Anda di halaman 1dari 28

1

KELAINAN KELENJAR LUDAH

Saliva adalah cairan oral yang kompleks dan tidak berwarna yang terdiri
dari campuran sekresi dari kelenjar besar dan kelenjar kecil (mayor dan minor)
yang ada pada mukosa oral . saliva melindungi gigi dan selaput lunak di rongga
mulut dengan sistem buffer sehingga makanan yang terlalu asam misalnya bisa
dinetralkan kembali keasamannya dan juga segala macam bakteri baik yang aerob
(hidup dengan adanya udara) maupun bakteri anaerob (hidup tanpa udara) dijaga
keseimbangannya.

Di dalam saliva juga terdapat antigen dan antibodi yang berfungsi


melawan kuman dan virus yang masuk ke dalam tubuh sehingga tubuh tidak akan
mudah terserang penyakit. Menurunnya pH saliva (kapasitas dapar / asam) dan
jumlah saliva yang kurang, menunjukkan adanya resiko terjadinya karies yang
tinggi. Dan meningkatnya pH saliva (basa) pun akan mengakibatkan pembentukan
karang gigi.

Fungsi saliva itu sendiri adalah:

1. Melicinkan dan membasahi rongga mulut sehingga membantu proses


mengunyah dan menelan makanan
2. Membasahi dan melembutkan makanan menjadi bahan setengah cair
ataupun cair sehingga mudah ditelan dan dirasakan
3. Membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan dan kuman
4. Mempunyai aktivitas antibacterial dan sistem buffer
5. Membantu proses pencernaan makanan melalui aktivitas enzim ptyalin
(amilase saliva) dan lipase saliva
6. Berpartisipasi dalam proses pembekuan dan penyembuhan luka karena
terdapat faktor pembekuan darah dan epidermal growth factor pada saliva
7. Jumlah sekresi saliva dapat dipakai sebagai ukuran tentang
keseimbangan air dalam tubuh.
8. Membantu dalam berbicara (pelumasan pada pipi dan lidah)

KLASIFIKAASI GLANDULA SALIVA


2

Klasifikasi Glandula Saliva berdasarkan ukuran :

- Glandula saliva Mayor


- Glandula saliva Minor

Glandula saliva mayor terdiri dari :

- Glandula Parotis
- Glandula Submandibularis
- Glandula Sublingualis

Glandula saliva minor terdiri dari:

- Glandula Labial Superior inferior


- Glandula Bucalis Minor
- Glandula Palatina
- Glandula Lingualis anterior
- Glandula Lingualis Posterior
- Glandula Glossopalatinus

KELAINAN KELENJAR SALIVA

Kelainan kelenjar saliva adalah suatu keadaan abnormal dalam kelenjar


saliva yang dapat merujuk pada kondisi yang menyebabkan pembengkakan atau
nyeri.
3

Terdapat beberapa kelainan pada kelenjar saliva antara lain; mucocele,


ranula, sialadenitis, sjorgen syndrome dan sialorrhea.

KELAINAN KELENJAR SALIVA

Terdapat beberapa kelainan pada kelenjar saliva antara lain;

1. Mucocele
2. Ranula
3. Sialadenitis
4. Sialodenitis
5. Xerostemia
6. sjorgen syndrome
7. sialorrhea.

1. MUCOCELE

Mucocele adalah Lesi pada mukosa (jaringan lunak) mulut yang


diakibatkan oleh pecahnya saluran kelenjar liur dan keluarnya mucin ke jaringan
lunak di sekitarnya. Mucocele bukan kista, karena tidak dibatasi oleh sel epitel.
Mucocele dapat terjadi pada bagian mukosa bukal, anterior lidah, dan dasar mulut.

Gambar 1. Mucocele pada bibir


4

Gambar 2. Mucocelle pada ventral lidah

Mucocele terjadi karena tersumbatnya air liur yang dialirkan ke dalam


mulut melalui suatu saluran kecil (duktus). Terkadang bisa terjadi ujung duktus
tersumbat atau karena trauma misalnya bibir sering tergigit secara tidak sengaja,
sehingga air liur menjadi tertahan tidak dapat mengalir keluar dan menyebabkan
pembengkakan (mucocele). Mucocele juga dapat terjadi jika kelenjar saliva
terluka.

Manusia memiliki banyak kelenjar saliva dalam mulut yang menghasilkan


saliva. saliva tesebut mengandung air, bakteri, enzim dll. Saliva dikeluarkan dari
kelenjar saliva melalui saluran kecil yang disebut duct (pembuluh). Terkadang
salah satu saluran ini terpotong. Saliva kemudian mengumpul pada titik yang
terpotong itu dan menyebabkan pembengkakan, atau mucocele. Pada
umumnya mucocele didapati di bagian dalam bibir bawah. Namun dapat juga
ditemukan di bagian lain dalam mulut, termasuk langit-langit dan dasar mulut.
Akan tetapi jarang didapati di atas lidah. Pembengkakan dapat juga terjadi jika
saluran saliva (duct) tersumbat dan saliva mengumpul di dalam saluran.
5

ETIOLOGI

Umumnya disebabkan oleh trauma epilepsi, misalnya bibir yang sering


tergigit pada saat sedang makan, atau pukulan di wajah. Dapat juga disebabkan
karena adanya penyumbatan pada duktus (saluran) kelenjar liur minor. Mucocele
Juga dapat disebabkan oleh obat-obatan yang mempunyai efek mengentalkan
saliva.

GAMBARAN KLINIS
- Batas tegas
- konsistensi lunak
- Warna transluscent
- Ukuran biasanya kecil
- Tidak ada keluhan sakit
- kadang-kadang pecah, hilang tapi tidak lama kemudian akan timbul lagi

DIAGNOSIS
Diagnosis mucocele bisa secara langsung dari riwayat penyakit, keadaan klinis
dan palpasi.
Langkah-langkah cara mendiagnosis ranula adalah :
- Melakukan anamnesa lengkap dan cermat
- secara visual
- Bimanual palpasi intra & extraoral
- Aspirasi
- Melakukan pemeriksaan laboratories
- Pemeriksaan radiologis dengan kontras media
- Pemeriksaan mikroskopis, pemeriksaan 5iopsy/PA

DIFFERENTIAL DIAGNOSA
Differential diagnosis dari mucocele adalah sebagaiberikut :

- Adenoma Pleomorfik
6

Suatu nodula keras kebiru-biruan


- Kista Nasolabial

Suatu nodula berfluktuasi pada palpasi

-Kista Implantasi

PENATALAKSANAAN

Mucocele adalah lesi yang tidak berumur panjang, bervariasi dari beberapa
hari hingga beberapa minggu, dan dapat hilang dengan sendirinya. Namun banyak
juga lesi yang sifatnya kronik dan membutuhkan pembedahan eksisi. Pada saat di
eksisi, dokter gigi sebaiknya mengangkat semua kelenjar liur minor yang
7

berdekatan, dan dilakukan pemeriksaan mikroskopis untuk menegaskan Biopsy


dan menentukan apakah ada kemungkinan tumor kelenjar liur.
Selain dengan pembedahan, mucocele juga dapat diangkat dengan laser.
Beberapa dokter saat ini ada juga yang menggunakan menggunakan injeksi
Kortikosteroid sebelum melakukan pembedahan, ini terkadang dapat
mengempiskan pembengkakan. Jika berhasil, maka tidak perlu dilakukan
pembedahan. Penatalaksanaan mucocele biasanya dilakukan dengan
eksisimucocele dengan modifikasi teknik elips. yaitu setelah pemberian anesthesi
lokal dibuat dua insisi elips yang hanya menembus mukosa, kemudian lesi
dipotong dengan teknik gunting lalu dilakukan penjahitan.

2. RANULA

Ranula merupakan bentuk lain dari mucocele. Ranula adalah pembengkakan


dasar mulut yang berhubungan dan melibatkan glandula sublingualis, dapat juga
melibatkan glandula salivari minor. Ciri khas dari ranula adalah bentuknya yang
mirip perut katak (Rana= katak) ranula bersifat lunak, fluktuatif dan tidak sakit.

Gambar 2.
Ranula pada
Kelenjar
Submandibularis

ETIOLOGI DAN PATOGENESIS


Ranula terbentuk sebagai akibat normal melalui duktus ekskretorius major
yang membesar atau terputus atau terjadinya rupture dari saluran kelenjar,
terhalangnya aliran liur sublingual (duktus Bartholin) atau kelenjar submandibuler
(duktus Wharton), sehingga melalui rupture ini air liur keluar menempati jaringan
8

disekitar saluran tersebut. Selain terhalangnya aliran liur, ranula bisa juga terjadi
karena trauma dan peradangan. Ranula mirip dengan mucocele tetapi ukurannya
lebih besar. Bila letaknya didasar mulut, jenis ranula ini disebut ranula
Superfisialis. Bila kista menerobos dibawah otot milohiodeusdan menimbulkan
pembengkakan submandibular, ranula jenis ini disebut ranula Dissecting atau
Plunging.

GAMBARAN KLINIS
- Bentuk dan rupa kista ini seperti perut kodok yang menggelembung keluar
(Rana=Kodok)
- Dinding sangat tipis dan mengkilap
- Warna translucent
- Kebiru-biruan
- Palpasi ada fluktuasi
- Tumbuh lambat dan expansif
DIAGNOSIS
- Diagnosis mucocele bisa secara langsung dari riwayat penyakit, keadaan
klinis dan palpasi.
- Langkah-langkah cara mendiagnosis ranula adalah :
- Melakukan anamnesa lengkap dan cermat
- Secara visual
- Bimanual palpasi intra & extraoral
- Punksi dan aspirasi
- Melakukan pemeriksaan laboratories
- Pemeriksaan radiologis dengan kontras media
- Pemeriksaan mikroskopis, pemeriksaan biopsy/PA

Klasifikasi

a. Ranula simple

Disebut juga dengan oral ranula merupakan ranula yang terbentuk karena
obstruksi duktus glandula saliva tanpa diikuti dengan rupturnya duktus tersebut.
Letaknya tidakmelewati ruang submandibula, dengan kata lain tidak berpenetrasi
ke otot milohioideus
9

b. Ranula Plunging

Disebut ranula diving merupakan massa yang terbentuk akibat rupturnya glandula
saliva tanpa diikuti rupturnya ruang submandibula yang kemudian menimbulkan
plug pseudokista yang meluas hingga ke ruang submandibula atau dengan kata
lain berpenetrasi ke otot milohioideus.

DIFFERENTIAL DIAGNOSA
- Kista Dermoid

Kista dermoid yang tampak sebagai suatu pembengkakan jaringan lunak


dalam mulut

- Batu kelenjar liur (sialolit)


10

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan ranula biasanya dilakukan dengan cara marsupialisasi
ranula atau pembuatan jendela pada lesi. Biasanya menggunakan anestesi blok
lingual ditambah dengan infiltrasi regional. Di sekitar tepi lesi ditempatkan
rangkaian jahitan menyatukan mukosa perifer dengan mukosa lesi dan jaringan
dasar lesi. Kemudian dilakukan juga drainase dengan penekanan lesi. Setelah itu
dilakukan eksisi pada atap lesi sesuai dengan batas penjahitan kemudian lesi
ditutup dengan tampon.

3. SIALADENITIS

Merupakan kondisi inflamasi dari kelenjar saliva yang umumnya disertai rasa
sakit atau nyeri dan pembengkakan kelenjar, paling sering disebabkan oleh
gangguan ductus dikarenakannya infeksi bakteri yang akan menurunkan aliran
saliva dan stasis dari sekresi.
Proses inflamasi yang melibatkan kelenjar saliva disebabkan oleh banyak
faktor etiologi. Proses ini dapat bersifat akut dan dapat menyebabkan
pembentukan abses terutama sebagai akibat infeksi bakteri. Keterlibatannya dapat
bersifat unilateral atau bilateral seperti pada infeksi virus. Sedangkan Sialadenitis
kronis nonspesifik merupakan akibat dari obstruksi duktus karena sialolithiasis
atau radiasi eksternal atau mungkin spesifik,yang disebabkan dari berbagai agen
menular dan gangguan imunologi.
11

ETIOLOGI

Sialadenitis biasanya terjadi setelah obstruksi hyposecretion atau saluran


tetapi dapat berkembang tanpa penyebab yang jelas. Sialadenitis paling sering
terjadi pada kelenjar parotis dan biasanya terjadi pada pasien dengan umur 50-an
sampai 60-an, pada pasien sakit kronis dengan xerostomia, pasien dengan sindrom
Sjögren, dan pada mereka yang melakukan terapi radiasi pada rongga mulut.
Remaja dan dewasa muda dengan anoreksia juga rentan terhadap gangguan ini.
Organisme yang merupakan penyebab paling umum pada penyakit ini adalah
Staphylococcus aureus; organisme lain meliputi Streptococcus, koli, dan berbagai
bakteri anaerob.

GEJALA UMUM

Meliputi gumpalan lembut yang nyeri di pipi atau di bawah dagu, terdapat
pembuangan pus dari glandula ke bawah mulut dan dalam kasus yang parah,
demam, menggigil dan malaise (bentuk umum rasa sakit).

PENATALAKSANAAN

Perawatan awal harus mencakup hidrasi yang memadai, kebersihan mulut


baik, pijat berulang pada kelenjar, dan antibiotik intravena. Evaluasi USG atau
computed tomography (CT) akan menunjukkan apakah pembentukan abses telah
terjadi. Sialography merupakan kontraindikasi.Insisi dan drainase paling baik
dilakukan dengan mengangkat penutup parotidectomy standar dan kemudian
menggunakan hemostat untuk membuat beberapa bukaan ke dalam kelenjar,
tersebar di arah umum dari syaraf wajah. Sebuah saluran kemudian ditempatkan
di atas kelenjar dan luka tertutup. Dalam beberapa kasus, dimungkinkan untuk
melakukan aspirasi jarum yang dipandu CT atau USG-pada abses parotis, yang
dapat membantu menghindari prosedur operasi terbuka. Hal ini juga untuk diingat
bahwa fluktuasi kelenjar parotis tidak terjadi sampai fase sangat terlambat karena
12

beberapa investasi fasia dalam kelenjar. Jadi, adalah mustahil untuk menentukan
adanya pembentukan abses awal berdasarkan pemeriksaan fisik saja.

a. Sialolithosis

Definisi :
Sialolithosis merupakan Calculi atau ‘batu’ yang dapat terjadi dalam
duktus saliva dari endapan garam-garam kalsium yang keluar dari saliva di dalam
lapisan konsentrik disekitar debris.

Etiologi
Masih belum diketahui namun ada beberapa factor yang berkontribusi dari
pembentukan batu yaitu inflamasi,ketidakteraturan dari system duktus ,iritasi local
dan antikoligernik (obat-obatan) yang mungkin akan menyebabkan adanya suatu
genangan saliva di dalam duktus yan mana lama kelamaan akan terbentuk batu.
Terjadi paling sering di kelenjar submandibular,mungkin karena viskositas yang
tinggi dari kombinasi saliva dengan relatif yang lama dan bentuk yang berliku-
liku dari duktus.

Gejala klinis

Gejala khas dari pasien adalah pembengkakan dan rasa sakit yang tiba-tiba
dari kelenjar yang akan menjadi bertambah parah ketika akan makan.

Pemeriksaan
Batu tersebut kemungkinan bisa dipalpasi pada saat pemeriksaan atau dari
penglihatan secara radiografi,dimana kebanyakan batu kelenjar saliva tersebut
terlihat opak.Pada pemeriksaan kelenjar diharuskan penekanan yang lembut atau
gerakan menggerakan batu keluar untuk aliran saliva dari kelenjar bisa keluar
dengan baik.
13

Tes diagnose

 Berdasarkan pemeriksaan secara klinis.


 Plain radiographs dari dasar mulut bagian depan dapat mengevaluasi jumlah
dan ukuran dari batu yang di dalam duktus.
 Sialography digunakan pada situasi dimana detail dari gambar anatomi duktus
yang diinginkan.
 Tidak dilakukan biposi.

Perawatan
 Pemijatan dari kelenjar .
 Hidrasi dan penggunaan dari sialagogues (seperti tetesan asam lemon)
untuk mendorong sekresi ke depan.
 Antibiotik dibutuhkan untuk mengobati infeksi sekunder.
 Analgesik untuk mengurangi rasa sakit.
 Pembedahan jika diperlukan

b. Necrotizing Sialometaplasia

Definisi
Merupakan kondisi inflamasi yang jarang terjadi karena tidak tuntasnya
suatu etiologi yang berefek ke kelenjar saliva palatal minor.

Etiologi
Hal ini mungkin hasil dari iskemik lokal dan nekrosisnya dari kelenjar

Gambaran dan Gejala Klinis


Nekrosis yang diikuti pembengkakan yang sakit dan ulserasi sering
muncul yang dicurigai sebagai malignant. Umumnya lesi berada di palatum
14

durum bagian posterolateral, bagaimanapun dapat menyerang semua tempat


dimana terdapat jaringan kelenjar minor.

Gambar 4. Necrotizing Sialometaplasia

Diagnosa
Untuk menentukan diagnosa dibutuhkan biopsi,meskipun kadang gambaran dari
histopatologinya sering dikira bentuk dari karsinoma.

Terapi
 Tidak ada terapi lebih lanjut,biasanya akan sembuh sendiri dalam periode
waktu beberapa minggu (biasanya 6 minggu)
 Dapat dilakukan debridement dan pembilasan dengan larutan salin untuk
mempercepat proses penyembuhan.

4. Sialadenosis (sialosi)

Pembesaran kelenjar saliva mayor, kelenjar parotid yang bukan dari


inflamasi dan dapat berhubungan dengan alkolisme, diabetes mellitus, malnutrisis,
dan bulimia. Sialodenosis biasanya terjadi secara bilateral, tanpa rasa sakit, dan
15

berkembang perlahan seiring waktu. Secara histology terlihat perbesaran acinar


terlihat bersamaan dengan kemungkinan
infiltrasi lemak.

Etiologi
Etiologinya tidak di ketahui , namun berhubungan dengan sistem stimulus
saraf otonom yang tidak tepat.

Gambar 5.Sialadenosis
Diagnosa
Evaluasi kelainan sistemik utama, termasuk endokrinopati, defisiensi nutrisi,
alkoholisme, dan gangguan makan. Pertimbangkan pemeriksaan radiografi untuk
menyingkirkan tumor jika di curigai terutama jika bilateral
Biopsi : Tidak dilakukan
Perawatan : Perawatan berdasarkan kondisi sistemik utama. Jarang dilakukan
bedah reduksi.
Tindak lanjut : Jika dibutuhkan

5. Xerostomia
16

Banyak keluhan yang dapat timbul di rongga mulut. Salah satu keluhan
tersebut adalah keluhan mulut kering atau xerostomia. Keadaan ini umumnya
berhubungan dengan berkurangnya aliran saliva. Keluhan mulut kering dapat
terjadi akut atau kronis, sementara atau permanen dan kurang atau agak sempurna.

Gambar 6. Xerostomia

Dalam bentuk apa keluhan mulut kering timbul, tergantung dari


penyebabmya. Banyak faktor yang dapat menyebabkan mulut kering, seperti
radiasi pada daerah leher dan kepala, Sjogren sindrom, penyakit-penyakit
sistemik, efek samping obat-obatan, stress dan juga usia. Produksi saliva yang
berkurang selalu disertai dengan perubahan dalam komposisi saliva yang
mengakibatkan sebagian besar fungsi saliva tidak dapat berjalan dengan lancar.
Hal ini mengakibatkan timbulnya beberapa keluhan pada penderita mulut
kering, seperti kesukaran dalam mengunyah dan menelan makanan, kesukaran
dalam berbicara, kepekaan terhadap rasa berkurang, kesukaran dalam memakai
gigi palsu, mulut terasa seperti terbakar dan sebagainya.

Faktor Penyebab

Mulut kering dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Keadaan-keadaan


fisiologis seperti berolahraga, berbicara terlalu lama, bernafas melalui mulut,
stress dapat menyebabkan keluhan mulut kering. Penyebab yang paling penting
17

diketahui adalah adanya gangguan pada kelenjar saliva yang dapat menyebabkan
penurunan produksi saliva, seperti radiasi pada daerah leher dan kepala, penyakit
lokal pada kelenjar saliva dan lain-lain.

- Radiasi pada daerah leher dan kepala


- Gangguan lokal pada kelenjar saliva
- Efek samping obat-obatan
- Demam, diare, diabetes, gagal ginjal
- Berolahraga, stress
- Bernafas melalui mulut
- Kelainan syaraf
- Usia

 Radiasi Pada daerah leher dan kepala.

Terapi radiasi pada daerah leher dan kepala untuk perawatan kanker telah
terbukti dapat mengakibatkan rusaknya struktur kelenjar saliva dengan berbagai
derajat kerusakan pada kelenjar saliva yang terkena radioterapi. Hal ini
ditunjukkan dengan berkurangnya volume saliva. Jumlah dan keparahan
kerusakan jaringan kelenjar saliva tergantung pada dosis dan lamanya penyinaran
(Amerongan, 1991).
Hubungan Antara Dosis Penyinaran Dan Sekresi Saliva < 10 Gray
Reduksi tidak tetap sekresi saliva 10 -15 Gray Hiposialia yang jelas dapat
ditunjukkan 15 -40 Gray Reduksi masih terus berlangsung, reversible > 40 Gray
Perusakan irreversibel jaringan kelenjar, Hiposialia irreversible Pengaruh radiasi
lebih banyak mengenai sel asini dari kelenjar saliva serous dibandingkan dengan
kelenjar saliva mukus. Tingkat perubahan kelenjar saliva setelah radiasi yaitu:
untuk beberapa hari, terjadi radang kelenjar saliva, setelah satu minggu terjadi
penyusutan parenkim sehingga terjadi pengecilan kelenjar saliva dan
penyumbatan.
18

Selain berkurangnya volume saliva, terjadi perubahan lainnya pada saliva,


dimana viskositas menjadi lebih kental dan lengket, pH menjadi turun dan sekresi
Ig A berkurang.

 Kesehatan umum yang terganggu.

Pada orang-orang yang menderita penyakit-penyakit yang menimbulkan


dehidrasi seperti demam, diare yang terlalu lama,diabetes, gagal ginjal kronis dan
keadaan sistemik lainnya dapat mengalami pengurangan aliran saliva. Hal ini
disebabkan karena adanya gangguan dalam pengaturan air dan elektralit, yang
diikuti dengan terjadinya keseimbangan air yang negatif yang menyebabkan
turunnya sekresi saliva.
Pada penderita diabetes, berkurangnya saliva drpengaruhi oleh faktor
angiopati dan neuropati diabetik, perubahan pada kelenjar parotis dan karena
poliuria yang berat. Penderita gagal ginjal kronis terjadi penurunan output. Untuk
menjaga agar keseimbangan cairan tetap terjaga pertu intake cairan dibatasr.
Pembatasan intake cairan akan menyebabkan menurunnya aliran saliva dan saliva
menjadi kental.
Penyakit-penyakit infeksi pernafasan biasanya menyebabkan mulut terasa
kering. Pada rnfeksi pemafasan bagian atas, penyumbatan hidung yang terjadi
menyebabkan penderita bernafas melalui mulut.

 Penggunaan obat-obatan.
Banyak sekali obat yang mempengaruh sekresi sativa. Pacta tabet 1
dicantumkan kelompok obat-obatan yang dapat menyebabkan terjadinya mulut
kering.

Obat-obatan yang menyebabkan mulut kering


19

Analgesic mixtures Cold medications


Anticonvulsants Diuretics
Antiemetics Decongentans
Antihistamins Expectorants
Antihypertensives Muscle relaxants
Antinauseants Psycho tropics drugs
Antiparkinsons Sedatives
Antipruritics Antispasmodics
Obat-obat tersebut mempengaruhi aliran saliva dengan meniru aksi sistem
syaraf autonom atau dengan secara langsung beraksi pada proses seluler yang
diperlukan untuk salivasi. Obat-obatan juga dapat secara tidak langsung
mempengaruhi saliva dengan mengubah keseimbangan cairan dan elektrolit atau
dengan mempengaruhi aliran darah ke kelenjar.

 Keadaan Fisiologis.
Tingkat aliran saliva biasanya dipengaruhi oleh keadaan-keadaan fisiologis.
Pada saat berolahraga, berbicara yang lama dapat menyebabkan berkurangnya
aliran saliva sehingga mulut terasa kering. Bernafas melalui mulut juga akan
memberikan pengaruh mulut kering. Gangguan emosionil, seperti stress, putus asa
dan rasa takut dapat menyebabkan mulut kering. Hal ini disebabkan keadaan
emosionil tersebut merangsang terjadinya pengaruh simpatik dari sistem syaraf
autonom dan menghalangi sistem parasimpatik yang menyebabkan turunnya
sekresi saliva.

 Usia.
Keluhan mulut kering sering ditemukan pada usia lanjut. Keadaan ini
disebabkan oleh adanya perubahan atropi pada kelenjar saliva sesuai dengan
pertambahan umur yang akan menurunkan produksi saliva dan mengubah
komposisinya sedikit Seiring dengan meningkatnya usia, terjadi proses aging.
Terjadi perubahan dan kemunduran fungsi kelenjar saliva, dimana kelenjar
parenkim hilang yang digantikan oleh jaringan lemak dan penyambung, lining sel
20

duktus intermediate mengalami atropi. Keadaan ini mengakibatkan pengurangan


jumlah aliran saliva. Selain itu, penyakit- penyakit sistemis yang diderita pada
usia lanjut dan obat-obatan yang digunakan untuk perawatan penyakit sistemis
dapat memberikan pengaruh mulut kering pada usia lanjut.

Perawatan Mulut Kering atau Xerostomia


Terapi yang diberikan bergantung pada berat ringannya keadaan keluhan
mulut kering. Pada keadaan ringan dapat dianjurkan untuk sering berkumur atau
mengunyah permen karet yang tidak mengandung Quia. Bila keluhan mulut
kering disebabkan pemakaian obat-obatan, maka mengganti obat dari katagori
yang sama mungkin akan dapat mengurangi pengaruh mulut kering. Pada keadaan
berat dapat digunakan zat perangsang saliva dan zat pengganti saliva.
Zat perangsang produksi saliva. Obat perangsang saliva hanya akan
membantu jika ada kelenjar saliva yang masih aktif. Mouth Lubricant dan Lemon
Mucilage yang mengandung asam sitrat dan dapat merangsang sangat kuat sekresi
encer dan menyebabkan rasa segar di dalam mulut. Tetapi obat ini mempunyai pH
yang rendah sehingga dapat merusak email dan dentin. Mentol dalam kombinasi
dengan zat-zat manis dapat merangsang baik sekresi seperti air maupun sekresi
lendir, memberi rasa segar di dalam mulut.
Salivix, yang berbentuk tablet isap berisi asam malat, gumarab, kalsium
laktat, natrium fosfat, Iycasin dan sorbitol akan merangsang produksi saliva.
Permen karet bebas Quia atau yang mengandung xylitol dapat menginduksi
sekresi saliva encer seperti air. Sekresi saliva juga dapat dirangsang dengan
pemberian obat-obatan yang mempunyai pengaruh merangsang melalui sistem
syaraf parasimpatis, seperti pilokarpin, karbamilkolin dan betanekol.
Zat pengganti saliva. Bila zat perangsang saliva tidak memadai untuk
mengatasi keluhan mulut kering, maka digunakan zat pengganti saliva. Berbagai
persyaratan untuk zat ini seperti bersifat reologis, rasa menyenangkan, pengaruh
buffer, peningkatan remineralisasi dan menghambat demineralisasi, menghambat
pertumbuhan bakteri dan sifat pembasahan yang baik. Pengganti saliva ini
tersedia dalam bentuk cairan, spray dan tablet isap. V.A Oralube, bentuk cairan,
21

pH 7, merupakan zat pengganti saliva untuk merangsang viskositas dan elektrolit


seluruh saliva. Selain itu digunakan juga Hypromellose, ph 8. Saliva orthana,
bentuk spray, pH 7, mengandung musin untuk memperoleh viskositas. Juga
digunakan Glandosan, pH 5,1, tetapi tidak dianjurkan untuk penderita yang masih
mempunyai gigi. Bentuk tablet isap digunakan Polyox, bermanfaat sebagai
pengganti saliva dan juga bermanfaat dalam mencekatkan gigi palsu.

5. Neoplasma
Neoplasma ialah masa jaringan yang abnormal, tumbuh berlebihan , tidak
terkordinasi dengan jaringan normal dan tumbuh terus- menerus meskipun
rangsang yang menimbulkan telah hilang. Sel neoplasma mengalami transformasi
oleh karena mereka terus- menerus membelah.
Pada neoplasma, proliferasi berlangsung terus meskipun rangsang yang
memulainya telah hilang. Proliferasi demikian disebut proliferasi neoplastik, yang
mempunyai sifat progresif, tidak bertujuan, tidak memperdulikan jaringan
sekitarnya, tidak ada hubungan dengan kebutuhan tubuh dan bersifat parasitic. Sel
neoplasma bersifat parasitic dan pesaing sel atau jaringan normal atas kebutuhan
metabolismenya pada penderita yang berada dalam keadaan lemah . Neoplasma
bersifat otonom karena ukurannya meningkat terus. Proliferasi neoplastik
menimbulkan massa neoplasma, menimbulkan pembengkakan / benjolan pada
jaringan tubuh membentuk tumor. Klasifikasi neoplasma yang digunakan
biasanya berdasarkan :

1. Klasifikasi atas dasar sifat biologik tumor


Atas dasar sifat biologiknya tumor dapat dibedakan atas tumor yang
bersifat jinak (tumor jinak) dan tumor yang bersifat ganas (tumor ganas) dan
tumor yang terletak antara jinak dan ganas disebut “ Intermediate” .

a. Tumor Jinak ( Benigna )


22

Tumor jinak tumbuhnya lambat dan biasanya mempunyai kapsul. Tidak


tumbuh infiltratif, tidak merusak jaringan sekitarnya dan tidak menimbulkan anak
sebar pada tempat yang jauh. Tumor jinak pada umumnya disembuhkan dengan
sempurna kecuali yang mensekresi hormone atau yang terletak pada tempat yang
sangat penting, misalnya disumsum tulang belakang yang dapat menimbulkan
paraplesia atau pada saraf otak yang menekan jaringan otak.
Pleomorfik adenoma, atau "tumor jinak campuran," adalah neoplasma
kelenjar saliva paling umum dan terjadi di semua lokasi, meskipun terlihat paling
sering pada kelenjar parotis. Lesi ini menimbulkan rasa sakit dan lambat tumbuh,
dan seringkali dicatat kebetulan pada ujian sebagai massa perusahaan. Eksisi
bedah dianjurkan, karena mereka dapat menjadi sangat besar dan memiliki potensi
untuk transformasi ganas dari waktu ke waktu. Lesi harus dipotong dengan
margin jaringan di sekitarnya, sebagai lawan enukleasi sederhana, untuk
meminimalkan kekambuhan.

Gambar 7. Pleomorphic adenoma

Warthin tumor ( Limfomatosum Adenokistoma Papilar ), yang terjadi


hampir secara eksklusif di kelenjar parotis, adalah neoplasma saliva kedua yang
23

paling umum dan dapat hadir bilateral. Hal ini lambat tumbuh, tanpa gejala, dan
biasanya agak lembut untuk palpasi. Paling sering terjadi pada pria 50-60 tahun
dan ada hubungannya dengan faktor resiko merokok. Eksisi bedah dianjurkan,
meskipun transformasi ganas sangat langka.

b. Tumor ganas ( maligna )


Tumor ganas pada umumnya tumbuh cepat, infiltratif dan merusak
jaringan sekitarnya. Disamping itu dapat menyebar keseluruh tubuh melalui aliran
limpe atau aliran darah dan sering menimbulkan kematian. Sekitar 65-80% dari
semua tumor saliva terjadi pada kelenjar parotis dan mayoritas ini (sekitar 80%)
adalah jinak. Sepuluh sampai lima belas persen dari tumor terjadi pada jaringan
kelenjar saliva kecil dengan sekitar setengah yang ganas.
Mayoritas neoplasma kelenjar saliva berasal dari epitel, yang timbul dari
asinar, duktuls, atau sel pendukung. Kebanyakan terdapat sebagai pembengkakan
tanpa gejala, bagaimanapun, mereka dapat menyakitkan atau ulserasi tergantung
pada jenis tumor dan lokasi. Parestesia atau kelemahan saraf wajah mungkin
menunjukkan keterlibatan saraf. Neoplasma Nonepithelial, seperti limfoma,
hemangiopericytoma, schwannoma, dan fibrosarcoma, jauh kurang umum, tetapi
dapat terjadi.
Tumor ganas yang paling umum saliva adalah karsinoma
mucoepidermoid, yang umumnya muncul sebagai pembengkakan tanpa rasa sakit
pada kelenjar asal (biasanya parotis). Pengobatan dan prognosis tergantung pada
lokasi, kelas histologis, dan tahap tumor. Secara umum, lesi tingkat rendah
menunjukkan prognosis yang cukup baik, sedangkan tumor grade tinggi bisa
sangat agresif dan refrakter terhadap pengobatan.
Adenoid kistik karsinoma merupakan tumor dengan derajat ganas tigkat
tinggi. Terdapat pada 3% kelenjar parotis, 15% submandibular dan 30% kelenjar
saliva minor. terlihat di rongga mulut yang timbul dari jaringan kelenjar saliva
kecil, terutama di langit-langit mulut. Lesi intraoral yang lambat tumbuh dan
24

mungkin muncul ulserasi. Tumor ini terkenal karena kecenderungan untuk invasi
perineural, yang mengakibatkan rasa sakit dan kecenderungan untuk kambuh.

Gambar 9. Adenoid cystic carcinoma of the palate.


6. SJORGEN SYNDROME

Sjorgen syndrome merupakan suatu penyakit auto imun yang ditandai oleh
produksi abnormal dari extra antibodi dalam darah yang diarahkan terhadap
berbagai jaringan tubuh. Ini merupakan suatu penyakit autoimun peradangan pada
kelenjar saliva yang dapat menyebabkan mulut kering dan bibir kering.

DIAGNOSIS

Peradangan kelenjar saliva dapat dideteksi dengan radiologic scan, juga


dapat dilihat dengan berkurangnya kemampuan kelenjar saliva memproduksi air
liur. Dapat juga didiagnosis dengan cara biopsi. Untuk mendapatkan sampel
biopsi, biasa digunakan pada kelenjar dari bibir bawah. Prosedur biopsi kelenjar
saliva bibir bawah diawali dengan anastesi lokal kemudian dibuat sayatan kecil
dibagian dalam bibir bawah.

GEJALA
25

Gejala dari sjorgen syndrome antara lain; mulut kering, kesulitan menelan,
kerusakan gigi, penyakit gingiva, mulut luka dan pembengkakan, dan infeksi pada
kelenjar parotis bagian dalam pipi.

PENATALAKSANAAN

Mulut yang kering dapat dibantu dengan minum air yang banyak dan
perawatan gigi yang baik untuk menghindari kerusakan pada gigi. Kelenjar dapat
dirangsang dengan menghisap tetesan air lemon tanpa gula atau gliserin
pembersih. Perawatan tambahan untuk gejala mulut kering adalah obat resep
untuk menstimulasi air liur seperti pilocarpine dan ceuimeline. Obat-obatan ini
harus dihinari oleh orang yang berpenyakit jantung, asma, dan glukoma.

PENYEBAB

Penyebab sjorgen syndrome tidak diketahui, ada dukungan ilmiah yang


menyatakan bahwa penyakit ini adalah penyakit turunan atau adanya faktor
genetik yang dapat memicu terjadinya sjorgen syndrome, karena penyakit ini
kadang-kadang penyakit ditemukan pada anggota keluarga lainnya. Hal ini juga
ditemukan lebih umum pada orang yang memiliki penyakit autoimun lainnya
seperti lupus eritematous sistemik, autoimun penyakit tiroid, diabetes, dll.

7. SIALORRHEA

Sialorrhea adalah suatu kondisi medIs yang detandai dengan menetesnya


air liur atau sekresi saliva yang berlebihan.

PENYEBAB

Penyebab dari sialorrhea dapat bevariasi berupa gejala dan gangguan


neurologis, infeksi atau keracunan logam berat dan insektisida serta efek samping
dari obat-obatan tertentu.
26

PENATALAKSANAAN

Pengobatan dan perawatan sialorrhea biasanya tergantung pada sumber


penyebabnya. Apabila disebabkan oleh efek samping obat-obatan maka
penanggulangannya hanya sebatas mengatur kelebihan sekresi saliva. Pada tahap
awal dapat diberikan obat, jika terjadi dalam jangka waktu yang lama dapat
dilakukan operasi dengan mengangkat satu atau lebih glandula salivarius mayor.
27

DAFTAR PUSTAKA

1. Bruch JM, Triester NS. Clinical Oral Medecine and Pathology New York:
Humana Press; 2010.
2. Laskaris G. Pocket Atlas of Oral Disease Stuttgart: Thieme; 2006.
3. Bagian Bedah Umum RSGM Universitas Jember. Tumor Kelenjar Saliva :
Tumor Parotis dan Kelenjar Saliva Lainya Jember: Universitas Jember; 2010.

KELAINAN KELENJAR LUDAH


28

Disusun oleh :

Chianche Ongthin ( 04101004006)

Endah (04101004007)

Syarifah Aisyah (04101004008)

Sucy Mandyasari (04101004009)

Eko Setiawan (04101004010)

Pembimbing : drg. Sulistiawati

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA