Anda di halaman 1dari 408

ISSN 2089-3523

PROFIL ANAK INDONESIA


2019

KERJASAMA
KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
DAN PERLINDUNGAN ANAK
DENGAN
BADAN PUSAT STATISTIK
PROFIL ANAK INDONESIA
2019
BAB 2

profil anak indonesia


2019
ISSN
2089-3523

Ukuran Buku
17,6 cm x 25 cm

Jumlah Halaman
xxvi + 378 halaman

Naskah
Badan Pusat Statistik

Gambar Kulit
Badan Pusat Statistik

Diterbitkan oleh
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA)

Dilarang mengumumkan, mendistribusikan,


mengkomunikasikan, dan/atau
menggandakan sebagian atau seluruh isi
buku ini untuk tujuan komersial tanpa izin
tertulis dari Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).

ii Profil Anak Indonesia 2018


TIM
PENYUSUN
Pengarah Penanggung Jawab

I Gusti Ayu Bintang Darmawati Fakih Usman


Suhariyanto Nurma Midayanti
Pribudiarta Nur Sitepu
Margo Yuwono

Editor Penulis

Dendi Romadhon Tri Windiarto


Indra Murty Surbakti Al Huda Yusuf
Mariet Tetty Nuryetty Setio Nugroho
Wachyu Winarsih Siti Latifah
Nona Iriana Riyadi Solih
Hasnani Rangkuti Fera Hermawati
Sylvianti Angraini
Siska Ayu Tiara Dewi
Anugrah Pambudi Raharjo

Profil Anak Indonesia 2018 iii


BAB 2

TIM
PENYUSUN
Pengolah Data Desain Cover
dan layout

Tri Windiarto Riyadi Solih


Al Huda Yusuf
Siti Latifah
Riyadi Solih
Fera Hermawati
Eko Sriyanto
Parwoto
Sapto Hastho Ponco
Raden Sinang
Trophy Endah Rahayu
Diyah Priyatni Idhawati
Agus Saryanto

Sekretariat

Lucia Yulianti
Nadhira Aulia Rachman

iv Profil Anak Indonesia 2018


KATA
SAMBUTAN

BINTANG PUSPAYOGA

Berdasarkan Hasil Proyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2018


oleh BPS, 30,1% populasi penduduk di Indonesia adalah anak dengan
39,1 juta jiwa merupakan anak perempuan dan 40,4 juta jiwa adalah
anak laki-laki. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh
dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan
dan diskriminasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Upaya perlindungan dan pemenuhan hak bagi setiap anak
merupakan kewajiban bagi negara. Upaya pemenuhan hak anak
sudah dimulai sejak anak belum dilahirkan melalui pemenuhan gizi
bagi ibu hamil. Pemenuhan hak dasar juga menjadi sangat penting
dalam menjamin kelangsungan hidup, tumbuh dan kembang anak.

Profil Anak Indonesia 2018 v


BAB 2
Saat ini, pencegahan perkawinan anak, peningkatan peran
orang tua dalam pendidikan anak, penurunan kekerasan terhadap
perempuan dan anak, penurunan pekerja anak menjadi prioritas isu
dalam pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Dalam buku ini digambarkan bagaimana kondisi pemenuhan
hak anak diantaranya hak sipil berupa pemberian akta kelahiran,
pemenuhan hak kesehatan dasar dan kesejahteraan anak,
dan pemenuhan hak anak dalam pendidikan. Selain itu juga
menggambarkan kondisi lingkungan keluarga dan perkawinan usia
anak serta perlindungan khusus seperti anak yang berhadapan
dengan hukum dan pekerja anak. Hal ini sesuai dengan pembagian
klaster hak anak ke dalam 5 (lima) klaster sesuai dengan Konvensi
Hak Anak yaitu Hak Sipil dan Kebebasan; Lingkungan Keluarga
dan Pengasuhan Alternatif; Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan;
Pendidikan, Waktu Luang, dan Kegiatan Budaya, dan Perlindungan
Khusus.
Data-data yang ada di dalam buku Profil Anak Indonesia ini
diharapkan dapat menjadi bahan dalam penyusunan perencanaan
program, kebijakan, dan kegiatan serta sebagai bahan evaluasi
untuk mengetahui dampak dari suatu kebijakan yang telah disusun.
Sehingga keberadaan buku ini dapat memberikan manfaat yang
sebesar-besarnya bagi upaya pemenuhan hak dan perlindungan
anak.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Kepala Badan Pusat
Statistik beserta jajarannya atas kerja sama yang telah dibangun
selama ini, dan apresiasi yang tinggi kepada seluruh tim serta pihak
yang terlibat dalam menyukseskan penyusunan buku Profil Anak
Indonesia. Semoga sinergi yang baik ini dapat terus berjalan.

Jakarta, November 2019


Menteri Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak, Republik Indonesia

Bintang Puspayoga

vi Profil Anak Indonesia 2018


KATA
pengantar

DR. suhariyanto

Salah satu sumber daya manusia yang harus dilindungi dan


dijaga yaitu anak. Anak merupakan generasi muda yang memiliki
peran penting dalam menjaga dan meneruskan cita-cita bangsa.
Agar peran anak dapat terlaksana dengan baik, maka tumbuh-
kembang anak perlu diperhatikan sejak dini.
Pemenuhan hak-hak anak merupakan salah satu bagian dari
hak asasi manusia yang wajib dipenuhi dan dilindungi agar masa
pertumbuhan anak dapat berjalan dengan optimal. Pentingnya
pemenuhan hak-hak anak dikarenakan anak yang akan melanjutkan
perjuangan bangsa. Anak yang terpenuhi hak-haknya akan menjadi

Profil Anak Indonesia 2018 vii


BAB 2
seseorang yang berperilaku baik, disiplin dan bertanggung jawab.
Hal ini akan memberikan keuntungan, baik bagi dirinya sendiri,
orang lain, maupun negara.
Untuk mengetahui capaian pemenuhan hak-hak anak
di Indonesia, maka pemerintah perlu mengetahui capaian
pembangunan yang berkaitan dengan anak. Oleh karena itu,
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
(Kemen PPPA) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menjalin kerjasama
untuk menyusun publikasi Profil Anak Indonesia. Publikasi ini
diharapkan dapat menggambarkan kondisi anak di Indonesia, baik
dari sisi pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan dasar, demografi,
lingkungan keluarga, perlindungan anak terhadap masalah hukum,
maupun anak yang bekerja.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pihak
yang telah membantu penyusunan publikasi ini. Saran dan kritik
yang membangun sangat kami harapkan untuk menyempurnakan
publikasi ini di masa mendatang.

Jakarta, November 2019


Kepala BPS RI

Dr. Suhariyanto

viii Profil Anak Indonesia 2018


ringkasan
eksekutif

Pemerintah Indonesia berkomitmen mencapai target dari


program Sustainable Development Goals (SDG’s) pada tahun
2030. Salah satu target utamanya terkait dengan pembangunan
anak Indonesia. Target yang ingin dicapai diantaranya adalah
penghapusan kemiskinan anak; tidak ada lagi anak-anak kekurangan
gizi dan meninggal karena penyakit yang bisa diobati; menciptakan
lingkungan yang ramah terhadap anak; memenuhi kebutuhan
pendidikan anak khususnya pendidikan di usia dini; dan target
lainnya.

Profil Anak Indonesia 2018 ix


BAB 2
Hasil proyeksi penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun
2018 menunjukkan bahwa sebesar 30,1 persen atau 79,55 juta jiwa
penduduk Indonesia adalah anak-anak berusia 0-17 tahun. Artinya
bisa dikatakan bahwa satu diantara tiga penduduk Indonesia adalah
anak-anak. Dalam beberapa kurun waktu ke depan diproyeksikan
jumlah anak di Indonesia tidak akan mengalami perubahan yang
signifikan.
Masalah perlindungan anak menjadi perhatian utama pemerintah
dalam beberapa tahun terakhir ini. Tantangan perlindungan anak
sangat beragam, mulai dari kemiskinan, kepemilikan akta kelahiran
dan partisipasi anak. Hasil Susenas tahun 2018 menunjukkan bahwa
masih ada sekitar 16 persen anak yang belum memiliki akta kelahiran.
Di tengah gencarnya sosialisasi pemerintah akan pentingnya
registrasi kelahiran, hampir dua diantara sepuluh anak di Indonesia
yang belum tersentuh program ini.
Anak laki-laki dan perempuan dijamin mempunyai hak yang
sama untuk memperoleh akta kelahiran. Setiap warga negara
tanpa batasan usia sejatinya memiliki hak yang sama rata atas
kepemilikan akta kelahiran. Provinsi Papua tercatat sebagai provinsi
dengan kepemilikan akta kelahiran terendah yaitu sebesar 36,33
persen. Ini artinya, hampir dua dari tiga anak di Papua masih belum
memiliki akta kelahiran. Bisa jadi sulitnya geografis serta kurangnya
sosialisasi akan pentingnya akta kelahiran bagi anak berpengaruh
terhadap rendahnya kepemilikan akta kelahiran di wilayah Papua.
Provinsi yang juga mempunyai persentase tingkat kepemilikan
akta kelahirannya yang rendah adalah Nusa Tenggara Timur, yaitu
sebesar 58,17 persen.
Rasio Jenis Kelamin (RJK) penduduk usia 0-17 tahun, polanya
sejalan dengan RJK Indonesia. Lebih banyak anak laki-lakinya
dibanding anak perempuan. Dari 100 anak perempuan terdapat
sekitar 103 anak laki-laki, dengan RJK sebesar 103,26. Sementara
untuk penduduk usia 18 tahun ke atas, jumlah perempuan sedikit
lebih banyak dibanding jumlah laki-lakinya, dengan rasio sebesar
99,92. Jumlah perempuan usia dewasa 18 tahun ke atas bisa
dikatakan berimbang dengan jumlah laki-laki dewasanya, diantara
100 penduduk perempuan terdapat 100 penduduk laki-laki.
Anak, untuk perkembangan kepribadiannya secara sepenuhnya
dan serasi, harus tumbuh berkembang dalam lingkungan keluarganya

x Profil Anak Indonesia 2018


dalam suasana kebahagiaan, cinta dan pengertian (Pembukaan
Konvensi Hak-Hak Anak). Setiap anak berhak untuk tinggal dalam
lingkungan pengasuhan keluarga. Hal terpenting dalam pengasuhan,
keluarga merupakan tempat membesarkan dan mendidik anak.
Gambaran mengenai pengasuhan alternatif antara lain pemenuhan
kebutuhan anak yang dilaksanakan baik oleh kedua orang tua
kandung, ayah kandung saja, ibu kandung saja atau keluarga lainnya
termasuk orang tua asuh, orang tua angkat atau wali. Pemenuhan
kebutuhan anak lebih banyak bersama kedua orang tuanya sebesar
84,33 persen dibandingkan hanya dengan ayah kandungnya saja
atau ibu kandung saja yang hanya 2,51 persen dan 8,34 persen.
Sebelum mengenyam pendidikan sekolah dasar, anak berusia
0-6 tahun sudah mengikuti PAUD. Jenis PAUD yang banyak diikuti
adalah Taman Kanak-kanak, yaitu sebesar 60,86 persen. Sekitar
74,51 persen anak yang bersekolah di kelas 1 SD/sederajat sudah
pernah mengikuti PAUD, artinya mereka sudah siap mengikuti
proses belajar.
Anak yang menikah secara umum adalah pernikahan yang
di lakukan oleh sesorang yang belum dewasa atau sebelum masa
pubertas. Sekitar 99,26 persen anak perempuan usia 10-17 tahun
belum menikah, 0,70 persen berstatus kawin, dan ironisnya sudah
ada yang melakukan perceraian sebesar 0,04 persen, baik cerai
mati maupun cerai hidup. Sebesar 36,62 persen anak perempuan
usia 10-17 tahun pernah menikah pada usia 15 tahun atau kurang.
Hal ini tidak sesuai dengan UU No. 1 tahun 1974 pasal 7.
Tahun 2018 perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun
yang melahirkan hidup dalam dua tahun terakhir sebagian besar
persalinannya ditolong oleh bidan, yaitu sebesar 60,00 persen.
Persalinan yang ditolong oleh dokter sebesar 32,92 persen. Di daerah
perkotaan penolong persalinan oleh tenaga medis cenderung lebih
tinggi dibandingkan dengan di daerah perdesaan. Di perdesaan
masih ada 9,39 persen penolong persalinan yang ditolong oleh
dukun beranak/paraji.
Sebesar 57,9 persen anak usia 12-23 bulan sudah mendapat
imunisasi lengkap dan yang mendapatkan imunisasi tidak lengkap
sebesar 32,9 persen. Imunisasi dasar lengkap pada anak usia 12-
23 bulan di perkotaan lebih tinggi daripada di perdesaan. Ada
kecenderungan semakin tinggi pendidikan KRT, maka semakin

Profil Anak Indonesia 2018 xi


BAB 2
tinggi capaian imunisasi dasar lengkapnya.
Sebanyak 79,2 persen balita memiliki status gizi baik. Balita
yang statusnya gizi buruk dan kurang gizi masing-masing sebesar
3,9 dan 13,8 persen. Selain itu, dapat diketahui bahwa terdapat 3,1
persen balita yang memiliki status gizi lebih. Di Indonesia, sekitar
30,8 persen anak balita mengalami stunting. Mereka terdiri dari balita
yang sangat pendek dan balita pendek, masing-masing sebesar 11,5
persen dan 19,3 persen.
Hasil Susenas 2018 menunjukkan bahwa anak usia 0-17 tahun
yang mengalami keluhan kesehatan sebesar 31,59 persen. Anak yang
mengalami keluhan kesehatan dan mengakibatkan terganggunya
pekerjaan, sekolah, atau kegiatan sehari-hari (sakit) sebesar 15,89
persen. Anak-anak yang mengalami keluhan kesehatan di daerah
perkotaan sebesar 32,89 persen, relatif lebih tinggi dibandingkan di
perdesaan sebesar 30,10 persen.
Partisipasi sekolah merupakan salah satu indikator dasar untuk
melihat akses pendidikan bagi penduduk usia sekolah. Mayoritas
anak usia 5-17 tahun berstatus masih bersekolah (83,62 persen).
Sisanya sebesar 12,69 persen anak tidak/belum bersekolah dan 3,70
persen anak berstatus tidak bersekolah lagi. Jika dilihat menurut
tipe daerah, presentase anak usia 5-17 tahun yang berstatus masih
bersekolah di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan,
yaitu 84,30 persen berbanding 82,85 persen. Sebaliknya anak
yang tidak bersekolah lagi, di perkotaan persentasenya lebih kecil
dibanding perdesaan, dengan angka 3,00 persen berbanding 4,48
persen. Kemudahan akses pendidikan, ketersediaan sarana dan
prasarana pendidikan di perkotaan yang lebih lengkap dan memadai
dibandingkan dengan di perdesaan diduga menjadi penyebab
perbedaan tersebut.
Program Indonesia Pinter (PIP) merupakan program
pemberdayaan penduduk miskin khususnya didalam menjaga
keberlanjutan dalam hal pendidikan. Dari 100 anak usia 7-17 tahun
di Indonesia, ada sekitar 20 anak yang memperoleh PIP. Jika
dibandingkan menurut jenis kelamin, persentase anak laki-laki dan
perempuan yang memperoleh PIP relatif sama. Sedangkan jika
dibandingkan menurut tipe daerah, persentase anak usia 7-17 tahun
yang memperoleh PIP di perdesaan lebih banyak dibandingkan
dengan di perkotaan.

xii Profil Anak Indonesia 2018


Dalam upaya penuntasan wajib belajar sembilan tahun,
putus sekolah masih merupakan persoalan tersendiri yang perlu
penanganan serius dalam mencapai pendidikan untuk semua. Angka
putus sekolah dihitung untuk mengukur kemajuan pembangunan di
bidang pendidikan dan untuk melihat keterjangkauan pendidikan
maupun pemerataan pendidikan pada masing-masing kelompok
usia. Pada tahun 2018, sebanyak 0,85 persen anak usia 7-17 tahun
yang putus sekolah. Hal ini menunjukkan dari 100 anak usia 7-17
tahun yang bersekolah, ada sekitar satu anak yang putus sekolah.
Seiring dengan kemajuan teknologi, khususnya dalam era
revolusi industri 4.0, penggunaan media digital internet, bukan lagi
hal yang jarang dilihat terlebih di daerah perkotaan. Internet juga
sudah bukan hal yang asing bagi anak-anak. Sekitar 40,25 persen
anak usia 7-17 tahun pernah mengakses internet selama tiga bulan
terakhir sebelum pencacahan lapangan. Persentase anak perempuan
yang mengakses internet 3,47 persen lebih tinggi dibandingkan
dengan anak laki-laki. Perbedaan yang cukup mencolok anak di
perkotaan yang mengakses internet jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan di perdesaan, yaitu 48,93 persen berbanding 30,48 persen.
Selama kurun waktu 2017-2018 separuh lebih penyelesaian
Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH) ditempuh melalui
proses pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan
pidana ke proses di luar peradilan pidana (diversi), dan didominasi
oleh proses diversi anak kembali ke orang tua. Meski demikian,
masih tedapat 27,20 persen penyelesaian ABH berakhir dengan
putusan pidana penjara. Pada tahun 2018 jumlah anak pelaku tindak
pidana sebanyak 3.048 anak, sedikit menurun dari tahun 2017 yang
mencapai 3.479 anak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 894 anak atau
29,33 persen masih berstatus sebagai tahanan dan sebanyak 2.154
anak atau 70,67 persen telah berstatus narapidana atau anak didik.
Baik tahanan anak maupun narapidana anak jumlahnya menurun
dibanding tahun 2017. Narapidana anak dan tahanan anak didominasi
anak laki-laki yaitu sebesar 98,33 persen narapidana anak dan 97,09
persen tahanan anak.
Persentase anak usia 10-17 tahun yang bekerja pada tahun
2018 mencapai 7,05 persen. Angka ini lebih rendah dibanding
pada tahun 2017 yang mencapai 7,23 persen, dengan persentase
tertinggi di Sulawesi Barat sebesar 16,76 persen. Penurunan angka

Profil Anak Indonesia 2018 xiii


BAB 2
pekerja anak ini menunjukkan hal yang yang baik, meningat bahwa
seharusnya anak-anak tidak boleh bekerja. Lebih dari separuh anak
usia 10-17 tahun yang bekerja berstatus masih bersekolah, yaitu
sebesar 60,16 persen. Hal ini menunjukkan masih banyaknya anak-
anak yang harus membagi perhatian dan waktunya untuk bekerja
dan belajar maupun kegiatan lainnya, padahal seharusnya anak-
anak tersebut hanya fokus pada pelajaran.
Pada anak usia 2-17 tahun sebanyak 1,11 persen mengalami
disabilitas, dan persentase terbesar pada jenis gangguan komunikasi
sebesar 0,48 persen. Sementara menurut kategori keterlantaran
sebanyak 6,95 persen balita dan sebanyak 1,60 persen anak usia
5 - 17 tahun terlantar. Pada kedua kategori usia tersebut persentase
anak terlantar di perdesaan lebih besar dibandingkan di perkotaan.

xiv Profil Anak Indonesia 2018


daftar isi
TIM PENYUSUN …………………………………………………………………………………………….................................................... iii
KATA SAMBUTAN …………………………………………………………………………………………................................................. v
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………………….................................................... vii
RINGKASAN EKSEKUTIF ……………………………………………..........…………………………………................................ ix
DAFTAR ISI ……………..……………………………………………………………………………………...................................................... xv
DAFTAR TABEL …………….....………………………………………………………………………………............................................... xix
DAFTAR GAMBAR ……………..…………………………………………………………………………................................................. xxiii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………………………………............................................ 1
1.1 Latar Belakang ……………………………………………………………………............................................ 3
1.2 Tujuan ………………………………………………………............................................................................ 6
1.3 Sumber Data ………………………………………………………............................................................ 6
1.4 Sistematika Penyajian …………………………………………………………..................................... 6
BAB 2 STRUKTUR PENDUDUK USIA 0-17 TAHUN ……………........................................ 9
2.1 Jumlah dan Tren Penduduk Usia 0-17 Tahun .................................... 11
2.2 Rasio Jenis Kelamin ………………………………………………………............................................ 14
2.3 Komposisi Penduduk Usia 0-17 Tahun …………………………………………….............. 16
BAB 3 HAK SIPIL ANAK ……….............................................................……....................................... 19
3.1 Peraturan, Kebijakan, dan Program …………………....................…….................. 21
3.2 Realisasi Kepemilikan Akta Kelahiran pada Anak …............................ 24
3.3 Capaian Provinsi dalam Realisasi Kepemilikan Akta
Kelahiran pada Anak ……….......................................………………………………………......... 28

Profil Anak Indonesia 2018 xv


BAB 2
BAB 4 LINGKUNGAN KELUARGA DAN PERKAWINAN USIA ANAK ......... 31
4.1 Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif ......................... 34
4.1.1 Anak yang Tinggal dengan Bapak dan Ibu Kandung ...... 34
4.1.2 Anak yang Tinggal dengan Bapak Kandung .......................... 36
4.1.3 Anak yang Tinggal dengan Ibu Kandung ................................. 37
4.1.4 Anak yang Tinggal dengan Keluarga Lain ............................... 38
4.1.5 Aktivitas Bersama Orang Tua ............................................................. 40
4.1.6 Anak yang Menikah ................................................................................... 42
4.1.7 Dampak Pernikahan di Usia Anak .................................................. 44
4.1.7.1 Dampak Buruk Perkawinan Usia Anak pada
Bidang Pendidikan ....................................................................... 45
4.1.7.2 Kehamilan dan Melahirkan Dini ......................................... 46
4.1.7.3 Kepesertaan Keluarga Berencana (KB) ....................... 46
4.2 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).............................................................. 48
4.3 Indikator PAUD ......................................................................................................... 52
4.3.1 Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD ........................................... 52
4.3.2 Angka Kesiapan Sekolah (AKS) ........................................................ 56
BAB 5 KESEHATAN DASAR DAN KESEJAHTERAAN ANAK ............................... 59
5.1 Penolong Persalinan ........................................................................................... 63
5.2 Inisiasi Menyusu Dini (IMD) .............................................................................. 66
5.3 Air Susu Ibu (ASI) .................................................................................................... 68
5.4 Imunisasi ....................................................................................................................... 71
5.5 Berat Badan saat Lahir ........................................................................................ 75
5.6 Status Gizi pada Anak Balita .......................................................................... 76
5.7 Keluhan Kesehatan ............................................................................................... 79
5.7.1 Berobat Jalan ............................................................................................... 80
5.7.2 Rawat Inap ...................................................................................................... 84
5.8 Perilaku Merokok ..................................................................................................... 86
5.9 Status Kepemilikan Rumah ............................................................................. 89
5.10 Akses Terhadap Air Layak .............................................................................. 90

xvi Profil Anak Indonesia 2018


5.11 Akses Terhadap Sanitasi Layak .................................................................. 91
5.12 Rumah Tangga Kumuh ...................................................................................... 92
BAB 6 PENDIDIKAN ANAK ......................................................................................................... 95
6.1 Partisipasi Sekolah .................................................................................................. 98
6.2 Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angka Partisipasi Murni
(APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK) .............................................. 101
6.2.1 Angka Partisipasi Sekolah (APS) ................................................... 102
6.2.2 Angka Partisipasi Murni (APM) ....................................................... 104
6.2.3 Angka Partisipasi Kasar (APK) ......................................................... 106
6.3 Program Indonesia Pintar ................................................................................. 109
6.4 Angka Buta Huruf ................................................................................................... 112
6.5 Putus sekolah ............................................................................................................. 114
6.5.1 Angka Putus Sekolah .............................................................................. 114
6.5.2 Alasan Tidak Bersekolah ..................................................................... 116
6.6 Akses Internet ............................................................................................................ 118
BAB 7 PERLINDUNGAN KHUSUS ........................................................................................ 123
7.1 Upaya Perlindungan Anak di Indonesia .................................................. 125
7.2 Anak yang Berhadapan dengan Hukum ................................................ 127
7.2.1 Anak yang Berkonflik dengan Hukum ........................................ 128
7.2.2 Narapidana Anak ........................................................................................ 130
7.3 Pekerja Anak ............................................................................................................... 133
7.3.1 Anak Bekerja menurt Kelompok Usia, Jenis Kelamin,
dan Tipe Daerah ......................................................................................... 134
7.3.2 Anak Bekerja menurut Provinsi ...................................................... 137
7.3.3 Anak Bekerja menurut Pendidikan ............................................. 139
7.3.4 Anak Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan ....................... 141
7.3.5 Anak Bekerja menurut Status Pekerjaan ................................ 142
7.3.6 Anak Bekerja menurut Jam Kerja ................................................. 146
7.3.7 Anak Bekerja menurut Upah/Gaji/Pendapatan ............... 147
7.4 Anak Penyandang Disabilitas ......................................................................... 149
7.5 Anak Korban Penelantaran .............................................................................. 153

Profil Anak Indonesia 2018 xvii


BAB 2
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................................. 157
LAMPIRAN .................................................................................................................................................... 161

xviii Profil Anak Indonesia 2018


daftar tabel
Tabel 2.1 Proyeksi Penduduk Indonesia Usia 0-17 Tahun (Ribu),
2018-2025 ........................................................................................................................... 12
Tabel 2.2 Penduduk Indonesia menurut Kelompok Usia, Jenis Kelamin,
dan Rasio Jenis Kelamin, 2018 ............................................................................. 15
Tabel 2.3 Penduduk Indonesia Usia 0-17 Tahun, 2018 .............................................. 17
Tabel 4.1 Persentase Anak Usia 0-17 Tahun dan Belum Kawin menurut
Status Tinggal Bersama Bapak dan Ibu Kandung, Jenis Kelamin
dan Tipe Daerah, 2009-2018 ................................................................................. 35
Tabel 4.2 Persentase Anak Usia 0-17 Tahun dan Belum Kawin menurut
Status Tinggal Bersama Bapak Kandung, Jenis Kelamin dan
Tipe Daerah, 2009-2018 ........................................................................................... 36
Tabel 4.3 Persentase Anak Usia 0-17 Tahun dan Belum Kawin menurut
Status Tinggal Bersama Keluarga Lain, Jenis Kelamin dan Tipe
Daerah, 2009-2018 ....................................................................................................... 39
Tabel 4.4 Persentase Anak Perempuan Usia 10-17 Tahun menurut Status
Perkawinan dan Tipe Daerah, 2018 .................................................................. 43
Tabel 4.5 Persentase Anak Perempuan 10-17 Tahun menurut Tipe Daerah,
Status Perkawinan dan Pendidikan Tinggi yang Ditamatkan,
2018 ......................................................................................................................................... 45
Tabel 4.6 Persentase Anak Perempuan Pernah Kawin Usia 15-17 Tahun
menurut Keikutsertaan Penggunaan Alat KB dan Tipe Daerah,
2018 ......................................................................................................................................... 48
Tabel 4.7 PersentaseAnak Usia 0-6Tahunyang Pernah/Sedang Mengikuti
PAUD menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2018 ......................... 49
Tabel 4.8 PersentaseAnak Usia 0-6Tahunyang Pernah/Sedang Mengikuti
PAUD menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin dan Jenis PAUD,
2018 ......................................................................................................................................... 51

Profil Anak Indonesia 2018 xix


BAB 2
Tabel 4.9 Persentase Anak yang Bersekolah di Kelas 1 SD/Sederajat yang
Pernah Mengikuti PAUD menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin,
2018 ............................................................................................................................................ 57
Tabel 5.1 Proporsi Pemberian ASI Saja dalam 24 Jam Terakhir pada
Bayi Usia 0-5 Bulan menurut Kelompok Usia, Jenis Kelamin dan
Tipe Daerah, 2018 ............................................................................................................. 71
Tabel 5.2 Persentase Anak Usia 0-17 Tahun yang Mengalami Keluhan
Kesehatan dan Berobat Jalan dalam Sebulan Terakhir menurut
Tempat Berobat Jalan dan Tipe Daerah, 2018 ............................................ 81
Tabel 5.3 Persentase Anak Usia 0-17 Tahun menurut Jaminan Kesehatan
yang Dimiliki dan Tipe Daerah, 2018 ................................................................... 82
Tabel 5.4 Persentase Anak Usia 0-17 Tahun yang Berobat Jalan dalam
Sebulan Terakhir menurut Jenis Jaminan Kesehatan yang
Digunakan dan Tipe Daerah, 2018 ....................................................................... 83
Tabel 5.5 Persentase Anak Usia 0-17 Tahun yang Rawat Inap dalam
Setahun Terakhir menurut Jaminan Kesehatan yang Digunakan
dan Tipe Daerah, 2018 .................................................................................................. 86
Tabel 6.1 Persentase Anak Usia 5-17 Tahun menurut Tipe Daerah, Jenis
Kelamin, dan Partisipasi Sekolah, 2018 ............................................................. 100
Tabel 6.2 Persentase Anak Usia 5-17 Tahun menurut Kelompok Usia dan
Partisipasi Sekolah, 2018 ............................................................................................. 101
Tabel 6.3 Persentase Anak Usia 7-17 Tahun yang Memperoleh Program
Indonesia Pintar (PIP) menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin,
2018 ............................................................................................................................................ 110
Tabel 6.4 Persentase Anak Usia 7-17 Tahun yang Memperoleh Program
Indonesia Pintar (PIP) menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin, dan
Kepemilikan Kartu Indonesia Pintar (KIP), 2018 ........................................ 111
Tabel 6.5 Angka Buta Huruf Anak Usia 5-17 Tahun menurut Tipe Daerah,
Jenis Kelamin, dan Kelompok Usia Sekolah, 2018 ................................. 113
Tabel 6.6 Angka Putus Sekolah Anak Usia 7-17 Tahun menurut Tipe
Daerah, Jenis Kelamin, dan Jenjang Pendidikan, 2018 ......................... 116
Tabel 6.7 Persentase Anak Usia 7-17 Tahun yang Tidak/Belum Pernah
Bersekolah/Tidak Bersekolah Lagi menurut Alasan, Tipe
Daerah, dan Jenis Kelamin di Indonesia, 2018 ......................................... 117
Tabel 6.8 Persentase Anak Usia 5-17 Tahun yang Mengakses Internet
selama Tiga Bulan Terakhir menurut Tipe Daerah, Kelompok
Usia, dan Jenis Kelamin, 2018 ............................................................................... 119
Tabel 7.1 Perkembangan Komposisi Hasil Pendampingan terhadap Anak
Berkonflik dengan Hukum (Persen), 2017-2018 ...................................... 129

xx Profil Anak Indonesia 2018


Tabel 7.2 Jumlah Narapidana dan Tahanan menurut Kelompok Usia dan
Jenis Kelamin, 2017-2018 ......................................................................................... 131
Tabel 7.3 Jumlah Narapidana Anak menurut Statusnya, 2018 ............................ 132
Tabel 7.4 Rata-rata Upah/Gaji/Pendapatan Selama Sebulan, Anak Usia
10-17 Tahun yang Bekerja menurut tipe Daerah dan Jenis
Kelamin, 2017-2018........................................................................................................ 148

Profil Anak Indonesia 2018 xxi


BAB 2

xxii Profil Anak Indonesia 2018


daftar gambar
Gambar 2.1 Persentase Penduduk 0-17 Tahun menurut Provinsi Tahun 13
2018 .....................................................................................................................................
Gambar 3.1 Persentase Kepemilikan Akta Kelahiran dari Kantor Catatan
Sipil,2018........................................................................................................................... 25
Gambar 3.2 Persentase Kepemilikan Akta Kelahiran menurut Jenis
Kelamin, 2018 ............................................................................................................... 26
Gambar 3.3 Persentase Kepemilikan Akta Kelahiran menurut Tipe
Daerah, 2018 ................................................................................................................. 27
Gambar 3.4 Persentase Kepemilikan Akta Kelahiran Terendah di 5
Provinsi, 2018 ................................................................................................................ 28
Gambar 3.5 Persentase Anak yang Tidak Memiliki Akta Kelahiran, 2017
dan 2018 ........................................................................................................................... 29
Gambar 4.1 Persentase Anak usia 0-17 Tahun dan Belum Kawin menurut
Status Tinggal Bersama Ibu Kandung dan Tipe Daerah,
2009-2018 ...................................................................................................................... 38
Gambar 4.2 Persentase Anak Usia 0-4 Tahun yang Beraktivitas Bersama
Orang Tua/Wali dalam Seminggu Terakhir, 2018 ............................... 40
Gambar 4.3 Persentase Anak Usia 5-17 Tahun dan Belum Kawin yang
Beraktivitas Bersama Orang Tua/Wali dalam Seminggu
Terakhir, 2018.............................. 41
Gambar 4.4 Persentase Anak Perempuan Usia 10-17 Tahun yang
Berstatus Kawin dan Cerai Menurut Usia Kawin Pertama,
2018 ..................................................................................................................................... 44
Gambar 4.5 Persentase Anak Usia 5-6 Tahun yang Pernah/Sedang
Mengikuti PAUD menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin,
2018 ..................................................................................................................................... 50
Gambar 4.6 Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD Usia 3-6 Tahun menurut
Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2018 ........................................................ 54

Profil Anak Indonesia 2018 xxiii


BAB 2
Gambar 4.7 Persentase Anak Usia 3-6 Tahun yang Sedang Mengikuti
PAUD menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2018 ................... 55
Gambar 5.1 Persentase Perempuan Pernah Kawin (PPK) Usia 15-49
Tahun yang Melahirkan Hidup dalam Dua Tahun Terakhir
menurut Penoilong Persalinan dan Tipe Daerah, 2018 ................. 64
Gambar 5.2 Persentase Perempuan Pernah Kawin (PPK) usia 15-49
Tahun yang Melahirkan Hidup dalam Dua Tahun Terakhir
menurut Tempat Melahirkan dan Tipe Daerah, 2018 .................... 65
Gambar 5.3 Proporsi Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan Lama IMD
pada anak usia 0-23 bulan, 2018.................................................................. 66
Gambar 5.4 Proporsi Inisiasi Menyusu Dini (IMD) pada Anak Usia 0-23
Bulan menurut Pendidikan KRT dan Tipe Daerah, 2018 ............ 67
Gambar 5.5 Persentase Anak Usia 0-23 Bulan (Baduta) yang Pernah
Disusui dan Masih Disusui, 2018 ................................................................... 68
Gambar 5.6 Persentase Anak Usia 0-23 Bulan (Baduta) yang Pernah
Disusui dan Masih Disusui menurut Pendidikan KRT, 2018 ...... 69
Gambar 5.7 Persentase Anak Usia 0-23 Bulan (Baduta) yang Pernah
Disusui dan Masih Disusui menurut Tipe Daerah, 2018 ............. 70
Gambar 5.8 Proporsi Jenis Imunisasi Dasar pada Anak Usia 12-23 Bulan,
2018 .................................................................................................................................... 72
Gambar 5.9 Proporsi Imunisasi Dasar Lengkap pada Anak Usia 12-23
Bulan, 2018 ................................................................................................................... 73
Gambar 5.10 Proporsi Imunisasi Dasar Lengkap pada Anak Usia 12-23 Bulan
menurut Tipe Daerah dan Pendidikan KRT, 2018 ........................... 74
Gambar 5.11 Persentase Perempuan Pernah Kawin (PPK) Usia 15-49
Tahun menurut Berat Badan Baduta saat Dilahirkan, 2018 ....... 76
Gambar 5.12 Prevalensi Status Gizi Balita berdasarkan Indikator
Berat Badan dan Usia (BB/U), 2018 .......................................................... 77
Gambar 5.13 Prevalensi Status Gizi Balita berdasarkan Indikator
Tinggi Badan dan U(TB/U), 2018 ................................................................ 78
Gambar 5.14 Persentase Anak Usia 0-17 Tahun yang Mengalami Keluhan
Kesehatan dan yang Sakit dalam Sebulan Terakhir, 2018 ........ 80
Gambar 5.15 Persentase Anak Usia 0-17 Tahun yang Rawat Inap dalam
Setahun Terakhir menurut Jenis Kelamin dan Tipe Daerah,
2018 .................................................................................................................................... 85
Gambar 5.16 Proporsi Merokok pada Anak Usia 10-14 Tahun, 2018 ................. 87
Gambar 5.17 Rata-rata Jumlah Batang Rokok (Kretek, Putih, Linting) per
Hari dan per Minggu yang Dihisap Anak Usia 10-14 Tahun,
2018 .................................................................................................................................... 88

xxiv Profil Anak Indonesia 2018


Gambar 5.18 Persentase Anak Usia 0-17 tahun menurut Status Kepemilikan
Rumah Tempat Tinggal, dan Tipe Daerah, 2018 .............................. 89
Gambar 5.19 Persentase Anak Usia 0-17 Tahun yang Tinggal di Rumah
dengan Fasilitas Air Layak menurut Tipe Daerah, 2018 ............ 90
Gambar 5.20 Persentase Anak Usia 0-17 Tahun yang Tinggal di Rumah
dengan Fasilitas Sanitasi Layak menurut Tipe Daerah, 2018 .. 92
Gambar 5.21 Persentase Anak Usia 0-17 Tahun yang Tinggal di Rumah
Tangga Kumuh menurut Tipe Daerah, 2018 ....................................... 93
Gambar 6.1 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Anak Usia 7-17 Tahun
menurut Kelompok Usia dan Jenis Kelamin, 2018 ......................... 103
Gambar 6.2 Angka Partisipasi Sekolah (APS) Anak Usia 7-17 Tahun
menurut Kelompok Usia dan Tipe Daerah, 2018 ............................. 104
Gambar 6.3 Angka Partisipasi Murni (APM) Anak menurut Jenjang
Pendidikan dan Jenis Kelamin, 2018 ......................................................... 105
Gambar 6.4 Angka Partisipasi Murni (APM) Anak menurut Jenjang
Pendidikan dan Tipe Daerah, 2018 ............................................................. 106
Gambar 6.5 Angka Partisipasi Kasar (APK) Anak menurut Jenjang
Pendidikan dan Jenis Kelamin, 2018 ......................................................... 107
Gambar 6.6 Angka Partisipasi Kasar (APK) Anak menurut Jenjang
Pendidikan dan Tipe Daerah, 2018 ............................................................. 108
Gambar 6.7 Angka Putus Sekolah Anak Usia 7-17 Tahun menurut Tipe
Daerah dan Jenis Kelamin, 2018 ................................................................ 115
Gambar 6.8 Persentase Anak Usia 5-6 Tahun yang Mengakses Internet
selama Tiga Bulan Terakhir menurut Tujuan Mengakses
Internet, 2018 ............................................................................................................... 120
Gambar 6.9 Persentase Anak Usia 7-17 Tahun yang Mengakses Internet
selama Tiga Bulan Terakhir menurut Tujuan Mengakses
Internet, 2018 .............................................................................................................. 121
Gambar 7.1 Perkembangan Jumlah Narapidana Anak Per Bulan, 2017–
2018 .................................................................................................................................... 132
Gambar 7.2 Persentase Anak Usia 10-17 Tahun menurut Aktivitas Bekerja
2017-2018 ....................................................................................................................... 135
Gambar 7.3 Perkembangan Persentase Anak Usia 10-17 tahun yang
Bekerja, 2012-2018 ................................................................................................. 135
Gambar 7.4 Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Kelompok Usia, Tipe Daerah, dan Jenis Kelamin, 2018 .............. 136
Gambar 7.5 Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Provinsi, 2018 .............................................................................................................. 138

Profil Anak Indonesia 2018 xxv


BAB 2
Gambar 7.6 Persentase Anak usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Provinsi dan Kelompok Usia, 2018 ............................................................ 139
Gambar 7.7 Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Partisipasi Sekolah, Tipe Daerah, dam Jenis Kelamin, 2018 .. 140
Gambar 7.8 Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Pendidikan Terakhir yang Ditamatkan, Tipe Daerah, dan
Jenis Kelamin, 2018 .............................................................................................. 141
Gambar 7.9 Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Lapangan Pekerjaan Utama, Tipe Daerah, dan Jenis
Kelamin, 2018 ........................................................................................................... 142
Gambar 7.10 Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Status Pekerjaan Utama, Tipe Daerah, dan Jenis Kelamin,
2018 .................................................................................................................................. 143
Gambar 7.11 Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Sektor Formal-Informal, Tipe Daerah, dan Jenis Kelamin,
2018 .................................................................................................................................. 144
Gambar 7.12 Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Sektor Formal-Informal dan Kelompok Usia, 2018 ...................... 145
Gambar 7.13 Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Jam Kerja dan Kelompok Usia, 2018 ...................................................... 147
Gambar 7.14 Rata-rata Upah/Gaji/Pendapatan Anak Usia 10-17 Tahun
menurut Provinsi (ribu rupiah), 2018 ........................................................ 149
Gambar 7.15 Persentase Anak Penyandang Disabilitas Usia 2 – 17 Tahun
menurut Tipe Daerah, 2018 ........................................................................... 150
Gambar 7.16 Persentase Anak Penyandang Disabilitas Usia 2 – 17 Tahun
menurut Partisipasi Sekolah, 2018 ............................................................ 151
Gambar 7.17 Persentase Anak Penyandang Disabilitas Usia 2 – 17 Tahun
menurut Jenis Kelamin dan Status Disabilitas, 2018 .................. 151
Gambar 7.18 Persentase Anak Penyandang Disabilitas Usia 2 – 17 Tahun
menurut Jenis Disabilitas, 2018 ................................................................... 152
Gambar 7.19 Persentase Anak Usia 0–17 Tahun menurut Kategori
Penelantaran, 2018 ............................................................................................... 154
Gambar 7.20 Persentase Anak Telantar Usia 0–17 Tahun menurut
Kategori Usia, Tipe Daerah, dan Jenis Kelamin, 2018 ................. 155
Gambar 7.21 Persentase Anak Telantar Usia 7–17 Tahun menurut
Partisipasi Sekolah, Tipe Daerah, dan Jenis Kelamin, 2018 .... 156

xxvi Profil Anak Indonesia 2018


BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perwujudan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa yang
berkualitas, berimplikasi pada perlunya pemberian perlindungan
khusus terhadap anak-anak agar bebas berinteraksi dalam kehidupan
di lingkungan masyarakat. Sebagai pertimbangan kebijakan,
pemerintah telah menyadari pentingnya ketersediaan berbagai
macam indikator anak. Berdasarkan UU No. 35 tahun 2014 tentang
perubahan atas UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak
sebagaimana disebutkan pada pasal 1 ayat (1) bahwa anak adalah
seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih
dalam kandungan. Anak merupakan aset pembangunan masa depan
bangsa, karena itu pemerintah perlu berinvestasi secara intensif
pada bidang kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan. Kondisi
tumbuh kembang anak terkait dengan kesehatan dan nutrisi yang
diperlukan, pendidikan dan kesejahteraan anak, lingkungan tempat
anak tumbuh dan berkembang serta faktor-faktor lainnya. Beberapa
hal tersebut merupakan penentu masa depan anak dan juga masa
depan bangsa. Dengan demikian penting untuk mengetahui sejauh
mana indikator-indikator anak telah mencapai kemajuan atau pun
belum.
Pemerintah Indonesia berkomitmen mencapai target dari
program Sustainable Development Goals (SDG’s) pada tahun 2030.
Salah satu target utamanya terkait dengan pembangunan anak
Indonesia. Target yang ingin dicapai diantaranya adalah penghapusan
kemiskinan anak; tidak ada lagi anak-anak kekurangan gizi dan
meninggal karena penyakit yang bisa diobati; menciptakan lingkungan
yang ramah terhadap anak; memenuhi kebutuhan pendidikan anak
khususnya pendidikan di usia dini; dan target lainnya. Bermacam
strategi untuk mencapai target tersebut telah disusun dengan baik
serta berkesinambungan agar dapat diimplementasikan dengan
tepat demi kesejahteraan anak-anak Indonesia.
Masalah perlindungan anak menjadi perhatian utama pemerintah
dalam beberapa tahun terakhir ini. Tantangan perlindungan anak
sangat beragam, mulai dari kemiskinan, kepemilikan akta kelahiran
dan partisipasi anak. Hasil Susenas tahun 2018 menunjukkan bahwa

Profil Anak Indonesia 2019 3


Pendahuluan

masih ada sekitar 16 persen anak yang belum memiliki akta kelahiran.
Di tengah gencarnya sosialisasi pemerintah akan pentingnya
registrasi kelahiran, hampir dua diantara sepuluh anak di Indonesia
yang belum tersentuh program ini. Pemerintah menyadari akan
pentingnya menjamin hak-hak anak khususnya hak atas perlindungan
dari segala bentuk kekerasan, fisik, mental dan lainnya. Hal ini
diwujudkan oleh pemerintah dalam program unggulan Three Ends
yang digagas oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak (Kemen PPPA) sejak tahun 2016 lalu, yaitu End
Violence Against Women and Children (Akhiri Kekerasan terhadap
Perempuan dan Anak); End Human Trafficking (Akhiri Perdagangan
Manusia), dan End Barriers To Economic Justice (Akhiri Kesenjangan
Ekonomi terhadap perempuan). Untuk mendukung ketiga program
penting tersebut diperlukan kerjasama antar berbagai elemen
masyarakat, baik itu pemerintah, organisasi swasta dan masyarakat.
Pada periode 2019–2024, Kemen PPPA memiliki lima
isu prioritas pembangunan pemberdayaan perempuan dan
perlindungan anak. Kelima isu prioritas tersebut, yaitu: (1)
peningkatan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan;
(2) peningkatan peran orang tua dalam pendidikan anak; (3) penurunan
kekerasan terhadap perempuan dan anak; (4) penurunan pekerja anak;
dan (5) pencegahan perkawinan anak.
Masalah utama yang masih terjadi pada anak-anak di
Indonesia yaitu kesenjangan pada berbagai aspek, salah satunya
adalah kesenjangan sosial. Dalam mengatasi kesenjangan,
pemerintah melalui Kemen PPPA membina organisasi anak yaitu
Forum Anak Nasional (FAN). Forum ini dikembangkan pada setiap
jenjang administrasi pemerintahan seperti kelurahan, desa,
kawasan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga tingkat
nasional. Tentunya, untuk mendukung program ini sebagaimana
tercantum dalam pasal 21 Undang-undang perlindungan anak
bahwa pemerintah daerah berkewajiban dan bertanggung jawab
untuk melaksanakan dan mendukung kebijakan nasional dalam
penyelenggaraan perlindungan anak di daerah dengan diwujudkan
melalui upaya dalam membangun Kabupaten/kota Layak Anak (KLA).
Melalui program tersebut, pemerintah mengintegrasikan komitmen
dari pemerintah, masyarakat, media dan dunia usaha dalam rangka
pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak.

4 Profil Anak Indonesia 2019


Pendahuluan

Hasil proyeksi penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun


2018 menunjukkan bahwa sebesar 30,1 persen atau 79,55 juta jiwa
penduduk Indonesia adalah anak-anak berusia 0-17 tahun. Artinya
bisa dikatakan bahwa satu diantara tiga penduduk Indonesia adalah
anak-anak. Dalam beberapa kurun waktu ke depan diproyeksikan
jumlah anak di Indonesia tidak akan mengalami perubahan yang
signifikan.
Profil Anak Indonesia tahun 2019 ini menyajikan beberapa
dimensi pembangunan anak yang menggambarkan keadaan anak
di Indonesia. Salah satu aspek penting untuk melihat kualitas anak
adalah dari sisi pendidikan. Hasil Susenas tahun 2018 menunjukkan
bahwa anak usia 5-17 tahun yang berstatus sekolah sebesar 83,62
persen. Pada kelompok usia tersebut ternyata masih ditemukan
sekitar 12,68 persen anak yang belum bersekolah dan 3,70 persen
anak yang tidak bersekolah lagi. Hal ini dikarenakan masih adanya
permasalahan terbatasnya akses pendidikan bagi anak, terutama
bagi anak keluarga miskin dan anak yang tinggal di komunitas
masyarakat terpencil.
Perlindungan anak dari berbagai tindak kekerasan, perdagangan
anak, eksploitasi, dan diskriminasi juga masih belum optimal. Hal
ini antara lain terlihat dari jumlah anak bekerja yang masih relatif
tinggi. Sebanyak 2,6 juta anak atau sekitar 7,05 persen anak berusia
10-17 tahun sudah bekerja (Sakernas 2018). Lebih dari separuh anak
yang bekerja tersebut berstatus masih bersekolah, yaitu sebesar
60,16 persen. Pekerja anak diduga erat hubungannya dengan
kemiskinan dan keterbelakangan. Dapat kita lihat bahwa sebagian
besar anak bekerja karena berasal dari keluarga yang tidak mampu/
miskin. Perlindungan khusus terhadap anak yang diekploitasi secara
ekonomi salah satunya dengan memberikan perlindungan kepada
pekerja anak berupa pelibatan berbagai perusahaan, serikat pekerja,
lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat dalam penghapusan
eksploitasi terhadap anak secara ekonomi.
Berkaitan dengan kondisi tersebut, maka diperlukan adanya
data tentang profil anak sebagai gambaran keadaan anak-anak secara
menyeluruh di berbagai bidang. BPS menyambut baik keinginan
Kemen PPPA dalam menyediakan data untuk berbagai pengguna
data baik di lingkungan Kemen PPPA maupun kementerian/
lembaga, serta institusi swasta lainnya. Publikasi ini diharapkan

Profil Anak Indonesia 2019 5


Pendahuluan

dapat melengkapi berbagai macam publikasi tentang anak lainnya,


sehingga pemerintah dan berbagai kementerian maupun lembaga
terkait dapat memberikan manfaat lebih optimal serta kebijakan
yang tepat terhadap pembangunan anak. Pengoptimalan anggaran
di setiap kementerian maupun lembaga yang mempunyai program
pembangunan anak diharapkan mampu mempercepat tercapainya
target-target pembangunan anak yang ada di dalam SDG’s.

1.2. Tujuan
Publikasi ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan
menginformasikan kepada pemerintah yaitu kementerian/lembaga
dan berbagai institusi swasta dan masyarakat tentang kondisi
anak -anak di Indonesia sekaligus sebagai masukan dalam rangka
perencanaan dan evaluasi atas pembangunan anak yang telah
dan sedang berlangsung. Kondisi anak di Indonesia yang disajikan
dalam publikasi ini meliputi beberapa dimensi yaitu demografi,
lingkungan keluarga, pengasuhan alternatif, pendidikan, kesehatan
dan kesejahteraan dasar, perlindungan anak terhadap masalah
sosial, hukum, kekerasan, anak yang bekerja serta disabilitas anak.

1.3. Sumber Data


Publikasi ini menggunakan berbagai macam sumber data, dari
hasil survei-survei yang dilaksanakan oleh BPS dan instansi lain,
serta dari hasil pencatatan administrasi sebagai berikut:
a. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas): Kor dan MSBP (Modul
Sosial Budaya dan Pendidikan), 2018;
b. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), 2018;
c. Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2045 Hasil SUPAS 2015;
d. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), 2018;
e. Lembaga Pemasyarakatan Republik Indonesia.

1.4. Sistematika Penyajian


Buku ini disajikan dalam tujuh bab. Pemilihan bab dalam
publikasi Profil Anak Indonesia 2019 ini disesuaikan dengan lima
kelompok hak anak pada Konvensi Hak Anak (KHA) yang telah
diratifikasi pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden
(Keppres) No.36 tahun 1990 yaitu: hak sipil dan kebebasan;
lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif; kesehatan dan

6 Profil Anak Indonesia 2019


Pendahuluan

kesejahteraan dasar; pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan


kegiatan seni budaya; dan perlindungan khusus.
Bab pertama dimulai dari pendahuluan yang berisi latar
belakang penyusunan publikasi, tujuan, sumber data, dan sistematika
publikasi. Bab kedua mengulas mengenai struktur penduduk berusia
0-17 tahun. Bab ketiga membahas tentang kepemilikan akta kelahiran
yang merupakan hak sipil anak. Bab keempat berisi lingkungan
keluarga dan pengasuhan alternatif. Bab kelima tentang kesehatan
dasar dan kesejahteraan anak. Bab keenam menyajikan potret
pendidikan anak. Terakhir Bab ketujuh dengan topik perlindungan
khusus yang berisi tentang anak yang bermasalah dengan hukum,
anak yang bekerja, anak penyandang disablitas dan anak korban
penelantaran.

Profil Anak Indonesia 2019 7


BAB 2

struktur penduduk
usia 0-17 tahun
Jumlah anak-anak di Indonesia pada tahun 2018,
mencapai 79,5 juta orang atau sekitar 30,1 persen dari
total penduduk Indonesia. Terdiri dari 40,4 juta anak
laki-laki dan 39,1 juta anak perempuan. Anak terbanyak
berada di Provinsi Riau, jumlahnya sebesar 35,5% dari total
penduduk Riau, sedangkan jumlah anak terkecil terdapat
di Provinsi DI Yogyakarta. Sekitar 24,8% dari penduduk
DI Yogyakarta adalah anak usia 0-17 tahun. Rasio jenis
kelamin anak di Indonesia sebesar 103,3 artinya dari setiap
100 anak perempuan terdapat sekitar 103 anak laki-laki.

2.1. Jumlah dan Tren Penduduk Usia 0-17 Tahun


Pada tahun 2018 jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan
mencapai 264,2 juta orang. Indonesia sudah menempati posisi
ke-4 dunia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar.
Berdasarkan hasil Proyeksi Penduduk Indonesia tahun 2015-2045
yang disusun dari hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS)
2015, diperkirakan jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 282,5
juta orang pada tahun 2025. Dalam kurun 7 tahun diperkirakan akan
bertambah sebanyak 18,3 juta orang dibanding tahun 2018.
Tidak sejalan dengan pola pertambahan total penduduknya
yang menaik setiap tahun, secara umum jumlah penduduk 0-17
tahun diproyeksikan akan mengalami tren menurun mulai tahun
2018 hingga tahun 2025. Tahun 2018 penduduk anak di Indonesia
mencapai sekitar 30,1 persen dari total penduduk Indonesia
atau sebesar 79,5 juta orang. Tahun 2025 diperkirakan menurun
jumlahnya menjadi sebesar 79,0 juta orang, turun sekitar setengah
juta orang dibanding tahun 2018 seperti yang disajikan pada Tabel
2.1. Terjadinya penurunan jumlah penduduk anak ini diasumsikan
sebagai akibat dari mulai menurunnya angka Total Fertility Rate

Profil Anak Indonesia 2019 11


Struktur Penduduk Usia 0-17 Tahun

(TFR) Indonesia pada masa-masa yang akan datang. Penurunan TFR


merupakan salah satu target yang ingin dicapai Indonesia dalam
Sustainable Development Goals (SDG’s). Meningkatnya partisipasi
sekolah khususnya pada perempuan dan semakin tingginya
kesadaran akan kesetaraan gender adalah beberapa faktor yang
diduga menjadi penyebab turunnya TFR Indonesia di masa yang
akan datang.

Tabel 2.1. Proyeksi Penduduk Indonesia (Ribu), 2018-2025


Tahun
Kelompok
Usia
2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

0-4 21 990 21 974 21 952 21 892 21 856 21 845 21 858 21 896

5-9 22 044 21 999 21 945 21 939 21 939 21 940 21 927 21 906

10-14 22 226 22 200 22 169 22 138 22 082 22 020 21 976 21 924

15-17 13 292 13 299 13 307 13 305 13 307 13 295 13 277 13 250

0-17 79 552 79 472 79 373 79 275 79 184 79 100 79 038 78 976

18+ 184 610 187 440 190 230 192 974 195 675 198 332 200 927 203 478

Jumlah 264 162 266 912 269 603 272 249 274 859 277 432 279 965 282 455

Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia Hasil SUPAS 2015, BPS

Penurunan populasi anak pada beberapa kelompok usia


mempunyai pola berbeda antara tahun 2018-2025 seperti terlihat
pada Tabel 2.1. Pada kelompok usia 0-4 tahun, tren menurun
dimulai sejak tahun 2018 hingga tahun 2023, kemudian terjadi
kenaikan lagi hingga tahun 2025. Begitu pula pada kelompok usia
5-9 tahun, penurunan jumlah penduduk pada kelompok ini terjadi
pada tahun 2018 hingga tahun 2022, naik kembali di tahun 2023,
kemudian trennya turun sampai tahun 2025. Pada kelompok usia
10-14 tahun polanya sejalan dengan pola penurunan penduduk 0-17
tahun, jumlah anak mengalami penurunan mulai tahun 2018 hingga
tahun 2025. Sedangkan pada kelompok usia 15-17, jumlah penduduk
anak mengalami perkembangan yang fluktuatif, tahun 2018 sampai
2021 trennya naik, lalu turun pada tahun 2022, naik kembali pada
tahun 2023 kemudian mulai mengalami penurunan secara konsisten
hingga tahun 2025.

12 Profil Anak Indonesia 2019


BAB 2
Struktur Penduduk Usia 0-17 Tahun

Perbedaan tren antar kelompok usia ini dimasa mendatang


harus diantisipasi oleh pemerintah dengan merencanakan program-
program yang tepat agar perubahan komposisi penduduk usia 0-17
ini tidak menjadi penghambat jalannya pembangunan. Penurunan
jumlah penduduk pada kelompok usia tertentu membawa implikasi
perubahan kebijakan pada berbagai bidang.

Gambar 2.1. Persentase penduduk 0-17 tahun menurut provinsi tahun 2018
Riau 35,5
Nusa Tenggara Timur 35,3
Sulawesi Tenggara 35,1
Papua Barat 34,7
Aceh 34,5
Maluku 34,3
Sumatera Utara 34,3
Sulawesi Barat 34,2
Maluku Utara 33,9
Sumatera Barat 33,6
Papua 33,4
Nusa Tenggara Barat 32,6
Sumatera Selatan 32,6
Kalimantan Utara 32,4
Sulawesi Tengah 32,1
Kepulauan Riau 32,0
Kalimantan Barat 31,8
Kalimantan Selatan 31,7
Banten 31,3
Lampung 30,9
Jambi 30,8
Kalimantan Tengah 30,7
Kepulauan Bangka Belitung 30,6
Bengkulu 30,5
Jawa Barat 30,5
Gorontalo 30,4
Indonesia 30,1
Kalimantan Timur 30,1
Sulawesi Selatan 29,7
Sulawesi Utara 28,4
Jawa Tengah 27,9
DKI Jakarta 27,8
Bali 27,3
Jawa Timur 25,7
DI Yogyakarta 24,8

Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia Hasil SUPAS 2015, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 13


Struktur Penduduk Usia 0-17 Tahun

Gambar 2.1 menyajikan persentase penduduk usia 0-17 tahun


menurut provinsi pada tahun 2018. Secara umum, tiga perempat
dari provinsi-provinsi di Indonesia persentase jumlah anak-anaknya
melebihi rata-rata jumlah anak di Indonesia. Jumlah anak terbanyak
terdapat pada Provinsi Riau, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi
Tenggara yang persentasenya masing-masing mencapai sekitar 35
persen. Sedangkan untuk jumlah anak terkecil dapat ditemui pada
Provinsi DI Yogyakarta. Hampir seperempat penduduk Yogyakarta
adalah anak berusia 0-17 tahun. Sedikitnya jumlah anak-anak
di Yogyakarta ini dibanding dengan provinsi lainnya salah satu
penyebabnya karena tingkat fertilitas yang rendah. Angka kelahiran
total (TFR) di Yogyakarta dari hasil Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) 2017 sebesar 2,2. Sementara angka kelahiran total
yang tertinggi disandang oleh provinsi Nusa Tenggara Timur dengan
TFR mencapai 3,4.

2.2. Rasio Jenis Kelamin


Data mengenai rasio jenis kelamin (RJK) berguna untuk
pengembangan perencanaan pembangunan yang berwawasan
gender, terutama yang berkaitan dengan perimbangan pembangunan
laki-laki dan perempuan secara adil. Misalnya, karena adat dan
kebiasaan jaman dulu yang lebih mengutamakan pendidikan laki-
laki dibanding perempuan, maka pengembangan pendidikan
berwawasan gender harus memperhitungkan kedua jenis kelamin
dengan mengetahui berapa banyaknya laki-laki dan perempuan
dalam usia yang sama. Informasi tentang rasio jenis kelamin juga
penting diketahui oleh para politisi, terutama untuk meningkatkan
keterwakilan perempuan dalam parlemen.
RJK merupakan perbandingan banyaknya penduduk laki-laki
dengan penduduk perempuan pada suatu wilayah dalam kurun
waktu tertentu. Kondisi RJK di suatu daerah dapat dipengaruhi
oleh beberapa hal, seperti pola mortalitas dan fertilitas antara
penduduk laki-laki dan perempuan dan pola migrasi penduduk
laki-laki dan perempuan. Angka yang ditampilkan digunakan untuk
menggambarkan jumlah penduduk laki-laki terhadap 100 penduduk
perempuan.
Secara umum, penduduk laki-laki di Indonesia lebih banyak
dibandingkan perempuan (Tabel 2.2). Jumlah laki-laki 132,7 juta

14 Profil Anak Indonesia 2019


BAB 2
Struktur Penduduk Usia 0-17 Tahun

orang sedangkan perempuan sebesar 131,5 juta orang. RJK Indonesia


tahun 2018 sebesar 100,92. Nilai ini diartikan setiap 100 penduduk
perempuan akan terdapat 101 penduduk laki-laki. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa jumlah penduduk laki-laki dan perempuan
cukup berimbang di Indonesia.

Tabel 2.2. Penduduk Indonesia menurut Kelompok usia, Jenis Kelamin,


dan Rasio Jenis Kelamin, 2018

Laki-laki Perempuan Laki-laki+Perempuan Rasio Jenis


Kelompok
Kelamin
Usia Jumlah Jumlah Jumlah
% % % (RJK)
(ribu) (ribu) (ribu)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

0-17 40 414 30,46 39 138 29,77 79 552 30,11 103,26

18+ 92 269 69,54 92 341 70,23 184 610 69,89 99,92

Jumlah 132 683 100,00 131 479 100,00 264 162 100,00 100,92

Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia Hasil SUPAS 2015, BPS

Jika diamati RJK untuk penduduk usia 0-17 tahun, polanya


sejalan dengan RJK Indonesia. Lebih banyak anak laki-lakinya
dibanding anak perempuan. Dari 100 anak perempuan terdapat
sekitar 103 anak laki-laki, dengan RJK sebesar 103,26. Sementara
untuk penduduk usia 18 tahun ke atas, jumlah perempuan sedikit
lebih banyak dibanding jumlah laki-lakinya, dengan rasio sebesar
99,92. Jumlah perempuan usia dewasa 18 tahun ke atas bisa
dikatakan berimbang dengan jumlah laki-laki dewasanya, diantara
100 penduduk perempuan terdapat 100 penduduk laki-laki.
Pembangunan yang berkesinambungan harus juga melibatkan
pembangunan pada anak. Membiarkan anak-anak tidak mendapatkan
apa yang mereka butuhkan sekarang untuk masa yang akan datang
artinya sama saja dengan mempertaruhkan masa depan bangsa
Indonesia di masa depan. Dengan mempersiapkan segala macam
kebutuhan anak pada masa sekarang, kita mempersiapkan bangsa
Indonesia untuk mampu bersaing di tataran global di masa yang
akan datang.

Profil Anak Indonesia 2019 15


Struktur Penduduk Usia 0-17 Tahun

2.3. Komposisi Penduduk Usia 0-17 Tahun


Struktur usia penduduk dipengaruhi oleh tiga variabel
demografi, yaitu kelahiran, kematian, dan migrasi. Faktor sosial-
ekonomi suatu negara akan mempengaruhi struktur usia penduduk
melalui ketiga variabel demografi tersebut. Perbedaan struktur usia
akan menimbulkan pula perbedaan dalam aspek sosial-ekonomi,
seperti masalah angkatan kerja, pertumbuhan penduduk, dan
masalah pendidikan. Di sektor pendidikan misalnya, pemerintah
harus mengukur kebutuhan pada sektor ini. Dari indikator APS
(Angka Partisipasi Sekolah), APK (Angka Partisipasi Sekolah Kasar)
dan APM (Angka Partisipasi Sekolah Murni) pada suatu wilayah
bisa dicermati berapa persen penduduk yang sudah mengenyam
pendidikan baik tingkat dasar, menengah maupun tinggi. Dari
komposisi anak menurut kelompok usia ini, pemerintah diharapkan
mampu merumuskan berbagai strategi kebijakan terkait anak.
Tabel 2.3 menyajikan penduduk Indonesia menurut usia
tunggal mulai dari 0 sampai usia 17 tahun pada tahun 2018. Secara
keseluruhan penduduk laki-laki lebih banyak daripada penduduk
perempuan pada setiap rentang usia. Komposisi penduduk anak
terbanyak adalah pada usia 7 sampai 12 tahun, yang merupakan
usia bersekolah di jenjang pendidikan dasar (SD). Penduduk yang
berada pada kelompok usia SD ini mencapai 33,4 persen atau
sebesar 26,6 juta anak. Jika dikaitkan dengan bidang pendidikan,
antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memiliki
strategi agar pendidikan dasar dapat dinikmati secara optimal oleh
kelompok usia tersebut. Kebijakan peningkatan perluasan dan
pemerataan pendidikan dilaksanakan antara lain melalui
penyediaan fasilitas layanan pendidikan berupa pembangunan
unit sekolah baru; penambahan ruang kelas dan penyediaan
fasilitas pendukungnya; penyediaan berbagai pendidikan alternatif
bagi masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus; serta
penyediaan berbagai beasiswa dan bantuan dana operasional
sekolah yang dalam pelaksanaannya dilakukan dengan melibatkan
peran aktif masyarakat.
Komposisi penduduk terbanyak kedua berada pada kelompok
usia balita, yaitu penduduk yang berusia di bawah 5 tahun dengan
jumlah sebesar 21,9 juta orang atau sekitar 27,6 persen dari total
penduduk 0-17 tahun. Dari sudut pandang kesehatan, tiap anak

16 Profil Anak Indonesia 2019


BAB 2
Struktur Penduduk Usia 0-17 Tahun

Tabel 2.3. Penduduk Indonesia usia 0-17 Tahun, 2018

Usia Laki-Laki Perempuan Laki-Laki+Perempuan

(1) (2) (3) (4)

0 2 228 827 2 175 998 4 404 825


1 2 229 119 2 178 636 4 407 755
2 2 232 391 2 183 059 4 415 450
3 2 233 853 2 143 265 4 377 118
4 2 239 818 2 145 107 4 384 925
5 2 240 701 2 143 196 4 383 897
6 2 246 071 2 151 623 4 397 694
7 2 253 297 2 160 297 4 413 594
8 2 254 330 2 170 006 4 424 336
9 2 255 312 2 168 755 4 424 067
10 2 264 217 2 177 507 4 441 724
11 2 262 962 2 186 265 4 449 227
12 2 254 816 2 185 077 4 439 893
13 2 256 730 2 193 972 4 450 702
14 2 247 654 2 196 922 4 444 576
15 2 241 427 2 194 918 4 436 345
16 2 238 857 2 193 846 4 432 703
17 2 233 600 2 189 653 4 423 253
Jumlah 40 413 982 39 138 102 79 552 084
Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia Hasil SUPAS 2015, BPS

seharusnya mendapatkan imunisasi, mendapatkan asupan gizi yang


cukup, mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dan
lainnya terkait kebutuhan layanan kesehatan. Upaya pemenuhan gizi
pada anak balita menjadi sangat penting, sebab jika tidak dipenuhi
asupan nutrisinya, maka dampaknya pada perkembangan anak akan
bersifat permanen. Perubahan permanen inilah yang menimbulkan
masalah jangka panjang seperti stunting. Pada tahun 2030 diharapkan
tidak ada anak Indonesia yang kelaparan dan kekurangan gizi, tidak
ada anak yang meninggal karena penyakit yang bisa disembuhkan,
dan tidak ada lagi anak yang tidak memiliki akta kelahiran.

Profil Anak Indonesia 2019 17


BAB 3

HAK SIPIL ANAK


Kementerian Dalam Negeri menargetkan pada tahun
2018 sebanyak 82,5 persen anak yang berusia 0-18
tahun sudah memiliki akta kelahiran. Hasil Susenas
2018 menunjukkan 83,55 persen anak Indonesia sudah
memiliki akta kelahiran, hal ini menunjukkan bahwa target
ini sudah tercapai. Kepemilikan akta kelahiran pada anak
di perkotaan sepuluh persen lebih tinggi daripada di
perdesaan, dengan angka mencapai 88,31 dan 78,15 persen.

3.1. Peraturan, Kebijakan, dan Program


Salah satu agenda global mengenai hak asasi manusia
yaitu registrasi kelahiran yang diterjemahkan dalam bentuk
kepemilikan akta kelahiran. Ada suatu konsensus global tentang
hak seseorang memperoleh nama dan kebangsaan. Hak seseorang
untuk memperoleh nama dan kebangsaan mulanya diatur dalam
Deklarasi Hak-Hak Asasi Manusia tahun 1948. Konvensi tahun 1961
tentang Pengurangan Penduduk tanpa Status Kewarganegaraan
menyebutkan tentang siapapun yang lahir dalam suatu negara
atau diluar negeri, termasuk juga yang ditelantarkan dijamin
haknya memperoleh status kewarganegaraan. Hak atas nama dan
kewarganegaraan termaktub dalam asas ke-3 Deklarasi Hak Anak
tahun 1959, yang kemudian menjadi dasar pembentukan Konvensi
Hak Anak tahun 1989.
Kepemilikan akta kelahiran akan memungkinkan seorang
anak mendapat berbagai macam layanan dan perlindungan dari
pemerintah. Dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak
merupakan masa depan bangsa dan generasi penerus cita-cita
bangsa, sehingga negara berkewajiban memenuhi hak setiap anak
atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, berpartisipasi,
perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi. Dari sisi
perkembangan fisik dan psikis manusia, anak masih merupakan
pribadi yang lemah, belum dewasa dan masih membutuhkan
perlindungan.

Profil Anak Indonesia 2019 21


Hak sipil anak
Hak Sipil Anak

Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orang


tua karenanya berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap
penyelenggaraan perlindungan anak. Salah satu hak vital anak yang
wajib dipenuhi adalah masalah hak sipil anak. Ketidakjelasan hak sipil
anak akan berdampak tidak hanya pada status warga negara serta
perlindungan terhadap anak tetapi juga pada hak dan kewajiban
anak yang bersangkutan dimasa yang akan datang.
Di Indonesia, akta kelahiran telah ditetapkan sebagai
syarat didalam memperoleh beragam pelayanan di masyarakat.
Termasuk didalamnya adalah pengurusan status kewarganegaraan,
administrasi kependudukan seperti KTP dan KK, keperluan
memasuki dunia pendidikan (TK sampai dengan perguruan tinggi),
pendaftaran pernikahan di KUA, melamar pekerjaan, pembuatan
paspor, mengurus hak ahli waris, mengurus asuransi, mengurus
tunjangan keluarga, mengurus hak dana pensiun, melaksanakan
ibadah haji dan lain lain.
Bila peristiwa kelahiran tidak/belum tercatat dalam akta
kelahiran maka dampak terhadap anak juga tidak sedikit. Banyak
permasalahan yang terjadi berpangkal dari adanya manipulasi
(rekayasa) identitas anak. Semakin tidak jelas identitas seorang anak,
maka semakin mudah terjadi eksploitasi terhadap anak. Keberadaan
anak, baik nama maupun silsilah secara de jure dianggap tidak ada,
dan bahkan kewarganegaraannya tidak terlindungi. Termasuk dalam
dampak dari ketiadaan akta kelahiran adalah perdagangan bayi
dan anak, serta eksploitasi terhadap tenaga kerja dan kekerasan
terhadap anak.
Pada tahun 1990 Indonesia telah meratifikasi Konvensi
PBB tahun 1989 mengenai hak-hak anak, dimana Indonesia telah
mengharuskan kepada semua anak untuk didaftarkan segera setelah
kelahiran dan harus mempunyai nama serta kewarganegaraan.
Pendaftaran kelahiran dilakukan secara gratis bagi semua anak,
dengan harapan akan dapat meningkatkan pemenuhan hak identitas
anak dan meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya
pencatatan kelahiran anak.
Melalui Undang Undang (UU) Nomor 23 tahun 2002 tentang
perlindungan anak dan Undang Undang Nomor 23 tahun
2006 tentang administrasi kependudukan Indonesia juga telah
menerapkan peraturan tentang hak-hak anak terkait dengan akta

22 Profil Anak Indonesia 2018


BAB 3Hak Sipil Anak

kelahiran. Pada UU yang pertama tersebut menekankan bahwa


akta kelahiran menjadi hak anak dan tanggung jawab pemerintah
sepenuhnya. Sementara pada UU yang kedua mengatur lebih lanjut
tentang pemberian akta kelahiran.
Lebih lanjut pada UU Nomor 23 tahun 2006 telah menekankan
akan pentingnya akta kelahiran dan menyebutkan bahwa setiap
kelahiran wajib dilaporkan oleh penduduk kepada instansi pelaksana
(Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten/kota) pada
tempat terjadinya peristiwa kelahiran paling lambat 60 (enam puluh)
hari sejak kelahiran.
Sebagai instansi yang bertanggung jawab terhadap pemenuhan
hak akta kelahiran, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) telah
mengeluarkan rencana strategis untuk mencapai target kepemilikan
akta kelahiran universal bagi seluruh anak di Indonesia pada tahun
2008. Target rencana strategis tersebut meliputi 16 program yang
terdiri dari 11 program utama dan 5 program pendukung, yaitu:
1. Melembagakan dan memperkuat institusi;
2. Mengeluarkan peraturan untuk menjamin tercapainya akta
kelahiran universal pada tahun 2011;
3. Mendirikan unit pendaftaran akta kelahiran di tingkat lokal;
4. Membuat prosedur pelayanan pengurusan akta kelahiran;
5. Meningkatkan kemampuan staf pengurusan akta kelahiran;
6. Membangun basis data kelahiran;
7. Meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya akta
kelahiran;
8. Mengadakan pendaftaran umum akta kelahiran;
9. Membebaskan biaya pengurusan akta nikah bagi penduduk
muslim;
10. Membebaskan biaya pengurusan akta nikah bagi muslim
dan non muslim;
11. Pengawasan, evaluasi, dan pelaporan program akta
kelahiran.
Sedangkan 5 (lima) program pendukung lainnya adalah:
1. Mencarikan dukungan melalui parlemen;
2. Membangun statistik kelahiran di tingkat kabupaten/kota;
3. Pemahaman statistik kelahiran;
4. Mengeluarkan KTP anak;

Profil Anak Indonesia 2019 23


Hak sipil anak
Hak Sipil Anak

5. Mempercepat penentuan lokasi proyek percobaan untuk


registrasi kelahiran.
Implementasi rencana strategis tersebut, berbeda antar satu
daerah dengan daerah lain, antara tingkat provinsi dan tingkat
kabupaten/kota, dimana ada beberapa kabupaten/kota yang
menggratiskan biaya pengurusan akta kelahiran.
Kemendagri menargetkan sebanyak 82,5 persen anak yang
berusia 0-18 tahun sudah memiliki akta kelahiran pada tahun 2018.
Hasil Susenas 2018 menunjukkan 83,55 persen anak Indonesia
sudah memiliki akta kelahiran, hal ini menunjukkan bahwa target
ini sudah tercapai. Dalam mencapai target tersebut Ditjen Dukcapil
Kemendagri telah mengadakan bimbangan teknis (bimtek) untuk
melakukan berbagai langkah strategis mulai dari perencanaan,
pelasanaan hingga pengawasan. Ditjen Dukcapil Kemendagri dalam
hal ini terus membina daerah untuk berusaha seoptimal mungkin
melayani masyarakat. Masih dalam pencapaian target kepemilikan
akta kelahiran, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk
memudahkan dalam memperoleh akta kelahiran sebagai hak sipil
anak, seperti tertuang dalam Undang-Undang nomor 24 tahun 2013
tentang perubahan atas Undang-Undang 23 tahun 2006 tentang
administrasi kependudukan. Sesuai dengan keputusan Mahkamah
Konstitusi tanggal 30 April 2013, bahwa laporan penerbitan akta
kelahiran yang pelaporannya melebihi batas waktu 1 (satu) tahun
yang semula memerlukan penetapan Pengadilan Negeri, diubah
cukup dengan Keputusan Kepala Dinas Kependudukan dan
Pencatatan Sipil Kabupaten/Kota (UU No. 24 tahun 2013 pasal 32
ayat 1).

3.2. Realisasi Kepemilikan Akta Kelahiran pada


Anak
Disagregasi data kepemilikan akta kelahiran menurut jenis
kelamin, tipe daerah, dan provinsi dimaksudkan untuk melihat sejauh
mana sasaran pemenuhan akan akta kelahiran anak Indonesia telah
terpenuhi. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2018
mengumpulkan variabel tentang kepemilikan akta kelahiran. Secara
statistik kepemilikan akta kelahiran pada anak Indonesia terlihat
pada Gambar 3.1. Hasil Susenas 2018 menunjukkan bahwa sekitar
65,24 persen anak Indonesia telah memiliki akta kelahiran dan

24 Profil Anak Indonesia 2018


BAB 3 Hak Sipil Anak

dapat menujukkannya. Masih ada sekitar 18,31 persen yang memiliki


akta kelahiran namun tidak dapat menunjukkannya. Sayangnya,
ada sekitar 16,13 persen anak Indonesia yang tidak memiliki akta
kelahiran, bahkan ada sekitar 0,32 persen yang orang tuanya tidak
tahu tentang akta kelahiran.

Gambar 3.1. Persentase Kepemilikan Akta Kelahiran dari Kantor


Catatan Sipil, 2018

Tidak tahu
0,32%
Tidak memiliki
16,13%

Ya, tidak dapat


ditunjukkan
18,31%

Ya, dapat ditunjukkan


65,24%

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Di tengah gencarnya sosialisasi pemerintah akan pentingnya


registrasi kelahiran, hampir dua diantara sepuluh anak di Indonesia
yang belum tersentuh program ini. Setelah hampir tiga dekade
berjalan sejak ratifikasi konvensi hak anak pada tahun 1990,
tampaknya pemerintah masih perlu menerapkan berbagai macam
strategi yang lebih komprehensif guna meningkatkan peran serta
masyarakat agar berpartisipasi dalam program kepemilikan akta
kelahiran bagi anak. Peniadaan biaya pengurusan akta kelahiran
merupakan salah satu langkah progresif yang telah diambil oleh
pemerintah untuk memenuhi hak anak Indonesia atas akta kelahiran.
Namun lokasi geografis Indonesia menimbulkan mahalnya biaya
transportasi, sehingga kepemilikan akta kelahiran di daerah
yang secara geografis sulit, masih rendah. Terobosan baru telah

Profil Anak Indonesia 2019 25


Hak sipil anak
Hak Sipil Anak

diambil oleh Kemendagri melalui Permendagri Nomor 118 Tahun


2017 tentang Blangko Kartu Keluarga, Register, dan Kutipan Akta
Pencatatan Sipil yang mengatur tentang pembuatan akta kelahiran
secara online . Walaupun baru sebagian kecil daerah yang telah
mengaplikasikannya, diharapkan dengan terobosan ini peran
serta masyarakat untuk pemenuhan hak anak akan akta kelahiran
meningkat, sehingga selanjutnya berdampak kepada peningkatan
proporsi kepemilikan akta kelahiran secara nasional.

Gambar 3.2. Persentase Kepemilikan Akta Kelahiran menurut jenis


kelamin, 2018
64,90 65,61

18,36 18,24 16,40 15,86

0,34 0,29

Ya, dapat ditunjukkan Ya, tidak dapat Tidak memiliki Tidak tahu
ditunjukkan

Laki-Laki Perempuan

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Anak laki-laki dan perempuan dijamin mempunyai hak yang


sama untuk memperoleh akta kelahiran. Setiap warga negara tanpa
batasan usia sejatinya memiliki hak yang sama rata atas kepemilikan
akta kelahiran. Hasil Susenas 2018 mencerminkan realisasi
kepemilikan akta kelahiran anak menurut jenis kelamin. Seperti
dapat dilihat pada Gambar 3. 2, anak laki-laki yang memiliki akta
kelahiran dan dapat menunjukkannya sedikit lebih rendah dibanding
anak perempuan yaitu masing masing sebesar 64,90 persen untuk
laki-laki dan 65,61 persen perempuan. Tidak terdapatnya perbedaan
proporsi yang signifikan antara anak laki-laki dan perempuan
menunjukkan bahwa kesadaran orang tua akan pemenuhan hak
anak atas akta kelahiran tidak membedakan jenis kelamin anak.
Tidak ada preferensi pada jenis kelamin tertentu. Namun, pada
mereka yang tidak bisa menunjukkan keberadaan akta kelahirannya,
pada anak laki-laki sedikit lebih tinggi dibanding anak perempuan.

26 Profil Anak Indonesia 2018


BAB 3 Hak Sipil Anak

Sementara, anak yang tidak punya akta kelahiran persentase anak


laki-laki sedikit lebih tinggi dibanding anak perempuan yaitu 16,40
terhadap 15,86.
Susenas 2018 tidak menanyakan mengenai alasan penyebab
ketidakpunyaan akta kelahiran ini. Masih relatif tingginya proporsi
anak laki-laki maupun perempuan yang tidak mempunyai akta
kelahiran merupakan pekerjaan besar yang perlu dicarikan solusinya.
Seperti halnya hasil Susenas 2017, pada pelaksanaan Susenas
2018 alasan ketiadaan biaya diperkirakan masih menjadi penyebab
utama ketidakpunyaan akta kelahiran baik pada anak laki-laki dan
anak perempuan. Meskipun pemerintah nyatanya telah menghapus
biaya pada setiap pembuatan akta kelahiran, seperti yang diatur
pada UU nomor 23 tahun 2002 dan perubahan UU nomor 24 tahun
2013 tentang akta kelahiran, namun masih terdapatnya daerah
sulit menyebabkan rendahnya partisipasi masyarakat. Maka dari
itu, penekanan sosialisasi kepada orang tua terutama yang tinggal
pada wilayah dan akses yang sulit, menjadi sangat penting untuk
dilaksanakan. Terobosan baru juga sudah dilakukan di beberapa
daerah dengan membuka kanal pembuatan registrasi penduduk
secara online. Dari terobosan ini, partisipasi masyarakat diharapkan
meningkat.

Gambar 3.3. Persentase Kepemilikan Akta Kelahiran Menurut


Tipe daerah, 2018

66,58
63,73

21,73 21,48
14,42
11,42

0,27 0,37

Ya, ditunjukkan Ya, tidak dapat Tidak memiliki Tidak tahu


ditunjukkan

Perkotaan Perdesaan

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 27


Hak sipil anak
Hak Sipil Anak

Realisasi kepemilikan akta kelahiran menurut tipe daerah


tempat tinggal dapat dilihat pada Gambar 3.3. Kepemilikan akta
kelahiran di antara anak di daerah perdesaan, baik yang dapat
menunjukkan atau tidak dapat menunjukkan keberadaannya,
lebih rendah dibanding daerah perkotaan. Stereotype rendahnya
kepemilikan akta kelahiran di perdesaan, diperkuat dengan fakta
yang menunjukkan bahwa anak yang tidak memiliki akta kelahiran
di daerah perdesaan lebih banyak dibandingkan anak di daerah
perkotaan. Persentase anak yang tidak memiliki akta kelahiran
tercatat sebesar 21,48 persen dan 11,42 persen masing-masing
untuk wilayah perdesaan dan wilayah perkotaan.

3.3. Capaian Provinsi dalam Realisasi Kepemilikan


Akta Kelahiran pada Anak
Dari total 34 provinsi yang ada di Indonesia, Gambar 3.4
menyajikan persentase kepemilikan akta kelahiran terendah di 5
provinsi. Provinsi Papua, tercatat sebagai provinsi yang kepemilikan
akta kelahiran terendah yaitu sebesar 36,33 persen. Ini artinya,
hampir dua dari tiga anak di Papua masih belum memiliki akta
kelahiran. Bisa jadi sulitnya geografis serta kurangnya sosialisasi

Gambar 3.4. Persentase Kepemilikan Akta Kelahiran terendah


di 5 provinsi, 2018

Papua 19,78 16,55 62,49 1,19

Nusa Tenggara Timur 44,41 13,76 41,54 0,29

Papua Barat 43,84 26,92 28,49 0,75

Sumatera Utara 56,17 16,12 27,18 0,53

Maluku 50,80 22,78 25,96 0,45

Ya, dapat ditunjukkan Ya, tidak dapat ditunjukkan Tidak memiliki Tidak tahu

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

28 Profil Anak Indonesia 2018


BAB 3 Hak Sipil Anak

akan pentingnya akta kelahiran bagi anak berpengaruh terhadap


rendahnya kepemilikan akta kelahiran di wilayah Papua. Selanjutnya
provinsi yang juga mempunyai persentase tingkat kepemilikan akta
kelahirannya yang rendah adalah Nusa Tenggara Timur sebesar
58,17 persen.

Gambar 3.5. Persentase Anak yang tidak Memiliki Akta Kelahiran,


2017 dan 2018
62,49

54,28

43,11
41,54

27,90 27,18 28,45 28,49


25,96
23,80

Sumatera Utara Nusa Tenggara Timur Papua Barat Maluku Papua


2017 2018

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2017 dan 2018, BPS

Sebagai bahan evaluasi realisasi perkembangan anak yang


tidak memiliki akta kelahiran menurut provinsi dalam dua tahun
terakhir (2017 dan 2018) disajikan pada Gambar 3.5. Seperti terlihat
dalam Gambar 3.5, lima provinsi dengan kepemilikan akta kelahiran
terendah, dua diantaranya telah berhasil mengalami penurunan
dibawah satu persen yaitu Provinsi Sumatera Utara dan Nusa
Tenggara Timur. Sementara tiga provinsi lainnya, Maluku, Papua
Barat dan Papua justru meningkat persentase anak yang tidak
mempunyai akta kelahiran. Persentase anak yang tidak memiliki akta
kelahiran di Provinsi Papua meningkat dari 54,28 persen pada tahun
2017 menjadi 62,49 persen pada tahun 2018 atau naik sebesar 8,21
persen. Persentase terbesar kedua adalah Provinsi Maluku, anak
yang tidak memiliki akta kelahiran bertambah sebesar 2,16 persen
pada tahun 2018.

Profil Anak Indonesia 2019 29


BAB 4

LINGKUNGAN KELUARGA DAN


PENGASUHAN ALTERNATIF
Setiap anak berhak untuk tinggal dalam lingkungan
pengasuhan keluarga. Pemenuhan kebutuhan anak lebih
banyak bersama kedua orang tuanya sebesar 84,33 persen
dibandingkan hanya dengan ayah kandungnya saja atau
ibu kandung saja yang hanya 2,51 persen dan 8,34 persen.
Sebelum mengenyam pendidikan sekolah dasar, anak
berusia 0-6 tahun sudah mengikuti PAUD. Jenis PAUD yang
banyak diikuti adalah Taman Kanak-kanak, yaitu sebesar
60,86 persen. Sekitar 74,51 persen anak yang bersekolah
di kelas 1 SD/sederajat sudah pernah mengikuti PAUD,
artinya mereka sudah siap mengikuti proses belajar.
Sebesar 36,62 persen anak perempuan usia 10-17 tahun
pernah menikah pada usia 15 tahun atau kurang. Hal
ini tidak sesuai dengan UU No. 1 tahun 1974 pasal 7.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan


Anak (Kemen PPPA) memilih peran keluarga dalam perlindungan
anak Indonesia yang menjadi tema Hari Anak Nasional 2019, yang
ditetapkan oleh Keppres RI Nomor 22 Tahun 1984 yaitu bahwa Anak
merupakan generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa, oleh
karenanya usaha pembinaan, khususnya orang tua, juga menjadi
titik penting bagi anak.
Keluarga, diharapkan mampu melindungi anak sehingga
bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Salah satu kluster
yang disahkan dalam Konvensi Hak-hak Anak (Convention On The
Rights of The Child) pada tanggal 20 November 1989 oleh PBB yaitu
“Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif”. Dalam Konvensi
Hak-hak Anak (KHA) diakui bahwa, untuk perkembangan kepribadian
anak secara sepenuhnya dan serasi, harus tumbuh berkembang
dalam lingkungan keluarganya dalam suasana kebahagiaan, cinta
dan pengertian.

Profil Anak Indonesia 2019 33


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

4.1. Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan

Alternatif
Anak, untuk perkembangan kepribadiannya secara sepenuhnya
dan serasi, harus tumbuh berkembang dalam lingkungan
keluarganya dalam suasana kebahagiaan, cinta dan pengertian
(Pembukaan Konvensi Hak-Hak Anak). Setiap anak berhak untuk
tinggal dalam lingkungan pengasuhan keluarga. Keluarga
merupakan hal terpenting dalam pengasuhan anak, karena anak
dibesarkan dan dididik oleh keluarga. Pengasuhan anak merupakan
upaya untuk memenuhi kebutuhan akan kasih sayang, keselamatan
dan kesejahteraan yang berkelanjutan demi kepentingan terbaik
untuk anak. Pemenuhan kebutuhan anak tersebut dilaksanakan baik
oleh orang tua kandung atau keluarga lainnya termasuk orang tua
asuh, orang tua angkat atau wali. Gambaran mengenai pengasuhan
alternatif pada bab ini membahas antara lain pemenuhan kebutuhan
anak yang dilaksanakan baik oleh kedua orang tua kandung, ayah
kandung saja, ibu kandung saja atau keluarga lainnya termasuk
orang tua asuh, orang tua angkat atau wali.

4.1.1. Anak yang Tinggal dengan Bapak dan Ibu


Kandung
Mempunyai anak adalah dambaan bagi setiap pasangan yang
telah menikah dan sebagai anugerah terindah dan harta yang tak
ternilai dan dia adalah amanah dari Tuhan yang harus kita rawat dan
kita didik dengan sebaik-baiknya. Dalam hal mendidik, merawat,
memberikan perlindungan yang baik, dan berbagai aspek lainnya
terhadap anak menjadi tanggung jawab bapak dan ibu kandungnya.
Sebaiknya seorang anak tinggal dengan kedua orang tuanya agar
mendapat pengasuhan yang terbaik. Hasil Susenas Modul Sosial
Budaya dan Pendidikan (MSPB) yang di laksanakan tiga tahun sekali,
secara umum dari tahun 2009-2018 bahwa lebih dari 80 persen anak
berusia 0-17 tahun tinggal dengan bapak dan ibu kandungnya (Tabel
4.1). Hal ini menggambarkan bahwa sebagian besar anak di Indonesia
masih mendapatkan pengasuhan langsung dari kedua orang tuanya.
Jika diamati menurut tipe daerah anak yang tinggal dengan bapak
dan ibu kandungnya di daerah perkotaan lebih banyak di bandingkan
daerah perdesaan. Pola dari tahun ke tahun di perkotaan cenderung
mengalami penurunan antara lain dari 86,20 persen di tahun 2015

34 Profil Anak Indonesia 2019


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

menjadi 85,34 persen di tahun 2018. Sedangkan yang tinggal di


perdesaan menurun dari 84,27 persen menjadi 83,15 persen.
Pola yang sama jika dilihat berdasarkan jenis kelamin yang
cenderung menurun tiap tahunnya. Tahun 2018 di anak laki-laki yang
tinggal dengan bapak dan ibu kandungnya menurun menjadi 84,23
persen di bandingkan tahun 2015 sebesar 85,04 persen. Begitu juga
anak perempuan yang tinggal dengan bapak dan ibu kandungnya
menurun, yaitu 84,44 persen di bandingkan tahun 2015 sebesar
85,40 persen.

Tabel 4.1. Persentase Anak Usia 0-17 Tahun dan Belum Kawin menurut Status
Tinggal Bersama Bapak dan Ibu Kandung, jenis kelamin dan Tipe Daerah, 2009-2018

Tahun
Tipe Daerah/Jenis
Kelamin
2009 2012 2015 2018
(1) (2) (3) (4) (5)
Perkotaan :
Laki-laki 88,29 87,62 85,91 85,19
Perempuan 87,70 86,48 86,50 85,49
Laki-laki + Perempuan 88,00 87,06 86,20 85,34
Perdesaan :
Laki-laki 86,89 85,88 84,21 83,11
Perempuan 85,90 85,31 84,33 83,19
Laki-laki + Perempuan 86,42 85,61 84,27 83,15
Perkotaan + Perdesaan :
Laki-laki 87,54 86,73 85,04 84,23
Perempuan 86,74 85,89 85,40 84,44
Laki-laki + Perempuan 87,15 86,32 85,21 84,33

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan
tahun 2009, 2012, 2015 dan 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 35


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

4.1.2. Anak yang Tinggal dengan Bapak Kandung


Pada umumnya kehidupan berumah tangga hendaknya utuh
dan harmonis, tetapi tidak semuanya berjalan mulus. Perpisahan
bisa saja terjadi entah karena perceraian ataupun kematian. Anak
yang di tinggal oleh ibu kandungnya memiliki efek di mana hanya
ayah yang memberi pengasuhan yang signifikan yaitu hilangnya sisi
keibuan bagi si anak terutama untuk balita dan anak perempuan.
Anak balita akan lebih membutuhkan kehadiran seorang ibu kandung,
khususnya bayi yang masih membutuhkan ASI. Anak remaja putri
ketika mencapai masa aqil baliq, di mana dia sudah mulai mengalami
masa menstruasi dan cenderung sungkan membicarakan atau
mengkomunikasikan dengan sang ayah.

Tabel 4.2. Persentase Anak Usia 0-17 Tahun dan Belum Kawin menurut Status
Tinggal Bersama Bapak Kandung, jenis kelamin dan Tipe Daerah, 2009-2018

Tipe Daerah/Jenis Tahun


Kelamin 2009 2012 2015 2018
(1) (2) (3) (4) (5)
Perkotaan :
Laki-laki 2,11 2,20 2,41 2,46
Perempuan 1,93 2,35 2,36 2,27
Laki-laki + Perempuan 2,02 2,27 2,39 2,37
Perdesaan :
Laki-laki 2,36 2,49 2,45 2,74
Perempuan 2,23 2,30 2,22 2,61
Laki-laki + Perempuan 2,30 2,40 2,34 2,68
Perkotaan + Perdesaan :
Laki-laki 2,24 2,35 2,43 2,59
Perempuan 2,09 2,33 2,29 2,42
Laki-laki + Perempuan 2,17 2,34 2,36 2,51

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan tahun
2009, 2012, 2015 dan 2018, BPS

Dalam segi waktu, karena ayah bekerja sehingga anak memiliki


waktu kebersamaan lebih sedikit. Namun ada kalanya figur sang
ayah sangat dibutuhkan ketika anak mulai masuk sekolah dimana
anak-anak yang lain diantar ayahnya sementara dia tidak, sehingga
timbul rasa tidak percaya diri. Tabel 4.2 hasil Susenas MSBP Tahun

36 Profil Anak Indonesia 2019


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

2009-2018 menyajikan persentase anak berusia 0-17 tahun dan


belum kawin yang tinggal bersama bapak kandungnya. Sekitar dua
persen anak tinggal dengan bapak kandungnya. Anak laki-laki yang
tinggal dengan bapak kandungnya lebih banyak sebesar 2,59 persen
dibandingkan anak perempuan yaitu sebesar 2,42 persen pada tahun
2018. Sementara jika dilihat menurut tipe daerah, anak yang tinggal
dengan ayah kandungnya di daerah perkotaan lebih sedikit yaitu
sebesar 2,37 persen di bandingkan di perdesaan (2,68 persen).

4.1.3. Anak yang Tinggal dengan Ibu kandung


Istilah single mother atau peran ibu tunggal biasanya dikenal
dengan wanita yang harus membesarkan anak tanpa kehadiran
suami atau sosok ayah, entah karena perpisahan/perceraian
maupun setelah suami meninggal. Beban ibu yang merangkap
menjadi tulang punggung menjadi lebih berat, tidak hanya beban
materi tetapi juga beban sosial. Sang ibu akan menanggung semua
kebutuhan anak-anaknya, baik pendidikan, sandang, maupun
pangan, serta berperan sebagai bapak guna memberi perlindungan
bagi anak-anaknya. Bagi anak yang tinggal dengan ibu kandungnya
saja, akan mengalami ketimpangan dalam hal pengasuhan. Akan
tetapi, peran ibu tunggal ini juga bisa muncul dalam keluarga yang
masih memiliki ayah dan ibu. Sebagai contoh adalah ketika ayah
sakit, bekerja jauh dari rumah, atau ketidakmampuan lainnya yang
menyebabkan anak hanya tinggal atau di asuh ibu kandungnya.
Gambar 4.1 memperlihatkan anak yang tinggal dengan ibu
kandungnya pada tahun 2009-2018 yang cenderung meningkat.
Tahun 2009 sebesar 5,61 meningkat terus sampai tahun 2018
menjadi 8,34 persen. Jika dilihat menurut daerah tempat tinggal,
anak yang tinggal dengan ibu kandung di daerah perdesaan lebih
tinggi dibandingkan perkotaan yaitu sebesar 5,82 persen pada tahun
2009 bertambah menjadi 6,77 persen pada tahun 2012 dan terus
meningkat sampai tahun 2018 menjadi 8,38 persen. Hal ini disebabkan
banyaknya orang tua di perkotaan yang bekerja khususnya ibunya.

Profil Anak Indonesia 2019 37


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

Gambar 4.1. Persentase Anak usia 0-17 Tahun dan Belum Kawin menurut Status
Tinggal Bersama Ibu Kandung dan Tipe Daerah, 2009-2018

8,30 8,38
7,85 8,31 8,34
7,39
6,77
6,33
5,82 5,61 5,88
5,36

2009 2012 2015 2018

Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan
tahun 2009, 2012, 2015 dan 2018, BPS

4.1.4. Anak yang Tinggal dengan Keluarga Lain


Dalam rumah tangga idealnya anak tinggal bersama ayah dan
ibu kandungnya, namun sebaliknya bisa terjadi anak tinggal dengan
keluarga lain. Hal tersebut banyak disebabkan oleh berbagai macam
keadaan. Bisa karena kedua orang tuanya meninggal dunia atau
kedua orang tuanya sibuk mencari nafkah sehingga anak dititipkan
kepada nenek/kakek ataupun famili lain. Anak yang tidak tinggal
dengan bapak dan ibu kandungnya cenderung lebih rentan terpapar
lingkungan yang kurang baik. Karena itu mereka membutuhkan
perhatian yang lebih agar terjamin pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Tabel 4.3 memberikan gambaran di perdesaan kasus anak
tinggal dengan keluarga lain sangat tinggi yaitu sebesar 5,77 persen
dibanding kan anak yang tinggal dengan keluarga lain di perkotaan.
Hal ini karena alasan situasi tertentu, mulai dari sulitnya mencari
pengasuh anak, mahalnya harga penitipan anak hingga alasan lebih
mempercayai kakek dan nenek untuk menjaga anak atau banyak

38 Profil Anak Indonesia 2019


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

yang bekerja keluar desa menuju kota atau luar negeri. Perlu
perhatian khusus dan komunikasi tersendiri kepada anak dengan
kondisi seperti ini agar mereka tidak mendapatkan kekerasan dari
lingkungannya atau pun pergaulan yang menyebabkan mereka
terlibat dalam masalah. Bila dilihat menurut jenis kelamin, anak
perempuan yang tinggal dengan keluarga lain lebih banyak
dibandingkan anak laki-laki yaitu 5,59 persen dan 5,45 persen pada
tahun 2009 dan 2012, kemudian turun menjadi 4,69 persen pada
tahun 2015 namun naik lagi menjadi 4,95 persen pada tahun 2018.

Tabel 4.3. Persentase Anak Usia 0-17 Tahun dan Belum Kawin menurut Status
Tinggal Bersama keluarga lain, jenis kelamin dan Tipe Daerah, 2009-2018

Tipe Daerah/Jenis Tahun


Kelamin 2009 2012 2015 2018
(1) (2) (3) (4) (5)
Perkotaan :
Laki-laki 4,21 4,25 3,87 3,69
Perempuan 5,05 5,35 4,05 4,14
Laki-laki + Perempuan 4,62 4,78 3,96 3,91
Perdesaan :
Laki-laki 4,92 4,93 4,83 5,64
Perempuan 6,06 5,55 5,32 5,91
Laki-laki + Perempuan 5,47 5,23 5,06 5,77
Perkotaan + Perdesaan :
Laki-laki 4,59 4,59 4,36 4,59
Perempuan 5,59 5,45 4,69 4,95
Laki-laki + Perempuan 5,07 5,01 4,52 4,76

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan
tahun 2009, 2012, 2015 dan 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 39


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

4.1.5. Aktivitas Bersama Orang Tua


Di era milenial sekarang kesibukan orang tua berimbas pada
psikologi anak. Anak yang orang tuanya sibuk seharian beraktivitas
di luar rumah terkadang sampai rumah sudah merasa lelah
untuk menemani anak untuk bermain dan sebagainya, sehingga
waktu bersama anak menjadi berkurang. padahal waktu bersama
anak sangatlah penting terutama untuk tumbuh kembang anak
dan psikologinya. Emosional anak akan terpengaruh jika jarang
berinteraksi dengan orang tua.
Hasil Susenas MSBP tahun 2018 menyajikan data persentase
anak usia 0-4 tahun yang beraktivitas bersama orang tua/wali
(Gambar 4.2). Aktivitas bersama orang tua terbanyak yaitu makan
atau belajar makan sebesar 25 persen. Dalam hal ini anak seusia
0-4 tahun masih butuh bantuan orang tua dalam hal makan/belajar
makan khususnya oleh sang ibu. Terbesar kedua adalah menonton
televisi sebesar 20 persen dan ketiga adalah aktivitas berbincang-
bincang/ngobrol sebesar 18 persen, karena berbincang-bincang
untuk usia balita ini sangat penting untuk membina anak dalam
hal membangun kemampuan mendengar dan berbicara serta
menambah kedekatan antara orang tua dan balita.

Gambar 4.2. Persentase Anak Usia 0-4 Tahun yang Beraktivitas Bersama
Orang tua/Wali dalam Seminggu Terakhir, 2018
1%
Makan/Belajar Makan
2%
Menonton TV
15%
25%
Belajar/Membaca Buku

Dibacakan Buku Cerita/ Diceritakan


Dongeng
Beribadah/Berdoa
18%
Berbincang-bincang/ Ngobrol

Bermain/Rekreasi/ Berolahraga
20%
Bermain Games
9%
5% 5% Mengakses Internet

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan
tahun 2018, BPS

40 Profil Anak Indonesia 2019


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

Ditinjau lebih lanjut, Gambar 4.3 menyajikan persentase anak


usia 5-17 tahun dan belum kawin yang beraktivitas bersama orang
tua/wali. Aktivitas menonton televisi dan makan/belajar makan
yaitu sebesar 19 persen merupakan aktivitas terbesar diantara
banyak aktivitas yang dilakukan bersama orang tua, karena aktivitas
menonton paling disukai anak-anak terutama anak-anak di bawah
usia 13 tahun, sebab anak yang sudah lebih besar seperti usia
SMP atau SMA biasanya sudah tidak mau di temani. Pada dasarnya
memang kegiatan ini butuh pendampingan orang tua karena tidak
semua tayangan yang disiarkan di televisi itu cocok untuk ditonton
anak-anak sehingga orang tua harus cermat dan bijak memilah
serta memilihkan tontonan untuk anak-anaknya. Aktivitas bersama
terbesar kedua yaitu berbincang-bincang/ngobrol sebesar 18
persen. Kegiatan ini sangat penting untuk menimbulkan keakraban
antara orang tua dan anak, bisa dijadikan ajang lebih mendekatkan
diri kepada anak. Hal ini orang tua bisa mengetahui seperti apa anak
mereka, apa yang mereka suka lakukan, dan tidak suka dilakukan.

Gambar 4.3. Persentase Anak Usia 5-17 Tahun dan Belum Kawin yang Beraktivitas
Bersama Orang tua/Wali dalam Seminggu Terakhir, 2018

1% Makan/Belajar Makan
2%
2% Menonton TV
6%
19% Belajar/Membaca Buku

7%
Dibacakan Buku Cerita/ Diceritakan
Dongeng
Beribadah/Berdoa

Berbincang-bincang/ Ngobrol

18%
Bermain/Rekreasi/ Berolahraga
19%
Bermain Games

Mengakses Internet

12% Mengurus Rumah Tangga


12%

Membantu menambah penghasilan


2%
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan
tahun 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 41


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

4.1.6. Anak yang Menikah


Pernikahan menurut konsep Susenas lebih di kenal dengan
istilah perkawinan yaitu seseorang mempunyai istri (bagi laki-
laki) atau suami (bagi perempuan), baik tinggal bersama maupun
terpisah. Termasuk mereka yang kawin sah secara hukum (adat,
agama, negara dan sebagainya), mereka yang hidup bersama dan
oleh masyarakat sekelilingnya dianggap sebagai suami-istri. Anak
yang menikah secara umum adalah pernikahan yang di lakukan
oleh sesorang yang belum dewasa atau sebelum masa pubertas.
Belakangan ini kasus pernikahan anak sedang ramai diberitakan.
Berbagai alasan pernikahan ini terjadi dan banyak kontroversi.
Sebagian kalangan ada yang setuju dengan alasan menghindari
perzinahan, sebagian tidak setuju akan hal tersebut dan berharap
ada undang-undang yang membatasi usia pernikahan di bawah usia.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 7 tentang
Perkawinan menyebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan bila
pihak pria mencapai usia 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai
usia 16 tahun. Pada publikasi profil anak Indonesia ini yang dimaksud
dengan anak yang menikah adalah pernikahan yang dilakukan oleh
anak di bawah usia 18 tahun. Kenyataannya, masih banyak dijumpai
anak-anak dibawah usia 15 tahun sudah melakukan pernikahan
bahkan mengalami perceraian.
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
pasal 26 ayat 1 huruf c menyebutkan bahwa orang tua berkewajiban
dan bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya perkawinan
usia anak. Karena dari undang-undang tersebut dapat disimpulkan
bahwa perkawinan yang dianjurkan minimal usia 18 tahun.
Ditinjau dari hasil Susenas 2018, Tabel 4.4 menyajikan persentase
anak perempuan usia 10-17 tahun menurut status perkawinan dan
tipe daerah. Sekitar 99,26 persen anak perempuan usia 10-17 tahun
belum menikah, 0,70 persen berstatus kawin, dan ironisnya sudah
ada yang melakukan perceraian sebesar 0,04 persen, baik cerai
mati maupun cerai hidup. Hal ini diduga karena berbagai faktor,
diantaranya faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Alasan ekonomi
sebagai solusi paling cepat dan mudah dengan menikahkan anaknya.
Anak perempuan dan keluarga barunya diharapkan dapat membantu
meningkatkan perekonomian orang tuanya. Alasan sosial misalnya

42 Profil Anak Indonesia 2019


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

masih ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa semakin


cepat menikah semakin baik bagi seorang perempuan. Sedangkan
dari sisi budaya, diduga di beberapa daerah di Indonesia khususnya
daerah terpencil, menikah diusia sangat muda adalah hal yang
umum dilakukan dan bukan hal yang tabu contohnya anak gadis
yang hamil di luar nikah. Biasanya, orang tua yang anaknya hamil
sebelum menikah, menuntut anak untuk segera menikah. Tujuan
utamanya agar tidak menjadi perbincangan di lingkungan.

Tabel 4.4. Persentase Anak perempuan Usia 10-17 Tahun Menurut Status
perkawinan dan tipe daerah, 2018

Status Perkawinan

Tipe Daerah/Jenis Kelamin Cerai(Cerai


Belum Kawin Kawin hidup+cerai Jumlah
mati)
(1) (2) (3) (4) (5)
Perkotaan 99,59 0,39 0,02 100,00
Perdesaan 98,90 1,05 0,05 100,00
Perkotaan dan Perdesaan 99,26 0,70 0,04 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Jika dilihat dari usia pada saat kawin pertama, sekitar 36,62
persen anak perempuan usia 10-17 tahun pernah menikah pada
usia 15 tahun atau kurang. Hal ini bertentangan dengan UU N0.1
tahun 1974 pasal 7. Sekitar 39,92 persen kawin di usia 16 tahun, dan
23,46 persen kawin di usia 17 tahun (Gambar 4.4).

Profil Anak Indonesia 2019 43


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

Gambar 4.4. Persentase Anak Perempuan Usia 10-17 Tahun yang Berstatus
Kawin dan Cerai Menurut Usia Kawin Pertama, 2018

Usia 17 tahun
23,46%
Usia <= 15 tahun
36,62%

Usia 16 tahun
39,92%

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Perkawinan idealnya dilakukan pada saat laki-laki dan


perempuan sudah siap secara fisik, mental maupun psikis untuk
membina rumah tangga. Kementerian dan lembaga terkait perlu
mensosialisasikan kepada masyarakat pentingnya perkawinan di
usia yang tepat. Perlu dikomunikasikan pentingnya mengatur usia
perkawinan khususnya bagi perempuan. Menikah di usia yang
tepat akan mengurangi risiko kematian ibu dan bayi. Dalam jangka
panjang, melalui penundaan usia perkawinan akan menurunkan
angka fertilitas yaitu memperpendek rentang masa reproduksi
perempuan.

4.1.7. Dampak Pernikahan di Usia Anak


Pernikahan yang terjadi pada usia anak atau usia muda, cukup
berbahaya baik dari segi wanita maupun pria dan juga dari berbagai
aspek mulai dari kesehatan, psikologi dan juga mental. Meski ada
beberapa dampak positif, antara lain melatih kecerdasan emosional
dan spiritual dalam diri setiap pasangan, belajar memikul tanggung
jawab di usia muda. Namun, tidak seimbang dengan lebih banyaknya
dampak pernikahan diusia anak yang negatif.

44 Profil Anak Indonesia 2019


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

4.1.7.1. Dampak Buruk Perkawinan Usia Anak pada

Bidang Pendididkan
Pernikahan anak di bawah usia 18 tahun memiliki beberapa
dampak buruk, salah satu yang terburuk adalah dampak pendidikan
terhadap anak perempuan. Bagi anak-anak perempuan yg pernah
menikah dini atau bercerai muda biasanya akan kehilangan
kesempatan melanjutkan pendidikan. Ada juga yang tidak mau
melanjutkan sekolahnya karena berbagai sebab antara lain karena
tanggung jawab merawat anak atau malu karena status pernikahannya.
Selain itu kebijakan kebanyakan sekolah di Indonesia yang menolak
anak perempuan yang sudah menikah untuk bersekolah. Dampak
jangka panjang yang akan dirasakan oleh mereka diantaranya
adalah hilangnya kesempatan mendapatkan pekerjaan yang layak,
disebabkan hilangnya kesempatan mengenyam pendidikan formal.
Dengan mengakhiri sekolah semakin kecil kesempatan untuk
bekerja bagi perempuan.

Tabel 4.5. Persentase Anak Perempuan 10-17 Tahun menurut Tipe Daerah, Status
perkawinan dan Pendidikan tinggi yang ditamatkan, 2018

Pendidikan
Tipe Daerah/Jenis
Tidak
Kelamin Tidak SMA ke
pernah SD SMP Jumlah
tamat SD Atas
sekolah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Perkotaan :
Belum kawin 0,21 37,86 35,23 26,31 0,39 100,00
Kawin 0,73 9,93 35,22 50,83 3,29 100,00
Cerai 0,00 13,89 33,22 46,01 6,88 100,00
Perdesaan :
Belum kawin 0,72 41,26 35,52 22,31 0,20 100,00
Kawin 1,19 8,58 35,08 52,31 2,83 100,00
Cerai 0,51 10,59 58,85 30,05 0,00 100,00
Perkotaan + Perdesaan :
Belum kawin 0,45 39,44 35,36 24,45 0,30 100,00
Kawin 1,06 7,98 36,13 51,88 2,96 100,00
Cerai 0,34 11,71 50,14 35,47 2,34 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 45


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

Ditinjau dari segi pendidikan Tabel 4.5 menyajikan persentase


anak perempuan usia 10-17 menurut status perkawinan dan
pendidikan. Anak yang berstatus kawin, dengan pendidikan tertinggi
yang ditamatkannya hanya sampai SMP mencapai 51,88 persen,
artinya separuh dari anak perempuan usia 10-17 tahun sudah
mengalami perkawinan dan hanya mengenyam pendidikan sampai
SMP. Sementara yang tamat SMA ke atas kecil sekali persentasenya,
hanya sekitar 3 persen, karena dari segi pemahaman mereka sudah
matang untuk memilih atau memutuskan suatu hal. Ditinjau dari
status perceraian, separuh dari anak perempuan yang bercerai
hanya tamatan SD. Pola yang sama terjadi di daerah perdesaan.
Pernikahan usia anak benar-benar membatasi hak anak untuk
melanjutkan pendidikannya.

4.1.7.2. Kehamilan dan Melahirkan Dini


Dampak kedua dari pernikahan usia anak adalah kehamilan
yang kurang sehat dan melahirkan dini. Laporan Kajian Perkawinan
Usia Anak di Indonesia menjelaskan bayi yang di lahirkan oleh
perempuan yang menikah pada usia anak punya risiko kematian
lebih besar, dan juga punya peluang meninggal dua kali lipat
sebelum mencapai usia 1 tahun dibandingkan dengan anak-anak
yang dilahirkan oleh seorang ibu yang telah berusia dua puluh
tahun ke atas. Pernikahan usia anak menyebabkan kehamilan
dan melahirkan dini yang berhubungan dengan angka kematian
yang tinggi dan ibu yang melahirkan pada usia dibawah 18 tahun
juga memiliki risiko kematian pada bayi yaitu bayi lahir prematur
dan stunting (kerdil), hamil di usia muda juga rentan terjadinya
pendarahan, keguguran, hamil anggur dan hamil prematur di masa
kehamilan bahkan memberikan pola asuh salah pada anak karena
terbatasnya pengetahuan sifat keibuan dalam psikologi.

4.1.7.3. Kepesertaan Keluarga Berencana (KB)


Peningkatan pengetahuan remaja terkait kesehatan reproduksi
bukan hanya menjadi tanggung jawab sebagian pihak, melainkan
semua pihak mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat serta
pelayanan kesehatan. Pemberian materi kesehatan reproduksi
tentunya perlu dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan
usia dan kebutuhan remaja tersebut. Hal ini diharapkan dapat

46 Profil Anak Indonesia 2019


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

memperkecil kemungkinan terbentuknya persepsi yang salah


terhadap penggunaan alat kontrasepsi.
Keluarga berencana adalah tindakan yang membantu pasangan
suami istri untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan,
mendapatkan kelahiran yang memang sangat diinginkan, mengatur
interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam
hubungan dengan usia suami istri serta menentukan jumlah anak
dalam keluarga (World Health Organisation; expert Committee 1970).
Program KB bagi anak-anak perempuan yang terlanjur
melakukan pernikahan di usia anak perlu ditingkatkan karena
pernikahan usia anak menjadi masalah sosial yang bisa dijumpai
di banyak daerah di tanah air, yang akan menyebabkan angka
kematian ibu dan bayi yang cukup tinggi. Tujuan program KB adalah
mengendalikan fertilitas yang membutuhan metode kontrasepsi
yang berkualitas agar dapat meningkatkan kesehatan reproduksi
dan kesehatan seksual; Mengatur kehamilan dengan menunda
perkawinan, menunda kehamilan anak pertama dan menjarangkan
kehamilan setelah kelahiran anak pertama serta menghentikan
kehamilan bila dirasakan anak telah cukup. Kontrasepsi adalah cara
mencegah kehamilan dengan menggunakan alat/obat pencegah
kehamilan seperti spiral, kondom, pil anti hamil, dll atau dengan
metode alami yang dipercaya dapat mencegah kehamilan seperti
pantang berkala, senggama terputus, metode menyusui alami.
Berdasarkan Tabel 4.6 tentang keikutsertaan penggunaan
alat KB, lebih dari separuh dari anak perempuan Indonesia yang
pernah kawin usia 15-17 tahun baik di perkotaan dan di perdesaan
belum mengikuti program KB, tepatnya 61,64 persen. Ada
kemungkinan kurangnya informasi tentang KB. Generasi muda
seharusnya mendapatkan akses informasi dan konsultasi terkait
kesehatan reproduksi pada umumnya dan penggunaan kontrasepsi
pada khususnya, sehingga dapat merencanakan kehamilannya
dengan baik. Pada akhirnya, pemanfaatan kontrasepsi secara tepat
diharapkan dapat menuai manfaat secara optimal. Kontrasepsi
seharusnya dapat menjadi penyelamat generasi penerus bangsa
dari penularan penyakit seksual yang membahayakan misalnya HIV/
AIDS. Kontrasepsi juga seharusnya menjadi solusi bagi perempuan-
perempuan muda yang terjebak dalam pernikahan dini tetapi masih
ingin produktif di bidang pendidikan dan pengembangan dirinya.

Profil Anak Indonesia 2019 47


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

Tabel 4.6. Persentase Anak Perempuan Pernah Kawin Usia 15-17 Tahun Menurut
Keikutsertaan Penggunaan alat KB dan tipe daerah, 2018

Penggunaan Alat KB
Tipe Daerah
Ya (Pernah+sedang) Tidak pernah Jumlah
(1) (2) (3) (4)
Perkotaan 42,89 57,11 100,00
Perdesaan 36,51 63,49 100,00
Perkotaan dan Perdesaan 38,36 61,64 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

4.2. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)


Istilah PAUD sudah mulai populer beberapa tahun kebelakang.
Maklum, kini PAUD semakin banyak dan mudah ditemui di mana-
mana. Selama ini yang dikenal oleh masyarakat, bahwa pendidikan
paling awal untuk anak adalah TK atau Taman Kanak-Kanak yang
dimulai dari usia 4 tahun. Orang tua, khususnya yang memiliki
anak usia balita tentu tidak asing dengan kegiatan PAUD. Meski
begitu, sebenarnya tidak sedikit juga yang masih kurang paham dan
bertanya-tanya: apa bedanya PAUD dengan TK (Taman Kanak-kanak),
TK-BA (Bustanul Athfal), RA (Raudhatul Athfal) atau KB (Kelompok
Bermain). Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 angka 14 menyatakan bahwa PAUD
merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak
sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui
pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan
dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan
dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Menurut Pasal 28 Undang-
undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
bentuk satuan PAUD dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

1. Jalur pendidikan formal, terdiri atas Taman Kanak-kanak (TK)


dan Raudhatul Athfal (RA) yang dapat diikuti anak usia lima tahun
ke atas. Termasuk di sini adalah Bustanul Athfal (BA).
2. Jalur pendidikan nonformal, terdiri atas Penitipan Anak, Kelompok
Bermain dan Satuan PAUD Sejenis. Kelompok Bermain dapat
diikuti anak usia dua tahun keatas, sedangkan Penitipan Anak

48 Profil Anak Indonesia 2019


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

dan Satuan PAUD Sejenis diikuti anak sejak lahir, atau usia tiga
bulan.
3. Jalur pendidikan Informal, terdiri atas pendidikan yang
diselenggarakan di keluarga dan di lingkungan. Ini menunjukkan
bahwa pemerintah melindungi hak anak untuk mendapatkan
layanan pendidikan, meskipun mereka tidak masuk ke lembaga
pendidikan anak usia dini, baik formal maupun nonformal.
Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 menjelaskan bahwa
rentangan anak usia dini menurut ayat 1 adalah 0-6 tahun (golden
age). Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan
penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak
usia 0-8 tahun.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI
menyebutkan bahwa pendidikan bagi anak usia dini sangat penting,
karena saat itu dimulainya pembentukan mental dan karakter
semasa kecil atau pada usia 0-5 tahun sebelum masuk sekolah
pada tingkat pertama di sekolah dasar (SD). Sekolah di PAUD akan
membuat anak siap masuk TK ataupun sekolah dasar, karena di
PAUD sudah terbiasa masuk kelas dan diajar oleh seorang guru.

Tabel 4.7. Persentase Anak Usia 0-6 Tahun yang pernah/sedang mengikuti paud
menurut Tipe Daerah dan jenis kelamin, 2018

Kelompok Usia (Tahun)


Tipe Daerah/Jenis Kelamin
0-2 3-4 5-6 3-6 0-6
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Perkotaan :
Laki-laki 0,69 21,87 58,93 40,18 23,57
Perempuan 0,60 23,14 58,78 40,79 23,75
Laki-laki + Perempuan 0,65 22,49 58,86 40,48 23,66
Perdesaan :
Laki-laki 0,80 19,42 51,20 35,64 20,96
Perempuan 0,88 22,03 51,84 37,30 21,85
Laki-laki + Perempuan 0,84 20,69 51,51 36,45 21,39
Perkotaan + Perdesaan :
Laki-laki 0,74 20,75 55,28 38,08 22,36
Perempuan 0,73 22,63 55,49 39,16 22,86
Laki-laki + Perempuan 0,74 21,67 55,38 38,61 22,60
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 49


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

Tabel 4.7 menggambarkan persentase anak usia 0-6 tahun


yang pernah/sedang mengikuti PAUD menurut tipe daerah, jenis
kelamin, dan kelompok usia berdasarkan hasil Susenas 2018.
Persentase anak yang sedang mengikuti PAUD dibagi atas beberapa
kelompok usia, yaitu :
a. Kelompok usia 0-2 tahun dimana usia ini sudah mulai diikut
sertakan pada taman penitipan/pengasuhan anak,
b. Kelompok usia 3-4 tahun di mana orang tua memasukkan
anak-anak diusia ini pada taman kelompok bermain ( play
group ),
c. Kelompok usia 5-6 tahun sering di kenal dengan usia anak
TK (Taman Kanak-kanak),
d. Kelompok usia 3-6 tahun adalah sebagai angka penghitungan
indikator PAUD,
e. Kelompok 0-6 tahun adalah kelompok usia secara
keseluruhan.

Pada tahun 2018, anak berusia 0-2 tahun yang mengikuti


PAUD hanya 0,74 persen, sementara pada kelompok usia 3-4 tahun
sebanyak 21,67 persen dan pada kelompok usia 5-6 tahun angka
partisipasinya paling tinggi, yaitu sekitar 55,38 persen, artinya
hampir 5 dari 10 anak Indonesia usia 5-6 tahun sudah mengikuti
PAUD di taman kanak-kanak.

Gambar 4.5. Persentase Anak Usia 5-6 Tahun yang pernah/sedang


Mengikuti PAUD menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2018
58,93 58,78 58,86

55,28 55,49 55,38

51,84 51,51
51,20

Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan

Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan


Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

50 Profil Anak Indonesia 2019


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

Gambar 4.5 memperlihatkan persentase anak laki-laki usia


5-6 tahun yang pernah/sedang mengikuti PAUD. Hampir tidak ada
perbedaan yang signifikan antara anak laki-laki maupun perempuan
baik di perkotaan maupun di perdesaan. Persentasenya lebih
tinggi pada anak yang tinggal di perkotaan yaitu sekitar 58 persen
dibandingkan di perdesaan yang mencapai 51 persen. Perbedaan ini
bisa terjadi karena di perkotaan PAUD sudah seperti sekolah dimana
anak di kota seperti diwajibkan masuk dalam sekolah jenjang ini dan
orang tua yang sudah sadar arti pentingnya pendidikan prasekolah
bagi anak-anak usia 5-6 tahun. Fenomena kedua orang tua bekerja
bisa juga menentukan tingginya angka partisipasi PAUD di perkotaan.
Mereka menitipkan buah hatinya untuk bersekolah di PAUD tersebut.

Tabel 4.8. Persentase Anak usia 0-6 Tahun yang pernah/sedang mengikuti PAUD
menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin dan Jenis PAUD, 2018

Jenis PAUD

Pos PAUD/
Tipe Daerah/Jenis Tempat
PAUD
Kelamin Kelompok Penitipan/
TK RA/BA terintegrasi Jumlah
Bermain Pengasuhan
BKB/
anak
Posyandu
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Perkotaan :
Laki-laki 63,37 6,42 27,20 2,27 0,73 100,00
Perempuan 62,62 6,81 27,42 2,48 0,67 100,00
Laki-laki + Perempuan 63,00 6,62 27,31 2,38 0,70 100,00
Perdesaan :
Laki-laki 58,29 6,25 32,97 1,91 0,57 100,00
Perempuan 58,11 5,04 35,05 1,56 0,25 100,00
Laki-laki + Perempuan 58,20 5,64 34,02 1,73 0,41 100,00
Perkotaan + Perdesaan :
Laki-laki 61,14 6,35 29,74 2,11 0,66 100,00
Perempuan 60,59 6,01 30,85 2,07 0,48 100,00
Laki-laki + Perempuan 60,86 6,18 30,29 2,09 0,57 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 51


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

Tabel 4.8 memperlihatkan bahwa Jenis PAUD yang paling


banyak diikuti oleh anak usia 0-6 tahun adalah TK dengan persentase
sebesar 60,86 persen, sedangkan terbanyak kedua adalah Pos
PAUD/PAUD terintegrasi BKB/Posyandu dengan persentase
sebesar 30,29 persen dan ketiga adalah RA/BA sebesar 6,18 persen.
Jika diamati menurut daerah tempat tinggal dan jenis PAUD,
persentase anak usia 0-6 tahun yang mengikuti PAUD di daerah
perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan untuk hampir semua
jenis PAUD, kecuali anak-anak yang sedang mengikuti Pos PAUD/
PAUD Terintegrasi BKB/Posyandu yang partisipasinya lebih tinggi
di perdesaan yaitu 34,02 persen dibandingkan di daerah perkotaan
sebesar 27,31 persen.
Angka partisipasi anak usia 0-6 tahun yang sedang mengikuti
PAUD dirinci menurut provinsi di sajikan pada tabel lampiran
L-4.21-L-4.25. Provinsi dengan angka partisipasi PAUD tertinggi
adalah DI Yogyakarta yaitu sebesar 45,55 persen, sementara Papua
merupakan provinsi dengan angka partisipasi PAUD terkecil yaitu
sebesar 8,26 persen.

4.3. Indikator PAUD


Pendidikan Anak Usia Dini bertujuan untuk membentuk anak
yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai
dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang
optimal di dalam memasuki pendidikan dasar. Sesuai dengan tujuan
ke empat Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development
Goals/SDGs) yaitu dipastikan pada tahun 2030 bahwa semua anak
perempuan dan laki-laki mendapat akses terhadap pengembangan
masa kanak-kanak secara dini yang berkualitas, juga pengasuhan dan
pendidikan pra-dasar agar mereka siap untuk masuk ke pendidikan
dasar. Meski begitu, tugas mendidik anak tetaplah harus dipegang
orang tua sebagai tangan pertama. Selebihnya, PAUD bisa menjadi
partner bagi orang tua. Pada bab ini indikator PAUD adalah Angka
Partisipasi Kasar (APK) PAUD dan Angka Kesiapan Sekolah (AKS).

4.3.1. Angka Partisipasi Kasar (APK ) PAUD


APK PAUD merupakan persentase jumlah penduduk yang
sedang menempuh pendidikan pra sekolah (TK/BA/RA atau PAUD
sejenis) terhadap jumlah penduduk usia 3 – 6 tahun. Usia pra

52 Profil Anak Indonesia 2019


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

sekolah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun dimana pada
usia ini anak masih kurang bersosialisasi dengan orang lain, belum
bisa mengurus diri sendiri misalnya memakai baju, mandi, makan
dan sebagainya.
APK pada jenjang PAUD mengindikasikan partisipasi anak
yang sedang mengikuti pendidikan usia dini tanpa melihat usia. APK
PAUD digunakan untuk mengukur keberhasilan program pendidikan
PAUD yang diselenggarakan dalam rangka memperluas kesempatan
mengenyam pendidikannya. APK PAUD merupakan persentase
jumlah penduduk yang sedang menempuh pendidikan pra sekolah
(TK/BA/RA atau PAUD sejenis) terhadap jumlah penduduk usia 3 –
6 tahun.

Σ anak yang terdaftar dalam program PAUD


𝐀𝐀𝐀𝐀𝐀𝐀 𝐀𝐀𝐀𝐀𝐏𝐏𝐏𝐏 = x 100 %
Σ penduduk usia 3 − 6 tahun

Gambar 4.6 menyajikan APK PAUD usia 3-6 tahun menurut


tipe daerah dan jenis kelamin. APK PAUD usia 3-6 tahun sebesar
37,92 persen. APK PAUD di perkotaan sebesar 39,46 persen, lebih
tinggi dibandingkan di perdesaan sebesar 36,14 persen. Hal ini
dipengaruhi oleh beberapa hal. Penduduk wanita bekerja di daerah
perkotaan lebih banyak dibanding daerah perdesaan, sehingga
mereka lebih memilih untuk memberikan pendidikan pra sekolah
misalnya di Tempat Penitipan/Pengasuhan Anak (TPA) maupun
Kelompok Bermain. Selain itu, kondisi sosial di perkotaan juga lebih
individualis sehingga orang tua lebih memilih pra sekolah sebagai
wadah belajar bersosialisasi. Rendahnya angka tersebut diduga
berkaitan dengan pelaksanaan PAUD yang belum menjangkau
seluruh lapisan masyarakat. Selain itu juga ada sebagian anak usia
5-6 tahun yang sudah masuk SD/sederajat. Kesenjangan terjadi
antar daerah perkotaan dan perdesaan. Hal ini diduga karena
ketersediaan PAUD yang lebih banyak dan beragam di wilayah
perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan. Jika dibedakan
menurut jenis kelamin, APK PAUD perempuan sedikit lebih tinggi
dibandingkan APK PAUD laki-laki.

Profil Anak Indonesia 2019 53


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

Gambar 4.6. angka partisipasi kasar (apk) paud usia 3-6 tahun menurut
Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2018

39,68 39,46
39,25
38,50
37,92
37,14 37,36
36,14
35,18

Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan

Laki-laki Perempuan Laki-laki+Perempuan

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Bila di lihat menurut provinsi yang disajikan pada Gambar 4.7


bahwa Provinsi DI Yogyakarta dan Jawa Timur sudah mencapai lebih
dari 50 persen, masing-masing sebesar 72,00 persen dan 57,76
persen. Dua pertiga provinsi di Indonesia pencapaian partisipasi
PAUD berada di bawah angka nasional (38,61 persen). Provinsi
dengan APK PAUD usia 3-6 tahun terendah adalah Provinsi Papua
sebesar 13,01 persen.

54 Profil Anak Indonesia 2019


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

Gambar 4.7. Persentase Anak Usia 3-6 Tahun yang Sedang Mengikuti PAUD
menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2018

DI Yogyakarta 72,00
Jawa Timur 57,76
Jawa Tengah 50,61
Gorontalo 50,29
Kalimantan Selatan 47,97
Sulawesi Barat 43,24
Sulawesi Tengah 42,38
DKI Jakarta 41,15
Nusa Tenggara Barat 40,33
Kalimantan Tengah 39,14
Indonesia 38,61
Jawa Barat 37,03
Kepulauan Bangka Belitung 36,32
Bali 36,01
Maluku Utara 33,69
Lampung 33,54
Kalimantan Timur 33,34
Kalimantan Utara 32,76
Sulawesi Selatan 32,74
Jambi 32,67
Nusa Tenggara Timur 32,46
Sulawesi Utara 32,09
Sulawesi Tenggara 31,99
Aceh 31,76
Banten 30,63
Sumatera Barat 30,32
Maluku 30,23
Bengkulu 29,89
Riau 29,57
Kepulauan Riau 28,19
Papua Barat 27,48
Sumatera Selatan 25,55
Sumatera Utara 24,85
Kalimantan Barat 22,46
Papua 13,01

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 55


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

4.3.2. Angka Kesiapan Sekolah (AKS)


Kesiapan sekolah merupakan tahapan perkembangan di
mana anak sudah memiliki kesiapan mengikuti perubahan/transisi
kegiatan dari rumah ke sekolah. Pada dasarnya, kesiapan sekolah
tidak hanya dilihat dari sudut pandang kesiapan anak semata,
tetapi perlu juga kesiapan lingkungan keluarga dan sekolah. Peran
pemerintah juga sangat diperlukan dalam hal penyediaan fasilitas
sekolah yang baik bagi anak bangsa.
Angka Kesiapan Sekolah (AKS) merupakan indikator pendidikan
yang digunakan untuk melihat kesiapan anak memasuki jenjang
pendidikan dasar (SD/Sederajat). Secara konsep, angka kesiapan
sekolah merupakan persentase jumlah anak yang sedang bersekolah
di kelas 1 SD/Sederajat yang tahun ajaran sebelumnya pernah
mengikuti pendidikan pra sekolah (TK/BA/RA atau PAUD) terhadap
jumlah anak di kelas 1 SD/Sederajat.

Σ anak kelas 1 SD/Sederajat


yang pernah mengikuti PAUD
𝐀𝐀𝐀𝐀𝐀𝐀 = x 100 %
Σ anak kelas 1 SD/Sederajat

Anak yang mulai memasuki usia sekolah, hendaknya sudah


memiliki kemampuan-kemampuan yang dapat memudahkan mereka
beradaptasi dalam dunia barunya seperti kemampuan akademik,
kemampuan kognitif, kemampuan bahasa, kemampuan penalaran
moral, atau kemampuan sosial yang akan memudahkannya dalam
menyelesaikan tugas perkembangan.
Peran keluarga dan keberadaan PAUD mampu memenuhi
beberapa aspek kompetensi kesiapan anak memasuki jenjang
pendidikan dasar, yaitu kesehatan fisik dan perkembangan motorik,
perkembangan sosial dan emosional, perkembangan bahasa,
pendekatan untuk belajar, kognitif dan pengetahuan umum. Anak
yang memiliki kesiapan untuk sekolah akan mampu beradaptasi di
lingkungan sekolah dan berhasil dalam proses belajar mengajar.
Tabel 4.9 menunjukkan persentase anak yang bersekolah di
kelas 1 SD/Sederajat yang pernah mengikuti PAUD sebesar 74,51
persen, artinya 7 dari 10 anak yang duduk di kelas 1 SD/Sederajat
sudah memiliki kesiapan untuk terlibat dalam proses kegiatan
belajar mengajar. Dilihat dari jenis kelamin AKS anak perempuan

56 Profil Anak Indonesia 2019


Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif

relatif sedikit lebih tinggi dibandingkan laki-laki, masing-masing


sebesar 75,34 persen dan 73,74 persen.

Tabel 4.9. PERSENTASE Anak yang bersekolah di kelas 1 sd/sederajat yang


pernah mengikuti paud menurut tipe daerah dan jenis kelamin, 2018

Keikutsertaan PAUD
Tipe Daerah/Jenis
Kelamin
Pernah Tidak Pernah Jumlah
(1) (2) (3) (4)
Perkotaan :
Laki-laki 79,85 20,15 100,00
Perempuan 80,65 19,35 100,00
Laki-laki + Perempuan 80,24 19,76 100,00
Perdesaan :
Laki-laki 67,28 32,72 100,00
Perempuan 69,59 30,41 100,00
Laki-laki + Perempuan 68,40 31,60 100,00
Perkotaan + Perdesaan :
Laki-laki 73,74 26,26 100,00
Perempuan 75,34 24,66 100,00
Laki-laki + Perempuan 74,51 25,49 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Persentase anak yang bersekolah di kelas 1 SD/Sederajat


yang pernah mengikuti PAUD per provinsi disajikan pada lampiran
L-4.30. AKS PAUD di seluruh provinsi sudah di atas 50 persen, kecuali
Maluku Utara sebesar 47,83 persen, Kalimantan Barat sebesar 35,93
persen, dan terendah Papua sebesar 34,65 persen. Provinsi dengan
AKS tertinggi adalah DI Yogyakarta yaitu sebesar 99,54 persen.

Profil Anak Indonesia 2019 57


BAB 5

KESEHATAN DASAR DAN


KESEJAHTERAAN ANAK
Tahun 2018 wanita pernah kawin usia 15-49 tahun yang
melahirkan hidup dalam dua tahun terakhir sebagian besar
persalinannya ditolong oleh bidan, yaitu sebesar 60,00
persen. Sekitar 30,8 persen anak balita mengalami stunting
(Riskesdas 2018). Mereka terdiri dari balita yang
sangat pendek (11,5 persen) dan balita pendek (19,3
persen). Sebanyak 31,59 persen anak usia 0-17 tahun
mengalami keluhan kesehatan, sedangkan yang sakit
(mengalami keluhan kesehatan dan mengganggu
aktivitas sehari-hari) sebesar 15,89 persen. Anak
yang tinggal di rumah tangga dengan fasilitas air
layak sebesar 73,10 persen, sedangkan anak yang
tinggal di rumah tangga kumuh sebesar 8,88 persen.

Anak merupakan aset bangsa yang tidak ternilai. Anak bagian


dari kelompok penduduk muda yang perlu diperhatikan sehingga
dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan
potensinya. Kepentingan yang utama untuk tumbuh dan berkembang
dalam kehidupan anak harus memperoleh prioritas yang sangat
tinggi. Sayangnya, tidak semua anak mempunyai kesempatan yang
sama dalam merealisasikan harapan dan aspirasinya.
Untuk menjamin dan melindungi hak-hak anak, Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan Konvensi Hak-Hak Anak
(Convention On The Rights of The Child) pada tanggal 20 November
1989. Konvensi Hak-Hak Anak merupakan wujud nyata atas upaya
perlindungan terhadap anak di seluruh dunia, agar hidup anak
menjadi lebih baik. Sejak Indonesia meratifikasi Konvensi Hak-Hak
Anak dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun
1990 banyak kemajuan yang telah ditunjukkan oleh pemerintah
Indonesia dalam melaksanakan Konvensi Hak-Hak Anak.

Profil Anak Indonesia 2019 61


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Dalam semua tindakan yang menyangkut anak, baik yang


dilakukan oleh lembaga-lembaga kesejahteraan sosial pemerintah
atau swasta, lembaga pengadilan, lembaga pemerintah atau
badan legislatif, kepentingan terbaik bagi anak harus dijadikan
pertimbangan utama (Konvensi Hak-Hak Anak Pasal 3 Ayat 1). Selain
itu, dalam kaitannya dengan kesehatan di Pasal 24 Ayat 1 disebutkan
bahwa negara-negara peserta mengakui hak anak untuk menikmati
standar kesehatan tertinggi yang dapat dicapai dan fasilitas
perawatan apabila sakit dan pemulihan kesehatan.
Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan
Anak menyebutkan bahwa kesejahteraan anak adalah suatu
tata kehidupan dan penghidupan anak yang dapat menjamin
pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar, baik secara
rohani, jasmani maupun sosial (Pasal 1 Ayat 1.a). Usaha kesejahteraan
anak adalah usaha kesejahteraan sosial yang ditujukan untuk
menjamin terwujudnya kesejahteraan anak terutama terpenuhinya
kebutuhan pokok anak (Pasal 1 Ayat 1.b).
Arah kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan nasional
2015-2019 merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka
Panjang bidang Kesehatan (RPJPK) 2005-2025, yang bertujuan
meningkatkan kesadaran, kemauan, kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya dapat terwujud, melalui terciptanya masyarakat,
bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya
yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat, memiliki
kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu,
secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang
setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik lndonesia.
Sasaran pembangunan kesehatan yang akan dicapai pada
tahun 2025 adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat
yang ditunjukkan oleh meningkatnya Usia Harapan Hidup (UHH),
menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB), menurunnya Angka
Kematian Ibu (AKI), menurunnya prevalensi gizi kurang pada balita.
Dalam RPJMN 2015-2019, sasaran yang ingin dicapai adalah
meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui
upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung
dengan perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan.
Pada tahun 2019, pemerintah menetapkan target penurunan angka

62 Profil Anak Indonesia 2019


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

kematian bayi menjadi 24 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Target


prevalensi kekurangan gizi balita sebesar 17 persen, dan stunting
(anak pendek dan sangat pendek) sebesar 28 persen di tahun 2019.
Ruang lingkup kesehatan anak yang disajikan dalam publikasi
ini mencakup: penolong kelahiran; Inisiasi Menyusu Dini (IMD);
pemberian Air Susu Ibu (ASI); imunisasi; berat badan saat lahir dan
status gizi; keluhan kesehatan anak; angka kesakitan; rawat jalan
dan rawat inap; kepemilikan dan penggunaan jaminan kesehatan;
dan perilaku merokok. Sedangkan ruang lingkup kesejahteraan
anak dalam publikasi ini mencakup kepemilikan rumah, akses
terhadap sanitasi layak, akses terhadap air layak, dan anak yang
tinggal di rumah kumuh. Sumber data yang digunakan dalam bab ini
merupakan hasil dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018
dan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018.

5.1. Penolong Persalinan


Penolong persalinan oleh tenaga kesehatan, seperti dokter
atau bidan dapat mengurangi risiko kematian ibu dan bayi. Risiko
komplikasi kehamilan dan persalinan yang dapat menyebabkan
kematian ibu dan bayi dapat dikurangi jika persalinan ditolong oleh
tenaga kesehatan. Apabila seorang ibu meninggal, maka anak-
anak yang ditinggalkannya akan memiliki kemungkinan tiga sampai
sepuluh kali lebih tinggi untuk meninggal dalam waktu dua tahun
bila dibandingkan dengan mereka yang masih mempunyai kedua
orang tua (Sodikin, 2009).
Penolong persalinan oleh dukun masih cukup banyak dijumpai
di masyarakat yang tinggal di daerah perdesaan. Hal ini berkaitan
erat dengan budaya atau kebiasaan di wilayah tersebut. Keputusan
memilih penolong persalinan masih banyak ditentukan oleh suami.
Oleh karenanya, perlu upaya keras pemerintah untuk mengurangi
persalinan yang ditolong oleh bukan tenaga kesehatan. Rencana
Strategis Kementerian Kesehatan 2015-2019 menyebutkan bahwa
salah satu sasaran program bina gizi dan kesehatan ibu dan anak
adalah meningkatnya ketersediaan dan keterjangkauan pelayanan
kesehatan yang bermutu bagi seluruh masyarakat. Salah satu
sasarannya adalah persentase persalinan di fasilitas pelayanan
kesehatan, sebesar 85 persen. Pemilihan penolong persalinan
yang kompeten berpengaruh terhadap pencapaian target program

Profil Anak Indonesia 2019 63


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

ASI eksklusif. Penolong persalinan tenaga kesehatan diwajibkan


memastikan penerapan inisiasi menyusu dini guna mencapai
keberhasilan ASI eksklusif.

Gambar 5.1. Persentase perempuan Pernah Kawin (pPK) usia 15-49 Tahun
yang Melahirkan Hidup dalam Dua Tahun Terakhir menurut
Gambar 5.1 : Penolong persalinan dan Tipe Daerah, 2018
Persentase Perempuan Pernah Kawin (PPK) Umur 15-49 Tahun yang Melahirkan Hidup dalam Dua Tahun Terakhir Menurut Provinsi, Penolong Kelahiran Terakhir, dan T
Daerah, 2018

64,48
60,00
56,13

40,79

32,92

23,79

9,39
5,67
2,46 0,97 1,16 0,70
0,48 0,11 0,03 0,21 0,60 0,11

Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan

Dokter Bidan Perawat Dukun Beranak Lainnya Tidak Ada

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Dalam Susenas 2018, definisi penolong persalinan adalah


penolong terakhir anak lahir hidup dalam dua tahun terakhir. Sebagai
contoh seorang ibu usia 15-49 tahun melahirkan ditolong oleh bidan,
tetapi karena ada komplikasi kehamilan dan alat-alat kesehatan
yang kurang memadai menyebabkan proses persalinannya ditolong
oleh dokter kandungan, maka penolong persalinan terakhir adalah
dokter kandungan.
Gambar 5.1 menyajikan informasi tentang Perempuan Pernah
Kawin (PPK) usia 15-49 tahun yang melahirkan hidup menurut
penolong persalinan terakhir. Persentase penolong persalinan
tertinggi adalah tenaga kesehatan yaitu bidan sebesar 60 persen
dan dokter sebesar 32,92 persen. Daerah perkotaan dan perdesaan
menunjukkan pola yang sama. Di daerah perkotaan penolong
persalinan oleh tenaga medis cenderung lebih tinggi dibandingkan
dengan di daerah perdesaan. Di perdesaan masih ada 9,39 persen

64 Profil Anak Indonesia 2019


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

penolong persalinan yang ditolong oleh dukun beranak/paraji. Hal


ini perlu mendapat perhatian lebih dari pemangku kepentingan.
Secara umum, persalinan yang ditolong oleh bukan tenaga
medis memiliki risiko komplikasi saat persalinan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan persalinan yang ditolong oleh tenaga
kesehatan. Persalinan yang ditolong oleh bukan tenaga kesehatan
bahkan dapat menyebabkan kematian ibu dan bayi. Provinsi di daerah
timur Indonesia memiliki persentase penolong persalinan bukan oleh
tenaga kesehatan (selain dokter, bidan, dan perawat) yang relatif
tinggi. Penolong persalinan bukan oleh tenaga kesehatan tertinggi
berada di Provinsi Papua, yaitu sebesar 38,45 persen, kemudian
diikuti Provinsi Maluku dan Maluku Utara, masing-masing sebesar
36,33 persen dan 24,06 persen. (Selengkapnya lihat Lampiran Tabel
L-5.3).

Gambar 5.2. Persentase Perempuan Pernah Kawin (PPK) USIA 15-49 Tahun
yang Melahirkan Hidup dalam Dua Tahun Terakhir menurut
Grafik 5.2
Tempat Melahirkan dan Tipe Daerah, 2018
Persentase Perempuan Pernah Kawin (PPK) Umur 15-49 Tahun yang Melahirkan Hidup dalam Dua Tahun Terakhir Menurut
Provinsi, Tempat Melahirkan, dan Tipe Daerah, 2018

40,31
38,08

32,73
31,20
27,09
23,93 24,99
23,23

18,81
16,39
13,48

7,16

0,98 0,76 0,87

Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan

RS/RSIA Rumah Bersalin/ Puskesmas/ Pustu/ Polindes/ Poskesdes Rumah Lainnya


Klinik/Praktik Nakes

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Selain penolong persalinan, tempat melahirkan juga ikut


memengaruhi kesehatan bayi. Informasi mengenai PPK usia 15-49
tahun yang melahirkan hidup dalam dua tahun terakhir menurut

Profil Anak Indonesia 2019 65


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

tempat melahirkan dapat dilihat pada Gambar 5.2. Sejalan dengan


penolong persalinan, persentase tempat melahirkan tertinggi
di Indonesia adalah RS/RSIA sebesar 32,73 persen dan Rumah
Bersalin/Klinik/Praktik Tenaga Kesehatan sebesar 31,20 persen.
Pilihan tempat melahirkan di perkotaan memiliki pola yang berbeda
dibandingkan dengan di perdesaan. Di perkotaan PPK usia 15-
49 tahun paling banyak melakukan persalinan di RS/RSIA (40,31
persen) dan Rumah Bersalin/Klinik/Praktik Tenaga Kesehatan
(38,08 persen). Sementara itu, di perdesaan lebih banyak yang
melahirkan di Rumah (27,09 persen) dan di Puskesmas/Pustu/
Polindes/Poskesdes (24,99 persen).

5.2. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)


Salah satu metode yang digunakan untuk meningkatkan
keberhasilan pemberian ASI pada bayi baru lahir adalah Inisiasi
Menyusu Dini (IMD). Dalam Riskesdas 2018, yang dimaksud IMD
adalah kontak antara kulit ibu dengan kulit bayi sesegera mungkin
dalam jangka waktu 1 (satu) jam setelah bayi dilahirkan. Bayi yang
baru lahir diletakkan di dada/perut ibu dengan kulit ibu melekat
pada kulit bayi (tanpa penghalang apapun).

Gambar 5.3. Proporsi INISIASI MENYUSu DINI (IMD) dan Lama IMD
Gambar 5.3 pada anak usia 0-23 bulan, 2018

Proporsi IMD Tidak IMD


IMD 58,2% 41,8 %

Lama < 1jam >= 1Jam


IMD 84,1% 15,9%

Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

IMD bermanfaat untuk mencegah hipotermia pada bayi karena


dada ibu mampu menghangatkan bayi dengan tepat selama bayi
merangkak mencari payudara ibu. Pada saat IMD bayi juga menjadi
lebih tenang. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa

66 Profil Anak Indonesia 2019


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

bayi yang diberi kesempatan untuk menyusu dini lebih berhasil


menyusu eksklusif dan memiliki kesempatan untuk menghisap
kolostrum yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi.
Hasil Riskesdas 2018 pada Gambar 5.3 memperlihatkan
bahwa proporsi baduta yang melakukan IMD sebanyak 58,2 persen.
Sebagian besar baduta yang melakukan IMD, menjalankan IMD
selama kurang dari satu jam, sedangkan yang lama IMD satu jam
atau lebih hanya 15,9 persen.

Gambar 5.4. Proporsi inisiasi menyusu dini (IMD) pada anak usia 0-23
Gambar 5.4 bulan menurut pendidikan KRT dan tipe daerah, 2018

63,1
61,9
60,5
58,7
56,3
54,2 53,5 54,1

T idak/ belum T idak T amat T amat T amat T amat Perkotaan Perdesaan


pernah tamat SD/MI SLT P/ SLTA/ D1/D2/D3/
sekolah SD/MI MTS MA PT
Pendidikan KRT Tipe Daerah

Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

Gambar 5.4 menyajikan informasi proporsi IMD pada baduta


dilihat berdasarkan pendidikan Kepala Rumah Tangga (KRT)
dan daerah tempat tinggal. Dilihat berdasarkan pendidikan KRT,
secara umum ada kecenderungan bahwa proporsi IMD pada
baduta semakin tinggi dengan semakin tingginya pendidikan KRT.
Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan KRT sangat penting dan
berpengaruh positif terhadap proporsi IMD pada baduta. Selain itu,
dari Gambar 5.4 juga terlihat bahwa terdapat perbedaan proporsi
IMD yang cukup signifikan antara baduta yang tinggal di perkotaan
dengan baduta yang tinggal di perdesaan. IMD di perkotaan lebih
tinggi dibandingkan dengan perdesaan, yaitu 61,9 persen berbanding

Profil Anak Indonesia 2019 67


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

54,1 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa kesadaran masyarakat


di perkotaan terhadap pentingnya IMD lebih baik dibandingkan
dengan masyarakat di perdesaan.

5.3. Air Susu Ibu (ASI)


Banyak manfaat diperoleh dari pemberian Air Susu Ibu (ASI). ASI
menjadi sumber gizi utama bagi bayi yang belum dapat mencerna
makanan padat. Bayi yang disusui dengan ASI akan mendapatkan
gizi terbaik yang tidak tergantikan bahkan oleh susu formula yang
terbaik sekalipun. Pemberian ASI dapat menurunkan angka kesakitan
bayi, mengoptimalkan pertumbuhan, membantu perkembangan
kecerdasan. Selain itu, pemberian ASI juga memberikan sejumlah
manfaat bagi ibu seperti membantu memperpanjang jarak
kehamilan, dan terhindar dari kanker payudara dan ovarium, serta
meningkatkan ikatan ibu dan bayi.

Gambar 5.5. Persentase Anak usia 0-23 bulan (Baduta) yang Pernah
Disusui dan masih disusui, 2018

93,0
78,8

Pernah Disusui Masih Disusui

Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

Gambar 5.5 memberikan informasi persentase baduta yang


pernah disusui dan yang masih disusui. Baduta yang pernah
disusui sebanyak 93 persen, sedangkan baduta yang masih disusui
sebanyak 78,8 persen. Pada Gambar 5.5 hanya ditampilkan informasi
baduta secara umum yang pernah disusui dan yang masih disusui.
Sedangkan untuk melihat lebih rinci menurut karakteristiknya, dapat
dilihat pada Gambar 5.6 dan Gambar 5.7.

68 Profil Anak Indonesia 2019


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Baduta yang pernah disusui dan yang masih disusui


berdasarkan karakteristik pendidikan KRT tersaji pada Gambar
5.6. Dari Gambar tersebut terlihat perbedaan persentase baduta
yang pernah disusui jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan
KRT. Meskipun perbedaannya tidak cukup besar, tetapi terdapat
pola yang menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan KRT,
maka semakin besar persentase baduta yang pernah disusui.
Persentase terendah baduta yang pernah disusui terdapat pada
kelompok baduta yang memiliki KRT tidak/belum pernah sekolah,
yaitu sebesar 92,2 persen. Pada kelompok baduta yang KRT-nya
tamat pendidikan tinggi, 94,1 persennya pernah disusui. Persentase
baduta yang masih disusui berbeda-beda jika dilihat berdasarkan
pendidikan KRT. Hal ini menunjukkan adanya keragaman mengenai
keberlangsungan pemberian ASI jika dilihat dari pendidikan KRT.

Gambar 5.6. Persentase Anak usia 0-23 bulan (Baduta) yang Pernah
Disusui dan masih disusui MENURUT PENDIDIKAN KRT, 2018

92,2 92,3 92,3 93,1 93,6 94,1

80,8 81,1 82,0 79,3 75,6 75,8

T idak/belum T idak tamat T amat SD/MI T amat SLT T amat SLT T amat
pernah sekolah SD/MI P/MTS A/MA D1/D2/D3/PT

Pernah Disusui Masih Disusui

Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

Baduta yang tinggal di perkotaan dan perdesaan memiliki


perbedaan dalam pemberian ASI. Di perkotaan, persentase baduta
yang pernah disusui lebih tinggi daripada di perdesaan, yaitu 93,1
persen berbanding 92,9 persen. Meskipun demikian, persentase
baduta di perdesaan yang masih disusui lebih tinggi daripada baduta
di perkotaan. Hal ini mengindikasikan bahwa keberlangsungan
pemberian ASI pada baduta di perdesaan lebih lama dibandingkan
perkotaan.

Profil Anak Indonesia 2019 69


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Gambar 5.7. Persentase Anak usia 0-23 bulan (Baduta) yang Pernah
Disusui dan masih disusui MENURUT TIPE DAERAH, 2018
93,1 92,9

82,0
76,0

Perkotaan Perdesaan

Pernah Disusui Masih Disusui

Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

Untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan bayi yang


optimal, ASI eksklusif perlu diberikan pada bayi baru lahir sampai
usia enam bulan dan dapat dilanjutkan sampai anak usia 2 tahun
(Kemenkes, 2004). ASI sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan
bayi sampai usia 6 bulan. Tidak ada makanan lain yang dibutuhkan
selama masa ini. ASI bersifat steril, berbeda dengan susu lain
seperti susu formula atau cairan lain yang disiapkan dengan air
atau bahan lainnya yang dapat terkontaminasi dalam botol yang
kotor. Pemberian ASI saja, tanpa cairan atau makanan lain dan tanpa
menggunakan botol, menghindarkan anak dari bahaya bakteri dan
organisme lain yang akan menyebabkan diare (Kemenkes, 2011).
Dalam Riskesdas 2018, proporsi bayi yang mendapatkan ASI
eksklusif dihitung dengan formula jumlah anak usia 0-5 bulan yang
hanya menerima ASI saja, tidak diberi makanan atau minuman lain,
termasuk air putih (kecuali obat-obatan dan vitamin, atau mineral
tetes, ASI perah) dalam 24 jam terakhir dibagi dengan jumlah seluruh
bayi usia 0-5 bulan. Pemberian ASI eksklusif sejak bayi dilahirkan
baik dilakukan agar mendapatkan kolostrum, yang berupa air susu
ibu berwarna kekuningan yang keluar di hari pertama sampai hari ke
tiga saat ibu mulai menyusui. Kolostrum berprotein tinggi, kaya zat
anti infeksi, dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi.

70 Profil Anak Indonesia 2019


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Tabel 5.1. proporsi pemberian asi saja dalam 24 jam terakhir


pada bayi usia 0-5 bulan menurut kelompok usia,
jenis kelamin dan tipe daerah, 2018

Karakteristik Persentase N Tertimbang

(1) (2) (3)

Kelompok Usia
0 bulan 81,0 1 242
1 bulan 78,4 1 198
2 bulan 79,7 1 125
3 bulan 74,4 1 313
4 bulan 72,4 1 244
5 bulan 62,2 1 293
Jenis Kelamin
Laki-laki 74,1 3 772
Perempuan 74,9 3 643
Tipe Daerah
Perkotaan 72,7 3 914
Perdesaan 76,6 3 501
Total 74,5 7 415

Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

Tabel 5.1 menyajikan informasi proporsi pemberian ASI


eksklusif dilihat dari beberapa karakteristik. Dilihat dari usianya,
diketahui bahwa semakin tua usia bayi, maka semakin kecil proporsi
bayi yang hanya diberi ASI saja dalam 24 jam terakhir. Tidak terdapat
perbedaan yang berarti antara bayi laki-laki dan perempuan dalam
hal pemberian ASI eksklusif. Jika dilihat dari daerah tempat tinggal,
terlihat bahwa proporsi bayi yang diberi ASI eksklusif lebih tinggi di
perdesaan dibandingkan di perkotaan, masing-masing 76,6 persen
dan 72,7 persen.

5.4. Imunisasi
Salah satu cara untuk mencegah penularan penyakit yaitu
dengan imunisasi. Dengan diberi imunisasi, anak tidak mudah
tertular infeksi, tidak mudah menderita sakit, dan dapat mencegah
wabah penyakit. Pentingnya imunisasi didasarkan pada pemikiran
paradigma sehat bahwa upaya promotif dan preventif merupakan
hal yang terpenting dalam peningkatan status kesehatan.

Profil Anak Indonesia 2019 71


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Imunisasi dasar adalah salah satu jenis dari imunisasi rutin


yang diberikan pada bayi sebelum usia 1 (satu) tahun. Imunisasi
rutin lainnya adalah imunisasi lanjutan yang merupakan ulangan
dari imunisasi dasar untuk mempertahankan tingkat kekebalan dan
memperpanjang masa perlindungan anak yang sudah mendapatkan
imunisasi dasar.
Program imunisasi dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1956.
Melalui program imunisasi, Indonesia dinyatakan bebas penyakit
cacar sejak tahun 1974. Sejak saat itu program-program pemerintah
diperluas menjadi program pengembangan imunisasi dalam rangka
pencegahan penularan terhadap Penyakit yang Dapat Dicegah
Dengan Imunisasi (PD3I) yaitu tuberkulosis, difteri, pertusis, campak,
polio, tetanus, dan hepatitis B.
Informasi cakupan imunisasi pada Riskesdas 2018 ditanyakan
kepada ibu yang mempunyai balita usia 0-59 bulan. Informasi
imunisasi dikumpulkan berdasarkan dua sumber informasi, yaitu
wawancara kepada ibu balita atau anggota rumah tangga yang
mengetahui, serta catatan dalam KMS atau catatan dalam buku
kesehatan anak lainnya. Apabila salah satu dari kedua sumber
tersebut menyatakan bahwa anak sudah diimunisasi, disimpulkan
bahwa anak tersebut sudah diimunisasi untuk jenis yang ditanyakan.

Gambar 5.8. Proporsi jenis imunisasi dasar pada anak usia 12-23 bulan, 2018

83,1 86,9
77,3
65,4 63,9 67,6
61,3

HB-0 BCG DPT-HB/ DPT-HB/ DPT-HB/ Polio1-4 Campak


DPT-HB-Hib 1 DPT-HB-Hib 2 DPT-HB-Hib 3 atau
IPV 1-3

Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

72 Profil Anak Indonesia 2019


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Persentase anak usia 12-23 bulan yang mendapatkan imunisasi


dasar menurut jenis imunisasi terlihat pada Gambar 5.8. Persentase
anak usia 12-23 bulan yang diberi imunisasi dasar berkisar antara
61 sampai 87 persen. Jenis imunisasi dasar yang paling banyak
diberikan pada anak usia 12-23 bulan adalah BCG, yaitu sebesar 86,9
persen. Anak usia 12-23 bulan yang sudah memperoleh imunisasi
DPT-HB/DPT-HB-Hib 3 baru mencapai 61,3 persen.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017
tentang penyelenggaraan imunisasi, seorang anak dinyatakan telah
memperoleh imunisasi dasar lengkap apabila telah mendapatkan
satu kali imunisasi HB-0, satu kali imunisasi BCG, tiga kali imunisasi
DPT-HB/DPT-HB-HiB, empat kali imunisasi polio atau tiga kali
imunisasi IPV, dan satu kali imunisasi campak (Kemenkes, 2017).
Saat ini program imunisasi diberikan secara gratis oleh pemerintah
di puskesmas atau melalui posyandu. Informasi imunisasi dasar
lengkap diperoleh dari catatan imunisasi maupun pengakuan ibu
atau orang yang paling mengetahui riwayat imunisasi baduta.

𝐴𝐴𝐼𝐼𝐼𝐼𝑙𝑙 𝐼𝐼𝑃𝑃𝑃𝑃𝐼𝐼 12 − 23 𝑏𝑏𝐼𝐼𝑙𝑙𝐼𝐼𝐼𝐼 𝑦𝑦𝐼𝐼𝐼𝐼𝑙𝑙


𝐼𝐼𝑙𝑙𝐼𝐼𝑙𝑙𝑃𝑃𝑃𝑃𝐼𝐼𝐼𝐼 𝑃𝑃𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝑃𝑃𝑃𝑃𝐼𝐼𝑃𝑃𝑃𝑃 𝑑𝑑𝐼𝐼𝑃𝑃𝐼𝐼𝑃𝑃 𝑙𝑙𝑙𝑙𝐼𝐼𝑙𝑙𝑙𝑙𝐼𝐼𝑃𝑃
𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃 𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝑃𝑃𝑃𝑃𝐼𝐼𝑃𝑃𝑃𝑃 𝑑𝑑𝐼𝐼𝑃𝑃𝐼𝐼𝑃𝑃 𝑙𝑙𝑙𝑙𝐼𝐼𝑙𝑙𝑙𝑙𝐼𝐼𝑃𝑃 =
𝐽𝐽𝐼𝐼𝐼𝐼𝑙𝑙𝐼𝐼ℎ 𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝐼𝑙𝑙 𝐼𝐼𝑃𝑃𝑃𝑃𝐼𝐼 12 − 23 𝑏𝑏𝐼𝐼𝑙𝑙𝐼𝐼𝐼𝐼

Gambar 5.9. Proporsi Imunisasi Dasar Lengkap pada Anak usia 12-23 Bulan, 2018

9,2

32,9
Imunisasi
Dasar 57,9

Lengkap Tidak Lengkap Tidak Imunisasi

Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

Profil Anak Indonesia 2019 73


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Gambar 5.9 memperlihatkan bahwa sebesar 57,9 persen anak


usia 12-23 bulan sudah mendapat imunisasi lengkap dan yang
mendapatkan imunisasi tidak lengkap sebesar 32,9 persen. Meskipun
demikian, masih ada anak usia 12-23 bulan yang tidak diimunisasi.
Hal ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Perlu
dikaji lebih lanjut alasan tidak diimunisasi. Selain itu, pendekatan
yang tepat juga perlu diterapkan agar anak mendapatkan imunisasi
sesuai usianya.

Gambar 5.10. Proporsi Imunisasi Dasar Lengkap pada Anak usia 12-23 Bulan
MENURUT TIPE daerah dan pendidikan KRT, 2018

Total 57,9 32,9 9,2

Perkotaan 61,5 31,9 6,6

Perdesaan 53,8 34,0 12,2

T amat D1/D2/D3/PT 60,6 32,5 6,9

T amat SLT A/MA 61,9 31,2 6,9

T amat SLT P/MTS 58,5 33,9 7,6

T amat SD/MI 55,5 34,1 10,4

T idak tamat SD/MI 52,5 33,7 13,8

T idak/belum pernah sekolah 50,3 31,5 18,2

Lengkap Tidak Lengkap Tidak Imunisasi

Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

Pada Gambar 5.10 terlihat proporsi imunisasi dasar pada


anak usia 12-23 bulan dari beberapa karakteristik. Jika dilihat
berdasarkan klasifikasi daerah tempat tinggal, diketahui bahwa
imunisasi dasar lengkap pada anak usia 12-23 bulan di perkotaan
lebih tinggi daripada di perdesaan. Imunisasi dasar lengkap di
perkotaan mencapai 61,5 persen, sedangkan di perdesaan sebesar
53,8 persen. Selain itu, pemberian imunisasi dasar juga bisa dilihat

74 Profil Anak Indonesia 2019


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

berdasarkan pendidikan KRT. Secara umum dapat dikatakan bahwa


ada kecenderungan semakin tinggi pendidikan KRT, maka semakin
tinggi capaian imunisasi dasar lengkapnya. Pada anak yang KRT-nya
tamat SMA ke atas, terdapat 6,9 persen anak yang tidak diimunisasi.
Persentase anak yang tidak diimunisasi paling tinggi pada anak yang
KRT-nya tidak/belum pernah sekolah, yaitu mencapai 18,2 persen.

5.5. Berat Badan saat Lahir


Indikator status kesehatan anak yang berkaitan dengan
antropometri dalam subbab ini adalah berat badan saat lahir. Berat
badan bayi baru lahir minimal 2.500 gram agar bayi tumbuh kembang
sehat dan cerdas. Pemantauan berat bayi dan anak dilakukan setiap
bulan dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS) (Kemenkes,
2014).
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), yaitu berat bayi lahir
kurang dari 2.500 gram, akan membawa risiko kematian, gangguan
pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk dapat berisiko
menjadi pendek jika tidak tertangani dengan baik (Kemenkes,
2016). Anak dengan riwayat BBLR merupakan salah satu faktor yang
potensial memengaruhi pertumbuhan anak. Terdapat hubungan
yang signifikan antara riwayat status BBLR dengan stunting pada
anak baduta (Rahayu, dkk, 2015). BBLR merupakan faktor risiko
yang paling dominan berhubungan dengan kejadian stunting . Anak
dengan BBLR memiliki risiko 5,87 kali untuk mengalami stunting .
Bayi yang baru lahir memerlukan bantuan dan waktu untuk
melakukan adaptasi terhadap kehidupan baru di luar rahim.
Penyesuaian kehidupan di luar rahim bagi bayi baru lahir dengan
berat badan rendah tentunya memerlukan upaya dan perhatian
lebih. Berbagai metode penanganan bayi baru lahir pada kasus
BBLR perlu dilakukan lebih intensif untuk menghindari kesakitan
dan kematian bayi.
Gambar 5.11 menampilkan persentase Perempuan Pernah Kawin
(PPK) usia 15-49 tahun yang pernah melahirkan dalam dua tahun
terakhir berdasarkan berat badan baduta saat dilahirkan. Persentase
PPK usia 15-49 tahun yang memiliki anak lahir kategori BBLR dapat
dilihat pada kategori berat badan kurang dari 2.500 gram. Terdapat
13 persen wanita usia 15-49 tahun yang melahirkan anak dalam
dua tahun terakhir dengan berat badan lahir rendah (kurang dari

Profil Anak Indonesia 2019 75


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

2.500 gram). Kejadian BBLR menurut tipe daerah nampaknya tidak


memiliki perbedaan yang berarti, yaitu 12,84 persen di perkotaan
dan 13,18 persen di perdesaan.

Gambar 5.11. Persentase


Persentase
Gambar 5.11 WPK 15-49 perempuan pernah
tahun menurut Berat kawin
Badan Waktu(ppk) usiadan15-49
Dilahirkan tahun2018
Tipe Daerah, menurut
berat badan baduta saat dilahirkan, 2018

>= 2,5 Kg

79,01 82,14
84,83
< 2,5 Kg

Tidak Ditumbang/
Tidak Tahu

13,18
13,00
12,84
7,80 4,86
2,33
Perkotaan Perdesaan Perkotaan+
Perdesaan

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

5.6. Status Gizi pada Anak Balita


Dalam Riskesdas 2018, status gizi anak balita (bawah lima
tahun) diukur berdasarkan usia, Berat Badan (BB) dan Tinggi Badan
(TB). Berat badan anak balita ditimbang menggunakan timbangan
digital yang memiliki presisi 0,1 kg, sedangkan tinggi badan diukur
menggunakan alat ukur tinggi badan dengan presisi 0,1 cm.
Variabel BB dan TB anak balita disajikan dalam bentuk tiga indeks
antropometri, yaitu BB/U, TB/U, dan BB/TB. Untuk menilai status gizi
anak balita, maka angka berat badan dan tinggi badan setiap anak
balita dikonversikan dalam nilai terstandar ( Z-score ) menggunakan
baku antropometri anak balita WHO 2005. Selanjutnya berdasarkan
nilai Z-score dari masing-masing indikator tersebut ditentukan
status gizi anak balita dengan batasan sebagai berikut :

76 Profil Anak Indonesia 2019


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Status gizi berdasarkan indikator berat badan dan usia (BB/U)


balita dapat dilihat pada Gambar 5.12. Sebanyak 79,2 persen balita
memiliki status gizi baik. Balita yang statusnya gizi buruk dan kurang
gizi masing-masing sebesar 3,9 dan 13,8 persen. Selain itu, dapat
diketahui bahwa terdapat 3,1 persen balita yang memiliki status gizi
lebih.

Gambar 5.12. PREVALENSI STATUS GIZI BALITA BERDASARKAN INDIKATOR


berat badan dan usia (BB/U), 2018

3,1 Gizi Buruk

3,9 Gizi Kurang


79,2 Status
Gizi Gizi Baik
13,8
Gizi Lebih

Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

Profil Anak Indonesia 2019 77


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Indikator lain untuk mengklasifikasikan status gizi adalah


dengan mengukur panjang badan atau tinggi badan berdasarkan
usianya. Indikator ini biasa digunakan untuk mengukur stunting .
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari
kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.
Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa
awal setelah bayi lahir. Akan tetapi, kondisi stunting baru nampak
setelah bayi berusia 2 tahun. Balita pendek (stunted) dan sangat
pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang badan
(PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut usianya dibandingkan
dengan standar baku WHO-MGRS (World Health Organization-
Multicentre Growth Reference Study) 2006. Sedangkan definisi
stunting menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah anak
balita dengan nilai Z-score -nya kurang dari -2SD/standar deviasi
(stunted) dan kurang dari –3SD (severely stunted).

Gambar 5.13. PREVALENSI STATUS GIZI BALITA BERDASARKAN INDIKATOR


Tinggi badan dan usia (TB/U), 2018

69,2
Sangat
Pendek
Status Pendek
11,5
Gizi
Normal

19,3

Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

Di Indonesia, sekitar 30,8 persen anak balita mengalami


stunting (Riskesdas 2018). Mereka terdiri dari balita yang sangat
pendek dan balita pendek, masing-masing sebesar 11,5 persen dan
19,3 persen. Dari Gambar 5.13 diketahui bahwa balita yang tinggi
badannya normal sesuai usianya sebesar 69,2 persen.

78 Profil Anak Indonesia 2019


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Balita yang mengalami stunting akan memiliki tingkat


kecerdasan tidak maksimal, menjadikan anak menjadi lebih rentan
terhadap penyakit dan di masa depan dapat berisiko pada menurunnya
tingkat produktivitas. Pada akhirnya secara luas stunting akan dapat
menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan
memperlebar ketimpangan.
Pengalaman dan bukti Internasional menunjukkan bahwa
stunting dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan menurunkan
produktivitas pasar kerja, sehingga mengakibatkan hilangnya 11
persen Gross Domestic Products (GDP) serta mengurangi pendapatan
pekerja dewasa hingga 20 persen. Selain itu, stunting juga dapat
berkontribusi pada melebarnya kesenjangan (inequality) , sehingga
mengurangi 10 persen dari total pendapatan seumur hidup dan juga
menyebabkan kemiskinan antargenerasi (TNP2K, 2017).

5.7. Keluhan Kesehatan


Untuk mengetahui status kesehatan seseorang, dapat dilihat
secara langsung maupun tidak langsung. Penentuan status kesehatan
secara langsung antara lain melalui pemeriksaan diagnosis/medis
oleh tenaga kesehatan (pendekatan obyektif). Sedangkan secara
tidak langsung dilakukan melalui persepsi sendiri (pendekatan
subyektif). Survei berskala besar seperti Susenas menggunakan
pendekatan subyektif, dengan menanyakan kondisi kesehatan
seperti keluhan kesehatan yang dialami serta upaya untuk mengatasi
keluhan tersebut.
Seseorang yang sakit umumnya diawali dengan adanya gejala
gangguan atau keluhan kesehatan yang terjadi pada dirinya. Susenas
2018 mendefinisikan seseorang mengalami keluhan kesehatan
apabila mengalami gangguan kesehatan atau kejiwaan, baik karena
penyakit akut, penyakit kronis, kecelakaan, kriminal atau hal lain.
Seseorang dikatakan sakit apabila memiliki keluhan kesehatan dan
mengganggu aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan hasil Susenas 2018 anak usia 0-17 tahun yang
mengalami keluhan kesehatan sebesar 31,59 persen (Gambar 5.14).
Anak yang mengalami keluhan kesehatan dan mengakibatkan
terganggunya pekerjaan, sekolah, atau kegiatan sehari-hari (sakit)
sebesar 15,89 persen.

Profil Anak Indonesia 2019 79


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Gambar 5.14. Persentase Anak usia 0-17 Tahun yang Mengalami Keluhan
Kesehatan dan yang sakit dalam sebulan Terakhir, 2018

31,59

15,89

Mengalami Keluhan Sakit Sakit

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Anak-anak yang mengalami keluhan kesehatan di daerah


perkotaan sebesar 32,89 persen, relatif lebih tinggi dibandingkan
di perdesaan sebesar 30,10 persen (Lampiran L.5.18). Meskipun
demikian, tidak ada perbedaan yang signifikan antara anak yang
sakit di perkotaan dan di perdesaan (Lampiran L.5.19).

5.7.1. Berobat Jalan


Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau
serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi,
dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit,
peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan
kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat (Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan).
Ketika anak mengalami keluhan kesehatan, orang tua atau
penanggung jawab anak perlu melakukan upaya pengobatan untuk
menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Upaya kesehatan yang
ditempuh dapat berupa mengunjungi fasilitas maupun tenaga
kesehatan seperti berobat jalan atau rawat inap untuk mendapatkan
tindakan medis yang tepat.

80 Profil Anak Indonesia 2019


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Tabel 5.2 memperlihatkan bahwa anak yang mengalami


keluhan kesehatan dan berobat jalan paling banyak berobat ke
praktik dokter/bidan sebesar 39,46 persen, dan puskesmas/pustu
sebesar 35,23 persen. Di perkotaan, anak yang mengalami keluhan
kesehatan dan berobat jalan ke praktik dokter/bidan sebesar
33,68. Sebaliknya, di perdesaan sebanyak 46,78 persen anak yang
mengalami kesehatan berobat jalan ke praktik dokter/bidan. Selain
itu, di perdesaan juga masih terdapat sekitar 1,37 persen anak yang
mengalami kesehatan dan berobat jalan ke pengobatan tradisional.
Sedangkan di perkotaan, anak yang mengalami keluhan kesehatan
dan berobat jalan ke pengobatan tradisional hanya sebesar 0,78
persen.

Tabel 5.2. Persentase Anak usia 0-17 Tahun yang Mengalami Keluhan
Kesehatan dan Berobat Jalan dalam Sebulan Terakhir menurut
Tempat Berobat Jalan dan Tipe Daerah, 2018
Perkotaan +
Tempat Berobat Jalan Perkotaan Perdesaan
Perdesaan

(1) (2) (3) (4)


RS pemerintah 4,47 3,23 3,92
RS swasta 8,20 1,84 5,40
Praktik dokter/ Bidan 33,68 46,78 39,46
Klinik/ praktik dokter bersama 21,26 8,07 15,45
Puskesmas/ Pustu 33,49 37,45 35,23
UKBM 1,82 5,12 3,28
Pengobatan Tradisional 0,78 1,37 1,04
Lainnya 0,56 0,83 0,68
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Perlindungan kesehatan diperlukan untuk menjamin


pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan, baik untuk orang dewasa
maupun anak-anak. Seseorang yang menjadi peserta jaminan
kesehatan akan memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan
dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan.
Untuk menjadi peserta jaminan kesehatan, seseorang diwajibkan
membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Dengan

Profil Anak Indonesia 2019 81


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

memiliki jaminan kesehatan, maka seseorang berhak mendapatkan


pelayanan kesehatan perorangan yang mencakup pelayanan
promotif, preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan), dan
rehabilitatif. Jaminan kesehatan yang termasuk dalam subbab ini
adalah jaminan kesehatan nasional maupun jaminan kesehatan
lainnya.
Informasi mengenai persentase anak berdasarkan jaminan
kesehatan yang dimiliki dapat dilihat pada Tabel 5.3. Belum semua
anak mempunyai jaminan kesehatan. Hal ini terlihat dari Tabel
5.3 yang menunjukkan ada sekitar 42,03 persen anak yang tidak
mempunyai jaminan kesehatan. Jaminan kesehatan yang paling
banyak dimiliki anak di Indonesia adalah BPJS Kesehatan Penerima
Bantuan Iuran (PBI) (26,71 persen), BPJS Kesehatan Non-PBI (17,75
persen), dan Jamkesda (12,83 persen).

Tabel 5.3. Persentase Anak usia 0-17 tahun Menurut Jaminan Kesehatan
yang Dimiliki dan Tipe Daerah, 2018

Jaminan Kesehatan yang Perkotaan +


Perkotaan Perdesaan
Dimiliki Perdesaan

(1) (2) (3) (4)


BPJS Kesehatan PBI 23,91 29,89 26,71
BPJS Kesehatan Non-PBI 25,35 9,12 17,75
Jamkesda 10,71 15,24 12,83
Asuransi Kesehatan Swasta 1,74 0,26 1,05
Perusahaan/kantor 5,30 1,30 3,42
Tidak Punya 37,58 47,09 42,03

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Berdasarkan tipe daerah tempat tinggal anak, terlihat


bahwa 47,09 persen anak di perdesaan tidak mempunyai jaminan
kesehatan. Sebagian besar jaminan kesehatan yang dimiliki anak di
perdesaan adalah BPJS Kesehatan PBI (29,89 persen) dan Jamkesda
(15,24 persen). Anak di perdesaan yang mempunyai BPJS Kesehatan
Non-PBI hanya sebesar 9,12 persen. Hal ini menunjukkan bahwa di

82 Profil Anak Indonesia 2019


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

perdesaan masih banyak yang mengandalkan bantuan pemerintah


pusat maupun pemerintah daerah dalam kepesertaan jaminan
kesehatan.
Anak yang tinggal di perkotaan memiliki jaminan kesehatan
yang berbeda dengan anak yang tinggal di perdesaan. Anak
di perkotaan cukup banyak yang memiliki jaminan kesehatan
BPJS Kesehatan Non-PBI, yaitu 25,35 persen. Anak yang memiliki
Jamkesda di perkotaan sebesar 10,71 persen. Selain itu, di perkotaan
juga terdapat 5,30 persen anak yang mempunyai jaminan kesehatan
dari Perusahaan/kantor.

Tabel 5.4. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Berobat Jalan dalam
Sebulan Terakhir Menurut Jenis Jaminan Kesehatan
yang Digunakan dan Tipe Daerah, 2018

Jaminan Kesehatan yang Perkotaan +


Perkotaan Perdesaan
Digunakan Perdesaan

(1) (2) (3) (4)


BPJS Kesehatan PBI 21,35 26,61 23,67
BPJS Kesehatan Non-PBI 27,60 9,83 19,77
Jamkesda 11,55 15,47 13,28
Asuransi Kesehatan Swasta 2,04 0,30 1,27
Perusahaan/kantor 6,35 1,42 4,18
Tidak Menggunakan 36,69 49,30 42,25

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Persentase anak yang berobat jalan berdasarkan jaminan


kesehatan yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 5.4. Sebagian
besar anak berobat jalan tanpa menggunakan jaminan kesehatan,
yaitu sebesar 42,25 persen. Hal ini berarti bahwa empat dari sepuluh
anak yang berobat jalan tidak menggunakan jaminan kesehatan.
Jaminan kesehatan yang paling banyak digunakan untuk berobat
jalan adalah BPJS Kesehatan PBI, yaitu sebesar 23,67 persen,
sedangkan jaminan kesehatan yang paling sedikit digunakan untuk
berobat jalan adalah Asuransi Kesehatan Swasta, hanya sebesar 1,27
persen.

Profil Anak Indonesia 2019 83


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Di perdesaan, terdapat 49,30 persen anak yang berobat jalan


tanpa menggunakan jaminan kesehatan. Hal ini berarti bahwa satu
dari dua anak di perdesaan yang berobat jalan tidak menggunakan
jaminan kesehatan. Jaminan kesehatan yang paling banyak
digunakan untuk berobat jalan di perdesaan adalah BPJS Kesehatan
PBI (26,61 persen) dan Jamkesda (15,47 persen). Hal ini menunjukkan
ketergantungan terhadap bantuan pemerintah masih cukup tinggi
dalam hal kepesertaan jaminan kesehatan di perdesaan.
Berbeda dengan penggunaan jaminan kesehatan di perdesaan,
jaminan kesehatan yang paling banyak digunakan untuk berobat
jalan di perkotaan adalah BPJS Kesehatan Non-PBI, yaitu sebesar
27,60 persen. Di perkotaan, anak yang menjadi peserta jaminan
kesehatan secara mandiri melalui BPJS Kesehatan Non-PBI relatif
lebih tinggi dibandingkan anak di perdesaan.

5.7.2. Rawat Inap


Beberapa kasus keluhan kesehatan yang serius dialami oleh
anak memerlukan penanganan yang lebih dari sekedar berobat
jalan. Tentunya tenaga kesehatan akan memberi arahan untuk
rawat inap di fasilitas kesehatan. Pengawasan lebih intensif oleh
tenaga kesehatan pada fasilitas kesehatan yang menyediakan rawat
inap sangat diperlukan untuk proses penyembuhan. Pasien anak
yang menjalani rawat inap akan memperoleh pelayanan kesehatan
yang lebih menyeluruh, termasuk observasi, diagnosis, terapi, dan
tindakan yang lebih tepat. Selain itu, mereka akan mendapatkan
berbagai jenis pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk
mempercepat penyembuhan penyakit pasien.
Informasi tentang persentase anak yang mengalami keluhan
kesehatan dan rawat inap dalam setahun terakhir dapat dilihat
di Gambar 5.15. Sebesar 3,49 persen anak mengalami keluhan
kesehatan dan rawat inap dalam setahun terakhir. Persentase anak
yang mengalami keluhan kesehatan dan rawat inap di perkotaan
sebesar 4,07 persen, relatif lebih tinggi dibandingkan dengan di
perdesaan sebesar 2,84 persen. Menurut jenis kelamin, tidak terlihat
perbedaan yang signifikan antara persentase anak laki-laki dan
perempuan yang rawat inap.

84 Profil Anak Indonesia 2019


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Gambar 5.15. Persentase Anak usia 0-17 Tahun yang Rawat Inap dalam Setahun
Terakhir menurut Jenis Kelamin dan Tipe Daerah, 2018

4,18 3,95 4,07 2,88 2,80 2,84 3,57 3,41 3,49

Perkotaan Perdesaan Perkotaan +


Perdesaan

Laki-laki Perempuan Laki-laki + Perempuan

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan


Sosial Nasional menjelaskan bahwa jaminan kesehatan bertujuan
menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan
kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar
kesehatan. Secara nasional, sebagaimana ditunjukkan pada Tabel
5.5, pada tahun 2018 masih terdapat sekitar 29,15 persen anak di
Indonesia yang tidak menggunakan jaminan kesehatan saat rawat
inap dalam setahun terakhir. Dalam hal penggunaan jaminan
kesehatan, dimungkinkan bahwa seorang anak menggunakan lebih
dari satu jaminan kesehatan. Jenis jaminan kesehatan yang paling
banyak digunakan anak di Indonesia adalah BPJS Kesehatan Non-
PBI (31,07 persen) dan BPJS Kesehatan PBI (25,35 persen). Jaminan
kesehatan yang paling sedikit digunakan adalah asuransi kesehatan
swasta, yaitu hanya sekitar 2,53 persen.
Penggunaan jaminan kesehatan oleh anak untuk rawat inap
di perkotaan memiliki pola berbeda dengan di perdesaan. Anak
yang dirawat inap di perkotaan lebih banyak menggunakan jaminan
kesehatan BPJS Kesehatan Non-PBI daripada BPJS Kesehatan PBI
(39,74 persen berbanding 22,32 persen). Hal ini berbeda dengan
kondisi di perdesaan, dimana anak yang dirawat inap di perdesaan
lebih banyak menggunakan jaminan kesehatan BPJS Kesehatan PBI
daripada BPJS Kesehatan Non-PBI (30,27 persen berbanding 16,98

Profil Anak Indonesia 2019 85


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

persen). Selain itu, jaminan kesehatan yang cukup banyak digunakan


oleh anak untuk rawat inap di perkotaan adalah Jamkesda (10,81
persen) dan jaminan kesehatan dari perusahaan/kantor dimana orang
tua anak tersebut bekerja (8,31 persen). Di perdesaan, penggunaan
Jamkesda bagi anak yang menjalani rawat inap jauh lebih populer
daripada jaminan kesehatan dari perusahaan/kantor tempat orang
tuanya bekerja, yaitu sebesar 15,35 persen berbanding 2,35 persen.

Tabel 5.5. Persentase Anak usia 0-17 Tahun yang Rawat inap
dalam Setahun Terakhir menurut JANINAN KESEHATAN
YANG DIGUNAKAN Tipe Daerah, 2018
Jaminan Kesehatan yang Perkotaan +
Perkotaan Perdesaan
Digunakan Perdesaan

(1) (2) (3) (4)


BPJS Kesehatan PBI 22,32 30,27 25,35

BPJS Kesehatan Non-PBI 39,74 16,98 31,07

Jamkesda 10,81 15,35 12,54

Asuransi Kesehatan Swasta 3,64 0,73 2,53

Perusahaan/kantor 8,31 2,35 6,04

Tidak Menggunakan 23,53 38,28 29,15

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

5.8. Perilaku Merokok


Dalam Riskesdas 2018, perilaku merokok dan konsumsi
tembakau ditanyakan pada ART usia 10 tahun ke atas. Namun, karena
keterbatasan data, maka dalam publikasi ini disajikan perilaku
merokok untuk anak usia 10-14 tahun. Indikator terkait rokok yang
disajikan meliputi perilaku merokok dan rata-rata batang rokok yang
dikonsumsi. Perilaku merokok saat ini mencakup kebiasaan merokok
setiap hari atau kadang-kadang dalam sebulan terakhir. Tidak
pernah merokok yaitu termasuk tidak pernah mencoba merokok
sampai dengan saat pengumpulan data.

86 Profil Anak Indonesia 2019


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Perilaku merokok kerap dijumpai pada orang dewasa. Meskipun


demikian, perilaku merokok juga mulai dilakukan oleh anak-anak
dan remaja. Dampak negatif dari merokok sudah banyak diketahui
publik, tetapi kebiasaan merokok sulit dihentikan. Bahaya rokok
semakin besar ketika dikonsumsi oleh anak-anak dan remaja karena
pada usia muda tubuh lebih banyak menyerap racun rokok yang
dapat mengakibatkan penyakit berbahaya di usia dewasa. Perilaku
merokok pada anak-anak dan remaja kerap berhubungan dengan
penerimaan dalam pergaulan sehari-hari. Pada saat menginjak usia
remaja, seorang anak cenderung bergaul dengan teman sebaya,
yang dapat memberikan pengaruh kebiasaan merokok. Penelitian
Komasari dan Helmi (2000) memperlihatkan bahwa 28 persen remaja
merokok saat berkumpul dengan teman sebayanya.

Gambar 5.16. proporsi merokok pada anak usia 10-14 Tahun, 2018
Gambar 5.16 Proporsi Merokok pada Penduduk Umur 10-14 Tahun menurut Karakteristik, Riskesdas 2018

Perokok Setiap Hari;


0,7

Perokok Kadang-
kadang; 1,4

Mantan Perokok; 2,0


Bukan Perokok;
95,9

Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

Gambar 5.16 menampilkan persentase anak usia 10-14 tahun


menurut perilaku merokok dalam sebulan terakhir tahun 2018.
Sebanyak 2,1 persen anak usia 10-14 tahun merokok dalam sebulan
terakhir, yang terdiri dari 0,7 persen perokok setiap hari dan 1,4
persen perokok kadang-kadang. Sementara itu, anak yang pernah
merokok, tetapi sudah berhenti (mantan perokok) sebesar 2 persen.

Profil Anak Indonesia 2019 87


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Dalam Riskesdas 2018, orang yang merokok setiap hari


maupun yang merokok kadang-kadang dalam sebulan terakhir
ditanyakan rata-rata jumlah batang rokok yang dihisap. Untuk anak
yang merokok setiap hari, ditanyakan rata-rata jumlah batang rokok
per hari yang dihisap, sedangkan untuk anak yang merokok kadang-
kadang ditanyakan rata-rata jumlah batang rokok per minggu yang
dihisap.

Gambar 5.17 Rata-rata Jumlah Batang Rokok (Kretek, Putih, Linting) Perhari dan Perminggu yang Dihisap Penduduk Umur 10-14 Tahun
Gambar 5.17. rata-rata jumlah batang rokok (kretek, putih, linting) per hari
dan per minggu yang dihisap anak usia 10-14 tahun, 2018
6,75

3,54

Perokok Setiap Hari Perokok Kadang-kadang


(Jumlah Batang per Hari) (Jumlah Batang per Minggu)

Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

Dari Gambar 5.17 diketahui bahwa anak usia 10-14 tahun yang
merokok setiap hari, rata-rata menghisap 6 sampai 7 batang rokok
per hari. Anak yang merokok kadang-kadang, rata-rata menghisap
rokok sebanyak 3 sampai 4 batang per minggu. Temuan ini
menegaskan bahwa anak yang merokok setiap hari akan semakin
banyak menghisap rokok. Dengan kata lain, mereka yang sudah
biasa merokok setiap hari semakin intens dalam menghisap rokok.
Hal ini berbeda dengan anak yang merokok kadang-kadang. Anak
yang merokok kadang-kadang, cenderung merokok dalam jumlah
yang relatif sedikit.

88 Profil Anak Indonesia 2019


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

5.9. Status Kepemilikan Rumah


Tempat tinggal yang berkualitas sangat bermanfaat bagi
penghuninya, dimana mereka akan merasa aman, terlindungi, dan
terjamin kesehatannya. Kualitas tempat tinggal dapat dilihat dari
empat aspek, yaitu: (1) kondisi psikososial, ekonomi, dan budaya
yang dihasilkan penghuni; 2) konstruksi, bahan, dan kualitas interior;
(3) infrastruktur lingkungan; serta (4) tatanan sosial lingkungan
sekitar. Dengan demikian, kualitas tempat tinggal perlu diperhatikan
guna menjaga kesehatan penghuninya, terutama anak-anak. Anak
membutuhkan tempat tinggal yang layak untuk menunjang proses
tumbuh kembangnya.
Kesejahteraan penduduk salah satunya dapat digambarkan
dengan status kepemilikan rumah tinggal. Tempat tinggal yang
tetap dan terjamin menunjukkan kemampuan rumah tangga dalam
memenuhi salah satu kebutuhan dasarnya. Sebagian besar rumah
tangga di Indonesia tinggal di rumah milik sendiri. Di tahun 2018,
anak yang tinggal di rumah tangga dengan status kepemilikan
rumah milik sendiri ada sebesar 79,98 persen. Kecenderungan anak
yang tinggal di perkotaan untuk tinggal di rumah kontrak, sewa,
atau bebas sewa lebih besar dibandingkan rumah tangga di daerah
perdesaan.

Gambar 5.18. Persentase Anak usia 0-17 tahun Menurut Status Kepemilikan
Rumah TEMPAT TINGGAL, dan Tipe Daerah, 2018

0,34
0,42 1,17
1,09 0,26
1,26

8,00 10,30
12,33
1,87
8,21
72,37
13,79 79,98
88,61

Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan

Milik sendiri Kontrak/sewa Bebas sewa Dinas Lainnya

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 89


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

Anak yang tinggal di rumah kontrak/sewa memiliki tingkat


kesejahteraan rumah tangga yang relatif lebih rendah dibandingkan
dengan yang tinggal di rumah milik sendiri. Tingginya persentase
anak yang tinggal di rumah kontrak/sewa di daerah perkotaan erat
kaitannya dengan biaya hidup dan harga tanah yang lebih mahal di
perkotaan dibandingkan di perdesaan.

5.10. Akses Terhadap Air Layak


Salah satu sumber daya alam yang sangat penting bagi
kehidupan manusia yaitu air. Air dapat digunakan untuk minum,
memasak, mandi, mencuci, dan dapat juga digunakan sebagai
bahan baku kebutuhan lainnya. Berbagai macam kebutuhan manusia
membutuhkan air, sehingga pemanfaatan air harus dikelola dengan
baik agar tidak mencemari dan merusak kualitas air. Pemerintah telah
menyusun target pembangunan nasional terkait pemanfaatan air
tersebut dalam Program Prioritas Nawacita, Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN), dan Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (TPB) yang telah disesuaikan dengan indikator global
(Sustainable Development Goals/SDGs).

Gambar 5.19. Persentase Anak usia 0-17 Tahun yang Tinggal di Rumah dengan
Fasilitas Air Layak Menurut Tipe Daerah, 2018

81,47
73,10
63,61

Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Yang dimaksud rumah tangga dengan fasilitas air layak dalam


Susenas 2018 adalah rumah tangga dengan fasilitas air minum
berupa air leding, air hujan, sumur bor/pompa, sumur terlindung

90 Profil Anak Indonesia 2019


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

dan mata air terlindung dengan jarak lebih besar atau sama dengan
10 meter dari penampungan limbah/kotoran/tinja terdekat.
Anak yang tinggal di rumah tangga dengan fasilitas air layak
di Indonesia sebesar 73,10 persen. Persentase anak di perkotaan
yang tinggal di rumah dengan fasilitas air layak jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan di perdesaan, yaitu 81,47 persen berbanding
63,61 persen.

5.11. Akses Terhadap Sanitasi Layak


Salah satu faktor yang memiliki pengaruh besar terhadap
derajat kesehatan baik individu maupun masyarakat adalah
lingkungan. Kondisi lingkungan yang berdampak terhadap kesehatan
yaitu ketersediaan air bersih, kepemilikan jamban, kondisi rumah,
dan kondisi lingkungan perumahan. Kesakitan dan kematian erat
kaitannya dengan kondisi kesehatan lingkungan. Oleh sebab itu,
target terkait penyediaan air bersih dan sanitasi tertuang dalam
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Keenam, yaitu Menjamin
Ketersediaan dan Pengelolaan Air Bersih dan Sanitasi Berkelanjutan
Untuk Semua.
Sanitasi layak menjadi salah satu syarat terciptanya lingkungan
yang sehat dan nyaman. Sanitasi layak yang dicerminkan dari
kepemilikan jamban sendiri dengan tangki septik merupakan
kebutuhan pokok bagi setiap individu. Kondisi sanitasi yang buruk
merupakan tempat berkembangnya penyakit menular yang dapat
menyebabkan morbiditas masyarakat, terutama usia di bawah lima
tahun yang masih rentan terhadap penyakit. Balita yang tidak sehat
dan terpapar penyakit akan cenderung meningkatkan risiko stunting
dibandingkan balita yang tumbuh sehat.
Oleh karena itu, upaya pemenuhan fasilitas sanitasi yang layak
menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan. Bagi
anak-anak, sanitasi yang buruk akan menimbulkan akibat yang lebih
buruk lagi. Sanitasi serta perilaku kebersihan yang buruk serta air
minum yang tidak aman berkontribusi terhadap 88 persen kematian
anak akibat diare di seluruh dunia (UNICEF, 2012).
Yang dimaksud dengan rumah tangga dengan fasilitas sanitasi
layak dalam Susenas adalah rumah tangga yang memiliki tempat
buang air besar yang digunakan sendiri atau bersama, dengan kloset

Profil Anak Indonesia 2019 91


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

leher angsa, dan tempat pembuangan akhir berupa tangki septik/


Sistem Pengolahan Air Limbah (SPAL).

Gambar 5.20. Persentase Anak usia 0-17 Tahun yang Tinggal di Rumah dengan
Fasilitas Sanitasi Layak Menurut Tipe Daerah, 2018

79,92
68,16
54,81

Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan


Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Data hasil Susenas 2018 tentang anak yang tinggal di rumah


dengan fasilitas sanitasi layak dapat dilihat pada Gambar 5.20.
Persentase anak yang tinggal di rumah dengan fasilitas sanitasi
layak sebesar 68,16 persen, sebaliknya 31,84 persen anak tinggal di
rumah dengan fasilitas sanitasi yang tidak layak. Persentase anak
yang tinggal di rumah dengan fasilitas sanitasi layak di perkotaan
relatif lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan, yaitu 79,92
persen berbanding 54,81 persen.

5.12. Rumah Tangga Kumuh


Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 2001, yang dimaksud
permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak layak huni
karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan
yang tinggi, tingkat kepadatan barang yang tinggi, dan kualitas
bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat.
Permukiman kumuh terjadi karena masalah ekonomi dan
erat kaitannya dengan masalah kesehatan, konsumsi pangan,

92 Profil Anak Indonesia 2019


Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan Anak

keamanan, dan persoalan kesejahteraan lainnya. Rumah tangga


kumuh didefinisikan sebagai rumah tangga yang tidak memiliki
akses terhadap sumber air minum layak, sanitasi layak, luas lantai
per kapita kurang dari 7,2 m 2 , serta tidak memenuhi kondisi atap,
lantai, dan dinding yang layak (BPS, 2018).

Gambar 5.21. Persentase Anak usia 0-17 Tahun yang Tinggal di Rumah Tangga
Kumuh menurut Tipe Daerah, 2018

11,67
8,88
6,42

Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Gambar 5.21 menyajikan hasil Susenas 2018 tentang persentase


anak yang tinggal di rumah tangga kumuh dibedakan berdasarkan
tipe daerah tempat tinggal. Secara keseluruhan, persentase
anak yang tinggal di rumah tangga kumuh sebesar 8,88 persen.
Persentase anak di perdesaan yang tinggal di rumah tangga kumuh
relatif lebih tinggi dibandingkan dengan di perkotaan, yaitu 11,67
persen berbanding 6,42 persen.

Profil Anak Indonesia 2019 93


BAB 6

PENDIDIKAN ANAK
Untuk mengetahui perkembangan pendidikan anak di
Indonesia dapat dimulai dari berapa besar kesempatan
mereka mengenyam pendidikan di sekolah. Berdasarkan
hasil Susenas 2018 terdapat 83,62 persen anak berusia
5-17 tahun yang berstatus masih bersekolah. Sisanya
sebesar 12,69 persen anak tidak/belum bersekolah dan
sebesar 3,70 persen anak berstatus tidak bersekolah
lagi. Putus sekolah masih merupakan persoalan
tersendiri yang perlu penanganan serius dalam mencapai
pendidikan untuk semua. Angka putus sekolah anak
usia 7-17 paling tinggi pada jenjang pendidikan sekolah
menengah/sederajat, yaitu sebesar 3,15 persen. Dilihat
menurut daerah tempat tinggal, anak putus sekolah
di perdesaan lebih tinggi dibandingkan perkotaan.

Pendidikan merupakan salah satu cara dalam meningkatkan


kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Karena melalui pendidikan,
SDM yang berkualitas baik dari segi spiritual, intelegensi dan
keterampilan dapat disiapkan. Dengan SDM yang berkualitas,
sosok–sosok individu diharapkan akan dapat berperan dalam proses
pembangunan bangsa dan negara.
Seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 secara jelas
dinyatakan bahwa salah satu tujuan negara antara lain memajukan
kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pemerintah secara terus menerus berupaya untuk meningkatkan
mutu pendidikan dimulai dari pemberian kesempatan yang seluas-
luasnya kepada penduduk untuk mengenyam pendidikan terutama
pada tingkat dasar, serta peningkatan kualitas dan kuantitas sarana
dan prasarana pendidikan. Komitmen tersebut dapat terlihat dari
penetapan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
untuk pendidikan sebesar 20 persen dari total APBN yang tertuang
dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Sebagai bagian dari Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan
anak sangat penting bagi masa depan bangsa. Sebagai tunas, potensi,

Profil Anak Indonesia 2019 97


Pendidikan Anak

dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, anak harus


mendapatkan pengasuhan, perlindungan, dan pendidikan yang
baik. Dengan demikian pendidikan anak sangat berperan didalam
menyiapkan SDM yang berkualitas yang siap membangun bangsa.
Indonesia telah mendukung sepenuhnya kesepakatan untuk
melindungi dan melaksanakan hak-hak anak tentang pendidikan,
seperti yang tertera dalam Konvensi Hak-Hak Anak (Convention on
The Rights of the Child) tahun 1990 Pasal 28, dengan mewujudkan
wajib belajar pendidikan dasar bagi semua secara bebas. Dukungan
tersebut telah tercantum dalam UUD 1945 yang mengamanatkan
bahwa pendidikan merupakan hak asasi setiap warga negara
Indonesia, karenanya setiap warga negara Indonesia berhak
memperoleh pendidikan sesuai dengan minat dan bakat yang
dimilikinya tanpa memandang status sosial, status ekonomi, suku,
etnis, agama, dan gender.
Didalam upaya mewujudkan tujuan tersebut diatas, pemerintah
telah mengisyaratkan bahwa seluruh warga negara yang berusia
7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar (SD/sederajat dan
SMP/sederajat), seperti tercantum dalam Undang-undang No 20
Tahun 2003 Pasal 6 Ayat 1. Selain itu, sesuai dengan UU No 23 Tahun
2002 tentang Perlindungan Anak, seseorang yang belum berusia 18
(delapan belas) tahun wajib mendapat perlindungan .
Seiring dengan kemajuan teknologi dan kemajuan jaman,
perkembangan media digital internet khususnya dalam era revolusi
industri 4.0 diduga juga berpengaruh terhadap pendidikan anak.
Oleh karena itu, bab ini akan menyajikan aksesibilitas internet
sebagai sumber informasi pendidikan bagi anak. Namun, bab ini
terlebih dahulu akan menyajikan beberapa indikator penting seperti
Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angka Partisipasi Murni (APM),
Angka Partisipasi Kasar (APK), keikutsertaan Program Indonesia
Pintar (PIP) atau Bantuan Siswa Miskin (BSM) serta kepemilikan Kartu
Indonesia Pintar (KIP), angka buta huruf dan angka putus sekolah.

6.1. Partisipasi Sekolah


Partisipasi sekolah merupakan salah satu indikator dasar untuk
melihat akses pendidikan bagi penduduk usia sekolah. Indikator
ini juga sekaligus mengukur tingkat kesempatan penduduk untuk
memperoleh pendidikan di sekolah. Semakin tinggi persentase

98 Profil Anak Indonesia 2019


Pendidikan Anak

penduduk yang masih bersekolah menunjukkan semakin luasnya


kesempatan penduduk memperoleh pendidikan, dan sebaliknya.
Demikian pula halnya dengan tidak bersekolah lagi, semakin tinggi
persentase penduduk usia sekolah yang tidak bersekolah, semakin
buruk akses dan kesempatan penduduk usia sekolah untuk
memperoleh pendidikan.
Secara umum, partisipasi sekolah berkaitan dengan aktivitas
pendidikan baik formal maupun nonformal yang terbagi dalam tiga
kelompok: tidak/belum pernah bersekolah, masih bersekolah atau
tidak bersekolah lagi. Seseorang dengan status masih bersekolah
adalah mereka yang terdaftar dan aktif mengikuti pendidikan
baik di suatu jenjang pendidikan formal (pendidikan dasar yaitu
SD/MI dan SMP/MTs, pendidikan menengah yaitu SMA/SMK/MA
dan pendidikan tinggi yaitu PT) maupun pendidikan non formal
(Paket A setara SD, paket B setara SMP dan paket C setara SMA)
yang berada di bawah pengawasan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Agama (Kemenag), dan
Instansi terkait lainnya.
Gambaran partisipasi sekolah anak usia 5-17 tahun dapat
dilihat pada Tabel 6.1. Mayoritas anak usia 5-17 tahun berstatus
masih bersekolah, yaitu 83,62 persen. Sisanya sebesar 12,69 persen
anak tidak/belum bersekolah dan 3,70 persen anak berstatus tidak
bersekolah lagi. Jika dilihat menurut tipe daerah, persentase anak
usia 5-17 tahun yang berstatus masih bersekolah di perkotaan lebih
tinggi dibandingkan di perdesaan, yaitu 84,30 persen berbanding
82,85 persen. Sebaliknya anak yang tidak bersekolah lagi, di
perkotaan persentasenya lebih kecil dibanding perdesaan, dengan
angka 3,00 persen berbanding 4,48 persen. Kemudahan akses
pendidikan, ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan di
perkotaan yang lebih lengkap dan memadai dibandingkan dengan
di perdesaan diduga menjadi penyebab perbedaan tersebut.
Anak perempuan memiliki akses pendidikan yang relatif lebih
baik dibandingkan dengan anak laki-laki. Hal ini dapat dilihat dari
persentase anak perempuan yang masih bersekolah sebesar 84,28
persen, lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki, yaitu 82,98 persen.
Sebaliknya, persentase anak perempuan yang tidak bersekolah
lagi sebesar 3,24 persen dan tidak/belum bersekolah lagi sebesar
12,47 persen lebih rendah dibandingkan dengan anak laki-laki.

Profil Anak Indonesia 2019 99


Pendidikan Anak

Persentase anak laki-laki yang tidak/belum bersekolah dan anak


laki-laki yang tidak bersekolah lagi masing-masing sebesar 12,89
persen dan 4,13 persen.

Tabel 6.1. Persentase Anak USIA 5-17 Tahun menurut Tipe Daerah,
Jenis Kelamin dan Partisipasi Sekolah, 2018

Tidak
Tipe Daerah/ Tidak/Belum Masih
Bersekolah Jumlah
Jenis Kelamin Sekolah Sekolah
Lagi
(1) (2) (3) (4) (5)

Perkotaan
Laki-laki 12,94 83,70 3,36 100,00
Perempuan 12,45 84,92 2,62 100,00
Laki-Laki +Perempuan 12,70 84,30 3,00 100,00
Perdesaan
Laki-laki 12,84 82,17 4,98 100,00
Perempuan 12,49 83,56 3,94 100,00
Laki-Laki + Perempuan 12,67 82,85 4,48 100,00
Perkotaan + Perdesaan
Laki-laki 12,89 82,98 4,13 100,00
Perempuan 12,47 84,28 3,24 100,00
Laki-Laki + Perempuan 12,69 83,62 3,70 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Tabel 6.2 menyajikan persentase anak usia 5-17 tahun menurut


kelompok usia dan partisipasi sekolah. Terlihat bahwa persentase
anak yang masih bersekolah pada kelompok usia SD/sederajat
(7-12 tahun) sebesar 99,22 persen, kelompok usia SMP/sederajat
(13-15 tahun) sebesar 95,36 persen, dan pada kelompok usia SM/
sederajat (16-17 tahun) sebesar 81,80 persen. Sesuai dengan data
tersebut, usia menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap
akses pada pendidikan. Semakin tua kelompok usia semakin rendah
tingkat partisipasi sekolahnya.
Hal menarik yang terjadi pada beberapa tahun belakangan
ini adalah adanya kecenderungan orang tua untuk menyekolahkan
anaknya pada usia yang masih muda atau sebelum usia tujuh tahun
pada beberapa tahun terakhir ini. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 6.2

100 Profil Anak Indonesia 2019


Pendidikan Anak

dimana anak usia 5-6 tahun yang bersekolah sebesar 22,92 persen.
Sementara itu, pada kelompok usia 7-17 tahun yang merupakan
kelompok usia sekolah, masih ada 0,58 persen anak yang tidak/
belum bersekolah dan sebesar 4,36 persen yang tidak bersekolah
lagi.

Tabel 6.2. Persentase Anak USIA 5-17 Tahun menurut Kelompok USIA dan
Partisipasi Sekolah, 2018

Tidak
Tidak/Belum Masih
Kelompok Usia Bersekolah Jumlah
Sekolah Bersekolah
Lagi
(1) (2) (3) (4) (5)

5–6 76,89 22,92 0,19 100,00


7 – 12 0,58 99,22 0,20 100,00
13 – 15 0,53 95,36 4,11 100,00
16 – 17 0,67 81,80 17,53 100,00

5 – 17 12,69 83,62 3,70 100,00


7 – 17 0,58 95,06 4,36 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Persentase anak usia 5-17 tahun yang masih bersekolah per


provinsi disajikan pada lampiran Tabel L-6,1 sampai L-6.5. Lebih dari
80 persen anak masih aktif bersekolah di hampir seluruh provinsi,
kecuali Papua yang hanya mencapai 70,88 persen. Pola yang sama
terlihat pada anak usia 7-17 tahun yang berstatus masih bersekolah.
Persentase per provinsi lebih dari 90 persen kecuali Papua, yaitu
80,26 persen (Tabel L-6.10).

6.2. Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angka


Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi
Kasar (APK )
Partisipasi penduduk usia sekolah dalam mengikuti pendidikan
berdasarkan jenjang dan usia dapat diketahui melalui indikator
Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angka Partisipasi Murni (APM), dan
Angka Partisipasi Kasar (APK). APS dikelompokkan menurut usia

Profil Anak Indonesia 2019 101


Pendidikan Anak

7-12 tahun, 13-15 tahun, 16-18 tahun dan 19-24 tahun. Sementara
itu, APM dan APK dikelompokkan menurut jenjang pendidikan SD,
SMP, SM (SMA dan SMK) dan PT.
Seperti disinggung sebelumnya, konsep anak dalam publikasi
ini adalah penduduk yang berusia sampai dengan 17 tahun. Oleh
karena itu kelompok usia yang digunakan pada perhitungan APS
menyesuaikan dengan kelompok usia anak yaitu 7-12 tahun, 13-15
tahun dan 16-17 tahun. Sedangkan untuk APK dan APM, khususnya
pada kelompok SM mengikuti konsep Kemendikbud yaitu
menggunakan kelompok usia 16-18 tahun. Hal ini dilakukan agar
indikator-indikator yang digunakan dalam publikasi ini sama dengan
yang dikeluarkan oleh Kemendikbud.

6.2.1. Angka Partisipasi Sekolah (APS)

Angka Partisipasi Sekolah (APS) merupakan ukuran daya serap


sistem pendidikan terhadap penduduk usia sekolah dan sebagai
indikator dasar yang digunakan untuk melihat akses pada pendidikan
khususnya bagi penduduk usia sekolah. APS yang tinggi menunjukkan
terbukanya peluang yang lebih besar dalam mengakses pendidikan
secara umum. Pada kelompok usia mana peluang tersebut terjadi
dapat dilihat dari besarnya APS pada setiap kelompok usia. APS
adalah proporsi dari semua anak yang masih bersekolah pada suatu
kelompok usia tertentu terhadap penduduk dengan kelompok usia
yang sama. Misalnya APS 7-12 tahun berarti menunjukkan angka
partisipasi penduduk usia 7-12 tahun yang masih bersekolah pada
berbagai jenjang pendidikan.
Indikator ini tidak memperhitungkan jenjang pendidikan,
lembaga, maupun kualitas pendidikan yang sedang ditempuh.
Kegiatan bersekolah tidak saja di jalur formal akan tetapi juga
termasuk bersekolah di jalur non formal. Sejak Tahun 2009,
Pendidikan Non Formal turut diperhitungkan, seperti paket A setara
SD/MI, paket B setara SMP/MTs dan paket C setara SM/MA.
Dari hasil Susenas 2018, dapat dilihat bahwa APS anak 7-12
tahun tercatat sebesar 99,22 persen (Gambar 6.1). Artinya, dari 100
anak usia 7-12 tahun, ada sekitar 99 anak yang masih bersekolah.
Sementara itu, APS anak usia 13-15 tahun tercatat sebesar 95,36
persen dan APS anak usia 16-17 tahun sebesar 81,80 persen. Hal ini

102 Profil Anak Indonesia 2019


Pendidikan Anak

menunjukkan bahwa semakin tinggi kelompok usia, semakin rendah


persentase anak yang bersekolah. Kondisi ini terjadi baik untuk anak
laki-laki maupun perempuan. Secara umum APS anak perempuan
selalu lebih tinggi dibandingkan APS anak laki-laki untuk semua
kelompok usia.

Gambar 6.1. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Anak uSIA 7-17 Tahun
menurut Kelompok USIA dan Jenis Kelamin, 2018

99,17 99,27 99,22


94,51 96,26 95,36 94,52 95,63 95,06

83,56 81,80
80,09

7 – 12 13 – 15 16 – 17 7 – 17

Laki-laki Perempuan Laki-laki+ Perempuan

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Jika dilihat menurut tipe daerah (Gambar 6.2), terdapat


perbedaan antara APS anak yang tinggal di perkotaan dengan
perdesaan. APS perkotaan lebih tinggi daripada APS perdesaan.
APS anak usia 7-17 tahun di perkotaan lebih tinggi dibandingkan
dengan perdesaan yaitu sebesar 96,21 persen berbanding 93,77
persen. Hal ini juga terjadi pada setiap kelompok usia. Kondisi
ini menggambarkan bahwa penduduk yang tinggal di wilayah
perkotaan memiliki kesempatan yang lebih besar dalam memperoleh
pendidikan dibanding di wilayah perdesaan. Tersedianya jumlah
sekolah yang cukup serta kemudahaan akses transportasi di daerah
perkotaan bisa menjadi penyebab adanya perbedaan tersebut.

Profil Anak Indonesia 2019 103


Pendidikan Anak

Gambar 6.2. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Anak uSIA 7-17 Tahun
menurut Kelompok USIA dan Tipe Daerah, 2018

99,62 98,78 99,22


96,46 96,21
94,13 95,36 93,77 95,06
85,67
81,80
77,20

7 – 12 13 – 15 16 – 17 7 – 17

Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

APS anak menurut provinsi disajikan pada tabel lampiran


L-6.11 sampai L-6.15. Secara umum, di setiap provinsi di Indonesia,
semakin tinggi kelompok usia semakin rendah persentase anak yang
bersekolah di provinsi tersebut. Bila di tinjau menurut jenis kelamin,
umumnya APS anak perempuan lebih tinggi dibanding dengan anak
laki-laki pada masing-masing kelompok usia.

6.2.2. Angka Partisipasi Murni (APM)


Angka Partisipasi Murni (APM) merupakan proporsi penduduk
pada kelompok usia jenjang pendidikan tertentu yang masih
bersekolah terhadap penduduk pada kelompok usia tersebut.
Indikator ini dapat memberikan informasi seberapa banyak proporsi
penduduk usia sekolah yang sudah dapat memanfaatkan fasilitas
pendidikan sesuai pada jenjang pendidikannya. APM SD, misalnya,
merupakan proporsi jumlah murid SD/MI/Paket A yang berusia 7
– 12 tahun terhadap jumlah seluruh anak yang berusia 7–12 tahun.
Jika APM SD sama dengan 100, berarti seluruh penduduk usia 7-12
sekolah dapat bersekolah di tingkat SD dengan tepat waktu.

104 Profil Anak Indonesia 2019


Pendidikan Anak

Berdasarkan jenjang pendidikan, terlihat bahwa semakin tinggi


jenjang pendidikan, semakin rendah APM (Gambar 6.3). Hal ini terjadi
baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan. Pada tahun 2018,
pencapaian APM SD, APM SMP dan APM SM masing-masing sebesar
97,58 persen, 78,84 persen, dan 60,67 persen.

Gambar 6.3. Angka Partisipasi Murni (APM) Anak menurut Jenjang


Pendidikan dan Jenis Kelamin, 2018

97,79 97,37 97,58

78,18 79,55 78,84

59,74 61,64 60,67

SD SMP SM

Laki-laki Perempuan Laki-laki+ Perempuan

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Pada jenjang pendidikan SD/sederajat, APM anak laki-laki


sedikit lebih tinggi dibandingkan anak perempuan dengan selisih
0,42 persen. Sementara itu untuk jenjang lainnya (SMP/sederajat
dan SM/sederajat), APM anak perempuan lebih tinggi dibandingkan
APM anak laki-laki. Menurut tipe daerah tempat tinggal, APM
anak yang tinggal di perkotaan lebih tinggi dibanding dengan di
perdesaan (Gambar 6.4). Seperti halnya APS, semakin tinggi jenjang
pendidikan semakin rendah APM. Fakta ini semakin memperkuat
dugaan adanya perbedaan kesempatan bersekolah antara anak di
perkotaan dibanding dengan di perdesaan.
APM anak menurut provinsi disajikan pada tabel lampiran
L-6.16 sampai L-6.20. APM pada jenjang SD/sederajat hampir di
setiap provinsi angkanya sudah diatas 90 persen, kecuali Papua
yang baru mencapai 79,14 persen. Sedangkan APM untuk jenjang

Profil Anak Indonesia 2019 105


Pendidikan Anak

SMP/sederajat tertinggi terdapat di Provinsi Aceh, yaitu sebesar


86,38 persen. Sementara untuk APM jenjang SM/sederajat yang
tertinggi adalah Provinsi Bali sebesar 73,00 persen. Provinsi dengan
pencapaian APM yang terendah untuk kategori pendidikan SMP/
sederajat dan SM/sederajat terdapat di Papua, dengan angka
masing-masing sebesar 57,09 persen dan 44,31 persen.

Gambar 6.4. Angka Partisipasi Murni (APM) Anak menurut Jenjang


Pendidikan dan Tipe Daerah, 2018

97,74 97,40 97,58

80,61
76,86 78,84
64,65
60,67
55,93

SD SMP SM

Perkotaan Perdesaan Perkotaan+ Perdesaan

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

6.2.3. Angka Partisipasi Kasar (APK )


Tidak seperti APM, Angka Partisipasi Kasar (APK) merupakan
indikator yang menunjukkan proporsi penduduk secara umum yang
telah memanfaatkan fasilitas pendidikan tanpa melihat usianya
menurut tingkat pendidikan. APK yang tinggi menunjukkan tingginya
tingkat partisipasi sekolah, tanpa memperhatikan ketepatan usia
sekolah pada jenjang pendidikannya. Oleh karena itu, nilai APK
bisa lebih dari 100 persen. Jika nilai APK mendekati atau lebih dari
100 persen menunjukkan bahwa ada penduduk yang bersekolah
belum cukup usia dan atau melebihi usia yang seharusnya. Dengan
demikian, bila APK SD, lebih besar dari 100, menujukkan persentase

106 Profil Anak Indonesia 2019


Pendidikan Anak

jumlah penduduk yang sedang sekolah di SD/sederajat terhadap


jumlah penduduk usia 7 – 12 tahun. Murid sekolah di SD tersebut
bisa berasal dari penduduk berusia kurang dari 7 tahun atau lebih
dari 12 tahun. Angka tersebut juga dapat menunjukkan bahwa
wilayah tersebut mampu menampung penduduk usia sekolah lebih
dari target yang sesungguhnya.
Dari hasil Susenas 2018 diperoleh APK SD/sederajat sebesar
108,61 persen, APK SMP/sederajat sebesar 91,52 persen dan APK
SM/sederajat sebesar 80,68 persen (Gambar 6.5). Pola penurunan
APK pada jenjang pendidikan yang semakin tinggi sejalan dengan
pola penurunan APS dan APM menurut jenjang pendidikan. Nilai
APK SD/sederajat sebesar 108,61 persen menunjukkan bahwa dari
keseluruhan siswa yang bersekolah pada jenjang SD/sederajat di
tahun 2018, ada sekitar 8,61 persen anak yang berusia kurang dari
7 tahun dan atau lebih dari 12 tahun. Dengan kata lain, dari anak
108,91 108,29 108,61 90,82 92,25 91,52 80,33 81,04 80,68

SD SMP SM

Laki-laki Perempuan Laki-laki+ Perempuan

murid SD/sederajat yang bersekolah, sebanyak 8,61 persen murid


yang terlambat masuk sekolah atau tinggal kelas pada jenjang SD/
sederajat atau sebaliknya berasal dari murid yang terlalu dini untuk
bersekolah SD/sederajat.

Gambar 6.5. Angka Partisipasi Kasar (APK) Anak menurut Jenjang


Pendidikan dan Jenis Kelamin, 2018

108,91 108,29 108,61 90,82 92,25 91,52 80,33 81,04 80,68

SD SMP SM

Laki-laki Perempuan Laki-laki+ Perempuan


Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 107


Pendidikan Anak

Menurut jenis kelamin, APK laki-laki pada jenjang pendidikan


SD/sederajat terlihat sedikit lebih tinggi dibanding APK anak
perempuan, yaitu 108,91 persen berbanding 108,29 persen. Keadaan
sebaliknya terjadi pada jenjang pendidikan SMP/sederajat, dimana
APK anak perempuan 1,43 persen lebih tinggi dibanding APK anak
laki-laki. Sementara itu pada jenjang pendidikan SM/sederajat APK
anak perempuan terlihat sedikit lebih tinggi dibanding APK anak
laki-laki.

Gambar 6.6. Angka Partisipasi Kasar (APK) Anak menurut Jenjang


Pendidikan dan Tipe Daerah, 2018

107,22 110,15 108,61 92,60 90,31 91,52 86,64 73,57 80,68

SD SMP SM

Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Gambar 6.6 menyajikan APK menurut daerah tempat tinggal.


APK anak di daerah perkotaan cenderung lebih tinggi dibandingkan
dengan daerah perdesaan, kecuali APK SD/sederajat. APK SMP/
sederajat di daerah perkotaan sebesar 92,60 persen dan di
perdesaan 90,31 persen. Sementara untuk jenjang SM/sederajat,
APK di daerah perkotaan dan daerah perdesaan masing-masing
sebesar 86,64 persen dan 73,57 persen. Untuk APK pada jenjang SD/
sederajat pada daerah perkotaan 2,93 persen lebih rendah dibanding
daerah perdesaan. Dari ketiga jenjang tersebut, jenjang SM/
sederajat tercatat sebagai jenjang yang memiliki selisih perbedaan
APK tertinggi antara daerah perkotaan dan daerah perdesaan yaitu
sekitar 13 persen.

108 Profil Anak Indonesia 2019


Pendidikan Anak

6.3. Program Indonesia Pintar


Program Indonesia Pinter (PIP) merupakan program
pemberdayaan penduduk miskin khususnya didalam menjaga
keberlanjutan dalam hal pendidikan. PIP yang merupakan
penyempurnaan program Bantuan Siswa Miskin (BSM) ini menjangkau
anak putus sekolah agar kembali melanjutkan pendidikannya.
Disamping anak putus sekolah, tujuan PIP adalah membantu
anak usia sekolah dari keluarga miskin untuk melanjutkan sekolah
sampai lulus dari jenjang pendidikan menengah. Adapun dasar
hukum PIP adalah Peraturan Bersama Antara Direktur Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Direktur Jenderal Pendidikan
Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Nomor 07/D/BP/2017,
serta Nomor 02/MPK.C/PM/2017 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Program Indonesia Pintar tahun 2017.
Dalam Peraturan Bersama tersebut dijelaskan bahwa prioritas
sasaran penerima manfaat PIP adalah peserta didik berusia 6
sampai dengan 21 tahun yang memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP)
dan berasal dari keluarga miskin/rentan miskin, dan/atau dengan
pertimbangan khusus seperti berasal dari keluarga peserta Program
Keluarga Harapan (PKH), keluarga pemegang Kartu Keluarga
Sejahtera (KKS), dan peserta didik yang berstatus yatim piatu/
yatim/piatu dari sekolah/panti sosial/panti asuhan. Kemudian juga,
peserta didik yang terkena dampak bencana alam, peserta didik
inklusi, korban musibah, dari orang tua PHK, di daerah konflik, dari
keluarga terpidana, berada di lembaga pemasyarakatan (LAPAS),
memiliki lebih dari tiga saudara yang tinggal serumah, peserta pada
lembaga kursus atau satuan pendidikan nonformal lainnya, dan
peserta didik SMK yang menempuh studi keahlian kelompok bidang
pertanian, peternakan, kehutanan, dan pelayaran/kemaritiman.
Peserta didik yang mendapat KIP akan diberikan dana tunai
dari pemerintah secara reguler yang tersimpan dalam fungsi kartu
KIP untuk bersekolah secara gratis tanpa biaya. Dengan adanya KIP
ini diharapkan angka putus sekolah bisa turun dengan drastis. Selain
itu, program KIP ini juga dibuat untuk bisa menarik kembali siswa
yang telah putus sekolah agar kembali bersekolah. Lebih luas lagi,
KIP juga diharapkan akan dapat mendukung program Wajib Belajar
Pendidikan Dasar 9 Tahun dan Pendidikan Menengah Universal/
Wajib Belajar 12 Tahun.

Profil Anak Indonesia 2019 109


Pendidikan Anak

Tabel 6.3. Persentase Anak Usia 7-17 TAHUN yang Memperoleh Program
Indonesia Pintar (PIP) Menurut Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2018

Tipe Daerah/ Memperoleh PIP/BSM


Jumlah
Jenis Kelamin Ya Tidak
(1) (2) (3) (4)

Perkotaan

Laki-laki 15,71 84,29 100,00

Perempuan 15,98 84,02 100,00


Laki-laki+Perempuan 15,84 84,16 100,00

Perdesaan

Laki-laki 25,11 74,89 100,00

Perempuan 25,63 74,37 100,00

Laki-laki+Perempuan 25,36 74,64 100,00

Perkotaan+Perdesaan

Laki-laki 20,15 79,85 100,00

Perempuan 20,50 79,50 100,00

Laki-laki+Perempuan 20,32 79,68 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Tabel 6.3 menyajikan persentase anak usia 7-17 tahun yang


memperoleh PIP menurut tipe daerah dan jenis kelamin. Dari 100 anak
usia 7-17 tahun di Indonesia, ada sekitar 20 anak yang memperoleh
PIP. Jika dibandingkan menurut jenis kelamin, persentase anak laki-
laki dan perempuan yang memperoleh PIP relatif sama. Sedangkan
jika dibandingkan menurut tipe daerah, persentase anak usia 7-17
tahun yang memperoleh PIP atau BSM di perdesaan lebih banyak
dibandingkan dengan di perkotaan.
Lampiran Tabel L-6.30 menampilkan persentase anak yang
memperoleh PIP menurut provinsi. Nusa Tenggara Barat merupakan
provinsi tertinggi dimana anak usia 7-17 tahun sudah memperoleh
PIP (32,86 persen). Sedangkan yang terendah adalah DKI Jakarta
(4,25 persen).

110 Profil Anak Indonesia 2019


Pendidikan Anak

Persentase anak usia 7-17 tahun yang memperoleh PIP menurut


kepemilikan KIP, tipe daerah dan jenis kelamin disajikan pada Tabel
6.4. Dari Tabel 6.4 tersebut dapat dilihat bahwa sebagian besar anak
yang memperoleh PIP adalah mereka yang memiliki KIP, yaitu sebesar
72,80 persen. Artinya dari empat anak yang memperoleh PIP, ada
tiga diantaranya adalah anak yang memiliki KIP. Sisanya merupakan
anak penerima PIP yang tidak memiliki KIP, seperti dijelaskan dalam
peraturan yang ada sebelumnya, yang berasal dari keluarga miskin/
rentan miskin dengan pertimbangan khusus atau anak SMK yang
menempuh studi keahlian kelompok bidang pertanian, perikanan,
peternakan, kehutanan, pelayaran, dan kemaritiman,

Tabel 6.4. Persentase Anak Usia 7-17 TAHUN yang Memperoleh Program
Indonesia Pintar (PIP) menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin,
dan Kepemilikan Kartu Indonesia Pintar (KIP), 2018

Tipe Daerah/ Memiliki KIP


Jumlah
Jenis Kelamin
Ya Tidak
(1) (2) (3) (4)

Perkotaan

Laki-laki 71,68 28,32 100,00

Perempuan 73,14 26,86 100,00

Laki-laki+Perempuan 72,41 27,59 100,00

Perdesaan

Laki-laki 73,19 26,81 100,00

Perempuan 72,97 27,03 100,00

Laki-laki+Perempuan 73,08 26,92 100,00

Perkotaan+Perdesaan

Laki-laki 72,57 27,43 100,00

Perempuan 73,04 26,96 100,00


Laki-laki+Perempuan 72,80 27,20 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 201PS

Profil Anak Indonesia 2019 111


Pendidikan Anak

Jika dilihat menurut provinsi, Banten adalah provinsi dengan


persentase tertinggi untuk anak yang memperoleh PIP dan memiliki
KIP, yaitu sebesar 92,51 persen (Lampiran Tabel L-6.33). Sedangkan
yang terendah adalah Papua dengan persentase sebesar 53,98
persen.

6.4. Angka Buta Huruf


Kemampuan membaca dan menulis merupakan suatu hal yang
tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan. Melalui membaca
dan menulis seseorang dapat menyerap berbagai pengetahuan,
menggali potensinya, dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat
yang lebih luas sehingga dapat menjadi SDM yang berkualitas.
Sebaliknya, seseorang dengan ketidakmampuan membaca dan
menulis yang disebut buta huruf dapat berakibat pada rendahnya
kualitas SDM tersebut.
Masalah buta huruf menjadi persoalan yang terjadi hampir di
semua negara, khususnya negara berkembang yang erat kaitannya
dengan kondisi kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, dan
ketidakberdayaan masyarakatnya. Buta huruf dapat menimbulkan
efek negatif terhadap generasi penerus, karena seorang ibu yang
buta aksara cenderung tidak mempunyai pengetahuan untuk
membantu perkembangan intelektual anaknya. Oleh karena itu,
perlu dilakukan pemberantasan buta huruf secara menyeluruh,
serentak, dan terpadu dengan dilandasi semangat gotong royong
dari seluruh elemen pemerintah dan masyarakat.
Badan dunia seperti UNESCO, UNICEF, WHO, World Bank dan
badan-badan internasional lainnya telah melakukan kampanye dan
sosialisasi pentingnya pemberantasan buta huruf di seluruh dunia.
UNDP menjadikan angka melek huruf sebagai variabel dari empat
indikator untuk menentukan Indeks Pembangunanan Manusia
(IPM) suatu negara, di samping rata-rata lama pendidikan, rata-rata
usia harapan hidup (indeks kesehatan) serta indeks perekonomian
berupa pengeluaran perkapita.
Tabel 6.5 menyajikan angka buta huruf (ABH) anak usia 5-17
tahun. ABH merupakan proporsi anak usia 5-17 tahun yang tidak
mempunyai kemampuan membaca dan menulis huruf latin dan huruf
lainnya terhadap seluruh anak usia 5-17 tahun. Berdasarkan data
Susenas 2018 ditemukan sebanyak 9,35 persen anak usia 5-17 tahun

112 Profil Anak Indonesia 2019


Pendidikan Anak

tidak bisa membaca dan menulis atau buta huruf. Tingginya angka
buta huruf pada anak usia 5-17 tahun dikarenakan tingginya angka
buta huruf pada kelompok usia muda (5-6 tahun) yang mencapai
50,81 persen.

Tabel 6.5. Angka Buta Huruf Anak USIA 5-17 Tahun menurut Tipe Daerah,
Jenis Kelamin dan Kelompok Usia Sekolah, 2018

Tipe Daerah/ Tahun


5-17
Jenis Kelamin 5-6 7-12 13-15 16-17
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Perkotaan

Laki-laki 46,52 1,94 0,27 0,00 8,34

Perempuan 42,31 1,36 0,14 0,00 7,31

Laki-Laki + Perempuan 44,47 1,65 0,21 0,00 7,83

Perdesaan

Laki-laki 60,37 4,02 0,53 0,27 11,61

Perempuan 55,26 3,07 0,47 0,30 10,45

Laki-Laki + Perempuan 57,87 3,56 0,50 0,29 11,05

Perkotaan + Perdesaan

Laki-laki 53,06 2,93 0,39 0,13 9,89

Perempuan 48,45 2,16 0,30 0,14 8,78

Laki-Laki + Perempuan 50,81 2,55 0,34 0,13 9,35

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Tingginya ABH pada kelompok usia muda bisa dipahami karena


umumnya anak pada kelompok usia tersebut belum bersekolah
sehingga kemampuan baca tulisnya juga masih rendah. Hal ini
terjadi pada anak laki-laki maupun perempuan di daerah perkotaan
maupun perdesaan. ABH anak usia 7-12 tahun sebesar 2,55 persen,
kelompok usia 13-15 tahun sebesar 0,34 persen, dan kelompok usia
16-17 sebesar 0,13 persen. ABH menurun seiring kenaikan jenjang
pendidikan yang ditempuh anak usia 7-17 tahun.
Bila diperhatikan menurut daerah tempat tinggal, persentase
ABH anak usia 5-17 tahun di perdesaan lebih besar dibandingkan

Profil Anak Indonesia 2019 113


Pendidikan Anak

di perkotaan (11,05 persen berbanding 7,83 persen). Berdasarkan


jenis kelamin, angka buta huruf anak laki-laki sedikit lebih tinggi
dibandingkan anak perempuan (9,89 persen berbanding 8,78
persen). Pola ini terjadi baik di perkotaan maupun perdesaan.
Angka buta huruf per provinsi di Indonesia dapat dilihat pada
lampiran Tabel L-6.34 – Tabel L-6.36. Provinsi dengan ABH paling
tinggi adalah Papua sebesar 25,42 persen. Sedangkan provinsi
dengan ABH terendah adalah Jawa Timur, yaitu sebesar 6,55 persen.

6.5. Putus Sekolah


Sesuai yang tertulis dalam Undang-undang No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menyatakan
bahwa setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun dapat
mengikuti program wajib belajar. Pencanangan program wajib
belajar dimulai pada tahun 1984, yaitu gerakan wajib belajar 6 tahun
dan ditingkatkan menjadi wajib belajar 9 tahun pada tahun 1994.
Program wajib belajar merupakan bagian dari kerangka aksi dasar
pendidikan untuk semua yang telah disepakati secara global. Untuk
mewujudkan program tersebut, pemerintah pusat dan daerah telah
menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang
pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Namun, tidaklah mudah
untuk merealisasikan pendidikan khususnya menuntaskan wajib
belajar 9 tahun, karena pada kenyataannya masih banyak dijumpai
anak-anak putus sekolah.
Dalam upaya penuntasan wajib belajar sembilan tahun,
putus sekolah masih merupakan persoalan tersendiri yang perlu
penanganan serius dalam mencapai pendidikan untuk semua.
Putus sekolah didefinisikan sebagai seseorang yang tidak dapat
menyelesaikan pendidikan atau berhenti bersekolah dalam suatu
jenjang pendidikan sehingga belum memiliki ijazah pada jenjang
pendidikan tersebut. Angka putus sekolah dihitung untuk mengukur
kemajuan pembangunan di bidang pendidikan dan untuk melihat
keterjangkauan pendidikan maupun pemerataan pendidikan pada
masing-masing kelompok usia.

6.5.1. Angka Putus Sekolah


Angka putus sekolah merupakan proporsi anak menurut
kelompok usia sekolah yang sudah tidak bersekolah lagi atau yang

114 Profil Anak Indonesia 2019


Pendidikan Anak

tidak menamatkan suatu jenjang pendidikan tertentu. Gambar 6.7


menyajikan angka putus sekolah anak usia 7-17 tahun menurut tipe
daerah dan jenis kelamin. Pada tahun 2018, sebanyak 0,85 persen
anak usia 7-17 tahun yang putus sekolah. Hal ini menunjukkan dari
100 anak usia 7-17 tahun yang bersekolah, ada sekitar satu anak
yang putus sekolah.

Gambar 6.7. Angka Putus Sekolah Anak USIA 7-17 Tahun menurut
Tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2018

1,09
0,98 0,97
0,88 0,88 0,85
0,73 0,71
0,57

Perkotaan Perdesaan Perkotaan +Perdesaan


Laki-laki Perempuan Laki-laki+ Perempuan

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Persentase anak putus sekolah di perdesaan lebih tinggi


dibandingkan perkotaan. Anak di perdesaan yang putus sekolah
tercatat sebesar 0,98 persen, sedangkan di perkotaan sebesar 0,73
persen. Bila diperhatikan menurut jenis kelamin, anak laki-laki yang
putus sekolah lebih banyak dibandingkan dengan anak perempuan
baik di perdesaan maupun di perkotaan.
Tabel 6.6 memperlihatkan banyaknya anak putus sekolah
menurut jenjang pendidikan. Angka putus sekolah paling tinggi
pada jenjang SM/sederajat sebesar 3,15 persen. Sementara itu
angka putus sekolah pada jenjang SD/sederajat dan SMP/sederajat
masing-masing sebesar 0,33 persen dan 1,06 persen.
Jika dilihat menurut daerah tempat tinggal, anak putus sekolah
di perdesaan lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Lebih tingginya

Profil Anak Indonesia 2019 115


Pendidikan Anak

angka putus sekolah anak di perdesaan dibanding perkotaan terlihat


pada semua jenjang pendidikan. Selanjutnya, jika diamati menurut
jenis kelamin, ada perbedaan antara angka putus sekolah anak laki-
laki dan perempuan. Angka putus sekolah anak laki-laki lebih tinggi
daripada anak perempuan di semua jenjang pendidikan.

Tabel 6.6. Angka Putus Sekolah Anak USIA 7-17 Tahun menurut Tipe Daerah,
Jenis Kelamin dan Jenjang Pendidikan, 2018

Jenjang Pendidikan
Tipe Daerah/
Jenis Kelamin SD/ SMP/ SM/
Sederajat Sederajat Sederajat
(1) (2) (3) (4)

Perkotaan
Laki-laki 0,37 1,12 2,93
Perempuan 0,18 0,46 2,57
Laki-Laki + Perempuan 0,28 0,79 2,74
Perdesaan
Laki-laki 0,46 1,65 3,82
Perempuan 0,31 1,11 3,68
Laki-Laki + Perempuan 0,39 1,38 3,75
Perkotaan + Perdesaan
Laki-laki 0,42 1,36 3,30
Perempuan 0,24 0,75 3,02
Laki-Laki + Perempuan 0,33 1,06 3,15

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018 BPS

Angka putus sekolah per provinsi dapat dilihat pada Lampiran


Tabel L-6.39. Provinsi dengan angka putus sekolah tertinggi adalah
Papua sebesar 2,26 persen, sementara itu provinsi dengan angka
putus sekolah paling rendah adalah Aceh sebesar 0,23 persen.

6.5.2. Alasan Tidak Bersekolah


Seorang anak tidak/belum pernah bersekolah dan tidak
bersekolah lagi dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Alasan
ekonomi (kemiskinan atau kemampuan ekonomi orang tua)

116 Profil Anak Indonesia 2019


Pendidikan Anak

merupakan salah satu faktor penyebabnya. Faktor-faktor penyebab


lainnya adalah antara lain, faktor geografis (daerah perbukitan,
wilayah pedalaman, dan kepulauan sehingga akses sekolah sulit
dijangkau), dan faktor sosial budaya (motivasi anak rendah atau
adanya anggapan bahwa perempuan sebaiknya tidak bersekolah
terlalu tinggi).
Pendidikan murah atau gratis, bila ditinjau secara faktor
ekonomi, memang telah banyak diwacanakan dan diinginkan
kalangan masyarakat untuk menolong anak yang tidak/belum
pernah bersekolah dan tidak bersekolah lagi. Akan tetapi, kebijakan
ini harus juga ditunjang dengan kebijakan lain untuk menuntaskan
berbagai faktor penyebab putus sekolah yang lainnya. Hal ini
dikarenakan faktor ekonomi bukanlah penyebab satu-satunya putus
sekolah. Selain faktor ekonomi, putus sekolah juga dapat disebabkan
oleh faktor psikologis, geografis, serta lingkungan sosial.

Tabel 6.7. Persentase Anak Usia 7-17 Tahun yang Tidak/Belum Pernah
Bersekolah/Tidak Bersekolah Lagi menurut Alasan, TIPE Daerah, dan
Jenis Kelamin di Indonesia, 2018
Alasan Tidak/
Perkotaan Perdesaan Perkotaan +Perdesaan
Belum Pernah
Bersekolah/Tidak
Bersekolah Lagi Lk Pr Lk+pr Lk Pr Lk+Pr Lk Pr Lk+Pr

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Tidak ada biaya 35,87 36,82 36,35 36,94 34,07 35,70 36,52 35,33 35,97
Bekerja/mencari
12,73 18,63 15,69 18,41 8,86 14,27 16,18 13,34 14,87
nafkah
Menikah 0,31 11,86 6,10 0,51 12,28 5,61 0,43 12,09 5,82
Mengurus Rumah
0,78 6,72 3,76 1,13 8,36 4,26 0,99 7,61 4,05
Tangga
Merasa Pendidikan
10,91 7,24 9,07 6,86 9,06 7,81 8,45 8,22 8,34
Cukup

Malu karena
2,62 1,43 2,03 0,92 0,35 0,67 1,59 0,85 1,25
Ekonomi

Sekolah Jauh 1,77 1,77 1,77 6,07 6,63 6,32 4,38 4,40 4,39

Cacat/Disabilitas 4,63 1,55 3,08 4,50 4,73 4,60 4,55 3,27 3,96

Lainnya 30,38 13,98 22,16 24,66 15,66 20,76 26,91 14,89 21,35

Total 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 117


Pendidikan Anak

Hasil Susenas 2018 menujukkan bahwa ketidakmampuan


membiayai sekolah atau faktor ekonomi menjadi faktor dominan
yang menyebabkan anak tidak/belum pernah bersekolah atau tidak
bersekolah lagi. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 6.7, sebagian
besar anak berusia 7-17 tahun yang tidak/belum pernah bersekolah
atau tidak bersekolah lagi dikarenakan alasan ekonomi, yaitu tidak
ada biaya sebesar 35,97 persen, bekerja/mencari nafkah sebesar
14,87 persen dan malu karena ekonomi sebesar 1,25 persen. Selain
alasan ekonomi, alasan merasa pendidikan cukup, menikah, dan
mengurus rumah tangga juga berdampak terhadap anak tidak/
belum pernah sekolah atau tidak sekolah lagi dengan persentase
masing-masing sebesar 8,34 persen, 5,82 persen, dan 4,05 persen.

6.6. Akses Internet


Seiring dengan kemajuan teknologi, khususnya dalam era
revolusi industri 4.0, penggunaan media digital internet, bukan lagi
hal yang jarang dilihat terlebih di daerah perkotaan. Untuk dapat
mengakses internet, pengguna tidak harus menggunakan perangkat
yang besar dan keluar rumah. Penggunanya pun sudah tidak hanya
kelompok usia tertentu, mulai anak-anak hingga lanjut usia dapat
mengakses internet dengan mudah.
Internet juga sudah bukan hal yang asing bagi anak-anak. Di
pelosok desa pun banyak ditemui anak-anak berseragam SD yang
asyik menggunakan komputer di warnet-warnet umum mulai dari
mencari bahan untuk mengerjakan tugas, update status media
sosial, sampai dengan bermain game online. Bahkan tidak jarang
mereka sudah memiliki smartphone pribadi yang dapat digunakan
mengakses internet di mana pun dan kapan pun.
Namun demikian, tidak dapat dipungkiri, bahwa internet
bagaikan pisau bermata dua bagi penggunanya, terlebih bagi
seorang anak. Dengan kata lain, selain memiliki dampak positif
internet juga memiliki dampak negatif. Anak belum memiliki filter
yang kuat untuk memilih dan memilah hal positif dan negatif ketika
mengakses internet. Dengan terkoneksi internet, semua hal baik
maupun hal yang berbahaya untuk perkembangan anak bisa diakses
dengan bebas.
Tabel 6.8 menyajikan persentase anak usia 5-17 yang mengakses
internet selama tiga bulan terakhir menurut tipe daerah dan jenis

118 Profil Anak Indonesia 2019


Pendidikan Anak

kelamin. Sekitar 40,25 persen anak usia 7-17 tahun pernah mengakses
internet selama tiga bulan terakhir sebelum pencacahan lapangan.
Persentase anak perempuan yang mengakses internet 3,47 persen
lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-laki. Perbedaan yang
cukup mencolok anak di perkotaan yang mengakses internet jauh
lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan, yaitu 48,93 persen
berbanding 30,48 persen.

Tabel 6.8. Persentase Anak uSIA 5-17 Tahun yang Mengakses Internet
Selama Tiga Bulan Terakhir Menurut Tipe Daerah, KELOMPOK USIA, dan
Jenis Kelamin, 2018

5-6 Tahun 7-17 Tahun


Tipe Daerah/
Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Laki-Laki + Perempuan Laki-Laki Perempuan Laki-Laki + Perempuan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Perkotaan 6,40 7,00 6,69 47,27 50,65 48,93

Perdesaan 1,96 2,13 2,05 28,82 32,24 30,48

Perkotaan +Perdesaan 4,31 4,69 4,49 38,56 42,03 40,25

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Persentase anak usia 5-6 yang mengakses internet selama


tiga bulan terakhir menurut tipe daerah dan jenis kelamin juga
disajikan di Tabel 6.8. Anak yang mengakses internet pada kelompok
usia tersebut mencapai 4,49 persen. Persentase anak perempuan
pengguna internet lebih besar dibandingkan dengan anak laki-
laki, yaitu 4,69 persen berbanding 4,31 persen. Sementara itu, jika
diamati menurut tipe daerah, persentase anak di daerah perkotaan
yang mengakses internet lebih tinggi dibandingkan di perdesaan,
yaitu 6,69 persen berbanding 2,05 persen.
Lebih jauh, hasil Susenas 2018 menunjukkan bahwa mayoritas
anak usia 5-6 tahun mengakses internet untuk hiburan, yaitu sebesar
93,51 persen (Gambar 6.8). Kemudian sebesar 14,72 persen anak
sudah menggunakannya untuk sosial media/jejaring sosial seperti
Facebook, Blackberry Messenger, Whatsapp, Twitter. Internet yang
digunakan untuk tujuan mengerjakan tugas sekolah hanya 10,31
persen. Sedangkan tujuan yang lain masing-masing di bawah 10
persen.

Profil Anak Indonesia 2019 119


Pendidikan Anak

Gambar 6.8. Persentase Anak USIA 5-6 Tahun yang Mengakses


Internet Selama Tiga Bulan Terakhir menurut
Tujuan Mengakses Internet, 2018

93,51

14,72
10,31 8,86
1,74 4,55

Mengerjakan tugas sekolah Sosial media/jejaring sosial Mendapat Informasi/berita


Hiburan Mengirim/menerima Email Lainnya

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Gambar 6.9 menyajikan persentase anak usia 7-17 tahun yang


mengakses internet menurut tujuan mengakses. Sama halnya dengan
dengan anak usia 5-6 tahun, anak usia 7-17 tahun paling banyak
mengakses internet untuk hiburan, yaitu sebesar 75,67 persen dan
sosial media/jejaring sosial sebesar 73,11 persen. Sedangkan yang
paling sedikit mengakses internet adalah untuk tujuan mengirim/
menerima email, yang tercatat hanya sebesar 9,30 persen.
Fenomena tingginya persentase penggunaan internet oleh anak
usia 5-17 untuk tujuan hiburan dan jejaring sosial mengindikasikan
tidak saja adanya dampak positif tetapi dampak negatif bagi anak
sekolah. Pemanfaatan teknologi terkini, cepatnya memperoleh
informasi dari segala penjuru dunia tanpa dibatasi ruang dan waktu
merupakan beberapa contoh hal-hal postif bagi anak sekolah.
Namun demikian, pengaruh konten pornografi, konten
provokasi dan saling membuli (bullying) antar anak sekolah,
merupakan beberapa contoh dampak negatif yang dapat terjadi
bagi anak ketika menggunakan internet. Disamping itu, meski
belum banyak penelitian atau studi yang membuktikan, dampak
negatif seperti malas belajar, penanaman sikap plagiat, kesulitan

120 Profil Anak Indonesia 2019


Pendidikan Anak

bersosialisasi dengan dunia nyata, dan bolos sekolah merupakan


contoh lain dampak negatif yang harus menjadi perhatian orang
tua dan pemerintah yang informasinya dapat dikumpulkan melalui
Susenas pada tahun-tahun yang akan datang.

Gambar 6.9. Persentase Anak USIA 7-17 Tahun yang Mengakses


Internet Selama Tiga Bulan Terakhir menurut
Tujuan Mengakses Internet, 2018

75,67
73,11

65,61
Mengerjakan tugas sekolah

Sosial media/jejaring sosial


54,26
Mendapat Informasi/berita

Hiburan

Mengirim/menerima Email

Lainnya

14,82
9,30

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 121


BAB 7

PERLINDUNGAN KHUSUS
Pada tahun 2018 jumlah anak pelaku tindak pidana mencapai
3.048. Angka ini menurun dari tahun sebelumnya yang
mencapai 3.479 anak. Persentase anak usia 10-17 tahun
yang bekerja pun mengalami penurunan, yakni dari 7,23
.persen pada tahun 2017 menjadi. 7,05 persen pada tahun.
2018, dengan persentase tertinggi di Sulawesi Barat sebesar
16,76 persen. Penurunan angka-angka ini menunjukkan hal
yang baik. Pada anak usia 2 - 17 tahun sebanyak 1,11 persen
mengalami disabilitas, dan persentase terbesar pada jenis
gangguan komunikasi sebesar 0,48 persen. Sementara
menurut kategori ketelantaran sebanyak 6,95 persen balita
dan sebanyak 1,60 persen anak usia 5 - 17 tahun telantar.
Pada kedua kategori usia tersebut persentase anak telantar
di perdesaan lebih besar dibandingkan di perkotaan.

7.1. Upaya Perlindungan Anak di Indonesia


Komitmen negara untuk menjamin upaya perlindungan anak
tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28B Ayat (2)
yang menyebutkan bahwa “Setiap anak berhak atas kelangsungan
hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan
dari kekerasan dan diskriminasi”. Dalam perkembangannya
pemerintah membuat aturan khusus tentang perlindungan anak
dengan menerbitkan Undang-Undang Nomor 4 tahun 1979 tentang
Kesejahteraan Anak. Kemudian di tahun 1990 pemerintah secara
resmi melalui Keppres No.36/1990 meratifikasi konvensi tentang
hak-hak anak yang memberikan mandat bahwa setiap anak
berhak hidup sejahtera dan perlindungan hukum untuk mencapai
kesejahteraan anak wajib dijamin oleh negara. Dengan adanya
Keppres tersebut upaya penanganan perlindungan anak semakin
nyata.
Aturan perlindungan pada anak Indonesia yang lebih
komperehensif saat ini secara umum mengacu pada Undang-
Undang Nomor 35 Tahun 2014 yang merupakan penyempurnaan

Profil Anak Indonesia 2019 125


Perlindungan Khusus

atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan


Anak. Dalam hal ini yang dimaksud dengan anak adalah seseorang
yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang
masih dalam kandungan.
Dalam ketentuan Pasal 1 (satu) Ayat 2 (dua) perundangan
tersebut disebutkan bahwa perlindungan anak adalah segala
kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya
agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara
optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta
mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Sementara
perlindungan khusus anak adalah suatu bentuk perlindungan
yang diterima oleh anak dalam situasi dan kondisi tertentu
untuk mendapatkan jaminan rasa aman terhadap ancaman yang
membahayakan diri dan jiwa dalam tumbuh kembangnya.
Dalam Pasal 15 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014
disebutkan bahwa setiap anak berhak untuk memperoleh
perlindungan dari: penyalahgunaan dalam kegiatan politik, pelibatan
dalam sengketa bersenjata, pelibatan dalam kerusuhan sosial,
pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan,
pelibatan dalam peperangan, dan kejahatan seksual.
Pasal 20 menjelaskan bahwa negara, pemerintah, pemerintah
daerah, masyarakat, keluarga, dan orang tua atau wali memperoleh
mandat untuk berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap
penyelenggaraan perlindungan anak. Selain itu negara, pemerintah,
dan pemerintah daerah berkewajiban dan bertanggung jawab
memberikan dukungan sarana, prasarana, dan ketersediaan sumber
daya manusia dalam penyelenggaraan perlindungan anak. Hal ini
diatur dalam Pasal 22.
Perlindungan khusus wajib diberikan dan menjadi tanggung
jawab pemerintah, pemerintah daerah, dan lembaga negara lainnya
(Pasal 59 Ayat (1)). Perlindungan khusus diberikan kepada: anak
dalam situasi darurat; anak yang berhadapan dengan hukum; anak
dari kelompok minoritas dan terisolasi; anak yang dieksploitasi
secara ekonomi dan/atau seksual; anak yang menjadi korban
penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif
lainnya; anak yang menjadi korban pornografi; anak dengan HIV/
AIDS; anak korban penculikan, penjualan, dan/atau perdagangan;
anak korban kekerasan fisik dan/atau psikis; anak korban kejahatan

126 Profil Anak Indonesia 2019


Perlindungan Khusus

seksual; anak korban jaringan terorisme; anak penyandang


disabilitas; anak korban perlakuan salah dan penelantaran; anak
dengan perilaku sosial menyimpang; dan anak yang menjadi korban
stigmatisasi dari pelabelan terkait dengan kondisi orang tuanya.
Upaya yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah,
dan lembaga negara lainnya dalam memberikan perlindungan
khusus bagi anak diantaranya :
a. Penanganan yang cepat, termasuk pengobatan dan/atau
rehabilitasi secara fisik, psikis, dan sosial, serta pencegahan
penyakit dan gangguan kesehatan lainnya;
b. Pendampingan psikososial pada saat pengobatan sampai
pemulihan;
c. Pemberian bantuan sosial bagi anak yang berasal dari keluarga
tidak mampu; dan
d. Pemberian perlindungan dan pendampingan pada setiap proses
peradilan.
Agar upaya perlindungan khusus dapat sesuai dan tepat
sasaran diperlukan informasi, data, atau profil tentang situasi anak.
Dalam bab ini disajikan beberapa profil anak terkait perlindungan
khusus anak, yaitu anak yang berhadapan dengan hukum, anak yang
bekerja, anak penyandang disabilitas, dan anak korban penelantaran.
Profil anak yang berhadapan dengan hukum menggunakan sumber
data yang berasal dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan,
Kementerian Hukum dan HAM, profil anak yang bekerja datanya
bersumber dari Sakernas 2018 dan hanya mencakup anak usia 10-
17 tahun, sedangkan profil anak penyandang disabilitas dan anak
korban penelantaran datanya bersumber dari Susenas MSBP 2018.

7.2. Anak yang Berhadapan dengan Hukum


Dalam upaya perlindungan anak, anak yang berhadapan
dengan hukum merupakan salah satu sasaran dari perlindungan
khusus seperti yang dimaksud pada Ayat (1) Pasal 59 Undang-
Undang Nomor 35 Tahun 2014. Untuk mendukung undang-undang
tersebut, pemerintah telah menerbitkan undang-undang khusus
yang mengatur masalah anak yang berhadapan dengan hukum,
yaitu Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan
Anak, yang selanjutnya diganti dengan Undang-Undang Nomor 11

Profil Anak Indonesia 2019 127


Perlindungan Khusus

Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.


Dalam perundangan tersebut sistem peradilan pidana anak
yang dimaksud adalah keseluruhan proses penyelesaian perkara
anak yang berhadapan dengan hukum, mulai tahap penyelidikan
sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana.
Sementara anak yang berhadapan dengan hukum yang dimaksud
disini adalah anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi
korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi tindak pidana.
Perubahan paradigma dalam menangani perkara anak yang
berhadapan dengan hukum mulai muncul dengan adanya Undang-
Undang Nomor 35 Tahun 2014 ini yang telah membawa kemajuan
pada sistem peradilan anak dalam upaya perlindungan khusus anak.
Dalam perundangan tersebut memungkinkan proses penyelesaian
perkara anak dilakukan secara diversi, yakni pengalihan penyelesaian
perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan
pidana, tidak hanya melalui proses peradilan.
Proses penyelesaian perkara anak secara diversi menggunakan
pendekatan keadilan restoratif, yakni penyelesaian perkara tindak
pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/
korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari
penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali
pada keadaan semula dan bukan pembalasan.

7.2.1. Anak yang Berkonflik dengan Hukum


Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang
sistem peradilan pidana anak, yang dimaksud dengan Anak yang
Berkonflik dengan Hukum (ABH) adalah anak yang telah berusia 12
(dua belas) tahun, tetapi belum berusia 18 (delapan belas) tahun yang
diduga melakukan tindak pidana. Dalam undang-undang tersebut
juga dijelaskan bahwa pengambilan keputusan perkara anak yang
belum berusia 12 (dua belas) tahun ketika melakukan atau diduga
melakukan tindak pidana dilakukan oleh penyidik, pembimbing
kemasyarakatan, dan pekerja sosial profesional melalui dua pilihan
keputusan, yaitu: menyerahkannya kembali kepada orang tua/wali
atau mengikutsertakannya dalam program pendidikan, pembinaan,
dan pembimbingan di instansi pemerintah yang menangani bidang
kesejahteraan sosial, baik di tingkat pusat maupun daerah, paling
lama 6 (enam) bulan.

128 Profil Anak Indonesia 2019


Perlindungan Khusus

Perkembangan komposisi hasil pendampingan terhadap


penyelesaian ABH selama tahun 2017-2018 disajikan pada Tabel
7.1. Penyelesaian perkara ABH telah dilakukan dengan pendekatan
keadilan restoratif. Hal ini ditunjukkan oleh tingginya penyelesaian
ABH melalui diversi dibanding penyelesaian lainnya.

Tabel 7.1. Perkembangan Komposisi Hasil Pendampingan terhadap Anak


Berkonflik dengan Hukum (Persen), 2017-2018

Hasil Pendampingan terhadap Anak Berkonflik Tahun


dengan Hukum
2017 2018
(1) (2) (3)
Diversi 47,35 52,80

• Diversi Anak Kembali Ke Orang Tua 42,78 48,40


• Diversi Anak Ke Panti Sosial Atau Lainnya 4,57 4,40
Putusan Tindakan 12,61 15,60
• Putusan Anak Kembali ke Orang Tua 5,85 8,80
• Putusan diserahkan ke Panti Sosial atau lainnya 6,76 6,80
Putusan Pidana 40,04 31,60
• Putusan Pidana Bersyarat 8,41 4,40
• Putusan Pidana Penjara 31,63 27,20

Jumlah 100,00 100,00

Sumber: Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM

Selama kurun waktu 2017-2018 separuh lebih penyelesaian


ABH ditempuh melalui proses pengalihan penyelesaian perkara
anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana
(diversi), dan didominasi oleh proses diversi anak kembali ke orang
tua. Meski demikian, masih terdapat 27,20 persen penyelesaian ABH
berakhir dengan putusan pidana penjara, sedikit menurun dibanding
tahun 2017 sebesar 31,63 persen.
Pidana penjara terhadap anak hanya digunakan sebagai upaya
terakhir seperti yang tercantum dalam UU No 11 Tahun 2012 Tentang
Sistem Peradilan Pidana Anak Pasal 81 Ayat (5). Atas dasar azas
perampasan kemerdekaan dan pemidanaan sebagai upaya terakhir,
setiap anak dalam proses peradilan pidana berhak tidak ditangkap,

Profil Anak Indonesia 2019 129


Perlindungan Khusus

ditahan, atau dipenjara, kecuali sebagai upaya terakhir dan dalam


waktu yang paling singkat.
Untuk kepentingan penyidikan, penyidik berwenang melakukan
penahanan anak yang diduga keras melakukan tindak pidana
(kenakalan) berdasarkan bukti permulaan yang cukup bahwa anak
melakukan tindak pidana (kenakalan). Namun demikian penahanan
hanya dapat dilakukan apabila anak yang melakukan tindak pidana
berusia 14 tahun keatas dan diancam pidana penjara 7 (tujuh) tahun
keatas yang ditentukan oleh undang-undang.
Penahanan terhadap anak dilaksanakan di tempat khusus
untuk anak, yakni Lembaga Penempatan Anak Sementara (LPAS)
atau Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS) apabila
belum terdapat LPAS. Penyidik yang melakukan tindakan penahanan
harus terlebih dahulu mempertimbangkan akibat dari tindakan
penahanan dari segi kepentingan anak, seperti pertumbuhan dan
perkembangan anak baik fisik, mental maupun sosial. Selain itu
juga harus mempertimbangkan segi kepentingan masyarakat,
misalnya dengan ditahannya tersangka masyarakat menjadi aman
dan tenteram. Namun dalam penerapannya menjadi sulit dilakukan
karena mempertimbangkan kepentingan yang dilindungi, penahanan
menjadi tidak mudah dilakukan. Dalam tindakan penahanan,
penyidik seharusnya melibatkan pihak yang berkompeten, seperti
pembimbing kemasyarakatan, psikolog, kriminolog, dan ahli lain
yang diperlukan, sehingga penyidik anak tidak salah mengambil
keputusan dalam melakukan penahanan.

7.2.2. Narapidana Anak


Dalam proses penyelesaian hukum, anak pelaku tindak pidana
mencakup dua kriteria anak, yaitu anak didik pemasyarakatan
(anak pidana) dan tahanan anak. Dalam Undang-Undang Nomor
12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan disebutkan bahwa anak
didik pemasyarakatan mencakup 3 (tiga) pengertian, yaitu anak
pidana, anak negara, dan anak sipil. Anak pidana adalah anak yang
berdasarkan putusan pengadilan menjalani pidana di Lembaga
Pembinaan Khusus Anak (LPKA) paling lama sampai berusia 18
(delapan belas) tahun. Anak negara yaitu anak yang berdasarkan
putusan pengadilan diserahkan pada negara untuk dididik dan
ditempatkan di LPKA paling lama sampai berusia 18 (delapan belas)

130 Profil Anak Indonesia 2019


Perlindungan Khusus

tahun. Anak sipil adalah anak yang atas permintaan orang tua/
walinya memperoleh penetapan pengadilan untuk dididik di LPKA
paling lama sampai dengan berusia 18 (delapan belas) tahun.
Dalam perundangan tersebut, anak didik pemasyarakatan
telah menerima keputusan pengadilan. Sementara tahanan anak
yang tinggal di rumah tahanan anak, cabang rumah tahanan anak
dan tempat-tempat tertentu masih harus menunggu keputusan
pengadilan. Pejabat pelaksana hukum seperti penyelidik, penuntut
umum dan hakim (hakim pengadilan, hakim banding dan hakim kasasi)
memiliki kewenangan mengeluarkan surat perintah penahanan
anak untuk melaksanakan berbagai macam kepentingan, antara lain
penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan.

Tabel 7.2. Jumlah Narapidana dan Tahanan Menurut Kelompok Usia dan
Jenis Kelamin, 2017-2018
2017 2018
Kelompok
Status Laki-laki + Laki-laki +
Usia Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
Perempuan Perempuan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Dewasa Narapidana 150 064 8 812 158 876 170 763 10 357 181 120
Tahanan 65 893 3 833 69 726 67 303 3 909 71 212
Jumlah 215 957 12 645 228 602 238 066 14 266 252 332
Anak-anak Narapidana 2 412 57 2 469 2 118 36 2 154
Tahanan 992 18 1 010 868 26 894
Jumlah 3 404 75 3 479 2 986 62 3 048
Dewasa dan Narapidana 152 476 8 869 161 345 172 881 10 393 183 274
Anak-anak Tahanan 66 885 3 851 70 736 68 171 3 935 72 106
Jumlah 219 361 12 720 232 081 241 052 14 328 255 380

Sumber: Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM

Tabel 7.2 menyajikan jumlah anak pelaku tindak pidana di


Indonesia. Pada tahun 2018 jumlah anak pelaku tindak pidana
sebanyak 3.048 anak, sedikit menurun dari tahun 2017 yang mencapai
3.479 anak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 894 anak atau 29,33
persen masih berstatus sebagai tahanan dan sebanyak 2.154 anak
atau 70,67 persen telah berstatus narapidana atau anak didik. Pada
tahun 2018, baik tahanan anak maupun narapidana anak jumlahnya
menurun dibanding tahun 2017. Narapidana anak dan tahanan anak
didominasi anak laki-laki yaitu sebesar 98,33 persen narapidana

Profil Anak Indonesia 2019 131


Perlindungan Khusus

Tabel 7.3. Jumlah Narapidana Anak Menurut Statusnya, 2018


Narapidana Narapidana Narapidana
Bulan Total
Anak Negara Anak Sipil Anak Pidana
(1) (2) (3) (4) (5)
Januari 37 0 2 901 2 938
Februari 36 0 2 919 2 955
Maret 37 6 3 063 3 106
April 39 45 3 016 3 100
Mei 37 0 3 009 3 046
Juni 39 2 2 779 2 820
Juli 34 2 2 486 2 522
Agustus 40 0 2 480 2 520
September 36 0 2 491 2 527
Oktober 38 0 2 489 2 527
November 40 0 2 510 2 550
Desember 30 1 2 338 2 369
Rata-rata 37 5 2 707 2 749

Sumber: Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM

anak dan 97,09 persen tahanan anak.


Pada tahun 2018 sebagian besar narapidana anak yang berada
di LPKA adalah napi anak pidana, dengan rata-rata sebanyak 2.707
anak atau sekitar 98,47 persen dari total narapidana anak. Sedangkan
untuk narapidana dengan status napi anak negara dan napi anak
sipil menunjukkan persentase yang relatif kecil, hanya 1,35 persen
dan 0,18 persen.

Gambar 7.1. Perkembangan Jumlah Narapidana Anak Per Bulan, 2017 – 2018
3500

3000

2500

2000
Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

2017 2018

Sumber: Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM

132 Profil Anak Indonesia 2019


Perlindungan Khusus

Perkembangan jumlah narapida anak per bulan selama tahun


2017–2018 disajikan pada Gambar 7.1. Pada tahun 2018 jumlah
narapidana anak mengalami trend yang menurun, berbeda dengan
tahun 2017 yang cenderung datar. Hal ini menunjukkan keadaan
yang lebih baik di tahun 2018 dibanding 2017.

7.3. Anak yang Bekerja


Perlindungan bagi anak yang dieksploitasi secara ekonomi
merupakan salah satu upaya perlindungan khusus kepada anak.
Perlindungan khusus terhadap anak yang diekploitasi secara
ekonomi salah satunya dengan memberikan perlindungan kepada
pekerja anak berupa pelibatan berbagai perusahaan, serikat pekerja,
lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat dalam penghapusan
eksploitasi terhadap anak secara ekonomi. Pekerja anak juga erat
hubungannya dengan kemiskinan dan keterbelakangan. Dapat
kita lihat bahwa sebagian besar anak bekerja karena berasal dari
keluarga yang tidak mampu/keluarga miskin. International Labour
Organization (ILO) telah mengatur usia minimum anak yang bekerja,
dan juga pelarangan serta tindakan cepat untuk penghapusan
segala bentuk pekerjaan terburuk bagi anak melalui konvensi.
Konvensi tersebut ditujukan untuk menjamin terpenuhinya hak anak
yang bekerja.
Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
telah mengatur mengenai pekerja anak. Perundangan tersebut secara
tegas menyatakan bahwa pengusaha dilarang mempekerjakan anak.
Namun terdapat pengecualian untuk anak usia 13 hingga 15 tahun
dapat melakukan pekerjaan ringan asalkan tidak mengganggu
perkembangan dan kesehatan fisik, mental dan sosial anak. Terkait
hal tersebut, pengusaha yang mempekerjakan anak untuk pekerjaan
ringan harus mampu memenuhi persyaratan berikut :
a. Izin tertulis dari orang tua atau wali;
b. Perjanjian kerja antara pengusaha dengan orang tua atau wali;
c. Waktu kerja maksimum 3 (tiga) jam;
d. Dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah;
e. Keselamatan dan kesehatan kerja;
f. Adanya hubungan kerja yang jelas;
g. Menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Profil Anak Indonesia 2019 133


Perlindungan Khusus

Namun untuk ketentuan izin tertulis dari orang tua atau wali,
perjanjian kerja antara pengusaha dengan orang tua atau wali, dan
hubungan kerja yang jelas, tidak berlaku jika anak usia 13 hingga 15
tahun tersebut bekerja pada usaha keluarganya.
Dalam sub bab ini disajikan profil anak usia 10-17 tahun yang
bekerja. Anak bekerja adalah jika mereka melakukan kegiatan
ekonomi minimal satu jam secara berturut-turut (tidak terputus)
dalam periode seminggu yang lalu dan kegiatan tersebut dilakukan
dengan maksud untuk memperoleh atau membantu memperoleh
pendapatan dalam bentuk uang maupun barang. Kegiatan tersebut
termasuk pula kegiatan pekerja tak dibayar yang membantu dalam
suatu usaha/kegiatan ekonomi.
Anak yang bekerja disajikan menurut kelompok usia, jenis
kelamin, tipe daerah tempat tinggal, pendidikan, lapangan pekerjaan,
status pekerjaan, dan upah/gaji/pendapatan. Berdasarkan
peraturan perundangan ketenagakerjaan, anak pada kelompok usia
10-12 tahun sebenarnya tidak diperbolehkan bekerja (untuk jenis
pekerjaan ringan sekalipun). Akan tetapi sesuai dengan Konvensi ILO
No.138 yang telah diratifikasi menjadi UU No.20 Tahun 1999 tentang
batas usia minimum untuk bekerja, anak usia 15 tahun sudah boleh
dipekerjakan secara normal sehingga pengelompokan usia 13-17
tahun dibagi menjadi dua, yaitu 13-14 tahun dan 15-17 tahun. Anak
pada kelompok usia 15-17 tahun sudah diperbolehkan bekerja tetapi
tidak boleh dieksploitasi untuk bekerja pada pekerjaan-pekerjaan
yang membahayakan baik ancaman/bahaya bagi kesehatan maupun
keselamatan atau moral si anak.

7.3.1. Anak Bekerja menurut Kelompok Usia, Jenis Kelamin,

dan Tipe Daerah


Gambar 7.2 menyajikan perkembangan anak usia 10-17 tahun
yang bekerja selama tahun 2017-2018. Dari Gambar 7.2 terlihat
adanya penurunan anak yang bekerja dari tahun 2017 ke tahun 2018.
Persentase anak usia 10-17 tahun yang bekerja pada tahun 2018
mencapai 7,05 persen. Angka ini lebih rendah dibanding pada tahun
2017 yang mencapai 7,23 persen. Penurunan angka pekerja anak
ini menunjukkan hal yang yang baik, mengingat bahwa seharusnya
anak-anak tidak boleh bekerja.

134 Profil Anak Indonesia 2019


Perlindungan Khusus

Gambar 7.2. Persentase Anak USIA10-17 Tahun menurut Aktivitas


Bekerja 2017-2018

92,77 92,95

7,23 7,05

2017 2018

Bekerja Tidak Bekerja

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2018, BPS

Perkembangan persentase anak usia 10-17 tahun yang bekerja


selama periode 2012-2018 disajikan pada Gambar 7.3. Dari gambar
tersebut memperlihatkan persentase anak yang bekerja mengalami
penurunan selama periode 2012-2015, dari 9,43 persen di tahun
2012, kemudian terus menurun menjadi 5,99 pada tahun 2015.
Namun pada tahun 2016 persentase anak yang bekerja meningkat
kembali menjadi 6,99 persen dan di tahun 2017 menjadi 7,23 persen.
Kemudian pada tahun 2018 menurun lagi menjadi 7,05 persen.

Gambar 7.3. Perkembangan Persentase Anak Usia 10-17 tahun yang


Bekerja, 2012-2018

9,43
8,56

6,99 7,23 7,05


7,06
5,99

2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 135


Perlindungan Khusus

Jika dirinci menurut kelompok usia, anak yang bekerja


sebagian besar berusia 15-17 tahun. Hal ini cukup wajar karena pada
kelompok usia tersebut anak-anak memang sudah diperbolehkan
masuk dalam pasar kerja. Yang menjadi miris adalah adanya anak
berusia 10-12 tahun yang sudah bekerja. Hal ini bertentangan dengan
peraturan perundangan tentang ketenagakerjaan, karena menurut
perundangan tersebut anak pada kelompok usia 10-12 tahun tidak
diperbolehkan bekerja meskipun untuk jenis pekerjaan ringan.

Gambar 7.4. Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Kelompok Usia, tipe Daerah, dan Jenis Kelamin, 2018

17,43

15,96

12,71

9,29
8,80
8,45

6,69
5,83
4,93

3,54
2,93
1,99 2,19 2,09
1,33

Perkotaan Perdesaan Laki-laki Perempuan Total

10-12 13-14 15-17

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2018, BPS

Apabila ditinjau menurut tipe daerah, Gambar 7.4 juga


memperlihatkan bahwa persentase anak yang bekerja di perkotaan
maupun di perdesaan juga didominasi oleh anak berusia 15-17 tahun.
Di perkotaan, anak berusia 15-17 tahun yang bekerja mencapai 8,80
persen, sedangkan di perdesaan menunjukkan angka yang lebih
tinggi hampir 2 kali lipatnya yaitu sekitar 17,43 persen. Pola yang
sama juga terjadi pada kelompok usia 13-14 tahun dan 10-12 tahun.
Sementara itu, untuk kelompok anak usia 10-12 tahun di perkotaan
mencapai 1,33 persen dan di perdesaan 2,93 persen.
Menurut jenis kelamin, persentase anak yang bekerja

136 Profil Anak Indonesia 2019


Perlindungan Khusus

didominasi oleh anak laki-laki. Persentase anak laki-laki yang


bekerja mencapai 15,96 persen sedangkan anak perempuan 9,29
persen. Persentase anak laki-laki maupun anak perempuan yang
bekerja juga didominasi oleh kelompok anak usia 15-17 tahun. Pada
kelompok usia 10-12 tahun, persentase anak laki-laki yang bekerja
sebesar 1,99 persen, lebih kecil dibanding anak perempuan yang
sebesar 2,19 persen. Sedangkan pada kelompok usia 13-14 terjadi
pola sebaliknya. Persentase anak laki-laki yang bekerja sebesar
6,69 persen lebih besar dibanding anak perempuan yang sebesar
4,93 persen.

7.3.2. Anak Bekerja menurut Provinsi


Distribusi persentase anak usia 10-17 tahun yang bekerja pada
tahun 2018 dirinci menurut provinsi disajikan pada Gambar 7.5.
Terdapat variasi jumlah anak yang bekerja antar provinsi. Provinsi
dengan persentase anak yang bekerja tertinggi terdapat di provinsi
Sulawesi Barat sebesar 16,76 persen. Sedangkan persentase
terendah anak bekerja terdapat di provinsi DKI Jakarta sebesar 2,48
persen.
Ditinjau dari sisi kawasan dimana provinsi berada, sebagian
besar provinsi di kawasan barat Indonesia memiliki persentase anak
bekerja kurang dari 10 persen. Hanya provinsi Sumatera Utara saja
yang persentase anak bekerjanya di atas 10 persen, yaitu sebesar
13,28 persen. Pada sisi lain, provinsi di kawasan Timur, persentase
anak bekerjanya relatif lebih tinggi dari kawasan Barat.
Tinjauan lebih lanjut, Gambar 7.6 menyajikan persentase anak
usia 10-17 tahun yang bekerja pada tahun 2018 dirinci berdasarkan
provinsi dan kelompok usia. Pada semua provinsi, persentase anak
yang bekerja paling banyak terdapat pada kelompok usia 15-17 tahun.
Pada kelompok usia tersebut, dua provinsi dengan persentase anak
yang bekerja terbesar adalah DKI Jakarta (88,72 persen) dan Jawa
Timur (81,17 persen).
Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah adanya anak
pada kelompok usia 10-12 tahun yang bekerja. Pada kelompok usia
tersebut, beberapa provinsi memiliki persentase anak bekerja lebih
dari 15 persen. Provinsi dengan persentase anak bekerja usia 10-
12 tahun yang terbesar adalah Bali 21,44 persen, Sumatera Utara

Profil Anak Indonesia 2019 137


Perlindungan Khusus

Gambar 7.5. Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja


menurut Provinsi, 2018

Sulawesi Barat 16,76


Sulawesi Tenggara 15,28
Papua 14,46
Nusa Tenggara Timur 13,33
Sumatera Utara 13,28
Sulawesi Tengah 12,74
Sulawesi Selatan 12,45
Bali 11,57
Nusa Tenggara Barat 11,00
Gorontalo 10,97
Lampung 9,89
Kalimantan Tengah 8,65
Bengkulu 8,21
Kalimantan Selatan 8,17
Sumatera Barat 7,98
Bangka-Belitung 7,89
Jambi 7,47
Kalimantan Barat 7,42
Kalimantan Utara 7,29
Indonesia 7,05
Maluku Utara 6,88
Aceh 6,76
Papua Barat 6,72
Sumatera Selatan 6,54
Maluku 6,06
RIau 5,84
Jawa Timur 5,56
D I Yogyakarta 5,52
Jawa Tengah 4,91
Sulawesi Utara 4,66
Jawa Barat 4,57
Kalimantan Timur 3,80
Banten 3,58
Kepulauan Riau 3,37
DKI Jakarta 2,48

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2018, BPS

17,22 persen, Sulawesi Tenggara 16,68 persen, DI Yogyakarta 16,25


persen, Sulawesi Selatan 15,55 persen dan Nusa Tenggara Timur
15,18 persen.

138 Profil Anak Indonesia 2019


Perlindungan Khusus

Gambar 7.6. Persentase Anak usia 10-17 Tahun yang Bekerja Menurut
Provinsi DAN Kelompok Usia, 2018

DKI Jakarta 2,98 8,31 88,72


Kalimantan Timur 4,26 20,35 75,40
Kalimantan Barat 4,55 14,43 81,02
Jambi 5,41 20,95 73,63
Kepulauan Riau 5,72 35,24 59,04
Jawa Timur 5,77 13,06 81,17
Maluku Utara 5,81 21,53 72,66
Bengkulu 6,91 22,63 70,46
Riau 7,54 23,37 69,08
Lampung 7,55 22,69 69,76
Sumatera Selatan 7,97 19,14 72,89
Banten 8,20 22,54 69,26
Jawa Barat 8,82 17,11 74,07
Kalimantan Selatan 9,45 20,30 70,24
Jawa Tengah 9,74 15,66 74,60
Aceh 10,14 19,81 70,05
Sulawesi Barat 10,18 26,90 62,92
Kep. Bangka Belitung 10,57 19,95 69,47
Papua Barat 11,47 25,62 62,91
Sulawesi Tengah 11,58 26,34 62,08
Kalimantan Utara 11,90 21,11 66,99
Gorontalo 12,11 30,43 57,46
Sumatera Barat 12,37 21,78 65,85
Nusa Tenggara Barat 12,96 22,34 64,70
Kalimantan Tengah 13,00 19,39 67,62
Papua 13,53 20,26 66,21
Sulawesi Utara 13,81 16,60 69,59
Maluku 14,38 17,01 68,61
Nusa Tenggara Timur 15,18 21,67 63,15
Sulawesi Selatan 15,55 25,37 59,08
D I Yogyakarta 16,25 27,58 56,17
Sulawesi Tenggara 16,68 27,32 56,00
Sumatera Utara 17,22 22,96 59,82
Bali 21,44 24,64 53,92

10-12 13-14 15-17

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2018, BPS

7.3.3. Anak Bekerja menurut Pendidikan


Persentase anak bekerja pada usia 10-17 tahun yang bekerja
pada tahun 2018 berdasarkan partisipasi sekolah dan dirinci
menurut tipe daerah dan jenis kelamin disajikan pada Gambar 7.7.

Profil Anak Indonesia 2019 139


Perlindungan Khusus

Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa lebih dari separuh anak
usia 10-17 tahun yang bekerja berstatus masih bersekolah, yaitu
sebesar 60,16 persen. Komposisi anak bekerja yang sebagian besar
berstatus masih bersekolah, menunjukkan masih banyaknya anak-
anak yang harus membagi perhatian dan waktunya untuk bekerja
dan belajar maupun kegiatan lainnya, padahal seharusnya anak-
anak tersebut hanya fokus pada pelajaran.
Sementara sebesar 38,97 persen anak yang bekerja berstatus
tidak bersekolah lagi. Angka yang cukup besar ini harus menjadi
perhatian, apabila ternyata alasan anak tidak bersekolah lagi adalah
karena harus bekerja. Hal lain yang juga harus menjadi perhatian
adalah masih adanya 0,87 persen anak yang tidak/belum pernah
sekolah tetapi sudah bekerja. Anak usia 10-17 tahun seharusnya
masih menikmati jenjang pendidikan atau fokus belajar saja. Namun
dalam kenyataannya banyak anak-anak pada kelompok usia tersebut
sudah memasuki pasar kerja.

Gambar 7.7. Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Partisipasi Sekolah, TIPE DAERAH, DAN JENIS KELAMIN, 2018

67,11

61,66
60,16
57,51
55,82

42,35 43,40
38,97
37,06

31,89

0,14 1,28 0,78 1,00 0,87

Perkotaan Perdesaan Laki-laki Perempuan Total

Tidak/belum pernah sekolah Masih bersekolah Tidak bersekolah lagi

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2018, BPS

140 Profil Anak Indonesia 2019


Perlindungan Khusus

Tinjauan menurut tipe daerah, seperti diperlihatkan Gambar 7.8,


baik di daerah perkotaan maupun perdesaan sebagian besar anak
usia 10-17 tahun yang bekerja berpendidikan tamat SMP. Persentase
di perkotaan mencapai 45,93 persen dan perdesaan sebanyak 39,42
persen.

Gambar 7.8. Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Pendidikan Terakhir yang Ditamatkan, tipe Daerah, DAN JENIS KELAMIN, 2018

45,93
42,72
41,78
41,19
39,62 39,42
38,11 37,26
35,90
33,11

15,27 14,91
14,08
11,98 12,74

8,84
7,64
6,02
4,41 5,00

1,28 0,78 1,00 0,87


0,14

Perkotaan Perdesaan Laki-laki Perempuan Total

Tidak/belum pernah sekolah Tidak tamat SD SD SMP SMA

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2018, BPS

7.3.4. Anak Bekerja menurut Lapangan Pekerjaan


Persentase anak usia 10-17 tahun yang bekerja berdasarkan
tipe daerah dan jenis kelamin, dirinci menurut tiga kelompok sektor
lapangan pekerjaan utama (pertanian, industri, dan jasa) disajikan
pada Gambar 7.9. Dari gambar tersebut dapat dilihat sebagian besar
anak berusia 10-17 tahun bekerja di sektor pertanian dan sektor jasa,
masing-masing sekitar 41,31 persen dan 42,16 persen. Sementara
itu sisanya sebesar 16,53 persen bekerja di sektor industri.
Ditinjau menurut tipe daerah tempat tinggal, terjadi perbedaan
pola penyebaran tenaga kerja anak menurut lapangan pekerjaan
utama, dimana di perkotaan sebagian besar anak bekerja di sektor

Profil Anak Indonesia 2019 141


Perlindungan Khusus

jasa, sedangkan di perdesaan sebagian besar anak bekerja di sektor


pertanian. Di perdesaan, anak yang bekerja di sektor pertanian
mencapai 56,74 persen, sedangkan di sektor jasa hanya sebesar
29,05 persen. Sebaliknya di perkotaan, anak yang bekerja di sektor
jasa mencapai 65,25 persen, sedangkan di sektor pertanian hanya
sebesar 14,13 persen.

Gambar 7.9. Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Lapangan Pekerjaan Utama, tipe Daerah, dan jenis kelamin, 2018

65,25

56,74 57,66

49,84

41,31 42,16

32,48
29,05
27,66

20,62
17,68 16,53
14,13 14,21 14,68

Perkotaan Perdesaan Laki-laki Perempuan Total

Pertanian Industri Jasa

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2018, BPS

Jika ditinjau menurut jenis kelamin, sebagian besar anak laki-


laki bekerja di sektor pertanian, sedangkan sebagian besar anak
perempuan bekerja di sektor jasa. Anak laki-laki yang bekerja di
sektor pertanian mencapai 49,84 persen, sedangkan yang bekerja
di sektor jasa hanya 32,48 persen. Sebaliknya anak perempuan yang
bekerja di sektor jasa mencapai 57,66 persen, sedangkan yang
bekerja di sektor pertanian hanya 27,66 persen.

7.3.5. Anak Bekerja menurut Status Pekerjaan


Persentase anak usia 10-17 tahun yang bekerja berdasarkan
tipe daerah dan jenis kelamin, yang dirinci menurut status pekerjaan

142 Profil Anak Indonesia 2019


Perlindungan Khusus

utama disajikan pada Gambar 7.10. Gambar tersebut menunjukkan


baik laki-laki maupun perempuan ataupun di perkotaan maupun
di perdesaan, sebagian besar anak usia 10-17 tahun yang bekerja
berstatus sebagai pekerja tak dibayar dengan persentase total
mencapai 66,06 persen. Sementara sisanya sekitar 20,04 persen
yang berstatus buruh/karyawan/pegawai, 8,31 persen sebagai
pekerja bebas, dan 5,59 persen berstatus berusaha.

Gambar 7.10. Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Status Pekerjaan Utama, tipe Daerah, dan Jenis Kelamin, 2018

72,61 71,47
66,06
62,68

54,53

31,92

19,89 20,28 20,04


13,29
11,33
8,84 8,31
6,19 7,36 6,10 5,59
5,25 4,78 3,47

Perkotaan Perdesaan Laki-laki Perempuan Total

Berusaha Sendiri, Berusaha dibantu Buruh Tetap dan Buruh Tidak Dibayar
Buruh/Karyawan/Pegawai
Pekerja bebas
Pekerja tak dibayar

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2018, BPS

Ditinjau menurut tipe daerah, antara perkotaan dan perdesaan


terdapat perbedaan pola penyebaran tenaga kerja anak menurut
status pekerjaan utama. Di perkotaan anak usia 10-17 yang bekerja
sebagai buruh/karyawan/pegawai lebih banyak dibandingkan di
perdesaan. Sedangkan di perdesaan, anak yang bekerja sebagai
pekerja tak dibayar lebih tinggi dari perkotaan.
Di perkotaan, anak yang bekerja sebagai pekerja tak dibayar

Profil Anak Indonesia 2019 143


Perlindungan Khusus

sekitar 54,53 persen, lebih tinggi dibanding yang berstatus buruh/


karyawan/pegawai yakni sekitar 31,92 persen. Di perdesaan anak
yang bekerja sebagai pekerja tak dibayar mencapai 72,61 persen,
juga lebih tinggi dibanding yang berstatus buruh/karyawan/
pegawai yakni sekitar 13,29 persen.
Berdasarkan jenis kelamin juga tidak terjadi perbedaan pola
penyebaran tenaga kerja anak menurut status pekerjaan utama
antara laki-laki dan perempuan. Baik anak laki-laki maupun
perempuan, sebagian besar bekerja sebagai pekerja tak dibayar,
kemudian terbanyak kedua bekerja dengan status buruh/karyawan/
pegawai.
Penduduk dikategorikan bekerja pada kegiatan formal jika
mereka bekerja sebagai buruh/karyawan/pegawai dan juga mereka
yang berusaha dibantu buruh/karyawan. Seperti diketahui, tidak
semua buruh/karyawan/pegawai bekerja pada kegiatan yang
memiliki aspek legalitas kegiatan. Sebagai ilustrasi, seorang pembantu
rumah tangga juga terklasifikasi sebagai pekerja formal mengingat
statusnya sebagai buruh/karyawan. Dalam ketenagakerjaan, konsep
buruh/karyawan adalah mereka yang bekerja dengan mendapatkan
upah/gaji berupa uang maupun barang dari majikan yang tetap,
dalam hal ini termasuk juga pembantu rumah tangga.

Gambar 7.11. Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Sektor Formal-Informal, TIPE DAERAH, DAN Jenis Kelamin, 2018

86,71
80,11 79,67 79,94
68,02

31,98
19,89 20,33 20,06
13,29

Perkotaan Perdesaan Laki-laki Perempuan Total

Formal Informal

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2018, BPS

144 Profil Anak Indonesia 2019


Perlindungan Khusus

Gambar 7.11 menyajikan persentase anak usia 10-17 tahun


yang bekerja berdasarkan tipe daerah dan jenis kelamin, yang
dirinci menurut sektor formal/informal. Sebagian besar anak usia
10-17 tahun bekerja pada sektor informal yaitu sekitar 79,94 persen.
Pola yang sama juga terjadi di perkotaan maupun di perdesaan.
Di perkotaan, anak yang bekerja di sektor informal ada sebanyak
68,02 persen, sedangkan di perdesaan mencapai 86,71 persen.
Berdasarkan jenis kelamin, diantara anak laki-laki yang bekerja,
sebanyak 80,11 persen bekerja di sektor informal, sedangkan
diantara anak perempuan yang bekerja di sektor informal ada
sebanyak 79,67 persen.

Gambar 7.12. Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja menurut
Sektor Formal-Informal dan Kelompok Usia, 2018

96,55 92,34
79,94
73,60

26,40 20,06
7,66
3,45

10-12 13-14 15-17 Total

Formal Informal

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2018, BPS

Persentase anak usia 10-17 tahun yang bekerja dirinci menurut


kelompok usia dan sektor formal/informal disajikan pada Gambar
7.12. Dari gambar tersebut dapat dilihat hanya sedikit sekali atau
sebagian kecil saja anak usia 10-17 tahun yang bekerja pada sektor
formal. Jika dilihat menurut kelompok usia, semakin bertambah
usia semakin banyak anak yang bekerja di sektor formal. Diantara
anak pada kelompok usia 10-12 tahun, yang bekerja di sektor formal
ada sebanyak 3,45 persen, diantara anak pada kelompok usia 13-14
tahun ada sebanyak 7,66 persen, dan diantara anak pada kelompok

Profil Anak Indonesia 2019 145


Perlindungan Khusus

usia 15-17 tahun ada sebanyak 26,40 persen. Dengan kata lain
seiring meningkatnya usia, kesempatan bekerja di sektor formal
juga semakin meningkat.

7.3.6. Anak Bekerja menurut Jam Kerja


Dalam UU No. 13 Tahun 2003, disebutkan bahwa pada
dasarnya pengusaha dilarang mempekerjakan anak, namun
terdapat pengecualian bagi anak usia 13-15 tahun yaitu mereka
masih dapat bekerja tetapi dengan berbagai syarat dan kondisi,
salah satunya yaitu tidak boleh bekerja lebih dari 3 jam per hari.
Batasan jam kerja bagi anak merupakan salah satu perlindungan
yang diberikan pemerintah untuk anak-anak. Jumlah jam kerja yang
sedikit diasumsikan tidak terlalu mengganggu pertumbuhan dan
perkembangan fisik dan mental anak (tidak mengganggu waktu
belajar dan bermain anak-anak). Di Indonesia, dengan asumsi 5 hari
kerja, jam kerja normal dalam seminggu diperkirakan sebanyak 35-
40 jam/minggu. Jika lebih dari 35-40 jam/minggu maka dianggap
sudah melebihi jam kerja normal. Pada anak-anak ada batasan
bekerja 3 jam/hari sehingga jam kerja normal (jam kerja maksimal)
untuk anak adalah sekitar 15 jam/minggu. Berdasarkan ketentuan
tersebut, pada tulisan ini jam kerja dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu kurang dari 15 jam/minggu, 15-40 jam/minggu, dan lebih dari
40 jam/minggu.
Gambar 7.13 memperlihatkan adanya hubungan positif antara
usia dengan jam kerja, yaitu semakin bertambah usia semakin
bertambah pula jam kerjanya. Pada kelompok usia 10-12 tahun
dan 13-14 tahun sebagian besar anak bekerja kurang dari 15 jam/
minggu (masih dalam rentang waktu jam kerja normal untuk anak).
Diantara anak pada kelompok usia 10-12 tahun, yang bekerja kurang
dari 15 jam/minggu ada sebanyak 73,20 persen dan diantara
anak pada kelompok usia 13-14 tahun, yang bekerja kurang dari 15
jam/minggu ada sebanyak 62,21 persen. Hal yang perlu menjadi
perhatian adalah adanya anak berusia 10-12 tahun dan 13-14 tahun
yang bekerja lebih dari 40 jam/minggu. Pada kelompok usia 10-12
tahun ada sekitar 2,24 persen dan pada kelompok usia 13-14 tahun
ada sekitar 8,10 persen. Sedangkan anak pada kelompok usia 15-17
tahun, sekitar 34,92 persen sudah bekerja dengan jumlah jam kerja
normal angkatan kerja atau sekitar 15-40 jam/minggu.

146 Profil Anak Indonesia 2019


Perlindungan Khusus

Gambar 7.13. Persentase Anak Usia 10-17 Tahun yang Bekerja


menurut JAM KERJA dan Kelompok Usia, 2018

73,20

62,21

46,87

38,09
34,92 32,57
29,32
23,97 26,00
19,74

8,10
0,59 2,24 0,36 0,98 0,81

10-12 13-14 15-17 10-17

0 1-14 15-40 > 40

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2018, BPS

7.3.7. Anak Bekerja menurut Upah/Gaji/Pendapatan


Upah/gaji/pendapatan yang digunakan pada publikasi ini
merujuk pada semua jenis imbalan atau penghasilan bersih yang
diterima oleh pekerja selama sebulan baik berupa uang maupun
barang yang diukur dalam rupiah. Pada dasarnya besarnya upah/
gaji/pendapatan terkait erat dengan lamanya jam kerja, yaitu
semakin besar jumlah jam kerja maka akan semakin besar pula
upah/gaji/pendapatan yang akan diterima.
Tabel 7.4 menyajikan rata-rata upah/gaji/pendapatan selama
sebulan anak usia 10-17 tahun yang bekerja pada tahun 2017 dan
2018. Jika diamati berdasarkan tipe daerah dan jenis kelamin terjadi
peningkatan upah/gaji/pendapatan dari tahun 2017 ke 2018. Di
tahun 2018, rata-rata upah/gaji/pendapatan anak laki-laki dan
perempuan, serta anak yang tinggal di perkotaan dan perdesaan
sudah mencapai lebih dari satu juta rupiah.
Secara umum upah/gaji/pendapatan anak di perkotaan lebih
besar dibanding di perdesaan. Akan tetapi upah/gaji/pendapatan

Profil Anak Indonesia 2019 147


Perlindungan Khusus

anak laki-laki sedikit lebih rendah dibandingkan perempuan. Rata-


rata upah/gaji/pendapatan selama sebulan di perkotaan sekitar
1,29 juta rupiah sedangkan di perdesaan sekitar 1,02 juta rupiah.
Rata-rata upah/gaji/pendapatan anak laki-laki selama sebulan
sekitar 1,15 juta rupiah sedangkan anak perempuan sekitar 1,16 juta
rupiah.

Tabel 7.4. Rata-rata Upah/Gaji/Pendapatan Selama Sebulan, Anak Usia10-17


Tahun yang Bekerja menurut tipe Daerah dan Jenis Kelamin, 2017-2018

Rata-rata Upah/Gaji/Pendapatan Selama Sebulan (Rupiah)


Tahun Laki-Laki+
Perkotaan Perdesaan Laki-Laki Perempuan
Perempuan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
2017 1 219 158 977 638 1 114 162 1 092 248 1 106 374
2018 1 287 259 1 015 206 1 149 100 1 157 574 1 151 829

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2018, BPS

Rata-rata upah/gaji/pendapatan dari anak berusia 10-17 tahun


yang bekerja dirinci menurut provinsi tahun 2018 disajikan pada
Gambar 7.14. Rata-rata upah/gaji/pendapatan antar provinsi berkisar
antara 665 ribu rupiah sampai dengan 1,89 juta rupiah. Upah/gaji/
pendapatan anak usia 10-17 tahun terendah terdapat di provinsi
Nusa Tenggara Barat, sedangkan upah/gaji/pendapatan tertinggi
di provinsi DKI Jakarta. Tiga provinsi dengan rata-rata upah/gaji/
pendapatan tertinggi yaitu DKI Jakarta sebesar 1,89 juta rupiah,
diikuti Papua Barat sebesar 1,63 juta rupiah, kemudian Jawa Barat
sebesar 1,50 juta rupiah. Sementara tiga provinsi dengan rata-rata
upah/gaji/pendapatan terendah adalah provinsi Nusa Tenggara
Barat sebesar 665 ribu rupiah, Sulawesi Tengah sebesar 797 ribu
rupiah, diikuti Sulawesi Barat sebesar 799 ribu rupiah.

148 Profil Anak Indonesia 2019


Perlindungan Khusus

Gambar 7.14. Rata-rata upah/gaji/pendapatan Anak usia 10-17 Tahun


Menurut Provinsi (ribu rupiah), 2018

DKI Jakarta 1.896


Papua Barat 1.626
Jawa Barat 1.500
Papua 1.473
Kalimantan Timur 1.374
Banten 1.344
D I Yogyakarta 1.326
Kalimantan Tengah 1.314
Bangka-Belitung 1.290
Maluku Utara 1.246
Jambi 1.235
Bali 1.216
Jawa Timur 1.174
Indonesia 1.152
Kepulauan Riau 1.126
Kalimantan Barat 1.117
Sumatera Selatan 1.071
Sulawesi Utara 1.067
Aceh 1.065
Sulawesi Selatan 1.029
Maluku 1.028
Lampung 997
Jawa Tengah 988
Riau 981
Sumatera Barat 929
Sulawesi Tenggara 889
Kalimantan Utara 879
Sumatera Utara 862
Nusa Tenggara Timur 855
Kalimantan Selatan 847
Bengkulu 846
Gorontalo 835
Sulawesi Barat 799
Sulawesi Tengah 797
Nusa Tenggara Barat 665

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2018, BPS

7.4. Anak Penyandang Disabilitas


Anak Penyandang Disabilitas adalah anak yang memiliki
keterbatasan fisik, mental, intelektual, atau sensorik dalam jangka
waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap
masyarakatnya dapat menemui hambatan yang menyulitkan untuk

Profil Anak Indonesia 2019 149


Perlindungan Khusus

berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak (Pasal 1


Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak).
Perlindungan khusus bagi anak penyandang disabilitas
dilakukan melalui upaya:
a. Perlakuan anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan
hak anak;
b. Pemenuhan kebutuhan khusus;
c. Perlakuan yang sama dengan anak lainnya untuk mencapai
integrasi sosial sepenuh mungkin dan pengembangan individu;
dan
d. Pendampingan sosial.

Dalam perundangan tentang perlindungan anak disebutkan


larangan memperlakukan anak penyandang disabilitas secara
diskriminatif. Anak penyandang disabilitas harus diberikan
kesempatan dan aksesibilitas untuk memperoleh pendidikan inklusif
dan/atau pendidikan khusus. Selain itu setiap anak penyandang
disabilitas berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan
pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial.

Gambar 7.15. PERSENTASE ANAK PENYANDANG DISABILITAS USIA


2 – 17 TAHUN MENURUT TIPE DAERAH, 2018

1,11 1,10 1,11

Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2018, BPS

Berdasarkan hasil Susenas 2018, sekitar 1,11 persen anak berusia


2-17 tahun adalah penyandang disabilitas. Melalui Gambar 7.15 juga
dapat terlihat bahwa persentase anak penyandang disabilitas di
perkotaan sedikit lebih tinggi dibanding perdesaan.

150 Profil Anak Indonesia 2019


Perlindungan Khusus

Gambar 7.16. PERSENTASE ANAK PENYANDANG DISABILITAS USIA


7 – 17 TAHUN MENURUT PARTISIPASI SEKOLAH, 2018

Tidak Tidak/
sekolah belum
lagi; 7,70 pernah
sekolah;
16,66

Masih
sekolah;
75,64

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2018, BPS

Gambar 7.16 menyajikan persentase anak penyandang


disabilitas usia 7-17 tahun menurut partisipasi sekolah tahun 2018.
Jika dilihat menurut partisipasi sekolah, persentase anak penyandang
disabilitas usia 7-17 tahun sebagian besar masih bersekolah sebesar
75,64 persen. Hal ini menggambarkan bahwa ada perhatian terhadap
anak penyandang disabiltas dimana sepatutnya anak penyandang
disabilitas diberi kesempatan dan akses untuk memperoleh
pendidikan. Sementara sebagian kecil anak penyandang disabilitas
tidak bersekolah lagi sebesar 7,70 persen dan sebanyak 16,66
persen tidak/belum pernah sekolah.

Gambar 7.17. Persentase Anak PENYANDANG DISABILITAS usia 2-17


Tahun menurut Jenis Kelamin dan Status Disabilitas, 2018

0,69
0,55 0,57

0,40

Laki-laki Perempuan

Disabilitas Tunggal Disabilitas Ganda

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 151


Perlindungan Khusus

Disabilitas dibagi menjadi 2 (dua) status, yaitu disabilitas tunggal


dimana orang tersebut hanya menyandang satu jenis disabilitas
dan disabilitas ganda dimana menyandang dua atau lebih jenis
disabilitas. Gambar 7.17 menyajikan persentase anak penyandang
disabilitas 2-17 tahun yang dirinci menurut jenis kelamin dan status
disabilitas pada tahun 2018. Persentase anak penyandang disabilitas
berjenis kelamin laki-laki lebih besar dibanding perempuan, baik
pada status disabilitas tunggal maupun disabilitas ganda. Anak laki-
laki penyandang disabilitas tunggal sebesar 0,69 persen, sedangkan
anak perempuan sebesar 0,57 persen. Sementara pada anak laki-
laki penyandang disabilitas ganda sebesar 0,55 persen dan anak
perempuan sebesar 0,40.

Gambar 7.18. Persentase Anak Penyandang Disabilitas Usia


2-17 Tahun Menurut Jenis Disabilitas. 2018

Total 1,11

Kesulitan Mengurus Diri 0,38

Gangguan Komunikasi 0,48

Gangguan Perilaku/Emosional 0,32

Kesulitan Mengingat/Konsentrasi 0,38

Kesulitan Menggunakan Tangan/Jari 0,11

Kesulitan Berjalan/Naik Tangga 0,24

Gangguan Pendengaran 0,14

Gangguan Penglihatan 0,19

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2018, BPS

Selain dibagi menurut status, disabilitas juga terbagi


berdasarkan jenisnya. Persentase anak penyandang disabilitas usia
2-17 tahun menurut jenis disabilitas di tahun 2018 disajikan pada
Gambar 7.18. Jenis disabilitas dengan persentase terbesar terdapat
pada jenis gangguan komunikasi sebesar 0,48 persen, sedangkan
persentase terendah terdapat pada jenis disabilitas kesulitan
menggunakan tangan/jari.

152 Profil Anak Indonesia 2019


Perlindungan Khusus

7.5. Anak Korban Penelantaran


Berdasarkan perundangan tentang perlindungan anak,
yang dimaksud anak telantar adalah anak yang tidak terpenuhi
kebutuhannya secara wajar, baik fisik, mental, spiritual, maupun
sosial. Kemudian disebutkan pula bahwa pemerintah dan pemerintah
daerah bertanggung jawab untuk memberikan biaya pendidikan
dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus salah satunya
bagi anak telantar. Pertanggung jawaban pemerintah dan pemerintah
daerah termasuk mendorong masyarakat untuk berperan aktif.
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyelenggarakan
pemeliharaan, perawatan, dan rehabilitasi sosial terhadap
anak telantar, baik di dalam lembaga maupun di luar lembaga.
Penyelenggaraan pemeliharaan dapat dilakukan oleh lembaga
masyarakat. Untuk menyelenggarakan pemeliharaan dan perawatan
anak telantar, lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat
dapat mengadakan kerja sama dengan berbagai pihak yang
terkait serta pengawasannya dilakukan oleh kementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang sosial (Pasal 55
UU No. 35 Tahun 2014).
Sub bab ini menyajikan beberapa karakteristik anak berdasarkan
ketelantaran, dimana anak yang dimaksud adalah penduduk berusia
0-17 tahun yang belum kawin. Dalam penyajiannya, definisi anak
telantar dibagi menjadi 2 (dua), yaitu balita telantar (0-4 tahun) dan
anak telantar (5-17 tahun).
Kriteria ketelantaran pada balita antara lain :
a. Tidak pernah diberi Air Susu Ibu (ASI),
b. Tidak mempunyai bapak/ibu kandung,
c. Makan makanan pokok kurang dari 14 kali dalam seminggu,
d. Makan lauk pauk berprotein tinggi (nabati atau hewani); nabati ≤
4 kali, hewani ≤ 2 kali atau kombinasi 4 dan 2 dalam seminggu,
e. Ibu balita yang bertanggung jawab terhadap anak ini bekerja
selama seminggu yang lalu,
f. Bila balita sakit tidak diobati,
g. Anak dititipkan/diasuh oleh orang lain selama seminggu terakhir

Profil Anak Indonesia 2019 153


Perlindungan Khusus

Kriteria ketelantaran pada anak usia 5 - 17 tahun antara lain :


a. Tidak/belum pernah sekolah atau tidak sekolah lagi dan tidak
tamat pendidikan dasar (wajar 9 tahun), Kriteria ini tidak berlaku
bagi anak usia 5-6 tahun,
b. Makan makanan pokok kurang dari 14 kali dalam seminggu,
c. Makan lauk pauk berprotein tinggi (nabati atau hewani); nabati ≤
4 kali, hewani ≤ 2 kali atau kombinasi 4 dan 2 dalam seminggu,
d. Memiliki pakaian kurang dari 4 stel,
e. Tidak mempunyai tempat tetap untuk tidur,
f. Bila sakit tidak diobati,
g. Yatim piatu atau bapak kandung bukan anggota rumah tangga,
h. Bekerja/membantu memperoleh penghasilan (untuk usia < 15
tahun).

Seorang anak disebut anak telantar jika memenuhi 3 (tiga)


kriteria atau lebih, hampir telantar jika memenuhi 2 (dua) kriteria,
dan tidak telantar jika memenuhi 1 (satu) kriteria.

Gambar 7.19. Persentase anak usia 0-17 tahun menurut


kategori ketelantaran, 2018

90,87

74,93

18,12
6,95 7,53
1,60

0-4 5-17

Telantar Hampir telantar Tidak telantar

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan
2018, BPS

Pada Gambar 7.19 terlihat bahwa distribusi anak menurut


ketelantaran memiliki pola yang sama antara anak usia 0-4 tahun
dan anak usia 5-17 tahun, yaitu sebagian besar tidak telantar, diikuti
anak hampir telantar kemudian anak telantar. Jika dibandingkan,

154 Profil Anak Indonesia 2019


Perlindungan Khusus

anak usia 0-4 tahun memiliki lebih banyak anak telantar sebesar 6,95
persen dibanding anak usia 5-17 sebesar 1,60 persen. Hal ini perlu
perhatian lebih, karena usia balita merupakan masa golden age,
yaitu masa emas perkembangan anak, dimana masa perkembangan
anak sangat pesat, baik dari pertumbuhan fisik maupun kecerdasan
yang menentukan terhadap perkembangan anak selanjutnya.

Gambar 7.20. Persentase anak telantar usia 0 - 17 tahun


menurut kategori usia, tipe daerah, dan jenis kelamin, 2018
7,22
6,72 6,94 6,95 6,95

2,44
1,74 1,60
1,45
0,88

Perkotaan Perdesaan Laki-laki Perempuan Total

0-4 5-17

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan
2018, BPS

Persentase anak telantar dirinci menurut kategori usia, tipe


daerah dan jenis kelamin disajikan pada Gambar 7.20. Secara umum
persentase anak telantar di perdesaan lebih tinggi dibandingkan
di perkotaan. Persentase anak telantar di perdesaan sebesar 7,22
persen pada anak usia 0-4 tahun dan sebesar 2,44 persen pada anak
usia 5-17 tahun. Sementara di perkotaan persentase anak telantar
sebesar 6,72 persen pada anak usia 0-4 tahun dan 0,88 persen pada
anak usia 5-17 tahun.
Ditinjau dari jenis kelamin, pada anak usia 0-4 tahun persentase
anak telantar laki-laki hampir sama dengan perempuan, yaitu 6,94
persen anak laki-laki dan 6,95 persen anak perempuan. Sedangkan
pada anak usia 5-17 tahun persentase anak telantar laki-laki sebesar
1,74, lebih tinggi dibanding anak perempuan yaitu sebesar 1,45
persen.
Gambar 7.21 menyajikan persentase anak telantar usia 7-17
tahun dirinci menurut partisipasi sekolah, tipe daerah dan jenis

Profil Anak Indonesia 2019 155


Perlindungan Khusus

kelamin tahun 2018. Dilihat menurut partisipasi sekolah, sebagian


besar anak telantar usia 7-17 tahun masih bersekolah, baik di
perkotaan maupun perdesaan, baik laki-laki maupun perempuan.
Terdapat kesenjangan persentase anak telantar yang masih
bersekolah antara perkotaan dan perdesaan, di perkotaan sebanyak
72,53 persen anak telantar, sedikit lebih tinggi dibanding perdesaan
yaitu sebesar 63,08 persen. Pola yang sama juga terjadi pada
anak telantar yang tidak bersekolah lagi. Akan tetapi pola terlihat
berbeda pada anak telantar yang tidak/belum pernah bersekolah,
di perkotaan angkanya lebih kecil dibanding di perdesaan.

Gambar 7.21. Persentase anak telantar usia 7 - 17 tahun menurut


partisipasi sekolah, tipe daerah, dan jenis kelamin, 2018
72,53
68,16
64,23 65,95
63,08

24,31 24,57
22,40 20,94 22,98
14,51
11,20 10,90 11,07
3,16

Perkotaan Perdesaan Laki-laki Perempuan Total

Tidak/Belum Pernah Bersekolah Masih Bersekolah Tidak Bersekolah Lagi

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan
2018, BPS

Dilihat menurut jenis kelamin, anak telantar perempuan


dengan status masih bersekolah sebesar 68,16 persen, lebih tinggi
dibanding anak telantar laki-laki yang sebesar 64,23 persen. Pola
yang berbeda terlihat pada status tidak/belum pernah bersekolah
dan tidak bersekolah lagi, anak telantar laki-laki lebih besar nilainya
dibanding anak telantar perempuan.

156 Profil Anak Indonesia 2019


DAFTAR
PUSTAKA
daftar pustaka

daftar pustaka
Badan Pusat Statistik. 2016. Laporan Perkawinan Usia Anak. Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik. 2017. Buku 4: Konsep dan Definisi Survei Sosial Ekonomi
Nasional Maret 2018. Jakarta: BPS
Badan Pusat Statistik. 2018. Indikator Perumahan dan Kesehatan Lingkungan
2018. Jakarta: BPS
Council on Foreign Relations (CFR). Ending Child Marriage: How Elevating the
Status of Girls Advances U.S. Foreign Policy Objectives , p.6.
Effendy. 1998. Pengertian Keluarga. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
http://nurululfhainib.blogspot.com/2015/06/pengaruh-pendidikan-
terhadap-tingkat.html, diakses pada tanggal 3 Oktober 2018
Kompas.com, “Dampak Pernikahan Anak Lebih Besar dari yang
Anda Bayangkan”, diakses dari https://lifestyle.kompas.com/
read/2016/12/10/113600020/dampak.pernikahan.anak.lebih.besar.
dari.yang.anda.bayangkan., pada tanggal 29 Agusrus 2018
Kementerian Kesehatan RI. 2010. Pedoman Kesehatan Neonatal Esensial.
Jakarta: Kemenkes RI.
Kemeterian Kesehatan RI. 2011. Situasi Diare di Indonesia. Jakarta: Kemenkes
RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2014. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta:
Kementerian Kesehatan.
Kementerian Kesehatan RI. 2016. Situasi Balita Pendek. Jakarta: Kementerian
Kesehatan.
Kementerian Kesehatan RI. 2019. Laporan Nasional Riskesdas 2018. Jakarta:
Lembaga Penerbit Balitbangkes-Kemenkes.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, “Program Indonesia Pintar
Tahun 2016 Bantu 19,2 Juta Siswa Indonesia”, diakses dari https://
www.kemdikbud.go.id/main/blog/2017/06/program-indonesia-
pintar-tahun-2016-bantu-192-juta-siswa-indonesia. pada tanggal 25
September 2018.
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 450 Tahun 2004 tentang Pemberian
Air Susu Ibu (ASI) Secara Eksklusif pada Bayi di Indonesia.

Profil Anak Indonesia 2018 159


daftar pustaka
Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.
Prabamurti, Priyadi Nugraha, dkk. 2008. Analisis Faktor Risiko Status Kematian
Neonatal. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 3 / No. 1 / Januari
2008.
Rahayu, dkk. 2015. Riwayat Berat Badan Lahir dengan Kejadian Stunting pada
Anak Usia Bawah Dua Tahun. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol.
10, No. 2, November 2015. Banjarmasin: Fakultas Kedokteran Universitas
Lambung Mangkurat.
Sodikin, dkk. 2009. Determinan Perilaku Suami yang Mempengaruhi Pilihan
Penolong Persalinan Bagi Istri. Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat Vol.
25, No. 1, Maret 2009.
Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. 2017. 100 Kabupaten/
Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting). Jakarta: TNP2K.
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang administrasi Kependudukan.
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

160 Profil Anak Indonesia 2018


lampiran
LAMPIRAN
BAB 2
lampiran BAB 2
Lampiran L-2.1. Penduduk menurut Provinsi dan kelompok usia Tahun 2018

Laki-laki
Provinsi 0-17 18+ Jumlah
(1) (2) (3) (4)

Aceh 914 565 1 705 307 2 619 872


Sumatera Utara 2 526 958 4 702 461 7 229 419
Sumatera Barat 922 688 1 769 894 2 692 582
Riau 1 218 199 2 221 835 3 440 034
Jambi 548 742 1 246 439 1 795 181
Sumatera Selatan 1 388 696 2 868 394 4 257 090
Bengkulu 300 726 692 833 993 559
Lampung 1 310 285 2 979 634 4 289 919
Kep. Bangka Belitung 222 849 517 098 739 947
Kepulauan Riau 353 301 757 712 1 111 013
DKI Jakarta 1 463 106 3 749 463 5 212 569
Jawa Barat 7 547 569 17 028 906 24 576 475
Jawa Tengah 4 884 298 12 163 943 17 048 241
DI Yogyakarta 481 169 1 406 125 1 887 294
Jawa Timur 5 149 410 14 360 614 19 510 024
Banten 1 980 943 4 400 132 6 381 075
Bali 599 284 1 570 011 2 169 295
Nusa Tenggara Barat 831 342 1 649 455 2 480 797
Nusa Tenggara Timur 955 337 1 700 176 2 655 513
Kalimantan Barat 801 703 1 732 934 2 534 637
Kalimantan Tengah 407 015 952 102 1 359 117
Kalimantan Selatan 669 513 1 435 726 2 105 239
Kalimantan Timur 546 942 1 314 590 1 861 532
Kalimantan Utara 112 962 248 844 361 806
Sulawesi Utara 357 781 903 627 1 261 408
Sulawesi Tengah 487 785 1 040 368 1 528 153
Sulawesi Selatan 1 313 135 2 963 963 4 277 098
Sulawesi Tenggara 468 152 846 455 1 314 607
Gorontalo 178 864 404 955 583 819
Sulawesi Barat 230 596 442 715 673 311
Maluku 303 485 578 724 882 209
Maluku Utara 209 183 412 046 621 229
Papua Barat 167 494 327 435 494 929
Papua 559 905 1 174 057 1 733 962
Indonesia 40 413 982 92 268 973 132 682 955
Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia Hasil SUPAS 2015, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 165


lampiran BAB 2
Lampiran L-2.2. Penduduk menurut Provinsi dan kelompok usia Tahun 2018

Perempuan
Provinsi 0-17 18+ Jumlah
(1) (2) (3) (4)

Aceh 893 763 1 729 785 2 623 548


Sumatera Utara 2 431 138 4 815 402 7 246 540
Sumatera Barat 897 637 1 821 625 2 719 262
Riau 1 163 731 2 113 847 3 277 578
Jambi 536 530 1 195 404 1 731 934
Sumatera Selatan 1 344 930 2 789 469 4 134 399
Bengkulu 293 903 661 146 955 049
Lampung 1 275 627 2 812 176 4 087 803
Kep. Bangka Belitung 215 997 476 139 692 136
Kepulauan Riau 342 726 721 077 1 063 803
DKI Jakarta 1 433 181 3 782 251 5 215 432
Jawa Barat 7 222 469 16 676 573 23 899 042
Jawa Tengah 4 691 218 12 619 028 17 310 246
DI Yogyakarta 466 646 1 464 326 1 930 972
Jawa Timur 5 018 140 14 993 724 20 011 864
Banten 1 940 413 4 209 329 6 149 742
Bali 575 142 1 564 800 2 139 942
Nusa Tenggara Barat 825 184 1 771 701 2 596 885
Nusa Tenggara Timur 937 903 1 766 844 2 704 747
Kalimantan Barat 781 544 1 668 939 2 450 483
Kalimantan Tengah 396 312 857 197 1 253 509
Kalimantan Selatan 648 891 1 408 236 2 057 127
Kalimantan Timur 528 646 1 183 626 1 712 272
Kalimantan Utara 108 515 212 462 320 977
Sulawesi Utara 344 559 868 425 1 212 984
Sulawesi Tengah 476 692 997 066 1 473 758
Sulawesi Selatan 1 286 863 3 184 091 4 470 954
Sulawesi Tenggara 453 618 855 406 1 309 024
Gorontalo 175 867 406 456 582 323
Sulawesi Barat 227 784 439 046 666 830
Maluku 296 267 571 053 867 320
Maluku Utara 204 144 393 405 597 549
Papua Barat 159 558 286 906 446 464
Papua 542 564 1 023 625 1 566 189
Indonesia 39 138 102 92 340 585 131 478 687
Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia Hasil SUPAS 2015, BPS

166 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 2
Lampiran L-2.3. Penduduk menurut Provinsi dan kelompok usia Tahun 2018

Laki-laki+Perempuan
Provinsi 0-17 18+ Jumlah
(1) (2) (3) (4)

Aceh 1 808 328 3 435 092 5 243 420


Sumatera Utara 4 958 096 9 517 863 14 475 959
Sumatera Barat 1 820 325 3 591 519 5 411 844
Riau 2 381 930 4 335 682 6 717 612
Jambi 1 085 272 2 441 843 3 527 115
Sumatera Selatan 2 733 626 5 657 863 8 391 489
Bengkulu 594 629 1 353 979 1 948 608
Lampung 2 585 912 5 791 810 8 377 722
Kep. Bangka Belitung 438 846 993 237 1 432 083
Kepulauan Riau 696 027 1 478 789 2 174 816
DKI Jakarta 2 896 287 7 531 714 10 428 001
Jawa Barat 14 770 038 33 705 479 48 475 517
Jawa Tengah 9 575 516 24 782 971 34 358 487
DI Yogyakarta 947 815 2 870 451 3 818 266
Jawa Timur 10 167 550 29 354 338 39 521 888
Banten 3 921 356 8 609 461 12 530 817
Bali 1 174 426 3 134 811 4 309 237
Nusa Tenggara Barat 1 656 526 3 421 156 5 077 682
Nusa Tenggara Timur 1 893 240 3 467 020 5 360 260
Kalimantan Barat 1 583 247 3 401 873 4 985 120
Kalimantan Tengah 803 327 1 809 299 2 612 626
Kalimantan Selatan 1 318 404 2 843 962 4 162 366
Kalimantan Timur 1 075 588 2 498 216 3 573 804
Kalimantan Utara 221 477 461 306 682 783
Sulawesi Utara 702 340 1 772 052 2 474 392
Sulawesi Tengah 964 477 2 037 434 3 001 911
Sulawesi Selatan 2 599 998 6 148 054 8 748 052
Sulawesi Tenggara 921 770 1 701 861 2 623 631
Gorontalo 354 731 811 411 1 166 142
Sulawesi Barat 458 380 881 761 1 340 141
Maluku 599 752 1 149 777 1 749 529
Maluku Utara 413 327 805 451 1 218 778
Papua Barat 327 052 614 341 941 393
Papua 1 102 469 2 197 682 3 300 151
Indonesia 79 552 084 184 609 558 264 161 642
Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia Hasil SUPAS 2015, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 167


lampiran BAB 2
Lampiran L-2.4. Rasio Jenis Kelamin menurut Provinsi dan Kelompok usia Tahun 2018

Provinsi 0-17 18+ Total


(1) (2) (3) (4)

Aceh 102,3 98,6 99,9


Sumatera Utara 103,9 97,7 99,8
Sumatera Barat 102,8 97,2 99,0
Riau 104,7 105,1 105,0
Jambi 102,3 104,3 103,7
Sumatera Selatan 103,3 102,8 103,0
Bengkulu 102,3 104,8 104,0
Lampung 102,7 106,0 104,9
Kep. Bangka Belitung 103,2 108,6 106,9
Kepulauan Riau 103,1 105,1 104,4
DKI Jakarta 102,1 99,1 99,9
Jawa Barat 104,5 102,1 102,8
Jawa Tengah 104,1 96,4 98,5
DI Yogyakarta 103,1 96,0 97,7
Jawa Timur 102,6 95,8 97,5
Banten 102,1 104,5 103,8
Bali 104,2 100,3 101,4
Nusa Tenggara Barat 100,7 93,1 95,5
Nusa Tenggara Timur 101,9 96,2 98,2
Kalimantan Barat 102,6 103,8 103,4
Kalimantan Tengah 102,7 111,1 108,4
Kalimantan Selatan 103,2 102,0 102,3
Kalimantan Timur 103,5 111,1 108,7
Kalimantan Utara 104,1 117,1 112,7
Sulawesi Utara 103,8 104,1 104,0
Sulawesi Tengah 102,3 104,3 103,7
Sulawesi Selatan 102,0 93,1 95,7
Sulawesi Tenggara 103,2 99,0 100,4
Gorontalo 101,7 99,6 100,3
Sulawesi Barat 101,2 100,8 101,0
Maluku 102,4 101,3 101,7
Maluku Utara 102,5 104,7 104,0
Papua Barat 105,0 114,1 110,9
Papua 103,2 114,7 110,7
Indonesia 103,3 99,9 100,9
Sumber: Proyeksi Penduduk Indonesia Hasil SUPAS 2015, BPS

168 Profil Anak Indonesia 2019


LAMPIRAN
BAB 3
lampiran BAB 3

Lampiran L-3.1. Persentase Anak 0-17 Tahun Menurut Provinsi dan Kepemilikan Akta Kelahiran dari Kantor
Catatan Sipil, 2018
Perkotaan
Ya, dapat Ya, tidak dapat
Provinsi Tidak punya Tidak tahu Jumlah
ditunjukkan ditunjukkan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 70,23 22,70 6,96 0,11 100,00
Sumatera Utara 56,68 21,45 21,17 0,71 100,00
Sumatera Barat 70,10 19,67 9,79 0,44 100,00
Riau 64,91 17,23 17,42 0,43 100,00
Jambi 72,31 23,19 4,42 0,08 100,00
Sumatera Selatan 66,73 25,66 7,55 0,06 100,00
Bengkulu 68,69 24,67 6,32 0,32 100,00
Lampung 72,19 16,69 10,89 0,22 100,00
Kep. Bangka Belitung 75,24 22,02 2,61 0,13 100,00
Kepulauan Riau 73,64 19,72 6,56 0,09 100,00
DKI Jakarta 61,44 34,79 3,61 0,16 100,00
Jawa Barat 63,52 19,71 16,58 0,19 100,00
Jawa Tengah 79,31 15,84 4,64 0,21 100,00
DI Yogyakarta 72,71 24,50 2,75 0,04 100,00
Jawa Timur 70,48 20,09 9,10 0,33 100,00
Banten 63,54 22,15 14,26 0,04 100,00
Bali 68,25 24,95 6,79 0,02 100,00
Nusa Tenggara Barat 64,02 22,30 12,99 0,69 100,00
Nusa Tenggara Timur 58,80 18,27 22,59 0,33 100,00
Kalimantan Barat 63,67 28,87 6,86 0,60 100,00
Kalimantan Tengah 67,95 22,65 8,88 0,52 100,00
Kalimantan Selatan 67,75 24,24 7,83 0,18 100,00
Kalimantan Timur 68,00 25,47 6,36 0,17 100,00
Kalimantan Utara 63,25 29,84 6,44 0,47 100,00
Sulawesi Utara 64,08 24,68 10,85 0,40 100,00
Sulawesi Tengah 55,24 24,94 19,09 0,73 100,00
Sulawesi Selatan 62,66 27,91 9,16 0,27 100,00
Sulawesi Tenggara 62,75 23,92 12,63 0,70 100,00
Gorontalo 75,88 18,21 5,77 0,14 100,00
Sulawesi Barat 71,82 15,68 11,53 0,97 100,00
Maluku 56,49 25,91 17,18 0,43 100,00
Maluku Utara 64,25 27,46 7,85 0,44 100,00
Papua Barat 57,70 24,42 16,59 1,30 100,00
Papua 45,77 32,75 21,05 0,43 100,00
Indonesia 66,58 21,73 11,42 0,27 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 171


lampiran BAB 3

Lampiran L-3.2. Persentase Anak 0-17 Tahun Menurut Provinsi dan Kepemilikan Akta Kelahiran dari Kantor
Catatan Sipil, 2018
Perdesaan
Ya, dapat Ya, tidak dapat
Provinsi Tidak punya Tidak tahu Jumlah
ditunjukkan ditunjukkan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 69,49 16,15 14,21 0,15 100,00
Sumatera Utara 55,67 10,82 33,15 0,35 100,00
Sumatera Barat 69,19 12,88 17,52 0,42 100,00
Riau 60,23 13,06 26,27 0,44 100,00
Jambi 72,31 16,57 10,88 0,25 100,00
Sumatera Selatan 73,13 13,66 12,93 0,29 100,00
Bengkulu 71,14 18,22 10,41 0,23 100,00
Lampung 74,78 13,05 11,86 0,31 100,00
Kep. Bangka Belitung 82,33 10,36 7,21 0,11 100,00
Kepulauan Riau 87,21 3,37 9,00 0,42 100,00
DKI Jakarta - - - - -
Jawa Barat 60,35 15,56 23,70 0,39 100,00
Jawa Tengah 77,99 14,48 7,31 0,21 100,00
DI Yogyakarta 85,78 12,13 2,00 0,10 100,00
Jawa Timur 68,10 13,21 18,43 0,25 100,00
Banten 35,95 20,45 42,77 0,82 100,00
Bali 74,66 10,67 14,50 0,17 100,00
Nusa Tenggara Barat 55,15 18,89 25,16 0,81 100,00
Nusa Tenggara Timur 40,56 12,56 46,60 0,27 100,00
Kalimantan Barat 59,31 17,49 22,47 0,73 100,00
Kalimantan Tengah 64,81 12,46 22,28 0,45 100,00
Kalimantan Selatan 72,22 14,33 13,38 0,08 100,00
Kalimantan Timur 72,10 17,73 9,48 0,69 100,00
Kalimantan Utara 65,40 19,39 14,32 0,89 100,00
Sulawesi Utara 63,47 18,81 17,42 0,30 100,00
Sulawesi Tengah 56,20 15,08 28,25 0,47 100,00
Sulawesi Selatan 69,29 15,31 15,09 0,31 100,00
Sulawesi Tenggara 64,05 14,37 21,30 0,27 100,00
Gorontalo 76,71 11,00 12,19 0,10 100,00
Sulawesi Barat 72,66 11,09 15,84 0,41 100,00
Maluku 47,22 20,81 31,50 0,47 100,00
Maluku Utara 55,98 14,43 29,02 0,57 100,00
Papua Barat 34,87 28,53 36,20 0,40 100,00
Papua 10,97 11,05 76,53 1,45 100,00
Indonesia 63,73 14,42 21,48 0,37 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

172 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 3
Lampiran L-3.3. Persentase Anak 0-17 Tahun Menurut Provinsi dan Kepemilikan AktA Kelahiran dari Kantor
Catatan Sipil, 2018 Laki-laki

Ya, dapat Ya, tidak dapat


Provinsi Tidak punya Tidak tahu Jumlah
ditunjukkan ditunjukkan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Aceh 68,28 19,06 12,50 0,17 100,00


Sumatera Utara 56,32 16,23 26,95 0,50 100,00
Sumatera Barat 69,12 15,97 14,58 0,34 100,00
Riau 61,35 14,67 23,61 0,37 100,00
Jambi 72,03 18,56 9,28 0,12 100,00
Sumatera Selatan 69,08 18,38 12,38 0,16 100,00
Bengkulu 70,47 19,84 9,43 0,26 100,00
Lampung 74,11 13,56 11,98 0,35 100,00
Kep. Bangka Belitung 78,81 15,79 5,33 0,08 100,00
Kepulauan Riau 74,29 18,56 6,97 0,17 100,00
DKI Jakarta 61,64 34,58 3,64 0,14 100,00
Jawa Barat 62,18 18,76 18,80 0,25 100,00
Jawa Tengah 78,84 14,89 6,00 0,28 100,00
DI Yogyakarta 75,70 21,49 2,75 0,06 100,00
Jawa Timur 68,87 17,13 13,65 0,34 100,00
Banten 54,12 21,45 24,15 0,29 100,00
Bali 71,48 19,62 8,87 0,04 100,00
Nusa Tenggara Barat 59,81 19,90 19,43 0,85 100,00
Nusa Tenggara Timur 44,37 13,84 41,54 0,25 100,00
Kalimantan Barat 59,97 21,36 17,86 0,81 100,00
Kalimantan Tengah 65,10 16,67 17,87 0,36 100,00
Kalimantan Selatan 68,86 19,71 11,21 0,23 100,00
Kalimantan Timur 69,14 23,18 7,40 0,29 100,00
Kalimantan Utara 63,12 26,24 9,90 0,73 100,00
Sulawesi Utara 63,04 22,34 14,23 0,40 100,00
Sulawesi Tengah 55,27 17,84 26,15 0,74 100,00
Sulawesi Selatan 66,99 20,35 12,33 0,33 100,00
Sulawesi Tenggara 64,16 17,29 17,95 0,60 100,00
Gorontalo 74,69 14,36 10,78 0,17 100,00
Sulawesi Barat 71,81 12,87 14,53 0,79 100,00
Maluku 50,65 22,63 26,25 0,47 100,00
Maluku Utara 56,51 18,73 24,24 0,52 100,00
Papua Barat 43,92 27,31 28,08 0,69 100,00
Papua 19,38 16,06 63,30 1,27 100,00
Indonesia 64,90 18,36 16,40 0,34 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 173


lampiran BAB 3
Lampiran L-3.4. Persentase Anak 0-17 Tahun Menurut Provinsi dan Kepemilikan AktA Kelahiran dari Kantor
Catatan Sipil, 2018
Perempuan
Ya, dapat Ya, tidak dapat
Provinsi Tidak punya Tidak tahu Jumlah
ditunjukkan ditunjukkan
(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Aceh 71,22 17,17 11,49 0,11 100,00


Sumatera Utara 56,01 16,01 27,41 0,56 100,00
Sumatera Barat 70,05 15,56 13,86 0,53 100,00
Riau 62,83 14,74 21,92 0,51 100,00
Jambi 72,60 18,72 8,42 0,26 100,00
Sumatera Selatan 72,62 17,62 9,50 0,25 100,00
Bengkulu 70,20 20,84 8,70 0,26 100,00
Lampung 73,95 14,68 11,15 0,22 100,00
Kep. Bangka Belitung 78,31 17,35 4,18 0,16 100,00
Kepulauan Riau 76,97 16,08 6,85 0,10 100,00
DKI Jakarta 61,22 35,02 3,59 0,17 100,00
Jawa Barat 63,24 18,50 18,03 0,23 100,00
Jawa Tengah 78,48 15,49 5,90 0,14 100,00
DI Yogyakarta 76,81 20,81 2,33 0,05 100,00
Jawa Timur 69,86 16,51 13,39 0,24 100,00
Banten 55,91 21,81 22,00 0,28 100,00
Bali 69,37 20,47 10,05 0,11 100,00
Nusa Tenggara Barat 58,56 21,02 19,77 0,65 100,00
Nusa Tenggara Timur 44,45 13,68 41,55 0,33 100,00
Kalimantan Barat 61,53 21,06 16,85 0,56 100,00
Kalimantan Tengah 66,94 15,97 16,50 0,59 100,00
Kalimantan Selatan 71,57 17,95 10,47 0,01 100,00
Kalimantan Timur 69,68 22,46 7,46 0,40 100,00
Kalimantan Utara 65,29 24,38 9,76 0,56 100,00
Sulawesi Utara 64,54 20,99 14,18 0,29 100,00
Sulawesi Tengah 56,64 17,65 25,38 0,33 100,00
Sulawesi Selatan 66,15 20,57 13,03 0,26 100,00
Sulawesi Tenggara 62,95 18,55 18,26 0,25 100,00
Gorontalo 78,20 12,97 8,77 0,06 100,00
Sulawesi Barat 73,14 11,42 15,15 0,28 100,00
Maluku 50,96 22,94 25,66 0,44 100,00
Maluku Utara 59,88 16,89 22,67 0,56 100,00
Papua Barat 43,75 26,50 28,93 0,82 100,00
Papua 20,21 17,07 61,61 1,11 100,00
Indonesia 65,61 18,24 15,86 0,29 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

174 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 3
Lampiran L-3.5. Persentase Anak 0-17 Tahun Menurut Provinsi dan Kepemilikan Akta Kelahiran dari Kantor
Catatan Sipil, 2018 Perkotaan + Perdesaan

Ya, dapat Ya, tidak dapat


Provinsi Tidak punya Tidak Tahu Jumlah
ditunjukkan ditunjukkan
(1) (2) (3) (4) (5) (6))
Aceh 69,71 18,14 12,01 0,14 100,00
Sumatera Utara 56,17 16,12 27,18 0,53 100,00
Sumatera Barat 69,58 15,77 14,22 0,43 100,00
Riau 62,07 14,71 22,78 0,44 100,00
Jambi 72,31 18,64 8,86 0,19 100,00
Sumatera Selatan 70,80 18,01 10,98 0,20 100,00
Bengkulu 70,34 20,33 9,08 0,26 100,00
Lampung 74,03 14,11 11,58 0,29 100,00
Kep. Bangka Belitung 78,56 16,55 4,77 0,12 100,00
Kepulauan Riau 75,61 17,34 6,91 0,14 100,00
DKI Jakarta 61,44 34,79 3,61 0,16 100,00
Jawa Barat 62,70 18,63 18,43 0,24 100,00
Jawa Tengah 78,67 15,18 5,95 0,21 100,00
DI Yogyakarta 76,24 21,15 2,54 0,06 100,00
Jawa Timur 69,35 16,83 13,53 0,29 100,00
Banten 54,99 21,62 23,11 0,28 100,00
Bali 70,45 20,03 9,44 0,07 100,00
Nusa Tenggara Barat 59,20 20,45 19,60 0,75 100,00
Nusa Tenggara Timur 44,41 13,76 41,54 0,29 100,00
Kalimantan Barat 60,74 21,21 17,36 0,69 100,00
Kalimantan Tengah 66,01 16,33 17,19 0,47 100,00
Kalimantan Selatan 70,18 18,85 10,85 0,12 100,00
Kalimantan Timur 69,40 22,82 7,43 0,35 100,00
Kalimantan Utara 64,18 25,34 9,83 0,65 100,00
Sulawesi Utara 63,77 21,68 14,20 0,35 100,00
Sulawesi Tengah 55,94 17,74 25,77 0,54 100,00
Sulawesi Selatan 66,58 20,45 12,67 0,29 100,00
Sulawesi Tenggara 63,57 17,90 18,10 0,43 100,00
Gorontalo 76,40 13,68 9,80 0,12 100,00
Sulawesi Barat 72,46 12,16 14,83 0,54 100,00
Maluku 50,80 22,78 25,96 0,45 100,00
Maluku Utara 58,15 17,84 23,48 0,54 100,00
Papua Barat 43,84 26,92 28,49 0,75 100,00
Papua 19,78 16,55 62,49 1,19 100,00
Indonesia 65,24 18,31 16,13 0,32 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 175


LAMPIRAN
BAB 4
lampiran BAB 4
Lampiran L-4.1. Persentase Anak Umur 0-17 Tahun dan Belum Kawin menurut Provinsi dan Status Tinggal
Bersama, Jenis Kelamin, 2018
Perkotaan

Orang Tua Ayah Ibu Tinggal


Provinsi Orang Lain Jumlah
Lengkap Kandung Kandung Sendiri
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 85,92 3,02 8,34 2,72 0,00 100,00
Sumatera Utara 83,57 2,46 7,96 6,01 0,00 100,00
Sumatera Barat 86,77 1,64 7,76 3,64 0,18 100,00
Riau 88,42 1,76 6,58 3,00 0,23 100,00
Jambi 88,89 2,13 6,70 2,28 0,00 100,00
Sumatera Selatan 86,99 1,32 8,94 2,68 0,08 100,00
Bengkulu 86,24 1,16 7,96 4,22 0,43 100,00
Lampung 86,98 2,13 6,64 3,89 0,37 100,00
Kep. Bangka Belitung 85,32 2,81 7,01 4,85 0,00 100,00
Kepulauan Riau 90,60 0,97 6,22 2,16 0,05 100,00
DKI Jakarta 89,02 2,30 6,15 2,53 0,00 100,00
Jawa Barat 86,92 2,33 7,66 3,09 0,00 100,00
Jawa Tengah 82,46 2,68 11,03 3,68 0,14 100,00
DI Yogyakarta 91,03 1,98 4,69 2,10 0,20 100,00
Jawa Timur 83,58 2,50 9,41 4,37 0,15 100,00
Banten 88,11 2,43 6,83 2,64 0,00 100,00
Bali 90,64 2,69 3,29 3,15 0,23 100,00
Nusa Tenggara Barat 69,17 3,50 20,36 6,81 0,15 100,00
Nusa Tenggara Timur 72,92 2,05 11,09 13,95 0,00 100,00
Kalimantan Barat 86,24 2,24 7,65 3,54 0,34 100,00
Kalimantan Tengah 87,55 2,44 5,60 4,29 0,12 100,00
Kalimantan Selatan 86,61 1,79 7,45 4,05 0,09 100,00
Kalimantan Timur 89,18 2,59 6,49 1,75 0,00 100,00
Kalimantan Utara 87,75 5,33 5,66 1,27 0,00 100,00
Sulawesi Utara 77,97 3,63 10,97 7,01 0,43 100,00
Sulawesi Tengah 81,91 2,06 6,75 9,28 0,00 100,00
Sulawesi Selatan 79,12 2,41 11,60 6,84 0,03 100,00
Sulawesi Tenggara 82,20 2,10 10,80 4,89 0,00 100,00
Gorontalo 86,29 2,53 3,80 7,38 0,00 100,00
Sulawesi Barat 79,62 1,72 9,71 8,95 0,00 100,00
Maluku 80,54 1,44 6,99 11,03 0,00 100,00
Maluku Utara 86,13 0,45 7,33 6,09 0,00 100,00
Papua Barat 82,09 3,23 6,21 8,48 0,00 100,00
Papua 82,87 3,24 7,62 6,28 0,00 100,00
Indonesia 85,34 2,37 8,31 3,91 0,08 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan, 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 179


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.2. Persentase Anak Umur 0-17 Tahun dan Belum Kawin menurut Provinsi dan Status Tinggal
Bersama, Jenis Kelamin, 2018
Perdesaan

Orang Tua Ayah Ibu Tinggal


Provinsi Orang Lain Jumlah
Lengkap Kandung Kandung Sendiri
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 85,99 2,28 9,20 2,54 0,00 100,00
Sumatera Utara 84,63 2,90 7,53 4,93 0,00 100,00
Sumatera Barat 83,14 1,62 10,75 4,49 0,00 100,00
Riau 90,79 1,73 5,01 2,48 0,00 100,00
Jambi 90,78 1,62 5,29 2,31 0,00 100,00
Sumatera Selatan 90,25 0,97 5,54 3,18 0,05 100,00
Bengkulu 89,57 1,40 6,74 2,29 0,00 100,00
Lampung 84,89 3,27 5,79 6,02 0,04 100,00
Kep. Bangka Belitung 88,65 3,98 4,94 2,43 0,00 100,00
Kepulauan Riau 88,78 1,58 5,38 4,26 0,00 100,00
DKI Jakarta - - - - - -
Jawa Barat 81,64 3,81 7,87 6,69 0,00 100,00
Jawa Tengah 79,05 3,12 11,15 6,63 0,05 100,00
DI Yogyakarta 88,19 1,34 7,42 3,04 0,00 100,00
Jawa Timur 79,66 3,53 10,16 6,55 0,10 100,00
Banten 86,91 2,25 7,19 3,64 0,00 100,00
Bali 89,98 1,20 4,44 4,37 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 72,31 4,90 13,07 9,72 0,00 100,00
Nusa Tenggara Timur 76,20 2,78 9,86 11,15 0,00 100,00
Kalimantan Barat 84,87 2,95 7,89 4,28 0,00 100,00
Kalimantan Tengah 89,06 2,14 5,58 3,12 0,09 100,00
Kalimantan Selatan 87,92 0,86 6,71 4,52 0,00 100,00
Kalimantan Timur 89,04 2,02 2,97 5,98 0,00 100,00
Kalimantan Utara 85,54 0,91 6,96 6,59 0,00 100,00
Sulawesi Utara 84,10 2,20 7,04 6,44 0,21 100,00
Sulawesi Tengah 83,60 2,89 7,41 6,10 0,00 100,00
Sulawesi Selatan 80,02 1,55 10,71 7,69 0,02 100,00
Sulawesi Tenggara 79,81 2,09 10,02 8,07 0,00 100,00
Gorontalo 80,91 1,55 8,82 8,72 0,00 100,00
Sulawesi Barat 84,09 1,67 8,50 5,67 0,07 100,00
Maluku 83,21 2,28 7,01 7,51 0,00 100,00
Maluku Utara 87,02 1,27 5,18 6,46 0,08 100,00
Papua Barat 84,22 3,04 6,24 6,51 0,00 100,00
Papua 88,31 2,11 5,71 3,87 0,00 100,00
Indonesia 83,15 2,68 8,38 5,77 0,03 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan, 2018, BPS

180 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.3. Persentase Anak Umur 0-17 Tahun dan Belum Kawin menurut Provinsi dan Status Tinggal
Bersama, Jenis Kelamin, 2018
Laki-laki

Orang Tua Ayah Ibu Tinggal


Provinsi Orang Lain Jumlah
Lengkap Kandung Kandung Sendiri
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 85,70 2,96 8,58 2,76 0,00 100,00
Sumatera Utara 84,17 2,84 8,30 4,69 0,00 100,00
Sumatera Barat 85,38 1,44 8,98 4,19 0,00 100,00
Riau 90,16 1,74 5,60 2,51 0,00 100,00
Jambi 89,44 2,18 6,12 2,26 0,00 100,00
Sumatera Selatan 88,57 1,01 7,21 3,09 0,12 100,00
Bengkulu 88,87 1,42 6,84 2,84 0,03 100,00
Lampung 85,07 3,37 5,92 5,43 0,21 100,00
Kep. Bangka Belitung 87,93 2,52 5,86 3,69 0,00 100,00
Kepulauan Riau 91,16 0,79 5,97 2,08 0,00 100,00
DKI Jakarta 90,00 1,50 6,70 1,81 0,00 100,00
Jawa Barat 85,56 2,99 7,74 3,71 0,00 100,00
Jawa Tengah 80,70 2,78 11,57 4,86 0,09 100,00
DI Yogyakarta 90,03 1,63 5,83 2,23 0,28 100,00
Jawa Timur 81,94 3,22 9,50 5,19 0,14 100,00
Banten 87,94 2,08 7,51 2,47 0,00 100,00
Bali 90,67 1,91 3,53 3,59 0,30 100,00
Nusa Tenggara Barat 69,30 4,84 16,72 9,15 0,00 100,00
Nusa Tenggara Timur 74,38 2,94 11,10 11,59 0,00 100,00
Kalimantan Barat 84,88 2,48 8,17 4,29 0,18 100,00
Kalimantan Tengah 87,45 2,53 6,42 3,49 0,11 100,00
Kalimantan Selatan 87,17 1,29 6,76 4,78 0,00 100,00
Kalimantan Timur 87,79 2,07 6,46 3,68 0,00 100,00
Kalimantan Utara 89,56 1,95 5,42 3,07 0,00 100,00
Sulawesi Utara 82,59 3,92 7,83 5,17 0,49 100,00
Sulawesi Tengah 81,29 2,91 7,50 8,30 0,00 100,00
Sulawesi Selatan 78,72 2,01 11,50 7,72 0,05 100,00
Sulawesi Tenggara 81,02 1,96 10,79 6,23 0,00 100,00
Gorontalo 82,51 1,72 7,36 8,41 0,00 100,00
Sulawesi Barat 83,88 2,06 9,57 4,48 0,00 100,00
Maluku 81,27 1,94 7,43 9,36 0,00 100,00
Maluku Utara 85,19 1,12 6,35 7,22 0,12 100,00
Papua Barat 82,87 3,51 5,78 7,84 0,00 100,00
Papua 87,78 2,49 5,90 3,84 0,00 100,00
Indonesia 84,23 2,59 8,53 4,59 0,06 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan, 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 181


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.4. Persentase Anak Umur 0-17 Tahun dan Belum Kawin menurut Provinsi dan Status Tinggal
Bersama, Jenis Kelamin, 2018
Perempuan

Orang Tua Ayah Ibu Tinggal


Provinsi Orang Lain Jumlah
Lengkap Kandung Kandung Sendiri
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 86,25 2,03 9,31 2,41 0,00 100,00
Sumatera Utara 84,02 2,51 7,18 6,29 0,00 100,00
Sumatera Barat 84,19 1,82 9,81 4,01 0,17 100,00
Riau 89,54 1,74 5,67 2,87 0,19 100,00
Jambi 90,97 1,36 5,34 2,33 0,00 100,00
Sumatera Selatan 89,60 1,19 6,30 2,91 0,00 100,00
Bengkulu 88,07 1,22 7,45 3,00 0,26 100,00
Lampung 85,99 2,46 6,17 5,32 0,06 100,00
Kep. Bangka Belitung 85,72 4,21 6,27 3,80 0,00 100,00
Kepulauan Riau 89,61 1,29 6,29 2,73 0,09 100,00
DKI Jakarta 88,01 3,12 5,59 3,28 0,00 100,00
Jawa Barat 85,70 2,37 7,67 4,26 0,00 100,00
Jawa Tengah 80,89 3,01 10,58 5,41 0,10 100,00
DI Yogyakarta 90,54 2,00 4,98 2,48 0,00 100,00
Jawa Timur 81,57 2,71 10,02 5,58 0,11 100,00
Banten 87,50 2,68 6,35 3,47 0,00 100,00
Bali 90,16 2,54 3,80 3,50 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 72,54 3,61 16,21 7,50 0,15 100,00
Nusa Tenggara Timur 76,64 2,29 9,12 11,95 0,00 100,00
Kalimantan Barat 85,81 2,95 7,43 3,76 0,05 100,00
Kalimantan Tengah 89,55 1,97 4,70 3,68 0,10 100,00
Kalimantan Selatan 87,45 1,29 7,37 3,79 0,09 100,00
Kalimantan Timur 90,55 2,74 4,12 2,58 0,00 100,00
Kalimantan Utara 84,00 5,35 6,98 3,68 0,00 100,00
Sulawesi Utara 79,32 1,92 10,28 8,32 0,16 100,00
Sulawesi Tengah 85,08 2,39 6,93 5,60 0,00 100,00
Sulawesi Selatan 80,62 1,81 10,64 6,94 0,00 100,00
Sulawesi Tenggara 80,32 2,24 9,79 7,65 0,00 100,00
Gorontalo 83,68 2,18 6,20 7,94 0,00 100,00
Sulawesi Barat 82,16 1,28 7,97 8,47 0,12 100,00
Maluku 83,09 1,94 6,55 8,41 0,00 100,00
Maluku Utara 88,45 0,98 5,11 5,46 0,00 100,00
Papua Barat 83,89 2,69 6,69 6,72 0,00 100,00
Papua 85,96 2,32 6,53 5,19 0,00 100,00
Indonesia 84,44 2,42 8,14 4,95 0,05 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan, 2018, BPS

182 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.5. Persentase Anak Umur 0-17 Tahun dan Belum Kawin menurut Provinsi dan Status Tinggal
Bersama, Jenis Kelamin, 2018
Perkotaan + Perdesaan

Orang Tua Ayah Ibu Tinggal


Provinsi Orang Lain Jumlah
Lengkap Kandung Kandung Sendiri
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 85,97 2,51 8,93 2,59 0,00 100,00
Sumatera Utara 84,10 2,68 7,75 5,48 0,00 100,00
Sumatera Barat 84,79 1,63 9,39 4,11 0,08 100,00
Riau 89,85 1,74 5,63 2,68 0,09 100,00
Jambi 90,19 1,78 5,74 2,30 0,00 100,00
Sumatera Selatan 89,07 1,10 6,77 3,00 0,06 100,00
Bengkulu 88,48 1,32 7,14 2,92 0,14 100,00
Lampung 85,51 2,93 6,04 5,38 0,14 100,00
Kep. Bangka Belitung 86,85 3,35 6,06 3,74 0,00 100,00
Kepulauan Riau 90,40 1,03 6,13 2,40 0,04 100,00
DKI Jakarta 89,02 2,30 6,15 2,53 0,00 100,00
Jawa Barat 85,63 2,69 7,71 3,97 0,00 100,00
Jawa Tengah 80,79 2,89 11,09 5,13 0,10 100,00
DI Yogyakarta 90,28 1,81 5,41 2,35 0,14 100,00
Jawa Timur 81,76 2,97 9,76 5,38 0,13 100,00
Banten 87,73 2,37 6,94 2,96 0,00 100,00
Bali 90,43 2,21 3,66 3,55 0,16 100,00
Nusa Tenggara Barat 70,85 4,25 16,47 8,36 0,07 100,00
Nusa Tenggara Timur 75,48 2,62 10,13 11,77 0,00 100,00
Kalimantan Barat 85,34 2,71 7,81 4,03 0,12 100,00
Kalimantan Tengah 88,47 2,26 5,59 3,58 0,10 100,00
Kalimantan Selatan 87,31 1,29 7,05 4,30 0,04 100,00
Kalimantan Timur 89,13 2,40 5,33 3,15 0,00 100,00
Kalimantan Utara 86,88 3,59 6,17 3,36 0,00 100,00
Sulawesi Utara 80,97 2,93 9,04 6,73 0,32 100,00
Sulawesi Tengah 83,12 2,66 7,22 7,00 0,00 100,00
Sulawesi Selatan 79,64 1,91 11,08 7,34 0,03 100,00
Sulawesi Tenggara 80,68 2,10 10,31 6,92 0,00 100,00
Gorontalo 83,09 1,95 6,78 8,18 0,00 100,00
Sulawesi Barat 83,04 1,68 8,79 6,44 0,06 100,00
Maluku 82,15 1,94 7,00 8,90 0,00 100,00
Maluku Utara 86,78 1,05 5,74 6,36 0,06 100,00
Papua Barat 83,37 3,11 6,23 7,29 0,00 100,00
Papua 86,89 2,40 6,21 4,50 0,00 100,00
Indonesia 84,33 2,51 8,34 4,76 0,05 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan, 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 183


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.6. Persentase Anak Umur 10-17 Tahun Menurut Provinsi dan Status perkawinan, 2018
Perkotaan

Provinsi Belum Kawin Kawin Cerai Hidup Cerai Mati Jumlah


(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Aceh 99,96 0,04 0,00 0,00 100,00


Sumatera Utara 99,89 0,11 0,00 0,00 100,00
Sumatera Barat 99,81 0,19 0,00 0,00 100,00
Riau 99,93 0,07 0,00 0,00 100,00
Jambi 99,60 0,36 0,04 0,00 100,00
Sumatera Selatan 99,82 0,18 0,00 0,00 100,00
Bengkulu 99,76 0,24 0,00 0,00 100,00
Lampung 99,58 0,31 0,11 0,00 100,00
Kep. Bangka Belitung 99,32 0,68 0,00 0,00 100,00
Kepulauan Riau 99,97 0,03 0,00 0,00 100,00
DKI Jakarta 99,56 0,40 0,04 0,00 100,00
Jawa Barat 99,47 0,51 0,02 0,00 100,00
Jawa Tengah 99,64 0,32 0,04 0,00 100,00
DI Yogyakarta 99,87 0,13 0,00 0,00 100,00
Jawa Timur 99,39 0,61 0,00 0,00 100,00
Banten 99,98 0,00 0,02 0,00 100,00
Bali 99,75 0,25 0,00 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 98,90 1,09 0,01 0,00 100,00
Nusa Tenggara Timur 99,79 0,21 0,00 0,00 100,00
Kalimantan Barat 99,59 0,41 0,00 0,00 100,00
Kalimantan Tengah 99,08 0,92 0,00 0,00 100,00
Kalimantan Selatan 99,26 0,62 0,12 0,00 100,00
Kalimantan Timur 99,65 0,35 0,00 0,00 100,00
Kalimantan Utara 99,11 0,66 0,23 0,00 100,00
Sulawesi Utara 99,22 0,78 0,00 0,00 100,00
Sulawesi Tengah 99,71 0,29 0,00 0,00 100,00
Sulawesi Selatan 99,51 0,36 0,13 0,00 100,00
Sulawesi Tenggara 99,64 0,36 0,00 0,00 100,00
Gorontalo 99,83 0,17 0,00 0,00 100,00
Sulawesi Barat 99,52 0,48 0,00 0,00 100,00
Maluku 99,66 0,28 0,06 0,00 100,00
Maluku Utara 98,96 1,04 0,00 0,00 100,00
Papua Barat 100,00 0,00 0,00 0,00 100,00
Papua 99,79 0,21 0,00 0,00 100,00
Indonesia 99,59 0,39 0,02 0,00 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

184 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.7. Persentase Anak Umur 10-17 Tahun Menurut Provinsi dan Status perkawinan, 2018
Perdesaan

Provinsi Belum Kawin Kawin Cerai Hidup Cerai Mati Jumlah


(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 99,72 0,27 0,01 0,00 100,00
Sumatera Utara 99,66 0,34 0,00 0,00 100,00
Sumatera Barat 99,56 0,36 0,09 0,00 100,00
Riau 99,73 0,27 0,00 0,00 100,00
Jambi 98,78 1,22 0,00 0,00 100,00
Sumatera Selatan 98,88 1,05 0,05 0,02 100,00
Bengkulu 99,14 0,79 0,06 0,00 100,00
Lampung 99,15 0,83 0,01 0,00 100,00
Kep. Bangka Belitung 98,32 1,68 0,00 0,00 100,00
Kepulauan Riau 98,99 1,01 0,00 0,00 100,00
DKI Jakarta - - - - -
Jawa Barat 98,76 1,13 0,11 0,00 100,00
Jawa Tengah 99,04 0,93 0,02 0,00 100,00
DI Yogyakarta 99,71 0,29 0,00 0,00 100,00
Jawa Timur 98,28 1,65 0,07 0,01 100,00
Banten 99,33 0,67 0,00 0,00 100,00
Bali 99,54 0,46 0,00 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 96,43 3,31 0,16 0,10 100,00
Nusa Tenggara Timur 99,52 0,45 0,02 0,00 100,00
Kalimantan Barat 98,22 1,76 0,03 0,00 100,00
Kalimantan Tengah 98,03 1,77 0,20 0,00 100,00
Kalimantan Selatan 98,22 1,51 0,27 0,00 100,00
Kalimantan Timur 99,06 0,94 0,00 0,00 100,00
Kalimantan Utara 99,61 0,39 0,00 0,00 100,00
Sulawesi Utara 99,31 0,69 0,00 0,00 100,00
Sulawesi Tengah 98,47 1,50 0,04 0,00 100,00
Sulawesi Selatan 99,00 0,97 0,03 0,00 100,00
Sulawesi Tenggara 98,16 1,82 0,02 0,00 100,00
Gorontalo 98,63 1,30 0,07 0,00 100,00
Sulawesi Barat 97,95 1,82 0,23 0,00 100,00
Maluku 99,43 0,55 0,02 0,00 100,00
Maluku Utara 99,17 0,68 0,15 0,00 100,00
Papua Barat 98,84 1,04 0,12 0,00 100,00
Papua 99,19 0,76 0,02 0,02 100,00
Indonesia 98,90 1,05 0,05 0,00 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 185


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.8. Persentase Anak Umur 10-17 Tahun Menurut Provinsi dan Status perkawinan, 2018
Laki-laki

Provinsi Belum Kawin Kawin Cerai Hidup Cerai Mati Jumlah


(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Aceh 100,00 0,00 0,00 0,00 100,00


Sumatera Utara 99,98 0,02 0,00 0,00 100,00
Sumatera Barat 99,99 0,01 0,00 0,00 100,00
Riau 100,00 0,00 0,00 0,00 100,00
Jambi 99,76 0,22 0,03 0,00 100,00
Sumatera Selatan 99,85 0,15 0,00 0,00 100,00
Bengkulu 99,75 0,16 0,08 0,00 100,00
Lampung 99,98 0,02 0,00 0,00 100,00
Kep. Bangka Belitung 99,67 0,33 0,00 0,00 100,00
Kepulauan Riau 99,96 0,04 0,00 0,00 100,00
DKI Jakarta 100,00 0,00 0,00 0,00 100,00
Jawa Barat 99,94 0,06 0,00 0,00 100,00
Jawa Tengah 99,95 0,05 0,00 0,00 100,00
DI Yogyakarta 100,00 0,00 0,00 0,00 100,00
Jawa Timur 99,89 0,09 0,02 0,00 100,00
Banten 99,96 0,04 0,00 0,00 100,00
Bali 99,93 0,07 0,00 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 99,17 0,72 0,00 0,11 100,00
Nusa Tenggara Timur 99,96 0,04 0,00 0,00 100,00
Kalimantan Barat 99,69 0,31 0,00 0,00 100,00
Kalimantan Tengah 99,71 0,14 0,14 0,00 100,00
Kalimantan Selatan 99,80 0,20 0,00 0,00 100,00
Kalimantan Timur 99,96 0,04 0,00 0,00 100,00
Kalimantan Utara 100,00 0,00 0,00 0,00 100,00
Sulawesi Utara 99,65 0,35 0,00 0,00 100,00
Sulawesi Tengah 99,86 0,11 0,02 0,00 100,00
Sulawesi Selatan 99,83 0,15 0,01 0,00 100,00
Sulawesi Tenggara 99,88 0,12 0,00 0,00 100,00
Gorontalo 99,86 0,14 0,00 0,00 100,00
Sulawesi Barat 99,55 0,45 0,00 0,00 100,00
Maluku 100,00 0,00 0,00 0,00 100,00
Maluku Utara 99,91 0,09 0,00 0,00 100,00
Papua Barat 99,68 0,28 0,04 0,00 100,00
Papua 99,92 0,07 0,00 0,01 100,00
Indonesia 99,90 0,09 0,01 0,00 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan, 2018, BPS

186 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.9. Persentase Anak Umur 10-17 Tahun Menurut Provinsi dan Status perkawinan, 2018
Perempuan

Provinsi Belum Kawin Kawin Cerai Hidup Cerai Mati Jumlah


(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 99,57 0,41 0,02 0,00 100,00
Sumatera Utara 99,57 0,43 0,00 0,00 100,00
Sumatera Barat 99,34 0,56 0,10 0,00 100,00
Riau 99,61 0,39 0,00 0,00 100,00
Jambi 98,33 1,67 0,00 0,00 100,00
Sumatera Selatan 98,56 1,35 0,07 0,02 100,00
Bengkulu 98,92 1,08 0,00 0,00 100,00
Lampung 98,54 1,38 0,09 0,00 100,00
Kep. Bangka Belitung 98,02 1,98 0,00 0,00 100,00
Kepulauan Riau 99,66 0,34 0,00 0,00 100,00
DKI Jakarta 99,10 0,82 0,08 0,00 100,00
Jawa Barat 98,59 1,32 0,09 0,00 100,00
Jawa Tengah 98,70 1,23 0,07 0,00 100,00
DI Yogyakarta 99,64 0,36 0,00 0,00 100,00
Jawa Timur 97,78 2,16 0,05 0,01 100,00
Banten 99,57 0,40 0,03 0,00 100,00
Bali 99,40 0,60 0,00 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 95,88 3,94 0,18 0,00 100,00
Nusa Tenggara Timur 99,18 0,77 0,04 0,00 100,00
Kalimantan Barat 97,63 2,33 0,04 0,00 100,00
Kalimantan Tengah 97,13 2,78 0,10 0,00 100,00
Kalimantan Selatan 97,51 2,07 0,42 0,00 100,00
Kalimantan Timur 98,92 1,08 0,00 0,00 100,00
Kalimantan Utara 98,62 1,11 0,27 0,00 100,00
Sulawesi Utara 98,86 1,14 0,00 0,00 100,00
Sulawesi Tengah 97,73 2,25 0,03 0,00 100,00
Sulawesi Selatan 98,54 1,33 0,13 0,00 100,00
Sulawesi Tenggara 97,46 2,52 0,02 0,00 100,00
Gorontalo 98,23 1,68 0,09 0,00 100,00
Sulawesi Barat 96,98 2,65 0,37 0,00 100,00
Maluku 99,02 0,91 0,07 0,00 100,00
Maluku Utara 98,27 1,50 0,24 0,00 100,00
Papua Barat 98,87 1,01 0,11 0,00 100,00
Papua 98,70 1,25 0,04 0,01 100,00
Indonesia 98,59 1,34 0,07 0,00 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan, 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 187


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.10. Persentase Anak Umur 10-17 Tahun Menurut Provinsi dan Status perkawinan, 2018
Perkotaan + Perdesaan

Provinsi Belum Kawin Kawin Cerai Hidup Cerai Mati Jumlah

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Aceh 99,79 0,20 0,01 0,00 100,00


Sumatera Utara 99,78 0,22 0,00 0,00 100,00
Sumatera Barat 99,67 0,29 0,05 0,00 100,00
Riau 99,81 0,19 0,00 0,00 100,00
Jambi 99,04 0,94 0,01 0,00 100,00
Sumatera Selatan 99,23 0,73 0,03 0,01 100,00
Bengkulu 99,35 0,61 0,04 0,00 100,00
Lampung 99,28 0,68 0,04 0,00 100,00
Kep. Bangka Belitung 98,86 1,14 0,00 0,00 100,00
Kepulauan Riau 99,81 0,19 0,00 0,00 100,00
DKI Jakarta 99,56 0,40 0,04 0,00 100,00
Jawa Barat 99,28 0,67 0,04 0,00 100,00
Jawa Tengah 99,35 0,62 0,03 0,00 100,00
DI Yogyakarta 99,82 0,18 0,00 0,00 100,00
Jawa Timur 98,86 1,10 0,03 0,00 100,00
Banten 99,77 0,21 0,02 0,00 100,00
Bali 99,67 0,33 0,00 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 97,57 2,29 0,09 0,06 100,00
Nusa Tenggara Timur 99,58 0,40 0,02 0,00 100,00
Kalimantan Barat 98,67 1,31 0,02 0,00 100,00
Kalimantan Tengah 98,43 1,45 0,12 0,00 100,00
Kalimantan Selatan 98,69 1,11 0,20 0,00 100,00
Kalimantan Timur 99,45 0,55 0,00 0,00 100,00
Kalimantan Utara 99,33 0,54 0,13 0,00 100,00
Sulawesi Utara 99,26 0,74 0,00 0,00 100,00
Sulawesi Tengah 98,81 1,16 0,03 0,00 100,00
Sulawesi Selatan 99,20 0,73 0,07 0,00 100,00
Sulawesi Tenggara 98,71 1,28 0,01 0,00 100,00
Gorontalo 99,08 0,88 0,04 0,00 100,00
Sulawesi Barat 98,30 1,52 0,18 0,00 100,00
Maluku 99,52 0,44 0,03 0,00 100,00
Maluku Utara 99,12 0,77 0,11 0,00 100,00
Papua Barat 99,29 0,63 0,08 0,00 100,00
Papua 99,34 0,62 0,02 0,01 100,00
Indonesia 99,26 0,70 0,04 0,00 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Modul Sosial Budaya dan Pendidikan, 2018, BPS

188 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.11. Persentase Anak Umur 10-17 Tahun yang berstatus Kawin dan Cerai Menurut Provinsi dan
Umur Perkawinan Pertama, 2018
Perkotaan

Provinsi <=15 tahun 16 tahun 17 tahun Jumlah


(1) (2) (3) (4) (5)

Aceh 0,00 0,00 100,00 100,00


Sumatera Utara 0,00 50,10 49,90 100,00
Sumatera Barat 9,45 22,79 67,76 100,00
Riau 0,00 12,97 87,03 100,00
Jambi 48,19 51,81 0,00 100,00
Sumatera Selatan 67,69 32,31 0,00 100,00
Bengkulu 51,06 0,00 48,94 100,00
Lampung 61,63 18,28 20,09 100,00
Kep. Bangka Belitung 0,00 80,50 19,50 100,00
Kepulauan Riau 0,00 63,25 36,75 100,00
DKI Jakarta 51,36 24,39 24,25 100,00
Jawa Barat 17,36 42,57 40,08 100,00
Jawa Tengah 49,67 27,16 23,17 100,00
DI Yogyakarta 0,00 0,00 100,00 100,00
Jawa Timur 55,35 33,77 10,88 100,00
Banten 100,00 0,00 0,00 100,00
Bali 23,17 12,35 64,48 100,00
Nusa Tenggara Barat 35,87 42,28 21,85 100,00
Nusa Tenggara Timur 54,57 0,00 45,43 100,00
Kalimantan Barat 0,00 62,56 37,44 100,00
Kalimantan Tengah 21,22 77,91 0,87 100,00
Kalimantan Selatan 41,49 52,93 5,58 100,00
Kalimantan Timur 7,40 44,45 48,15 100,00
Kalimantan Utara 45,34 53,22 1,43 100,00
Sulawesi Utara 10,48 44,58 44,94 100,00
Sulawesi Tengah 0,00 80,56 19,44 100,00
Sulawesi Selatan 58,29 26,61 15,10 100,00
Sulawesi Tenggara 22,72 54,77 22,50 100,00
Gorontalo 0,00 100,00 0,00 100,00
Sulawesi Barat 46,45 46,45 7,09 100,00
Maluku 23,41 59,80 16,79 100,00
Maluku Utara 54,43 28,77 16,79 100,00
Papua Barat 100,00 0,00 0,00 100,00
Papua 41,65 0,00 58,35 100,00
Indonesia 34,81 37,64 27,55 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 189


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.12. Persentase Anak Umur 10-17 Tahun yang berstatus Kawin dan Cerai Menurut Provinsi dan
Umur Perkawinan Pertama, 2018
Perdesaan

Provinsi <=15 tahun 16 tahun 17 tahun Jumlah


(1) (2) (3) (4) (5)

Aceh 21,92 50,15 27,93 100,00


Sumatera Utara 40,65 14,96 44,39 100,00
Sumatera Barat 49,60 16,66 33,74 100,00
Riau 0,00 97,44 2,56 100,00
Jambi 34,83 58,30 6,87 100,00
Sumatera Selatan 23,75 60,53 15,72 100,00
Bengkulu 49,74 31,11 19,14 100,00
Lampung 54,55 28,40 17,05 100,00
Kep. Bangka Belitung 51,22 41,33 7,45 100,00
Kepulauan Riau 29,25 70,75 0,00 100,00
DKI Jakarta - - - -
Jawa Barat 23,16 47,59 29,25 100,00
Jawa Tengah 26,76 40,70 32,54 100,00
DI Yogyakarta 0,00 0,00 100,00 100,00
Jawa Timur 39,83 37,96 22,21 100,00
Banten 13,25 62,40 24,35 100,00
Bali 100,00 0,00 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 35,11 51,88 13,01 100,00
Nusa Tenggara Timur 40,14 42,31 17,54 100,00
Kalimantan Barat 49,87 36,33 13,80 100,00
Kalimantan Tengah 59,38 23,24 17,38 100,00
Kalimantan Selatan 60,60 19,20 20,19 100,00
Kalimantan Timur 59,50 30,87 9,62 100,00
Kalimantan Utara 26,12 73,08 0,80 100,00
Sulawesi Utara 43,18 18,78 38,05 100,00
Sulawesi Tengah 43,47 31,54 24,98 100,00
Sulawesi Selatan 50,23 31,83 17,94 100,00
Sulawesi Tenggara 47,10 38,50 14,40 100,00
Gorontalo 19,79 64,79 15,43 100,00
Sulawesi Barat 34,99 46,71 18,30 100,00
Maluku 18,58 71,07 10,35 100,00
Maluku Utara 29,76 49,69 20,55 100,00
Papua Barat 46,38 15,16 38,46 100,00
Papua 41,19 42,39 16,43 100,00
Indonesia 37,38 40,87 21,75 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

190 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.13. Persentase Anak Umur 10-17 Tahun yang berstatus Kawin dan Cerai Menurut Provinsi dan
Umur Perkawinan Pertama, 2018
Laki-laki

Provinsi <=15 tahun 16 tahun 17 tahun Jumlah


(1) (2) (3) (4) (5)

Aceh 0,00 0,00 0,00 100,00


Sumatera Utara 0,00 100,00 0,00 100,00
Sumatera Barat 0,00 100,00 0,00 100,00
Riau 0,00 0,00 0,00 100,00
Jambi 17,22 82,78 0,00 100,00
Sumatera Selatan 39,05 60,95 0,00 100,00
Bengkulu 45,38 33,18 21,45 100,00
Lampung 0,00 0,00 100,00 100,00
Kep. Bangka Belitung 0,00 65,78 34,22 100,00
Kepulauan Riau 100,00 0,00 0,00 100,00
DKI Jakarta 0,00 0,00 0,00 100,00
Jawa Barat 0,00 45,52 54,48 100,00
Jawa Tengah 100,00 0,00 0,00 100,00
DI Yogyakarta 0,00 0,00 0,00 100,00
Jawa Timur 16,97 28,16 54,87 100,00
Banten 0,00 100,00 0,00 100,00
Bali 100,00 0,00 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 29,13 44,82 26,05 100,00
Nusa Tenggara Timur 0,00 50,52 49,48 100,00
Kalimantan Barat 19,30 80,70 0,00 100,00
Kalimantan Tengah 37,58 22,04 40,38 100,00
Kalimantan Selatan 30,08 19,92 50,00 100,00
Kalimantan Timur 0,00 6,78 93,22 100,00
Kalimantan Utara 0,00 0,00 0,00 100,00
Sulawesi Utara 0,00 51,67 48,33 100,00
Sulawesi Tengah 34,21 65,79 0,00 100,00
Sulawesi Selatan 64,88 14,83 20,29 100,00
Sulawesi Tenggara 25,70 55,54 18,77 100,00
Gorontalo 0,00 0,00 100,00 100,00
Sulawesi Barat 0,00 33,70 66,30 100,00
Maluku 0,00 0,00 0,00 100,00
Maluku Utara 25,36 34,29 40,35 100,00
Papua Barat 71,14 16,69 12,17 100,00
Papua 74,58 0,00 25,42 100,00
Indonesia 28,20 41,39 30,41 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 191


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.14. Persentase Anak Umur 10-17 Tahun yang berstatus Kawin dan Cerai Menurut Provinsi dan
Umur Perkawinan Pertama, 2018
Perempuan

Provinsi <=15 tahun 16 tahun 17 tahun Jumlah


(1) (2) (3) (4) (5)

Aceh 20,66 47,28 32,06 100,00


Sumatera Utara 32,40 19,15 48,45 100,00
Sumatera Barat 40,39 16,97 42,64 100,00
Riau 0,00 85,09 14,91 100,00
Jambi 39,46 53,71 6,83 100,00
Sumatera Selatan 26,08 57,86 16,06 100,00
Bengkulu 50,99 25,85 23,16 100,00
Lampung 56,69 27,16 16,15 100,00
Kep. Bangka Belitung 41,00 51,71 7,29 100,00
Kepulauan Riau 15,37 78,85 5,78 100,00
DKI Jakarta 51,36 24,39 24,25 100,00
Jawa Barat 20,97 44,82 34,21 100,00
Jawa Tengah 30,67 38,29 31,05 100,00
DI Yogyakarta 0,00 0,00 100,00 100,00
Jawa Timur 45,47 37,22 17,31 100,00
Banten 21,05 53,77 25,17 100,00
Bali 58,15 6,73 35,13 100,00
Nusa Tenggara Barat 36,57 50,97 12,46 100,00
Nusa Tenggara Timur 43,93 36,98 19,09 100,00
Kalimantan Barat 48,18 33,41 18,41 100,00
Kalimantan Tengah 52,14 36,91 10,95 100,00
Kalimantan Selatan 57,91 28,50 13,59 100,00
Kalimantan Timur 38,92 37,59 23,49 100,00
Kalimantan Utara 40,53 58,20 1,27 100,00
Sulawesi Utara 34,39 26,10 39,52 100,00
Sulawesi Tengah 40,95 32,92 26,14 100,00
Sulawesi Selatan 50,72 32,42 16,86 100,00
Sulawesi Tenggara 45,46 39,47 15,08 100,00
Gorontalo 19,99 72,85 7,16 100,00
Sulawesi Barat 41,30 48,72 9,98 100,00
Maluku 19,95 67,86 12,19 100,00
Maluku Utara 38,03 43,77 18,20 100,00
Papua Barat 39,12 14,65 46,23 100,00
Papua 38,89 41,71 19,40 100,00
Indonesia 37,25 39,81 22,95 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

192 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.15. Persentase Anak Umur 10-17 Tahun yang berstatus Kawin dan Cerai Menurut Provinsi dan
Umur Perkawinan Pertama, 2018
Perkotaan + Perdesaan

Provinsi <=15 tahun 16 tahun 17 tahun Jumlah


(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 20,66 47,28 32,06 100,00
Sumatera Utara 30,60 23,64 45,76 100,00
Sumatera Barat 39,82 18,15 42,03 100,00
Riau 0,00 85,09 14,91 100,00
Jambi 36,61 57,44 5,95 100,00
Sumatera Selatan 27,41 58,18 14,41 100,00
Bengkulu 49,91 27,27 22,83 100,00
Lampung 55,74 26,70 17,56 100,00
Kep. Bangka Belitung 34,91 53,80 11,29 100,00
Kepulauan Riau 25,19 69,70 5,11 100,00
DKI Jakarta 51,36 24,39 24,25 100,00
Jawa Barat 20,00 44,86 35,14 100,00
Jawa Tengah 33,26 36,85 29,88 100,00
DI Yogyakarta 0,00 0,00 100,00 100,00
Jawa Timur 44,12 36,80 19,08 100,00
Banten 19,01 58,26 22,73 100,00
Bali 62,68 6,00 31,32 100,00
Nusa Tenggara Barat 35,26 49,89 14,84 100,00
Nusa Tenggara Timur 41,73 37,66 20,61 100,00
Kalimantan Barat 44,76 39,02 16,23 100,00
Kalimantan Tengah 50,79 35,54 13,66 100,00
Kalimantan Selatan 55,72 27,83 16,46 100,00
Kalimantan Timur 37,64 36,57 25,79 100,00
Kalimantan Utara 40,53 58,20 1,27 100,00
Sulawesi Utara 25,93 32,39 41,69 100,00
Sulawesi Tengah 40,56 34,83 24,61 100,00
Sulawesi Selatan 52,24 30,52 17,23 100,00
Sulawesi Tenggara 44,54 40,21 15,25 100,00
Gorontalo 18,44 67,19 14,38 100,00
Sulawesi Barat 35,71 46,69 17,60 100,00
Maluku 19,95 67,86 12,19 100,00
Maluku Utara 37,34 43,26 19,40 100,00
Papua Barat 46,51 15,12 38,37 100,00
Papua 41,22 38,98 19,79 100,00
Indonesia 36,62 39,92 23,46 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 193


lampiran BAB 4

Lampiran L-4.16. Angka partisipasi Anak Usia 0-6 Tahun yang Sedang Mengikuti PAUD menurut Provinsi dan
Kelompok usia, 2018
Perkotaan

Provinsi 0-2 3-4 5-6 3-6 0-6

(1) (2) (3) (4) (5) (6)


Aceh 1,23 19,26 50,49 35,10 20,76
Sumatera Utara 0,04 11,02 44,03 27,09 16,01
Sumatera Barat 0,37 8,95 55,67 32,23 18,78
Riau 0,35 10,95 46,39 29,60 16,72
Jambi 1,19 18,04 41,38 29,09 16,77
Sumatera Selatan 0,08 13,75 38,56 25,53 15,56
Bengkulu 1,25 14,31 48,10 32,22 19,50
Lampung 0,00 14,32 51,80 33,21 19,15
Kep. Bangka Belitung 0,45 18,89 61,28 41,27 24,67
Kepulauan Riau 0,13 10,77 44,83 27,03 15,75
DKI Jakarta 0,88 21,49 61,86 41,15 24,76
Jawa Barat 0,20 19,24 57,50 37,63 21,59
Jawa Tengah 1,34 37,64 68,99 53,33 31,46
DI Yogyakarta 4,55 50,53 89,08 69,59 43,73
Jawa Timur 1,11 39,19 78,48 59,26 34,91
Banten 0,53 18,94 51,28 34,91 20,58
Bali 0,30 11,30 63,24 38,12 22,40
Nusa Tenggara Barat 0,84 17,36 63,35 40,34 23,26
Nusa Tenggara Timur 1,37 19,12 53,14 35,44 21,03
Kalimantan Barat 0,00 10,73 39,67 25,69 14,65
Kalimantan Tengah 0,83 22,09 60,45 40,25 22,75
Kalimantan Selatan 1,05 25,07 67,33 47,66 27,49
Kalimantan Timur 0,12 13,71 49,70 31,28 18,01
Kalimantan Utara 0,00 8,03 45,72 25,71 14,09
Sulawesi Utara 0,29 14,13 43,00 28,82 16,26
Sulawesi Tengah 0,00 20,69 52,96 37,15 20,37
Sulawesi Selatan 0,54 13,61 49,66 31,84 17,94
Sulawesi Tenggara 0,14 22,48 43,28 33,11 19,29
Gorontalo 0,51 30,00 61,86 46,11 26,23
Sulawesi Barat 0,93 27,02 63,77 44,80 24,92
Maluku 0,00 14,88 30,24 22,79 13,44
Maluku Utara 1,63 20,02 37,94 28,95 17,08
Papua Barat 0,23 11,78 42,17 25,85 14,00
Papua 0,81 9,54 33,99 21,16 12,19
Indonesia 0,65 22,49 58,86 40,48 23,66
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

194 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.17. Angka partisipasi Anak Usia 0-6 Tahun yang Sedang Mengikuti PAUD menurut Provinsi dan
Kelompok usia, 2018
Perdesaan

Provinsi 0-2 3-4 5-6 3-6 0-6

(1) (2) (3) (4) (5) (6)


Aceh 0,57 16,68 42,54 30,22 17,06
Sumatera Utara 0,36 8,38 36,97 22,60 13,36
Sumatera Barat 0,54 10,24 47,45 28,88 17,02
Riau 0,89 13,93 45,69 29,55 17,48
Jambi 0,50 19,03 49,36 34,22 20,00
Sumatera Selatan 0,46 12,73 37,60 25,55 15,14
Bengkulu 0,21 11,31 45,44 28,74 16,70
Lampung 0,09 11,29 54,02 33,68 19,14
Kep. Bangka Belitung 0,75 11,70 50,61 30,60 18,48
Kepulauan Riau 5,31 26,20 42,82 34,71 24,79
DKI Jakarta - - - - -
Jawa Barat 0,24 13,59 57,17 35,31 20,59
Jawa Tengah 0,52 29,50 63,92 47,73 27,33
DI Yogyakarta 8,42 68,46 86,83 78,76 50,65
Jawa Timur 1,63 39,62 70,81 56,09 33,31
Banten 0,22 11,84 28,89 20,70 12,20
Bali 0,00 6,01 53,97 31,52 18,05
Nusa Tenggara Barat 1,30 26,90 52,62 40,32 23,40
Nusa Tenggara Timur 1,70 24,01 39,21 31,65 18,85
Kalimantan Barat 0,70 9,68 32,55 20,93 12,55
Kalimantan Tengah 0,62 23,42 54,46 38,53 23,12
Kalimantan Selatan 0,43 27,88 65,40 48,25 27,50
Kalimantan Timur 0,30 17,86 58,00 37,20 22,41
Kalimantan Utara 1,08 23,38 57,81 42,01 24,59
Sulawesi Utara 1,72 20,94 49,11 35,09 21,14
Sulawesi Tengah 1,36 26,89 60,73 44,30 25,39
Sulawesi Selatan 0,73 17,56 48,50 33,34 19,31
Sulawesi Tenggara 0,02 19,01 43,42 31,29 17,22
Gorontalo 2,48 42,68 63,61 52,75 31,40
Sulawesi Barat 1,69 29,06 55,64 42,79 24,82
Maluku 2,37 35,18 34,74 34,97 20,75
Maluku Utara 3,71 31,60 39,24 35,37 22,16
Papua Barat 0,87 18,25 39,98 28,48 16,62
Papua 0,94 6,16 14,98 10,35 6,83
Indonesia 0,84 20,69 51,51 36,45 21,39

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 195


lampiran BAB 4

Lampiran L-4.18. Angka partisipasi Anak Usia 0-6 Tahun yang Sedang Mengikuti PAUD menurut Provinsi dan
Kelompok usia, 2018 Laki-laki

Provinsi 0-2 3-4 5-6 3-6 0-6

(1) (2) (3) (4) (5) (6)


Aceh 0,95 16,24 42,37 29,66 17,19
Sumatera Utara 0,24 7,79 41,28 24,37 14,27
Sumatera Barat 0,29 8,45 50,14 28,86 16,58
Riau 0,36 12,42 46,37 29,66 17,09
Jambi 0,75 17,80 46,43 31,80 18,45
Sumatera Selatan 0,10 11,30 36,59 24,03 14,35
Bengkulu 0,25 12,09 48,67 31,01 18,77
Lampung 0,13 10,80 54,68 33,45 19,43
Kep. Bangka Belitung 0,67 15,73 53,21 35,71 21,39
Kepulauan Riau 1,05 12,49 47,25 27,41 16,40
DKI Jakarta 1,40 22,35 64,15 41,84 26,20
Jawa Barat 0,24 16,87 56,71 36,43 21,12
Jawa Tengah 0,89 32,46 67,38 50,54 29,77
DI Yogyakarta 4,41 56,88 84,02 69,74 42,01
Jawa Timur 1,40 38,85 74,49 57,25 33,66
Banten 0,72 13,79 43,46 28,87 17,07
Bali 0,18 9,60 62,19 36,15 21,47
Nusa Tenggara Barat 1,46 20,40 58,20 39,81 23,03
Nusa Tenggara Timur 1,38 22,64 41,62 31,97 19,20
Kalimantan Barat 0,75 9,98 33,33 21,37 12,98
Kalimantan Tengah 0,53 24,16 56,23 39,21 22,44
Kalimantan Selatan 0,40 24,92 65,33 47,23 26,98
Kalimantan Timur 0,18 15,50 50,26 32,99 18,79
Kalimantan Utara 0,83 13,44 48,54 30,51 16,74
Sulawesi Utara 0,55 17,79 46,57 32,39 18,19
Sulawesi Tengah 0,78 23,86 61,19 43,42 23,72
Sulawesi Selatan 0,59 16,53 50,84 33,98 19,55
Sulawesi Tenggara 0,12 16,96 44,56 31,12 17,69
Gorontalo 2,01 35,80 62,44 48,16 29,11
Sulawesi Barat 1,43 24,26 56,76 40,95 23,19
Maluku 1,20 28,06 33,96 30,88 18,59
Maluku Utara 3,41 26,47 38,33 32,37 20,71
Papua Barat 0,89 14,86 37,38 25,11 14,41
Papua 0,52 7,66 17,28 12,27 7,78
Indonesia 0,74 20,75 55,28 38,08 22,36

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

196 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 4

Lampiran L-4.19. Angka partisipasi Anak Usia 0-6 Tahun yang Sedang Mengikuti PAUD menurut Provinsi dan
Kelompok usia, 2018
Perempuan

Provinsi 0-2 3-4 5-6 3-6 0-6

(1) (2) (3) (4) (5) (6)


Aceh 0,57 18,89 47,72 33,98 19,24
Sumatera Utara 0,16 11,64 39,62 25,33 15,10
Sumatera Barat 0,67 10,98 51,76 31,79 19,03
Riau 0,98 13,22 45,56 29,47 17,26
Jambi 0,69 19,67 47,63 33,55 19,56
Sumatera Selatan 0,57 15,02 39,36 27,14 16,28
Bengkulu 0,81 12,47 43,88 28,71 16,48
Lampung 0,00 13,71 52,02 33,65 18,84
Kep. Bangka Belitung 0,50 15,10 60,40 36,96 22,24
Kepulauan Riau 0,32 13,58 42,21 29,00 17,58
DKI Jakarta 0,40 20,45 59,55 40,39 23,28
Jawa Barat 0,19 18,82 58,19 37,68 21,56
Jawa Tengah 0,97 35,28 65,43 50,69 29,08
DI Yogyakarta 6,87 52,57 91,86 74,02 49,02
Jawa Timur 1,31 39,95 75,11 58,29 34,68
Banten 0,14 19,98 45,17 32,45 19,09
Bali 0,23 9,70 58,27 35,86 20,50
Nusa Tenggara Barat 0,70 24,53 56,53 40,86 23,66
Nusa Tenggara Timur 1,89 23,24 42,58 32,99 19,44
Kalimantan Barat 0,19 10,04 36,54 23,64 13,50
Kalimantan Tengah 0,89 21,67 56,85 39,08 23,54
Kalimantan Selatan 1,04 28,18 67,31 48,74 28,02
Kalimantan Timur 0,18 14,86 55,06 33,69 20,26
Kalimantan Utara 0,00 14,81 53,90 34,87 20,31
Sulawesi Utara 1,51 17,60 45,76 31,79 19,35
Sulawesi Tengah 1,21 26,47 56,09 41,38 24,33
Sulawesi Selatan 0,71 15,37 46,99 31,43 17,92
Sulawesi Tenggara 0,00 23,87 42,05 32,93 18,33
Gorontalo 1,46 41,02 63,44 52,67 29,84
Sulawesi Barat 1,60 32,87 58,02 45,56 26,57
Maluku 1,80 27,07 31,84 29,51 17,34
Maluku Utara 2,87 30,97 39,55 35,18 20,91
Papua Barat 0,31 16,79 44,23 29,98 16,84
Papua 1,28 6,26 22,27 13,81 8,77
Indonesia 0,73 22,63 55,49 39,16 22,86
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 197


lampiran BAB 4

Lampiran L-4.20. Angka partisipasi Anak Usia 0-6 Tahun yang Sedang Mengikuti PAUD menurut Provinsi dan
Kelompok usia, 2018
Perkotaan + Perdesaan

Provinsi 0-2 3-4 5-6 3-6 0-6

(1) (2) (3) (4) (5) (6)


Aceh 0,77 17,51 44,99 31,76 18,19
Sumatera Utara 0,20 9,72 40,46 24,85 14,68
Sumatera Barat 0,47 9,68 50,96 30,32 17,77
Riau 0,66 12,81 45,98 29,57 17,17
Jambi 0,72 18,72 47,03 32,67 19,00
Sumatera Selatan 0,33 13,12 37,93 25,55 15,29
Bengkulu 0,55 12,28 46,34 29,89 17,62
Lampung 0,07 12,20 53,39 33,54 19,14
Kepulauan Bangka
0,59 15,40 56,55 36,32 21,80
Belitung
Kepulauan Riau 0,71 12,96 44,51 28,19 16,97
DKI Jakarta 0,88 21,49 61,86 41,15 24,76
Jawa Barat 0,21 17,82 57,42 37,03 21,33
Jawa Tengah 0,93 33,81 66,46 50,61 29,44
DI Yogyakarta 5,58 54,77 88,43 72,00 45,55
Jawa Timur 1,35 39,39 74,80 57,76 34,15
Banten 0,44 16,88 44,29 30,63 18,06
Bali 0,20 9,65 60,21 36,01 20,99
Nusa Tenggara Barat 1,09 22,46 57,37 40,33 23,34
Nusa Tenggara Timur 1,63 22,92 42,09 32,46 19,31
Kalimantan Barat 0,47 10,01 34,92 22,46 13,24
Kalimantan Tengah 0,71 22,94 56,55 39,14 22,98
Kalimantan Selatan 0,72 26,57 66,28 47,97 27,49
Kalimantan Timur 0,18 15,17 52,57 33,34 19,50
Kalimantan Utara 0,44 14,13 51,38 32,76 18,51
Sulawesi Utara 1,00 17,70 46,16 32,09 18,75
Sulawesi Tengah 0,98 25,21 58,65 42,38 24,02
Sulawesi Selatan 0,65 15,97 48,97 32,74 18,75
Sulawesi Tenggara 0,06 20,34 43,36 31,99 18,00
Gorontalo 1,73 38,14 62,94 50,29 29,47
Sulawesi Barat 1,51 28,58 57,38 43,24 24,84
Maluku 1,50 27,60 32,91 30,23 17,98
Maluku Utara 3,14 28,59 38,90 33,69 20,80
Papua Barat 0,61 15,77 40,81 27,48 15,59
Papua 0,90 6,99 19,64 13,01 8,26
Indonesia 0,74 21,67 55,38 38,61 22,60
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

198 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 4

Lampiran L-4.21. Persentase Anak Usia 0-6 Tahun yang Sedang Mengikuti PAUD terhadap Total Anak 0-6 Tahun
menurut Provinsi, 2018
Perkotaan

Tidak mengikuti
Provinsi Sedang mengikuti PAUD Jumlah
PAUD
(1) (2) (3) (4)
Aceh 20,76 79,24 100,00
Sumatera Utara 16,01 83,99 100,00
Sumatera Barat 18,78 81,22 100,00
Riau 16,72 83,28 100,00
Jambi 16,77 83,23 100,00
Sumatera Selatan 15,56 84,44 100,00
Bengkulu 19,50 80,50 100,00
Lampung 19,15 80,85 100,00
Kep. Bangka Belitung 24,67 75,33 100,00
Kepulauan Riau 15,75 84,25 100,00
DKI Jakarta 24,76 75,24 100,00
Jawa Barat 21,59 78,41 100,00
Jawa Tengah 31,46 68,54 100,00
DI Yogyakarta 43,73 56,27 100,00
Jawa Timur 34,91 65,09 100,00
Banten 20,58 79,42 100,00
Bali 22,40 77,60 100,00
Nusa Tenggara Barat 23,26 76,74 100,00
Nusa Tenggara Timur 21,03 78,97 100,00
Kalimantan Barat 14,65 85,35 100,00
Kalimantan Tengah 22,75 77,25 100,00
Kalimantan Selatan 27,49 72,51 100,00
Kalimantan Timur 18,01 81,99 100,00
Kalimantan Utara 14,09 85,91 100,00
Sulawesi Utara 16,26 83,74 100,00
Sulawesi Tengah 20,37 79,63 100,00
Sulawesi Selatan 17,94 82,06 100,00
Sulawesi Tenggara 19,29 80,71 100,00
Gorontalo 26,23 73,77 100,00
Sulawesi Barat 24,92 75,08 100,00
Maluku 13,44 86,56 100,00
Maluku Utara 17,08 82,92 100,00
Papua Barat 14,00 86,00 100,00
Papua 12,19 87,81 100,00
Indonesia 23,66 76,34 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 199


lampiran BAB 4

Lampiran L-4.22. Persentase Anak Usia 0-6 Tahun yang Sedang Mengikuti PAUD terhadap Total Anak 0-6 Tahun
menurut Provinsi, 2018
Perdesaan

Tidak mengikuti
Provinsi Sedang mengikuti PAUD Jumlah
PAUD
(1) (2) (3) (4)
Aceh 17,06 82,94 100,00
Sumatera Utara 13,36 86,64 100,00
Sumatera Barat 17,02 82,98 100,00
Riau 17,48 82,52 100,00
Jambi 20,00 80,00 100,00
Sumatera Selatan 15,14 84,86 100,00
Bengkulu 16,70 83,30 100,00
Lampung 19,14 80,86 100,00
Kep. Bangka Belitung 18,48 81,52 100,00
Kepulauan Riau 24,79 75,21 100,00
DKI Jakarta - - -
Jawa Barat 20,59 79,41 100,00
Jawa Tengah 27,33 72,67 100,00
DI Yogyakarta 50,65 49,35 100,00
Jawa Timur 33,31 66,69 100,00
Banten 12,20 87,80 100,00
Bali 18,05 81,95 100,00
Nusa Tenggara Barat 23,40 76,60 100,00
Nusa Tenggara Timur 18,85 81,15 100,00
Kalimantan Barat 12,55 87,45 100,00
Kalimantan Tengah 23,12 76,88 100,00
Kalimantan Selatan 27,50 72,50 100,00
Kalimantan Timur 22,41 77,59 100,00
Kalimantan Utara 24,59 75,41 100,00
Sulawesi Utara 21,14 78,86 100,00
Sulawesi Tengah 25,39 74,61 100,00
Sulawesi Selatan 19,31 80,69 100,00
Sulawesi Tenggara 17,22 82,78 100,00
Gorontalo 31,40 68,60 100,00
Sulawesi Barat 24,82 75,18 100,00
Maluku 20,75 79,25 100,00
Maluku Utara 22,16 77,84 100,00
Papua Barat 16,62 83,38 100,00
Papua 6,83 93,17 100,00
Indonesia 21,39 78,61 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

200 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 4

Lampiran L-4.23. Persentase Anak Usia 0-6 Tahun yang Sedang Mengikuti PAUD terhadap Total Anak 0-6 Tahun
menurut Provinsi, 2018
Laki-laki

Tidak mengikuti
Provinsi Sedang mengikuti PAUD Jumlah
PAUD
(1) (2) (3) (4)
Aceh 17,19 82,81 100,00
Sumatera Utara 14,27 85,73 100,00
Sumatera Barat 16,58 83,42 100,00
Riau 17,09 82,91 100,00
Jambi 18,45 81,55 100,00
Sumatera Selatan 14,35 85,65 100,00
Bengkulu 18,77 81,23 100,00
Lampung 19,43 80,57 100,00
Kep. Bangka Belitung 21,39 78,61 100,00
Kepulauan Riau 16,40 83,60 100,00
DKI Jakarta 26,20 73,80 100,00
Jawa Barat 21,12 78,88 100,00
Jawa Tengah 29,77 70,23 100,00
DI Yogyakarta 42,01 57,99 100,00
Jawa Timur 33,66 66,34 100,00
Banten 17,07 82,93 100,00
Bali 21,47 78,53 100,00
Nusa Tenggara Barat 23,03 76,97 100,00
Nusa Tenggara Timur 19,20 80,80 100,00
Kalimantan Barat 12,98 87,02 100,00
Kalimantan Tengah 22,44 77,56 100,00
Kalimantan Selatan 26,98 73,02 100,00
Kalimantan Timur 18,79 81,21 100,00
Kalimantan Utara 16,74 83,26 100,00
Sulawesi Utara 18,19 81,81 100,00
Sulawesi Tengah 23,72 76,28 100,00
Sulawesi Selatan 19,55 80,45 100,00
Sulawesi Tenggara 17,69 82,31 100,00
Gorontalo 29,11 70,89 100,00
Sulawesi Barat 23,19 76,81 100,00
Maluku 18,59 81,41 100,00
Maluku Utara 20,71 79,29 100,00
Papua Barat 14,41 85,59 100,00
Papua 7,78 92,22 100,00
Indonesia 22,36 77,64 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 201


lampiran BAB 4

Lampiran L-4.24. Persentase Anak Usia 0-6 Tahun yang Sedang Mengikuti PAUD terhadap Total Anak 0-6 Tahun
menurut Provinsi, 2018
Perempuan

Provinsi Sedang mengikuti PAUD Tidak mengikuti PAUD Jumlah

(1) (2) (3) (4)


Aceh 19,24 80,76 100,00
Sumatera Utara 15,10 84,90 100,00
Sumatera Barat 19,03 80,97 100,00
Riau 17,26 82,74 100,00
Jambi 19,56 80,44 100,00
Sumatera Selatan 16,28 83,72 100,00
Bengkulu 16,48 83,52 100,00
Lampung 18,84 81,16 100,00
Kep. Bangka Belitung 22,24 77,76 100,00
Kepulauan Riau 17,58 82,42 100,00
DKI Jakarta 23,28 76,72 100,00
Jawa Barat 21,56 78,44 100,00
Jawa Tengah 29,08 70,92 100,00
DI Yogyakarta 49,02 50,98 100,00
Jawa Timur 34,68 65,32 100,00
Banten 19,09 80,91 100,00
Bali 20,50 79,50 100,00
Nusa Tenggara Barat 23,66 76,34 100,00
Nusa Tenggara Timur 19,44 80,56 100,00
Kalimantan Barat 13,50 86,50 100,00
Kalimantan Tengah 23,54 76,46 100,00
Kalimantan Selatan 28,02 71,98 100,00
Kalimantan Timur 20,26 79,74 100,00
Kalimantan Utara 20,31 79,69 100,00
Sulawesi Utara 19,35 80,65 100,00
Sulawesi Tengah 24,33 75,67 100,00
Sulawesi Selatan 17,92 82,08 100,00
Sulawesi Tenggara 18,33 81,67 100,00
Gorontalo 29,84 70,16 100,00
Sulawesi Barat 26,57 73,43 100,00
Maluku 17,34 82,66 100,00
Maluku Utara 20,91 79,09 100,00
Papua Barat 16,84 83,16 100,00
Papua 8,77 91,23 100,00
Indonesia 22,86 77,14 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

202 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 4

Lampiran L-4.25. Persentase Anak Usia 0-6 Tahun yang Sedang Mengikuti PAUD terhadap Total Anak 0-6 Tahun
menurut Provinsi, 2018
Perkotaan + Perdesaan

Tidak mengikuti
Provinsi Sedang mengikuti PAUD Jumlah
PAUD
(1) (2) (3) (4)
Aceh 18,19 81,81 100,00
Sumatera Utara 14,68 85,32 100,00
Sumatera Barat 17,77 82,23 100,00
Riau 17,17 82,83 100,00
Jambi 19,00 81,00 100,00
Sumatera Selatan 15,29 84,71 100,00
Bengkulu 17,62 82,38 100,00
Lampung 19,14 80,86 100,00
Kepulauan Bangka Belitung 21,80 78,20 100,00
Kepulauan Riau 16,97 83,03 100,00
DKI Jakarta 24,76 75,24 100,00
Jawa Barat 21,33 78,67 100,00
Jawa Tengah 29,44 70,56 100,00
DI Yogyakarta 45,55 54,45 100,00
Jawa Timur 34,15 65,85 100,00
Banten 18,06 81,94 100,00
Bali 20,99 79,01 100,00
Nusa Tenggara Barat 23,34 76,66 100,00
Nusa Tenggara Timur 19,31 80,69 100,00
Kalimantan Barat 13,24 86,76 100,00
Kalimantan Tengah 22,98 77,02 100,00
Kalimantan Selatan 27,49 72,51 100,00
Kalimantan Timur 19,50 80,50 100,00
Kalimantan Utara 18,51 81,49 100,00
Sulawesi Utara 18,75 81,25 100,00
Sulawesi Tengah 24,02 75,98 100,00
Sulawesi Selatan 18,75 81,25 100,00
Sulawesi Tenggara 18,00 82,00 100,00
Gorontalo 29,47 70,53 100,00
Sulawesi Barat 24,84 75,16 100,00
Maluku 17,98 82,02 100,00
Maluku Utara 20,80 79,20 100,00
Papua Barat 15,59 84,41 100,00
Papua 8,26 91,74 100,00
Indonesia 22,60 77,40 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 203


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.26. Angka Partisipasi Anak yang bersekolah di kelas 1 SD/Sederajat yang pernah mengikuti PAUD
menurut Provinsi , 2018
Perkotaan

Provinsi Pernah mengikuti PAUD Tidak mengikuti PAUD Jumlah


(1) (2) (3) (4)

Aceh 85,49 14,51 100,00


Sumatera Utara 73,34 26,66 100,00
Sumatera Barat 73,74 26,26 100,00
Riau 84,24 15,76 100,00
Jambi 70,52 29,48 100,00
Sumatera Selatan 65,08 34,92 100,00
Bengkulu 82,77 17,23 100,00
Lampung 85,64 14,36 100,00
Kep. Bangka Belitung 88,85 11,15 100,00
Kepulauan Riau 81,44 18,56 100,00
DKI Jakarta 81,57 18,43 100,00
Jawa Barat 76,01 23,99 100,00
Jawa Tengah 89,22 10,78 100,00
DI Yogyakarta 99,39 0,61 100,00
Jawa Timur 94,54 5,46 100,00
Banten 76,34 23,66 100,00
Bali 88,82 11,18 100,00
Nusa Tenggara Barat 65,06 34,94 100,00
Nusa Tenggara Timur 58,62 41,38 100,00
Kalimantan Barat 56,47 43,53 100,00
Kalimantan Tengah 85,01 14,99 100,00
Kalimantan Selatan 89,48 10,52 100,00
Kalimantan Timur 83,37 16,63 100,00
Kalimantan Utara 74,15 25,85 100,00
Sulawesi Utara 74,24 25,76 100,00
Sulawesi Tengah 79,68 20,32 100,00
Sulawesi Selatan 72,87 27,13 100,00
Sulawesi Tenggara 84,45 15,55 100,00
Gorontalo 91,86 8,14 100,00
Sulawesi Barat 61,98 38,02 100,00
Maluku 52,54 47,46 100,00
Maluku Utara 39,98 60,02 100,00
Papua Barat 69,02 30,98 100,00
Papua 67,45 32,55 100,00
Indonesia 80,24 19,76 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

204 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.27. Angka Partisipasi Anak yang bersekolah di kelas 1 SD/Sederajat yang pernah mengikuti PAUD
menurut Provinsi , 2018 Perdesaan

Provinsi Pernah mengikuti PAUD Tidak mengikuti PAUD Jumlah

(1) (2) (3) (4)


Aceh 68,26 31,74 100,00
Sumatera Utara 56,84 43,16 100,00
Sumatera Barat 73,93 26,07 100,00
Riau 67,20 32,80 100,00
Jambi 69,26 30,74 100,00
Sumatera Selatan 61,45 38,55 100,00
Bengkulu 70,98 29,02 100,00
Lampung 82,26 17,74 100,00
Kep. Bangka Belitung 82,25 17,75 100,00
Kepulauan Riau 70,33 29,67 100,00
DKI Jakarta - - -
Jawa Barat 62,81 37,19 100,00
Jawa Tengah 89,58 10,42 100,00
DI Yogyakarta 100,00 0,00 100,00
Jawa Timur 83,38 16,62 100,00
Banten 45,03 54,97 100,00
Bali 70,26 29,74 100,00
Nusa Tenggara Barat 66,77 33,23 100,00
Nusa Tenggara Timur 51,65 48,35 100,00
Kalimantan Barat 26,72 73,28 100,00
Kalimantan Tengah 72,74 27,26 100,00
Kalimantan Selatan 86,35 13,65 100,00
Kalimantan Timur 81,79 18,21 100,00
Kalimantan Utara 79,91 20,09 100,00
Sulawesi Utara 86,16 13,84 100,00
Sulawesi Tengah 77,55 22,45 100,00
Sulawesi Selatan 65,55 34,45 100,00
Sulawesi Tenggara 74,39 25,61 100,00
Gorontalo 90,54 9,46 100,00
Sulawesi Barat 67,86 32,14 100,00
Maluku 51,14 48,86 100,00
Maluku Utara 50,35 49,65 100,00
Papua Barat 41,67 58,33 100,00
Papua 22,18 77,82 100,00
Indonesia 68,40 31,60 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 205


lampiran BAB 4

Lampiran L-4.28. Angka Partisipasi Anak yang bersekolah di kelas 1 SD/Sederajat yang pernah mengikuti PAUD
menurut Provinsi , 2018
Laki-laki

Provinsi Pernah mengikuti PAUD Tidak mengikuti PAUD Jumlah

(1) (2) (3) (4)


Aceh 71,66 28,34 100,00
Sumatera Utara 62,48 37,52 100,00
Sumatera Barat 71,35 28,65 100,00
Riau 73,70 26,30 100,00
Jambi 67,41 32,59 100,00
Sumatera Selatan 62,40 37,60 100,00
Bengkulu 75,82 24,18 100,00
Lampung 81,56 18,44 100,00
Kep. Bangka Belitung 86,52 13,48 100,00
Kepulauan Riau 80,53 19,47 100,00
DKI Jakarta 78,98 21,02 100,00
Jawa Barat 72,73 27,27 100,00
Jawa Tengah 88,26 11,74 100,00
DI Yogyakarta 99,23 0,77 100,00
Jawa Timur 88,71 11,29 100,00
Banten 61,44 38,56 100,00
Bali 79,64 20,36 100,00
Nusa Tenggara Barat 69,36 30,64 100,00
Nusa Tenggara Timur 51,01 48,99 100,00
Kalimantan Barat 38,65 61,35 100,00
Kalimantan Tengah 75,83 24,17 100,00
Kalimantan Selatan 87,71 12,29 100,00
Kalimantan Timur 80,38 19,62 100,00
Kalimantan Utara 76,38 23,62 100,00
Sulawesi Utara 84,62 15,38 100,00
Sulawesi Tengah 75,15 24,85 100,00
Sulawesi Selatan 67,60 32,40 100,00
Sulawesi Tenggara 74,25 25,75 100,00
Gorontalo 88,57 11,43 100,00
Sulawesi Barat 66,90 33,10 100,00
Maluku 50,49 49,51 100,00
Maluku Utara 45,99 54,01 100,00
Papua Barat 49,67 50,33 100,00
Papua 37,05 62,95 100,00
Indonesia 73,74 26,26 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

206 Profil Anak Indonesia 2019


lampiran BAB 4

Lampiran L-4.29. Angka Partisipasi Anak yang bersekolah di kelas 1 SD/Sederajat yang pernah mengikuti PAUD
menurut Provinsi , 2018
Perempuan

Provinsi Pernah mengikuti PAUD Tidak mengikuti PAUD Jumlah

(1) (2) (3) (4)


Aceh 75,93 24,07 100,00
Sumatera Utara 67,64 32,36 100,00
Sumatera Barat 76,66 23,34 100,00
Riau 72,77 27,23 100,00
Jambi 72,33 27,67 100,00
Sumatera Selatan 63,24 36,76 100,00
Bengkulu 73,96 26,04 100,00
Lampung 84,85 15,15 100,00
Kep. Bangka Belitung 84,01 15,99 100,00
Kepulauan Riau 79,31 20,69 100,00
DKI Jakarta 84,19 15,81 100,00
Jawa Barat 72,33 27,67 100,00
Jawa Tengah 90,58 9,42 100,00
DI Yogyakarta 100,00 0,00 100,00
Jawa Timur 89,61 10,39 100,00
Banten 68,45 31,55 100,00
Bali 84,54 15,46 100,00
Nusa Tenggara Barat 61,61 38,39 100,00
Nusa Tenggara Timur 55,19 44,81 100,00
Kalimantan Barat 32,98 67,02 100,00
Kalimantan Tengah 78,49 21,51 100,00
Kalimantan Selatan 87,48 12,52 100,00
Kalimantan Timur 85,59 14,41 100,00
Kalimantan Utara 76,62 23,38 100,00
Sulawesi Utara 75,82 24,18 100,00
Sulawesi Tengah 81,07 18,93 100,00
Sulawesi Selatan 68,92 31,08 100,00
Sulawesi Tenggara 81,33 18,67 100,00
Gorontalo 93,29 6,71 100,00
Sulawesi Barat 65,10 34,90 100,00
Maluku 52,50 47,50 100,00
Maluku Utara 49,91 50,09 100,00
Papua Barat 51,23 48,77 100,00
Papua 32,10 67,90 100,00
Indonesia 75,34 24,66 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 207


lampiran BAB 4
Lampiran L-4.30. Angka Partisipasi Anak yang bersekolah di kelas 1 SD/Sederajat yang pernah mengikuti PAUD
menurut Provinsi , 2018
Perkotaan + Perdesaan

Tidak mengikuti
Provinsi Pernah mengikuti PAUD Jumlah
PAUD
(1) (2) (3) (4)

Aceh 73,74 26,26 100,00


Sumatera Utara 65,08 34,92 100,00
Sumatera Barat 73,85 26,15 100,00
Riau 73,26 26,74 100,00
Jambi 69,64 30,36 100,00
Sumatera Selatan 62,79 37,21 100,00
Bengkulu 74,85 25,15 100,00
Lampung 83,15 16,85 100,00
Kepulauan Bangka Belitung 85,44 14,56 100,00
Kepulauan Riau 79,85 20,15 100,00
DKI Jakarta 81,57 18,43 100,00
Jawa Barat 72,54 27,46 100,00
Jawa Tengah 89,39 10,61 100,00
DI Yogyakarta 99,54 0,46 100,00
Jawa Timur 89,15 10,85 100,00
Banten 65,07 34,93 100,00
Bali 82,16 17,84 100,00
Nusa Tenggara Barat 65,92 34,08 100,00
Nusa Tenggara Timur 52,99 47,01 100,00
Kalimantan Barat 35,93 64,07 100,00
Kalimantan Tengah 77,16 22,84 100,00
Kalimantan Selatan 87,61 12,39 100,00
Kalimantan Timur 82,78 17,22 100,00
Kalimantan Utara 76,50 23,50 100,00
Sulawesi Utara 80,10 19,90 100,00
Sulawesi Tengah 78,16 21,84 100,00
Sulawesi Selatan 68,24 31,76 100,00
Sulawesi Tenggara 77,74 22,26 100,00
Gorontalo 91,00 9,00 100,00
Sulawesi Barat 65,98 34,02 100,00
Maluku 51,59 48,41 100,00
Maluku Utara 47,83 52,17 100,00
Papua Barat 50,43 49,57 100,00
Papua 34,65 65,35 100,00
Indonesia 74,51 25,49 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

208 Profil Anak Indonesia 2019


LAMPIRAN
BAB 5
Lampiran L-5.1. Persentase wanita Pernah Kawin (wPK) Usia 15-49 Tahun yang Melahirkan Hidup dalam Dua Tahun
Terakhir Menurut Provinsi, Penolong persalinan Terakhir, dan Tipe Daerah, 2018

Perkotaan

Tenaga Dukun
Provinsi Dokter Bidan Kesehatan Beranak / Lainnya Tidak Ada Jumlah
Lain Paraji
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Aceh 44,53 53,87 0,32 0,84 0,44 0,00 100,00


Sumatera Utara 44,88 53,44 0,55 0,86 0,16 0,11 100,00
Sumatera Barat 40,81 58,23 0,23 0,47 0,25 0,00 100,00
Riau 43,33 55,68 0,00 0,99 0,00 0,00 100,00
Jambi 36,63 59,75 0,36 3,26 0,00 0,00 100,00
Sumatera Selatan 44,98 52,51 0,21 2,30 0,00 0,00 100,00
Bengkulu 45,59 52,87 1,48 0,07 0,00 0,00 100,00
Lampung 24,41 72,93 0,00 2,66 0,00 0,00 100,00
Kep. Bangka Belitung 38,07 59,53 0,47 1,92 0,00 0,00 100,00
Kepulauan Riau 49,79 48,61 0,37 1,23 0,00 0,00 100,00
DKI Jakarta 52,08 47,32 0,32 0,28 0,00 0,00 100,00
Jawa Barat 34,64 60,85 0,18 4,33 0,00 0,00 100,00
Jawa Tengah 43,51 55,44 0,89 0,15 0,01 0,00 100,00
DI Yogyakarta 57,39 41,46 1,14 0,00 0,00 0,00 100,00
Jawa Timur 41,99 56,32 0,36 1,10 0,17 0,06 100,00
Banten 37,46 58,32 0,64 3,53 0,06 0,00 100,00
Bali 63,79 36,02 0,18 0,00 0,00 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 25,71 68,57 1,56 4,17 0,00 0,00 100,00
Nusa Tenggara Timur 48,90 45,31 0,33 4,75 0,72 0,00 100,00
Kalimantan Barat 36,31 57,43 0,62 5,64 0,00 0,00 100,00
Kalimantan Tengah 27,57 67,53 0,00 4,74 0,00 0,16 100,00
Kalimantan Selatan 33,51 65,03 0,77 0,70 0,00 0,00 100,00
Kalimantan Timur 42,98 53,90 0,59 2,17 0,37 0,00 100,00
Kalimantan Utara 30,88 68,98 0,00 0,00 0,14 0,00 100,00
Sulawesi Utara 60,61 32,43 0,96 6,00 0,00 0,00 100,00
Sulawesi Tengah 42,11 49,45 0,55 7,08 0,80 0,00 100,00
Sulawesi Selatan 45,58 51,12 0,91 1,79 0,28 0,31 100,00
Sulawesi Tenggara 21,43 65,96 0,30 12,03 0,28 0,00 100,00
Gorontalo 54,68 43,67 0,30 1,35 0,00 0,00 100,00
Sulawesi Barat 23,66 70,65 0,00 3,81 1,87 0,00 100,00
Maluku 29,35 52,32 1,42 16,37 0,36 0,19 100,00
Maluku Utara 46,38 46,42 0,00 5,35 0,78 1,07 100,00
Papua Barat 34,61 58,08 1,47 5,17 0,68 0,00 100,00
Papua 39,78 48,81 4,11 4,19 3,11 0,00 100,00
Indonesia 40,79 56,13 0,48 2,46 0,11 0,03 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 211


Lampiran L-5.2. Persentase wanita Pernah Kawin (wPK) Usia 15-49 Tahun yang Melahirkan Hidup dalam Dua Tahun
Terakhir Menurut Provinsi, Penolong persalinan Terakhir, dan Tipe Daerah, 2018

Perdesaan

Tenaga Dukun
Provinsi Dokter Bidan Kesehatan Beranak / Lainnya Tidak Ada Jumlah
Lain Paraji
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Aceh 28,28 68,31 0,48 2,87 0,06 0,00 100,00


Sumatera Utara 23,15 66,19 0,74 8,49 1,23 0,20 100,00
Sumatera Barat 31,30 63,17 0,49 4,91 0,13 0,00 100,00
Riau 27,89 60,31 1,14 10,42 0,14 0,10 100,00
Jambi 21,10 63,67 0,13 14,94 0,05 0,12 100,00
Sumatera Selatan 18,70 71,08 0,37 9,56 0,09 0,20 100,00
Bengkulu 24,40 68,32 1,16 5,86 0,14 0,12 100,00
Lampung 16,89 75,60 0,27 7,24 0,00 0,00 100,00
Kep. Bangka Belitung 27,29 67,56 0,90 3,84 0,41 0,00 100,00
Kepulauan Riau 33,00 58,09 0,84 8,06 0,00 0,00 100,00
DKI Jakarta - - - - - - -
Jawa Barat 17,33 67,81 0,33 14,03 0,33 0,17 100,00
Jawa Tengah 34,05 64,21 0,87 0,76 0,12 0,00 100,00
DI Yogyakarta 39,00 58,41 2,58 0,00 0,00 0,00 100,00
Jawa Timur 30,62 62,95 1,24 4,79 0,28 0,13 100,00
Banten 16,49 58,17 0,99 24,34 0,00 0,00 100,00
Bali 49,88 49,70 0,00 0,15 0,26 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 18,83 73,26 1,86 4,76 0,98 0,31 100,00
Nusa Tenggara Timur 18,13 59,40 1,25 18,07 2,80 0,35 100,00
Kalimantan Barat 14,93 63,41 0,93 20,34 0,33 0,05 100,00
Kalimantan Tengah 11,26 65,84 3,22 19,04 0,47 0,16 100,00
Kalimantan Selatan 23,32 69,16 0,49 7,03 0,00 0,00 100,00
Kalimantan Timur 34,39 58,48 1,12 5,86 0,00 0,15 100,00
Kalimantan Utara 21,35 67,79 1,27 9,59 0,00 0,00 100,00
Sulawesi Utara 40,70 47,85 0,88 10,43 0,15 0,00 100,00
Sulawesi Tengah 20,50 62,46 3,15 11,32 1,82 0,75 100,00
Sulawesi Selatan 23,37 70,36 0,78 4,70 0,56 0,23 100,00
Sulawesi Tenggara 11,82 73,39 0,42 14,28 0,09 0,00 100,00
Gorontalo 25,88 64,98 1,65 7,49 0,00 0,00 100,00
Sulawesi Barat 13,40 74,21 0,13 9,41 2,47 0,39 100,00
Maluku 7,84 42,48 0,50 48,19 0,76 0,22 100,00
Maluku Utara 10,82 57,84 0,73 29,39 0,86 0,36 100,00
Papua Barat 23,64 48,82 1,62 14,20 9,85 1,86 100,00
Papua 10,56 33,73 4,88 15,47 31,91 3,45 100,00
Indonesia 23,79 64,48 0,97 9,39 1,16 0,21 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

212 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.3. Persentase wanita Pernah Kawin (wPK) Usia 15-49 Tahun yang Melahirkan Hidup dalam Dua Tahun
Terakhir Menurut Provinsi, Penolong persalinan Terakhir, dan Tipe Daerah, 2018
Perkotaan + Perdesaan

Tenaga Dukun
Provinsi Dokter Bidan Kesehatan Beranak / Lainnya Tidak Ada Jumlah
Lain Paraji
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Aceh 33,21 63,93 0,43 2,25 0,18 0,00 100,00


Sumatera Utara 34,10 59,77 0,65 4,65 0,69 0,15 100,00
Sumatera Barat 35,42 61,03 0,37 2,99 0,19 0,00 100,00
Riau 34,39 58,36 0,66 6,45 0,08 0,06 100,00
Jambi 25,76 62,49 0,19 11,44 0,04 0,08 100,00
Sumatera Selatan 27,43 64,91 0,32 7,15 0,06 0,13 100,00
Bengkulu 31,11 63,43 1,26 4,03 0,09 0,08 100,00
Lampung 18,99 74,86 0,20 5,96 0,00 0,00 100,00
Kep. Bangka Belitung 33,36 63,04 0,66 2,76 0,18 0,00 100,00
Kepulauan Riau 47,66 49,81 0,43 2,10 0,00 0,00 100,00
DKI Jakarta 52,08 47,32 0,32 0,28 0,00 0,00 100,00
Jawa Barat 30,28 62,60 0,22 6,78 0,08 0,04 100,00
Jawa Tengah 38,77 59,84 0,88 0,45 0,06 0,00 100,00
DI Yogyakarta 53,31 45,23 1,46 0,00 0,00 0,00 100,00
Jawa Timur 36,56 59,48 0,78 2,86 0,22 0,09 100,00
Banten 31,15 58,27 0,74 9,80 0,04 0,00 100,00
Bali 59,34 40,40 0,13 0,05 0,08 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 21,85 71,20 1,73 4,50 0,55 0,18 100,00
Nusa Tenggara Timur 24,58 56,45 1,06 15,28 2,36 0,28 100,00
Kalimantan Barat 22,45 61,31 0,82 15,17 0,21 0,03 100,00
Kalimantan Tengah 17,49 66,49 1,99 13,57 0,29 0,16 100,00
Kalimantan Selatan 28,13 67,21 0,62 4,04 0,00 0,00 100,00
Kalimantan Timur 40,20 55,38 0,76 3,36 0,25 0,05 100,00
Kalimantan Utara 26,96 68,49 0,52 3,94 0,08 0,00 100,00
Sulawesi Utara 50,89 39,95 0,92 8,16 0,07 0,00 100,00
Sulawesi Tengah 25,99 59,15 2,49 10,24 1,56 0,56 100,00
Sulawesi Selatan 32,71 62,27 0,84 3,48 0,44 0,27 100,00
Sulawesi Tenggara 15,37 70,65 0,38 13,45 0,16 0,00 100,00
Gorontalo 37,50 56,38 1,11 5,01 0,00 0,00 100,00
Sulawesi Barat 15,65 73,43 0,10 8,18 2,34 0,30 100,00
Maluku 16,40 46,40 0,86 35,52 0,60 0,21 100,00
Maluku Utara 20,77 54,64 0,53 22,66 0,84 0,56 100,00
Papua Barat 28,31 52,76 1,55 10,36 5,95 1,07 100,00
Papua 18,87 38,02 4,66 12,26 23,72 2,47 100,00
Indonesia 32,92 60,00 0,70 5,67 0,60 0,11 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 213


Lampiran L-5.4. Persentase wania Pernah Kawin (wPK) Usia 15-49 Tahun yang Melahirkan Hidup dalam Dua Tahun
Terakhir Menurut Provinsi, Tempat Melahirkan, dan Tipe Daerah, 2018

Perkotaan
Rumah Puskesmas/
Bersalin/ Pustu/
Provinsi RS/RSIA Rumah Lainnya Total
Klinik/ Praktik Polindes/
Nakes Poskesdes
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Aceh 44,94 34,11 13,27 6,90 0,78 100,00


Sumatera Utara 43,51 42,02 3,23 10,82 0,43 100,00
Sumatera Barat 37,38 52,89 8,17 1,07 0,49 100,00
Riau 40,78 47,82 2,65 7,67 1,08 100,00
Jambi 38,34 42,52 4,02 14,60 0,51 100,00
Sumatera Selatan 45,35 43,05 4,79 5,72 1,09 100,00
Bengkulu 47,39 37,47 6,13 7,27 1,73 100,00
Lampung 28,91 58,57 4,31 8,22 0,00 100,00
Kep. Bangka Belitung 39,40 40,26 14,73 5,35 0,26 100,00
Kepulauan Riau 43,28 42,69 8,74 3,22 2,07 100,00
DKI Jakarta 45,98 31,44 19,77 0,58 2,23 100,00
Jawa Barat 32,73 44,19 11,59 10,59 0,90 100,00
Jawa Tengah 43,55 35,26 19,50 1,02 0,68 100,00
DI Yogyakarta 52,81 38,77 8,02 0,00 0,40 100,00
Jawa Timur 40,37 41,41 14,71 2,23 1,29 100,00
Banten 34,01 40,82 16,02 7,78 1,37 100,00
Bali 60,30 34,20 5,50 0,00 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 30,04 11,12 50,46 7,47 0,92 100,00
Nusa Tenggara Timur 52,00 12,32 26,82 8,87 0,00 100,00
Kalimantan Barat 37,15 41,27 9,68 11,90 0,00 100,00
Kalimantan Tengah 26,54 31,98 10,06 31,30 0,12 100,00
Kalimantan Selatan 40,10 42,63 5,82 11,16 0,29 100,00
Kalimantan Timur 49,18 38,73 4,40 6,48 1,21 100,00
Kalimantan Utara 48,98 22,86 21,95 6,21 0,00 100,00
Sulawesi Utara 62,57 9,80 17,74 8,70 1,20 100,00
Sulawesi Tengah 44,93 14,42 21,75 18,90 0,00 100,00
Sulawesi Selatan 52,80 21,05 19,16 5,25 1,74 100,00
Sulawesi Tenggara 28,05 16,08 12,90 41,96 1,01 100,00
Gorontalo 64,06 5,00 25,74 5,19 0,00 100,00
Sulawesi Barat 28,83 11,45 43,66 16,05 0,00 100,00
Maluku 49,82 1,24 3,23 45,41 0,31 100,00
Maluku Utara 64,44 10,90 7,78 16,88 0,00 100,00
Papua Barat 67,78 8,14 4,67 19,41 0,00 100,00
Papua 64,88 13,27 9,16 12,11 0,59 100,00
Indonesia 40,31 38,08 13,48 7,16 0,98 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

214 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.5. Persentase wanita Pernah Kawin (wPK) Usia 15-49 Tahun yang Melahirkan Hidup dalam Dua Tahun
Terakhir Menurut Provinsi, Tempat Melahirkan, dan Tipe Daerah, 2018

Perdesaan

Rumah Bersalin/ Puskesmas/


Provinsi RS/RSIA Klinik/ Praktik Pustu/ Polindes/ Rumah Lainnya Total
Nakes Poskesdes

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Aceh 30,65 30,88 21,90 15,43 1,14 100,00


Sumatera Utara 21,33 23,84 11,63 42,77 0,43 100,00
Sumatera Barat 25,92 36,67 24,05 12,69 0,66 100,00
Riau 23,89 23,56 9,25 42,15 1,15 100,00
Jambi 18,48 18,45 12,55 50,31 0,21 100,00
Sumatera Selatan 20,16 22,82 20,63 35,47 0,91 100,00
Bengkulu 26,02 11,84 13,35 48,31 0,48 100,00
Lampung 15,90 53,88 12,59 17,56 0,08 100,00
Kep. Bangka Belitung 28,50 13,43 37,94 20,14 0,00 100,00
Kepulauan Riau 28,85 23,80 23,63 23,71 0,00 100,00
DKI Jakarta - - - - - -
Jawa Barat 15,47 29,48 18,62 34,80 1,64 100,00
Jawa Tengah 33,37 30,97 30,91 3,82 0,93 100,00
DI Yogyakarta 44,18 45,67 7,28 1,52 1,35 100,00
Jawa Timur 28,57 34,37 27,68 8,12 1,26 100,00
Banten 13,60 15,38 23,86 47,16 0,00 100,00
Bali 48,53 42,77 8,29 0,41 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 25,21 8,24 54,62 11,52 0,41 100,00
Nusa Tenggara Timur 21,96 1,00 49,56 27,05 0,43 100,00
Kalimantan Barat 15,86 11,41 25,07 47,65 0,00 100,00
Kalimantan Tengah 13,55 9,57 11,63 64,57 0,69 100,00
Kalimantan Selatan 26,94 17,50 22,71 32,25 0,60 100,00
Kalimantan Timur 40,91 14,05 21,96 23,08 0,00 100,00
Kalimantan Utara 38,11 7,10 25,47 29,33 0,00 100,00
Sulawesi Utara 44,62 12,36 20,43 21,83 0,77 100,00
Sulawesi Tengah 22,54 3,94 40,41 32,90 0,21 100,00
Sulawesi Selatan 27,72 6,51 42,37 22,97 0,43 100,00
Sulawesi Tenggara 13,33 3,85 25,13 57,69 0,00 100,00
Gorontalo 23,90 4,99 52,20 18,91 0,00 100,00
Sulawesi Barat 14,30 3,38 48,22 33,14 0,96 100,00
Maluku 12,90 0,90 6,64 78,72 0,85 100,00
Maluku Utara 14,01 1,02 9,78 74,92 0,27 100,00
Papua Barat 34,51 1,62 7,66 54,65 1,56 100,00
Papua 14,84 2,98 21,70 60,03 0,46 100,00
Indonesia 23,93 23,23 24,99 27,09 0,76 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 215


Lampiran L-5.6. Persentase wanita Pernah Kawin (wPK) Usia 15-49 Tahun yang Melahirkan Hidup dalam
Dua Tahun Terakhir Menurut Provinsi, Tempat Melahirkan, dan Tipe Daerah, 2018

Perkotaan + Perdesaan
Rumah Puskesmas/
Bersalin/ Pustu/
Provinsi RS/RSIA Rumah Lainnya Total
Klinik/ Praktik Polindes/
Nakes Poskesdes
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Aceh 34,99 31,86 19,28 12,85 1,03 100,00


Sumatera Utara 32,51 33,00 7,40 26,67 0,43 100,00
Sumatera Barat 30,89 43,70 17,18 7,66 0,59 100,00
Riau 31,00 33,78 6,47 27,63 1,12 100,00
Jambi 24,45 25,68 9,99 39,59 0,30 100,00
Sumatera Selatan 28,52 29,54 15,37 25,59 0,97 100,00
Bengkulu 32,79 19,96 11,06 35,31 0,88 100,00
Lampung 19,54 55,19 10,27 14,94 0,06 100,00
Kep. Bangka Belitung 34,63 28,53 24,88 11,81 0,14 100,00
Kepulauan Riau 41,45 40,30 10,63 5,82 1,81 100,00
DKI Jakarta 45,98 31,44 19,77 0,58 2,23 100,00
Jawa Barat 28,37 40,48 13,36 16,70 1,08 100,00
Jawa Tengah 38,44 33,11 25,22 2,42 0,80 100,00
DI Yogyakarta 50,89 40,30 7,86 0,34 0,61 100,00
Jawa Timur 34,74 38,05 20,90 5,04 1,27 100,00
Banten 27,86 33,15 18,38 19,64 0,96 100,00
Bali 56,53 36,94 6,39 0,13 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 27,33 9,50 52,80 9,74 0,63 100,00
Nusa Tenggara Timur 28,25 3,37 44,79 23,24 0,34 100,00
Kalimantan Barat 23,35 21,91 19,66 35,07 0,00 100,00
Kalimantan Tengah 18,51 18,13 11,03 51,85 0,47 100,00
Kalimantan Selatan 33,16 29,38 14,73 22,28 0,45 100,00
Kalimantan Timur 46,51 30,76 10,07 11,84 0,82 100,00
Kalimantan Utara 44,52 16,38 23,39 15,71 0,00 100,00
Sulawesi Utara 53,81 11,05 19,05 15,11 0,99 100,00
Sulawesi Tengah 28,23 6,60 35,67 29,35 0,15 100,00
Sulawesi Selatan 38,27 12,62 32,61 15,52 0,98 100,00
Sulawesi Tenggara 18,76 8,36 20,62 51,89 0,37 100,00
Gorontalo 40,11 4,99 41,53 13,37 0,00 100,00
Sulawesi Barat 17,49 5,16 47,22 29,38 0,75 100,00
Maluku 27,60 1,03 5,28 65,46 0,63 100,00
Maluku Utara 28,12 3,79 9,22 58,68 0,20 100,00
Papua Barat 48,68 4,40 6,39 39,64 0,90 100,00
Papua 29,07 5,90 18,13 46,40 0,49 100,00
Indonesia 32,73 31,20 18,81 16,39 0,87 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

216 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.7. Proporsi Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan Lama IMD pada Anak Usia 0-23 Bulan, 2018

IMD Lama IMD


Provinsi
% < 1jam >= 1Jam
(1) (2) (3) (4)

Aceh 59,3 89,8 10,2


Sumatera Utara 39,9 90,7 9,3
Sumatera Barat 62,7 86,8 13,2
Riau 54,8 88,9 11,1
Jambi 62,0 90,4 9,6
Sumatera Selatan 55,5 86,3 13,7
Bengkulu 56,0 92,2 7,8
Lampung 54,3 90,1 9,9
Kepulauan Bangka Belitung 57,3 91,0 9,0
Kepulauan Riau 66,6 90,2 9,8
DKI Jakarta 74,1 79,2 20,8
Jawa Barat 61,2 82,9 17,1
Jawa Tengah 64,9 82,3 17,7
DI Yogyakarta 68,5 62,6 37,4
Jawa Timur 63,7 81,9 18,1
Banten 54,6 88,9 11,1
Bali 41,9 81,9 18,1
Nusa Tenggara Barat 57,9 75,6 24,4
Nusa Tenggara Timur 57,6 77,1 22,9
Kalimantan Barat 63,3 88,1 11,9
Kalimantan Tengah 51,1 83,9 16,1
Kalimantan Selatan 43,0 82,1 17,9
Kalimantan Timur 60,1 87,0 13,0
Kalimantan Utara 66,1 82,2 17,8
Sulawesi Utara 47,1 93,4 6,6
Sulawesi Tengah 50,9 82,8 17,2
Sulawesi Selatan 59,7 88,8 11,2
Sulawesi Tenggara 44,3 92,2 7,8
Gorontalo 57,9 88,2 11,8
Sulawesi Barat 52,8 81,6 18,4
Maluku 38,0 88,3 11,7
Maluku Utara 40,4 86,4 13,6
Papua Barat 34,3 87,6 12,4
Papua 40,5 84,8 15,2
Indonesia 58,2 84,1 15,9
Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

Profil Anak Indonesia 2019 217


Lampiran L-5.8. Proporsi pernah disusui dan masih disusui pada anak umur 0-23 bulan
menurut provinsi, 2018

Pernah Disusui Masih Disusui


Provinsi
% N Tertimbang % N Tertimbang
(1) (2) (3) (4) (5)

Aceh 90,1 925 80,6 825


Sumatera Utara 88,0 2 152 75,0 1 874
Sumatera Barat 96,0 836 83,2 794
Riau 92,2 1 075 78,9 981
Jambi 96,1 500 79,2 475
Sumatera Selatan 91,4 1 164 78,3 1 053
Bengkulu 93,2 273 81,8 252
Lampung 93,3 1 198 80,4 1 106
Kepulauan Bangka Belitung 88,5 193 71,8 169
Kepulauan Riau 92,9 324 63,2 298
DKI Jakarta 94,4 1 380 73,7 1 290
Jawa Barat 93,7 6 443 80,5 5 973
Jawa Tengah 95,5 4 188 86,7 3 958
DI Yogyakarta 98,6 405 83,8 395
Jawa Timur 93,7 4 520 76,9 4 191
Banten 92,3 1 798 76,3 1 642
Bali 95,3 487 74,6 459
Nusa Tenggara Barat 95,0 788 85,9 741
Nusa Tenggara Timur 94,6 982 77,7 920
Kalimantan Barat 93,7 761 69,9 118
Kalimantan Tengah 92,9 387 80,9 700
Kalimantan Selatan 90,8 651 81,4 348
Kalimantan Timur 91,8 540 76,6 591
Kalimantan Utara 94,0 127 70,5 503
Sulawesi Utara 86,5 315 68,6 270
Sulawesi Tengah 90,9 478 75,8 430
Sulawesi Selatan 91,4 1 333 75,3 1 206
Sulawesi Tenggara 91,1 475 73,5 428
Gorontalo 91,5 177 60,2 160
Sulawesi Barat 91,2 245 84,3 221
Maluku 86,1 317 70,8 270
Maluku Utara 87,9 196 73,1 170
Papua Barat 87,3 164 74,1 142
Papua 92,7 461 77,7 423
Total 93,0 36 259 78,8 33 376
Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

218 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.9. Proporsi pernah disusui dan masih disusui pada anak usia 0-23 bulan
menurut provinsi, 2018

Pernah Disusui Masih Disusui


Provinsi
% N Tertimbang % N Tertimbang
(1) (2) (3) (4) (5)

Kelompok Usia (bulan)


0–5 94,1 8 730 93,0 8 132
6 – 11 93,2 9 562 84,9 8 817
12 – 15 92,3 5 897 79,4 5 388
16 – 19 91,9 5 762 70,5 5 243
20 – 23 92,9 6 308 56,8 5 797
Jenis kelamin
Laki-laki 92,8 18 333 77,9 16 842
Perempuan 93,2 17 926 79,7 16 534
Pendidikan KRT
T idak/belum pernah sekolah 92,2 1 560 80,8 1 423
T idak tamat SD/MI 92,3 4 351 81,1 3 975
T amat SD/MI 92,3 9 372 82,0 8 566
T amat SLT P/MTS 93,1 6 823 79,3 6 285
T amat SLT A/MA 93,6 10 682 75,6 9 895
T amat D1/D2/D3/PT 94,1 3 471 75,8 3 233
Pekerjaan KRT
T idak bekerja 92,7 2 656 76,5 2 437
Sekolah 86,4 63 75,6 54
PNS/T NI/Polri/BUMN/BUMD 93,5 1 740 71,5 1 610
Pegawai swasta 93,6 5 136 75,0 4 758
Wiraswasta 93,0 8 034 78,1 7 394
Petani/buruh tani 92,6 9 620 82,8 8 815
Nelayan 91,8 792 80,5 720
Buruh/sopir/pembantu ruta 93,2 6 308 79,9 5 820
Lainnya 93,5 1 910 77,9 1 768
Tempat tinggal
Perkotaan 93,1 19 266 76,0 17 759
Perdesaan 92,9 16 993 82,0 15 617

Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

Profil Anak Indonesia 2019 219


Lampiran L-5.10. Proporsi Jenis Imunisasi Dasar pada Anak Usia 12-23 Bulan
menurut Provinsi, 2018

DPT-HB/ DPT-HB/ DPT-HB/ Polio1-4


N
Provinsi HB-0 BCG DPT-HB- DPT-HB- DPT-HB- atau Campak
Tertimbang
Hib 1 Hib 2 Hib 3 IPV 1-3
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Aceh 53,9 50,7 26,9 24,9 22,0 25,9 37,9 464
Sumatera Utara 62,7 75,8 44,3 43,1 39,2 47,1 65,4 1 068
Sumatera Barat 76,2 81,2 53,7 51,4 45,4 50,5 63,9 419
Riau 74,8 79,6 40,7 39,3 36,7 45,8 68,6 528
Jambi 84,7 86,3 63,7 62,9 60,5 69,0 80,3 268
Sumatera Selatan 79,7 85,8 54,1 53,3 51,1 59,7 78,4 607
Bengkulu 81,1 88,1 68,2 68,4 67,6 72,6 85,1 137
Lampung 84,9 90,7 72,0 71,2 70,1 79,4 83,0 602
Kep. Bangka Belitung 88,9 87,7 73,5 72,4 72,0 80,4 81,9 103
Kepulauan Riau 92,7 89,6 79,7 76,0 74,9 77,9 80,0 185
DKI Jakarta 97,2 97,4 77,9 76,9 72,9 78,4 82,1 688
Jawa Barat 86,7 89,7 66,7 65,3 61,9 67,8 78,1 3 184
Jawa Tengah 94,3 94,8 80,3 79,2 77,1 82,6 86,6 2 003
DI Yogyakarta 97,8 99,2 91,0 91,0 91,0 86,9 96,9 228
Jawa Timur 92,1 92,4 75,2 73,7 72,0 76,8 82,8 2 293
Banten 76,6 79,7 58,4 54,8 52,6 57,0 63,8 875
Bali 99,5 98,0 90,8 90,8 90,6 96,0 94,4 237
Nusa Tenggara Barat 90,7 94,0 71,0 71,1 69,2 78,2 87,9 393
Nusa Tenggara Timur 78,6 86,8 49,7 48,5 46,8 65,5 82,5 493
Kalimantan Barat 71,2 77,6 68,2 66,5 61,9 60,3 68,1 388
Kalimantan Tengah 68,4 76,0 60,1 57,9 54,2 56,4 67,0 198
Kalimantan Selatan 86,8 88,7 73,2 70,9 68,6 76,1 81,0 338
Kalimantan Timur 87,1 92,2 75,0 72,8 71,6 80,9 84,1 302
Kalimantan Utara 90,3 93,9 78,2 77,2 75,2 84,8 85,4 63
Sulawesi Utara 81,2 91,9 64,0 62,7 61,8 71,3 84,1 154
Sulawesi Tengah 74,3 80,7 60,0 56,2 53,3 61,2 75,7 250
Sulawesi Selatan 86,5 86,9 67,2 65,8 63,7 69,8 79,8 660
Sulawesi Tenggara 68,1 84,5 54,6 53,6 49,8 59,8 80,2 223
Gorontalo 87,1 91,4 69,2 66,9 66,3 72,8 81,3 93
Sulawesi Barat 78,7 82,6 65,6 63,9 56,9 64,2 75,3 124
Maluku 52,1 75,8 46,3 45,4 42,8 51,9 68,9 165
Maluku Utara 68,9 75,8 54,6 52,0 48,8 50,2 66,0 106
Papua Barat 68,7 75,6 55,0 52,4 50,7 55,3 73,0 83
Papua 42,0 62,5 37,0 36,0 34,0 39,7 60,7 245
Indonesia 83,1 86,9 65,4 63,9 61,3 67,6 77,3 18 165
Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

220 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.11. Proporsi Imunisasi Dasar Lengkap pada Anak Usia 12-23 Bulan
menurut Provinsi, 2018

Lengkap Tidak Lengkap Tidak N


Provinsi
(%) (%) Imunisasi (%) Tertimbang

(1) (2) (3) (4) (5)


Aceh 19,5 39,6 40,9 464
Sumatera Utara 32,7 48,5 18,8 1 068
Sumatera Barat 38,7 48,1 13,2 419
Riau 34,4 51,3 14,3 528
Jambi 62,6 26,8 10,6 268
Sumatera Selatan 48,3 42,4 9,3 607
Bengkulu 62,6 28,1 9,3 137
Lampung 67,3 25,8 6,9 602
Kepulauan Bangka Belitung 75,2 16,7 8,1 103
Kepulauan Riau 71,2 23,3 5,4 185
DKI Jakarta 68,0 30,4 1,5 688
Jawa Barat 58,3 35,3 6,5 3 184
Jawa Tengah 75,0 22,3 2,7 2 003
DI Yogyakarta 83,7 16,3 0,0 228
Jawa Timur 69,2 26,3 4,6 2 293
Banten 47,0 37,4 15,6 875
Bali 92,1 7,4 0,5 237
Nusa Tenggara Barat 70,8 24,8 4,5 393
Nusa Tenggara Timur 51,6 40,5 7,9 493
Kalimantan Barat 48,0 35,4 16,6 388
Kalimantan Tengah 47,5 34,2 18,3 198
Kalimantan Selatan 68,7 24,3 6,9 338
Kalimantan Timur 73,6 19,9 6,4 302
Kalimantan Utara 73,3 22,2 4,5 63
Sulawesi Utara 56,9 37,1 6,0 154
Sulawesi Tengah 47,9 39,9 12,3 250
Sulawesi Selatan 60,8 31,7 7,4 660
Sulawesi Tenggara 45,6 43,0 11,4 223
Gorontalo 61,6 33,7 4,7 93
Sulawesi Barat 50,2 39,6 10,2 124
Maluku 33,1 49,5 17,4 165
Maluku Utara 38,1 43,8 18,1 106
Papua Barat 47,6 34,1 18,3 83
Papua 29,2 37,6 33,2 245
Indonesia 57,9 32,9 9,2 18 165
Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018

Profil Anak Indonesia 2019 221


Lampiran L-5.12. Persentase wanita pernah kawin (WPK) usia 15-49 tahun menurut Berat Badan
baduta Waktu Dilahirkan, Provinsi dan Tipe Daerah, 2018

Perkotaan
Berat Badan Baduta Ketika Dilahirkan
Provinsi Tidak Total
< 2,5 Kg ≥ 2,5 Kg Tidak Tahu
Ditimbang
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 16,12 82,87 0,65 0,36 100,00
Sumatera Utara 10,75 87,82 0,59 0,85 100,00
Sumatera Barat 9,06 88,89 0,33 1,72 100,00
Riau 12,99 85,78 0,80 0,43 100,00
Jambi 10,85 80,82 4,54 3,78 100,00
Sumatera Selatan 11,01 86,90 0,72 1,37 100,00
Bengkulu 6,78 91,96 0,15 1,11 100,00
Lampung 10,08 87,80 0,79 1,34 100,00
Kep. Bangka Belitung 8,47 89,74 1,38 0,41 100,00
Kepulauan Riau 7,57 91,75 0,49 0,19 100,00
DKI Jakarta 12,64 85,80 0,56 1,00 100,00
Jawa Barat 14,43 83,37 1,07 1,13 100,00
Jawa Tengah 9,08 90,02 0,39 0,51 100,00
DI Yogyakarta 12,19 86,58 0,49 0,74 100,00
Jawa Timur 11,95 85,40 1,22 1,43 100,00
Banten 15,69 81,52 1,57 1,22 100,00
Bali 10,29 89,16 0,18 0,38 100,00
Nusa Tenggara Barat 18,46 79,61 0,79 1,14 100,00
Nusa Tenggara Timur 12,11 80,11 4,72 3,06 100,00
Kalimantan Barat 15,31 82,17 1,05 1,47 100,00
Kalimantan Tengah 10,15 86,17 1,08 2,59 100,00
Kalimantan Selatan 14,21 85,52 0,27 0,00 100,00
Kalimantan Timur 13,94 83,94 0,44 1,69 100,00
Kalimantan Utara 14,00 84,27 0,00 1,73 100,00
Sulawesi Utara 13,89 81,48 1,74 2,89 100,00
Sulawesi Tengah 11,66 80,70 2,59 5,05 100,00
Sulawesi Selatan 14,65 80,26 2,66 2,43 100,00
Sulawesi Tenggara 15,33 80,74 3,53 0,41 100,00
Gorontalo 11,14 88,12 0,00 0,74 100,00
Sulawesi Barat 27,00 73,00 0,00 0,00 100,00
Maluku 14,94 71,08 12,90 1,09 100,00
Maluku Utara 15,11 77,43 3,96 3,50 100,00
Papua Barat 6,11 87,80 1,70 4,39 100,00
Papua 22,66 66,71 3,22 7,40 100,00
Indonesia 12,84 84,83 1,11 1,22 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

222 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.13. Persentase wanita pernah kawin (WPK) usia 15-49 tahun menurut Berat Badan
baduta Waktu Dilahirkan, Provinsi dan Tipe Daerah, 2018

Perdesaan
Berat Badan Baduta Ketika Dilahirkan
Provinsi Tidak Total
< 2,5 Kg ≥ 2,5 Kg Tidak Tahu
Ditimbang
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 13,10 80,62 3,19 3,10 100,00
Sumatera Utara 10,88 77,16 8,89 3,07 100,00
Sumatera Barat 11,01 85,71 1,23 2,04 100,00
Riau 11,70 83,13 3,08 2,09 100,00
Jambi 9,78 82,81 4,48 2,94 100,00
Sumatera Selatan 13,44 81,40 2,91 2,25 100,00
Bengkulu 9,51 85,59 3,03 1,88 100,00
Lampung 10,19 86,92 1,86 1,02 100,00
Kep. Bangka Belitung 13,06 86,50 0,45 0,00 100,00
Kepulauan Riau 14,76 84,07 0,62 0,56 100,00
DKI Jakarta - - - - -
Jawa Barat 14,94 80,97 2,81 1,28 100,00
Jawa Tengah 11,31 88,13 0,16 0,39 100,00
DI Yogyakarta 12,81 87,19 0,00 0,00 100,00
Jawa Timur 13,32 81,62 2,51 2,55 100,00
Banten 18,37 66,07 8,62 6,94 100,00
Bali 12,59 87,41 0,00 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 14,86 79,70 3,59 1,84 100,00
Nusa Tenggara Timur 15,96 65,84 14,27 3,93 100,00
Kalimantan Barat 15,80 73,99 7,23 2,99 100,00
Kalimantan Tengah 11,99 79,70 5,99 2,33 100,00
Kalimantan Selatan 9,29 88,96 1,75 0,00 100,00
Kalimantan Timur 20,18 77,96 0,94 0,92 100,00
Kalimantan Utara 19,43 75,83 0,01 4,73 100,00
Sulawesi Utara 13,97 81,19 3,47 1,37 100,00
Sulawesi Tengah 16,26 73,06 6,54 4,14 100,00
Sulawesi Selatan 14,32 80,26 4,26 1,16 100,00
Sulawesi Tenggara 16,21 70,34 10,01 3,45 100,00
Gorontalo 14,29 79,14 4,90 1,67 100,00
Sulawesi Barat 15,15 72,49 9,09 3,28 100,00
Maluku 11,61 48,03 30,38 9,98 100,00
Maluku Utara 17,72 54,59 20,03 7,66 100,00
Papua Barat 15,30 62,69 14,63 7,38 100,00
Papua 8,47 33,80 34,92 22,81 100,00
Indonesia 13,18 79,01 5,09 2,72 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 223


Lampiran L-5.14. Persentase wanita pernah kawin (WPK) usia 15-49 tahun menurut Berat Badan
baduta Waktu Dilahirkan, Provinsi dan Tipe Daerah, 2018

Perkotaan + Perdesaan
Berat Badan Baduta Ketika Dilahirkan
Provinsi Tidak Total
< 2,5 Kg ≥ 2,5 Kg Tidak Tahu
Ditimbang
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 14,01 81,30 2,42 2,27 100,00
Sumatera Utara 10,81 82,53 4,71 1,95 100,00
Sumatera Barat 10,17 87,09 0,84 1,90 100,00
Riau 12,24 84,24 2,12 1,39 100,00
Jambi 10,10 82,21 4,50 3,19 100,00
Sumatera Selatan 12,63 83,23 2,18 1,96 100,00
Bengkulu 8,64 87,60 2,12 1,63 100,00
Lampung 10,16 87,17 1,56 1,11 100,00
Kep. Bangka Belitung 10,48 88,32 0,97 0,23 100,00
Kepulauan Riau 8,48 90,77 0,51 0,24 100,00
DKI Jakarta 12,64 85,80 0,56 1,00 100,00
Jawa Barat 14,56 82,76 1,51 1,17 100,00
Jawa Tengah 10,20 89,07 0,27 0,45 100,00
DI Yogyakarta 12,33 86,72 0,38 0,57 100,00
Jawa Timur 12,61 83,60 1,84 1,96 100,00
Banten 16,50 76,87 3,69 2,94 100,00
Bali 11,02 88,60 0,12 0,26 100,00
Nusa Tenggara Barat 16,44 79,66 2,36 1,54 100,00
Nusa Tenggara Timur 15,16 68,83 12,27 3,75 100,00
Kalimantan Barat 15,63 76,87 5,05 2,45 100,00
Kalimantan Tengah 11,28 82,17 4,12 2,43 100,00
Kalimantan Selatan 11,61 87,34 1,05 0,00 100,00
Kalimantan Timur 15,95 82,01 0,60 1,44 100,00
Kalimantan Utara 16,23 80,80 0,00 2,96 100,00
Sulawesi Utara 13,93 81,34 2,58 2,15 100,00
Sulawesi Tengah 15,10 75,00 5,54 4,37 100,00
Sulawesi Selatan 14,46 80,26 3,58 1,69 100,00
Sulawesi Tenggara 15,88 74,18 7,62 2,32 100,00
Gorontalo 13,02 82,77 2,92 1,29 100,00
Sulawesi Barat 17,75 72,60 7,09 2,56 100,00
Maluku 12,93 57,20 23,42 6,44 100,00
Maluku Utara 16,99 60,98 15,53 6,50 100,00
Papua Barat 11,39 73,38 9,13 6,10 100,00
Papua 12,51 43,16 25,90 18,42 100,00
Indonesia 13,00 82,14 2,95 1,91 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

224 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.15. Prevalensi Status Gizi (BB/U) padA anak usia 0-59 bulan (Balita)
menurut provinsi, 2018
Status Gizi BB/U
N
Provinsi Gizi Buruk Gizi Kurang Gizi Baik Gizi Lebih
Tertimbang
% % % %
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Aceh 6,7 16,8 73,6 2,9 2 148
Sumatera Utara 5,4 14,3 76,3 4,0 5 774
Sumatera Barat 3,5 15,4 79,5 1,6 2 144
Riau 4,3 14,0 78,1 3,5 2 756
Jambi 3,8 11,9 80,0 4,2 1 238
Sumatera Selatan 4,9 12,3 78,6 4,2 3 002
Bengkulu 2,8 10,4 82,3 4,5 696
Lampung 3,1 12,8 81,2 2,8 3 052
Kep. Bangka Belitung 3,4 13,6 78,7 4,3 520
Kepulauan Riau 3,2 9,8 82,6 4,4 846
DKI Jakarta 2,3 12,0 80,9 4,8 3 498
Jawa Barat 2,6 10,6 84,3 2,5 16 715
Jawa Tengah 3,1 13,7 80,6 2,7 10 260
DI Yogyakarta 2,5 13,0 82,3 2,2 1 045
Jawa Timur 3,3 13,4 79,8 3,4 11 075
Banten 3,6 12,6 79,9 3,9 4 699
Bali 2,0 11,1 83,8 3,1 1 258
Nusa Tenggara Barat 5,9 20,5 71,5 2,1 1 965
Nusa Tenggara Timur 7,3 22,2 69,3 1,1 2 486
Kalimantan Barat 5,2 18,6 73,1 3,0 1 884
Kalimantan Tengah 5,5 16,3 74,1 4,1 981
Kalimantan Selatan 5,5 19,0 73,0 2,5 1 516
Kalimantan Timur 3,2 11,5 80,8 4,5 1 319
Kalimantan Utara 2,4 14,4 80,3 2,9 305
Sulawesi Utara 4,2 11,2 81,6 2,9 801
Sulawesi Tengah 4,8 18,6 74,7 1,8 1 136
Sulawesi Selatan 4,6 18,4 74,2 2,9 3 190
Sulawesi Tenggara 5,6 16,4 76,2 1,8 1 153
Gorontalo 6,8 19,3 69,1 4,7 435
Sulawesi Barat 6,3 18,4 74,1 1,2 566
Maluku 7,4 17,5 72,4 2,7 764
Maluku Utara 5,6 16,6 74,8 3,0 520
Papua Barat 5,1 14,1 77,5 3,2 401
Papua 5,1 11,4 76,0 7,4 1 214
INDONESIA 3,9 13,8 79,2 3,1 91 365
Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), 2018
Catatan:
Gizi Buruk : Zscore < -3,0
Gizi Kurang : Zscore ≥ -3,0 s/d Zscore < -2,0
Gizi Baik : Zscore ≥ -2,0 s/d Zscore ≤ 2,0
Gizi Lebih : Zscore > 2,0

Profil Anak Indonesia 2019 225


Lampiran L-5.16. Prevalensi Status Gizi (TB/U) padA anak usia 0-59 bulan (Balita)
menurut provinsi, 2018
Status Gizi TB/U
N
Provinsi Sangat Pendek Pendek Normal
Tertimbang
% % %
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 16,0 21,1 62,9 2 006
Sumatera Utara 13,2 19,2 67,6 5 470
Sumatera Barat 9,6 20,3 70,1 2 093
Riau 10,3 17,1 72,6 2 695
Jambi 13,4 16,8 69,9 1 165
Sumatera Selatan 14,4 17,2 68,3 2 839
Bengkulu 9,8 18,2 72,0 660
Lampung 9,6 17,7 72,7 2 962
Kep. Bangka Belitung 7,3 16,1 76,6 511
Kepulauan Riau 8,5 15,1 76,4 812
DKI Jakarta 6,1 11,5 82,4 3 315
Jawa Barat 11,7 19,4 68,9 15 965
Jawa Tengah 11,2 20,1 68,8 9 839
DI Yogyakarta 6,3 15,1 78,6 1 029
Jawa Timur 12,9 19,9 67,2 10 704
Banten 9,6 17,0 73,4 4 536
Bali 5,6 16,3 78,2 1 246
Nusa Tenggara Barat 9,2 24,3 66,5 1 914
Nusa Tenggara Timur 16,0 26,7 57,4 2 437
Kalimantan Barat 11,4 21,9 66,7 1 816
Kalimantan Tengah 12,7 21,3 66,0 936
Kalimantan Selatan 12,0 21,1 66,9 1 474
Kalimantan Timur 10,2 19,0 70,8 1 251
Kalimantan Utara 6,8 20,1 73,1 299
Sulawesi Utara 9,8 15,7 74,5 776
Sulawesi Tengah 11,9 20,4 67,7 1 110
Sulawesi Selatan 12,5 23,2 64,3 3 064
Sulawesi Tenggara 10,1 18,6 71,3 1 129
Gorontalo 12,7 19,8 67,5 426
Sulawesi Barat 16,2 25,4 58,4 544
Maluku 12,5 21,5 66,0 722
Maluku Utara 11,0 20,4 68,6 504
Papua Barat 11,7 16,1 72,3 379
Papua 15,3 17,8 66,9 1 110
Indonesia 11,5 19,3 69,2 87 737
Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), 2018
Catatan:
Sangat Pendek : Zscore < -3,0
Pendek : Zscore ≥ -3,0 s/d Zscore < -2,0
Normal : Zscore ≥ -2,0

226 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.17. Prevalensi Status Gizi (TB/U) padA anak usia 0-59 bulan (Balita)
menurut karakteristik, 2018
Status Gizi TB/U
N
Karakteristik Sangat Pendek Pendek Normal
Tertimbang
% % %
(1) (2) (3) (4) (5)
Kelompok usia (bln)
0-5 11,7 11,4 76,8 8 380
6-11 9,2 12,3 78,6 9 155
12-23 15,3 22,4 62,3 17 130
24-35 13,5 22,1 64,5 17 946
36-47 10,7 20,9 68,4 17 955
48-59 7,7 19,2 73,1 18 110
Jenis Kelamin
Laki-laki 12,1 19,6 68,2 45 138
Perempuan 10,8 18,9 70,0 43 538
Pendidikan KRT
Tidak sekolah 14,2 21,5 64,3 3 619
Tidak Tamat SD/MI 13,5 21,6 64,9 10 557
Tamat SD/MI 13,3 22,4 64,3 22 841
Tamat SLTP/MTS 11,9 20,4 67,7 16 791
Tamat SLTA/MA 9,5 16,4 74,1 26 470
Tamat D1-D3/PT 8,2 14,2 77,6 8 399
Pekerjaan KRT
Tidak bekerja 10,9 16,7 72,3 5 798
Sekolah 11,9 18,2 70,0 137
PNS/TNI/Polri/BUMN/BUMD 8,0 15,4 76,6 4 087
Pegawai swasta 8,7 15,8 75,5 12 301
Wiraswasta 11,0 18,2 70,8 19 614
Petani/buruh tani 14,1 22,1 63,8 22 639
Nelayan 14,8 22,7 62,5 1 737
Buruh/Supir/pembantu rumah
11,7 21,3 67,0 15 379
tangga
Lainnya 10,3 18,4 71,3 4 331
Tempat Tinggal
Perkotaan 9,9 17,4 72,8 47 711
Perdesaan 13,4 21,5 65,0 40 965
Sumber: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), 2018
Catatan:
Sangat Pendek : Zscore < -3,0
Pendek : Zscore ≥ -3,0 s/d Zscore < -2,0
Normal : Zscore ≥ -2,0

Profil Anak Indonesia 2019 227


Lampiran L-5.18. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Mengalami Keluhan Kesehatan
Menurut Provinsi, Tipe Daerah, dan Jenis Kelamin, 2018
Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan
Provinsi
L P L+P L P L+P L P L+P
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Aceh 30,40 32,81 31,58 33,96 32,43 33,21 32,88 32,55 32,72
Sumatera Utara 27,31 25,95 26,64 23,30 23,08 23,19 25,29 24,51 24,91
Sumatera Barat 27,69 31,26 29,44 27,55 28,00 27,77 27,61 29,39 28,48
Riau 32,62 31,06 31,86 29,08 28,33 28,71 30,47 29,40 29,95
Jambi 23,95 21,85 22,92 20,91 20,35 20,63 21,87 20,81 21,35
Sumatera Selatan 32,24 35,10 33,64 23,98 23,70 23,84 26,96 27,86 27,40
Bengkulu 26,31 26,73 26,52 26,71 28,41 27,54 26,58 27,85 27,20
Lampung 31,89 29,26 30,59 29,74 29,97 29,85 30,35 29,76 30,06
Kep. Bangka Belitung 31,49 34,94 33,19 26,57 27,36 26,96 29,18 31,40 30,27
Kepulauan Riau 26,01 26,93 26,47 16,90 22,43 19,57 24,66 26,29 25,46
DKI Jakarta 33,34 34,75 34,03 - - - 33,34 34,75 34,03
Jawa Barat 32,53 31,67 32,11 32,21 32,72 32,46 32,44 31,94 32,20
Jawa Tengah 37,82 36,69 37,27 32,99 34,48 33,71 35,46 35,61 35,53
DI Yogyakarta 41,02 36,97 39,05 39,90 34,75 37,36 40,72 36,37 38,59
Jawa Timur 36,86 36,08 36,48 36,99 34,58 35,82 36,93 35,37 36,17
Banten 35,18 33,97 34,59 33,53 36,70 35,05 34,66 34,81 34,73
Bali 32,26 32,63 32,44 36,02 35,10 35,57 33,55 33,49 33,52
Nusa Tenggara Barat 37,85 36,09 36,99 34,18 34,68 34,43 35,85 35,33 35,60
Nusa Tenggara Timur 39,08 39,05 39,06 37,80 36,48 37,15 38,07 37,02 37,55
Kalimantan Barat 30,81 30,22 30,51 27,74 27,08 27,42 28,73 28,12 28,43
Kalimantan Tengah 29,47 27,35 28,42 28,34 28,55 28,44 28,77 28,09 28,43
Kalimantan Selatan 32,71 33,51 33,10 32,02 33,11 32,56 32,34 33,29 32,80
Kalimantan Timur 31,49 32,59 32,03 25,30 24,27 24,80 29,37 29,76 29,56
Kalimantan Utara 28,57 31,31 29,92 31,25 34,08 32,62 29,74 32,49 31,08
Sulawesi Utara 27,43 26,25 26,85 28,70 29,61 29,14 28,09 27,95 28,02
Sulawesi Tengah 31,65 32,10 31,88 28,42 29,23 28,81 29,27 30,03 29,64
Sulawesi Selatan 29,91 30,96 30,42 25,87 24,12 25,01 27,52 26,91 27,22
Sulawesi Tenggara 25,47 25,32 25,39 25,48 26,65 26,05 25,48 26,16 25,81
Gorontalo 34,07 31,58 32,84 35,54 31,04 33,35 35,00 31,24 33,16
Sulawesi Barat 30,96 27,73 29,37 25,28 23,25 24,29 26,60 24,31 25,48
Maluku 21,38 21,82 21,59 19,31 18,36 18,84 20,10 19,70 19,91
Maluku Utara 20,42 19,13 19,79 17,79 18,18 17,98 18,47 18,43 18,45
Papua Barat 22,81 29,25 25,95 20,96 22,36 21,64 21,69 25,07 23,33
Papua 25,33 23,81 24,59 16,00 16,61 16,29 18,32 18,47 18,39
Indonesia 33,13 32,64 32,89 30,19 30,01 30,10 31,75 31,41 31,59
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

228 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.19. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Sakit (Terganggu Pekerjaan/Sekolah/
Kegiatan Sehari-hari) Menurut Provinsi, Tipe Daerah, dan Jenis Kelamin, 2018
Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan
Provinsi
L P L+P L P L+P L P L+P
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Aceh 16,43 16,87 16,64 18,34 17,05 17,71 17,76 16,99 17,39
Sumatera Utara 12,62 11,46 12,05 11,27 11,58 11,42 11,94 11,52 11,73
Sumatera Barat 13,57 13,91 13,74 15,26 15,07 15,17 14,54 14,58 14,56
Riau 13,19 14,18 13,67 13,88 14,02 13,95 13,61 14,08 13,84
Jambi 10,78 8,86 9,84 10,93 10,80 10,87 10,88 10,20 10,55
Sumatera Selatan 9,83 11,31 10,55 9,71 10,01 9,85 9,75 10,48 10,11
Bengkulu 12,46 11,47 11,97 12,26 14,92 13,56 12,33 13,78 13,04
Lampung 16,55 15,62 16,09 15,43 14,99 15,22 15,75 15,17 15,47
Kep. Bangka Belitung 12,13 16,11 14,09 12,40 13,41 12,89 12,26 14,85 13,53
Kepulauan Riau 11,17 11,43 11,30 9,12 11,64 10,34 10,87 11,46 11,16
DKI Jakarta 13,68 14,06 13,86 - - - 13,68 14,06 13,86
Jawa Barat 16,43 16,24 16,34 18,38 18,30 18,34 16,94 16,78 16,86
Jawa Tengah 18,34 17,85 18,10 17,28 17,44 17,36 17,82 17,65 17,74
DI Yogyakarta 17,44 15,81 16,64 22,26 20,97 21,63 18,73 17,21 17,99
Jawa Timur 18,59 17,24 17,93 19,16 18,18 18,68 18,86 17,69 18,28
Banten 15,72 17,06 16,37 18,73 20,82 19,73 16,66 18,21 17,41
Bali 16,79 16,19 16,50 22,00 17,68 19,89 18,58 16,71 17,67
Nusa Tenggara Barat 20,35 19,12 19,75 19,36 19,59 19,47 19,81 19,38 19,60
Nusa Tenggara Timur 18,44 17,33 17,90 21,73 21,49 21,61 21,03 20,62 20,83
Kalimantan Barat 16,88 15,44 16,16 13,78 13,02 13,41 14,78 13,83 14,31
Kalimantan Tengah 13,38 13,12 13,25 14,36 14,00 14,18 13,99 13,66 13,83
Kalimantan Selatan 10,10 12,27 11,15 13,13 13,92 13,51 11,74 13,16 12,44
Kalimantan Timur 13,77 13,56 13,67 11,02 11,14 11,08 12,83 12,73 12,78
Kalimantan Utara 13,09 11,63 12,38 13,44 15,26 14,32 13,24 13,18 13,21
Sulawesi Utara 14,35 15,24 14,79 15,18 15,79 15,47 14,78 15,52 15,14
Sulawesi Tengah 17,23 19,82 18,53 18,49 18,96 18,72 18,16 19,20 18,67
Sulawesi Selatan 17,18 16,01 16,61 15,50 13,89 14,71 16,19 14,75 15,49
Sulawesi Tenggara 16,31 15,25 15,80 16,54 17,12 16,82 16,45 16,43 16,44
Gorontalo 21,35 18,65 20,02 21,33 18,68 20,05 21,34 18,67 20,03
Sulawesi Barat 18,01 15,30 16,67 13,40 14,72 14,04 14,47 14,86 14,66
Maluku 9,87 12,03 10,93 12,88 11,87 12,39 11,72 11,93 11,83
Maluku Utara 15,56 13,80 14,70 12,10 11,92 12,01 13,00 12,41 12,71
Papua Barat 13,89 17,55 15,67 10,42 12,65 11,50 11,78 14,58 13,14
Papua 11,49 13,66 12,55 8,73 8,89 8,81 9,42 10,12 9,76
Indonesia 15,93 15,68 15,80 16,06 15,91 15,99 15,99 15,79 15,89
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 229


Lampiran L-5.20. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Mengalami Keluhan Kesehatan dan Berobat Jalan dalam
Sebulan Terakhir Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2018
Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan
Provinsi
L P L+P L P L+P L P L+P
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Aceh 58,92 54,51 56,68 67,62 68,71 68,14 65,18 64,37 64,79
Sumatera Utara 51,53 52,50 51,99 47,34 49,54 48,42 49,59 51,11 50,32
Sumatera Barat 60,91 59,30 60,07 66,60 65,62 66,11 64,16 62,76 63,45
Riau 47,54 49,44 48,45 37,70 36,38 37,06 41,85 41,81 41,83
Jambi 44,87 40,85 43,00 40,06 38,57 39,34 41,72 39,32 40,57
Sumatera Selatan 39,96 39,82 39,89 44,80 44,75 44,78 42,71 42,48 42,60
Bengkulu 44,16 45,63 44,89 40,16 45,33 42,76 41,44 45,42 43,44
Lampung 56,97 56,81 56,89 52,43 52,86 52,64 53,79 54,01 53,90
Kep. Bangka Belitung 56,27 59,88 58,14 54,72 54,24 54,48 55,61 57,58 56,61
Kepulauan Riau 42,97 49,43 46,22 70,87 59,12 64,39 45,82 50,61 48,25
DKI Jakarta 60,08 61,03 60,55 - - - 60,08 61,03 60,55
Jawa Barat 58,04 57,11 57,59 53,98 52,43 53,22 56,99 55,87 56,45
Jawa Tengah 59,13 57,08 58,15 61,79 58,47 60,14 60,34 57,73 59,07
DI Yogyakarta 53,45 49,81 51,77 69,78 61,14 65,83 57,74 52,76 55,45
Jawa Timur 53,05 53,29 53,16 58,65 57,30 58,01 55,71 55,14 55,44
Banten 53,58 55,40 54,46 46,58 45,36 45,97 51,46 52,16 51,80
Bali 64,10 65,76 64,91 70,36 71,97 71,14 66,40 68,01 67,19
Nusa Tenggara Barat 49,91 52,00 50,91 47,46 47,03 47,25 48,64 49,35 48,99
Nusa Tenggara Timur 45,57 42,64 44,14 54,24 57,04 55,60 52,35 53,87 53,09
Kalimantan Barat 52,78 49,49 51,15 45,78 40,85 43,41 48,20 43,94 46,13
Kalimantan Tengah 35,75 36,99 36,34 36,27 35,50 35,89 36,07 36,06 36,06
Kalimantan Selatan 31,46 37,99 34,68 37,95 39,72 38,83 34,95 38,92 36,92
Kalimantan Timur 52,54 54,35 53,44 51,32 58,74 54,87 52,18 55,57 53,85
Kalimantan Utara 56,57 44,96 50,60 45,93 45,50 45,71 51,71 45,20 48,39
Sulawesi Utara 55,69 54,22 54,98 53,38 56,27 54,79 54,47 55,31 54,88
Sulawesi Tengah 40,60 40,63 40,62 42,70 43,67 43,18 42,10 42,78 42,43
Sulawesi Selatan 46,80 47,82 47,31 49,38 51,54 50,40 48,23 49,80 48,99
Sulawesi Tenggara 40,20 36,69 38,51 48,35 51,61 49,98 45,32 46,32 45,81
Gorontalo 62,93 64,06 63,46 49,42 49,37 49,40 54,27 54,95 54,58
Sulawesi Barat 58,43 53,21 56,00 57,47 58,32 57,86 57,73 56,94 57,36
Maluku 35,73 41,34 38,51 47,19 47,91 47,53 42,50 45,08 43,75
Maluku Utara 55,27 54,27 54,80 48,96 47,38 48,19 50,77 49,26 50,04
Papua Barat 57,07 56,89 56,97 59,47 55,64 57,55 58,48 56,22 57,30
Papua 58,24 65,62 61,74 52,45 57,66 54,99 54,44 60,31 57,27
Indonesia 54,56 54,39 54,48 53,52 52,96 53,25 54,09 53,75 53,93
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

230 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.21. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Mempunyai Keluhan Kesehatan dan Berobat Jalan dalam
Sebulan Terakhir Menurut Provinsi, Tempat Berobat Jalan, dan Tipe Daerah, 2018
Perkotaan
Klinik/
Praktek
RS RS praktek Puskesmas/ Pengobatan
Provinsi dokter/ UKBM Lainnya
pemerintah swasta dokter Pustu Tradisional
Bidan
bersama
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Aceh 9,00 3,22 29,83 18,54 39,64 6,77 0,93 1,10
Sumatera Utara 2,53 6,15 50,16 18,99 22,05 0,61 1,41 0,35
Sumatera Barat 5,94 6,97 45,47 14,35 29,56 1,09 1,73 0,49
Riau 6,41 12,56 29,87 29,86 21,52 0,85 1,41 0,59
Jambi 5,76 5,08 31,24 20,42 40,18 0,92 0,00 0,18
Sumatera Selatan 4,95 8,79 35,41 12,88 38,65 1,34 0,28 0,19
Bengkulu 4,93 4,86 37,59 15,43 35,53 2,02 1,69 0,39
Lampung 2,19 7,17 46,25 10,55 34,81 3,26 1,03 0,53
Kep. Bangka Belitung 7,68 11,18 34,56 18,13 30,88 0,70 0,16 0,26
Kepulauan Riau 7,72 9,94 20,39 29,98 31,73 0,87 1,54 2,26
DKI Jakarta 7,37 10,51 9,03 29,66 44,75 2,35 0,36 1,49
Jawa Barat 3,68 10,34 27,88 24,30 35,16 1,65 0,65 0,61
Jawa Tengah 2,83 5,06 46,03 18,45 29,39 2,17 0,29 0,15
DI Yogyakarta 3,24 16,39 34,24 17,20 31,70 1,65 0,74 0,54
Jawa Timur 3,96 8,64 45,88 16,99 24,38 3,11 0,78 0,47
Banten 1,70 8,93 30,12 33,49 27,84 0,50 1,66 0,36
Bali 4,91 6,92 52,23 18,40 21,56 0,09 0,32 0,08
Nusa Tenggara Barat 5,94 1,03 31,35 11,98 50,22 3,02 3,15 1,05
Nusa Tenggara Timur 6,31 5,62 22,54 12,00 53,36 0,83 0,00 0,00
Kalimantan Barat 5,51 4,83 32,35 15,87 40,39 1,54 0,53 1,00
Kalimantan Tengah 12,10 4,82 37,07 10,11 38,50 0,00 0,00 0,83
Kalimantan Selatan 5,71 3,11 36,46 14,82 38,85 1,27 0,72 0,84
Kalimantan Timur 6,69 10,72 21,66 23,48 38,97 0,24 0,50 0,14
Kalimantan Utara 11,05 0,73 26,54 20,12 46,86 0,67 0,72 0,00
Sulawesi Utara 6,00 5,86 32,46 15,87 40,00 1,66 0,03 0,53
Sulawesi Tengah 8,82 2,77 22,91 8,13 57,29 1,77 0,58 0,00
Sulawesi Selatan 9,51 6,81 17,12 17,81 48,94 1,35 0,32 0,43
Sulawesi Tenggara 4,21 1,62 28,24 11,03 54,02 0,53 2,47 0,29
Gorontalo 9,57 0,25 15,96 15,52 60,75 1,15 1,19 0,88
Sulawesi Barat 3,71 0,34 34,12 4,32 56,57 2,19 0,31 6,08
Maluku 3,11 5,95 20,97 8,63 58,45 0,63 3,53 0,11
Maluku Utara 15,29 0,94 31,13 17,98 33,16 2,13 0,00 0,23
Papua Barat 11,05 7,02 14,12 7,59 60,56 1,37 0,00 0,00
Papua 17,83 2,63 11,15 16,63 54,45 0,55 0,66 0,25
Indonesia 4,47 8,20 33,68 21,26 33,49 1,82 0,78 0,56
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 231


Lampiran L-5.22. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Mempunyai Keluhan Kesehatan dan Berobat Jalan dalam
Sebulan Terakhir Menurut Provinsi, Tempat Berobat Jalan, dan Tipe Daerah, 2018

Perdesaan
Klinik/
Praktek
RS RS praktek Puskesmas/ Pengobatan
Provinsi dokter/ UKBM Lainnya
pemerintah swasta dokter Pustu Tradisional
Bidan
bersama
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Aceh 6,89 1,09 33,68 8,53 52,19 5,31 2,42 0,97
Sumatera Utara 2,51 2,63 59,77 6,25 23,79 6,52 2,03 1,04
Sumatera Barat 3,94 0,82 52,28 5,22 33,22 5,57 3,27 0,50
Riau 3,60 4,15 50,11 11,26 28,04 4,31 2,31 1,37
Jambi 2,93 1,04 51,56 6,36 30,92 5,59 2,22 3,51
Sumatera Selatan 2,66 0,50 60,72 4,81 27,93 5,85 3,13 0,71
Bengkulu 2,68 0,45 67,08 7,06 24,64 1,37 1,00 0,15
Lampung 1,22 1,46 64,80 7,12 25,43 2,00 0,44 0,64
Kep. Bangka Belitung 4,38 2,04 50,22 7,31 34,29 11,92 2,46 1,13
Kepulauan Riau 1,90 0,00 24,03 3,50 63,52 7,34 3,18 0,00
DKI Jakarta - - - - - - - -
Jawa Barat 3,45 1,33 49,91 13,13 32,65 3,56 0,68 0,64
Jawa Tengah 2,58 2,81 58,29 9,03 25,70 3,91 0,79 0,70
DI Yogyakarta 7,22 5,25 43,31 9,74 36,93 0,00 0,54 0,40
Jawa Timur 2,19 2,31 59,61 7,21 24,55 6,50 1,06 0,74
Banten 1,46 1,57 37,75 16,48 43,42 2,45 0,44 2,34
Bali 2,45 1,99 60,14 6,55 31,24 0,47 0,51 0,20
Nusa Tenggara Barat 3,09 0,43 33,48 9,84 51,06 6,04 2,12 1,41
Nusa Tenggara Timur 2,61 2,01 8,52 4,74 74,44 9,83 0,54 0,09
Kalimantan Barat 1,98 2,34 37,91 5,51 43,24 11,70 3,22 0,32
Kalimantan Tengah 6,99 0,00 30,49 7,16 52,09 4,88 1,73 0,53
Kalimantan Selatan 4,39 0,60 42,54 6,13 39,97 7,55 2,03 0,58
Kalimantan Timur 5,62 1,79 25,50 14,92 49,68 3,36 0,36 0,00
Kalimantan Utara 8,15 0,00 15,89 5,67 74,61 0,10 0,52 0,00
Sulawesi Utara 4,30 2,48 42,18 7,29 43,50 1,23 2,57 1,21
Sulawesi Tengah 4,86 0,33 27,03 2,06 54,92 10,29 2,02 0,80
Sulawesi Selatan 3,69 0,69 23,73 6,15 62,70 4,29 1,54 1,42
Sulawesi Tenggara 2,82 0,45 29,15 4,64 55,43 3,75 5,34 0,98
Gorontalo 2,42 0,00 34,11 8,26 55,63 1,90 1,73 0,62
Sulawesi Barat 1,25 0,35 15,95 2,49 76,56 4,92 0,36 1,79
Maluku 4,32 1,80 17,44 2,21 67,27 5,78 1,24 2,32
Maluku Utara 7,80 0,49 11,93 2,37 66,94 10,58 1,90 1,25
Papua Barat 8,90 3,07 11,68 5,28 71,31 0,64 1,81 0,22
Papua 14,18 2,36 3,71 4,08 74,96 2,44 0,65 0,90
Indonesia 3,23 1,84 46,78 8,07 37,45 5,12 1,37 0,83
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

232 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.23. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Mempunyai Keluhan Kesehatan dan Berobat Jalan dalam
Sebulan Terakhir Menurut Provinsi, Tempat Berobat Jalan, dan Tipe Daerah, 2018
Perkotaan+Perdesaan
Klinik/
Praktek
RS RS praktek Puskesmas/ Pengobatan
Provinsi dokter/ UKBM Lainnya
pemerintah swasta dokter Pustu Tradisional
Bidan
bersama
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
Aceh 7,43 1,63 32,69 11,10 48,98 5,68 2,04 1,01
Sumatera Utara 2,52 4,57 54,48 13,27 22,83 3,27 1,69 0,66
Sumatera Barat 4,77 3,38 49,44 9,03 31,69 3,70 2,63 0,49
Riau 4,96 8,23 40,29 20,28 24,88 2,63 1,87 0,99
Jambi 3,93 2,48 44,33 11,37 34,22 3,93 1,43 2,33
Sumatera Selatan 3,62 3,96 50,15 8,18 32,41 3,97 1,94 0,49
Bengkulu 3,42 1,90 57,38 9,81 28,22 1,58 1,23 0,23
Lampung 1,52 3,24 59,01 8,19 28,36 2,39 0,62 0,61
Kep. Bangka Belitung 6,35 7,51 40,85 13,78 32,25 5,21 1,08 0,61
Kepulauan Riau 6,85 8,45 20,93 26,03 36,47 1,83 1,78 1,92
DKI Jakarta 7,37 10,51 9,03 29,66 44,75 2,35 0,36 1,49
Jawa Barat 3,63 8,12 33,31 21,55 34,54 2,12 0,66 0,62
Jawa Tengah 2,71 4,00 51,81 14,01 27,65 2,99 0,53 0,41
DI Yogyakarta 4,48 12,93 37,06 14,88 33,33 1,14 0,68 0,50
Jawa Timur 3,09 5,53 52,63 12,18 24,46 4,77 0,92 0,61
Banten 1,64 6,88 32,24 28,76 32,17 1,04 1,32 0,91
Bali 3,96 5,01 55,29 13,82 25,31 0,24 0,39 0,12
Nusa Tenggara Barat 4,50 0,73 32,43 10,90 50,64 4,55 2,62 1,24
Nusa Tenggara Timur 3,28 2,67 11,07 6,06 70,60 8,19 0,44 0,07
Kalimantan Barat 3,35 3,31 35,75 9,55 42,13 7,74 2,17 0,59
Kalimantan Tengah 8,95 1,84 33,00 8,29 46,89 3,01 1,07 0,64
Kalimantan Selatan 4,97 1,69 39,91 9,89 39,48 4,83 1,47 0,69
Kalimantan Timur 6,38 8,11 22,78 20,98 42,10 1,15 0,46 0,10
Kalimantan Utara 9,81 0,42 21,99 13,95 58,71 0,43 0,64 0,00
Sulawesi Utara 5,09 4,07 37,61 11,32 41,85 1,43 1,38 0,89
Sulawesi Tengah 5,96 1,01 25,88 3,75 55,58 7,92 1,62 0,57
Sulawesi Selatan 6,25 3,38 20,82 11,29 56,64 3,00 1,00 0,98
Sulawesi Tenggara 3,25 0,80 28,87 6,60 55,00 2,76 4,46 0,77
Gorontalo 5,48 0,11 26,33 11,37 57,83 1,58 1,50 0,73
Sulawesi Barat 1,90 0,35 20,74 2,98 71,29 4,20 0,35 2,92
Maluku 3,87 3,33 18,74 4,58 64,01 3,88 2,09 1,50
Maluku Utara 10,10 0,63 17,83 7,17 56,55 7,98 1,32 0,94
Papua Barat 9,83 4,79 12,74 6,28 66,64 0,95 1,02 0,12
Papua 15,51 2,46 6,42 8,66 67,48 1,75 0,65 0,66
Indonesia 3,92 5,40 39,46 15,45 35,23 3,28 1,04 0,68
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 233


Lampiran L-5.24. Persentase Anak Usia 0-17 Tahun yang Mengalami Keluhan Kesehatan Namun Tidak berobat
Jalan dalam Sebulan Terakhir Menurut Provinsi, Alasan Tidak berobat Jalan, dan Tipe Daerah, 2018
Perkotaan

Tidak Waktu
Tidak Tidak ada Tidak Merasa
punya tunggu Mengobati
Provinsi ada biaya sarana ada yang tidak Lainnya
biaya pelayanan sendiri
transport transportasi mendampingi perlu
berobat lama

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)


Aceh 0,00 0,00 0,00 1,22 65,93 0,00 0,00 0,00
Sumatera Utara 1,86 0,04 0,00 0,47 65,47 0,00 0,00 0,00
Sumatera Barat 1,19 0,04 0,00 0,75 50,84 0,00 0,00 0,00
Riau 0,84 0,00 0,00 1,83 66,41 0,00 0,00 0,00
Jambi 0,68 0,00 0,00 0,00 63,62 0,00 0,00 0,00
Sumatera Selatan 1,20 0,04 0,00 0,23 68,76 0,00 0,00 0,00
Bengkulu 3,83 0,00 0,00 0,00 66,53 0,00 0,00 0,00
Lampung 0,66 0,03 0,00 0,00 67,73 0,00 0,00 0,00
Kep. Bangka Belitung 0,00 0,00 0,15 0,60 81,96 0,18 0,18 0,18
Kepulauan Riau 3,09 0,00 0,00 0,90 51,16 0,00 0,00 0,00
DKI Jakarta 0,58 0,00 0,20 0,48 61,47 0,00 0,00 0,00
Jawa Barat 1,95 0,73 0,08 0,23 69,29 0,17 0,17 0,17
Jawa Tengah 1,42 0,05 0,00 0,51 69,43 0,07 0,07 0,07
DI Yogyakarta 0,00 0,00 0,00 1,14 74,76 0,00 0,00 0,00
Jawa Timur 0,61 0,05 0,00 0,84 70,66 0,04 0,04 0,04
Banten 1,57 0,46 0,00 0,72 64,18 0,24 0,24 0,24
Bali 0,78 0,00 0,00 1,80 63,81 0,00 0,00 0,00
Nusa Tenggara Barat 1,26 0,00 0,00 0,16 67,73 0,00 0,00 0,00
Nusa Tenggara Timur 0,08 0,11 0,00 0,29 77,18 0,25 0,25 0,25
Kalimantan Barat 1,91 0,00 0,00 0,00 70,07 0,00 0,00 0,00
Kalimantan Tengah 0,72 0,00 0,66 0,38 80,40 0,00 0,00 0,00
Kalimantan Selatan 0,49 0,48 0,13 1,64 78,67 0,00 0,00 0,00
Kalimantan Timur 0,22 0,46 0,00 1,51 66,31 0,00 0,00 0,00
Kalimantan Utara 0,26 0,00 0,00 1,53 73,79 0,00 0,00 0,00
Sulawesi Utara 1,08 0,25 0,00 0,00 57,23 0,00 0,00 0,00
Sulawesi Tengah 1,37 0,10 0,05 0,59 71,36 0,00 0,00 0,00
Sulawesi Selatan 0,64 0,67 0,00 0,13 66,98 0,41 0,41 0,41
Sulawesi Tenggara 5,88 0,00 0,00 0,11 59,15 0,00 0,00 0,00
Gorontalo 0,00 1,29 0,00 0,00 83,14 0,00 0,00 0,00
Sulawesi Barat 0,00 0,00 0,00 1,16 67,65 0,00 0,00 0,00
Maluku 1,13 0,11 0,00 1,55 65,38 0,30 0,30 0,30
Maluku Utara 0,17 0,00 0,00 0,00 70,79 0,00 0,00 0,00
Papua Barat 1,01 0,00 0,00 2,68 66,49 0,38 0,38 0,38
Papua 1,59 0,96 0,00 0,69 65,78 0,46 0,46 0,46
Indonesia 1,27 0,27 0,04 0,58 68,01 0,09 0,09 0,09
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

234 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.25. Persentase Anak Usia 0-17 Tahun yang Mengalami Keluhan Kesehatan Namun Tidak berobat Jalan
dalam Sebulan Terakhir Menurut Provinsi, Alasan Tidak berobat Jalan, dan Tipe Daerah, 2018
Perdesaan

Tidak Waktu
Tidak Tidak ada Tidak Merasa
punya tunggu Mengobati
Provinsi ada biaya sarana ada yang tidak Lainnya
biaya pelayanan sendiri
transport transportasi mendampingi perlu
berobat lama

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)


Aceh 0,14 0,79 0,26 0,76 64,72 0,09 0,09 0,09
Sumatera Utara 4,61 0,70 0,17 0,30 63,78 0,07 0,07 0,07
Sumatera Barat 3,02 1,15 0,65 0,00 42,30 0,00 0,00 0,00
Riau 1,92 0,00 0,65 0,36 58,39 0,12 0,12 0,12
Jambi 2,90 0,32 0,00 0,13 61,15 0,19 0,19 0,19
Sumatera Selatan 0,49 0,18 0,12 0,25 76,92 0,16 0,16 0,16
Bengkulu 1,82 0,33 0,00 0,00 66,55 0,09 0,09 0,09
Lampung 2,74 0,22 0,16 0,00 67,19 0,00 0,00 0,00
Kep. Bangka Belitung 0,82 0,00 0,65 0,42 68,34 0,19 0,19 0,19
Kepulauan Riau 0,81 0,00 0,00 0,00 68,31 0,00 0,00 0,00
DKI Jakarta - - - - - - - -
Jawa Barat 3,68 0,53 0,00 0,67 62,32 0,00 0,00 0,00
Jawa Tengah 0,49 0,10 0,04 0,52 67,20 0,04 0,04 0,04
DI Yogyakarta 0,00 0,00 0,00 0,00 59,43 0,00 0,00 0,00
Jawa Timur 1,17 0,17 0,08 0,47 71,92 0,12 0,12 0,12
Banten 4,17 0,22 0,00 0,52 57,04 0,00 0,00 0,00
Bali 1,14 0,00 0,00 0,00 71,11 0,51 0,51 0,51
Nusa Tenggara Barat 1,76 0,87 0,16 0,46 63,20 0,34 0,34 0,34
Nusa Tenggara Timur 3,41 3,49 0,36 1,04 65,71 0,13 0,13 0,13
Kalimantan Barat 4,07 0,27 0,61 0,13 59,59 0,23 0,23 0,23
Kalimantan Tengah 2,04 0,02 0,86 0,00 69,27 0,21 0,21 0,21
Kalimantan Selatan 0,48 0,29 0,31 0,75 81,72 0,00 0,00 0,00
Kalimantan Timur 3,02 0,05 0,21 0,00 64,59 0,00 0,00 0,00
Kalimantan Utara 1,70 0,00 1,09 0,00 63,01 0,00 0,00 0,00
Sulawesi Utara 2,89 0,55 0,05 0,17 59,88 0,13 0,13 0,13
Sulawesi Tengah 2,28 0,65 0,38 0,09 71,11 0,29 0,29 0,29
Sulawesi Selatan 1,35 0,79 0,44 0,39 61,17 0,12 0,12 0,12
Sulawesi Tenggara 2,85 0,77 0,14 0,00 73,11 0,14 0,14 0,14
Gorontalo 0,77 0,06 0,00 0,00 87,91 0,00 0,00 0,00
Sulawesi Barat 1,57 0,24 0,12 0,62 53,33 0,00 0,00 0,00
Maluku 3,66 0,63 1,22 0,30 70,30 0,09 0,09 0,09
Maluku Utara 1,53 0,00 0,57 0,00 72,43 0,00 0,00 0,00
Papua Barat 0,81 0,27 0,39 0,12 66,01 0,82 0,82 0,82
Papua 0,80 1,18 1,75 0,74 45,00 0,32 0,32 0,32
Indonesia 2,15 0,52 0,23 0,42 65,67 0,10 0,10 0,10
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 235


Lampiran L-5.26. Persentase Anak Usia 0-17 Tahun yang Mengalami Keluhan Kesehatan Namun Tidak berobat
Jalan dalam Sebulan Terakhir Menurut Provinsi, Alasan Tidak berobat Jalan, dan Tipe Daerah, 2018
Perkotaan+Perdesaan

Tidak Waktu
Tidak Tidak ada Tidak Merasa
punya tunggu Mengobati
Provinsi ada biaya sarana ada yang tidak Lainnya
biaya pelayanan sendiri
transport transportasi mendampingi perlu
berobat lama

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)


Aceh 0,09 0,50 0,17 0,92 65,15 0,06 0,06 0,06
Sumatera Utara 3,19 0,36 0,08 0,39 64,65 0,03 0,03 0,03
Sumatera Barat 2,14 0,62 0,33 0,36 46,41 0,00 0,00 0,00
Riau 1,52 0,00 0,41 0,91 61,37 0,08 0,08 0,08
Jambi 2,18 0,22 0,00 0,09 61,95 0,13 0,13 0,13
Sumatera Selatan 0,82 0,11 0,06 0,24 73,11 0,08 0,08 0,08
Bengkulu 2,44 0,23 0,00 0,00 66,55 0,06 0,06 0,06
Lampung 2,17 0,17 0,12 0,00 67,34 0,00 0,00 0,00
Kep. Bangka Belitung 0,36 0,00 0,37 0,52 76,00 0,18 0,18 0,18
Kepulauan Riau 2,91 0,00 0,00 0,83 52,48 0,00 0,00 0,00
DKI Jakarta 0,58 0,00 0,20 0,48 61,47 0,00 0,00 0,00
Jawa Barat 2,43 0,67 0,06 0,35 67,33 0,13 0,13 0,13
Jawa Tengah 1,00 0,07 0,02 0,52 68,42 0,05 0,05 0,05
DI Yogyakarta 0,00 0,00 0,00 0,91 71,68 0,00 0,00 0,00
Jawa Timur 0,85 0,10 0,03 0,68 71,21 0,08 0,08 0,08
Banten 2,48 0,38 0,00 0,65 61,67 0,16 0,16 0,16
Bali 0,89 0,00 0,00 1,22 66,16 0,16 0,16 0,16
Nusa Tenggara Barat 1,53 0,47 0,09 0,32 65,27 0,18 0,18 0,18
Nusa Tenggara Timur 2,54 2,61 0,26 0,84 68,70 0,16 0,16 0,16
Kalimantan Barat 3,38 0,19 0,41 0,09 62,92 0,15 0,15 0,15
Kalimantan Tengah 1,54 0,01 0,78 0,14 73,48 0,13 0,13 0,13
Kalimantan Selatan 0,48 0,38 0,22 1,17 80,27 0,00 0,00 0,00
Kalimantan Timur 1,00 0,35 0,06 1,09 65,83 0,00 0,00 0,00
Kalimantan Utara 0,94 0,00 0,52 0,80 68,67 0,00 0,00 0,00
Sulawesi Utara 2,04 0,41 0,03 0,09 58,64 0,07 0,07 0,07
Sulawesi Tengah 2,01 0,49 0,28 0,24 71,18 0,20 0,20 0,20
Sulawesi Selatan 1,02 0,73 0,23 0,27 63,91 0,26 0,26 0,26
Sulawesi Tenggara 4,10 0,45 0,08 0,04 67,35 0,08 0,08 0,08
Gorontalo 0,54 0,43 0,00 0,00 86,50 0,00 0,00 0,00
Sulawesi Barat 1,13 0,17 0,09 0,77 57,32 0,00 0,00 0,00
Maluku 2,50 0,39 0,66 0,87 68,04 0,19 0,19 0,19
Maluku Utara 1,18 0,00 0,43 0,00 72,02 0,00 0,00 0,00
Papua Barat 0,90 0,15 0,22 1,25 66,22 0,63 0,63 0,63
Papua 1,04 1,11 1,22 0,72 51,30 0,36 0,36 0,36
Indonesia 1,67 0,38 0,12 0,50 66,95 0,10 0,10 0,10
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

236 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.27. Persentase Anak Usia 0-17 tahun Menurut Provinsi,
Jaminan Kesehatan yang Dimiliki, dan Tipe Daerah, 2018
Perkotaan
BPJS BPJS Asuransi
Perusahaan/ Tidak
Provinsi Kesehatan Kesehatan Jamkesda Kesehatan
kantor Punya
PBI Non-PBI Swasta
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 60,49 24,63 5,92 0,36 1,45 9,13
Sumatera Utara 20,85 20,32 4,65 1,04 5,85 49,39
Sumatera Barat 23,22 31,81 11,62 1,10 2,55 33,34
Riau 14,75 25,64 20,41 1,36 5,54 39,53
Jambi 20,46 27,76 3,02 1,20 4,86 43,16
Sumatera Selatan 18,06 24,59 41,21 1,55 3,71 19,12
Bengkulu 20,92 37,43 1,59 1,21 2,13 37,69
Lampung 22,80 18,88 26,58 0,89 4,07 35,41
Kep. Bangka Belitung 21,48 39,50 5,15 0,96 1,68 31,85
Kepulauan Riau 17,23 30,90 3,89 1,39 10,65 38,09
DKI Jakarta 49,05 26,36 0,90 3,80 5,94 16,91
Jawa Barat 21,34 23,45 9,59 2,08 7,10 41,04
Jawa Tengah 27,08 22,46 13,59 1,03 3,67 37,92
DI Yogyakarta 30,79 32,35 14,40 1,92 4,10 26,93
Jawa Timur 17,79 22,49 14,07 1,57 5,17 43,25
Banten 17,48 31,13 9,01 2,73 7,36 38,99
Bali 20,99 29,68 11,99 3,21 4,00 38,48
Nusa Tenggara Barat 29,16 14,98 16,53 0,73 1,80 45,29
Nusa Tenggara Timur 21,65 25,79 7,03 0,40 1,49 44,72
Kalimantan Barat 15,34 25,56 2,52 2,03 4,05 52,08
Kalimantan Tengah 14,73 31,27 12,47 1,02 1,06 40,79
Kalimantan Selatan 14,55 27,49 20,12 0,73 5,49 34,33
Kalimantan Timur 13,74 49,36 3,06 2,74 10,25 25,89
Kalimantan Utara 18,76 49,47 4,17 1,91 4,04 25,43
Sulawesi Utara 27,91 31,16 1,94 1,07 3,71 35,37
Sulawesi Tengah 21,80 34,97 4,31 0,72 0,92 38,91
Sulawesi Selatan 32,32 31,26 3,00 1,18 2,58 31,21
Sulawesi Tenggara 22,05 27,32 4,70 0,81 1,47 44,17
Gorontalo 46,52 22,81 0,66 0,65 0,84 28,96
Sulawesi Barat 41,08 23,45 56,44 0,44 0,82 11,63
Maluku 23,09 24,08 2,78 0,42 0,12 49,92
Maluku Utara 14,74 33,92 11,01 0,31 0,74 41,08
Papua Barat 33,84 19,01 6,16 0,56 3,85 39,62
Papua 28,58 22,21 18,95 0,41 1,88 31,46
Indonesia 23,91 25,35 10,71 1,74 5,30 37,58
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 237


Lampiran L-5.28. Persentase Anak Usia 0-17 tahun Menurut Provinsi,
Jaminan Kesehatan yang Dimiliki, dan Tipe Daerah, 2018
Perdesaan
BPJS BPJS Asuransi
Perusahaan/ Tidak
Provinsi Kesehatan Kesehatan Jamkesda Kesehatan
kantor Punya
PBI Non-PBI Swasta
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 70,64 8,73 10,71 0,01 0,69 13,17
Sumatera Utara 28,17 10,01 4,43 0,25 1,68 56,92
Sumatera Barat 29,94 12,10 18,69 0,16 0,77 41,26
Riau 19,25 11,46 13,20 0,50 3,46 54,52
Jambi 17,43 13,94 6,09 0,16 1,21 62,73
Sumatera Selatan 16,51 6,81 69,70 0,33 1,30 15,41
Bengkulu 25,74 15,89 1,41 0,01 1,47 55,58
Lampung 25,75 8,84 8,68 0,16 1,01 58,38
Kep. Bangka Belitung 21,85 17,12 18,96 0,46 0,85 42,73
Kepulauan Riau 31,38 17,40 15,72 0,31 0,43 36,56
DKI Jakarta - - - - - -
Jawa Barat 27,02 7,77 6,29 0,20 1,52 58,70
Jawa Tengah 33,51 9,70 13,00 0,33 1,24 45,00
DI Yogyakarta 52,63 9,42 29,49 0,33 1,43 24,11
Jawa Timur 25,16 7,16 21,18 0,34 1,07 49,26
Banten 25,71 7,83 1,93 0,26 1,49 63,49
Bali 33,63 11,28 6,04 1,32 1,03 49,79
Nusa Tenggara Barat 33,90 6,47 3,60 0,02 0,30 57,72
Nusa Tenggara Timur 41,71 4,13 9,01 0,09 0,09 45,96
Kalimantan Barat 20,39 10,73 4,49 0,41 2,43 63,36
Kalimantan Tengah 16,61 14,11 15,35 0,40 4,02 51,22
Kalimantan Selatan 17,03 11,42 32,46 0,07 2,46 39,95
Kalimantan Timur 23,13 23,58 2,66 0,46 5,42 45,80
Kalimantan Utara 36,97 23,27 12,62 0,20 1,98 29,52
Sulawesi Utara 35,93 14,72 3,73 0,12 1,18 45,54
Sulawesi Tengah 34,77 9,41 5,61 0,31 0,53 50,17
Sulawesi Selatan 45,24 9,88 5,29 0,25 0,82 39,26
Sulawesi Tenggara 36,29 9,25 11,13 0,03 0,32 43,35
Gorontalo 52,42 6,19 1,00 0,25 0,19 40,27
Sulawesi Barat 41,07 12,98 38,03 0,07 0,96 25,59
Maluku 28,99 5,68 6,11 0,00 0,18 59,45
Maluku Utara 23,05 6,90 29,47 0,15 0,20 41,03
Papua Barat 38,99 10,26 13,63 0,16 0,19 40,15
Papua 15,53 3,19 68,79 0,17 0,62 16,65
Indonesia 29,89 9,12 15,24 0,26 1,30 47,09
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

238 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.29. Persentase Anak Usia 0-17 tahun Menurut Provinsi,
Jaminan Kesehatan yang Dimiliki, dan Tipe Daerah, 2018
Perkotaan + Perdesaan
BPJS BPJS Asuransi
Perusahaan/ Tidak
Provinsi Kesehatan Kesehatan Jamkesda Kesehatan
kantor Punya
PBI Non-PBI Swasta
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Aceh 67,56 13,54 9,26 0,12 0,92 11,95
Sumatera Utara 24,52 15,15 4,54 0,64 3,76 53,17
Sumatera Barat 27,08 20,50 15,67 0,56 1,53 37,88
Riau 17,47 17,04 16,04 0,84 4,28 48,61
Jambi 18,38 18,26 5,13 0,48 2,35 56,61
Sumatera Selatan 17,07 13,27 59,36 0,77 2,17 16,76
Bengkulu 24,17 22,92 1,47 0,40 1,69 49,74
Lampung 24,89 11,76 13,88 0,37 1,90 51,71
Kep. Bangka Belitung 21,65 29,01 11,62 0,72 1,29 36,95
Kepulauan Riau 19,29 28,94 5,61 1,23 9,17 37,86
DKI Jakarta 49,05 26,36 0,90 3,80 5,94 16,91
Jawa Barat 22,81 19,39 8,73 1,59 5,66 45,62
Jawa Tengah 30,22 16,23 13,30 0,69 2,48 41,38
DI Yogyakarta 36,69 26,15 18,48 1,49 3,38 26,17
Jawa Timur 21,29 15,22 17,44 0,99 3,23 46,10
Banten 20,03 23,90 6,82 1,96 5,54 46,59
Bali 25,34 23,35 9,94 2,56 2,98 42,37
Nusa Tenggara Barat 31,73 10,36 9,51 0,34 0,98 52,04
Nusa Tenggara Timur 37,49 8,69 8,60 0,16 0,38 45,70
Kalimantan Barat 18,74 15,58 3,84 0,94 2,96 59,67
Kalimantan Tengah 15,90 20,62 14,26 0,63 2,89 47,26
Kalimantan Selatan 15,90 18,76 26,83 0,37 3,84 37,39
Kalimantan Timur 16,94 40,55 2,92 1,96 8,60 32,69
Kalimantan Utara 26,60 38,19 7,81 1,17 3,15 27,19
Sulawesi Utara 32,00 22,77 2,86 0,58 2,42 40,56
Sulawesi Tengah 31,26 16,32 5,26 0,42 0,64 47,13
Sulawesi Selatan 39,97 18,60 4,35 0,63 1,54 35,97
Sulawesi Tenggara 31,03 15,92 8,76 0,32 0,75 43,66
Gorontalo 50,22 12,38 0,87 0,40 0,43 36,06
Sulawesi Barat 41,07 15,43 42,34 0,15 0,93 22,32
Maluku 26,71 12,79 4,82 0,17 0,16 55,77
Maluku Utara 20,87 13,98 24,63 0,19 0,34 41,04
Papua Barat 36,97 13,70 10,70 0,32 1,63 39,94
Papua 18,83 8,00 56,17 0,23 0,94 20,40
Indonesia 26,71 17,75 12,83 1,05 3,42 42,03
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 239


Lampiran L-5.30. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Berobat Jalan dalam Sebulan Terakhir Menurut Provinsi,
Jenis Jaminan Kesehatan yang Digunakan, dan Tipe Daerah, 2018
Perkotaan
BPJS BPJS Asuransi
Perusahaan/ Tidak
Provinsi Kesehatan Kesehatan Jamkesda Kesehatan
kantor Menggunakan
PBI Non-PBI Swasta
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Aceh 61,89 24,40 5,38 0,00 1,04 9,01


Sumatera Utara 18,25 24,72 4,04 1,40 6,38 47,69
Sumatera Barat 19,99 30,93 15,54 1,37 2,18 34,93
Riau 13,32 29,05 22,57 1,93 7,42 36,07
Jambi 20,70 37,90 0,77 2,68 3,86 34,63
Sumatera Selatan 13,08 30,72 44,22 2,13 3,72 16,52
Bengkulu 18,07 36,36 3,72 2,04 1,74 39,62
Lampung 19,89 19,95 24,44 1,10 4,44 36,22
Kep. Bangka Belitung 20,92 44,16 4,43 1,52 0,48 29,41
Kepulauan Riau 17,35 38,12 3,94 0,58 6,51 34,36
DKI Jakarta 43,71 27,77 0,28 4,59 8,00 19,77
Jawa Barat 17,87 25,46 10,13 2,54 8,00 41,27
Jawa Tengah 23,54 25,55 17,26 1,30 4,76 35,87
DI Yogyakarta 26,66 36,15 15,09 2,38 4,80 26,51
Jawa Timur 14,40 23,96 15,31 1,69 6,22 43,08
Banten 14,51 33,41 6,40 2,16 9,63 40,20
Bali 16,15 33,98 8,90 2,81 4,22 39,80
Nusa Tenggara Barat 26,73 15,19 18,94 0,36 2,40 45,19
Nusa Tenggara Timur 18,63 26,37 7,03 0,16 2,75 45,58
Kalimantan Barat 19,54 25,07 6,31 1,75 4,94 45,79
Kalimantan Tengah 18,45 35,15 17,30 1,75 1,81 28,84
Kalimantan Selatan 14,73 34,15 20,35 0,36 9,08 26,86
Kalimantan Timur 14,47 54,75 3,41 4,51 14,53 18,96
Kalimantan Utara 12,90 60,46 1,96 1,05 4,38 21,79
Sulawesi Utara 19,49 33,67 1,21 0,83 5,13 39,83
Sulawesi Tengah 21,54 32,32 5,02 0,45 1,68 40,77
Sulawesi Selatan 33,57 37,47 4,67 0,85 2,20 23,36
Sulawesi Tenggara 27,69 30,19 4,93 0,69 0,00 36,50
Gorontalo 45,02 22,35 1,29 1,30 1,77 28,26
Sulawesi Barat 39,10 14,71 69,25 0,00 1,74 7,21
Maluku 23,22 27,86 4,51 0,00 0,00 44,41
Maluku Utara 19,89 30,28 10,43 0,00 0,16 40,01
Papua Barat 27,75 22,26 4,64 0,36 9,21 39,07
Papua 27,74 21,02 23,93 0,40 1,89 31,91
Indonesia 21,35 27,60 11,55 2,04 6,35 36,69
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

240 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.31. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Berobat Jalan dalam Sebulan Terakhir Menurut Provinsi,
Jenis Jaminan Kesehatan yang Digunakan, dan Tipe Daerah, 2018
Perdesaan
BPJS BPJS Asuransi
Perusahaan/ Tidak
Provinsi Kesehatan Kesehatan Jamkesda Kesehatan
kantor Menggunakan
PBI Non-PBI Swasta
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Aceh 70,12 9,35 10,24 0,05 0,95 12,38


Sumatera Utara 19,30 10,69 3,65 0,28 1,70 65,92
Sumatera Barat 22,66 11,69 21,93 0,08 0,98 45,31
Riau 14,50 15,08 17,82 0,60 4,30 51,52
Jambi 13,39 14,47 8,55 0,08 1,77 64,65
Sumatera Selatan 12,34 7,68 72,73 0,00 2,15 14,77
Bengkulu 18,00 20,49 0,60 0,00 2,46 58,45
Lampung 19,43 8,66 9,52 0,08 1,85 62,91
Kep. Bangka Belitung 20,40 20,36 19,23 0,74 0,10 40,23
Kepulauan Riau 23,67 18,49 24,44 0,00 0,00 33,62
DKI Jakarta - - - - - -
Jawa Barat 21,07 8,46 6,84 0,05 1,44 63,97
Jawa Tengah 27,22 10,25 15,26 0,64 1,25 47,97
DI Yogyakarta 50,64 8,55 27,68 0,62 0,63 24,58
Jawa Timur 20,42 8,14 21,22 0,25 1,12 52,67
Banten 18,21 11,21 2,71 0,93 1,32 66,27
Bali 30,48 8,51 10,93 1,62 0,90 49,33
Nusa Tenggara Barat 26,90 6,20 3,73 0,00 0,28 65,08
Nusa Tenggara Timur 38,44 3,82 10,50 0,08 0,10 47,93
Kalimantan Barat 20,51 11,34 4,17 0,51 2,85 62,88
Kalimantan Tengah 14,49 15,44 18,64 0,02 6,87 47,80
Kalimantan Selatan 16,06 14,42 38,10 0,00 3,78 33,89
Kalimantan Timur 21,64 30,88 4,23 0,76 8,84 34,82
Kalimantan Utara 43,18 20,73 6,64 0,00 1,86 30,12
Sulawesi Utara 32,88 15,69 3,45 0,00 0,30 48,59
Sulawesi Tengah 28,73 11,42 6,92 0,35 0,50 53,42
Sulawesi Selatan 46,29 11,58 5,65 0,17 0,99 37,02
Sulawesi Tenggara 28,78 12,02 15,88 0,00 0,26 43,36
Gorontalo 50,90 4,29 0,41 0,22 0,00 44,39
Sulawesi Barat 37,65 14,56 37,41 0,00 0,81 25,76
Maluku 26,86 9,20 15,04 0,05 0,00 50,24
Maluku Utara 24,95 6,58 32,91 0,30 1,08 35,67
Papua Barat 32,95 13,12 16,35 0,26 0,73 39,23
Papua 17,66 6,97 63,63 0,53 2,20 18,53
Indonesia 26,61 9,83 15,47 0,30 1,42 49,30
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 241


Lampiran L-5.32. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Berobat Jalan dalam Sebulan Terakhir Menurut Provinsi,
Jenis Jaminan Kesehatan yang Digunakan, dan Tipe Daerah, 2018
Perkotaan + Perdesaan
BPJS BPJS Asuransi
Perusahaan/ Tidak
Provinsi Kesehatan Kesehatan Jamkesda Kesehatan
kantor Menggunakan
PBI Non-PBI Swasta
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Aceh 68,01 13,20 8,99 0,04 0,97 11,52


Sumatera Utara 18,72 18,41 3,86 0,90 4,28 55,88
Sumatera Barat 21,55 19,72 19,26 0,62 1,48 40,98
Riau 13,93 21,86 20,13 1,25 5,81 44,02
Jambi 15,99 22,81 5,78 1,00 2,51 53,96
Sumatera Selatan 12,65 17,30 60,83 0,89 2,81 15,50
Bengkulu 18,02 25,71 1,63 0,67 2,22 52,26
Lampung 19,58 12,18 14,17 0,40 2,66 54,59
Kep. Bangka Belitung 20,71 34,60 10,38 1,21 0,33 33,76
Kepulauan Riau 18,29 35,19 6,99 0,50 5,54 34,25
DKI Jakarta 43,71 27,77 0,28 4,59 8,00 19,77
Jawa Barat 18,66 21,27 9,32 1,93 6,38 46,87
Jawa Tengah 25,28 18,33 16,31 0,99 3,11 41,58
DI Yogyakarta 34,11 27,57 19,01 1,83 3,50 25,91
Jawa Timur 17,36 16,19 18,22 0,98 3,71 47,79
Banten 15,53 27,24 5,38 1,82 7,32 47,44
Bali 21,69 24,13 9,69 2,35 2,94 43,49
Nusa Tenggara Barat 26,82 10,64 11,24 0,18 1,33 55,27
Nusa Tenggara Timur 34,83 7,92 9,87 0,10 0,58 47,51
Kalimantan Barat 20,13 16,69 5,01 0,99 3,66 56,23
Kalimantan Tengah 16,00 22,98 18,13 0,68 4,94 40,55
Kalimantan Selatan 15,48 22,95 30,42 0,15 6,07 30,85
Kalimantan Timur 16,57 47,77 3,65 3,41 12,87 23,59
Kalimantan Utara 25,83 43,49 3,96 0,60 3,30 25,35
Sulawesi Utara 26,58 24,14 2,40 0,39 2,57 44,47
Sulawesi Tengah 26,73 17,23 6,39 0,38 0,83 49,90
Sulawesi Selatan 40,69 22,99 5,22 0,47 1,53 31,00
Sulawesi Tenggara 28,45 17,57 12,53 0,21 0,18 41,26
Gorontalo 48,38 12,03 0,79 0,68 0,76 37,48
Sulawesi Barat 38,03 14,60 45,80 0,00 1,05 20,87
Maluku 25,51 16,09 11,15 0,03 0,00 48,08
Maluku Utara 23,39 13,87 26,00 0,21 0,80 37,01
Papua Barat 30,69 17,09 11,26 0,31 4,41 39,16
Papua 21,34 12,10 49,15 0,48 2,09 23,42
Indonesia 23,67 19,77 13,28 1,27 4,18 42,25
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

242 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.33. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Rawat Inap dalam Setahun Terakhir
Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2018

Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan


Provinsi
L P L+P L P L+P L P L+P
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
Aceh 5,23 4,56 4,90 3,54 2,97 3,26 4,05 3,45 3,76
Sumatera Utara 1,97 1,44 1,71 1,31 1,22 1,26 1,64 1,33 1,48
Sumatera Barat 2,81 4,17 3,48 2,23 1,99 2,11 2,48 2,91 2,69
Riau 2,99 2,93 2,96 1,95 1,52 1,74 2,36 2,07 2,22
Jambi 2,94 3,86 3,39 1,75 2,31 2,03 2,12 2,80 2,45
Sumatera Selatan 2,88 2,20 2,55 2,48 1,70 2,10 2,63 1,88 2,26
Bengkulu 6,89 5,33 6,12 2,31 2,63 2,47 3,79 3,52 3,66
Lampung 3,49 4,65 4,07 2,17 3,13 2,63 2,55 3,58 3,05
Kep. Bangka Belitung 3,39 3,32 3,35 3,29 2,17 2,75 3,34 2,78 3,07
Kepulauan Riau 2,38 4,02 3,19 1,48 2,26 1,85 2,25 3,77 3,00
DKI Jakarta 4,04 3,69 3,87 - - - 4,04 3,69 3,87
Jawa Barat 3,87 3,80 3,84 2,90 2,94 2,92 3,62 3,58 3,60
Jawa Tengah 5,66 4,93 5,31 4,13 4,17 4,15 4,91 4,56 4,74
DI Yogyakarta 6,59 3,75 5,21 7,03 5,39 6,22 6,71 4,20 5,48
Jawa Timur 5,39 4,62 5,01 4,11 4,26 4,19 4,79 4,45 4,62
Banten 2,86 3,57 3,20 1,17 1,50 1,33 2,33 2,93 2,62
Bali 3,83 3,61 3,72 3,23 1,64 2,45 3,62 2,93 3,28
Nusa Tenggara Barat 4,06 5,41 4,72 5,51 4,01 4,78 4,85 4,65 4,75
Nusa Tenggara Timur 3,86 3,61 3,73 2,03 2,18 2,10 2,42 2,48 2,45
Kalimantan Barat 5,22 4,46 4,84 1,58 1,93 1,75 2,75 2,77 2,76
Kalimantan Tengah 2,95 2,72 2,84 1,95 1,38 1,67 2,32 1,89 2,11
Kalimantan Selatan 2,53 2,76 2,64 2,26 2,46 2,36 2,39 2,60 2,49
Kalimantan Timur 4,15 4,73 4,43 3,31 3,00 3,16 3,86 4,14 4,00
Kalimantan Utara 7,18 8,12 7,64 4,78 3,38 4,10 6,14 6,10 6,12
Sulawesi Utara 6,08 4,08 5,09 4,32 2,70 3,54 5,17 3,38 4,30
Sulawesi Tengah 6,23 6,22 6,22 3,16 3,13 3,15 3,97 3,99 3,98
Sulawesi Selatan 6,14 5,50 5,83 3,69 3,12 3,41 4,69 4,09 4,40
Sulawesi Tenggara 3,35 2,72 3,04 2,18 2,09 2,14 2,61 2,32 2,47
Gorontalo 6,07 5,81 5,94 2,54 3,24 2,88 3,84 4,21 4,02
Sulawesi Barat 4,73 3,14 3,95 2,42 1,80 2,12 2,96 2,12 2,55
Maluku 2,45 3,67 3,05 1,19 1,02 1,10 1,67 2,04 1,86
Maluku Utara 3,46 5,31 4,36 1,17 0,98 1,08 1,77 2,12 1,94
Papua Barat 5,41 5,23 5,33 1,60 2,97 2,27 3,10 3,86 3,47
Papua 3,82 3,26 3,54 1,25 1,31 1,28 1,89 1,81 1,85
Indonesia 4,18 3,95 4,07 2,88 2,80 2,84 3,57 3,41 3,49

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 243


Lampiran L-5.34. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Rawat inap dalam Setahun Terakhir
Menurut Provinsi, Tempat Rawat Inap, dan Tipe Daerah, 2018

Perkotaan

Klinik/
Praktik
RS RS Praktik Puskesmas/ Pengobatan
Provinsi dokter/ Lainnya
pemerintah swasta Dokter Pustu Tradisional
Bidan
Bersama

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)


Aceh 65,18 25,69 2,04 6,26 3,44 0,00 0,00
Sumatera Utara 30,06 60,79 6,44 3,75 0,10 0,20 0,14
Sumatera Barat 38,06 46,46 6,86 3,60 4,79 0,38 0,00
Riau 27,84 60,23 2,47 7,73 1,73 0,00 0,00
Jambi 44,66 45,10 5,54 0,96 4,77 0,00 0,00
Sumatera Selatan 48,47 46,44 6,42 0,53 0,60 0,00 0,00
Bengkulu 53,84 38,51 2,02 1,89 3,51 0,23 0,00
Lampung 26,13 62,28 3,64 3,96 5,78 0,20 0,00
Kep. Bangka Belitung 32,24 45,07 9,39 2,10 14,05 0,00 0,00
Kepulauan Riau 22,95 68,10 4,85 3,02 1,43 0,00 0,00
DKI Jakarta 46,32 39,81 6,62 0,00 6,11 0,01 1,12
Jawa Barat 32,72 57,01 4,27 2,17 3,74 0,00 0,85
Jawa Tengah 35,27 49,95 2,19 4,01 9,63 0,00 0,27
DI Yogyakarta 36,17 51,31 3,65 0,94 9,06 0,00 0,00
Jawa Timur 29,80 51,50 1,60 5,05 14,79 0,07 0,18
Banten 20,26 71,29 2,55 1,60 4,43 0,27 0,00
Bali 50,55 46,73 0,18 1,53 1,86 0,00 0,00
Nusa Tenggara Barat 39,37 9,60 2,75 3,25 49,24 1,56 0,00
Nusa Tenggara Timur 59,72 25,70 0,93 1,21 12,44 0,00 0,00
Kalimantan Barat 50,14 38,15 3,35 2,18 8,31 0,00 0,00
Kalimantan Tengah 68,69 18,23 1,50 1,80 10,17 0,00 0,00
Kalimantan Selatan 72,35 14,67 1,97 2,96 10,58 0,00 0,00
Kalimantan Timur 41,30 50,12 3,24 1,74 4,18 0,00 0,00
Kalimantan Utara 76,78 6,95 7,53 0,00 8,73 0,00 0,00
Sulawesi Utara 42,22 54,11 0,01 2,50 3,26 0,00 0,00
Sulawesi Tengah 83,10 13,20 0,00 0,00 4,72 0,00 0,00
Sulawesi Selatan 50,48 33,78 0,07 3,29 13,15 0,00 0,00
Sulawesi Tenggara 56,20 27,70 0,00 1,11 17,07 0,00 0,00
Gorontalo 78,82 17,66 0,00 0,00 3,52 0,00 0,00
Sulawesi Barat 70,65 6,99 0,00 0,00 21,70 0,00 0,66
Maluku 61,48 37,27 0,00 1,25 0,00 0,00 0,00
Maluku Utara 73,01 21,83 1,75 0,00 5,16 0,00 0,00
Papua Barat 69,92 33,87 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Papua 65,32 21,02 0,37 8,55 4,44 0,00 0,29
Indonesia 37,86 48,83 3,12 2,93 8,20 0,07 0,35
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

244 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.35. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Rawat inap dalam Setahun Terakhir
Menurut Provinsi, Tempat Rawat Inap, dan Tipe Daerah, 2018

Perdesaan

Klinik/
Praktik
RS RS Praktik Puskesmas/ Pengobatan
Provinsi dokter/ Lainnya
pemerintah swasta Dokter Pustu Tradisional
Bidan
Bersama

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)


Aceh 60,04 18,62 2,89 1,67 18,93 0,71 0,00
Sumatera Utara 32,82 41,99 11,93 4,61 14,68 3,08 0,00
Sumatera Barat 55,38 13,05 12,80 0,00 19,08 0,00 0,00
Riau 33,30 40,11 6,12 6,93 15,28 0,00 0,00
Jambi 25,66 37,67 8,20 4,36 24,12 0,00 0,00
Sumatera Selatan 45,17 23,24 15,96 9,29 6,87 0,00 0,00
Bengkulu 59,06 12,03 3,66 10,55 15,57 0,00 0,00
Lampung 17,59 42,86 14,93 12,93 15,13 0,00 0,00
Kep. Bangka Belitung 38,68 23,70 1,42 0,00 37,79 0,00 0,00
Kepulauan Riau 73,18 12,00 0,33 0,00 20,15 0,00 0,00
DKI Jakarta - - - - - - -
Jawa Barat 29,42 31,04 7,64 12,04 20,04 0,00 0,43
Jawa Tengah 31,88 34,67 3,40 7,44 24,12 1,07 0,00
DI Yogyakarta 38,30 43,87 5,99 1,66 8,91 1,27 0,00
Jawa Timur 28,00 30,33 3,50 3,22 38,33 0,00 0,00
Banten 24,00 25,11 13,77 3,80 43,21 0,00 0,00
Bali 50,81 37,29 4,29 2,39 7,65 0,00 0,00
Nusa Tenggara Barat 37,65 4,22 4,64 6,19 47,78 1,05 0,51
Nusa Tenggara Timur 44,15 18,95 0,18 0,82 37,96 0,00 0,00
Kalimantan Barat 48,97 19,06 1,60 1,09 31,20 0,00 0,00
Kalimantan Tengah 70,98 2,70 0,89 4,13 22,12 0,00 0,00
Kalimantan Selatan 72,27 6,34 1,09 3,79 18,52 0,00 0,00
Kalimantan Timur 61,21 11,89 0,05 5,27 21,16 0,00 1,25
Kalimantan Utara 72,19 0,00 0,00 4,83 24,01 0,00 0,00
Sulawesi Utara 42,48 38,79 0,00 0,25 23,23 0,00 0,00
Sulawesi Tengah 59,98 5,58 0,93 0,00 35,54 0,00 0,00
Sulawesi Selatan 43,84 12,45 0,68 2,34 42,99 0,00 0,00
Sulawesi Tenggara 54,40 7,52 1,69 4,78 35,05 0,00 0,00
Gorontalo 63,67 1,53 0,00 0,00 36,83 1,02 0,00
Sulawesi Barat 44,00 6,82 1,63 0,00 50,22 0,00 0,00
Maluku 65,49 13,14 0,00 0,00 21,36 0,00 0,00
Maluku Utara 62,95 2,48 0,00 3,70 30,87 0,00 0,00
Papua Barat 78,07 8,60 0,58 0,00 12,48 0,00 0,27
Papua 54,53 9,04 0,26 3,86 32,57 0,00 0,00
Indonesia 37,72 26,29 5,01 5,44 27,59 0,38 0,08
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 245


Lampiran L-5.36. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Rawat inap dalam Setahun Terakhir
Menurut Provinsi, Tempat Rawat Inap, dan Tipe Daerah, 2018

Perkotaan+Perdesaan

Klinik/
Praktik
RS RS Praktik Puskesmas/ Pengobatan
Provinsi dokter/ Lainnya
pemerintah swasta Dokter Pustu Tradisional
Bidan
Bersama

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)


Aceh 62,07 21,41 2,55 3,48 12,81 0,43 0,00
Sumatera Utara 31,24 52,77 8,78 4,12 6,32 1,43 0,08
Sumatera Barat 45,84 31,44 9,53 1,98 11,21 0,21 0,00
Riau 30,43 50,68 4,21 7,35 8,16 0,00 0,00
Jambi 33,88 40,88 7,05 2,89 15,75 0,00 0,00
Sumatera Selatan 46,52 32,71 12,06 5,71 4,31 0,00 0,00
Bengkulu 56,21 26,49 2,76 5,82 8,99 0,12 0,00
Lampung 20,90 50,39 10,55 9,45 11,51 0,08 0,00
Kep. Bangka Belitung 34,94 36,11 6,05 1,22 24,01 0,00 0,00
Kepulauan Riau 27,46 63,06 4,45 2,75 3,11 0,00 0,00
DKI Jakarta 46,32 39,81 6,62 0,00 6,11 0,01 1,12
Jawa Barat 32,03 51,55 4,98 4,25 7,17 0,00 0,76
Jawa Tengah 33,82 43,42 2,71 5,48 15,82 0,46 0,16
DI Yogyakarta 36,82 49,03 4,37 1,16 9,02 0,39 0,00
Jawa Timur 29,03 42,40 2,42 4,26 24,91 0,04 0,10
Banten 20,85 64,03 4,32 1,95 10,53 0,23 0,00
Bali 50,61 44,30 1,23 1,75 3,35 0,00 0,00
Nusa Tenggara Barat 38,43 6,66 3,78 4,85 48,44 1,28 0,28
Nusa Tenggara Timur 49,16 21,12 0,42 0,94 29,75 0,00 0,00
Kalimantan Barat 49,64 30,01 2,60 1,71 18,07 0,00 0,00
Kalimantan Tengah 69,81 10,62 1,20 2,94 16,02 0,00 0,00
Kalimantan Selatan 72,31 10,37 1,52 3,39 14,67 0,00 0,00
Kalimantan Timur 46,68 39,80 2,38 2,69 8,76 0,00 0,34
Kalimantan Utara 75,46 4,95 5,36 1,39 13,14 0,00 0,00
Sulawesi Utara 42,33 47,67 0,01 1,56 11,66 0,00 0,00
Sulawesi Tengah 69,75 8,80 0,53 0,00 22,52 0,00 0,00
Sulawesi Selatan 47,43 23,99 0,35 2,85 26,85 0,00 0,00
Sulawesi Tenggara 55,22 16,70 0,92 3,11 26,87 0,00 0,00
Gorontalo 72,00 10,40 0,00 0,00 18,52 0,46 0,00
Sulawesi Barat 53,67 6,88 1,04 0,00 39,87 0,00 0,24
Maluku 62,94 28,46 0,00 0,79 7,80 0,00 0,00
Maluku Utara 68,88 13,88 1,03 1,52 15,72 0,00 0,00
Papua Barat 73,15 23,84 0,23 0,00 4,95 0,00 0,11
Papua 59,75 14,84 0,31 6,13 18,95 0,00 0,14
Indonesia 37,80 40,24 3,84 3,89 15,59 0,19 0,25
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

246 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.37. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Rawat inap dalam Setahun Terakhir dan Menggunakan
Jaminan Kesehatan Menurut Provinsi, Jaminan Kesehatan yang Digunakan, dan Tipe Daerah, 2018
Perkotaan

BPJS BPJS Asuransi


Perusahaan/ Tidak
Provinsi Kesehatan Kesehatan Jamkesda Kesehatan
kantor Menggunakan
PBI Non-PBI Swasta

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Aceh 59,99 35,34 4,16 0,00 3,01 0,94


Sumatera Utara 21,39 38,09 6,37 2,61 8,71 26,55
Sumatera Barat 16,38 57,34 9,22 2,09 6,81 16,84
Riau 12,44 40,88 27,80 0,46 9,32 25,29
Jambi 15,72 52,87 0,00 2,61 3,04 25,77
Sumatera Selatan 17,34 48,97 35,76 3,48 0,55 6,49
Bengkulu 16,34 56,23 2,70 1,84 4,72 20,33
Lampung 22,29 30,97 32,09 2,49 13,28 15,99
Kep. Bangka Belitung 21,70 44,25 1,25 2,89 2,04 28,62
Kepulauan Riau 12,07 54,40 4,33 0,61 14,92 17,73
DKI Jakarta 36,96 32,27 0,35 6,05 8,72 17,29
Jawa Barat 18,74 44,50 8,59 5,28 12,96 20,98
Jawa Tengah 23,47 32,73 16,38 2,97 5,53 28,78
DI Yogyakarta 37,81 37,21 19,77 3,91 8,04 13,57
Jawa Timur 17,40 35,44 13,38 2,95 6,45 30,61
Banten 15,46 48,21 6,67 6,16 10,20 23,38
Bali 18,95 46,73 11,80 2,94 11,96 18,89
Nusa Tenggara Barat 32,57 12,45 14,85 2,01 3,45 44,91
Nusa Tenggara Timur 29,65 26,91 17,91 0,00 0,00 30,35
Kalimantan Barat 18,96 39,26 0,15 6,28 5,58 36,16
Kalimantan Tengah 19,19 53,31 10,12 0,00 0,00 20,76
Kalimantan Selatan 12,22 49,03 22,41 0,00 11,02 14,20
Kalimantan Timur 18,59 51,55 4,35 6,14 20,11 9,82
Kalimantan Utara 13,78 62,74 3,20 6,95 10,97 10,78
Sulawesi Utara 17,59 46,53 0,85 2,99 5,19 27,89
Sulawesi Tengah 21,10 54,50 4,03 0,94 0,97 19,82
Sulawesi Selatan 32,21 44,59 3,74 1,47 2,39 18,27
Sulawesi Tenggara 18,04 48,87 6,77 0,00 5,14 21,18
Gorontalo 60,73 23,18 1,49 0,00 1,04 14,60
Sulawesi Barat 40,16 37,74 52,10 0,00 0,66 12,50
Maluku 23,88 31,43 3,40 3,93 0,00 37,36
Maluku Utara 19,83 34,31 12,05 0,39 0,00 36,89
Papua Barat 31,64 35,03 2,55 0,56 16,31 22,42
Papua 21,14 21,76 12,85 0,00 3,63 42,57
Indonesia 22,32 39,74 10,81 3,64 8,31 23,53
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 247


Lampiran L-5.38. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Rawat inap dalam Setahun Terakhir dan Menggunakan
Jaminan Kesehatan Menurut Provinsi, Jaminan Kesehatan yang Digunakan, dan Tipe Daerah, 2018
Perdesaan

BPJS BPJS Asuransi


Perusahaan/ Tidak
Provinsi Kesehatan Kesehatan Jamkesda Kesehatan
kantor Menggunakan
PBI Non-PBI Swasta

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Aceh 77,71 12,70 8,90 0,00 1,34 3,08


Sumatera Utara 27,31 20,87 6,23 0,59 1,30 45,70
Sumatera Barat 27,42 24,81 18,87 0,00 3,09 32,25
Riau 26,15 11,94 18,64 2,07 4,42 44,02
Jambi 29,10 24,31 8,51 0,30 1,66 40,96
Sumatera Selatan 16,03 14,14 60,74 0,67 2,27 14,87
Bengkulu 18,55 35,83 0,97 0,00 3,27 41,38
Lampung 19,63 24,01 6,55 1,39 1,45 48,88
Kep. Bangka Belitung 25,43 30,33 20,94 0,86 0,54 27,17
Kepulauan Riau 15,53 55,25 16,19 1,02 0,00 12,01
DKI Jakarta - - - - - -
Jawa Barat 24,17 15,40 7,32 0,00 3,38 51,46
Jawa Tengah 28,92 16,64 15,62 1,33 2,21 39,10
DI Yogyakarta 49,45 4,10 31,26 0,00 0,00 28,46
Jawa Timur 25,10 13,12 23,30 0,65 1,95 42,40
Banten 18,17 20,34 11,19 0,00 14,88 35,41
Bali 28,47 21,27 1,31 5,54 10,56 36,57
Nusa Tenggara Barat 30,62 9,86 3,84 0,00 0,13 57,22
Nusa Tenggara Timur 37,72 10,28 8,88 0,00 0,18 45,03
Kalimantan Barat 25,85 21,00 5,03 0,86 1,91 47,12
Kalimantan Tengah 20,01 34,52 10,58 0,12 7,07 31,47
Kalimantan Selatan 22,36 19,92 37,73 0,00 2,60 22,52
Kalimantan Timur 38,27 21,23 2,86 3,17 10,97 24,51
Kalimantan Utara 37,57 37,92 4,83 0,00 0,00 24,50
Sulawesi Utara 35,65 28,73 0,77 0,00 2,63 32,53
Sulawesi Tengah 37,07 15,99 8,85 0,00 0,24 39,31
Sulawesi Selatan 44,68 21,90 5,30 1,81 1,00 26,81
Sulawesi Tenggara 31,83 25,19 10,88 0,00 0,00 32,10
Gorontalo 65,12 20,08 2,53 0,00 0,16 12,27
Sulawesi Barat 40,34 31,06 32,50 0,00 2,24 12,32
Maluku 28,76 19,14 11,15 0,00 1,98 38,98
Maluku Utara 32,06 8,10 17,79 0,00 1,79 40,27
Papua Barat 27,93 9,51 15,11 0,08 3,12 44,82
Papua 27,24 13,19 44,20 0,05 5,05 18,11
Indonesia 30,27 16,98 15,35 0,73 2,35 38,28
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

248 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.39. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Rawat inap dalam Setahun Terakhir dan Menggunakan
Jaminan Kesehatan Menurut Provinsi, Jaminan Kesehatan yang Digunakan, dan Tipe Daerah, 2018
Perkotaan + Perdesaan

BPJS BPJS Asuransi


Perusahaan/ Tidak
Provinsi Kesehatan Kesehatan Jamkesda Kesehatan
kantor Menggunakan
PBI Non-PBI Swasta

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Aceh 70,71 21,64 7,03 0,00 2,00 2,23


Sumatera Utara 23,92 30,74 6,31 1,75 5,55 34,72
Sumatera Barat 21,34 42,72 13,56 1,15 5,14 23,77
Riau 18,95 27,14 23,45 1,22 6,99 34,18
Jambi 23,31 36,66 4,83 1,30 2,26 34,39
Sumatera Selatan 16,56 28,36 50,54 1,82 1,57 11,45
Bengkulu 17,34 46,97 1,91 1,00 4,06 29,89
Lampung 20,66 26,71 16,45 1,82 6,04 36,14
Kep. Bangka Belitung 23,26 38,41 9,51 2,04 1,41 28,01
Kepulauan Riau 12,38 54,48 5,39 0,65 13,58 17,21
DKI Jakarta 36,96 32,27 0,35 6,05 8,72 17,29
Jawa Barat 19,88 38,38 8,32 4,17 10,94 27,40
Jawa Tengah 25,80 25,85 16,06 2,27 4,11 33,19
DI Yogyakarta 41,38 27,05 23,29 2,71 5,57 18,14
Jawa Timur 20,71 25,85 17,64 1,96 4,52 35,68
Banten 15,89 43,83 7,38 5,19 10,93 25,27
Bali 21,39 40,19 9,11 3,61 11,60 23,43
Nusa Tenggara Barat 31,51 11,04 8,84 0,91 1,63 51,63
Nusa Tenggara Timur 35,13 15,63 11,79 0,00 0,13 40,31
Kalimantan Barat 21,90 31,47 2,23 3,96 4,01 40,83
Kalimantan Tengah 19,59 44,10 10,35 0,06 3,46 26,01
Kalimantan Selatan 17,45 34,02 30,31 0,00 6,67 18,49
Kalimantan Timur 23,90 43,37 3,95 5,34 17,65 13,79
Kalimantan Utara 20,65 55,58 3,67 4,94 7,80 14,74
Sulawesi Utara 25,18 39,05 0,82 1,74 4,11 29,84
Sulawesi Tengah 30,32 32,26 6,81 0,40 0,55 31,07
Sulawesi Selatan 37,94 34,17 4,46 1,63 1,75 22,19
Sulawesi Tenggara 25,56 35,96 9,01 0,00 2,34 27,13
Gorontalo 62,70 21,78 1,96 0,00 0,64 13,55
Sulawesi Barat 40,27 33,48 39,61 0,00 1,66 12,38
Maluku 25,66 26,94 6,23 2,49 0,72 37,95
Maluku Utara 24,85 23,54 14,41 0,23 0,73 38,28
Papua Barat 30,17 24,90 7,53 0,37 11,07 31,30
Papua 24,29 17,34 29,03 0,02 4,36 29,95
Indonesia 25,35 31,07 12,54 2,53 6,04 29,15
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 249


Lampiran L-5.40. Persentase Anak Usia 0-17 tahun Menurut Provinsi, Status
Kepemilikan Rumah TEMPAT TINGGAL, dan Tipe Daerah, 2018
Perkotaan

Milik Kontrak/ Bebas


Provinsi Dinas Lainnya Total
sendiri sewa sewa

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)


Aceh 71,66 14,43 9,86 3,44 0,61 100,00
Sumatera Utara 58,02 20,62 18,35 2,63 0,39 100,00
Sumatera Barat 62,32 19,77 15,74 2,13 0,04 100,00
Riau 56,75 29,61 11,00 2,28 0,37 100,00
Jambi 71,19 18,00 9,64 0,74 0,44 100,00
Sumatera Selatan 67,97 12,73 17,19 1,26 0,86 100,00
Bengkulu 70,77 15,81 12,21 0,93 0,28 100,00
Lampung 79,72 9,10 10,01 0,23 0,94 100,00
Kep. Bangka Belitung 81,45 7,49 9,40 1,58 0,09 100,00
Kepulauan Riau 74,14 20,30 4,66 0,68 0,22 100,00
DKI Jakarta 44,94 35,29 18,06 1,55 0,16 100,00
Jawa Barat 73,85 12,04 13,15 0,47 0,49 100,00
Jawa Tengah 82,27 4,25 12,73 0,24 0,51 100,00
DI Yogyakarta 76,18 10,69 12,33 0,68 0,12 100,00
Jawa Timur 82,47 8,93 7,78 0,42 0,40 100,00
Banten 77,83 14,63 6,48 0,56 0,50 100,00
Bali 71,68 20,71 7,39 0,22 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 81,15 3,43 14,49 0,66 0,27 100,00
Nusa Tenggara Timur 75,32 12,89 9,85 1,94 0,00 100,00
Kalimantan Barat 80,65 7,20 10,12 1,74 0,28 100,00
Kalimantan Tengah 72,29 14,24 10,50 2,97 0,00 100,00
Kalimantan Selatan 66,14 17,24 15,33 1,05 0,24 100,00
Kalimantan Timur 64,73 21,87 10,94 2,45 0,00 100,00
Kalimantan Utara 59,37 22,97 14,56 3,09 0,00 100,00
Sulawesi Utara 69,48 8,23 20,15 1,31 0,83 100,00
Sulawesi Tengah 73,09 12,83 11,62 2,46 0,00 100,00
Sulawesi Selatan 71,92 10,33 13,78 2,78 1,19 100,00
Sulawesi Tenggara 77,33 6,55 13,35 2,77 0,00 100,00
Gorontalo 69,78 1,55 27,77 0,90 0,00 100,00
Sulawesi Barat 84,98 4,41 7,82 2,78 0,00 100,00
Maluku 75,30 6,52 11,57 6,40 0,20 100,00
Maluku Utara 75,21 11,96 10,84 1,98 0,00 100,00
Papua Barat 63,02 16,33 15,17 5,46 0,02 100,00
Papua 59,70 25,48 7,29 7,19 0,34 100,00
Indonesia 72,37 13,79 12,33 1,09 0,42 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

250 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.41. Persentase Anak Usia 0-17 tahun Menurut Provinsi, Status
Kepemilikan Rumah TEMPAT TINGGAL, dan Tipe Daerah, 2018
Perdesaan

Milik Kontrak/ Bebas


Provinsi Dinas Lainnya Total
sendiri sewa sewa

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)


Aceh 85,92 3,13 9,18 1,56 0,21 100,00
Sumatera Utara 72,49 6,84 15,99 4,15 0,53 100,00
Sumatera Barat 76,62 4,53 17,53 1,07 0,24 100,00
Riau 77,57 5,09 8,61 8,29 0,44 100,00
Jambi 88,40 2,81 7,72 0,90 0,16 100,00
Sumatera Selatan 86,31 1,79 10,66 1,11 0,12 100,00
Bengkulu 89,43 2,60 6,38 1,46 0,13 100,00
Lampung 90,95 1,13 7,10 0,67 0,14 100,00
Kep. Bangka Belitung 92,01 1,80 4,87 0,91 0,40 100,00
Kepulauan Riau 86,74 2,10 9,13 1,17 0,86 100,00
DKI Jakarta - - - - - -
Jawa Barat 88,03 1,47 9,79 0,33 0,39 100,00
Jawa Tengah 93,68 0,48 5,53 0,04 0,27 100,00
DI Yogyakarta 93,75 0,00 6,09 0,16 0,00 100,00
Jawa Timur 93,05 0,95 5,57 0,21 0,22 100,00
Banten 94,94 0,45 3,91 0,24 0,46 100,00
Bali 90,41 0,81 8,52 0,27 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 91,46 0,64 7,45 0,46 0,00 100,00
Nusa Tenggara Timur 93,32 0,75 5,24 0,60 0,09 100,00
Kalimantan Barat 93,57 0,69 4,41 1,12 0,20 100,00
Kalimantan Tengah 81,11 2,02 9,42 7,28 0,18 100,00
Kalimantan Selatan 86,44 2,64 8,95 1,89 0,08 100,00
Kalimantan Timur 84,97 5,27 8,48 1,28 0,01 100,00
Kalimantan Utara 82,32 5,45 10,16 2,07 0,00 100,00
Sulawesi Utara 86,25 1,57 10,37 1,29 0,52 100,00
Sulawesi Tengah 90,57 0,92 7,51 0,67 0,33 100,00
Sulawesi Selatan 91,73 0,68 6,91 0,34 0,35 100,00
Sulawesi Tenggara 92,46 0,43 6,49 0,62 0,00 100,00
Gorontalo 87,23 0,16 12,30 0,31 0,00 100,00
Sulawesi Barat 90,31 0,66 6,46 2,46 0,12 100,00
Maluku 88,57 1,61 8,32 1,35 0,15 100,00
Maluku Utara 91,58 1,15 5,94 0,95 0,38 100,00
Papua Barat 82,71 6,25 7,64 3,04 0,35 100,00
Papua 91,41 1,81 4,76 1,77 0,25 100,00
Indonesia 88,61 1,87 8,00 1,26 0,26 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 251


Lampiran L-5.42. Persentase Anak Usia 0-17 tahun Menurut Provinsi, Status
Kepemilikan Rumah TEMPAT TINGGAL, dan Tipe Daerah, 2018
Perkotaan+Perdesaan

Milik Kontrak/ Bebas


Provinsi Dinas Lainnya Total
sendiri sewa sewa

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)


Aceh 81,60 6,56 9,38 2,13 0,33 100,00
Sumatera Utara 65,28 13,71 17,16 3,39 0,46 100,00
Sumatera Barat 70,52 11,02 16,77 1,53 0,16 100,00
Riau 69,37 14,75 9,55 5,92 0,41 100,00
Jambi 83,02 7,56 8,32 0,85 0,25 100,00
Sumatera Selatan 79,65 5,76 13,03 1,17 0,39 100,00
Bengkulu 83,34 6,91 8,28 1,29 0,18 100,00
Lampung 87,69 3,45 7,95 0,55 0,37 100,00
Kep. Bangka Belitung 86,40 4,82 7,28 1,27 0,23 100,00
Kepulauan Riau 75,97 17,65 5,31 0,75 0,31 100,00
DKI Jakarta 44,94 35,29 18,06 1,55 0,16 100,00
Jawa Barat 77,53 9,30 12,28 0,43 0,46 100,00
Jawa Tengah 87,84 2,41 9,22 0,14 0,39 100,00
DI Yogyakarta 80,93 7,80 10,65 0,54 0,09 100,00
Jawa Timur 87,49 5,14 6,73 0,32 0,32 100,00
Banten 83,13 10,23 5,68 0,46 0,48 100,00
Bali 78,13 13,86 7,78 0,24 0,00 100,00
Nusa Tenggara Barat 86,75 1,91 10,67 0,55 0,12 100,00
Nusa Tenggara Timur 89,53 3,31 6,21 0,88 0,07 100,00
Kalimantan Barat 89,34 2,82 6,28 1,33 0,23 100,00
Kalimantan Tengah 77,76 6,66 9,83 5,64 0,11 100,00
Kalimantan Selatan 77,18 9,30 11,86 1,51 0,15 100,00
Kalimantan Timur 71,65 16,20 10,10 2,05 0,00 100,00
Kalimantan Utara 69,26 15,42 12,67 2,65 0,00 100,00
Sulawesi Utara 78,04 4,83 15,16 1,30 0,67 100,00
Sulawesi Tengah 85,84 4,14 8,62 1,16 0,24 100,00
Sulawesi Selatan 83,64 4,62 9,71 1,34 0,69 100,00
Sulawesi Tenggara 86,87 2,69 9,02 1,42 0,00 100,00
Gorontalo 80,74 0,68 18,06 0,53 0,00 100,00
Sulawesi Barat 89,06 1,54 6,78 2,54 0,09 100,00
Maluku 83,44 3,51 9,58 3,30 0,17 100,00
Maluku Utara 87,29 3,98 7,23 1,22 0,28 100,00
Papua Barat 74,97 10,21 10,60 3,99 0,22 100,00
Papua 83,38 7,80 5,40 3,14 0,27 100,00
Indonesia 79,98 8,21 10,30 1,17 0,34 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

252 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.43. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Tinggal di Rumah Tangga yang
Memiliki Akses Air Layak Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2018

Provinsi Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan

(1) (2) (3) (4)


Aceh 84,17 57,86 65,83
Sumatera Utara 81,90 58,85 70,34
Sumatera Barat 81,18 58,21 68,00
Riau 89,95 72,97 79,66
Jambi 85,06 57,47 66,10
Sumatera Selatan 78,39 57,89 65,33
Bengkulu 65,88 41,91 49,73
Lampung 70,12 51,22 56,71
Kepulauan Bangka Belitung 74,78 57,94 66,89
Kepulauan Riau 88,41 58,54 84,07
DKI Jakarta 89,51 - 89,51
Jawa Barat 75,57 58,42 71,12
Jawa Tengah 81,78 75,39 78,66
DI Yogyakarta 75,21 87,20 78,45
Jawa Timur 80,56 70,50 75,79
Banten 80,11 50,26 70,85
Bali 95,18 83,01 90,99
Nusa Tenggara Barat 82,03 66,44 73,56
Nusa Tenggara Timur 89,85 65,52 70,65
Kalimantan Barat 90,42 65,15 73,42
Kalimantan Tengah 85,75 52,15 64,91
Kalimantan Selatan 82,37 46,17 62,69
Kalimantan Timur 92,28 60,20 81,32
Kalimantan Utara 95,75 74,22 86,48
Sulawesi Utara 84,63 67,67 75,97
Sulawesi Tengah 83,36 65,17 70,09
Sulawesi Selatan 90,69 69,34 78,06
Sulawesi Tenggara 92,22 74,83 81,26
Gorontalo 86,46 74,88 79,19
Sulawesi Barat 81,60 55,57 61,67
Maluku 86,69 66,65 74,40
Maluku Utara 91,03 58,57 67,07
Papua Barat 92,83 64,14 75,42
Papua 85,15 48,87 58,05
Indonesia 81,47 63,61 73,10
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 253


Lampiran L-5.44. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Tinggal di Rumah Tangga yang
Memiliki Akses Sanitasi Layak Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2018

Provinsi Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan

(1) (2) (3) (4)


Aceh 87,81 56,09 65,70
Sumatera Utara 86,64 55,38 70,96
Sumatera Barat 70,52 43,85 55,22
Riau 89,36 58,89 70,90
Jambi 82,51 56,87 64,89
Sumatera Selatan 86,66 58,15 68,50
Bengkulu 77,11 29,43 44,99
Lampung 76,53 44,29 53,65
Kepulauan Bangka Belitung 93,36 77,41 85,88
Kepulauan Riau 92,25 52,12 86,41
DKI Jakarta 90,48 - 90,48
Jawa Barat 68,14 52,99 64,21
Jawa Tengah 80,96 65,96 73,63
DI Yogyakarta 93,65 77,79 89,36
Jawa Timur 81,04 58,04 70,13
Banten 83,96 35,39 68,90
Bali 95,71 82,39 91,13
Nusa Tenggara Barat 78,04 71,37 74,42
Nusa Tenggara Timur 80,25 38,70 47,45
Kalimantan Barat 83,18 39,24 53,62
Kalimantan Tengah 80,21 36,54 53,12
Kalimantan Selatan 76,98 48,98 61,76
Kalimantan Timur 87,78 63,58 79,51
Kalimantan Utara 83,38 54,75 71,05
Sulawesi Utara 80,21 63,45 71,66
Sulawesi Tengah 80,27 53,52 60,75
Sulawesi Selatan 89,52 72,95 79,71
Sulawesi Tenggara 81,50 61,39 68,82
Gorontalo 72,40 53,58 60,58
Sulawesi Barat 76,55 55,82 60,68
Maluku 80,70 55,28 65,11
Maluku Utara 91,61 53,04 63,14
Papua Barat 85,83 60,55 70,48
Papua 74,66 18,71 32,87
Indonesia 79,92 54,81 68,16
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

254 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-5.45. Persentase Anak Usia 0-17 tahun yang Tinggal di Rumah Tangga
Kumuh Menurut Provinsi dan Tipe Daerah, 2018

Provinsi Perkotaan Perdesaan Perkotaan+Perdesaan

(1) (2) (3) (4)


Aceh 6,4 16,3 13,3
Sumatera Utara 6,0 22,8 14,4
Sumatera Barat 7,8 14,7 11,8
Riau 2,8 9,3 6,7
Jambi 4,1 7,9 6,7
Sumatera Selatan 8,8 14,8 12,6
Bengkulu 6,6 12,2 10,4
Lampung 3,8 3,9 3,9
Kepulauan Bangka Belitung 3,9 3,9 3,9
Kepulauan Riau 3,2 9,0 4,0
DKI Jakarta 9,6 - 9,6
Jawa Barat 9,7 10,5 9,9
Jawa Tengah 3,1 2,0 2,5
DI Yogyakarta 2,2 0,6 1,7
Jawa Timur 4,1 3,5 3,8
Banten 3,6 8,9 5,2
Bali 1,5 4,6 2,6
Nusa Tenggara Barat 8,6 10,7 9,8
Nusa Tenggara Timur 11,8 29,2 25,6
Kalimantan Barat 3,0 12,8 9,6
Kalimantan Tengah 6,6 14,7 11,6
Kalimantan Selatan 7,8 8,9 8,4
Kalimantan Timur 3,8 9,8 5,9
Kalimantan Utara 6,2 7,6 6,8
Sulawesi Utara 9,4 16,2 12,9
Sulawesi Tengah 11,4 16,6 15,2
Sulawesi Selatan 4,9 7,1 6,2
Sulawesi Tenggara 6,1 11,7 9,6
Gorontalo 8,8 20,0 15,8
Sulawesi Barat 12,1 16,9 15,7
Maluku 9,9 24,3 18,7
Maluku Utara 3,7 14,7 11,8
Papua Barat 7,8 18,6 14,4
Papua 11,8 59,6 47,5
Indonesia 6,4 11,7 8,9
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 255


LAMPIRAN
BAB 6
Lampiran L-6.1. Anak USIA 5-17 Tahun menurut Provinsi dan Partisipasi Sekolah Formal dan NonFormal, 2018

Perkotaan
Tidak/Belum Masih Tidak
Provinsi Jumlah
Bersekolah Bersekolah Bersekolah lagi
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 12,07 87,30 0,63 100,00
Sumatera Utara 10,57 87,08 2,35 100,00
Sumatera Barat 14,39 84,25 1,36 100,00
Riau 13,85 83,93 2,22 100,00
Jambi 9,74 88,27 1,99 100,00
Sumatera Selatan 9,72 87,69 2,59 100,00
Bengkulu 12,73 85,79 1,48 100,00
Lampung 12,00 85,12 2,88 100,00
Kep. Bangka Belitung 13,41 83,01 3,58 100,00
Kepulauan Riau 13,79 85,64 0,57 100,00
DKI Jakarta 15,34 82,53 2,13 100,00
Jawa Barat 12,46 83,08 4,46 100,00
Jawa Tengah 11,79 85,03 3,18 100,00
DI Yogyakarta 15,81 83,35 0,83 100,00
Jawa Timur 13,61 83,87 2,52 100,00
Banten 13,50 83,93 2,57 100,00
Bali 14,10 83,71 2,19 100,00
Nusa Tenggara Barat 12,67 85,67 1,66 100,00
Nusa Tenggara Timur 11,19 86,56 2,25 100,00
Kalimantan Barat 12,01 84,25 3,74 100,00
Kalimantan Tengah 11,59 85,16 3,26 100,00
Kalimantan Selatan 14,95 81,03 4,02 100,00
Kalimantan Timur 13,18 84,85 1,96 100,00
Kalimantan Utara 14,61 82,38 3,01 100,00
Sulawesi Utara 9,99 87,14 2,87 100,00
Sulawesi Tengah 12,69 84,72 2,59 100,00
Sulawesi Selatan 11,31 84,84 3,85 100,00
Sulawesi Tenggara 11,51 86,40 2,08 100,00
Gorontalo 13,64 82,44 3,92 100,00
Sulawesi Barat 12,16 82,73 5,10 100,00
Maluku 10,26 88,41 1,33 100,00
Maluku Utara 10,48 87,47 2,04 100,00
Papua Barat 12,01 85,47 2,52 100,00
Papua 13,07 84,87 2,06 100,00
Indonesia 12,70 84,30 3,00 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018 BPS

Profil Anak Indonesia 2019 259


Lampiran L-6.2. Anak USIA 5-17 Tahun menurut Provinsi dan Partisipasi Sekolah Formal dan NonFormal,
2018
Perdesaan
Tidak/Belum Masih Tidak
Provinsi Jumlah
Bersekolah Bersekolah Bersekolah lagi
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 11,29 87,61 1,10 100,00
Sumatera Utara 11,23 85,97 2,80 100,00
Sumatera Barat 13,69 83,65 2,67 100,00
Riau 13,30 83,28 3,42 100,00
Jambi 11,23 84,50 4,28 100,00
Sumatera Selatan 11,05 84,47 4,47 100,00
Bengkulu 12,01 85,25 2,74 100,00
Lampung 12,21 83,60 4,19 100,00
Kep. Bangka Belitung 12,09 81,88 6,03 100,00
Kepulauan Riau 14,81 82,83 2,36 100,00
DKI Jakarta - - - -
Jawa Barat 13,02 80,14 6,84 100,00
Jawa Tengah 11,73 83,10 5,17 100,00
DI Yogyakarta 16,11 82,62 1,27 100,00
Jawa Timur 13,16 82,19 4,65 100,00
Banten 12,13 82,06 5,80 100,00
Bali 13,27 83,87 2,87 100,00
Nusa Tenggara Barat 12,66 83,78 3,56 100,00
Nusa Tenggara Timur 11,84 84,19 3,97 100,00
Kalimantan Barat 11,66 81,66 6,68 100,00
Kalimantan Tengah 12,64 81,85 5,52 100,00
Kalimantan Selatan 13,91 80,33 5,76 100,00
Kalimantan Timur 13,14 84,34 2,51 100,00
Kalimantan Utara 15,84 80,97 3,19 100,00
Sulawesi Utara 11,23 85,01 3,76 100,00
Sulawesi Tengah 12,46 83,27 4,27 100,00
Sulawesi Selatan 11,60 83,49 4,91 100,00
Sulawesi Tenggara 11,09 84,08 4,83 100,00
Gorontalo 13,14 81,82 5,03 100,00
Sulawesi Barat 13,54 80,33 6,13 100,00
Maluku 9,43 87,77 2,80 100,00
Maluku Utara 9,68 88,03 2,28 100,00
Papua Barat 12,68 85,52 1,81 100,00
Papua 30,10 66,35 3,55 100,00
Indonesia 12,67 82,85 4,48 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

260 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-6.3. Anak USIA 5-17 Tahun menurut Provinsi dan Partisipasi Sekolah Formal dan NonFormal,
2018
Laki-laki
Tidak/Belum Masih Tidak
Provinsi Jumlah
Bersekolah Bersekolah Bersekolah lagi
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 11,54 87,19 1,27 100,00
Sumatera Utara 11,08 85,85 3,06 100,00
Sumatera Barat 13,74 83,18 3,08 100,00
Riau 14,35 81,87 3,78 100,00
Jambi 10,49 85,63 3,88 100,00
Sumatera Selatan 10,37 85,00 4,63 100,00
Bengkulu 12,83 84,03 3,14 100,00
Lampung 12,68 83,02 4,30 100,00
Kep. Bangka Belitung 13,01 81,08 5,91 100,00
Kepulauan Riau 12,99 86,05 0,96 100,00
DKI Jakarta 15,38 82,55 2,07 100,00
Jawa Barat 13,09 81,31 5,60 100,00
Jawa Tengah 12,16 83,19 4,65 100,00
DI Yogyakarta 13,25 85,77 0,98 100,00
Jawa Timur 13,45 83,02 3,54 100,00
Banten 13,53 82,48 3,98 100,00
Bali 13,40 84,08 2,52 100,00
Nusa Tenggara Barat 12,65 84,65 2,70 100,00
Nusa Tenggara Timur 11,71 84,11 4,18 100,00
Kalimantan Barat 11,72 81,78 6,50 100,00
Kalimantan Tengah 12,03 83,56 4,41 100,00
Kalimantan Selatan 14,74 80,11 5,15 100,00
Kalimantan Timur 13,22 84,26 2,53 100,00
Kalimantan Utara 13,69 82,37 3,95 100,00
Sulawesi Utara 10,69 85,00 4,30 100,00
Sulawesi Tengah 12,85 82,35 4,80 100,00
Sulawesi Selatan 11,90 82,67 5,43 100,00
Sulawesi Tenggara 11,68 84,62 3,70 100,00
Gorontalo 13,82 80,27 5,91 100,00
Sulawesi Barat 13,74 78,81 7,45 100,00
Maluku 10,45 87,09 2,46 100,00
Maluku Utara 10,39 87,32 2,29 100,00
Papua Barat 12,00 85,87 2,13 100,00
Papua 26,00 70,84 3,16 100,00
Indonesia 12,89 82,98 4,13 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 261


Lampiran L-6.4. Anak USIA 5-17 Tahun menurut Provinsi dan Partisipasi Sekolah Formal dan NonFormal,
2018
Perempuan
Tidak/Belum Masih Tidak
Provinsi Jumlah
Bersekolah Bersekolah Bersekolah lagi
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 11,51 87,86 0,63 100,00
Sumatera Utara 10,71 87,22 2,07 100,00
Sumatera Barat 14,24 84,63 1,13 100,00
Riau 12,65 85,26 2,09 100,00
Jambi 11,05 85,71 3,24 100,00
Sumatera Selatan 10,77 86,34 2,89 100,00
Bengkulu 11,62 86,93 1,45 100,00
Lampung 11,58 85,13 3,29 100,00
Kep. Bangka Belitung 12,56 83,95 3,49 100,00
Kepulauan Riau 14,87 84,40 0,73 100,00
DKI Jakarta 15,30 82,51 2,19 100,00
Jawa Barat 12,09 83,37 4,54 100,00
Jawa Tengah 11,34 85,05 3,61 100,00
DI Yogyakarta 18,64 80,43 0,93 100,00
Jawa Timur 13,34 83,12 3,53 100,00
Banten 12,57 84,26 3,17 100,00
Bali 14,24 83,43 2,33 100,00
Nusa Tenggara Barat 12,68 84,63 2,69 100,00
Nusa Tenggara Timur 11,70 85,28 3,02 100,00
Kalimantan Barat 11,84 83,26 4,90 100,00
Kalimantan Tengah 12,45 82,64 4,91 100,00
Kalimantan Selatan 14,00 81,22 4,78 100,00
Kalimantan Timur 13,12 85,11 1,77 100,00
Kalimantan Utara 16,69 81,12 2,20 100,00
Sulawesi Utara 10,55 87,15 2,30 100,00
Sulawesi Tengah 12,19 85,02 2,80 100,00
Sulawesi Selatan 11,04 85,48 3,48 100,00
Sulawesi Tenggara 10,78 85,28 3,94 100,00
Gorontalo 12,81 83,91 3,28 100,00
Sulawesi Barat 12,67 83,07 4,26 100,00
Maluku 9,04 89,00 1,96 100,00
Maluku Utara 9,35 88,51 2,15 100,00
Papua Barat 12,85 85,11 2,04 100,00
Papua 25,86 70,92 3,22 100,00
Indonesia 12,47 84,28 3,24 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

262 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-6.5. Anak USIA 5-17 Tahun menurut Provinsi dan Partisipasi Sekolah Formal dan NonFormal,
2018
Total
Tidak/Belum Masih Tidak
Provinsi Jumlah
Bersekolah Bersekolah Bersekolah lagi
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 11,53 87,52 0,96 100,00
Sumatera Utara 10,90 86,52 2,58 100,00
Sumatera Barat 13,99 83,90 2,11 100,00
Riau 13,52 83,53 2,95 100,00
Jambi 10,76 85,67 3,57 100,00
Sumatera Selatan 10,57 85,65 3,79 100,00
Bengkulu 12,25 85,43 2,33 100,00
Lampung 12,15 84,04 3,81 100,00
Kep. Bangka Belitung 12,79 82,48 4,72 100,00
Kepulauan Riau 13,95 85,21 0,84 100,00
DKI Jakarta 15,34 82,53 2,13 100,00
Jawa Barat 12,60 82,31 5,08 100,00
Jawa Tengah 11,76 84,09 4,15 100,00
DI Yogyakarta 15,89 83,15 0,95 100,00
Jawa Timur 13,40 83,07 3,53 100,00
Banten 13,07 83,34 3,59 100,00
Bali 13,81 83,77 2,43 100,00
Nusa Tenggara Barat 12,66 84,64 2,69 100,00
Nusa Tenggara Timur 11,70 84,69 3,61 100,00
Kalimantan Barat 11,78 82,51 5,72 100,00
Kalimantan Tengah 12,24 83,11 4,66 100,00
Kalimantan Selatan 14,38 80,65 4,97 100,00
Kalimantan Timur 13,17 84,68 2,15 100,00
Kalimantan Utara 15,16 81,75 3,09 100,00
Sulawesi Utara 10,62 86,05 3,32 100,00
Sulawesi Tengah 12,53 83,66 3,82 100,00
Sulawesi Selatan 11,48 84,04 4,48 100,00
Sulawesi Tenggara 11,25 84,94 3,81 100,00
Gorontalo 13,33 82,05 4,62 100,00
Sulawesi Barat 13,22 80,89 5,89 100,00
Maluku 9,76 88,02 2,22 100,00
Maluku Utara 9,89 87,89 2,22 100,00
Papua Barat 12,41 85,50 2,09 100,00
Papua 25,94 70,88 3,19 100,00
Indonesia 12,69 83,62 3,70 100,00
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 263


Lampiran L-6.6. Anak USIA 7-17 Tahun menurut Provinsi dan Partisipasi Sekolah Formal dan NonFormal,
2018 Perkotaan
Tidak/Belum Masih Tidak
Provinsi Jumlah
Bersekolah Bersekolah Bersekolah lagi
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 0,07 99,16 0,77 100,00
Sumatera Utara 0,27 97,03 2,71 100,00
Sumatera Barat 0,28 98,09 1,63 100,00
Riau 0,38 96,95 2,67 100,00
Jambi 0,26 97,42 2,32 100,00
Sumatera Selatan 0,22 96,75 3,02 100,00
Bengkulu 0,06 98,15 1,79 100,00
Lampung 0,38 96,38 3,24 100,00
Kep. Bangka Belitung 0,09 95,57 4,33 100,00
Kepulauan Riau 0,26 99,06 0,68 100,00
DKI Jakarta 0,23 97,22 2,55 100,00
Jawa Barat 0,19 94,57 5,24 100,00
Jawa Tengah 0,22 96,09 3,69 100,00
DI Yogyakarta 0,03 98,97 1,00 100,00
Jawa Timur 0,23 96,84 2,93 100,00
Banten 0,19 96,74 3,07 100,00
Bali 0,18 97,20 2,62 100,00
Nusa Tenggara Barat 0,28 97,75 1,97 100,00
Nusa Tenggara Timur 0,22 97,11 2,66 100,00
Kalimantan Barat 0,33 95,30 4,37 100,00
Kalimantan Tengah 0,38 95,93 3,70 100,00
Kalimantan Selatan 0,73 94,40 4,86 100,00
Kalimantan Timur 0,19 97,46 2,35 100,00
Kalimantan Utara 1,32 95,09 3,59 100,00
Sulawesi Utara 0,41 96,32 3,27 100,00
Sulawesi Tengah 0,70 96,23 3,07 100,00
Sulawesi Selatan 0,30 95,24 4,46 100,00
Sulawesi Tenggara 0,31 97,18 2,51 100,00
Gorontalo 0,85 94,46 4,69 100,00
Sulawesi Barat 1,37 92,63 6,00 100,00
Maluku 0,10 98,39 1,50 100,00
Maluku Utara 0,63 96,95 2,42 100,00
Papua Barat 1,40 95,66 2,95 100,00
Papua 2,44 95,13 2,44 100,00
Indonesia 0,26 96,21 3,53 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

264 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-6.7. Anak USIA 7-17 Tahun menurut Provinsi dan Partisipasi Sekolah Formal dan NonFormal,
2018
Perdesaan
Tidak/Belum Masih Tidak
Provinsi Jumlah
Bersekolah Bersekolah Bersekolah lagi
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 0,09 98,60 1,31 100,00
Sumatera Utara 0,46 96,32 3,22 100,00
Sumatera Barat 0,51 96,31 3,17 100,00
Riau 0,76 95,18 4,06 100,00
Jambi 0,31 94,63 5,05 100,00
Sumatera Selatan 0,34 94,38 5,28 100,00
Bengkulu 0,15 96,62 3,23 100,00
Lampung 0,24 94,79 4,97 100,00
Kep. Bangka Belitung 0,25 92,57 7,18 100,00
Kepulauan Riau 0,56 96,58 2,86 100,00
DKI Jakarta - - - -
Jawa Barat 0,38 91,56 8,06 100,00
Jawa Tengah 0,23 93,67 6,10 100,00
DI Yogyakarta 0,14 98,32 1,54 100,00
Jawa Timur 0,49 94,04 5,47 100,00
Banten 0,89 92,24 6,87 100,00
Bali 0,72 95,96 3,31 100,00
Nusa Tenggara Barat 0,34 95,44 4,22 100,00
Nusa Tenggara Timur 1,29 94,03 4,68 100,00
Kalimantan Barat 0,60 91,45 7,94 100,00
Kalimantan Tengah 0,55 92,95 6,50 100,00
Kalimantan Selatan 0,43 92,65 6,93 100,00
Kalimantan Timur 0,32 96,67 3,01 100,00
Kalimantan Utara 1,28 94,85 3,87 100,00
Sulawesi Utara 0,51 95,03 4,46 100,00
Sulawesi Tengah 0,76 94,18 5,06 100,00
Sulawesi Selatan 0,53 93,65 5,81 100,00
Sulawesi Tenggara 0,79 93,55 5,66 100,00
Gorontalo 0,80 93,31 5,90 100,00
Sulawesi Barat 0,92 91,71 7,37 100,00
Maluku 0,21 96,49 3,30 100,00
Maluku Utara 0,65 96,74 2,61 100,00
Papua Barat 2,20 95,68 2,13 100,00
Papua 20,35 75,45 4,20 100,00
Indonesia 0,95 93,77 5,29 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 265


Lampiran L-6.8. Anak USIA 7-17 Tahun menurut Provinsi dan Partisipasi Sekolah Formal dan NonFormal,
2018
Laki-laki
Tidak/Belum Masih Tidak
Provinsi Jumlah
Bersekolah Bersekolah Bersekolah lagi
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 0,10 98,38 1,52 100,00
Sumatera Utara 0,35 96,10 3,56 100,00
Sumatera Barat 0,41 95,93 3,66 100,00
Riau 0,65 94,82 4,53 100,00
Jambi 0,35 95,09 4,56 100,00
Sumatera Selatan 0,19 94,31 5,50 100,00
Bengkulu 0,15 96,09 3,76 100,00
Lampung 0,39 94,59 5,03 100,00
Kep. Bangka Belitung 0,23 92,61 7,16 100,00
Kepulauan Riau 0,14 98,72 1,14 100,00
DKI Jakarta 0,25 97,25 2,50 100,00
Jawa Barat 0,30 93,10 6,60 100,00
Jawa Tengah 0,17 94,34 5,50 100,00
DI Yogyakarta 0,07 98,78 1,15 100,00
Jawa Timur 0,35 95,51 4,14 100,00
Banten 0,53 94,75 4,73 100,00
Bali 0,41 96,65 2,94 100,00
Nusa Tenggara Barat 0,38 96,41 3,21 100,00
Nusa Tenggara Timur 1,03 94,04 4,93 100,00
Kalimantan Barat 0,44 91,87 7,69 100,00
Kalimantan Tengah 0,54 94,27 5,19 100,00
Kalimantan Selatan 0,47 93,30 6,23 100,00
Kalimantan Timur 0,41 96,56 3,04 100,00
Kalimantan Utara 1,53 93,80 4,67 100,00
Sulawesi Utara 0,57 94,43 5,00 100,00
Sulawesi Tengah 0,77 93,56 5,67 100,00
Sulawesi Selatan 0,58 93,05 6,37 100,00
Sulawesi Tenggara 0,72 94,93 4,35 100,00
Gorontalo 1,24 91,86 6,90 100,00
Sulawesi Barat 1,07 90,03 8,90 100,00
Maluku 0,15 97,00 2,85 100,00
Maluku Utara 0,77 96,53 2,70 100,00
Papua Barat 1,57 95,94 2,49 100,00
Papua 16,16 80,11 3,74 100,00
Indonesia 0,61 94,52 4,87 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

266 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-6.9. Anak USIA 7-17 Tahun menurut Provinsi dan Partisipasi Sekolah Formal dan NonFormal,
2018
Perempuan
Tidak/Belum Masih Tidak
Provinsi Jumlah
Bersekolah Bersekolah Bersekolah lagi
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 0,06 99,18 0,76 100,00
Sumatera Utara 0,39 97,26 2,35 100,00
Sumatera Barat 0,41 98,24 1,35 100,00
Riau 0,57 96,96 2,47 100,00
Jambi 0,24 95,94 3,82 100,00
Sumatera Selatan 0,41 96,26 3,34 100,00
Bengkulu 0,09 98,23 1,68 100,00
Lampung 0,17 95,97 3,86 100,00
Kep. Bangka Belitung 0,10 95,74 4,16 100,00
Kepulauan Riau 0,47 98,63 0,90 100,00
DKI Jakarta 0,21 97,18 2,61 100,00
Jawa Barat 0,18 94,49 5,33 100,00
Jawa Tengah 0,28 95,52 4,20 100,00
DI Yogyakarta 0,04 98,81 1,15 100,00
Jawa Timur 0,36 95,51 4,14 100,00
Banten 0,29 95,92 3,79 100,00
Bali 0,33 96,88 2,79 100,00
Nusa Tenggara Barat 0,25 96,60 3,16 100,00
Nusa Tenggara Timur 1,10 95,33 3,57 100,00
Kalimantan Barat 0,59 93,59 5,82 100,00
Kalimantan Tengah 0,43 93,93 5,65 100,00
Kalimantan Selatan 0,67 93,59 5,74 100,00
Kalimantan Timur 0,06 97,84 2,10 100,00
Kalimantan Utara 1,05 96,27 2,68 100,00
Sulawesi Utara 0,34 96,96 2,70 100,00
Sulawesi Tengah 0,72 95,95 3,33 100,00
Sulawesi Selatan 0,29 95,61 4,10 100,00
Sulawesi Tenggara 0,50 94,83 4,68 100,00
Gorontalo 0,37 95,70 3,93 100,00
Sulawesi Barat 0,98 93,92 5,10 100,00
Maluku 0,19 97,49 2,33 100,00
Maluku Utara 0,51 97,08 2,41 100,00
Papua Barat 2,22 95,38 2,40 100,00
Papua 15,78 80,42 3,80 100,00
Indonesia 0,55 95,63 3,82 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 267


Lampiran L-6.10. Anak USIA 7-17 Tahun menurut Provinsi dan Partisipasi Sekolah Formal dan NonFormal,
2018
Total
Tidak/Belum Masih Tidak
Provinsi Jumlah
Bersekolah Bersekolah Bersekolah lagi
(1) (2) (3) (4) (5)
Aceh 0,08 98,77 1,15 100,00
Sumatera Utara 0,37 96,67 2,96 100,00
Sumatera Barat 0,41 97,07 2,52 100,00
Riau 0,61 95,87 3,52 100,00
Jambi 0,30 95,51 4,20 100,00
Sumatera Selatan 0,30 95,25 4,45 100,00
Bengkulu 0,12 97,12 2,76 100,00
Lampung 0,28 95,26 4,46 100,00
Kep. Bangka Belitung 0,17 94,16 5,68 100,00
Kepulauan Riau 0,31 98,68 1,02 100,00
DKI Jakarta 0,23 97,22 2,55 100,00
Jawa Barat 0,24 93,78 5,98 100,00
Jawa Tengah 0,22 94,91 4,87 100,00
DI Yogyakarta 0,06 98,79 1,15 100,00
Jawa Timur 0,36 95,51 4,14 100,00
Banten 0,41 95,31 4,28 100,00
Bali 0,38 96,76 2,86 100,00
Nusa Tenggara Barat 0,32 96,50 3,18 100,00
Nusa Tenggara Timur 1,07 94,68 4,26 100,00
Kalimantan Barat 0,51 92,71 6,78 100,00
Kalimantan Tengah 0,48 94,10 5,42 100,00
Kalimantan Selatan 0,57 93,44 5,99 100,00
Kalimantan Timur 0,23 97,19 2,57 100,00
Kalimantan Utara 1,30 94,99 3,71 100,00
Sulawesi Utara 0,46 95,66 3,88 100,00
Sulawesi Tengah 0,74 94,73 4,53 100,00
Sulawesi Selatan 0,44 94,30 5,26 100,00
Sulawesi Tenggara 0,61 94,88 4,51 100,00
Gorontalo 0,82 93,73 5,45 100,00
Sulawesi Barat 1,03 91,93 7,05 100,00
Maluku 0,17 97,24 2,60 100,00
Maluku Utara 0,65 96,80 2,56 100,00
Papua Barat 1,88 95,67 2,45 100,00
Papua 15,98 80,26 3,77 100,00
Indonesia 0,58 95,06 4,36 100,00

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

268 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-6.11. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Anak menurut Provinsi, 2018

Perkotaan
Kelompok Umur
Provinsi
7-12 13-15 16-17
(1) (2) (3) (4)
Aceh 99,95 99,18 96,49
Sumatera Utara 99,66 97,24 88,97
Sumatera Barat 99,53 97,18 95,08
Riau 99,57 96,22 89,70
Jambi 99,68 98,68 90,27
Sumatera Selatan 99,86 95,50 89,60
Bengkulu 99,89 99,04 91,99
Lampung 100,00 96,65 85,41
Kep. Bangka Belitung 99,83 95,83 82,75
Kep. Riau 99,51 99,69 96,09
DKI Jakarta 99,77 97,77 87,09
Jawa Barat 99,62 94,83 79,05
Jawa Tengah 99,77 96,20 85,86
D I Yogyakarta 99,95 99,88 94,67
Jawa Timur 99,67 98,08 86,79
Banten 99,66 96,63 87,16
Bali 99,66 98,90 87,11
Nusa Tenggara Barat 99,33 98,91 91,70
Nusa Tenggara Timur 98,72 97,51 92,58
Kalimantan Barat 98,96 95,74 85,67
Kalimantan Tengah 99,86 95,88 83,05
Kalimantan Selatan 99,86 92,74 81,82
Kalimantan Timur 99,91 98,77 88,22
Kalimantan Utara 97,94 97,08 83,46
Sulawesi Utara 99,26 96,21 88,95
Sulawesi Tengah 98,64 93,84 93,80
Sulawesi Selatan 99,48 93,83 84,59
Sulawesi Tenggara 99,71 96,40 91,14
Gorontalo 98,76 90,64 87,31
Sulawesi Barat 98,51 87,89 81,24
Maluku 99,73 98,82 93,89
Maluku Utara 99,06 99,13 89,00
Papua Barat 98,04 97,50 85,10
Papua 95,85 95,22 92,64
Indonesia 99,62 96,46 85,67

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 269


Lampiran L-6.12. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Anak menurut Provinsi, 2018

Perdesaan
Kelompok Umur
Provinsi
7-12 13-15 16-17
(1) (2) (3) (4)
Aceh 99,81 98,20 95,12
Sumatera Utara 99,34 96,26 86,06
Sumatera Barat 99,50 95,78 86,43
Riau 98,76 94,14 84,02
Jambi 99,66 95,04 77,33
Sumatera Selatan 99,63 93,80 77,68
Bengkulu 99,86 96,53 85,40
Lampung 99,81 94,27 78,61
Kep. Bangka Belitung 99,87 89,00 75,91
Kep. Riau 99,59 96,80 85,49
DKI Jakarta - - -
Jawa Barat 99,25 92,27 67,61
Jawa Tengah 99,75 95,34 74,28
D I Yogyakarta 99,76 99,26 93,10
Jawa Timur 99,56 95,83 76,02
Banten 98,84 94,00 65,79
Bali 99,37 96,22 86,63
Nusa Tenggara Barat 99,52 96,70 80,88
Nusa Tenggara Timur 98,17 94,28 77,51
Kalimantan Barat 98,18 91,50 69,70
Kalimantan Tengah 99,52 92,65 73,30
Kalimantan Selatan 99,47 92,21 70,85
Kalimantan Timur 99,49 99,12 82,42
Kalimantan Utara 98,61 95,44 82,67
Sulawesi Utara 99,45 93,80 82,82
Sulawesi Tengah 98,11 92,35 83,47
Sulawesi Selatan 99,09 92,68 78,21
Sulawesi Tenggara 99,05 92,97 74,93
Gorontalo 98,77 91,82 77,17
Sulawesi Barat 98,17 90,53 73,55
Maluku 99,69 95,79 86,69
Maluku Utara 99,09 96,92 87,84
Papua Barat 96,87 96,80 88,86
Papua 78,47 74,64 63,96
Indonesia 98,78 94,13 77,20

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

270 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-6.13. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Anak menurut Provinsi, 2018

Laki-laki
Kelompok Umur
Provinsi
7-12 13-15 16-17
(1) (2) (3) (4)
Aceh 99,88 98,44 93,44
Sumatera Utara 99,48 96,26 84,86
Sumatera Barat 99,45 94,79 86,19
Riau 98,97 93,55 82,66
Jambi 99,58 96,23 79,90
Sumatera Selatan 99,73 93,80 77,96
Bengkulu 99,84 96,42 82,90
Lampung 99,85 94,09 78,35
Kep. Bangka Belitung 99,89 89,46 75,74
Kep. Riau 99,74 99,02 94,67
DKI Jakarta 99,93 97,79 86,64
Jawa Barat 99,48 92,90 73,98
Jawa Tengah 99,72 94,84 78,92
D I Yogyakarta 99,87 99,83 93,90
Jawa Timur 99,56 96,56 82,01
Banten 99,49 94,74 79,21
Bali 99,39 98,63 85,43
Nusa Tenggara Barat 99,07 97,00 87,47
Nusa Tenggara Timur 98,09 93,76 80,39
Kalimantan Barat 98,36 91,81 71,65
Kalimantan Tengah 99,63 93,38 77,54
Kalimantan Selatan 99,82 92,07 75,68
Kalimantan Timur 99,59 98,07 84,08
Kalimantan Utara 98,02 94,42 79,35
Sulawesi Utara 99,34 93,06 82,76
Sulawesi Tengah 97,96 90,80 84,35
Sulawesi Selatan 99,07 91,38 76,95
Sulawesi Tenggara 99,19 94,79 80,51
Gorontalo 98,33 87,64 76,97
Sulawesi Barat 98,12 86,93 70,22
Maluku 99,71 97,05 88,59
Maluku Utara 98,93 97,41 86,57
Papua Barat 97,90 96,97 87,34
Papua 82,16 80,78 71,09
Indonesia 99,17 94,51 80,09

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 271


Lampiran L-6.14. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Anak menurut Provinsi, 2018

Perempuan
Kelompok Umur
Provinsi
7-12 13-15 16-17
(1) (2) (3) (4)
Aceh 99,84 98,54 97,84
Sumatera Utara 99,51 97,27 90,30
Sumatera Barat 99,57 97,92 94,49
Riau 99,18 96,30 90,41
Jambi 99,76 96,05 84,33
Sumatera Selatan 99,69 95,08 87,12
Bengkulu 99,90 98,37 92,77
Lampung 99,87 95,99 83,23
Kep. Bangka Belitung 99,81 96,35 83,15
Kep. Riau 99,32 99,39 94,02
DKI Jakarta 99,59 97,75 87,57
Jawa Barat 99,57 95,53 78,12
Jawa Tengah 99,80 96,81 81,68
D I Yogyakarta 99,93 99,59 94,53
Jawa Timur 99,67 97,54 81,17
Banten 99,29 96,89 82,35
Bali 99,75 97,14 88,46
Nusa Tenggara Barat 99,84 98,41 84,55
Nusa Tenggara Timur 98,47 96,21 82,80
Kalimantan Barat 98,51 93,90 79,54
Kalimantan Tengah 99,68 94,35 76,43
Kalimantan Selatan 99,46 92,84 77,19
Kalimantan Timur 99,93 99,80 88,62
Kalimantan Utara 98,48 98,44 86,85
Sulawesi Utara 99,39 97,09 89,63
Sulawesi Tengah 98,53 94,68 90,03
Sulawesi Selatan 99,44 94,92 85,05
Sulawesi Tenggara 99,38 93,76 82,18
Gorontalo 99,23 95,18 85,02
Sulawesi Barat 98,39 92,94 81,30
Maluku 99,70 97,04 90,87
Maluku Utara 99,25 97,54 89,77
Papua Barat 96,69 97,19 87,12
Papua 82,72 79,14 73,13
Indonesia 99,27 96,26 83,56

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

272 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-6.15. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Anak menurut Provinsi, 2018

Total
Kelompok Umur
Provinsi
7-12 13-15 16-17
(1) (2) (3) (4)
Aceh 99,86 98,49 95,54
Sumatera Utara 99,50 96,75 87,59
Sumatera Barat 99,51 96,37 90,29
Riau 99,07 94,95 86,37
Jambi 99,67 96,14 82,06
Sumatera Selatan 99,71 94,41 82,41
Bengkulu 99,87 97,36 87,78
Lampung 99,86 95,00 80,72
Kep. Bangka Belitung 99,85 92,70 79,52
Kep. Riau 99,52 99,20 94,38
DKI Jakarta 99,77 97,77 87,09
Jawa Barat 99,52 94,15 76,05
Jawa Tengah 99,76 95,79 80,25
D I Yogyakarta 99,90 99,72 94,21
Jawa Timur 99,62 97,02 81,59
Banten 99,39 95,79 80,66
Bali 99,56 97,92 86,93
Nusa Tenggara Barat 99,43 97,72 86,05
Nusa Tenggara Timur 98,28 94,95 81,58
Kalimantan Barat 98,43 92,84 75,68
Kalimantan Tengah 99,66 93,87 76,97
Kalimantan Selatan 99,64 92,43 76,43
Kalimantan Timur 99,76 98,89 86,41
Kalimantan Utara 98,24 96,38 83,11
Sulawesi Utara 99,36 95,00 86,07
Sulawesi Tengah 98,24 92,74 87,08
Sulawesi Selatan 99,25 93,13 80,90
Sulawesi Tenggara 99,28 94,29 81,35
Gorontalo 98,76 91,38 80,99
Sulawesi Barat 98,25 89,95 75,44
Maluku 99,71 97,05 89,67
Maluku Utara 99,08 97,47 88,21
Papua Barat 97,31 97,08 87,23
Papua 82,43 80,00 72,03
Indonesia 99,22 95,36 81,80

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 273


Lampiran L-6.16. Angka Partisipasi Murni (APM) Anak menurut Provinsi dan Jenjang Pendidikan, 2018

Perkotaan
Jenjang Pendidikan
Provinsi
SD SMP SM
(1) (2) (3) (4)
Aceh 98,26 89,73 75,99
Sumatera Utara 96,33 78,39 67,36
Sumatera Barat 97,74 79,68 70,57
Riau 95,98 79,07 69,02
Jambi 97,61 79,42 70,00
Sumatera Selatan 94,88 73,55 64,38
Bengkulu 98,62 80,62 70,41
Lampung 99,07 79,73 64,11
Kep. Bangka Belitung 96,68 75,47 65,45
Kep. Riau 99,04 84,61 72,97
DKI Jakarta 98,03 80,81 60,01
Jawa Barat 98,60 82,02 60,11
Jawa Tengah 97,72 80,48 64,19
D I Yogyakarta 99,60 80,74 71,74
Jawa Timur 98,03 84,02 68,79
Banten 98,60 82,62 61,35
Bali 96,39 85,88 72,33
Nusa Tenggara Barat 99,13 86,32 73,00
Nusa Tenggara Timur 92,77 69,81 66,49
Kalimantan Barat 96,19 67,54 59,65
Kalimantan Tengah 99,08 74,46 58,76
Kalimantan Selatan 98,18 78,22 63,72
Kalimantan Timur 99,06 78,48 68,51
Kalimantan Utara 96,25 79,06 67,95
Sulawesi Utara 92,77 72,85 65,40
Sulawesi Tengah 91,40 69,62 75,48
Sulawesi Selatan 97,43 77,01 61,68
Sulawesi Tenggara 95,69 77,29 69,23
Gorontalo 98,76 69,97 56,73
Sulawesi Barat 95,48 64,77 61,95
Maluku 92,84 72,61 71,02
Maluku Utara 94,90 78,59 65,59
Papua Barat 92,60 72,61 72,53
Papua 92,47 73,32 69,55
Indonesia 97,74 80,61 64,65

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

274 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-6.17. Angka Partisipasi Murni (APM) Anak menurut Provinsi dan Jenjang Pendidikan, 2018

Perdesaan
Jenjang Pendidikan
Provinsi
SD SMP SM
(1) (2) (3) (4)
Aceh 99,46 85,02 67,67
Sumatera Utara 98,87 80,12 67,16
Sumatera Barat 99,31 75,18 65,03
Riau 98,06 79,15 59,62
Jambi 99,66 79,36 56,18
Sumatera Selatan 99,54 78,81 57,04
Bengkulu 98,63 76,75 62,71
Lampung 99,26 80,44 56,95
Kep. Bangka Belitung 98,82 72,17 49,99
Kep. Riau 99,59 84,48 72,52
DKI Jakarta - - -
Jawa Barat 97,28 78,20 49,50
Jawa Tengah 97,79 78,04 54,13
D I Yogyakarta 99,24 92,00 65,91
Jawa Timur 97,72 79,69 53,73
Banten 96,64 77,26 52,54
Bali 95,81 86,20 74,32
Nusa Tenggara Barat 98,64 81,79 59,34
Nusa Tenggara Timur 96,92 67,70 48,82
Kalimantan Barat 97,51 65,16 46,30
Kalimantan Tengah 99,08 78,06 50,63
Kalimantan Selatan 99,31 70,76 51,62
Kalimantan Timur 97,18 81,84 68,28
Kalimantan Utara 88,25 77,05 58,81
Sulawesi Utara 96,86 75,49 60,05
Sulawesi Tengah 93,28 74,45 58,61
Sulawesi Selatan 98,45 73,90 58,81
Sulawesi Tenggara 98,47 76,23 58,52
Gorontalo 98,17 68,94 57,76
Sulawesi Barat 95,95 70,73 56,20
Maluku 97,57 75,13 58,04
Maluku Utara 97,78 75,54 63,11
Papua Barat 94,29 66,76 56,14
Papua 75,21 51,37 35,55
Indonesia 97,40 76,86 55,93

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 275


Lampiran L-6.18. Angka Partisipasi Murni (APM) Anak menurut Provinsi dan Jenjang Pendidikan, 2018

Laki-laki
Jenjang Pendidikan
Provinsi
SD SMP SM
(1) (2) (3) (4)
Aceh 99,27 86,33 67,86
Sumatera Utara 97,98 80,71 64,13
Sumatera Barat 98,82 74,43 61,15
Riau 97,28 76,96 60,03
Jambi 99,19 80,92 58,78
Sumatera Selatan 98,27 75,95 56,86
Bengkulu 98,50 75,82 62,77
Lampung 99,59 79,05 56,70
Kep. Bangka Belitung 98,31 70,77 54,19
Kep. Riau 99,57 85,61 71,92
DKI Jakarta 98,47 82,83 59,10
Jawa Barat 98,60 80,19 58,08
Jawa Tengah 97,77 77,89 59,67
D I Yogyakarta 99,55 82,41 67,44
Jawa Timur 97,99 81,67 61,29
Banten 98,31 78,03 59,41
Bali 96,60 87,21 72,38
Nusa Tenggara Barat 98,72 84,82 69,05
Nusa Tenggara Timur 96,37 65,79 49,65
Kalimantan Barat 97,26 65,85 48,67
Kalimantan Tengah 99,12 74,07 51,33
Kalimantan Selatan 99,39 73,42 57,15
Kalimantan Timur 98,34 81,45 66,38
Kalimantan Utara 93,11 79,34 62,78
Sulawesi Utara 94,91 71,41 60,00
Sulawesi Tengah 93,70 69,63 60,19
Sulawesi Selatan 97,91 74,16 57,50
Sulawesi Tenggara 97,33 78,19 62,76
Gorontalo 97,96 65,00 55,93
Sulawesi Barat 95,57 67,98 52,00
Maluku 95,93 73,42 61,64
Maluku Utara 97,19 75,92 64,64
Papua Barat 94,47 69,57 65,69
Papua 79,46 58,51 45,27
Indonesia 97,79 78,18 59,74

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

276 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-6.19. Angka Partisipasi Murni (APM) Anak menurut Provinsi dan Jenjang Pendidikan, 2018

Perempuan
Jenjang Pendidikan
Provinsi
SD SMP SM
(1) (2) (3) (4)
Aceh 98,91 86,44 72,77
Sumatera Utara 97,26 77,70 70,39
Sumatera Barat 98,48 79,65 74,06
Riau 97,24 81,19 67,25
Jambi 98,88 77,85 63,20
Sumatera Selatan 97,42 77,96 63,03
Bengkulu 98,76 80,42 68,24
Lampung 98,81 81,51 61,74
Kep. Bangka Belitung 97,10 77,54 61,58
Kep. Riau 98,69 83,55 74,08
DKI Jakarta 97,56 78,63 60,94
Jawa Barat 97,90 81,91 56,58
Jawa Tengah 97,74 80,82 58,94
D I Yogyakarta 99,44 85,02 73,27
Jawa Timur 97,77 82,32 61,72
Banten 97,61 83,92 57,99
Bali 95,75 84,65 73,61
Nusa Tenggara Barat 99,02 82,98 62,28
Nusa Tenggara Timur 95,87 70,62 57,85
Kalimantan Barat 96,92 65,97 53,69
Kalimantan Tengah 99,03 79,32 56,09
Kalimantan Selatan 98,18 74,31 58,47
Kalimantan Timur 98,47 77,71 70,65
Kalimantan Utara 92,28 77,00 65,41
Sulawesi Utara 94,95 77,15 65,84
Sulawesi Tengah 91,88 76,79 68,61
Sulawesi Selatan 98,16 76,12 62,66
Sulawesi Tenggara 97,71 74,99 62,98
Gorontalo 98,84 73,73 58,85
Sulawesi Barat 96,12 70,86 63,53
Maluku 95,68 74,79 66,00
Maluku Utara 96,98 76,74 63,19
Papua Barat 92,80 68,62 60,05
Papua 78,81 55,52 43,18
Indonesia 97,37 79,55 61,64

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 277


Lampiran L-6.20. Angka Partisipasi Murni (APM) Anak menurut Provinsi dan Jenjang Pendidikan, 2018

Total
Jenjang Pendidikan
Provinsi
SD SMP SM
(1) (2) (3) (4)
Aceh 99,10 86,38 70,26
Sumatera Utara 97,63 79,25 67,27
Sumatera Barat 98,66 77,08 67,48
Riau 97,26 79,12 63,47
Jambi 99,04 79,38 60,92
Sumatera Selatan 97,85 76,91 59,87
Bengkulu 98,63 78,03 65,45
Lampung 99,21 80,23 59,18
Kep. Bangka Belitung 97,71 73,96 57,86
Kep. Riau 99,12 84,59 72,90
DKI Jakarta 98,03 80,81 60,01
Jawa Barat 98,25 81,01 57,33
Jawa Tengah 97,75 79,31 59,31
D I Yogyakarta 99,50 83,61 70,22
Jawa Timur 97,88 81,98 61,51
Banten 97,97 80,91 58,72
Bali 96,19 86,00 73,00
Nusa Tenggara Barat 98,86 83,88 65,77
Nusa Tenggara Timur 96,12 68,14 53,67
Kalimantan Barat 97,09 65,91 51,16
Kalimantan Tengah 99,08 76,70 53,67
Kalimantan Selatan 98,80 73,84 57,78
Kalimantan Timur 98,40 79,68 68,43
Kalimantan Utara 92,72 78,20 64,05
Sulawesi Utara 94,93 74,18 62,83
Sulawesi Tengah 92,82 73,20 64,25
Sulawesi Selatan 98,03 75,13 60,03
Sulawesi Tenggara 97,51 76,64 62,87
Gorontalo 98,39 69,33 57,38
Sulawesi Barat 95,83 69,43 57,58
Maluku 95,80 74,08 63,68
Maluku Utara 97,09 76,31 63,88
Papua Barat 93,66 69,11 63,11
Papua 79,14 57,09 44,31
Indonesia 97,58 78,84 60,67

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

278 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-6.21. Angka Partisipasi Kasar (APK) Anak menurut Provinsi dan Jenjang Pendidikan, 2018

Perkotaan
Jenjang Pendidikan
Provinsi
SD SMP SM
(1) (2) (3) (4)

Aceh 111,74 100,48 93,02


Sumatera Utara 110,31 89,73 94,68
Sumatera Barat 108,32 96,17 88,83
Riau 104,88 95,86 94,22
Jambi 110,01 90,63 96,83
Sumatera Selatan 112,85 91,26 87,52
Bengkulu 114,37 94,09 95,10
Lampung 109,75 93,10 98,10
Kep. Bangka Belitung 110,12 86,51 94,22
Kep. Riau 106,89 93,27 90,38
DKI Jakarta 105,27 94,91 73,98
Jawa Barat 106,21 91,25 80,45
Jawa Tengah 106,99 91,84 90,25
D I Yogyakarta 105,87 91,75 89,90
Jawa Timur 105,07 94,93 88,98
Banten 108,29 93,55 76,53
Bali 102,84 95,94 86,21
Nusa Tenggara Barat 108,44 94,06 97,23
Nusa Tenggara Timur 112,12 95,81 98,97
Kalimantan Barat 115,27 90,71 87,54
Kalimantan Tengah 108,45 90,74 87,61
Kalimantan Selatan 106,84 93,75 78,80
Kalimantan Timur 108,44 90,87 98,13
Kalimantan Utara 104,41 93,63 100,85
Sulawesi Utara 107,62 88,79 87,72
Sulawesi Tengah 104,58 92,89 102,15
Sulawesi Selatan 108,86 91,29 85,18
Sulawesi Tenggara 110,18 87,57 96,55
Gorontalo 111,20 80,51 86,70
Sulawesi Barat 107,95 79,91 97,74
Maluku 110,12 94,52 97,18
Maluku Utara 110,65 93,68 89,75
Papua Barat 104,41 89,22 107,09
Papua 106,94 103,23 110,32
Indonesia 107,22 92,60 86,64

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 279


Lampiran L-6.22. Angka Partisipasi Kasar (APK) Anak menurut Provinsi dan Jenjang Pendidikan, 2018

Perdesaan
Jenjang Pendidikan
Provinsi
SD SMP SM
(1) (2) (3) (4)

Aceh 114,77 98,82 81,09


Sumatera Utara 111,86 90,23 88,05
Sumatera Barat 112,91 87,10 80,12
Riau 108,20 93,11 76,68
Jambi 112,83 86,22 69,59
Sumatera Selatan 114,86 83,83 71,06
Bengkulu 113,15 91,08 80,33
Lampung 110,24 94,65 74,09
Kep. Bangka Belitung 112,27 85,24 69,78
Kep. Riau 109,71 88,38 94,39
DKI Jakarta - - -
Jawa Barat 106,33 90,15 60,80
Jawa Tengah 109,41 92,09 77,66
D I Yogyakarta 105,75 112,25 80,45
Jawa Timur 108,48 94,94 68,56
Banten 112,08 87,80 60,38
Bali 103,34 96,47 90,75
Nusa Tenggara Barat 109,13 93,63 82,87
Nusa Tenggara Timur 117,64 86,59 69,80
Kalimantan Barat 117,75 79,47 74,49
Kalimantan Tengah 111,04 98,85 67,18
Kalimantan Selatan 113,02 80,84 72,44
Kalimantan Timur 107,23 95,62 92,00
Kalimantan Utara 99,64 115,43 73,62
Sulawesi Utara 110,27 88,16 76,33
Sulawesi Tengah 105,51 92,87 74,17
Sulawesi Selatan 111,27 84,13 79,19
Sulawesi Tenggara 111,15 83,76 76,81
Gorontalo 112,39 79,97 82,82
Sulawesi Barat 108,75 83,04 80,30
Maluku 113,53 96,34 79,45
Maluku Utara 114,73 90,23 87,28
Papua Barat 114,54 89,99 78,63
Papua 90,79 82,38 49,34
Indonesia 110,15 90,31 73,57

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

280 Profil Anak Indonesia 2019


Lampiran L-6.23. Angka Partisipasi Kasar (APK) Anak menurut Provinsi dan Jenjang Pendidikan, 2018

Laki-laki
Jenjang Pendidikan
Provinsi
SD SMP SM
(1) (2) (3) (4)

Aceh 114,09 100,20 82,60


Sumatera Utara 110,57 91,77 87,47
Sumatera Barat 111,85 90,15 77,10
Riau 105,92 92,55 79,51
Jambi 112,28 89,35 73,41
Sumatera Selatan 115,51 84,30 75,52
Bengkulu 112,24 89,36 85,31
Lampung 109,83 93,49 79,08
Kep. Bangka Belitung 113,88 81,00 81,04
Kep. Riau 107,47 94,38 87,11
DKI Jakarta 104,62 97,21 71,49
Jawa Barat 106,76 88,32 77,20
Jawa Tengah 108,74 90,72 86,06
D I Yogyakarta 107,89 96,01 86,25
Jawa Timur 107,28 95,47 80,06
Banten 109,51 88,65 74,18
Bali 103,43 97,00 87,59
Nusa Tenggara Barat 107,78 95,84 93,39
Nusa Tenggara Timur 118,71 87,68 74,23
Kalimantan Barat 116,39 82,29 78,59
Kalimantan Tengah 110,61 94,10 71,75
Kalimantan Selatan 111,42 86,06 75,31
Kalimantan Timur 109,54 95,38 95,99
Kalimantan Utara 103,09 104,86 89,80
Sulawesi Utara 109,08 85,55 78,86
Sulawesi Tengah 106,32 89,33 79,36
Sulawesi Selatan 109,83 85,74 77,20
Sulawesi Tenggara 110,34 86,79 86,60
Gorontalo 110,29 78,85 84,20
Sulawesi Barat 106,77 82,41 78,07
Maluku 111,37 95,56 83,26
Maluku Utara 114,31 89,03 91,60
Papua Barat 112,07 90,35 92,29
Papua 95,43 91,52 67,10
Indonesia 108,91 90,82 80,33

Sumber: Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, BPS

Profil Anak Indonesia 2019 281


Lampiran L-6.24. Angka Partisipasi Kasar (APK) Anak menurut Provinsi dan Jenjang Pendidikan, 2018

Perempuan
Jenjang Pendidikan
Provinsi
SD SMP SM
(1) (2) (3