Anda di halaman 1dari 9

TUGAS EPIDEMIOLOGI

UJI DIAGNOSTIK

Disusun Oleh:
Nadila Rahmadhani (130210160004)
Gita Mulyani (130210160003)
Ismaya Jatiswara (130210160017)
Rifaati Hanifa (130210160027)

Dosen Pengampu
Abdul Zahid Ilyas
drh Okta Wismandanu,M.Epid

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2019
SOAL PRAKTIKUM
EPIDEMIOLOGI
Tanggal 26 April 2019

SCREENING TEST

1. Suatu waktu anda bermaksud melakukan uji diagnostik (Screening test) terhadap
brucellosis pada daerah peteernakan sapi perah Ciomas I dan Ciomas II. Uji yang anda
gunakan adalah Tube Agglutination Test (TAT) dengan nilai Sensitivitas (Sensitivity) 60%
dan nilai Spesifisitas (Specificity) sebesar 90%.
Populasi sapi perah di daerah Ciomas I dan II masing-masing 10.000 ekor. Sedangkan
prevalensi (true prevalence) di daerah Ciomas I dan II masing-masing 10% dan 5%.
Berdasarkan data diatas coba kerjakan:
a. Sajikan data-data uji yang anda lakukan terhadap brucellosis dalam tabel 2x2 untuk
masing-masing daerah peteernakan sapi perah.
b. Hitung “estimated prevalence” pada daerah Ciomas I dan II.
c. Mengapa “estimated prevalence” lebih besar dibandingkan dengan “true prevalence”
pada kedua daerah peternakan sapi perah tersebut.
d. Bandingkan nilai prediktif (prediktive value) dari hasil positif uji pada daerah Ciomas
I dan II serta bagaimana penafsiran anda.

Jawab:
Diketahui: Sensitivitas (Sensitivity) = 60%
Spesifisitas (Specificity) = 90%
Populasi = 10.000 ekor
True prevalence (prevalensi) = 10% (Ciomas I)
= 5% (Ciomas II)

a. Ciomas I, prevalensi 10%


Penyakit (D)

Hasil + -
Uji(T)
+ 600 900 1500
- 400 8100 8500
1000 9000 10000
Ciomas II, prevalensi 5%
Penyakit (D)

Hasil + -
Uji(T)
+ 60 950 1010
- 440 8550 8990
b. Estimated prevalence
500 9500 10000 Rumus : uji positif
(a+b)/ n
Ciomas I
=1500/10000= 0,15
= 15%
Ciomas II
=1010/ 10000= 0,101
= 10,1%

c. Nilai estimated prevalence lebih besar dibandingkan nilai true prevalence hal ini
dikarenakan pada nilai estimated prevalence hanya berdasar pada prevalensi hasil
pengujian dimana hasil uji pada penyakit lebih mengarah pada hasil uji positif
dimana hasil spesifisitas yang lebih tinggi, sehingga hasil menunjukkan nilai true
prevalence (yang hanya berdasar pada kondisi penyakit hewan tanpa pengujian)
lebih kecil dari nilai estimated prevalence.

d. Predictive value positif uji

Ciomas I
= 600/1500= 0,4
= 40%
Ciomas II
= 60/ 1010= 0,059
= 5,9%

2. Dalam suatu populasi yang terdiri dari 448 ekor sapi, 112 ekor ditemukan menderita penyakit
X berdasarkan suatu uji Y (reference test) yang dianggap memiliki sensitivitas 100 % dan
spesifisitas 100 %.
a. Berapakah prevalensi sebenarnya (true prevalensi) dari penyakit ini dalam populasi ?
Andaikan sebuah uji yang berbeda (uji Z) digunakan dan hasil uji tersebut adalah :
- Dari 112 ekor sapi yang sakit X, 76 ekor memberikan hasil uji positif dan sisanya
negative.
- Dari 336 ekor sapi yang sehat 328 ekor memberikan hasil uji negative dan sisanya
positif.
b. Berapakah sensitivitas dan spesifitas uji Z?
c. Berapakah nilai prediktif untuk hasil uji positif pada uji Z?
d. Berapakah estimated prevalence pada uji Z dan apa alasan utama mengapa estimated
prevalence berbeda jauh dari prevalensi sebenarnya (true prevalence)?

Jawab:
Diketahui :
uji Y
n = 448
(+) menderita penyakit X = 112 (penyakit X)
Jadi yang (-) menderita penyakit X = 448 – 112 = 336 (karena sensitivitas dan spesifisitas 100%)

a. Uji Z table 2 × 2
Penyakit X
+ - Total
+ 76 8 84
Uji Z

_ 36 328 364
Total 112 336 448

112
True prevalence = =25
448

76
b. Sensitivitas uji Z = =67,86
112
328
Spesifitas uji Z = =97,62
336

76
c. Nilai prediktif uji (+) = =90,48
84
84
d. Estimated prevalence = =18,75
448
Hasil estimated prevalence dengan true prevalence berbeda jauh dikarenakan perbedaan
dari sensitifitas dan spesifitas alat uji Y dengan alat uji Z. True prevalence mengambil
jumlah hewan yang sakit tanpa memperdulikan hasil uji sedangkan estimate prevalensi
mengambil jumlah hewan positif sakit berdasarkan uji meskipun beberapa hewan tidak
menunjukkan gejala sakit.

3. Dengan teknik bakteriologis prevalensi penyakit X pernah ditentukan sebesar 5%.


Namun cara ini tidak praktis, memerlukan waktu panjang dan mahal.

Anda mengembangkan teknik uji serologis untuk mendeteksi antibodi penyakit X. Uji ini
memiliki sensitivitas 95% dan spesifitas 80%. Kemudian Anda memutuskan memakai uji
ini untuk pemberantasan penyakit X. Hewan yang positif menurut uji dipotong dan setiap
pemotongan menimbulkan kerugian sebesar Rp 1 000 000.
Berdasarkan data tersebut di atas, hitung
a. Jika sebanyak 1 juta ekor hewan diuji, berapa kerugian finansial karena pemotongan?
b. Berapa kerugian ekstra karena ketidaktelitian uji yang Anda gunakan?
c. Untuk memperkecil pemotongan yang tidak semestinya, manakah yang menjadi
sasaran perbaikan uji Anda,sensitifitas atau spesifisitas uji?

Diketahui
true prevalence = 5%
sensitifitas = 95%
spesifisitas = 80%
kerugian pemotongan 1 ekor = Rp 1.000.000

Ditanyaan
a. kerugian finansial dari pemotongan 1 juta ekor
b. kerugian ekstra karena ketidaktelitian uji
c. saran perbaikan uji

Jawab
Penyakit Jumlah
Hasil Uji + -
+ 47 500 190 000 237 500
- 2500 760 000 762 500
Total 50 000 950 000 1 000 000

Total true prevalence = 5% X 1.000.000


= 5/100 X 1.000.000
= 50.000

Total false prevalence = 1.000.000 - 50.000


= 950.000

True + = sensitifitas X true prevalensi


= 95% X 50.000
= 47.500

True - = spesifisitas X false prevalensi


= 80% X 950.000
= 760.000

a. kerugian finansial = 237.000 X 1.000.000


= 237.000.000.000

b. kerugian ekstra = 190.000 X 1.000.000


= 190.000.000.000

c. Saran perbaikan uji


Untuk memperkecil pemotongan yang tidak semestinya, sensitivitas uji perlu
menjadi sasaran perbaikan uji agar tidak banyak nilai positif palsu

4. Anda diminta mengumpulkan sampel dari sekelompok ayam broiler dan melakukan
pengujian untuk mengetahui kemungkinan infeksi virus AI pada kelompok ayam
tersebut. Ada sekitar 750 ekor ayam dan sebagian besar dari ayam tersebut
memperlihatkan sejala-gejala yang biasa menyertai AI. Anda lalu mengambil sampel
swab tracheal dari seluruh ayam tersebut dan mengujinya dengan menggunakan dua
metode tes yakni RRT-PCR dan isolasi virus yang merupakan gold standard untuk
mendeteksi AI

Hasil pengujian yang Anda peroleh adalah sebagai berikut:


- Hasil isolasi virus menunjukkan 634 sampel positifAI
- Hasil RRT-PCR menunjukkan 648 sampel positif AI
- Dari seluruh sampel yang positif melalui RRT-PCR, 626 sampel juga dnyatakan
positif melalui isolasi virus
a. Sajikan data-data tersebut di atas dalam table 2x2
b. Jika dibandingkan dengan gold standard tes AI, apakah test RRT-PCR akurat?
c. Hitung sensitivitas dan spesifisitas test RRT-PCR dan diberikan interpretasi Anda
d. Hitung true prevalence dan estimated prevalence AI pada kelompok ayam tersebut
dan diberikan interpretasi Anda
e. Hitung nilai prediktif dari positif uji dan interpretasikan maknanya. Mengapa ukuran
ini merupakan salah satu hal penting dari screening test?
f. Hitung nilai prediktif dari negatif uji dan interpretasikan maknanya
g. Jika pertimbangan utama Anda adalah ingin mengidentifikasi sebanyak mungkin
ayam yang terinfeksi AI, apakah RRT-PCR merupakan alat “Screening” yang baik?
mengapa?

Jawab
a.
Penyakit (D)
+ -
Hasil Uji + 626 22 648
- 8 94 102
Total 634 116 750

b.

626 +94
Akurasi= =0.96=96
750
Tingkat akurasi RRT-PCR cukup tinggi yaitu 96%, artinya kemampuan uji RRT-PCR
untuk mengidentifikasi secara tepat ayam yang terinfeksi AI cukup tinggi. Namun jika
dibandingkan dengan gold standard dengan tingkat akurasi 100% maka RRT-PCR kurang
akurat.

c.
626 94
Sensitivitas= =0.99=99 Spesifisitas= =0.81=81
634 116

Pengujian RRT-PCR memiliki sensitivitas sangat tinggi, artinya proporsi ayam broiler
yang benar-benar terinfeksi AIcukup tinggi sehingga proporsi ayam broiler yang positif
palsu (diragukan terinfeksi AI) rendah. Selain itu, pengujian RRT-PCR juga memiliki
spesifisitas yang tinggi, artinya proporsi ayam broiler yang tidak terinfeksi AI cukup
tinggi sehingga proporsi ayam broiler negatif palsu (diragukan tidak terinfeksi) rendah.
Jadi, ketepatan dalam pengujian RRT-PCR dalam mengidentifikasi ayam boiler yang
benar-benar terinfeksi dan yang tidak terinfeksi cukup tinggi.

d.
634 648
True prevalence= =0.84=84 Estimated prevalence= =0.86=86
750 750

Nilai true prevalence dengan estimated prevalence tidak berbeda jauh, artinya prevalensi
yang didasarkan pada jumlah ayam sakit yang sebenarnya tidak berbeda jauh dengan
prevalensi yang diperoleh dari hasil uji positif dengan menggunakan RRT-PCR. Hal ini
menunjukkan bahwa RRT-PCR dapat digunakan sebagai salah satu alat yang tepat untuk
menguji kejadian penyakit AI.

e.

626
Nilai prediktif positif uji= =0.97=97
648
Nilai prediktif positif uji cukup besar. Nilai prediktif positif uji ini penting karena
merupakan nilai yang menunjukkan hasil pengujian yang benar-benar menunjukkan hasil
uji positif dan hewan positif sakit.
f.
94
Nilai prediktif negatif uji= =0.92=92
102
Nilai prediktif negatif uji cukup besar. Nilai prediktif negatif uji ini penting karena
merupakan nilai yang menunjukkan hasil pengujian yang menunjukkan hasil uji negatif
dan ayam broiler yang tidak terinfeksi AI.
g.

RRT-PCR merupakan alat screening yang baik dalam mengidentifikasi ayam yang
terinfeksi AI yangdapat dilihat dari nilai sensivitas dan spesifitas yang cuup tinggi. Akan
tetapi, jika ditinjau dari nilai akurasi, nilai akurasi yang didapat 96% kurang dari nilai
gold standard yang bernilai 100% sehingga uji RRT-PCR kurang akurat.