang nyaman 2. Untuk memaksimalkan


bagi pasien potensial ventilasi
-menunjukan pola napas yang
efektif 3. Pertahankan jalan napas 3. Menjaga keadekuatan
paten ventilasi
- respirasi dalam batas normal
4. Berikan bantuan O2 4. Membantuk meningkatkan
Kriteria Hasil : ventilasi dan asupan oksigen
- menunjukan jalan napas
paten

- TTV dalam batas normal

2. Resiko syok b.d perdarahan 1. Monitor tanda-tanda vital 1. Untuk mengetahui keadaan
pasien pasien
Tujuan :
2. Observasi intake dan output 2. Intake cairan yang adekuat
- tidak terjadi resiko syok cairan dapat mengimbangi
Kritaria hasil : pengeluaran cairan yang
3. Monitor status sirkulasi berlebihan
- TTV dalam batas normal pasien
3. Mengetahui status sirkulasi
- tidak terjadi penurunan 4. Kolaborasi untuk pemberian pasien
kesadaran oksigen, cairan atau tranfusi
4. Untuk membantu mengatasi
syok

3.Gangguan rasa nyaman 1. Kaji nyeri secara 1. Untuk mengetahuitingkatan


nyeri b.d kerusakan jaringan komprehensi dengan metode nyeri yang dirasakan pasien
PQRST dan untuk mentukan intervensi
Tujuan : lanjut.
2. Berikan posisi serta
- rasa nyeri berkurang/ dapat lingkungan yang nyaman bagi 2. Posisi serta lingkungan
terkontrol pasien yang nyaman dapat
Kriteria Hasil : meminimalisir nyeri
3. Ajarkan pasien tentang
- pasien dapat mengontrol teknik non farmakologi 3. Dengan menggunakan
nyeri (distraksi, retraksi) teknik non farmakologi dapat
membantu mengalihkan
- melaporkan bahwa nyeri 4. Kolaborasi dengan tenaga perhatian psien terhadap nyeri
berkurang medis lainnya untuk
pemberian analgesik seuai 4. Analgesik dapat membantu
- pasien dapat beristirahat indikasi mengurangi/ menghilangkan
denga tenang nyeri