Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Polimer, atau kadang-kadang disebut makromolekul, ialah molekul besar yang dibangun
dari perangkaian berulang sejumlah besar satuan yang lebih kecil yang disebut
monomer. Polimer dapat tergolong alami atau sintetik. Polimer alami yang paling
penting ialah karbohidrat (pati,selulosa), protein, dan asam nukleat (DNA, RNA).
Polimer sintetik dapat digolongkan ke dalam dua jenis, bergantung pada bagaimana cara
pembuatannya. Polimer adisi (juga disebut polimer rantai-tumbuh, chain-growth
polymer) dibuat melalui adisi satu unit monomer ke unit lain dengan cara berulang-
ulang. Polimer kondensasi (juga dinamakan polimer seselangkah, step-growth polymer)
biasanya dibuat melalui reaksi di antara dua jenis gugus fungsi, dengan melepas
beberapa molekul kecil, seperti air (Hart, 2003).

Ikatan pada molekul polimer umumnya dibagi menjadi empat jenis, seperti dijelaskan
berikut ini:
a. Ikatan ion, ikatan yang kuat dan terjadi di antara unsur-unsur yang mempunyai
keelektronegatifan. Pada polimer ikatan jenis ini tidak begitu penting.
b. Ikatan kovalen, ikatan ini juga cukup kuat dan mempunyai energi kira-kira 50
sampai 100 kkal/bilangan Avogadro ikatan.
c. Ikatan hidrogen, ikatan ini lemah dan mempunyai energi berkisar 2-5 kkal.
d. Ikatan hasil interaksi dipol-dipol, ikatan ini mempunyai energi < 1 kkal (ikatan ini
terjadi antar molekul).
(Riswiyanto, 2011)

Thermoplastic adalah polimer yang tidak memiliki ikatan silang antar molekul. Material
thermoplastic dapat ditemukan dalam struktur linear atau bercabang. Sebuah material
thermoplastic yang mengalami proses pemanasan, akan menjadi cairan yang sangat
kental yang dapat dibentuk dengan menggunakan peralatan pengolahan plastik. Tidak
perduli berapa kali pun proses tersebut diulang, thermoplastic akan selalu melunak bila
dipanaskan dan mengeras jika didinginkan. Terdapat 22 jenis plastik yang termasuk
dalam kategori ini. Sedangkan thermoset memiliki sifat yang sebaliknya. Thermoset
memiliki ikatan silang antar molekul yang kuat dan apabila dipanaskan akan mengalami
perubahan kimia sehingga bentuknya tidak dapat kembali. Dalam kondisi mentah
umumnya thermoset berbentuk tepung atau cair. Karena sifatnya yang mudah didaur
ulang, maka jenis plastik thermoplastic akan lebih tepat untuk dikembangkan sebagai
material dalam bangunan. Dengan demikian material bangunan ini tidak menjadi
sampah ketika bangunan tersebut dihancurkan atau ingin mengganti material lain, tetapi
dapat didaur ulang menjadi produk yang dapat bermanfaat (Felixon, 2011).

Urea-formaldehid (dikenal juga sebagai urea-metanal) adalah suatu resin atau plastik
thermosetting yang terbuat dari urea dan formaldehid yang dipanaskan dalam suasana
basa lembut seperti amoniak atau piridin. Reaksi urea-formaldehid merupakan reaksi
kondensasi antara urea dengan formaldehid. Pada umumnya reaksi menggunakan
katalis hidroksida alkali dan kondisi reaksi dijaga tetap pada pH 8-9 agar tidak terjadi
reaksi Cannizaro, yaitu reaksi diproporsionasi formaldehid menjadi alkohol dan asam
karboksilat. Untuk menjaga agar pH tetap maka dilakukan penambahan ammonia
sebagai buffer ke dalam campuran (Tim Dosen Teknik Kimia, 2011). Struktur urea-
formaldehid sebagai berikut:

Gambar 2.1 Struktur molekul urea-formaldehid

Reaksinya terdiri dari dua langkah, yaitu reaksi adisi dan reaksi kondensasi. Reaksi
pembentukannya sebagai berikut:
a. Reaksi adisi terjadi sebagai berikut:
Gambar 2.2 Reaksi Polimerisasi Adisi Urea-Formaldehid

b. Reaksi kondensasi merupakan kelanjutan dari reaksi adisi, yaitu:

Gambar 2.3 Reaksi Polimerisasi Kondensasi Urea-Formaldehid


(Fessenden, 1982)

Gugus –OH dari metilol bereaksi dengan -H dari -NH2 atau -NH- urea dan
menghasilkan H2O. Reaksi ini berlangsung terus, sehingga membentuk rantai yang
panjang, bahkan beberapa posisi menjadi rantai cabang. Reaksi ini yang membentuk
polimer urea-formaldehid, dengan ikatan antar urea dihubungkan oleh gugus metilen
(CH2). Makin besar ukuran polimer atau panjang rantai yang terbentuk, polimer ini
makin sukar larut dalam air. Adanya ikatan rantai cabang (network) karena reaksi
crosslink membuat polimer yang terjadi semakin keras. Reaksi kondensasi ini
dipengaruhi oleh tingkat keasaman larutan. Pada kondisi asam (pH < 7), kecepatan
reaksi sebanding dengan konsentrasi ion hidrogen , tetapi pada kondisi basa, reaksi
kondensasi berjalan lambat. Formaldehid lebih mudah disimpan atau diangkut sebagaii
larutan dalam air (forrmalin =37% formaldehida dan 7-15% methanol dalam air), atau
sebagai suatu polimer padat atau trimer (Fessenden, 1982).

Reaksi ini secara umum berlangsung dalam 3 tahap yakni inisiasi, propagasi
(kondensasi), dan proses curing.
a. Tahap metilolasi, yaitu adisi formaldehid pada gugus amino dan amida dari urea,
dan menghasilkan metilol urea.
b. Tahap selanjutnya propagasi, yaitu reaksi kondensasi dari monomer-monomer
dan dimetilol urea membentuk rantai polimer yang lurus.
c. Tahap terakhir adalah proses curing yaitu ketika kondensasi tetap berlangsung,
polimer membentuk rangkaian 3 dimensi yang sangat kompleks dan menjadi
resin thermosetting. Resin thermosetting mempunyai sifat tahan terhadap asam,
basa, serta tidak dapat melarut dan meleleh. Tahap curing yaitu proses terakhir
yang oleh pengaruh katalis, panas, dan tekanan tinggi, resin yang dirubah
sifatnya menjadi thermosetting resin.
(Tim Dosen Teknik Kimia, 2011)

Untuk menghitung kadar zat dalam suatu sampel dapat digunakan rumus, sebagai
berikut:
a × b × c × 100
[x] = …………………………….……. 2.1
m
Dimana:
[x] : Konsetrasi sampel
a : Volume larutan peniter
b : Konsetrasi larutan peniter
c : Bobot setara sampel
m : Massa atau volume sampel
(Tim Pengajar Kimia Analis, 2015)

Untuk menetukan orde reaksi dengan metode integral, orde reaksi ditebak dam
menaikan persamaan diferensial menggunakan model sistem batch. Jika orde yang
ditebak benar, plot yang tepat dari data konsentrasi terhadap waktu akan linear. Metode
integral sering digunakan ketika urutan/orde reaksi reaksi diketahui dan hal tersebut
untuk mengevaluasi tetapan laju reaksi spesifik pada suhu yang berbeda.menentukan
energi aktivasi. Dalam metode integral dari analisis data laju reaksi, perlu mencari
fungsi konsentrasi yang tepat sesuai dengan hukum laju tertentu itu yang linier dengan
waktu (Fogler, 2018).

Untuk reaksinya:
A → Produk
dilakukan dalam reaktor batch volume konstan, keseimbangan mol adalah
dCA
ra = ……………………………………… 2.2
dt
untuk orde reaksi nol, ra= - k , dan laju reaksi serta kesetimbangan molnya adalah:
dCA
= - k …………………..………………… 2.3
dt
Integrasi dengan CA = CA0 pada t = 0, sehingga diperoleh:
CA = CA0 – kt …………………………………… 2.4
Plot konsentrasi A sebagai fungsi waktu akan linier (Gambar 2.4) dengan
kemiringan/slope ( k ) untuk reaksi orde nol yang dilakukan dalam volume konstan pada
reaktor batch (Fogler, 2018).

Gambar 2.4 Grafik Laju Reaksi Orde 0

Jika reaksi adalah reaksi orde pertama (Gambar 2.5), integrasi kesetimbangan mold an
laju reaksi
dCA
- = k CA …………………..………………… 2.5
dt
Dengan limit/batasan CA = CA0 pada t = 0, sehingga diperoleh:
CA 0
ln =k t …………………..………………… 2.6
CA
CA0
Akibatnya, dapat dilihat kemiringan garis sebagai fungsi dari ln terhadap waktu
CA
memang linier dengan kemiringan k (Fogler, 2018).
Gambar 2.4 Grafik Laju Reaksi Orde 1

Jika reaksinya adalah urutan kedua (Gambar 2.5), maka mengintegrasikan dengan CA =
CA0 awalnya (i.e., t = 0), sehingga diperoleh:
1 1
- = k t ………………………………... 2.7
CA CA0
1
Dapat dilihat bahwa untuk reaksi orde kedua ada plot sebagai fungsi waktu harus
CA
linier dengan kemiringan k (Fogler, 2018).

Gambar 2.4 Grafik Laju Reaksi Orde 2

Massa jenis atau densitas suatu zat adalah kuantitas konsentrasi zat dan dinyatakan
dalam massa persatuan volume. Semakin besar konsentrasi zat dalam suatu volume zat
maka densitas zat tersebut akan semakin besar pula. Nilai densitas suatu zat dipengaruhi
oleh suhu. Semakin tinggi suhu, kerapatan suatu zat akan semakin rendah karena
molekul-molekul yang saling berikatan akan terlepas. Kenaikan suhu menyebabkan
volume suatu zat akan bertambah, sehingga massa jenis dan volume suatu zat akan
memiliki hubungan yang berbanding terbalik. Secara sistematis massa jenis dapat
dinyatakan dengan persamaan berikut:
m
ρ= …………………………………….. 2.8
v
(Halliday, 1987)

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan bahan


3.1.1 Alat
a. Baskom
b. Batang pengaduk
c. Bulp
d. Buret 50 mL
e. Cawan petri
f. Erlenmeyer 100 mL
g. Gelas kimia 1000 mL
h. Gelas kimia 250 mL
i. Gelas ukur 25 mL
j. Gelas ukur 500 mL
k. Heat mantle
l. Klem dan statif
m. Kondensor
n. Labu leher 3
o. Labu ukur 250 mL
p. Mixer
q. Neraca analitik
r. Piknometer 25 mL
s. Pipet tetes
t. Pipet ukur 10 mL
u. Pipet ukur 5 mL
v. Pompa
w. Selang
x. Spatula
y. Thermometer

3.1.2 Bahan
a. Aluminium foil
b. Aquadest
c. Asam Sulfat (H2SO4) 0,5 N
d. Buffer Natrium Karbonat (Na2CO3) 5% massa katalis
e. Es batu
f. Etanol 95%
g. Formaldehid (CH2O) 37 %
h. Indikator PP
i. Katalis Amonia (NH3) 25%
j. Natrium Sulfit (Na2SO3) 2 N
k. Urea (CO(NH2)2)

3.2 Rangkaian Alat


Gambar 3.1 Rangkaian Alat Polimerisasi Urea Formaldehide

Dimana:
1. Heat mantle
2. Labu leher 3
3. Pipet ukur
4. Thermometer
5. Motor pengaduk
6. Batang pendaduk
7. Kondensor

3.3 Prosedur Percobaan


3.3.1 Polimerisasi Urea Formaldehid
a. Merangkai alat polimerisasi sesuai dengan panduan yang telah ditetapkan.
b. Memasukkan formaldehid ke dalam labu leher empat sebanyak 300 mL.
c. Menambahkan katalis amonia sebanyak 5% massa total campuran dan buffer
natrium karbonat sebanyak 5% massa katalis ke dalam labu leher 3.
d. Mengaduk campuran dengan motor berpengaduk sampai merata, setelah itu
ditetapkan sebagai sampel 0.
e. Menambahkan urea dengan rasio F/U sebesar 1,3; kemudian campuran diaduk
hingga merata dan ditetapkan sebagai sampel 1.
f. Memanaskan campuran pada suhu 80-90 °C sampai mendidih. Pada saat terjadi
refluks ditetapkan sebagai sampel 2.
g. Memanaskan kembali campuran pada suhu 80-90 °C sampai mendidih selama
15 menit, kemudian ditetapkan sebagai sampel 3.
h. Mengulangi langkah g sampai diperoleh sampel ke-n.

3.3.2 Analisa Kadar Formaldehid Bebas


a. Memasukkan 1 mL sampel ke dalam erlenmeyer 100 mL dan dilarutkan dalam 5
mL etanol 95%.
b. Menambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes.
c. Menambahkan larutan natrium sulfit 2 N sebanyak 25 mL ke dalam erlenmeyer
100 mL hingga terjadi perubahan warna dan diamkan selama 10 menit.
d. Melakukan titrasi dengan larutan asam sulfat 0,5 N hingga warna yang terbentuk
hilang.

3.3.3 Penentuan pH Campuran


a. Memasukkan 5 mL sampel ke dalam gelas kimia 100 mL.
b. Mencelupkan kertas pH ke dalam sampel.
c. Mencocokkan warna yang ada pada kertas pH dengan indikator yang tersedia
untuk menentukan pH sampel sebenarnya.

3.3.4 Penentuan Densitas


a. Menentukan volume piknometer sebenarnya dengan kalibrasi menggunakan
aquadest.
b. Menimbang piknometer kosong dan ditetapkan sebagai massa piknometer
sebenarnya.
c. Menimbang piknometer yang berisi sampel.
DAFTAR PUSTAKA

Felixon, Kandy. 2011. Penelitian Terhadap Pengembangan Penggunaan Material


Plastik (Polikarbonat) Pada Selubung Bangunan, Jurusan Arsitektur, Fakultas
Teknik Universitas Tarumanagara. Palembang.
Fessenden. 1982. Dasar-Dasar Kimia Organik. Bina Aksara, Jakarta.
Fogler, H. Scott. 2018. Essentials Of Chemical Reaction Engineering. Pearson
Education, United States of America.
Halliday, David., dkk. 1987. Fisika Dasar. Erlangga, Jakarta.
Hart, Harold., Leslie E. Craine, & David J. Hart. 2003. Kimia Organik Suatu Kuliah
Singkat. Erlangga, Jakarta.
Riswiyanto. 2011. Kimia Organik. Erlangga, Jakarta.
Tim Dosen Teknik Kimia. 2011. Modul Polimerisasi-Urea Formaldehide. Universitas
Sultan Ageng Tirtayasa, Banten.
Tim Pengajar Kimia Analis, 2015. Penuntun Praktikum Analisis Volumetri. SMKN1,
Bontang.