Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1       LATAR BELAKANG MASALAH


           
Sampai saat ini masih terjadi perdebatan dan perbedaan pandangan diantara
etikawan tentang apakah etika bersifat absolut atau relatif. Para penganut paham etika
absolut denganberbagai argumentasi yang masuk akal meyakini bahwa ada prinsip-prinsip
etika yangbersifat mutlak, berlaku universal kapan pun dan dimanapun. Sementara itu, para
penganutetika relatif dengan berbagai argumentasi yang juga tampak masuk akal
membatah hal ini. Di antara tokoh-tokoh berpengaruh yang mendukung paham etika relatif
ini adalah Joseph Fletcher (dalam Suseno, 2006), yang terkenal dengan teori etika
situasional-nya.
            Ia menolak adanya norma-norma moral umum karena kewajiban moral selalu
bergantung pada situasi konkrit, dan situasi konkrit ini dalam keseharianya tidak pernah
sama. Tokoh pengaruh pendukung paham etika absolut antara lain Immanuel Kant dan Jammes Rachels.
Rahcels sendiri, yang walaupun membuka pemikiranya dengan memberikan argumentasi bagi
pendukung etika relatif. Ia mengatakan bahwa ada pakok teoritis yang umum dimana ada
aturan-aturan moral tertentu yang dianut secara bersama-sama oleh semua masyarakat
kerena aturan-aturan itu penting untuk kelestarian masyarakat.       
                        Perkembangan Perilaku Moral, Teori perkembangan moral banyak dibahas dalam
ilmu psikologi. Salah satu teori yang sangat berpengaruh di kemukakan oleh Kohlberg
( dalam Atkinson et.al., 1996) dangan mengemukakan tiga tahap perkembangan moral
dihubungkan dengan pertumbuhan.

1.2       RUMUSAN MASALAH
1.         Apa yang di maksud Etika Absolut dan Relative ?
2.         Bagaimana perkembangan Etika dan Moral menurut Kohlberg ?
3.         Apa saja teori-teori Etika ?
4.         Definisi teori-teori yang ada ?
1.3       TUJUAN
1.                  Mahasiswa mengetahui dan memahami penggunaan etika absolut    dan relative.
2.                  Mahasiswa mengetahui dan memahami perkembangkan etika dan moral menurut para
ahli.
3.                  Mahasiswa mengetahui dan memahami teori-teori etika.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Etika Absolut dan Relative


2.1.1    Pengertian Etika Absolut
                        Absolut artinya mutlak, merupakan paham yang percaya bahwa segala sesuatu
yang ada itu bersifat mutlak dan universal. Dengan ini, etika absolut dapat didefinisikan
sebagai paham etika yang menekankan bahwa prinsip moral itu universal, berlaku untuk
siapa saja, dan di mana saja, Tidak ada tawar menawar dalam prinsip ini, juga tidak
tergantung pada adanya kondisi yang membuat prinsip moral dapat berubah sewaktu-
waktu.
                        Etika absolut erat hubungannya dengan moralitas seorang individu atau
manusia, etika ini juga memberikan atau menekankan setiap norma dan aturan yang ada
dengan tegas dan terkadang bersifat memaksa tidak pandang bulu, etika yang berarti adat
atau kebiasaan dari seorang individu sesuai dengan lingkungan dan tempat dimana ia lahir
dan tinggal sehingga mampu menata hidup dengan baik melalui etika dan moral yang baik
pula. Terkadang seorang individu membutuhkan paham yang bersifat mutlak untuk
menjadi pedoman hidup dan tata cara bagaimana ia hidup dan bersosialisasi dengan sesama
manusia dengan alam, hewan, tumbuhan.
            Di dalam etika absolut dapat dicontohkan melalui kepercayaan seorang individu
yaitu agama yang dianutnya sesuai dengan apa yang ia yakini. Agama juga bersifat
universal namun mutlak karena apa yang di yakini harus ditaati dan dilaksakan perintahnya
dan tidak dapat di tawar atau ditinggalkan setiap aturannya, karena segalanya berhungan
dengan tuhan.
2.1.2    Pengertian Etika Relatif
                        Relatif artinya menurut bahasa adalah bergantung kepada sesuatu. Etika
relatif itu sendiri berarti paham yang percaya bahwa segala sesuatu itu bersifat tidak
mutlak, mulai dari pengetahuan maupun prinsip. Terkait dengan istilah relativisme etika,
Shomali telah memberikan definisi yang cukup mudah dipahami yaitu “relativisme etika
adalah pandangan bahwa tidak ada prinsip moral yang benar secara universal, kebenaran
semua prinsip moral bersifat relatif terhadap budaya atau pilihan individu”..Relativisme
juga tidak memungkinkan untuk adanya serangkaian mutlak etika. Logikanya, jika tidak
ada etika yang mutlak, maka tidak ada Absolute Ilahi Etika Pemberi. Mewajibkan set
mutlak etika menyiratkan Pemberi Etika Absolute, yang dengan mudah dapat
diekstrapolasi sebagai Tuhan.
                        Ini akan bertentangan dengan relativisme etis. Oleh karena itu, relativisme
etika tidak akan mendukung gagasan Allah yang mutlak, dan itu akan mengecualikan
sistem keagamaan didasarkan pada moral mutlak, yaitu, itu akan mutlak dalam kutukannya
terhadap etika mutlak. Dalam hal ini, relativisme akan menjadi tidak konsisten, karena
akan menyangkal kepercayaan dari nilai absolut.
            Selain itu, jika etika telah berubah dari waktu ke waktu, ada masalah kontradiksi
diri dalam perspektif relativistik. 200 tahun yang lalu perbudakan diterima secara sosial
dan benar. Sekarang tidak, telah ada perubahan dalam etika sosial di Amerika mengenai
masalah ini.
Masalahnya adalah bahwa jika perbudakan menjadi dapat diterima lagi dalam 200 tahun ke
depan, siapa yang mengatakan apakah itu benar atau salah? Kami akan memiliki satu set
kontradiktif benar dan salah mengenai masalah yang sama.
            Dalam relativisme etika, benar dan salah tidak mutlak dan harus ditentukan dalam
masyarakat dengan kombinasi observasi, logika , sosial dan pola preferensi, pengalaman,
emosi, dan "aturan" yang tampaknya membawa manfaat yang paling. Tentu saja, tak usah
dikatakan bahwa masyarakat yang terlibat dalam konflik moral yang konstan tidak akan
mampu bertahan untuk waktu yang lama. Moralitas adalah lem yang memegang
masyarakat bersama-sama. Harus ada konsensus benar dan salah bagi masyarakat untuk
berfungsi dengan baik.
            Tampaknya menjadi universal di antara budaya yang salah untuk membunuh,
mencuri, dan berbohong. Kita melihat bahwa ketika individu mempraktekkan etika kontra
produktif, mereka segera di penjara atau dihukum. Karena etika konseptual di alam, dan
ada beberapa etika yang tampaknya melampaui semua budaya (berlaku untuk semua
masyarakat).

2.1.3        Contoh etika absolut


            Bagaimana pun dan apa pun alasannya membunuh adalah perbuatan tidak bermoral
            Memperkosa adalah perbuatan yang keji dan tidak bermoral
            Mengambil hak orang lain adalah perbuatan yang tidak bermoral.
Contoh kasus etika Absolut
Seorang pejabat “A” yang bekerja di badan yudikatif  negara melakukan tindakan
korupsi dari anggaran suatu proyek yang dijalankan atas dasar untuk memenuhi keinginan
pribadi dan membeli barang-barang mewah yang ia inginkan dengan nominal yang cukup
tinggi dan merugikan negara.
Dari kasus menurut etika absolut dapat disimpulkan bahwa memakan hak orang
lain adalah perbuatan yang salah. Maka pejabat “A” apapun posisinya dan kedudukannya
perbuatan “A” adalah perbuatan yang tidak bermoral dan tidak beretika serta menyalahi
aturan yang ada karena telah merugikan rakyat banyak.

2.1.4        Contoh etika relatif


           Membunuh itu bisa benar dan juga bisa salah tergantung apa tujuan orang melakukan
pembunuhan.

Contoh kasus etika relatif


Callatia memakan ayah mereka yang telah mati sebagai penghormatan dan
kebanyakan dari tanggapan kita terhadap hal itu adalah tidak bermoral. Tetapi bagi orang
Callatia membakar atau mengubur orang mati adalah perbuatan menakutkan dan
menjijikkan atau tidak bermoral.
Dari kasus diatas dapat disimpulkan bahwa moral yang baik menurut suku callatia
sesuai dengan adat dan kebiasaan mereka terlepas apa yang orang lain pikirkan atas apa
yang mereka lakukan karena apa yang mereka lakukan tentang upacara kematian adalah
apa yang mereka yakini.

2.2       Perkembangan Etika menurut Kohlberg


Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang
berdasarkan perkembangan penalaran moralnya (Lawrence Kohlberg).
 Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari
perilaku etis, perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia bahwa logika
dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. Kohlberg memperluas
pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada
prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama
kehidupan.
  Kohlberg menggunakan ceritera-ceritera tentang dilema moral dalam penelitiannya,
dan ia tertarik pada bagaimana orang-orang akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka
bila mereka berada dalam persoalan moral yang sama.

2.2.1    Tahapan perkembangan etika


·Pra-konvensional
            Tingkat pra-konvensional dari penalaran moral umumnya ada pada anak-anak,
walaupun orang dewasa juga dapat menunjukkan penalaran dalam tahap ini. Seseorang
yang berada dalam tingkat pra-konvensional menilai moralitas dari suatu tindakan
berdasarkan konsekuensinya langsung. Tingkat pra-konvensional terdiri dari dua tahapan
awal dalam perkembangan moral, dan murni melihat diri dalam bentuk
egosentris,individu-individu memfokuskan diri pada konsekuensi langsung dari tindakan
mereka yang dirasakan sendiri. Sebagai contoh, suatu tindakan dianggap salah secara
moral bila orang yang melakukannya dihukum. Semakin keras hukuman diberikan
dianggap semakin salah tindakan itu.
             Sebagai tambahan, ia tidak tahu bahwa sudut pandang orang lain berbeda dari
sudut pandang dirinya. Tahapan ini bisa dilihat sebagai
sejenisotoriterisme. Kemudian menempati posisi apa untungnya buat saya, perilaku yang
benar didefinisikan dengan apa yang paling diminatinya.
            Penalaran tahap dua kurang menunjukkan perhatian pada kebutuhan orang lain,
hanya sampai tahap bila kebutuhan itu juga berpengaruh terhadap kebutuhannya sendiri,
seperti “kamu garuk punggungku, dan akan kugaruk juga punggungmu. Dalam tahap dua
perhatian kepada oranglain tidak didasari oleh loyalitas atau faktor yang berifat intrinsik.
            Kekurangan perspektif tentang masyarakat dalam tingkat pra-konvensional,
berbeda dengan kontrak sosial (tahap lima), sebab semua tindakan dilakukan untuk
melayani kebutuhan diri sendiri saja. Bagi mereka dari tahap dua, perpektif dunia dilihat
sebagai sesuatu yang bersifat relatif secara moral.

·                        Konvensional
            Tingkat konvensional umumnya ada pada seorang remaja atau orang dewasa.
Orang di tahapan ini menilai moralitas dari suatu tindakan dengan membandingkannya
dengan pandangan dan harapan masyarakat. Tingkat konvensional terdiri dari tahap ketiga
dan keempat dalam perkembangan moral. Seseorang memasuki masyarakat dan memiliki
peran sosial. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang
lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang
dimilikinya.
            Mereka mencoba menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan tersebut,
karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut. Penalaran tahap tiga menilai
moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk
hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat, rasa terimakasih,
dan golden rule. Keinginan untuk mematuhi aturan dan otoritas ada hanya untuk
membantu peran sosial yang stereotip ini. Maksud dari suatu tindakan memainkan peran
yang lebih signifikan dalam penalaran di tahap ini; 'mereka bermaksud baik.
            Penting untuk mematuhi hukum, keputusan, dan konvensi sosialkarena berguna
dalam memelihara fungsi dari masyarakat. Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari
sekedar kebutuhan akan penerimaan individual seperti dalam tahap tiga; kebutuhan
masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa
yang benar dan apa yang salah, seperti dalam kasus fundamentalisme. Bila seseorang bisa
melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu - sehingga ada kewajiban atau
tugas untuk mematuhi hukum dan aturan.
            Bila seseorang melanggar hukum, maka ia salah secara moral, sehingga celaan
menjadi faktor yang signifikan dalam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari yang
baik.

·                      Pasca-konvensional
            Tingkatan pasca konvensional, juga dikenal sebagai tingkat berprinsip, terdiri dari
tahap lima dan enam dari perkembangan moral. Kenyataan bahwa individu-individu adalah
entitas yang terpisah dari masyarakat kini menjadi semakin jelas. Perspektif seseorang
harus dilihat sebelum perspektif masyarakat. Akibat ‘hakekat diri mendahului orang lain’
ini membuat tingkatan pasca-konvensional sering tertukar dengan perilaku pra-
konvensional. Individu-individu dipandang sebagai memiliki pendapat-pendapat dan nilai-
nilai yang berbeda, dan adalah penting bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa
memihak. Permasalahan yang tidak dianggap sebagai relatif seperti kehidupan dan pilihan
jangan sampai ditahan atau dihambat.
            Kenyataannya, tidak ada pilihan yang pasti benar atau absolut memang anda siapa
membuat keputusan kalau yang lain tidak Sejalan dengan itu, hukum dilihat
sebagai kontrak sosial dan bukannya keputusan kaku. Aturan-aturan yang tidak
mengakibatkan kesejahteraan sosial harus diubah bila perlu demi terpenuhinya kebaikan
terbanyak untuk sebanyak-banyaknya orang.
            Hal tersebut diperoleh melalui keputusan mayoritas, dan kompromi. Dalam hal ini,
pemerintahan yang demokratis tampak berlandaskan pada penalaran tahap lima. Penalaran
moral berdasar pada penalaran abstrakmenggunakan prinsip etika universal. Hukum hanya
valid bila berdasar pada keadilan, dan komitmen terhadap keadilan juga menyertakan
keharusan untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil. Hak tidak perlu sebagai kontrak
sosial dan tidak penting untuk tindakan moral deontis. Keputusan dihasilkan secara
kategoris dalam cara yang absolut dan bukannya secara hipotetis secara kondisional
(lihat imperatif kategoris dariImmanuel Kant.
            Hal ini bisa dilakukan dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang
saat menjadi orang lain, yang juga memikirkan apa yang dilakukan bila berpikiran sama
(lihat veil of ignorance dari John Rawls. Tindakan yang diambil adalah hasil konsensus.
Dengan cara ini, tindakan tidak pernah menjadi cara tapi selalu menjadi hasil; seseorang
bertindak karena hal itu benar, dan bukan karena ada maksud pribadi, sesuai harapan,
legal, atau sudah disetujui sebelumnya.

2.3       Teori-teori Etika
                                    Etika sebagai disiplin ilmu berhubungan dengan kajian secara kritis tentang
adat kebiasaan, nilai-nilai, dan norma perilaku manusia yang dianggap baik atau tidak baik.
Dalam etika masih dijumpai banyak teori yang mencoba untuk menjelaskan suatu
tindakan, sifat, atau objek perilaku yang sama dari sudut pandang atau perspektif yang
berlainan.
Berikut teori-teori Etika :
1.         Egoisme
Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan dengan egoisme.
Pertama, egoisme psikologis, adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua tindakan
manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri (self servis). Menurut teori ini, orang
boleh saja yakin ada tindakan mereka yang bersifat luhur dan suka berkorban, namun
semua tindakan yang terkesan luhur dan/ atau tindakan yang suka berkorban tersebut
hanyalah sebuah ilusi. Pada kenyataannya, setiap orang hanya peduli pada dirinya sendiri.

2.         Utilitarianisme
Menurut teori ini, suatu tindakan dikatakan baik jika membawa manfaat bagi
sebanyak mungkin anggota masyarakat (the greatest happiness of the greatest number).
Ukuran baik tidaknya suatu tindakan dilihat dari akibat, konsekuensi, atau tujuan dari
tindakan itu, apakah memberi manfaat atau tidak dalam mengukur akibat dari suatu
tindakan, satu-satunya parameter yang penting adalah jumlah kebahagiaan atau jumlah
ketidakbahagiaan, kesejahteraan setiap orang sama pentingnya.
Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis terletak pada siapa
yang memperoleh manfaat. Egoisme etis melihat dari sudut pandang kepentingan
individu, sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut pandang kepentingan orang
banyak.
3.         Deontologi
Paradigma teori deontologi saham berbeda dengan paham egoisme dan utilitarianisme,
yang keduanya sama-sama menilai baik buruknya suatu tindakan memberikan manfaat
entah untuk individu (egoisme) atau untuk banyak orang/kelompok masyarakat
(utilitarianisme), maka tindakan itu dikatakan etis. Sebaliknya, jika akibat suatu tindakan
merugikan individu atau sebagian besar kelompok masyarakat, maka tindakan tersebut
dikatakan tidak etis. Teori yang menilai suatu tindakan berdasarkan hasil, konsekuensi,
atau tujuan dari tindakan tersebut disebut teori teleologiSangat berbeda dengan paham
teleologi yang menilai etis atau tidaknya suatu tindakan berdasarkan hasil, tujuan, atau
konsekuensi dari tindakan tersebut, paham deontologi justru mengatakan bahwa etis
tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi, atau
akibat dari tindakan tersebut. Konsekuensi suatu tindakan tidak boleh menjdi pertimbangan
untuk menilai etis atau tidaknya suatu tindakan. Kant berpendapat bahwa kewajiban moral
harus dilaksanakan demi kewajiban itu sendiri bukan karena keinginan untuk memperoleh
tujuan kebahagiaan, bukan juga karena kewajiban moral iu diperintahkan oleh Tuhan.
Moralitas hendaknya bersifat otonom dan harus berpusat pada pengertian manusia
berdasarkan akal sehat yang dimiliki manusia itu sendiri, yang berarti kewajiban moral
mutlak itu bersifat rasional.
Walaupun teori deontologi tidak lagi mengkaitkan kriteria kebaikan moral dengan
tujuan tindakan sebagaimana teori egoisme dan tlitarianisme, namun teori ini juga
mendapat kritikan tajam terutama dari kaum agamawan. Kant mencoba membangun
teorinya hanya berlandaskan pemikiran rasional dengan berangkat dari asumsi bahwa
karena manusiabermartabat, maka setiap perlakuan manusia terhadap manusia lainnya
harus dilandasi olehkewajiban moral universal. Tidak ada tujuan lain selain mematuhi
kewajiban moral demi kewajiban itu sendiri.
4.      Teori Hak
Suatu tindakan atau perbuatan dianggap baik bila perbuatan atau tindakan tersebut
sesuai dengan HAM. Menurut Bentens (200), teori hak merupakan suatu aspek dari
deontologi (teori kewajiban) karena hak tidak dapat dipisahkan dengan kewajiban. Bila
suatu tindakan merupakan hak bagi seseorang, maka sebenarnya tindakan yang sama
merupakan kewajibanbagi orang lain. Teori hak sebenarnya didsarkan atas asumsi bahwa
manusiamempunyai martabat dan semua manusia mempunyai martabat yang sama.
5.         Teori Keutamaan (Virtue Theory)
Teori keutamaan berangkat dari manusianya (Bertens,2000). Teori keutamaan
tidak menanyakan tindakan mana yang etis dan tindakan mana yang tidak etis. Teori ini
tidak lagi mempertanyakan suatu tindakan, tetapi berangkat dari pertanyaan mengenai
sifat-sifat atau karakter yang harus dimiliki oleh seseorang agar bisa disebut sebagai
manusia utama, dan sifat-sifat atau karakter yang mencerminkan manusia hina.
Karakter/sifat utama dapat didefinisikan sebagai disposisi sifat/watak yang telah
melekat/dimiliki oleh seseorang dan memungkinkan dia untuk selalu bertingkah laku yang
secara moral dinilai baik. Mereka yang selalu melakukan tingkah laku buruk secar amoral
disebut manusia hina. (Bertens,2000) memberikan contoh sifat keutamaan, antara lain:
kebijaksanaan, keadilan, dan kerendahan hati. Sedangkan untuk pelaku bisnis, sifat utama
yang perlu dimiliki antara lain: kejujuran, kewajaran (fairness), kepercayaan dan keuletan.
6.         Teori Etika Teonom
Sebagaimana dianut oleh semua penganut agama di dunia bahwa ada tujuan akhir yang
ingin dicapai umat manusia selain tujuan yang bersifat duniawi, yaitu untuk
memperoleh kebahagiaan surgawi. Teori etika teonom dilandasi oleh filsafat kristen, yang
mengatakan bahwa karakter moral manusia ditentukan secara hakiki oleh kesesuaian
hubungannya dengan kehendak Allah. Perilaku manusia secara moral dianggap baik jika
sepadan dengan kehendak Allah, dan perilaku manusia dianggap tidak baik bila tidak
mengikuti aturan/perintah Allah sebagaiman dituangkan dalam kitab suci.
Sebagaimana teori etika yang memperkenalkan konsep kewajiban tak bersyarat
diperlukan untuk mencapai tujuan tertinggi yang bersifat mutlak. Kelemahan teori etika
Kant teletak pada pengabaian adanya tujuan mutlak, tujuan tertinggi yang harus dicapai
umat manusia, walaupun ia memperkenalkan etika kewajiban mutlak. Moralitas dikatakan
bersifat mutlak hanya bila moralitas itu dikatakan dengan tujuan tertinggi umat manusia.
Segala sesuatu yang bersifat mutlak tidak dapat diperdebatkan dengan pendekatan rasional
karena semua yang bersifat mutlak melampaui tingkat kecerdasan rasional yang dimiliki
manusia.

2.4       Etika Abad ke-20


1.      Arti Kata “Baik” Menurut George Edward Moore
Kata baik adalah kunci dari moralitas, namun Moore merasa heran tidak satupun
etikawan yang berbicara tentang kata baik tersebut, seakan-akan hal itu sudah jelas dengan
sendirinya. Menurut Moore, disinilah letak permasalahan sehingga terdapat kekacauan
dalam menafsirkan kata baik tersebut. Anggapan inti Moore sangat sederhana bahwa kata
baik tidak dapat didefinisikan, suatu kata dapat didefinisikan jika kata tersebut tidak lagi
terdiri atas bagian-bagian sehingga tidak dapat dianalisis. Baik adalah baik, titik. Setiap
usaha untuk mendefinisikan akan selalu menimbulkan kerancuan.
2.      Tatanan Nilai Max Scheller
Max Scheller sebenarnya membantah anggapan teori imperative category Immanuel Kant.
Nilai-nilai bersifat material dan apriori. Material disini bukan dalam arti ada kaitan dengan
materi, tetapi sebagai lawan dari kata formal. Bersifat apriori artinya kebernilaian suatu
nilai tersebut mendahului segala pengalaman.
Menurut Max Scheller, ada 4 gugus nilai yang masing-masing mandiri dan berbeda antara
satu dengan yang lain, yaitu:
                                           I.            Nilai-nilai sekitar enak dan tidak enak,

                                        II.            Nilai-nilai vital,

                                     III.            Nilai-nilai rohani murni,

                                     IV.            Dan nilai-nilai sekitar roh kudus.

3.      Etika Situasi Joseph Fletcher


Joseph Fletcher termasuk tokoh yang menentang adanya prinsip etika
yang bersifat mutlak. Ia berpendapat bahwa setiap kewajiban moral selalu bergantung pada
situasi konkret. Sesuatu ketika berada dalam situasi tertentu bisa jadi baik dan tepat, tetapi
ketika berada dalam situasi yang lain bisa jadi jelek dan salah. Itulah sebabnya, moralitas
hanya dapat dipahami dalam situasi konkret-padahal, situasi konkret tidak selalu sama-
sehingga etika Fletcher sering disebut etika situasi.
4.      Pandangan Penuh Kasih Iris Murdoch
Menurut Murdoch, khas dari teori-teori etika pasca-Kant adalah bahwa nilai-nilai moral
dibuang dari dunia nyata. Bukan kemampuan otonom yang menciptakan nilai, melainkan
kemampuan untuk melihat dengan penuh kasih dan adil.
5.      Pengelolaan Kelakuan Byrrhus Frederic Skinner
Skinner mengatakan bahwa pendekatan filsafat tradisional dan ilmu manusia tidak
memadai sehingga yang diperlukan bukanlah ilmu etika, tetapi sebuah teknologi kelakuan.
Ide dasar Skinner adalah menemukan teknologi/ cara untuk mengubah perilaku.
6.      Prinsip Tanggung Jawab Hans Jonas
Walaupun kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan telah membawa kemajuan,
menimbulkan masalah baru berupa ancaman kelanjutan kehidupan manusia. Intinya adalah
kewajiban manusia untuk bertanggung jawab atas keutuhan kondisi-kondisi kehidupan
manusia di masa depan.
7.      Kegagalan Etika Pencerahan Alasdair Maclntyre
Bahwa etika pencerahan telah gagal karena pencerahan atas nama rasionalitas justru telah
membuang apa yang menjadi dasar rasionalitas setiap ajaran moral, yaitu pandangan
teleologis tentang manusia. Maclntyre menganjurkan agar etika kembali pada paham
teleologis tentang manusia.
2.5       Teori Etika dan Paradigma Hakikat Manusia
            Pokok-pokok pikirannya meliputi:
1.      Muncul berbagai paham teori etika, masing-masing teori memiliki pendukung dan
penentang yang cukup berpengaruh,
2.      Munculnya beragam teori etika karena adanya perbedaan paradigma, pola pikir, atau
pemahaman tentang hakikat hidup sebagai manusia,
3.      Setiap teori hanya ditinjau dari proses penalaran,
4.      Semua teori yang ada menjelaskan tahapan-tahapan sejalan dengan pertumbuhan tingkat
kesadaran diri.
5.      Teori yang tampak bagaikan potongan-potongan dapat dipadukan menjadi satu teori
tunggal.
6.      Inti dari etika manusia adalah adanya keseimbangan antara kepentingan pribadi,
keseimbangan modal PQ, IQ, EQ, kebahagiaan lahir batin, keseimbangan hak dan
kewajiban.
No. Teori Paradigma
Hakikat
Penalaran teori Kriteria Etis Tujuan hidup manusia dan
kecerdasan
Memenuhi
Tujuan dari Kenikmatan duniawi Hakikat tidak
1. kepentingan
Egoisme tindakan secara individu utuh(PQ, IQ))
pribadi

Memberi
Hakikat tidak
Tujuan dari manfaat/ Kesejahteraan
2. Utilitarianisme utuh(PQ, IQ,
tindakan kegunaan bagi duniawi masyarakat
EQ)
banyak orang

Kewajiban
Tujuan itu Demi kewajiban itu Hakikat tidak
3. Deontologi-Kant mutlak setiap
sendiri sendiri utuh(IQ, EQ)
orang
Tingkat
Aturan tentang Demi martabat Hakikat tidak
4. Teori hak kepatuhan
HAM kemanusiaan utuh(IQ)
terhadap HAM
Kebahagiaan
Disposisi Karakter positif- Hakikat tidak
5. Teori keutamaan duniawi dan
karakter negatif individu utuh(IQ, EQ)
mental(psikologis)
Karakter mulia
Disposisi dan mematuhi Kebahagiaan rohani(
Hakikat
karakter dan kitab suci agama surgawi, akhirat,
6. Teori teonom utuh(PQ, IQ,
tingkat masing-masing moksa, nirmala),
EQ, SQ)
keamanan individu dan mental, dan duniawi
masyarakat
Teori Etika dan Hubungannya dengan Paradigma Hakikat Manusia dan Kecerdasan

Hubungan Antar Berbagai Teori Etika


No. Teori/ dimensi Hubungan teori
1. Tingkat kesadaran Hewani ManusiawiTransedental
2. Teori tindakan Egoisme UtilitarianismeTeonom
3. Teori hak dan kewajiban Hak kewajiban
4. Teori keutamaan Manusia hina Manusia utama
5. Tujuan/ nilai Duniawi surgawi
6. Pemangku kepentingan Individu masyarakat Tuhan
7. Kebutuhan Maslow Fisik Sosial Aktualisasi diri
8. Tingkat perkembangan Kohlberg Hukuman Prinsip
9. Kecerdasan Covey PQ IQ, EQ SQ
10. Etika Nafis Psiko etika Sosio etika Teo etika
  
  
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
            Etika absolut dapat didefinisikan sebagai paham etika yang menekankan bahwa
prinsip moral itu universal, berlaku untuk siapa saja, dan di mana saja, Tidak ada tawar
menawar dalam prinsip ini, juga tidak tergantung pada adanya kondisi yang membuat
prinsip moral dapat berubah sewaktu-waktu.
            Etika relatif berarti paham yang percaya bahwa segala sesuatu itu bersifat tidak
mutlak, mulai dari pengetahuan maupun prinsip. Terkait dengan istilah relativisme etika,
Shomali telah memberikan definisi yang cukup mudah dipahami yaitu “relativisme etika
adalah pandangan bahwa tidak ada prinsip moral yang benar secara universal, kebenaran
semua prinsip moral bersifat relatif terhadap budaya atau pilihan individu”.
                Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral
seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya (Lawrence Kohlberg).
            Etika sebagai disiplin ilmu berhubungan dengan kajian secara kritis tentang adat
kebiasaan, nilai-nilai, dan norma perilaku manusia yang dianggap baik atau tidak baik.
Dalam etika masih dijumpai banyak teori yang mencoba untuk menjelaskan suatu
tindakan, sifat, atau objek perilaku yang sama dari sudut pandang atau perspektif yang
berlainan.