Anda di halaman 1dari 11

INVESTOR INSTITUSIONAL, INVESTOR ASING DAN KREDITUR

CORPORATE GOVERNANCE

Dosen Pengampu: Dr. Ni Made Dwi Ratnadi, S.E., M.Si., Ak. CA.

Kelompok 9

Ni Kadek Ani Jumariati (1707532004)

Ni Luh Rosa Aprilianti (1707532015)

Ni Komang Megi Megayani (1707532032)

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI REGULER DENPASAR

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2019
Pengertian dan Peran Investor Institusional
Cara investor institusional untuk berperan serta dalam mendorong penerapan GCG
adalah dengan melakukan investasi yang bertanggung jawab. Yang dimaksud dengan
investasi yang bertanggung jawab adalah dengan membuat kebijakan hanya akan melakukan
penempatan investasi pada perusahaan-perusahaan yang menerapkan GCG, dan tentu secara
konsisten menerapkan kebijakan tersebut dalam melakukan investasi. Dengan cara ini,
institusi tersebut bertanggung jawab terhadap masyarakat yang dana-nya mereka kelola,
karena dana tersebut hanya di investasikan pada perusahaan-perusahaan yang memang dapat
dipercaya, sehingga risiko hilangnya dana masyarakat karena penempatan yang salah menjadi
lebih kecil, dan di lain pihak, perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa juga
menjadi lebih memberi perhatian terhadap penerapan GCG karena dengan menerapkan GCG
secara konsisten, saham mereka menjadi lirikan investor dan masuk dalam daftar saham yang
desirable atau ingin dimiliki oleh investor, lebih jauh hal ini akan menaikan nilai saham yang
secara tidak langsung juga menaikan nilai perusahaan.
Tentu untuk bisa menerapkan investasi yang bertanggung jawab dibutuhkan usaha
tambahan oleh investor institusional, karena harus ada fungsi di dalam institusi tersebut yang
bertanggung jawab melakukan analisis secara berkesinambungan terhadap penerapan GCG
perusahaan-perusahaan target dengan menggunakan acuan yang benar sebagai dasar
penerapan GCG.
Hal ini bukan sesuatu yang mustahil jika memang sudah menjadi sebuah itikad dalam
melakukan investasi yang bertanggungjawab, dalam mengelola dana masyarakat. Sebagai
contoh, CalPERS (California Public Employees Retirement System) adalah suatu organisasi
pengelola dana pensiun yang dibentuk pada tahun 1932 di Amerika untuk mengelola manfaat
pensiun dan kesehatan bagi pegawai negeri di negara bagian California (jika melihat
fungsinya, kurang lebih, bisa kita sejajarkan dengan Taspen atau Jamsostek di Indonesia),
dan saat ini memiliki lebih dari 1,3 juta anggota dengan total dana kelolaan senilai US$ 218
milyar per Oktober 2010. CalPERS percaya bahwa penerapan GCG akan memberikan kinerja
investasi yang lebih baik, dan dalam upaya melindungi investornya (nasabah yang dikelola
dananya oleh CalPERS), maka institusi tersebut hanya mau melakukan penempatan investasi
pada perusahaan yang telah lulus seleksi penerapan GCG. CalPERS melakukan review
terhadap kinerja perusahaan tersebut, melihat indikator pengembalian (investment return)
untuk periode 1, 3 dan 5 tahun terakhir dan melakukan pembandingan dengan indeks umum
dan spesifik untuk industri terkait; kemudian CalPERS juga melakukan review terhadap
indikator governance seperti antara lain independensi dewan, mekanisme pengangkatan

1
anggota dewan, kompensasi eksekutif, keragaman kemampuan anggota dewan, pelaksanaan
manajemen risiko, serta isu terkait tanggung jawab sosial dan lingkungan pada perusahaan.
Perusahaan yang gagal memenuhi standar penilaian, tidak akan dijadikan target investasi; dan
bukan hanya itu, CalPERS juga mengumumkan dalam websitenya nama-nama perusahaan
yang masuk dalam daftar yang lolos sensor penerapan GCG dan nama-nama perusahaan yang
dikeluarkan dari daftar tersebut karena dianggap sudah tidak lagi menerapkan GCG; daftar ini
pun diperbaharui secara berkala. Sehingga, hasil analisis mereka bisa dilihat oleh publik, dan
dapat memiliki dampak antara lain, menunjukkan pemenuhan tanggung jawab fidusia mereka
kepada para investor/nasabah yang dananya dikelola; dan daftar tersebut dapat digunakan
sebagai acuan oleh investor lain dalam memilih perusahaan target investasi. Jika daftar
tersebut digunakan sebagai acuan oleh pihak lain, tentunya perusahaan yang masuk daftar
akan senang, tapi tidak demikian dengan perusahaan yang tidak masuk daftar atau bahkan
dikeluarkan dari daftar, karena berarti publik dapat menilai ada sesuatu yang tidak baik dalam
pengelolaan perusahaan tersebut, serta bisa mengakibatkan menurunnya harga saham di
pasar.
Jadi ini saatnya bagi investor untuk melakukan investasi yang bertanggung jawab,
bukan saja hal ini merupakan refleksi dari penerapan GCG, namun juga mendorong
penerapan GCG perusahan-perusahaan di Indonesia.

Pengertian dan Peran Investor Asing


Adapun peran dari Investor Asing, yaitu:
1. investasi asing akan menciptakan perusahaan-perusahaan baru, memperluas pasar
atau merangsang penelitian dan pengembangan teknologi lokal yang baru.
2. investasi asing akan meningkatkan daya saing industri ekspor, dan merangsang
ekonomi lokal melalui pasar kedua (sektor keuangan) dan ketiga (sektor
jasa/pelayanan).
3. investasi asing akan meningkatkan pajak pendapatan dan menambah pendapatan
lokal/nasional, serta memperkuat nilai mata uang lokal untuk pembiayaan impor.
4. pembayaran utang adalah esensial untuk melindungi keberadaan barang-barang
finansial di pasar internasional dan mengelola integritas sistem keuangan. Kedua hal
ini, sangat krusial uuntuk kelangsungan pembangunan.
5. sebagian besar negara-negara Dunia Ketia tergantung pada investasi asing untuk
menyediakan kebutuhan modal bagi pembangunan karena sumberdaya-sumberdaya
lokal tidak tersedia atau tidak mencukupi.

2
6. para penganjur investasi asing berargumen bahwa sekali investasi asing masuk, maka
hal itu akan menjadi batu alas bagi masuknya investasi lebih banyak lagi, yang
selanjutnya menjadi tiang yang kokoh bagi pembangunan ekonomi keseluruhan.

Pengertian dan Peran Kreditur dalam GCG


Kreditur adalah pihak (perorangan, organisasi, perusahaan atau pemerintah) yang
memiliki tagihan kepada pihak lain (pihak kedua) atas properti atau layanan jasa yang
diberikannya (biasanya dalam bentuk kontrak atau perjanjian) di mana diperjanjikan bahwa
pihak kedua tersebut akan mengembalikan properti yang nilainya sama atau jasa. Pihak kedua
ini disebut sebagai peminjam atau yang berhutang. Secara singkat dapat dikatakan pihak yang
memberikan kredit atau pinjaman kepada pihak lainnya.
Kreditur dalam hal ini contohnya bank, bank harus dapat menilai apakah perusahaan
yang mengajukan permintaan kredit mampu mengembalikan pinjaman atau tidak. Kreditur
akan menolak usulan kredit dari suatu perusahaan bila informasi akuntansi perusahaan itu
meragukan atau tidak menunjukkan perkembangan yang positif.
Perusahaan yang mempunyai leverage tinggi mempunyai kewajiban lebih untuk
memenuhi kebutuhan informasi kreditur jangka panjang. Dengan semakin tinggi leverage,
yang mana akan menambah beban untuk program corporate social responsibility menjadi
terbatas atau semakin tinggi leverage, maka semakin rendah program CSR.

GCG dalam Pasar Modal


Adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai
keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam memberikan
pertanggungjawabannya kepada para shareholders khususnya, dan stakeholders pada
umumnya (Cadburry Report ,1992). dimaksudkan pengaturan kewenangan Direktur,
manajer, pemegang saham, dan pihak lain yang berhubungan dengan perkembangan
perusahaan di lingkungan tertentu. diartikan sebagai tata kelola perusahaan. “GCG”
didefinisikan sebagai suatu pola hubungan, sistem, dan proses yang digunakan oleh organ
perusahaan (BOD, BOC, RUPS) guna memberikan nilai tambah kepada pemegang saham
secara berkesinambungan dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan kepentingan
stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan norma yang berlaku.
Good Corporate Governance merupakan Suatu struktur yang mengatur pola hubungan
harmonis tentang peran dewan komisaris, Direksi, Pemegang Saham dan Para Stakeholder
lainnya. Good Corporate Governance merupakan Suatu sistem pengecekan dan perimbangan

3
kewenangan atas pengendalian perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua peluang:
pengelolaan yang salah dan penyalahgunaan aset perusahaan. Good Corporate
Governance merupakan Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan,
pencapaian, berikut pengukuran kinerjanya.
Adanya keseimbangan hubungan antara organ-organ perusahaan di antaranya Rapat
Umum Pemegang Saham (RUPS), Komisaris, dan direksi. Keseimbangan ini mencakup hal-
hal yang berkaitan dengan struktur kelembagaan dan mekanisme operasional ketiga organ
perusahaan tersebut (keseimbangan internal).
Adanya pemenuhan tanggung jawab perusahaan sebagai entitas bisnis dalam
masyarakat kepada seluruh stakeholder. Meliputi hal-hal yang terkait dengan pengaturan
hubungan antara perusahaan dengan stakeholders (keseimbangan eksternal). Misalnya :
pertanggungjawaban kepada para pemegang saham dan stakeholders lainnya.
Adanya hak-hak pemegang saham untuk mendapat informasi yang tepat dan benar pada
waktu yang diperlukan mengenai perusahaan. Kemudian hak berperan serta dalam
pengambilan keputusan mengenai perkembangan strategis dan perubahan mendasar atas
perusahaan serta ikut menikmati keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam
pertumbuhannya.
Adanya perlakuan yang sama terhadap para pemegang saham, terutama pemegang
saham minoritas dan pemegang saham asing melalui keterbukaan informasi yang material
dan relevan serta melarang penyampaian informasi untuk pihak sendiri yang bisa
menguntungkan orang dalam (insider information for insider trading).
Pada perusahaan besar dan modern, kepemilikan perusahaan biasanya dipisahkan dari
pengelolaan perusahaan. Dengan pemisahan ini kegiatan pengelolaan diharapkan lebih fokus
dengan ditangani oleh pihak yang profesional. Meskipun memberikan banyak manfaat,
pemisahan antara kepemilikan dan pengelolaan perusahaan dapat menimbulkan masalah yang
dikenal sebagai principal-agent problem. Principal-agent problemadalah masalah yang
muncul karena perbedaan informasi (asymmetric information) antara pemegang
saham (principal) sebagai pihak yang memberikan amanat dengan manajemen (agent)
sebagai pihak yang menerima amanat untuk mengelola perusahaan. Salah satu masalah
dalam principal-agent problem adalah perbedaan kepentingan antara pemegang saham
dengan manajemen. Sebagai contoh, untuk meningkatkan bonus maka manajemen mungkin
akan memoles laporan keuangannya sehingga kinerja perusahaan tampak lebih baik dari yang
sebenarnya. Apabila laporan keuangan tidak akurat maka keputusan investasi yang diambil

4
pemegang saham menjadi tidak tepat. Pada akhirnya hal ini menyebabkan keinginan
pemegang saham untuk memperoleh tingkat keuntungan tertentu menjadi tidak tercapai.
Berkaitan dengan principal-agent problem dimaksud, untuk melindungi kepentingan
pemegang saham harus terdapat suatu struktur dan proses yang mengarahkan dan mengelola
kegiatan perusahaan secara menyeluruh untuk kepentingan pemegang saham dan dengan
memperhatikan kepentingan pemangku kepentingan lain.

Implementasi GCG pada Emiten dan Perusahaan Publik


Good corporate governance (GCG) menjadi sorotan publik. Isu tata kelola yang baik
emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) kian santer karena menyangkut kepentingan
pemegang saham, terutama investor publik. Belakangan ini sejumlah perusahaan publik
terlilit kasus dan dinyatakan pailit. Misalnya, PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk
(CPGT) dan PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk (DAJK). Kabar terbaru terkait PT Nusa
Konstruksi Enjiniring Tbk (DGIK). Emiten konstruksi ini terpapar korupsi proyek rumah
sakit Universitas Udayana di Bali dan Wisma Atlet di Sumatera Selatan. Bukan hanya
petingginya yang dihukum, DGIK sebagai korporasi juga kena getahnya. Di proyek RS
Udayana dan Wisma Atlet ini, hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta
menghukum DGIK untuk membayar uang pengganti senilai Rp 14:48 miliar dan Rp 33,42
miliar. Financial Expert Universitas Prasetiya Mulya, Lukas Setia Atmaja menilai, peran
direktur dan komisaris sangat penting dalam pelaksanaan gcg. Peran itu perlu dimaksimalkan
untuk melindungi seluruh stakeholders perusahaan baik kreditur, pemasok, karyawan, dan
pemerintah.
Ada beberapa pilar GCG, seperti persamaan hak antara pemegang saham. "Jangan
sampai pemegang saham mayoritas menzalimi pemegang saham minoritas," kata Lukas
kepada KONTAN, Senin (27/11). Menurut Lukas, terkait dengan emiten pailit, ada dua
kemungkinan. Pertama, manajemen tak bisa mengelola perusahaan dengan baik sehingga
tidak bisa bersaing. Kedua, perusahaan pailit karena unsur kesengajan. "Namun demikian,
tidak bisa dipungkiri dalam kondisi krisis, perusahaan yang CG-nya jelek akan ambruk
duluan karena masalah kepercayaan dan reputasi," ungkap Lukas. GCG juga bisa diukur dari
kondisi keuangan emiten. Peringkat utang pun menjadi pertimbangan karena acap menjadi
parameter kondisi kesehatan perusahaan.
Penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG) di
Indonesia sudah mengalami perbaikan dibandingkan ketika awal diperkenalkan pascakrisis
ekonomi pada 1998. Ketika itu, perusahaan-perusahaan masih enggan menerapkan prinsip-

5
prinsip GCG yang diwajibkan oleh regulator. Tapi, saat ini sudah banyak perusahaan
memandang GCG tidak lagi sebagai keharusan, melainkan suatu kebutuhan. Pergeseran cara
pandang tersebut dipengaruhi oleh sejumlah manfaat setelah menerapkan prinsip-prinsip
GCG. Dengan penerapan GCG, perusahaan dapat mendulang berbagai manfaat dan
sekaligus dapat mendorong kinerja keuangan karena pengambilan keputusan yang sehat.
Dengan implementasi GCG, pimpinan perusahaan harus mengambil keputusan yang
didasarkan pada keseimbangan dan akuntabilitas. Dengan demikian pengambilan keputusan

diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Perusahaan yang menerapkan


GCG akan dinilai lebih menarik oleh perbankan, sehingga perusahaan bisa mendapatkan
kemudahan pembiayaan. Perusahaan yang mengimplementasikan GCG juga akan lebih
dipercaya oleh investor dan sangat menentukan minat investasi. Perusahaan yang tercatat di
bursa efek atau emiten akan tercipta kepercayaan, dan hal itu akan mendorong investor
membeli saham perusahaan tersebut. Sebaliknya, perusuhaan publik yang tata kelolanya tidak
baik maka sahamnya akan dihindari oleh para pemodal. Tumbuhnya kepercayaan investor
kepada emiten dapat mendongkrak jumlah investor yang masuk ke pasar modal.
Setidaknya, ada lima prinsip GCG yang bisa dijadikan pedoman oleh para pelaku
bisnis, yaitu keterbukaan informasi (transparency), akuntabilitas (accountability),
pertanggungjawaban (responsibility), kemandirian (independency), dan kesetaraan dan
kewajaran (fairness) yang biasanya diakronimkan menjadi TARIF. Perusahaan-perusahaan
yang menjalankan prinsip keterbukaan informasi dituntut untuk menyediakan informasi yang
cukup, akurat, tepat waktu kepada semua pemangku kepentingan. Perusahaan yang
menerapkan prinsip akuntabilitas secara efektifmensyaratkan adanya kejelasan akan fungsi,
hak, kewajiban, wewenang serta tanggung jawab antara pemegang saham, dewan komisaris,
dan dewan direksi.Sementara itu, prinsip pertanggung jawaban mengharuskan kepatuhan
perusahaan terhadap peraturan yang berlaku, di antaranya masalah pajak, hubungan
industrial, kesehatan dan keselamatan keria, perlindungan lingkungan hidup, memelihara
lingkungan bisnis yang kondusif bersama masyarakat dan sebagainya. Prinsip kemandirian
mensyaratkan agar perusahaan dikelola secara profesional tanpa ada benturan kepentingan
dan tanpa tekanan atau intervensi dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan-
peraturan yang berlaku. Prinsip kesetaraan dan kewajaran menuntut adanya perlakuan yang
adil dalam memenuhi hak para pemangku kepentingn (stakeholders) sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.
Penerapan GCG di Indonesia bisa dibilang telah mengalami perbaikan dari tahun ke

6
tahun. Mengutip data Asean CG Score Card, penerapan CG di Indonesia pada 2013 mendapat
skor 54,55 atau lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya dengan skor 43,25. Kendati
demikian, dibandingkan dengan lima negara Asean lainnya, pelaksanaan GCG di Indonesia
pada tahun lalu masih kalah dari Malaysia (skor 71,69), Filipina (57,99), Singapura (71.68)
dan Thailand (75,39). Indonesia hanya unggul dari Vietnam yang mendapat skor 33,87.
Data dari Asean CG Scorcard tersebut bisa menjadi acuan untuk memacu lebih banyak
lagi emiten di Indonesia yang meningkatkan tata kelola yang baik. Alasannya, Asean GC
Score Card sendiri merupakan salah satu implementasi dari rencana integrasi pasar modal
Asean dalam rangka menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tahun 2015. Tidak
hanya dalam skor CG, Indonesia juga kalah dalam hal jumlah emiten. Hingga November
2014, jumlah perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BE) sebanyak 502 emiten, di
bawah Malaysia yang mencatatkan 910 emiten dan Singapura 776 emiten. Indonesia bersaing
dengan Thailand yang memiliki 585 emiten dan diatas Filipina dengan 257 emiten.
Penerapan prinsip-prinsip GCG tidak hanya dijalankan oleh emiten. Semua pemegang saham
(shareholders) maupun pemangku kepentingan harus memiliki komitmen yang sama untuk
menjalankan prinsip-prinsip GCG. Komitmen untuk menjalankan prinsip-prinsip GCG sangat
diharapkan sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing perusahaan-perusahaan Indonesia
agar bisa disejajarkan dengan perusahaan di Asean saat implementasi MEA 2015.

Kasus Bank Global


Secara kronologisnya, kasus Bank Global mulai tercatat pada 31 Mei 2004
dimana Surat Bank Indonesia No 6/38/DPwB11/Rahasia perihal Tingkat Kesehatan
Bank Global, yang menerangkan Bank Global tergolong bank sehat, dan pada 10 September
2004, Bank Global dinyatakan sebagai bank umum peserta penjamin pemerintah oleh Depkeu
Unit Pelaksana Penjamin Pemerintah. Namun pada 13 Desember 2004 Bank Global
kemudian dinyatakan dalam status Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU).
Kemudian pada 13 Januari 2005 Bank Global telah dicabut izin usahanya
oleh Gubernur BI berdasarkan Keputusan Gubernur BI No 7/2/Kep.GBI/2005. Setelah
dicabut, Menkeu RI meminta kepada BPKP untuk melakukan verifikasi atas data informasi
kewajiban Bank Global dan menyampaikan ke Menkeu. Lalu pada 7 November 2005,
Menkeu telah meminta nasabah Bank Global untuk mengajukan tagihan atas kewajiban Bank
Global, di mana pengajuan tagihan itu disampaikan paling lambat 21 November 2005.
Namun pada 28 Maret 2006, Menkeu mengeluarkan surat keputusan SR-47/MK.01/2006 soal
penyelesaian penjamiman nasbah eks PT Bank Global Internasional ternyata tidak dijamin.

7
Akibat putusan itu, nasabah Bank Global melakukan somasi kepada Menkeu untuk
mengeluarkan putusan pencairan simpanan pada 8 Agustus 2006. Karena tidak ditanggapi,
maka nasabah Bank Global mengajukan gugatan ke PTUN Jakarta pada 2 Maret 2007, yang
kemudian berlanjut sampai PK MA.
Dalam Kasus ini PT Bank Global telah melanggar prinsip Good Corporate
Governance yang telah ditetapkan, diantaranya adalah Transperency dan Akuntabilitas.
sebagai perusahaan terbuka, semestinya Bank Global transparan dan menerapkan dengan
seksama asas good corporate governance. Tak boleh ada informasi material yang
disembunyikan. Penurunan CAR dari 44,84 % per September 2004 menjadi minus 39 %
dalam tempo dua bulan menunjukkan ada informasi material yang disembunyikan. Para
investor yang hanya mengandalkan data September 2004 tentu akan terkecoh.
Kehancuran Bank Global sangat boleh jadi disebabkan oleh sebuah kolusi antara
pengelola Bank Global dengan Prudence Asset Management (PAM). Bank Global
memperdagangkan surat berharga yang disebut reksadana, di mana para pembelinya adalah
nasabah bank itu. Karena reksadana yang dijual bernama prudence, wajar saja jika orang
langsung menghubungkan dengan PAM. Meski pihak PAM membantah, masyarakat
cenderung berpendapat bahwa reksadana prudence diterbitkan oleh PAM.
Keroposnya pengelolaan manajemen perbankan kita, kelemahan struktural dalam
pengelolaan usaha bank sebagai lembaga kepercayaan, kurangnya transparansi dan
pemahaman nasabah terhadap laporan keuangan bank bersangkutan, serta kelemahan
infrastruktur pengawasan bank, kerapkali menjadi kendala hampir kebanyakan bank di
Indonesia. Mungkin hal ini juga tidak terlepas dari kondisi perbankan nasional secara
menyeluruh.
Sayangnya, lebih dari lima tahun dalam supervisi BPPN (yang telah dilikuidasi) dan BI,
bank-bank besar terutama bank-bank ''pelat merah'' masih sakit. Sampai kini, sektor
perbankan masih harus disusui oleh pemerintah. Memang, krisis telah menciutkan jumlah
bank. Tetapi, pengorbanan masyarakat sungguh luar biasa. Bank telah disuntik obligasi
rekapitalisasi senilai Rp 650 trilyun. Ini belum termasuk dana BLBI senilai Rp 144,5 trilyun.
Kini, apa hasilnya? Dari sekitar Rp 850 trilyun dana masyarakat yang dihimpun di
perbankan, hanya 48% yang disalurkan kembali sebagai kredit. Sisanya menumpuk di BI
dalam bentuk SBI dan obligasi rekapitalisasi yang bunganya dibayar (disubsidi) APBN. Pada
tahun 2004, subsidi bunga obligasi rekapitalisasi itu mencapai sekitar Rp 48 trilyun.
Sehatnya sebuah bank tidak hanya berpatokan pada aset (modal) semata, tetapi juga
harus memperhitungkan faktor manajemen risiko yang meliputi delapan faktor, yakni risiko

8
kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko strategi, risiko
kepatuhan dan risiko reputasi. Tidak sedikit para bankir yang tidak bisa mengelola
manajemen risiko dengan baik, sehingga terjadi pelanggaran prinsip kehati-hatian bank. Yang
terpenting dari kasus-kasus pembekuan bank adalah pembelajaran bagi pemilik maupun
pengurus bank untuk bercermin diri dalam pengelolaan keuangan dan manajemen perbankan
agar tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang ada, serta diharuskan menerapkan
prudent banking. Lebih khusus lagi, bagi para nasabah agar tidak gegabah dan senantiasa
berhati-hati jika ingin menempatkan dananya pada lembaga perbankan maupun lembaga
keuangan lainnya.

9
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/doc/289452113/CSR-Peran-Investor-dan-Kreditur (diakses pada 10


November 2019, pukul 22.00 WITA)

https://mitb23.com/blog/good-corporate-governance-dalam-pasar-modal/ (diakses pada 10


November 2019, pukul 22.10 WITA)

https://id.scribd.com/document/404673944/cg-implementasi-terhadap-emiten-dan-
perusahaan-publik (diakses pada 10 November 2019, pukul 22.20 WITA)

http://greatariana.blogspot.com/2013/07/analisa-kasus-bank-global-bab-1.html?m=1(diakses
pada 10 November 2019, pukul 22.45 WITA)

10