Anda di halaman 1dari 102

ANALISIS DETERMINAN PELAPORAN KEUANGAN DI INTERNET

OLEH PEMERINTAH DAERAH DI INDONESIA

(Studi pada Pulau Jawa)

SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat untuk
Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan
Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta

Disusun Oleh :

ROSITA PUTRI DIANI

F0312109

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016

i
ABSTRAK

ANALISIS DETERMINAN PELAPORAN KEUANGAN DI INTERNET


OLEH PEMERINTAH DAERAH DI INDONESIA

(Studi pada Pulau Jawa)

ROSITA PUTRI DIANI


NIM. F0312109

Tujuan dari penelitian ini adalah menguji secara empiris faktor-faktor


yang mempengaruhi pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah di
Indonesia yang difokuskan pada Pulau Jawa. Sejak dikeluarkannya undang-
undang mengenai keterbukaan informasi publik,pemerintah harus transparan dan
salah satu caranya dengan melaporkan informasi terkait pengelolaan keuangan
daerahnya melalui website-nya.Metode analisis yang digunakan adalah regresi
logistik.Observasi dilakukan pada awal November 2015 hingga akhir Desember
2015. Terdapat 95 website yang dapat diakses dan dianalisis lebih lanjut, dari
sampeltersebut terdapat 58(61,05%) pemerintah daerah yang melakukan
pelaporan keuangan dan 37 (38,95%) yang tidak melakukan pelaporan keuangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran pemerintah daerah dan kekayaan
pemerintah daerah memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap pelaporan
keuangan di internet oleh pemerintah daerah di Pulau Jawa. Tiga variabel lain
yaitu kompetisi politik, leverage, dan tipe pemerintah daerah tidak berpengaruh
signifikan terhadap pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah di
Pulau Jawa.

Kata kunci : pelaporan keuangan di internet, kompetisi politik, ukuran


pemerintah daerah, leverage, kekayaan pemerintah daerah, dan tipe pemerintah
daerah, Pulau Jawa.

ii
ABSTRACT

DETERMINANTS ANALYSES INTERNET FINANCIAL REPORTING


BY LOCAL GOVERNMENT IN INDONESIA

(Study in Java)

ROSITA PUTRI DIANI


NIM. F0312109

The objective of this study is to empirically examine determinants of


internet financial reporting by local government in Indonesia which focused in
Java. Since the issuance of regulations about public disclosure, the government
must be transparent one through reporting information related financial
management on its website. Analysis method used in this research is logistic
regression. Observation was conducted in early November 2015 until the end of
Desember 2015. There are 95 websites which can be accessed and analyzed, 58
(61.05%) local governments do financial reporting and 37 (38.95%) local
governments do not do financial reporting.The result shows that local government
size and local government wealth have a significant positive influence tointernet
financial reporting by the local government in Java. Three other variables,
political competition, leverage, and local government type do not significantly
affect internet financial reporting by the local government in Java.

Keywords : internet financial reporting, political competition, local government


size, leverage, local government wealth, local government type, Java.

iii
ANALISIS DETERMINAN PELAPORAN KEUANGAN DI INTERNET
OLEH PEMERINTAH DAERAH DI INDONESIA
(Studi pada Pulau Jawa)

Skripsi

Disusun oleh:
Rosita Putri Diani
NIM: F0312109

Telah disetujui pembimbing


Pada tanggal:

Pembimbing,

Ibrahim Fatwa Wijaya, S.E., M.Sc., Ak.


NIP. 198307172014041001

Mengetahui,
Kepala Program Studi Akuntansi

Drs. Santoso Tri Hananto, M.Si., Ak.


NIP. 196909241994021001

iv
ANALISIS DETERMINAN PELAPORAN KEUANGAN DI INTERNET
OLEH PEMERINTAH DAERAH DI INDONESIA
(Studi pada Pulau Jawa)

Disusun oleh:
Rosita Putri Diani
NIM: F0312109

Telah disetujui dan disahkan oleh Tim Penguji


Pada tanggal: 2016

Ketua Tim Penguji : Drs.Agus Budiatmanto, M.Si., Ak.


NIP. 195912161990031001

Penguji : Agung Nur Probohudono, S.E.,M.Si.,Ph.D.,Ak.


NIP. 198302042008011003

Pembimbing : Ibrahim Fatwa Wijaya, S.E., M.Sc., Ak.


NIP. 198307172014041001

Mengetahui,
Kepala Program Studi Akuntansi

Drs. Santoso Tri Hananto, M.Si., Ak.


NIP. 196909241994021001

v
HALAMAN PERNYATAAN SKRIPSI

Nama : Rosita Putri Diani

NIM : F0312109

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi berjudul“ Analisis Determinan


Pelaporan Keuangan di Internet oleh Pemerintah Daerah di Indonesia (Studi
pada Pulau Jawa)” adalah murni karya saya sendiri.

Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan saya ini tidak benar, maka saya
bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang
saya peroleh atas skripsi tersebut.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya

Surakarta, April 2016


Mahasiswa yang menyatakan,

Rosita Putri Diani


NIM. F0312109

vi
HALAMAN MOTTO

“Before you say you can’t do something, try it!”


(Sakichi Toyoda – Toyota Motor Corp.)

”Verily with every hardship comes ease”

(QS. Al Inshirah: 5)

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka


bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang yang
bertawakal (kepada-Nya)”

(QS. Ali Imran:159)

“The only way to do a great work is by loving what you do”

(Penulis)

vii
HALAMAN PERSEMBAHAN

Atas petunjuk serta hidayah dari Allah SWT

Serta junjungan kita Nabi Muhammad SAW

Teruntuk :

Ibuku tercinta yang selalu memberi dukungan dan semangat yang tiada
henti kepadaku, sehingga aku bisa menyelesaikan skripsi ini dengan lancar
dan penuh semangat.

Bapakku tersayang yang selalu memberiku insiprasi serta pelajaran hidup.

Adekku tersayang yang selalu membuatku tersenyum setiap hari.

Sahabatku, AndhikaHenny (Diko) dan ApriliaAyu(Kipli) yang setia menjadi


temanku di bangku kuliah

Teman setiaku, Denny Pratama W. yang selalu memotivasiku

viii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat

danhidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul

“Analisis Determinan Pelaporan Keuangan di Internet oleh Pemerintah

Daerah di Indonesia (Studi pada Pulau Jawa)” dengan lancar. Skripsi ini

disusun guna memenuhi syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi Jurusan

Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS)

Surakarta.

Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan

berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan banyak terima kasih

kepada:

1. Dr. Hunik Sri Runing S, M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Bapak Drs. Santoso Tri Hananto, M.Si, Ak., selaku Ketua Jurusan

Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret

Surakarta yang telah banyak membantu dalam penelitian ini.

3. Bapak Sulardi, SE, M.Si,Akselaku Pembimbing Akademik yang telah

memberikan pengarahan dan bimbingan selama masa studi penulis.

4. Bapak Ibrahim Fatwa Wijaya, S.E., M.Sc., Ak.selaku dosen pembimbing

skripsi yang telah berkenan untuk memberikan bimbingan dan ilmunya,

selalu memberikan bantuan dan meluangkan waktu setiap saat penulis

ix
membutuhkan waktu untuk konsultasi. Terima kasih sebesar-besarnya saya

ucapkan kepada Bapak Ibrahim.

5. Bapak Drs.Agus Budiatmanto, M.Si., Ak. dan Bapak Agung Nur

Probohudono, S.E.,M.Si.,Ph.D.,Ak. selaku dosen penguji dalam ujian

skripsi, terima kasih atas kritik dan saran yang telah diberikan sehingga

skripsi ini bisa menjadi lebih baik lagi.

6. Ibu Dr. Palikhatun, M.Si,Ak. selaku dosen pengampu mata kuliah

metodologi penelitian yang telah memberikan banyak wejangan dan

memberikan inspirasi bagi penulis.

7. Bapak Sutaryo, SE, M.Si, Ak. selaku dosen pembimbing magang yang

telah memberikan banyak bantuan dalam proses magang.

8. Bapak Drs. Santoso Tri Hananto, M.Si, Ak., serta Ibu Dr. Palikhatun,

M.Si,Ak., dan Bapak Sutaryo, SE, M.Si, Ak.selaku dosen penguji ujian

komprehensif yang telah memberikan banyak sekali ilmu dan wejangan

kepada penulis.

9. Ariyanto Adhi Nugroho S.E, M.Ec,Dev selaku dosen pembimbing Kuliah

Kerja Nyata (KKN) yang telah berbaik hati banyak memberikan

bimbingan selama KKN berlangsung.

10. Seluruh dosen FEB UNS yang telah memberikan ilmu bagi penulis, serta

kepada seluruh staff FEB UNS yang membantu penulis dalam mengurus

berbagai keperluan administrasi.

x
11. Orang tua saya, Bapak Larsita, S.E., M.Sc. dan Ibu Dra.Dwi Jarwanti yang

selalu memberi kasih sayang, cinta dan motivasi kepada penulis sehingga

penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar.

12. Denny Pratama Widiarso, orang paling setia yang selalu menemani penulis

dalam mengerjakan skripsi, menemani ketika penulis konsultasi skripsi

dan selalu memotivasi saya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan

baik.

13. Sahabat - sahabat saya, Tiara, Dita, Ratna, dan Fifi yang tiada hentinya

menyemangati penulis untuk segera menyelesaikan penulisan skripsi ini.

14. Sahabat kuliah saya, Andhika (Diko) dan Aprilia (Kipli) yang telah

menjadi teman setia selama perkuliahan dan selalu memotivasi saya serta

berbagi ilmu bersama.

15. Teman saya Irwan Tri Kurniawan yang telah banyak membantu penulis

selama kuliah, membantu penulis dalam persiapan ujian komprehensif dan

skripsi.

16. Teman-temankosSrikandi (Mbak Irma, Ida, Emilia, Tanty) yang

selaluberbagicandatawadanmotivasi.

17. Keluarga KKN Denanyar Periode Juli-Agustus 2015 ( Ucup, kak Fariza,

Adet, Aifa, Amy, Septi, Nadita, Hanik, dan Ana) yang telah memberikan

banyak inspirasi dan pelajaran bagaimana menjalani hidup dengan benar

kepada penulis.

xi
18. Teman-teman S1 Akuntansi FEB UNS angkatan 2012, terima kasih telah

menjadi teman yang baik bagi penulis yang selalu ada disaat suka maupun

duka.

19. Teman-teman S1 Akuntansi FEB UNS kelas C angkatan 2012 yang telah

memberikan kenangan indah di masa kuliah dan telah berjuang bersama

menghadapi perkuliahan dan ujian.

20. Pihak-pihak lain yang tak dapat disebutkan satu per satu yang telah

membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

Akhir kata, penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam penulisan

skripsi ini akan tetapi pasti masih terdapat kekurangan. Penulis mengharapkan

kritik dansaran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan skripsi ini.

Penulis berharap, semoga skripsi ini mampu memberikan manfaat bagi pembaca

sekalian.

Surakarta, Maret 2016

Penulis

xii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i

ABSTRAK .................................................................................................... ii

ABSTRACT .................................................................................................. iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................ iv

HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... v

HALAMAN MOTTO ................................................................................... vi

HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... vii

KATA PENGANTAR .................................................................................. ix

DAFTAR ISI ................................................................................................. xiii

DAFTAR TABEL ......................................................................................... xvii

DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xix

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1

A. Latar Belakang ................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .............................................................................. 6

C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 7

D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 8

E. Sistematika Penulisan......................................................................... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 10

A. Landasan Teori ................................................................................... 10

1. Teori Agensi ............................................................................. 10

xiii
2. Laporan Keuangan Sektor Publik ............................................. 12

3. Good Public Governance.......................................................... 15

4. Akuntabilitas dan Transparansi ................................................ 17

5. Pelaporan Keuangan di Internet ................................................ 19

6. Pengungkapan (Disclosure) ...................................................... 19

7. Electronic Government (E-Government) .................................. 21

8. Undang-Undang No. 14 tahun 2008 ......................................... 23

9. Kompetisi Politik (Political Competition) ................................ 23

10. Ukuran Pemerintahan Daerah (Size) ......................................... 24

11. Leverage.................................................................................... 24

12. Kekayaan Pemerintahan Daerah(Wealth) ................................. 25

13. Tipe Pemerintah Daerah(Local Government Type) .................. 25

B. Penelitian Terdahulu .......................................................................... 26

C. Pengembangan Hipotesis ................................................................... 31

D. Kerangka Teoritis ............................................................................... 34

BAB III METODOLOGI PENELITIAN....................................................... 36

A. Desain Penelitian................................................................................ 36

B. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel ......................... 36

C. Data dan Metode Pengumpulan Data ................................................. 37

D. Identifikasi dan Pengukuran Variabel ................................................ 38

1. Variabel Dependen ................................................................... 38

2. Variabel Independen ................................................................. 39

E. Metode Analisis Data ......................................................................... 41

xiv
1. Uji Multikolinearitas ................................................................. 43

2. Statistik Deskriptif .................................................................... 43

3. Pengujian dengan Regresi Logistik .......................................... 43

a. Menilai Model Fit ............................................................ 43

b. Uji Estimasi Parameter atau Koefisien Regresi .............. 44

BAB IV PEMBAHASAN .............................................................................. 46

A. Hasil Penelitian .................................................................................. 46

1. Deskripsi Objek Penelitian ..................................................... 46

2. Analisis Data .......................................................................... 47

a. Uji Multikolinearitas ....................................................... 47

b. Analisis Deskriptif ........................................................... 48

c. Menilai Model Fit ............................................................ 50

1. Uji Nilai Likelihood .................................................... 50

2. Uji Nilai Hosmer and Lemeshow................................ 51

3. Uji Nilai Nagelkerke R2 ............................................. 52

d. Hasil Pengujian Hipotesis ............................................... 52

1. Uji Estimasi Parameter atau Koefisien Regresi .......... 52

B. Pembahasan ........................................................................................ 55

BAB V PENUTUP ........................................................................................ 62

A. Kesimpulan ....................................................................................... 62

B. Keterbatasan ...................................................................................... 64

C. Saran .................................................................................................. 64

D. Implikasi............................................................................................. 64

xv
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 66

LAMPIRAN

xvi
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Ringkasan Perhitungan Sampel .................................................... 46

Tabel 4.2 Informasi Keuangan yang Dipublikasikan di Website .................. 47

Tabel 4.3 Uji Multikolinearitas ...................................................................... 48

Tabel 4.4 Statistik Deskriptif ........................................................................ 49

Tabel 4.5 Uji Nilai Likelihood ....................................................................... 50

Tabel 4.6 Uji Nilai Hosmer and Lemeshow ................................................... 51

Tabel 4.7 Uji Nilai Nagelkerke 𝑅2 ................................................................. 52

Tabel 4.8 Uji Parameter Logistic Regression ................................................. 53

xvii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Teoritis ................................................................... 35

xviii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Daftar Sampel Pemerintah Daerah

Lampiran 2. Statistik Deskriptif

Lampiran 3. Uji Multikolinearitas

Lampiran 4. Hasil Pengujian dengan Logistic Regression

Lampiran 5. Daftar Publikasi Informasi Keuangan

xix
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak diterbitkannya Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang

Keuangan Negara, pemerintah pusat dan pemerintah daerah diwajibkan membuat

laporan keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan APBN dan

APBD. Laporan keuangan yang dibuat tersebut harus diaudit oleh Badan

Pemeriksa Keuangan (BPK) agar informasi terkait pengelolaan keuangan bisa

dinilai keandalannya. Dalam lingkup pemerintahan daerah, pertanggungjawaban

atas pengelolaan keuangan oleh pemerintah daerah seharusnya tidak hanya

diberikan kepada DPRD sebagai wakil rakyat , namun juga kepada masyarakat

luas.

Di era demokrasi ini, masyarakat memegang peran penting dalam

mengawasi keberlangsungan pemerintahan di daerah. Pemilih (voters) yaitu

masyarakat memegang peran penting atas terpilihnya pejabat terpilih

(walikota/bupati). Monir dkk. (2014) menyatakan bahwa pemilih dapat

mempengaruhi hasil pemilu, kelompok kepentingan memiliki insentif untuk

mencari informasi tentang tindakan agen politik. Jika pengusaha politik ingin

terpilih, mereka tidak bisa mengabaikan kepentingan kelompok tersebut (Monir

dkk. 2014). Berdasarkan hal tersebut, kepala daerah harus melakukan

1
2

pertanggungjawaban serta transparansi untuk mendapatkan kepercayaan

masyarakat.

Akuntabilitas dan transparansi ini sesuai dengan pedoman Good Public

Governance (GPG). Seperti yang diungkapkan Komite Nasional Kebijakan

Governance (2010) yaitu selain akuntabilitas, transparansi juga merupakan salah

satu asas yang harus dipenuhi demi terwujudnya Good Public Governance (GPG).

Martani (2014) merumuskan bahwa transparansi diperlukan agar

masyarakat dan dunia usaha dapat mengawasi pelaksanaan pemerintahan secara

objektif. Pemerintahan daerah yang menjalankan asas transparansi dapat dilihat

dari ketersediaan informasi keuangan secara terbuka serta dapat diakses oleh

masyarakat luas dan pihak lain yang berkepentingan. Asas transparansi ini sesuai

dengan Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi

Publik, di dalam undang-undang tersebut menyatakan salah satu informasi yang

wajib disediakan dan diumumkan secara berkala oleh pemerintah daerah sebagai

badan publik adalah informasi mengenai laporan keuangan. Dengan adanya

Undang-undang tersebut pemerintah daerah harus lebih transparan, terlebih lagi

tuntutan masyarakat yang lebih tinggi atas transparansi keuangan daerah.

Bentuk transparansi yang dapat dilakukan pemerintah daerah yaitu

melakukan pelaporan keuanganmelalui website. Bertot dkk. (2010) menyatakan

kesempatan untuk mengakses informasi tentang pemerintah, seperti yang dapat

dilakukan dalam pengungkapan sukarela laporan keuangan di internet, sekarang

ini perlu diperhatikan untuk menjamin partisipasi demokrasi, kepercayaan kepada


3

pemerintah, mencegah korupsi, menginformasikan keputusan, akurasi informasi

pemerintah, ketersediaan informasi bagi publik, perusahaan, dan jurnalis.

Pelaporan keuangan melalui websitejuga dilakukan sebagai salah satu

upaya menjalankan asas akuntabilitas. Pemerintah daerah harus bisa

mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya daerah serta pelaksanaan

kebijakan yang dipercayakan kepada pemerintah daerah dalam rangka

meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang membuktikan bahwa

pelaporan informasi keuanganmelalui internet merupakan upaya yang efektif dan

efisien dalam rangka mewujudkan Good Public Governance. Pengungkapan

laporan keuangan pemerintah daerah di internet dinilai efisien (Woldenberg dalam

Bertot dkk. 2010). Shim dan Eom (2008) menyatakan pengungkapan sukarela

laporan keuangan pemerintah daerah di internet efektif untuk meningkatkan

pengendalian terhadap perangkat pemerintahan daerah dari tindakan korupsi serta

dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pemerintahan daerah. Sifat

interaktif dari teknologi digital government sering dianggap memiliki kemampuan

meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya dalam operasi pemerintah serta

meningkatkan transparansi dan akuntabilitas sektor publik (Gil-Garcia dan

Helbig, 2007). Internet dapat dijadikan ruang penyedia informasi publik yang

mudah diakses oleh pengguna informasi dan biaya yang ditimbulkan efisien bagi

pemerintah (Styles dan Tennyson, 2007). Roman dan Miller (2013) menyatakan

beberapa wilayah hukum juga menggunakan teknologi informasi dan komunikasi

(ICT) sebagai mekanisme untuk melibatkan warga dalam pengembangan


4

kebijakan. Selain itu, penggunaan website dan teknologi informasi juga

merupakan penerapan e-government yang memegang peran penting bagi kinerja

pemerintah dimasa mendatang (Moon, 2002). Website dan teknologi berbasis web

sering dianggap sebagai bagian penting dari setiap e-government (Yavus dan

Welch, 2014). Berdasarkan hal tersebut, internet dapat mewujudkan

terselenggaranya pengelolaan keuangan daerah yang baik.

Di Indonesia, penggunaan website sebagai implementasi e-government

dimulai sejak diterbitkannya Instruksi Presiden No. 6 tahun 2001 tentang

Pengembangan dan Pendayagunaan Telematika di Indonesia yang kemudian

diperjelas dengan Instruksi Presiden Nomor 3 tahun 2003 tentang Kebijakan dan

Strategi Nasional Pengembangan E-Government.

Perkembangan e-government di Indonesia saat ini, sebagian besar pemda

telah memiliki website resmi, namun masih terdapat beberapa pemda yang tidak

menggunakan website-nyasebagai media pelaporan keuangan. Penelitian

Muhammad dalam Rahman (2013) menyatakan bahwa pemerintah kota maupun

kabupaten masih kurang optimal dalam mengembangkan pelaporan keuangan

melalui website-nya. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata indeks tingkat

pengungkapan informasi keuangan tahun 2012 lebih rendah dibandingkan dengan

rata-rata indeks non keuangan.

Beberapa penelitian terdahulu mencoba menganalisis faktor-faktor yang

menjadi determinan pelaporan keuangan di internet (website) oleh pemerintah

daerah. Namun, hasil dari penelitian-penetlitian tersebut belum memberikan hasil

yang konsisten. Penelitian Laswad dkk. (2005), Sinaga dan Prabowo (2011)
5

membuktikan bahwa kompetisi politik tidak dapat digunakan untuk memprediksi

ada tidaknya pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah. Sedangkan

hasil penelitian Garcia dan Garcia (2010) serta Rahman dkk. (2013),

membuktikan bahwa kompetisi politik dapat mendorong pelaporan keuangan di

internet oleh pemerintah daerah.

Ukuran pemerintah daerah yang besar akan mendorong pemerintah daerah

untuk melakukan pelaporan keuangan melalui website resmi yang dimiliki (Garcia

dan Garcia, 2010; Medina, 2012). Sedangkan penelitian Laswad dkk. (2005);

Sinaga dan Prabowo (2011); Rahman dkk. (2010) menunjukkan bahwa ukuran

pemerintah daerah tidak berpengaruh terhadap pelaporan keuangan di internet

oleh pemerintah daerah.

Hasil dari penelitian Laswad dkk. (2005) dan Rahman dkk. (2013)

menunjukkan leverage memiliki pengaruh terhadap pelaporan keuangan di

internet oleh pemerintah daerah. Namun penelitian Sinaga dan Prabowo (2011)

serta Medina (2012) memberikan hasil yang berbeda, bahwa leverage tidak

berpengaruh terhadap pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah.

Kekayaan pemerintah daerah akan mempengaruhi keputusan pemerintah

daerah untuk melakukan pelaporan keuangan di internet (Laswad dkk., 2005;

Rahman dkk., 2013). Sedangkan penelitian Sinaga dan Prabowo (2011)

menunjukkn bahwa pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah tidak

dipengaruhi oleh kekayaan pemerintah daerah.

Tipe pemerintah daerah berpengaruh terhadap pelaporan keuangan di

internet oleh pemerintah daerah. Pemerintah kota cenderung melakukan pelaporan


6

keuangan di internet (Laswad dkk., 2005; Sinaga dan Prabowo, 2011; Medina,

2012). Namun hasil penelitian Rahman dkk., (2013) tidak memberikan bukti

adanya hubungan antara tipe pemerintahan daerah terhadap pelaporan keuangan di

internet oleh pemerintah daerah.

Berdasarkan uraian di atas, penting untuk mengidentifikasi karakteristik -

karakteristik tertentu yang mempengaruhi pemerintah daerah yang melakukan

pelaporan keuangan di internet serta bagaimana perkembangan e-government di

Indonesia setelah 11 tahun diterbitkannya Instruksi Presiden No. 3 tahun 2003.

Penelitianini menggunakan variabel dalam penelitian Laswad dkk. (2005),

penelitiandilakukan untuk membuktikan pengaruh kompetisi politik (political

competition), ukuran pemerintah daerah (size), leverage, kekayaan

pemerintahandaerah (wealth), dan tipe pemerintahan (type) terhadap

pelaporankeuangan di internet.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini mengambil judul

“Analisis Determinan Pelaporan Keuangan di Internet oleh Pemerintah

Daerah di Indonesia (Studi pada Pulau Jawa)” .

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, diperoleh rumusan masalah

sebagai berikut :

1. Apakah kompetisi politik mempunyai pengaruh positif terhadap pelaporan

keuangan di internet oleh pemerintah daerah?


7

2. Apakah ukuran pemerintahan daerah mempunyai pengaruh positif

terhadap pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah?

3. Apakah leverage mempunyai pengaruh positif terhadap pelaporan

keuangan di internet oleh pemerintah daerah?

4. Apakah kekayaan pemerintahan daerah mempunyai pengaruh positif

terhadap pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah?

5. Apakah tipe pemerintahan daerahmempunyai pengaruh positif terhadap

pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dari

penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui apakah kompetisi politik memiliki pengaruh positif

terhadap pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah.

2. Untuk mengetahui apakah ukuran pemerintahan daerah memiliki pengaruh

positif terhadap terhadap pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah

daerah.

3. Untuk mengetahui apakah leverage memiliki pengaruh positif terhadap

terhadap pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah.

4. Untuk mengetahui apakah kekayaan pemerintahan daerah memiliki

pengaruh positif terhadap terhadap pelaporan keuangan di internet oleh

pemerintah daerah.
8

5. Untuk mengetahui apakah tipe pemerintahan daerah mempunyai pengaruh

positif terhadap pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah :

1. Memberikan bahan evaluasi dan pertimbangan bagi pemerintah daerah

untuk melaporkan keuangan di internet melalui website-nya.

2. Menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah pusat, investor, dan kreditor

untuk melakukan kerjasama di bidang keuangan dengan suatu

pemerintahan daerahberupa donasi, investasi, maupun meminjamkan dana

kepada pemerintahan daerah.

3. Memberikan pengetahuan bagi masyarakat untuk mengevaluasi dan

mengawasi kinerja keuangan pemerintah daerah.

4. Menambah informasi, pengetahuan bagi akademisi di bidang sektor publik

serta menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya.

E. Sistematika Penulisan

Penelitian ini memiliki sistematika penulisan yang terdiri dari lima bab.

Masing-masing bab secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut.

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang latar belakang masalah dalam penelitian

yang memuat uraian mengenai alasan dan motivasi untuk


9

melakukan penelitian, perumusan masalah yang diangkat, tujuan,

dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan..

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini menguraikan teori-teori dan hasil penelitian-penelitian

terdahulu yang relevan dengan permasalahan dan tujuan

penelitian ini. Bab ini juga menjelaskan mengenai kerangka

pemikiran yang melandasi timbulnya hipotesis penelitian serta

keterkaitan antarvariabel dalam penelitian.

BAB III : METODE PENELITIAN

Bab ini berisi tentang rencana dan metode penelitian, yang

meliputi: populasi dan sampel, variabel, definisi operasional, dan

mekanisme pengujian hipotesis yang sesuai dengan permasalahan

dan tujuan penelitian.

BAB IV : PEMBAHASAN

Bab ini menguraikan tentang deskripsi objek penelitian,

menunjukkan hasil analisis data dan pembahasan hasil

pengolahan data melalui instrumen penelitian yang digunakan.

BAB V : PENUTUP

Bab ini berisi kesimpulan yang disarikan dari permasalahan,

tujuan, analisis data dan pembahasan hasil analisis penelitian. Bab

ini juga berisi keterbatasan dan saran untuk penelitian berikutnya.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Teori Agensi

Hubungan keagenan merupakan sebuah kontrak di mana satu orang atau

lebih (principal) mengikutsertakan orang lain (agent) untuk memberikan jasa atas

nama mereka yang melibatkan penyerahan beberapa otoritas pembuatan

keputusan kepada agen (Jensen dan Meckling, 1976). Dalam teori agensi terdapat

dua pihak yang melakukan kesepakatan atau kontrak, yakni pihak yang

memberikan kewenangan yang disebut principal dan pihak yang menerima

kewenangan yang disebut agent (Halim dan Abdullah 2006). Hubungan keagenan

ini menyebabkan agency problem berupa asimetri informasi dan konflik

kepentingan.

Menurut Lane (2003) teori agensi dapat diterapkan dalam organisasi

publik. Negara demokrasi modern didasarkan pada serangkaian hubungan

prinsipal-agent. Banker dan Patton (1987) menyatakan hubungan keagenan antara

political manager dan pemilih dapat dideskripsikan sebagai hubungan agensi

dimana pemilih sebagai principal dan political manager sebagai agent.

Masyarakat selaku principal memberikan amanat kepada pemerintah selaku agent

untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam rangka meningkatkan

kesejahteraan masyarakat (Hilmi dan Martani, 2012; Medina, 2012). Hubungan

keagenan ini dapat memunculkan agency problem berupa asimetri informasi dan

10
11

konflik kepentingan. Pada organisasi pemerintahan, agency problem terjadi antara

pejabat pemerintah yang terpilih dan diangkat sebagai agent dengan para pemilih

(masyarakat) sebagai principal. Pemerintah memiliki informasi pemerintahan

lebih banyak daripada masyarakat, sehingga menimbulkan asimetri informasi.

Masyarakat tentu tidak dapat mengawasi seluruh tindakan dan keputusan yang

dibuat oleh pemda, sehingga pemda memiliki kesempatan untuk bertindak sesuai

kepentingannya tanpa menghiraukan kepentingan masyarakat ( Medina, 2012).

Untuk mengurangi agency problem, muncul agency cost yang harus ditanggung

baik agent maupun principal. Publikasi informasi keuangan melalui internet

merupakan salah satu cara efektif untuk mengatasi agency problem dengan biaya

yang ringan (Puspita dan Martani, 2012).

Beberapa penelitian terdahulu menggunakan teori agensi sebagai teori

utama dalam penelitian terkait pengungkapan di internet oleh pemerintah daerah.

Hubungan antara pemerintah dan warga telah dianggap di bawah teori principal-

agent (keagenan) yang telah digunakan luas dalam administrasi publik untuk

memeriksa masalah yang terkait dengan manajemen dan administrasi di negara

yang berlandaskan prinsip desentralisasi (Thompson dalam Medina 2011).

Penelitian Alvares dan Hall (2006) menyatakan permasalahan yang timbul dalam

hubungan principal – agent secara inheren terkait ketersediaan informasi yang

diungkap oleh agent. Pelaporan informasi secara sukarela telah dianalisis dengan

pendekatan teori agensi oleh Garcia dan Garcia (2010). Penelitian Laswad dkk.

(2005) menggunakan teori agensi untuk menganalisis faktor-faktor yang

mempengaruhi pelaporan keuangan di internet secara sukarela oleh pemerintah


12

daerah di New Zealand, dalam penelitiannya Laswad, dkk (2005) menyatakan

hubungan keagenan pada sektor publik memberikan insentif manajer sektor

publik untuk mengungkapkan informasi secara sukarela yang mengizinkan

pengawasan atas tindakan mereka. Pejabat terpilih menyediakan informasi untuk

pengawasan dalam rangka menunjukkan mereka menghargai janji-janji pemilu

dan motivasi mereka meningkat seiring dengan kompetisi politik meningkat

(Baber, 1983). Pengungkapan laporan keuangan dan kinerja oleh pemerintah

daerah melalui internet dapat digunakan sebagai alat untuk mengurangi biaya

agensi (Martani, dkk. 2014). Teori principal – agent yang umumnya dikenal

sebagai “teori keagenan” memberikan wawasan ke dalam hubungan akuntabilitas

dari sudut pandang ekonomi serta wawasanalasan dibalik pelaporan keuangan dan

nonkeuangan secara sukarela oleh pemerintah daerah (Monir dkk. 2014). Dengan

demikian di bawah teori principal-agentdapat digunakan untuk mengidentifikasi

insentif-insentif yang timbul dari beberapa pengungkapan di sektor publik (Gang,

1988).

2. Laporan Keuangan Sektor Publik

Bastian (2006) mendefinisikan laporan keuangan sektor publik sebagai

representasi posisi keuangan dari sejumlah transaksi sektor yang dilakukan oleh

suatu entitas sektor publik. Menurut Bastian (2006), bentuk dan penyusunan

laporan keuangan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti sifat lembaga

sektor publik, sistem pemerintahan suatu negara, mekanisme pengelolaan

keuangan, dan sistem anggaran negara.


13

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun 2010 tentang Standar

Akuntansi Pemerintahan, laporan keuangan pemerintah terdiri dari laporan

pelaksanaan anggaran (budgetary reports), laporan finansial dan CaLK. Laporan

pelaksanaan anggaran terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan

Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (Laporam Perubahan SAL). Laporan

finansial terdiri dari Neraca, Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan

Ekuitas (LPE) dan Laporan Arus Kas (LAK) .

a. Laporan Realisasi Anggaran (LRA)

Laporan Realisasi Anggaran mengungkapkan kegiatan keuangan

pemerintah pusat/daerah yang menunjukkan ketaatan terhadap

APBN/APBD. Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber,

alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi yang dikelola oleh

pemerintah pusat/daerah dalam satu periode pelaporan. Dalam penyajian

laporan realisasi anggaran setidaknya harus memuat unsur pendapatan-

LRA, belanja, transfer, surplus/defisit-LRA, pembiayaan, sisa lebih/kurang

pembiayaan anggaran.

b. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (Laporan Perubahan SAL)

Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (Laporan Perubahan SAL)

menyajikan informasi kenaikan atau penurunan Saldo Anggaran Lebih

tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

c. Neraca

Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai

aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu. Neraca menyajikan


14

secara komparatif dengan periode sebelumnya pos-pos kas dan setara kas,

investasi jangka pendek, piutang pajak dan bukan pajak, persediaan,

investasi jangka panjang, aset tetap, kewajiban jangka pendek, kewajiban

jangka panjang,dan ekuitas.

d. Laporan Operasional (LO)

Laporan Operasional menyajikan ikhtisar sumber daya ekonomi yang

menambah ekuitas dan penggunaannya yang dikelola oleh pemerintah

pusat/daerah untuk kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dalam satu

periode pelaporan. Unsur yang dicakup secara langsung dalam Laporan

Operasional terdiri dari pendapatan-LO, beban, transfer, dan pos-pos luar

biasa.

e. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)

Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) menyajikan informasi kenaikan atau

penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun

sebelumnya.

f. Laporan Arus Kas (LAK)

Laporan arus kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas

operasi, investasi, pendanaan, dan transitoris yang menggambarkan saldo

awal, penerimaan, pengeluaran, dan saldo akhir kas pemerintah

pusat/daerah selama periode tertentu. Unsur yang dicakup dalam Laporan

Arus Kas terdiri dari penerimaan dan pengeluaran kas, yang masing-

masing dapat dijelaskan sebagai berikut :


15

a) Penerimaan kas adalah semua aliran kas yang masuk ke Bendahara

Umum Negara/Daerah.

b) Pengeluaran kas adalah semua aliran kas yang keluar dari

Bendahara Umum Negara/Daerah.

g. Catatan atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari

angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran Laporan Perubahan

SAL, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca, dan

Laporan Arus Kas. Catatan atas Laporan Keuangan juga mencakup

informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan, penyajian

informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh Standar Akuntansi

Pemerintahan serta pengungkapan-pengungkapan lainnya yang diperlukan

untuk penyajian yang wajar atas laporan keuangan, seperti kewajiban

kontijensi dan komitmen-komitmen lainnya.

3. Good Public Governance

Berdasarkan pedoman umum Good Public Governance yang dikeluarkan

oleh KNKG (2010), Good Public Governance (GPG) merupakan sistem atau

aturan perilaku terkait dengan pengelolaan kewenangan oleh para penyelenggara

negara dalam menjalankan tugasnya secara bertanggungjawab dan akuntabel.GPG

pada dasarnya mengatur pola hubungan antara penyelenggara negara dan

masyarakat dan antara penyelenggara negara dan lembaga negara serta antar

lembaga negara.
16

Setiap lembaga negara harus memastikan bahwa asas Good Public

Governance diterapkan dalam setiap aspek pelaksanaan fungsinya. Asas Good

Public Governance adalah :

1. Demokrasi

2. Transparansi

3. Akuntabilitas

4. Budaya hukum

5. Kewajaran dan kesetaraan

Diperlukan tiga pilar dalam rangka menciptakan situasi yang kondusif

untuk melaksanakan GPG. Tiga pilar tersebut adalah.

1. Negara

Negara harus merumuskan dan menerapkan GPG sebagai pedoman dasar

dalam melaksanakan fungsi, tugas dan kewenangannya. Negara juga

berkewajiban untuk menciptakan situasi kondusif yang memungkinkan

penyelenggara negara dan jajarannya melaksanakan tugasnya dengan baik.

2. Dunia Usaha

Dunia usaha harus merumuskan dan menerapkan good corporate

governance (GCG) dalam melakukan usahanya sehingga dapat

meningkatkan produktivitas nasional. Dunia usaha juga berkewajiban

untuk berpartisipasi aktif memberikan masukan dalam perumusan

danpelaksanaan peraturan perundang-undangan dan kebijakan publik yang

bertalian dengan sektor usahanya.

3. Masyarakat
17

Masyarakat harus melakukan kontrol sosial secara efektif terhadap

pelaksanaan fungsi, tugas dan kewenangan negara. Masyarakat juga

berkewajiban untuk berpartisipasi aktif memberikan masukan dalam

perumusan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan dan kebijakan

publik. Untuk itu masyarakat harus:

 Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan untuk dapat

melaksanakan kontrol sosial secara sehat dan bertanggungjawab.

 Meningkatkan konsolidasi sumberdaya agar dapat memberikan

kontribusi secara maksimal.

4. Akuntabilitas dan Transparansi

Wujud nyata dari menjalankan prinsip akuntabilitas serta transparansi

pengelolaan keuangan daerah ialah penyajian laporan keuangan pemerintah

daerah. Akuntabilitas publik adalah kewajiban pihak pemegang amanah (agent)

untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan

mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya

kepada pihak pemberi amanah (principal) yang memiliki hak dan kewenangan

untuk meminta pertanggungjawaban tersebut (Mardiasmo, 2009). Akuntabilitas

publik terdiri dari dua jenis, yaitu : akuntabilitas vertikal (vertical accountability)

dan akuntabilitas horisontal (horizontal accountability) (Mardiasmo, 2009).

Pertanggungjawaban vertikal ialah pertanggungjawaban atas pengelolaan dana

kepada otoritas yang lebih tinggi. Sedangkan pertanggungjawaban horisontal ialah

pertanggungjawaban kepada masyarakat luas.


18

Dalam rangka untuk menjalankan akuntabilitas publik ini, perlu

transparansi pada tingkat dimana warga, media, dan pasar modal dapat

memperoleh informasi tentang strategi, kegiatan dan hasil kegiatan (Alt dkk.,

2006). Dalam istilah yang lebih ringkas, Piotrowski dan Bertelli (2010)

berpendapat bahwa transparansi merupakan akses bagi masyarakat untuk

memperoleh informasi publik. Informasi yang sangat tersedia menjadi penting

untuk memungkinkan warga untuk mendeteksi korupsi dan menjaga pemerintah

mereka tetap akuntable (McGee dan Gaventa, 2013). Mardiasmo (2009)

menyatakan transparansi berarti keterbukaan (openness) pemerintah dalam

memberikan informasi yang terkait dengan aktivitas pengelolaan sumber daya

publik kepada pihak – pihak yang membutuhkan informasi. Martani (2014)

merumuskan bahwa transparansi diperlukan agar masyarakat dan dunia usaha

dapat mengawasi pelaksanaan pemerintahan secara obyektif. Melalui transparansi

fiskal - informasi tentang anggaran, audit, dan kebijakan keuangan yang terkait -

warga mampu untuk membuat tuntutan untuk tindakan pemerintah, menerapkan

tekanan untuk peningkatan kinerja, dan mengevaluasi efisiensi tindakan

admiistratif (Harrison dan Sayogo, 2014).

Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 Pasal 12 menjelaskan salah

satu tujuan penyelenggaraan Sistem Informasi Keuangan Daerah adalah

menyajikan Informasi Keuangan Daerah secara terbuka kepada masyarakat.

Dengan adanya transparansi laporan keuangan pemerintah daerah, maka

masyarakat dapat melakukan pengawasan terhadap kinerja pemerintah daerah.


19

5. Pelaporan Keuangan di Internet

Pelaporan keuangan adalah struktur dan proses tentang bagaimana

informasi keuangan untuk semua unit usaha dan pemerintahan harus disediakan

dan dilaporkan dalam suatu negara untuk tujuan pengambilan keputusan

ekonomik (Suwardjono, 2005). FASB mengartikan pelaporan keuangan sebagai

sistem dan sarana penyampaian (means of communication) informasi tentang

segala kondisi dan kinerja entitas terutama dari segi keuangan dan tidak terbatas

pada apa yang dapat disampaikan melalui laporan keuangan (Suwardjono, 2010).

Secara singkat, pelaporan keuangan lebih luas dari pada laporan keuangan

(Bastian, 2006).

Informasi keuangan yang dibutuhkan berdasarkan riset terdauhulu

diantaranya ialah informasi kondisi keuangan, kinerja, perencanaan dan

penganggaran. Setidaknya infromasi tersebut masing-masing dapat dilihat dari

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) , Laporan Akuntabilitas Kinerja

Instansi Pemerintah (LAKIP), dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

(APBD) (Yentifa, dkk dalam Sinaga dan Prabowo 2011).

Saat ini pemerintah daerah telah menggunakan media internet untuk

menyampaikan informasi kepada pengguna. Melalui website masing-

masingpemerintah daerah, informasi akan tersampaikan dengan tepat waktu.

Mardiasmo (2009) menyatakan semakin cepat waktu penyajian laporan keuangan,

maka akan semakin baik untuk pengambilan keputusan.

6. Pengungkapan (Disclosure)
20

Secara konseptual, pengungkapan merupakan bagian integral dari

pelaporan keuangan (Suwardjono, 2005). Pengungkapan merupakan langkah

akhir dalam proses akuntansi yaitu penyajian informasi dalam bentuk seperangkat

penuh statemen keuangan. Suwardjono (2005) menyatakan pengungkapan

(disclosure) berkaitan dengan cara pembeberan atau penjelasan hal-hal informatif

yang dianggap penting dan bermanfaat bagi pemakai selain apa yang dapat

dinyatakan melalui statemen keuangan utama. Peraturan mengenai pengungkapan

informasi dalam laporan tahunan di Indonesia dikeluarkan oleh Ketua BAPEPAM

melalui keputusan nomor 17/PM/2002 atau VIII.G.7.

Menurut Chariri dan Ghozali (2007), ada dua jenis pengungkapan dalam

hubungannya dengan persyaratan yang ditetapkan standar, yaitu:

a) Pengungkapan Wajib (Mandatory Disclosure)

Pengungkapan wajib adalah pengungkapan minimum yang disyaratkan

oleh standar akuntansi yang berlaku. Berkaitan dengan sektor

pemerintahan di Indonesia, baik pemerintah pusat maupun daerah,

pengungkapan wajib mengacu pada pengungkapan informasi dalam

laporan keuangan Pemerintah Daerah yang berpedoman pada Peraturan

Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi

Pemerintahan.

b) Pengungkapan Sukarela (Voluntary Disclosure)

Pengungkapan sukarela adalah pengungkapan yang dilakukan perusahaan

di luar apa yang diwajibkan oleh standar akuntansi atau peraturan badan

pengawas (Suwardjono,2005). Menurut Suwardjono, secara umum tujuan


21

dari pengungkapan (disclosure) adalah menyajikan informasi keuangan

yang dipandang perlu untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan dan

untuk melayani berbagai pihak yang memiliki kepentingan yang berbeda-

beda. Apa yang harus diungkapkan kepada publik dibatasi dengan apa

yang dipandang bermanfaat bagi pemakai yang dituju. Sementara untuk

tujuan pengawasan, informasi tertentu harus disampaikan kepada badan

pengawasan berdasarkan peraturan melalui formulir-formulir yang

menuntut pengungkapan secara rinci (Rahman,dkk. 2013).

7. Electronic Government (E-Government)

Electronic government merupakan suatu proses sistem pemerintahan

dengan memanfaatkan ICT (Information, Communication, and Technology)

sebagai alat untuk memberikan kemudahan proses komunikasi dan transaksi

kepada warga masyarakat, organisasi bisnis dan antara lembaga pemerintah serta

stafnya, sehingga dapat dicapai efisiensi, efektivitas, transparansi dan

pertanggungjawaban pemerintah kepada masyarakatnya (Hartono, 2010). E-

government merupakan bentuk aplikasi dari teknologi informasi, khususnya

teknologi internet untuk memperluas akses, menyampaikan informasi dan

pelayanan pemerintah untuk rakyat, pegawai, unit bisnis, dan stakeholder lainnya.

Norris dan Christopher (2013) mendefinisikan e-government sebagai suatu

pengiriman layanan pemerintah dan informasi elektronik selama 24 jam per hari

dan tujuh hari per minggu. E-government dapat didefinisikan sebagai penggunaan

informasi dan teknologi untuk mendukung serta meningkatkan kebijakan publik


22

dan operasi pemerintah, melibatkan warga dan menyediakan pelayanan

pemerintah yang komprehensif dan tepat waktu (Scholl 2008).Hermana (2012)

menyebutkan bahwa e-government adalah penggunaan teknologi informasi dan

aplikasinya oleh pemerintah untuk menyediakan informasi dan jasa umum bagi

masyarakat. Sedangkan Durrant (2002) mendefinisikan e-government sebagai

suatu komitmen pemerintah untuk meningkatkan hubungan antara warga negara

dan pemerintah melalui peningkatan pelayanan, efektivitas dan efisiensi biaya

pelayanan, serta informasi dan pengetahuan. Lee (2010) menyatakan e-

government melibatkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi,

terutama aplikasi berbasis web untuk menyediakan lebih cepat, akses yang lebih

mudah dan lebih efisien untuk dan penyampaian informasi/layanan kepada publik.

Pengembangan kapabilitas e-government merupakan pekerjaan yang penting

karena tidak hanya secara cepat mengubah cara pemerintah memberikan

informasi, memberikan layanan, dan berurusan dengan publik, tapi juga menjadi

bagian integral dari strategi pemerintah (Zhang dkk. 2014).

Berdasarkan interaksi yang dilakukan pemerintah dengan stakeholdersnya,

Gupta dkk.(2008) mengkasifikasikan e-government sebagai interaksi antara

pemerintah dengan: (1) Klien internal dan penduduknya “Government to Citizen

(G2C)”; (2) Unit bisnis terkait “Government to Business (G2B)”; (3) Pegawai

Internal Pemerintah “Government to Employee (G2E)”; (4) Institusi Pemerintah

lainnya “Government to Government (G2G)”; (5) hubungan antara penduduk

dengan penduduk “Citizen to Citizen (C2C)”.


23

Di Indonesia, penerapan e-government diatur dalam sebuah Instruksi

Presiden No. 3 tahun 2003 tentang kebijakan dan strategi nasional pengembangan

e-government, dalam Inpres tersebut e-government didefinisikan sebagai

penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pemerintahan

dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, transparansi, dan

akuntabilitas pemerintahan. Dalam peraturan ini juga dijabarkan bahwa e-

government diperlukan untuk mewujudkan Good Public Governance.

8. Undang-Undang No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik

Undang-undang ini memberi jaminan kepada masyarakat untuk

memperoleh informasi. Dijelaskan dalam pasal 2 ayat 1 Undang-Undang No.14

tahun 2008 bahwa setiap informasi publik bersifat terbuka dan dapat diakses

dengan mudah bagi Pengguna Informasi Publik. Pasal 2 ayat 3 menegaskan

bahwa setiap Informasi Publik harus dapat diperoleh setiap Pemohon Informasi

Publik dengan cepat dan tepat waktu, biaya ringan, dan cara sederhana. Dengan

adanya keterbukaan informasi publik ini diharapkan mampu menjamin hak warga

negara untuk mengetahui rencana pembuatan kebijakan publik, program kebijakan

publik, dan proses pengambilan keputusan publik, serta alasan pengambilan suatu

keputusan publik.

9. Kompetisi politik (Political Competition)

Kompetisi politik atau disebut juga dengan persaingan politik dapat dilihat

dari persaingan antara partai politik dalam mendapatkan jumlah pemilih pada saat
24

pemilu. Menurut Downs (1957) Kompetisi politik diartikan sebagai kompetisi

antara kandidat untuk mendapatkan suara terbanyak dari pemilih untuk

menjalankan suatu platform kebijakan yang layak dijalankan.Bardhan dan Yang

(2004) menyatakan kompetisi politik adalah kompetisi untuk mendapatkan

kekuasaan mengendalikan pemerintahan dan mengalokasikan sumberdaya yang

tersedia untuk kepentingan politik dan kepentingan masyarakat.

10. Ukuran Pemerintahan Daerah (Size)

Size dapat diartikan sebagai suatu nominal yang dapat digunakan untuk

mendeskripsikan sesuatu. Sebagai informasi bahwa size perusahaan yang diukur

dengan menggunakan total aktiva akan lebih baik karena nilai aktiva relatif stabil

dibandingkan dengan nilai penjualan dan kapitalisai pasar dalam mengukur size

perusahaan (Nasser, dkk. 2006). Ukuran pemerintahan daerah menunjukkan besar

kecilnya pemerintahan daerah (Sinaga dan Prabowo).

11. Leverage

Leverage adalah kemampuan perusahaan dalam menjamin dana yang

dipinjam menggunakan jumlah aset yang dimiliki.Leverage mengindikasikan

sejauh mana dana yang dipinjam digunakan untuk mendanai aset yang dimiliki

oleh pemerintah daerah (Sinaga dan Prabowo 2011). Leverage dapat digunakan

untuk menaksirkan risiko yang melekat pada suatu perusahaan. Dapat diambil

kesimpulan bahwa semakin kecil leverage semakin besar kemampuan entitas

dalam membiayai biaya operasional melaui dana internalnya. Sebaliknya, semakin


25

besar leverage semakin menunjukkan entitas tidak mampu dalam membiayai

biaya operasionalnya sendiri karena membutuhkan dana dari pihak eksternal.

Horne (1997) menyatakan bahwa dengan tingginya rasio leverage menunjukkan

bahwa perusahaan tidak solvable, artinya total hutangnya lebih besar

dibandingakan dengan total asetnya. Terdapat beberapa macam rasio leverage,

antara lain debt ratio (debt to total asset), debt to equity ratio, long term debt to

equity, dan time interested earned.

12. Kekayaan Pemerintahan Daerah (Wealth)

Kekayaan pemerintahan daerah dapat menggambarkan kemakmuran

wilayah daerah tersebut. Jika terjadi peningkatan angka kekayaan daerah,

menggambarkan secara ekonomi terjadi peningkatan tingkat kemakmuran daerah

tersebut. Laswad dkk. (2005) menyatakan bahwa kekayaan pemerintahan daerah

dapat diukur dari pendapatan per kapita. Sedangkan Rahman dkk. (2013)

mendefinisikan kekayaan pemerintahan daerah dengan rasio pengelolaan belanja

yang diukur dengan total Pendapatan Asli Daerah (PAD) dibandingkan dengan

total belanja.

13. Tipe Pemerintahan Daerah(Local Government Type)

Tipe pemerintahan didefinisikan sebagai bentuk dari suatu pemerintahan

daerah serta menggambarkan status pengakuan nasional sebuah daerah sebagai

suatu kabupaten atau kota. Kabupaten dan kota adalah pembagian wilayah

administratif di Indonesia setelah propinsi.


26

Secara umum, baik kabupaten dan kota memiliki wewenang yang sama

yaitu mengatur dan mengurus pemerintahannya sendiri. Di Indonesia,

pemerintahan daerah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu pemerintahan provinsi,

pemerintahan kota, dan pemerintahan kabupaten.

B. Penelitian Terdahulu

Berikut adalah penelitian terdahulu yang berhubungan dengan

pengungkapan informasi keuangan :

Peneliti Variabel Penelitian Teori Hasil

Laswad Y:Voluntary Use of Teori 1. Adanya hubungan

dkk. (2005) Internet Financial Agensi positif IFR dengan

Reporting (IFR) leverage, wealth, dan

X:Political press visibility.

Competition, size, 2. Adanya hubungan

leverage, municipal negatif antara IFR

wealth, press dengan council type.

visibility, council 3. Size dan political

type competition tidak

memiliki hubungan

dengan IFR.
27

Garcia dan Y: Teori 1. Adanya hubungan

Garcia 1. Voluntary Agensi positif pelaporan

(2010) reporting of informasi keuangan di

financial internet dengan size,

information on capital investment,

the internet. dan political

2. Reporting index competition.

X:Size,capital 2. Variabel press

investment, political visibility memiliki

competition dan hubungan negatif

press visibility. dengan pelaporan

informasi keuangan di

internet.

3. Variabel press

visibility memiliki

hubungan negatif

dengan tingkat

pelaporan.

4. Hubungan positif

tingkat pelaporan

keuangan dengan size,

capital investment, dan

political competition.
28

Sinaga dan Y : Pelaporan Teori 1. Variabel kompetisi

Prabowo keuangan di internet Legitimasi politik dan leverage

(2011) secara sukarela. dan tidak mempunyai

X : Kompetisi Teori pengaruh positif

politik, Stakeholder terhadap Pelaporan

size,leverage, keuangan di internet

wealth, tipe secara sukarela.

pemerintah daerah. 2. Kekayaan pemerintah

tidak memiliki

pengaruh positif

terhadap pelaporan

keuangan di internet

secara sukarela.

3. Ukuran pemerintah

daerah tidak memiliki

pengaruh positif

terhadap pelaporan

keuangan di internet

secara sukarela.

4. Tipe pemerintah

kabupaten memiliki

pengaruh negatif.
29

Medina Y : Tingkat Teori Metode logit :

(2012) pengungkapan Agensi 1. Tingkat ketersediaan

informasi keuangan. informasi keuangan

X : Ukuran dalam website

pemerintah, tingkat pemerintah daerah

independensi, dipengaruhi oleh

pendapatan ukuran pemerintah,

perkapita dan tingkat independensi,

kompleksitas dan kompleksitas

pemerintah. pemerintah.

2. Pendapatan perkapita

berpengaruh negatif

dengan tingkat

ketersediaan informasi

keuangan dalam

website pemerintah

daerah.

Metode regresi

berganda :

1. Ukuran dan

kompleksitas

pemerintah

berpengaruh positif
30

terhadap ketersediaan

informasi keuangan

dalam website

pemerintah daerah.

2. Leverage dan

pendapatan perkapita

berpengaruh negatif

terhadap ketersediaan

informasi keuangan

dalam website

pemerintah daerah.

Rahman Y : Internet Teori 1. Kompetisi politik,

dkk. (2013) Financial Local Agensi Leverage dan wealth

Government berpengaruh

Reporting . terhadap IFLGR.

X : Kompetisi 2. Tipe pemerintah

politik, daerah dan size tidak

size,leverage, terbukti signifikan

wealth, tipe terhadap IFLGR

pemerintah daerah.
31

C. Pengembangan Hipotesis

1. Kompetisi Politik (Political Competition)

Penelitian yang dilakukan oleh Laswad dkk. (2005) menjelaskan terdapat

hubungan positif antara kompetisi politik dan pelaporan keuangan di Internet

secara sukarela. Semakin tinggi level kompetisi politik, maka semakin tinggi pula

kecenderungan pemerintah daerah untuk melakukan pelaporan keuangan di

internet. Internet merupakan sarana yang efektif dan efisien bagi pemerintah

daerah untuk melaporkan informasi keuangan sebagai bentuk

pertanggungjawaban dan transparansi kepada masyarakat. Adanya bukti kinerja

yang baik membuat pejabat terpilih agar mendapat kepercayaan dari masyarakat

yang telah memilihnya dahulu, serta dapat berekspektasi untuk memenangkan

pemilu periode berikutnya (Rahman dkk. 2013) .

Berdasarkan penjelasan di atas, hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan

sebagai berikut ini.

H1 : Kompetisi politik mempunyai pengaruh positif terhadap pelaporan

keuangan di internet oleh pemerintah daerah.

2. Ukuran Pemerintahan Daerah (Size)

Pemerintahan daerah dengan ukuran yang besar memiliki jumlah dan

transfer kekayaan yang besar ( Rahman dkk. 2013). Pemerintahan daerah yang

memiliki ukuran besar dituntut untuk melakukan transparansi atas pengelolaan

keuangannya sebagai bentuk akuntabilitas publik melalui pengungkapan

informasi yang lebih banyak dalam laporan keuangan. Rahman dkk. (2013)
32

menyatakan besarnya total aset mendorong pemerintah daerah untuk melaporkan

informasi keuangan sebagai bukti telah menyelenggarakan pemerintahan dengan

baik. Beberapa penelitian sebelumnya menggunakan size sebagai salah satu

variabel independen. Patrick (2007) menemukan bahwa ukuran organisasi

berpengaruh positif dan sangat kuat terhadap penerapan sebuah inovasi

administratif baru, yaitu GASB 34. Penelitian yang dilakukan Laswad dkk. (2005)

mengaitkan pelaporan keuangan di internet secara sukarela dengan ukuran

pemerintah daerah. Dari hasil penelitian tersebut, dijelaskan bahwa tidak terdapat

hubungan antara ukuran pemerintahan daerah yang diukur dengan seberapa besar

aset pemerintah daerah, dengan pelaporan keuangan di internet secara sukarela.

Berdasarkan penjelasan di atas, hipotesis dalam penelitian ini dapat

dirumuskan sebagai berikut ini.

H2 : Ukuran pemerintahan daerah mempunyai pengaruh positif terhadap

pelaporankeuangan secara di internet oleh pemerintah daerah.

3. Leverage

Laverage dapat diartikan sebagai kemampuan pemerintah daerah untuk

menjamin dana yang dipinjam menggunakan jumlah dari aset yang dimiliki oleh

pemerintah daerah. Penting untuk user mengetahui laporan keuangan yang lebih

rinci agar informasi mengenai leverage antar pemerintah daerah dapat

diperbandingkan (Rahman dkk., 2013). Hal tersebut dapat dicapai melalui

pengungkapan informasi secara sukarela yang memfasilitasi pemantauan oleh

kreditur (Gore, 2004 dalam Laswad dkk., 2005). Penelitian yang dilakukan
33

Laswad dkk. (2005) menemukan bahwa leverage berpengaruh positif signifikan

terhadap pelaporan keuangan di interenet.

Berdasarkan penjelasan di atas, hipotesis dalam penelitian ini dapat

dirumuskan sebagai berikut ini.

H3 : Leverage mempunyai pengaruh positif terhadap pelaporankeuangan di

internet oleh pemerintah daerah.

4. Kekayaan Pemerintahan Daerah (Wealth)

Kekayaan pemerintahan mencerminkan kinerja pemerintah daerah dalam

mengelola keuangan daerah. Ketika kinerja suatu pemerintah daerah baik, maka

pemerintah daerah akan cenderung melaporkan informasi keuangannya.

Sebaliknya, pemerintahan daerah dengan kekayaan yang lebih kecil akan

cenderung membatasi akses informasi akuntansi kepada pengguna ( Craven dan

Martson, 1999 dalam Laswad dkk., 2005). Hasil dari penelitian Laswad dkk.

(2005) , menunjukkan bahwa municipal wealth berpengaruh terhadap pelaporan

keuangan di internet secara sukarela.

Berdasarkan penjelasan di atas, hipotesis dalam penelitian ini dapat

dirumuskan sebagai berikut ini.

H4 : Kekayaan pemerintahan daerah mempunyai pengaruh positif terhadap

pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah.


34

5. Tipe Pemerintahan Daerah( Local Government Type)

Laswad dkk. (2005) dalam penelitiannya, menyatakan bahwa di daerah

kabupaten masih kurang untuk tingkat pengungkapan secara sukarela di internet,

jika dibandingkan dengan daerah kota dan provinsi, hal ini mungkin dikarenakan

tingkat masyarakat dalam mengakses internet yang masih kurang. Hasil dari

penelitian Laswad dkk. (2005) membuktikan bahwa tipe pemerintahan

mempunyai pengaruh terhadap pelaporan keuangan di internet secara sukarela.

Berdasarkan penjelasan di atas, hipotesis dalam penelitian ini dapat

dirumuskan sebagai berikut ini.

H5 : Tipe pemerintahan daerah mempunyai pengaruh positif terhadap pelaporan

keuangan di internet oleh pemerintah daerah.

D. Kerangka Teoritis

Penelitian ini menguji pengaruh antara variabel independen terhadap

variabel dependen. Variabel independen dalam penelitian adalah kompetisi

politik, ukuran pemerintahan daerah, leverage, kekayaan pemerintahan daerah,

dan tipe pemerintahan daerah. Variabel dependen Pelaporan Keuangan di Internet

(Internet Financial Reporting) diukur dengan ada atau tidaknya APBD, LKPD

atau LAKIP pada website pemerintah daerah.


35

Kompetisi Politik
H1 (+)
(Political Competition)

Ukuran Pemerintahan H2 (+)


Daerah (Size)
Pelaporan Keuangan
Leverage di Internet oleh
H3 (+)
Pemerintah Daerah

Kekayaan Pemerintahan (Internet Financial


Daerah (Wealth) H4 (+)
Reporting by local
government)
Tipe Pemerintahan
H5 (+)
Daerah (Type)

Gambar 2.1 Kerangka Teoritis


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian pengujian hipotesis (hypotesis

testing) yang menjelaskan sifat hubungan-hubungan tertentu atau menetapkan

perbedaan-perbedaan antara dua faktor (kelompok) independen atau lebih dalam

sebuah situasi (Sekaran dan Bougi 2010). Jenis penelitian ini sesuai dengan tujuan

yang ingin dicapai dari penelitian yaitu untuk menguji pengaruh kompetisi politik,

ukuran pemerintah daerah, leverage, kekayaan pemerintah daerah, dan tipe

pemerintah daerah terhadap pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah

daerah di Pulau Jawa. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif.

B. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

Populasi merupakan kumpulan atau kelompok orang, peristiwa, atau

sesuatu yang menarik minat peneliti untuk melakukan penelitian (Sekaran dan

Bougi 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah pemerintah daerah di

Indonesia, yaitu pemerintah provinsi,pemerintah kota, dan pemerintah kabupaten.

Sampel merupakan sebagian dari populasi yang terdiri dari elemen-elemen

yang diharapkan masih memiliki kharakteristik yang sama dengan populasi serta

mampu mewakili keseluruhan populasi penelitian (Sekaran dan Bougi 2010).

Sampel dalam penelitian ini adalah pemerintah daerah kota dan kabupaten di

Pulau Jawa tahun anggaran 2014.

36
37

Pengambilan sampel menggunakan teknik sampel bertujuan (purposive

sampling), yaitu teknik pengambilan sampel yang didasarkan pada kriteria-kriteria

tertentu (Sekaran dan Bougi, 2010). Berikut kriteria yang ditetapkan peneliti

dalam pengambilan sampel.

1. Pemerintah daerah mempunyai website resmi dan dapat diakses.

2. Pemerintah daerah yang menerbitkan laporan keuangan dantelah

diaudit oleh BPK.

3. Data mengenai kompetisi politik dapat diperoleh di Komisi Pemilihan

Umum (KPU).

4. Pemerintah daerah menyediakan data penelitian secara lengkap untuk

seluruh variabel independen.

C. Data dan Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder adalah data

yang diperoleh secara tidak langsung dari individu-individu, kelompok-kelompok

tertentu, serta responden yang telah ditentukan secara spesifik dan memiliki data

secara spesifik (Sekaran dan Bougi 2010). Metode pengumpulan data yang

digunakan dalam penelitian ini ialah dengan studi pustaka dan studi dokumentasi.

Data dan teori yang terdapat dalam penelitian ini diperoleh dari artikel, jurnal,

literatur, maupun hasil dari penelitian terdahulu yang relevan dengan tujuan yang

ingin dicapai dari penelitian ini. Studi dokumentasi juga digunakan untuk

memperoleh data lain yang digunakan dalam penelitian, yaitu berupa data
38

sekunder yang diperoleh dari lembaga yang memiliki data tersebut, maupun dari

website yang mempublikasikan data yang relevan.

Data keuangan berupa laporan keuangan audited pemerintah daerah kota

(kabupaten) tahun 2014 diperoleh dari Pusat Informasi dan Komunikasi BPK RI.

Data mengenai kompetisi politik diperoleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Sedangkan data jumlah penduduk diperoleh dari website kementrian dalam

negeri, yaitu www.kemendagri.go.id.

Data variabel dependen yaitu ada tidaknya pelaporan keuangan di internet

diperoleh dengan mengamati website resmi pemerintah daerah, daftar website

resmi pemerintah daerah di Indonesia dapat dilihat di www.kemendagri.go.id.

D. Identifikasi dan Pengukuran Variabel

Variabel merupakan sesuatu yang memiliki nilai dan dapat berubah

(Sekaran dan Bougi 2010). Nilai ini dapat berbeda-beda pada berbagai waktu

untuk objek/orang untuk waktu yang sama atau juga dapat berbeda pada waktu

yang sama untuk objek/orang yang beda. Penelitian ini menggunakan dua

variabel, yaitu variabel dependen (variabel terikat) dan variabel independen

(variabel bebas).

a. Variabel Dependen

Variabel terikat dalam penelitian ini ialah pelaporan keuangan di

internet oleh pemerintah daerah di Pulau Jawa. Pelaporan keuangan di

internet dinilai dari ada tidaknya APBD, Laporan Keuangan Pemerintah


39

Daerah (LKPD), atau LAKIP pada website resmi pemerintah daerah.

Terdapat tujuh komponen pokok LKPD, yaitu sebagai berikut :

1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA);

2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (Laporan Perubahan

SAL);

3. Neraca;

4. Laporan Operasional (LO);

5. Laporan Arus Kas (LAK);

6. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE);

7. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

Pengukuran variabel ini sesuai dengan penelitian Laswad dkk.

(2005), yaitu menggunakan variabel dummy untuk mengukur pelaporan

keuangan di internet. Pemerintah daerah tergolong mengungkapkan LKPD

jika salah satu komponen pokok LKPD tersebut tersedia di website resmi

pemerintah daerah. Pemerintah daerah yang melakukan pelaporan

keuangan melalui website resminya diberi skor 1, sedangkan pemerintah

daerah yang memiliki website resmi namun tidak digunakan sebagai media

pelaporan keuangan diberi skor 0.

b. Variabel Independen

1. Kompetisi politik (POLCOM)

Kompetisi politik menggambarkan seberapa besar persaingan

politik antara kepala daerah yang menjabat saat ini dengan para saingan
40

politiknya. Penelitian ini mengukur kompetisi politik dengan rasio koalisi

partai pendukung kepala daerah pemenang pemilu, yaitu perbandingan

jumlah anggota dewan partai pendukung kepala daerah dibagi dengan

jumlah total anggota dewan.

2. Ukuran Pemerintahan Daerah (SIZE)

Ukuran pemerintahan daerah memberi gambaran besar kecilnya

suatu pemerintah daerah. Penelitian ini menggunakan total aset untuk

menilai ukuran pemerintahan daerah, pengukuran sesuai dengan

pengukuran dalam penelitian Lasward dkk. (2005).

3. Leverage (LEV)

Leverage menunjukkan seberapa besar dana yang dipinjam

pemerintah daerah untuk memdanai asetnya. Penelitian ini mengacu

penilaian leverage dalam penelitian Laswad dkk. (2005). Leverage dinilai

dengan membandingkan total kewajiban dengan total aset.

4. Kekayaan Pemerintahan Daerah (WEALTH)

Tingkat kemakmuran daerah dapat digambarkan dari kekayaan

pemerintah daerah. Penelitian yang dilakukan oleh Laswad dkk. (2005)

melakukan pengukuran kekayaan pemerintahan daerah menggunakan

pendapatan asli daerah perkapita. Penelitian ini menggunakan pengukuran


41

yang sama dengan Laswad dkk. (2005) yaitu dengan membandingkan total

Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan populasi daerah tersebut.

5. Tipe Pemerintahan Daerah (TYPE)

Tipe pemerintahan daerah dapat diartikan sebagai bentuk

pemerintahan daerah. Terdapat dua tipe pemerintahan daerah di Indonesia,

yaitu pemerintahan kota dan pemerintahan kabupaten. Dari beberapa

pemerintahan kota dan pemerintahan kabupaten tersebut membentuk suatu

provinsi. Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh

Laswad dkk. (2005) untuk menilai tipe pemerintahan daerah. Variabel tipe

pemerintahan daerah ini merupakan variabel dummy, yaitu memberi nilai 0

untuk bentuk pemerintahan kota dan memberi nilai 1 untuk bentuk

pemerintahan kabupaten.

E. Metode Analisis Data

Metode analisis regresi logistik biner (binary logistic regression)

digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini. Menurut Cath Robert

dkk. dalam Yamin dan Heri (2014) regresi logistik biner dapat digunakan untuk

memodelkan hubungan antara dua kategori (binary) variabel hasil (variabel

dependen/terikat) dan dua atau lebih variabel penjelas (variabel

independen/bebas). Regresi logistik biner (binary logistic regression) dipilih

karena variabel dependen dalam penelitian ini adalah kategorikal atau dikotomi

(nominal), yaitu pemerintah daerah yang melakukan pelaporan keuangan di


42

internet dilambangkan dengan angka 1 dan pemerintah daerah yang tidak

melakukan pelaporan keuangan di internet dilambangkan dengan angka 0.

Penelitian ini juga memiliki variabel independen berupa kombinasi antara metrik

dan nominal. Pengujian dilakukan dengan menggunakan bantuan software

pengolah data IBM SPSS 21.

Model regresi data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut.

p
Ln ( ) = α + β1POLCOM + β2 SIZE + β3 LEV + β4 WEALTH + β5 TYPE
1−p

+e

Keterangan :

p
Ln (1−p) = Probabilitas pemerintah daerah untuk melakukan

pelaporan keuangan di internet

α = Konstanta

β = Koefisien regresi

POLCOM = Kompetisi Politik

SIZE = Ukuran Pemerintahan Daerah

LEV = Rasio Pembiayaan Utang (Leverage)

WEALTH = Kekayaan Pemerintahan Daerah

TYPE = Tipe Pemerintahan Daerah

е = error
43

Berikut ini akan dijelaskan mengenai tahapan-tahapan pengujian dalam

penelitian ini:

1. Uji Multikolinearitas

Menurut Gujarati (2003) multikolinearitas berarti adanya hubungan

sempurna atau pasti antara beberapa variable independen dalam model regresi.

Model regresi yang baik ialah yang tidak terdapat korelasi yang kuat di antara

variabel independennya. Pengujian multikolinearitas dilakukan dengan

menggunakan matrik korelasi antar variabel independen untuk melihat

besarnya korelasi antarvariabel independennya. Jika antarvariabel independen

terdapat korelasi yang cukup tinggi (umumnya 0,90), maka hal tersebut

mengindikasikan adanya multikolinearitas.

2. Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui ukuran pemusatan

data (mean), ukuran penyebaran data (standar deviasi, minimum, maksimum,

dan range), dan distribusi data yaitu skewness dan kurtosis (Yamin dan Heri,

2014).

3. Pengujian dengan Regresi Logistik

a. Menilai Model Fit

1. Uji Nilai Likelihood

Menurut Latan (2014) dalam regresi logistik, diperlukan

metode estimasi maximum likelihood dimana metode ini akan


44

memaksimalkan dari nilai yang diobservasi dari data set. Pengujian ini

dilakukan dengan melihat -2 log likelihood pada awal (Block 0)

dengan -2 log likelihood pada akhir (Block 1). Penurunan log

likelihood menunjukkan model yang semakin baik.

2. Uji Nilai Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test

Uji nilai Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test

digunakan untuk membuktikan bahwa data sesuai dengan model

regresi penelitian atau tidak terdapat perbedaan antara model regresi

dengan data sehingga model penelitian dapat dikatakan fit.

3. Uji Nilai Nagelkerke𝑅2

Uji nilai Nagelkerke 𝑅2 digunakan untuk menunjukkan

seberapa besar variabel independen mampu menjelaskan pengaruh

terhadap variabel dependen dalam model penelitian yang digunakan

dalam penelitian ini. Nilai Nagelkerke 𝑅2 dapat diinterpretasikan

seperti koefisien determinasi (R2 ) pada multiple regression (Ghozali,

2006).

b. Uji Estimasi Parameter atau Koefisien Regresi

Uji koefisien regresi dilakukan untuk menggambarkan besaran

dan arah pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen

dalam model regresi. Pengujian ini juga dapat digunakan untuk

mengetahui nilai probabilitas untuk masing-masing variabel

independen sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam penentuan


45

simpulan didukung atau tidak didukungnya hipotesis yang diajukan

dalam penelitian.
BAB IV

PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Objek Penelitian

Objek penelitian dalam penelitian ini adalah Pemerintah Daerah (Pemda)

di Pulau Jawa. Sampel penelitian diambil dengan metode purposive sampling,

yaitu menggunakan kriteria tertentu yang ditetapkan oleh peneliti. Berdasarkan

kriteria pengambilan sampel yang ditentukan, jumlah sampel penelitian diuraikan

dalam tabel berikut ini.

Tabel 4.1
Ringkasan Perhitungan Sampel
Pemerintah Daerah di Pulau Jawa 124
Dikurangi :
Pemerintah Daerah Provinsi 6
Website tidak dapat diakses 8
LKPD Tahun 2014 tidak tersedia 5
Data kompetisi politik tidak tersedia 10
Jumlah sampel penelitian 95
Sumber : data diolah

Berdasarkan Tabel 4.1, sampel (N) dalam penelitian ini adalah 95

pemerintah daerah kabupaten/kota di Pulau Jawa yang terdiri dari 27 pemerintah

kota dan 68 pemerintah kabupaten. Dari seluruh sampel yang diuji terdapat

46
47

58 (61,05%) pemerintah daerah yang melakukan pelaporan keuangan di internet

dan 37 (38,95%) pemerintah daerah yang tidak melakukan pelaporan keuangan di

internet.

Ringkasan informasi keuangan yang dipublikasikan di website resmi

pemerintah daerah yang melakukan pelaporan keuangan dapat dilihat pada tabel

4.2 berikut ini.

Tabel 4.2
Informasi Keuangan yang Dipublikasikan di Website

Informasi keuangan yang Tipe pemerintah daerah Total


dipublikasikan di website
Jumlah
pemda Pemerintah Pemerintah %
pemerintah
kota kabupaten
daerah
APBD - 1 1 1,72
LKPD - 5 5 8,62
LAKIP 1 - 1 1,72
APBD dan LKPD 4 9 13 22,41
APBD dan LAKIP 2 2 4 6,90
LKPD dan LAKIP - 3 3 5,17
Kombinasi APBD,
14 17 31 53,45
LKPD, dan LAKIP
Total 21 37 58 100
Sumber: Data diobservasi 2015

2. Analisis Data

a. Uji Multikolinearitas

Pengujian multikolinearitas dilakukan menggunakan matrik

korelasi. Tabel 4.3 menunjukkan korelasi antarvariabel independen dalam

penelitian, berdasarkan tabel tersebut tidak terdapat korelasi antar variabel


48

independen yang melebihi 0,90. Hal ini menunjukkan tidak terjadi

multikolinearitas di antara variabel independen, sehingga model regresi

dapat dikatakan baik.

Tabel 4.3
Uji Multikolinearitas

Constant POLCOM LnSIZE LEV LnWEALTH TYPE


Constant 1,000 -,034 -,892 -,039 -,579 -,334
POLCOM -,034 1,000 0,054 0,149 -,077 -,062
LnSIZE -,892 0,054 1,000 0,043 0,149 -,046
LEV -,039 0,149 0,043 1,000 -,020 0,005
LnWEALTH -,579 -,077 0,149 -,020 1,000 0,785
TYPE -,334 -,062 -,046 0,005 0,785 1,000
Sumber: hasil pengolahan data SPSS

b. Analisis Deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui ukuran pemusatan

data (mean), ukuran penyebaran data (standar deviasi, minimum, maksimum,

dan range), dan distribusi data yaitu skewness dan kurtosis (Yamin dan Heri,

2014).

Nilai maksimum, minimum, rata-rata (mean) dan standar deviasi

digunakan sebagai alat untuk mendeskripsikan setiap variabel dalam

penelitian ini. Hasil analisis deskriptif disajikan pada tabel 4.4 sebagai

berikut.
49

Tabel 4.4
Statistik Deskriptif
Std.
N Minimum Maximum Mean
Deviation
POLCOM 95 0,02 0,71 0,3173 0,14800
LnSIZE 95 27,98 33,69 28,9903 0,76528
LEV 95 0,0000063 0,0285312 0,004546738 0,0057513604
LnWEALTH 95 11,45 14,09 12,6199 0,63186
TYPE 95 0,00 1,00 0,7158 0,45343
IFR 95 0,00 1,00 0,6105 0,49022

Sumber: hasil pengolahan data SPSS

Tabel 4.4 menunjukkan hasil analisis statistik deskriptif variabel

dalam penelitian. Variabel dependen penelitian yaitu pelaporan keuangan

di internet (Internet Financial Reporting) memiliki nilai maksimum 1,00

dan nilai minimum 0,00 , hal ini dikarenakan menggunakan variabel

dummy dalam pengukurannya. Nilai rata rata dari variabel IFR ialah

sebesar 0,6105, serta standar deviasi sebesar 0,49022.

Variabel POLCOM memiliki nilai maksimum sebesar 0,71

(Kabupaten Purbalingga) dan nilai minimum sebesar 0,02 (Kabupaten

Pasuruan). Sedangkan nilai rata-rata POLCOM sebesar 0,3173 dan standar

deviasi sebesar 0,14800. Variabel SIZE memiliki nilai maksimum sebesar

33,69 (Kabupaten Sleman) dan nilai minimum sebesar 27,98 (Kota Batu).

SIZE memiliki nilai rata-rata tertinggi di antara semua variabel

independen yaitu sebesar 28,9903, serta memiliki standar deviasi sebesar


50

0,76528. Nilai maksimum untuk LEV ialah sebesar 0,0285312 (Kabupaten

Kuningan), sedangkan nilai minimumnya ialah sebesar 0,0000063

(Kabupaten Klaten). Nilai rata-rata LEV ialah sebesar 0,004546738, serta

memiliki standar deviasi sebesar 0,0057513604. Variabel WEALTH

memiliki nilai maksimum sebesar 14,09 (Kota Magelang), sedangkan nilai

minimumnya sebesar 11,45 (Kabupaten Tasikmalaya). Nilai rata-rata

untuk variabel WEALTH sebesar 12,6199 dan sebesar nilai sebesar

0,63186untuk standar deviasinya. Variabel TYPE yang menggunakan

variabel dummy dalam pengukurannya, memiliki nilai maksimum sebesar

1,00 dan nilai minimum sebesar 0,00. Nilai rata-rata untuk TYPE ialah

sebesar 0,7158 dan standar deviasi sebesar 0,45343.

c. Menilai Model Fit

1. Uji Nilai Likelihood

Uji nilai likelihood digunakan untuk menentukan jika variabel

bebas ditambahkan ke dalam model apakah secara signifikan memperbaiki

model fit (Gozali, 2006). Uji nilai likelihood didasarkan pada nilai -2Log

Likelihood pada block 0 maupun block 1. Nilai -2 Log Likelihood pada

awal block 0 yaitu ketika variabel belum dimasukkan ke dalam model dan

hanya konstanta ialah sebesar 127,019. Nilai -2 Log Likelihood pada akhir

block 1 yaitu setelah dimasukkan lima variabel ialah sebesar 101,614.

Terjadi penurunan nilai -2 Log Likelihood sebesar 25,405. Penurunan nilai

-2Log Likelihood ini berarti penambahan variabel independen POLCOM,


51

SIZE, LEV, WEALTH dan TYPE ke dalam model memperbaiki model fit

atau menunjukkan model regresi yang lebih baik. Hasil pengujian nilai

likelihood disajikan dalam tabel 4.5 sebagai berikut.

Tabel 4.5
Uji Nilai Likelihood

Nilai -2Log Likelihood


Block 0 127,019
Block 1 101,614
Sumber: hasil pengolahan data SPSS

2. Uji Nilai Hosmer and Lemeshow

Hasil uji nilai Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test

menunjukkan angka 13,314 dengan nilai sig. 0,101. Nilai 0,101 ini lebih

besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaaan antara

model dengan data sehingga model penelitian ini dapat dikatakan fit, dapat

juga dikatakan bahwa bukti empiris cocok dengan model regresi

penelitian. Hasil uji nilai Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test

disajikan pada dalam tabel 4.6 berikut ini.

Tabel 4.6
Uji Nilai Hosmer and Lemeshow

Step Chi-square Df Sig.


1 13,314 8 0,101
Sumber: hasil pengolahan data SPSS
52

3. Uji Nilai Nagelkerke𝑹𝟐

Nilai Nagelkerke 𝑅2 dapat diinterpretasikan seperti koefisien

determinasi (R2 ) pada multiple regression (Ghozali, 2006). Nilai ini

menjelaskan seberapa besar variabel independen mampu menjelaskan

pengaruh terhadap variabel dependen dalam penelitian. Hasil uji nilai

Nagelkerke 𝑅 2 dapat dilihat pada tabel 4.7, berdasarkan tabel tersebut

dapat dilihat nilai Nagelkerke 𝑅2 penelitian ini ialah sebesar 0,318. Nilai

ini menunjukkan variabilitas variabel dependen dalam penelitian ini yaitu

pelaporan keuangan di internet dapat dijelaskan oleh variabel independen

sebesar 31,8% , sedangkan variabilitas sisanya sebesar 68,2% dijelaskan

oleh variabel-variabel lain diluar model penelitian ini.

Tabel 4.7
Uji nilai Nagelkerke 𝑹𝟐

Step -2 Log Cox & Snell Nagelkerke R Square


likelihood R Square

1 101,614 0,235 0,318


Sumber: hasil pengolahan data SPSS

d. Hasil Pengujian Hipotesis

1. Uji Estimasi Parameter atau Koefisien Regresi

Setelah model diuji kelayakan dan memperoleh hasil bahwa model

regresi yang digunakan dalam penelitian ini layak (fit) digunakan sebagai
53

model untuk memprediksi variabel pelaporan keuangan di internet oleh

pemerintah daerah, selanjutnya dilakukan uji estimasi parameter atau

koefisien dalam model regresi penelitian. Dengan mengetahui koefisien

dalam model regresi, maka dapat diketahui nilai serta arah pengaruh dari

masing-masing variabel independen. Selain itu dapat diketahui pula

tingkat signifikansi prediksi terhadap pelaporan keuangan oleh pemerintah

daerah di internet. Pengujian ini juga dapat digunakan untuk mengetahui

probabilitas masing-masing variabel independen. Besarnya probabilitas

masing-masing variabel independen ini dapat digunakan untuk mengambil

kesimpulan didukung atau tidak didukungnya hipotesis yang diajukan

dalam penelitian ini. Hasil pengujian koefisien regresi dapat dilihat pada

tabel 4.8 sebagai berikut.

Tabel 4.8
Uji Parameter Logistic Regression

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)

POLCOM 0,911 1,621 0,316 1 0,574 2,487


LnSIZE 1,772 0,670 6,998 1 0,008 5,881
LEV -31,515 45,113 0,488 1 0,485 0,000
LnWEALTH 1,760 0,805 4,777 1 0,029 5,811
TYPE 0,525 1,020 0,265 1 0,607 1,690
Constant -73,244 23,283 9,896 1 0,002 0,000

Sumber: hasil pengolahan data SPSS

Hasil pengujian dengan menggunakan binary logistic regression

menunjukkan bahwa variabel SIZE dan WEALTH memiliki nilai

probabilitas yang lebih kecil dari tingkat signifikansi (alpha) yaitu 0,05
54

atau 5%. Nilai probabilitas untuk variabel SIZE sebesar 0,008 atau 0,8% ,

sedangkan nilai probabilitas variabel WEALTH sebesar 0,029 atau 2,9%.

Nilai probabilitas kedua variabel tersebut dibawah tingkat signifikansi

penelitian sebesar 5%, sehingga variabel SIZE dan WEALTH dapat

dinyatakan berpengaruh terhadap pelaporan keuangan di internet oleh

pemerintah daerah pada tingkat keyakinan penelitian 0,05.

Hasil uji parameter Logistic Regression juga menunjukkan bahwa

variabel POLCOM, LEV, dan TYPE mempunyai probabilitas lebih besar

dari 0,05 atau 5%. Hasil uji ini menunjukkan variabel POLCOM memiliki

probabilitas sebesar 0,574, variabel LEV memiliki probabilitas sebesar

0,485dan variabel TYPE memiliki probabilitas 0,607. Berdasarkan hasil

uji tersebut, POLCOM, LEV, dan TYPE bukan variabel yang

mempengaruhi probabilitas pelaporan keuangan di internet oleh

pemerintah daerah di Pulau Jawa.

Model binary logistic regression dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut ini.

p
Ln (1−p)= -73,244 + 0,911 (POLCOM) +1,772 (SIZE) – 31,515 (LEV) +

1,760 (WEALTH) + 0,525 (TYPE) + e

Karena β1, β2, β4, β5 bertanda positif , maka semakin besar

POLCOM, SIZE, WEALTH, dan TYPE semakin besar pula pelaporan

keuangan di internet oleh pemerintah daerah. Sedangkan β3 bernilai


55

negatif , maka semakin besar LEV semakin kecil pelaporan keuangan di

internet oleh pemerintah daerah. Hasil menunjukkan bahwa H2 dan H4

signifikan sehingga hipotesis tersebut dapat diterima. Sedangkan H1, H3,

dan H5 menunjukkan hasil yang tidak signifikan, sehingga hipotesis

tersebut ditolak.

B. Pembahasan

Hasil pengujian dengan binary logistic regression, menunjukkan terdapat

dua variabel independen yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pelaporan

keuangan di internet oleh pemerintah daerah di Pulau Jawa. Variabel tersebut

ialah ukuran pemerintahan daerah (size) dan kekayaan pemerintahan daerah

(wealth). Sedangkan tiga variabel independen lainnya, yaitu kompetisi politik

(political competition), leverage, dan tipe pemerintahan daerah (type) terbukti

tidak dapat digunakan untuk memprediksi pelaporan keuangan di internet oleh

pemerintah daerah di Pulau Jawa.

1. Pengaruh Kompetisi Politik Terhadap Pelaporan Keuangan di

Internet oleh Pemerintah Daerah

Hasil pengujian dengan binary logistic regression menunjukkan

bahwa hipotesis 1 yaitu variabel kompetisi politik (POLCOM)

berpengaruh positif terhadap pelaporan keuangan di internet oleh

pemerintah daerah ditolak. Kompetisi politik terbukti memiliki pengaruh

yang tidak signifikan terhadap pelaporan keuangan di internet oleh

pemerintah daerah. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansi sebesar
56

0,574 > 0,05. Hasil yang tidak signifikan tersebut menunjukkan bahwa

tinggi atau rendahnya kompetisi politik tidak menjadi faktor yang

mendorong pemerintah daerah untuk melakukan pelaporan keuangan di

internet. Hasil pengujian juga menunjukkan nilai rata-rata POLCOM

sebesar 0,3173 yang menunjukkan bahwa tingkat kompetisi politik di

Pulau Jawa belum cukup tinggi jika dibandingkan dengan nilai maksimum

dari kompetisi politik sebesar 0,71. Kompetisi politik yang rendah ini

menunjukkan koalisi anggota DPRD pendukung pemerintah daerah dalam

menjalankan pemerintahan tersebut rendah. Rendahnya koalisi anggota

DPRD yang mendukung pemerintah yang menjabat, menyebabkan

pemerintahan tidak berjalan mulus disebabkan kebijakan-kebijakan

pemerintah tidak didukung oleh mayoritas anggota DPRD yang menjadi

pihak oposisi. Bahkan kasus yang terjadi, pemerintah daerah memberikan

suap kepada anggota DRPD demi memudahkan jalannya pemerintahan di

daerah. Hal tersebut menyebabkan pemerintah daerah tidak termotivasi

melakukan pelaporan keuangan di internet, karena tidak ingin dinilai

memiliki kinerja buruk oleh masyarakat luas sebab tidak bisa menjalankan

kebijakan maupun program demi kesejahteraan masyarakat yang telah

dijanjikan pada saat pilkada.

Jika dikaitkan dengan teori agensi, kompetisi politik seharusnya

dapat digunakan sebagai prediktor yang memotivasi pejabat terpilih

(agent) untuk melakukan pelaporan keuangan di internet sebagai bentuk


57

transparansi pengelolaan keuangan daerah dan kinerjanya kepada

masyarakat (principal) agar tidak terjadi asimetri informasi.

2. Pengaruh Ukuran Pemerintahan Daerah Terhadap Pelaporan

Keuangan di Internet oleh Pemerintah Daerah

Hasil pengujian dengan binary logistic regression menunjukkan

bahwa hipotesis 2, yaitu variabel ukuran pemerintahan daerah (SIZE) yang

dinilai dari total aset terbukti memiliki pengaruh positif terhadap

pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah. Hal ini dibuktikan

dengan nilai signifikansi 0,008< 0,05 dan koefisien positif 1,772.

Pemerintah daerah dengan ukuran (total aset) yang besar

mengakibatkan masyarakat semakin sadar akan transparansi keuangan

daerah sehingga masyarakat akan melakukan pengawasan keuangan yang

lebih ketat, hal ini dikarenakan tingkat kompleksitas yang tinggi pada

pengelolaan keuangan daerahnya dan kebutuhan informasi keuangan yang

lebih rinci mengakibatkan pemda mengungkapkan lebih banyak informasi

keuangannya untuk memfasilitasi pemantauan oleh masyarakat.

Sesuai dengan teori agensi, kondisi masyarakat yang semakin kritis

terhadap transparansi pengelolaan keuangan daerah, mengharuskan

pemerintah daerah yang dalam hal ini berperan sebagai agent melaporkan

informasi keuangannya kepada masyarakat (principal) untuk menghindari

terjadinya asimetri informasi dan sebagai wujud dari transparansi

pengelolaan keuangan daerah.


58

Pemerintah daerah harus menerapkan metode pelaporan yang

efektif dan efisien untuk menanggapi tingginya permintaan masyarakat

mengenai transparansi pengelolaan keuangan daerah. Berdasarkan

penelitian terdahulu, internet dianggap efektif dan efisien sebagai media

pelaporan keuangan dan dapat mengurangi biaya pelaporan yang tinggi.

3. Pengaruh Leverage Terhadap Pengaruh Ukuran Pemerintah Daerah

Terhadap Pelaporan Keuangan di Internet Oleh Pemerintah Daerah

Hasil pengujian dengan binary logistic regression menunjukkan

bahwa hipotesis 3 yaitu variabel leverage (LEV) berpengaruh positif

terhadap pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah ditolak.

Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi 0,485 > 0,05 serta arah

koefisien negatif yaitu -31,515. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan

bahwa leverage memiliki pengaruh negatif namun tidak signifikan

terhadap pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah di Pulau

Jawa. Hasil ini tidak sesuai dengan penelitian Laswad,dkk (2005) dimana

dalam penelitiannya leverage berpengaruh positif terhadap pelaporan

keuangan di internet, hal ini disebabkan manajer politik pemerintah daerah

di New Zealand sangat memperhatikan beban hutang yang tinggi serta

menganggap pelaporan keuangan di internet sebagai sarana yang efektif

untuk memfasilitasi pemantauan oleh kreditor, oleh karena itu tingginya

leverage mempengaruhi publikasi informasi keuangan pada webite pemda

di New Zealand. Sedangkan di Indonesia pemerintah daerah dengan raiso

utang (leverage) yang tinggi dianggap memiliki kinerja yang buruk,


59

akibatnya pemerintah daerah cenderung mengambil kebijakan untuk tidak

melaporkan informasi keuangannya di intenet. Hal tersebut dilakukan agar

tidak menjadi sorotan perhatian kreditor terkait kemampuan pemerintah

daerah dalam melunasi kewajibannya.

Jika dikaitkan dengan teori agensi, pemerintah daerah selaku agent

seharusnya melakukan transparansi keuangan kepada masyarakat

khususnya kepada kreditor selaku principal untuk menghindari terjadinya

asimetri informasi terkait dana yang dipinjam dan kemampuan pemda

dalam mengembalikannya. Transparansi keuangan dapat dilakukan dengan

melakukan pelaporan keuangan di internet mengingat teknologi internet

telah berkembang dan dikenal oleh masyarakat luas, menggunakan media

internet juga dapat mengurangi biaya pelaporan yang tinggi.

4. Pengaruh Kekayaan Pemerintahan Daerah Terhadap Pelaporan

Keuangan di Internet oleh Pemerintah Daerah

Hasil pengujian dengan binary logistic regression menunjukkan

bahwa hipotesis 4 yaitu kekayaan pemerintahan daerah (WEALTH)

memiliki pengaruh positif terhadap pelaporan keuangan di internet oleh

pemerintah daerah. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar

0,029 < 0,05 serta arah koefisien positif yaitu 1,760. Pemerintahan daerah

dengan kekayaan yang besar cenderung mengambil kebijakan untuk

melakukan pelaporan keuangan di internet.

Semakin besar kekayaan pemerintahan daerah, semakin tinggi pula

tuntutan masyarakat terkait transparansi pengelolaan keuangan daerah. Hal


60

ini disebabkan pemerintah daerah dengan kekayaan yang besar lebih

berpotensi terjadinya penyelewengan dan tindak kecurangan. Selain itu

kekayaan pemerintahan daerah yang semakin besar menunjukkan kinerja

pemerintah yang semakin baik, sehingga hal ini memotivasi pemerintah

daerah melakukan pelaporan informasi keuangannya. Untuk

meminimalisir biaya pelaporan yang tinggi, pemerintah daerah

menggunakan media efektif dan efisien untuk mewujudkan transparansi

keuangan, yaitu menggunakan internet sebagai media pelaporan.

5. Pengaruh Tipe Pemerintahan Daerah Terhadap Pelaporan Keuangan

di Internet oleh Pemerintah Daerah

Hasil pengujian dengan binary logistic regression menunjukkan

bahwa tipe pemerintahan daerah (TYPE) tidak berpengaruh signifikan

terhadap pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah. Hal ini

ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar 0,607 > 0,05. Pelaporan

keuangan di internet tidak dipengaruhi oleh tipe pemerintahan daerah, baik

pemerintah kota maupun pemerintah kabupaten sama-sama melakukan

pelaporan keuangan di internet. Hal tersebut disebabkan penggunaan

internet telah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia khususnya Pulau

Jawa yang dikenal sebagai wilayah yang maju baik dalam bidang

teknologi dan juga kualitas Sumber Daya Manusia nya yang sebagian

besar telah mengenal internet.

Dari penelitian diperoleh hasil dari 68 pemerintahan kabupaten,

terdapat 37 pemerintah kabupaten yang menggunakan websitenya sebagai


61

media pelaporan keuangan. Berdasarkan hasil penilaian informasi

keuangan yang dipublikasikan di website resmi pemerintah daerah,

terdapat 17 pemerintah kabupaten yang mempublikasikan informasi

keuangan berupa APBD, LKPD dan LAKIP , sedangkan untuk

pemerintahan kota hanya terdapat 14 pemerintah daerah.

Pemerintah juga telah melaksanakan program internet masuk desa

sejak tahun 2010. Berdasarkan publikasi BPS mengenai data statistik

telekomunikasi Indonesia tahun 2014, pengguna internet dalam rumah

tangga terbesar ada di Pulau Jawa yaitu sebesar 31,47% terjadi

peningkatan dari tahun 2010 yang sebelumnya hanya sebesar 15,73%.

Untuk wilayah kota pengguna internet meningkat dari tahun 2010 yang

hanya 23,14% menjadi 41,33%. Sedangkan pengguna internet di wilayah

desa peningkatan yang sangat besar yaitu sebesar dari tahun 2010 yang

sebelumnya hanya 6,60% menjadi 16,14%. Peningkatan ini menunjukkan

penyebaran internet ke seluruh wilayah di Pulau Jawa, disamping itu

semakin banyak masyarakat kota maupun desa yang mengenal internet,

dengan adanya internet ini masyarakat semakin mudah untuk melakukan

pengawasan terhadap kinerja pemerintah dan semakin menuntut

keterbukaan informasi kepada pemerintah daerah, sehingga baik

pemerintah kota maupun pemerintah kabupaten sama-sama termotivasi

untuk melakukan pelaporan keuangan di internet melalui website

resminya.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dengan binary logistic regression

menunjukkan ukuran pemerintahan daerah serta kekayaan pemerintahan

daerah berpengaruh signifikan terhadap pelaporan keuangan oleh

pemerintah daerah di Pulau Jawa. Ukuran pemerintahan daerah yang besar

mengakibatkan masyarakat semakin sadar akan transparansi keuangan

daerah dan menuntut kebutuhan informasi keuangan yang lebih rinci, hal

ini mengakibatkan pemda mengungkapkan lebih banyak informasi

keuangannya untuk memfasilitasi pemantauan oleh masyarakat. Semakin

besar kekayaan pemerintahan daerah, semakin tinggi pula tuntutan

masyarakat terkait transparansi pengelolaan keuangan daerah. Hal ini

disebabkan pemerintah daerah dengan kekayaan yang besar lebih

berpotensi terjadinya penyelewengan dan tindak kecurangan. Hal tersebut

memotivasi pemerintah untuk melakukan pelaporan keuangan di internet,

media internet digunakan untuk mengurangi biaya pelaporan yang tinggi.

Penelitian ini tidak berhasil membuktikan adanya pengaruh positif

antara kompetisi politik, leverage, dan tipe pemerintahan daerah terhadap

pelaporan keuangan di internet oleh pemda di Pulau Jawa. Tinggi atau

62
63

rendahnya kompetisi politik tidak mempengaruhi keputusan pemda untuk

melakukan pelaporan keuangan di internet, rendahnya rata-rata kompetisi

politik menunjukkan hanya terdapat sedikit koalisi anggota DPRD

pendukung pemerintah dalam menjalankan pemerintahan. Pemerintahan

tidak berjalan mulus disebabkan kebijakan-kebijakan pemerintah tidak

didukung oleh mayoritas anggota DPRD yang menjadi pihak oposisi. Hal

tersebut menyebabkan pemerintah daerah tidak termotivasi melakukan

pelaporan keuangan di internet, karena tidak ingin dinilai memiliki kinerja

buruk oleh masyarakat luas. Pemerintah daerah dengan leverage yang

tinggi cenderung mengambil kebijakan untuk tidak melakukan pelaporan

keuangan di internet karena anggapan masyarakat bahwa leverage yang

tinggi menggambarkan kinerja yang buruk, hal ini juga dilakukan untuk

menghindari sorotan perhatian kreditor terkait kemampuan pemerintah

daerah dalam melunasi kewajibannya. Tipe pemerintahan daerah tidak

berpengaruh terhadap pelaporan keuangan di internet, baik pemerintah

kota maupun pemerintah kabupaten sama-sama melakukan pelaporan

keuangan di internet. Hal ini disebabkan internet telah tersebar di hampir

sebagian besar wilayah Pulau Jawa serta masyarakat yang telah banyak

mengenal internet.
64

B. Keterbatasan

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang harus diperhatikan

untuk menginterpretasikan hasil penelitian. Keterbatasan penelitian diantaranya

adalah sebagai berikut.

1. Penelitian ini belum bisa memotret transparansi antarpulau di Indonesia

karena hanya menggunakan sampel di Pulau Jawa.

2. Periode penelitian ini hanya satu tahun, sehingga belum bisa

membandingkan kondisi pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah

daerah antarperiode waktu.

C. Saran

Berdasarkan keterbatasan yang terdapat dalam penelitian ini, maka saran

untuk penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut.

1. Penelitian selanjutnya disarankan menambah sampel penelitian yaitu

pulau-pulau di luar Jawa.

2. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan penelitian dengan periode

waktu yang lebih panjang sehingga dapat membandingkan kondisi

pelaporan keuangan di internet oleh pemerintah daerah antar periode

waktu.

D. Implikasi

Penelitian ini memberikan beberapa implikasi antara lain.


65

1. Memberi gambaran mengenai akuntabilitas dan transparansi pengelolaan

keuangan pemerintah daerah (agent) sehingga masyarakat (principal) dapat

menilai kebijakan dan kinerja pemerintah daerah sekaligus upaya

mewujudkan good public governance.

2. Memotivasi pemerintah daerah (agent) untuk mengembangkan situs resmi

pemerintah daerah sebagai media pelaporan keuangan agar dinilai lebih

transparan dan akuntabel oleh masyarakat dan kreditor ( principal).

3. Hasil penelitian memberikan tambahan literatur dalam akuntansi sektor

publik mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pelaporan keuangan di

internet oleh pemerintah daerah, diantaranya ialah ukuran pemerintahan

daerah dan kekayaan pemerintahan daerah. Ukuran pemerintahan daerah

yang besar mengharuskan pemda untuk mengungkapkan informasi

keuangan yang lebih banyak karena tuntutan masyarakat atas transparansi

keuangan yang lebih rinci, sehingga mendorong pemda untuk melakukan

pelaporan keuangan di internet sebagai upaya mengurangi asimetri

informasi dan mengurangi biaya pelaporan yang tinggi. Kekayaan

pemerintahan daerah yang diukur dengan pendapatan asli daerah per

kapita mempengaruhi pelaporan keuangan di internet oleh pemda.

Kekayaan yang tinggi menyebabkan masyarakat mendesak transparansi

keuangan oleh pemda karena kekayaan yang tinggi rawan tindak

kecurangan, hal tersebut mendorong pemda untuk melakukan pelaporan

keuangan melalui website-nya untuk mengurangi asimetri informasi dan

mengurangi biaya pelaporan yang tinggi.


4.

DAFTAR PUSTAKA

Alt, J. E., Lessen, D. D., dan Ross, Shana. 2006. The cause of fiscal transparency

evidence from the U.S. states. IMF Staff Papers 53, Special Issue,

International Monetary Fund.

Alvarez, R. M. And Hall, T. E. 2006. Controlling Democracy: The Principal

Agent Problems in Election Administration. Policy Studies Journal, 34 (4),

491-510.

Banker, R.D., dan Patton, J.M. 1987. Analytical agency theory and municipal

accounting: An introduction and an application. Research in Governmental

and Nonprofit Accounting 3 (PartB), hal. 29–50.

Bardhan, P., dan T.-T. Yang. 2004. Political Competition in Economic

Perspective. Working paper 78. Bureau for Research and Economic

Analysis of Development (BREAD).

Bastian, Indra. 2006. Akuntansi Sektor Publik : Suatu Pengantar. Jakarta :

Erlangga.

Bertot, J. C., Jaeger, P. T. dan Grimes, J. M. 2010.Using ICTs to create a culture

of transparency: E-government and social media as openness and anti-

corruption tools for societies. Government Information Quarterly, hal. 264-

271.

Data statistik telekomunikasi Indonesia tahun 2014. Diakses tangggal 10 Januari

2016.www.bps.go.id.

63
64

Downs, Anthony. 1957. Inside Bureaucracy. Boston: A Rand Corporation

Research.

Durrant, F. 2002. E-government and the internet in the Caribbean: An initial

assessment. In: Traunmuller R, Lenk K (eds) Electronic Government: First

International Conference EGOV 2002, Aix-en Provence, France, September

2-6, 2002. Proceedings Springer, Berlin, hal. 101-104.

Gang, T. (1988). Governmental Accounting and Auditing in China: Evolution and

Current Reforms. Governmental Accounting and Auditing : International

Comparisons, Rountledge, London, 122-48.

García, Ana Cárcaba dan Jesús García-García. 2010. Determinants of Online

Reporting of Accounting Information by Spanish Local Government

Authorities. Local Government Studies, Vol. 36, No. 5.

Gaventa, J. Dan McGee, R. 2013. The Impact of Transparency and Accountability

Initiatives. Development Policy Review,Vol. 31, hal. 24.

Ghozali dan Chariri. 2007. Teori Akuntansi. Semarang: Badan Penerbit Undip.

Ghozali, I. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan program IBM SPSS 21

Update PLS Regresi Edisi 7. Semarang: Badan Penerbit Universitas

Diponegoro.

Gil-Garcia, J. R., dan Helbig, N. 2007. Exploring e-Government benefits and

success factors. Encyclopedia of digital government2, hal. 803-811.

Gujarati, Damodar. 2003. Ekonometri Dasar Fourth edition. McGraw-Hill.New

York.
65

Gupta, B., Dasgupta, S., dan Gupta, A. 2008. Adoption of ICT in government

organization in a developing country: An empirical study, Journal of

Strategic Information Systems 17, hal. 140-154.

Halim, Abdullah dan Syukriy Abdullah. 2006. Hubungan Dan Masalah Keagenan

diPemerintah Daerah : Sebuah PeluangPenelitian Anggaran Dan

Akuntansi.Jurnal Akuntansi Pemerintah, Vol. 2, No. 1, hal. 53-56.

Harrison, T.M., danSayogo, D.S. 2014.Transparency, participation, and

accountability practices in open government: A comparative study.

Government Information Quarterly 31,hal. 513–525.

Hartono, D. U., dan Mulyanto, E. 2010. Electronic Government Pemberdayaan

Pemerintahan dan Potensi Desa Berbasis Web. Jurnal Teknologi Informasi,

Vol. 6, No. 1.

Hartono, D. U., dan Mulyanto, E. 2010. Electronic Government Pemberdayaan

Pemerintahan dan Potensi Desa Berbasis Web.Jurnal Teknologi

Informasi,Vol. 6, No. 1.

Hermana, B., Taringan, A., Medyawati, dan H., Silfianti, W. 2012. Information

Richness, Website Feature, and Financial Transparency on the Local

Government Website in Indonesia. Journal of Theoretical and Applied

Information Technology, Vo.43, No.2, hal. 229-235.

Hilmi, A.Z., dan Martani, D. 2012. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi

tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah provinsi. Seminar

Nasional Akuntansi V.
66

Hui Zhang, Xiaolin Xu dan Jianying Xiao. 2014. Diffusion of e-government: A

literature review and directions for future directions. Government

Information Quarterly 31, hal. 631–636.

Instruksi Presiden No. 3 tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional

Pengembangan E-government.

Jensen, M. C dan Meckling, W.H. 1976. Theory of The Firm: Manajerial

Behaviour, Agency Costs, and Ownership Structure. Journal of Financial

Economics 3,hal. 305-360.

Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Dan Lembaga Keuangan Nomor:

17/PM/2002. Tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Keuangan Berkala.

Komite Nasional Kebijakan Governance. 2010. Pedoman Umum Good

PublicGovernance

Lane, Jan-Erik. 2003. Management and public organization: The principal-agent

framework. University of Geneva and National University of Singapore.

Working paper. International Data. International Journal of Public

Administration, Vol. 31, No.3, hal. 298–316.

Laswad, F., Fisher, R. dan Oyerele, P. 2005. Determinants of voluntary internet

financial reporting by local government authorities, Journal of Accounting

and Public Policy, Vol.24, No.2, hal.101-121.

Latan, Hengky. 2014. Aplikasi Analisis Data Statistik untuk Ilmu Sosial Sains

dengan IBM SPSS. Cetakan Kesatu. Bandung. Penerbit Alfabeta Bandung.


67

Layne, K., dan Lee, Jungwoo. 2001. Developing Fully Functional E-government:

A four-stage model.Government information quarterly, Vol.18, No.2, hal.

122-136 .

Lee, J. 2010. 10 year retrospect on stage models of e-government: A qualitative

metasynthesis. Government Information Quarterly, Vol. 27, No.3, hal. 220–

230.

Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi.

Martani, Dwi., Debby Fitriasari., dan Annisa. 2014. Financial And Performance

Transparency on The Local Government Websites in Indonesia. Journal of

Theoretical and Applied Information Technology, Vol.60, No. 3, hal. 504-

516.

McGee, R., dan Gaventa, J. 2011. Shifting power? Assessing the impact of

transparency andaccountability initiatives. IDS Working Papers, 383, 1–39.

Medina, Febri. 2012. Factors Influencing Transparency of Financial Information

On Local Government Official Site In Indonesia. Skripsi. Universitas

Indonesia.

Michener, G., dan Bersch, K. 2013. Identifying transparency. Information Policy,

18, hal. 233–242.

Monir Zaman Mir, Bikram Chatterjee, dan Ross Taplin. 2015. Political

competition and environmental reporting. Asian Review of Accounting,

Vol.23, No.1, hal.17 – 38.


68

Moon, M, Jae. 2002. The Evolution of E-Government among Municipalities:

Rhetoric or Reality? . Public Admnistration Review, Vol.62, No.4, hal. 424-

433.

Muhammad, Bagus H. P. 2012. Analisis Tingkat Pengungkapan Informasi

Keuangan Dan Non Keuangan Dalam Perspektif E-Government Pada

Website Pemerintah Kota/Kabupaten Di Indonesia.Skripsi Sarjana FPEB

UPI.

Nasser, dkk. 2006. Auditor-Client Relationship: The Case of Audit tenure and

Auditor Switching in Malaysia. Managerial Auditing Journal, Vol.21, No. 7,

hal. 724-737.

Norris, Donald F., dan Christopher G. Reddick. 2013. Local E-Government in the

United States: Transformation or Incremental Change?. Public

Administration Review, Vol.73, No.1.

Pattrick, Patricia A. 2007. The Determinants of Organizational Innovativeness:

The adoptions of GASB 34 in Pennsylvania Local Government. Ph.D

dissertation, The Pennsylvania State University, United StatesPennsylvania.

Accounting & Tax Periodicals Publication No. AAT 3266180.

Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005. tentang Sistem Informasi Keuangan

Daerah.

Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi

Pemerintahan.

Piotrowsky, S.J., dan Bertelli, A. 2010. Measuring Municipal Transparency. 14th

IRSPM Conference, Bern, Switzerland, April.


69

Puspita, R., & D. Martani. 2012. Analisis Pengaruh Kinerja dan Karakteristik

Pemda Terhadap Tingkat Pengungkapan dan Kualitas Informasi dalam

Website Pemda. Simposium Nasional Akuntansi XV Banjarmasin, 20-23

September 2012.

Rahman, A., Sutaryo, dan Budiatmanto, A. 2013. Determinan Internet Financial

Local Government Reporting di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi

XVI,Manado, 25-28 September 2013.

Roman, A. V., dan Miller, H. T. 2013. New Questions for E-Government:

Efficiency but not (yet?) Democracy.International Journal of Electronic

Government Research, Vol.9, No.1, hal. 65-81.

Scholl, H. J. 2008. Discipline or interdisciplinary study domain? Challenges and

promises in electronic government research. Digital government. Integrated

Series in Information Systems, hal. 21–41.

Shim, D. C., dan Eom, T. H., 2008. E-government and anti-corruption: Empirical

analysis of international data. International Journal of Public

Administration,Vol. 31, hal. 298-31.

Sinaga, Yurisca F dan Tri Jatmiko Wahyu Prabowo. 2011. Analisis Faktor-faktor

yang Mempengaruhi Pelaporan Keuangan di Internet Secara Sukarela oleh

Pemerintah Daerah. Jurnal Universitas Diponegoro.

Styles, Alan K., dan Mack Tennyson. 2007. The Accessibility Of Financial

Reporting U.S. Municipalities On The Internet. Journal of Public Budgeting,

Accounting & Financial Management, Vol. 19, No.1, hal.56-92.


70

Suwardjono. 2005. Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Edisi

Ketiga. Yogyakarta: BPPE.

__________.2010. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan.

Yogyakarta : BPFE.

Teresa M. Harrison, dan Djoko Sigit Sayogo. 2014. Transparency, participation,

and accountability practices in open government: A comparative study.

Government Information Quarterly, Vol.31, No.4, hal.513-525.

Uma Sekaran dan Bougie, R.. 2010. Research Methods for Business: A Skill-

Building Approach, John Wiley and sons, inc. : London.

Undang-Undang No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik

Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik

Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara

Van Horne, James C dan Wachowicz, John M Jr. 1997. Prinsip-prinsip

Manajemen Keuangan. Alih Bahasa Heru Sutojo. Edisi Kesembilan.

Salemba Empat. Jakarta.

www.kemendagri.go.id. Diakses pada tanggal 1 November 2015.

Yamin, Sofyan dan Heri Kurniawan. 2014. SPSS Complete: Teknik Analisis

Terlengkap dengan Software SPSS. Jakarta: Salemba Infotek.

Yavuz, N.,dan Welch, E.W. 2014. Factors affecting openness of local government

websites: Examining the differences across planning, finance and police

departments. Government Information Quarterly, Vol.31, hal. 574–583.


71

Yentifa, Armel, Yurniwati, Suhanda. 2010. Kebutuhan Investor dan Kreditor atas

Informasi dalam Pelaporan Keuangan Pemerintah

Daerah.SimposiumNasional Akuntansi XIII. Purwekerto.

Zhang, Hui, Xu, Xiaolin dan, Xiao, Jianying. 2014. Diffusion of e-government:

A literature review and directions for future directions. Government

Information Quarterly 31, hal. 631–636.

Zimmerman, J.L. 1977. The municipal accounting maze: an analysis of political

incentives. Journal of Accounting Research15, hal.107-144.


LAMPIRAN 1

Daftar Sampel Pemerintah Daerah

No. Pemerintah Kota No. Pemerintah Kabupaten


1. Kota Serang 1. Kabupaten Tasikmalaya
2. Kota Tasikmalaya 2. Kabupaten Pandeglang
3. Kota Depok 3. Kabupaten Klaten
4. Kota Batu 4. Kabupaten Sumenep
5. Kota Cimahi 5. Kabupaten Brebes
6. Kota Malang 6. Kabupaten Sampang
7. Kota Pekalongan 7. Kabupaten Pemalang
8. Kota Pasuruan 8. Kabupaten Ciamis
9. Kota Bekasi 9. Kabupaten Bandung Barat
10. Kota Bogor 10. Kabupaten Blitar
11. Kota Probolinggo 11. Kabupaten Banjarnegara
12. Kota Surakarta 12. Kabupaten Blora
13. Kota Banjar 13. Kabupaten Grobogan
14. Kota Semarang 14. Kabupaten Madiun
15. Kota Bandung 15. Kabupaten Subang
16. Kota Kediri 16. Kabupaten Garut
17. Kota Mojokerjo 17. Kabupaten Wonogiri
18. Kota Sukabumi 18. Kabupaten Indramayu
19. Kota Tangerang Selatan 19. Kabupaten Majalengka
20. Kota Tegal 20. Kabupaten Kebumen
21. Kota Cirebon 21. Kabupaten Kuningan
22. Kota Salatiga 22. Kabupaten Tegal
23. Kota Tangerang 23. Kabupaten Cianjur
24. Kota Yogyakarta 24. Kabupaten Trenggalek
25. Kota Surabaya 25. Kabupaten Sukabumi
26. Kota Cilegon 26. Kabupaten Ngawi
27. Kota Magelang 27. Kabupaten Magelang
28. Kabupaten Situbondo
29. Kabupaten Kediri
30. Kabupaten Demak
31. Kabupaten Bandung
32. Kabupaten Jepara
33. Kabupaten Lamongan
34. Kabupaten Wonosobo
35. Kabupaten Cilacap
36. Kabupaten Lebak
37. Kabupaten Gunung Kidul
38. Kabupaten Temanggung
39. Kabupaten Purbalingga
40. Kabupaten Ponorogo
41. Kabupaten Cirebon
42. Kabupaten Pati
43. Kabupaten Kendal
44. Kabupaten Batang
45. Kabupaten Boyolali
46. Kabupaten Nganjuk
47. Kabupaten Pekalongan
48. Kabupaten Karanganyar
49. Kabupaten Tuban
50. Kabupaten Semarang
51. Kabupaten Banyumas
52. Kabupaten Tulungangung
53. Kabupaten Sragen
54. Kabupaten Purworejo
55. Kabupaten Rembang
56. Kabupaten Pasuruan
57. Kabupaten Kudus
58. Kabupaten Sukoharjo
59. Kabupaten Serang
60. Kabupaten Purwakarta
61. Kabupaten Kulon Progo
62. Kabupaten Bantul
63. Kabupaten Bogor
64. Kabupaten Karawang
65. Kabupaten Sleman
66. Kabupaten Gresik
67. Kabupaten Bekasi
68. Kabupaten Sidoarjo
LAMPIRAN 2

Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std.
Deviation
POLCOM 95 ,02 ,71 ,3173 ,14800
LnSIZE 95 27,98 33,69 28,9903 ,76528
LEV 95 ,0000063 ,0285312 ,004546738 ,0057513604
LnWEALTH 95 11,45 14,09 12,6199 ,63186
TYPE 95 ,00 1,00 ,7158 ,45343
IFR 95 ,00 1,00 ,6105 ,49022
Valid N 95
(listwise)
LAMPIRAN 3

Uji Multikolinearitas

1. Tabel Uji Multikolinearitas


Correlation Matrix

Constant POLCOM LnSIZE LEV LnWEALTH TYPE


Constant 1,000 -,034 -,892 -,039 -,579 -,334
POLCOM -,034 1,000 ,054 ,149 -,077 -,062
LnSIZE -,892 ,054 1,000 ,043 ,149 -,046
Step 1
LEV -,039 ,149 ,043 1,000 -,020 ,005
LnWEALTH -,579 -,077 ,149 -,020 1,000 ,785
TYPE -,334 -,062 -,046 ,005 ,785 1,000
LAMPIRAN 4

Hasil Pengujian dengan Logistic Regression

1. Tabel Uji Nilai Likelihood

Block 0

Iteration Historya,b,c

Iteration -2 Log Coefficients


likelihood Constant

1 127,019 ,442

Step 0 2 127,017 ,450

3 127,017 ,450

a. Constant is included in the model.


b. Initial -2 Log Likelihood: 127,017
c. Estimation terminated at iteration number 3
because parameter estimates changed by less than
,001.

Block 1

Iteration Historya,b,c,d

Iteration -2 Log Coefficients


likelihood Constant POLCOM LnSIZE LEV LnWEALTH TYPE(1)

1 106,953 -29,573 1,006 ,563 -26,392 1,056 ,245

2 102,462 -54,175 1,029 1,249 -29,709 1,438 ,408

3 101,643 -69,627 ,930 1,676 -31,054 1,691 ,504


Step 1
4 101,614 -73,105 ,912 1,768 -31,495 1,757 ,524

5 101,614 -73,244 ,911 1,772 -31,515 1,760 ,525

6 101,614 -73,244 ,911 1,772 -31,515 1,760 ,525

a. Method: Enter
b. Constant is included in the model.
c. Initial -2 Log Likelihood: 127,017
d. Estimation terminated at iteration number 6 because parameter estimates changed by less than ,001.
2. Tabel Hosmer and Lemeshow Test

Hosmer and Lemeshow Test


Step Chi-square Df Sig.
1 13,314 8 ,101

3. Tabel Uji Nilai Nagelkerke 𝑹𝟐

Model Summary

Step -2 Log Cox & Snell R Nagelkerke R


likelihood Square Square

1 101,614a ,235 ,318

a. Estimation terminated at iteration number 6 because


parameter estimates changed by less than ,001.

4. Tabel Uji Parameter Logistic Regression

Variables in the Equation

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)


POLCOM ,911 1,621 ,316 1 ,574 2,487

LnSIZE 1,772 ,670 6,998 1 ,008 5,881

LEV -31,515 45,113 ,488 1 ,485 ,000


Step 1a
LnWEALTH 1,760 ,805 4,777 1 ,029 5,811

TYPE(1) ,525 1,020 ,265 1 ,607 1,690

Constant -73,244 23,283 9,896 1 ,002 ,000

a. Variable(s) entered on step 1: POLCOM, LnSIZE, LEV, LnWEALTH, TYPE.


LAMPIRAN 5

Daftar Publikasi Informasi Keuangan

NO. KABUPATEN/KOTA IFR APBD LKPD LAKIP


1. Kabupaten Tasikmalaya 1 √ √ √
2. Kabupaten Pandeglang 0
3. Kabupaten Klaten 1 √ √
4. Kabupaten Sumenep 0
5. Kabupaten Brebes 0
6. Kabupaten Sampang 1 √ √
7. Kabupaten Pemalang 1 √ √
8. Kabupaten Ciamis 0
9. Kabupaten Bandung Barat 0
10. Kabupaten Blitar 0
11. Kota Serang 0
12. Kabupaten Banjarnegara 0
13. Kabupaten Blora 0
14. Kabupaten Grobogan 1 √
15. Kabupaten Madiun 0
16. Kabupaten Subang 0
17. Kabupaten Garut 0
18. Kabupaten Wonogiri 0
19. Kabupaten Indramayu 0
20. Kabupaten Majalengka 1 √ √
21. Kabupaten Kebumen 0
22. Kabupaten Kuningan 0
23. Kabupaten Tegal 1 √ √
24. Kabupaten Cianjur 1 √ √ √
25. Kabupaten Trenggalek 1 √ √ √
26. Kabupaten Sukabumi 0
27. Kabupaten Ngawi 0
28. Kabupaten Magelang 1 √ √
29. Kabupaten Situbondo 0
30. Kabupaten Kediri 1 √ √
31. Kabupaten Demak 1 √ √ √
32. Kabupaten Bandung 1 √ √
33. Kabupaten Jepara 1 √
34. Kabupaten Lamongan 1 √ √
35. Kabupaten Wonosobo 0
36. Kabupaten Cilacap 1 √ √ √
37. Kabupaten Lebak 0
38. Kabupaten Gunung Kidul 1 √ √ √
39. Kabupaten Temanggung 0
40. Kabupaten Purbalingga 1 √ √ √
41. Kabupaten Ponorogo 0
42. Kabupaten Cirebon 1 √ √
43. Kabupaten Pati 0
44. Kabupaten Kendal 1 √
45. Kabupaten Batang 0
46. Kabupaten Boyolali 1 √ √ √
47. Kabupaten Nganjuk 0
48. Kabupaten Pekalongan 1 √ √ √
49. Kabupaten Karanganyar 0
50. Kabupaten Tuban 1 √
51. Kabupaten Semarang 0
52. Kabupaten Banyumas 1 √ √ √
53. Kabupaten Tulungangung 1 √
54. Kabupaten Sragen 0
55. Kabupaten Purworejo 1 √ √ √
56. Kabupaten Rembang 1 √ √
57. Kabupaten Pasuruan 1 √ √
58. Kabupaten Kudus 1 √ √ √
59. Kabupaten Sukoharjo 0
60. Kabupaten Serang 0
61. Kabupaten Purwakarta 0
62. Kota Tasikmalaya 1 √ √ √
63. Kabupaten Kulon Progo 1 √ √ √
64. Kabupaten Bantul 1 √ √ √
65. Kota Depok 1 √ √
66. Kota Batu 0
67. Kota Cimahi 0
68. Kabupaten Bogor 1 √ √ √
69. Kota Malang 1 √ √ √
70. Kabupaten Karawang 1 √ √
71. Kota Pekalongan 1 √ √ √
72. Kota Pasuruan 0
73. Kota Bekasi 1 √ √
74. Kabupaten Sleman 1 √ √ √
75. Kota Bogor 1 √ √ √
76. Kabupaten Gresik 1 √
77. Kota Probolinggo 1 √ √
78. Kota Surakarta 1 √ √
79. Kota Banjar 1 √ √ √
80. Kabupaten Bekasi 1 √
81. Kabupaten Sidoarjo 1 √
82. Kota Semarang 1 √ √
83. Kota Bandung 1 √ √ √
84. Kota Kediri 1 √ √ √
85. Kota Mojokerjo 1 √
86. Kota Sukabumi 0
87. Kota Tangerang Selatan 1 √ √ √
88. Kota Tegal 1 √ √
89. Kota Cirebon 1 √ √ √
90. Kota Salatiga 1 √
91. Kota Tangerang 1 √ √ √
92. Kota Yogyakarta 1 √ √ √
93. Kota Surabaya 1 √ √ √
94. Kota Cilegon 0
95. Kota Magelang 1 √ √ √