Anda di halaman 1dari 50

KAJIAN TEORI

A. LAPORAN PENDAHULUAN DISTOSIA


1. DEFINISI
Distosia adalah Kesulitan dalam jalannya persalinan. (Rustam
Mukhtar, 1994). Distosia adalah persalinan yang panjang, sulit atau
abnormal yang timbul akibat berbagai kondisi. (Bobak, 2004 : 784)
Definisi Distosia adalah persalinan yang sulit yang ditandai dengan
adanya hambatan kemajuan dalam persalinan (tim obstetric.FKUNPAD,
2005)
Distosia secara harfiah, berarti persalinan sulit, ditandai oleh
kemajuan persalinan yang terlalu lambat. Secara umum, persalinan
abnormal sering terjadi jika terdapat ketidakseimbangan ukuran antara
bagian presentasi janin dan jalan lahir. Distosia merupakan akibat dari
beberapa kelainan berbeda yang dapat berdiri sendiri atau kombinasi.
(Leveno, 2009)

2. ETIOLOGI
Distosia dapat disebabkan oleh :
a. Persalinan disfungsional akibat kontraksi uterus yang tidak efektif atau
akibat upaya mengedan ibu (kekuatan/power).
Sering dijumpai pada primigravida tua dan inersia uteri, pada multi
gravida, factor herediter, emosi dan kekuatan , salah pimpinan
persalinan pada kala II atau salah pemberian obat seperti oksitosin dan
obat penenang.
b. Perubahan struktur pelvis (jalan lahir/passage)
Berkaitan dengan variasi ukuran dan tulang pelvis ibu atau
keabnormalan saluran reproduksi yang dapat mengganggu dorongan
atau pengeluaran janin
c. Sebab pada janin meliputi kelainan presentasi/kelainan posisi, bayi
besar, dan jumlah bayi (passengger)
1. Posisi Bayi
a. letak sungsang disebabkan oleh prematuritas karena bentuk
rahim relative kuranglonjong, air ketuban masih banyak dan
kepala relative besar, hidramion anak mudah bergerakserta
plasenta previa. Karena mengahalangi turunnya kepala kedalam
pintu atas panggul, bentuk rahim yang abnormal, kelainan bentuk
kepala seperti anensefalus dan hidrosefalus (obsteri patologi)
b. letak lintang disebabkan oleh Fiksasi kepala tidak ada indikasi
CPD, hidrosefalus, ansefalus, plasenta previa, dan tumor pelvis ,
janin mudah bergerak karena hidramion, multiparitas,
pertumbuhan janin terhambat, atau janin mati, gemeli, kelainan
uterus, lumbar skoliosis, monster, pelvic kidney,dan kandung
kemih serta rectum penuh.
2. Kelainan Janin
1. Bayi besar
a. Diabetes mellitus
DM mengakibatkan ibu melahirkan bayi besar dengan berat lahir
mencapai 4000-5000 gram atau lebih
b. Keturunan
Seorang ibu gemuk berisiko 4 sampai 12 kali untuk melahirkan bayi
besar
c. Multiparitas dengan riwayat makrosomia sebelumnya
Bila bumil punya riwayat melahirkan bayi makrosomia sebelumnya,
maka ia berisiko 5-10 kali lebih tinggi untuk kembali melahirkan
makrosomia dibandingkan wanita yang belum pernah melahirkan bayi
makrosomia karena umumnya berat seorang bayi yang akan lahir
berikutnya bertambah sekitar 80-120 gr.
d. Hydrochepalus
Terjadi penyumbatan aliran cairan serebrospinal pada salah satu
tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan
tempat absorpsi dalam ruang subaraknoid.
e. Anensefalus
Disebabkan factor mekanik, factor infeksi, factor obat, factor umur
ibu, factor hormonal.
f. Kembar siam
Terjadi apabila Zigot dari bayi kembar identik gagal terpisah secara
sempurna. karena terjadinya pemisahan yang lambat, maka pemisah
anak tidak sempurna dan terjadi kembar siam (UNPAD 1998).
g. Gawat janin
a) infusiensi uteruplasenter akut (kurangnya aliran darah uterus
plasenta dalam waktu singkat) berupa aktivitas uterus, yang
berlebihan, dapat dihubungkan dengan pemberian oksitosin,
hipotensi ibu, kompresi venakava , posisi terlentang, perdarahan
ibu, solusio plasenta, plasenta previa.
b) Infusiensi uteruplasenter kronik (kurang aliran darah uterus
plasenta dalam waktu lama) berupa penyakit hipertensi
c) Diabetes melliltus, pada ibu penderita DM maka kemungkinan
pada bayi akan mengalami hipoglikemia karena pada ibu yg
diabetes mengalami gangguan penyerapan glukosa, dan dan
seringkali disertai hipoksia.
d) Isoimunisasi rh, postmaturnitas atau dismaturnitas, kompresi
(penekanan)tali pusat.
d. Respons psikologis ibu terhadap persalinan yang berhubungan dengan
pengalaman, persiapan, budaya, serta sistem pendukung
4. KLASIFIKASI DISTOSIA
a. Persalinan Disfungsional ( Distosia karena Kelainan Kekuatan atau His)
Persalinan disfungsional adalah kontraksi uterus abnormal yang
menghambat kemajuan dilatasi serviks normal, kemajuan
pendataran/effacement (kekuatan primer), dan atau kemajuan
penurunan (kekuatan sekunder). Gilbert (2007) menyatakan beberapa
faktor yang dicurigai dapat meningkatkan resiko terjadinya distosia
uterus sebagai berikut:
1. Bentuk tubuh (berat badan yang berlebihan, pendek)
2.  Kondisi uterus yang tidak normal (malformasi kongenital, distensi
yangberlebihan, kehamilan ganda, atau hidramnion)
3. Kelainan bentuk dan posisi janin
4.  Disproporsi cephalopelvic (CPD)
5. Overstimulasi oxytocin
6. Kelelahan, dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit, dan
kecemasan
7. Pemberian analgesik dan anastetik yang tidak semestinya
Kontraksi uterus abnormal terdiri dari disfungsi kontraksi
uterus primer (hipotonik)  dan disfungsi kontraksi uterus sekunder
(hipertonik).
1. Disfungsi Hipotonik
Perempuan yang semula membuat kemajuan normal tahap
kontraksi persalinan aktif akan menjadi lemah dan tidak efisien,
atau berhenti sama sekali.
Uterus mudah “indented”, bahkan pada puncak kontraksi.
Tekanan intrauterin selama kontraksi (biasanya kurang dari 25
mmHg) tidak mencukupi untuk kemajuan penipisan serviks dan
dilatasi. CPD dan malposisi adalah penyebab umum dari jenis
disfungsi dari uterus.
HIS bersifat biasa dalam arti bahwa fundus berkontraksi
lebih kuat dan lebih dahulu daripada bagian lain, kelainannya
terletak dalam hal bahwa kontraksi uterus lebih aman, singkat, dan
jarang daripada biasa. Keadaan umum penderita biasanya baik dan
rasa nyeri tidak seberapa. Selama ketuban masih utuh umumnya
tidak banyak bahaya baik bagi ibu ataupun janin. Apabila his
terlampau kuat maka akan terjadi disfungsi hipertonik

2. Disfungsi Hipertonik
Ibu yang mengalami kesakitan/ nyeri dan frekuensi
kontraksi tidak efektif menyebabkan dilatasi servikal atau
peningkatan effacement. Kontraksi ini biasa terjadi pada tahap
laten, yaitu dilatasi servikal kurang dari 4 cm dan tidak
terkoordinasi. Kekuatan kontraksi pada bagian tengah uterus lebih
kuat dari pada di fundus, karena uterus tidak mampu menekan
kebawah untuk mendorong sampai ke servik. Uterus mungkin
mengalami kekakuan diantara kontraksi (Gilbert, 2007).
Distosia servikalis sekunder disebabkan oleh kelainan
organik pada servik, misalnya karena jaringan parut atau
karsinoma. Dengan HIS kuat serviks bisa robek, dan robekan ini
bisa menjalar ke bagian bawah uterus. Oleh karena itu setiap
wanita yang pernah mengalami operasi pada serviks selalu harus
diawasi persalinannya di rumah sakit. Kondisi distosia ini jarang
ditemukan kecuali pada wanita yang tidak diberi pengawasan yang
baik waktu persalinan.
Perbedaan antara Disfungsi Hipertonik dan Disfungsi Hipotonik
Disfungsi Hipertonik Disfungsi Hipotonik
Kontraksi
·        -Tidak teratur dan tidak ·        -Terkoordinasi tetapi lemah
terorganisasi ·       - Frekuensi kurang dan pendek
·        -Intensitas lemah dan selama durasi kontraksi
pendek, tetapi nyeri dan kram ·        -Ibu mungkin kurang nyaman
karena kontraksi lemah

Uteri resting tone ·        -Tidak meningkat


·        -Diatas normal, hampir sama
dengan karakteristik ablusio
plasenta.
-Aktif, biasanya terjadi setelah
Fase persalinan dilasi 4 cm
·        -Laten, terjadi sebelum ·        - Lebih sering terjadi dari pada
dilasi 4 cm. hipertonik
·         -Lebih jarang terjadi
daripada hypotonik disfungsi - Amniotomy
·        - Augmentasi oksitoksin
Manajemen terapeutik ·        - seksio sesaria jika tidak ada
·        -Koreksi penyebab jika bisa peningkatan
diidentifikasi
·        -Pemberian obat penenang
untuk bisa beristirahat
·        -Hidrasi
·        -Tocolytics untuk
mengurangi “high uterine
tone” dan promoteperfusi ·         -Intervensi berhubungan dengan
plasenta amniotomy dan augmentasi
oksitosin.
Nursing Care ·         -Mendorong perubahan posisi.
·      - Promote aliran darah uterus ·         -Ambulasi jika tidak
·      -Promote  istirahat, kontraindikasi dan bisa diterima
kenyamanan, dan relaksasi oleh ibu
·      -Menghilangkan nyeri ·         -Dukungan emosional: jelaskan
·      -Dukungan emosional: tindakan yang diambil untuk
terima kenyataan tentang nyeri meningkatkan ketidakefektifan
dan frustasi. Jelaskan alasan kontraksi. Libatkan anggota
tindakan untuk menyelesaikan keluarga dalam mendukung emosi
persalinan abnormal, tujuan ibu untuk mengurangi kecemasan
dan akibat yang dipresiksi.
3. His yang tidak terkordinasi
Adalah His yang sifatnya berubah-ubah. Tonus otot uterus
meningkat juga di luar His dan kontraksinya tidak berlangsung
seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi antara kontraksi. Tidak
adanya kordinasi antara kontraksi bagian atas, tengah dan bawah
menyebabkan His tidak efisien dalam mengadakan pembukaan.
Tonus otot yang meningkat menyebabkan rasa nyeri yang
lebih keras dan lama bagi ibu dan dapat pula menyebabkan
hipoksia pada janin. His sejenis ini disebut juga Ancoordinat
Hipertonic Uterine Contraction.
b. Distosia karena Kelainan jalan lahir
1. Karena struktur pelvis.
Jenis-jenis panggul:
- Panggul Ginekoid
Pintu atas panggul bundar dengan diameter transversa yang
lebih panjang sedikit daripada diameter anteroposterior dan
dengan panggul tengah dan pintu bawah panggul yang cukup
luas.
- Panggul Antropoid
Diameter anteroposterior yang lebih panjang dari diameter
transversa dengan arkus pubis menyempit sedikit
- Panggul Android
Pintu atas panggul yang berbentuk sebagai segitiga berhubungan
dengan penyempitan kedepan, dengan spina iskiadika menonjol
kedalam dan arkus pubis menyempit.
- Panggul Platypello
Diameter anteroposterior yang jelas lebih pendek daripada
diameter transversa pada pintu atas panggul dengan arkus pubis
yang luas.
Distosia pelvis dapat terjadi bila ada kontraktur diameter pelvis
yang mengurangi kapasitas tulang panggul, termasuk pelvis inlet
(pintu atas panggul), pelvis bagian tengah,pelvis outlet (pintu
bawah panggul),  atau kombinasi dari ketiganya. Disproporsi pelvis
merupakan penyebab umum dari distosia. Kontraktur pelvis
mungkin disebabkan oleh ketidak normalan kongenital, malnutrisi
maternal, neoplasma atau kelainan tulang belakang.
Ketidakmatangan ukuran pembentukan pelvis pada beberapa ibu
muda dapat menyebabkan distosia pelvis.
2. Kesempitan pada pintu atas panggul
Kontraktur pintu atas panggul terdiagnosis jika diagonal
konjugata kurang dari 11,5 cm. Insiden pada bentuk wajah dan
bahu meningkat. Karena bentuk interfere dengan engagement dan
bayi turun, sehingga beresiko terhadap prolaps tali pusat.

3. Kesempitan panggul tengah


Pada panggul tengah yang sempit, lebih sering ditemukan
posisi oksipitalis posterior persisten atau posisi kepala dalam posisi
lintang tetap.
4. Kesempitan pintu bawah panggul
Agar kepala janin dapat lahir, diperlukan ruangan yang
lebih besar pada bagian belakang pintu bawah panggul. Dengan
distansi tuberum bersama dengan diameter sagittalis posterior
kurang dari 15 cm, timbul kemacetan pada kelahiran janin ukuran
normal.
5. Kelainan traktus ginetalis
c. Vulva
Kelainan pada vulva yang menyebabkan distosia adalah edema,
stenosis, dan Edema biasanya timbul sebagai gejala
preeklampsia dan terkadang karena gangguan gizi. Pada
persalinan jika ibu dibiarkan mengejan terus jika dibiarkan dapat
juga mengakibatkan edema. Stenosis pada vulva terjadi akibat
perlukaan dan peradangan yang menyebabkan ulkus dan
sembuh  dengan parut-parut yang menimbulkan
kesulitan.  Tumor dalam neoplasma jarang ditemukan. Yang
sering ditemukan kondilomata akuminata, kista, atau abses
glandula bartholin.
d. Vagina
Yang sering ditemukan pada vagina adalah septum vagina,
dimana septum ini memisahkan vagina secara lengkap atau tidak
lengkap dalam bagian kanan dan bagian kiri. Septum lengkap
biasanya tidak menimbulkan distosia karena bagian vagina yang
satu umumnya cukup lebar, baik untuk koitus maupun untuk
lahirnya janin. Septum tidak lengkap kadang-kadang menahan
turunnya kepala janin pada persalinan dan harus dipotong
terlebih dahulu. Stenosis vagina yang tetap kaku dalam
kehamilan merupakan halangan untuk lahirnya bayi, perlu
dipertimbangkan seksio sesaria. Tumor vagina dapat menjadi
rintangan pada lahirnya janin per vaginam
e. Servik uteri
Konglutinasio orivisii externi merupakan keadaan dimana pada
kala I servik uteri menipis akan tetapi pembukaan tidak terjadi,
sehingga merupakan lembaran kertas dibawah kepala
janin. Karsinoma servisis uteri, merupakan keadaan yang
menyebabkan distosia.
f. Uterus
Mioma uteri merupakan tumor pada uteri yang dapat
menyebabkan distosia apabila mioma uteri menghalangi
lahirnya janin pervaginam, adanya kelainan letak janin yang
berhubungan dengan mioma uteri, dan inersia uteri yang
berhubungan dengan mioma uteri.
g. Ovarium
Distosia karena tumor ovarium terjadi apabila menghalangi
lahirnya janin pervaginam. Dimana tumor ini terletak pada
cavum douglas. Membiarkan persalinan berlangsung lama
mengandung bahaya pecahnya tumor atau ruptura uteri atau
infeksi intrapartum.
c. Distosia karena kelainan letak dan bentuk janin, Kelainan letak,
presentasi atau posisi
- Posisi oksipitalis posterior persisten
Pada persalinan persentasi belakang kepala, kepala janin turun
melalui pintu atas panggul dengan sutura sagittalis melintang atau
miring sehingga ubun-ubun kecil dapat berada di kiri melintang,
kanan melintang, kiri depan, kanan depan, kiri belakang atau kanan
belakang. Namun keadaan ini pada umumnya tidak akan terjadi
kesulitan perputarannya kedepan, yaitu bila keadaan kepala janin
dalam keadaan fleksi dan panggul mempunyai bentuk serta ukuran
normal. Penyebab terjadinya posisi oksipitalis posterior persisten
ialah usaha penyesuaian kepala terhadap bentuk dan ukuran
panggul.
- Presentasi puncak kepala
Kondisi ini kepala dalam keaadaan defleksi. Berdasarkan
derajat defleksinya maka dapat terjadi presentasi puncak kepala,
presentasi dahi atau presentasimuka. Presentasi puncak kepala
(presentasi sinsiput) terjadi apabila derajat defleksinya ringan
sehingga ubun-ubun besar berada dibawah. Keadaan ini merupakan
kedudukan sementara yang kemudian berubah menjadi presentasi
belakang kepala.
- Presentasi muka
Persentasi muka terjadi bila derajat defleksi kepala maksimal
sehingga muka bagian terendah. Kondisi ini dapat terjadi pada
panggul sempit atau janin besar. Multiparitas dan perut gantung
juga merupakan faktor yang menyebabkan persentasi muka.

- Presentasi dahi
Presentasi dahi adalah bila derajat defleksi kepalanya lebih berat,
sehingga dahi merupakan bagian yang paling rendah. Kondisi ini
merupakan kedudukan yang bersifat sementara yang kemudian
berubah menjadi presentasi muka atau presentasi belakang
kepala. Penyebab terjadinya kondisi ini sama dengan presentasi
muka.
- Presentasi bahu adalah ketika bahu, lengan atau tangan
keluar pertama pada saat partus. Jenis presentasi ini jarang
terjadi, kurang dari 1% kasus dan lebih umum pada
kelahiran prematur atau kehamilan kembar.

- Letak sungsang
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak
memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada
dibawah cavum uteri. Beberapa jenis letak sungsang yakni :

o Presentasi bokong
Pada presentasi bokong, akibat ekstensi kedua sendi lutut,
kedua kaki terangkat keatas sehingga ujungnya terdapat setinggi
bahu atau kepala janin. Sehingga pada pemeriksaan dalam hanya
dapat diraba bokong.
 Presentasi bokong kaki sempurna
Disamping bokong dapat diraba kedua kaki.
 Presentasi bokong kaki tidak sempurna
Hanya terdapat satu kaki disamping bokong sedangkan kaki
yang lain terangkat keatas.
 Presentasi kaki
Pada presentasi kaki bagian paling rendah adalah satu atau dua
kaki.

- Letak lintang
Letak lintang ialah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam
uterus dengan kepala pada sisi yang satu sedangkan bokong berada
pada sisi yang lain. Pada umumnya bokong berada sedikit lebih
tinggi daripada kepala janin, sedangkan bahu berada pada pintu
atas panggul. Punggung janin berada di depan, di belakang, di atas,
atau di bawah.

- Presentasi ganda
Keadaan dimana disamping kepala janin di dalam rongga panggul
dijumpai tangan, lengan/kaki, atau keadaan dimana disamping
bokong janin dijumpai tangan.

- Kelainan bentuk janin


1. Pertumbuhan janin yang berlebihan
Yang dinamakan bayi besar ialah bila berat badannya
lebih dari 4000 gram. Kepala dan bahu tidak mampu
menyesuaikannya ke pelvis, selain itu distensi uterus oleh janin
yang besar mengurangi kekuatan kontraksi selama persalinan
dan kelahirannya. Pada panggul normal, janin dengan berat
badan 4000-5000 gram pada umumnya tidak mengalami
kesulitan dalam melahirkannya.
2. Hidrosefalus
Hidrosefalus adalah keadaan dimana terjadi penimbunan 
cairan serebrospinal dalam ventrikel otak, sehingga kepala
menjadi besar sehingga terjadi pelebaran sutura-sutura dan
ubun-ubun. Hidrosefalus akan menyebabkan disproporsi
sefalopelvic
3. Kelainan bentuk janin yang lain
a. Janin kembar melekat (double master)
Torakopagus (pelekatan pada dada) merupakan janin kembar
melekat yang paling sering menimbulkan kesukaran persalinan.

b. Janin dengan perut besar


Pembesaran perut yang menyebabkan distocia, akibat dari
asites atau tumor hati, limpa, ginjal dan ovarium jarang sekali
dijumpai.
4. Prolapsus funikuli
Keadaan dimana tali pusat berada disamping atau
melewati bagian terendah janin didalam jalan lahir setelah
ketuban pecah. Pada presentasi kepala, prolaksus funikuli sangat
berbahaya bagi janin, karena setiap saat tali pusat dapat terjepit
antara bagian terendah janin dengan jalan lahir dengan akibat
gangguan oksigenasi. Prolaksus funikuli dan turunnya tali pusat
disebabkan oleh gangguan adaptasi bagian bawah janin terhadap
panggul, sehingga pintu atas panggul tidak tertutup oleh bagian
bawah janin.

d. Distosia karena respon psikologis


Stress yang diakibatkan oleh hormon dan neurotransmitter
(seperti catecholamines) dapat menyebabkan distosia. Sumber stress
pada setiap wanita bervariasi, tetapi nyeri dan tidak adanya dukungan
dari seseorang merupakan faktor penyebab stress.
Cemas yang berlebihan dapat menghambat dilatasi servik secara
normal, persalinan berlangsung lama, dan nyeri meningkat. Cemas juga
menyebabkan peningkatan level strees yang berkaitan dengan hormon
(seperti: β endorphin, adrenokortikotropik, kortisol, dan epinephrine).
Hormon ini dapat menyebabkan distosia karena penurunan kontraksi
uterus.

5. MANIFESTASI KLINIK
a. Ibu :
1. Gelisah
2. Letih
3. Suhu tubuh meningkat
4. Nadi dan pernafasan cepat
5. Edem pada vulva dan servik
6. Bisa jadi ketuban berbau
b.    Janin
1. DJJ cepat dan tidak teratur
2. Distress janin
3. Keracunan mekonium.
c. Gejala lain :
1. Dapat dilihat dan diraba,perut terasa membesar kesamping.
2. Pergerakan janin pada bagian kiri lebih dominan.
3. Nyeri hebat dan janin sulit dikeluarkan.
4. Terjadi distensi berlebihan pada uterus.
5. Dada teraba seperti punggung, belakang kepala terletak
berlawanan dengan letak dada, teraba bagian-bagian kecil dan
denyut jantung janin terdengar leih jelas pada dada

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. MRI
Menggunakan kekuatan magnet dan gelombang radio. Signal
dari medan magnet memantulkan gambaran tubuh dan mengirimkannya
ke computer, dimana yang kemudian akan ditampilkan dalam bentuk
gambar. Tidak seperti X-ray dan CT-scan yang menggunakan radiasi.
Namun penggunaan MRI masih terbatas dikarenakan biaya mahal,
waktu pemeriksaan yang sulit dan lama, serta ketersediaan alat.
Kegunaannya :
- pelvimetri yang akurat
- gambaran fetal yang lebih baik
- gambaran jaringan lunak di panggul yang dapat menyebabkan
distosia
b. USG
Menggunakan gelombang suara yang dipantulkan untuk
membentuk gambaran bayi di layar komputer yang aman untuk bayi
dan ibu.
Kegunaan :
- Menilai pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan.
- Masalah dengan plasenta. USG dapat menilai kondisi plaasenta dan
menilai adanya masalah2 seperti plasenta previa dsb.
- Kehamilan ganda/ kembar. USG dapat memastikan apakah ada 1 /
lebih fetus di rahim.
- Kelainan letak janin. Bukan saja kelainan letak janin dalam rahim
tapi juga banyak kelainan janin yang dapat di ketahui dengan USG,
seperti: hidrosefalus, anesefali, sumbing, kelainan jantung, kelainan
kromoson (syndrome down), dll.
- Dapat juga untuk menilai jenis kelamin bayi jika anda ingin
mengetahuinya.

7. PENATALAKSANAAN DISTOSIA PERSALINAN


 Penanganan Umum
- Nilai dengan segera keadaan umum ibu dan janin
- Lakukan penilaian kondisi janin : DJJ
- Kolaborasi dalam pemberian :
 Infus RL dan larutan NaCL isotanik (IV)
 Berikan analgesia berupa tramandol/ peptidin 25 mg
(IM) atau morvin 10 mg (IM)
- Perbaiki keadaan umum
- Dukungan emosional dan perubahan posisi
- Berikan cairan
 Penanganan Khusus
1. Kelainan His
- TD diukur tiap 4 jam
- DJJ tiap 1/2 jam pada kala I dan tingkatkan pada kala II
- Pemeriksaan dalam : VT
- Infus RL 5% dan larutan NaCL isotonic (IV)
- Berikan analgetik seperti petidin, morfin
- Pemberian oksitosin untuk memperbaiki his
2. Kelainan letak dan bentuk janin
- Pemeriksaan dalam
- Pemeriksaan luar
- MRI
- Jika sampai kala II tidak ada kemajuan dapat dilakukan seksio
sesaria baik primer pada awal persalinan maupun sekunder
pada akhir persalinan
3. Kelainan jalan lahir
- Persalinan percobaan
Setelah pada panggul sempit berdasarkan pemeriksaan yang
teliti pada hamil tua diadakan penilaian tentang bentuk serta
ukuran-ukuran panggul dalam semua bidang dan hubungan
antara kepala janin dan panggul, dan setelah dicapai
kesimpulan bahwa ada harapan bahwa persalinan dapat
berlangsung per vaginam dengan selamat, dapat diambil
keputusan untuk menyelenggarakan persalinan percobaan.
Dengan demikian persalinan ini merupakan suatu test terhadap
kekuatan his dan daya akomodasi, termasuk moulage kepala
janin; kedua fakto ini tidak dapat diketahui sebelum persalinan
berlangsung selama beberapa waktu. Pemilihan kasus-kasus
untuk persalinan percobaan harus dilakukan dengan cermat. Di
atas sudah dibahas indikasi-indikasi untuk seksio sesarea
elektif; keadaan-keadaan ini dengan sendirinya merupakan
kontra indikasi untuk persalinan percobaan. Selain itu, janin
harus berada dalam presentasi kepala dan tuanya kehamilan
tidak lebih dari 42 minggu. Karena kepala janin bertambah
besar serta lebih sukar mengadakan moulage, dan berhubung
dengan kemungkinan adanya disfungsi plasenta, janin
mungkin kurang mampu mengatasi kesukaran yang dapat
timbul pada persalinan percobaan. Perlu disadari pula bahwa
kesempitan panggul dalam satu bidang, seperti pada panggul
picak, lebih menguntungkan daripada kesempitan dalam
beberapa bidang.
- Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
 Pengawasan terhadap keadaan ibu dan janin. Pada
persalina yang agak lama perlu dijaga agar tidak terjadi
dehidrasi dan asidosis.
 Pengawasan terhadap turunnya kepala janin dalam
rongga panggul. Karena kesempitan pada panggul tidak
jarang dapat menyebabkan gangguan pada pembukaan
serviks.
 Menentukan berapa lama partus percobaan dapat
berlangsung.

- Simfisiotomi
Simfisotomi ialah tindakan untuk memisahkan tulang panggul
kiri dari tulang panggul kanan pada simfisis agar rongga
panggul menjadi lebih luas. Tindakan ini tidak banyak lagi
dilakukan karena terdesak oleh seksio sesarea. Satu-satunya
indikasi ialah apabila pada panggul sempit dengan janin masih
hidup terdapat infeksi intrapartum berat, sehingga seksio
sesarea dianggap terlalu berbahaya.
- Kraniotomi
Pada persalinan yang dibiarkan berlarut-berlarut dan dengan
janin sudah meninggal, sebaiknya persalina diselesaikan
dengan kraniotomi dan kranioklasi. Hanya jika panggul
demikian sempitnya sehingga janin tidak dapat dilahirkan
dengan kraniotomi, terpaksa dilakukan seksio sesarea.
- Seksio sesarea
Seksio sesarea dapat dilakukan secar elektif atau
primer, yakni sebelum persalinan mulai atau pada awal
persalinan, dan secara sekunder, yakni sesudah persalinan
berlangsung selama beberapa waktu. Seksio sesarea elektif
direncanakan lebih dahulu dan dilakukan pada kehamilan
cukup bulan karena kesempitan panggul yang cukup berat,
atau karena terdpat disproporsi sefalopelvik yang nyata. Selain
itu seksio tersebut diselenggarakan pada kesempitan ringan
apabila ada factor-faktor lain yang merupakan komplikasi,
seperti primigrvida tua, kelainan letak janin yang tidak dapat
diperbaiki, kehamilan pada wanita yang mengalami masa
infertilitas yang lama, penyakit jantung dan lain-lain.
Seksio sesarea sekundar dilakukan karena persalinan
percobaan dianggap gagal, atau karena timbul indikasi untuk
menyelesaikan persalinan selekas mungkin, sedang syarat-
syarat untuk persalinan per vaginam tidak atau belum
dipenuhi.

8. KOMPLIKASI DISTOSIA
 Komplikasi Maternal
1. Perdarahan pasca persalinan
2. Robekan perineum derajat III atau IV
3. Rupture Uteri
 Komplikasi Fetal
1. Fraktura Clavicle
2. Kematian janin
3. Hipoksia janin , dengan atau tanpa kerusakan neurololgis
permanen
4. Fraktura humerus
B. KERANGKA KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN DISTOSIA
1. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, agama,
suku/bangsa.
2. Keluhan utama : proses persalinan yang lama menyebabkan adanya
keluhan nyeri dan cemas.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Dahulu
Yang perlu dikaji pada klien, biasanya klien pernah mengalami
distosia sebelumnya, biasanya ada penyulit persalinan
sebelumnya seperti hipertensi, anemia, panggul sempit, biasanya
ada riwayat DM, biasanya ada riwayat kembar dll.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya dalam kehamilan sekarang ada kelainan seperti :
Kelainan letak janin (lintang, sunsang dll) apa yang menjadi
presentasi dll.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah dalamkeluarga ada yang menderita penyakit kelainan
darah, DM, eklamsi dan pre eklamsi
4. Pengkajian pola fungsional
 Aktifitas/istirahat
Melaporkan keletihan,kurang energi,letargi,penurunan penampilan
 Sirkulasi
Tekanan darah dapat meningkat,mungkin menerima magnesium
sulfat untu hipertensi karena kehamilan
 Eliminasi
Distensi usus atau kandng kemih yang mungkin menyertai
 Integritas ego
sangat cemas dan ketakutan
 Nyeri atau ketidaknyamanan
Mungkin menerima narkotika atau anastesi pada awal proses
kehamilan,kontraksi jarang,dengan intensitas ingan sampa
sedang,dapat terjadi sebelum awitan persalinan atau sesudah
persalinan terjadi,fase laten dapat memanjang,
 Keamanan
Serviks mungkin kaku atau tidak siap,pemerisaan vagina dapat
menunjukkan janin dalam malposisi,penurunan janin mungkin
kurang dari 1 cm/jam pada nulipara atau kurang dari 2 cm/jam pada
mutipara bahkan tidak ada kemajuan.,dapat mengalami versi
eksternal setelah getasi 34 minggu dalam upaya untuk mengubah
presentasi bokong menjadi presentasi kepala.
 Seksualitas
Dapat primigravida atau grand multipara,uterus mungkin distensi
berlebihan karena hidramnion,gestasi multipel.janin besar atau grand
multiparis.

5. Pemeriksaan Fisik
 Kepala
rambut tidak rontok, kulit kepala bersihtidak ada ketombe
 Mata
Biasanya konjungtiva anemis
 Thorak
Inpeksi pernafasan : Frekuensi, kedalam, jenis pernafasan, biasanya
ada bagian paru yang tertinggal saat pernafasan
 Abdomen
Kaji his (kekuatan, frekuensi, lama), biasanya his kurang semenjak
awal persalinan atau menurun saat persalinan, biasanya posisi, letak,
presentasi dan sikap anak normal atau tidak, raba fundus keras atau
lembek, biasanya anak kembar/ tidak, lakukan perabaab pada
simpisis biasanya blas penuh/ tidak untuk mengetahui adanya
distensi usus dan kandung kemih.
 Vulva dan Vagina
Lakukan VT : biasanya ketuban sudah pecah atau belum, edem pada
vulva/ servik, biasanya teraba promantorium, ada/ tidaknya
kemajuan persalinan, biasanya teraba jaringan plasenta untuk
mengidentifikasi adanya plasenta previa
 Panggul
 Lakukan pemeriksaan panggul luar, biasanya ada kelainan
bentukpanggul dan kelainan tulang belakang

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b/d tekanan kepala pada servik, partus lama, kontraksi
tidak efektif
2. Resiko tinggi cedera terhadap maternal(ibu) b/d penurunan tonus
otot/poa kontraksi otot, obstruksi mekanis pada penurunan janin,
keletihan maternal.
3. Resiko tinggi kekurangan cairan b/d hipermetabolisme, muntah,
pembatasan masukan cairan
4. Resiko tinggi infeksi b/d rupture membrane, tindakan invasive
5. Cemas b/d persalinan lama

3. INTERVENSI
1. Nyeri akut b/d tekanan kepala pada servik, partus lama, kontraksi
tidak efektif
Tujuan : Kebutuhan rasa nyaman terpenuhi/ nyeri berkurang
Kriteria :
- Klien tidak merasakan nyeri lagi
- Klien tampak rilek
- Kontraksi uterus efektif
- Kemajuan persalinan baik
Intervensi :
1. Tentukan sifat, lokasi dan durasi nyeri, kaji kontraksi uterus,
hemiragic dan nyeri tekan abdomen.
R/ Membantu dalam mendiagnosa dan memilih tindakan,
penekanan kepala pada servik yang berlangsung lama akan
menyebabkan nyeri
2. Kaji intensitas nyeri klien dengan skala nyeri.
R/ Setiap individu mempunyai tingkat ambang nyeri yang
berbeda, denga skala dapat diketahui intensitas nyeri klien
3. Kaji stress psikologis/ pasangan dan respon emosional terhadap
kejadian.
R/ Ansietas sebagai respon terhadap situasi darurat dapat
memperberat derajat ketidaknyamanan karena sindrom
ketegangan takut nyeri
4. Berikan lingkungan yang nyaman, tenang dan aktivitas untuk
mengalihkan nyeri, Bantu klien dalam menggunakan metode
relaksasi dan jelaskan prosedur.
R/ Teknik relaksasi dapat mengalihkan perhatian
dan  mengurangi rasa nyeri
5. Kuatkan dukungan social/ dukungan keluarga.
R/ Dengan kehadiran keluarga akan membuat klien nyaman, dan
dapat mengurangi tingkat kecemasan dalam melewati
persalinan, klien merasa diperhatikan dan perhatian terhadap
nyeri akan terhindari
6. Kolaborasi :
- Berikan narkotik atau sedative sesuai instruksi dokter.
R/ Pemberian narkotik atau sedative dapat mengurangi
nyeri hebat
- Siapkan untuk prosedur bedah bila diindikasikan
2. Resiko tinggi cedera terhadap maternal (ibu) b/d penurunan tonus
otot/kontraksi otot, obstruksi mekanis pada penurunan janin, keletihan
maternal.
Tujuan : setelah di lakukan asuhan keperawatan selama 1x24 jam
tidak terjadi cedera pada ibu

Kriteria hasil :
- Tidak ada laserasi derajat 3 atau 4.
- Tidak ada ruptur
Intervensi :
1. Tinjau ulang riwayat persalinan,awitan dan durasi.
R/ Membantu dalam mengidentifikasi kemungkinan penyebab,
kebutuhan pemeriksaan diagnostik dan intervensi yang tepat
2. Catat waktu/jenis obat.hindari pemberian narkotik dan anastesi
blok epidural sampai serviks dilatasi 4 cm.
R/ Sedatif yang diberikan terlalu dini dapat menghambat atau
menghentikan persalinan.
3. Evaluasi tingkat keletihan yang menyertai,serta aktifitas dan
istirahat,sebelum awitan persalinan
R/ Kelelahan ibu yang berlebihan menimbulkan disfungsi
sekunder, atau mungkin akibat dari persalinan lama
4. Kaji pola kontraksi uterus secara manual atau secara elektronik.
R/ Disfungsi kontraksi dapat memperlama
persalinan,meningkakan resiko komplikasi maternal/janin
5. Catat kondisi serviks.pantau tanda amnionitis.catat peningkatan
suhu atau jumlah sel darah putih;catat bau dan rabas vagina.
R/ Serviks kaku atau tidak siap tidak akan dilatasi, menghambat
penurunan janin/kemajuan persalinan. terjadi amniositis secara
langsung dihubungkan dengan lamanya persalinan sehingga
melahirkan harus terjadi dalam 24 jam setelah pecah ketuban
6. Catat penonjolan,posisi janin dan presentase janin.
R/ Digunakan sebagai indikator dalam mengidentifikasi
persalinan yang lama
7. Anjurkan klien berkemih setiap1-2 jam.kaji terhadap penuhan
kandung kemih diatas simfisis pubis.
R/ Kandung kemih dapat menghambat aktifitas uterus dan
mempengaruhi penurunan janin
8. Tempatkan klien pada posisi rekumben lateral dan anjurkan
tirah baring atau ambulasi sesuai toleransi.
R/ Ambulasi dapat membantu kekuatan gravitasi dalam
merangsang pola persalinan normal dan dilatasi serviks
9. Bantu dengan persiapan seksio sesaria sesuai indikasi untuk
malposisi, CPD atau cincin bandl.
R/ Melahirkan seksio sesari segera diindifikasikan untuk cincin
bandl untuk distres janin karena CPD
3. Resiko kekurangan volume cairan dan elektrolit b/d status
hipermetabolik, muntah, diaforesis hebat, diuresis ringan berhubungan
dengan pemberian oksitosin.
Tujuan : setelah di lakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam
tidak terjadi defisit cairan tubuh
Kriteria hasil : - TTV di batas normal
- Kulit elastis
- CRT < 2 detik
- Mukosa lembab
- DJJ 160- 180 x/menit
Intervensi :
1. Pantau masukan dan keluaran cairan.
R/ Membandingkan apakah pemasukan dan pengeluaran
seimbang sehingga tidak terjadi dehidrasi
2. Pantau tanda vital. Catat laporan pusing pada perubahan
posisi.
R/ Peningkatan frekuensi nadi dan suhu ,dan perubahan
tekanan darah ortostatik dapat menandakan penurunan
volume sirkulasi
3. Kaji elastisitas kulit
R/ Kulit yang tidak elastis menandakan terjadi dehidrasi
4. Kaji bibir dan membran mukosa oral dan derajat saliva.
R/ Membran mukosa atau bibir yang kering dan penurunan
saliva adalah indikator lanjut dari dehidrasi
5. Perhatikan respon denyut jantung janin yang abnormal.
R/ Indikasi menunjukkan efek dehidrasi maternal dan
penurunan perfusi
6. Berikan masukan cairan adekuat melalui pemberian minuman
> 2500 liter.
R/ Pemenuhan cairan pada mengurangi dehidrasi
7. Berikan cairan secara intravena.
R/ Larutan parenteral mengandung elektrolit dan glukosa
dapat memperbaiki atau mencegah ketidakseimbangan
maternal dan janin serta apat menurunkan keletihan maternal.

ASUHAN KEPERAWATAN

Kasus :
Seorang ibu multipara G2P1A0 datang ke rumah sakit dengan keluhan merasa
kenceng-kenceng, dari hasil pengkajian perawat didapatkan data sebagai berikut :
TD 140/100 mmHg, Nadi 80x/menit, pembukaan 3 cm, klien sudah tampak
keletihan, kurang energi, fase laten memanjang 14 jam, kontraksi setiap 7 menit,
serviks kaku.

PENGKAJIAN
Identitas Klien
Nama : Ny A
Umur : 34 tahun
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan : SMA
Alamat : Pondok Bukit Agung AA-4 Sumurboto Banyumanik
Pekerjaan : Guru

1. Riwayat Kesehatan:
a. Kehamilan saat ini
Ibu multipara G2P1A0 dengan usia gestasi 37 minggu, mengalami
distosia, mengeluh kenceng-kenceng, pembukaan 3 cm, klien sudah
tampak keletihan, kurang energi, fase laten memanjang 14 jam, kontraksi
setiap 7 menit, serviks kaku, HPHT : 6 Oktober 2013, dan HPL : 13
Agustus 2014
b. Kehamilan dahulu
Klien mengatakan saat ini adalah kehamilan yang kedua, klien belum
pernah mengalami abortus.
c. Keluhan utama
Klien mengeluh kenceng-kenceng di abdomennya.
d. Riwayat Ginekologi
Menarche : 12 th
Siklus Haid : 28 hari
Teratur/ tidak teratur : Teratur
Sifat darah : Encer
Banyak : 3x ganti pembalut
Lamanya : 7 hari
Keluhan : Klien mengatakan bahwa ia mengalami
dismenorhoe
e. Riwayat Medis
Pasien mengatakan tidak pernah menderita penyakit berat seperti HIV,
diabetes, kanker, ginjal, jantung.
f. Riwayat Medis Keluarga
Saudara kandung klien pernah mengalami kesulitan melahirkan karena
kelainan HIS
g. Riwayat Pekerjaan
Klien merupakan wanita karir yang bekerja sebagai guru dan harus
menjaga toko setelah pulang bekerja.

2. Pemeriksaan Fisik
a. Umum
1) Tinggi badan : 155 cm
2) Berat badan : Sebelum : 48 Kg, Sekarang : 58 Kg
3) TTV :
a) TD : 140/100 Nadi : 80x/ menit
b) RR : 26x/ menit Suhu : 36,5 C
b. Kepala
1) Bentuk kepala Mesochepal, kepala teampak kurang bersih, tidak
terdapat cloasma gravidarum, dan atau benjolan.
2) Pemeriksaan leher tidak ditemukan pembesaran kelenjar tioroid.
3) Pemeriksaan mata tidak ada pembengkakan pada kelopak mata,
konjungtiva anemis, selaput mata pucat (anemia) karena proses
persalinan yang mengalami perdarahan, sklera kuning.
4) Telinga simetris, telinga tampak bersih dan tidak ada cairan yang
keluar dari telinga.
5) Pemeriksatidak terdapat polip pada hidung.
c. Kulit
1) Telapak kaki dan tangan tampak kemerahan
2) Jumlah keringat meningkat
3) Kulit berminyak dan berjerawat
4) Terdapat gars-garis putih pada kulit (striae gravidarum)
d. Wajah
1) Pucat
2) Bercak hiperpigmentasi kecoklatan pada pipi dan dahi (Chloasma
gravidarum).
3) Tidak terlihat adanya oedema
e. Jantung
Murmur jantung sistolik (90% pd wanita hamil) 1/6 atau 2/6 adalah ringan.
Bila murmur sistolik 2/6< harus dilakukan pemeriksaan lanjutan.
f. Dada
1) Letak payudara simetris                  
2) Hyperpigmentasi areola mamae    
3) Puting susu menonjol
4) Terdapat colostrum
5) Bunyi nafas vesikuler, jenis pernapasan thoracoabdominal
g. Abdomen
1) Inspeksi
a) Tidak terdapat bekas luka operasi
b) Terdapat Linea nigra di garis tengah perut
c) Terjadi M. Rectus abdominis terbelah kiri-kanan pada trisemester
ketiga kehamilan
d) Terdapat Striae Gravidarum
e) Bising usus berkurang
2) Palpasi
a) Tonus meningkat dan terdapat nyeri tekan
b) Terdapat strie gravidarum (garis yang terlihat pada kulit perut
wanita hamil).
c) Leopold I :-
d) Leopold II :  Sering dijumpai kesalahan letak
e) Leopold III : Bagian terbawah janin belum turun, letak
kepala biasanya kepala masih goyang atau terapung(floating) atau
mengolak diatas pintu atas panggul.
f) Leopold IV : Kepala janin belum masuk pintu atas
panggul
3) Perkusi :Reflek lutut +/+
h. Genitalia
1) Tidak terdapat kelainan genetalia, terdapat pengeluaran air ketuban,
adanya kelainan letak anak.
2) Pengkajian genitalia eksterna:warna kemerahan dan peningkatan
vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda Chandwick ).
3) Pengkajian vagina dan serviks: tidak adanya rabas vagina, servisitis
mukopurulen dan lesi.

i. Dengan inersia sekunder


1) Subjektif : Pada keluhan utama : perut mules bagian bawah dan
menjalar sampai kepinggang disertai pengeluaran lendir campur darah
dari alat kelamin ibu
2) Objektif : perut kenceng-kenceng bagian bawah dan menjalar ke
pinggang serta his tidak teratur dengan frekuensi 1 x dalam 7 menit
dengan lama 32 detik
3) Anemia ringan
a) Subjektif : ibu mengeluh pusing dan badan lemas
b) Objektif  : konjungtiva pucat, kuku agak pucat
c) Penunjang : Hb 9,5 gr%
4) Janin tunggal hasil pemeriksaan leopold 1 – IV : teraba 1 bokong, 1
bagian besar di bagian kanan di bagian kanan dan 1 kepala
5) Janin hidup : hasil pemeriksaan DJJ + : 150 x/ menit
6) Presentasi kepala
hasil pemeriksaan Leopold I – IV : bagian terbawah janin teraba bulat,
keras dan melenting
j. Anus
Tidak terdapat oedema dan nyeri, tidak ada haemoroid pada rectum.
2. Pengkajian Kebutuhan Dasar Manusia
a. Aktivitas/istrahat
1) Melaporkan keletihan, kurang energi
2) Letargi, penurunan penampilan
b. Sirkulasi
1) Tekanan darah dapat meningkat
2) Mungkin menerima magnesium sulfat untuk hipertensi karena
kehamilan
c. Eliminasi
Distensi usus atau kandung kemih
d. Integritas ego
Sangat cemas dan ketakutan
e. Nyeri/ketidaknyamanan
1) Klien menunjukan persalinan palsu di rumah
2) Kontraksi jarang, dengan intensitas ringan sampai sedang (kontraksi
setiap 7 menit sekali)
3) Dapat terjadi sebelum awitan persalinan (diasfungsi fase laten primer)
atau setelah persalinan terjadi (disfungsi fase aktif sekunder)
4) Fase laten persalinan dapat memanjang : pembukaan 3 dalam 14 jam
5) Tonus istrahat miometrial mungkin 8 mm Hg atau kurang dan
kontraksi dapat terukur kurang dari 30 mm Hg atau dapat terjadi
masing-masing lebih dari 5 menit. Sedangkan, tonus istrahat dapat
lebih besar dari 15 mm Hg, pada peningkatan kontraksi 50 sampai 85
mm Hg dengan peningkatan frekuensi dan penurunan intensitas.
f. Keamanan
1) Dapat mengalami versi eksternal setelah gestasi 34 minggu dalam
upaya untuk mengubah presentasi bokong menjadi presentasi kepala.
2) Penurunan janin mungkin kurang dari 1 cm/jam pada nulipara atau
kurang dari 2 cm/jam pada multipara (penurunan dengan durasi yang
lebih lama (protracted). Tidak ada kemajuan yang terjadi dalam 1 jam
atau lebih untuk nulipara atau dalam 30 menit pada multipara
(penghentian penurunan)
3) Serviks kaku/tidak siap.
4) Dilatasi kurang dari 1,2 cm/jam pada primipara atau kurang dari 1,5
cm/jam untuk multipara, pada (fase aktif protraksi)
g. Seksualitas
1) Dapat primigravida atau grand multipara
2) Uterus mungkin distensi berlebihan karena hidramnion, gestasi
multipel, janin besar, atau grand multriparitis.
3) Dapat mengalami tumor uterus tidak teridentifikasi.
h. Nutrisi dan cairan
Klien mengalami penurunan nafsu makan (1 kali/ hari), frekuensi minum
klien juga mengalami penurunan (3 gelas/ 8 jam). Klien mengalami
pengeluaran air ketuban yang banyak.
i. Nyeri
Gangguan ketidaknyamanan dan nyeri pada daerah pinggang karena
kontraksi intermiten sampai regular yang jaraknya kurang dari 10 menit
selama paling sedikit 30 detik dalam 30-60 menit. Skala nyeri klien adalah
9, durasi dan awitan nyeri yang dialami klien setiap 7 menit sekali saat
kontraksi dan berakhir setelah kontraksi.
j. Personal Hygiene
Klien mandi 1x/ hari, sikat gigi 2x/ hari
k. Seksualitas
Biasanya terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan
seksual atau fungsi dari seksual yang tidak adekuat karena keterbatasan
gerak ibu hamil, menurunan libido.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan tekanan kepala pada servik, partus lama,
kontraksi tidak efektif
2. Resiko tinggi cedera terhadap maternal (ibu) berhubungan dengan
penurunan tonus otot/poa kontraksi otot, obstruksi mekanis pada
penurunan janin, keletihan maternal.
3. Ansietas berhubungan dengan persalinan lama

ANALISA DATA
No Data focus Masalah keperawatan
1. DS : Nyeri akut berhubungan
 Pasien mengeluh kenceng-kenceng di dengan tekanan kepala
abdomennya pada servik, partus lama,
 Pasien mengeluh perut mules bagian kontraksi tidak efektif
bawah dan menjalar ke pinggang
DO :
 Klien mengalami kontraksi intermiten
sampai regular setiap 7 menit sekali
selama 30 detik dengan skala nyeri 9.
 TTV
TD: 140/100
Nadi : 80x/ menit
RR : 26x/ menit
Suhu : 36,5 C
DS : Resiko tinggi cedera
 Pasien mengeluh merasakan kenceng- terhadap maternal (ibu)
kenceng berhubungan dengan
 Pasien mengeluh keletihan penurunan tonus otot/poa
 Pasien mengeluh pusing kontraksi otot, obstruksi

DO : mekanis pada penurunan

 Fase laten memanjang sampai 14 jam janin, keletihan maternal.

pada kala 1
 Kontraksi setiap 7 menit selama 32 detik
 Serviks kaku disertai pengeluaran lendir
campur darah
 Hb rendah 9,5 gr
 Konjungtiva pucat, kuku agak pucat
 TD tinggi 140/100 mmHg
3 DS : Ansietas berhubungan
 Pasien mengeluh pusing dan badan dengan persalinan lama
lemas
 Pasien mengatakan cemas dan takut
akan terjadi hal buruk.
DO :
 Wajah pasien tampak pucat
 Pasien tampak kebingungan

INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional

1. Nyeri akut Setelah dilakukan - Menentukan sifat, lokasi, - Membantu dalam


berhubungan intervensi selama dan durasi nyeri. mendiagnosa dan
dengan tekanan 1x24 jam kebutuhan memilih tindakan,
kepala pada rasa nyaman pasien penekanan kepala
servik, partus terpenuhi dengan pada servik yang
lama, kontraksi kriteria hasil : berlangsung lama
tidak efektif - Nyeri yang akan menyebabkan
dirasakan klien nyeri.
menurun dari 9 - Kaji intensitas nyeri ibu - Setiap individu
menjadi 3 dengan skala nyeri mempunyai tingkat
- Klien tampak ambang nyeri yang
rileks berbeda, denga
- Kontraksi uterus skala dapat
efektif diketahui intensitas
- Ada kemajuan nyeri klien.
persalinan yang - Berikan lingkungan yang - Lingkungan yang
baik nyaman, tenang dan nyaman dapat
aktivitas untuk mengalihkan rasa
mengalihkan nyeri nyeri yang
dirasakan pasien.
- Teknik relaksasi
- Bantu klien dalam dapat mengalihkan
menggunakan metode perhatian
relaksasi dan jelaskan dan  mengurangi
prosedur. rasa nyeri
- Untuk memastikan
- Tinjau kembali penggunaan keefektifitasan
metode relaksasi. metode relaksasi
yang telah
dilakukan.
- Dengan kehadiran
- Kuatkan dukungan social/
keluarga akan
dukungan keluarga.
membuat klien
nyaman, dan dapat
mengurangi tingkat
kecemasan dalam
melewati
persalinan, klien
merasa diperhatikan
dan perhatian
terhadap nyeri akan
terhindari
-
- Berikan sedative sesuai
- Pemberian narkotik
dosis yang telah ditetntukan
atau sedative dapat
dokter
mengurangi nyeri
hebat
2. Resiko tinggi Setelah dilakukan - Tinjau ulang riwayat - Membantu dalam
cedera terhadap tindakan persalinan,awitan dan mengidentifikasi
maternal (ibu) keperawatan selama durasi kemungkinan penyebab,
berhubungan 3 jam diharapkan kebutuhan pemeriksaan
dengan resiko cereda pada diagnostik dan
penurunan pasien berkurang. intervensi yang tepat
tonus otot/poa - Sedatif yang diberikan
kontraksi otot, - Catat waktu/jenis obat, terlalu dini dapat
obstruksi hindari pemberian narkotik menghambat atau
mekanis pada dan anastesi blok epidural menghentikan
penurunan sampai serviks dilatasi 4 persalinan.
janin, keletihan cm
maternal. - Kelelahan ibu yang
- Evaluasi tingkat keletihan berlebihan menimbulkan
yang menyertai,serta disfungsi sekunder, atau
aktifitas dan istirahat, mungkin akibat dari
sebelum awitan persalinan persalinan lama

- Kelelahan ibu yang


- Evaluasi tingkat keletihan
berlebihan menimbulkan
yang menyertai,serta
disfungsi sekunder, atau
aktifitas dan istirahat,
mungkin akibat dari
sebelum awitan persalinan
persalinan lama

- Disfungsi kontraksi
- Kaji pola kontraksi uterus
dapat memperlama
secara manual atau secara
persalinan,meningkakan
elektronik
resiko komplikasi
maternal/ janin
- Serviks kaku atau tidak
siap tidak akan dilatasi,
- Catat kondisi serviks,
menghambat penurunan
pantau tanda amnionitis, janin/kemajuan
catat peningkatan suhu atau persalinan. terjadi
jumlah sel darah putih, amniositis secara
catat bau dan rabas vagina langsung dihubungkan
dengan lamanya
persalinan sehingga
melahirkan harus terjadi
dalam 24 jam setelah
pecah ketuban
- Catat penonjolan,posisi
janin dan presentase
- Catat penonjolan, posisi janin
janin dan presentase janin - Kandung kemih dapat
menghambat aktifitas
- Anjurkan klien berkemih uterus dan
setiap1-2 jam, kaji terhadap mempengaruhi
penuhan kandung kemih penurunan janin
diatas simfisis pubis
- Ambulasi dapat
membantu kekuatan
- Tempatkan klien pada
gravitasi dalam
posisi rekumben lateral dan
merangsang pola
anjurkan tirah baring atau
persalinan normal dan
ambulasi sesuai toleransi
dilatasi serviks

- Melahirkan seksio sesari


segera diindifikasikan
- Bantu dengan persiapan
untuk cincin bandl untuk
seksio sesaria sesuai
distres janin karena CPD
indikasi untuk malposisi,
- Melahirkan secara
forsep dilakukan pada
- Siapkan untuk melahirkan
dengan forsep (bila perlu) ibu yang lelah
berlebihan dan tidak
mampu untuk mengedan
lagi

3. Ansietas Setelah dilakukan - Jelaskan semua prosedur - Pemahaman yang baik


berhubungan tindakan dan apa yang akan mengenai prosedur atau
dengan keperawatan selama dirasakan selama prosedur. tindakan dapat
persalinan 2 x 24 jam maka mengurangi ansietas
lama. kebutuhan aman - Anjurkan pengungkapan - Pengungkapan perasaan
nyaman pasien dapat perasaan dapat menugrangi
terpenuhi dengan ansietas
kriteria hasil : - Berikan kesempatan kepada - Dapat meningkatkan
- Pasien pasien untuk memberi rasa kontrol pasien
mengatakan masukan pada proses meskipun kebanyakan
cemas dan pengambilan keputusan dari apa yang terjadi
takut akan diluar kontrolnya
terjadi hal
buruk - Instruksikan pasien - Membantu menurunkan
- Pasien menggunkan teknik ansietas dan
tampak relaksasi napas dalam. memungkinkan pasien
kebingungan untuk berpartisipasi
secara aktif

- Dengan melihat orang


- Minta orang tua atau suami terdekat saat menjalani
untuk menemani pasien perawatan maka pasien
untuk mengurangi rasa menjadi lebih dan
cemas. tenang dan nyaman.
IMPLEMENTASI
No Hari/Tanggal Diagnosa Implementasi ttd

1. Nyeri akut berhubungan 1. Menentukan sifat, lokasi, dan


dengan tekanan kepala pada durasi nyeri
servik, partus lama, kontraksi 2. Mengkaji intensitas nyeri ibu
tidak efektif dengan skala nyeri
3. Memberikan lingkungan yang
nyaman, tenang dan aktivitas
untuk mengalihkan nyeri
4. Membantu klien dalam
menggunakan metode
relaksasi dan jelaskan
prosedur.
5. Meninjau kembali penggunaan
metode relaksasi.
6. Menguatkan dukungan social/
dukungan keluarga.
7. Memberikan sedative sesuai
dosis yang telah ditetntukan
dokter.

2. Resiko tinggi cedera 1. Meninjau ulang riwayat


terhadap maternal (ibu) persalinan,awitan dan durasi
berhubungan dengan 2. Mencatat waktu/jenis obat,
penurunan tonus otot/poa hindari pemberian narkotik
kontraksi otot, obstruksi dan anastesi blok epidural
mekanis pada penurunan sampai serviks dilatasi 4 cm
janin, keletihan maternal. 3. Mengevaluasi tingkat
keletihan yang
menyertai,serta aktifitas dan
istirahat, sebelum awitan
persalinan
4. Mengkaji pola kontraksi
uterus secara manual atau
secara elektronik
5. Mencatat kondisi serviks,
pantau tanda amnionitis, catat
peningkatan suhu atau jumlah
sel darah putih, catat bau dan
rabas vagina
6. Mencatat penonjolan,posisi
janin dan presentase janin
7. Menganjurkan klien berkemih
setiap1-2 jam, kaji terhadap
penuhan kandung kemih
diatas simfisis pubis
8. Menempatkan klien pada
posisi rekumben lateral dan
anjurkan tirah baring atau
ambulasi sesuai toleransi
9. Membantu dengan persiapan
seksio sesaria sesuai indikasi
untuk malposisi.
10. Menyiapkan untuk
melahirkan dengan forsep
(bila perlu)

3. Ansietas b/d persalinan lama. 1. Menjelaskan semua prosedur


dan apa yang akan dirasakan
selama prosedur.
2. Menganjurkan pengungkapan
perasaan
3. Memberikan kesempatan
kepada pasien untuk
memberi masukan pada
proses pengambilan
keputusan
4. Menginstruksikan pasien
menggunkan teknik relaksasi
napas dalam.
5. Meminta orang tua atau
suami untuk menemani
pasien untuk mengurangi
rasa cemas.

EVALUASI
No Hari/tanggal Diagnosa Evaluasi

Nyeri akut berhubungan S :klien mengatakan bahwa


dengan tekanan kepala pada nyerinya berkurang setelah
servik, partus lama, kontraksi diberikan tindakan untuk
tidak efektif mengupayakan rasa nyaman
dengan relaksasi.
O : pasien masih pucat
A : masalah sebagian teratasi
P : mengajak pasien terus
melakukan teknik relaksasi
yang telah diajarkan bila
nyeri terasa

2. Resiko tinggi cedera terhadap S : pasien mengatakan lemas


maternal (ibu) berhubungan dan tidak mempu mengejan
dengan penurunan tonus dengan tenaga penuh
otot/poa kontraksi otot, O : pasien terlihat pucat
obstruksi mekanis pada A : masalah belum teratasi
penurunan janin, keletihan P : akan dilakukan tindakan
maternal. secio caesaria atau
persalinan dengan forsep
3. Ansietas berhubungan dengan S :Pasien mengatakan masih
persalinan lama sedikit khawatir.
O :Pasien sudah mampu
mengurangi
kekhawatirannya dengan
teknik relaksasi.
A :Intervensi terlaksana
sebagian.
P : Lanjutkan intervensi
pengurangan ansietas.
DAFTAR PUSTAKA

Mochlar, Rustam. 1990. Synopsis Obstetric. Jakarta : EGC

FKUI Universitas Padjajaran. 1983. Uji Diri Obstetric dan ginekologi. Bandung :
Eleman

Wiknojosastro, Hanifa. 1992. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawihardjo

Chandranita, ida ayu, dkk. 2009. Buku ajar patologi obstetric untuk mahasiswa


kebidanan. Jakarta:EGC

Farrer, Helen. 2001. Perawatan meternitas edisi II. Jakarta: EGC


“LAPORAN PENDAHULUAN DAN
ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN GANGGUAN DISTOSIA”

DI SUSUN OLEH :

Kelas 2. A

AYU DYAH KUSUMADEWI WIDIARSA (P07120217019)


NI KADEK SINTA MUTIARA DEWI (P07120217020)
NI MADE NOLA SILPIA WARDANI (P07120217021)
LUH PUTU MAS SARASWATI (P07120217022)
KADEK MAHENDRA PRASETIA ADINATA (P07120217023)
KETUT HERMAWAN (P07120217024)
NI LUH GEDE DIPA LINDAYANI (P07120217025)
I PUTU YOAN SUGIANTARA (P07120217026)
KADEK MEGA ASRINI (P07120217027)
I GEDE JUMENEK ARTA YASA (P07120217028)
PIA PERMATASARI (P07120217029)
PUTU PEBY DEWA YANTHI
(P07120217030)
I GUSTI AYU N VIOLA UTAMI DEWI (P07120217031)
LUH PUTU AYU UTAMI DEWI (P07120217032)
I PUTU PERMANA ADI WIJAYA (P07120217033)
PUTU INDAH PRATIWI (P07120217034)
GST AYU SEPTIAN MAYA DWI UTAMI (P07120217035)
NI LUH PUTU EKA FEBY SUADNYANI (P07120217036)
KOMANG AYU WINDAYANTI (P07120217037)
JURUSAN D-IV KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN
DENPASAR
2018
3. PATOFISIOLOGI
Kelainan respon psikologis
Kelainan tenaga Kelainan bentuk dan letak Kelainan jalan lahir
janin (janin besar,letsu )
Kurang pengetahuan ttg PAP sempit Ketokolamin
cara mengejan dg benar
Vasokontriksi pmb.
Kontraksi tdk Darah di miometrium
sinkron dg tenaga Janin kesulitan
melewati PAP His/ kontraksi uterus
Tenaga cepat habis

Kesulitan persalinan/ macet


DISTOSIA

Tonus otot Partus lama Rencana


tindakan SC
Obstruksi mekanis Penekanan pd jalan Penekanan kepala Energy ibu Jalan lahir
pd penurunan janin lahir janin pd panggul terpapar terlalu Krisis situasi
hipermetabolisme lama dg udara luar
Menekan saraf Ketokolamin
Resiko cedera Resiko cedera
maternal Pathogen mudah
Respon hipotalamus janin stress
Resiko masuk
kekurangan vol.
Pengeluaran mediator nyeri
cairan dan
Resiko infeksi Ansietas
elektrolit
Respon nyeri

Nyeri akut