Anda di halaman 1dari 23

BEDAH MULUT

ANESTESI LOKAL MAKSILA

Puji Yuliastri (04101004073)

Ade Irma Suryani (04101004032)

Lingga Irawan (04101004027)

Wahyu Dwi Putra (04101004019)

Rhian Surya Permana (04101004018)

M. Dwi Nugraha Abri Yudha (04101004011)

Zulfikar Lafran (04101004083)

Program Studi Kedokteran Gigi


Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya
2012
TEKNIK ANESTESI MAKSILA

Anestesi Lokal

Menurut istilah, anestesi lokal (anestesi regional) adalah hilangnya rasa sakit pada
bagian tubuh tertentu tanpa disertai dengan hilangnya kesadaran. Anestesi lokal merupakan
aplikasi atau injeksi obat anestesi pada daerah spesifik tubuh, kebalikan dari anestesi umum
yang meliputi seluruh tubuh dan otak. Anestesi lokal memblok secara reversible pada sistem
konduksi saraf pada daerah tertentu sehingga terjadi kehilangan sensasi dan aktivitas motorik.

Untuk menghasilkan konduksi anestesi, anestesi lokal diinjeksikan pada permukaan


tubuh. Anestesi lokal akan berdifusi masuk ke dalam syaraf dan menghambat serta
memperlambat sinyal terhadap rasa nyeri, kontraksi otot, regulasi dari sirkulasi darah dan
fungsi tubuh lainnya. Biasanya obat dengan dosis atau konsentrasi yang tinggi akan
menghambat semua sensasi (nyeri, sentuhan, suhu, dan lain-lain) serta kontrol otot.

Anestesi lokal dapat memblok hampir setiap syaraf antara akhir dari syaraf perifer dan
sistem syaraf pusat. Teknik perifer yang paling bagus adalah anestesi lokal pada permukaan
kulit atau tubuh.

Penggolongan Anestesi Lokal

Anesteti lokal dibagi menjadi dua golongan

a) Golongan ester (-COOC-)


Kokain, benzokain (amerikain), ametocaine, prokain (nevocaine), tetrakain
(pontocaine), kloroprokain (nesacaine).
b) Golongan amida (-NHCO-) Lidokain (xylocaine, lignocaine), mepivakain
(carbocaine), prilokain (citanest).bupivakain (marcaine), etidokain (duranest),
dibukain (nupercaine), ropivakain (naropin), levobupivacaine (chirocaine). (Latief
dkk, 2002:98)
 Indikasi dan Kontra Indikasi Anestesi Lokal di Bidang Kedokteran Gigi

Anestesi lokal secara parenteral diberikan untuk infiltrasi dan anestesi blok saraf.
Infiltrasi anestesi umumnya digunakan untuk pembedahan minor dan perawatan gigi.Anestesi
blok saraf digunakan untuk pembedahan, perawatan gigi, dan prosedur diagnosisdan
pengontrolan rasa sakit. Karena keanekaragaman dari mekanisme absorpsi dan toksisitasnya,
pemilihan jenis dan konsentrasi anestesi lokal yang ideal tergantung padaprosedur yang akan
dilakukan.Dalam bidang kedokteran gigi, secara umum anestesi lokal diindikasi untuk
berbagaitindakan bedah yang dapat menimbulkan rasa sakit yang tidak tertahankan oleh
pasien, diantaranya yaitu ekstraksi gigi, apikoektomi, gingivektomi, gingivoplasti, bedah
periodontal,pulpektomi, pulpotomi, alveoplasti, bone grafting, implant, perawatan fraktur
rahang,reimplantasi gigi avulse, perikoronitis, kista, bedah pengangkatan tumor, bedah
pengangkatanodontoma dan juga penjahitan dan Flapping pada jaringan muko periosteum.

Sedangkan, kontraindikasi dari pemberian anestesi lokal meliputi:

1) Adanya infeksi/inflamasi akut pada daerah injeksi apabila melakukan anestesi


secarainjeksi. Hindari blocking saraf inferior gigi pada dasar mulut atau area
retromolar.
2) Penderita hemofilia, Christmas Disease, Von Willebrand Disease
3) Alergi
4) Penderita hipertensi
5) Penderita penyakit hati/liverPenderita dengan usia lanjut perlu diperhatikan adanya
kelainan hati dan ginjal.

 Manfaat Anestesi Lokal


- Digunakan sebagai diagnostic, untuk menentukan sumber nyeri
- Digunakan sebagai terapi. Anestesi lokal merupakan bagian dari terapi untuk
kondisi operasi yang sangat nyeri. Kemampuan dokter gigi dalam menghilangkan
nyeri pada pasien meski bersifat sementara merupakan ukuran tercapainya tujuan
terapi
- Digunakan untuk kepentingan perioperatif dan postoperasi. Proses operasi yang
bebas nyeri sebagian besar menggunakan anestesi lokal, merupakan metode yang
aman dan efektif untuk semua pasien operasi dentoalveolar.
- Digunakan untuk kepentingan postoperasi. Setelah operasi dengan menggunakan
anestesi umum atau lokal, efek anestesi yang berlanjut sangat penting untuk
mengurangi ketidaknyamanan pasien.

 Keuntungan Anestesi Lokal


- Tidak diperlukan persiapan khusus pada pasien
- Tidak membutuhkan alat dan tabung gas yang kompleks
- Tidak ada resiko obstruksi pernapasan
- Durasi anestesi sedikitnya satu jam dan jika pasien setuju dapat diperpanjang
sesuai kebutuhan operasi gigi minor atau adanya kesulitan dalam prosedur
- Pasien tetap sadar dan kooperatif dan tidak ada penanganan pasca anestesi
- Pasien-pasien dengan penyakit serius, misalnya penyakit jantung biasanya dapat
mentolerir pemberian anestesi lokal tanpa adanya resiko yang tidak diinginkan
- Tidak dibutuhkan ahli anestesi.

Persiapan Pra Anestesi


Sebelum dilakukan pemberian anestesi lokal, operator harus mempertimbangkanrisiko
yang dapat terjadi pada pasien. Hal ini disebabkan oleh efek depresan yang merupakansalah satu efek dari
obat-obatan anestesi lokal. Selain itu, obat-obatan anestesi lokal punmemiliki efek samping
lain yaitu bronkospasm yang sering kali menyebabkan hiperventilasimaupun vasodepressor
sinkop. Oleh karena itu, keadaan umum pasien perlu dievaluasisebelum melakukan tindakan
anestesi. Persiapan pra anestesi ini mencakup tiga persiapan,yaitu persiapan diri anestetis,
persiapan alat dan bahan, dan persiapan pasien.
Persiapan anestesis, berupa anestesis harus sehat fisik dan psikis,
memilikipengetahuan dan keterampilan anestesi yang memadai, dan memiliki mental yang
baik untuk mengatasi apabila terjadi keadaan yang mengancam jiwa pasien.
Persiapan alat dan bahan anestesi, alat yang biasa digunakan adalah syringeuntuk menyutikkan
bahan atau agen anestesi lokal ke daerah yang akan dianestesi. Hal ini perludiperhatikan agar
penyuntikan berjalan cepat dan lancar. Kemudian siapkan mukosa yangakan disuntik, dan siap
dilakukan penyuntikan langsung pada daerah yang dikehendaki.
.Evaluasi Praanestesi dilakukan melalui anamnesis serta evaluasi kondisi fisik
pasien.Dalam anamnesis, pasien ditanyakan tentang riwayat penyakit yang pernah atau
sedangdiderita, obat-obatan yang sedang dikonsumi, riwayat alergi, dan juga beberapa
keluhan-keluhan yang mungkin dialami oleh pasien. Dalam evaluasi praanestesi ini pula
ditanyakantentang ketakutan pasien sebelum dilakukan anestesi sehingga keadaan psikologis
pasiendapat pula dievaluasi.
Penyakit-penyakit yang umumnya ditanyakan kepada pasien dalam
evaluasipraanestesi adalah kelainan jantung, hipotensi, diabetes, gagal ginjal, penyakit liver,
alergiterhadap obat, hipertensi, rematik, asma, anemia, epilepsi, serta kelainan darah.
Pemeriksaan fisik praanestesi yang perlu dilakukan adalah inspeksi visual
untuk mengobservasi adanya kelainan pada postur tubuh pasien, gerakan tubuh, bicara,
dansebagainya; evaluasi tanda vital; serta status kesehatan fisik menurut ASA.

Komplikasi Anestesi Lokal

Kerusakan Jarum

Penyebab utamanya adalah kelemahan jarum dengan membengkokkannya sebelum di


insersi dalam mulut pasien. Selain itu dapat terjadi karena pergerakan pasien yang berlebihan
secara tiba-tiba sehingga jarum penetrasi ke dalam otot.

Perawatan jika terjadi jarum patah, adalah:


1. Tetap tenang, jangan panik
2. Instruksikan pasien tidak bergerak, jaga mulut pasien agar tetap terbuka.
Gunakan biteblock dalam mulut pasien.
3. Jika patahan masih terlihat, coba untuk mengambilnya.

Parastesi

Pasien merasa mati rasa (dingin) selama beberapa jam atau bahkan berhari-harisetelah
anastesi lokal. Penyebabnya bisa karena trauma pada beberapa saraf. Selain itu,injeksi
anastesi lokal yang terkontaminasi alkohol atau cairan sterilisasi dapatmenyebabkan iritasi
sehingga menyebabkan edema dan sampai menjadi parastesi.Parastesi dapat sembuh sendiri
dalam waktu 8 minggu dan jika kerusakan padasaraf lebih berat maka parastesi dapat menjadi
permanen, namun jarang terjadi.Perawatan pada pasien yang mengalami parastesi yaitu:
a) Yakinkan kembali pasien dengan berbicara secara personal.
b) Jelaskan bahwa parastesi jarang terjadi, hanya 22% telah dilaporkan yangberkembang
menjadi parastesi.
c) Periksa pasien:
o Menentukan derajat dan luas parastesi
o Jelaskan pada pasien bahwa parastesi akan sembuh sendiri dalam waktu 2
bulan.
o Jadwal ulang pertemuan setiap 2 bulan sampai adanya pengurangan reaksi
sensori
o Jika ada, maka konsultasi ke bagian Bedah Mulut.

Paralisis Nervus Fasial

Paralisis nervus fasial akibat blok saraf alveolar inferior pada sisi kiri. Paralisis
sebagian dari cabang trigeminal terjadi pada blok saraf infraorbital atauinfiltrasi kaninus
maksila, biasanya dapat menyebabkan otot kendur.Paralisis nervus fasial dapat disebabkan
karena kesalahan injeksi anastesi lokalyang seharusnya ke dalam kapsul glandula parotid.
Jarum secara posterior menembus kedalam badan glandula parotid sehingga hal ini
menyebabkan paralisis.Pasien yang mengalami paralisis unilateral mempunyai masalah
utama yaituestetik. Wajah pasien terlihat berat sebelah. Tidak ada treatment khusus
kecualimenunggu sampai aksi dari obat menghilang. Masalah lainnya adalah pasien tidak
dapatmenutup satu matanya secara sadar, refleks menutup pada mata menjadi hilang
danberkedip menjadi susah.

Trismus

Trismus adalah kejang tetanik yang berkepanjangan dari otot rahang dengan
pembukaan mulut menjadi terbatas (rahang terkunci). Etiologinya karena trauma pada otot
atau pembuluh darah pada fossa infratemporal. Kontaminasi alkohol dan larutan sterlisasi pun
dapat menyebabkan iritasi jaringan kemudian menjadi trismus. Hemoragi juga penyebab lain
trismus.
Luka jaringan lunak

Trauma pada bibir dan lidah biasanya disebabkan karena pasien tidak hati
hatimenggigit bibir atau menghisap jaringan yang teranastesi. Hal ini menyebabkan
pembengkakan dan nyeri yang siginifikan. Kejadian ini sering terjadi pada anak-
anak handicapped.

Hematoma

Hematoma dapat terjadi karena kebocoran arteri atau vena setelah blok nervusalveolar
superior posterior atau nervus inferior. Hematoma yang terjadi setelah blok saraf alveolar
inferior dapat dilihat secara intraoral sedangkan hematoma akibat alveolar blok posterior
superior dapat dilihat secara extraoral.Komplikasi hematoma juga dapat berakibat trismus
dan nyeri. Pembengkakan danperubahan warna pada region yang terkena dapat terjadi setelah
7 sampai 14 hari.
Gambar, Hematoma akibat blok nervus mentale bilateral

Nyeri

Penyebabnya dapat terjadi karena :


1) Teknik injeksi yang tidak hati-hati dan tidak berperasaan
2) Jarum tumpul akibat pemakaian injeksi multiple
3) Deposisi cepat pada obat anastesi local yang menyebabkan kerusakan jaringan.
4) Jarum dengan mata kail (biasanya akibat tertusuk tulang)

Nyeri yang terjadi dapat menyebabkan peningkatan kecemasan pasien danmenciptakan gerakan
tiba-tiba dan menyebabkan jarum patah.

Rasa terbakar

pH dari obat anastesi lokal yang dideposit ke dalam jaringan lunak


dipersiapkanberkisar 5, namun menjadi lebih asam (sekitar 3) sehingga menyebabkan rasa
terbakar.Selain itu, penyebab rasa terbakar disebabkan karena injeksi yang terlalu cepat,
biasanyapada palatal. Selain itu, kontaminasi dengan alkohol dan larutan sterilisasi
jugamenyebabkan rasa terbakar.Jika disebabkan karena pH, maka akan menghilang sejalan dengan
reaksi anastesi.Namun jika disebabkan karena injeksi terlalu cepat, kontaminasi dan obat
anastesi yangterlalu hangat dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang dapat berkembang menjaditrismus,
edema, bahkan parastesi.

Infeksi

Penyebab utamanya adalah kontaminasi jarum sebelum administrasi anastesi.Kontaminasi


terjadi saat jarum bersentuhan dengan membran mukosa. Selain itu,ketidakahlian operator
untuk teknik anastesi lokal dan persiapan yang tidak tepatmenyebabkan infeksi.

Edema

Pembengkakan jaringan merupakan manifestasi klinis adanya beberapa


gangguan.Edema dapat terjadi karena:
- Trauma selama injeksi
- Infeksi
- Alergi
- Hemoragi
- Jarum yang teriritasi
- Hereditary angioderma

Edema dapat menyebabkan rasa nyeri dan disfungsi dari region yang terkena.Angioneurotik
edema yang dihasilkan akibat topical anastesi pada individu yang alergidapat membahayakan
jalan napas. Edema pada lidah, faring, dan laring dapat berkembangpada situasi gawat
darurat.

Pengelupasan jaringan

Gambar 3. Pengelupasan jaringan pada palatum akibat iskemia sekunder yang lama
akibatlocal anastesi dengan vasonkonstriktor

Iritasi yang berkepanjangan atau iskemia pada gusi akan menyebabkan


beberapakomplikasi seperti deskuamasi epitel dan abses steril. Penyebab deskuamasi epitel
antaralain:
o Aplikasi topical anastesi pada gusi yang terlalu lama
o Sensitivitas yang sangat tinggi pada jaringan
o Adanya reaksi pada area topical anastesi
Penyebab abses steril antara lain:
o Iskemi sekunder akibat penggunaan lokal anastesi dengan
vasokonstriktor(norepineprin)
o Biasanya berkembang pada palatum keras

Nyeri dapat terjadi pada deskuamasi epitel atau abses steril sehingga adakemungkinan
infeksi pada daerah yang terkena.

Lesi intraoral post anastesi

Pasien sering melaporkan setelah 2 hari dilakukan anastesi lokal timbul ulserasipada
mulut mereka, terutama di sekitar tempat injeksi. Gejala awalnya adalah nyeri. RASatau
herpes simplex dapat terjadi setelah anastesi lokal. Recurrent aphthous stomatitismerupakan
penyakit yang paling sering daripada herpes simplex, terutama berkembangpada gusi yang
tidak cekat dengan tulang. Biasanya pasien mengeluh adanya sensitivitasakut pada area ulser

Untuk mencapai keadaan anestesi lokal, dikenal beberapa cara pemberian, khusus
dibidang kedokteran gigi yaitu :

- Anestesi topical
Anestesi topikal merupakan anestesi lokal yang dapat digunakan di permukaan
kulit, selaput lendir atau selaput lainnya. Anestesi topikal dapat berupa salep,
pasta,krim, gel, dan semprotan ( Boulton dan Blogg, 1994: 117).
- Anestesi infiltrasi
Cara ini juga disebut sebagai injeksi supraperiosteal, karena tempat injeksinya
didalam jaringan dimana bahan anestesi dideponir dalam hubungannya dengan
periosteum bukal dan labial. Bahan anestesi yang dideponir di atas periosteum
setinggi apeks gigi akan mengalir ke dalam periosteum dan tulang melalui proses
difusi. Bahan anestesi akan berpenetrasi ke dalam serabut syaraf yang masuk ke
apeks gigi sehingga menginervasi alveolus dan membran periodontal. Dalam
keadaan normal, akan terbentuk keadaan anestesia pada struktur-struktur tersebut
(Purwanto, 1993:7).Sering dilakukan pada anak-anak untuk rahang atas ataupun
rahang bawah. Mudah dikerjakan dan efektif. Daya penetrasi anastesi infiltrasi
pada anak-anak cukup dalam karena komposisi tulang dan jaringan belum begitu
kompak.

- Anestesi block
Berfugsi untuk mengontrol daerah pembedahaan. Kontraindikasi dari anastesi
blok yaitu pada pasien dengan perdarahan, walaupun perdarahan terkontrol.
Kesuksesan anastesi blok tergantung pada pengetahuan anatomi lokal dan teknik
yang baik. Biasa digunakan untuk pencabutan gigi molar permanen.
1. Field block
Disuntikkan pada sekeliling lapangan operasi, sehingga menghambat
semua cabang syaraf proksimal sebelum masuk kedaerah operasi.
2. Nerve block
Anestesi lokal dikenakan langsung pada syaraf, sehingga menghambat
jalannya rangsangan dari daerah operasi yang diinnervasinya.

- Anestesi Intraligamen
Anestesi intraligamen dilakukan dengan injeksi yang diberikan di dalam
periodontal ligamen. Injeksi ini menjadi populer setelah adanya syringe khusus
untuk tujuan tersebut. Injeksi intraligamen dapat dilakukan dengan jarum dan
syringe konvensional, tetapi lebih baik dengan syringe khusus, karena lebih
mudah memberikan tekanan yang diperlukan untuk menginjeksikannya ke dalam
ligamen periodontal (Andlaw dan Rock, 1990:75).
Jarum yang biasa digunakan adalah jarum dengan ukuran 30 gauge pendek atau
sangat pendek, dan syringe dapat dipakai untuk larutan anestesi 1,8 atau 2,2 ml.
Untuk mengurangi resiko kerusakan jaringan karena vasokonstriksi, dianjurkan
untuk tidak menggunakan larutan yang mengandung adrenalin, karena tekanan
pada larutan yang disuntikkan tersebut menghasilkan vasokontriksi dalam ligamen
periodontal (Andlaw dan Rock, 1990:75).
Injeksi intraligamen mempunyai beberapa kelebihan dibanding metode
konvensional. Injeksi ini biasanya lebih nyaman daripada injeksi blok nervus
dental inferior atau injeksi palatal atau infiltrasi bukal pada premaksila . Analgesia
diperoleh dengan sangat cepat dan jaringan lunak disekitarnya sedikit terpengaruh.
Karena analgesia gigi rahang bawah dapat diperoleh melalui cara ini, ini
merupakan salah satu pilihan injeksi yang berguana apabila harus menghindari
injeksi blok pada nervus dental inferior ( Andlaw dan Rock, 1990:76).

- Injeksi intrapapila
Injeksi intrapapila dapat diberikan untuk menghasilkan analgesia jaringan palatal
atau lingual, untuk menghindari suntikan yang lebih terasa sakit yaitu langsung
kedalam jaringan palatal atau lingual (Andlaw dan Rock, 1990:77).

A. Anestesi Lokal pada Maksila


 Anestesi Gigi Geligi Permanen
Molar ketiga atas, molar kedua, dan akar distobukal serta palatal molar pertama
diinervasi oleh cabang-cabang saraf gigi superior posterior. Cabang-cabang kecil dari
saraf yang sama akan meneruskan sensasi jaringan pendukung bukal pada daerah
molar dan mukoperiosteum yang melekat padanya. Deposisi larutan anestesi di dekat
saraf setelah saraf keluar dari kanalis tulang, akan menimbulkan efek anastesi regional
dari struktur yang disuplainya. Teknik ini disebut blok gigi superior posterior.

Sejak diperkenalkannya agen anastesi lokal modern, teknik infiltrasi sudah lebih
sering digunakan untuk daerah tersebut karena deposisi larutan 1 ml, normalnya
memberikan efek anastesi tanpa resiko kerusakan pleksus venosus pterigoid atau
arteri-arteri kecil yang ada di daerah ini.

Akar mesiobukal dari molar pertama, kedua gigi premolar dan jaringan
pendukung bukal serta mukoperiosteum yang berhubungan dengannya mendapat
inervasi dari saraf gigi superior tengah. Teknik infiltrasi biasanya digunakan untuk
menganastesi struktur-struktur tersebut. Deposisi 1 ml larutan sudah cukup untuk
menganastesi lingkaran saraf luar yang mensuplai premolar kedua.

 Anastesi Gigi-gigi Anterior Permanen


Gigi-gigi insisivus dan kaninus atas diinervasi oleh serabut yang berasal dari
saraf gigi superior anterior. Saraf ini naik pada kanalis tulang yang kecil untuk
bergabung dengan saraf infraorbital 0,5 cm di dalam kanalis infraorbitalis. Gigi
insicivus sentral, insicivus lateral atau kaninus dapat teranestesi bersama dengan
jaringan pendukungnya, pada penyuntikan 1 ml larutan anestesi di dekat apeks gigi
yang dituju.

 Anastesi Jaringan Palatal


Ujung-ujung saraf pada jaringan lunak palatum berhubungan dengan gigi-gigi
anterior atas dan premaksila, serta meneruskan sensasi melalui fibril saraf yang
bergabung untuk membentuk saraf speno-palatina panjang. Saraf berjalan melalui
foramen insisivus dan kanalis, ke atas dan ke belakang melewati septum nasal kea rah
ganglion speno-palatina.

Berbagai cabang-cabang kecil dari gingival palatal dan mukoperiosteum di


daerah molar dan premolar akan bergabung untuk membentuk saraf palatine besar.
Setelah berjalan ke belakang di dalam saluran tulang yang terletak di pertengahan
antara garis tengah palatun dan tepi gingival gigi geligi, saraf masuk ke kanalis
melalui foramen palatine besar. Saraf kemudian berjalan naik untuk bergabung
dengan ganglion speno-palatina yang berhubungan dengan saraf maksilaris.

Saraf speno-palatina panjang dan palatine besar akan beranastomosis di daerah


kaninus palatum dan membentuk lingkaran saraf dalam. Mukoperiosteum palatal
mempunyai konsistensi keras dan beradaptasi erat terhadap tulang. Karakteristik ini
menyebabkan suntikan subperiosteal perlu diberikan dan diperlukan tekanan yang
lebih besar dari biasa untuk mendepositkan larutan anestesi local. Karena itulah,
pasien harus diberitahu terlebih dahulu bahwa suntikan palatal akan menimbulkan
rasa tidak enak namun tidak sakit. Rasa kurang enak ini dapat diperkecil dengan
menginsersikan jarum dengan bevel yang mengarah ke tulang dan tegak lurus
terhadap vault palatum. Pada premaksila, suntikan di papilla insisivus akan
menimbulkan rasa sakit yang hebat dank arena itu, suntikan ini sebaiknya dihindari.

 Suntikan Infraorbital

Karena teknik infiltrasi sangat efektif bila digunakan pada maksila, maka
anastesi regional umumnya jarang dipergunakan. Walaupunn demikian, suntikan
infraorbital akan sangat bermanfaat bila akan dilakukan pancabutan atau operasi besar
pada daerah insisivus dan kaninus rahang atas. Suntikan ini juga dapat digunakan
untuk menganastesi gigi anterior dimana teknik infiltrasi tidak mungkin dilakukan
karena ada infeksi di daerah penyuntikan.

Teknik ini berdasar pada fakta bahwa larutan akan didepositkan pada orifice
foramen infraorbital, berjalan sepanjang kanalis ke saraf gigi superior anterior dan
superior tengah, menimbulkan anastesi pada gigi-gigi insicivus, kaninus dan premolar
serta struktur pendukungnya. Larutan ini kadang-kadang dapat mencapai ganglion
speno-palatina dan menganastesi lingkaran saraf dalam, namun seringkali masih
diperlukan suntikan palatum tambahan.

Baik cara intraoral maupun ekstraoral dapat digunakan untuk blok infraorbital.
Teknik infraorbital umumnya lebih popular dan memungkinkan jarum ditempatkan di
luar lapang pandang pasien. Suntikan tersebut dapat dilakukan dengan cara berikut
ini.

Dengan ujung jari telunjuk lakukanlah palpasi linger infraorbital dan takikan
infraorbital, kemudian geser jari sedikit ke bawah agar terletak tepat di atas foramen
infraorbital. Dengan tetap mempertahankan posisi ujung jari tersebut, ibu jari dapat
digunakan untuk membuka bibir atas dan mengekspos daerah yang akan disuntik.
 Anestesi Infiltrasi pada Maksila

a) Gigi Incisive sentral, incisive lateral, dan kaninus


Gigi Incisive sentral RA dapat diberikan anestesi menggunakan
teknik infiltrasi. Membran mukosa ditarik kencang dan jarum dimasukkan
sedalam kira-kira8 mm kea rah apical pada margin ginggiva. Kemudian di dorong
hati-hati ke atas,melewati bawah periosteum, sampai ujung jarum mencapai apek
gigi. Anestesi localdidepositkan sebanyak 1 ml.Pada gigi incisive lateral, jarum harus
dimasukkan pada akar yang terendah.Selain tiu karena posisi apek akar gigi
incisive yang relative dekat ke palatal,seringkali digunakan anestasi blok naso
palatine untuk menjamin tersedianya anestesi pada gigi tersebut. Sedangkan paa
gigi kaninus ujung jarum ditempatkan padaeminensia kaninus.

b) Gigi Premolar I dan II

Anestesi infiltrasi pada gigi premolar kedua RA menggunakan teknik


yangsama dengan insicive dan kaninus. Membran mukosa ditarik kuat, kemudian
jarumdimasukkan secara perlahan, buat kemiringan menuju tulangsampai ujung
jarum padaapek gigi yang akan dianestesi. Eminensia kaninus dan dasar prosessus
zygomatikusmaksila merupakan panduan yang berguna dalam menempatkan
jarum. Untuk gigipremolar pertama, jarum harus ditempatkan pada bagian fistal
eminensia kaninus dansekitar 22 mm dari ujung cusp bukal. Sedangkan untuk gigi
premolar kedua,diempatkan di mesial dasar prosessus zygomatikus dan sekitar 21
mm dari ujung cuspbukal.

c) Gigi Molar Permanen I, II, dan III

Pemberian anestesi pada gigi permanen molar dilakukan dengan cara


bukalinfiltrasi. Adanya prosessus zygomatikus pada tulang maksila menyebabkan
diperlukannya pemberian dua infiltrasi, yang pertama pada mesial prosessus
zygomaticus untuk akar mesio distal, yang kedua diberikan pada bagian distal
untuk akar disto bukal. Untuk akar mesio bukal ujung jarum sebaiknya sekitar 23
mm dari cusp mesio bukal. Sedangkan untuk akar disto bukal lebih pendek,
sekitar 21 mm dari cusp disto bukal. Akar palatal yang terlalu jauh dari kortek
bukal maksila yang terbagi, memerlukan adanya infiltrasi palatal. Untuk
mencapainya diunakan jarumyang pendek, kira 3-4mm yang amsuk ke mukosa
palatal, sekitar 8 mm dari apical kemargin ginggiva

B. Macam-macam Anestesi Blok Pada Maksila


 Blok Nervus Alveolaris Superrior Anterior
Titik suntik terletak pada lipatan mukolabial sedikit mesial dari gigi kaninus,
arahkan jarum keapeks kaninus, anastetikum dideponir perlahan ke atas apeks akar
gigi tersebut.

Injeksi yang dilakukan pada kedua kaninus biasanya bisa menganastesi


keenam gigi anterior. Injeksi N.Alvolaris Superrior Anterior biasanya sudah cukup
untuk prosedur operatif. Untuk ekstraksi atau bedah, diperlukan juga tambahan
injeksi palatinal pada region kaninus atau foramen incisivum.

 Blok Nervus Alveolaris Superrior Posterior


Blok syaraf alveolaris superior posterior diperoleh dengan menempatkan
jarum didistal molar terakhir, ke atas dan medial, bersudut 45º, memungkinkan
deposisi larutan 1,5 ke permukaan disto bukkal maxilla.

Komplikasi umum dari teknik ini adalah bila beberapa pembuluh darah plexus
vena pterigoid pecah, menimbulkan haematoma. Karena obat-obat analgesia lokal,
teknik infiltrasi meliputi deposisi hanya 1 ml larutan digunakan.

Saraf yang teranestesi:


- Gigi-gigi molar kecuali akar molar satu
- Processus alveolaris bagian bukkal dari gigi molar termasuk periosteum.
- Jaringan ikat dan membran mukosa

Anatomi landmarks :
- Lipatan zygomatikus pada maxilla
- Processus zygomatikus pada maxilla
- Tuberositas maxilla
- Bagian anterior dan processus coronoideus dari ramus mandibula.

Tekniknya :
Bila anestesi adalah nervus alveolaris superior posterior dexter:
1. Operator berdiri sebelah kanan depan
2. Masukkan jari telunjuk kiri kita ke vestibulum oris sebelah kanan
penderita, kemudian jari telunjuk pada daerah lipatan mukobukkal di
sebelah posterior gigi premolar dua sampai teraba proccesus zygomaticus
3. Lengan kita turun kebawah sehingga jari telunjuk membuat sudut 90º
terhadap oklusal plane gigi rahang atas, dan membentuk sudut 45º bidang
sagital penderita. Hal ini dapat dilakukan bilamana penderita dalam
keadaan setengah tutup mulut, sehingga bibir dan pipi dapat ditarik
kelateral posterior
4. Jari telunjuk disisi merupakan pedoman tempat penusukan jarum
5. Ambil spoit yang telah disiapkan, dan sebelumnya tempat yang akan
disuntik harus dilakukan desinfeksi terlebih dahulu
6. Arah jarum harus sejajar dengan jari kita, penusukan jarum sedalam ½-¾
inch
7. Aspirasi, jika tidak darah yang masuk, keluarkan larutan secara perlahan-
lahan sebanyak 1,5 cc.

 Blok Nervus Intra Orbital


Blok infraorbital paling sering digunakan. Pinggir intra orbital dapat teraba
dengan menggunakan ujung jari pertama, notah infraorbital dapat diidentifikasi.
Dengan ujung jari tetap pada posisi ini, ibu jari dapat digunakan untuk menarik bibir
atas. Ujung jarum dimasukkan jauh ke dalam sulkus di atas apeks premolar kedua
dan meluas segaris dengan sumbu panjang gigi sampai sedalam 1,5-2 cm baru
larutan analgesic didepositkan . pembengkakan jaringan dapat diraba dibalik jari
pertama bila letak ujung jarum, tepat. Biarkan keadaan ini selama 3 menit, untuk
memastikan diperolehnya analgesia yang memadai.

Saraf yang teranestesi:


- Nervus alveolaris superior, anterior dan medium
- Nervus infra orbital
- Nervus palpebra inferior
- Nervus nasalis lateralis
- Nervus labialis superior

Daerah yang teranestesi:


- Gigi incisivus sampai premolar
- Akar mesio bukkal dari molar satu
- Jaringan pendukung dari gigi tersebut
- Bibir atas dan kelopak atas
- Sebagian hidung pada sisi yang sama

Anatomi Landmark:
- Infra orbital ridge
- Supra orbital notch
- Gigi anterior dan pupil mata

Tekniknya:
a. Intra oral approach
1. Dudukkan penderita, kemudian buka mulut sampai daratan oklusal gigi
rahang atas membentuk 45º dengan garis horizontal, dan penderita disuruh
melihat ke arah depan
2. Kita menggambarkan suatu garis khayal yang lurus, berjalan vertikal
melalui pupil mata ke infra orbital dan gigi premolar dua rahang atas
3. Bila sudah menemukan infra orbital notch, maka jari telunjuk yang kita
pakai palpasi, kita gerakkan ke bawah kira-kira ½ cm, disinilah akan kita
temukan suatu cekungan dimana letaknya foramen infra orbital
4. Setelah ditemukan foramen infra orbital, maka jari telunjuk tetap
diletakkan pada tempat foramen infra orbitalis untuk mencegah tembusnya
jarum mengenai bola mata
5. Bibir atas diangkat dengan ibu jari
6. Lakukan desinfeksi pada muko bukkal regio premolar dua rahang atas
7. Pergunakan jarum 27 gauge dan 1 5/8 inch
8. Jarum suntikan tersebut ditusukkan pada lipatan muko bukal regio
premolar dua rahang atas, mengikuti arah garis khayalan yang telah dibuat.
Untuk mengurangi rasa sakit, pada saat jarum menembus mukosa,
injeksikan beberapa strip larutan, kemudian jarum tersebut diteruskan
secara perlahan-lahan, hingga mencapai foramen intra orbitalis, maka
dapat dirasakan oleh jari yang kita letakkan pada foramen tersebut.
9. Aspirasi, kemudian keluarkan anestetikum sebanyak 1-1½ cc (jumlah
larutan tersebut tergantung dari kebutuhan)

b. Extra oral approach :


Indikasi : bila intra oral approach tidak dapat dilakukan, misalnya ada
peradangan.

Tekniknya :
1. Tentukan letak foramen intra orbital (sama dengan teknik pada intra oral
approach)
2. Pada waktu akan di tusuk jarum, penderita dianjurkan menutup mata untuk
mencegah kemungkinan bahaya untuk mata
3. Titik insersi jarum kira-kira 1 cm di bawah foramen infra orbital, kita
memasukkan jarum dengan membuat sudut 45º, dan jarum tersebut
diluncurkan sesuai dengan arah garis khayalan sejajar 1 cm, kemudian
keluarkan secara perlahan-lahan larutan anestetik. Ujung jarum dimasukkan
melalui papila nasopalatina sampai ke lubang masuk kanalis insisivus. Bila
tulang berkontak dengan jarum, jarum harus ditarik kira-kira 0,5-1 mm.
Kira-kira 0,1-0,2 ml larutan didepositkan, larutan tidak boleh dikeluarkan
terlalu cepat karena dapat menimbulkan rasa tidak enak. Jaringanakan
memucat, dan timbulnya analgesia cukup cepat.

 Blok Nervus Naso Palatinus


Nervus naso palatinus keluar dari foramen incisivus. Daerah yang teranestesi
adalah bagian bukkal dari palatum durum sampai gigi caninus kiri dan kanan.

Anatomi Landmark :
- Incisivus papilla
- Incisivus centralis
Tekniknya :
1. Incisivus papilla ini sangat sensitif, eleh karena itu pada penusukan jarum
yang pertama harus disuntikkan beberapa tetes anestetikum. Kemudian
jarum tersebut diluncurkan dalam arah paralel dengan longaxis gigi
incisivus, dan tetap dalam garis median.
2. Jarum tersebut diluncurkan kira-kira 2 mm kemudian larutan anestesi
dikeluarkan secara perlahan-lahan sebanyak 0,5 cc.
3. Jarum yang digunakan adalah jarum yang pendek
4. Analgesia palatum pada salah satu sisi sampai kekaninus dapat diperoleh
dengan mendepositkan 0,5-0,75 ml larutan pada syaraf palatina besar
ketika syaraf keluar dari foramen palatina besar.
5. Secara klinis, jarum dimasukkan 0,5 cm. Suntikan diberikan perlahan
karena jaringan melekat erat. Mukosa dapat memutih, dan ludah dari
kelenjar ludah minor dapat dikeluarkan.

 Blok Nervus Palatinus Anterior


Syaraf ini keluar dari foramen palatinus major. Daerah yang teranestesi adalah
bagian posterior dari palatum durum mulai dari premolar.

Anatomi Landmark :
- Molar dua dan tiga maxilla
- Tepi gingiva sebelah palatinal dari molar dua dan molar tiga maxilla
- Garis khayal yang kita buat dari 1/3 bagian tepi gingiva sebelah palatinal ke
arah garis tengah palatum.

Indikasi :
- Untuk anestesi daerah palatum dari premolar satu sampai molar tiga
- Untuk operasi daerah posterior dari palatum durum.

Tekniknya :
1. Nervus palatinus anterior keluar dari foramen palatinus mayor yang
terletak antara molar dua, molar tiga dan 1/3 bagian dari gingiva molar
menuju garis median
2. Jika tempat tersebut telah ditentukan, tusuklah jarum dari posisi
berlawanan mulut (bila di suntikkan pada sebelah kanan, maka arah jarum
dari kiri menuju kanan)
3. Sehingga membentuk sudut 90º dengan curve tulang palatinal
4. Jarum tersebut ditusukkan perlahan-lahan hingga kontak dengan tulang
kemudian kita semprotkan anestetikum sebanyak 0,25-0,5 cc.

C. Teknik-teknik anastesi blok pada maksila :


 Injeksi Zigomatik
Titik suntikan terletak pada lipatan mukosa tertinggi diatas akar distobukal
molar kedua atas. Arahkan jarum ke atas dan ke dalam dengan kedalaman kurang
lebih 20 mm. ujung jarum harus tetap menempel pada periosteum untuk menghindari
masuknya jarum ke dalam plexus venosus pterygoideus.

Perlu diingat bahwa injeksi zigomatik ini biasanya tidak dapat menganestesi
akar mesiobukal molar pertama atas. Karen itu, apabila gigi tersebut perlu dianestesi
untuk prosedur operatif atau ekstraksi, harus dilakukan injeksi supraperiosteal yaitu di
atas premolar kedua. Untuk ekstraksi satu atau semua gigi molar, lakukanlah injeksi
n.palatinus major.

 Injeksi Infraorbital
Pertama-tama tentukan letak foramen infraorbitale dengan cara palpasi.
Foramen ini terletak tepat dibawah crista infraorbitalis pada garis vertikal yang
menghubungkan pupil mata apabila pasien memandang lurus ke depan. Tarik pipi,
posisi jari yang mempalpasi jangna dirubah dan tusukkan jarum dari seberang gigi
premolar ke dua, kira-kira 5 mm ke luar dari permukaan bukal. Arahkan jarum sejajar
dengan aksis panjang gigi premolar kedua sampai jarum dirasakan masuk kedalam
foramen infraorbitale di bawah jari yang mempalpasi foramen ini. Kurang lebih 2 cc
anestetikum dideponir perlahan-lahan.

Beberapa operator menyukai pendekatan dari arah garis median, dalam hal ini,
bagian yang di tusuk adalah pada titik refleksi tertinggi dari membran mukosa antara
incisivus sentral dan lateral. Dengan cara ini, jarum tidak perlu melalui otot-otot
wajah.
Untuk memperkecil resiko masuknya jarum ke dalam orbita, klinisi pemula
sebaiknya mengukur dulu jarak dariforamen infraorbitale ke ujung tonjol bukal gigi
premolar ke dua atas. Kemudian ukuran ini dipindahkan ke jarum. Apabila ditransfer
pada siringe jarak tersebut sampai pada titik perbatasan antara bagian yang runcing
dengan bagian yang bergigi. Pada waktu jarum diinsersikan sejajar dengan aksis gigi
premolar kedua, ujungnya akan terletak tepat pada foramen infraorbitale jika garis
batas tepat setinggi ujung bukal bonjol gigi premolar kedua. Jika foramen diraba
perlahan, pulsasi pembuluh darah kadang bisa dirasakan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Malamed, Stanley F. 2004.Handbook of Local Anasthesia 5th ed.St. Louis : Elsevier.


2. J.A. Baart & H.S. Brand. 2008. Local Anesthesia in Dentistry. United
Kingdom:WileyBlackwell.
3. Mosby. 2007.Dental Drug Reference. USA: Elsevier.
4. Sari, I.Y.P. 2009. Anestetika Lokal. www.scribd.com. [2 Maret 2010]
5. Windle, M.L. 2009. Anesthesia, Topical. http://emedicine.medscape.com.[ 2maret
2010]
6. Boulton, T.B. dan Blogg, C.E. 1994. Anestesiologi. Alih Bahasa: Jonatan Oswari.
”Anaesthetics for Medical Student”. Jakarta:EGC.
7. Purwanto, 1993. Petunjuk Praktis Anestesi Lokal. Jakarta: EGC