Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH M

MIKOTOKSIN

OLEH:

 ASTI ARINI
 DINAR PERIYANTI
 FRININDA
 HASTRIALING DWI YUNIAR
 MUH. AMIRUDIN IDRIS
 NUR SELMIATIN
 SRI RAHAYU PUSPITA

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI
TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK
2019

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha


Penyayang, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penyusun dapat merampungkan
penyusunan makalah MIKOLOGI dengan judul "MIKOTOKSIN”.

Penyusunan makalah semaksimal mungkin di upayakan dan didukung


bantuan dari berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar dalam
penyusunannya.Untuk itu tidak lupa penyusun mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam merampungkan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, penyusun menyadari sepenuhnya


bahwa masih terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek
lainnya.Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penyusun
harapkan

Kendari,19 Oktober 2019

penyusun

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………2
DAFTAR ISI…………………………………………………………..3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang……………………………………………………4.
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………...5
1.3 Tujuan…………………………………………………………….5
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Mikotoksin……………………………………………6.
2.2 Sejarah Mikotoksin……………………………………………….7
2.3 Jenis Mikotoksin………………………………………………….8
2.4 Efek mikotoksin pada hewan dan manusia……………………...16
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan………………………………………………………19
3.2 Saran……………………………………………………………..19
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………….20.

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Jamur merupakan salah satu penyebab infeksi pada


penyakit terutama di negara-negara tropis. Penyakit kulit akibat jamur
merupakan penyakit kulit yang sering muncul di tengah masyarakat
Indonesia. Iklim tropis dengan kelembaban udara yang tinggi di Indonesia
sangat mendukung pertumbuhan jamur. Banyaknya infeksi jamur juga
didukung oleh masih banyaknya masyarakat Indonesia yang berada di bawah
garis kemiskinan sehingga masalah kebersihan lingkungan, sanitasi dan pola
hidup sehat kurang menjadi perhatian dalam kehidupan sehari- hari
masyarakat Indonesia (Hare, 1993).
Kontaminasi mikotoksin berbagai bahan makanan dan
komoditas pertanian merupakan masalah utama di daerah tropis dan subtropis, di
mana kondisi iklim dan praktek pertanian dan penyimpanan yang kondusif untuk
pertumbuhan jamur dan produksi toksin. Mikotoksin adalah metabolit sekunder
kapang diidentifikasi dalam banyak produk pertanian diskrining sebagai
toksigenik (Aziz,NH et. al. 1998).
Masalah mikotoksin dan mikotoksikosis sangat penting di Indonesia
mengingat negara kitaini terletak di daerah tropis yang merupakan lingkungan
ideal untuk tumbuh-kembang segala jeniskapang. Namun demikian, tampaknya
masih banyak pakar kesehatan dan kedokteran yang belum tertarik atau menaruh
perhatian pada bidang ini. Pada umumnya dalam keadaan normal, kapang-kapang
itu hidup secara saprofit. Akan tetapi jikalau keadaan lingkungan sekitarnya
berubah menjadi ideal, yakni suhu udara baik, kelembaban cukup tinggi dan ada
substrat yang cocok untuk ditumpangi, maka kapang tersebut akan tumbuh-
kembang subur dan memproduksi metabolit beracun. Bila bahan yang tercemar
itu termakan atau berkontak dengan kulit manusia atau hewan, maka dapat
menimbulkan keracunan.

4
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud mikotoksin?
2. Bagaimana sejarah mikotoksin?
3. Apa saja jenis mikotoksin?
4. Apa efek toksin pada hewan dan manusia?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah dapat diketahui jenis cendawan dan
mikotoksin yang berbahaya bagi manusia ,hewan dan tumbuhan.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Mikotoksin


Mikotoksin adalah metabolit sekunder yang dihasilkan oleh spesies
kapang tertentu selama pertumbuhannya pada bahan pangan maupun pakan.
Mikotoksin merupakan kontaminan alami yang –memiliki dampak yang negatif
tehadap keamanan pangan dan pakan secara global. Mikotoksin adalah komponen
yang diproduksi oleh jamur yang telah terbukti bersifat toksik dan karsinogenik
terhadap manusia dan hewan. Kondisi lingkungan seperti temperatur dan
kelembaban yang tinggi, infestasi serangga, proses produksi, panen dan
penyimpanan yang kurang baik akan menyebabkan tingginya konsentrasi
mikotoksin pada bahan baku pangan/pakan yang dapat menyebabkan timbulnya
wabah penyakit (Anonim, 2012)

Mikotoksin adalah metabolit sekunder yang diproduksi oleh beberapa


cendawan yang termasuk golongan genus Aspergillus, Penicillium, Fusarium dan
Alternaria. Jenis Aspergillus dan Penicillium dikenal sebagai mikroba kontaminan
pada makanan selama pengeringan atau penyimpanan, sedangkan Fusarium dan
Alternaria dapat memproduksi mikotoksin sebelum dan langsung setelah panen.
Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus adalah dua spesies cendawan yang
dapat memproduksi metabolit toksik yang disebut aflatoksin bersifat sangat
karsinogenik dan mutagenik. Jumlah aflatoxin B1 yang dapat menyebabkan racun
adalah antara 0,86 – 5,24 μg/ml kultur filtrat ekstrak tanaman (Noverisa, R.2008).
Selama transportasi, pada penyimpanan bahan baku ransum dan ransum
jadi. Pada dasarnya, semua jenis ternak dapat terserang Mikotoksin. Namun
tingkat kepekaannya bervariasi tergantung sejumlah faktor seperti : jeniskelamin,
umur, bangsa, kondisi fisik, status nutrisi, jumlah dan jenis Mikotoksin,
konsumsiransum, lama serangan , tatalaksana peternakan (sanitasi, suhu, kondisi
udara, kelembaban,dll) dan infeksi penyakit lain. Mikotoksin akan

6
menurunkan kadar glikogen pada darah sehinngga menyebabkan bertambahnya
kadar gluokosa serum (Anonim, 2012)
Pada kasus keracunan akut, fungsi mitokondria terganggu. Terganggunya
metabolisme lemak khususnya dalam sistem pengangkutan dan eksresi lemak
menyebabkan fatty liver syndrome (Anonim, 2012)

2.2 Sejarah munculnya mikotoksin


Mikotoksin mulai dikenal sejak ditemukannya aflatoksin yang
menyebabkan Turkey X –disease pada tahun 1960. Hingga saat ini telah dikenal
300 jenis mikotoksin, lima jenis diantaranya sangat berpotensi menyebabkan
penyakit baik pada manusia maupun hewan, yaitu aflatoksin, okratoksin A,
zearalenon, trikotesen (deoksinivalenol, toksin T2) dan fumonisin. Menurut Bhat
dan Miller (1991) sekitar 25-50% komoditas pertanian tercemar kelima jenis
mikotoksin tersebut. Penyakit yang disebabkan karena adanya pemaparan
mikotoksin disebut mikotoksikosis (Anonim, 2013).
Perbedaan sifat-sifat kimia, biologik dan toksikologik tiap mikotoksin
menyebabkan adanya perbedaan efek toksik yang ditimbulkannya. Selain itu,
toksisitas ini  juga ditentukan oleh: (Anonim, 2013)
1. Dosis atau jumlah mikotoksin yang dikonsumsi
2. Rute pemaparan
3. Lamanya pemaparan
4. Spesies
5. Umur
6. Jenis kelamin
7. Status fisiologis, kesehatan dan gizi
8. Efek sinergis dari berbagai mikotoksin yang secara bersamaan
terdapat pada bahan pangan.
Dari lebih dari 100.000 spesies fungi (jamur) yang diketahui, hanya
beberapa yang dapat memproduksi mikotoksin. Beberapa fungi (jamur) yang
diketahui dapat menghasilkan mikotoksin yang sangat berbahaya di bidang
pertanian dan peternakan adalah Fusarium, Aspergillus, dan Penicilium sp.

7
Diketahui pula bahwa 1 spesies fungi dapat menghasilkan lebih dari 1 jenis
mikotoksin. Jarang hanya ada 1 mikotoksin per jenis tanaman atau biji-bijian,
biasanya ada 2 atau lebih jenis mikotoksin (Anonim, 2013).
2.3 Jenis-jenis Mikotoksin

Terdapat enam jenis mikotoksin utama yang sering merugikan manusia,


yaitu aflatoksin, citrinin, ergot alkaloid, fumonisin, ochratoxin, patulin,
trichothecene, dan zearalenone.

Tabel 1. Jenis Mikotoksin, sumber dan bahaya yang sering terkontaminasi


Mikotoksin Jamur yang memproduksi Bahan yang sering
terkontaminasi
Aflatoksin Aspergillus flavus Jagung, biji kapok,
Aspergillus parasiticus kacang, kedelai
Citrinin Penicillium citrinum jagung, beras, gandum,
Spesies monascus barley, dan gandum
hitam
Ergot alkaloid Claviceps purpurea Gandum, hewan ternak
Fumonisin Fusarium verticilloides Jagung
Fusarium graminearum
Ochratoksin A Aspergillus ochraceus Gandum, barley,oats,
Aspergillus nigri jagung, dll
Penicillium verrucosum
Patulin Fusarium miniliformin Jagung
Trichothecenes Fusarium graminiearum Jagung, gandum, barley
Fusarium culmorum
Zearalenone Fusarium graminearum Jagung, gandum, barley,
rumput

a. Aflatoksin

8
Gambar 1 : Aflatoksin B1

Aflatoksin merupakan segolongan senyawa toksik (mikotoksin, toksin


yang berasal dari fungi) yang dikenal mematikan dan karsinogenik bagi manusia
dan hewan.Spesies penghasilnya adalah segolongan fungi (jenis kapang) dari
genus Aspergillus, terutama A. flavus (dari sini nama "afla" diambil) dan A.
parasiticus yang berasosiasi dengan produk-produk biji-bijian berminyak atau
berkarbohidrat tinggi. Kandungan aflatoksin ditemukan pada biji kacang-
kacangan (kacang tanah, kedelai, pistacio, atau bunga matahari), rempah-rempah
(seperti ketumbar, jahe, lada, serta kunyit), dan serealia (seperti gandum, padi,
sorgum, dan jagung). Aflatoksin juga dapat dijumpai pada susu yang dihasilkan
hewan ternak yang memakan produk yang terinfestasi kapang tersebut. Obat juga
dapat mengandung aflatoksin bila terinfestasi kapang ini.

Toksin ini memiliki paling tidak 13 varian, yang terpenting adalah B1, B2,
G1, G2, M1, dan M2. Aflatoksin B1 dihasilkan oleh kedua spesies, sementara G1
dan G2 hanya dihasilkan oleh A. parasiticus. Aflatoksin M1, dan M2 ditemukan
pada susu sapi dan merupakan epoksida yang menjadi senyawa antara.

Aflatoksin B1, senyawa yang paling toksik, berpotensi merangsang


kanker, terutama kanker hati. Serangan toksin yang paling ringan adalah lecet
(iritasi) ringan akibat kematian jaringan (nekrosis). Pemaparan pada kadar tinggi
dapat menyebabkan sirosis, karsinoma pada hati, serta gangguan pencernaan,
penyerapan bahan makanan, dan metabolisme nutrien. Toksin ini di hati akan
direaksi menjadi epoksida yang sangat reaktif terhadap senyawa-senyawa di
dalam sel. Efek karsinogenik terjadi karena basa N guanin pada DNA akan diikat
dan mengganggu kerja gen.

Pada keracunan akut oleh aflatoksin, di hati terjadi kegagalan metabolisme


karbohidrat dan lemak dan sintesa protein, sehingga terjadi penurunan fungsi hati
karena adanya perombakan pembekuan darah, icterus dan penurunan sintesis
protein serum. Sementara itu, pada keracunan kronik akan menyebabkan

9
imunosupresif yang diakibatkan penurunan akitivitas vitamin K dan penurunan
aktivitas fagositas (phagocytic) pada makrofak. Setiap spesies hewan mempunyai
kepekaan yang berbeda terhadap keracunan akut aflatoksin, dengan nilai LD50
yang bervariasi antara 0,3 hingga 17,9 mg/kg berat badan (Tabel 2) dan organ hati
merupakan target utama yang terserang. Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa hewan
yang paling peka terhadap aflatoksin adalah kelinci dan itik .

b. Citrinin

Gambar 2 : Citrinin

Citrinin pertama kali diisolasi dari Penicillium citrinum Thom pada tahun
1931.Mikotoksin ini ditemukan sebagai kontaminan alami pada jagung, beras,
gandum, barley, dan gandum hitam (rye). Citrinin juga diketahui dapat dihasilkan
oleh berbagai spesies Monascus dan hal ini menjadi perhatian terutama oleh
masyarakat Asia yang menggunakan Monascus sebagai sumber zat pangan
tambahan. Monascus banyak dimanfaatkan untuk diekstraksi pigmennya
(terutama yang berwarna merah) dan dalam proses pertumbuhannya,
pembentukan toksin citrinin oleh Monascus perlu dicegah.

Citrinin telah mengakibatkan yellow rice desease di Jepang. Citrinin


menyebabkan nephrotoxin pada semua spesies hewab uji, toksisitas akut akan
bervariasi di berbagaispesies. LD 50% untuk bebek adalah 57 mg / kg; untukayam
itu adalah 95 mg / kg, dan untuk kelinci itu adalah 134 mg / kg.Citrinin dapat
bertindak sinergis dengan ochratoxin A untuk menekansintesis RNA dalam ginjal
murine.(Bennett, 2003 : 501)

10
c. Ergot Alkaloid

Ergot alkaloid diproduksi oleh berbagai jenis cendawan, namun yang


utama adalah golongan Clavicipitaceae.Dulunya kontaminasi senyawa ini pada
makanan dapat menyebabkan epidemik keracunan ergot (ergotisme) yang dapat
ditemui dalam dua bentuk, yaitu bentuk gangren (gangrenous) dan kejang
(convulsive).Pembersihan serealia secara mekanis tidak sepenuhnya memberikan
proteksi terhadap kontaminasi senyawa ini karena beberapa jenis gandum masih
terserang ergot dikarenakan varietas benih yang digunakan tidak resiten terhadap
Claviceps purpurea, penghasil ergot alkaloid. Pada hewan ternak, ergot alkoloid
dapat menyebabkan tall fescue toxicosis yang ditandai dengan penurunan
produksi susu, kehilangan bobot tubuh, dan fertilitas menurun.

Gambar 3: tall fescue toxicosis

d. Fumonisin

11
Gambar 4 : Fuminosin

Fumonisin ditemukan pada tahun 1988 pada Fusarium verticilloides dan F.


proliferatum yang sering mengontaminasi jagungNamun, selain kedua spesies
tersebut masih banyak cendawan yang dapat menghasilkan fumonisin. Toksin
jenis ini stabil dan tahan pada berbagai proses pengolahan jagung sehingga dapat
menyebabkan penyebaran toksin pada dedak, kecambah, dan tepung jagung.
Konsentrasi fumonisin dapat menurun dalam proses pembuatan pati jagung
dengan penggilingan basah karena senyawa ini bersifat larut air.

Fumonisin bersifat sangat toksik terhadap kuda dan keledai dan


menyebabkan nekrosis di otak (leucoencephalomalacia = LEM). Disamping itu
juga menyebabkan kanker hati pada tikus dan gangguan saluran pernafasan pada
babi (porcine pulmonary edema = PPE). Kejadian LEM dilaporkan terjadi di
Afrika Selatan dan Cina (MARASAS, 2001) . Fumonsin BI (FBI) bersifat toksik
pada sistem saraf pusat, hati, pankreas, ginjal dan saluran pernafasan pada
beberapa spesies hewan .

Unggas merupakan hewan yang tahan terhadap fumonisin (HENRY et al.,


2000), dimana pemberian 80 ppm FBI pada ayam pedaging selama 21 hari tidak
berefek negatif terhadap perubahan berat badan, efisiensi pakan dan konsumsi air .
Namun untuk burung puyuh, pada pemberian melebihi 250 mg/kg berat badan
selama 4 minggu menyebabkan penurunan produksi telur sebesar 44,3% dan pada
pemberian melebihi 50 mg/kg berat badan terjadi penurunan berat telur
BUTKERAITIS et al ., 2004) . Untuk ruminansia, pemberian FBI (i .v .) pada
anak sapi sebesar 1 mg/kg per hari selama 7 hari menyebabkan penurunan nafsu
makan mulai hari ke-4, dan pada hasil pemeriksaan histolopatologi terlihat adanya
kerusakan hati dan ginjal yang parah dan ketidakseimbangan fungsi hati, kenaikan
konsentrasi sphinganin dan sphingosindi hati, ginjal, jantung maupun paru-paru
(MATHUR et al, 2001) .

e. Ochratoxin

12
Ochratoxin dihasilkan oleh cendawan dari genus Aspergillus, Fusarium,
and Penicillium dan banyak terdapat di berbagai macam makanan, mulai dari
Gambar 5 : Ochratoxin
serealia, babi, ayam, kopi, bir, wine, jus anggur, dan
susu. Secara umum, terdapat tiga macam ochratoxin
yang disebut ochratoxin A, B, dan C, namun yang paling banyak dipelajari adalah
ochratoxin A karena bersifat paling toksik di antara yang lainnyaPada suatu
penelitian menggunakan tikus dan mencit, diketahui bahwa ochratoxin A dapat
ditransfer ke individu yang baru lahir melalui plasenta dan air susu induknya.Pada
anak-anak (terutama di Eropa), kandungan ochratoxin A di dalam tubuhnya relatif
lebih besar karena konsumsi susu dalam jumlah yang besar. Infeksi ochratoxin A
juga dapat menyebar melalui udara yang dapat masuk ke saluran pernapasan

Okratoksin A (OA) adalah mikotoksin yan dihasilkan terutama oleh


Aspergillus ochraceus yan tumbuh pada kisaran suhu 8 - 37 °C (pertumbuha
optimum pada 25 - 31 °C) serta pembentukan okratoksin A pada kisaran suhu 15 -
37 °C (pembentukan optimum pada 25 - 28 °C). ( Widiastuti, 2006 :118)

Berbagai dosis akut (LD50 ) dari OA pada berbagai rute dan hewan dapat
dilihat pada Tabel 3 yang memperlihatkan bahwa anjing dan babi merupakan
hewan yang paling peka terhadap OA.

f. Patulin

Patulin dihasilkan oleh Penicillium, Aspergillus, Byssochlamys, dan


spesies yang paling utama dalam memproduksi senyawa ini adalah Penicillium
expansum.[10] Toksin ini menyebabkan kontaminasi pada buah, sayuran, sereal,
dan terutama adalah apel dan produk-produk olahan apel sehingga untuk
diperlukan perlakuan tertentu untuk menyingkirkan patulin dari jaringan-jaringan
tumbuhan.[10] Contohnya adalah pencucian apel dengan cairan ozon untuk

13
mengontrol pencemaran patulin. Selain itu, fermentasi alkohol dari jus buah
diketahui dapat memusnahkan patulin.

g. Trichothecene

Gambar 6 : Trichothecene Mikotoksin


golongan trikotesena mempunyai gugus 12,13-
epoksitrikotesene dan ikatan olefinik yang tersubtitusi pada berbagai sisi rantai
(BENNET dan KLICH, 2003) . Mikotoksin golongan ini terdiri atas 200 - 300
senyawaan sejenis yang bersifat toksik melalui penghambatan sintesis protein
pada ribosom.

Terdapat 37 macam sesquiterpenoid alami yang termasuk ke dalam


golongan trichothecene dan biasanya dihasilkan oleh Fusarium, Stachybotrys,
Myrothecium, Trichodemza, dan Cephalosporium. Toksin ini ditemukan pada
berbagai serealia dan biji-bijian di Amerika, Asia, dan Eropa. Toksin ini stabil dan
tahan terhadapa pemanasan maupun proses pengolahan makanan dengan
autoclave. Selain itu, apabila masuk ke dalam pencernaan manusia, toksin akan
sulit dihidrolisis karena stabil pada pH asam dan netral. Berdasarkan struktur
kimia dan cendawan penghasilnya, golongan trichothecene dikelompakan menjadi
4 tipe, yaitu A (gugus fungsi selain keton pada posisi C8), B (gugus karbonil pada
C8), C (epoksida pada C7,8 atau C9,10) dan D (sistem cincin mikrosiklik antara
C4 dan C15 dengan 2 ikatan ester).

Tanda-tanda klinis keracunan trikotesena dibagi dalam 5 kelompok yaitu


(1) menyebabkan penolakan pakan, (2) menyebabkan nekrosis kulit, (3)
menyebabkan gangguan pencernaan, (4) menyebabkankoagulopati dan (5)
menyebabkan gangguanimunologik (OSWEILLER et al ., 1985) . DON atau
sering disebut vomitoksin merupakan mikotoksin trikotesena yang rendah

14
toksisitasnya (LD 50 untuk ayam pedaging betina secara oral adalah 140 mg/kg
berat badan dan pada anak itik secara oral adalah 27 mg/kg berat badan) . T-2
toksin adalah mikotoksin yang paling toksik diantara trikotesena lainnya (LD 50
untuk babi secara i .v adalah 1,21 mg/kg berat badan dan untuk anak ayam secara
oral adalah 1,75 mg/kg berat badan) (HUFF et al., 1981 ; JECFA 47, 2001) .

h. Zearalenone

Zearalenone adalah senyawa estrogenik yang dihasilkan oleh cendawan


dari genus Fusarium seperti F. graminearum dan F. culmorum dan banyak
mengkontaminasi nasi jagung, namun juga dapat ditemukan pada serelia dan
produk tumbuhan.Senyawa toksin ini stabil pada proses penggilingan,
penyimpanan, dan pemasakan makanan karena tahan terhadap degradasi akibat
suhu tinggi. Salah satu mekanisme toksin ini dalam menyebabkan penyakit pada
manusia adalah berkompetisi untuk mengikat reseptor estrogen.

Zearalenon mempunyai aktivitas estrogenic terhadap babi, sapi perah,


anak kambing, ayam, kalkun dan kelinci, namun hewan yang paling peka terhadap
zearalenon adalah babi (KHAMIS et al ., 1996 ; SUNDOLF dan STRICKLAND,
1986) . Pada sapi, zearalenon sebesar 0,75 ppm dan 0,5 ppm DON menyebabkan
kegagalan reproduksi, diare dan penurunan produksi (COPPOCK et al ., 1990 ;
DACASTO et al ., 1995) . Pemberian zearalenon pada babi sebesar 110
mg/hewan per hari (setara dengan 1,1 mg/kg berat badan per hari) 7 – 10 hari
setelah kawin menyebabkan 3 dari 4 babi tersebut gagal bunting (LONG dan
DIEKMAN, 1986) .

Zearalenon mempunyai kemampuan untuk membentuk hormon alami


zeranol (nama lainnya zearalenol) dalam bentuk a dan 3 yang merupakan bentuk
reduksi dari zearalenon yang terbentuk sesaat setelah hewan mengkonsumsi
zearalenon dalam dosis tinggi dan mempunyai aktivitas estrogenik 4 kali lipat
dibandingkan zearalenon (KENNEDY et al ., 1998) . Pemberian dosis tinggi
zearalenon (6000 mg setara dengan 12 mg/kg berat badan) secara oral pada sapi

15
laktasi menimbulkan residu pada susu dengan konsentrasi tertinggi zearalenon 6,1
pg/L, a-zearalenol 4 μg/L, dan 13-zearalenol 6,6 μg/L (PRELUSKY et al., 1990) .

2.4 Efek mikotoksin pada hewan dan manusia

Jika terkonsumsi, mikotoksin akan sangat berbahaya bagi tubuh, hal ini
karena mikotoksin bersifat mutagenik, terratogenik, dan karsinogenik. Bahan
pangan yang rawan terhadap kontaminasi mikotoksin adalah jagung, kopi, dan
serealia.Contohnya adalah aflatoksin yang banyak mengkontaminasi jagung dan
kacang tanah, serta ochratoksin yang dihasilkan oleh kapang A. Ochraceus dan
Penicillium verrucosum yang banyak terdapat pada kopi.Terhadap tubuh, organ
yang menjadi target dari mikotoksin pun berbeda-beda. Aflatoksin toksik terhadap
hati, sedangkan target spesifik ochratoksin adalah menyerang organ ginjal

Banyak mikotoksin yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada


hewan manusia melalui makanan, salah satunya adalah kontaminasi citrinin pada
produk keju karena proses fermentasi keju yang melibatkan P. citrinum dan P.
expansum penghasil citrinin. Pada manusia dan hewan, citrinin dapat
menyebabkan penyakit kronis, di antaranya dapat terjadi akibat toksisitas pada
ginjal dan terhambatnya kerja enzim yang berperan dalam respirasi. Aflatoksin
merupakan senyawa karsinogenik yang dapat memicu timbulnya kanker liver
pada manusia karena konsumsi susu, daging, atau telur yang terkontaminasi dalam
jumlah tertentu.Kehilangan tanaman pangan akibat kontaminasi aflatoksin juga
sangat merugikan manusia, baik petani maupun kalangan industri hasil pertanian
di dunia. Pada laki-laki, kandungan ochratoxin A yang terlalu tinggi di dalam
tubuhnya dapat menyebabkan kanker testis.

Mikotoksin Spesies yang peka Pengaruh

Aflatoksin Semua hewan ternak dan Hepatotoksin dan


unggas imunosupresi
Zearalenon Terutama babi dan sapi Estrogenik dan kelainan
reproduktif
Okratoksin Terutama babi dan Nefrotoksin

16
unggas
Toksin T-2 Terutama babi dan Lesi di mulut, kehilangan
unggas nafsu makan
Deoksin ivaleno l Terutama babi dan Dermatotoksin, penolakan
unggas pakan
Fumonisin Terutama babi dan kuda Kerusakan saraf,
kerusakan hati

Aflatoksin dapat menyebabkan penyakit liver pada hewan (terutama


aflatoksin B1) yang ditandai dengan produksi telur, susu, dan bobot tubuh yang
menurun.Untuk mereduksi atau mengeliminasi efek aflatoksin pada hewan, dapat
digunakan amoniasi dan beberapa molekul penyerap.Pada ayam petelur, babi,
sapi, tikus, dan mencit, toksin fumonisin sulit siserap namun penyebarannya
sangat cepat dan ditemukan dapat tertimbun di hati dan ginjal hewan hingga
menyebabkan kerusakan oksidatif. Senyawa ochratoxin A bersifat karsinogenik,
mutagenik, teratogenik, dan mampu menimbulkan gejala imunosupresif pada
berbagai hewan.Pada ternak babi, senyawa zearalenone dapat menyebabkan
kelainan reproduksi yang disebut vulvovaginitis.

Ayam pedaging yang mengkonsumsi ransum terkontaminasi mikotoksin


terbukti pertumbuhannya terhambat.Hal ini setidaknya pernah dibuktikan dari
percobaan yang dilakukan oleh Jones et al. (1982) pada tabel 2.Terlihat semakin
besar konsentrasi aflatoksin, pertumbuhan ayam menjadi terhambat.

Tabel 2. Pengaruh Aflatoksin terhadap Performan Ayam Pedaging

Begitu pula pada ayam petelur. Adanya kontaminasi mikotoksin akan


mengakibatkan penurunan produksi telur, baik secara kualitatif maupun

17
kuantitatif. Kasus “blood spot” dapat dipicu karena aflatoksin. Kualitas kerabang
telur juga menurun karena aflatoksin akan menghambat proses konversi vitamin
D3 yang terkandung dalam ransum menjadi bentuk aktif. Adanya mikotoksin ini
akan mengakibatkan penurunan kadar protein serum, lipoprotein dan karotenoid.

  Kematian akibat mikotoksin juga bukan suatu keniscayaan.Hal ini


seringkali disebabkan kerusakan organ-organ vital ayam, seperti paru-paru,
kantung udara, hati maupun ginjal.Selain itu, efek immunosuppressive juga
mengakibatkan sistem pertahanan tubuh ayam lemah (mudah terinfeksi penyakit)
dan pembentukan titer antibodi hasil vaksinasi menjadi kurang optimal.

Gambar 7 :Kasus “blood spot” karena


aflatoksin
(Sumber : WATT Poultry)

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Mikotoksin adalah racun atau toksik hasil dari proses metabolisme


sekunder yang dihasilkan oleh spesies jamur tertentu selama pertumbuhannya
pada bahan pangan maupun pakan, yang menyebabkan perubahan fisiologis
abnormal atau patologis manusia dan hewan.

18
Pada konsentrasi yang tinggi, mikotoksin akan menyerang secara langsung
organ spesifik seperti hati, ginjal, saluran pencernaan, sistem syaraf dan saluran
reproduksi. Sedangkan pada konsentrasi yang rendah, mikotoksin dapat
menurunkan pertumbuhan dan mengganggu kekebalan terhadap penyakit,
menjadikan hewan ternak lebih rentan terhadap penyakit dan mengalami
penurunan produktivitasnya.
3.2 Saran
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna,sehingga saran dan kritik
sangat di butuhkan demi kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Jamur Okratoksin dan Pencegahannya. Terdapat di


http://ahlikopilampung.com/okratoksin-dan-pencegahannya/ .

Anonim. 2013.Mikotoksin.Terdapat di http://id.wikipedia.org/wiki/Mikotoksin.

19
Rawat, A. et. al. 2014. Detection Of Toxigenic Fungi And Mycotoxins In Some
Stored Medicinal Plant Samples. Department of Botany , School of Life
Sciences, Dr. B.R.Ambedkar University: Agra.

Santos, L. et. al.2013. Mycotoxin in Medicinal/Aromatic Herbs – a Review.


Boletín Latinoamericano y del Caribe de Plantas Medicinales y
Aromáticas, vol. 12, núm. 2, marzo-enero, Universidad de Santiago de
Chile. Santiago: Chile.

Stević, T. et.al. 2012. Pathogenic Microorganisms Of Medicinal Herbal Drugs.


Institute for Medicinal Plant Research “Dr Josif Pančić”, Belgrade:
Serbia.

20