Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN ORAL MEDICINE

(Untuk Kasus yang Memerlukan Perawatan)


Oral Manifestations of Diabetes Mellitus

A. Identitas Pasien

Nama : Baharrudin

Tempat/Tanggal Lahir : Palembang / 24 Januari 1957

Suku : Melayu

Jenis Kelamin : Pria

Status Perkawinan : Kawin

Agama : Islam

Alamat : Jl. HBR Motik Perumahan BPI No. A17 KM 8

Telepon : 081269882050

Pendidikan Terakhir : S1

Pekerjaan : PNS

Nomor rekam medik : 0000. 37. 64. 83

B. ANAMNESA
a. Keluhan Utama dan Keluhan Tambahan
Pasien mengeluhkan terdapat lapisan putih pada lidahnya sejak ± 1 bulan yang
lalu, tidak ada rasa sakit, pasien merasa tidak nyaman dengan keadaan lidahnya
tersebut dan meminta lidahnya untuk disembuhkan. Keluhan tambahan ada bau
mulut, rasa terbakar di lidah dan mulut terasa kering.
b. Riwayat Perawatan Gigi
Belum pernah dirawat
c. Kebiasaan Buruk
Tidak ada
d. Riwayat Sosial
Pasien bekerja sebagai PNS di Palembang, tinggal di komplek BPI bersama
istri, 3 orang anak dan 1 cucunya.
e. Riwayat Penyakit Sistemik
Pasien memiliki penyakit kencing manis sejak tahun 2001, penyakit jantung
sejak tahun 2012.

C. PEMERIKSAAN EKSTRAORAL
Wajah : Simetris
Bibir : Sehat
Kelenjar Getah Bening : Kanan dan kiri = tidak teraba dan tidak sakit

D. PEMERIKSAAN INTRAORAL
Debri : Ada, regio b, e
Plak : Ada, regio b, e
Kalkulus : Ada, regio b, e
Pendarahan papila
interdental : Ada, regio a, b, c, d, e, f
Gingiva : Bengkak dan kemerahan di regio a, b, c, d, e ,f
Mukosa : Sehat
Palatum : Sehat
Lidah : Lesi berwarna putih dengan tepi kemerahan pada
punggung lidah, dapat dikerok dan meninggalkan
permukaan yang berwarna merah.
Lekukan-lekuan oval putih di tepi lidah kanan dan kiri
Dasar mulut : Sehat
Hubungan rahang : Ortognati

Kelainan gigi geligi : Tidak ada

Pemeriksaan Gigi Geligi


 Malposisi : 21, 31, 32, 41
 Pulpitis reversible (lesi D3) : 36, 46
 Resesi gingiva : 21, 23, 24, 33, 32, 31, 41, 44, 45

E. DIAGNOSA SEMENTARA
 Kandidiasis pseudomembran akut
 Periodontitis diabetikum
 Xerostomia diabetikum
 Burning Mouth Syndrome (BMS)
 Oral molodour (ketosis diabetik)

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Dilakukan pemeriksaan hematologi, gula darah puasa 137 mg/dl dan gula
darah sewaktu 289 mg/dl.
 Dilakukan pemeriksaan histopatologi untuk kasus kandidiasis. Setelah
dilakukan scrapping ulang pada permukaan dorsum lidah sediaan latar
belakang kotor tampak sel-sel epitel supertimal, spora, hypae dan nekrosis.
Tidak dijumpai sel-sel ganas pada sediaan ini.

G. TINJAUAN PUSTAKA
Diabetes mellitus adalah suatu sindrom kronik gangguan metabolisme
karbohidrat, protein dan lemak akibat ketidakcukupan sekresi insulin atau
resistensi insulin pada jaringan yang dituju.1 Klasifikasi diabetes mellitus yaitu
:2,3
1. Tipe I (sebelumnya disebut insulin dipenden diabetes mellitus
(IDDM) atau juvenile-onset diabetes) - defisiensi insulin absolut
2. Tipe II (sebelumnya disebut non-insulin dipenden diabetes mellitus
(NIDDM) atau dewasa- onset diabetes) - resistensi insulin dengan
berbagai tingkat kerusakan sekresi insulin.
3. Diabetes mellitus gestasional (DMG) - bentuk intoleransi glukosa
selama kehamilan.
4. Jenis lainnya
 Defek genetik dari sel beta pankreas (maturity onset diabetes
of the young (MODY), DNA mitokondria.
 Defek genetik kerja insulin.
 Gangguan yang melibatkan fungsi eksokrin dari pankreas :
pankreatitis, pankreatektomi, pancreatic cancer.
 Gangguan endokrin : hipertiroidisme, glucagnoma,
akromegali, cushing’s syndrome.
 Obat / zat kimia :hormon tiroid, hormon steroid
(glukokortikoid), tiazin, dilantin, pentamidin.
 Bedah.
 Malnutrisi.
 Infeksi :congenital rubella, cytomegalovirus.
 Sindrom genetik lainnya yang berkaitan dengan DM :
sindrom Down, sindrom Turner.

Patofisiologi diabetes mellitus terletak pada dasar metabolism karbohidrat


dan aksi insulin.3 Pengolahan makanan dimulai dari mulut, kemudian ke
lambung dan selanjutnya ke usus. Di dalam saluran pencernaan, makanan yang
terdiri atas kabohidrat di pecah menjadi glukosa, protein dipecah menjadi asam
amino dan lemak menjadi asam lemak. Ketiga zat makanan tersebut diedarkan
keseluruh tubuh untuk dipergunakan oleh organ-organ di dalam tubuh sebagai
energi. Dalam proses metabolisme, insulin memegang peranan penting yaitu
memasukkan glukosa ke dalam sel yang digunakan sebagai energi. Insulin adalah
suatu zat atau hormon yang dihasilkan oleh sel beta di pankreas, bila insulin tidak
ada maka glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel dengan akibat glukosa tetap
berada di dalam pembuluh darah yang artinya kadar glukosa di dalam darah
meningkat.4
Diabetes mellitus seringkali dihubungkan dengan sejumlah gangguan di
rongga mulut, manifestasinya berupa penyakit periodontal (seperti gingivitis dan
periodontitis), karies gigi, disfungsi saliva / xerostomia, kelainan mukosa mulut,
infeksi mulut seperti kandidiasis, gangguan rasa dan kelainan neurosensoris,
burning mouth syndrome, oral molodour, lichen planus, SAR.5,6

Penyakit periodontal
Patogenesis diabetes mellitus pada penyakit periodontal :7
1. Perubahan vaskular. Terjadi penebalan membran basalis dari dinding
vaskular sehingga akan mengurangi migrasi leukosit, difusi oksigen
dan eliminasi sampah metabolit yang bertambah intensitasnya sesuai
dengan kontrol metabolik dan durasi yang lama dari penyakit
diabetesnya sendiri.
2. Perubahan mikroflora terjadi karena pasien diabetes, pada daerah
sulkus gingivanya akan tercipta lingkungan yang baik untuk
berkembang-biaknya berbagai mikroba.
3. Disfungsi neutrofil, melalui terjadinya depresi kemotaksis maupun
fagositosis dalam repons imun.
4. Terjadinya perubahan metabolisme kolagen gingiva, yaitu melalui
berkurangnya sintesis kolagen, berkurangnya perkembangan dan
proliferasi sel, berkurangnya produksi matriks tulang, bertambahnya
kolagenase gingiva dan terjadinya gradasi kolagen yang baru
terbentuk.
5. Genetik, diduga penyakit periodontal berhubungan dengan HLA,
terutama DR3 dan DR4 melalui mekanisme molekul-molekul sel-sel
antigen pada darah tepi mungkin memberi sinyal bertambahnya
kerentanan terhadap periodontitis.

Xerostomia
Xerostomia merupakan keluhan masalah saliva yang paling umum dan
kekeringan dirasakan secara subjektif, disebabkan oleh penurunan aliran saliva
dan perubahan komposisi saliva.8 Mekanisme patogenesis antara DM dan
perubahan fungsi kelenjar saliva hingga saat ini belum jelas.6 Dehidrasi sebagai
hasil dari hiperglikemi yang lama sebagai konsekuensi dari poliuria merupakan
penyebab utama xerostomia dan hipofungsi kelenjar saliva pada pasien DM.6
Terdapat 2 hal yang merupakan komplikasi degeneratif DM yaitu otonomik
neuropati dan mikroangiopati yang menyebabkan terjadinya gangguan struktural
pada jaringan kelenjar saliva dan kemudian terjadi hipofungsi pada kelenjar ini
serta dipengaruhi inervasi otonomik dan mikrosirkulasi pada jaringan kelenjar6.
Xerostomia ini sering dihubungkan dengan DM yaitu kontrol metabolik yang
buruk.6

Burning Mouth Syndrome (BMS)


BMS merupakan kondisi yang menyakitkan dan frustasi. Sensasi BMS
mempengaruhi lidah, palatum, gingival, bagian dalam pipi dan bagian dalam
mulut / tenggorokan.9 BMS dikenal sebagai glossodynia (sakit pada lidah) dan
stomatodynia (sakit pada mulut).10 Etiologi BMS belum bisa ditentukan namun
sering dihubungkan dengan kondisi menopause, diabetes, terapi kanker, faktor
psikologi, alergi, defisiensi nutrisi, infeksi kandidiasis, aktivitas
parafungsional.9,10

Kandidiasis Pseudomembran Akut


Kandidiasis merupakan suatu infeksi superfisial dari lapisan atas epitel
mukosa mulut dan mengakibatkan terbentuknya plak atau flek putih pada
permukaan mukosa yang terdiri atas jamur, debris sel-sel radang, deskuamosa
epitel sel, bakteri dan fibrin11. Warna mukosa mulut dikelilingi lesi normal dan
kadang-kadang menimbulkan warna merah.11 Pembuangan plak pada hapusan
atau kerokan yang lembut biasanya memperlihatkan suatu daerah kemerahan
bahkan ulserasi yang dangkal.11
Kandidiasis pseudomembran akut biasanya disebut juga sebagai thrush.12
Gambaran klinisnya terlihat sebagai plak mukosa yang putih atau kuning, seperti
“cottage cheese” yang dapat dihilangkan dan meninggalkan permukaan yang
berwarna merah.13 Lokasinya pada mukosa labial, mukosa bukal, palatum keras,
palatum lunak, lidah, jaringan periodontal, dan orofaring.13 Thrush yang terjadi
pada penderita dewasa biasanya disebabkan oleh adanya kelainan yang
mendasarinya seperti kelaianan darah, infeksi HIV, terapi antibiotik dan
steroid.14
Pada penderita DM prevalensi kolonisasi Candida albicans meningkat
mencapai 80%.11 Pertumbuhan Candida albicans yang meningkat disebabkan
karena kadar glukosa saliva yang tinggi.11

Patogenesis terjadinya kandidiasis rongga mulut pada penderita DM yaitu


terjadinya penekanan fungsi netrofil, sehinga menurunkan kualitas fagositas dan
proses killing intra sel.11 Dalam melaksanakan fungsinya “menelan” partikel
sasaran, sel-sel fagosit (neutrofil dan makrofag) harus mengenal dan menempel
dulu pada sel sasaran.11 Setelah mikroorganisme sasaran “ditelan”, granula-
granula lisosim dilepaskan kedalam vakuola dan proses “membunuh” dengan
cara oksidatif dengan menggunakan produk-produk oksigen aktif seperti
superoksida, hidrogen peroksida dan hipoklorit berlangsung lebih awal.11 Energi
cara oksidatif ini dipasok melalui hexose monophosphate shunt (HMPS).11
Proses ini diawali dengan oksidasi membrane sel yang memanfaatkan donor
elektron yang berasal dari nicotimanamide adenine dinuccleotide phosphate
(NADPH) yang menghasilkan radikal superoksida.11 Dalam keadaan normal,
glukosa memasuki HMPS dan menghasilkan NADPH.11 Dinding leukosit
permeabel terhadap glukosa sehingga pada keadaan hiperglikemi, glukosa
membanjiri HMPS di dalam leukosit dan metabolisme oleh aldosa reduktase
melalui polyol pathway.11 Aldose reduktase merupakan enzim yang
membutuhkan NAPDH dan berakibat menurunnya produksi radikal superoksida
yang dibutuhkan oleh leukosit untuk proses oxidative killing.11

Oral molodour / halitosis (ketosis diabetik)


Halitosis berasal dari bahasa Latin halitus yaitu keluhan yang cukup
umum yang ditemukan pada orang dewasa.8 Oral molodour biasa terjadi saat kita
bangun (nafas pagi) dan biasanya terjadi penurunan aliran saliva dan oral
cleansing saat tidur.8
Etiologi halitosis yaitu oral sepsis, dry mouth, gingivitis (khususnya
ANUG), makanan, penyakit sistemik (diabetes, gastrointestinal, gagal ginjal,
kelainan pernafasan, gangguan hati), kebiasaan buruk (merokok, alkohol),
keterlibatan organisme (Porphyromonas gingivalis, Prevotella intermedia,
Fusobacterium nucleatum, Bacteroides forsythus dan Treponema denticola),
faktor psikogenik8
Penatalaksanaan

Pada pasien DM penatalaksanaan manisfestasi oralnya adalah dengan


mengontrol gula darah (bisa dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam), menjaga
kebersihan rongga mulut, menghilangkan faktor dan predisposisi, pemberian obat
sesuai dengan tanda dan gejala pasien.3,11

H. DIAGNOSA
 Kandidiasis pseudomembran akut
 Periodontitis diabetikum
 Xerostomia diabetikum
 Burning Mouth Syndrome (BMS)
 Oral molodour (ketosis diabetik)
I. RENCANA PERAWATAN

FASE I (Etiotropik)

 Kontrol DM

 Kontrol plak (Edukasi, Motivasi, Instruksi)

 Scalling dan root planning

 Pemberian obat antijamur ketokonazole 200 mg, 1x1 selama 2 minggu

 Pemberian obat kumur chlorhexidine gluconate 0,04 %, 1x1 selama 6 hari

 Restorasi GIC gigi 36,46

FASE II (Bedah)
Tidak dilakukan perawatan

FASE III (Restorasi)

Tidak dilakukan perawatan

FASE IV (Maintenance)

 Kontrol DM

 Kontrol Plak (Edukasi, Motivasi, Instruksi)

 Kontrol Kandidiasis, BMS, periodontitis, oral molodour, xerostomia


J. PEMBAHASAN
Diagnosa pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan
klinis, pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan hematologi dan histopatologi.
Berdasarkan anamnesa didapatlah informasi bahwa pasien mengeluhkan terdapat
lapisan putih pada lidahnya sejak ± 1 bulan yang lalu, tidak ada rasa sakit.
Keluhan tambahan ada bau mulut, rasa terbakar di lidah dan mulut terasa kering.
Pasien juga memiliki penyakit kencing manis sejak tahun 2001 dan penyakit
jantung sejak 2012

Gambaran klinis pada pasien yaitu terdapat lesi berwarna putih dengan
tepi kemerahan pada punggung lidahnya dan dapat dikerok dan meninggalkan
permukaan yang berwarna merah, gusinya bengkak dan kemerahan pada semua
regio (a, b, c, d, e, f), bibir dan lidah terlihat kering. Hasil pemeriksaan
hematologi, gula darah puasa 137 mg/dl, gula darah sewaktu 289 mg/dl dan
pemeriksaan histopatologi yaitu scrapping ulang pada permukaan dorsum lidah
sediaan latar belakang kotor tampak sel-sel epitel supertimal, spora, hypae dan
nekrosis. Tidak dijumpai sel-sel ganas pada sediaan ini. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa diagnosa pasien ini adalah kandidiasis pseudomembran akut,
periodontitis diabetikum, xerostomia diabetikum, burning mouth syndrome
(BMS) dan oral molodour (ketosis diabetik).
Secara teori, diabetes mellitus adalah suatu sindrom kronis gangguan
metabolisme karbohidrat, protein dan lemak akibat ketidakcukupan sekresi
insulin atau resistensi insulin pada jaringan yang dituju.1 Manifestasi oral yang
disebabkan oleh DM berupa penyakit periodontal (seperti gingivitis dan
periodontitis), karies gigi, disfungsi saliva / xerostomia, kelainan mukosa mulut,
infeksi mulut seperti kandidiasis, gangguan rasa dan kelainan neurosensoris,
burning mouth syndrome, oral molodour, lichen planus, SAR.5,6
Pada pasien ini, etiologi manifestasi oral yang yang terlihat (kandidiasis,
periodontitis, oral molodur, BMS dan xerostomia) di sebabkan karena penyakit
diabetes mellitus. Perawatan yang dilakukan pada pasien ini adalah kontrol DM,
kontrol plak (Edukasi, Motivasi, Instruksi), scalling dan root planing, pemberian
obat antifungal ketokonazole 200 mg, 1x1 selama 2 minggu dan obat kumur
chlorhexidine gluconate 0,04 %, 1x1 selama 6 hari. Pasien datang 1 minggu
kemudian, gingiva masih bengkak, plak putih dari lidah dan bau mulut
berkurang, masih ada keluhan mulut terasa kering dan ada rasa terbakar.

Sebelum perawatan

Setelah perawatan
K. KESIMPULAN
Manifestasi oral berupa kandidiasis pseudomembran akut, periodontitis
diabetikum, xerostomia diabetikum, burning mouth syndrome (BMS) dan oral
molodour (ketosis diabetik) disebabkan karena penyakit diabetes mellitus.
Perawatan yang dilakukan pada pasien ini adalah kontrol DM, kontrol plak
(Edukasi, Motivasi, Instruksi), scalling dan root planing, pemberian obat
antifungal dan obat kumur. Pasien datang 1 minggu kemudian, gingiva masih
bengkak, plak putih dari lidah dan bau mulut berkurang, masih ada keluhan
mulut terasa kering dan ada rasa terbakar.

L. DAFTAR PUSTAKA
1. Dorland, W.A.Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorlan. Jakarta : EGC.
Hal.602
2. Munden, Julie. 2007. Diabetes Mellitus : a Guide to Patient Care. USA :
Lippincott Williams and Wilkins. p.3
3. Greenberg SM, Glick M. 2003. Burket’s Oral Medicine Diagnosis and
Treatment, 10th edition. BC Decker. London. p.564
4. Misnadiarly. 2006. Diabetes Mellitus : Gangren, Ulcer, Infeksi. Mengenal
Gejala, Menanggulangi dan Mencegah Koplikasi,ed.1.Jakarta : Pustaka
Populer Obor. Hal. 53-4
5. Lamster, Ira B dkk. 2008. The Relationship Between Oral Health and
Diabetes Mellitus. JADA. vol.139
6. Lukisari, Cane dan Kusharjanti. 2010. Xerostomia : Salah Satu Manifestasi
Oral Diabetik. http://canelukisari.blogspot.com/2010/04/xerostomia-salah-
satu-manifestasi-oral.html
7. Novertasari, Blisa. 2010. Hubungan antara Penyakit Periodontal dengan
Diabetes Mellitus. http://blisha.wordpress.com/2010/10/28/hubungan-antara-
penyakit-periodontal-dengan-diabetes-melitus/
8. Scully, Crispian. 2004. Oral and Maxillofacial Medicine. New Delhi :
Elsevier.p.96-113
9. ADA. 2005. Burning Mouth Syndrome. JADA.vol.136
10. Parsa Stay, Flora. 2005.The Fibromyalgia Dental Handbook: A Practical
Guide to Maintaining Peak Dental Health. New York : Avalon. p.83-5
11. Sihotang, P. 2003. Kandidiasis Rongga Mulut pada Pasien Diabetes Melitus:
USU. Hal. 9-18
12. Cawson, RA. 2002. Cawson’s Essentials of Oral Pathology and Oral
Medicine. 7th ed. London: Churchill Livingstone. p. 190.
13. Bruch, JM dan Treister, NS. 2010. Clinical Oral Medicine and Pathology.
Ney York : Humana Press. p. 92-3
14. Lewis, M dan Lamey P.J. 1998. Tinjauan Klinis Penyakit Mulut. Jakarta :
Widya Medika. Hal.40-2