Anda di halaman 1dari 19

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI RUMAH ZAKAT DALAM

PENGENTASAN KEMISKINAN

(Studi Kasus: Rumah Zakat)

KELOMPOK 4:

Dwi Yuni Chairunissa

Muhammad Fauzan Afrizal

Nabilah Shalihah

Nurul Budiarsih

Yoshinta Dimas Pratiwi


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah kemiskinan merupakan hal yang krusial di Indonesia dan angka kemiskinan di
Indonesia terbilang cukup tinggi. Pemerintah Indonesia memberikan perhatian yang sangat
serius dalam mengatasi kemiskinan dan mengalokasikan dana yang juga sangat besar dalam
upaya-upaya mengatasi kemiskinan ini. Kemiskinan sudah menjadi masalah yang
multidimensional, tidak lagi hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan
dalam memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok
orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Maka cara penanggulangan
kemiskinan pun membutuhkan analisis yang tepat, melibatkan semua komponen
permasalahan, dan diperlukan strategi penanganan yang tepat.

Dalam hal ini Agama turut berperan dalam mengurangi angka kemiskinan dan
kelaparan dengan melalui Zakat. Zakat adalah salah satu ibadah pokok yang menjadi
kewajiban bagi setiap individu (Mukallaf) yang memiliki harta untuk mengeluarkan harta
tersebut sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku dalam zakat itu sendiri.1 Konsep zakat ini
diyakini akan memiliki dampak yang sangat luar biasa. Zakat pun diterapkan agar lilitan
kemiskinan tidak lagi mendera kehidupan manusia.

Zakat bukan semata ibadah vertikal, namun memiliki dampak horisontal yang nyata
bagi manusia itu sendiri. Harta orang-orang kaya lewat ibadah zakat bisa tersalurkan kepada
khalayak fakir-miskin sehingga kelompok fakir-miskin ini dengan bisa menikmati kehidupan
yang layak. Rumah zakat merupakan salah satu lembaga yang juga mengoptimalkan dana
zakat, infaq, shodaqoh untuk membantu menanggulangi kemiskinan di Indonesia. Adapun
pengoptimalan dana zakat, infaq, shodaqoh ini salah satunya melalui pemberdayaan ekonomi.

Tujuan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan peran agama dalam pengaplikasian
zakat untuk mengurangi angka kemiskinan. Mendeskripsikan program-program yang terdapat
dalam rumah zakat untuk mengurangi kemiskinan. Serta untuk Mendeskripsikan
pendayagunaan zakat yang selama ini dilakukan Rumah Zakat memiliki dampak terhadap
pengurangan kemiskinan.

1
Didin Hafidhuddin, “zakat dalam perekonomian modern”, (Jakarta:gema insane,2002) hal 7
1.2 Telaah Literatur
Dalam hasil penelitian sebelumnya, peneliti mengawali dengan melihat beberapa
penelitian yang dilakukan sebelumnya. Pertama, penelitian dari Nurul Fatikhah, penelitian ini
berjudul Strategik Pengelolaan Zakat Produktif di Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) cabang
Yogyakarta.2 Dalam penelitian tersebut membahas tentang pengelolaan zakat produktif mitra
binaan (PKPU) cabang Yogyakarta dalam Program Sinergis Pemberdayaan Komunitas
(ProsPek) bagi para mustahik untuk memberdayaakan bidang ekonomi.
Kedua, Skripsi Nuryanto Hari Mukti mahasiswa Keuangan Islam Dakultas Syariah UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berjudul Pengaruh Pendayagunaan Zakat Produktif
Terhadap Pemberdayaan Ekonomi Umat di Lembaga Amil Zakat Dompet Duafa Republika
Cabang Yogyakarta. Operasional dalam skripsi ini berisi tentang penelitian lanjutan yang
meneliti tentang pengaruh pemberian zakat produktif terhadap pemberdayaan ekonomi umat
di Baitul Maal Muamalat Yogyakarta dan peningkatan pendidikan dan program
pendampingan. Maka penelitian ini ingin menguji pengaruh pendayagunaan zakat produktif
terhadap pemberdayaan ekonomi umat, dengan tiga variabel independen yaitu jumlah zakat
produktif, tingkat pendidikan mustahik dan program pendampingan.3
Ketiga, Zulfa Dwi Wulandari, Pemberdayaan Zakat Produktif Terhadap Peningkatan
Kesejahteraan Masyarakat (Studi Kasus Pada Badan Amil Zakat Kota Blitar). Fokus
penelitian dalam penulisan ini adalah 1) Bagaimana pelaksanaan pemberdayaan zakat
produktif di kota Blitar yang dilakukan oleh Badan Amil Zakat? 2) Bagaimanakah
peningkatan kesejahteraan masyarakat dari pemberdayaan zakat secara produktif oleh Badan
Amil zakat (BAZ) Kota Blitar? 3) Faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dan
pendukung bagi Badan Amil Zakat (BAZ) sebagai pengelola zakat di kota Blitar dalam
pengelolaan dan pemberdayaan zakat secara produktif?
Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif, dan jenis penelitian yang digunakan
adalah studi kasus. Untuk menentukan informan penelitian menggunakan teknik Snowball
sampling (teknik bola salju). Hasil dari penelitian ini adalah pemberdayaan zakat produktif
pada badan Amil Zakat (BAZ) kota Blitar terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat
adalah pengelolaan zakat profesi (maal) secara produktif atau yang biasa berkembang.
Pemberdayaaan zakat produktif ini sedikit banyak dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat baik dari segi keamanan, ketentraman ataupun kesenangan masyarakat yang
bersifat lahiriah maupun batiniah, material maupun spiritual, dan jasmaniah dan
2
Nurul Fatikhah, “Managemen Strategik Pengelolaan Zakat Produktif, (Studi Kasus pada pos keadilan peduli
umat cabang Yogyakarta)”, Yogyakarta; Managemen Dakwah UIN-Sunan Kalijaga, 2008)
3
Nuryanto Hari Mukti, “Pengaruh Pendayagunaan Zakat Produktif Terhadap Pemberdayaan Ekonomi Umat di
Lembaga Amil Zakat Dompet Duafa Republika Cabang Yogyakarta”, (yogyakarta: Fakultas Sariah dan Hukum UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011)
ruhaniyahnya. Faktor-faktor penghambat bagi BAZ sebagai pengelola zakat di kota blitar
dalam pengelolaan dan pemberdayaan zakat secara produktif adalah terutama terdapat pada
pegawai, BAZ dan juga masyarakat penyalur zakat itu sendiri. Faktor-faktor pendukung bagi
BAZ sebagai pengelola zakat di kota Blitar dalam pengelolaan dan pemberdayaan zakat
secara produktif adalah adanya kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat,
kesadaran masyarakat yang sudah semakin tinggi tentang zakat.4
Keempat, Bagus Hufriya, Pengentasan Kemiskinan Melalui Zakat (Studi pada Yayasan
Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Cabang Malang).78 Peneliti mengambil lokasi di YDSF
Cabang Malang dengan rumusan permasalahan yang difokuskan pada 2 hal, yakni; tentang
penghimpunan, penyaluran dan pendayagunaan dana zakat, dan tingkat keberhasilan YDSF
cabang Malang dalam pengelolaan dana zakat untuk perwujudan program pengentasan
kemiskinan. Jenis penelitian ini merupakan penelitian studi kasus terhadap fenomena social
dan menggunakan metode pendekatan secara kualitatif. Metode pengumpulan data yang
digunakan yaitu metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan analisis data
dilakukan secara deskriptif-kualitatif.
Dari hasil penelitian di YDSF cabang Malang, pengumpulan zakat di YDSF Cabang
malang melalui aspek penyuluhan dan penyadaran melalui medium ceramah, seminar-
seminar, atau bisa juga dalam bentuk talk show di media elektronik, publikasi program di
media cetak serta penerbitan brosur dan buku-buku atau majalah. Untuk penyaluran atau
pendistribusian dan pendayagunaan zakat di YDSF diarahkan untuk kegiatan pendayagunaan
dana yang terbaik dengan mengutamakan kegiatan pada sektor pendidikan, dakwah, yatim,
masjid, dan kemanusiaan untuk menunjang peningkatan kualitas dan kemandirian umat.
Program-program pendayagunaan dana YDSF berorientasi pada dhuafa (poor orientation). Ini
terbukti dari programprogram yang dicanangkan oleh KPI, PUSDA dan PLASMA YDSF.5

4
Zulva Dwi Wulandari, “Pemberdayaan Zakat Produktif Terhadap Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat”
(Studi Kasus Pada Badan Amil Zakat Kota Blitar)”, (Tulungagung: Skripsi tidak diterbitkan, 2011)
5
Agus Hufriya, “Pengentasan Kemiskinan Melalui Zakat” (Studi Pada Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF)
Cabang Malang), (Malang: Skripsi tidak diterbitkan, 2007)
BAB II
KERANGKA KONSEPTUAL

2.1. Modal Spiritual

Pada dasarnya masalah yang sering memisahkan birokrasi dalam pembangunan


internasional dan jaringan pembangunan agama adalah terkait dengan masalah pembangunan
yang digunakan itu dalam hal apa, sebelumnya berfikir bahwa pembangunan dalam hal
pembangunan ekonomi itu diperlukan untuk memenuhi kebutuhan material. Sementara
kebanyakan tradisi keagamaan akan menerima pembangunan yang konseptual harus meliputi
kemajuan materi, mereka akan juga melihat bahwa ini tidak boleh mengorbankan dimensi
sosial dan budaya.

Di sinilah masalah modal spiritual datang ketika berpikir tentang apa pembangunan.
Lillard dan Ogaki melihat ciri modal spiritual sebagai satu set objek berwujud dalam bentuk
aturan untuk berinteraksi dengan orang-orang, alam, dan makhluk spiritual (Tuhan, dewa,
Buddha, malaikat, roh jahat seperti yang diyakini ada oleh individu dan dalam agama-agama
yang berbeda) dan percaya bahwa pengetahuan tentang dunia nyata dan spiritual. Merupakan
hasil tubuh aturan dan pengetahuan yang digunakan untuk mengelola dan langsung perilaku
antara individu dan di sisi lain antara seseorang dan dunia alam. Definisi ini menyoroti
bagaimana modal spiritual secara konseptual berbeda dari fisik, manusia, atau modal sosial
karena hasil modal spiritual termasuk pengembalian yang diperoleh baik di waktu dekat dan
dalam jangka panjang.6

Modal spiritual dalam memasukkan bagian dari hal yang bersifat spiritual ini dalam
bagian kegiatan manusia yang harus ditingkatkan agar manusia menjadi manusia yang
efektif. Bagi orang yang beragama, modal intelektual, modal emosional, modal sosial, modal
ketabahan, dan modal moral yang diutarakan di atas adalah bagian dari ekspresi modal
spiritual. Semakin tinggi keimanan seseorang semakin tinggi pula kelima modal di atas.
Namun demikian banyak orang yang menyarankan agar modal spiritual dipisahkan dari
kelima modal di atas, dengan tujuan untuk semakin menekankan betapa pentingnya upaya
pengembangan spiritualitas dan keberagamaan manusia. Di mata orang yang berpandangan
demikian, agama akan menjadi pembimbing kehidupan agar tidak menjadi egoistik yang
orientasinya hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Oleh karena itu upaya untuk

6
Heynes, Jeffrey. 2007. Religion and Development. Palgrave Maccmillan. New York. Hal.142
mengembangkan keagamaan adalah bagian mutlak dan utama bagi tumbuhnya masyarakat
yang makmur dan sejahtera serta aman dan damai.7

2.2. Interaksionalisme Simbolik

Interaksionalisme simbolik merupakan perspektif teori utama dalam sosiologi.


Interaksionalisme simbolik memfokuskan diri dalam menjelaskan tindakan sosial aktor,
meskipun tentu saja tidak bisa dilepaskan dari kontek sosialnya. Sebagai perspektif utama
dalam sosiologi, interaksionalisme simbolik juga dapat digunakan dalam memahami dan
menjelaskan fenomena sosial. Keagamaan yang menjadi fokus studi sosiologi agama.8

Interaksionalisme simbolik bertumpu pada asumsi bahwa masyarakat dapat dipahami


dari berbagai individu-individu itu dalam memahami dunianya. Karena, cara individu dalam
memahami dunianya yang membuat dia melakukan tindakan-tindakan sosial.
Interaksionalisme simbolik memfokuskan diri kepada tindakan sosial aktor tersebut. Sumber
dari tindakan sosial aktor merujuk pada bagaimana cara seorang individu dapat membangun
konsep nya tentang dunia dan tentang kehidupannya. Maka kemudian interaksionalisme
simbolik melihat dari cara individu mengintrepetasikan fenomena sosial yang muncul dalam
bentuk-bentuk simbolik yang memberi ruang untuk di interpretasikan oleh individu. Dalam
hal ini, agama muncul sebagai cara individu menafsirkan simbol-simbol tersebut. Agama
memberi kerangka konsep tentang bagaimana simbol-simbol kehidupan di interpretasikan
oleh seseorang. Pada akhirnya, agama menjadi rujukan dalam tindakan-tindakan dalam aktor.

Rasionalitas

Pemaknaan Tindakan

Weber mengembangkan pendekatan untuk memahami agama sebagai fenomena


sosial. Weber berusaha untuk memahami tindakan manusia yang sebenarnya adalah rasional
yang dapat di prediksi. Weber memberikan perhatian pada tindakan keagamaan sebagai tipe
khusus sebagai tindakan sosial. Weber melihatnya dari sudut pandang makna yang ada
dibalik tindakan tersebut. Weber meyakini bahwa alasan mengapa seseorang dipengaruhi oleh
agama terkait dengan harapan-harapan individu. Tindakan yang di motivasi oleh agama
sebenarnya adalah rasional. 9
7
Ibid. 65
8
Peter L Berger, Langit Suci Agama sebagai Realitas Sosial, Jakarta: LP3S, 1991. hlm: 58
9
Ibid. hlm: 58
BAB III

RUMAH ZAKAT SEBAGAI SARANA PENGENTASAN KEMISKINAN

3.1. Pembinaan Masyarakat Melalui Pemberdayaan Kreativitas

Rumah Zakat mempunyai program untuk mengentas angka kemiskinan yaitu Senyum
Mandiri. Senyum Mandiri merupakan sebuah rangkaian proses dari pemberdayaan
masyarakat yang mandiri. Salah satu program yang dijalankan untuk mengentas kemiskinan
yaitu dengan adanya program Bantuan Wirausaha. Program pemberdayaan ekonomi berbasis
usaha kecil dan mikro binaan Rumah Zakat, dalam bentuk pengadaan modal atau
infrastruktur serta sarana penunjang aktivitas usaha yang telah dimilikinya.

Salah satu daerah yang menjadi binaan oleh Rumah Zakat berada di Pasar Gombong,
Cikarang, Bekasi. Bantuan sarana usaha dan modal yang diberikan, berdasarkan hasil
assessment kebutuhan calon penerima manfaat program bantuan ekonomi. Donasi Rp
6.750.000 untuk 1 kali bantuan modal dan pendampingan per penerima manfaat, Rp
6.750.000 untuk 1 kali bantuan sarana usaha dan pendampingan per penerima manfaat, dan
donasi Rp 7.750.000 untuk 1 tahun pendampingan danpengembangan produk per penerima
manfaat.10

Wilayah Binaan Rumah Zakat yang berada di Pasar Gombong, Cikarang, Bekasi
terbentuk pada tahun 2011. Saat itu hanya ada sekelompok ibu rumah tangga yang minim
keterampilan, sedangkan kondisi perekonomian keluarga juga perlu dibantu. Ada salah satu
warga yang mempunyai keahlian membuat risoles akhirnya menularkan kebiasaannya kepada
lima ibu-ibu yang lain11. Setelah itu, bukan hanya risoles yang dibuat, tapi mereka juga
belajar membuat berbagai macam kue dan jajanan yang lain.

Pembinaan ekonomi di wilayah Pasir Gombong memang terkenal dengan kuliner.


Sejumlah ibu-ibu yang kemudian aktif dalam berbagai kegiatan yang diadakan Rumah Zakat
menjadi motor utamanya. Pesanan untuk pabrik dan perusahaan yang memang menjamur di
Cikarang datang setiap hari dan kue-kue dengan kisaran harga Rp1000 hingga Rp3000 itupun
laris manis.

10
https://www.rumahzakat.org/program/senyum-mandiri/ diakses pukul: 19:20, tanggal 25 Mei 2016
11
RZ Mags Edisi Bulan Agustus 2015
3.2. Peran Zakat dalam Mengentas Angka Kemiskinan

Zakat memiliki dimensi ritual dalam rangka melaksanakan perintah dan ajaran Islam.
Motivasi membayar zakat adalah memenuhi perintah Allah, Hubungan relasional dalam zakat
bukanlah horizontal, tetapi vertikal antara sang pembayar dengan Sang pemilik Hakiki, Allah
Swt. Membayar zakat pada esensinya adalah memenuhi hak Allah. Islam sangat memerangi
kemiskinan agar membebaskan individu dari segala kekurangan sehingga ia bisa menikmati
kehidupan yang layak dan bermartabat sesuai dengan kemuliaan manusia itu sendiri. Zakat
pun diterapkan agar lilitan kemiskinan tidak lagi mendera kehidupan manusia.

Zakat juga memiliki nilai sosial yang sangat tinggi, sebab dalam zakat terdapat unsur
mengembangkan sikap gotong royong dan tolong menolong. Zakat dapat membantu orang-
orang yang terjepit kebutuhan dan menyelesaikan hutang bagi yang membutuhkan. Zakat
juga menolong orang-orang yang sedang dalam perantauan, pengungsi, sampai orang tua
yang pikun atau jompo.

Zakat juga memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang


membutuhkan, baik pangan, sandang, perumahan, maupun kebutuhan hidup lainnya.
Pelaksanaan kewajiban zakat ini sangatlah penting, Dalam Islam, sholat dan zakat adalah hal
yang penting. Dengan sholat setiap muslim diharapkan memiliki jiwa yang bersih dan suci
dari perbuatan kotor. Sedangkan dengan zakat, umat Islam diharapkan menjadi masyarakat
yang kokoh dan berpadu dalam segala bidang.

Zakat merupakan salah satu sumber pendanaan negara dan sangat berperan aktif
dalam memberdayakan serta membangun kesejahteraan umat, terutama dalam bidang
ekonomi.12 Oleh karena itu, setidaknya terdapat tiga aspek yang terkait dengan pelaksanaan
kewajiban zakat. Pertama, aspek moral dan psikologis, pada segi ini diharapkan zakat dapat
mengikis habis ketamakan dan keserakahan si kaya yang memiliki kecenderungan cinta harta.
Kedua, aspek sosial, dalam hal ini zakat bertindak sebagai alat khas yang diberikan Islam
untuk menghapus taraf kemiskinan masyarakat dan sekaligus menyadarkan orang-orang kaya
akan tanggungjawab sosial yang dibebankan agama kepada mereka. Dan ketiga, aspek

12
https://www.rumahzakat.org/program/senyum-mandiri/ diakses pukul: 19:05, tanggal 25 Mei 2016
ekonomi, di sini zakat difungsikan untuk mencegah penumpukan harta pada sebagian kecil
orang dan mempersempit kesenjangan ekonomi dalam masyarakat. 13

Rumah zakat berusaha dengan program-programnya seperti Senyum Mandiri dapat


dilaksanakan dengan baik, dengan menggunakan manajemen modern, sehingga
pengelolaannya professional, disertai dengan akuntabilitas dan transaparansi, maka Rumah
Zakat akan mencapai salah satu tujuannya yaitu untuk mengentas angka kemiskinan.
Penyaluran zakat yang diberikan bisa berupa :

1. Peran pemberdayaan masyarakat yang bisa berbentuk program pendampingan


kelompok kerja bagi masyarakat,

2. Pemberian modal usaha dengan adanya pemantauan dari pihak pengelola zakat,

3. Diberikannya penyuluhan dan pelatihan guna membangun masyarakat yang mepunyai


keterampilan,

4. Program pemberdayaan ekonomi berbasis usaha kecil dan mikro binaan Rumah Zakat,
dalam bentuk pengadaan modal dan/atau infrastruktur serta sarana penunjang aktivitas
usaha yang telah dimilikinya.

5. Serta kegiatan lain yang intinya adalah ‘memberi modal’ untuk dilanjutkan secara
berkesinambungan.

Dengan demikian, zakat benar-benar sesuai esensinya yang berarti tumbuh dan
berkembang dengan memutar harta tersebut sehingga menghasilkan dan berkembang menjadi
lebih produktif. Inilah esensi pemberdayaan masyarakat melalui zakat, mengelola harta umat
untuk umat.14

BAB IV
13
Saifulloh “Pengelolaan Zakat Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Pada LAZ Rumah Zakat Kota
Semarang),semarang: program pascasarjana institute agama islam negeri walisngo 2012
14
PERAN AGAMA DALAM PROGRAM RUMAH ZAKAT

4.1. Modal Spiritual dalam Pembentukan Rumah Zakat

Semangat membumikan nilai spritualitas menjadi kesalehan sosial membingkai gerak


lembaga ini sebagai mediator antara nilai kepentingan muzakki (Donatur) dan mustahiq
(penerima). Antara yang memberi dan menerima, antara para aghniya (orang kaya) dan
mereka yang dhuafa sehingga kesenjangan sosial bisa semakin dikurangi jaraknya.
HMerekalah yang menjadi tiang penyangga lembaga, selain tentu dukungan doa anak yatim
dan para mustahiq yang menyuburkan gerakan sosial ini dilakukan. Pembentukan Lembaga
Rumah Zakat berdiri atas dasar pemahaman nilai kegaamaan bahwa setiap manusia
seharusnya berlomba lomba dalam berbuat kebaikan. Selain itu ada juga pemahaman bahwa
setiap detail harta yang dimiliki, maka didalamnya pasti terdapat Hak orang lain yang perlu
disalurkan ke orang lain dan setiap manusia perlu saling tolong menolong terhadap sesama
manusia.

Krisis global 2009 banyak diprediksikan mulai pulih pada tahun ini, namun tantangan
sosial dan ekonomi tak lebih mudah dihadapi. 15Rumah Zakat Indonesia menyikapi hal ini
dengan melakukan rangkaian kegiatan yang didasarkan juga pada pemahaman membantu
sesama dengan menyalurkan hak-hak mereka semata mata untuk mendapat ridho dan izin
dari Allah SWT. Adanya pemahaman ini menjadikan dasar berdirinya rumah zakat dan ninilai
kegamaan ini menjadi system of belief yang coba di tularkan ke masyarakat dengan harapan
akan terciptanya keshalehan sosial.

Dengan misi untuk membangun kemandirian dan pelayanan masyarakat, Rumah


Zakat kini ada pada tingkat yang lebih tinggi; yakni sebagai organisasi sosial keagamaan
yang berkelas internasional. Dengan menanamkan tiga nilai organisasi baru; trusted,
progressive, dan humanitarian, serta mengusung positioning baru; yakni Sharing Confidence.
Makna dari brand positioning Sharing Confidence dari Rumah Zakat adalah Rumah Zakat
keyakinan kuat untuk berbagi dan menciptakan masyarakat global madani yang lebih baik,
16
dengan menjadi organisasi terdepan di kawasan ini yang menjamin program efektif dan
berkesinambungan dalam memberdayakan masyarakat untuk mencapai kehidupan yang lebih
baik. Secara singkat, Rumah Zakat yakin bahwa dengan saling berbagi, akan tercapai sebuah
masyarakat yang lebih baik. Seiring dengan perubahan tersebut, identitas Rumah Zakat pun

15
RZNews. Hal. 12. Edisi #31 April 2016
16
Ibid, Hal. 12
mengalami sebuah perubahan. Identitas ini mengambil inspirasi dari perjalanan panjang
Rumah Zakat sebagai organisasi kemanusiaan yang membangun kemandirian dan pelayanan
masyarakat.

PEMAKNAAN DALAM PEMBENTUKAN RUMAH ZAKAT17

PEMAKNAAN DALAM
PEMBENTUKAN RUMAH ZAKAT

SETIAP MANUSIA WAJIB MENYALURKAN HAK


MAYORITAS MASYARAKAT HARTA YANG MANUSIA
MENOLONG SATU SAMA SEMATA-MATA UNTUK
ISLAM YANG BERAGAMA MILIKI DIDALAMNYA ADA
LAIN DAN BERLOMBA MENDAPATKAN RIDHO
ISLAM HAK ORANG LAIN
DALAM KEBAIKAN ALLAH SWT

BERDIRINYA RUMAH ZAKAT


SEBAGAI TINDAKAN
BERDASARKAN NILAI NILAI
KEAGAMAAN

DISALURKAN KE WARGA BINAAN


DALAM BENTUK PEMBINAAN
EKONOMI DAN NILAI NILAI
RELIGIUS

TERCIPTA MASYARAKAT YANG


MANDIRI DAN TERCIPTA
KESHALEHAN SOSIAL

Secara keseluruhan desain menggambarkan organisasi yang berkomitmen untuk terus


memberi dan berbagi kepada masyarakat. Rumah dengan pintunya menjadi perlambangan
sebuah organisasi yang terbuka dan memberi kebaikan dari dan untuk masyarakat. Bentuk
17
Hasil Olahan Analisis Kelompok
rumah yang tampak seperti tanda panah mengarah ke atas melambangkan pergerakan
organisasi Rumah Zakat yang progresif dan terus membangun kemandirian masyarakat.
Sementara hati menandakan cinta kasih yang menjadi landasan bagi Rumah Zakat dalam
menjalankan aktivitas kemanusiaan dan pemberdayaan.Sebuah jalinan empati dan sinergi
telah terjalin hangat dalam 13 tahun terakhir. 18Rumah Zakat berusaha menjadi jembatan dan
rumah terbaik bagi muzakki (donatur) dan mustahik (penerima manfaat), saling bergandeng
tangan berkontribusi menata peradaban yang lebih baik.

Proyek kebaikan yang coba disalurkan melalui rumah zakat ini didasari oleh nilai
keagamaan. Bagi mereka, adanya rumah zakat ini adalah suatu betuk kebaikan yang terus
menerus di gaungkan bersama sehingga dapat menjadi wasilah atau jalan penyemangat bagi
saudara saudara yang tengah kesusahan, tidak mendapatkan nasib yang beruntung, dan siapa
saja yang belum tergerak menuju jalan kebaikan. Di dalamnya, program rumah zakat ini juga
sarat akan nilai-nilai keagaamaan. Menolong sesama bukan berarti terus menerus
menengadahkan tangan mereka, rumah zakat ingin memberikan pelayanan dalam bentuk
pemberdayaan yang dalam kegiataan tersebut juga diselipkan kegiatan keagaamaan seperti
pengajian sehingga dengan begitu nilai nilai keagaamaan yang menjadi system of belief
terealisasikan dan dapat menciptakan keshalehan sosial.

4.2. Pengaplikasian Rumah Zakat dalam Pengentasan Kemiskinan

Zakat sangat bermanfaat bagi negara Indonesia. Penduduk Indonesia mayoritas


beragama Islam dan bagi seorang muslim membayar zakat adalah suatu kewajiban umat
Islam yang mampu. Hasil pengumpulan zakat merupakan sumber dana yang potensial bagi
upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pelaksanaan zakat mempunyai fungsi sosial.
Jika dilaksanakan dengan baik, dana yang terkumpul dapat membantu pemerintah untuk
mengurangi tingkat kemiskinan, sehingga dapat mengurangi kesenjangan sosial antara si
kaya dan si miskin. Mengingat pentingnya manfaat zakat ini bagi umat Islam dan pemerintah,
maka dirasakan pengelolaan zakat perlu diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Zakat merupakan salah satu sumber pendanaan negara dan sangat berperan aktif
dalam memberdayakan serta membangun kesejahteraan umat, terutama dalam bidang
ekonomi. Oleh karena itu, setidaknya terdapat tiga aspek yang terkait dengan pelaksanaan
kewajiban zakat. Pertama, aspek moral dan psikologis, pada segi ini diharapkan zakat dapat
mengikis habis ketamakan dan keserakahan si kaya yang memiliki kecenderungan cinta harta.
18
https://www.rumahzakat.org/tentang-kami/sejarah/ , diakses pada tanggal 22 Mei 2016, pukul 20.08 WIB
Kedua, aspek sosial, dalam hal ini zakat bertindak sebagai alat khas yang diberikan Islam
untuk menghapus taraf kemiskinan masyarakat dan sekaligus menyadarkan orang-orang kaya
akan tanggungjawab sosial yang dibebankan agama kepada mereka. Dan ketiga, aspek
ekonomi, di sini zakat difungsikan untuk mencegah penumpukan harta pada sebagian kecil
orang dan mempersempit kesenjangan ekonomi dalam masyarakat. 19

Gambar 4.120

Rumah zakat berusaha dengan program-


programnya seperti Senyum Mandiri dapat
dilaksanakan dengan baik, dengan menggunakan
manajemen modern, sehingga pengelolaannya
professional, disertai dengan akuntabilitas dan
transaparansi, maka Rumah Zakat akan mencapai
salah satu tujuannya yaitu untuk mengentas angka
kemiskinan. Krisis global 2009 menjadi tantangan
21
sosial dan ekonomi tak lebih mudah dihadapi.
Rumah Zakat Indonesia menyikapi hal ini dengan
melakukan rangkaian kegiatan yang didasarkan
juga pada pemahaman membantu sesama dengan
menyalurkan hak-hak mereka semata mata untuk
mendapat ridho dan izin dari Allah SWT. Rumah
Zakat keyakinan kuat untuk berbagi dan menciptakan masyarakat global madani yang lebih
baik, dengan menjadi organisasi terdepan di kawasan ini yang menjamin program efektif dan
berkesinambungan dalam memberdayakan masyarakat untuk mencapai kehidupan yang lebih
baik.

Rumah Zakat Indonesia berkeinginan kuat untuk memantapkan program-program


pemberdayaan. Dukungan dan kepercayaan masyarakat menguatkan lembaga untuk semakin
fokus kepada sebuah rekayasa peradaban besar yang sejak awal telah diimpikan, yakni

19
Saifulloh “Pengelolaan Zakat Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Pada LAZ Rumah Zakat Kota
Semarang),semarang: program pascasarjana institute agama islam negeri walisngo 2012
20
Hasil olahan analisis kelompok
21
RZNews. Hal. 12. Edisi #31 April 2016
“transformasi mustahik ke muzakki”. Wujud nyata usaha lembaga adalah dengan meluaskan
jaringan pengembangan usaha kecil dan mikro di 18 kota.22

Tidak hanya itu, Rumah Zakat Indonesia pun menyelenggarakan pelatihan-pelatihan


motivasi dan ketrampilan dalam wadah Youth Development Center. Pelatihan motivasi ini
memegang peranan penting karena karakter, pola pikir, dan sikap yang kontra produktif
menyumbangkan andil besar dalam kelanggengan sebuah kemiskinan. Hal yang tidak kalah
penting adalah pendampingan masyarakat dilakukan oleh 28 Mustahik Relation Officer
(MRO) dengan didukung para relawan. Pembelajaran untuk menjadi organisasi yang amanah
dan professional terus dilakukan, salah satunya dengan penguatan program-program Human
Capital. Diluncurkanlah program seperti EAZI (Executive Amil Zakat Indonesia), ADP (Amil
Development Program), ACTPRO (Acceleration Program) dan sebagainya. Kegiatan
peningkatan kapasitas ini terbukti efektif kompetensi memenuhi tuntutan profesi dan
masyarakat.23

Penguatan organisasi dikokohkanlah organisasi baru pemberdayaan, yaitu : Rumah


Sehat Indonesia (pengelola program kesehatan), Rumah Juara Indonesia (pengelola program
pendidikan), Rumah Mandiri Indonesia (pengelola program kemandirian ekonomi).
Peningkatan jumlah unit layanan terus dilakukan. Hingga akhir tahun telah berdiri 8 Sekolah
Juara, 7 Rumah Bersalin Gratiis.

Tahun 2009 bisa disebut sebagai tahun ekspansi mengingat dalam 1 semester
langsung dibuka 14 cabang baru sehingga menambah total jumlah jaringan sebanyak 45
kantor. Pengelolaan yang semakin baik mendapat apresiasi dari masyarakat antara lain award
dari Karim Business Consulting yang menempatkan Rumah Zakat Indonesia sebagai #2
LAZNAS Terbaik dalam ISR Award (Islamic Social Responsibility Award 2009).
Penghargaan juga datang dari IMZ (Indonesia Magnificence of Zakat) yang menganugerahi
Rumah Zakat Indonesia sebagai The Best Organization in Zakat Development.24

Rasional choice yang diyakini oleh lembaga zakat adalah untuk memberikan manfaat
kepada masyarakat dengan landasan nilai-nilai keagaamaan. Bagi para pendonor atau yang
dkenal dengan muzakki rumah zakat hadir untuk membantu menyalurkan hak hak kaum
penerima sehingga mereka dapat memenuhi rukun islam yang ke empat yaitu memberikan
zakat kepada mereka yang membutuhkan. Sedangkan bagi para penerima atau yang dikenal
22
RZNews. Hal. 1. Edisi bulan Desember 2016
23
RZ Mags Edisi Bulan Agustus 2015
24
https://www.rumahzakat.org/tentang-kami/sejarah/ , diakses pada tanggal 22 Mei 2016, pukul 20.15 WIB
dengan mustahiq mereka membuat pilihan untuk kegaamaan dan memenuhi nilai keagamaan
dan memberikan pelayanan pemberdayaan dengan tidak terus menerus memberikan bantuan
tetapi juga dengan memberikan pemahaman bahwa memiliki tangan yang terus menerus
menengadah dibawah tidak baik dan alangkah baiknya justru membantu orang lain dengan
cara memberdayakan diri sendiri yang dibalut dengan nilai nlai keagaamaan. Angka
kemiskinan yang cukup banyak ini dikurangi dengan memberdayakan kaum mustahiq
menjadi kaum muzakki sehingga rumah zakat dapat Merangkai Senyum Indonesia, sebuah
rangkaian kegiatan untuk memperbaiki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia jauh
lebih khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan dan kelayakan hidup.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Masalah kemiskinan merupakan hal yang krusial di Indonesia dan angka kemiskinan
di Indonesia terbilang cukup tinggi. Dalam hal ini Agama turut berperan dalam mengurangi
angka kemiskinan dan kelaparan dengan melalui Zakat. Zakat adalah salah satu ibadah pokok
yang menjadi kewajiban bagi setiap individu (Mukallaf) yang memiliki harta untuk
mengeluarkan harta tersebut sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku dalam zakat itu
25
sendiri. Zakat memiliki dimensi ritual dalam rangka melaksanakan perintah dan ajaran
Islam. Motivasi membayar zakat adalah memenuhi perintah Allah, Hubungan relasional
dalam zakat bukanlah horizontal, tetapi vertikal antara sang pembayar dengan Sang pemilik
Hakiki, Allah Swt. Membayar zakat pada esensinya adalah memenuhi hak Allah. Zakat
dipandang sebagai aturan jaminan sosial pertama yang tidak bergantung pada pertolongan
penguasa secara sistematis. Tujuan akhirnya adalah memenuhi kebutuhan orang-orang yang
membutuhkan, baik pangan, sandang, perumahan, maupun kebutuhan hidup lainnya.

Pembentukan Lembaga Rumah Zakat berdiri atas dasar pemahaman nilai kegaamaan
bahwa setiap manusia seharusnya berlomba lomba dalam berbuat kebaikan. Selain itu ada
juga pemahaman bahwa setiap detail harta yang dimiliki, maka didalamnya pasti terdapat
Hak orang lain yang perlu disalurkan ke orang lain dan setiap manusia perlu saling tolong
menolong terhadap sesama manusia. Rumah Zakat Indonesia menyikapi hal ini dengan
melakukan rangkaian kegiatan yang didasarkan juga pada pemahaman membantu sesama
dengan menyalurkan hak-hak mereka semata mata untuk mendapat ridho dan izin dari Allah
SWT. Adanya pemahaman ini menjadikan dasar berdirinya rumah zakat dan ninilai kegamaan
ini menjadi system of belief yang coba di tularkan ke masyarakat dengan harapan akan
terciptanya keshalehan sosial.

Zakat sangat bermanfaat bagi negara Indonesia. Penduduk Indonesia mayoritas


beragama Islam dan bagi seorang muslim membayar zakat adalah suatu kewajiban umat
Islam yang mampu. Hasil pengumpulan zakat merupakan sumber dana yang potensial bagi
upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Rumah zakat berusaha dengan program-
programnya seperti Senyum Mandiri dapat dilaksanakan dengan baik, dengan menggunakan
manajemen modern, sehingga pengelolaannya professional, disertai dengan akuntabilitas dan
transaparansi, maka Rumah Zakat akan mencapai salah satu tujuannya yaitu untuk mengentas
angka kemiskinan. Rumah Zakat keyakinan kuat untuk berbagi dan menciptakan masyarakat
global madani yang lebih baik, dengan menjadi organisasi terdepan di kawasan ini yang

25
Didin Hafidhuddin, “zakat dalam perekonomian modern”, (Jakarta:gema insane,2002) hal 7
menjamin program efektif dan berkesinambungan dalam memberdayakan masyarakat untuk
mencapai kehidupan yang lebih baik.

Rasional choice yang diyakini oleh lembaga zakat adalah untuk memberikan manfaat
kepada masyarakat dengan landasan nilai-nilai keagaamaan. Bagi para pendonor atau yang
dkenal dengan muzakki rumah zakat hadir untuk membantu menyalurkan hak hak kaum
penerima sehingga mereka dapat memenuhi rukun islam yang ke empat yaitu memberikan
zakat kepada mereka yang membutuhkan. Sedangkan bagi para penerima atau yang dikenal
dengan mustahiq mereka membuat pilihan untuk kegaamaan dan memenuhi nilai keagamaan
dan memberikan pelayanan pemberdayaan dengan tidak terus menerus memberikan bantuan.

Daftar Pustaka

Didin Hafidhuddin, “zakat dalam perekonomian modern”, (Jakarta:gema insane,2002)


Nurul Fatikhah, “Managemen Strategik Pengelolaan Zakat Produktif, (Studi Kasus pada pos
keadilan peduli umat cabang Yogyakarta)”, Yogyakarta; Managemen Dakwah UIN-Sunan
Kalijaga, 2008)

Nuryanto Hari Mukti, “Pengaruh Pendayagunaan Zakat Produktif Terhadap Pemberdayaan


Ekonomi Umat di Lembaga Amil Zakat Dompet Duafa Republika Cabang Yogyakarta”,
(yogyakarta: Fakultas Sariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011)

Zulva Dwi Wulandari, Pemberdayaan Zakat Produktif Terhadap Peningkatan Kesejahteraan


Masyarakat (Studi Kasus Pada Badan Amil Zakat Kota Blitar), (Tulungagung: Skripsi tidak
diterbitkan, 2011

Agus Hufriya, Pengentasan Kemiskinan Melalui Zakat (Studi Pada Yayasan Dana Sosial Al-
Falah (YDSF) Cabang Malang), (Malang: Skripsi tidak diterbitkan, 2007)

Saifulloh “Pengelolaan Zakat Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi Pada LAZ Rumah
Zakat Kota Semarang),semarang: program pascasarjana institute agama islam negeri
walisngo 2012

https://www.rumahzakat.org/zakat : pengetas kemiskinan/ diakses pukul: 19:20, tanggal 25


Mei 2016

https://www.rumahzakat.org/program/senyum-mandiri/ diakses pukul: 19:20, tanggal 25 Mei


2016

RZ Mags Edisi Bulan Agustus 2015

Elster J., “Nuts and Bolts for the Social Sciences,” Cambridge University Press, Cambridge
1989, hal. 22 dikutip dalam Ward, Hugh, ibid.

RZNews.. Edisi #31 April 2016

Didin Hafidhuddin, “zakat dalam perekonomian modern”, (Jakarta:gema insane,2002) hal 7

Scott, John. Rational Choice Theory. Sage Publications, 2000.

Downs, Anthony, “An Economic Theory of Democracy,” Harper and Row, NY, 1957.Ibid

Ward, Hugh, “Rational Choice” dalam Marsh, David dan Gerry Stokker ed., “Theory and
Methods in Political Science,” Palgrave McMillan, 2002.

George Ritzer, Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta: Prenada Media
Group, 2007)
Heynes, Jeffrey. 2007. Religion and Development. Palgrave Maccmillan. New York