Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

ASKEB KEGAWATDARURATAN MATERNAL NEONATAL

“Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)”

Disusun oleh :

Lantri Martiha

Nim: 18192021002

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN FAATHIR HUSADA

PRODI D-III KEBIDANAN

TAHUN AJARAN 2019/2020

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah,
Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah tentang
“Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)” ini dalam bentuk maupun
isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu
acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini
sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki
sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Tangerang, 27 Maret 2020

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar..........................................................................................................................2
Daftar Isi....................................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................4
1.1. Latar Belakang..........................................................................................................4
1.2. Rumusan Masalah.....................................................................................................4
1.3.Tujuan Penulisan.......................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................................5
2.1 Penjelasan SPGDT ...................................................................................................5
2.2.Fase SPGDT..............................................................................................................8
2.3.Penanggulangan bencana alam..................................................................................9
2.4. Evaluasi...................................................................................................................13
BAB III PENUTUP..............................................................................................................14
3.3. Kesimpulan.............................................................................................................14
3.2. Saran.......................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................15
LAMPIRAN

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejak tahun 2000 kementrian kesehatan RI telah mengembangkan konsep sistem
penanggulangan gawat darurat terpadu (SPGDT) memadukan penanganan gawat darurat
mulai dari tingat pra rumah sakit sampai tingkat rumah sakit dan rujuakan antara rumah sakit
dngan pendekatan lintas program dan multisektoral.
Pelayanan di tingkat Rumah Sakit Pelayanan gawat darurat meliputi suatu system terpadu
yang dipersiapkan mulai dari IGD, HCU, ICU dan kamar jenazah serta rujukan antar RS
mengingat kemampuan tiap-tiap Rumah Sakit untuk penanganan efektif (pasca gawat
darurat) disesuaikan dengan Kelas Rumah Sakit.

B. Tujuan
1. Menjelaskan tentang pengertian SPGDT
2. Menjelaskan tentang komponen fase SPGDT
3. Menjelaskan tentang penanggulangan bencana alam

C. Manfaat

Adapun manfaat dari makalah ini agar mahasiswa dapat memahami dana menjelaskan  :

1. Tentang pengertian SPGDT


2. Tentang komponen fase SPGDT
3. Tentang penanggulangan bencana alam

4
BAB II

PENDAHULUAN

1.1 A.    Pengertian SPGDT

SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu)merupakan sistem yang


didesign berdasar sistem kesehatan nasional untuk memberi pertolongan yang cepat, tepat,
cermat pada penderita gawat darurat untuk mencegah kematian dan  kecacatan.
SPGDT terdiri dari beberapa unsur pelayanan yaitu pelayanan pra Rumah Sakit,
pelayanan di Rumah Sakit dan antar Rumah Sakit. Pelayanan tersebut berpedoman pada
respon cepat yang menekankan time saving is life and limb saving, yang melibatkan
pelayanan oleh masyarakat awam umum dan khusus, petugas medis, pelayanan ambulans
gawat darurat dan sistem komunikasi.

B.   Jenis-jenis SPGDT
SPGDT dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
1.  SPGDT-S (Sehari-Hari)
SPGDT-S adalah rangkaian upaya pelayanan gawat darurat yang saling terkait yang
dilaksanakan ditingkat Pra Rumah Sakit, di Rumah Sakit, antar Rumah Sakit dan terjalin
dalam suatu sistem yang bertujuan agar korban/pasien tetap hidup. Meliputi berbagai
rangkaian kegiatan sebagai berikut :
a. Pra Rumah Sakit
 Diketahui adanya penderita gawat darurat oleh masyarakat
 Penderita gawat darurat itu dilaporkan ke organisasi pelayanan penderita gawat
darurat untuk mendapatkan pertolongan medic
 Pertolongan di tempat kejadian oleh anggota masyarakat awam atau awam khusus
(satpam, pramuka, polisi, dan lain-lain)
 Pengangkutan penderita gawat darurat untuk pertolongan lanjutan dari tempat
kejadian ke rumah sakit (sistim pelayanan ambulan)
b. Dalam Rumah Sakit
  Pertolongan di unit gawat darurat rumah sakit
  Pertolongan di kamar bedah (jika diperlukan)
  Pertolongan di ICU/ICCU

5
c. Antar Rumah Sakit
  Rujukan ke rumah sakit lain (jika diperlukan)
  Organisasi dan komunikasi
2.  SPGDT-B (Bencana)
SPGDT-B adalah kerja sama antar unit pelayanan Pra Rumah Sakit dan Rumah
Sakit dalam bentuk pelayananan gawat darurat terpadu sebagai khususnya pada
terjadinya korban massal yang memerlukan peningkatan (eskalasi) kegiatan pelayanan
sehari-hari dan bertujuan umum untuk menyelamatkan korban sebanyak banyaknya.
a. Tujuan Khusus :
 Mencegah kematian dan cacat, hingga dapat hidup dan berfungsi kembali dalam
masyarakat sebagaimana mestinya.
  Merujuk melalui sistem rujukan untuk memperoleh penanganan yang lebih memadai.
 Menanggulangi korban bencana.
b. Prinsip mencegah kematian dan kecacatan :
 Kecepatan menemukan penderita.
 Kecepatan meminta pertolongan.
c. Kecepatan dan kualitas pertolongan yang diberikan :
  Ditempat kejadian.
 Dalam perjalanan kepuskesmas atau rumah-sakit.
 Pertolongan dipuskesmas atau rumah-sakit.

C.    Pengembangan SPGDT
Pengembangan SPGDT-S dan SPGDT-B memerlukan beberapa hal yang terlibat,
diantaranya yaitu:
1. Semua jajaran kesehatan
 Departemen kesehatan
 Direktur RS
 Puskesmas
 Dinas kesehatan
 Kepala IGD
 Dokter, perawat, petugas kesehatan
 Dan unit kesehatan lain (PMI)

6
2.  Jajaran non kesehatan
 Pemerintah daerah tingkat I dan II
 POLRI
 Satuan laksana penanggulangan bencana
 Pemadam kebakaran
 Penyandang dana (Askes, Jasa Raharja, Jamsostek)
 Dan komponen-komponen masyarakat lain
3. Koordinasi
 Kesehatan - non kesehatan
 Antar ksehatan – ABRI, POLRI, swasta, pemerintah
 Intra kesehatan – puskesmas – rumah sakit

D.  Organisasi Penanggulangan Bencana


Berikut ini merupakan organisasi penanggulangan bencana:
1. Tingkat Nasional à Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana
2. Tingkat Propinsi àSatuan Koordinasi Penanggulangan Bencana
3. Tingkat Kabupaten à Satuan Laksana Penanggulangan Bencana
a. Satgas Kesehatan
b. Satgas Pekerjaan Umum
c. Satgas Keamanan dan ketertiban Masyarakat
d. Satgas Sosial
Penanggulangan bencana memerlukan manajemen pada tahapannya, yaitu:
1. Tahap Persiapan (Preparedness)
 Pengembangan SPGDT
 Pengembangan SDM
 Pengembangan Sub sistem Komunikasi
 Pengembangan Sub sistem Transportasi
 Latihan Gabungan
 Kerjasama lintas sektor
2. Tahap Akut (Acute response)
 Rescue – triage
 Acute medical response

7
 Emergency relief
 Emergency rehabilitation

E.  Alur Penanggulangan Bencana


Berikut ini merupakan alur pelayanan medis di lapangan pada penanggulangan bencana:
Dalam hal ini rumah sakit harus sanggup memberi pelayanan secara cepat, tepat, cermat,
nyaman, dan terjangkau untuk mencegah kematian dan kecacatan. Berikut ini label triage
dan keterangan tindakan yang harus dilakukan:
1. Merah àSegera Ditanggulangi terlebih dahulu
a. Mengancam Jiwa
b. Cacat
2. Kuning àBoleh Ditangguhkan
a. Keadaan tidak mengancam Jiwa
b. Segera ditangani bila yangmengancam Jiwa sudah teratasi
3. Hijau àBoleh ditunda & Rawat Jalan
a. Tidak Membahayakan Jiwa
4. Hitam àBoleh Diabaikan & Ditinggalkan
a. Diurus paling akhir
b. Sudah tidak ada tanda-tanda vital
c. Usaha-usaha pertolongan amat sangat kecil keberhasilannya

1.2. Fase SPGDT


1. Fase deteksi:
Pada fase ini dapat dideteksi
 Dimana sering terjadi kecelakaan lalu lintas
 Buruknya kualitas helm sepeda motor yang dipakai
 Jarangnya orang yang memakai safety belt
 Daerah kerja yang berbahaya
2. Fase supresi:
Pada fase ini dapat dilakukan supresi:
 Perbaikan konstruksi jalan
 Pembangunan persatuan lalu lintas
 Perbaikan kulitas helm

8
 Pengetahuan peraturan keselamatan kerja.
3. Fase Pra Rumah Sakit
 Akses dari masyarakat kedalam SPGDT
 Komunikasi
 Orang awam
 Orang awam khusus

1.3. Penanggulangan Bencana Alam


 Ada beberapa cara untuk penanggulangan bencana banjir :

1. Membuat fungsi sungai dan selokan dapat bekerja dengan baik. Sungai dan selokan
adalah tempat aliran air sehingga jangan sampai tercemari dengan sampah atau menjadi
tempat pembuangan sampah yang akhirnya menyebabkan sungai dan selokan menjadi
tersumbat.

2. Melakukan reboisasi tanaman khususnya jenis tanaman dan pepohonan yang dapat
menyerap air dengan cepat.

3. Memperbanyak dan menyediakan lahan terbuka untuk membuar lahan hijau untuk
penyerapan air.

4. Berhenti membangun perumahan di tepi sungai, karena akan mempersempit sungai dan
sampah rumah juga akan masuk sungai.

5. Berhenti membangun gedung-gedung tinggi dan besar, karena akan menyebabkan bumi
ini akan semakin sulit menahan bebanya dan membuat permukaan tanah turun.

6. Hindari penebangan pohon-pohon di hutan secara liar dan juga di bantaran sungai, karena
pohon berperan penting untuk pencegahan banjir. Sebenarnya menebang pohon tidak
dilarang bila kita akan menanam kembali pohon tersebut dan tidak membiarkan hutan
menjadi gundul.

 Cara penanggulangan tanah longsor


1. Membuat benteng atau beton

9
Upaya untuk meanggulangi tanah longsor yang pertama adalah membangun semacam
benteng untuk menutupi tebing atau lereng yang terbuat dari tanah. Bentang atau beton ini
bisa berupa bangunan dari semen yang menutupi tebing atau lereng tanah tersebut. Hal ini
bisa membantu untuk meminimalisir terjadinya tanah longsor karena tanah akan tertahan
oleh semen tersebut sehingga tidak mudah longsor. Air hujan yang turun terkadang bisa
merember masuk ke dalam tanah, melewati celah- celah tanah tersebut sehingga membuat
struktur tanah menjadi rapuh dan pada akhirnya akan longsor dan menimpa bangunan
yang ada di bawahnya.

2. Tidak menebang pohon di lereng

Cara kedua untuk menanggulangi terjadinya tanah longsor adalah tidak menebangi
pohon di lereng. Akar- akar pohon sangat berguna untuk membuat struktur tanah menjadi
lebih kuat, sehingga tidak mudah terjadi longsor. Pohon- pohon yang memiliki akar ini
memiliki kemampuan untuk menyerap air dan menyimpannya di dalam tanah, sehingga
mengurangi air tanah yang mengalir dan merusak strustur tanah yang memicu terjadinya
longsor.

3. Tidak membangun rumah persis di bawah lereng atau tebing

Salah satu upaya untuk menanggulangi jatuhnya banyak korban atau kerugian material,
perlu dihimbau kepada masyarakat supaya tidak membangun rumah di bawah lerang
persis. Hal ini bertujuan untuk meminimalisasi adanya korban jiwa serta rusaknya rumah
dan juga bangunan yang termasuk dalam kerugian material. Pembangunan rumah di
bawah tebing sangat berbahaya dan tidak selayaknya dilakukan oleh masyarakat.

4. Selalu waspada apabila hujan deras turun terus menerus

Cara selanjutnya adalah selalu bersikap waspada ketika memasuki musim hujan. Sikap
waspada ini semakin ditingkatkan lagi apabila telah dirasakan hujan turun dengan waktu
yang lama. Terlebih lagi jika hujan tersebut deras. Hal ini akan sangat membantuk warga
untuk dapat menyelamatkan diri jika tiba- tida terjadi tanah longsor. Apabila hujan deras
telah berlangsung selama tiga jam atau lebih, maka kita harus waspada dan bertindak
cepat, salah satunya adalah dengan mengungsi atau menyelamatkan diri ke tempat yang
aman.

10
5. Tidak membuat sawah di lereng

Sawah yang berada di pinggir lereng juga dapat memicu terjadinya tanah longsor. Hal ini
karena tanah persawahan minim akan adanya pepohonan besar dan tanah di persawahan
tersebut bertenkstur gembur supaya mudah untuk ditanami. Akibatnya faktor inilah yang
menjadi salah satu pemicu terjadinya tanah longsor. Daripada dibuka untuk lahan
persawahan, lebih baik dijadikan hutan dengan tanaman- tahaman yang tinggi dan berakar
kuat, supaya bisa menyelamatkan kekuatan struktur tanah tersebut sehingga tidak longsor.

6. Tidak mendirikan bangunan di tebing

Tren bangunan di atas tebing memang tidak ada matinya. Bangunan di atas tebing sangat
laku untuk tujuan pariwisata. Banyak orang yang suka dengan pemandangan di atas bukit
atau puncak sehingga banyak binsis hotel di puncak- puncak bukit. Namun teryata
pendirian bangunan di atas bukit ini tidaklah baik. Bangunan di atas bukit dapat memicu
terjadinya longsor karena ada penekanan tanah yang dilakukan oleh bangunan tersebut.
Maka dari itulah pendirian bangunan di atas tebing lebih baik diminimalkan saja karena
krang baik untuk tanah dan akan menyebabkan terjadinya longsor (resiko).

7. Tidak memotong tebing secara tegak lurus

Pemotongan tebing yang tidak benar ternyata juga bisa berpengaruh terhadap terjadinya
tanah longsor. Misalnya adalah pemotongan tebing secara tegak lurus. Pemotongan tebing
secara tegak lurus dapat meningkatkan resiko terjadinya tanah longsor. Hal ini karena
penekanan yang dihasilkan oleh potongan tersebut lebih besar. Beban yang di bawah
dengan yang di atas sama sehingga ada kemungkinan bahwa yang dibawah tidak mampu
menyangga yang diatas dan menyebabkan terjadinya tanah longsor.

8. Tidak mendirikan bangunan di sekitar sungai

Sungai adalah salah satu tempat yang rawan terjadi longsor. Sama halnya dengan
pendirian bangunan di atas tebing, pendirian bangunan di sekitar sungai juga akan memicu

11
terjadinya tanah longsor. Maka dari itulah sebisa mungkin untuk menghindari pendirian
bangunan di sekitar sungai supaya sungai tetap bersih dan juga struktur tanahnya tetap
kuat. Bila perlu justru harus ditanami pepohonan supaya tanah di pinggir sungai kuat dan
tidak mudah longsor.

9. Melakukan upaya preventif

Upaya lainnya adalah dengan melakukan berbagai upaya preventif untuk


menanggunalangi terjadinya tanah longsor. Salah satu upaya preventif untuk
menanggulangi terjadinya tanah longsor antara lain adalah mengecek keadaan tanah
apakah ada retakan atau tidak.

10. Membuat terasering

Selanjutnya adalah membuat terasering. Terasering merupakan tangga atau undak-


undakan yang biasa terdapat di sawah- sawah di dataran tinggi. Mengapa sawah di dataran
tinggi dibentuk sedemikian rupa menyerupai tangga? Hal ini karena untuk memperkecil
penekanan sehingga tanah tidak mudah longsor karena tertahan oleh bagian- bagian yang
datar. Sawah terasering selain untuk mencegah terjadinya tanah longsor, ternyata juga bisa
menyumbangkan panorama alam yang sangat menakjubkan. Dari kejauhan pemandangan
sawah dengan terasering ini selalu memberikan suguhan yang wow daripada sawah
lainnya yang tidak berada di dataran tinggi.

11. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat.

Upaya penanggulanagan kerugian karena tanah longsor selanjutnya adalah dengan cara
memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Penyuluhan ini bisa berarti himbauan kepada
masyarakat mengenai bencana tanah longsor, waktu yang berpotensi untuk menyebabkan
tanah longsor serta tanda- tanda akan terjadinya tanah longsor, sehingga masyarakat bisa
mengambil langkah yang tepat untuk menyelamatkan diri, keluarga serta harta benda
mereka.

 Cara penanggulangan gempa bumi

1. Segeralah keluar dari bangunan ataupun ruangan yang sedang anda tempati.
2. Utamakan diri anda sendiri dan jangan barang

12
3. Carilah tanah yang lapang di sekitar, hal ini akan berguna untuk anda yang memang
sedang berada di area bangunan banyak. Gempa biasanya menyebabkan keruntuhan
4. Jika anda berada di pantai maka jauhi pantai dan usahakan untuk menyelamatkan diri
tanpa ada bangunan di sekitar. Khawatir gempa berasal dari laut dan menyebabkan
Tsunami

 Cara penanggulangan Erupsi gunung berapi


1. Membentuk tim gerak cepat.
2. Meningkatkan pemantauan dan pengamatan yang didukung dengan penambahan
peralatan yang lebih memadai.
3. Meningkatkan pelaporan tingkat kegiatan menurut alur dan frekuensi pelaporan sesuai
dengan kebutuhan.
4. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah setempat sesuai prosedur.

   Tindakan yang dapat dilakukan oleh individu / masyarakat saat terjadi letusan adalah
sebagai berikut.
1. Jika ada evakuasi, pastikan tidak kembali ke kediaman sampai keadaan sudah
dipastikan aman.
2. Hindari daerah rawan bencana, seperti lereng gunung, lembah, dan daerah aliran lahar.
3. Ketika melihat lahar atau benda lain yang mendekati rumah, segera selamatkan diri dan
cari perlindungan terdekat.
4. Lindungi diri dari debu dan awan panas.
5. Pakailah kacamata pelindung.
6. Pakailah masker kain untuk menutup mulut dan hidung.

1.4. Evaluasi terhadap jaminan kualitas pertolongan bencana

1. Pelaksanaan kebijakan, pemberian bimbingan teknis, serta


supervisi, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kesiapsiagaan dan
mitigasi;
2. Pelaksanaan kebijakan, pemberian bimbingan teknis, serta
supervisi, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan penanganan korban
bencana alam, pemulihan, dan penguatan sosial;

13
3. Pelaksanaan kebijakan, pemberian bimbingan teknis, serta
supervisi, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan kemitraan,
pengelolaan logistik, penyediaan kebutuhan dasar, dan pemulihan
trauma bagi korban bencana alam;
4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang;
5. Melaporkan dan mempertanggung jawabkan atas pelaksanaan
tugas dan fungsinya kepada Kepala Bidang.

BAB III

PENUTUP
A.     Kesimpulan
SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu)merupakan sistem yang
didesign berdasar sistem kesehatan nasional untuk memberi pertolongan yang cepat, tepat,
cermat pada penderita gawat darurat untuk mencegah kematian dan  kecacatan.
SPGDT terdiri dari beberapa unsur pelayanan yaitu pelayanan pra Rumah Sakit,
pelayanan di Rumah Sakit dan antar Rumah Sakit. Pelayanan tersebut berpedoman pada
respon cepat yang menekankan time saving is life and limb saving, yang melibatkan
pelayanan oleh masyarakat awam umum dan khusus, petugas medis, pelayanan ambulans
gawat darurat dan sistem komunikasi.

B.     Saran
    Diharapkan semua orang akan mempunyai kesiapan dalam upaya penyelamatan dan
mengurangi dampak kesehatan yang buruk apabila terjadi bencana

14
DAFTAR PUSTAKA

Depkes. KebijakanNKemenkes dalam Sistem Penaggulangan Gawat Darurat Terpadu


(SPDGT) Umar, Nazaruddin. Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu. Departemen
Anestesologi dan Ranimasi Fakultas Kedokteran USU RSUP. H. Adam Malik Medan Sistem
Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT).

15