Anda di halaman 1dari 23

HOME CARE REMATIK

OLEH :
WILANDA

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MITRA ADIGUNA


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
PALEMBANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi di

dalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses panjang

hidup, tidak dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak

permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang

berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak,

dewasa dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis maupun

psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami masa kemunduran fisik

yang ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut memutih, gigi mulai

ompong, pendengaran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk,

gerakan lambat dan figure tubuh yang tidak proporsional (Nugroho, 2008).

Salah satu penyakit yang sering dikeluhkan lansia adalah penyakit

sendi (52,3%) terutama osteoarthritis/ peradangan sendi dan tulang.

Keluhan utama yang paling sering terjadi pada osteoarthritis adalah nyeri

pada persendian yang membuat penderita seringkali takut untuk bergerak

sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan produktivitas.

Penanganan nyeri sendi yang dapat dilakukan diantaranya dengan

menggunakan terapi farmakologi dan terapi non farmakologi. Intervensi

non farmakologis mencakup perilaku kognitif dan pendekatan secara fisik.

Tujuan dari intervensi perilaku kognitif adalah untuk mengubah persepsi

klien terhadap nyeri dan untuk mengajari klien agar memiliki rasa kontrol

1
terhadap nyeri yang lebih baik seperti distraksi, relaksasi, terapi musik,

biofeedback. Pendekatan secara fisik memiliki tujuan untuk memberikan

penanganan nyeri agar nyeri berkurang, memperbaiki disfungsi fisik,

mengubah respon fisiologis serta mengurangi ketakutan yang berhubungan

dengan immobilitas terkait nyeri, seperti pemberian terapi massase/

pijatan, akupunktur, akupressur (Potter dan Perry dalam Achjar, 2016).

Menurut World Health Organization (WHO) penderita reumatoid

arthritis diseluruh dunia mencapai angka 355 juta jiwa, artinya 1 dari 6

orang didunia ini menderita reumatoid arthritis. Reumatoid arthritis telah

berkembang dan telah menyerang 2,5 juta warga Eropa. WHO melaporkan

bahwa 20% penduduk dunia terserang Reumatoid Arthritis dimana 5-10%

adalah yang berusia 60 tahun (Syam, 2015).

Berdasarkan hasil penelitian terakhir dari Zeng QY et al 2008,

prevalensi nyeri rematik di Indonesia mencapai 23,6% hingga 31,3%.

Angka ini menunjukkan bahwa rasa nyeri akibat rematik sudah cukup

mengganggu aktivitas masyarakat Indonesia, terutama mereka yang

memiliki aktivitas sangat padat di daerah perkotaan seperti mengendarai

kendaraan di tengah arus kemacetan, duduk selama berjam-jam tanpa

gerakan tubuh yang berarti, tuntutan untuk tampil menarik dan prima,

kurangnya porsi berolah raga, serta faktor bertambahnya usia (Syam,

2015).

Jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia pada 2016 lebih kurang

21 juta jiwa. Jumlah itu diperkirakan akan terus bertambah seiring

2
meningkatnya usia harapan hidup. Hal ini bakal memunculkan sejumlah

risiko, antara lain karena mereka rentan terkena penyakit degeneratif. Data

sensus penduduk menunjukkan, jumlah penduduk lansia di Indonesia

tahun 2010 sebanyak 18,1 juta jiwa (7,6 persen dari total populasi), tahun

2014 meningkat jadi 20,24 juta jiwa (8,03 persen populasi), dan

diperkirakan akan mencapai 36 juta jiwa pada 2025 (Setiati 2017).

Prevalensi penyakit sendi/rematik/encok berdasarkan data

Riskesdas tahun 2013 didiagnosis meningkat seiring dengan bertambahnya

umur, prevalensi pada umur 45-54 (19,3% dan 37,2%), pada umur 55-64

(25,2% dan 45,0%), pada umur 65-74 (30,6% dan 51,9%) dan prevalensi

tertinggi pada umur ≥75 tahun (33% dan 54,8%) (Riskesdas, 2013).

Oesteoartritis merupakan golongan rematik sebagai penyebab

kecacatan yang menduduki urutan pertama dan akan meningkat dengan

meningkatnya usia, penyakit ini jarang ditemui pada usia dibawah 46

tahun tetapi lebih sering dijumpai pada usia diatas 60 tahun (Padila, 2013).

Pada umumnya, pasien Oesteoartritis sering mengalami keluhan

nyeri pada sendi. Nyeri biasanya bertambah dengan gerakan dan sedikit

berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan dan tertentu terkadang dapat

menimbulkan rasa nyeri yang melebihi gerakan lain. Perubahan ini dapat

ditemukan meski OA masih tergolong dini (secara radiologis). Umumnya

bertambah berat dengan semakin beratnya penyakit sampai sendi hanya

bias digoyangkan dan menjadi kontraktur, Hambatan gerak dapat

konsentris (seluruh arah gerakan) maupun eksentris (salah satu arah

3
gerakan saja). (Kris, 2015).

Penanganan sistem nyeri medial (yang memproses aspek

emosional dari nyeri seperti ketakutan dan stres) sangat penting pada

pasien osteoathritis dibandingkan sistem lateral yang memproses sensasi

fisik seperti intensitas, durasi, dan lokasi nyeri, selama episode nyeri.

Nyeri pada osteoathritis terjadi sebagai akibat spasme otot atau tekanan

pada saraf di daerah sendi yang terganggu dan pertumbuhan tulang yang

berlebihan sehingga merangsang akar saraf sewaktu keluar dari tulang

vertebra. (Trihartini, 2016).

Kondisi tersebut mengakibatkan pasien sering kali takut untuk

bergerak sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan dapat

menurunkan produktivitas yang akan berdampak terhadap penurunan

kualitas hidup, sedang pada masa tua diharapkan menjadi tua sejahtera,

sehat, produktif sehingga kualitas kesehatan lansia meningkat. Oleh karena

itu manajemen sistem nyeri sebaiknya dijadikan target baru baik untuk

intervensi farmakologi maupun non farmakologi (Sidik, 2018).

1.2 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian rematik

2. Untuk mengetahui penyebab rematik

3. Untuk mengetahui pengobatan rematik

4
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Lansia

2.1.1 Pengertian Usia Lanjut (Lansia)

Menurut UU No 4 tahun 1945 Lansia adalah seseorang yang

mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk

keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain

(Wahyudi, 2000).

Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima sebagai suatu

kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri dengan

proses penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005).

Usia lanjut adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari

(Azwar, 2006).

Menua secara normal dari system saraf didefinisikan sebagai

perubahan oleh usia yang terjadi pada individu yang sehat bebas dari

penyakit saraf “jelas” menua normal ditandai oleh perubahan gradual dan

lambat laun dari fungsi-fungsi tertentu (Tjokronegroho Arjatmo dan

Hendra Utama,1995).

Penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari,

berjalan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Selanjutnya akan

menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis dan biokimia pada tubuh

sehingga akan memepengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara

keseluruhan (Maryam, 2008).

5
2.1.2 Batasan Umur Usia Lanjut

Menurut pendapat berbagai ahli dalam Efendi (2009) batasan-

batasan umur yang mencakup batasan umur lansia adalah sebagai berikut:

1. Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 dalam Bab 1 Pasal 1

ayat 2 yang berbunyi “Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia

60 (enam puluh) tahun ke atas”.

2. Menurut World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi menjadi

empat kriteria berikut : usia pertengahan (middle age) ialah 45-59

tahun, lanjut usia (elderly) ialah 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) ialah

75-90 tahun, usia sangat tua (very old) ialah di atas 90 tahun.

3. Menurut Dra. Jos Masdani (Psikolog UI) terdapat empat fase yaitu :

pertama (fase inventus) ialah 25-40 tahun, kedua (fase virilities) ialah

40-55 tahun, ketiga (fase presenium) ialah 55-65 tahun, keempat (fase

senium) ialah 65 hingga tutup usia.

4. Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro masa lanjut usia (geriatric

age): > 65 tahun atau 70 tahun. Masa lanjut usia (getiatric age) itu

sendiri dibagi menjadi tiga batasan umur, yaitu young old (70-75

tahun), old (75-80 tahun), dan very old ( > 80 tahun).

2.1.3 Karakteristik Lansia

Menurut Maryam (2008) lansia memiliki karakteristik sebagai

berikut:

1. Berusia lebih dari 60 tahun (sesuai dengan Pasal 1 ayat (2) UU No. 13

tentang Kesehatan)

6
2. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dan rentang sehat sampai

sakit, dari kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi

adaptif hingga kondisi maladaptif

3. Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi.

2.2 Reumatic (Rematik)

2.2.1 Defenisi Rematik

Istilah rematik berasal dari ilmu kedokteran kuno di Yunani, yaitu

rheumaticos atau rheumatismos dalam bahasa latin. Kata asalnya yaitu

“rheuma” yang artinya “mengalir” (kebawah)” (Hembing, 2015).

Rematik termasuk dalam kelompok penyakit reumatologi, yang

menunjukkan suatu kondisi dengan nyeri dan kaku yang menyerang

anggota gerak atau sistem muskuloskeleton, yaitu sendi, otot, tulang

maupun jaringan di sekitar sendi. (Hembing, 2015).

Rematik merupakan penyakit yang menyerang anggota gerak, yaitu

sendi, otot, tulang dan jaringan sekitar sendi. Keluhan yang sering muncul

adalah nyeri, kaku, bengkak, sampai keterbatasan gerak tubuh. Nyeri pada

rematik hampir sama pada saat keselo, namun pada rematik disertai

peradangan pada persendian dan kulit terlihat memerah akibat munculnya

peradangan (Khomsan, 2017).

Berdasarkan defenisi di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa

penyakit Reumatik adalah penyakit sendi yang disebabkan oleh

peradangan pada persendian sehingga tulang sendi mengalami destruksi

7
dan deformitas serta menyebabkan jaringan ikat akan mengalami

degenerasi yang akhirnya semakin lama akan semakin parah.

2.2.2 Jenis-jenis Reumatik

Ditinjau dari lokasi patologis maka jenis rematik tersebut dapat

dibedakan dalam dua kelompok besar yaitu rematik artikular dan rematik

Non artikular. Rematik artikular atau arthritis (radang sendi) merupakan

gangguan rematik yang berlokasi pada persendian. diantarannya meliputi

arthritis rheumatoid, osteoarthritis dan gout arthritis. Rematik non artikular

atau ekstra artikular yaitu gangguan rematik yang disebabkan oleh proses

diluar persendian diantaranya bursitis, fibrositis dan sciatica (Hembing,

2015).

Rematik dapat dikelompokan dalam beberapa golongan yaitu :

1. Osteoartritis.

Penyakit ini merupakan penyakit kerusakan tulang rawan sendi

yang berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut. Secara

klinis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi, dan

hambatan gerak pada sendi - sendi tangan dan sendi besar yang

menanggung beban.

2. Artritis Rematoid.

Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik

dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh

organ tubuh. Terlibatnya sendi pada pasien artritis rematoid terjadi

setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat

8
progresifitasnya. Pasien dapat juga menunjukkan gejala berupa

kelemahan umum cepat lelah.

3. Olimialgia Reumatik.

Penyakit ini merupakan suatu sindrom yang terdiri dari rasa nyeri

dan kekakuan yang terutama mengenai otot ekstremitas proksimal,

leher, bahu dan panggul. Terutama mengenai usia pertengahan atau

usia lanjut sekitar 50 tahun ke atas.

4. Artritis Gout (Pirai).

Artritis gout adalah suatu sindrom klinik yang mempunyai

gambaran khusus, yaitu artritis akut. Artritis gout lebih banyak terdapat

pada pria dari pada wanita. Pada pria sering mengenai usia

pertengahan, sedangkan pada wanita biasanya mendekati masa

menopause.

2.2.3 Etiologi

Menurut Khomsan (2016), penyebab rematik bervariasi. Umumnya,

dipengaruhi oleh masalah autoimun, yaitu sistem kekebalan tubuh berbalik

menyerang jaringan persendian. Akibatnya, tulang rawan di sekitar sendi

menipis. Sebagai gantinya, muncullah tulang baru. Disaat tubuh bergerak,

tulang-tulang dipersendian bersinggungan. Kejadian inilah yang memicu

rasa sakit dan nyeri yang tak tertahankan.

9
Selain faktor imun, menurut Khomsan (2016), ada beberapa pemicu

rematik lainnya, yaitu:

1. Pekerjaan

Sikap atau posisi badan yang salah saat melakukan pekerjaan akan

memudahkan timbulnya penyakit rematik. Misalnya posisi badan yang

sering membungkuk dalam melakukan pekerjaan membuat pinggang

sakit.

2. Usia

Seiring dengan bertambahnya usia, cairan dalam sendi yang berfungsi

melumasi setiap gerakan mulai menipis dan mengental. Hal ini

menyebabkan tubuh menjadi kaku dan mulai sakit jika digerakkan.

3. Makanan

Tidak semua jenis rematik dipengaruhi oleh faktor makanan. Rematik

gout atau asam urat merupakan satu-satunya jenis rematik yang

serangannya sangat dipengaruhi oleh pola makan. Mengkonsumsi

makanan yang banyak mengandung purin dan lemak dapat

meningkatkan kadar asam urat.

4. Hormon

Osteoporosis atau penyakit keropos tulang merupakan jenis rematik

yang banyak dirasakan wanita setelah menopause. kurangnya hormon

estrogen setelah menopause memperburuk masa tulang yang sudah

berkurang karena usia.

10
5. Kegemukan

Kegemuka memberikan beban berlebih pada tulang. Hal tersebut

mempengaruhi kesehatan sendi.

6. Cedera

Cedera akibat aktivitas dan olahraga yang berlebihan dapat

menyebabkan rematik. Lakukan pemanasan yang cukup untuk

menghindari cedera.

7. Psikologis

Ketegangan yang diliputi dengan kelelahan dan ketidakmampuan

menangani tuntutan fisik menjadi faktor pencetus timbulnya rematik.

Rasa nyeri yang menjadi gejala khas rematik menjadi bertambah buruk

jika terjadi stres, depresi dan gelisah.

8. Radikal bebas

Radikal bebas yang muncul karena pencemaran dan bahan kimia dalam

makanan menjadi racun yang menurunkan daya tahan tubuh.

Akibatnya, hal ini memperburuk kerusakan jaringan tubuh dan

menimbulkan gejala rematik.

2.2.4 Gambaran Klinis

Menurut Padila (2013), gambaran klinis penyakit rematik diantaranya

adalah:

1. Rasa nyeri pada sendi

Merupakan gambaran primer pada osteoartritis, nyeri akan

bertambah apabila sedang melakukan sesuatu kegiatan fisik.

11
2. Kekakuan dan keterbatasan gerak

Biasanya akan berlangsung 15-30 menit dan timbul setelah

istirahat atau saat memulai kegiatan fisik.

3. Peradangan

Sinovitis sekunder, penurunan pH jaringan, pengumpulan cairan

dalam ruang sendi akan menimbulkan pembengkakan dan peregangan

simpai sendi yang semua ini akan menimbulkan rasa nyeri.

4. Mekanik

Nyeri biasanya akan lebih dirasakan setelah melakukan aktivitas

lama dan akan berkurang pada waktu istirahat. Mungkin ada

hubungannya dengan keadaan penyakit yang telah lanjut dimana

rawan sendi telah rusak berat. Nyeri biasanya berlokasi pada sendi

yang terkena tetapi dapat menjalar, misalnya pada osteoartritis coxae

nyeri dapat dirasakan di lutut, bokong sebelah lateril dan tungkai atas.

Nyeri dapat timbul pada waktu dingin, akan tetapi hal ini belum dapat

diketahui penyebabnya.

5. Pembengkakan sendi

Pembengkakan sendi merupakan reaksi peradangan karena

pengumpulan cairan dalam ruang sendi biasanya teraba panas tanpa

adanya pemerahan.

6. Deformitas

Disebabkan oleh distruksi lokal rawan sendi

12
7. Gangguan fungsi

Timbul akibat ketidakserasian antara tulang pembentuk sendi.

2.2.5 Pemeriksaan Penunjang

Menurut Padila (2013), pemeriksaan penunjang terhadap penderita

rematik adalah:

1. Foto rontgent menunjukkan penurunan progesif massa kartilago sendi

sebagai penyempitan rongga sendi.

2. Serologi dan cairan sinovial dalam batas normal.

2.2.6 Penatalaksanaan Reumatik

1. Pengobatan Farmakologi

a. Obat-obatan

Sampai sekarang belum ada obat yang spesifik yang khas untuk

osteoartritis, oleh karena patogenesisnya yang belum jelas, obat yang

diberikan bertujuan untuk mengurangi rasa sakit, meningkatkan

mobilitas dan mengurangi ketidak mampuan. Obat-obat anti

inflamasinon steroid bekerja sebagai analgetik dan sekaligus

mengurangi sinovitis, meskipun tak dapat memperbaiki atau

menghentikan proses patologis osteoartritis.

a. Operasi.

Operasi perlu dipertimbangkan pada pasien osteoartritis dengan

kerusakan sendi yang nyata dengan nyari yang menetap dan

kelemahan fungsi. Tindakan yang dilakukan adalah osteotomy untuk

mengoreksi ketidaklurusan atau ketidaksesuaian, debridement sendi

13
untuk menghilangkan fragmen tulang rawan sendi, pebersihan

osteofit.

2. Pengobatan Non Farmakologi

a. Fisioterapi.

Fisioterapi berperan penting pada penatalaksanaan

osteoartritis, yang meliputi pemakaian panas dan dingin dan program

latihan yang tepat. Pemakaian panas yang sedang diberikan sebelum

latihan untuk mengurangi rasa nyeri dan kekakuan. Pada sendi yang

masih aktif sebaiknya diberi dingin dan obat-obat gosok jangan

dipakai sebelum pamanasan. Berbagai sumber panas dapat dipakai

seperti Hidrokolator, bantalan elektrik, ultrasonic, inframerah, mandi

paraffin dan mandi dari pancuran panas. Program latihan bertujuan

untuk memperbaiki gerak sendi dan memperkuat otot yang biasanya

atropik pada sekitar sendi osteoartritis. Latihan isometric lebih baik

dari pada isotonic karena mengurangi tegangan pada sendi. Atropi

rawan sendi dan tulang yang timbul pada tungkai yang lumpuh

timbul karena berkurangnya beban ke sendi oleh karena kontraksi

otot. Oleh karena otot-otot periartikular. memegang peran penting

terhadap perlindungan rawan sendi dari beban, maka penguatan otot-

otot tersebut adalah penting

b. Kompres Hangat Aroma Terapi Lavender

Terapi farmakologi untuk mengurangi keluhan nyeri pada

lansia, biasanya digunakan analgetik atau obat anti-inflamasi non

14
steroid (OAINS). Keluhan nyeri pada rematik yang kronik dan

progresif biasanya penggunaan OAINS berlangsung lama, sehingga

tidak jarang menimbulkan masalah. Metode penatalaksanaan nyeri

yang nonfarmakologik merupakan unsur yang penting, khususnya

menggunakan kompres hangat atau dingin (Yanti, 2015).

c. Perlindungan sendi.

Osteoartritis mungkin timbul atau diperkuat karena mekanisme

tubuh yang kurang baik. Perlu dihindari aktivitas yang berlebihan

pada sendi yang sakit. Pemakaian tongkat, alat-alat listrik yang dapat

memperingan kerja sendi juga perlu diperhatikan. Beban pada lutut

berlebihan karena kakai yang tertekuk (pronatio).

d. Diet.

Diet untuk menurunkan berat badan pasien osteoartritis yang

gemuk harus menjadi program utama pengobatan osteoartritis.

Penurunan berat badan seringkali dapat mengurangi timbulnya

keluhan dan peradangan.

e. Dukungan psikososial.

Dukungan psikososial diperlukan pasien osteoartritis oleh

karena sifatnya yang menahun dan ketidakmampuannya yang

ditimbulkannya. Disatu pihak pasien ingin menyembunyikan

ketidakmampuannya, dipihak lain dia ingin orang lain turut

memikirkan penyakitnya. Pasien osteoartritis sering kali keberatan

untuk memakai alat-alat pembantu karena faktor-faktor psikologis.

15
2.2.7 Pola Diet Penyakit Rematik

Rematik merupakan penyakit yang bisa menimbulkan nyeri atau

pegal-pegal pada anggota gerak terutama pada sendi. Rematik biasanya

dikenali lewat rasa nyeri dan kaku yang menyerang persendian, otot, dan

tulang. Salah satu cara untuk mencegah kambuhnya atau mengurangi

sakit, disarankan pengidap rematik perlu menjaga asupan nutrisi sehari-

hari.

Salah satu makanan yang dilarang untuk penyakit rematik adalah

daging, khususnya daging merah, beberapa jenis ikan seperti sarden, tuna,

makarel, kepiting dan udang, makanan mengandung ragi seperti roti,

maupun makanan lain yang memiliki kandungan tinggi lemak seperti susu,

gorengan, keju, serta produk susu lainnya bisa menimbulkan dan

meningkatkan peradangan pada beberapa orang. Makanan yang memiliki

kandungan natrium yang tinggi bisa juga mengakibatkan retensi cairan

pada sendi yang sudah mengalami peradangan. Selain itu, berhati-hatilah

terhadap kandungan kafein, karena memiliki potensi bisa memperburuk

gejala rematik itu sendiri.

Pada umumnya, pengidap rematik masih bisa menjalani pola

makan sehat yang mengandung karbohidrat kompleks, rendah lemak

jenuh, dan protein dalam kadar sedang. Sebenarnya pengaturan pola

makan ini bukan sebagai patokan untuk pengobatan, tapi bisa untuk

membantu mengurangi gejala rematik.

16
Beberapa makanan yang sebaiknya dikonsumsi makanan seperti

sayuran hijau, wortel, tomat, buah-buahan (jeruk, melon, dan apel),

makanan yang mengandung sumber karbohidrat yang lebih kompleks

seperti oat dan kacang-kacangan, makanan yang mengandung biji-bijian

utuh, susu dan yoghurt yang rendah lemak atau bahkan tanpa lemak yang

mengandung kadar purin yang rendah dan protein yang tinggi. Makanan

yang kaya akan asam lemak omega-3 juga bisa mengurangi peradangan, di

antaranya adalah salmon, sarden, biji-bijian, dan bawang putih.

2.2.8 Perawatan AR di rumah.

Pada usia lansia seseorang akan mudah terserang penyakit karena

sudah mulai berkurangnya fungsi dan daya tahan tubuh untuk melakukan

aktivitas sehari-hari seperti sebelumnya. Perawatan lansia merupakan

salah satu bentuk perawatan profesional baik di RS maupun di puskesmas

mengingat makin tingginya umur harapan hidup maka akan makin banyak

jumlah lansia yang harus mendapatkan perawatan. Puskesmas dengan visi

dan misinya memasukkan perawatan lansia, hal ini dapat dapat dilihat

dengan pemberdayaan masyarakat melalui poksila dan keluarga usila.

Perencanan program perawatan dimulai dengan pengumpulan data

melalui pendekatan pada pasien, keluarga, lingkungan yang terdiri dari

masyarakat sekitar tempat tinggal pasien dan puskesmas setempat.

Dilanjutkan dengan identifikasi dan analisa masalah, pemecahan masalah

dan rencana tindakan lanjut.

17
Kolaborasi interdisiplin ilmu atau profesi yang aktif dalam

perawatan kesehatan rumah akan memberikan kesinambungan pelayanan

kesehatan yang dapat memberikan kesadaran/kemandirian klien daan

keluarga sehingga program perawatan dapat dilaksanalan secara

komprehensif.

Secara umum proses kolaborasi diawali dengan rencana “discharge

plan” dari puskesmas perawatan. Perawatan mengidentifikasi kebutuhan

klien untuk perawatan rumah, kemudian mengkordinasikan tentang

perencanaan discharge plane dengan dokter untuk meminta persetujuan.

Kemudian dilanjutkan dengan kordinasi kepada pihak terkait yang akan

melakukan melakukan perawatan rumah, khususnya pelayanan

keperawatan yang diminta oleh dokter.

Pihak pelaksana dalam hal ini bisa berupa agency akan memberikan

perawatan menyeluruh secara bertahap kepada klien dirumah dan

memberikan pendidikan/ pengajaran kesehatan kepada klien dan keluarga.

Untuk legalitas perawatan kesehatan dirumah maka persyaratan


medicare harus dipenuhi yaitu kontrak, pendokumentasian, pelayanan dan
kolaborasi interdisipliner tim, catatan dan perkembangan kesehatan klien,
catatan komferensi kolaborasi dalam penyelenggaran perawatan

2.2.9 Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawtan yang dilakukan pada Tn. K dengan AR untuk

perawatan kesehatan di rumah secara biopsikososial dan spiritual serta

intervensi terhadap lingkungan antara lain adalah:

18
Biologis:

o Kaji tingkat kesadaran dan tanda-tanda vital setiap hari.

o Beri informasi tentang AR: pengertian, penyebab, tanda dan gejala,

faktor memperberat dan meringankan penyakit, tindakan pengobatan

yang dapat dilakukan.

o Kaji keluhan nyeri, catat lokasi, intensitas, catat faktor-faktor yang

mempercepat dan tanda-tanda sakit non verbal.

o Dorong dan bantu pasien untuk mengubah posisi pada waktu tidur dan

duduk dikursi.

o Dorong pasien untuk mempertahankan posisi berdiri agak lama guna

melatih keseimbangan dan kekuatan otot.

o Anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada

waktu bangun dan atau sebelum tidur.

o Beri masagge yang lembut.

o Ajarkan pasien untuk mobilisasi secara pasif dan aktif

o Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan gerak.

o Kolaborasi dengan tim dokter untuk pemberian obat-obatan.

o Kolaborasi dengan tim gizi untuk membantu menentukan diet gizi

yang sesuai untuk pasien.

Psikologis:

 Libatkan pasien dalam aktivitas hiburan yang sesuai untuk situasi

individu.

 Diskusikan arti dari kehilangan/perubahan pada pasien/orang terdekat.

19
 Bantu pasien untuk menjalankan peran dan fungsinya dikeluarga dan

masyarakat.

Sosial:

 Libatkan klien dalam mengambil keputusan.

 Dorong pasien untuk mengungkapkan masalah tentang penyakitnya,

harapan masa depan.

 Ikut sertakan pasien dalam merencanakan perawatan dan membuat

jadwal aktivitas.

 Libatkan keluarga dalam setiap memberikan intervensi pada pasien.

Spiritual:

 Anjurkan dan beri kesempatan pasien untuk beribadah dan berdoa

sesuai agama dan kepercayaannya.

 Kolaborasi dengan pemuka agama dalam memberikan nasehat/diskusi

spiritual.

Lingkungan:

 Beri lingkungan yang aman, mis: meninggikan kursi, menggunakan

penyangga tangga.

 Beri matras busa pada tempat duduk dan tampat tidur guna mengubah

tekanan.

 Sediakan penyangga/tongkat setiap kali pasien ingin berdiri/berjalan.

 Jauhkan benda-benda kecil yang dapat mengakibatkan pasien terjatuh.

20
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Rematik termasuk dalam kelompok penyakit reumatologi, yang

menunjukkan suatu kondisi dengan nyeri dan kaku yang menyerang

anggota gerak atau sistem muskuloskeleton, yaitu sendi, otot, tulang

maupun jaringan di sekitar sendi.

Penyebab rematik bervariasi. Umumnya, dipengaruhi oleh masalah

autoimun, yaitu sistem kekebalan tubuh berbalik menyerang jaringan

persendian. Akibatnya, tulang rawan di sekitar sendi menipis. Sebagai

gantinya, muncullah tulang baru. Disaat tubuh bergerak, tulang-tulang

dipersendian bersinggungan. Kejadian inilah yang memicu rasa sakit dan

nyeri yang tak tertahankan.

3.2 Saran

Makalah ini diharapkan dapat menambah sumber bacaan bagi

mahasiswa S1 Keperawatan khususnya mengenai home care penyakit

rematik sehingga dapat membantu bagi mahasiswa yang akan membuat

tugas kuliah dan dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa seputar

penyakit rematik.

21
DAFTAR PUSTAKA

Hembing, Wijayakusuma. 2015. Atasi asam urat dan rematik. Jakarta : Puspa
Swara.
Khomsan, Ali. 2017. Terapi jus untuk rematik dan asam urat.
Kristanto. 2017. Pengaruh Terapi Back Massage Terhadap Intensitas Nyeri
Reumatik Pada Lansia Di Wilayah Puskemas Pembantu Karang Asem
Maryam, Siti. 2008. Mengenal usia lanjut dan perawatannya. Jakarta : Salemba
Medika
Nugroho, Wahyudi. 2008. Keperawatan Gerontik & Geriatrik. Edisi ke 3. Jakarta
EGC
Padila. 2013. Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam. Yogyakarta : Nuha Medika
Padila. 2013. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Yogyakarta : Nuha Medika

22