Anda di halaman 1dari 25

1

2
3

TIM PENYUSUN

1. Dr. dr. Edi Mustamsir, Sp.OT(K)

2. dr. Taufin Warindra, Sp.OT

3. dr. Istan Irmansyah, Sp.OT(K)

4. dr. Kiki Novito, Sp.OT(K)

5. Dr. dr. Rahyussalim, Sp.OT(K)

6. dr. Safrizal Rahman, M.Kes, Sp.OT(K)

7. dr. I Gusti Lanang Ngurah Agung Artha Wiguna, Sp.OT(K)

8. Dr. dr. M. Sakti, Sp.OT(K)

9. dr. M. Hardian Basuki, Sp.OT(K)

10 dr. M. Phetrus Johan, M.Kes, PhD, Sp.OT(K)

11. dr. Petrasama, Sp.OT

12. dr. Hizbillah Yazid, M.Ked.Klin., Sp.OT

13. dr. Jephtah Tobing, Sp.OT


4

PRAKATA

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat
karunia-Nya, “Panduan Pelayanan Orthopaedi & Traumatologi Berkaitan
Dengan COVID-19” ini telah selesai kami susun.

WHO telah resmi menetapkan pandemik Coronavirus Disease


(COVID-19) yang diakibatkan oleh virus SARS-CoV-2 (severe acute
respiratory syndrome coronavirus 2) . Penularan COVID-19 pada saat ini
terjadi pada wilayah yang luas mencakup banyak wilayah di Indonesia
dengan potensi tingkat penularan yang tinggi. PABOI berkewajiban
untuk memberikan panduan pelayanan orthopaedi dan traumatologi
bagi semua anggotanya dalam tujuan untuk mengurangi resiko
penyebaran COVID-19 dengan tetap memperhatikan prosedur
keamanan bagi petugas medis dan pasien.

Panduan “Pelayanan Orthopaedi & Traumatologi Berkaitan Dengan


COVID-19” ini memuat beberapa panduan mengenai :

a. Panduan Penundaan Operasi Elektif di Bidang Orthopaedi &


Traumatologi
b. Panduan Pelaksanaan Operasi Gawat Darurat dan Urgensi di Bidang
Orthopaedi & Traumatologi
c. Panduan Pelaksaanan Telemedicine di Bidang Orthopaedi &
Traumatologi
d. Panduan Pelayanan orthopaedi dan Traumatologi di Rawat
Jalan
5

Panduan ini ditujukan bagi seluruh anggota PABOI sebagai acuan


dalam melakukan pelayanan orthopaedi & traumatologi berkaitan
dengan situasi pandemi COVID-19. Panduan ini akan terus diperbarui
bila diperlukan sesuai dengan perkembangan dan situasi terkini.

Kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan


panduan ini, kami sampaikan terimakasih. Kami berharap panduan ini
dapat dimanfaatkan dengan baik.

Jakarta, 30 Maret 2020

Dr. Edi Mustamsir, dr., Sp.OT(K)


Presiden PABOI
6

PANDUAN PELAYANAN ORTHOPAEDI


& TRAUMATOLOGI BERKAITAN
DENGAN COVID-19

PABOI memberikan panduan kepada seluruh anggota PABOI berkaitan


dengan pandemi COVID-19.

1. Pandemi COVID-19 diakibatkan oleh virus SARS-CoV-2 (severe


acute respiratory syndrome coronavirus 2). COVID-19 per 30
Maret 2020 sesuai data WHO telah dikonfirmasi positif infeksi
sebanyak 638.146 kasus dan 30.105 kematian terkonfirmasi yang
meliputi banyak negara.
2. Pandemi COVID-19 memerlukan penanggulangan yang
terkordinasi secara baik dan terpadu termasuk dalam lingkup
pelayanan orthopaedi dan traumatologi oleh anggota PABOI,
oleh karena itu PABOI beserta seluruh anggotanya wajib turut
berperan serta mendukung usaha pemerintah Republik
Indonesia dalam menghadapi pandemi COVID-19.
3. Penanggulangan pandemi COVID-19 salah satunya meliputi
pencegahan penyebaran virus dari masyarakat ke tenaga medis
dan pencegahan penyebaran virus dari tenaga medis ke
masyarakat. Hal ini berkaitan dengan pelaksaanan pelayanan
orthopaedi dan traumatologi di rawat jalan maupun rawat inap
serta pada kasus kegawatdaruratan, kasus urgensi dan kasus
elektif.
7

4. PABOI sangat menyarankan setiap anggotanya untuk


bekerja dalam kondisi lingkungan kerja yang aman,
menggunakan peralatan APD (Alat Perlindungan Diri) sesuai
rekomendasi WHO pada saat memberikan pelayanan
kepada pasien di rawat jalan, rawat inap dan unit gawat
darurat. Penggunaan peralatan APD (Alat Perlindungan Diri)
sesuai rekomendasi WHO dilaksanakan pula pada proses
operasi urgensi dan operasi gawat darurat.
5. PABOI akan terus menyampaikan dan merilis informasi yang
relevan dan kredibel berkaitan dengan COVID-19 melalui
berbagai media yang ada kepada setiap anggota. Informasi
yang dirilis meliputi :
a. Panduan penundaan operasi elektif yang berkaitan
dengan kemungkinan meningkatkan resiko penyebaran
virus baik pada pasien maupun dokter berkaitan dengan
kebijakan physical distancing dan menghindari
kerumunanan ( crowd avoidance ). Panduan penundaan
operasi elektif yang mempertimbangkan penggunaan
sumber daya rumah sakit seperti kapasitas rawat inap,
unit intensive (ICU), alat ventilator dan alat pendukung
kehidupan ( life support unit ) lain yang diperlukan bila
terjadi penanganan pasien terinfeksi COVID-19.
b. Panduan operasi urgensi & operasi gawat darurat pada
pasien tidak terdiagnosa positif COVID-19 dan pada
pasien positif COVID-19
c. Panduan manajemen praktek yang efektif dan aman
termasuk penggunaan t elemedicine yang sesuai
8

dengan etik profesi dan tidak melanggar undang-


undang .
d. Panduan pelayanan orthopaedic dan traumatologi di
rawat jalan.
e. Advokasi berbagai hal dalam pelayanan kesehatan di
bidang muskuloskeletal.
9

A. Panduan Penundaan Operasi Elektif di Bidang Orthopaedi &


Traumatologi 1,2

1. Melakukan tindakan physical distancing dan crowd avoidance


sebagai upaya untuk menurunkan resiko penyebaran COVID-19.
2. Melakukan anamnesis yang relevan untuk identifikasi
kemungkinan kontak atau penularan COVID-19 dengan
melakukan sesuai Formulir Deteksi Dini COVID-19 pada saat
pendaftaran pasien.

3. Rumah sakit dan dokter orthopaedi direkomendasikan untuk


melakukan manajemen pasien dengan seksama untuk mengulas
semua rencana operasi yang sudah terjadwalkan atau akan
dijadwalkan. Hasil ulasan akan digunakan sebagai dasar untuk
meminimalkan, menunda atau membatalkan rencana operasi
elektif yang terjadwal termasuk tindakan endoscopy dan
prosedur invasif lainnya. Hal ini dilakukan hingga melewati
predicted inflection point pada grafik eksposur sehingga
infrastruktur layanan kesehatan dapat menangani kebutuhan
pelayanan medis pada pasien kritis. Hal -hal yang menjadi dasar
pertimbangan penundaan operasi elektif :

a. Keadaan jumlah kasus COVID-19 saat ini dan proyeksi di


waktu yang akan datang pada daerah tempat fasilitas
kesehatan.

b. Suplai dan ketersediaan APD (Alat Perlindungan Diri ) di


fasilitas kesehatan
10

c. Ketersediaan staff yang didedikasikan untuk perawatan


pasien COVID-19.

d. Ketersediaan alokasi tempat tidur dan ICU yang


didedikasikan untuk perawatan pasien COVID-19.

e. Ketersediaan ventilator dan kemungkinan penggunaan


ventilator paska operasi yang berkaitan dengan ventilator
yang idedikasikan pada pasien COVID-19.

f. Usia dan keadaan kesehatan secara umum pasien yang


berkaitan dengan adanya resiko penularan virus COVID-19
dalam proses administrasi rawat inap, selama operasi dan
selama pemulihan paska operasi

g. Adanya unsur urgensi dari prosedur operasi yang


direncanakan.

4. Meminimalkan segera segala penggunaaan ICU, peralatan APD


(Alat Perlindungan Diri) , suplai agen pembersih dan ventilator.
Hal ini penting oleh karena banyak pasien asimptomatik yang
dapat berpotensi menyebarkan virus secara tidak sadar kepada
pasien rawat inap lainnya, pasien rawat jalan dan tenaga medis
sehingga dapat mengakibatkan peningkatan penyebaran infeksi
COVID-19.
5. Penggunaan APD (Alat Perlindungan Diri ) sesuai rekomedasi
WHO untuk tenaga medis yang merawat pasien tanpa keluhan
saluran nafas yaitu APD yang sesuai dengan standar
perlindungan universal (standar precaution) yaitu masker medis,
tutup kepala dan selalu melakukan standar hygiene perorangan.
11

6. Tenaga kesehatan dan dokter selama perawatan pasien dan


pelaksaanan operasi disarankan untuk :

a. Melaksanakan keselamatan kerja, prosedur perlindungan


universal (universal precaution), meminimalkan resiko
eksposur pada tenaga kesehatan lain dan ikut terlibat dalam
pelatihan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan.

b. Melaksanakan protokol yang telah ditetapkan pada


perawatan pasien di rawat inap

c. Melakukan perawatan pada pasien dengan rasa hormat,


sepenuh hati dan berperikemanusiaan dengan tetap
menjaga kerahasiaan pasien .

d. Melakukan tahapan pemakaian, penggunaan dan


melepaskan APD dengan baik dan benar serta membuang
APD sebagai bahan infeksius dengan benar.

e. Melakukan pengawasan terhadap diri sendiri terhadap


tanda-tanda infeksi COVID-19 , melakukan isolasi terhadap
diri sendiri dan melaporkan kepada penanggung jawab unit
fasilitas kesehatan.

f. Melakukan advokasi kepada manajemen fasilitas kesehatan


apabila ditemukan gejala stress mental dan gangguan
kesehatan mental yang membutuhkan intervensi supportif
pada petugas kesehatan.

7. Pembatasan kunjungan oleh pendamping atau pembesuk ke


pasien-pasien di rawat inap dengan keluhan saluran nafas
12

maupun tanpa keluhan saluran nafas. Melakukan pembatasan


kunjungan ketat pada pasien COVID-19 .

8. Pemilihan secara selektif pasien poliklinik yang bersifat urgen


untuk prosedur diagnostik dan prosedur pembedahan.

9. Perencanaan untuk pasien yang sakit berat / kritis dengan


diagnosa permasalahan orthopaedi dengan menyiapkan
ruangan terpisah di UGD, ICU dan ruang perawatan lainnya
untuk pasien yang positif atau supek COVID-19 , memisahkan
pasien positif atau suspek COVID-19 dari pasien lain (cohorting)
dan menyiapkan staf medis yang didedikasikan khusus untuk
merawat pasien COVID-19.

10. Pelayanan orthopaedi dan traumatologi pada daerah yang


ditetapkan sebagai daerah terinfeksi wajib berkonsultasi dan
mengikuti panduan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan
COVID-19 Pemerintah Republik Indonesia.

11. Pemilihan dan pelaksanaan tindakan anestesi untuk operasi


harus dibicarakan dengan dokter spesialis anestesiologi dengan
mengikuti Rekomendasi Perhimpunan Dokter Spesialis
Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN) dalam
penatalaksanaan Pasien Dalam Pengawasan (PDP), pasien
tersangka atau positif COVID-19.
13

B. Panduan Pelaksanaan Operasi Gawat Darurat dan Urgensi di


3,4
Bidang Orthopaedi & Traumatologi

1. Pelaksanaan operasi gawat darurat dan urgensi dilakukan


berdasarkan kepentingan keselamatan pasien dengan tetap
memperhatikan aspek keselamatan petugas medis &
administrasi rumah sakit yang terlibat. Tindakan physical
distancing dan crowd avoidance tetap dilaksanakan sebagai
upaya untuk menurunkan resiko penyebaran COVID-19.
2. Melakukan anamnesis yang relevan untuk identifikasi
kemungkinan kontak atau penularan COVID-19 dengan
melakukan sesuai Formulir Deteksi Dini COVID-19 pada saat
pendaftaran pasien.
3. Pelaksaanan operasi gawat darurat dan urgensi harus
dilaksanakan bersamaan dengan upaya mencegah
kemungkinan penyebaran infeksi COVID-19.
4. Penggunaan APD (Alat Perlindungan Diri ) sesuai rekomendasi
WHO untuk pasien dengan COVID-19 positif :
a. Tenaga medis yang melakukan prosedur yang
menghasilkan aerosol (Aerosol-generating procedures)
pasien positif COVID-19 wajib menggunakan : Respirator
N95 atau FFP2 standard atau yang setara, tutup kepala,
gaun , sarung tangan, pelindung mata (googles atau face
shield), tutup kepala dan apron.
b. Tenaga medis yang merawat pasien COVID-19 langsung
wajib menggunakan masker medis, tutup kepala, gaun ,
sarung tangan, pelindung mata (googles atau face shield).
14

c. Petugas pembersih yang membersihkan ruangan operasi


dan ruang rawat inap pasien COVID-19 wajib menggunakan
masker medis, tutup kepala, gaun , sarung tangan heavy
duty, pelindung mata (googles atau face shield) dan boot
tertutup
d. Pengunjung pasien COVID-19 wajib menggunakan masker
medis, tutup kepala gaun dan sarung tangan.

5. Tenaga kesehatan selama perawatan pasien dan pelaksaanan


operasi disarankan untuk :

a. Melaksanakan keselamatan kerja, prosedur perlindungan


universal (universal precaution), meminimalkan resiko
eksposur pada tenaga kesehatan lain dan ikut terlibat dalam
pelatihan yang diberikan oleh fasilitas kesehatan.

b. Melaksanakan protokol yang telah ditetapkan pada proses


pemeriksaan pasien di UGD , proses triase dan perawatan
pasien di rawat inap

c. Melakukan perawatan pada pasien dengan rasa hormat,


sepenuh hati dan berperikemanusiaan dengan tetap
menjaga kerahasiaan pasien .

d. Melakukan tahapan pemakaian, penggunaan dan


melepaskan APD dengan baik dan benar serta membuang
APD sebagai bahan infeksius dengan benar.

e. Melakukan pengawasan terhadap diri sendiri terhadap


tanda-tanda infeksi COVID-19 , melakukan isolasi terhadap
diri sendiri dan melaporkan kepada penanggung jawab unit
fasilitas kesehatan.
15

f. Melakukan advokasi kepada manjemen fasilitas kesehatan


apabila ditemukan gejala stress mental dan gangguan
kesehatan mental yang membutuhkan intervensi supportif
pada petugas kesehatan.

6. Pelayanan orthopaedi dan traumatologi pada daerah yang


ditetapkan sebagai hot zone wajib berkonsultasi dan mengikuti
panduan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19
Pemerintah Republik Indonesia

7. Pemilihan dan pelaksanaan tindakan anestesi untuk operasi


harus dibicarakan dengan dokter spesialis anestesiologi dengan
mengikuti Rekomendasi Perhimpunan Dokter Spesialis
Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN) dalam
penatalaksanaan Pasien Dalam Pengawasan (PDP), pasien
tersangka atau positif COVID 19.

C. Panduan Pelaksaanan Telemedicine di Bidang Orthopaedi &


Traumatologi 5

1. Kegiatan telemedicine sebaiknya di lindungi dalam asuransi


insuransi profesi yang memberikan perlindungan terhadap
kemungkinan malpraktik akibat telemedicine.
2. Kegiatan telemedicine harus tetap memperhatikan undang-
undang praktik kedokteran serta etik profesi untuk mencegah
malpraktik.
3. Kegiatan telemedicine wajib melakukan dokumentasi yang sama
dengan praktik tatap muka langung. Dokumentasi meliputi
16

waktu tanggal, riwayat keluhan atau penyakit, catatan konsultasi


dan segala informasi yang digunakan sebagai dasar keputusan
medis pada pasien. Dokumentasi harus diberi catatan bahwa
konsultasi dilakukan melalui telemedicine.
4. Kegiatan telemedicine dapat menggunakan berbagai media
seperti telepon, video call dan video conference dengan tetap
memperhatikan ketersediaan teknologi dan kebutuhan interaksi
dokter dengan pasien.
5. Kegiatan telemedicine harus bersifat selektif terhadap pasien.
Pasien dengan keluhan tanda-tanda kegawatdaruratan atau
urgensi sebaiknya tidak dilakukan telemedicine.

D. Panduan Pelayanan Rawat Jalan Orthopaedi dan


Traumatologi

1. Kegiatan pelayanan di rawat jalan tetap memperhatikan


tindakan physical distancing dan crowd avoidance sebagai
upaya untuk menurunkan resiko penyebaran COVID-19.
2. Melakukan anamnesis yang relevan untuk identifikasi
kemungkinan kontak atau penularan COVID-19 dengan
melakukan sesuai Formulir Deteksi Dini COVID-19 pada saat
pendaftaran pasien.
3. Penggunaan APD (Alat Perlindungan Diri) yang dianjurkan sesuai
WHO :
a. Pada pemeriksaan pasien dengan keluhan saluran nafas
yaitu masker medis, sarung tangan, tutup kepala dan
17

pelindung mata. Pasien harus menggunakan masker medis


pada saat diruang tunggu dan ruang pemeriksaan
b. Pada pemeriksaan pasien tanpa keluhan saluran nafas
menggunakan APD sesuai general precaution. Pasien dapat
menggunakan masker medis pada saat diruang tunggu dan
ruang pemeriksaan.
4. Melakukan seleksi pasien apabila dibutuhkan tindakan / operasi
urgensi atau elektif. Keputusan pelaksanaan operasi urgensi atau
elektif didasarkan pada kebutuhan medis pasien sesuai diagnosa
dengan tetap mempertimbangkan sumber daya rumah sakit
yang ada.

Panduan Memakai dan Melepas APD (Alat Proteksi Diri) 6

APD memiliki beberapa tipe yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat


perlindungan. Panduan ini memberikan cara memakai dan melepas
APD standar :

Cara Memakai APD

1. Gaun
a. Gaun harus menutupi leher hingga lutut, dari bahu hingga
pergelangan tangan dan melingkupi pada pada bagian
punggung
b. Gaun diikat pada bagian leher dan pinggang
2. Masker atau respirator
a. Ikat tali atau pita elastis pada bagian tengah kepala dan
leher
b. Atur flexible band hingga dapat menempel pada batang
hidung
18

c. Atur hingga masker atau respirator menempel pada wajah


dan dibawah dagu. Pastikan respirator yang digunakan
menempel dengan baik pada wajah.
3. Pelindung mata ( googles atau face shield)
a. Pasang pelindung mata dengan baik
4. Sarung tangan
a. Pasang sarung tangan hingga menutupi pergelangan
tangan dan melingkupi gaun yang dipakai.
5. Lakukan tindakan untuk perlindungan diri sendiri dan
membatasi penyebaran kontaminasi dengan menghindari
menyentuh wajah dengan tangan , membatasi permukaan yang
disentuh tangan dan segera ganti sarung tangan bila robek atau
sangat terkontaminasi dan lakukan hygiene tangan

Cara Melepas APD

APD dapat dilepas di jalan masuk / jalan keluar ruang perawatan. Harus
diperhatikan bahwa respirator harus dilepas setelah meninggalkan
ruangan pasien dan menutup pintu.

1. Sarung Tangan

a. Cara melepas sarung tangan harus dilakukan pertama kali


dengan sisi tangan yang masih terpasang sarung tangan.
Kemudian pegang sarung tangan yang terlepas dengan
tangan yang masih menggunakan sarung tangan.

b. Selipkan jari tangan yang tidak menggunakan sarung


tangan dibagian dalam pada sisi pergelangan tangan .
19

Kemudian lepaskan sarung tangan dan secara bersamaan


menjadi satu dengan sarung tangan sebelumnya

c. Buang sarung tangan pada container sampah medis.

2. Pelindung mata ( googles atau face shield)


a. Cara melepas pelindung mata adalah tidak boleh
menyentuh bagian luar dari pelindung mata
b. Langkah melepas dimulai dari memegang head band atau
sisi kacamata bagian telinga
c. Kemudian dimasukkan kedalam kotak khusus untuk
disterilkan kembali atau ke dalam sampah medis
3. Gaun
a. Bagian depan gaun dan lengan gaun adalah bagian
terkontaminasi
b. Langkah awal melepas gaun dengan melonggarkan ikatan
c. Tarik gaun dari leher dan bahu dengan cara merobek dari
dalam keluar (inside out)
d. Lipat dan jadikan bulatan lalu buang ke sampah medis
4. Masker atau respirator
a. Jangan sentuh bagian depan masker yang terkontaminasi
b. Lepas masker atau respirator dengan melepas dari
belakang ke depan
c. Kemudian buang ke sampah medis
20

Cara Memakai APD Cara Melepas APD

(disadur dari Centers for Disease Control and Prevention. 2020)


21

E. Panduan Kedatangan Sampai Dirumah Dari Bepergian

1. Buka sepatu/alas kaki di depan pintu , sebelum memasuki rumah

2. Tuangkan/semprotkan desinfektan pada sepatu/alas kaki


tersebut , lalu pada pakaian, ponsel , kacamata, kunci, alat tulis,
perangkat kerja , tas kerja dll

3. Buang semua tanda terima pembelian berupa kertas kuitansi dan


kertas lain yang dapat dibuang

4. Masuk rumah bertelanjang kaki dan langsung cuci tangan


dengan air bersih dan sabun

5. Segera cuci pakaian yang digunakan

6. Jangan menyentuh apapun , jangan duduk dikursi dan langsung


segera mandi

7. Kemudian pastikan tubuh dalam keadaan bersih dan


diperbolehkan interaksi dengan keluarga.
22

(disadur dari Publikasi Kementrian Dalam Negeri. 2020)


23

REFERENSI

1. COVID-19: Recommendations for Management of Elective Surgical Procedures,


2020, American College Of Surgeons. www.facs.org/-
/media/files/covid19/recommendations_for_management_of_elective_sur
gical_procedures.ashx
2. CMS Adult Elective Surgery and Procedures Recommendations, 2020,
www.cms.gov/files/document/31820-cms-adult-elective-surgery-and-
procedures-
recommendations.pdf?mkt_tok=eyJpIjoiTXpSaE5XSTVZekkwT1RObSIsInQi
OiJrR2g3MUZKU1hrNFJOdDYrZFpLdTh5ZkJQRDhUdEJcLzZPc2FX SXJCVW1
ZZDN5bXRxV1lGU2pheE16dkJ6VlpmakNNeWV1bVdmeGpFbWRIOE5FSm0
5OFE9PSJ9
3. Rational use of personal protective equipment (PPE) for coronavirus disease
(COVID-19), 2020. WHO .
apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/331498/WHO-2019-nCoV-
IPCPPE_use-2020.2-eng.pdf
4. Coronavirus disease (COVID-19) outbreak: rights, roles and responsibilities of
health workers, including key considerations for occupational safety and health,
2020. WHO. apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/331510/WHO-2019-
nCov-HCWadvice-2020.2-eng.pdf
5. COVID-19 Telemedicine Guidelines, 2020. American Academy of Orthopedic
Surgeons. www.aaos.org/globalassets/about/covid-19/aaos-telemedicine-
resource-guide.pdf
6. CDC, 2020. Sequence for donning personal protective equipment
PPE/Sequence for removing personal protective equipment
www.cdc.gov/HAI/pdfs/ppe/ppeposter148.pdf
24

REKOMENDASI BACAAN

1. Rational use of personal protective equipment (PPE) for


coronavirus disease (COVID-19) . WHO . 2020

2. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease


(COVID-19).Kementerian Kesehatan RI. DirJen Pencegahan dan
Pengendalian Penyakit (P2P).2020
25