Anda di halaman 1dari 7

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Umur

Tabel 4.1. Rerata umur penderita TBC paru yang menggunakan DOST di
RSUD K.R.M.T Wongsonegoro Semarang
Std.devi
N Median Min Max
ation
Umur 36 40.416 3.959 35 48

Berdasarkan tabel 4.1. di atas maka dapat diketahui bahwa

penderita TBC paru yang menggunakan DOST di RSUD K.R.M.T

Wongsonegoro Semarang mempunyai umur rata-rata 41.416 std.deviasi

3.959 dan umur terendah 35 tahun dan tertinggi 48 tahun

2. Jenis kelamin

Tabel 4.2. Distribusi frekuensi pendidikan penderita TBC paru yang


menggunakan DOST di RSUD K.R.M.T Wongsonegoro
Semarang

Persentase
Jenis kelamin Frekuensi
(%)
Dasar 6 16.7
Menengah 27 75.0
Tinggi 3 8.3
Total 36 100.0

Berdasarkan tabel 4.4. di atas maka dapat diketahui bahwa

penderita TBC paru yang menggunakan DOST di RSUD K.R.M.T

Wongsonegoro Semarang sebagian besar mempunyai pendidikan

menengah sebanyak 27 responden (75,0%) dan sebagian kecil mempunyai

pendidikan tinggi sebanyak 3 responden (8,3%)


3. Pekerjaan

Tabel 4.2. Distribusi frekuensi pekerjaan penderita TBC paru yang


menggunakan DOST di RSUD K.R.M.T Wongsonegoro
Semarang

Persentase
Pekerjaan Frekuensi
(%)
Swasta 18 50.0
PNS 6 16.7
Wiraswasta 12 33.3
Total 36 100.0

Berdasarkan tabel 4.4. di atas maka dapat diketahui bahwa

penderita TBC paru yang menggunakan DOST di RSUD K.R.M.T

Wongsonegoro Semarang sebagian besar mempunyai pekerjaan swasta 18

responden (50%) dan sebagian kecil mempunyai pekerjaan PNS sebanyak

6 responden (16,7%)

4. Efek samping

Tabel 4.4. Distribusi frekuensi efek samping obat tbc paru pada penderita
TBC paru yang menggunakan DOST di RSUD K.R.M.T
Wongsonegoro Semarang

Persentase
Efek samping Frekuensi
(%)
Berat 15 41.7
Ringan 21 58.3
Total 36 100.0

Berdasarkan tabel 4.4. di atas maka dapat diketahui bahwa

penderita TBC paru yang menggunakan DOST di RSUD K.R.M.T

Wongsonegoro Semarang sebagian besar mempunyai efek samping ringan

sebanyak 15 responden (41,7%) dan sebagian kecil mempunyai efek

samping berat sebanyak 15 responden (41,7%)


B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diketahui bahwa penderita

TBC paru yang menggunakan DOST di RSUD K.R.M.T Wongsonegoro

Semarang sebagian besar mempunyai efek samping ringan sebanyak 15

responden (41,7%) dan sebagian kecil mempunyai efek samping berat

sebanyak 15 responden (41,7%) Efek samping yang dikeluhkan oleh

pasien yaitu gatal dan kemerahan pada kulit. Efek samping ini terjadi

karena penggunaan semua jenis OAT, cara penanganan yang dapat

dilakukan yaitu memberikan antihistamin (CTM) terhadap keluhan gatal

dan memberikan bedak salicyl. Penanganan efek samping harus dilakukan

secara berkesinambungan pada pasien TB. Dalam hal ini diperlukan

Komunikasi, Informasi dan Edukasi kepada tenaga kesehatan dan

masyarakat dalam rangka peningkatan penggunaan obat yang rasional

sehingga meminimalkan risiko terjadinya efek samping obat.

Pengobatan TB terbagi menjadi 2 fase, yaitu fase intensif (2-3 bulan)

dan fase lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan terdiri dari paduan

obat utama dan tambahan. Dalam pengobatan TB, OAT lini pertama

merupakan jenis obat utama yang digunakan. OAT lini pertama di

antaranya adalah isoniazid (INH), rifampisin, pirazinamid, streptomisin, dan

etambutol. Kemasan obat-obat tersebut merupakan obat tunggal, disajikan

secara terpisah, masing-masing isoniazid, rifampisin, pirazinamid dan

etambutol atau bisa juga sebagai obat kombinasi dosis tetap (KDT). KDT ini

terdiri dari 3 atau 4 obat dalam satu tablet. Paduan OAT disediakan dalam
bentuk paket, dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan

menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Satu

paket untuk satu pasien dalam satu masa pengobatan.13

Sebagian besar penderita TB dapat menyelesaikan pengobatan tanpa

efek samping. Namun, sebagian kecil dapat mengalami efek samping. Oleh

karena itu, pemantauan kemungkinan terjadinya efek samping sangat penting

dilakukan selama pengobatan.13

Efek samping OAT mengurangi efektivitas pengobatan, karena secara

signifikan OAT berkontribusi terhadap ketidakpatuhan, yang pada akhirnya

menyebabkan kegagalan pengobatan, kambuh, atau munculnya MDR-TB.

Kepatuhan terhadap pengobatan TB sangat penting untuk menyembuhkan

pasien dengan TB aktif. Karena masa pengobatan TB yang panjang, pasien

harus tetap dimotivasi untuk melanjutkan pengobatan bahkan ketika dia sudah

sehat. Selain itu, halangan dalam pengobatan TB dan pengalihan ke OAT lini

kedua, yang diperlukan pada pasien yang tidak dapat mentoleransi obat

standar, berdampak pada respon pengobatan yang suboptimal.14

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fransiska tentang kejadian efek

samping obat anti tuberkulosis (OAT) kategori 1 pada pasien TB paru di unit

pengobatan penyakit paru-paru (up4) Provinsi Kalimantan Barat. Hasil:

Penelitian ini menunjukkan bahwa penderita TB sebagian besar wanita

sebanyak 63,64%, pada kisaran usia 17-35 tahun (27,27%), dengan berat

badan berkisar 38-54 kg (72,73%), dan terjadi pada pengobatan tahap

intensif 63,64%. Efek samping OAT yang timbul akan menganggu


aktifitas pasien sebesar 81,82%. Kejadian efek samping OAT yang timbul

paling sering adalah urin berwarna kemerahan 100% dan yang paling

rendah efek sampingnya yaitu kesemutan dan mengantuk yaitu sebesar

9,09%.
BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Penderita TBC paru yang menggunakan DOST di RSUD K.R.M.T

Wongsonegoro Semarang mempunyai umur rata-rata 41.416 std.deviasi

3.959 dan umur terendah 35 tahun dan tertinggi 48 tahun

2. Penderita TBC paru yang menggunakan DOST di RSUD K.R.M.T

Wongsonegoro Semarang sebagian besar mempunyai pendidikan

menengah sebanyak 27 responden (75,0%) dan sebagian kecil mempunyai

pendidikan tinggi sebanyak 3 responden (8,3%)

3. Penderita TBC paru yang menggunakan DOST di RSUD K.R.M.T

Wongsonegoro Semarang sebagian besar mempunyai pekerjaan swasta 18

responden (50%) dan sebagian kecil mempunyai pekerjaan PNS sebanyak

6 responden (16,7%)

4. Penderita TBC paru yang menggunakan DOST di RSUD K.R.M.T

Wongsonegoro Semarang sebagian besar mempunyai efek samping ringan

sebanyak 15 responden (41,7%) dan sebagian kecil mempunyai efek

samping berat sebanyak 15 responden (41,7%)


B. Saran

1. Bagi Peneliti

Perlu dilakukan penelitian serupa dengan desain penelitian yang berbeda

dengan jumlah sampel yang lebih banyak yang mencakup variabel-varibel

yang tidak dapat digali dari rekam medik seperti faktor mutu

pelayanan kesehatan meliputi sikap dan perilaku petugas, serta sikap

dan pengetahuan pasien.

2. Bagi Instansi Pendidikan

hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi atau sumber kepustakaan guna

menunjang penelitian selanjutnya.

3. Bagi Masyarakat

Masyarakat khususnya keluarga pasien TB paru untuk patuh dalam

melakusakana pengobatan TB paru.

4. Bagi RSUD K.R.M.T Wongsonegoro Semarang

Memaksimalkan peran dan fungsi DOTS yang sudah berjalan dengan

baik dengan cara mengupayakan agar semua pasien penderita TB

yang sedang menjalani pengobatan melalui pojok DOTS sehingga biaya

yang dikeluarkan oleh pasien dapat diminimalisasikan.