Anda di halaman 1dari 8

Ketika saya masuk sebagai pendamping PKH pada tahun 2018, saya menemukan kasus di salah satu desa

dampingan saya yang tergolong wilayah pedalaman namun sudah mulai berbaur dengan lingkungan luar
(kota), yang mana ada salah satu KPM yang suaminya memiliki kebiasaan mabuk-mabukan. Menurut
masyarakat setempat, mereka merasa tergangggu dengan kebiasaan KPM tersebut karena jika sudah
mabuk kadang mengganggu ketertiban masyarakat. Selain itu, menurut saya kebiasaan ini selain
berpengaruh terhadap ekonomi keluarga, juga dapat mengganggu perhatian terhadap keluarga
khususnya terhadap kebutuhan pendidikan dan kesehatan anak mereka. Pihak-pihak yang terkait dalam
kasus ini yaitu KPM itu sendiri, masyarakat, aparat desa, fasilitas pendidikan dan juga fasilitas kesehatan
di desa. Menurut saya, kasusu ini terjadi akibat 3 hal. Yang pertama, karakter individu KPM itu sendiri.
Kedua, pengaruh lingkungan sekitar dimana ada beberapa kelompok yang sering berkumpu tanpa tujuan
yang jelas dengan kebiasaan minum-minuman keras dan mabuk-mabukan. Yang ketiga, kurangnya
sosialisasi atau tindakan dari pemerintah desa setempat dalam menangani kasus-kasus seperti ini yang
merupakan kebiasaan buruk yang perlu dihentikan. Untuk memecahkan masalah ini, pertama perlu
pendekatan pendamping untuk kemudian memberikan sosialisasi dan pemahaman atas perilaku buruk
tersebut sehingga perlahan-lahan kebiasaan ini ditinggalkan oleh KPM tersebut. Kedua, perlu adanya
sosialisasi atau tindakan dari aparat desa terkait kebiasaan mabuk-mabukan dari beberapa kelompok yang
ada di desa tersebut.

1. TEORI SISTEM
Sistem merupakan suatu kerangka yang terdiri dari beberapa elemen/sub elemen/sub sistem yang saling
berinteraksi dan saling mempengaruhi.
Menurut David Easton, Teori sistem adalah suatu model yang menjelaskan hubungan tertentu antara sub-
sub sistem dengan sistem sebagai suatu unit. Untuk melihat kehidupan sosial, sistem dapat bermakna
kenyataan sosial yang terintegrasi dari kompleksitas berbagai unit yang ada serta bersifat interdependen.
Jadi perubahan unit-unit sosial akan menyebabkan perubahan pada unit-unit lainnya dalam satu totalitas.

2. TEORI EKOLOGI
Teori ini menekankan bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan. Teori ekologis
berpusat pada adanya saling ketergantungan antara unsur-unsur dalam lingkungan. Ada lima sistem
dalam teori ini, yaitu mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronosistem. Pekerja sosial
harus mengetahui tentang teori ini karena berhubungan dengan faktor penyebab eksternal dari inti
masalah yang dihadapi klien. Selain itu, berhubungan juga dengan sistem sumber yang relevan untuk
membantu pekerja sosial untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh klien.

3. TEORI MOTIVASI
Motivasi pada dasarnya merupakan alasan untuk bertindak atau dorongan manusia untuk mencapai
tujuannya. Motivasi juga merupakan suatu proses untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan
sesuatu sesuai dengan yang kita inginkan.
Teori motivasi ini sangat membantu bagi individu, keluarga, dan masyarakat. Contohnya ketika kita
sebagai pekerja sosial menemukan adanya masalah bagi ndividu, keluarga, dan masyarakat, motivasi
menjadi sangat penting untuk adanya perubahan dalam individu, keluarga, dan masyarakat tersebut.
Bahkan kurangnya motivasi dapat dijadikan sebagai inti masalah.

1. Dalam keterkaitan dengan TEORI SISTEM, saya melihat bahwa perilaku atau kebiasan buruk KPM
tersebut berhubungan dengan kebiasaannya sejak lama dan sudah menjadi kebiasaan beberapa orang
atau kelompok dalam masyarakat itu. Selain itu, faktor kemalasan dari beberapa masyarakat tersebut juga
mempengaruhi sebagai akibat dari kurangnya aktivitas positif yang bisa dilakukan oleh mereka.
Keterkaitan faktor geografis daerah mereka juga turut andil dalam kebiasaan mereka terebut meskipun
itu tidak bisa menjadi acuan utama karena terbukti banyak dari masyarakat di desa itu yang memiliki
kebiasaan positif daripada yang dilakukan oleh KPM tersebut.

2. Dalam keterkaitan dengan TEORI EKOLOGI, tidak bisa dipungkiri bahwa lingkungan tempat tinggal KPM
ini terdapat beberapa kelompok yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi minuman keras sehingga ini
menjadi alasan mereka untuk terlibat dalam kebiasaan buruk ini. Menurut saya, keterlibatan mereka ini
diakibatkan oleh salah satunya faktor kemalasan sehingga mereka tidak menggunakan waktu yang ada
untuk mengisinya dengan hal-hal yang positif.

3. Dalam kaitannya dengan TEORI MOTIVASI, saya melihat bahwa masih rendahnya motivasi KPM ini
dalam hal-hal yang positif, dalam hal ini untuk meninggalkan kebiasaan lama mereka yang tidak
bermanfaat positif. Selain itu juga motivasi mereka untuk berkembang dalam berusaha untuk memenuhi
kebutuhan keluarga masih rendah. Sehingga saya melihat perlu memberikan motivasi kepada KPM
tersebut agar bisa meninggalkan kebiasaan buruknya serta dapat menggantinya dengan melakukan hal-
hal positif.

Dasar pertimbangan saya menggunakan TEORI SISTEM yaitu saya dapat melihat kasus ini tidak hanya dari
satu sisi saja tetapi dengan memperhatikan keterkaitan antara faktor individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat sehingga kemudian saya dapat mengambil kesimpulan mengenai faktor - faktor yang
mempengaruhi kebiasaan buruk KPM tersebut dan kemudian menyusun intervensi untuk memberikan
solusi yang akan merubah perilaku buruk KPM tersebut.

Dasar pertimbangan saya menggunakan TEORI EKOLOGI ini yaitu bahwa kenyataannya saya dapat melihat
bahwa memang faktor lingkungan sangat mempengaruhi kebiasaan KPM ini. Kebiasaan di lingkungan KPM
tersebut kemudian turut ambil bagian dalam kelompok tersebut sehingga kemudian mau tidak mau KPM
tersbut tidak dapat mengindari ajakan dari lingkungannya. Oleh karena itu, teori ini membantu
pendamping untuk bisa memberikan solusi kepada KPM agar kemudian bisa meninggalkan kebiasaan
buruk ini tanpa keluar dari interaksi sosial yang ada dalam masyarakat desa tersebut.

Dasar pertimbangan saya menggunakan TEORI MOTIVASI ini dimana saya melihat kurangnya motivasi
untuk berkembang dan melakukan hal-hal positif sebagai salah satu faktor KPM itu terus berada di
lingkungan yang memiliki kebiasaan buruk, sehingga kemudian pendamping memiliki tanggungjawab
untuk memberikan motivasi kepada KPM tersebut agar dapat meninggalkan kebiasaan buruknya karena
masih banyak hal positif yang bisa dikerjakan di desa tersebut untuk pertumbuhan ekonomi dan
kesejahteraan keluarganya.
Ketika saya melakukan kunjugan ke rumah KPM ini dan berdiskusi dengan suami dari KPM yang
bersangkutan tentang kebiasaan buruknya tersebut, saya menemukan bahwa kasus ini memang berkaitan
dengan teori sistem, ekologi, maupun motivasi, dimana menurut KPM tersebut kebiasannya itu memang
sudah dilakukan sejak masih remaja dan terbawa - bawa sampai sekarang. Menurutnya, kebiasaan ini
dikarenakan suhu dingin di daerah tersebut serta kurangnya aktifitas sehari-harinya sehingga kemudian
mereka hanya berkumpul dengan tetangga sekitar dan bersama-sama membeli minuman keras untuk
konsumsi bersama. Oleh karena itu, saya kemudian memberikan pemahaman akan kebiasaan buruk dan
akibat yang ditimbulkannya, juga memberikan pemahaman untuk penggunakaan bantuan sosial yang
diterimanya agar tidak disalahgunakan untuk hal-hal yang bukan penuntukannya. Selain itu, saya juga
kemudian memberikan motivasi dan arahan kepada KPM tersebut untuk bisa meninggalkan kebiasaan
buruknya dan mengalihkan dengan melakukan aktifitas positif salah satunya dengan mengembangakan
kapasitas pertaniannya serta mengembangkan usaha peternakan yang cukup berpotensi di desa tersebut
sehingga KPM tersebut dapat memiliki aktifitas positif dan tidak membuang-buang waktu untuk sekedar
kumpul dan mabuk-mabukan. Setelah mendengarkan pencerahan dari saya, KPM tersebut berjanji akan
berusaha meninggalkan kebiasaan buruknya tersebut untuk kebaikannya dan keluarganya.

Tanpa merapkan pengetahuan tentang Teori Sistem, Ekologi, dan Motivasi yang saya pahami,
kemungkinan KPM ini akan terus melakukan kebiasaan buruknya yang sehari - harinya hanya mabuk -
mabukan. Sehingga kemungkinan di kemudian hari anak-anaknya akan putus sekolah akibat tidak adanya
biaya untuk kebutuhan sekolah karena bantuan sosial yang ia dapatkan dari pemerintah hanya digunakan
untuk membeli minuman keras atau hal-hal lain yang bukan untuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan
anaknya. Dampak lain tanpa saya menerapkan konsep motivasi ini yaitu keluarga ini tidak akan pernah
berkembang dalam hal ekonomi dan sosial karena mereka tidak memiliki motivasi untuk bisa berkembang
dengan mengembangkan potensi ekonomi yang bisa dilakukan di desanya. Selain itu, tanpa menggunakan
konsep atau teori sistem dan ekologi, saya tidak bisa melihat integrasi antara perilaku individu,
lingkungan, kelompok, dan masyarakat sebagai suatu keterkaitan. Dalam kasus ini, KPM tidak bisa keluar
dari kebiasaan buruknya karena dia tetap berada di lingkungan yang masih tetap mempertahankan
kebiasaan buruknya yang berakibat pada penurunan kualitas hidup individu dan keluarganya.

KASUS 2

Ketika saya melakukan verifikasi Faskes dengan melakukan koordinasi dengan petugas posyandu, saya
mendapatkan ada anak balita dari salah satu KPM yang sudah 2 tahun terakhir tidak pernah dibawa lagi
pemeriksaan ke posyandu. Sedangkan usia balita tersebut pada saat verifikasi sudah berumur 4 tahun.
KPM tersebut juga memiliki 1 anak balita yang berumur 3 tahun. Kedua anak tersebut sama, sudah kurang
lebih 2 tahun tidak dibawa ke posyandu. Informasi dari petugas kesehatan Puskesmas setempat juga
mengatakan bahwa orang tua tersebut sudah lama tidak hadir ketika mereka melakukan posyandu
sehingga kadang mereka harus melakukan kunjungan langsung ke rumah KPM tersebut untuk melakukan
pemeriksaan kesehatan balita.

Kasus ini saya temukan di beberapa desa dampingan saya lainnya pada saat verifikasi Faskes di Bulan
Februari tahun 2018

Pihak-pihak yang terkait dalam kasus ini yaitu Orang Tua, Kader Posyandu, dan petugas Kesehatan di
Puskesmas
Menurut saya ini terjadi karena kurangnya kesadaran dari orang tua akan pentingnya pemeriksaan
kesehatan terhadap anak-anaknya dan juga tingkat pendidikan orang tua yang rendah sehingga
pengetahuan mereka tentang pentingnya menjaga kesehatan anak-anaknya masih kurang. Sementara
menurut KPM yang bersangkutan, mereka agak malas datang ke posyandu dikarenakan rumah mereka
yang lumayan jauh dari tempat posyandu dan jika naik kendaraan mereka harus mengeluarkan biaya
untuk ke tempat pelayanan kesehatan.

Tindakan saya dalam memecahkan masalah ini yaitu pertama, saya melakukan kunjungan ke rumah KPM
dan menanyakan apa kendala yang dihadapi sehingga dalam 2 tahun terakhir ini dia sudah tidak lagi aktif
memeriksakan balitanya ke posyandu. Kedua, saya memberikan pemahaman akn pentingnya membawa
anak balitanya ke posyandu dan ,menjelaskan tentang kesehatan anak sehingga orang tua ini mengalami
perubahan pemahaman tentang pentingnya membawa balitanya ke faskes. Ketiga, saya menghimbau
kepada kader posyandu agar jika memungkinkan mereka sempatkan untuk mengunjungi orang tua balita
yang tidak aktif membawa balitanya di Posyandu

Pada kasus ini saya menerapkan metode atau teknik CASE WORK, dimana metode ini dikenal juga sebagai
model intervensi mikro.

Jeanette Regensburg (1938) menyatakan bahwa Social Case Work merupakan suatu metode untuk
mengukur realitas kemampuan kelayan dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya dan pekerja
sosial berupaya untuk membantu menjelaskan masalah yang dihadapi, dan membantunya untuk berpikir
dalam cara yang berbeda untuk memecahkannya.

Metode ini dilakukan dengan didasari oleh suatu proses relasi yang bersifat individual, tatap muka.

Sesuai dengan kasus tersebut dimana Ibu KPM tidak aktif lagi untuk membawa anak balitanya dalam
pemeriksaan di Posyandu maupun Puskesmas, pendekatan Social Case Work ini sangat tepat untuk bisa
memberikan solusi atau pemecahan masalah serta perubahan perilaku KPM tersebut. Tehnik ini ini saya
lakukan dengan beberapa cara, diantaranya teknik wawancara, teknik diskusi, teknik memberikan
informasi dan pemahaman, serta melakukan observasi langsung.

Untuk tahap awal terlebih dahulu saya membangun hubungan saling percaya dengan klien tersebut
sehingga diharapkan klien atau KPM tersebut dapat dengan rileks dan terbuka mengungkapkan
permasalahan yang dihadapi . Gambarannya seperti percakapan saya di bawah ini :

Saya : Selamat Pagi Bu... Bagaimana kabarnya hari ini ? Ito dan Santi bagamana kabarnya?

Ibu KPM : Selamat Pagi Pak... Alhamdulilah baik Pak... Ito dan Santi juga baik Pak cuma ada sedikit batuk,
mungkin karena cuaca kurang bagus, hujan terus tapi tidak apa-apa...

Saya : Oh begitu... sudah dibawa ke Puskesmas atau ke Posyandu ?

Ibu : Belum Pak, tapi sudah saya belikan obat di kios.

Saya : Kenapa tidak dibawa ke Posyandu kemarin atau ke Puskesmas biar dikasi obat yang tepat Bu ?

Ibu : Tidak apa-apa Pak... ini juga cuma karena pengaruh cuaca. Nanti kalau bagimana-bagimana baru saya
bawa ke puskesmas.
Saya : Begini Bu, Ibu sudah tau belum kalau salah satu kewajiban peserta PKH yang punya anak balita
harus rutin membawa anaknya di Posyandu setiap bulan?

Ibu : Iya sudah tau Pak, cuma masalahnya jauh kalo ke tempat posyandu, tidak ada uang untuk sewa ojek...

Selanjutnya saya semakin mengeksplor masalah Ibu sehingga tidak membawa anaknya kemudian
memberikan pemahaman dan informasi untuk perubahan perilaku. Dan Ibu ini dengan rileks dan terbuka
menjawab pertanyaan saya.

Dengan menerapkan teknik Social Case Work ini memungkinkan KPM tersebut untuk bisa menceritakan
mulai dari keadaan keluarganya sampai kepada kendala - kendala yang menyebabkan dia kemudian tidak
membawa anaknya ke Posyandu atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan lainnya. Setelah saya berhasil
membangun hubungan saling percaya dengan KPM tersebut, akhirnya KPM tersebut dengan terbuka dan
rileks mau menjawab pertanyaan saya dan mengungkapkan masalah dan kendala yang dihadapinya
terkait kasus yang saya dapatkan tersebut. Dengan demikian saya dapat mengumpulkan informasi terkait
masalah atau kendala sebenarnya dari KPM ini. Informasi yang jelas dan terbuka dari KPM ini
memungkinkan pendamping untuk menyusun rencana intervensi apa yang akan diterapkan untuk
memberikan solusi bagi KPM yang bertujuan untuk mengubah perilaku KPM agar lebih memperhatikan
kesehatan anaknya. Selain itu, dampak langsung dari teknik ini yaitu KPM dapat menyadari dan dengan
sukarela mengakui kesalahannya dan berjanji akan lebih memperhatikan tanggungjawabnya terhadap
kesehatan anak - anaknya dan juga terhadap aturan yang berlaku dalam kepesertaan PKH ini.

Dalam proses identifikasi masalah ada beberapa teknik yang saya gunakan pada proses pengumpulan
data, di antaranya Teknik wawancara, diskusi, dan observasi. Melalui teknik wawancara, saya bisa
menggali lebih dalam tentang masalah ada kendala yang dihadapi oleh keluarga ini sehingga mereka tidak
begitu memperhatikan kesehatan anak-anaknya dengan tidak hadir di posyandu setiap bulannya untuk
pemeriksaan kesehatan balita. Tetapi tidak hanya sebatas bertanya, saya pun memberikan kesempatan
kepada KPM tersebut untuk menjelaskan alasannya terkait kasus ini. Sikap saya dalam mendengarkan
penjelasannya yaitu saya menerima pernyataannya dan tidak langsung menjustifikasi kesalahannya tetapi
kemudian mengarahkan dan menjelaskan seharusnya seprti apa sikap yang harus dilakukan. Dengan
demikian, KPM ini tidak merasa disalahkan sepenuhnya sehingga selanjutnya dia bisa terbuka tentang
masalahnya . Teknik diskusi ini membuat KPM bisa dengan rileks mengutarakan kendala yang dihadapinya
dalam program PKH ini. Dengan teknik observasi saya dapat melihat langsung keadaan KPM tersebut dan
menghubungkannya dengan kasus yang saya temukan. Sehingga dengan demikian saya dapat melakukan
identifikasi masalah untuk kemudian menyusun intervensi dalam penyelesaian masalah.

Dalam mengidentifikasi sumber dan potensi terkait kasus 2 saya melakukan teknik wawancara terhadap
beberapa sumber untuk mengumpulkan data di antaranya dari lingkungan sekitar, ketua kelompok PKH,
aparat kelurahan dan juga kecamatan, serta petugas Posyandu dan Puskesmas setempat. Saya melakukan
wawancara kepada narasumber tersebut untuk menggali informasi terkait keberadaan KPM ini serta
keaktifannya di dalam masyarakat yang menyebabkan KPM ini menjadi malas untuk memeriksakan
anaknya ke fasilitas pelayanan kesehatan. Sehingga data itu menjadi sumber analisis saya dalam
mengidentifikasi penyebab masalah atau kasus KPM ini. Selain itu, metode observasi langsung ke rumah
KPM juga saya menjadi bahan analisis saya dimana rumah KPM ini memang lumayan jauh, yakni berjarak
kurang lebih 1 km dari tempat posyandu dan lebih dari 1 km untuk akses ke Puskesmas. Ini menjadi salah
satu KPM ini yang menyebabkan ia tidak hadir di posyandu untuk memeriksakan anaknya. Namun,
sebenarnya itu tidak menjadi masalah karena bisa diantisipasi dengan cara KPM datang ke Posyandu
sebelum waktu pelaksanaan posyandu.

Metode / teknik yang saya gunakan dalam proses penyusunan rencana intervensi penanganan kasus ini
yaitu yang pertama, saya melakukan pendekatan terdapat KPM / keluarga ini untuk kemudian melakukan
pengumpulan data terkait permasalahan atau kasus yang saya temukan di lapangan. Proses pengumpulan
data ini saya lakukan melalui metode diskusi bersama dengan KPM yang bersangkutan, lalu kemudian
megeksplor kendala-kendala atau permasalahan yang dihadapi keluarga ini. Melalui pendekatan persuasif
ini, KPM yang bersangkutan kemudian dengan rileks menyampaikan atau mengungkapkan hal - hal apa
saja yang kemudia n itu menjadi faktor predisposisi dan presifitasi muncul kasus yang saya dapati maupun
potensi kasus yang bisa ditimbulkan. Setelah data terkumpul, maka saya melakukan identifikasi dan
klasifikasi kasus yang saya dapatkan dari diskusi yang saya lakukan dengan KPM yang bersangkutan. Dari
indentifikasi dan klasifikasi data tersebut saya menentukan masalah yang ada di keluarga ini berkaitan
dengan kasus yang saya dapati. Sehingga dengan demikian saya dapat menyusun rencana intervensi kasus
tersebut untuk kemudian mengimplemetasikan dalam pemecahan masalah.

Metode yang saya gunakan dalam implementasi pemecahan masalah kasus ini yaitu metode diskusi.
Setelah melalui tahapan pengumpulan data, identifikasi masalah, klasifikasi masalah, penentuan masalah
dan rencana intervensi, maka pelaksanaan implementasi dari rencana intervensi tersebut saya lakukan
dengan metode diskusi. Pada kasus ini saya dapatkan 2 permasalahan yaitu yang pertama adalah
kurangnya perhatian keluarga terhadap fungsi bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah dan yang
kedua yaitu jauhnya jarak dari rumah KPM dengan fasilitas pelayanan kesehatan (posyandu dan
puskesmas). Dari kedua permasalahan itu, saya kemudian mendiskusikan dengan keluarga tersebut
dengan terlebih dahulu mengingatkan dan menjelaskan kembali tujuan pemerintah dalam memberikan
bantuan kepada KPM PKH yang memiliki komponen. Sehingga KPM harus mengikuti aturan atau
ketentuan yang ada dimana bantuan sosial tersebut dipergunakan unutk memenuhi kebutuhan anaknya
terkait kebutuhan pendidikan dan kesehatan. Saya juga memberikan kesemptan kepada keluarga untuk
menyampaikan kemungkinan kendala untuk menjalankan tanggungjawabnya, dan saya memberikan
penguatan kepada mereka untuk tetap bisa menjalankan tanggugjawab mereka terhadap keluarga dan
pemerintah dalam hal ini terhadap kepesertaan PKH. Di sini saya memberikan infrormasi terkait kewajiban
kepesertaan PKH. Dan untuk masalah yang kedua yaitu jarak dari rumah ke tempat pelayanan kesehatan
yang cukup jauh saya memberikan solusi kepada orang tua agak dapat hadir di posyandu sebelum waktu
yang ditentukan karena mereka harus berjalan kaki. Inipun sebenarnya tidak menjadi masalah karena
hanya sebulan sekali. Selain itu, saya melakukan koordinasi dengan petugas kesehatan dari puskesmas
dan posyandu, jika memungkinkan untuk bisa melakukan kunjungan rumah dalam pemeriksaan
kesehatan balita dari KPM tersebut jika mereka berhalangan hadir.
Salah satu KPM di wilayah dampingan saya memang tergolong ke dalam masayarakat kurang mampu.
KPM tersebut memiliki 3 orang anak, dimana 2 orang anak sudah bersekolah di SD kelas 3 dan kelas 1
sementara anak bungsunya bersekolah di Taman Kanak-kanak (TK). Kasus yang saya temukan yaitu ketika
melakukan verifikasi fasdik sekaligus koordinasi dengan guru-gurunya, saya mendapatkan laporan bahwa
kedua anak KPM tersebut ketika bersekolah pakaiannya sangat tidak rapi karena terlihat hampir tidak
layak lagi dipakai, mulai dari baju, celana, kaos kaki, dan sepatu. Padahal orang tuanya merupakan
penerima bantuan PKH dan anaknya memiliki KIP. Oleh karena itu, pihak sekolah meminta kepada kami
untuk menyampaikan dan menegaskan kepada orang tuanya agar memperhatikan kebutuhan sekolah
anak-anaknya karena mereka ini sudah sering disampaikan saat rapat atau pertemuan dengan orang tua
murid maupun lewat anaknya.

Kasus ini saya dapatkan di tahun 2018, di salah satu wilayah dampingan saya di Kecamatan Bulagi, Kab.
Banggai Kepulauan

Pihak -pihak yang terkait : orang tua, pihak Sekolah, dan masyarakat.

Menurut saya ini terjadi karena selain kondisi ekonomi yang kurang mendukung pertama yaitu kurangnya
perhatian dan kesadaran orang tua akan kebutuhan pendidikan anak-anaknya dan kedua yaitu kurangnya
pengetahuan maupun kesadaran orang tua tentang pemanfaatan bansos yang diberikan oleh pemerintah.

Untuk memecahkan masalah saya melakukan pendekatan untuk memberikan pemahaman kembali
secara jelas tentang manfaat bantuan yang sudah diberikan oleh pemerintah serta dalam peruntukannya
dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan anak sekolahnya mengevaluasi perubahan perilaku dari KPM
tersebut.

Nilai - nilai pekerja sosial yang saya terapkan ketika akan meyeselesaikan masalah atau kasus yang saya
dapatkan pada KPM saya yang pertama yaitu Non-judgmental attitude (sikap tidak menilai dan
menghakimi). Nilai ini menurut saya sangat penting dalam menghadapi dan menyeselsaikan
permasalahan yang dialami KPM karena terkadang yang kita lihat dari luar ataupun yang kita dengar dari
orang lain belum tentu sesuai dengan kenyataan yang dialami KPM. Sebagaimana salah satu contoh yang
saya paparkan pada kasus 3 di atas yang mana dalam menangani kasus ini saya tidak langsung menghakimi
bahwa KPM tersebut bersalah, tetapi saya melakukan pendekatan terlebih dahulu dengan mendengarkan
penjelasan KPM tersebut terkait kasus yang saya dapatkan. Dari situ saya mengtahui alasan KPM tersebut
yang mana dia menyebutkan bahwa ketidakcukupan penghasilannya dalam memenuhi kebutuhan
keluarga sehingga dengan terpaksa bantuan yang diperuntukkan untuk kebutuhan pendidikan anaknya
digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga dengan demikian saya dapat mengarahkan KPM dan
mengingatkan kembali agar terlebih dahulu memenuhi kebutuhan sekolah anaknya dan kemudian
digunakan untuk kebutuhan sehari-hari jika masih memungkinkan. Saya juga memberikan motivasi
kepada keluarga ini untuk lebih giat lagi berusaha mencari nafkah sehingga tidak terfokus menunggu
bantuan dari pemerintah saja unutk memenuhi kebutuhan keluarga.

Selain itu nilai yang saya gunakan dalam menghadapi masalah KPM yaitu individualization (individualisasi),
dimana setiap individu manusia itu unik, baik itu dari segi pemikirannya, perasaan, sikap dan perilakunya.
Oleh karena itu, dalam penyelesaian masalah atau kasus KPM juga diperlukan pendekatan yang berbeda
sehingga klien dapat terbuka akan permasalahannya dan menerima masukan atau arahan dari
pendamping.

Dalam pekerjaan di lapangan dengan rekan sejawat, pertama saya menerapkan nilai Acceptance. Saya
memahami bahwa terkadang kita memiliki perbedaan pendapat dalam menghadapi permasalahan atau
dalam memandang suatu persoalan. Di sini dibutuhkan sikap acceptance terhadap perbedaan cara
pandang ataupun karakter rekan saya dalam menghadapi atau menyeselesaikan masalah. Sikap ini
kemudian dapat memungkinkan kami untuk dapat bertukar pikiran mencari jalan keluar atau keputusan
yang tepat dalam penyelesaian masalah. Nilai individualization juga saya terapkan karna berkaitan dengan
nilai Acceptance yang mana dengan nilai ini saya menyadari bahwa rekan sejawat saya juga adalah
individu yang unik dan berbeda sehingga dam pergaulan atau dalam pekerjaan saya harus mampu
menyesuaikan dengan keadaan di lingkungan kerja saya dengan rekan sejawat. Selain itu juga saya
menerapkan nilai Controlled Emotional Involvement (melibatkan kontrol emosi). Ini diperlukan
mengingat dalam perkerjaan dengan rekan sejawat terutama dalam pertemuan - pertemuan ataupun
menghadapi permasalahan internal Program terkadang kita berbeda pendapat atau pemahaman dan
masing- masing berusaha mempertahankan pendapatnya tetapi pada akhirnya tidak semua pendapat
diterima. Di sini kira perlu pengendalian atau kontrol emosi yang matang untuk bisa tetap menjaga kondisi
kerja dengan sejawat tetap nyaman dan menyenangkan. Implikasinya yaitu dengan saya menerapkan
nilai-nilai tersebut bekerja dengan teman sejawat saya, setiap kendala-kendala atau permasalahan yang
kami temui di lapangan termasuk dalam kasus yang saya dapatkan, kami dapat mendiskusikan dan
mencari jalan keluar terhadap penyelesaian masalah sehingga semuanya dapat teratasi dengan baik.

Dalam bekerja sama dengan lembaga tempat saya bekerja dalam hal ini Sekolah, saya menerapakan nilai
confidentiality (kerahasiaan), dimana setiap informasi yang saya bagikan kepada pihak sekolah dalam hal
koordinasi hanya sebatas kebutuhan dalam membantu KPM terkait masalah - masalah program ini yang
membutuhkan kerjasama antara pendamping dan pihak sekolah. Adapun hal - hal pribadi yang tidak ada
kaitannya dengan program dan kasus yang didapatkan, sebisa mungkin pendamping tidak
memberitahukan ataupun menginformasikan ke pihak sekolah karena itu merupakan rahasia KPM yang
perlu dijaga kerahasiaanya. Sehingga dengan demikian, KPM dapat tetap bisa terbuka kepada
pendamping karena dia tahu bahwa rahasia keluarganya aman. Selain itu, dengan nilai ini saya
menyampaikan kepada pihak sekolah agar setiap informasi yang sudah didapatkan terkait KPM atau kasus
yang didapatkan, sebisa mungkin untuk tidak disebar luaskan ke masyarakat atau pihak - pihak yang tidak
berkepentingan agar tidak menjadi informasi yang kemudian disalah gunakan oleh orang - orang yang
tidak bertanggung jawab karena itu merupakan rahasia KPM yang perlu dijaga.