Anda di halaman 1dari 89

LAPORAN MINI PROJECT

Hubungan Pengetahuan, Motivasi Dan Dukungan Keluarga Pada


Penderita Hipertensi di RT 25 dan 26
Kelurahan Jawa Kota Samarinda

Diajukan dalam rangka praktek klinis dokter internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia
di Puskesmas Pasundan Kota Samarinda

Disusun oleh:

dr. Andhika Wicaksana Saputra

Pendamping:
dr. Deni Wardani

Penanggung Jawab
dr. Panuturi Ratih E. T. S

PROGRAM DOKTER INTERNSIP INDONESIA


KALIMANTAN TIMUR
KOTA SAMARINDA
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur bagi Tuhan YME atas Berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan mini project dengan judul “Hubungan Pengetahuan, Motivasi
dan Dukungan Keluarga pada Penderita Hipertensi di RT.25 dan 26 Kelurahan
Jawa Kota Samarinda”. Laporan ini disusun berdasarkan hasil mini project yang
telah dilakukan dan merupakan salah satu tugas dokter internsip yang bertugas di
Puskesmas Pasundan. Dalam proses penyusunan laporan ini, penulis mengucapkan
terima kasih kepada :

1. dr. Panuturi Ratih E. T. Sinaga selaku Kepala Puskesmas Pasundan Kota


Samainda.
2. Bapak Didik Sutrisno selaku Kepala Tata Usaha Puskesmas Pasundan Kota
Samarinda.
3. dr. Deni Wardani selaku Pendamping Internsip Puskesmas Pasundan Kota
Samarinda.
4. Petugas medis dan non-medis di Puskesmas Pasundan Kota Samarinda.
5. Kader-kader Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Pasundan Kota Samarinda,
terutama kader RT.25 dan 26 Kelurahan Jawa Kota Samarinda.
6. Teman-teman Internsip senasib dan sepenanggungan: dr. Putri, dr. Nico, , dr.
Marthin, dan dr.Sri, dr. Deka yang selalu memberikan semangat dan motivasi
serta keceriaan sehingga penulis selalu bersemangat menjalani masa-masa
Internsip di Puskesmas Pasundan Kota Samarinda.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu, penulis membuka diri untuk menerima kritik dan saran yang
membangun. Akhirnya penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat, baik
untuk penulis pribadi maupun para pembaca.
Samarinda, Agustus 2019

Penulis

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama
dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif untuk mencapai derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. Setiap
pelayanan yang diberikan oleh puskesmas memiliki standar pelayanan minimal
yang mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 tahun 2016 tentang
Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Adapun standar pelayanan minimal
yang diatur antara lain pelayanan kesehatan ibu hamil, pelayanan kesehatan ibu
bersalin, pelayanan kesehatan bayi baru lahir, pelayanan kesehatan balita,
pelayanan kesehatan pada usia pendidikan dasar, pelayanan kesehatan pada usia
produktif, pelayanan kesehatan pada usia lanjut, pelayanan kesehatan penderita
hipertensi, pelayanan kesehatan penderita diabetes melitus, pelayanan kesehatan
orang dengan gangguan jiwa berat, pelayanan kesehatan orang dengan TB,
pelayanan kesehatan orang dengan risiko terinfeksi HIV.
Pernyataan standar pelayanan tersebut masing-masing adalah setiap ibu hamil
mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar, setiap ibu bersalin mendapatkan
pelayanan persalinan sesuai standar, setiap bayi baru lahir mendapatkan pelayanan
kesehatan sesuai standar, setiap balita mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai
standar, setiap anak pada usia pendidikan dasar mendapatkan skrining kesehatan
sesuai standar, setiap warga negara Indonesia usia 15 s.d. 59 tahun mendapatkan
skrining kesehatan sesuai standar, setiap warga negara Indonesia usia 60 tahun ke
atas mendapatkan skrining kesehatan sesuai standar, setiap penderita hipertensi
mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar, setiap penderita diabetes melitus
mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar, setiap orang dengan gangguan
jiwa (ODGJ) berat mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar, setiap orang
dengan TB mendapatkan pelayanan TB sesuai standar, setiap orang beresiko
terinfeksi HIV (ibu hamil, pasien TB, pasien IMS, waria/transgender, pengguna

3
napza, dan warga binaan lembaga pemasyarakatan) mendapatkan pemeriksaan HIV
sesuai standar.
Hipertensi merupakan penyebab kematian dan kesakitan yang tinggi. Darah
tinggi sering diberi gelar The Silent Killer karena hipertensi merupakan pembunuh
tersembunyi yang penyebab awalnya tidak diketahui atau tanpa gejala sama sekali,
hipertensi bisa menyebabkan berbagai komplikasi terhadap beberapa penyakit lain,
bahkan penyebab timbulnya penyakit jantung, stroke dan ginjal. Data WHO (2011)
menunjukkan, di seluruh dunia, sekitar 972 juta orang atau 26,4 % penghuni bumi
mengidap hipertensi. Angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi 29,2 % di
tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333 juta berada di negara maju dan
639 sisanya berada di Negara berkembang, termasuk Indonesia.
Hingga saat ini hipertensi masih merupakan tantangan besar di Indonesia
karena merupakan kondisi yang sering ditemukan pada pelayanan kesehatan
primer.4 Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, hipertensi
merupakan masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar 25,8%.
5
Di samping itu, pengontrolan hipertensi belum adekuat meskipun obat-obatan
yang efektif banyak tersedia.

Pada tahun 2012, World Health Organization mencanangkan Global Plan


Action 2013-2020 yang bertujuan untuk mengurangi 25% kematian dini akibat
penyakit-penyakit tidak menular di tahun 2025, termasuk hipertensi. Mencegah dan
mengontrol tekanan darah tinggi merupakan salah satu langkah yang penting untuk
mencapai hal tersebut.6 Tujuan pengobatan hipertensi adalah untuk menurunkan
mortalitas dan morbiditas penyakit kardiovaskular. Penurunan tekan sistolik harus
menjadi perhatian utama, karena umumnya tekanan diastolik akan terkontrol
bersamaan dengan terkontrolnya sistolik.

Keberhasilan tatalaksana hipertensi di dunia menunjukan angka yang


rendah, yaitu hanya 5%-58% pasien yang dapat mencapai tekanan darah <140/90
mmHg.15 Salah stau penyebab utama hal tersebut adalah rendahnya kepatuhan
meminum obat.16 Oleh karena itu, kepatuhan pasien merupakan faktor utama
penentu keberhasilan terapi. Kepatuhan serta pemahaman yang baik dalam

4
menjalankan terapi dapat mempengaruhi tekanan darah dan secara bertahap
mencegah terjadi komplikasi.
Menurut Ratna (2010), dukungan dari keluarga merupakan factor penting
seseorang ketika mengalami masalah (kesehatan) dan sebagai strategi preventif
untuk mengurangi stress dimana pandangan hidup menjadi luas, dantidak mudah
stress. Dukungan keluarga sangat dibutuhkan dalam perawatan pasien, dapat
membantu menurunkan kecemasan pasien, meningkatkan semangat hidup, dan
komitmen pasien untuk tetap menjalani pengobatan hipertensi.Dukungan keluarga
dapat memberikan kenyamanan fisik dan psikologis kepada individu dapat dilihat
dari bagaimana dukungan keluarga mempengaruhi kejadian dan efek dari keadaan
kecemasan. Dukungan keluarga dapat memberikan dukungan emosi, instrumental,
penilaian positif dan informasi yang bermanfaat bagi individu dalam :
Meningkatkan produktivitas bila dihubungkan dengan pekerjaan, meningkatkan
kesejahteraan psikologis dan penyesuaian diri dengan menyediakan rasa memiliki,
memperjelas identitas diri, menambah harga diri, serta mengurangi stress,
meningkatkan dan memelihara kesehatan fisik, pengelolaan terhadap stres dengan
menyediakan pelayanan, perawatan, sumber-sumber informasi dan umpan balik
yang dibutuhkan untuk menghadapi stres dan tekanan.

B. Rumusan Masalah

Apakah ada hubungan pengetahuan, motivasi dan dukungan keluarga pada


penderita hipertensi di RT.25 dan 26 Kelurahan Jawa Kota Samarinda ?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan pada penderita hipertensi.

2. Untuk mengetahui hubungan motivasi pada penderita hipertensi.


3. Untuk mengetahui dukungaan keluarga pada penderita hipertensi.

5
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Bagi Puskesmas
a. Membantu puskesmas meningkatkan jumlah kunjungan dan kepatuhan
berobat pasien hipertensi dalam rangka memenuhi target sesuai SPM
b. Bertambahnya pengetahuan dan ketrampilan para tenaga kesehatan
mengenai hipertensi yang akan mendukung upaya pemantauan
kesehatan dan pengendalian penyakit hipertensi di wilayah kerja
Puskesmas Pasundan Samarinda.

2. Manfaat Bagi Peneliti


a. Meningkatkan pengalaman dan keterampilan penulis dalam
menganalisis persoalan yang ada di masyarakat dan melakukan
upaya intervensi terkait pelayanan pada penderita hipertensi.

b. Sebagai sarana pembelajaran dan aplikasi dari ilmu pengetahuan yang


telah diperoleh selama pendidikan kedokteran khususnya dalam bidang
kesehatan masyarakat

c. Sebagai pemenuhan tugas dalam menjalankan program internsip dokter


Indonesia.

3. Manfaat Bagi Masyarakat


a. Penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan
masyarakat mengenai pengetahuan, motivasi dan dukungan keluarga
terhadap hipertensi dengan tekanan darah pada pasien hipertensi
b. Untuk meningkatkan kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam
mengelolah makanan diet hipertensi

6
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengetahuan
2.1.1 Pengertian
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui
pancaindra manusia, yakni : indra penglihatan, pendengaran, rasa dan raba.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting unutk
terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior).

2.1.2 Tingkatan Pengetahuan


Menurut Notoatdmojo (2007), pengetahuan yang mencakup dalam domain
kognitif mempunyai 6 (enam) tingkatan, yaitu :
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari
atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, “tahu” ini adalah
merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk
mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain :
menyebutkan, menguraikan, mendenifisikan, menyatakan, dan sebagainya.
Contoh : dapat menyebutkan tanda-tanda sindrom pra menstruasi.
2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai sesuatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat
menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham
terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,
menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap obyak yang
dipelajari. Misalnya mengapa harus makan makanan yang bergizi.

3. Aplikasi (application)

7
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya). Aplikasi
disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum,
rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan
perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklu
pemecahan masalah (problem solving cycle) dalam pemecahan masalah
kesehatan dari kasus yang diberikan.
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu struktur
organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan
analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja: dapat
menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,
mengelompokkan, dan sebagainya.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan
yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada misalnya : dapat
menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan
dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan – rumusan yang ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini kaitan dengan kemampuan untuk melakukan justivikasi
atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian penilaian itu
berdasarkan suatu kriteria-kriteria yang ada. Misalnya : dapat
membandingkan antara anak-anak yang cukup gizi dengan anak-anak yang
kurang gizi.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara
melalui kuesioner yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukurkan
subyek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin

8
diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut
diatas.

2.1.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan


Menurut Notoatmodjo (2007), tingkat pengetahuan seseorang dipengaruhi
oleh beberapa faktor, antara lain :
1. Usia
Usia juga mempengaruhi pengetahuan seseorang karena dengan
bertambahnya usia akan lebih dewasa pula intelektualnya. Semakin cukup
umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam
berpikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang
lebih dewasa akan lebih dipercaya dari orang-orang yang belum tinggi
kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan
jiwanya.
2. Pendidikan
Pendidikan pada hakekatnya adalah suatu kegiatan atau usaha
menyampaikan pesan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan
adanya pesan tersebut maka diharapkan masyarakat, kelompok atau
individu dapat memperoleh pengetahuan. Pengetahuan tersebut akhirnya
dapat berpengaruh terhadap perilaku. Adanya pendidikan diharapkan dapat
membawa dampak atau akibat terhadap perubahan perilaku sasaran.
Dengan tingginya pendidikan yang ditempuh, diharapkan tingkat
pengetahuan seseorang bertambah sehingga memudahkan dalam menerima
atau mengadopsi perilaku yang positif. Semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang, makin mudah menerima informasi sehingga semakin banyak
pula pengetahuan yang dimilikinya.
3. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang mempunyai hubungan
langsung dengan hidup organisasi atau manusia. Dengan system terbukanya
manusia, maka selama berinteraksi dengan lingkungannya akan berdampak
terhadap pembentukan perilaku atau watak yang sesuai dengan pengetahuan
yang dimilikinya.

9
4. Intelegensi
Intelegensi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk belajar dan
berpikir abstrak guna menyesuaikan diri secara mental dalam situasi baru.
Intelegensi bagi seseorang merupakan salah satu modal untuk berpikir dan
mengolah berbagai informasi secara terarah sehingga ia mampu menguasai
lingkungan.
5. Pekerjaan
Seseorang yang bekerja pengetahuannya akan lebih luas daripada
orang yang tidak bekerja, karena dengan bekerja seseorang akan banyak
memperoleh informasi dan pengalaman.
6. Pengalaman
Pengalaman merupakan yang baik oleh sebab itu pengalaman
pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini
dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh
dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi.(Notoadmojo, 2007)
7. Penyuluhan
Meningkatkan pengetahuan masyarakat juga dapat melalui metode
penyuluhan, dengan pengetahun bertambah seseorang akan berubah
perilakunya.
8. Media Massa
Dengan majunya teknologi akan tersedia pula macam-macam media
massa yang dapat mempengaruhi masyarakat tentang inovasi baru.

2.1.4 Cara Memperoleh Pengetahuan


Menurut Notoatmodjo (2007) cara memperoleh pengetahuan ada dua cara,
yaitu :
1. Cara Tradisional Atau Non Ilmiah
a. Cara coba-salah ( Trial and Error ) yaitu cara yang paling tradisional
yang pernah digunakan oleh manusia dalam memperoleh pengtahuan
adalah melalui cara coba-coba atau dengan kata yang lebih dikenal “trial
and error”. Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan
kemungkinan dalam memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan

10
tersebut tidak berhasil dicoba kemungkinan yang lain. Apabila
kemungkinan ini gagal pula, maka dicoba kembali dengan kemungkinan
ketiga, dan apabila kemungkinan ketiga gagal dicoba kemungkinan
keempat dan seterusnya, sampai masalah tersebut dapat terpecahkan.
b. Cara kekuasaan atau otoritas yaitu cara kebiasaan atau tradisi yang
dilakukan oleh orang-orang tanpa melalui penalaran dan kebiasaan ini
seolah-olah diterima dari sumbernya sebagai kebenaran mutlak. Sumber
pengetahuan ini dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik
formal maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintahan dan
sebagainya. Dengan kata lain pengetahuan tersebut diperoleh
berdasarkan kekuasaan atau otoritas. Baik tradisi,otoritas pemerintah,
otoritas pemimpin agama, maupun ahli ilmu pengetahuan.
c. Berdasarkan pengalaman pribadi. Untuk memperoleh pengetahuan
dengan cara mengulang kembali pengalaman yang pernah diperoleh
dalam memecahkan masalah yang dihadapi, maka untuk memecahkan
yang lain yang sama orangnya, dapat menggunakan kembali, namun
akan menggunakan cara yang lain sehingga dapat berhasil
memecahkannya.
d. Melalui jalan pemikiran merupakan cara melahirkan pemikiran secara
tidak langsung melalui pernyataan-pernyataan yang dikemukan
kemudian dicari hubungan sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan.
Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan
menggunakan penalaran.
2. Cara Modern atau Cara Ilmiah
Metode yang menggunakan cara baru atau modern dalam
memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis, dan
ilmiah. Cara ini bisebut dengan “metode penelitian ilmiah” atau lebih
populer disebut metodologi penelitian (Research Methodology). Di mana
pengetahuan ini diperoleh dengan mengadakan observasi langsung dan
membuat pencatatan pencatatanya terhadap semua fakta sehubungan
dengan objek yang diamati. Pemecahan ini mencakup tiga hal pokok, yaitu:

11
a. Segala sesuatu yang positif, yakni gejala tertentu yang muncul pada saat
diperlakukan pengamatan
b. Segala sesuatu yang negatif, yakni gejala tertentu yang tidak muncul
pada saat diperlakukan pengamatan
c. Gejala yang muncul secara bervariasi, yaitu gejala-gejala yang
berubahubah pada kondisi-kondisi tertentu.
Berdasarkan hasil-hasil pencatatan ini kemudian ditetapkanlah ciri-ciri atau
unsur-unsur yang pasti ada pada sesuatu gejala. Selanjutnya hal terseut
dijadikan dasar pengambilan kesimpulan atau generalisasi.

2.1.5 Kategori Pengetahuan


Menurut Arikunto (2010), untuk mengetahui secara kuantitatif tingkat
pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang dibagi menjadi 4 tingkatan :
1. Tingkat pengetahuan baik, bila skor atau nilai 76% - 100%
2. Tingkat pengetahuan cukup, bila skor atau nilai 56% - 75%
3. Tingkat pengetahuan kurang, bila skor atau nilai 40% - 55%
4. Tingkat pengetahuan tidak baik, bila skor atau nilai < 40 %

2.2 Motivasi
2.2.1 Pengertian motivasi
Motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagaikekuatan yang
terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individutersebut bertindak atau
berbuat. Motivasi merupakan dorongan yangterdapat dalam diri seseorang untuk
berusaha mengadakan perubahantingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi
kebutuhannya. Motivasiterjadi apabila seseorang mempunyai keinginan dan
kemauan untukmelakukan suatu kegiatan atau tindakan dalam rangka mencapai
tujuan tertentu.
Menurut Purwanto (1992:74) ada beberapa teori motivasi di antaranya
adalah : 1) Teori hedonisme, 2) Teori naluri, 3) Teori reaksi yang dipelajari (Teori
lingkungan kebudayaan), 4) Teori daya pendorong, 5) Teori kebutuhan.
Teori Hedonisme adalah suatu aliran di dalam filsafat yang memandang
bahwa tujuan hidup yang utama pada manusia adalah mencari kesenangan

12
(hedome) yang bersifat duniawi. Teori naluri pada dasarnya memiliki tiga dorongan
nafsu pokok yang dalam hal ini disebut juga naluri yaitu: dorongan nafsu (naluri)
mempertahankan diri, Naluri mengembangkan diri, dan naluri mengembangkan
atau mempertahankan jenis. Dengan dimilikinya ketiga naluri pokok itu, maka
kebiasaan ataupun tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia yang diperbuatnya
sehari-hari mendapat dorongan atau gerakan oleh ketiga naluri tersebut, oleh karena
itu menurut teori ini, untuk memotivasi seseorang harus berdasarkan naluri mana
yang akan dituju dan perlu dikembangkan.
Teori reaksi yang dipelajari (Teori lingkungan kebudayaan) berpandangan
bahwa tindakan atau perilaku manusia itu berdasarkan pola-pola tingkah laku yang
dipelajari dari kebudayaaan ditempat orang itu hidup. Teori daya pendorong, teori
ini merupakan perpaduan antara”teori naluri” dengan “teori reaksi yang dipelajari”.
Daya pendorong adalah semacam naluri, tetapi hanya suatu dorongan kekuatan
yang luas terhadap suatu arah umum. Teori kebutuhan, teori ini beranggapan bahwa
tindakan yang dilakukan oleh manusia pada hakekatnya adalah untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhannya, baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikis.

2.2.2 Jenis- jenis Motivasi


Motivasi terbagi menjadi 2 jenis yaitu motivasi intriksik dan motivasi
ekstrisik.
1. Motivasi Intrinsik
Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motif-motif yang
menjadi aktif atau tidak perlu dirangsang dari luar, karena setiap diri
individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi intrinsik
datang dari hati sanubariumumnya karena kesadaran, misalnya ibu yang
mau melakukan mobilisasi dini karena ibu tersebut sadar bahwa dengan
melakukan mobilisasi dini maka akan membantu mempercepat proses
penyembuhan ibu pasca operasi.
Menurut Taufik (2007), factor-faktor yang mempengaruhi motivasi
intrinsik yaitu:
a. Kebutuhan (need). Seseorang melakukan aktivitas (kegiatan) karena
adanya faktor-faktor kebutuhan baik biologis maupun psikologis.

13
b. Harapan (expentancy). Seseorang dimotivasi karena keberhasilan dan
adanya harapan keberhasilan bersifat pemuasaan diri seseorang,
keberhasilan dan harga diri meningkat dan menggerakkan kearah
pencapaian tujuan.
c. Minat. Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keinginan pada suatu
hal tanpa ada yang menyuruh (tanpa adanya pengaruh dari orang lain)
2. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi
karena adanya perangsang atau pengaruh dari orang lain sehingga seseorang
berbuat sesuatu. Menurut Taufik (2007), factor-faktor yang mempengaruhi
motivasi ekstrinsik adalah:
a. Dukungan keluarga. Ibu melakukan mobilisasi dini bukan kehendak
sendiri tetapi karena dorongan dari keluarga seperti suami, orang tua,
teman. Misalnya ibu melakukan mobilisasi dini karena adanya dorongan
(dukungan) dari suami, orang tua ataupun anggota keluarga lainnya.
Dukungan atau dorongan dari anggota keluarga semakin menguatkan
motivasi ibu untuk memberikan yang terbaik bagi kesehatan ibu.
b. Lingkungan. Lingkungan adalah tempat di mana seseorang tinggal.
Lingkungan dapat mempengaruhi seseorang sehingga dapat termotivasi
untuk melakukan sesuatu. Selain keluarga, lingkungan juga mempunyai
peran yang besar dalam memotivasi seseorang dalam mengubah tingkah
lakunya. Dalam sebuah lingkungan yang hangat dan terbuka, akan
menimbulkan rasa kesetiakawanan yang tinggi. Dalam konteks
pelaksanaan mobilisasi dini di rumah sakit, maka orang-orang di sekitar
lingkungan ibu akan mengajak, mengingatkan ataupun memberikan
informasi pada ibu tentang tujuan dan manfaat mobilisasi dini.
c. Media. Media adalah faktor yang sangat berpengaruh bagi responden
dalam memotivasi ibu untuk melakukan mobilisasi dini pasca seksio
sesarea, mungkin karena pada era globalisasi ini hampir dari waktu yang
dihabiskan adalah berhadapan dengan media informasi, baik itu media
cetak maupun elektronika (TV, radio, komputer/internet) sehingga

14
sasaran dapat meningkatkan pengetahuannya yang akhirnya diharapkan
dapat berubah perilakunya ke arah yang positif terhadap kesehatan.

2.2.3 Tujuan Motivasi


Secara umum tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan seseorang agar
timbul keinginan dan kemauan untuk melakukan sesuatu sehingga dapat
memperoleh hasil dan mencapai tujuan.
Setiap tindakan motivasi seseorang mempunyai tujuan yang akan dicapai.
Makin jelas tujuan yang diharapkan atau akan dicapai, maka semakin jelas pula
bagaimana tindakan memotivasi itu dilakukan. Tindakan memotivasi akan lebih
dapat berhasil apabila tujuannya jelas dan didasari oleh yang dimotivasi. Oleh
karena itu, setiap orang yang akan memberikan motivasi pada seseorang harus
mengenal dan memahami benar-benar latar belakang kehidupan, kebutuhan serta
kepribadian orang yang akan dimotivasi.

2.2.4 Fungsi Motivasi


Menurut Notoatmodjo (2007), motivasi mempunyai 3 (tiga) fungsi yaitu :
1. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang
melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari
setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2. Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai.
Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus
dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan yang sudah direncanakan
sebelumnya.
3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang
harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan
perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Pilihan
perbuatan yang sudah ditentukan atau dikerjakan akan memberikan
kepercayaan diri yang tinggi karena sudah melakukan proses penyeleksian

15
2.2.5 Karakteristik Motivasi
Menurut McClelland (dalam Thoha, 2005:236) adapun karakteristik dari
orang-orang yang mempunyai motivasi tinggi, antara lain : 1) Mempunyai
Tanggung Jawab Pribadi, 2) Menetapkan Nilai yang Akan Dicapai, 3) Berusaha
Bekerja Kreatif, 4) Berusaha Mencapai Cita-cita, 5) Memiliki Tugas yang Moderat
6) Melakukan Kegiatan Sebaik-baiknya, 7) Mengadakan Antisipasi.

2.2.6 Skala Pengukuran Motivasi


Skala pengukuran motivasi disusun berdasarkan skala Likert (Method Of
Summated Ratings). Skala yang digunakan merupakan pengembangan penulis
berdasarkan karakteristik orang yang memiliki motivasi oleh McClelland (dalam
Thoha, 2005:236) yaitu mempunyai tanggung jawab pribadi, menetapkan nilai yang
akan di capai, berusaha bekerja kreatif, berusaha mencapai cita-cita, memiliki tugas
yang moderat, melakukan kegiatan sebaik-baiknya, mengadakan antisipasi.
Penentuan nilai skala dilakukan dengan cara satu pernyataan yang bersifat
favourable dan Unfavourable dengan jumlah yang berimbang dengan klasifikasi
Sangat sesuai, Sesuai, Tidak sesuai, Sangat tidak sesuai dan pemberian skor
tertinggi bernilai 4 dan skor terendah bernilai 1.

2.3 Hipertensi
2.3.1 Definisi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu keadaan dimana tekanan
darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg.
2.3.2 Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :
1. Hipertensi essensial atau primer yang tidak diketahui penyebabnya (90%).
2. Hipertensi sekunder yang penyebabnya dapat ditentukan (10%), antara lain
kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid),
penyakir kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme), dan lain-lain.

16
Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi JNC VIII
Tekanan Tekanan Darah
Kategori Darah Sistolik Diastolik
(mmHg) (mmHg)
Optimal <120 dan <80
Normal 120-129 dan/atau 80-84
Normal Tinggi 130-139 dan/atau 85-89
Hipertensi
140-159 dan/atau 90-99
Derajat 1
Hipertensi
160-179 dan/atau 100-109
Derajat 1
Hipertensi
≥180 dan/atau ≥110
Derajat 1
Hipertensi Sistolik
≥140 dan <90
Terisolasi

1. 2.3.3 Epidemiologi
Hipertensi diperkirakan diderita oleh 20 % orang dewasa di seluruh dunia
dan meningkat pada usia lebih dari 60 tahun. Prevalensi hipertensi mencapai 1
miliyar di dunia dan menyebabkan kematian pada 9.4 juta penduduk dunia setiap
tahunnya. Angka kejadian hipertensi diperkirakan akan meningkat sebesar 60%
pada tahun 2025. Secara umum angka kejadian hipertensi lebih tinggi di negara
berkembang dibanding dengan negara maju. Berdasarkan data Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) 2013, hipertensi merupakan masalah kesehatan dengan
prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar 25,8%.
Prevalensi hipertensi juga tergantung dari komposisi ras populasi yang
dipelajari dan kriteria yang digunakan.Prevalensi yang lebih tinggi ditemukan pada
populasi kulit hitam. Pada wanita, prevalensinya berhubungan erat dengan usia,
dengan terjadinya peningkatan setelah usia 50 tahun. Peningkatan ini mungkin
berhubungan dengan perubahan hormone saat menopause, meskipun
mekanismenya masih belum jelas. Dengan demikian, rasio frekuensi hipertensi

17
pada wanita disbanding pria meningkat dari 0,6 sampai 0,7 pada usia 30 tahun
menuju 1,1 sampai 1,2 pada usia 65 tahun.

2.3.4 Patofisiologi
Sebagian besar hipertensi (>90%) tidak diketahui penyebabnya. Ada
beberapa mekanisme yang ikut serta dalam kontrol tekanan darah seperti tampak
pada alur berikut :

Gambar 2.1 Patofisologi Tekanan Darah


2.3.5 Faktor Risiko
Faktor risiko jipertensi dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu :
1. Faktor Risiko Yang Tidak Dapat Diubah
Faktor risiko yang melekat pada penderita hipertensi dan tidak dapat
diubah antara lain : umur, jenis kelamin, dan genetik.
a. Umur
Umur mempengaruhi terjadinya hipertensi. Dengan
bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi menjadi lebih besar.
Menurut Riskesdas 2007 pada kelompok umur >55 tahun prevalensi
hipertensi mencapai >55%. Pada usia lanjut, hipertensi terutama

18
ditemukan hanya berupa kenaikan tekanan darah sistolik. Kejadian ini
disebabkan oleh perubahan struktur pada pembuluh darah besar.
b. Jenis Kelamin
Jenis kelamin berpengaruh pada terjadinya hipertensi. Pria
mempunyai risiko sekitar 2,3 kali lebih banyak mengalami peningkatan
tekanan darah sistolik dibandingkan dengan perempuan, karena pria
diduga memiliki gaya hidup yang cenderung meningkatkan tekanan
darah. Namun, setelah memasuki menopause, prevalensi hipertensi
pada perempuan meningkat. Bahkan setelah usia 65 tahun, hipertensi
pada perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan pria, akibat faktor
hormonal. Menurut Riskesdas 2007, prevalensi hipertensi pada
perempuan sedikit lebih tinggi dibandingkan pria.
c. Keturunan (Genetik)
Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi (faktor
keturunan) juga meningkatkan risiko hipertensi, terutama hipertensi
primer (esensial). Tentunya faktor lingkungan lain ikut berperan. Faktor
genetik juga berkaitan dengan metabolisme pengaturan garam dan renin
membran sel. Menurut Davidson bila kedua orang tuanya menderita
hipertensi, maka sekitar 45% akan turun ke anak-anaknya, dan bila
salah satu orang tuanya yang menderita hipertensi maka sekitar 30%
akan turun ke anak-anaknya.

2. Faktor Risiko Yang Dapat Diubah


Faktor risiko yang diakibatkan perilaku tidak sehat dari penderita
hipertensi antara lain merokok, diet rendah serat, konsumsi garam berlebih,
kurang aktifitas fisik, berat badan berlebih/kegemukan, konsumsi alkohol,
dislipidemia, dan stres.
a. Kegemukan (Obesitas)
Kegemukan (obesitas) adalah persentase abnormalitas lemak
yang dinyatakan dalam Indeks Masa Tubuh (Body Mass Index) yaitu
perbandingan antara berat badan dengan tinggi badan kuadrat dalam
meter. Berat badan dan indeks masa tubuh (IMT) berkorelasi langsung

19
dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik. Obesitas
bukanlah penyebab hipertensi. Akan tetapi prevalensi hipertensi pada
obesitas jauh lebih besar. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada
orang-orang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang
yang badannya normal. Sedangkan pada penderita hipertensi ditemukan
sekitar 20-33% memiliki berat badan lebih (overweight).
Berat Badan (kg)
IMT =
Tinggi Badan (m)²

Tabel 2.2 Klasifikasi IMT menurut WHO untuk Populasi Asia


Pasifik
Indeks Masa Tubuh (kg/m2) Kategori
<18,5 Berat badan kurang
18,50-22,9 Normal
Berat badan berlebih
23,00-24,9
(overweight)
25,00-29,9 Obesitas derajat 1
≥30 Obesitas derajat 2
b. Merokok

2. Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang


dihisap melalui rokok akan memasuki sirkulasi darah dan merusak
lapisan endotel pembuluh darah arteri, zat tersebut mengakibatkan
proses aterosklerosis dan tekanan darah tinggi. Pada studi autopsi,
dibuktikan adanya kaitan erat antara kebiasaan merokok dengan
proses aterosklerosis pada seluruh pembuluh darah. Merokok juga
meningkatkan denyut jantung, sehingga kebutuhan oksigen otot-otot
jantung bertambah. Merokok pada penderita tekanan darah tinggi
akan semakin meningkatkan risiko kerusakan pembuluh darah
arteri.
c. Kurang Aktifitas Fisik
Olahraga yang teratur akan membantu menurunkan tekanan darah
dan bermanfaat bagi penderita hipertensi ringan. Dengan melakukan

20
olahraga aerobik yang teratur tekanan darah dapat turun meskipun berat
badan belum turun.
d. Konsumsi Garam Berlebihan
Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh karena
menarik cairan di luar sel agar tidak dikeluarkan sehingga akan
meningkatkan volume dan tekanan darah. Pada sekitar 60% kasus
hipertensi primer (esensial) terjadi respon penurunan tekanan darah
dengan mengurangi asupan garam. Pada masyarakat yang
mengkonsumsi garam 3 gram atau kurang, ditemukan tekanan darah
rerata yang rendah sedangkan pada masyarakat asupan garam sekitar 7-
8 gram tekanan darah rerata lebih tinggi.
e. Dislipidemia
Kelainan metabolisme lipid (lemak) ditandai dengan peningkatan
kadar kolesterol total, trigliserida, kolesterol LDL dan/atau penurunan
kadar kolesterol HDL dalam darah. Kolesterol merupakan faktor
penting dalam terjadinya aterosklerosis yang kemudian mengakibatkan
peningkatan tahanan perifer pembuluh darah sehingga tekanan darah
meningkat.
f. Konsumsi Alkohol Berlebih
Pengaruh alkohol terhadap kenaikan tekanan darah telah
dibuktikan namun mekanismenya masih belum jelas. Diduga
peningkatan kadar kortisol, peningkatan volume sel darah merah dan
peningkatan kekentalan darah berperan dalam menaikkan tekanan
darah. Beberapa studi menunjukkan hubungan langsung antara tekanan
darah dan asupan alkohol. Dikatakan bahwa efek terhadap tekanan
darah baru nampak apabila mengkonsumsi alkohol sekitar 2-3 gelas
ukuran standar setiap harinya.
g. Psikososial dan Stres
Stres atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, marah,
dendam, rasa takut, rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar adrenal
melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih
cepat serta lebih kuat, sehingga tekanan darah meningkat. Jika stres

21
berlangsung lama, tubuh akan berusaha mengadakan penyesuaian
sehingga timbul kelainan organis atau perubahan patologis. Gejala yang
muncul dapat berupa hipertensi atau penyakit maag.
Stres adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh adanya interaksi
antara individu dengan lingkungannya yang mendorong seseorang
untuk mempersepsikan adanya perbedaan antara tuntutan situasi dan
sumber daya (biologis, psikologis, dan sosial) yang ada pada diri
seseorang. Peningkatan tekanan darah akan lebih menonjol pada
individu yang mempunyai kecenderungan stres emosional tinggi.
Menurut studi Framingham, wanita usia 45-64 tahun mempunyai
sejumlah faktor psikososial seperti keadaan tegang, masalah rumah
tangga, tekanan ekonomi, stres harian, mobilitas pekerjaan, ansietas,
dan kemarahan terpendam. Kesemuanya itu berhubungan dengan
peningkatan tekanan darah dan manifestasi klinis penyakit
kardiovaskular apapun.
Studi eksperimental di laboratorium binatang membuktikan
bahwa, faktor psikologis stres merupakan faktor lingkungan sosial yang
penting dalam menyebabkan peningkatan tekanan darah. Akan tetapi,
stres merupakan faktor risiko yan sulit diukur secara kuantitatif dan
bersifat spekulatif, sehingga tak mengherankan jika pengelolaan stres
dalam etiologi hipertensi pada manusia menjadi kontroversi.

2.3.6 Deteksi Dini Hipertensi


1. Deteksi Hipertensi di Masyarakat
Kegiatan skrining untuk deteksi dini hipertensi dapat dilakukan di
masyarakat melalui kegiatan kemasyarakatan seperti Posbindu PTM.
Kegiatan ini dilakukan oleh kader kesehatan yang telah dilatih. Pemeriksaan
tekanan darah dilakukan dengan tensimeter digital maupun air raksa.
Monitoring tekanan darah juga dapat dilakukan secara mandiri di rumah,
sehingga tidak perlu datang ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Dalam melaksanakan skrining untuk mendeteksi hipertensi dan faktor
risikonya dilakukan beberapa tahapan sebagai berikut :

22
a. Wawancara menggunakan kuesioner yaitu meliputi : identititas diri,
riwayat penyakit, dan riwayat anggota keluarga yang menderita
hipertensi, diabetes, penyakit jantung koroner, dislipidemia
b. Pengukuran tekanan darah dan denyut nadi
c. Pengukuran indeks antropometri yaitu pengukuran berat badan, tinggi
badan, lingkar pinggang, dan lingkar pinggul
d. Penghitungan IMT (Indeks Masa Tubuh)

2. Deteksi Hipertensi di Puskesmas


Pelayanan kesehatan primer seperti Puskesmas, merupakan ujung
tombak dalam pengendalian hipertensi. Bila dilaksanakan dengan baik, dapat
menurunkan angka kesakitan, komplikasi dan kematian akibat hipertensi.
Puskesmas menerima rujukan dari kegiatan kemasyarakatan seperti
Posbindu. Penilaian faktor risiko di Puskesmas idealnya dilengkapi
pemeriksaan darah untuk mengukur kadar gula, lipid, kreatinin, dan albumin
urin, funduskopi seperti rekam jantung (EKG). Dengan demikian dapat
dideteksi risiko kerusakan target organ seperti jantung, ginjal, mata, dan
pembuluh perifer. Bila memungkinkan, Puskesmas diharapkan dapat
melakukan pemeriksaan enzim jantung untuk mendeteksi kasus infark
miokard akut.
Skrining juga dilakukan untuk menentukan stratifikasi faktor risiko
hipertensi dan rencana penanggulangannya. Stratifikasi hipertensi ditentukan
berdasarkan :
a. tingginya tekanan darah,
b. adanya faktor risiko lain,
c. adanya kerusakan organ target seperti : hipertrofi ventrikel kiri,
kenaikan kadar kreatinin, mikroalbuminuria, gangguan pembuluh
darah (plak sklerotik, penebalan tunika intima-media), dan
d. adanya penyakit penyerta tertentu seperti stroke, infark miokard
akut, angina pektoris, gagal jantung, kelainan pembuluh darah
perifer, dan retinopati.

23
2.3.7 Metode Pemeriksaan
1. Pemeriksaan Tekanan Darah
Pengukuran tekanan darah harus dilakukan dengan menggunakan
tensimeter manual.
Cara pengukuran tekanan darah yang dianjurkan adalah sebagai
berikut:
1. Pasien duduk dengan tenang dan rileks sekitar 5 (lima) menit
2. Jelaskan manfaat rileks tersebut, yaitu agar nilai tekanan darah yang
terukur adalah nilai yang stabil.
3. Pasang manset pada lengan dengan ukuran yang sesuai, dengan jarak
sisi manset paling bawah 2,5 cm dari siku (kira-kira 2 jari) dan rekatkan
dengan baik
4. Posisikan tangan di atas meja dengan posisi sama tinggi dengan letak
jantung.
5. Bagian yang terpasang manset harus terbebas dari lapisan apapun.
6. Pengukuran dilakukan dengan tangan di atas meja dan telapak tangan
terbuka ke atas.
7. Rabalah nadi pada lipatan lengan, pompa alat hingga denyutan nadi
tidak teraba lalu dipompa lagi hingga tekanan meningkat sampai 30
mmHg di atas nilai tekanan nadi ketika denyutan nadi tidak teraba.
8. Tempelkan steteskop pada perabaan denyut nadi, lepaskan pemompa
perlahan-lahan dan dengarkan suara bunyi denyut nadi.
9. Catat tekanan darah sistolik yaitu nilai tekanan ketika suatu denyut nadi
yang pertama terdengar dan tekanan darah diatolik ketika bunyi
keteraturan denyut nadi tidak terdengar.
10. Sebaiknya pengukuran dilakukan 2 kali. Pengukuran ke-2 setelah
selang waktu 5-20 menit.
11. Jika perbedaan hasil pengukuran ke-1 dan ke-2 adalah 10 mmHg atau
lebih harus dilakukan pengukuran ke-3.
12. Apabila responden tidak bisa duduk, pengukuran dapat dilakukan
dengan posisi berbaring, dan catat kondisi tersebut di lembar catatan.
2. Pengukuran Tinggi Badan dengan Microtoise

24
1. Responden diminta untuk melepas alas kaki.
2. Responden berdiri tegak sejajar dengan garis lurus microtoise.
3. Posisi kepala dan bahu bagian belakang, tangan, pantat, tumir
menempel pada dinding tempat microtoise dipasang dan tepat pada
garis lurus yang telah dibuat.
4. Pandangan responden lurus kedepan (bila perlu peganglah dagunya)
dan kedua lengan dalam posisi tergantung bebas. Bagian atas telinga
dan mata berada pada satu garis.
5. Geser microtoise kebawah sampai menyentuh bagian atas kepala
responden.
6. Pembacaan dilakukan tepat di depan angka (skala) pada garis merah,
lurus/bertatap muka dengan responden. Jika pengukur lebih pendek,
naiklah ke atas bangku kecil saat membaca hasil pengukuran.
7. Pencatatan dilakukan dengan ketelitian : satu angka di belakang koma
(0,1 cm).
3. Pengukuran Berat Badan
1. Responden diminta untuk melepas alas kaki, mengeluarkan isi kantong
baju/celana dan tidak menggunakan pakaian yang berlebihan.
2. Minta responden untuk naik ke atas timbangan, berdiri tenang, tegak,
lengan di samping badan, melihat lurus ke depan sampai muncul angka
di kaca display uniscale.
3. Pencatatan dilakukan dengan ketelitian : satu angka di belakang koma
(0,1 cm).
4. Penghitungan Indeks Masa Tubuh
Indeks masa tubuh adalah hasil pembagian berat badan dalam kilogram
dengan tinggi badan kuadrat dalam meter (BB(kg)/TB2(m2)).
5. Pengukuran Lingkar Pinggang
Kriteria ukuran lingkar pinggang ideal menurut WHO untuk Asia
Pasifik adalah : untuk laki-laki < 90 cm sedangkan untuk perempuan < 80 cm.
1. Gunakan pita ukur yang tidak lentur (bahan fiber glass).
2. Sebaiknya pengukur duduk di bangku di sisi responden yang berdiri.

25
3. Ukur titik tengah antara batas bawah tulang iga terbawah dengan
tonjolan tulang iliaka di sisi tubuh.
4. Lingkarkan pita ukur secara horisontal melalui titik tengah tersebut.
Pita ukur menempel langsung ke kulit.
5. Pengukuran dilakukan pada akhir ekspresi normal dengan kedua lengan
tergantung rileks di samping badan.
6. Pencatatan dilakukan dengan ketelitian : satu angka di belakang koma
(0,1 cm).
6. Rasio Lingkar Pinggang dan Pinggul (RLPP)
Rasio lingkar pinggang dan pinggul (RLPP) merupakan salah satu
indeks antropometri untuk menilai status kegemukan, terutama kegemukan
sentral (obesitas sentral). RLPP adalah rasio lingkar pinggang (cm) : lingkar
pinggul (cm).
Laki-laki normal : < 0,9 Perempuan normal
: < 0,8
Berlebih : ≥ 0,9 Berlebih
: ≥ 0,8
1. Sebaiknya pengukur duduk di bangku sisi responden yang berdiri.
2. Lingkar pinggul adalah lingkar horisontal terbesar di bawah tonjolan
krista iliaka.
3. Lingkarkan pita ukur secara horizontal.
4. Pencatatan dilakukan dengan ketelitian : satu angka di belakang koma
(0,1 cm).

2.3.8 Tatalaksana Hipertensi


1. Modifikasi Gaya Hidup (Tatalaksana Non-Farmakologis)
Dalam guideline JNC 8, modifkasi gaya hidup tidak dibahas secara
detail, karena tetap mengacu pada modifkasi gaya hidup dalam JNC 7 dan
beberapa panduan lain :
a. Penurunan berat badan dapat mengurangi tekanan darah sistolik 5-20
mmHg/penurunan 10 kg. Rekomendasi ukuran pinggang <94 cm untuk
pria dan <80 cm untuk wanita, indeks massa tubuh <25 kg/m2.

26
Rekomendasi penurunan berat badan meliputi nasihat mengurangi
asupan kalori dan juga meningkatkan aktivitas fisik.
b. Adopsi pola makan DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension)
dapat menurunkan tekanan darah sistolik 8-14 mmHg. Lebih banyak
makan buah, sayur-sayuran, dan produk susu rendah lemak dengan
kandungan lemak jenuh dan total lebih sedikit, kaya potasium dan
kalsium. Dianjurkan untuk makan buah dan sayur 5 porsi per hari
karena cukup mengandung kalium yang dapat menurunkan tekanan
darah.

27
Gambar 2.2 Modifikasi DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension)

c. Restriksi garam harian dapat menurunkan tekanan darah sistolik 2-8


mmHg. Konsumsi sodium chloride ≤ 6 g/hari (100 mmol sodium/hari)
yang setara dengan satu sendok teh kecil garam dapur. Bagi pasien
hipertensi, asupan natrium dibatasi lebih rendah lagi menjadi 3,5-4
g/hari. Walaupun tidak semua pasien hipertensi sensitif terhadap
natrium, namun pembatasan asupan natrium dapat membantu terapi
farmakologi menurunkan tekanan darah dan menurunkan risiko
penyakir kardiovaskular. asupan natrium didapat dari berbagai sumber,
antara lain: garam yang ditambahkan pada produk olahan/industri

28
(diasinkan, diasap, diawetkan), berbagai bahan makanan sehari-hari,
dan penambahan garam pada waktu memasak atau saat makan.

Gambar 2.3 Pedoman Gizi Seimbang

d. Aktivitas fisik dapat menurunkan tekanan darah sistolik 4-9 mmHg.


Lakukan aktivitas fisik intensitas sedang pada kebanyakan, atau setiap
hari pada 1 minggu (total harian dapat diakumulasikan, misalnya 3 sesi
@10 menit).
e. Pembatasan konsumsi alkohol dapat menurunkan tekanan darah sistolik
2-4 mmHg. Dalam memberikan edukasi kepada pasien tentang alkohol,
hendaknya dikemukakan hal-hal sebagai berikut :
 Pantang alkohol harus dipertahankan (jangan mulai minum
alkohol).
 Jangan menganjurkan untuk mulai mengkonsumsi alkohol demi
alasan kesehatan.
 Batasi konsumsi alkohol untuk laki-laki maksimal 2 unit per hari
dan perempuan maksimal 1 unit per hari, jangan lebih dari 5 hari
minum per minggu. (Satu unit = setengah gelas bir (5% alkohol),
100 ml anggur (10% alkohol), 25 ml minuman 40% alkohol).
 Sarankan pasien untuk tidak mengkonsumsi alkohol bila ada
risiko tambahan antara lain :

29
 mengemudi atau mengoperasikan mesin
 hamil atau menyusui
 minum obat yang berinteraksi dengan alkohol
 menderita gangguan medis yang dapat diperburuk oleh
alkohol
 kesulitan dalam mengendalikan kebiasaan minum
f. Berhenti merokok untuk mengurangi risiko kardiovaskuler secara
keseluruhan. Tidak ada cara yang benar-benar efektif untuk
memberhentikan kebiasaan merokok. Beberapa metode yang secara
umum dicoba adalah sebagai berikut :
 Inisiatif sendiri
 Menggunakan permen yang mengandung nikotin
 Dukungan kelompok
 Konsultasi/konseling ke klinik untuk berhenti merokok

2. Pemberian Obat Anti Hipertensi (Tatalaksana Farmakologis)


Pedoman tatalaksana hipertensi menurut JNC 8 mencantumkan 9
rekomendasi penanganan hipertensi yaitu sebagai berikut :
1. Pada populasi umum berusia ≥60 tahun, terapi farmakologis untuk
menurunkan tekanan darah dimulai jika tekanan darah sistolik ≥150 mmHg
atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg dengan target sistolik <150 mmHg
dan target diastolik <90 mmHg. (Strong Recommendation - Grade A). Pada
populasi umum berusia ≥60 tahun, jika terapi farmakologis hipertensi
menghasilkan tekanan darah sistolik lebih rendah (misalnya <140 mmHg dan
ditoleransi baik tanpa efek samping kesehatan dan kualitas hidup, dosis tidak
perlu disesuaikan. (Expert Opinion – Grade E).
2. Pada populasi umum <60 tahun, terapi farmakologis untuk menurunkan
tekanan darah dimulai jika tekanan darah diastolik ≥90 mmHg dengan target
tekanan darah diastolik <90 mmHg (untuk usia 30-59 tahun Strong
Recommendation – Grade A; untuk usia 18-29 tahun Expert Opinion - Grade
E).

30
3. Pada populasi umum <60 tahun, terapi farmakologis untuk menurunkan
tekanan darah dimulai jika tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dengan target
tekanan darah sistolik <140 mmHg (Expert Opinion – Grade E).
4. Pada populasi berusia ≥18 tahun dengan penyakit ginjal kronik, terapi
farmakologis untuk menurunkan tekanan darah dimulai jika tekanan darah
sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg dengan target
tekanan darah sistolik <140 mmHg dan target tekanan darah diastolik <90
mmHg (Expert Opinion - Grade E).
5. Pada populasi berusia ≥18 tahun dengan diabetes, terapi farmakologis untuk
menurunkan tekanan darah dimulai jika tekanan darah sistolik ≥140 mmHg
atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg dengan target tekanan darah sistolik
<140 mmHg dan target tekanan darah diastolik <90 mmHg (Expert Opinion
- Grade E).
6. Pada populasi non-kulit hitam umum, termasuk mereka dengan diabetes,
terapi antihipertensi awal sebaiknya mencakup diuretik tipe thiazide, calcium
channel blocker (CCB), angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACEI),
atau angiotensin receptor blocker (ARB). (Moderate Recommendation -
Grade B).
7. Pada populasi non-kulit hitam umum, termasuk mereka dengan diabetes,
terapi antihipertensi awal sebaiknya mencakup diuretik tipe thiazide atau
calcium channel blocker (CCB) (untuk populasi kulit hitam: Moderate
Recommendation - Grade B; untuk kulit hitam dengan diabetes: Weak
Recommendation - Grade C).
8. Pada populasi berusia ≥18 tahun dengan penyakit ginjal kronik, terapi
antihipertensi awal (atau tambahan) sebaiknya mencakup ACEI atau ARB
untuk meningkatkan outcome ginjal. Hal ini berlaku untuk semua pasien
penyakit ginjal kronik dengan hipertensi terlepas dari ras atau status diabetes.
(Moderate Recommendation - Grade B).
9. Tujuan utama terapi hipertensi adalah mencapai dan mempertahankan target
tekanan darah. Jika target tekanan darah tidak tercapai dalam 1 bulan
perawatan, tingkatkan dosis obat awal atau tambahkan obat kedua dari salah
satu kelas yang direkomendasikan dalam rekomendasi 6 (thiazide-type

31
diuretic, CCB, ACEI, atau ARB). Dokter harus terus menilai tekanan darah
dan menyesuaikan regimen perawatan sampai target tekanan darah dicapai.
Jika target tekanan darah tidak dapat dicapai dengan 2 obat, tambahkan dan
titrasi obat ketika dari daftar yang tersedia. Jangan gunakan ACEI dan ARB
bersama-sama pada satu pasien. Jika target tekanan darah tidak dapat dicapai
menggunakan obat di dalam rekomendasi 6 karena kontraindikasi atau perlu
menggunakan lebih dari 3 obat, obat antihipertensi kelas lain dapat
digunakan. Rujukan ke spesialis hipertensi mungkin diindikasikan jika target
tekanan darah tidak dapat tercapai dengan strategi di atas atau untuk
penanganan pasien komplikasi dan membutuhkan konsultasi klinis tambahan.
(Expert Opinion – Grade E).

32
Gambar 2.4 Algoritma Penanganan Hipertensi JNC VIII 9

33
Gambar 2.5 Obat Antihipertensi yang direkomendasikan JNC VIII

2.1.3 Dukungan keluarga

1. Pengertian keluarga

Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena
hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam
satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-
masing

34
menciptakan serta mempertahankan kebudayaan (Friedman, 2010). Sedangkan
menurut Ali (2010), keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung
karena hubungan darah, perkawinan dan adopsi dalam satu rumah tangga, yang
berinteraksi satu dengan lainnya dalam peran dan menciptakan serta
mempertahankan suatu budaya.

2. Fungsi keluarga
Fungsi keluarga merupakan hasil atau konsekuensi dari struktur keluarga
atau sesuatu tentang apa yang dilakukan oleh keluarga. Terdapat beberapa fungsi
keluarga menurut Friedman (1998) dalam Komang Ayu (2010) yaitu :
a. Fungsi afektif
Fungsi afektif merupakan fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan
pemeliharaan kepribadian dari anggota keluarga. Merupakan respon dari keluarga
terhadap kondisi dan situasi yang dialami tiap anggota keluarga baik senang
maupun sedih, dengan melihat bagaimana cara keluarga mengekspresikan kasih
sayang.
b. Fungsi sosialisasi
Fungsi sosialisasi tercermin dalam melakukan pembinaan sosialisasi pada
anak, membentuk nilai dan norma yang diyakini anak, memberikan batasan
perilaku yang boleh dan tidak boleh pada anak, meneruskan nilai-nilai budaya
keluarga. Bagaimana keluarga produktif terhadap sosial dan bagaimana keluarga
memperkenalkan anak dengan dunia luar dengan belajar berdisiplin, mengenal
budaya dan norma melalui hubungn interaksi dalam keluarga sehingga mampu
berperan dalam masyarakat.
c. Fungsi perawatan kesehatan
Fungsi perawatan kesehatan keluarga merupakan fungsi keluarga dalam
melindungi keamanan dan kesehatan seluruh anggota keluarga serta menjamin
kebutuhan pengembangan fisi, mental an spiritual, dengan cara memelihara dan
merawat anggota keluarga serta mengenali kondisi sakit tiap anggota keluarga.
d. Fungsi ekonomi
Fungsi ekonomi, untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandang,
pangan, papan dan kebutuhan lainnya melalui keefektifan sumber dana keluarga.

35
Mencari sumber penghasilan guna memenuhi kebutuhan keluarga, pengaturan
penghasilan keluarga, menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
e. Fungsi biologis
Fungsi biologis, bukan hanya ditujukan untuk meneruskan keturunan tapi untuk
memelihara dan membesarkan anak untuk kelanjutan generasi selanjutnya.
f. Fungsi psikologis
Fungsi psikologis, terlihat bagaimana keluarga memberikan kasih sayang dan rasa
aman, memberikan perhatian diantara anggota keluarga, membina pendewasaan
kepribadian anggota keluarga dan memberikan identitas keluarga.
g. Fungsi pendidikan
Fungsi pendidikan diberikan keluarga dalam rangkamemberikan pengetahuan,
keterampilan, membentuk perilaku anak sesuai dengan tingkatan
perkembangannya.

3. Tugas keluarga dalam bidang kesehatan


Friedman (1998) dikutip dari Setiadi (2008), membagi 5 tugas keluarga dalam
bidang kesehatan yang harus dilakukan yaitu:
a. Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya.Kesehatan merupakan
kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena tanpa kesehatan segala
sesuatu tidak akan berarti dan karena kesehatanlah kadang seluruh kekuatan sumber
daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu mengenal keadaan kesehatan dan
perubahan- perubahan yang dialami anggota keluarga. Perubahan sekecil apapun
yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian dan
tanggung jawab keluarga, maka apabila menyadari adanya perubahan perlu segera
dicatat kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi dan seberapa besar
perubahannya.
b. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan kesehatan yang tepat bagi
keluarga.Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari
pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan
siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan untuk
menentukan tindakan keluarga. Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga
diharapkan tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi. Jika

36
keluarga mempunyai keterbatasan dapat meminta bantuan kepada orang di
lingkungan sekitar keluarga.
c. Memberikan keperawatan anggota keluarga yang sakit atau yang tidak dapat
membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu muda.Perawatan
ini dapat dilakukan di rumah apabila keluarga memiliki kemampuan melakukan
tindakan untuk memperoleh tindakan lanjutan agar masalah yang lebih parah tidak
terjadi.
d. Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan kesehatan dan
perkembangan kepribadian anggota keluarga. Keluarga memainkan peran yang
bersifat mendukung anggota keluarga yang sakit. Dengan kata lain perlu adanya
sesuatu kecocokan yang baik antara kebutuhan keluarga dan asupan sumber
lingkungan bagi pemeliharaan kesehatan anggota keluarga.
e. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga kesehatan
(pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada). Hubungan yang sifatnya positif akan
memberi pengaruh yang baik pada keluarga mengenai fasilitas kesehatan.
Diharapkan dengan hubungan yang positif terhadap pelayanan kesehatan akan
merubah setiap perilaku anggota keluarga mengenai sehat sakit.

4. Pengertian dukungan keluarga


Friedman (1998) dalam Setiadi (2008) menyatakan dukungan
keluargaadalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap anggotanya.
Anggota keluarga dipandang sebagai bagian yang tidakterpisahkan dalam
lingkungan keluarga. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat
mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.
Keluarga memiliki beberapa bentuk dukungan (Friedman, 2010) yaitu:
a. Dukungan Emosional
Selama depresi berlangsung, individu sering menderita secara emosional,
sedih, cemas dan kehilangan harga diri. Jika depresi mengurangi perasaan
seseorang akan hal yang dimiliki dan dicintai. Dukungan emosional memberikan
individu perasaan nyaman, merasa dicintai saat mengalami depresi, bantuan dalam

37
bentuk semangat, empati, rasa percaya, perhatian sehingga individu yang
menerimanya merasa berharga. Pada dukungan emosional ini keluarga
menyediakan tempat istirahat dan memberikan semangat.
b. Dukungan Penghargaan
Dukungan penghargaan merupakan suatu dukungan atau bantuan dari
keluarga dalam bentuk memberikan umpan balik dan penghargaan pada pasien
hipertensi dengan menunjukkan respon positif yaitu dorongan atau persetujuan
dengan gagasan atau ide atau perasaan seseorang. Menurut Friedman (1998, dalam
Setiadi, 2008) dukungan penghargaan yaitu keluarga bertindak sebagai umpan
balik, membimbing, dan membantu memecahlan masalah. Dapat dikatakan bahwa
adanya dukungan penghargaan yang diberikan olah keluarga dapat meningkatkan
status psikososial, semangat, motivasi, dan peningkatan harga diri, karena dianggap
masih berguna dan berarti bagi keluarga, sehingga diharapkan dapat membentuk
perilaku yang sehat dalam upaya meningkatkan status kesehatan.
c. Dukungan Instrumental
Dukungan ini meliputi penyediaan dukungan jasmaniah seperti
pelayanan, bantuan finansial dan material berupa bantuan nyata (instrumental
support material support), suatu kondisi dimana benda atau jasa akan membantu
memecahkan masalah praktis, termasuk di dalamnya bantuan langsung, seperti saat
seseorang memberi atau meminjamkan uang, membantu pekerjaan sehari-hari,
menyampaikan pesan, menyediakan transportasi, menjaga dan merawat saat sakit
atau saat mengalami kecemasan yang dapat membantu memecahkan masalah.
Dukungan nyata paling efektif bila dihargai oleh individu dan mengurangi depresi
individu. Pada dukungan nyata keluarga sebagai sumber untuk mencapai tujuan
praktis dan tujuan nyata.
d. Dukungan Informasi
Jenis dukungan ini meliputi jaringan komunikasi dan tanggung jawab
bersama, termasuk di dalamnya memberikan solusi dari masalah, memberikan
nasehat, pengarahan, saran, atau umpan balik tentang apa yang dilakukan oleh
seseorang. Keluarga dapat menyediakan informasi dengan menyarankan tentang
dokter, terapi yang baik bagi dirinya dan tindakan spesifik bagi individu untuk

38
melawan stresor. Individu yang mengalami depresi dapat keluar dari masalahnya
dan memecahkan masalahnya dengan dukungan dari keluarga dengan menyediakan
feed back. Pada dukungan informasi ini keluarga sebagai penghimpun informasi
dan pemberi informasi.

5. Manfaat dukungan keluarga


Dukungan keluarga dapat memberikan dukungan emosi, instrumental,
penghargaan dan informasiyang bermanfaat bagi individu dalam :
a. Meningkatkan produktivitas bila dihubungkan dengan pekerjaan.
b. Meningkatkan kesejahteraan psikologis dan penyesuaian diri dengan
menyediakan rasa memiliki, memperjelas identitas diri, menambah harga diri,serta
mengurangi stress.
c. Meningkatkan dan memelihara kesehatan fisik.
d. Pengelolaan terhadap stres dengan menyediakan pelayanan, perawatan, sumber-
sumber informasi dan umpan balik yang dibutuhkan untuk menghadapistres dan
tekanan.
6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dukungan Keluarga Menurut Setiadi (2008)
faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga adalah :
a. Faktor internal
1) Tahap perkembangan
Artinya dukungan keluarga dapat ditentukan oleh faktor usia dalam hal ini
adalah pertumbuhan dan perkembangan, dengan demikian setiap rentang usia
(bayi-lansia) memiliki pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan
berbeda-beda.
2) Pendidikan atau tingkat pengetahuan
Keyakinan seseorang terhadap adanya dukungan terbentuk oleh variabel
intelektual yang terdiri dari pengetahuan, latar belakang pendidikan, dan
pengalaman masa lalu. Kemampuan kognitif akan membentuk cara berfikir
seseorang termasuk kemampuan untuk memahami faktor-faktor yang berhubungan
dengan penyakit dan menggunakan pengetahuan tentang kesehatan untuk menjaga
kesehatan dirinya.
3) Faktor emosional

39
Faktor emosional juga mempengaruhi keyakinan terhadap adanya
dukungan dan cara melaksanakannya. Seseorang yang mengalami respon stress
dalam perubahan hidupnya cenderung berespon terhadap berbagai tanda sakit,
mungkin dilakukan dengan cara menghawatirkan bahwa penyakit tersebut dapat
mengancam kehidupannya. Seseorang yang secara umum terlihat sangat tenang
mungkin mempunyai respon emosional yang kecil selama ia sakit. Seorang individu
yang tidak mampu melakukan koping secara emosional terhadap ancaman
penyakit, mungkin ia menyangkal adanya gejala penyakit pada dirinya dan tidak
mau menjalani pengobatan.

4) Spiritual
Aspek spiritual dapat terlihat dari bagaimana seseorang menjalani
kehidupannya, menyangkut nilai dan keyakinan yang dilaksanakan, hubungan
dengan keluarga atau teman, dan kemampuan mencari harapan dan arti dalam
hidup.
b. Faktor eksternal
1) Praktik di keluarga
Bagaimana cara keluarga memberikan dukungan biasanya mempengaruhi
penderita dalam melaksanakan kesehatannya. Misalnya : klien juga akan
melakukan tindakan pencegahan jika keluarga melakukan hal yang sama.
2) Faktor sosioekonomi
Faktor sosial dan psikososial dapat meningkatkan resiko terjadinya
penyakit dan mempengaruhi cara seseorang mendefinisikan dan bereaksi terhadap
penyakitnya.
3) Latar belakang budaya
Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai dan kebiasaan
individu dalam memberikan dukungan termasuk cara pelaksanaan kesehatan
pribadi.

40
BAB III

KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS


PENELITIAN

A. Kerangka Berpikir
Bagian ini menjelaskan hal yang dilakukan peneliti untuk menganalisa
masalah dan pemecahan masalah yang ditemukan di Puskesmas Pasundan, mulai
dari identifikasi masalah sampai dengan bentuk intervensi kegiatan untuk
mengatasi masalah tersebut. Adapun sistematika/alur dari proses analisan masalah
sampai dengan pemecahan masalah adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi Masalah
2. Penentuan Prioritas Masalah
3. Perumusan Masalah
4. Mencari Penyebab Masalah
5. Menetapkan Cara-cara Pemecahan Masalah
Dengan menganalisa serta membuat suatu pemecahan masalah kesehatan di
wilayah kerja Puskesmas Pasundan dengan tepat, diharapkan Puskesmas Pasundan
dapat menemukan alternatif pemecahan masalah kesehatan melalui kegiatan-
kegiatan intervensi secara efektif dan efisien, sehingga dapat membantu dalam
meningkatkan pembangunan khususnya bidang kesehatan di wilayah kerja
Puskesmas Pasundan Kota Samarinda.

B. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah berdasarkan capain SPM sesuai PMK Nomor 43
tahun 2016 di Puskesmas Pasundan disajikan dalam Tabel 6.

41
Tabel 6. Identifikasi masalah berdasarkan capaian SPM sesuai PMK Nomor 43
tahun 2016 di Puskesmas Pasundan

No. Indikator SPM Target Capaian Masalah


1 Pelayanan kesehatan ibu 100% 94,04% Kesadaran masyarakat
hamil masih kurang, terdapat
Pelayanan antenatal dengan pasien yang lebih
memenuhi kriteria 10 T, memilih periksa
minimal 4 kali selama kandungan rutin ke
kehamilan spesialis kandungan
dengan biaya sendiri
2 Pelayanan kesehatan ibu 100% 98,11% Terdapat pasien yang
bersalin dirujuk namun tidak
Pelayanan persalinan normal kembali lagi ke
sesuai PMK No.97 Tahun Puskesmas.
2014
3 Pelayanan kesehatan bayi 100% 5,02% Pelayanan ini
baru lahir dikerjakan di FKTL dan
Pelayanan yang diberikan data didapatkan dari
pada bayi usia 0-28 hari dan FKTL. Namun tidak
mengacu kepada Pelayanan semua FKTL yang jadi
Neonatal Esensial sesuai tempat rujukan berada
PMK No.25 Tahun 2014 di wilayah kerja
Puskesmas Pasundan
4 Pelayanan kesehatan balita 100% belum Kegiatan sudah
Pelayanan kesehatan yang ada data dilakukan. Namun
diberikan kepada anak pencatatan sesuai SPM
berusia 0-59 bulan belum ada
5. Pelayanan Kesehatan pada 100% Belum Kegiatan sudah
usia pendidikan dasar ada data dilakukan. Namun
Penjaringan kesehatan yang pencatatan sesuai SPM
meliputi penilaian status gizi, belum ada
penilaian tanda vital,
penilaian kesehatan gigi dan
mulut, penilaian ketajaman
indera pendengaran dengan
garpu tala. Minimal 1 kali
pada kelas 1 dan kelas 7

6 Pelayanan kesehatan pada 100% 0% Belum adanya poli


usia produktif khusus usia produktif di
Warga negara Indonesia usia Puskesmas Pasundan.
15–59 tahun mendapatkan Belum terdapat program
skrining kesehatan (minimal yang terstruktur untuk
1 tahun sekali) yaitu mewujudkan pelayanan
a. deteksi obesitas (TB dan kesehatan pada usia
BB dan LP) produktif meskipun

42
b. deteksi hipertensi (TD) beberapa dari poin
c. deteksi DM (gula darah) skrining sudah
d.Gangguan mental diterapkan di Poli
emosional dan perilaku Umum Puskesmas
e. Pemeriksaan ketajaman Pasundan
penglihatan
f. Pemeriksaan ketajaman
pendengaran
g. Deteksi dini kanker
dengan IVA untuk wanita
usia 30-59 tahun

7 Pelayanan kesehatan pada 100% 0% Belum terdapat program


usia lanjut yang terstruktur untuk
Warga negara Indonesia usia mewujudkan pelayanan
≥60 tahun mendapatkan kesehatan pada usia
skrining kesehatan (minimal produktif meskipun
1 tahun sekali) yaitu beberapa dari poin
a. Deteksi hipertensi (TD) skrining sudah
b. Deteksi DM (gula darah) diterapkan di Poli
c. Deteksi Kolesterol Umum Puskesmas
d. Deteksi gangguan mental Pasundan
emosional dan perilaku (Mini
Cog atau MMSE atau AMT
dan GDS)
8 Pelayanan kesehatan 100% 41,15% Kurangnya kesadaran
penderita hipertensi pasien untuk
a.Pemeriksaan dan memeriksakan secara
monitoring tekanan darah rutin ke Puskesmas.
b. edukasi Penyebabnya antara lain
c. pengaturan diet seimbang malas menunggu antrian
d. aktivitas fisik dan lebih memilih
e. pengelolaan farmakologis membeli di apotek.
9 Pelayanan kesehatan 100% tidak Kegiatan sudah
penderita Diabetes Melitus ada data dilakukan. Namun
a. Edukasi pencatatan sesuai SPM
b. Aktivitas fisik belum ada.
c. Terapi nutrisi medis
d. Intervensi farmakologis
10 Pelayanan kesehatan orang 100% 55% Kurangnya kesadaran
dengan gangguan jiwa keluarga pasien untuk
berat mendukung agar
a. Edukasi dan evaluasi pelayanan kesehatan
tentang : tanda gejala terhadap pasien
gangguan jiwa, kepatuhan terpenuhi.
minum obat dan informasi Misalnya tidak
lain terkait obat, mencegah mengizinkan psien
tindakan pemasungan, dijemput ambulance

43
kebersihan diri, sosialisasi, namun tidak mengantar
kegiatan rumah tangga dan juga ke RS Atma
aktivitas bekerja sederhana Husada, atau tidak
b. tindakan kebersihan diri mengambilkan obat
ODGJ berat pasien.
11 Pelayanan kesehatan orang 100% 97% Terkendala di pasien
dengan TB yang pindah domisili
a. Penegakan diagnosis TB
secara bakteriologis dan
klinis
b. Pemantauan kemajuan
pengobatan pada akhir
pengobatan intensif, bulan ke
5, dan akhir pengobatan
c. pengobatan dengan
menggunakan OAT dengan
panduan OAT standar
12 Pelayanan kesehatan orang 100% 100% Tidak terdapat masalah
dengan risiko terinfeksi
HIV
Pemeriksaan HIV terhadap
orang beresiko terinfeksi
HIV yang datang ke
fasyankes

C. Prioritas Masalah
Setelah melakukan identifikasi masalah-masalah yang ada di Puskesmas
Pasundan dari Capaian Standar Pelayanan Minimal di dapat beberapa masalah
yaitu:
a. Pelayanan kesehatan pada usia produktif
b. Pelayanan kesehatan pada usia lanjut
c. Pelayanan Kesehatan penderita Diabetes Melitus
d. Pelayanan kesehatan penderita hipertensi
e. Pelayanan kesehatan orang dengan gangguan jiwa berat

Penentuan prioritas masalah kesehatan perlu dilakukan untuk menentukan


masalah kesehatan mana yang perlu mendapatkan perhatian lebih dari masalah
kesehatan lainya. Untuk penentuan prioritas masalah kesehatan yang ada, dilakukan
menggunakan Analisis USG dengan mempertimbangkan. Kriteria berikut :

44
Tabel 7. Kriteria Penilaian USG

NILAI URGENCY SERIOUSNEES GROWTH


5 Sangat penting Sangat serius Sangat berkembang
4 Cukup penting Cukup serius Cukup berkembang
3 Penting Serius Berkembang
2 Kurang penting Kurang serius Kurang berkembang
1 Sangat kurang penting Sangat kurang serius Sangat berkembang

Prioritas masalah diurutkan berdasarkan hasil penambahan angka terbesar


dari ketiga hal tersebut (U+S+G) disusun dalam bentuk matriks pada Tabel 8.

Tabel 8. Analisis Penetapan Prioritas Masalah

No. Permasalahan Urgency Seriousness Growth Jumlah


1 Penderita hipertensi melakukan
5 5 4 14
pengobatan secara teratur
2 Keluarga sudah menjadi anggota
Jaminan Kesehatan Nasional 3 3 4 10
(JKN)
3 Anggota keluarga tidak ada yang
4 4 3 11
merokok
4 Keluarga mengikuti program
4 4 3 11
Keluarga Berencana (KB)
5 Penderita gangguan jiwa
mendapatkan pengobatan dan 3 3 3 9
tidak ditelantarkan
Berdasarkan Tabel 6, nilai tertinggi ditetapkan sebagai prioritas masalah
kesehatan. Dengan demikian prioritas masalah di Puskesmas Pasundan yaitu
“Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur”.
Adapun masalah-masalah yang dipertimbangkan dari kelima prioritas
masalah diatas dapat dilihat pada Tabel 9.

45
Tabel 9. Perumusan Masalah

No. Masalah Yang Terkena Besarnya Masalah


Kesehatan Masalah
1. Rendahnya Keluarga Pasien -Tidak terskriningnya tekanan darah, gula
Capaian Jasa Fasilitas darah dan kolesterol dapat menyebabkan
Pelayanan Kesehatan gagalnya penanganan dini dari penderita
Kesehatan Pemerintah HT dan DM
Usia Lanjut -Berisiko mengalami komplikasi serius dari
penyakit HT dan DM seperti stroke dan
gagal ginjal yang akan menambah
pembiayaan untuk penanganan komplikasi
dari penyakit tersebut.
-Tidak ada data yang akurat untuk
memonitor kesehatan peserta lansia
2. Rendahnya Keluarga Pasien -Tidak terskriningnya tekanan darah, gula
Capaian Jasa Fasilitas darah, status mental, penglihatan,
Pelayanan Kesehatan pendengaran, dan kanker serviks dapat
Kesehatan Pemberi menyebabkan gagalnya penanganan dini
Usia Produktif Lapangan dari penderita HT, DM, gangguan
Pekerjaan penglihatan, ganguan pendengaran, dan
Pemerintah kanker serviks.
-Berisiko mengalami komplikasi serius dari
penyakit tersebut di atas yang akan
menambah pembiayaan untuk penanganan
komplikasi dari penyakit tersebut.
-Bagi penderita yang bekerja akan
mempengaruhi kinerja nya jika terlambat
ditangani secara dini
-Tidak ada data yang akurat untuk
memonitor kesehatan peserta lansia
3. Rendahnya Pasien dan -Berisiko mengalami komplikasi serius dari
Capaian Keluarga penyakit DM yang akan menambah
Pelayanan Pemberi pembiayaan untuk penanganan komplikasi
Penderita DM Lapangan dari penyakit DM.
Pekerjaan -Bagi penderita yang bekerja akan
Jasa Fasilitas mempengaruhi kinerja nya jika tidak
Kesehatan dimonitoring dengan baik
Pemerintah -Tidak ada data yang akurat untuk
memonitor kesehatan peserta lansia
4. Rendahnya Pasien dan -Berisiko mengalami komplikasi serius dari
Capaian Keluarga penyakit HT yang akan menambah
Pelayanan pembiayaan untuk penanganan komplikasi
penderita HT dari penyakit HT.

46
Pemberi -Bagi penderita yang bekerja akan
Lapangan mempengaruhi kinerja nya jika tidak
Pekerjaan dimonitoring dengan baik
Jasa Fasilitas
Kesehatan
Pemerintah
5. Rendahnya Masyarakat -Beresiko melukai masyarakat
Capaian Jasa Fasilitas -Beresiko menambah pembiayaan oleh
Pelayanan Kesehatan asuransi pemerintah apabila pasien melukai
Penderita Pemerintah dirinya atau orang lain.
ODGJB

D. Fishbone

Gambar 4. Fishbone

3.1.4 Kegiatan Pokok dan Rincian Kegiatan


Tabel 3.6 Kegiatan Pokok dan Rincian Kegiatan
No. Kegiatan Pokok Rincian Kegiatan
1 Identifikasi masalah Melihat cakupan PIS-PK di Puskesmas
Pasundan Samarinda tahun 2018
2 Menentukan dan mengumpulkan Menentukan RT yang cakupan kepatuhan
subjek yang akan dijadikan sampel penderitanya paling rendah dengan jumlah

47
penderita yang paling banyak yaitu RT 25
dan26 Kelurahan Jawa
3 Menyusun dan menentukan Menentukan kuesioner yang sesuai untuk
kuesioner diagnosis hipertensi.
4 Sosialisasi pelaksanaan kuesioner Melakukan penerapan kuesioner
5 Melakukan intervensi CBT Melakukan intervensi CBT berupa
penyuluhan kesehatan jiwa
6 Monitoring dan evaluasi Menilai kesulitan dan masalah yang timbul

3.2 Konsep Penelitian

VARIABEL TERIKAT
VARIABEL BEBAS Tingkat pengetahuan, motivasi
Hipertensi dan dukungan keluarga

E. Hipotesis Penelitian

 H0 : Tidak ada hubungan antara pengetahuan, motivas dan dukungan

keluarga pada penderita hipertensi

 H1 : Ada hubungan antara pengetahuan, motivasi dan dukungan keluarga

pada penderita hipertensi.

48
BAB IV

METODE MINI PROJECT

A. Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional, dengan
desain penelitian potong lintang/cross sectional, yang bertujuan untuk
mengetahui hubungan pengetahuan, motivasi dan dukungan keluarga pada
penderita hipertensi.

B. Tempat dan Waktu


1. Tempat

Penelitian ini dilakukan di RT.25 dan 26 Kelurahan Jawa, Samarinda


2. Waktu
Penelitian ini dilakukan dari bulan Juli 2019- Agustus 2019

C. Populasi, Teknik dan Besar Sampel Penelitian

1. Populasi
Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai maka populasi dalam penelitian ini
adalah semua penderita hipertensi yang datang ke posyandu abadi dan focus
grup discusion selama bulan Juli-Agustus 2019.

2. Teknik Pengambilan Sampel


Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik non-probability
sampling dengan cara consecutive sampling yaitu setiap yang memenuhi
kriteria inklusi langsung diikutkan dalam penelitian, hingga jumlah sampel
terpenuhi.

49
3. Besar Sampel

Dimana besar sampel yang didapat dairi rumus ini adalah 42 orang

D. Kriteria Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pasien hipertensi yang ada di
RT 25 dan 26 Kelurahan Jawa Samarinda yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Kriteria Inklusi :
1. Semua pasien hipertensi yang ada di RT.25 dan 26 Kelurahan Jawa,
Samarinda
2. Semua pasien yang bersedia menjadi sampel penelitian

b. Kriteria Eksklusi :

1. Pasien yang tidak bisa membaca dan menulis

E. Variabel Penelitian
1. Variabel Independen : Tingkat Pengetahuan, motivasi dan dukungan
keluarga
2. Variabel Dependen : penderita hipertensi

50
F. Definisi Operasional

Tabel 11. Definisi Operasional


No. Definisi Alat ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala Ukur

1. Dukungan Kuesioner Kuisioner Kuisioner Ratio


keluarga tentang tentang
Dukungan yang dukungan dukungan
diberikan keluarga emosional emosional
dalam bentuk dalam bentuk dalam
dukungan skala Likert bentuk
emosional, yaitu, ya (1) skala Likert
penghargaan, dan tidak (0) yaitu, ya (1)
informasi dan dengan dan tidak 0)
instrumental 24buah dengan 14
kepada penderita pertanyaan buah
hipertensi. pertanyaan
2. Motivasi Kuesioner Ordinal

3. Tingkat Kuesioner Amati secara Laki-laki Nominal


pengetahuan langsung Perempuan

4. Tingkat Pengetahuan
Tingkat kemampuan adalah kemampuan responden menjawab pertanyaan
seputar hipertensi yaitu: - Penyebab hipertensi - Gejala hipertensi - Akibat hipertensi
- Penatalaksanaan hipertensi Dalam penelitian ini, peneliti menetapkan tingkat
pengetahuan menjadi 2 kelompok yaitu:

Kategori Skor Koding

Baik 50-100% 1

Kurang baik 0-50% 2

Cara Ukur : Mengisi Kuisioner


Alat Ukur : Kuesioner

51
Skala Ukur : Nominal
Hasil Ukur : Baik dan kurang baik

G. Instrumen Penelitian
1. Surat pernyataan persetujuan untuk dijadikan sampel penelitian
2. Alat untuk melakukan penyuluhan diet hipertensi (Laptop, LCD,
proyektor)
3. Kuesioner tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan
4. Leaflet menu diet
5. Bahan makanan dan alat masak

H. Jenis, Pengolahan, dan Analisis Data


1. Jenis Data
Penelitian ini menggunakan data primer karena merupakan data baru yang
langsung diambil dari subjek penelitian.

2. Pengolahan Data
Menggunakan program komputer SPSS versi 20.

3. Analisis Data
a. Analisis Univariat
b. Analisis Bivariat : Chi square

I. Protokol Penelitian

Meminta persetujuan kepada kader-kader yang ada di RT.25 dan 26


Kel.Jawa bahwa akan dilakukan penelitian di RT.25 dan 26

Mengumpulkan data semua pasien hipertensi yang ada di RT.25 dan 26


Kel.Jawa, kemudian diseleksi
52 berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang
sudah ditentukan oleh peneliti
Setelah mendapatkan sampel penelitian, bersama kader dan peneliti
menghimbau kepada pasien hipertensi untuk datang mengikuti pemeriksaan
tekanan darah di RT.25 dan 26 Kel. Jawa

Pertemuan I : a.Pembagian kuesioner “Tingkat Pengetahuan, motivasi dan


dukungan keluarga”
b.Penyuluhan tentang “Hipertensi”
Pertemuan II : pemeriksaan tekanan darah

Evaluasi dan Monitoring : Pembagian Kuesioner “Tingkat


Pengetahuan, motivasi dan dukungan
keluarga”
“Tingkat Kepatuhan”

Semua data yang didapatkan dari kuesioner dikumpulkan dan


dimasukkan ke dalam data excel dan diolah menggunakan spss

53
Analisa Data :
Univariat dan Bivariat

Gambar 6. Protokol Penelitian

J. Jadwal Kegiatan (Time Table)

Tabel 12. Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Mini Project

No Kegiatan Juni 2019 Juli 2019 Agustus 2019


. III IV I II III IV I II III IV
1. Menentukan Masalah v

2. Melakukan koordinasi dan v v


sosialisai dengan pihak terkait

3. Menyusun menu diet, kuesioner v


dan leaflet

4. Pertemuan I v

5. Pertemuan II v

6. Monitoring dan Evaluasi v

7. Mengolah Data v v

8. Presentasi Hasil v v v

54
BAB V

HASIL

Penelitian mengenai hubungan tingkat pengetahuan tentang diet hipertensi


dengan kepatuhan die dilakukan terhadap 43 orang penderita hipertensi di RT. 12
kelurahan Jawa, Samarinda yang dilakukan dari bulan Oktober 2018 - Desember
2018. Dalam penelitian ini didapatkan karakteristik responden berdasarkan jenis
kelamin, umur, tingkat pengetahuan, tingkat pengetahuan dan tingkat kepatuhan
dibuat dalam bentuk tabel, diagram, dan persentase.

Berikut ini dipaparkan perincian tabel dan data karakteristik responden:

1. Jenis Kelamin

Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan 43 penderita hipertensi. Pada

tabel 13 dan gambar 7 menunjukkan persentase penderita hipertensi dengan jenis

kelamin laki-laki (51,2%) lebih banyak dari perempuan (48,8%).

Tabel 13. Distribusi penderita hipertensi berdasarkan jenis kelamin

Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)

Laki-Laki 22 51,2

Perempuan 21 48,8

55
Total 43 100

Jenis Kelamin
Laki-laki Perempuan

51.2 48.8

22 21

Jumlah Persentasi

Gambar 7. Persentase Penderita Hipertensi Berdasarkan Jenis Kelamin

2. Usia

Berdasarkan tabel 14 dan gambar 8 menunjukkan peningkatan jumlah


penderita hipertensi dengan bertambahnya usia. Dari kelompok usia 75--90 (4,7%)
yang merupakan kelompok usia terendah sampai usia 45-59 tahun (28%)
merupakan kelompok usia tertinggi.

Tabel 14. Distribusi penderita hipertensi berdasarkan usia

Usia Jumlah Persentase (%)

45-59 (Usia
28 65,1
Pertengahan)

60-74 (Lanjut Usia) 13 30,2

75-90 (Lanjut Usia


2 4,7
Tua)

56
Total 43 100

Usia
Jumlah Presentase

65.1

28 30.2
13
2 4.7

45-49 60-74 75-90

Gambar 8. Persentase Penderita Hipertensi Berdasarkan Usia

3. Tingkat Pendidikan

Berdasarkan tabel 15 dan gambar 9 menunujukkan tingkat pendidikan terakhir


terbanyak yaitu tingkat pendidikan SMA/STM sebanyaj 16 (37,2%) responden,
sedangkan tingkat pendidikan terakhir yang paling sedikit yaitu tidak sekolah
sebanyak 4 (9,3%) responden.

Tabel 15. Distribusi penderita hipertensi berdasarkan tingkat pendidikan

Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%)

Tidak Sekolah 4 9,3

SD 12 27,9

SMP 11 25,6

57
SMA/STM 16 37,2

Total 43 100

Pendidikan
Jumlah Persentase

37.2

27.9
25.6

16
12 11
9.3
4

Tidak Sekolah SD SMP SMA

Gambar 9. Persentase Penderita Hipertensi Berdasarkan Tingkat Pendidikan

4. Tingkat Pengetahuan

Berdasarkan tabel 16 dan gambar 10 menunujukkan bahwa penderita


hipertensi yang memiliki tingkat pengetahun baik sebanyak 30 (69,8%) responden,
sedangkan yang memiliki tingkat pengetahuan kurang baik sebanyak 13 (30,2%)
responden.

Tabel 16. Distribusi penderita hipertensi berdasarkan tingkat pengetahuan

Tingkat
Jumlah Persentase (%)
Pengetahuan

Baik 30 69,8

Kurang Baik 13 30,2

58
Total 43 100

Tingkat Pengetahuan
Jumlah Persentase

69.8

30 30.2

13

Baik Kurang Baik

Gambar 10. Persentase Penderita Hipertensi Berdasarkan Tingkat


Pengetahuan

5. Tingkat Kepatuhan

Berdasarkan tabel 17 dan gambar 11 menunujukkan bahwa penderita


hipertensi yang memiliki tingkat kepatuhan lebih banyak dibandingkan yang tidak
patuh. Penderita hipertensi yang patuh sebanyak 25 (58,1%) responden, sedangkan
yang tidak patuh sebanyak 18 (41,9%) responden.

Tabel 17. Distribusi penderita hipertensi berdasarkan tingkat kepatuhan

Tingkat Kepatuhan Jumlah Persentase (%)

Patuh 25 58,1

59
Tidak Patuh 18 41,9

Total 43 100

Kepatuhan
Jumlah Persentase

58.1

41.9

25
18

Patuh Tidak Patuh

Gambar 11. Persentase Penderita Hipertensi Berdasarkan Tingkat Kepatuhan

6. Uji Hipotesis

Chi-Square disebut juga dengan Kai Kuadrat. Chi Square adalah salah satu

jenis uji komparatif non parametris yang dilakukan pada dua variabel, di mana

skala data kedua variabel pada penelitian ini adalah nominal. Uji chi square yang

digunakan pada penelitian ini untuk mencari tahu hubungan antara tingkat

pengetahuan dan kepatuhan diet hipertensi. Hipotesis penelitian yang akan diuji

adalah :

 H0 : Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan diet

hipertensi

60
 H1 : Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan diet

hipertensi.

Dasar pengambilan keputusan dalam uji chi square dapat dilakukan dengan

melihat nilai ouput “Chi Square Test” hasil olah data dengan SPSS. Dalam

pengambilan keputusan kita dapat berpedomanpada dua hal, yakni

membandingkan nilai Asymp.sig dengan batas kritis yakni 0,05 atau dapat dengan

ara membandingkan antara nilai chi square hitung dengan chi square tabel.

Melihat nilai Asymp.sig

 Jika nilai Asymp.sig < 0,05, maka terdapat hubungan yang signifikan

antara baris dengan kolom

 Jika nilai Asymp. Sig > 0,05, maka tidak terdapat hubungan yang

signifikan antara baris dengan kolom

1. Hubungan Jenis Kelamin dengan Tingkat Kepatuhan Diet Hipertensi

Dari tabel 18 perhitungan statistik Pearson Chi Square dapat dilihat bahwa
dari total sampel sebanyak 43 orang , diperoleh p value = 0,019 (p<0,05). Hal ini
menyatakan terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kepatuhan diet
hipertensi pada penderita hipertensi di RT.12 Kelurahan Jawa Kota Samarinda.

Tabel 18. Hubungan jenis kelamin dengan tingkat kepatuhan diet hipertensi

Jenis Kelamin Tingkat Pengetahuan Total P value


Patuh Tidak Patuh
Laki-laki 9 13 22
(40,9%) (30,2%) (51,2%) 0,019

Perempuan 16 5 21

61
(37,2%) (11,6%) (48,8%)

Total 25 18 43
(58,1%) (41,9%) (100%)
2. Hubungan Usia dengan Tingkat Kepatuhan Diet Hipertensi
Dari tabel 19 perhitungan statistik Pearson Chi Square dapat dilihat bahwa
dari total sampel sebanyak 43 orang , diperoleh p value = 0,001 (p<0,05). Hal ini
menyatakan terdapat hubungan antara usia dengan tingkat kepatuhan diet
hipertensi pada penderita hipertensi di RT.12 Kelurahan Jawa Kota Samarinda.

Tabel 19. Hubungan jenis kelamin dengan tingkat kepatuhan diet hipertensi

Tingkat Kepatuhan Total P value


Usia
Patuh Tidak Patuh
45-59 (Usia 22 6 28
Pertengahan) (51,2%) (14,0%) (65,1%)

60-74 (Lanjut 3 10 13
usia) (7,0%) (23,3%) (30,2%)
0,001
75-90 (Lanjut 0 2 2
usia tua) (0%) (4,7%) (4,7%)

Total 25 18 43
(58,1%) (41,9%) (100%)

3. Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Kepatuhan Diet


Hipertensi

Dari tabel 20 perhitungan statistik Pearson Chi Square dapat dilihat bahwa
dari total sampel sebanyak 43 orang , diperoleh p value = 0,337 (p>0,05). Hal ini

62
menyatakan tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan diet
hipertensi pada penderita hipertensi di RT.12 Kelurahan Jawa Kota Samarinda.

Tabel 20. Hubungan jenis kelamin dengan tingkat kepatuhan diet hipertensi

Tingkat Tingkat Kepatuhan Total P value


Pendidikan Patuh Tidak Patuh
Tidak Sekolah 2 2 4
(4,7%) (4,7) (9,3%)
SD 5 7 12
(11,6%) (16,3%) (27,9%)
SMP 6 5 11 0,337
(14,0%) (11,6%) (25,6%)
SMA/STM 12 4 16
(27,9%) (9,3%) (37,2%)
Total 25 18 43
(58,1%) (41,9%) (100%)

4. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Tingkat Kepatuhan Diet


Hipertensi

Dari tabel 21 perhitungan statistik Pearson Chi Square dapat dilihat


bahwa dari total sampel sebanyak 43 orang , diperoleh p value = 0,000 (p<0,05).
Hal ini menyatakan terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat
kepatuhan diet hipertensi pada penderita hipertensi di RT.12 Kelurahan Jawa,
Samarinda.

Tingkat
Tingkat Pengetahuan Total P value
Kepatuhan
Baik Kurang Baik
Patuh 25 0 25 0,000
TidakPatuh 5 13 18

63
Total 30 13 43
Tabel 21. Hubungan tingkat pengetahuan dengan tingkat kepatuhan diet hipertens

BAB V

PEMBAHASAN

Pada penelitian yang bersifat analitik observasional dengan metode cross


sectional ini untuk mencari hubungan tingkat pengetahuan tentang diet hipertensi
dengan kepatuhan diet penderita hipertensi yang dilakukan selama bulan Oktober
2018 – Desember 2018 di RT.12 Kelurahan Jawa Kota Samarinda didapatkan hasil
penelitian yaitu 43 pasien yang terpilih berdasarkan kriteria inklusi yang diambil
sebagai sampel penelitian.

Berdasarkan tabel distribusi jenis kelamin pada penelitian ini didapatkan


jumlah insiden tertinggi pada laki-laki. Dari 43 sampel yang diambil, didapatkan
22 (51,2%) penderita laki-laki yang hipertensi dan 21 (48,8%) penderita perempuan
yang hipertensi. Berdasarkan data yang diperoleh dan dianalisis menggunakan
pengujian Chi Square didapatkan ada hubungan jenis kelamin dengan tingkat
kepatuhan diet hipertensi pada penderita hipertensi. Berdasarkan faktor resiko
hipertensi, pria mempunyai resiko sekitar 2.3 kali lebih banyak mengalami
peningkatan tekanan darah sistolik dibandingkan dengan perempan, karena pria
diduga memiliki gaya hidup yang cenderung meningkatkan tekanan darah. Hal ini
mungkin disebabkan pria lebih banyak mempunyai faktor yang mendorong
terjadinya hipertensi seperti stres, kelelahan dan makanan yang tidak terkontrol.25
Kemungkinan lain juga bisa disebabkan karena laki-laki lebih cenderung kurang
bisa mengikuti atau mematuhi anjuran diet yang diberikan tenaga kesehatan dan
bisa juga disebabkan gaya hidup laki-laki yang kurang baik seperti kebiasan
merokok dan minum-minuman yang mengandung alkohol. Namun, setelah
memasuki menopause, prevalensi hipertensi pada perempuan meningkat. Bahkan
setelah usia 65 tahun, hipertensi pada perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan
pria, akibat faktor hormonal. Menurut Riskesdas 2007, prevalensi hipertensi pada
perempuan sedikit lebih tinggi dibanding pria.26

64
Berdasarkan tabel distribusi usia didapatkan bahwa usia responden
terbanyak terdapat pada kelompok usia pertengahan (45-59) sebanyak 28 responden
(65,1%) dan pada kelompok lanjut usia (60-74) sebanyak 13 responden (30,2%).
Berdasarkan data yang diperoleh dan dianalisis menggunakan pengujian Chi
Square didapatkan ada hubungan usia dengan tingkat kepatuhan diet hipertensi
pada penderita hipertensi. Hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua
seseorang semakin besar resiko terserang hipertensi. Umur lebih dari 40 tahun
mempunyai resiko terkena hipertensi. Pada usia tua perubahan struktural dan
fungsional pada sistem pembuluh perifer bertanggung jawab pada perubahan
tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi
aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat, dan penurunan dalam relaksasi
otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi
dan daya regang pembuluh darah, sehingga insidensi hipertensi lebih tinggi terjadi
pada usia pertengahan dan usia lanjut.27 Tekanan sistolik terus meningkat sampai
usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus naik sampai usia 55-60 tahun, kemudian
secara perlahan atau bahkan drastis menurun.28 Seseorang yang berusia > 55 tahun
belum tentu bisa patuh terhadap diet yang diberikan tenaga kesehatan dibandingkan
dengan penderita yang berusia ≤ 55 tahun. Ini bisa disebabkan penderita yang
berusia > 55 tahun ingin diikuti semua keinginannya, baik dalam segi makanan
karena ada sebagian besar masyarakat mengatakan semakin bertambahnya usia
seseorang semakin kekanak-kanakan pola pikirannya, yang selalu ingin diikuti
keinginannya, sehingga diet yang dianjurkan tersebut tidak berjalan dengan baik.28

Berdasarkan tabel distrbusi tingkat pendidikan didapatkan bahwa kelompok


pendidikan paling banyak adalah SMA/STM sebanyak 16 responden (37,2%) dan
kelompok pendidikan paling sedikit adalah kelompok tidak sekolah sebanyak 4
responden (9,3%). Berdasarkan data yang diperoleh dan dianalisis menggunakan
pengujian Chi Square didapatkan tidak ada hubungan usia dengan tingkat
kepatuhan diet hipertensi pada penderita hipertensi. Hal ini berarti banyaknya
penderita hipertensi yang mempunyai pendidikan tinggi, tetapi kurang mengerti dan
paham bagaimana cara melakukan diet hipertensi yang baik, sesuai dengan anjuran
yang diberikan tenaga kesehatan. Hasil penelitian yang sama juga dilakukan oleh
Putra (2010), tentang hubungan pendidikan dengan pekerjaan klien hipertensi

65
dengan penatalaksanaan diet hipertensi. Sebagian besar 84,4% penderita
dikategorikan berpendidikan rendah dan sebagian besar 79,7% penderita
dikategorikan melakukan tindakan penatalaksanan terapi diet hipertensi. Tidak
terdapatnya hubungan bermakna antara pendidikan dengan tindakan
penatalaksanaan terapi diet. Menurut Notoatmodjo (2003), yaitu pendidikan
merupakan sebagai suatu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan
kemampuan di dalam dan di luar sekolah yang berlangsung seumur hidup, tidak
hanya pada batasan tertentu saja Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan
informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan, sehingga dapat
meningkatkan kesehatan. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan
terhadap Tuhan yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi
pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta
tanah air.29 Semakin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah seseorang
menerima informasi, sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki,
sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap
seseorang terhadap nilai yang harus diperkenalkan.30 Seseorang yang berpendidikan
tinggi belum tentu bisa patuh terhadap suatu peraturan seperti diet hipertensi. Hal
ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak mempengaruhi tingkat kepatuhan
seseorang dalam menjalankan diet. Pendidikan yang dimiliki seseorang belum tentu
dapat memberikan kepatuhan atau kepuasan dalam memilih makanan yang baik
untuk kesehatannya.30
Gambaran hubungan pengetahuan dengan kepatuhan diet penderita
hipertensi di RT.12 Kelurahan Jawa Kota Samarinda dapat dilihat pada tabel 19.
Responden yang berpengetahuan baik memiliki ketidakpatuhan sebesar 5
responden dan yang memiliki kepatuhan sebesar 25 responden. Pada responden
yang berpengetahuan kurang baik memiliki ketidakpatuhan 13 responden.
Berdasarkan uji chi square didapat hasil p value = 0,000 (p<0.05) yang berarti
bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kepatuhan diet
hipertensi pada penderita hipertensi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian
sebelumnya yang dilakukan di Puskesmas Padang Bulan Medan bahwa bahwa ada
hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kepatuhan diet penderita

66
hipertensi karena semakin tinggi tingkat pengetahuan maka semakin baik
kepatuhan pasien terhadap pola diet hipertensi.31
Pengetahuan yang baik akan mendorong seseorang untuk berperilaku yang
tepat khususnya dalam pencegahan hipertensi dengan diet, dimana perilaku
biasanya dipengaruhi oleh respon individu terhadap stimulus, tergantung
bagaimana reaksi individu untuk merespon terhadap suatu stimulus yang ada pada
suatu tindakan atau perilaku.30
Menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan merupakan domain yang sangat
penting untuk menentukan tindakan seseorang, sehingga perilaku yang didasari
oleh pengetahuan akan lebih bertahan lama dibandingkan dengan yang tidak atau
semakin tinggi pengetahuan seseorang diharapkan perilakunya juga semakin baik.
Pengalaman juga faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan, karena dari
pengalaman yang ada pada dirinya maupun pengalaman orang lain dapat dijadikan
acuan untuk dapat meningkatkan pengetahuan. Makin lama seseorang berkerja
maka akan semakin banyak pula pengalaman, yang akan mempengaruhi tingkat
kematangan seseorang dalam berfikir dan akhirnya akan mempengaruhi sikap
seseorang dalam bertindak.32 Seseorang yang berpengetahuan tinggi belum tentu
akan lebih mudah untuk menerima dan patuh terhadap anjuran dari tenaga
kesehatan dibandingkan yang berpengetahuan rendah, kemungkinan mereka
kurang mengerti dan memahami pentingnya mematuhi anjuran tersebut agar
penyakit yang mereka derita tidak semakin parah, sehingga bisa menimbulkan
komplikasi yang lebih berbahaya lagi.32

67
BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kepatuhan diet

hipertensi

2. Terdapat hubungan antara usia dengan tingkat kepatuhan diet hipertensi

3. Tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat

kepatuhan diet hipertensi

4. Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kepatuhan

diet hipertensi

B. Saran

1. Bagi masyarakat diharapkan dapat meningkatkan lagi kepatuhan diet dengan

cara mengurangi dan menghindari faktor risiko (gaya hidup yang tidak baik)

yang dapat meningkatkan terjadinya komplikasi hipertensi akibat tekanan

darah yang tidak terkontrol.

2. Bagi puskesmas dapat lebih meningkatkan lagi kepatuhan penderita

hipertensi dalam menerapkan gaya hidup sehat dengan cara memberikan

penyuluhan tentang penyakit hipertensi dan penanganannya, dan bekerjasama

68
dengan para kader dan keluarga pasien serta menunjuk salah satu anggota

keluarga untuk dijadikan sebagai pengawas diet hipertensi.

69
DAFTAR PUSTAKA

1. Ridio IA. Model Puskesmas Era Desentralisasi.2008.


2. Kementerian Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 43 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan.
Departemen Kesehatan RI. 2016.
3. Puskesmas Pasundan. Lokakarya Mini Bulan Januari 2018. 2018.
4. Indikator Keluarga Sehat 2018
5. Udjiyanti, W. J. Keperawatan Kardiovaskuler, Jakarta : Salemba Medika.
2010.
6. Departemen Kesehatan RI. (2008). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2008.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
7. DEPKES RI. 2006. Pedoman Tehnik Penemuan Dan Tatalaksana Penyakit
Hipertensi. Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Jakarta : Ditjen
PP dan PL.
8. Caplan NM. clinical hypertension, 8 Ed. Lippincott: williamas dan Wilkins,
1997.
9. Moechyi, S. 1992, Pengaturan Makanan dan Diet Untuk Penyembuhan
Penyakit. Jakarta: PT. Gramedia.
10. Marvyn, Leonard. 1995. Hipertensi: Pengendalian Lewat Vitamin, Gizi, Diet.
Arcan. Jakarta.

11. Julianti, D, dkk., 2005, Bebas Hipertensi Dengan Terapi Jus, Puspa Swara,
Jakarta.
12. Kurniawan. (2002). Gizi seimbang untuk mencegah hipertensi. Seminar
Hipertensi Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran YARSI. Jakarta.
13. Effendi, Ferry. Makhfudli. Keperawatan Kesehatan Komunitas, Teori dan
Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.2009.
14. Trihono. Manajemen Puskesmas Berbasis Paradigma Sehat. Jakarta: CV
Sagung Seto. 2005.
15. Soenarta A.A, Erwinanto, Mumpuni A.S.S, Barack R, dkk. 2015. Pedoman
Tatalaksana Hipertensi Pada Penyakir Kardiovaskular.

70
16. The Task Force for the management of arterial hypertension of the
European Society of Hypertension (ESH) and of the European Society
of Cardiology (ESC). 2013 ESH/ESC Guidelines for the management of
arterial hypertension. Jour of Hypertension 2013, 31:1281-1357
17. Pedoman Teknis Penemuan dan Tatalaksana Hipertensi. 2013.
18. James PA, Oparil S, Carter BL, Cushman WC, Himmelfarb CD, Handler J, et
al. Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure in
Adults Report From the Panel Members Appointed to the Eighth Joint National
Committee (JNC 8). Bethesda: NIH Publication 03-5233; 2014.
19. Bickley LS. Buku Saku pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan Bates Edisi
5. Jakarta: EGC; 2006.
20. Smet, Bart. Psikologi Kesehatan. Jakarta : Gramedia Widia Sarana. 1994.
21. Niven, Neil. Psikologi kesehatan pengantar untuk perawat dan professional
kesehatan lain. Jakarta: EGC, 2001.
22. Purwanto, H. Pengantar Perilaku Manusia untuk Perawat. Jakarta :
EGC.2006.
23. Lany Gunawan. Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi. Yogyakarta : Kanisius.
2001.

24. Purwanti. 1997. Hipertensi patuh minum obat cegah cegah komplikasi.

25. Purwati. (2004). Perencanaan menu untuk penderita tekanan darah tinggi.
Jakarta: Penebar Swadaya.
26. Prihandana, Sadar. (2012). Studi Fenomenologi: Pengalaman Kepatuhan
Perawatan Mandiri pada Pasien Hipertensi di Poliklinik RSI Siti Hajar Kota
Tegal, Tesis, UI. Depok.
27. Sugiharto, Aris. (2007). Faktor-Faktor Resiko Hipertensi Grade II pada
Masyarakat, Tesis, Universitas Diponegoro. Semarang.
28. Indriyani , W.N. (2009). Deteksi dini kolesterol, hipertensi & stroke.
Milestone.
29. Saputro, H. T. (2009). Hubungan tingkat pengetahuan pasien tentang hipertensi
dengan sikap ketidakpatuhan dalam menjalankan diit hipertensi di wilayah

71
puskesmas Andong. Di peroleh tanggal 26 Maret 2011 dari http://etd.
eprints.ums.ac.id./6409/1/J210050024.pdf.
30. Notoatmodjo,S.(2003). Pendidikan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.
31. Wuri, Nirawati Renika, dkk. (2008). Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang
Diet dengan Kepatuhan Diet Penderita Hipertensi di Klinik 24 Jam Mardi
Mulya Semarang. Semarang: Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Muhammadiyah Semarang.
32. Nursalam. (2003). Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu
keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

72
LAMPIRAN

Lampiran 1. Lembar Persetujuan Responden

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bersedia menjadi


responden dalam penelitian yang akan dilakukan oleh :

dr. Ekky Malisan tentang Hubungan Tingkat Pengetahuan


Tentang Diet Hipertensi Dengan Kepatuhan Diet Penderita
Hipertensi di RT.12 Kelurahan Jawa Kota Samarinda.

Saya memahami dan mengerti bahwa penelitian ini tidak berdampak buruk
terhadap saya, maka dari itu saya bersedia menjadi responden peneliti.

Nama Lengkap :
Jenis Kelamin : L/P
Usia :
Alamat Lengkap :
Pendidikan Terakhir :

Samarinda, November 2018

Responden

( )

73
Lampiran 2. Kuesioner Penelitian

Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Diet Hipertensi Dengan


Kepatuhan Diet Penderita Hipertensi di RT.12 Kelurahan Jawa
Kota Samarinda

Tanggal Diisi:
DATA IDENTITAS PASIEN
1. NamaPasien
:………………………………………
……………………..
2. Jenis kelamin :
1. Laki-laki
2. Perempuan

3. Alamat Pasien
Rt/Rw
:………………………………………
……………………………
Kec
:………………………………………
…………………………...
Kota
:………………………………………
……………………………

Usia saat pertama


5 kali mengalami
hipertensi (tahun)
:……………………………….

1. 45-59 tahun
2. 60-74 tahun

74
3. 75-90

4. Apakah anda masih aktif bekerja ?


1. Ya
2. Tidak
JikaYa, apa pekerjaan anda
sekarang?..............................................
........................

5. Pendidikan : 1. Tinggi (jika tamat SD


dan SLTP)
2. Rendah (jika tidak tamat SD dan
SLTP)

A. Aspek Pertanyaan Pengetahuan Penyakit Hipertensi dan Diet


Hipertensi

Petunjuk Pengisian
Pilih salah satu jawaban yang dianggap paling benar, dengan memberi
tanda (x) pada huruf pilihan tersebut
No Pertanyaan Jawaban
Ya Tidak
1. TD tinggi jika ≥ 140/90 mmHg
2. Semakin tua tekanan darah semakin tinggi
3. Hipertensi bukan penyakit keturunan
4. Penderita tekanan darah tinggi penting kontrol ke
pelayanan kesehatan.
5. Kelebihan berat badan dapat meningkatkan resiko
hipertensi
6. Hipertensi tidak menyebabkan penyakit jantung,
pembuluh darah dan stroke.
7. Olahraga secara teratur cegah tekanan darah tinggi.

75
8. Menjauhkan diri dari stress cegah tekanan darah
tinggi
9. Merokok dan minum alkohol menyebabkan
kekambuhan tekanan darah tinggi
10. Minum obat darah tinggi teratur dan kontrol
makanan bantu cegah kekambuhan tekanan darah
tinggi
11. Jika tekanan darah normal, obat darah tinggi tidak
perlu diminum
12. Makanan cepat saji baik untuk hipertensi
13. Ada hubungan makanan berlemak dan darah tinggi
14. Konsumsi garam berlebih menyebabkan tekanan
darah tinggi
15. Semua buah yang diawetkan tidak aman untuk
penderita tekanan darah tinggi
16. Pisang, jeruk dan makanan tinggi kalium
membantu menurunkan tekanan darah tinggi
17. Sayur dan serat dapat turunkan tekanan darah
tinggi
18. Tidak boleh makan telur lebih dari 1 butir sehari

19. Minum kopi seharusnya dibatasi pada tekanan


darah tinggi
20. Penyedap rasa baik untuk penderita hipertensi

76
B. Aspek Kepatuhan Diet Pasien Hipertensi
1. Apakah anda mengunakan garam lebih dari 1 sendok teh per hari?
a. Ya
b. Tidak
2. Apakah anda membatasi konsumsi bahan makanan awetan yang diolah
menggunakan garam dapur, misalnya kecap, margarine, mentega, keju,
trasi, petis, biskuit, ikan asin, sarden, sosis?
a. Ya
b. Tidak
3. Apakah anda masih menggunakan atau makan bahan makanan yang diolah
dengan menggunakan bahan tambahan atau penyedap rasa,seperti saos,
tauco, vetsin, atau masako ?
a. Ya
b. Tidak
4. Apakah anda membatasi konsumsi bahan makanan seperti, lemak hewan,
margarine, dan mentega terutama gorengan-gorengan atau makanan yang
berminyak?
a. Ya
b. Tidak
5. Apakah anda membatasi konsumsi makanan seperti, daging, hati, limpa, dan
jenis jeroan lainnya serta sea food (udang, kepiting), minyak kelapa, dan
kelapa (santan)?
a. Ya
b. Tidak
6. Apakah anda mengkonsumsi buah-buahan, seperti jambu biji, belimbing,
jambu bol, kedondong, anggur, markisa, papaya, jeruk, mangga, apel,
semangka, dan pisang minimal sehari satu?
a. Ya
b. Tidak
7. Apakakah anda mengkonsumsi golongan sayuran, seperti daun bawang,
kecipir muda, jamur, bawang putih, daun dan kulit mlinjo, buah kelor, daun
kacang panjang, daun kemangi, daun katu, daun singkong, daun ubi jalar,

77
daun sledri, lobak, tomat, kangkung, tauge, buncis, pare, kol,wortel, bayam,
dan sawi setiap hari?
a. Ya
b. Tidak
8. Apakah anda mengkonsumsi golongan protein nabati, seperti kacang tanah,
kacang hijau, kacang kedeli,dan kacang merah setiap hari?
a. Ya
b. Tidak
9. Apakah anda sering ngemil jika sedang lapar?
a. Ya
b. Tidak
10. Apakah anda rutin olahraga ringan setiap hari, minimal 5 menit?
a. Ya
b. Tidak
11. Apakah anda sering menggunakan minyak bekas pakai saat menggoreng ?
a. Ya
b. Tidak
12. Apakah anda sering konsumsi makanan yang bergoreng dibandingkan
makanan yang dikukus atau dimasak kuah atau dipanggang ?
a. Ya
b. Tidak
13. Apakah anda sering minum kopi, teh, minuman bersoda atau minuman
berwarna dan berasa ?
a. Ya
b. Tidak
14. Apakah anda sering mengkonsumsi makanan cepat saji seperti mie instan,
makanan yang di kaleng, ayam kentucky, atau junkfood ?
a. Ya
b. Tidak
15. Apakah anda sering mengkonsumsi telur lebih dari 1 butir per hari ?
a. Ya
b. Tidak

78
Lampiran 3 : Data Penderita Hipertensi di RT 12
Kelurahan Jawa

Tingkat Tingkat
Jenis Tingkat Pengetahuan Kepatuhan
Respo
Kelami Umur Pendidika
nden Baik Kurang Patuh Tidak
n n
Baik Patuh
01. P 53 SMA 17 Patuh
02. P 60 SMA 10 Tidak
03. L 49 SMA 18 Patuh
04. P 49 SMA 20 Patuh
05. L 55 SMP 14 Patuh
06. L 64 SD 8 Tidak
07. L 65 SMA
08. Tidak 9 Tidak
L 47
Sekolah
09. P 65 SMP 16 Patuh
10. P 50 SD 20 Patuh
11. L 54 SMP 9 Tidak
12. L 59 SD 12 Tidak
13. L 64 SD 6 Tidak
14. P 48 SMP 18 Patuh
15. P 48 SMA 20 Patuh
16. P 59 SD 15 Patuh
17. P 45 SMA 17 Patuh
18. P 47 SD 19 Patuh
19. P 59 SD 12 Tidak
20 P 53 SD 18 Patuh
21. L 64 SD 10 Tidak
22. L 47 SMA 20 Patuh
23. L 76 STM 9 Tidak
24. L 56 SMA 18 Patuh
25. P 51 SD 14 Patuh
26. L 64 SMP 12 Tidak
27. L 75 SPJ 10 Tidak
28. Tidak 13 Tidak
P 60
Sekolah
29. L 70 SMP 6 Tidak
30. P 45 SMP 20 Patuh
31. L 65 SMP 17 Patuh
32. L 56 STM 20 Patuh
33. L 49 SMP 9 Tidak
34. P 60 SD 10 Tidak
35. L 66 STM 15 Patuh

79
36. Tidak 18 Patuh
P 56
Sekolah
37. P 55 SMA 20 Patuh
38 P 48 SMA 20 Patuh
39. L 54 SMP 8 Tidak
40. P 53 SMA 16 Patuh
41. P 60 SD 8 Tidak
42. Tidak 14 Patuh
L 49
Sekolah
43. L 46 SMP 20 Patuh

80
Lampiran 4. Contoh Resep Menu Makanan Diet Hipertensi

Sop Ayam Untuk Hipertensi

Porsi :
Untuk 4-5 porsi

B. Bahan :
 250 gram ayam dada tanpa kulit potong kecil
 5 siung bawang merah
 4 siung bawang putih
 2 siung jahe
 3 buah wortel
 5 buah kentang
 10 buah buncis
 2 buah labu siam
 Daun bawang dan seledri
 4 biji cabe dan 2 buah tomat
 ½ sdt garam, merica bubuk, gula pasir, margarine

81
 3 gelas air bersih
 Bawang goreng (sesuai selera)
Buah : Pisang, jeruk, bengkoang, melon

C. Cara Masak :
 Bersihkan terlebih dahulu semua bahan, termasuk sayur, cabe, tomat, dan
ayam, potong dengan ukuran kecil-kecil atau sesuai selera.
 Setelah selasai dicuci, rebus air mendidih untuk merebus ayam agar lebih
matang tidak ada darah lagi, sambil menunggu ayam matang, haluskan bumbu
seperti bawang merah, bawang putih, cabe, dan jahe lalu tumis dengan
menggunakan margarine yang sudah dipanaskan sampai bumbu berbau
harum, kemudian masukkan 3 gelas air bersih tunggu hingga mendidih, lalu
masukkan garam, merica bubuk, dan gula secukupnya biarkan masakan
mendidih.
 .Jika rebusan ayam sudah matang maka masukan kembali ayam dan air
rebusan ayam sebagai kaldu ke dalam rebusan bumbu yang sudah ditumis tadi,
dan masukan juga sayur kentang, wortel, dan labu siam, tunggu sampai semua
sayurannya matang.
 Pastikan semuanya matang dan mendidih lalu masukan irisan daun seledri dan
tomat lalu aduk rata sebentar saja, kemudian matikan kompor.
 Hidangkan dan jangan lupa taburkan bawang goreng di atasnya.

D. Nilai energy dan zat gizi

 Energy : 186,9 kkal


 Protein : 2,0 g
 Lemak : 3,6 g
 Karbohidrat : 16,2 g
 Natrium : 26,0 mg
 Kalium : 304,6 mg
 Kalsium : 22,3 mg
 Magnesium : 23,0 mg

82
E. Daftar harga yang diperlukan untuk menu di atas
 250 gram ayam dada tanpa kulit potong kecil : 12.000
 6 siung bawang merah : 2..000
 4 siung bawang putih : 2.000
 2 siung jahe : 3.000
 3 buah wortel : 4.000
 5 buah kentang : 5.000
 10 buah buncis : 5.000
 2 buah labu siam : 5.000
 Daun bawang dan seledri : 4.000
 4 biji cabe dan 2 buah tomat : 3.000
 ½ sdt garam, merica bubuk, gula pasir, margarine : 10.000
 Bawang goreng (sesuai selera) : 5.000
Total : 60.000

83
Lampiran 5. Foto Dokumentasi Kegiatan

Pertemuan I : Pengisian Kuesioner, Penyuluhan Tentang


Penyakit Hipertensi dan Diet Hipertensi

84
Pertemuan II: Demo Masak

85
Pertemuan III : Lomba Masak, Pembagian Leaflet, dan
Pembagian Hadiah Untuk Peserta Lomba

86
Lampiran 6. Anggaran Biaya Mini Project

1. Belanja bahan makanan untuk demo dan lomba masak : Rp.100.000


2. Belanja hadiah untuk peserta lomba : Rp. 40.000
3. Foto copy kusioner dan lembar persetujuan responden : Rp. 52.000
4. Foto copy leaflet : Rp. 17.000

Total : Rp. 209.000

87
Lampiran 8 : Data Penderita Hipertensi di RT 12
Kelurahan Jawa

Tingkat Tingkat Kepatuhan


Jenis Tingkat Pengetahuan
Responden Umur Pekerjaan
Kelamin Pendidikan Baik Kurang Patuh Tidak
Baik Patuh
01. P 53 SMA 17 Patuh
02. P 60 SMA 10 Tidak
03. L 49 SMA 18 Patuh
04. P 49 SMA 20 Patuh
05. L 55 SMP 14 Patuh
06. L 64 SD 8 Tidak
07. L 65 SMA
08. Tidak 9 Tidak
L 47
Sekolah
09. P 65 SMP 16 Patuh
10. P 50 SD 20 Patuh
11. L 54 SMP 9 Tidak
12. L 59 SD 12 Tidak
13. L 64 SD 6 Tidak
14. P 48 SMP 18 Patuh
15. P 48 SMA 20 Patuh
16. P 59 SD 15 Patuh
17. P 45 SMA 17 Patuh
18. P 47 SD 19 Patuh
19. P 59 SD 12 Tidak
20 P 53 SD 18 Patuh
21. L 64 SD 10 Tidak
22. L 47 SMA 20 Patuh
23. L 76 STM 9 Tidak
24. L 56 SMA 18 Patuh
25. P 51 SD 14 Patuh
26. L 64 SMP 12 Tidak
27. L 75 SPJ 10 Tidak
28. Tidak 13 Tidak
P 60
Sekolah
29. L 70 SMP 6 Tidak
30. P 45 SMP 20 Patuh
31. L 65 SMP 17 Patuh
32. L 56 STM 20 Patuh
33. L 49 SMP 9 Tidak
34. P 60 SD 10 Tidak
35. L 66 STM 15 Patuh
36. Tidak 18 Patuh
P 56
Sekolah

88
37. P 55 SMA 20 Patuh
38 P 48 SMA 20 Patuh
39. L 54 SMP 8 Tidak
40. P 53 SMA 16 Patuh
41. P 60 SD 8 Tidak
42. Tidak 14 Patuh
L 49
Sekolah
43. L 46 SMP 20 Patuh

89