0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
228 tayangan6 halaman

Sumitro Djojohadikusumo

Sumitro Djojohadikusumo adalah ekonom Indonesia yang memainkan peran penting dalam merancang sistem ekonomi Indonesia pasca-kemerdekaan. Ia menekankan pentingnya mengembangkan sumber daya manusia yang produktif untuk membantu pembangunan ekonomi dan mengurangi kemiskinan di Indonesia, antara lain dengan meningkatkan industri dan pembangunan wilayah.

Diunggah oleh

Agung Adi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
228 tayangan6 halaman

Sumitro Djojohadikusumo

Sumitro Djojohadikusumo adalah ekonom Indonesia yang memainkan peran penting dalam merancang sistem ekonomi Indonesia pasca-kemerdekaan. Ia menekankan pentingnya mengembangkan sumber daya manusia yang produktif untuk membantu pembangunan ekonomi dan mengurangi kemiskinan di Indonesia, antara lain dengan meningkatkan industri dan pembangunan wilayah.

Diunggah oleh

Agung Adi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SUMITRO DJOJOHADIKUSUMO

Lahir : Kebumen, Jawa Tengah, 29 Mei 1917 (meninggal di Jakarta, 9 Maret 2001 pada
usia 83 tahun)
Agama : Islam
Pendidikan : Universitas Sorbonne, Paris, Prancis (1938); Sekolah Tinggi Ekonomi
Nedherlands, Rotterdam, Negeri Belanda (Sarjana, 1940 Doktor, 1942).
Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo merupakan ayah dari Mantan Danjen Kopassus Prabowo
Subianto dan pengusaha Hashim Djojohadikusumo. Ayah mertua dari mantan Gubernur Bank
Indonesia, Soedrajad Djiwandono, dan juga besan dari mantan Presiden Indonesia, Soeharto.
Sumitro Djojohadikusumo (1994) dalam Sawitri (2007) memberikan definisi pembangunan
ekonomi sebagai proses transformasi yang terjadi dalam perjalanan waktu yang ditandai oleh
perubahan struktural, yaitu perubahan pada landasan kegiatan ekonomi maupun pada kerangka
susunan ekonomi masyarakat yang bersangkutan.
Professor Sumitro Djojohadikusumo sering disebut sebagai arsitek ekonomi Indonesia modern.
Berbagai program lembaga untuk meningkatkan kerjasama Indonesia dan AS. Di antaranya
melakukan studi dan rekomendasi di bidang keamanan, teknologi, politik dan ekonomi. Ada
juga tukar menukar kunjungan antara DPR dan Senat AS. Selain itu memberikan bantuan dana
untuk peneliti Indonesia dan AS. Lalu studi tentang integrasi ekonomi ASEAN, perdagangan
regional dan arsitektur keamanan dan jalur untuk kerjasama perdagangan yang menyambung
ASEAN ke pasar global.
Pemikiran Sumitro Djojohadikusumo
Tokoh ekonomi indonesia saat itu, Sumitro Djojohadikusumo, dalam pidatonya di negara
Amerika tahun 1949, menegaskan bahwa sistem yang dicita-citakan adalah ekonomi semacam
campuran tetapi dalam proses perkembanganya telah disepakati suatu bentuk ekonomi baru
yang dinamakan sebagai Sistem Ekonomi Pancasila yang didalamnya mengandung unsur
penting yang disebut Demokrasi Ekonomi.
Sistem Demokrasi Ekonomi dipilih karena memiliki manfaat yang positif bagi Indonesia,
diantaranya adalah :
1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama atas asas
2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang
banyak dikuasai oleh negara.
3. Warga negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikehendakinya serta
mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak.
4. Hak milik perorangan diakui dan pemanfaatannya tidak
5. Potensi, inisiatif dan daya kreasi setiap warga negara dikembangkan sepenuhnya dalam
batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum.
6. Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Sistem Ekonomi Pancasila


Dengan demikian perkonomian Indonesia tidak
mengizinkan adanya :
• Free fight liberalism, yaitu adanya suatu kebebasan usaha yang tidak terkendali sehingga
memungkinkan terjadinya eksploitasi kaum ekonomi yang lemah dan terjajah dengan
akibat semakin bertambah luasnya jurang pemisah si kaya dan si miskin.
• Etatisme, yaitu keikutsetaan pemerintah yang terlalu dominan sehingga mematikan
motivasi dan kreasi masyarakat untuk berkembang dan bersaing secara sehat. Jadi
masyarakat hanya bersikap pasif saja
• Monopoli,suatu bentuk pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok tertentu,
sehingga tidak memberikan pilihan lain pada konsumen untuk tidak mengikuti keingian
sang monopoli. Disini konsumen seperti robot yang diatur untuk mengikuti jalannya
permainan.
Pemikiran Sumitro yang lainnya adalah ikhtiarnya untuk ikut meletakkan dasar yang kuat,
berdasarkan pertimbangan yang rasional. Pokok perhatian harus pada kehidupan manusianya.
Salah satu jalur pendobrak kemiskinan ialah masalah kesempatan kerja. Ia lantas
memperkirakan, rasio beban ketergantungan sejumlah penduduk Indonesia saat ini 4:1. Artinya,
1 tenaga produktif memikul kebutuhan 4 jiwa, yang seharusnya cuma 2,5. Untuk
menguranginya, perlu meningkatkan sektor industri, dan pengembangan wilayah. Ini
menyangkut pola penggunaan dana, daya, dan efisiensi sistem perekonomian di Indonesia.
Tiga pemikiran mengenai industrialisasi. Yakni, yang memiliki keunggulan komparatif,
memprioritaskan industri hulu masa depan, dan membangun dalam keterkaitan antara industri
hulu dan hilir. Ketiga konsep ini bukan dogma. Kebijakan ini dikenal dengan Rencana
Soemitro.
Sasaran kebijakan ini pada industri dasar, seperti : pabrik semen, pabrik pemintalan, pabrik
karung, peningkatan produksi pangan, perbaikan sarana prasarana pertanian dan penanaman
modal asing.
Pemikiran Sumitro Djoyohadikusumo :
1. Ikhtiar untuk senantiasa hidup dekat dengan Tuhan YME
2. Ikhtiar untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran dalam penataan perekonomian
masyarakat.
3. Pola kebijakan ekonomi & cara penyelenggaraannya tidak menimbulkan kekuatan yang
mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa.
Program Gerakan Benteng
Program Benteng mengawali gelombang transformasi ekonomi yang dipaksakan untuk
menghadirkan kelas pengusaha pribumi. Program Benteng digagas pada tahun 1950 oleh
Menteri Perdagangan dan Perindustrian ketika itu, Sumitro Djojohadikusumo.
Sumitro yang kala itu merupakan wakil Partai Sosialis Indonesia dalam kabinet Natsir
(Masyumi), melihat menumpuknya beban pemerintahan RI karena utang warisan penjajah
Belanda sebesar Rp 4,3 Milyar sungguh sangat membebani republik muda usia itu. Beban utang
itu adalah ibarat harga kemerdekaan RI yang mesti ditebus oleh Indonesia kepada pemerintah
kolonial Belanda yang tertuang dalam Konferensi Meja Bundar 1949 di Den Haag, Belanda.
Sumitro hadir membawa solusi revolusioner; memberi kredit impor seluas-luasnya hanya
kepada pengusaha pribumi sehingga diharapkan bisa memicu pertumbuhan ekonomi nasional.
Istilah ‘Benteng’ terhadap ide Sumitro ini diberikan karena pada dasarnya program tersebut
berusaha membangun kewirausahaan pribumi agar mampu membentengi perekonomian negara
yang baru merdeka seperti Indonesia. Selain itu, juga untuk meningkatkan daya saing di luar
negeri, bukan saja dengan bisnis Barat (Belanda), tetapi juga dengan jaringan bisnis etnis Cina
di seluruh dunia.
Program ini bertujuan untuk mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi
nasional (pembangunan ekonomi Indonesia). Programnya adalah:
• Menumbuhkan kelas pengusaha dikalangan bangsa Indonesia.
• Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu diberi kesempatan untuk
berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi nasional.
• Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu dibimbing dan diberikan bantuan
kredit.
• Para pengusaha pribumi diharapkan secara bertahap akan berkembang menjadi maju.
Gagasan Sumitro ini dituangkan dalam program Kabinet Natsir dan Program Gerakan Benteng
dimulai pada April 1950. Hasilnya selama 3 tahun (1950-1953) lebih kurang 700 perusahaan
bangsa Indonesia menerima bantuan kredit dari program ini.
Tetapi tujuan program ini tidak dapat tercapai dengan baik meskipun beban keuangan
pemerintah semakin besar. Kegagalan program ini disebabkan karena :
• Para pengusaha pribumi tidak dapat bersaing dengan pengusaha non pribumi dalam
kerangka sistem ekonomi liberal.
• Para pengusaha pribumi memiliki mentalitas yang cenderung konsumtif.
• Para pengusaha pribumi sangat tergantung pada pemerintah.
• Para pengusaha kurang mandiri untuk mengembangkan usahanya.
• Para pengusaha ingin cepat mendapatkan keuntungan besar dan menikmati cara hidup
mewah.
• Para pengusaha menyalahgunakan kebijakan dengan mencari keuntungan secara cepat
dari kredit yang mereka peroleh.

Program Benteng telah membuka peluang kegiatan memburu rente (rent seeking), dan kurang
berhasil mengembangkan wirausahawan pribumi yang tangguh dan mandiri.
Dampaknya adalah program ini menjadi salah satu sumber defisit keuangan. Beban defisit
anggaran Belanja pada 1952 sebanyak 3 Miliar rupiah ditambah sisa defisit anggaran tahun
sebelumnya sebesar 1,7 miliar rupiah. Sehingga menteri keuangan Jusuf Wibisono memberikan
bantuan kredit khususnya pada pengusaha dan pedagang nasional dari golongan ekonomi lemah
sehingga masih terdapat para pengusaha pribumi sebagai produsen yang dapat menghemat
devisa dengan mengurangi volume impor.
Dengan kata lain, Program Benteng dikatakan mengalami kegagalan, penyebabnya bersumber
pada pemberian hak eksklusif impor barang yang tidak didasarkan atas keterampilan atau
pengalaman, tetapi lebih didasarkan atas kedekatan atau hubungan pribadi. Kondisi ini disadari
oleh Sumitro dan mengatakan bahwa dari sepuluh orang penerima program benteng hanya tiga
orang pengusaha sejati, sedangkan sisanya adalah benalu.
Kesimpulan
Sumber daya manusia yang produktif akan sangat membantu dalam pembangunan
Perekonomian Indonesia. Sebagai pakar ekonomi sumitro ingin sekali mendobrak dan
membantas kemiskinan di Indonesia , dengan cara mengembangkan sumber daya manusia yang
produktif , sehingga dapat bersama memikul beban bangsa ini kehidupan yang lebih baik dan
salah satu faktor yang ditekankan oleh bapak sumitro adalah dengan mengembangkan sektor
industri dan pengembangan wilayah yang sangat menyangkut dengan pola penggunaan dana,
daya, dan efisiensi sehingga masalah sumber daya manusia yang produktif akan berperan aktif
membangun perekonomian di Indonesia dengan lebih maju.

Anda mungkin juga menyukai