Anda di halaman 1dari 103

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


DI PT. KALBE FARMA, Tbk. KAWASAN INDUSTRI DELTA
SILICON JL M.H. THAMRIN BLOK A3-1, LIPPO
CIKARANG, BEKASI PERIODE 17 JUNI – 12 JULI DAN
14 AGUSTUS – 30 AGUSTUS 2013

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

ARLIKA RAHAYU, S. Farm.


1206329392

ANGKATAN LXXVII

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
JANUARI 2014

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


DI PT. KALBE FARMA, Tbk.
KAWASAN INDUSTRI DELTA SILICON
JL M.H. THAMRIN BLOK A3-1, LIPPO CIKARANG, BEKASI
PERIODE 17 JUNI – 12 JULI DAN 14 AGUSTUS – 30
AGUSTUS 2013

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker

ARLIKA RAHAYU, S. Farm.


1206329392

ANGKATAN LXXVII

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
JANUARI 2014
ii

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014
iv

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat melaksanakan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
di PT. Kalbe Farma, Tbk. dan menyelesaikan laporan PKPA ini. Pelaksanaan
PKPA dan penulisan laporan PKPA ini diajukan dalam rangka memenuhi salah
satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker pada Program Profesi Apoteker
Fakultas Farmasi Universitas Indonesia. Pada penulisan laporan ini, penulis
mendapat arahan, bantuan, dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Dr. Mahdi Jufri, M.Si., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas
Indonesia yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk
melaksanakan PKPA.
2. Prof. Dr. Yahdiana Harahap, M.S., Apt., selaku Pj.S Dekan Fakultas Farmasi
UI sampai dengan Desember 2013
3. Dr. Harmita. Apt selaku Ketua Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi
Universitas Indonesia yang telah memberikan kesempatan kepada penulis
untuk melaksanakan PKPA.
4. Agung Martupa Bukit Leonardo Malau, S.Farm., Apt selaku pembimbing dan
Supervisor Departemen Quality Assurance PT. Kalbe Farma, Tbk., yang telah
memberikan arahan, bimbingan perhatian, ilmu, dan dukungan kepada
penulis selama melaksanakan PKPA.
5. Dr. Herman Suryadi M.S., Apt selaku pembimbing yang telah memberikan
arahan dan bimbingan kepada penulis dalam penulisan laporan PKPA.
5. Seluruh karyawan Quality Assurance PT. Kalbe Farma, Tbk., terutama
kepada Kak Ragil, dan Kak Veli atas bantuannya selama melaksanakan
PKPA.
6. Keluarga, Orang tua dan saudara atas dukungan, perhatian, dan doa yang
diberikan kepada penulis selama melaksanakan Profram Profesi Apoteker di
Fakultas Farmasi Universitas Indonesia.

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


7. Seluruh rekan Apoteker UI angkatan LXXVII, khususnya Bulqi, Anisa,
Ajeng, Nabila, Findarti, Elis, Nurina, Ali, Riyon, Achsar dan Zetmi yang
telah melaksanakan PKPA bersama di PT. Kalbe Farma, Tbk. atas dukungan,
semangat, dan kerja samanya .
8. Seluruh staf pengajar, tata usaha dan karyawan di Program Profesi Apoteker
Fakultas Farmasi Universitas Indonesia atas pengajaran dan bantuan yang
diberikan selama penulis menjalani pendidikan di Program Profesi Apoteker.
Penulis menyadari laporan PKPA ini tidak lepas dari kekurangan dalam
proses penyusunannya. Segala kritik ataupun saran terbuka untuk disampaikan
kepada penulis demi perbaikan di masa mendatang. Semoga laporan PKPA ini
berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu
farmasi pada khususnya.

Penulis

Depok, Januari 2014

vi

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014
ABSTRAK

Nama : Arlika Rahayu, S. Farm


Program Studi : Apoteker
Judul :.Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker Di PT. Kalbe Farma,
Tbk. Kawasan Industri Delta Silicon JL M.H. Thamrin Blok A3-
1, Lippo Cikarang, Bekasi Periode 17 Juni – 12 Juli Dan 14
Agustus – 30 Agustus 2013

Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial
yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan
ekonomis. Industri Farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri
Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahan obat. Agar obat
yang dihasilkan berkualitas, mempunyai efikasi yang baik, bermutu, dan aman
serta konsisten maka dibutuhkan suatu pedoman bagi industri farmasi tentang
Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Apoteker dituntut untuk mempunyai
wawasan, pengetahuan yang luas dan pengalaman praktis yang memadai serta
kemampuan dalam memimpin agar dapat mengatasi permasalahanpermasalahan
yang ada di industri farmasi. Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) dilakukan
pada 17 Juni – 12 Juli Dan 14 Agustus – 30 Agustus 2013 Di PT. Kalbe Farma,
Tbk. Kawasan Industri Delta Silicon JL M.H. Thamrin Blok A3-1, Lippo
Cikarang, Bekasi Dalam rangka pembinaan terhadap generasi baru di bidang
industri farmasi.

Kata Kunci :. Praktek Kerja Profesi Apoteker, Industri Farmasi, Cara


Pembuatan Obat yang Baik
xiii+57 halaman : 1 lampiran
Daftar Pustaka : 4 (2009-2012)

viii

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


ABSTRACT

Name : Arlika Rahayu, S. Farm


Study Program : Apothecary
Title : Report of Pharmacist Internship Program at PT Kalbe
Farma Tbk at Delta Silicon Industrial Estate Jl. MH
Thamrin Blok A3-1, Lippo Cikarang, Bekasi Period of
June 17 to July 12, 2013 and August 14 to August 30,
2013

Health is good health, physically, mentally, spiritually and socially to enable more
people to live socially and economically productive. Pharmaceutical Industry is an
entity that has a permit from the Minister Health to the manufacture of drugs or
drug ingredients. In order for the resulting drug quality, have good efficacy,
quality, and safe and consistent we need a guide for the pharmaceutical industry
on the Good Manufacturing Practices (GMP). Pharmacists are required to have
insight, extensive knowledge and good practical experience and ability to lead in
order to overcome the problems of the pharmaceutical industry. Pharmacists
Internship Program (PIP) conducted on 17 June to 12 July and 14 August to 30
August 2013 at PT. Kalbe Farma Tbk. Delta Silicon Industrial Estate Jl. MH
Thamrin Blok A3-1, Lippo Cikarang, Bekasi to develop the new generations in
the pharmaceutical industry.

Key Words :.Pharmacists Internship Program, Pharmacy Industry, Good


Manufacturing Practices
xiii+57 pages : 1 appendix
Bibliography : 4 (2009-2012)

ix

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................ii


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ..................................................iii
HALAMAN PENGESAHAN ...........................................................................iv
KATA PENGANTAR ......................................................................................v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA
ILMIAH .............................................................................................................vii
ABSTRAK .........................................................................................................viii
ABSTRACT.......................................................................................................ix
DAFTAR ISI .....................................................................................................x
DAFTAR GAMBAR .........................................................................................xii
DAFTAR LAMPIRAN .....................................................................................xiii
BAB 1. PENDAHULUAN ..................................................................................1
1.1 Latar Belakang .........................................................................................1
1.2 Tujuan.......................................................................................................2

BAB 2. TINJAUAN UMUM ..............................................................................3


2.1 Industri Farmasi........................................................................................3
2.2 Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)................................................6

BAB 3. TINJAUAN KHUSUS PT. KALBE FARMA, Tbk.............................14


3.1 Sejarah dan Perkembangan PT. Kalbe Farma Tbk..................................14
3.2 Visi dan Misi PT. Kalbe Farma Tbk........................................................16
3.3 Lokasi dan Tata Ruang PT. Kalbe Farma Tbk .......................................16
3.4 Struktur Organisasi PT. Kalbe Farma Tbk ..............................................18

BAB 4. PEMBAHASAN ......................................................................................36


4.1 Manajemen Mutu ....................................................................................36
4.2 Personalia .................................................................................................37
4.3 Bangunan dan Fasilitas.............................................................................38
4.4 Peralatan ..................................................................................................40
4.5 Sanitasi dan Higiene ................................................................................42
4.6 Produksi ...................................................................................................44
4.7 Pengawasan Mutu ....................................................................................46
4.8 Inspeksi Diri , Audit Mutu, dan Audit & Persetujuan
Pemasok ..................................................................................................47
4.9 Penanganan Keluhan terhadap Produk, Penarikan Kembali
Produk dan Produk Kembalian ...............................................................48
4.10 Dokumentasi ...........................................................................................50
4.11 Pembuatan dan Analisis terhadap Kontrak ............................................51
4.12 Kualifikasi dan Validasi ..........................................................................52

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................55


5.1. Kesimpulan ..............................................................................................55
5.2. Saran .........................................................................................................55
x

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


DAFTAR ACUAN ...............................................................................................56
LAMPIRAN...........................................................................................................57

xi

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Logo PT. Kalbe Farma, Tbk..................................................... 15

xii

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Struktur Organisasi PT. Kalbe Farma, Tbk. ............................ 57

xiii

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan menurut Undang-Undang Republik Indonesia No 36 Tahun 2009
adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Kesehatan merupakan salah satu indikator tingkat kesejahteraan manusia sehingga
menjadi prioritas dalam pembangunan nasional suatu bangsa. Salah satu
komponen kesehatan yang sangat penting adalah tersedianya obat sebagai bagian
dari pelayanan kesehatan masyarakat. Obat merupakan bahan atau paduan bahan,
termasuk produk biologi, yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki
sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis,
pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi
untuk manusia (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012).
Industri Farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin dari Menteri
Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau bahan obat. Produk
obat yang berkualitas yang dihasilkan industri farmasi harus memperhatikan
faktor-faktor yang terlibat dalam proses produksinya. Untuk menghasilkan produk
obat yang berkualitas tidak hanya ditentukan dari pemeriksaan bahan awal dan
produk akhir namun harus dibangun dari semua aspek produksi. Agar obat yang
dihasilkan berkualitas, mempunyai efikasi yang baik, bermutu, dan aman serta
konsisten maka dibutuhkan suatu pedoman bagi industri farmasi tentang Cara
Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).
Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) adalah cara pembuatan obat yang
bertujuan untuk memastikan agar mutu obat yang dihasilkan sesuai dengan
persyaratan dan tujuan penggunaan. CPOB menyangkut seluruh aspek produksi
mulai dari manajemen mutu; personalia; bangunan dan fasilitas; peralatan; sanitasi
dan higiene; produksi; pengawasan mutu; pemastian mutu; inspeksi diri, audit
mutu, dan audit persetujuan pemasok; penanganan keluhan terhadap produk dan
penarikan kembali produk; dokumentasi; pembuatan dan analisis berdasarkan
kontrak; kualifikasi dan validasi.

1 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


2

Salah satu aspek dalam CPOB adalah mengenai personalia, yang salah
satunya adalah Apoteker dalam industri farmasi memegang peranan penting
dalam industri farmasi untuk menjamin mutu obat yang dihasilkan. Kedudukan
Apoteker juga diatur dalam CPOB, yaitu sebagai penanggung jawab produksi,
pengawasan mutu, dan pemastian mutu. Sehingga seorang Apoteker dituntut
untuk mempunyai wawasan, pengetahuan yang luas dan pengalaman praktis yang
memadai serta kemampuan dalam memimpin agar dapat mengatasi permasalahan-
permasalahan yang ada di industri farmasi. Dalam rangka mencapai tujuan
tersebut, calon Apoteker harus mendapatkan bekal pengetahuan dan pengalaman
praktis yang cukup yang salah satunya dapat diperoleh melalui kegiatan praktek
kerja profesi di industri farmasi. Dalam rangka pembinaan terhadap generasi baru
di bidang industri farmasi, yaitu tenaga apoteker, PT. Kalbe Farma, Tbk. memberi
kesempatan kepada calon apoteker untuk melaksanakan PKPA. Pelaksanaan
PKPA di PT. Kalbe Farma, Tbk. ini berlangsung dari tanggal 17 Juni sampai
dengan 12 Juli dan 14 Agustus sampai dengan 30 Agustus 2013.

1.2 Tujuan
Tujuan pelaksanaan PKPA di PT. Kalbe Farma, Tbk. adalah untuk:
a. Memperoleh pengetahuan dan wawasan mengenai penerapan segala aspek
CPOB di PT. Kalbe Farma, Tbk.
b. Memahami peran dan tugas apoteker dalam industri farmasi

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


BAB 2
TINJAUAN UMUM

2.1 Industri Farmasi (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2010)


Menurut PerMenKes No 1799/MENKES/PER/XII/2010 tentang Industri
Farmasi, yang dimaksud dengan industri farmasi adalah badan usaha yang
memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat
atau bahan obat. Fungsi industri farmasi adalah pembuatan obat/bahan obat,
pendidikan & pelatihan dan penelitian & pengembangan. Setiap pendirian Industri
Farmasi wajib memperoleh izin Industri Farmasi dari Direktur Jenderal pada
Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pembinaan
kefarmasian dan alat kesehatan. Persyaratan untuk memperoleh izin industri
farmasi, yaitu:
a. Berbadan usaha berupa perseroan terbatas
b. Memiliki rencana investasi dan kegiatan pembuatan obat
c. Memiliki NPWP
d. Memiliki secara tetap 3 orang apoteker Warga Negara Indonesia
masingmasing sebagai penanggung jawab pemastian mutu, produksi dan
pengawasan mutu
e. Komisaris dan direksi tidak pernah terlibat, baik langsung dan tidak langsung
dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang kefarmasian.
Agar dapat memperoleh izin usaha industri farmasi, diperlukan tahap
persetujuan prinsip. Permohonan persetujuan prinsip diajukan kepada Direktur
Jenderal dengan tembusan kepada Kepala Badan dan kepala Dinas Kesehatan
Provinsi setelah sebelumnya mengajukan permohonan Rencana Induk
Pembangunan (RIP) kepada kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Persetujuan prinsip diberikan kepada industri farmasi untuk dapat langsung
melakukan persiapan dan usaha pembangunan, pengadaan, pemasangan instalasi,
peralatan dan lain-lain yang diperlukan, termasuk produksi percobaan dengan
memperhatikan ketentuan perundang-undangan di bidang obat. Persetujuan
prinsip tersebut berlaku selama jangka waktu 3 tahun dan selama jangka waktu
tersebut, perusahaan yang bersangkutan harus menyampaikan laporan informasi
kemajuan pembangunan fisik setiap 6 bulan sekali kepada Direktur Jenderal pada
3 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


4

Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pembinaan


kefarmasian dan alat kesehatan dengan tembusan kepada Kepala Badan Pengawas
Obat dan Makanan (Badan POM) dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.
Persyaratan agar mendapatkan persetujuan prinsip, yaitu :
a. Fotokopi akta pendirian badan hukum yang sah sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan
b. Fotokopi KTP/identitas direksi dan komisaris perusahaan
c. Susunan direksi dan komisaris
d. Pernyataan direksi dan komisaris tidak pernah terlibat pelanggaran peraturan
perundang-undangan di bidang farmasi
e. Fotokopi sertifikat tanah/bukti kepemilikan
f. Fotokopi Surat Izin Tempat Usaha berdasarkan Undang-Undang Gangguan
(HO)
g. Fotokopi Surat Tanda Daftar Perusahaan
h. Fotokopi Surat Izin Usaha Perdagangan
i. Fotokopi NPWP
j. Persetujuan lokasi dari pemerintah daerah provinsi
k. Persetujuan RIP dari Kepala Badan
l. Rencana investasi dan kegiatan pembuatan obat
m. Surat asli pernyataan kesediaan bekerja penuh dari masing-masing apoteker
penanggung jawab produksi, pengawasan mutu dan pemastian mutu
n. Fotokopi surat pengangkatan bagi masing-masing apoteker penanggung jawab
produksi, pengawasan mutu dan pemastian mutu

Setelah selesai melaksanakan tahap persetujuan prinsip, dapat dilakukan


permohonan izin usaha industri. Permohonan diajukan kepada Direktur Jenderal
Kementerian Kesehatan dengan tembusan kepada Kepala BPOM dan Kepala
Dinas Kesehatan Provinsi setempat. Izin industri farmasi berlaku untuk seterusnya
selama industri farmasi bersangkutan masih berproduksi dan memenuhi ketentuan
peraturan perundang-undangan. Surat permohonan izin industri farmasi harus
ditandatangani oleh direktur utama dan apoteker penganggung jawab pemastian
mutu dengan kelengkapan yaitu:

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


5

a. Fotokopi persetujuan prinsip Industri Farmasi


b. Surat persetujuan penanaman modal untuk industri farmasi dalam rangka
Penanaman Modal Asing (PMA) atau Penanaman Modal Dalam Negeri
(PMDN)
c. Daftar peralatan dan mesin yang digunakan
d. Jumlah tenaga kerja dan kualifikasinya
e. Fotokopi sertifikat upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan
Lingkungan /Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
f. Rekomendasi kelengkapan administratif izin industri farmasi dari Kepala
Dinas Kesehatan Provinsi
g. Rekomendasi Pemenuhan CPOB dari Kepala BPOM.
h. Daftar pustaka wajib seperti Farmakope edisi terakhir
i. Surat asli pernyataan kesediaan bekerja penuh dari masing-masing apoteker
penanggung jawab produksi, pengawasan mutu dan pemastian mutu
j. Fotokopi surat pengangkatan bagi masing-masing apoteker penanggung jawab
produksi, pengawasan mutu dan pemastian mutu dari pimpinan perusahaan
k. Fotokopi ijazah dan STRA dari masing--masing apoteker penanggung jawab
produksi, pengawasan mutu dan pemastian mutu
l. Surat pernyataan komisaris dan direksi tidak pernah terlibat, baik langsng
maupun tidak langsung dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di
bidang kefarmasian.

Industri farmasi yang melakukan penambahan kapasitas produksi atau


penambahan bentuk sediaan tidak memerlukan izin perluasan. Izin perluasan
diperlukan apabila perusahaan yang bersangkutan akan menambah luas area
produksi. Izin usaha industri farmasi berlaku untuk seterusnya selama perusahaan
industri farmasi yang bersangkutan berproduksi. Permohonan izin usaha industri
farmasi dapat diajukan setelah pembangunan fisik industri farmasi selesai dan
perusahaan siap melaksanakan kegiatan produksi komersial.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


6

2.2 Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)


CPOB diterapkan untuk memastikan agar mutu obat yang dihasilkan sesuai
dengan persyaratan dan tujuan penggunaan. CPOB mencakup seluruh aspek
produksi dan pengawasan mutu. CPOB merupakan pedoman yang sangat penting
tidak hanya bagi industri farmasi dan regulator, tetapi juga bagi konsumen dalam
memenuhi kebutuhannya akan pengobatan yang aman, berkhasiat, dan
berkualitas. Terdapat 12 aspek dalam CPOB, yaitu:
2.2.1 Manajemen Mutu
Dalam manajemen mutu, industri farmasi harus membuat obat sedemikian
rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang
tercantum dalam dokumen izin edar dan tidak menimbulkan risiko yang
membahayakan penggunanya karena tidak aman, mutu rendah, atau tidak efektif.
Manajemen mutu bertanggung jawab untuk pencapaian tujuan ini melalui suatu
kebijakan mutu yang memerlukan partisipasi dan komitmen dari semua jajaran di
semua departemen dalam perusahaan, para pemasok, dan distributor.
Unsur dasar manajemen mutu adalah suatu infrastruktur atau sistem mutu
yang tepat mencakup struktur organisasi, prosedur, proses, dan sumber daya, serta
tindakan sistematis untuk mendapatkan kepastian dengan tingkat kepercayaan
tinggi, sehingga produk atau jasa pelayanan yang dihasilkan akan selalu
memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Keseluruhan tindakan tersebut
disebut pemastian mutu.

2.2.2 Personalia
Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan penerapan
sistem pengawasan mutu yang memuaskan dan pembuatan obat yang benar.
Industri farmasi bertanggungjawab untuk menyediakan personil yang
terkualifikasi dalam jumlah yang memadai untuk melaksanakan semua tugas. Tiap
personil hendaklah memahami tanggung jawab masing-masing. Seluruh personil
hendaklah memahami prinsip CPOB dan memperoleh pelatihan awal yang
berkesinambungan, termasuk instruksi mengenai higiene yang berkaitan dengan
pekerjaan.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


7

Personil Kunci mencakup kepala bagian Produksi, kepala bagian


Pengawasan Mutu dan kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu). Posisi
utama tersebut dijabat oleh personil purnawaktu. Kepala bagian Produksi dan
kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) / kepala bagian Pengawasan
Mutu harus independen satu terhadap yang lain.

2.2.3 Bangunan dan Fasilitas


Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat harus memiliki desain,
konstruksi dan letak yang memadai, serta disesuaikan kondisinya dan dirawat
dengan baik untuk memudahkan pelaksanaan operasi yang benar. Tata letak dan
desain ruangan harus dibuat sedemikian rupa untuk memperkecil risiko terjadi
kekeliruan, pencemaran silang dan kesalahan lain, serta memudahkan
pembersihan, sanitasi dan perawatan yang efektif untuk menghindarkan
pencemaran silang, penumpukan debu atau kotoran, dan dampak lain yang dapat
menurunkan mutu obat.
Persyaratan bangunan menurut CPOB, yaitu:
a. Letak bangunan hendaklah sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya
pencemaran dari lingkungan sekelilingnya, seperti pencemaran dari udara,
tanah, dan air maupun dari kegiatan industri lain yang berdekatan
b. Bangunan dan fasilitas hendaklah dikonstruksi, dilengkapi, dan dirawat agar
memperoleh perlindungan maksimal
c. Dalam menentukan rancang bangunan dan tata letak hendaklah
dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut: kesesuaian dengan kegiatan lain,
yang mungkin dilakukan dalam sarana yang sama atau dalam sarana yang
berdampingan; tata letak ruang yang sedemikian rupa untuk memungkinkan
kegiatan produksi dilaksanakan di daerah yang letaknya diatur secara logis
dan berhubungan mengikuti urutan tahap produksi dan menurut kelas
kebersihan yang disyaratkan; luasnya ruang kerja yang memungkinkan
penempatan peralatan dan bahan secara teratur dan logis serta terlaksananya
kegiatan, kelancaran arus kerja, komunikasi dan pengawasan yang efektif;
pencegahan penggunaan kawasan industri sebagai lalu lintas umum;

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


8

d. Daerah pengolahan produk steril dipisahkan dari daerah produksi lain serta
dirancang dan dibangun secara khusus
e. Produk antibiotika tertentu, hormon tertentu, sitotoksik tertentu, bahan aktif
berpotensi tinggi hendaklah diproduksi di bangunan terpisah
f. Permukaan bagian dalam ruangan (dinding, lantai, dan langit-langit)
hendaklah licin, bebas dari keretakan, dan sambungan yang terbuka serta
mudah dibersihkan dan bila perlu mudah didesinfeksi
g. Saluran air limbah hendaklah cukup besar dan mempunyai bak kontrol serta
ventilasi yang baik
h. Area produksi diventilasi secara efektif dengan fasilitas pengendali udara.

2.2.4 Peralatan
Peralatan untuk pembuatan obat hendaklah memiliki desain dan konstruksi
yang tepat, ukuran yang memadai serta ditempatkan dan dikualifikasi dengan
tepat, agar mutu obat terjamin sesuai desain serta seragam dari bets-ke-bets dan
untuk memudahkan pembersihan serta perawatan agar dapat mencegah
kontaminasi silang, penumpukan debu atau kotoran dan, hal-hal yang umumnya
berdampak buruk pada mutu produk.
Hendaklah tersedia alat timbang dan alat ukur dengan rentang dan ketelitian
yang tepat untuk proses produksi dan pengawasan. Peralatan untuk mengukur,
menimbang, mencatat dan mengendalikan hendaklah dikalibrasi dan diperiksa
pada interval waktu tertentu dengan metode yang ditetapkan.
Peralatan hendaklah dipasang sedemikian rupa untuk mencegah risiko
kesalahan atau kontaminasi. Antara masing-masing peralatan hendaklah
ditempatkan pada jarak yang cukup untuk menghindarkan kesesakan dan
memastikan tidak terjadi kekeliruan dan kecampurbauran produk.
Peralatan hendaklah dirawat sesuai jadwal untuk mencegah malfungsi atau
pencemaran yang dapat memengaruhi identitas, mutu atau kemurnian produk.
Peralatan dan alat bantu hendaklah dibersihkan, disimpan, dan bila perlu disanitasi
dan disterilisasi untuk mencegah kontaminasi atau sisa bahan dari proses
sebelumnya yang akan memengaruhi mutu produk.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


9

2.2.5 Sanitasi dan Higiene


Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap
aspek pembuatan obat. Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi personil,
bangunan, peralatan, dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya dan
segala sesuatu yang dapat merupakan sumber kontaminasi produk. Sumber
kontaminasi potensial hendaklah dihilangkan melalui suatu program sanitasi dan
higiene yang menyeluruh dan terpadu.
Penerapan higiene perorangan meliputi pemeriksaan kesehatan, mencuci
tangan sebelum memasuki area produksi, memakai pakaian pelindung. Semua
personil hendaklah menjalani pemeriksaan kesehatan pada saat direkrut. Sesudah
pemeriksaan kesehatan awal hendaklah dilakukan pemeriksaan kesehatan kerja
dan kesehatan personil secara berkala. Tiap personil yang mengidap penyakit atau
menderita luka terbuka yang dapat merugikan mutu produk hendaklah dilarang
menangani bahan awal, bahan pengemas, bahan yang sedang diproses dan obat
jadi sampai kondisi personil tersebut dipertimbangkan tidak lagi menimbulkan
risiko. Kegiatan makan, minum dan merokok tidak diperbolehkan dalam area
gudang, laboratorium dan area produksi.
Sanitasi meliputi bangunan dan fasilitas. Tiap bangunan yang digunakan
untuk pembuatan obat hendaklah didesain dan dikonstruksi dengan tepat untuk
memudahkan sanitasi yang baik. Tiap kali sebelum dipakai, kebersihan peralatan
diperiksa untuk memastikan bahwa semua produk atau bahan dari bets
sebelumnya telah dihilangkan. Prosedur pembersihan, sanitasi dan hygiene
hendaklah divalidasi dan dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitas
prosedur memenuhi persyaratan.

2.2.6 Produksi
Kegiatan produksi hendaklah dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang
telah ditetapkan dan memenuhi ketentuan CPOB yang menjamin senantiasa
menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu serta memenuhi
ketentuan izin pembuatan dan izin edar (registrasi).
Unsur-unsur produksi yang diatur oleh CPOB meliputi pembelian bahan
awal yaitu bahan baku & bahan pengemas; validasi proses; pencegahan

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


10

kontaminasi silang; sistem penomoran bets/ lot; penimbangan & penyerahan;


pengolahan; pengemasan; pengawasan selama proses; penanganan bahan dan
produk yang ditolak, dipulihkan & dikembalikan; karantina & penyerahan produk
jadi; catatan pengendalian pengiriman obat; penyimpanan bahan awal, bahan
kemas, produk antara, produk ruahan & produk jadi dan pengiriman &
pengangkutan.

2.2.7 Pengawasan Mutu


Kegiatan pengawasan mutu merupakan bagian yang penting dari CPOB
untuk memastikan bahwa produk yang dibuat senantiasa mempunyai mutu yang
sesuai dengan tujuan penggunaannya. Keterlibatan dan komitmen semua pihak
yang berkepentingan dalam seluruh rangkaian pembuatan adalah mutlak untuk
mencapai sasaran mutu yang ditetapkan mulai dari awal pembuatan sampai
distribusi obat jadi.
Pengawasan Mutu mencakup pengambilan sampel, spesifikasi, pengujian
serta termasuk pengaturan, dokumentasi dan prosedur pelulusan yang memastikan
bahwa semua pengujian yang relevan telah dilakukan, dan bahan tidak diluluskan
untuk dipakai atau produk diluluskan untuk dijual, sampai mutunya telah
dibuktikan memenuhi persyaratan.
Pengawasan mutu tidak terbatas pada kegiatan laboratorium, tapi juga harus
terlibat dalam semua keputusan yang terkait dengan mutu produk. Pengawasan
Mutu hendaklah mencakup semua kegiatan analisis.
Pengawasan Mutu tidak terbatas pada kegiatan laboratorium, tapi juga harus
terlibat dalam semua keputusan yang terkait dengan mutu produk.
Ketidaktergantungan Pengawasan Mutu dari Produksi dianggap hal yang
fundamental agar Pengawasan Mutu dapat melakukan kegiatan dengan
memuaskan.

2.2.8. Inspeksi Diri, Audit Mutu, dan Audit & Persetujuan Pemasok
Tujuan inspeksi diri adalah untuk mengevaluasi apakah semua aspek
produksi dan pengawasan mutu industri farmasi memenuhi ketentuan CPOB
ditetapkan. Program inspeksi diri hendaklah dirancang untuk mendeteksi

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


11

kelemahan dalam pelaksanaan CPOB dan untuk menetapkan tindakan perbaikan


yang diperlukan. Inspeksi diri hendaklah dilakukan secara independen dan rinci
oleh petugas yang kompeten dari perusahaan. Inspeksi diri hendaklah dilakukan
secara rutin dan pada situasi khusus, misalnya dalam hal terjadi penarikan kembali
obat jadi atau terjadi penolakan yang berulang. Prosedur dan catatan inspeksi diri
hendaklah didokumentasikan dan dibuat program tindak lanjut yang efektif.
Penyelenggaraan audit mutu berguna sebagai pelengkap inspeksi diri. Audit
mutu meliputi pemeriksaan dan penilaian semua atau sebagian dari sistem
manajemen dengan tujuan spesifik untuk meningkatkan mutu. Audit mutu
umumnya dilaksanakan oleh spesialis dari luar, independen, atau tim yang
dibentuk khusus untuk hal ini oleh manajemen perusahaan.

2.2.9 Penanganan Keluhan Terhadap Obat, Penarikan Kembali, dan Obat


Kembalian
Semua keluhan dan informasi lain yang berkaitan dengan kemungkinan
terjadi kerusakan obat hendaklah dikaji dengan teliti sesuai dengan prosedur
tertulis. Untuk menangani semua kasus yang mendesak hendaklah disusun suatu
sistem, bila perlu mencakup penarikan kembali produk yang diketahui atau diduga
cacat dari peredaran secara cepat dan efektif.
Penarikan kembali produk dapat berupa satu atau beberapa bets atau seluruh
bets produk tertentu dari semua peredaran distribusi. Hendaklah tersedia prosedur
tertulis yang diperiksa secara berkala untuk mengatur segala tindakan penarikan
kembali. Tindakan penarikan kembali produk hendaklah dilakukan segera setelah
diketahui ada produk yang cacat mutu atau diterima laporan mengenai reaksi yang
merugikan. Catatan dan laporan penarikan kembali produk hendaklah
didokumentasikan dengan baik.

2.2.10 Dokumentasi
Dokumentasi adalah bagian dari sistem informasi manajemen dan
dokumentasi yang baik merupakan bagian yang esensial dari pemastian mutu.
Dokumentasi yang jelas adalah fundamental untuk memastikan bahwa tiap
personil menerima uraian tugas yang relevan secara jelas dan rinci sehingga

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


12

memperkecil resiko terjadi salah tafsir dan kekeliruan yang biasanya timbul
karena hanya mengandalkan komunikasi lisan. Spesifikasi, dokumen produksi
induk/ formula pembuatan, prosedur, metode, instruksi, laporan, dan catatan harus
bebas dari kekeliruan dan tersedia secara tertulis. Keterbacaan dokumen adalah
sangat penting.

2.2.11 Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak


Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak dilakukan jika suatu
perusahan membuat produk di perusahaan lain atau sebaliknya. Pembuatan dan
analisis berdasarkan kontrak harus dibuat secara benar, disetujui dan dikendalikan
untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat menyebabkan produk atau
pekerjaan dengan mutu yang tidak memuaskan. Kontrak tertulis antara pemberi
kontrak dengan penerima kontrak harus dibuat secara jelas dalam hal tanggung
jawab dan kewajiban masing-masing pihak. Kontrak harus menyatakan secara
jelas prosedur pelulusan tiap bets produk untuk diedarkan yang menjadi tanggung
jawab penuh kepala bagian manajemen mutu (pengawasan mutu).

2.2.12 Kualifikasi dan Validasi


Kualifikasi dan validasi adalah bagian penting dari sistem pemastian mutu
sehingga tercantum sebagai persyaratan CPOB bagi industri farmasi. CPOB
mensyaratkan industri farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang perlu
dilakukan sebagai bukti pengendalian terhadap aspek kritis dari kegiatan yang
dilakukan. Perubahan signifikan terhadap fasilitas, peralatan dan proses yang
dapat memengaruhi mutu produk hendaklah divalidasi. Pendekatan dengan kajian
risiko hendaklah digunakan untuk menentukan ruang lingkup dan cakupan
validasi. Seluruh kegiatan validasi hendaklah direncanakan. Unsur utama program
validasi hendaklah dirinci dengan jelas dan didokumentasikan di dalam Rencana
Induk Validasi (RIV) atau dokumen setara. RIV hendaklah merupakan dokumen
yang singkat, tepat dan jelas. RIV hendaklah mencakup sekurangkurangnya data
sebagai berikut: kebijakan validasi; struktur organisasi kegiatanvalidasi; ringkasan
fasilitas, sistem, peralatan dan proses yang akan divalidasi; format dokumen:
format protokol dan laporan validasi, perencanaan dan jadwal pelaksanaan;

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


13

pengendalian perubahan; dan acuan dokumen yang digunakan. Validasi


diklasifikasikan menjadi tiga, yakni validasi pembersihan, validasi metode analisis
dan validasi proses. Kualifikasi diklasifikasikan menjadi empat, yaitu kualifikasi
desain, kualifikasi instalasi, kualifikasi operasional dan kualifikasi kinerja.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


BAB 3
TINJAUAN KHUSUS PT. KALBE FARMA

3.1. Sejarah dan Perkembangan PT. Kalbe Farma, Tbk.


PT. Kalbe Farma, Tbk. didirikan oleh seorang farmakolog bernama dr.
Boenjamin Setiawan pada tanggal 10 September 1966 di sebuah garasi rumah di
Jalan Simpang I No. 1, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Nama Kalbe merujuk pada
nama para pemegang saham awal, yakni Khoew Sioe Tjiang, Liem Lian Kiok dan
Boenjamin Setiawan. Tujuan pendirian PT. Kalbe Farma, Tbk. adalah turut
berpartisipasi dalam pembangunan nasional pada umumnya dan meningkatkan
kesejahteraan serta derajat kesehatan masyarakat pada khususnya, yang tercermin
dalam moto perusahaan yaitu The Scientific Pursuit of Health For A Better Life
(Mengabdikan Ilmu Untuk Kesehatan dan Kesejahteraan). Seiring waktu berjalan
PT. Kalbe Farma menjadi semakin berkembang dan kini PT. Kalbe Farma Tbk.
berada di kawasan industri Delta Silicon Jalan M.H. Thamrin Blok A3-1, Lippo
Cikarang, Bekasi 17550.
Produk pertama yang dihasilkan oleh PT. Kalbe Farma adalah obat kulit
Bioplacenton yang menjadi ciri khas PT. Kalbe Farma hingga sekarang. Produk
PT. Kalbe Farma kemudian berkembang menjadi berbagai macam produk farmasi
sesuai dengan kebutuhan konsumen yang beragam. Dalam rangka meningkatkan
pelayanan penyediaan obat sebagai tuntutan atas meningkatnya kebutuhan obat
yang berkualitas maka pada bulan April 1972, PT. Kalbe Farma melakukan
perluasan usahanya dengan memindahkan usahanya ke lokasi yang lebih luas
yaitu ke Jl. Ahmad Yani, Pulomas, Jakarta Timur. Pada tahun 1980, aktivitas
distribusi produk-produk PT. Kalbe Farma dipisahkan dari kegiatan industrinya
yaitu dengan mendirikan PT. Enseval Putra Megatrading yang bertindak sebagai
distributor tunggal PT. Kalbe Farma.
Dalam menjalankan setiap kegiatannya, PT Kalbe Farma, Tbk. senantiasa
bertujuan untuk memenuhi dan atau mencapai visi yang diterapkan perusahaan.
Visi, Misi, Motto, Goal, dan Strategi PT Kalbe Farma, Tbk. Adalah sebagai
berikut :

14 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


15

1. Visi PT. Kalbe Farma, Tbk.:


“Menjadi perusahaan perawatan kesehatan Indonesia terbaik yang dimotori
oleh inovasi, nama dagang yang kuat dan manajemen yang unggul”
2. Misi PT. Kalbe Farma, Tbk.:
“Meningkatkan kesehatan untuk kehidupan yang lebih baik”
3. Motto PT. Kalbe Farma, Tbk.:
“Mengabdikan ilmu di bidang kesehatan untuk kesehatan dan kesejahteraan”
Selain itu, PT Kalbe Farma, Tbk. juga membuat suatu core value (nilai
inti) yang berfungsi menunjang penerapan visi dan misi yaitu berupa Kalbe Panca
Sradha dan dijadikan landasan oleh seluruh karyawan dalam menjalankan kinerja
sehari-hari:
1. Trust is the glue of life
Saling percaya adalah perekat diantara kami.
2. Mindfulness is the foundation of our action
Kesadaran penuh adalah dasar setiap tindakan kami.
3. Innovation is the key to our success
Inovasi adalah kunci keberhasilan kami.
4. Strive to be the best
Bertekad untuk menjadi yang terbaik.
5. Interconnectedness is a universal way of life
Saling keterkaitan adalah panduan hidup kami.

Gambar 3.1 Logo PT. Kalbe Farma, Tbk.

PT. Kalbe Farma, Tbk. berhasil melakukan integrasi sertifikasi ISO


9001:2000, sertifikasi ISO 14001:2004 dan OHSAS 18001:1999.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


16

3.2. Visi dan Misi PT. Kalbe Farma, Tbk.


Visi PT. Kalbe Farma, Tbk. adalah ”Menjadi perusahaan perawatan
kesehatan terbaik yang dimotori oleh inovasi, nama dagang yang kuat, dan
manajemen yang unggul”. Untuk mencapai visi tersebut, PT. Kalbe Farma, Tbk.
menetapkan misi perusahaan yakni “Meningkatkan kesehatan untuk kehidupan
yang lebih baik”. Misi tersebut berfokus pada tiga elemen utama, yaitu:
a. Konsumen
PT. Kalbe Farma, Tbk. mampu menyediakan produk berkualitas dengan harga
murah dan terjangkau, mudah diperoleh, serta dengan pelayanan yang prima
untuk menyenangkan hati pelanggan agar menjadi pilihan pertama konsumen.
b. Sumber Daya Manusia (SDM)
PT. Kalbe Farma, Tbk. mampu mewujudkan SDM yang sesuai dengan
kualifikasi dan tuntutan pekerjaan, memiliki dedikasi tinggi, inovatif,
berorientasi pada pelayanan dan kualitas, serta pengembangan SDM melalui
proses belajar yang berkelanjutan dan lingkungan kerja yang sehat dan
mendukung.
c. Proses dan Kualitas
PT. Kalbe Farma, Tbk. mampu meningkatkan kecepatan dan efisiensi proses
kerja melalui sistem dan prosedur kerja yang rapi sesuai dengan perencanaan,
usaha, pemeriksaan, dan aksi (plan, do, check, and action/PDCA).
Visi dan misi tersebut didukung oleh nilai-nilai utama yakni gigih untuk
mencapai yang terbaik, inovasi, kerjasama yang kokoh, lincah, memberikan
pelayanan terbaik, serta integritas. Dalam mencapai visi dan misi tersebut, PT.
Kalbe Farma, Tbk. memiliki moto The Scientific Pursuit of Health For A Better
Life (Mengabdikan Ilmu Untuk Kesehatan dan Kesejahteraan).

3.3. Lokasi dan Tata Ruang PT. Kalbe Farma, Tbk.


PT. Kalbe Farma, Tbk. terletak di Kawasan Industri Delta Silicon Jalan
M.H. Thamrin Blok A1-3, Lippo Cikarang, Bekasi. Bangunan ini terdiri dari
gedung kantor, gedung produksi, teknik, gudang dan sarana pendukung seperti
pengolahan limbah, lapangan parkir, koperasi, dan kantin. Bangunan PT. Kalbe
Farma, Tbk. terdiri dari dua bagian yaitu bangunan kantor dan bangunan pabrik.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


17

3.3.1 Bangunan Kantor


Gedung kantor PT. Kalbe Farma, Tbk. terdiri dari empat lantai yaitu:
a. Lantai 1 meliputi bagian Departemen Human Resource Development,
Departemen Personal General Affair, Departemen Process Development,
Departemen Akuntansi, Departemen Pembelian, ruang perpustakaan, dan
kantin.
b. Lantai 1½ meliputi Departemen Perencanaan Produksi dan Pengendalian
Persediaan Pusat, Departemen Veteriner, serta Departemen Teknologi
Informasi, Departemen Group Process Improvement.
c. Lantai 2 meliputi Departemen Keuangan dan Pemasaran, Departemen Quality
System, dan Direksi.
d. Lantai 3 meliputi Departemen Research and Development yang terdiri dari
bagian Formulation dan Analytical Development, Departemen Pemastian
Mutu (Quality Assurance), Departemen Pengawasan Mutu (Quality Control)
dengan laboratorium pengawasan mutu.
e. Lantai 4 meliputi ruangan pilot plant Departemen Research and
Development.

3.3.2 Bangunan Pabrik


Gedung produksi terdiri dari tiga lantai yang masing-masing lantai
dipisahkan oleh ruang yang disebut Mezanin, yaitu ruang khusus untuk
penempatan fasilitas utilitas seperti penyedot udara, pipa-pipa, kabel listrik, dan
lain-lain. Tiap lantai terdiri dari line (jalur) produksi dengan jumlah total 12 line,
yaitu line 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8A, 8B, 9 dan 10. Pada tahun 2013, ada penambahan
kapasitas ruangan pada line produksi tertentu yaitu line 1 extention, line 5
extention, dan line 8 extention. Pembagian ruangan pada gedung produksi adalah
sebagai berikut:
a. Lantai dasar digunakan untuk ruang produksi line 9 dan 10, gudang alkohol,
Departemen Teknik, Ruang QA Facility Validation dan ruang loker
karyawan.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


18

b. Lantai 1 digunakan untuk ruang produksi line 1, line 1 extention, line 2, line
4, line 5, gudang bahan baku dan wadah, gudang kemas, dan gudang obat
jadi.
c. Lantai 2 digunakan untuk ruang produksi line 6, line 7, line 8A, 8B, 8C dan
line 8 extention.
d. Lantai 3 digunakan untuk ruang purified water generator, pure steam
generator, water for injection generator, dan oil free air compressor.
Lantai ruang produksi di PT. Kalbe Farma, Tbk. dicat dengan cat epoksi
agar mudah dibersihkan, dibuat melengkung (tidak memiliki sudut) agar tidak
menjadi tempat berkumpulnya debu, serta bingkai jendelanya dibuat miring
dengan maksud agar mudah dibersihkan dan juga tidak menjadi tempat
berkumpulnya debu. Berdasarkan CPOB tahun 2012, ruangan di industri farmasi
dibagi menjadi 5 jenis area berdasarkan perbedaan tingkat kebersihannya, yaitu
kelas A, B, C, D dan E. Kelas A, B, C, dan D digunakan untuk produksi sediaan
steril dan kelas E untuk produksi sediaan nonsteril. PT. Kalbe Farma, Tbk. Telah
menyesuaikan kembali klasifikasi ruangan sesuai dengan pedoman CPOB 2012.
Meskipun demikian dalam kesehariannya area produksi steril (kelas A, B, C, dan
D) masih disebut sebagai area putih (white area), area produksi nonsteril (kelas E)
disebut area abu-abu (grey area), dan area pengemasan sekunder disebut area
hitam (black area).

3.4 Struktur Organisasi PT. Kalbe Farma, Tbk.


Bagan struktur organisasi PT. Kalbe Farma, Tbk. dapat dilihat pada
Lampiran 1.
3.4.1 Departemen Research and Development
Departemen Research and Development (R&D) berperan antara lain
dalam pengembangan produk baru, pengatasan masalah produksi, proyek
penelitian khusus, penentuan spesifikasi bahan baku untuk manufacturing,
penyusunan metode analisa, penentuan shelf-life produk, dan penunjang data
untuk penyusunan dossier registrasi (formula, data stabilitas, dan kemasan).
Departemen R&D dipimpin oleh seorang R&D Pharma Deputy Director.
Departemen R&D mencakup tiga bagian utama, yaitu:

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


19

3.4.1.1 Packaging Development (Pengembangan Kemasan)


Tugas utama Packaging Development adalah melakukan penelitian dan
pengembangan material kemasan (primer dan sekunder) untuk produk baru,
melakukan penelitian dan pengembangan desain produk baru, dan menyiapkan
atau menyediakan dokumen yang terkait dengan kemasan meliputi dokumen
spesifikasi, metode analisis (MA), dan Prosedur Pengemasan Induk 3 (PPI 3).
3.4.1.2 Formulation (Pengembangan Formula)
Tugas utama Formulation adalah pengembangan produk baru, baik OTC
maupun ethical, sesuai dengan perkembangan teknologi sediaan farmasi. Proses
pengembangan produk baru ini dapat dilakukan di dalam perusahaan atau di luar
perusahaan, misalnya melalui kegiatan lisensi atau bekerja sama dengan lembaga
penelitian/ pendidikan.
3.4.1.3 Analytical Development (Pengembangan Metode Analisis)
Tugas utama Analytical Development adalah sebagai berikut:
a. Mengembangkan metode analisis suatu senyawa obat, bahan pengemas, dan
sampel produk sehingga diperoleh metode analisis yang sesuai. Untuk produk,
bahan baku, dan bahan pengemas yang akan digunakan dan diproduksi.
Metode analisis yang diperoleh selanjutnya divalidasi dan dijadikan acuan
analisis pemeriksaan rutin sehingga metode analisis tersebut menjadi valid,
efektif, dan praktis.
b. Menentukan approved manufacturer bahan baku baru yang digunakan di PT.
Kalbe Farma, Tbk.

3.4.2 Departemen Process Development


Pada awalnya Departemen Process Development merupakan bagian dari
departemen Research & Development. Pada awal tahun 2007, Process
Development dipisahkan dari Departemen R&D di mana R&D fungsinya lebih ke
arah riset pengembangan produk baru dan sedangkan NDDS (New Delivery Drug
System) sedangkan untuk Process Development lebih ke produk-produk yang
sudah ada (existing product) dan non NDDS. Secara umum Departemen Proses
Development menangani semua produk-produk yang sudah ada (existing),
menerima peralihan tanggung jawab terhadap status material yang berubah dari

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


20

percobaan menjadi induk, dan mengatasi masalah atau trouble shooting produksi.
Departemen Process Development dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
3.4.2.1 Formulation (Formulasi)
Tugas utama bagian formulasi adalah memperbaiki atau mengembangkan
formula-formula produk existing, mendukung bagian produksi jika ada masalah
terutama dalam hal formulasi, dan mendukung bagian pembelian (purchasing)
dalam hal diversifikasi raw material. Menyiapkan dokumen untuk bagian
produksi, seperti: Prosedur Pengolahan Induk 1 (PPI 1) yang berisi keterangan
Raw Material yang digunakan dan Prosedur Pengolahan Induk 2 (PPI 2) yang
berisi prosedur pembuatan obat dan spesifikasinya.
3.4.2.2 Packaging (Kemasan)
Tugas utama bagian kemasan adalah melakukan penelitian dan
pengembangan material kemasan, baik primer dan sekunder, penelitian dan
pengembangan tersebut juga mencakup uji stabilitas dan trial di produksi (jika
diperlukan). Selain itu bagian kemasan juga melakukan penelitian dan
pengembangan desain kemasan produk existing, mulai dari pembuatan konsep,
verifikasi sampai dengan penyiapan disket dan print-out final art work untuk
dikirim ke supplier kemasan serta menyiapkan/ menyediakan dokumen yang
terkait dengan kemasan, seperti Prosedur Pengolahan Induk (PPI) dan Production
Model (PM) Kemas. Bagian ini juga memberi dukungan terhadap bagian lain
untuk masalah-masalah yang terkait/ berhubungan dengan kemasan, seperti
pembelian mesin baru di bagian produksi, diversifikasi supplier oleh bagian
Purchasing dan permintaan penyederhanaan prosedur pemeriksaan dari bagian
QC.
3.4.2.3 Analytical Development
a. Pengembangan metode, dan membantu dalam deversifikasi. Trouble solution
jika ada masalah analisa
b. Studi pre-marketing percobaan pilot Process Development

3.4.3 Departemen Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan


Departemen Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan/
Production Planning and Inventory Control (PPIC) PT. Kalbe Farma, Tbk.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


21

merupakan bagian dari grup PPIC dari empat situs perusahaan yang berada di
bawah grup Kalbe, yaitu PT. Kalbe Farma, Tbk., PT. Dankos Farma, PT.
Hexpharm Jaya, dan PT. Fima. Grup PPIC ini menjadi penghubung antara bagian
pemasaran dan distributor, yaitu PT. Enseval Putera Megatrading dengan divisi
produksi masing-masing situs. Departemen PPIC berada dibawah koordinasi
Assistant Director Plant. PPIC manager membawahi PPIC specialist, sedangkan
PPIC specialist membawahi empat bagian yaitu Inventory Plannning Control
(IPC), Production Planning Control (PPC), dan Toll Manufacturing. Secara
umum tugas dari departemen ini adalah sebagai berikut:
a) Merencanakan, mempersiapkan, dan mengendalikan proses produksi mulai dari
bahan baku sampai obat jadi.
b) Melakukan kegiatan toll manufacturing, meliputi:
1) Toll in, yaitu permintaan produksi dari perusahaan lain yang bisa dipenuhi
karena masih tersedia kapasitas.
2) Toll out, yaitu permintaan bantuan produksi ke perusahaan lain karena tidak
memiliki fasilitas produksi produk bersangkutan atau karena kapasitas tidak
mencukupi.
c) Membuat laporan ke instansi terkait, antara lain hasil produksi, pemakaian
material seperti prekursor, dan narkotik/psikotropik.
Tugas dari masing-masing bagian di Departemen PPIC adalah:
a. Inventory Planning Control (IPC):
1) Menghitung Evaluasi Kebutuhan Material (EKM) bulanan selama 6 bulan
kedepan berdasrkan Rolling Production Plan (RPP).
2) Memantau persediaan bahan baku, wadah, dan kemasan dengan
mempertimbangkan prioritas penggunaan material di bagian produksi.
3) Membuat Formulir Permintaan Barang (FPB) untuk material.
4) Memperbanyak dan menurunkan Kartu Produksi (KP) atau Prosedur
Pengolahan Induk (PPI)
b. Production Planning Control (PPC):
1) Menerjemahkan rolling forecast (ROFO) yang merupakan permintaan dari
PT. Enseval Putera Megatrading menjadi Rolling Production Plan (RPP)
dengan mempertimbangkan stock, buffer stock, work in process (WIP),

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


22

batch size, average selling out, pending order, dan day of inventory (DOI).
ROFO merupakan jumlah perkiraan penjualan selama 6 bulan mendatang
dalam satuan unit. RPP merupakan rencana produksi yang dibuat setiap 6
bulan mendatang dalam satuan batch.
2) Mengirim RPP ke bagian IPC untuk dijadikan dasar penyusunan Rencana
Pemakaian Material (RPM) setiap bulan.
3) Membuat rencana produksi bulanan (RPB) yang berisikan jumlah batch dan
target yang harus dicapai oleh Departmen Produksi selama satu bulan.
4) Mengevaluasi pencapaian rencana produksi bulan lalu untuk perencanaan
rencana produksi bulan berikutnya
c. Toll Manufacturing bertugas mengkoordinasi produk-produk toll out dan toll in
untuk menjamin agar kebutuhan sales dan marketing tetap dapat dipenuhi oleh
rekanan yang telah ditentukan oleh perusahaan apabila kapasitas produksi tidak
tersedia/ tidak mencukupi.

3.4.4 Departemen Produksi


Departemen produksi merupakan bagian Plant Department yang dipimpin
oleh Group Production Manager (GPM). GPM membawahi 4 manager produksi.
Masing-masing manager memiliki tanggung jawab terhadap mini company
produksi yang terdiri dari beberapa line produksi. Mini company promag terdiri
dari line 1 dan line 1 extension. Mini company I terdiri dari line 2, 9, dan 10. Mini
company II terdiri dari line 4, 5, dan 6. Sedangkan untuk mini company III terdiri
dari line 7, 8A, dan 8B. Masing – masing mini company di pimpin oleh seorang
manager produksi. Masing-masing line dijalankan oleh supervisor produksi atau
disebut juga Penanggung Jawab Line (PJL) yang bertanggung jawab kepada
manager produksi di masing-masing mini company. Sedangkan PJL pada masing-
masing line produksi membawahi koordinator lapangan, production engineer
(PE), administrasi, operator, pembantu operator, production helper, dan packer.
Line Produksi di PT. Kalbe Farma, Tbk. Cikarang terdiri dari 10 bagian
line yaitu line 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8A, 8B, 9, dan 10. Line tersebut digolongkan
menjadi dedicated line dan non-dedicated line. Dedicated line merupakan line
yang memproduksi obat dalam jenis produk yang relatif sedikit, tapi dengan

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


23

ukuran batch yang besar. Line ini terdiri atas line 1, 4, 9. Non-dedicated line
merupakan line yang memproduksi obat dengan jenis produk relatif banyak
namun dengan ukuran batch yang relatif kecil atau sedikit. Line ini terdiri atas line
2, 5, 6, 7, 8A, 8B, dan 10. Produk obat yang diproduksi di setiap line adalah
sebagai berikut:
1. Line 1: line ini memproduksi 1 jenis produk sediaan padat yaitu tablet
Promag®. Line ini juga mempunyai extension. Line 1 extension ini khusus
memproduksi tablet Promag® untuk menunjang permintaan pasar yang tidak
dapat dipenuhi oleh line 1. Saat ini line 1 extention sudah beroperasi. Dan
sudah dapat membantu line 1 karena ruangan produksi tablet Promag® akan
diperbesar dan akan menggunakan mesin yang lebih baru sehingga dapat
memproduksi jumlah batch yang lebih besar dan lebih cepat.
2. Line 2: line ini terdiri atas 2 line yang merupakan gabungan dari line 2A dan
line 2B. Sebagian besar produk line 2A adalah tablet inti, sedangkan produk
line 2B adalah tablet coating. Produk line 2 antara lain: Neo Entrostop®, Xon-
Ce®, Pronicy®, Neuralgin®, Cypron®, Vitazym®, Zegavit®, dan Zegase®
3. Line 4: line yang memproduksi tablet inti, contoh produknya: Procold®, dan
Promag® Double Action.
4. Line 5: line yang memproduksi sediaan cair oral antara lain sirup, emulsi, dan
suspensi, seperti Cerebrofort®, Plantacid® dan Woods®.
5. Line 6: line ini khusus memproduksi sediaan cair steril (injeksi) seperti
Rantin®, Ulsikur®, dan Kalmethasone®.
6. Line 7: line ini memproduksi sediaan semi padat topikal seperti krim, semi
solid seperti jeli, dan salep, serta sediaan suppositoria dan ovula. Contoh
produknya adalah Bioplacenton® (gel), Mycoral® (krim), dan Kaltrofen® (gel
dan suppositoria).
7. Line 8: line yang banyak memproduksi beberapa jenis produk obat namun
volumenya kecil. Produk yang dihasilkan tersebut sebagian besar merupakan
produk ethical. Line ini dibagi menjadi 2 yaitu line 8A yang menangani proses
pembuatan produk, line 8B menangani pengemasan produk.
8. Line 9: line ini khusus memproduksi sediaan cair non oral yaitu Kalpanax®
Tincture.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


24

9. Line 10: line ini khusus melakukan pengemasan ulang (repack) untuk produk
impor.
Tugas umum Departemen Produksi secara keseluruhan adalah melakukan
proses produksi dari raw material dan packaging material menjadi produk jadi.
Tugas dan tanggung jawab masing-masing line produksi antara lain:
a. Mencapai target produksi (kuantitas, kualitas, dan waktu yang tepat) yang
ditetapkan berdasarkan ketersediaan kapasitas mesin dan ketersediaan tenaga
kerja serta memonitor aktivitas harian dan mingguan berdasarkan Jadwal
Produksi Mingguan (JPM).
b. Mengoptimalkan dan mengontrol expense (biaya bulanan dan tahunan) yang
dipakai untuk mencapai target produksi. Sebagai contoh, biaya lembur dan gaji
karyawan, biaya toolsand supplies (selang, solvent, dan oli) dan maintenance
mesin (break down dan periodik).
c. Mencapai rendemen (yield) yang ditetapkan dengan cara meminimalkan bahan
baku yang terbuang pada setiap tahap proses dan mengusulkan penyederhanaan
proses (bekerjasama dengan R&D dan Process Development). Rendemen
sudah ditetapkan standarnya setiap tahun.
d. Memastikan ketersediaan utilitas kerja, seperti Air Handling Unit (AHU),
pengendali tekanan, Relative Humidity (RH), udara, dan suhu.
e. Memantau produktivitas kerja (orang dan mesin).
f. Mengefisienkan pemakaian kapasitas mesin dengan cara melakukan
penjadwalan yang efisien, penempatan operator yang tepat, dan perawatan
mesin.
g. Memeriksa, mengevaluasi, dan memberi approval dokumen-dokumen yang
dipakai dan dikirim ke QA.
h. Membimbing supervisor dan subordinat.
i. Memberi masukan kepada atasan, untuk perencanaan jangka panjang (misal:
perubahan lay out ruangan, penambahan mesin dan karyawan, optimalisasi
cara kerja).
j. Memastikan suasana kerja yang sehat dan memotivasi bawahan (misalnya
membantu masalah mereka dan memberi training).

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


25

k. Memastikan dipenuhinya standar atau peraturan yang berlaku (misal: CPOB,


ISO 9000, OSHAS 18000, ISO 14000, dan cGMP) dan berkomitmen untuk
mengimplementasikan kebijakan mutu, Kesehatan dan Keselamatan Kerja
(K3), dan lingkungan.

3.4.5. Departemen Group Process Improvement (GPI)


Departemen Group Process Improvement adalah departemen yang
terbentuk pada tahun 2006. Departemen ini bertujuan untuk mengadakan
continual improvement agar perusahaan dapat terus berkembang menjadi lebih
baik. Misi GPI adalah untuk mengarahkan perbaikan berkesinambungan agar
tumbuh menjadi budaya di lingkungan Kalbe Group serta untuk memfasilitasi
kegiatan tersebut di empat operasi bisnis agar dapat tumbuh secara bersama.
Tugas dan tanggung jawab dari departemen GPI antara lain adalah:
1. Energy Cost Saving
2. Standar Minimal Spesifikasi Mesin
3. Focus Plant
4. Proyek Lean
5. Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin (5R)
6. Continual improvement
Dalam melakukan perbaikan proses dengan metode Continual Improvement
ada enam tahapan yaitu:
a. Understand the customer
Memahami pernyataan end customer terkait tentang keinginan, kebutuhan,
harapan terhadap suatu produk atau jasa yang dijadikan sebagai persyaratan.
Untuk memenuhi persyaratan tersebut, perusahaan harus mengukur
kemampuan dan mengidentifikasi adanya gap.
b. Analisis Efisiensi
Fokus pada pemenuhan kebutuhan dan harapan pelanggan internal, minimasi
biaya, minimasi variasi, dan waktu siklus.
c. Analyze the Process
Pada tahap analisis, amati kondisi proses exsisting, proses yang tidak efektif,
tidak efisien, dan proses yang buruk.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


26

d. Improve the Process


Aktivitas improvement tergantung dari tujuan yang ingin dicapai. Continual
Improvement membentuk pemahaman yang fundamental pada customer
requirement, kapabilitas proses, dan root cause gap yang terjadi. Contohnya
dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas produk atau jasa, maka aktivitas
improvement yang dilakukan adalah berfokus pada pengurangan variasi, error,
serta cacat.
e. Implement changes
f. Standardize and monitor

3.4.6. Departemen Quality Operation


Quality Operation adalah departemen yang bertugas menjamin mutu produk
yang dihasilkan dengan memperhatikan seluruh aspek yang berpengaruh pada
kualitas produk. Departemen QO dipimpin oleh seorang QO Manajer yang
bertanggung jawab kepada Plant Head. Secara umum QO dibagi menjadi dua
kelompok besar yaitu Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA).
3.4.6.1 Quality Control (QC)
Secara umum bagian QC bertugas dalam:
a) Pelulusan dan pengujian terhadap material yang datang (raw material dan
packaging material), produk ruahan dan produk jadi.
b) Memberikan persetujuan pemeriksaan (retesting) dan pengerjaan ulang
(rework) suatu produk.
Bagian-bagian dalam Departemen QC:
a) Seksi Bahan Baku (Raw material)
Bagian ini bertanggung jawab dalam menganalisa semua bahan baku yang
masuk yang akan digunakan untuk proses produksi.
b) Seksi Wadah dan Kemasan (Packaging Material)
Bagian ini bertugas melakukan pemeriksaan terhadap semua wadah dan
kemasan dengan prosedur berdasarkan MA yang telah ditetapkan oleh
Departemen R&D

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


27

c) Seksi Obat Jadi


Seksi obat jadi bertugas dalam melakukan pemeriksaan dan meloloskan atau
menolak produk jadi yang akan dikemas.
d) Laboratorium Mikrobiologi
Bagian ini bertugas melakukan pemeriksaan mikrobiologi material dan obat
sesuai dengan MA yang telah ditetapkan oleh Departemen R&D. Pemeriksaan
yang dilakukan yaitu: potensi antibiotika, uji sterilitas, uji pirogen dan
endotoksin, pemeriksaan angka total mikroba, pemeriksaan untuk uji sampel
stabilitas, pemeriksaan sampel pertinggal, dan pemeriksaan hasil validasi
pembersihan mesin. Selain mendukung seksi bahan baku, seksi wadah dan
kemasan, dan seksi obat jadi, laboratorium mikrobiologi juga mendukung
bagian validasi dalam pemeriksaan ruangan.
Hubungan Departemen QC dengan departemen lain adalah sebagai berikut:
a. Departemen Logistik
Bahan baku dan bahan kemas yang diterima oleh Departemen Logistik
diperiksa oleh Departemen QC.
b. Departemen R&D
Departemen QC melakukan pemeriksaan rutin menggunakan metode analisa
yang ditetapkan oleh Analytical Development dan Packaging Development
yang merupakan bagian dari Departemen R&D. Sebelum suatu metode analisa
ditetapkan oleh Analytical Development dan Packaging Development,
dilakukan transfer metode analisa ke Departemen QC untuk menyempurnakan
metode analisa tersebut
c. Departemen Produksi
Departemen QC memeriksa kualitas produk ruahan berdasarkan sampling yang
dilakukan oleh Departemen Produksi (IPC mandiri). Untuk In Process Control
(IPC) dilakukan oleh Departemen Produksi karena bagian produksi di PT.
Kalbe Farma, Tbk. dianggap sudah mampu untuk melakukan IPC sendiri dan
Departemen QC melakukan pemeriksaan composit sample dari hasil suatu
proses produksi.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


28

d. Departemen Pembelian (Purchasing)


Hubungan Departemen QC dengan bagian pembelian melibatkan bagian
Analytical Development dan Formulasi. Bagian pembelian akan membeli
bahan baku maupun bahan kemas dari pemasok baru setelah memperoleh
persetujuan dari bagian Analytical Development dan Formulasi. Selanjutnya,
bahan baku dan bahan kemas yang dibeli dari source baru diperiksa
kualitasnya oleh Departemen QC menggunakan metode analisa yang
ditetapkan oleh bagian Analytical Development.
e. Departemen Marketing
Departemen QC memberikan informasi ke Departemen Marketing tentang
release batch number pertama produk baru dan pemberitahuan perubahan
kemasan.
3.4.6.2 Quality Assurance (QA)
Departemen QA dipimpin oleh seorang QA Manager yang bertanggung
jawab langsung kepada QO Manager. Secara umum QA dibagi menjadi empat
kelompok besar yaitu Audit Proses, Post Marketing, Validasi, dan GMP
Compliance.
a. Audit Proses
Bagian audit memiliki beberapa tugas, yaitu audit proses, audit produk, audit
vendor, penanganan masalah di produksi, dan monitoring penyimpangan.
Audit proses dilakukan untuk memastikan proses produksi berjalan sesuai
dengan prosedur yang telah ditetapkan. Proses yang dimaksud bukan hanya
proses pembuatannya, tetapi mulai dari penerimaan bahan baku. IPC (In
Process Control) juga termasuk dalam audit proses ini. Inspektor akan datang
ke bagian gudang dan produksi secara langsung untuk mengamati apakah pada
proses yang dilakukan terdapat penyimpangan atau tidak. Kegiatan ini
dilakukan secara berkala. Audit produk dilakukan pada setiap jalur produksi
(line). Audit produk ini bertujuan untuk mengetahui dan memastikan bahwa
produk yang telah dirilis benar-benar layak atau memenuhi persyaratan. Selain
itu, audit produk ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa sistem yang telah
dibuat berjalan dengan baik di lapangan. Audit vendor yang dilakukan ada 2,
yaitu audit vendor bahan baku dan audit vendor produk toll out. Audit vendor

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


29

yang dilakukan serupa dengan audit proses. Penanganan masalah di produksi


dilakukan dengan sampling produk yang mengalami masalah tersebut.
Hasilnya dapat berupa rilis, diproses ulang, atau musnah. Penyimpangan yang
terjadi, beserta penyebab dan usulan perbaikannya dilaporkan pada lembar
deviation report. Bagian audit saat ini juga berperan dalam sistem Total
Productive Maintenance (TPM).
b. Post Marketing
Post Marketing bertugas melakukan pemantauan atau pengawasan terhadap
kualitas produk jadi setelah produk tersebut diproduksi dan dipasarkan. Tugas
dari post marketing adalah menangangi keluhan pelanggan (product
complaint), menangani recall dan returned product, dan post marketing
stability testing.
c. Validasi
Validasi adalah suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa tiap
bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau mekanisme yang
digunakan dalam produksi dan pengawasan akan senantiasa mencapai hasil
yang diinginkan. Bagian Validasi di PT. Kalbe Farma, Tbk memiliki bagian
validasi proses, validasi pembersihan, validasi fasilitas dan utilitas, validasi
computer, dan annual product review.
d. GMP Compliance
1) Kalibrasi dan Kualifikasi
Tujuan dilakukan kalibrasi untuk memastikan semua peralatan yang
digunakan untuk pengukuran selalu memenuhi persyaratan yang telah
ditetapkan sehingga menjamin ketelitian pengukuran berada dalam batas
yang diijinkan. Sebagai parameter digunakan suatu kalibrator yang spesifik
untuk setiap instrumen. Kualifikasi adalah tindakan untuk memastikan
kelayakan dari suatu mesin atau peralatan. kualifikasi yang dilakukan
meliputi: Design Qualification (DQ), Installation Qualfication (IQ),
Operational Qualification (OQ), dan Performance Qualification (PQ).
Kalibrasi merupakan bagian dari kualifikasi, dengan interval pengujian yang
lebih sempit (misalnya, kalibrasi dilakukan per 6 bulan, sedangkan

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


30

kualifikasi dilakukan minimal 3 tahun bila tidak ada perubahan yang


signifikan).
2) Evaluasi Catatan Bets (Evaluation Batch Record/ EBR)
Bagian ini bertanggung jawab memeriksa kelengkapan batch record serta
menyatukan data-data dari produksi dan hasil analisa dari departemen QC.
EBR diperlukan sebagai dokumentasi dan untuk memastikan produk
sebelum di-release telah dievaluasi dengan benar termasuk penelusuran
masalah jika terjadi penyimpangan.
3) Pengendalian Perubahan (Change Control)
Tujuan Change Control adalah agar setiap perubahan yang berkaitan dengan
mutu, lingkungan dan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) dievaluasi
dahulu dampaknya terhadap mutu, lingkungan, dan K3 serta sesuai pada
ketentuan, peraturan atau undang-undang terkait sebelum
diimplementasikan. Jika terjadi suatu perubahan, misalnya terjadi
penggantian mesin, maka departemen tersebut akan mengajukan usulan
perubahan, kemudian perubahan tersebut diamati dan dipelajari oleh tiap
departemen yang terkait, apakah perubahan memberikan dampak atau tidak.

3.4.7. Departemen Quality System


Quality System (QS) mempunyai fungsi utama memastikan standar atau
pedoman yang ada senantiasa berjalan dengan baik. QS bertugas memelihara dan
mengembangkan sistem di PT. Kalbe Farma, Tbk. Secara keseluruhan, sistem
yang dibuat telah memasukkan unsur-unsur CPOB/c-GMP, ISO 9001: 2000, ISO
14001:2004, OHSAS 18001, dan juga dalam Best Practice yang ada di Kalbe.
a. System Compliance
Bagian ini memiliki tanggung jawab dalam Management Review, Audit
Development, Corrective Action/Preventive Action (CAPA), dan Standard
Development.
b. Document Compliance
Secara umum tugas QS dalam Document Compliance adalah apabila terdapat
dokumen baru atau perubahan pada dokumen lama, dokumen baru atau
dokumen yang telah diubah tersebut harus dikaji terlebih dahulu oleh QS.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


31

Selanjutnya QS akan mengkaji dampak perubahan terhadap departemen lain.


Setelah dokumen diperbaiki disetujui oleh QS, perlu dilakukan pelatihan pada
semua personil yang terkait. Setelah itu, dokumen tersebut baru bisa
didistribusikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
c. Occupational Health, Safety & Environment (OHSE) compliance
OHSE dikoordinasi oleh System Compliance yang bertugas untuk memastikan
kinerja sistem manajemen K3 & lingkungan telah diterapkan dengan baik.
Selain itu OHSE juga bertugas untuk melakukan identifikasi, mencegah, dan
mengatasi hazard (bahaya) yang akan timbul akibat tidak memahami standar
prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Cara yang dilakukan antara
lain: eliminasi, substitusi, engineering control, visual control dan
administration Control, alat pelindung diri (APD).
d. Plan Do Check Action (PDCA)
Divisi ini bertugas untuk memeriksa setiap kegiatan kerja yang akan
dilaksanakan oleh departemen-departemen yang ada di PT. Kalbe Farma, Tbk.
Pada umumnya mereka akan mengikuti setiap rapat kerja yang ada dan
mengevaluasi kinerja program serta status kemajuannya.
e. Continual Improvement Program Development
Bagian Program Development memiliki tugas yang terbagi menjadi dua, yaitu
Program Development & Maintenance dan Training Development
Maintenance. Bagian ini bertanggung jawab untuk merancang dan
melaksanakan sistem pelatihan bagi karyawan, khususnya karyawan baru,
sebagai sarana untuk meningkatkan budaya kualitas karyawan sehingga
tercipta produk yang berkualitas. Program-program pengembangan yang
dilaksanakan antara lain 5R, Ko HASE, serta CONIM (Continual
Improvement). Setiap kebijakan CONIM yang telah dibuat oleh Group Process
Improvement (GPI) kemudian diteruskan kepada divisi ini untuk kemudian
dirancang pelaksanaannya.

3.4.8. Departemen Logistik


Logistik atau Warehouse adalah departemen yang bertanggung jawab atas
penerimaan, penyimpanan, pengeluaran bahan baku, wadah, bahan kemas, dan

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


32

produk jadi. Secara struktural departemen logistik dipimpin oleh seorang Manager
Logistik yang membawahi empat Kasi (kepala seksi) gudang, yaitu Kasi gudang
bahan baku (raw material) dan wadah (primary packaging material), Kasi gudang
penimbangan, Kasi gudang kemasan sekunder (secondary packaging material)
dan Kasi gudang produk jadi (finished goods). Bagian Logistik memiliki peranan
penting dalam kegiatan penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran bahan baku,
wadah, kemasan, maupun produk. Dalam menjalankan peran tersebut,
Departemen Logistik terkait dengan beberapa bagian, yaitu bagian QA/QC, R&D,
Purchasing, PPIC, Produksi, dan Teknik. Fungsi dan tugas dari masing-masing
seksi adalah sebagai berikut:
a. Seksi gudang bahan baku/ wadah
Gudang bahan baku dan wadah mempunyai beberapa ruang penyimpanan
dengan suhu ruangan yang berbeda-beda, yaitu ruang suhu kamar (25-30°C),
ruang AC/ cool room (20-25°C), dan ruang pendingin/cold storage (2-8°C)
untuk penyimpanan bahan baku yang rentan terhadap suhu. Untuk ruang AC,
terdapat ruangan AC untuk penyimpanan material halal, penyimpanan essence
dan flavouring, penyimpanan bahan kemas primer (foil), serta ruang AC untuk
penyimpanan berbagai macam bahan baku dan wadah. Selain itu, terdapat
beberapa area atau ruang yang penting seperti:
1. Area khusus prekursor serta tempat khusus penyimpanan bahan baku yang
bersifat prekursor narkotika dan psikotropika. Area ini selalu terkunci dan
akses ke area ini harus mendapat persetujuan supervisor dan mengisi log
book.
2. Ruang sampling QC, ruang khusus untuk proses sampling bahan baku dan
wadah yang baru datang untuk diuji kualitasnya sebelum digunakan.
3. Ruang tolak, ruangan atau area yang terpisah yang menyimpan bahan baku
dan wadah yang ditolak oleh QC.

Penataan barang di gudang bahan baku dan wadah menggunakan system


racking secara alfabetis dan numerik dimana setiap rak terdapat beberapa level
(tingkat vertikal) dan beberapa kolom (horizontal), serta didata secara
komputerisasi menggunakan sistem Oracle yang memuat lokasi peletakan

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


33

material dalam rak. Cara penyimpanan barang di gudang pada dasarnya disusun
antara lain berdasarkan hal-hal berikut:
1. kondisi penyimpanan yang dipersyaratkan (suhu, cahaya, dan kelembaban).
2. kedekatan dengan pelanggan (gudang timbang atau produksi).
3. bentuk material dan sifat bahan baku (flammable atau non flammable).
4. untuk barang-barang toll out didekatkan area toll out.
5. berdasarkan status (karantina, baik, atau tolak).

b. Seksi gudang penimbangan


Gudang timbang adalah tempat berlangsungnya proses penimbangan dan
penyediaan bahan baku dan wadah yang dibutuhkan oleh produksi berdasarkan
JPM (Jadwal Produksi Mingguan). Bahan baku dan wadah yang ditimbang dan
disediakan sesuai dengan Prosedur Pengolahan Induk yang diturunkan yaitu:
PPI 1A, 1B dan 3A. Bahan baku dan wadah ditimbang dan disediakan dengan
sistem First Expired First Out (FEFO) oleh gudang timbang, kemudian dikirim
ke produksi sesuai line yang membutuhkan.
c. Seksi gudang kemasan
Gudang kemas memiliki tanggung jawab melayani permintaan kemasan
sekunder berupa master box, dus, brosur, dan label kemudian mengirimkannya
ke setiap line produksi berdasarkan PPI 3B. Kemasan sekunder yang dikirim
oleh vendor akan diperlakukan sama seperti bahan baku dan wadah, yaitu akan
dikarantina terlebih dahulu untuk pengujian kualitas kemasan tersebut. Jika QC
menyatakan status kemasan adalah “BAIK” maka kemasan yang sesuai dengan
PPI 3B akan dikirim ke produksi. Sistem FEFO juga diterapkan untuk
pengiriman kemasan sekunder untuk produksi.
d. Seksi gudang produk
Ruang lingkup, fungsi, dan tugas seksi gudang produk adalah sebagai berikut:
a. Menerima, memeriksa produk dan dokumen, serta memasukkan data.
b. Menata dan menyimpan produk.
c. Mengirimkan produk untuk pelanggan (distributor, ekspor, dan sebagainya)
atas Sales Order/Shipping Instruction Internal dari marketing atau Formulir
Kebutuhan Barang (FKB).

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


34

d. Melaksanakan cycle count produk.


e. Menerima, memeriksa, dan memasukkan data produk retur.

3.4.9 Departemen Teknik


Departemen Teknik menunjang proses produksi dengan cara memelihara
dan melakukan perawatan semua mesin di semua departemen. Walaupun tidak
berperan secara langsung dalam kegiatan produksi, namun Departemen Teknik
merupakan pendukung utama kegiatan produksi di industri farmasi. Departemen
Teknik memiliki tanggung jawab dalam pengadaan, perbaikan dan pemeliharaan
gedung, sarana penunjang dan mesin-mesin yang digunakan di industri farmasi.
Secara umum, Departemen Teknik dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
1. Utilitas Tugas dan tanggung jawab dari Manajer Utilitas adalah:
a. Memastikan tersedianya energi listrik, air, udara dingin, tekanan udara/uap
dan sarana penunjang lain untuk keperluan produksi dan operasi perusahaan
sehari-hari.
b. Memastikan perawatan terhadap mesin-mesin utilitas agar produksi dapat
berjalan secara efisien.
2. Pemeliharaan Tugas dan tanggung jawab dari Manager Pemeliharaan yaitu:
a. Menyusun dan mengimplementasikan rencana perawatan atau perbaikan
mesin dan peralatan.
b. Mengevaluasi hasil yang sudah dicapai.
c. Mengontrol pelaksanaan instalasi baru, pemeliharaan berkala mesin yang
mengalami kerusakan dan penyediaan suku cadang agar dapat menunjang
kelancaran proses produksi.
Kerja pemeliharaan dibagi menjadi dua, yakni pemeliharaan preventif dan
penanganan kerusakan. Pemeliharaan preventif merupakan kegiatan pemeliharaan
yang dilakukan untuk menjamin agar mesin-mesin produksi dan sarana penunjang
lainnya selalu dalam keadaan optimum dan dapat dioperasikan secara optimal.
Sementara itu penanganan kerusakan adalah perawatan mesin yang mengalami
kerusakan dan harus segera diperbaiki agar tidak mengganggu proses produksi.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


35

3. Teknisi Suku Cadang


Bagian ini bertanggung jawab dalam penyediaan stok suku cadang untuk mesin
mesin yang ada baik untuk Produksi maupun untuk bagian lain. Suku cadang
yang disediakan adalah suku cadang dari mesin-mesin yang sangat penting
yang harus terus berjalan atau merupakan suku cadang yang pemesanannya
membutuhkan waktu lama, sehingga jika terjadi kerusakan dapat segera
ditangani.
4. Administrator
Bagian ini bertanggung jawab dalam melaksanakan urusan administrasi di
Bagian Teknik.
5. Koordinator Pekerjaan Sipil
Bagian ini bertanggung jawab dalam melaksanakan suatu proyek pembangunan
baru, misalnya membuat ruangan baru, membuat gedung baru.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


BAB 4
PEMBAHASAN

PT. Kalbe Farma, Tbk. memiliki komitmen membantu masyarakat


mewujudkan kesehatan dan kehidupan yang lebih baik. Dalam mewujudkan
komitmennya, berbagai hal telah dilakukan, salah satunya melalui penerapan Cara
Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dalam setiap aspek pembuatan obat di PT.
Kalbe Farma, Tbk. Jaminan kualitas produk PT. Kalbe Farma, Tbk. telah diakui
melalui berbagai standar internasional, antara lain dengan diperolehnya sertifikat
ISO 9001 (2001) untuk sistem manajemen, sertifikat ISO 14001 untuk jaminan
terhadap sistem lingkungan, dan sertifikat OHSAS 18001/SMK3 untuk jaminan
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

4.1 Manajemen Mutu


Untuk menjamin pembuatan obat yang sesuai dengan tujuan
penggunaannya, memenuhi syarat izin edar, dan bermutu dan tidak menimbulkan
risiko berbahaya dalam penggunaannya maka diperlukan suatu sistem, yaitu
manajemen mutu. Konsep dasar pengawasan mutu, CPOB, dan pemastian mutu
adalah aspek manajemen mutu yang saling terkait.
Kegiatan manajemen mutu di PT. Kalbe Farma, Tbk. sudah memenuhi
CPOB. Pengelolaan manajemen mutu di PT. Kalbe Farma, Tbk. Dilaksanakan
oleh bagian Quality Operation (QO). QO terdiri dari dua departemen, yaitu
Quality Assurance (QA)dan Quality Control (QC). Ruang lingkup QA adalah
pemastian mutu, sedangkan QC merupakan pengawasan mutu. Pemastian mutu
adalah totalitas semua pengaturan yang bertujuan memastikan bahwa obat
dihasilkan dengan mutu yang sesuai dengan tujuan penggunaannya. Pengawasan
mutu bertugas untuk mengontrol kualitas dari bahan awal (bahan baku dan bahan
kemas) hingga ke produk jadi yang siap dipasarkan. Pemeriksaan yang dilakukan
meliputi pemeriksaan fisik, kimia, dan mikrobiologi.
Pemastian mutu yang dilaksanakan bertujuan untuk menghindari atau
meminimalisasi resiko terhadap produk. Pelaksanaan CPOB itu sendiri dipastikan
dengan melakukan pengawasan mutu. Pengawasan mutu ini meliputi berbagai

36 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


37

macam aspek seperti produk yang sesuai standar, bangunan dan fasilitas yang
memadai, dan sebagainya.

4.2 Personalia
Dalam suatu industri farmasi, personil yang terlibat dalam industri tersebut
harus memenuhi persyaratan, baik secara kuantitas maupun kualitas. CPOB
mensyaratkan jumlah personil yang memadai dan terkualifikasi untuk
melaksanakan semua tugas. Setiap personil harus memiliki kesehatan mental dan
fisik yang baik sehingga mampu melaksanakan tugasnya secara professional.
Sikap dan kesadaran tinggi setiap personil juga diperlukan dalam mewujudkan
pelaksanaan CPOB.
PT. Kalbe Farma, Tbk. Memiliki personil yang terlatih secara teknis
dengan jumlah memadai untuk melaksanakan kegiatan produksi, pengawasan dan
pemastian mutu. Kegiatan dilakukan mengikuti prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan secara efektif dan efisien. Departemen produksi, QA, dan QC
dipimpin oleh apoteker yang bersifat independen. Apoteker-apoteker ini diberi
wewenang penuh dan sarana yang cukup untuk dapat melaksanakan tugasnya
secara efektif.
Peningkatan kesadaran dan pemahaman karyawan terhadap CPOB di PT.
Kalbe Farma, Tbk. dilakukan melalui program pelatihan Kualitas Lima Aspek
(KUA LIMA) yang meliputi K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja), dan 5R
(Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin). Aspek KUA LIMA meliputi produk,
manusia, bahan dan peralatan, metode, serta lingkungan kerja. Uraian lima aspek
dalam KUA LIMA adalah:
a. Produk yang senantiasa berorientasi pada pasar
b. Sumber daya manusia yang selalu mengutamakan kualitas
c. Peralatan, bahan, dan teknologi yang memadai
d. Proses, prosedur, dan metode kerja yang efisien
e. Lingkungan kerja yang mendorong prestasi
Untuk menjamin kepuasan terhadap semua pelanggan, baik internal
maupun eksternal PT. Kalbe Farma Tbk. melakukan berbagai upaya antara lain
dengan menerapkan Kalbe Service Exellence (KSE). Setiap karyawan harus

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


38

melaksanakan sebelas perilaku KSE, yaitu senyum tulus, wajah hangat dan
bersemangat, pelanggan adalah orang penting, dengarkan kebutuhannya,
menyebut namanya, bahasa tubuh positif, membicarakan yang diminati
pelanggan, bahasa yang halus dan tepat, memberitahukan proses yang
sudah/sedang/akan dikerjakan, pengetahuan akan produk, serta tampil dengan
rapi.

4.3 Bangunan dan Fasilitas


PT. Kalbe Farma, Tbk. berlokasi di kawasan industri Delta Silicon I,
Cikarang. Lokasi pabrik terletak cukup jauh dari pemukiman penduduk. Hal
tersebut bertujuan untuk meminimalisasi resiko pencemaran, baik dari pabrik ke
lingkungan maupun dari lingkungan ke pabrik. Gedung dilengkapi dengan sarana
dan prasarana yang ditujukan untuk mencegah terjadinya kontaminasi yang
berasal dari udara, tanah, air, maupun dari kegiatan di sekitarnya, seperti debu dari
industri lain, rembesan air, serangga, binatang pengerat, dan sebagainya. PT.
Kalbe Farma, Tbk. Memiliki instalasi pengolahan limbah sebagai upaya
pencegahan terjadinya pencemaran terhadap lingkungan. Pengolahan limbah
pabrik ini bekerja sama dengan pihak luar.
PT. Kalbe Farma Tbk. memiliki bangunan dengan ukuran, rancang
bangun, konstruksi, dan tata letak yang secara umum telah memadai sesuai
dengan persyaratan CPOB. Hal ini dilakukan dalam rangka menunjang
pelaksanaan kerja, pembersihan, dan pemeliharaannya. Rancang bangun dan tata
letak ruang produksi PT. Kalbe Farma, Tbk. dibagi menjadi beberapa kelompok
sehingga kegiatan-kegiatan dapat berlangsung tanpa harus berhubungan dengan
daerah luar. Ruang ganti pakaian berhubungan langsung dengan area produksi dan
dipisahkan oleh pintu yang hanya dapat diakses dengan menggunakan kartu akses
karyawan. Pergerakan barang dan manusia diatur dalam lalu lintas yang berbeda
untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi silang. Penghubung antar
ruang atau kelas yang berbeda adalah ruang buffer atau ruang antara, sedangkan
untuk barang digunakan penghubung berupa kotak penghubung (pass box).
Khusus perpindahan antara grey area dengan white area terdapat air lock yang
dilengkapi air shower. Setiap ruang produksi memiliki koridor sebagai lalu lintas

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


39

umum karyawan atau bahan. Pada area produksi terdapat ruang staging yang
digunakan sebagai tempat penyimpanan kemasan dan bahan baku. Selain itu,
terdapat pula ruang work in process (WIP) untuk staging produk ruahan dan
produk antara.
Desain pada permukaan lantai, dinding, langit-langit, dan pintu dibuat
sedemikian rupa agar kedap air, tidak terdapat sambungan, dan mudah untuk
dibersihkan. Permukaan lantai ruang produksi menggunakan beton yang dilapisi
epoksi, sudut-sudut ruangan dibuat melengkung, sambungan dilapisi oleh silicon
rubber, dinding dan langit-langitnya dilapisi cat minyak. Penutup fitting lampu,
titik ventilasi, dan instalasi lainnya dibuat rata dengan langit-langit sehingga
meminimalkan adanya celah yang dapat menahan debu. Sarana-sarana penunjang
produksi, seperti Heating, Ventilating, and Air Conditioning (HVAC), pipa
saluran air, Air Handling Unit (AHU), kabel listrik diletakkan di ruangan khusus
di antara setiap lantai ruangan produksi yang disebut mezzanine. Beberapa
ruangan juga dilengkapi dengan pengumpul debu (dust collector) untuk
mengendalikan jumlah partikel sesuai dengan kelas ruangan masing-masing.
Bangunan pada PT. Kalbe Farma, Tbk. menerapkan sistem line (jalur
produksi). Satu line mencakup semua tahap pengolahan sampai dengan
pengemasan produk sehingga kontaminasi silang dapat dihindari. Ruang produksi
di PT. Kalbe Farma, Tbk. diklasifikasikan sesuai dengan ASEAN GMP, yaitu
kelas I dan II (white area), kelas III (grey area), dan kelas IV (black area).
Apabila dikaitkan dengan CPOB, kelas black area merupakan kelas E, kelas grey
area merupakan kelas C (untuk produksi steril), D (untuk produksi non-steril),
dan kelas white area merupakan kelas A, B (produksi steril). Sebagai penghubung
antara kelas ruangan yang satu dengan yang lain disediakan ruang antara atau
ruang buffer dan loker karyawan. Setiap kelas ruangan memiliki persyaratan
jumlah partikel dan jumlah mikroba tertentu, serta tekanan udara yang berbeda
untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang. Pengaturan perbedaan tekanan
udara ini dilakukan dengan membedakan volume udara yang dimasukkan ke
dalam ruangan oleh AHU. White area memiliki tekanan udara paling tinggi dan
black area memiliki tekanan udara yang paling rendah, sedangkan tekanan udara
di grey area berada diantaranya.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


40

Black area ditandai dengan lantai yang dicat epoksi berwarna hijau dan
dinding yang dicat minyak berwarna kuning muda. Area ini meliputi ruang
penanggung jawab line produksi, ruang pengemasan sekunder, dan ruang ganti
pakaian untuk menuju grey area. Grey area memiliki lantai berwarna biru tua dan
dinding berwarna kuning muda. Area ini meliputi daerah-daerah yang
berhubungan langsung dengan proses produksi, seperti gudang timbang, koridor
penghubung gudang timbang dengan ruang proses produksi, ruang proses
produksi, ruang pengemasan primer, serta ruang penyangga atau buffer. Lantai
white area berwarna biru muda dengan dinding berwarna kuning muda. Area ini
khusus memproduksi sediaan steril, meliputi ruang penyangga, ruang ganti
pakaian, ruang penyemprot udara (air shower), dan ruang pengisian (filling). Pada
area ini dilengkapi pula penyaring HEPA yang dapat menyaring udara yang
masuk ke dalam ruangan sehingga dapat membatasi jumlah dan ukuran partikel,
serta jumlah bakteri yang ada di ruangan tersebut.
Gudang bahan baku dan wadah, gudang kemas, dan gudang produk jadi
disusun sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam penyimpanan dan
penelusuran barang. Penyimpanan barang yang baru datang, karantina, atau
barang ditolak diletakkan terpisah. Gudang penyimpanan bahan-bahan mudah
terbakar atau mudah meledak diletakkan terpisah. Selain itu, juga terdapat sarana
gudang dengan kondisi khusus, yaitu suhu dan kelembaban ruangan yang
terkendali, misalnya penyimpanan pada suhu 2-8OC.

4.4 Peralatan
Peralatan yang digunakan untuk produksi di PT. Kalbe Farma, Tbk.
memiliki rancang-bangun dan konstruksi yang kuat, ukuran yang memadai, serta
ditempatkan pada posisi yang tepat. Masing-masing alat diberi penandaan agar
memudahkan dalam identifikasinya. Pemasangan dan penempatan peralatan diatur
sedemikian rupa sehingga proses produksi dapat berjalan secara efektif dan
efisien. Bahan yang digunakan untuk peralatan selama proses produksi sebagian
besar adalah baja tahan karat (stainless steel). Peralatan yang digunakan selalu
dirawat secara berkala agar tetap berfungsi dengan baik dan konsisten serta

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


41

mencegah terjadinya pencemaran yang dapat merubah identitas dan mutu atau
kemurnian produk.
Peralatan yang digunakan pada tiap line produksi disesuaikan dengan
produk yang dihasilkan dan ukuran bets dari masing-masing produk. Penempatan
peralatan produksi dilakukan mengikuti alur proses kerja sehingga produksi dapat
dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Pemisahan peralatan dilakukan untuk
menghindari kontaminasi silang antara produk satu dengan produk yang lain.
Pencegahan terhadap kontaminasi debu yang dihasilkan pada saat proses produksi
dilakukan dengan menggunakan pengumpul debu. Peralatan juga diberi
penandaan status penggunaan alat tersebut untuk menghindari kesalahan
penggunaan alat.
Tiap mesin diletakkan dalam ruang sesuai dengan proses yang sedang
berlangsung. Bila terdapat lebih dari satu alat dalam satu ruangan maka peralatan
diletakkan tidak berdekatan agar proses kerja dilakukan dengan leluasa dan
mencegah terjadinya kontaminasi silang dan pencampuran antar bahan maupun
produk ruahan.
Keakuratan peralatan selalu dijaga dengan melakukan validasi, kalibrasi,
dan kualifikasi secara teratur oleh Departemen Pemastian Mutu bekerja sama
dengan lembaga metrologi setempat. Peralatan dan mesin baru harus melalui
tahapan kualifikasi terlebih dahulu, yaitu kualifikasi instalasi, kualifikasi operasi
dan kualifikasi kinerja. Pada peralatan lama dilakukan kualifikasi secara periodik,
yaitu setiap 3 tahun. Kalibrasi dilakukan pada periode tertentu yang sudah
ditetapkan dan tercatat dalam Jadwal Kalibrasi Alat. Kalibrasi dilakukan terhadap
peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, dan menguji. Sertifikat
Penerimaan dikeluarkan untuk mesin yang telah melewati tahapan-tahapan
tersebut dan menyatakan bahwa mesin tersebut telah memenuhi syarat.
Pemeliharaan peralatan menjadi tanggung jawab Departemen Produksi dan
Departemen Teknik, yaitu Bagian Perencanaan Perawatan. Bagian ini melakukan
perawatan pencegahan yang meliputi pengecekan, penggantian bagian-bagian dari
mesin yang rusak, pembersihan, dan lubrikasi mesin secara periodik. Kegiatan
perawatan dan pencegahan dilakukan dengan mempertimbangkan jadwal produksi

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


42

sehingga tidak mengganggu jalannya proses produksi. Umumnya kegiatan ini


dilakukan setiap bulan.

4.5 Sanitasi dan Higiene


Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi harus dijaga pada setiap aspek
pembuatan obat. Ruang lingkup sanitasi dan higiene, meliputi personalia,
bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya, dan hal-
hal lainnya yang dapat menjadi sumber pencemaran produk. Oleh karena itu,
diperlukan suatu program sanitasi dan higiene yang menyeluruh dan terpadu.
Prosedur sanitasi dan hygiene harus divalidasi, serta dievaluasi secara berkala
untuk selalu memastikan bahwa hasilnya efektif dan memenuhi persyaratan.
Setiap personil PT. Kalbe Farma, Tbk. harus menjalani pemeriksaan
kesehatan, baik sebelum diterima menjadi karyawan maupun selama bekerja.
Karyawan yang bertugas sebagai pemeriksa visual diharuskan menjalani
pemeriksaan mata secara berkala untuk memastikan fungsi mata masih bekerja
secara optimal. Tiap karyawan yang mengidap suatu penyakit yang dapat
merugikan kualitas produk dilarang menangani bahan baku, bahan pengemas,
bahan yang sedang dalam proses, dan obat jadi sampai karyawan tersebut
dinyatakan telah sembuh.
Setiap personil tidak diperbolehkan makan dan merokok di dalam gedung
produksi maupun kantor, khususnya di daerah yang berhubungan dengan produk,
seperti daerah produksi dan gudang. Toilet, tempat cuci tangan, kotak P3K, dan
ruang minum (pantry) yang terpisah dari ruang kerja dan ruang produksi. Hal ini
merupakan salah satu bentuk sarana penunjang pelaksanaan sanitasi dan higiene.
Kantin dan koperasi ditempatkan dalam lokasi yang strategis, namun tidak
berhubungan langsung dengan kantor maupun area produksi.
Pada setiap grey area bagian produksi terdapat ruang pencucian untuk
mencuci alat-alat yang telah selesai digunakan untuk proses produksi. Sanitasi line
5 dilakukan setiap mau dipakai alatnya.Sanitasi ruangan line 5 di fogging 1 bulan
sekali. Peralatan line 6 ada yang disterilisasi, tidak hanya sanitasi. Sanitasi
ruangan di line 6 dilakukan 24 jam sekali dengan cara fogging selama 4 jam.
Sanitasi peralatan dilakukan setiap terjadi pergantian jenis produk. Pembersihan

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


43

rutin juga dilakukan pada alat yang sudah lama tidak digunakan. Peralatan yang
dapat dipindahkan dicuci di ruang pencucian pada grey area, sedangkan peralatan
yang tidak dapat dipindahkan dicuci di ruangan tempat peralatan tersebut berada.
Ruangan tersebut telah dilengkapi dengan saluran khusus untuk pembuangan
limbah dari pencucian alat. Pembersihan alat dan mesin tersebut dilakukan
berdasarkan prosedur tetap yang telah ditetapkan oleh Pemastian Mutu.
Semua ruang di line produksi memiliki status tertentu yang diwujudkan
dalam bentuk tulisan yang ditempelkan pada pintu ruangan, meliputi label
”TELAH DIBERSIHKAN”, ”SEDANG PROSES”, atau ”UNTUK
DIBERSIHKAN”. Hanya ruang dengan label ”TELAH DIBERSIHKAN” yang
dapat digunakan untuk proses produksi. Sedangkan, label untuk alat/mesin
meliputi label ”SIAP PAKAI”, ”SEDANG PROSES”, ”UNTUK
DIBERSIHKAN”, atau ”SEDANG RUSAK”. Hanya alat berlabel ”SIAP
PAKAI” saja yang dapat digunakan untuk proses produksi.
Pada black area pakaian yang digunakan terdiri dari baju dan celana
berwarna putih yang dilengkapi dengan penutup kepala dan sandal karet. Untuk
masuk ke grey area ataupun white area, karyawan melalui ruang penyangga di
mana tekanan udara di ruang buffer lebih kecil daripada ruang produksi sehingga
mencegah adanya kontaminasi. Perlengkapan yang digunakan selama berada di
grey area berupa baju terusan yang dilengkapi dengan penutup kepala yang
dirangkap pada baju black area, masker, dan sepatu khusus dengan bagian depan
tertutup atau menggunakan penutup sepatu (shoes cover). Sarung tangan
digunakan jika bersentuhan langsung dengan produk, sedangkan penutup telinga
digunakan untuk operator yang bekerja dengan mesin-mesin yang mengeluarkan
bunyi bising. Khusus grey area pada line 6 baju terusan yang digunakan berwarna
merah muda, sedangkan pada line lainnya berwarna putih. Pada white area,
personel yang diperbolehkan masuk ke ruangan white area hanyalah personel
yang telah terkualifikasi. Personel yang akan masuk ke white area harus
mengganti baju grey area dengan baju white area dengan baju terusan bebas serat
dengan penutup kepala, sarung tangan, masker, penutup mata, dan sepatu khusus.
Pakaian kotor di simpan terpisah dalam wadah tertutup dan di cuci secara berkala

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


44

dua kali dalam seminggu. Peraturan ini berlaku untuk semua orang, termasuk
pimpinan dan tamu pabrik.

4.6 Produksi
Departemen Produksi bertanggung jawab untuk memproduksi produk
sesuai dengan target dan JPB (Jadwal Produksi Bulanan) yang ditetapkan bersama
dengan Departemen Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan. Proses
produksi dilaksanakan berdasarkan Prosedur Pengolahan Induk (PPI) yang
disusun oleh R&D dan Process Development dan dikeluarkan oleh Departemen
Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan. Formula dan proses yang
digunakan telah tervalidasi melalui beberapa tahap, seperti percobaan pada skala
laboratorium dan produksi, pravalidasi, dan validasi. Penggunaan PPI bertujuan
untuk memberikan jaminan bahwa produk senantiasa dibuat melalui prosedur
yang tetap dan tervalidasi sehingga kualitas produk selalu terjaga. Selain itu,
penggunaan PPI juga ditujukan untuk memudahkan penelusuran pada proses
produksinya jika ditemukan masalah pada suatu produk. Semua proses produksi
dikerjakan sesuai dengan PPI dan bila ada perubahan dalam proses dilaporkan
dalam Deviation Report (DR) di dalam Catatan Produksi Bets (CPB). Untuk
produk yang telah rilis, pengolahan ulang produk dilakukan melalui pengajuan
Formulir Usulan Pengolahan Ulang (FUPU) dengan persetujuan dari QA.
Pencegahan terjadinya pencemaran silang dan pencampuran bahan
diupayakan melalui pembagian proses produksi dalam line produksi. Proses
dikerjakan dalam ruang yang terpisah sesuai dengan tahapan proses dan terdapat
ruang penyangga di antara kelas yang berbeda. Setiap line produksi mempunyai
ruang timbang yang terpisah. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah pencemaran
di ruang timbang. Setiap line juga dilengkapi dengan AHU, pengumpul debu, dan
pengaturan tekanan dalam upaya pencegahan pencemaran, baik kimia maupun
mikroba. Selain itu, terdapat persyaratan penggunaan pakaian yang berbeda-beda
pada tiap kelas.
Kontrol selama proses oleh bagian produksi dilakukan untuk menjamin
kualitas produk . Kontrol ini dilakukan melalui pemeriksaan terhadap parameter-
parameter kritis kualitas produk. Laboratorium kontrol selama proses terletak di

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


45

setiap line produksi dan dilengkapi dengan alat penguji semua sediaan yang
diproduksi. Kontrol selama proses bertujuan mendeteksi langsung penyimpangan
yang terjadi sehingga solusi dapat segera diupayakan. Kontrol proses ini
mengikuti Prosedur Pengolahan Induk (PPI), meliputi jenis uji yang dilakukan,
banyaknya sampel yang diambil, frekuensi pengambilan sampel, titik-titik
pengambilan sampel, dan batas-batas yang masih memenuhi syarat untuk setiap
spesifikasi uji yang dilakukan. Pengawasan mutu produk antara dan produk jadi
juga dilakukan oleh Departemen Pengawasan Mutu. Produk antara boleh di kemas
hanya jika sudah dinyatakan memenuhi persyaratan dan dirilis oleh Departemen
Pengawasan Mutu.
Pada proses pengemasan produk PT. Kalbe Farma, Tbk. dapat dilakukan
secara manual maupun otomatis. Hal ini disesuaikan dengan mesin yang
digunakan pada masing-masing line produksi. Setelah produk dikemas, kemudian
dilakukan pemeriksaan oleh Bagian Penjaminan Mutu untuk menentukan apakah
produk dapat dirilis atau tidak. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan hasil bahwa
produk tidak dapat dirilis, akan dilakukan tindakan lebih lanjut, baik berupa
pengolahan ulang, rilis dengan perubahan spesifikasi, ataupun pemusnahan.
Pengolahan ulang untuk produk yang belum dirilis bisa dilakukan bila ada
pengajuan Deviation Report yang disetujui oleh Departemen Produksi, R&D, dan
Pemastian Mutu. Pengolahan ulang produk yang telah rilis dilakukan melalui
pengajuan Formulir Usulan Pengolahan Ulang dengan persetujuan dari
Departemen Pemastian Mutu.
Produk jadi, baik yang dalam status karantina maupun rilis, disimpan di
gudang obat jadi yang terhubung langsung dari ruang produksi sesuai dengan
kondisi penyimpanan yang tertera pada label klaim. Contoh pertinggal (retained
sample) dan PPI dikirim ke bagian Evaluasi Catatan Bets.
Apoteker memegang peranan penting dalam proses produksi. Seorang
apoteker yang menjadi manajer produksi bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
pembuatan obat. Obat dibuat sesuai Cara Pembuatan Obat yang Baik dan
memenuhi spesifikasi kualitas yang ditetapkan dalam batas waktu dan biaya yang
telah ditentukan. Apoteker yang menjadi supervisor produksi akan mengatur dan
memastikan obat dibuat menurut prosedur pembuatan yang telah ditentukan dan

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


46

sesuai jadwal; memeriksa catatan pengolahan batch telah diisi dengan benar; serta
membimbing karyawan dalam bidang teknis dan mengatur ketertiban atau disiplin
karyawan.

4.7 Pengawasan Mutu


Pelaksanaa pengawasan mutu di PT. Kalbe Farma, Tbk. dilakukan oleh
bagian Pengawasan Mutu (QC) yang berada di bawah departemen Quality
Operation (QO). Pengawasan mutu bertujuan untuk memastikan bahwa tiap obat
yang dibuat senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang sesuai dengan tujuan
penggunaannya. Sesuai dengan yang tertera pada CPOB pula, bagian ini
sebaiknya independen dan terpisah dari produksi.
Tugas utama bagian pengawasan Mutu adalah mengontrol kualitas dari
bahan awal (bahan baku dan bahan kemas) sejak masuk ke gudang hingga
menjadi produk jadi yang siap dipasarkan. Pemeriksaan di bagian Pengawasan
Mutu meliputi pemeriksaan bahan baku, produk ruahan, produk jadi, dan bahan
kemas. Pemeriksaan yang dilakukan berupa pemeriksaan fisik, kimia, dan
mikrobiologi. Bagian ini bertanggung jawab dalam menganalisa semua bahan
baku dan produk jadi menggunakan metode analisis yang telah disusun oleh
bagian Analytical Development, departemen R&D. Selain itu, bagian Pengawasan
Mutu juga melakukan pemeriksaan bahan kemas dan wadah menggunakan
metode analisis tertentu yang ditetapkan oleh bagian Packaging Development.
Kalibrasi peralatan dan validasi metode analisis dilakukan sesuai jadwal
untuk menjamin agar peralatan dan metode analisa yang digunakan memberikan
hasil pengukuran yang tepat. Peralatan yang digunakan untuk analisis selalu
dalam keadaan terkalibrasi. Jika ada alat yang belum dikalibrasi, alat tersebut
tidak boleh digunakan. Pada setiap alat ditempel label yang menandakan kondisi
alat, tanggal kalibrasi terakhir, dan tanggal kalibrasi selanjutnya. Dengan adanya
label tersebut, dapat dicegah penggunaan alat yang tidak terkalibrasi. Prosedur
Tetap (protap) disediakan untuk semua alat di Laboratorium Pengawasan Mutu
dan diletakkan di dekat alat untuk memudahkan operator atau personel lain dalam
menggunakan alat yang bersangkutan.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


47

Alat pelindung diri (APD) disediakan untuk keselamatan personil, seperti


masker, kaca mata pelindung, sarung tangan, dan pembasuh mata. Baku
pembanding disimpan dalam kondisi yang sesuai. Pada wadahnya terdapat label
informasi mengenai nama zat, nama penyalur, kadar, tanggal bahan datang, dan
jenis stok. Hal ini telah sesuai dengan aturan CPOB.
Ruang laboratorium untuk pemeriksaan di bagian Pengawasan Mutu telah
sesuai dengan aturan CPOB, seperti persyaratan spesifikasi ruangan, desain
ruangan, dan tempat pembuangan limbah. Laboratorium memiliki letak yang
terpisah dengan ruang produksi. Ruang laboratorium mikrobiologi juga terpisah
dari ruang laboratorium lainnya. Pada laboratorium ini disediakan peralatan yang
ditujukan untuk pengujian mutu obat.

4.8. Inspeksi Diri, Audit Mutu dan Audit & Persetujuan Pemasok
Untuk menilai kesesuaian seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu
dalam industri farmasi dengan ketentuan CPOB serta mengevaluasi dan
menentukan tindakan apa yang harus diambil sebagai langkah korektif jika terjadi
suatu penyimpangan, maka diperlukan adanya langkah mandiri dari industri
tersebut, yaitu dengan melaksanakan inspeksi diri dan audit mutu. CPOB
mensyaratkan agar kegiatan ini dilakukan secara teratur.
PT. Kalbe Farma, Tbk. telah melaksanakan program inspeksi diri melalui
Departemen Pemastian Mutu. Inspeksi tersebut mencakup kesesuaian dengan
sistem atau regulasi yang berlaku dan penilaian aspek produksi melalui inspeksi
proses yang dilakukan secara berkala. Pelaksanaan inspeksi diri di PT. Kalbe
Farma, Tbk. diwujudkan dalam bentuk audit internal yang dilakukan secara rutin.
Audit internal dilakukan dua kali dalam setahun oleh suatu tim internal PT. Kalbe
Farma, Tbk. yang telah terlatih dan tersertifikasi. Pelaporannya meliputi hasil
audit, penilaian dan kesimpulan, serta usulan tindakan perbaikan. Berdasarkan
laporan audit, manajemen perusahaan akan mengevaluasi dan mengambil
tindakan perbaikan yang diperlukan.
Audit eksternal dilakukan oleh auditor dari Badan Sertifikasi Nasional
yang menilai kelayakan penerapan ISO 9001. Saat ini, PT. Kalbe Farma, Tbk.
telah berhasil melakukan resertifikasi ISO 9001 sekaligus memperoleh sertifikasi

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


48

ISO 14001 dan OHSAS 18001/SMK3 yang merupakan sertifikasi terhadap


system manajemen lingkungan dan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan
kerja. Sertifikat lain yang dimiliki adalah sertifikat CPOB. Inspeksi mendadak
oleh Badan POM dapat dilakukan sewaktu-waktu dalam rangka memberikan
bimbingan dan pengawasan terhadap pelaksanaan CPOB. Namun, inspeksi sendiri
dapat dilakukan internal PT. Kalbe Farma, Tbk. Hasil audit disusun dalam
rangkuman audit yang memuat usulan mengenai langkah-langkah/ tindakan
perbaikan.
Bahan awal dan bahan pengemas di PT. Kalbe Farma, Tbk. berasal dari
pemasok yang memenuhi spesifikasi dan telah disetujui oleh bagian Pemastian
Mutu. Pemasok yang telah lulus penilaian atau evaluasi akan disetujui. Evaluasi
ini mempertimbangkan riwayat pemasok dan sifat bahan yang dipasok.

4.9 Penanganan Keluhan terhadap Produk dan Penarikan Kembali


Produk dan Produk Kembalian
Keluhan dapat menyangkut mutu produk, efek samping yang merugikan,
atau masalah efek terapetik dan dapaat berasal dari dalam maupun luar
perusahaan. Keluhan dari dalam perusahaan dapat berasal dari semua pihak yang
berkaitan dengan kegiatan produksi, sedangkan keluhan dari luar dapat berasal
dari distributor, dokter, pasien, apoteker, rumah sakit/klinik, dan pemerintah.
Keluhan dapat disampaikan secara lisan maupun tulisan melalui bagian
pemasaran. Laporan sebaiknya disampaikan dengan menyertakan contoh yang
dikeluhkan. Setiap keluhan dicatat dalam Formulir Keluhan Pelanggan (FKP) atau
Surat Keluhan Pelanggan (SKP) yang kemudian dikirim ke bagian
Pascapemasaran. FKP berisi keterangan antara lain: tanggal penerimaan, nama
dan alamat pengirim, produk yang dikeluhkan (nama produk dan nomor bets)
serta isi keluhan. Bagian ini menangani keluhan dengan cara melihat batch record
dan pengujian terhadap contoh pertinggal akan dilakukan apabila diperlukan.
Catatan tertulis mengenai semua keluhan dibuat dan ditangani oleh bagian yang
terkait sesuai dengan jenis keluhan yang diterima. Misalnya keluhan menyangkut
mutu ditangani oleh bagian Pengawasan Mutu, sedangkan keluhan dan laporan
mengenai efek samping dan reaksi obat ditangani oleh bagian medis di bagian

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


49

pemasaran. Atas dasar hasil evaluasi dan penelitian terhadap keluhan yang ada,
bagian Pascapemasaran membuat jawaban atas keluhan dan bila perlu meminta
saran dari pihak terkait. Tindak lanjut yang dilakukan adalah tindakan
perbaikan/pencegahan atau bila ternyata keluhan yang dikirimkan dapat
merugikan pelanggan bisa dilakukan penarikan kembali. Hasil evaluasi dan tindak
lanjut yang dilakukan kemudian dilaporkan kepada bagian terkait dalam
perusahaan antara lain: Bagian Pemasaran, Bagian Pengawasan Mutu, Bagian
Produksi dan direksi.
Penarikan kembali obat dapat berupa penarikan kembali satu atau lebih
bets atau seluruh obat jadi tertentu. Penarikan kembali produk bisa dilakukan
sebagai tindak lanjut dari evaluasi terhadap adanya keluhan. Penarikan
berdasarkan evaluasi dilakukan bila produk tidak memenuhi persyaratan mutu
atau atas dasar pertimbangan efek samping. Selain itu, penarikan kembali produk
bisa terjadi karena adanya Surat Perintah Penarikan Produk yang dikeluarkan oleh
Badan POM (SPPP BPOM). Dengan adanya SPPP BPOM maka perlu dilakukan
evaluasi terhadap contoh pertinggal (retained sample) sesuai nomor bets yang
dimaksud. Jika hasil evaluasi sesuai dengan SPPP BPOM, bagian Pengawasan
Mutu akan menindaklanjuti pelaksanaan penarikan yaitu pembuatan SPPP ke
pelanggan yang dilakukan dalam waktu satu minggu. Setelah penarikan produk,
dilakukan tindak lanjut berupa pemusnahan ataupun pengerjaan ulang. Selain itu
perlu dibuat laporan penarikan produk yang ditujukan ke Badan POM. Penarikan
produk dari produsen dilakukan dengan prosedur yang sama dengan penarikan
karena adanya SPPP BPOM. Pemusnahan produk hasil penarikan dilaksanakan
dengan memakai jasa pihak dari luar PT. Kalbe Farma, Tbk.
Produk kembalian adalah obat jadi yang telah beredar, yang kemudian
dikembalikan ke industri farmasi karena keluhan mengenai kerusakan, daluwarsa,
atau alasan lain misalnya kondisi wadah atau kemasan yang dapat menimbulkan
keraguan akan identitas, mutu, jumlah dan keamanan obat yang bersangkutan.
Produk obat yang dikembalikan akan diganti oleh PT. Kalbe Farma, Tbk. Jika
setelah dilaksanakan evaluasi ternyata kerusakan tersebut diakibatkan oleh
kesalahan dari pihak perusahaan atau produk yang dikembalikan belum melewati
batas waktu pengembalian yang telah ditetapkan yaitu 1 bulan sebelum atau 4

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


50

bulan setelah tanggal kadaluwarsa. Selain itu semua produk kembalian harus
masih berada dalam kemasan aslinya. Semua obat kembalian tersebut akan
dikarantina di gudang obat jadi sambil menunggu hasil evaluasi dari
pascapemasaran untuk menentukan apakah obat kembalian tersebut dapat
dikembalikan ke persediaan gudang, dikemas ulang, diolah ulang, atau ditolak.
Obat kembalian yang ditolak mendapatkan tanda ditolak berdasarkan surat
penolakan oleh bagian pengawasan mutu. Pemusnahannya tidak dilakukan sendiri
oleh PT. Kalbe Farma, Tbk, tetapi melibatkan pihak dari luar.

4.10 Dokumentasi
Dokumentasi adalah aspek esensial dalam industri farmasi dalam rangka
memenuhi persyaratan CPOB. PT. Kalbe Farma, Tbk membagi dokumentasi
menjadi empat tingkatan yaitu manual perusahaan, prosedur perusahaan, dokumen
pendukung, dan rekaman perusahaan. Dokumentasi di PT. Kalbe Farma, Tbk
dibuat dan disusun oleh departemen yang berkaitan dengan jenis dokumen yang
dibuat. Dokumentasi seperti spesifikasi dan metode analisa pemeriksaan bahan
atau produk disusun oleh Departemen R&D bagian Analytical Development,
sedangkan dokumen hasil pemeriksaan mutu dibuat oleh Departemen Pengawasan
Mutu (QC). Dokumen formula, prosedur, metode, dan instruksi dalam proses
produksi disusun oleh bagian Departemen R&D dalam bentuk PPI. Pelaksanaan
proses produksi didokumentasikan oleh departemen produksi yang ditulis dalam
PPI yang telah disediakan. Dokumen pelaksanaan produksi akan diperiksa oleh
bagian Penjaminan Mutu (QA) dan rekaman bets akan ditangani oleh bagian
Pemastian Mutu (QA) dalam bentuk Catatan Pengolahan Bets (CPB). Dokumen
rekaman bets ini harus disimpan minimal 1 tahun setelah waktu kadaluarsa produk
jadi.
Penataan dokumen secara sistematis telah dilakukan oleh PT. Kalbe
Farma, Tbk. Penataan ini dilakukan untuk memudahkan dalam pencarian
dokumen. Penataan dan pengelolaan dokumen dilakukan oleh Departemen
Quality System (QS) dan juga oleh departemen lain yang terkait. Di samping
sistem dokumen secara manual, PT. Kalbe Farma, Tbk. juga menggunakan system
dokumen yang dibangun dalam suatu sistem jaringan komputer yang terintegrasi

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


51

antarbagian sehingga mudah diakses oleh masing-masing bagian yang


membutuhkan. Sistem dokumentasi ini dinamakan Oracle.
Oleh karena banyaknya dokumen dan keterbatasan tempat, PT. Kalbe
Farma, Tbk. menggunakan jasa eksternal dokumentasi PT. Arsip Geoservis
Indonesia (AGI). Bila suatu saat dibutuhkan, dokumen dapat dipanggil
berdasarkan nomor kotak dan nomor bets. Waktu pengiriman yang diperlukan
juga tidak terlalu lama. Bila pemanggilan dilakukan pada pagi hari, maka di siang
harinya dokumen yang diperlukan tersebut sudah datang.

4.11 Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak


Pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak harus dilakukan secara benar,
disetujui dan dikendalikan untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat
menyebabkan pekerjaan atau produk yang dihasilkan tidak memiliki mutu yang
memuaskan. Kontrak tertulis antara Pemberi Kontrak dan Penerima Kontrak harus
dibuat secara jelas untuk menentukan tanggung jawab dan kewajiban masing-
masing pihak.
Dalam pelaksanaannya, PT. Kalbe Farma, Tbk. bertindak baik sebagai
Pemberi Kontrak dalam produksi tol keluar maupun Penerima Kontrak dalam
produksi tol masuk. Pelaksanaan tol masuk dan tol keluar bergantung pada
kontrak pemanufakturan, misalnya kontrak dimana pabrik lain memberikan
produk ruahan dan PT. Kalbe Farma, Tbk. hanya memproses tahap
pengemasannya atau kontrak yang menyangkut proses awal higga akhir produksi.
Begitu pula halnya dengan tol keluar dari PT. Kalbe Farma, Tbk. ke pabrik lain.
Sebelum melakukan tol keluar, PT. Kalbe Farma, Tbk. terlebih dahulu
melakukan seleksi rekanan tol keluar. Tujuan dari seleksi ini adalah agar produk
tol keluar yang dihasilkan memenuhi persyaratan kualitas PT. Kalbe Farma, Tbk.
Tahapan seleksi ini dimulai dari pengajuan rekanan tol keluar ke Manager
Departemen Perencanaan Produksi dan Pengendalian Persediaan yang selanjutnya
diteruskan ke Manajer Departemen Pemastian Mutu untuk dilakukan audit. Untuk
memantau kualitas produk yang dihasilkan oleh rekanan tol keluar maka
dilakukan Audit Rekanan tol keluar secara berkala.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


52

Audit merupakan syarat kerjasama untuk perusahaan yang akan menerima


tol keluar PT. Kalbe Farma, Tbk. Audit dilaksanakan dua tahun sekali bila
diperlukan. Evaluasi prestasi rekanan tol keluar pemanufakturan dilakukan setiap
enam bulan sekali agar dapat mengevaluasi kinerja rekanan sesuai dengan
keinginan perusahaan. Evaluasi ini meliputi penyerahan, penyimpangan kualitas
dan kelengkapan dokumen.

4.12 Kualifikasi dan Validasi


Kualifikasi dan validasi di PT. Kalbe Farma, Tbk dikoordinasi oleh bagian
Pemastian Mutu (QA). Kualifikasi yang dilakukan oleh PT. Kalbe Farma, Tbk.
meliputi kualifikasi desain, kualifikasi instalasi, kualifikasi operasional dan
kualifikasi kinerja. Keempat kualifikasi tersebut dilaksanakan terhadap instrument
baru pada periode tertentu yang sudah ditetapkan yaitu 3 tahun. Pelaksanaan
kualifikasi tersebut dicatat dan didokumentasikan dalam jadwal kualifikasi alat.
Pelaksanaan kualifikasi mengacu pada prosedur perusahaan pada periode minimal
3 tahun sekali, sedangkan kalibrasi dilakukan 6 bulan sekali bila tidak ada
perubahan signifikan. Kalibrasi dan kualifikasi dapat dilaksanakan di luar jadwal,
yaitu jika diperkirakan terdapat masalah dengan alat.
Dalam melaksanakan validasi, perusahaan mengacu pada Rencana Induk
Validasi (RIV). RIV merupakan dokumen yang merangkum filosofi perusahaan
secara keseluruhan dan pendekatan yang digunakan untuk mengembangkan
kinerja yang baik. Secara garis besar, organisasi validasi terdiri dari tim pengkaji
dan tim pelaksana. Tim pengkaji terdiri dari manajer Departemen R&D, Produksi,
Pemastian Mutu/ Pengawasan Mutu dan Teknik. Sedangkan, tim pelaksana terdiri
dari pengawas, pelaksana, operator, teknisi dan analis dari setiap departemen.
Validasi yang dilakukan di PT. Kalbe Farma, Tbk. meliputi validasi
proses, validasi fasilitas dan sarana penunjang, validasi pembersihan serta validasi
komputer. Pelaksanaan validasi sesuai dengan urutan prioritas yang tercantum
dalam analisis risiko. Jika terdapat pertimbangan tertentu, seperti terjadinya
penyimpangan signifikan yang harus segera ditindaklanjuti, pelaksanaan validasi
dapat tidak sesuai dengan analisis risiko. Validasi pembersihan dilakukan
terhadap mesin atau peralatan setelah digunakan untuk proses produksi produk

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


53

tertentu atau pengambilan sampel bahan baku tertentu yang ditentukan


berdasarkan analisis resiko. Tiap line produksi memiliki berbagai macam
mesin/alat yang dipakai untuk memproduksi berbagai macam produk dengan
spesifikasi yang berbeda, sehingga terdapat kemungkinan
terjadinya satu mesin digunakan untuk lebih dari satu macam produk. Analisis
risiko dalam menentukan skala prioritas produk diperlukan dalam melaksanakan
validasi pembersihan ini. Validasi fasilitas dan sistem penunjang dilakukan
terhadap sistem pemanas, ventilasi dan pendingin udara, sistem air, system
kompresi udara, sistem pengumpul debu, sistem gas, sistem pabrik, listrik,
fasilitas dan peralatan.
Untuk memperoleh status valid, suatu proses harus secara konsisten
memenuhi spesifikasi pada semua tahap melalui prosedur yang telah ditetapkan
pada sedikitnya tiga kali pengujian berturut-turut. Jika terjadi modifikasi ataupun
perubahan pada proses, sistem, dan peralatan yang digunakan, revalidasi perlu
dilakukan. Validasi proses harus dapat membuktikan kelayakan suatu proses pada
skala produksi untuk menjamin konsistensi kualitas produk. Validasi proses
terhadap produk-produk baru, dilaksanakan setelah diperoleh formula yang
optimal hasil pra-validasi oleh Departemen Research dan Development. Validasi
proses terbagi menjadi empat macam, yaitu validasi prospektif, validasi konkuren,
validasi retrospektif dan validasi ulang.
Validasi prospektif merupakan validasi yang dilakukan terhadap proses
pembuatan produk baru. Pada proses pembuatan produk baru dapat mengalami
perubahan yang dapat berakibat terhadap karakteristik produk sebelum produk
tersebut didistribusikan atau dipasarkan. Perubahan yang terjadi ini dipantau
selama proses validasi prospektif. Validasi prospektif menyajikan bukti
terdokumentasi bahwa suatu proses, prosedur, kegiatan, sistem, peralatan atau
mekanisme yang digunakan dalam pembuatan obat sesuai dengan tujuannya.
Validasi konkuren merupakan validasi yang dilakukan sambil melakukan
produksi rutin untuk dijual. Jika ada perubahan, baik dari segi sumber bahan baku
serta mesin yang digunakan, dilakukan jenis validasi ini untuk membuktikan
ketangguhan prosesnya berdasarkan parameter validasi yang diujikan. Keputusan
untuk melakukan validasi konkuren harus didokumentasikan dan disetujui oleh

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


54

personil yang berwenang. Persyaratan dokumentasi untuk validasi konkuren


adalah sama seperti yang disebutkan dalam dokumentasi validasi prospektif.
Fasilitas, peralatan dan metode analisa yang digunakan harus sudah tervalidasi
dan terkualifikasi sebelumnya. Pada pelaksanaan validasi prospektif dan konkuren
sendiri memerlukan tiga bets yang memenuhi syarat hasil validasi secara berturut
turut.
Validasi retrospektif merupakan validasi proses pembuatan produk yang
telah dipasarkan yang dilaksanakan berdasarkan data pembuatan, pengujian dan
pengawasan data bets yang dikumpulkan. Validasi retrospektif hanya dapat
diterima untuk proses yang telah tertata dengan baik dan akan tidak sesuai ketika
telah terjadi perubahan dalam komposisi produk, prosedur operasi atau peralatan.
Validasi proses tersebut harus berdasarkan riwayat produk, yang disertai protocol
spesifik dan laporan hasil pengkajian data yang memuat kesimpulan dan suatu
rekomendasi. Jenis validasi proses ini tidak diberlakukan dalam kegiatan
penjaminan mutu di PT. Kalbe Farma, Tbk.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
a. Telah memperoleh pengetahuan dan wawasan mengenai penerapan segala
aspek CPOB di PT. Kalbe Farma, Tbk. yang telah menerapkan Cara
Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dalam rangkaian pembuatan obatnya,
yaitu dalam aspek manajemen mutu, personalia, bangunan dan fasilitas,
peralatan, sanitasi dan higiene, produksi, pengawasan mutu, inspeksi diri, audit
mutu, audit dan persetujuan pemasok, penanganan keluhan terhadap produk
dan penarikan kembali produk, dokumentasi, pembuatan dan analisis
berdasarkan kontrak, kualifikasi dan validasi.
b. Seorang apoteker dalam industri farmasi memiliki peranan yang penting, yaitu
sebagai kepala bagian produksi, kepala bagian pengawasan mutu dan kepala
bagian pemastian mutu. Ilmu dan keterampilan yang dimiliki apoteker harus
dibaktikan secara menyeluruh dalam pekerjaan profesinya di suatu industri
farmasi. Penerapan ilmu dan keterampilan apoteker secara total akan
meningkatkan kualitas produk obat yang dihasilkan oleh industri farmasi
semakin baik dari waktu ke waktu.

5.2. Saran
a. PT. Kalbe Farma, Tbk yang telah menerapkan sistem yang baik, terutama
dalam manajemen proses produksi, pengawasan mutu, dan pemastian mutunya
sebaiknya terus meningkatkan pengkajian dan evaluasi terhadap efektivitas
sistem yang dikelola PT. Kalbe Farma, Tbk. Dengan demikian, kinerja setiap
bagian dalam perusahaan dapat ditingkatkan lebih baik.
b. PT. Kalbe Farma, Tbk. sebaiknya terus meningkatkan pemahaman setiap
karyawannya akan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dalam kaitannya
dengan bidang kerjanya dan secara mendasar. Pemahaman ini pun harus terus
diperbaharui menyesuaikan dengan pembaharuan dari lembaga regulator, yaitu
Badan POM.

55 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


DAFTAR ACUAN

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2012). Peraturan Kepala Badan Pengawas
Obat dan Makanan RI No HK. 03.1.33.12.12.8195 Tentang Penerapan
Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri


Kesehatan Republik Indonesia No 1799/MENKES/PER/XII/2010 tentang
Industri Farmasi. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia


No 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta.

PT. Kalbe Farma, Tbk. (2011). Laporan Tahunan PT. Kalbe Farma. Jakarta

56 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


LAMPIRAN

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


LAMPIRAN

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


Lampiran 1. Struktur Organisasi PT. Kalbe Farma, Tbk.

57 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


UNIVERSITAS INDONESIA

PENETAPAN PRODUK DAN ZAT AKTIF TERBURUK


BERDASARKAN HASIL ANALISIS RESIKO SEBAGAI
BAHAN VALIDASI PEMBERSIHAN MESIN MIXING
DIOSNA P-250

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

ARLIKA RAHAYU, S. Farm.


1206329392

ANGKATAN LXXVII

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
JANUARI 2014

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................i


DAFTAR ISI ....................................................................................................ii
DAFTAR TABEL ............................................................................................iii
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................iv
BAB 1. PENDAHULUAN ...................................................................................1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................1
1.2 Tujuan.................................................................................................2

BAB 2. TINJAUAN UMUM ...............................................................................2


2.1 Pengertian Validasi............................................................................2
2.2 Validasi Pembersihan........................................................................2
2.3 Prosedur Pembersihan.......................................................................4

BAB 3. METODOLOGI PENGKAJIAN. .........................................................12


3.1 Waktu Pelaksanaan Tugas Khusus ...................................................12
3.2 Metode Penentuan Produk dan Zat Aktif Terburuk.....................12

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ..............................................................13


4.1 Hasil...................................................................................................13
4.2 Pembahasan ......................................................................................16

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ..............................................................20


5.1 Kesimpulan........................................................................................20
5.1 Saran ..................................................................................................20

DAFTAR ACUAN ...............................................................................................21


LAMPIRAN...........................................................................................................22

ii

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Produk yang Diproduksi oleh Mesin Mixing Diosna P- 250.......... 13
Tabel 4.2 Analisis Resiko Produk.................................................................... 15

iii

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Hasil Analisis Resiko. ............................................................. 22

iv

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap industri farmasi harus memenuhi persyaratan Cara Pembuatan Obat
yang Baik (CPOB) untuk menjamin agar obat dibuat secara konsisten, memenuhi
persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Aspek
yang diatur dalam CPOB yaitu manajemen mutu; personalia; bangunan dan
fasilitas; peralatan; sanitasi dan higiene; produksi; pengawasan mutu; inspeksi
diri, audit mutu, dan audit persetujuan pemasok; penanganan keluhan terhadap
produk dan penarikan kembali produk; dokumentasi; pembuatan dan analisis
berdasarkan kontrak dan kualifikasi dan validasi. Aspek tersebut mencakup
seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu karena mutu obat terbentuk dari
sepanjang proses pembuatan obat (BPOM, 2012).
Salah satu aspek dalam cara pembuatan obat yang baik adalah mengenai
kualifikasi dan validasi. CPOB mensyaratkan industri farmasi untuk
mengidentifikasi validasi yang perlu dilakukan sebagai bukti pengendalian
terhadap aspek kritis dari kegiatan yang dilakukan. Validasi yang dipersyaratkan
oleh CPOB antara lain mengenai validasi proses, validasi pembersihan, dan
validasi metode analisis.
Salah satu validasi yang di lakukan oleh PT. Kalbe Farma. Tbk adalah
validasi pembersihan dimana validasi pembersihan adalah tindakan pembuktian
yang didokumentasikan bahwa prosedur pembersihan yang disetujui akan
senantiasa menghasilkan peralatan bersih yang sesuai untuk pengolahan obat
(Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012). Validasi pembersihan ini penting
karena bertujuan untuk menghindari terjadinya pencemaran silang antara produk
sebelumnya terhadap produk selanjutnya yang pada umumnya dibuat
menggunakan peralatan yang sama dan juga digunakan untuk memproduksi
berbagai macam produk lain.
Prosedur dalam melakukan validasi pembersihan ini adalah dengan
melakukan analisis resiko berdasarkan kategori kelarutan zat aktif dalam air,

1 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


2

kategori berdasarkan jumlah bahan aktif, kategori berdasarkan kemudahan


dibersihkan dan kategori berdasarkan LD50.
Salah satu mesin yang menjadi objek validasi pembersihan untuk di
tentukan produk dan zat aktif yang terburuk di PT. Kalbe Farma Tbk. adalah
mesin mixing Diosna P-250 di Line 8 extention yang memproduksi sediaan solid.

1.2 Tujuan
Tujuan pembuatan tugas khusus ini adalah menentukan produk dan zat aktif
terburuk pada mesin mixing Diosna P-250.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


BAB 2
TINJAUAN UMUM

2.1 Pengertian Validasi


Berdasarkan CPOB 2012 validasi adalah suatu tindakan pembuktian
dengan cara yang sesuai bahwa tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem,
perlengkapan atau mekanisme yang digunakan dalam produksi dan pengawasan
akan senantiasa mencapai hasil yang diinginkan. CPOB mensyaratkan industri
farmasi untuk mengidentifikasi validasi yang perlu dilakukan sebagai bukti
pengendalian terhadap aspek kritis dari kegiatan yang dilakukan. Perubahan
signifikan terhadap fasilitas, peralatan dan proses yang dapat memengaruhi mutu
produk hendaklah divalidasi. Pendekatan dengan kajian risiko hendaklah
digunakan untuk menentukan ruang lingkup dan cakupan validasi. Seluruh
kegiatan validasi hendaklah direncanakan. Unsur utama program validasi
hendaklah dirinci dengan jelas dan didokumentasikan di dalam Rencana Induk
Validasi (RIV) atau dokumen setara.

2.2 Validasi Pembersihan


Validasi pembersihan adalah tindakan pembuktian yang didokumentasikan
bahwa prosedur pembersihan yang disetujui akan senantiasa menghasilkan
peralatan bersih yang sesuai untuk pengolahan obat. (Badan Pengawas Obat dan
Makanan, 2012).
Pada prinsipnya produk farmasi dan bahan aktif farmasi dapat
terkontaminasi oleh produk farmasi lainnya dan juga mikroorganisme atau oleh
material lainnya. Prosedur pembersihan ini sangatlah penting karena pada
beberapa kasus adanya penggunaan bersamaan alat atau mesin untuk produk
farmasi atau bahan aktif farmasi yang berbeda (PIC/S, 2007).
Pembersihan adalah penghilangan kontaminan dari permukaan yang
hendak dibersihkan. Kontaminan ini dapat berasal dari bahan lain, produk
intermediate, detergen, mikroorganisme, debu atau lubrikan. Mekanisme
pembersihan meliputi kelarutan, solubilisasi, emulsifikasi, dispersi, pembasahan,

3 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


4

hidrolisis, oksidasi, penghilangan secara fisik dan berdasarkan kerja antimikroba


(LeBlanc, 2000).
Tujuan validasi pembersihan adalah verifikasi keefektifan proses
pembersihan untuk menghilangkan residu produk, degradasi produk atau bahan
pembersih sehingga monitoring analisis dapat diminimalkan pada fase rutin
(PIC/S, 2007).
Berdasarkan CPOB 2012 validasi pembersihan hendaklah dilakukan untuk
konfirmasi efektivitas prosedur pembersihan. Penentuan batas kandungan residu
suatu produk, bahan pembersih dan pencemaran mikroba, secara rasional
hendaklah didasarkan pada bahan yang terkait dengan proses pembersihan, dalam
melakukan validasi pembersihan hendaklah digunakan metode analisis tervalidasi
yang memiliki kepekaan untuk mendeteksi residu atau cemaran. Batas deteksi
masing-masing metode analisis hendaklah cukup peka untuk mendeteksi tingkat
residu atau cemaran yang dapat diterima.

2.3 Prosedur Pembersihan


Biasanya validasi prosedur pembersihan dilakukan hanya untuk
permukaan alat yang bersentuhan langsung dengan produk. Pada prosedur validari
permbersihan ini hendaklah dipertimbangkan juga untuk bagian alat yang tidak
bersentuhan langsung dengan produk. Interval waktu antara penggunaan alat dan
pembersihan hendaklah divalidasi demikian juga antara pembersihan dan
penggunaan kembali. Hendaklah ditentukan metode dan interval pembersihan.
(Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012).
Revalidasi diperlukan bila sering terjadi Out of Specification (OOS) dan
deviasi, adanya perubahan mesin, adanya produk baru, adanya perubahan proses
manufaktur dan adanya perubahan bahan baku. Hal ini diperlukan karena bahan
baku yang berasal dari supplier berbeda mungkin mempunyai sifat fisika dan
profil ketidakmurnian berbeda.
Prosedur pembersihan untuk produk dan proses yang sangat mirip tidak
perlu divalidasi secara terpisah tetapi dipilih produk dan proses yang mewakili

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


5

untuk justifikasi program validasi. Pemilihan produk dan proses berdasarkan


pertimbangan worst case (PIC/S, 2007).

2.3.1 Dokumentasi
Protokol validasi pembersihan harus mencakup (PIC/S, 2007)
1. Tujuan proses validasi
2. Tanggung jawab dalam melakukan dan persetujuan studi validasi
3. Deskripsi mesin yang digunakan
4. Interval antara akhir proses produksi dan mulainya proses pembersihan
5. Prosedur pembersihan yang digunakan untuk masing-masing produk,
masing-masing sistem manufaktur atau masing-masing bagian mesin
6. Jumlah siklus pembersihan yang dilakukan
7. Persyaratan monitoring rutin
8. Proses sampling termasuk penjelasan rasional mengenai metode sampling
tertentu digunakan
9. Tempat sampling yang jelas
10. Recovery studi bila diperlukan
11. Metode analisis termasuk LOD dan LOQ
12. Batas penerimaan termasuk penjelasan rasional dalam menetapkan batas
spesifik
13. Produk lain, proses dan mesin yang direncanakan menggunakan konsep
bracketing
14. Jadwal revalidasi
Protokol tersebut harus disetujui oleh Plant Management untuk menjamin
bahwa protokol telah diketahui dan disetujui oleh management. Departemen
Quality Assurance harus terlibat dalam persetujuan protokol dan laporan.

2.3.2 Metode Sampling (PIC/S, 2007)


Sampling harus dilakukan sesuai protokol validasi pembersihan. Ada dua
metode sampling yang digunakan yaitu swabbing (penyekaan) dan rinsing

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


6

(bilasan). Kombinasi dari kedua metode merupakan kombinasi yang paling


diharapkan.
a. Swabbing
Sampling dengan metode swabbing ini kesesuaian bahan yang akan
digunakan untuk sampling dan media sampling harus ditentukan.
Kemampuan untuk recovery sampel yang akurat mungkin akan
terpengaruh oleh pemilihan sampling bahan. Hal ini penting untuk
memastikan bahwa media sampling dan pelarut bisa mudah digunakan.
b. Rinsing
Sampling dengan metode rinsing memungkinkan sampling pada area yang
lebih luas. Selain itu, metode ini dapat digunakan untuk bagian mesin yang
tidak bisa diakses dengan tangan. Namun perlu dipertimbangkan akan
kelarutan kontaminan dalam medium bilasan.

2.3.4 Kriteria Penerimaan


1. Batas Penerimaan Residu Kimia
Batas residu yang ditetapkan harus dapat dicapai dan dapat diverifikasi
(PIC/S, 2007). Penetapan batas residu tidak bisa secara cukup berfokus
hanya kepada bahan utama saja karena mungkin saja terjadi dekomposisi
bahan yang mungkin lebih sulit untuk dihilangkan. Pendekatan dalam
menentukan batas :
a. Spesifik untuk produk
b. Dikelompokkan dalam famili produk dan memilih produk worst case
c. Mengelompokkan ke dalam kelompok resiko (produk yang sangat
mudah larut, potensi mirip, produk dengan toksisitas tinggi, produk
yang sulit untuk dideteksi).
Batas penerimaan (APIC, 2000) :
a. Berdasarkan dosis terapeutik/ Therapeutic Daily Dose (TDD)
Prinsipnya adalah bahwa zat tidak terkontaminasi pada proporsi tertentu
(biasanya 1/1000 bagian) zat sebelumnya. Metode ini hanya digunakan bila
dosis terapeutik harian diketahui.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


7

×
=
×

MACO : Maximum Acceptable Carry Over (jumlah


maksimum produk sebelumnya yang diizinkan
berada di produk berikutnya)
TDD sebelumnya : Therapeutic Daily Dose sebelumnya (dosis
terapeutik harian produk sebelumnya
MBS : Maximum Batch Stage (jumlah bets maksimum
untuk produk berikutnya)
SF : Safety factor
MTDD selanjutnya : Maximum Therapeutic Daily Dose sebelumnya
(dosis terapeutik harian produk sebelumnya)

Bila menggunakan rumus di atas, maka MACO untuk tiap produk akan
berbeda. Oleh sebab itu, untuk produk dengan SF sama, perhitungan MACO
menggunakan konsep worst case, yaitu menggunakan TDD zat aktif yang paling
rendah (zat paling poten) dan perbandingan antara jumlah bets terkecil untuk
seluruh produk dan TDD maksimum.

b. Berdasarkan data toksikologis


Bila dosis terapeutik tidak diketahui (misalnya untuk bahan intermediate atau
untuk detergen), dapat digunakan data toksisitas untuk menghitung MACO

50 × 70
=
2000

×
=
×

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


8

NOEL : No Observed Effect Level (dosis yang tidak


menimbulkan efek farmakologis yang terlihat)
LD 50 : Dosis letal 50 dalam g/kg hewan coba
70 : berat rata-rata dewasa (kg)
2000 : Konstanta

Nilai SF bervariasi tergantung rute administrasi obat:


1. Topikal (10-100)
2. Oral (100-1000)
3. Parenteral (1000-10000)

c. General Limit
Jika metode berdasarkan dosis terapi atau data toksikologi menghasilkan angka
carryover sangat tinggi atau tidak relevan, atau data toksikologi untuk
intermediet tidak dikenal, dapat digunakan cara berikut ini. General limit ini
sering ditetapkan sebagai batas atas untuk konsentrasi maksimum
(MAXCONC) suatu zat yang dapat mencemari pada batch berikutnya.
Konsentrasi zat yang dapat diterima pada batch berikutnya, menurut
perhitungan sebagai berikut:

= ×

MACO : Maximum Acceptable Carry Over (jumlah


maksimum produk sebelumnya yang diizinkan
berada di produk berikutnya). Dihitung dari data
toksikologi dan dosis terapetik.
MACOppm : Maximum Acceptable Carry Over (jumlah
maksimum produk sebelumnya yang diizinkan
berada di produk berikutnya). Dihitung dari batas

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


9

ppm umum
CONC : Konsentrasi (kg / kg atau ppm) dari produk
sebelumnya pada batch berikutnya. Berdasarkan
MACO dihitung dari dosis terapi dan / atau
Data toksikologi.
MAXCONC : Konsentrasi maksimum (kg/kg or ppm) yang
diijinkan pada produk sebelumnya untuk berada di
batch berikutnya
MBS : Minimum Batch Size untuk produk berikutnya

Batas general limit 10 ppm atau 100 ppm (tergantung kebijakan masing -
masing institusi). (APIC, 2000)

d. Swab Limit
Jika distribusi homogen diasumsikan berada pada semua permukaan, nilai yang
direkomendasikan dapat ditetapkan untuk digunakan dalam swab. Hal ini dapat
digunakan sebagai informasi dasar untuk persiapan metode analisis dan batas
deteksi. Cara menetapkan nilai batas swab menggunakan cara:
μg [ ]
Target value [ ]=
dm [dm ]

2. Batas Penerimaan Residu Mikrobiologi


Penetapan batas penerimaan untuk kontaminasi mikroba lebih sulit
daripada penetapan batas residu kimia. Berbeda dengan batas penetapan batas
residu kimia, tidak ada panduan resmi untuk penetapan batas residu mikrobiologi.
Batas umum untuk residu mikrobiologi yaitu sebesar 50 CFU/contact plate
berdasarkan pedoman CPOB 2012 mengenai batas mikroba untuk ruang kelas D.
Persyaratan batas mikroba menurut CPOB 2012 :

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


10

Kelas Jumlah mikroba (CFU/plate)


A <1
B 5
C 25
D 50

Batas penerimaan residu mikrobiologi untuk air bilasan mengacu kepada


persyaratan USP, yaitu Purified water mempunyai angka mikroba ≤100 CFU/ml
dan mempunyai hasil negatif terhadap uji E.coli dan Pseudomonas.

2.3.5 Metode untuk Mendeteksi Hasil Pembersihan (ISPE, 2011)


Ada beberapa metode untuk deteksi residu proses. Metode tersebut
seperti pemeriksaan visual, konduktivitas, TOC dan metode analisis spesifik zat.
a. Pemeriksaan visual
Pemeriksaan visual memungkinkan deteksi kontaminan pada konsentrasi
kecil yang mungkin tidak dapat dideteksi dengan metode analisis lain.
Semua permukaan harus bersih secara visual. Metode visual ini adalah
metode paling sesuai untuk produk dengan resiko rendah atau produk
dengan resiko tinggi yang dapat dideteksi mudah secara visual.
b. Konduktivitas
Metode ini digunakan untuk mendeteksi residu senyawa bermuatan.
Metode ini sesuai untuk produk dengan resiko rendah tetapi juga untuk
produk dengan resiko tinggi bila telah dijustifikasi secara saintifik.
c. Total Organic Carbon (TOC)
Metode ini bersifat sederhana, cepat dan dapat mendeteksi residu dengan
kadar rendah. TOC adalah metode deteksi pilihan pertama ketika
dilakukan sampling dengan metode swabbing. TOC sesuai untuk proses
pembersihan senyawa dengan resiko rendah hingga tinggi.
d. HPLC
HPLC merupakan metode yang sensitif dan banyak digunakan dalam studi
validasi pembersihan. HPLC merupakan metode yang spesifik dan dapat

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


11

memberikan mengenai residu yang spesifik. HPLC dipilih ketika metode


visual dan TOC tidak dapat digunakan.

2.3.6 Worst Case Rating (Satinder et al, 2012)


a. Kelarutan zat aktif
b. Toksisitas maksimum
c. Dosis terapetik minimun
d. Kemudahan dalam membersihkan
e. Batas terendah dari dosis terapetik/ data toksisitas, ukuran batch, luas
permukaan, dan lain – lain

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


BAB 3

METODOLOGI PENGKAJIAN

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tugas Khusus


Tugas khusus dilaksanakan selama Praktek Kerja Profesi Apoteker periode
14 Agustus - 30 Agustus di Departemen Quality Assurance, PT. Kalbe Farma,
Tbk. yang berlokasi di jalan M. H. Thamrin Blok A1-3, kawasan industri Delta
Silicon, Lippo Cikarang, Bekasi.

3.2 Metode Penentuan Produk dan Zat Aktif Terburuk


Urutan langkah dalam menentukan produk dan zat aktif terburuk adalah
sebagai berikut :
1. Mendata semua produk yang diproduksi oleh mesin tersebut
2. Mendata zat aktif dari masing-masing produk
3. Mendata data toksisitas LD50 untuk masing – masing zat aktif
4. Mendata kelarutan masing – masing zat aktif dalam air
5. Mendata jumlah zat aktif
6. Mendata kemudahan dibersihkan masing – masing zat aktif
7. Pemberian skor terhadap toksisitas LD50, kelarutan masing – masing zat
aktif dalam air, jumlah zat aktif, dan kemudahan dibersihkan masing –
masing zat aktif
8. Melakukan analisis risiko berdasarkan kategori toksisitas LD50, kategori
kelarutan zat aktif dalam air, kategori berdasarkan jumlah bahan aktif, dan
kategori berdasarkan kemudahan dalam membersihkan masing – masing
zat aktif.
9. Menetapkan produk dan zat aktif terburuk berdasarkan hasil analisis risiko

12 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Pendataan Produk yang Diproduksi oleh Mesin Diosna P-250
Mesin Mixing Diosna P-250 di Line 8 extention adalah mesin yang
memproduksi beberapa sediaan tablet. Produk sediaan yang diproduksi oleh
mesin ini yaitu :

Tabel 4.1 Produk yang Diproduksi oleh Mesin Mixing Diosna P-250

NO NAMA Zat Aktif


1 Angioten Tablet Losartan potassium ;50 mg
2 Cholestat 10 mg Simvastatin; 10 mg
3 Cravit 500 mg Tablet Levofloxacin anhydrat; 500 mg
4 Facid 20 mg Tablet Famotidine; 20 mg
Ranitidine HCl equivalen dengan Ranitidine
Hexer150 mg Tablet
5 ;150 mg
6 Hextrofen 100 mg Tablet Ketoprofen; 100 mg
7 Ifen 400 mg Tablet Ibuprofen; 400 mg
8 Kaltrofen 50 mg Tablet Ketoprofen; 50 mg
9 Kaltrofen 100 mg Tablet Ketoprofen; 100 mg
10 Losartan 50 mg Tablet Losartan potassium; 50 mg
11 Svt 20 mg Tablet Simvastatin; 20 mg
12 Tarivid 200 mg Tablet Ofloxacin; 200 mg
13 Tarivid 400 mg Tablet Ofloxacin; 400 mg
14 Divoltar 50 mg Tablet Diclofenac Sodium; 50 mg
15 Glunor 850 mg Tablet Metformin HCl; 850 mg
16 Mycoral 200 mg Tablet Ketoconazole; 200 mg
Ranitidine HCl equivalen dengan Ranitidine
Rantin 150 mg Tablet
17 ;300 mg
Hyosine N-butylbromide 10 mg
18 Spasmacine Kaplet
Paracetamol 500 mg
19 Cravit 250 mg Tablet Levofloxacin anhydrat; 250 mg
Clopidogrel bisulfate 97,69 mg setara dengan
CPG 75 mg Tablet
20 Clopidogrel basa 75 mg
Ferronyl - Iron ;84.7-83 mg
21 Ferofort FC Tablet Ascorbic Acid ;150 mg
Folic Acid ;1 mg
13 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


14

NO NAMA Zat Aktif


Vit B12 (Cyanocobalamin) ;10 mg
Vit B1 (Thiamine HCl) ;3 mg
Vit B2 (Riboflavine) ;3 mg
Vit B6 (Pyridoxine HCl) ;5 mg
Niacinamide ;30 mg
Calcium Pantothenate ;15 mg
ZnSO4.H2O - Zinc ;41.2-15 mg
Lysine
Fexofenadine HCl 60 mg
22 Fexofed Kaplet
Pseudoephedrine HCl 120 mg
23 Mucosulvan Tablet Bromhexine HCl ;8 mg
24 Pospargin 0,125 mg Tablet Methylergometrine Maleate ;0.125 mg
25 Reotal 400 mg Tablet Pentoxifylline ;400 mg
26 Vasdalat 10 mg Tablet Nifedipine ;10 mg
27 Vasdalat 20 mg Tablet Nifedipine ;20 mg
B-carotene ;25 mg
28 Vitalene FilcoTablet Vitamin E ;200 IU
Vitamin C ;500 mg
29 Zofredal 1 mg Tablet Risperidone ;1 mg
30 Zofredal 2 mg Tablet Risperidone ;2 mg
31 Zofredal 3 mg Tablet Risperidone ;3 mg

4.1.2 Impact
Impact A : Kategori produk berdasarkan LD 50
Impact B : Kategori produk berdasarkan kelarutan (dalam air)
Impact C : Kategori produk berdasarkan jumlah bahan aktif
Impact D : Kategori produk berdasarkan kemudahan dibersihkan

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


15

Tabel 4.2 Analisis Resiko Produk

Impact Subject Kategori Skor

0 – 2000 mg/Kg bb Very High 5

2001 – 4001 mg/Kg bb High 4

A 4002 – 6002 mg/Kg bb Medium 3

6003 – 8003 mg/Kg bb Low 2

> 8004 mg/Kg bb Very Low 1

Praktis tidak larut air (1 : > 10000) Very High 5

Sangat sukar larut air (1 : 1001 – High 4


10000)
B
Sukar larut air (1 : 101 – 1000) Medium 3

Agak sukar larut air (1 : 31 – 100) Low 2

Larut air (1 : 1 – 30) Very Low 1

> 72,52 Kg Very High 5

54,39 – 72,51 Kg High 4

C 36,26 – 54,38 Kg Medium 3

18,13 – 36,25 Kg Low 2

0 – 18,12 Kg Very Low 1

Sangat sukar dibersihkan Very High 5

D Sukar dibersihkan Medium 3

Mudah dibersihkan Very Low 1

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


16

Hasil analisis risiko terdapat di Lampiran 1. Hasil tersebut menunjukkan


bahwa produk terburuk adalah Mycoral Tablet dengan zat aktif kondisi
Ketoconazole.

4.2 Pembahasan

PT. Kalbe Farma, Tbk merupakan perusahaan yang memiliki komitmen


untuk membantu masyarakat mewujudkan kesehatan dan kehidupan yang lebih
baik. Dalam mewujudkan komitmennya, PT. Kalbe Farma, Tbk telah menerapkan
Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dalam setiap aspek pembuatan obat,
salah satu aspek CPOB yang telah diterapkan oleh PT. Kalbe Farma, Tbk adalah
mengenai kualifikasi dan validasi dimana salah satu validasi yang dilakukan oleh
PT. Kalbe Farma, Tbk adalah validasi pembersihan. Adapun tujuan dilakukannya
validasi pembersihan tersebut adalah untuk memastikan bahwa validasi
pembersihan tersebut memberikan bukti tertulis dan terdokumentasi bahwa cara
pembersihan yang digunakan tepat dan dapat dilakukan berulang-ulang. Peralatan
atau mesin yang dicuci tidak terdapat pengaruh yang negatif karena adanya efek
pencucian.
Line 8 extention adalah line di PT. Kalbe Farma, Tbk yang menghasilkan
sediaan solid berupa tablet, kaplet, atau kapsul. Salah satu mesin yang terdapat di
line 8 extention ini mencakup mesin mixing yang digunakan untuk beberapa
produk. Pada pelaksanaan tugas khusus ini, dilakukan pengkajian analisis resiko
untuk menentukan worst case dari produk dan zat aktif untuk salah satu mesin
mixing di line 8 extention yang bernama mesin mixing Diosna P-250.
Tujuan dilakukannya validasi pembersihan mesin ini adalah agar
pembersihan mesin dilakukan dengan benar sehingga diperoleh mesin yang bebas
dari cemaran dari sisa produk sebelumnya. Pembersihan rutin untuk mesin ini
dilakukan setiap hari setelah selesai proses bila tidak ada pergantian produk,
sedangkan untuk pembersihan berkala dilakukan jika ada pergantian produk,
mesin yang digunakan untuk produk yang sama terus–menerus selama 1 minggu,
dan bila mesin selesai proses dan tidak digunakan lagi maksimal selama 3 hari,

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


17

sedangkan untuk pembersihan ulang dilakukan jika mesin akan dioperasikan lagi
setelah tidak dipakai (idle) selama lebih dari 1 minggu.
Sebelum melaksanakan validasi pembersihan harus disusun terlebih
dahulu protokol validasi pembersihan dimana protokol ini berfungsi sebagai suatu
rencana tertulis mengenai pelaksanaan program validasi yang akan dilaksanakan
termasuk parameter pengujian dan batas pengambilan keputusan terhadap hasil uji
yang dapat diterima. Tujuan pembuatan protokol ini yaitu untuk membuktikan
bahwa prosedur pembersihan mesin dengan produk worst case dan zat marker
setelah dianalisis dengan metode analisis yang telah tervalidasi senantiasa
memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Protokol ini disusun oleh Supervisor
Departemen Quality Assurance (QA) dan harus mendapat persetujuan Manager
Departemen QA, Research and Development (R&D) dan Produksi. Protokol
validasi pembersihan ini harus diterapkan pada 3 batch produk worst case
berturut-turut. Apabila hasil pembersihan dari 3 batch berturut-turut menghasilkan
tingkat pembersihan yang dapat diterima, barulah proses pembersihan ini dapat
diaplikasikan pada proses pembersihan rutin. Setelah protokol validasi ini
disusun, bila ada perubahan parameter kritis, maka prosedur mesin perlu
divalidasi ulang. Namun bila tidak ada perubahan parameter kritis, maka tetap
perlu dilakukan validasi ulang setiap 3 tahun sekali. Parameter kritis pembersihan
merupakan parameter–parameter kritis yang harus dipenuhi dari proses
pembersihan dan merupakan parameter yang memastikan bahwa seluruh kegiatan
berada dalam batas–batas yang termonitor dan terkontrol. Parameter kritis yang
dimaksud mencakup perubahan volume bilasan, waktu proses pembersihan, suhu
air, perubahan sumber bahan baku dan penambahan atau pengurangan produk
yang diproduksi oleh mesin tersebut.
Testing point validasi merupakan pengujian–pengujian yang dilakukan
untuk memastikan bahwa pembersihan yang dilakukan senantiasa memenuhi
spesifikasi, konsisten dan reprodusibel. Contoh dalam testing point validasi antara
lain kadar residu, kadar TOC, jumlah mikroba, dan lain sebagainya.
Kriteria penerimaan yang dilakukan di PT. Kalbe Farma, Tbk dimana hasil
pengujian terhadap 3 kali proses pembersihan memenuhi persyaratan yang telah

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


18

ditentukan. Persyaratan validasi pembersihan di PT. Kalbe Farma, Tbk adalah


sebagai berikut:
1. Visual, secara visual bersih, tidak ditemukan kontaminasi sisa produk
sebelumnya. Tidak ditemukan partikel dan serat yang tertinggal
2. Kontaminasi mikroba, total kontaminasi mikroba pada alat dengan metode
swab test tidak lebih dari 50 CFU per cm2 dan dengan metode rinse test
kontaminasi mikroba tidak lebih dari 100 CFU per ml.
3. Residu TOC bahan aktif, merupakan marker tidak larut air, dengan metode
swab test dan rinse test tidak lebih dari MACO dan / atau general limit (10
ppm)
Dalam penyusunan protokol validasi pembersihan juga dilakukan analisis
resiko. Langkah awal dalam analisis resiko adalah mendata produk yang
diproduksi oleh mesin tersebut dan mendata zat aktif produk tersebut.
Selanjutnya ditentukan produk dan zat aktif worst case menggunakan pembagian
kategori berdasarkan kelarutan zat aktif dalam air, jumlah zat aktif, kemudahan
dibersihkan dan LD50 untuk melihat impact produk tersebut dan untuk pemberian
skor untuk melihat marker produk. Dalam analisis risiko, diperlukan data
kelarutan zat aktif masing-masing produk tersebut dalam air karena proses
pembersihan menggunakan media air. Semakin tidak larut zat dalam air, maka
semakin tinggi skor risikonya. Selain itu, semakin tinggi jumlah zat aktif dalam
produk, maka semakin tinggi skor resikonya. Untuk parameter kemudahan
dibersihkan, semakin sulit dibersihkan, maka semakin tinggi skor risikonya. Skor
1 diberikan untuk produk mudah dibersihkan, skor 3 diberikan untuk produk
mudah sulit dibersihkan dan skor 5 diberikan untuk produk yang sangat sulit
dibersihkan. Sedangkan dari data toksikologi, jika LD50 semakin tinggi maka
semakin rendah resikonya. Dari hasil analisis risiko mesin mixing Diosna P-250
dapat disimpulkan bahwa produk worst case adalah Mycoral tablet yang
mengandung Ketoconazole, dimana dilihat dari kategori LD50 produk ini
memiliki data toksikologi 166 mg/kg pada oral rat yang mendapatkan skor 5
dengan kategori very high, sedangkan berdasarkan kelarutan dalam air produk ini
praktis tidak larut dalam air sehingga skornya adalah 5 dengan kategori very high,

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


19

untuk jumlah zat aktif produk ini yaitu sebesar 66 kg sehingga skornya adalah 4
dengan kategori high dan secara kemudahan dibersihkan produk ini memiliki skor
5 dengan kategori very high yang artinya sangat sukar dibersihkan. Hasil analisis
risiko dapat dilihat di Lampiran 1.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Produk terburuk untuk mesin mixing Diosna P-250 adalah Mycoral Tablet
dengan zat aktif adalah Ketoconazole.

5.2. Saran
Perlu dilanjutkan dengan pembuatan protokol validasi pembersihan untuk
mesin Diosna P-250 serta keterlibatan mahasiswa dalam proses validasi
pembersihan di lapangan.

20 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


DAFTAR ACUAN

Active Pharmaceutical Ingredients Committee. (2000). Guidance on Aspects of


Cleaning Validation in Active Pharmaceutical Ingredient Plants. Brussels.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2012). Peraturan Kepala Badan Pengawas
Obat dan Makanan RI No HK. 03.1.33.12.12.8195 Tentang Penerapan
Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta.

LeBlanc, Destin A. (2000). Cleaning Technologies for Pharmaceutical


Manufacturing. USA : CRC Press.

Pharmaceutical Inspection Convention Pharmaceutical Inspection Co-operation


Scheme. (2007). Recommendations on Validation Master Plan,
Installation and Operational Qualification, Non-Sterile Process
Validation, Cleaning Validation. Geneva.

Walsh, Andrew. (November/Desember 2011). Cleaning Validation for the 21st


Century : Overview of New ISPE Cleaning Guide. Pharmaceutical
Enginnering, 1-7.

21 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


LAMPIRAN

Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014


Lampiran 1. Hasil Analisis Risiko
SKOR SKOR SKOR SKOR
TOTAL
NO NAMA API Kategori A IMPACT Kategori B IMPACT Kategori C IMPACT Kategori D IMPACT
SKOR
A B C D
1000 mg/kg [oral , rat] Sangat mudah larut 25 Mudah dibersihkan
1 Losartan potassium ;50 mg 5 1 2 1 9
Angioten Tablet
2 Sangat sukar
Tidak larut 2.6
Simvastatin; 10 mg 4438 mg/kg [oral , rat] 3 5 1 dibersihkan 5 14
Cholestat 10 mg
Levofloxacin anhydrat; 500 1507 mg/kg [oral , rat] Tidak mudah larut 54.9 Sukar dibersihkan
3 5 2 2 3 12
Cravit 500 mg Tablet mg
Sangat sukar
4 Sangat sukar larut 3
Famotidine; 20 mg 4049 mg/kg [oral , rat] 3 4 1 dibersihkan 5 13
Facid 20 mg Tablet
Ranitidine HCl equivalen 4190 mg/kg [oral , rat] Sangat mudah larut 41.6 Mudah dibersihkan
5 Hexer150 mg Tablet 3 1 3 1 8
dengan Ranitidine ;150 mg
Sangat sukar
6 Praktis tidak larut 11
Ketoprofen; 100 mg 62.4 mg/kg [oral , rat] 5 5 1 dibersihkan 5 16
Hextrofen 100 mg Tablet
Sangat sukar
7 Praktis tidak larut 60
Ibuprofen; 400 mg 636 mg/kg [oral , rat] 5 5 4 dibersihkan 5 19
Ifen 400 mg Tablet
Sangat sukar
8 Praktis tidak larut 7.5
Ketoprofen; 50 mg 62.4 mg/kg [oral , rat] 5 5 1 dibersihkan 5 16
Kaltrofen 50 mg Tablet
Sangat sukar
9 Praktis tidak larut 11
Universitas Indonesia

Ketoprofen; 100 mg 62.4 mg/kg [oral , rat] 5 5 1 dibersihkan 5 16


Kaltrofen 100 mg Tablet
1000 mg/kg [oral , rat] Sangat mudah larut 25 Mudah dibersihkan 9
10 Losartan potassium; 50 mg 5 1 2 1
Losartan 50 mg Tablet

22
Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014
SKOR SKOR SKOR SKOR
TOTAL
NO NAMA API Kategori A IMPACT Kategori B IMPACT Kategori C IMPACT Kategori D IMPACT
SKOR
A B C D
Sangat sukar
11 Tidak larut 2.6
Simvastatin; 20 mg 4438 mg/kg [oral , rat] 3 5 1 dibersihkan 5 14
Svt 20 mg Tablet

3590 mg/kg [oral , rat] Sukar larut 50 Sukar dibersihkan


12 Ofloxacin; 200 mg 4 3 3 3 13
Tarivid 200 mg Tablet
3590 mg/kg [oral , rat] Sukar larut 64 Sukar dibersihkan
13 Ofloxacin; 400 mg 4 3 2 3 12
Tarivid 400 mg Tablet
Larut dalam air
14 53 mg/kg [oral , rat] 15 Mudah dibersihkan
Diclofenac Sodium; 50 mg 5 dingin 1 1 1 8
Divoltar 50 mg Tablet
1000 mg/kg [oral , rat] M udah larut 90.6 Mudah dibersihkan
15 Metformin HCl; 850 mg 5 1 5 1 12
Glunor 850 mg Tablet
Sangat sukar
16 166 mg/kg [oral , rat] Praktis tidak larut 66
Ketoconazole; 200 mg 5 5 4 dibersihkan 5 19
Mycoral 200 mg Tablet
Rantin 150 mg Tablet Ranitidine HCl equivalen 4190 mg/kg [oral , rat] Sangat mudah larut 41.6 Mudah dibersihkan
17 3 1 3 1 8
dengan Ranitidine ;300 mg
Hyosine N-butylbromide 10 980 mg/kg [oral, rat] M udah larut 0.6 Mudah dibersihkan
5 1 1 1 8
mg
18 Spasmacine Kaplet Larut dalam air
Mudah dibersihkan
Paracetamol 500 mg 1944 mg/kg [oral , rat] 5 mendidih 1 1 7

Levofloxacin anhydrat; 250 1507 mg/kg [oral , rat] Tidak mudah larut 10.8 Sukar dibersihkan
19 Cravit 250 mg Tablet 5 2 1 5 13
mg
Universitas Indonesia

Clopidogrel bisulfate 97,69 1914 mg/kg [ oral , 17


Praktis tidak larut 21.6 Sangat sukar
20 CPG 75 mg Tablet mg setara dengan rat] 5 5 2 5
Clopidogrel basa 75 mg dibersihkan

23
Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014
SKOR SKOR SKOR SKOR
TOTAL
NO NAMA API Kategori A IMPACT Kategori B IMPACT Kategori C IMPACT Kategori D IMPACT
SKOR
A B C D
30.000 mg/kg [oral , Sangat sukar
Tidak larut 1.38
Ferronyl - Iron ;84.7-83 mg rat] 1 5 1 dibersihkan 5 12

21
11.900 mg/kg [oral ,
Mudah larut 1.36 Mudah dibersihkan
Ascorbic Acid ;150 mg rat] 1 1 1 1 4

> 8000 mg/kg [oral ,


Sangat sukar larut 2.18
Folic Acid ;1 mg rat] 2 4 1 Sukar dibersihkan 3 10

Vit B12 (Cyanocobalamin) 115 mg/kg [oral , rat] Larut 21.8 Mudah dibersihkan
5 1 2 1 9
;10 mg
3710 mg/kg [oral , rat] Mudah larut 13.1 Mudah dibersihkan
Vit B1 (Thiamine HCl) ;3 mg 4 1 1 1 7
Ferofort FC Tablet
980 [oral, rat] Sangat sukar larut 6.53 Sukar dibersihkan
Vit B2 (Riboflavine) ;3 mg 5 4 1 3 13

Vit B6 (Pyridoxine HCl) ;5 4000 [oral, rat] Larut 9.05 Mudah dibersihkan
4 1 1 1 7
mg
3500 mg/kg [oral , rat] Sangat mudah larut 17.9 Mudah dibersihkan
Niacinamide ;30 mg 4 1 1 1 7

>10000 mg/kg [oral ,


Sangat mudah larut Mudah dibersihkan
Calcium Pantothenate ;15 mg rat] 1 1 1 3

ZnSO4.H2O - Zinc ;41.2-15 1710 mg/kg [oral , rat] Mudah larut Mudah dibersihkan
5 1 1 7
mg
10000 mg/kg [oral , rat] Mudah larut Mudah dibersihkan
Lysine 1 1 1 3
Universitas Indonesia

22 Fexofed Kaplet 980 [oral, rat] Sukar larut Sukar dibersihkan 11


Fexofenadine HCl 60 mg 5 3 3

24
Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014
SKOR SKOR SKOR SKOR
TOTAL
NO NAMA API Kategori A IMPACT Kategori B IMPACT Kategori C IMPACT Kategori D IMPACT
SKOR
A B C D

660 [oral, rat] Sangat mudah larut 13.8 Mudah dibersihkan


Pseudoephedrine HCl 120 mg 5 1 1 1 8

6000mg/kg [oral , rat] Sukar larut 7.2 Sukar dibersihkan


23 Bromhexine HCl ;8 mg 3 3 1 3 10
Mucosulvan Tablet
Pospargin 0,125 mg Methylergometrine Maleate 93 mg/kg [oral , rat] Sukar larut 0.036 Sukar dibersihkan
24 5 3 1 3 12
Tablet ;0.125 mg
1772 mg/kg [oral , rat] Larut 36 Mudah dibersihkan
25 Pentoxifylline ;400 mg 5 1 2 1 9
Reotal 400 mg Tablet
Sangat sukar
26 Tidak larut 2
Nifedipine ;10 mg 1022 mg/kg [oral , rat] 5 5 1 dibersihkan 5 16
Vasdalat 10 mg Tablet
Sangat sukar
27 Tidak larut 4.8
Nifedipine ;20 mg 1022 mg/kg [oral , rat] 5 5 1 dibersihkan 5 16
Vasdalat 20 mg Tablet
Sangat sukar
5000 mg kg [oral , rat] Tidak larut
B-carotene ;25 mg 3 5 dibersihkan 5 13

Sangat sukar
4000 mg/kg [oral , rat] Tidak larut 18.7
28 Vitalene FilcoTablet Vitamin E ;200 IU 4 5 2 dibersihkan 5 16

11.900 mg/kg [oral ,


Mudah larut 13.8 Mudah dibersihkan
Vitamin C ;500 mg rat] 1 1 1 1 4
Universitas Indonesia

Sangat sukar 16
29 Praktis tidak larut 0.075
Risperidone ;1 mg 980 mg/kg [oral, rat] 5 5 1 dibersihkan 5
Zofredal 1 mg Tablet

25
Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014
SKOR SKOR SKOR SKOR
TOTAL
NO NAMA API Kategori A IMPACT Kategori B IMPACT Kategori C IMPACT Kategori D IMPACT
SKOR
A B C D

30 Praktis tidak larut 0.3 Sangat sukar


Risperidone ;2 mg 980 mg/kg [oral, rat] 5 5 1 dibersihkan 5 16
Zofredal 2 mg Tablet
Sangat sukar
31 Praktis tidak larut 0.15
Risperidone ;3 mg 980 mg/kg [oral, rat] 5 5 1 dibersihkan 5 16
Zofredal 3 mg Tablet

Keterangan :

Kategori A : Kategori berdasarkan LD50

Kategori B : Kategori berdasarkan kelarutan dalam air

Kategori C : Kategori berdasarkan jumlah zat aktif tiap produk

Kategori D : Kategori berdasarkan kemudahan dibersihkan


Universitas Indonesia

26
Laporan praktek..., Arlika Rahayu, FFar UI, 2014