Anda di halaman 1dari 11

TUGAS ADMINISTRASI KEUANGAN

ANALISIS RASIO KEUANGAN PADA KIMIA FARMA TBK.


TAHUN 2016-2018
(CONSOLIDATION)

Dosen Pengampu : Nida Auliana Umami, S.E., M.M

Oleh :

Mutia Candra Dewi

412018058

AB 2018 C

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI BISNIS


POLITEKNIK SUKABUMI
2019
ANALISIS RASIO KEUANGAN KIMIA FARMA TBK TAHUN 2016-
2018 (KONSOLIDASI)

Rasio menggambarkan suatu hubungan matematis antara suatu jumlah dengan jumlah
yang lain. Penggunaan alat analisis berupa rasio dapat menjelaskan penilaian baik dan buruk
posisi keuangan pada perusahaan, terutama bila angka rasio ini dibandingkan dengan angka
rasio pembanding yang digunakan sebagai standar.
Analisis rasio keuangan adalah salah satu cara yang paling banyak digunakan. Analisis
ini menghubungkan satu pos dengan pos yang lainnya dalam laporan keuangan dan
memberikan gambaran yang jelas tentang hubungan antarpos tersebut.
Jenis rasio atau pembanding yang digunakan untuk menilai kinerja Kimia Farma Tbk
ini ialah dengan membandingkan rasio antar tahun (perbandingan internal). Adapun rasio
keuangan yang digunakan ialah rasio likuiditas, leverage, aktivitas, dan profitabilitas. Rasio
likuiditas yang di analisis ialah current ratio, cash ratio, dan quick ratio. Rasio leverage yang
dianalisis ialah Total Debt to Equity Ratio (Rasio Hutang Terhadap Ekuitas), Total Debt to
Total Asset Ratio (Rasio Hutang terhadap Total Aktiva), dan Long Term Debt to Equity Ratio.
Rasio aktivitas yang analisis ialah Total Assets Turn Over (perutaran aktiva), Inventory
Turnover (perputaran persediaan), dan Account Receivable Turn Over (perputaran piutang).
Sedangkan rasio profitabilitas yang dianalisi ialah Gross Profit Margin, Net Profit Margin,
Return On Investment (ROI), Return On Equity (ROE).
RASIO LIKUIDITAS
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban finansial jangka pendek yang berupa hutang–hutang jangka pendek
(short time debt).

1. Current Ratio = Aktiva Lancar


Hutang Lancar
Tahun Aktiva Lancar Hutang Lancar Current Ratio
2016 2.906.737.458.288 1.696.208.867.581 1.71
2017 3.662.090.215.984 2.369.507.448.768 1.55
2018 5.369.546.726.061 3.774.304.481.466 1.42

Trend Analysis of Current Ratio


2
1.7
1.4
1.1 Current Ratio
0.8
0.5
2016 2017 2018

2. Quick Ratio = Aktiva Lancar - Persediaan


Hutang Lancar

Tahun Aktiva Lancar - Persediaan Hutang Lancar Quick Ratio


2016 2.906.737.458.288 – 967.326.842.652 1.696.208.867.581 1,14
2017 3.662.090.215.984 – 1.192.342.702.145 2.369.507.448.768 1,04
2018 5.369.546.726.061 – 1.805.736.012.012 3.774.304.481.466 0,94

Trend Analysis of Quick Ratio


1.2
1.1
1
Quick Ratio
0.9
0.8
2016 2017 2018
3. Cash Ratio = Kas + Surat Berharga
Utang lancar

Tahun Kas + Surat Berharga Hutang Lancar Cash Ratio


2016 647.683.951.012 + 0 1.696.208.867.581 0,38
2017 989.637.043.381 + 0 2.369.507.448.768 0,42
2018 1.960.038.027.753 + 0 3.774.304.481.466 0,52

Trend Analysis of Cash Ratio


0.7
0.6
0.5
0.4
0.3 Cash Ratio
0.2
0.1
0
2016 2017 2018

Kesimpulan:

1. Dari perhitungan rasio di atas dapat dilihat bahawa kemampuan perusahaan untuk
membayar hutang jangka pendeknya cenderung menurun 0,1% setiap tahunnya,
karena pada tahun 2018 hutang lancar Rp. 3.774.304.481.466,- hanya dapat dijamin
oleh Rp. 1,42,- pada tahun 2018. Sedangkan pada tahun 2017 dan 2016 lebih tinggi
disbanding tahun 2018 yaitu sebesar Rp. 1,55,- dan Rp. 1,71,-. Hal tersebut
disebabkan karena terjadi kenaikan hutang lancar yang cukup signifikan.
2. Setiap tahunnya terjadi penurunan pada Quick Ratio yaitu sebesar Rp. 0,1. Hal
tersebut terjadi karena adanya penurunan pada aktiva lancar pada tahun 2017 yaitu
sebesar Rp. 1.292.582.767.216,- dibanding tahun 2016 yaitu sebesar Rp.
1.939.410.615.636,-, ini mengindikasikan bahwa kemampuan perusahaan dalam
membayar hutang lancarnya menurun.
3. Dari hasil perhitungan diatas terjadi peningkatan pada aspek cash ratio pada tahun
2017 yaitu sebesar Rp. 0,04,- dan pada tahun 2018 yaitu sebesar Rp. 0,1,- hal ini
disebabkan karena terjadi peningkatan kas di setiap tahunnya yaitu pada tahun 2017
sebesar Rp. 989.637.043.381,-. Dan pada tahun 2018 sebesar Rp. 1.960.038.027.753,-
Hal ini mengindikasikan bahwa kemapuan perusahan dalam membayar kewajiban
jangka pendek dengan kas yang tersedia meningkat.
RASIO SOLVABILITAS (LEVERAGE RATIO)
Rasio ini disebut juga rasio leverage yaitu mengukur perbandingan dana yang disediakan
oleh pemiliknya dengan dana yang dipinjam dari kreditur perusahaan tersebut. Rasio ini
dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang.
Rasio ini menunjukkan indikasi tingkat keamanan dari para pemberi pinjaman (Bank).

1. Total Debt to Equity Ratio (Rasio Hutang Terhadap Ekuitas)

Total Debt to Equity Ratio = Total Hutang .


Ekuitas Pemegang Saham

Tahun Total Hutang Ekuitas Pemegang Shm TDTER


2016 2.341.155.131.870 2.271.407.409.194 1,03
2017 3.523.628.217.406 2.572.520.755.127 1,37
2018 6.103.967.587.830 3.356.459.729.851 1,81

Trend Analysis of TDTER


2
1.8
1.6
1.4 TDTER
1.2
1
2016 2017 2018

2. Total Debt to Total Asset Ratio (Rasio Hutang terhadap Total Aktiva)

Total Debt to Total Asset Ratio = Total Hutang


Total Aktiva

Tahun Total Hutang Total Aktiva TDTAR


2016 2.341.155.131.870 4.612.562.541.064 0,51
2017 3.523.628.217.406 6.096.148.972.533 0,58
2018 6.103.967.587.830 9.460.427.317.681 0,64
Trend Analysis of TDTAR
0.7

0.6

TDTAR
0.5

0.4
2016 2017 2018

3. Long Term Debt to Equity Ratio

Long Term Debt to Equity Ratio = Hutang Jangka Panjang


Modal Sendiri

Tahun Hutang Jangka Panjang Modal Sendiri LTDTER


2016 644.946.264.289 2.271.407.409.194 0,28
2017 1.154.120.768.637 2.572.520.755.127 0,45
2018 2.329.663.106.364 3.356.459.729.851 0,69

Trend Analysis of LTDTER


0.8
0.6
0.4
LTDTER
0.2
0
2016 2017 2018

Kesimpulan:

Pada rasio solvabilitas terjadi kenaikan pada setiap aspeknya hal ini mengindikasikan
bahwa kondisi perusahaan tergolong dalam rasio hutang yang tidak baik. Naiknya nilai
rasio dari setiap aspek pada rasio solvabilitas ini terjadi karena adanya kenaikan hutang
jangka panjang setiap tahunnya pada tahun 2018 yaitu sebesar Rp. 2.329.663.106.364,-
dibanding tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp. 1.154.120.768.637,-. Hal tersebut
menunjukan bahwa pembiayaan operasi perusahaan terlalu menekankan penggunaan
modal dari luar sehingga resiko keuangan yang harus ditanggung oleh perusahaan cukup
besar.
RASIO AKTIVITAS
Rasio yang menunjukkan keefektifan sebuah perusahaan dalam menggunakan aktiva yang
dimilikinya. Rasio ini digunakan untuk menilai seberapa efisien perusahaan dapat
memanfaatkan dan mengelola sumber daya yang dimiliki perusahaan.

1. Perputaran persediaan (Inventory Turn Over Ratio) = Harga pokok penjualan


Persediaan

Tahun Harga pokok penjualan Persediaan ITOR


2016 3.947.606.932.563 967.326.842.652 4,08
2017 3.925.599.724.290 1.192.342.702.145 3,29
2018 4.673.936.445.914 1.805.736.012.012 2,59

Trend Analysis of ITOR


5
4
3
ITOR
2
1
2016 2017 2018

2. Perputaran piutang (Account Receivable Turn Over Ratio) = Penjualan


Piutang Usaha

Tahun Penjualan Piutang Usaha ARTOR


2016 5.811.502.656.431 710.031.996.055 8,18
2017 6.127.479.369.403 930.000.056.805 6,59
2018 7.454.114.741.189 853.762.434.320 8,73

Trend Analysis of ARTOR


10
8
6
4 ARTOR
2
0
2016 2017 2018
3. Perputaran asset total ( Total Assets Turn Over Ratio) = Penjualan
Aset Total

Tahun Penjualan Aset Total TATO


2016 5.811.502.656.431 4.612.562.541.064 1,26
2017 6.127.479.369.403 6.096.148.972.533 1,01
2018 7.454.114.741.189 9.460.427.317.681 0,79

Trend Analysis of TATO


2
1.5
1
ATOR
0.5
0
2016 2017 2018

Kesimpulan:

Pada rasio aktivitas terjadi penurunan Inventory Turnover pada setiap tahun. Hal ini
mengindikasikan bahwa efektivitas manajemen perusahaan mengalami penurunan
dalam mengelola persediaan. Berbeda dengan ARTOR mengalami kenaikan pada
tahun 2018 yaitu 8,73 kali di banding tahun sebelumnya . hal ini disebabkan karena
adanya penurunan piutang usaha tahun 2018 yaitu sebesar Rp. 853.762.434.320,-, ini
mengindikasikan bahwa efektivitas manajemen perusahaan mengalami peningkatan
dalam mengelola piutang. Disisilain terjadi penurunan pada Nilai Total Assets
Turnover pada setiap tahunnya. Hal ini, mengindikasikan bahwa manajemen
perusahaan tidak cukup baik dalam menggunakan seluruh aktiva untuk menciptakan
penjualan. Karena semakin turun nilai TATO maka semakin tidak efisien perusahaan
dalam menggunakan seluruh aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba.
RASIO PROFITABILITAS
Rasio ini disebut juga sebagai Rasio Profitabilitas yaitu rasio yang digunakan untuk
mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba atau keuntungan. Profitabilitas
suatu perusahaan mewujudkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang
menghasilkan laba tersebut.

1. Gross Profit Margin (Laba Kotor)

Gross Profit Margin = Laba kotor .


Penjualan Bersih

Tahun Laba Kotor Penjualan GPM


2016 1.863.895.723.868 5.811.502.656.431 0,32
2017 2.201.879.645.113 6.127.479.369.403 0,36
2018 2.780.178.295.275 7.454.114.741.189 0,37

Trend Analysis of GPM


0.38
0.36
0.34
0.32 GPM
0.3
0.28
2016 2017 2018

2. Net Profit Margin (Laba Bersih)

Net Profit Margin = Laba Setelah Pajak


Penjualan Bersih

Tahun Laba Setelah Pajak Penjualan NPM


2016 271.597.947.663 5.811.502.656.431 0,046
2017 331.707.917.461 6.127.479.369.403 0,054
2018 401.792.808.948 7.454.114.741.189 0,053
Trend Analysis of NPM
0.055

0.05
NPM
0.045

0.04
2016 2017 2018

3. Net Earning Power Ratio (Return on Investment/ROI)

ROI = Keuntungan Netto Sesudah Pajak


Jumlah Aktiva

Tahun Keuntungan Netto Sesudah Jumlah Aktiva ROI


Pajak
2016 271.597.947.663 4.612.562.541.064 0,06
2017 331.707.917.461 6.096.148.972.533 0,05
2018 401.792.808.948 9.460.427.317.681 0,04

Trend Analysis of ROI


0.08
0.06
0.04
ROI
0.02
0
2016 2017 2018

4. Return on Equity (Pengembalian atas Ekuitas)

Return on Equity = Laba Setelah Pajak .


Ekuitas Pemegang Saham

Tahun Laba Setelah Pajak Ekuitas Pemegang Shm ROE


2016 271.597.947.663 2.271.407.409.194 0,12
2017 331.707.917.461 2.572.520.755.127 0,13
2018 401.792.808.948 3.356.459.729.851 0,12
Trend Analysis of ROE
0.135

0.13

0.125
ROE
0.12

0.115
2016 2017 2018

Kesimpulan:

Terjadi peningkatan pada rasio profitabilitas ini dibuktikan dengan kenaikan GPM
Kimia Farma Tbk pada tahun 2018. Kenaikan ini terjadi karena peningkatan net sales
pada tahun 2018 yaitu Rp. 2.780.178.295.275 . sementara NPM,ROI, dan ROE
mengalami penurunan di setiap tahunnya.. Hal tersebut mengindikasikan bahwa
kinerja keuangan perusahaan tidak cukup baik (Tidak sehat) karena perusahaan tidak
mampu meningkatkan keuntungan baik untuk perusahaan maupun untuk investor.

Anda mungkin juga menyukai