Anda di halaman 1dari 7

DEMENTIA

Definisi

Dementia adalah suatu sindroma klinik yang meliputi hilangnya fungsi intelektual dan
ingatan/memori sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari-hari
(Brocklehurst and Allen, 1987).

Secara garis besar dementia pada usia lanjut dapat dikategorikan dalam empat golongan,
yaitu:

1. Dementia degenerative primer 50-60 %


2. Dementia multi-infark 10-20 %
3. Dementia yang reversible atau sebagian reversible 20-30 %
4. Gangguan lain (terutama neurologic) 5-10 %

Etiologi

D – Drugs (obat-obatan)

E – Emosional (gangguan emosi misalnya depresi)

M – Metabolic atau endokrin

E - Eye and ear (disfungsi mata dan telinga)

N – Nutritional

T – Tumor dan trauma

I – Infeksi

A – Arteriosclerotic (komplikasi penyakit arterisklerosis, missal infark miokard dan

gagal jantung)

Klasifikasi

1. Dementia degeratif primer


Dikenal juga dengan nama dementia tipe Alzheimer, adalah suatu keadaan yang
meliputi perubahan dari jumlah, struktur dan fungsi neuron di daerah tertentu di
daerah tertentu dari daerah korteks otak. Terjadi suatu kesusutan neuron fibriler
(neuron fibrilary tangles) dan plak-plak neurit dan perubahan aktivitas kholinergik di
daerah-daerah tertentu di otak. Awitan kerusakan biasanya terdapat di area
hipokampus yang merupakan pusat memori.
Penyebab tidak diketahui secara pasti, tetapi beberapa teori menerangkan
kemungkinan adanya factor kromosom atau genetic (gen apolipoprotein E4), usia,
riwayat keluarga, radikal bebas, toksin amyloid, pengaruh logam alummunium, akibat
infeksi virus lambat atau pengaruh lingkungan lain.
Gejala klinik dementia Alzheimer biasanya berupa awitannya yang berlanjut secara
lambat, biasanya dapat dibedakan dalam 3 fase (Walley, 1997).

Fase 1 : ditandai dengan gangguan memori subyektif, konsentrasi buruk dan


gangguan visuo-spatial. Lingkungan yang biasa menjadi seperti asing, sukar
menemukan jalan pulang yang biasa dilalui. Penderita mungkin mengeluhkan agnosia
kanan-kiri. Bahkan pada fase dini ini rasa tilikan (insight) sering sudah terganggu.
Fase II : terjadi tanda yang mengarah ke kerusakan fokal-kortikal, walaupun tidak
terlihat pada deficit yang khas. Simtom yang disebabkan oleh disfungsi lobus
parietalis (missal agnosia, dispraksia dan akalkulia) sering terdapat.
Gejala neurologic mungkin termasuk antara lain tanggapan ekstensor plantaris dan
beberapa kelemahan fasial. Delusi dan halusinasi mungkin terdapat, walaupun
pembicaraan mungkin masih kelihatan normal.
Fase III : pembicaraan terganggu berat, mungkin sama sekali hilang. Penderita
tampak terus menerus apatik. Banyak penderita tidak mengenali diri sendiri atau
orang yang dikenal nya. Dengan berlanjutnya penyakit, penderita sering hanya
berbaring ditempat tidur, inkontinen baikurin maupun alvi. Sering disertai kejang
epileptic grandma.
Gejala neurologic menunjukkan gangguan berat dari gerak langkah (gait), tonus otot
dan gambaran yang mengarah pada sindrom Kluver-Bucy (apati, gangguan
pengenalan, gerak mulut tak terkontrol,hiperseksualitas, amnesia dan bulimia).

Rata-rata lama penyakit sejak didiagnosa awal sampai klinik, dimana diagnose
dibuat dengan menyingkirkan diagnosa lain. Diagnosa pastihanya dapat dibuat dengan
otopsi dan biopsy otak. Harus di ingat bahwa dapatan atrofi otak pada skan tomografi
atau MRI tidak didiagnostik atau spesifik untuk dementia, karena dapatan tersebut
dapat terjadi pada proses penuaan normal.
Gangguan Kognitif Ringan (= Mild Cognitive Impairment=MCI)
Akhir-akhir ini dikalangan para ahli terdapat pendapat menyatakan adanya suatu
bentuk transisi antar keadaan normal dan dementia Alzheimer, yang disebut sebagai
“mild cognitive impairment” (ganguan kognitif ringan) dengan kriteria sebagai
berikut (Petersen, 1999) :
 Keluhan gangguan memori, lebih baik dikemukkan oleh keluarga atau
perawat.
 Adanya gangguan memori pada pemeriksaan obyektif
 Fungsi kognitif secara umum baik
 AHS/ADL intak
 Tidak mengalami dementia

Akhir-akhir ini kriteria MCI yang sering dipakai adalah :

a) Penderita bisa normal atau dementia


b) Terdapat bukti memburuknya fungsi kognitif, baik dari pemeriksaan subyektif
dari penderita sendiri maupun dari informan.
c) ADL dapat dipertahankan dan fungsi instrumental koompleks masih intak
atau terganggu minimal (Windblad) et al, 2004)

Walaupun tidak semua dengan MCI akan menjadi dement, banyak diantara nya yang
berkembang menjadi dementi Alzheimer, perubahan menjadi Alzheimer ini
dilaporkan antara 2-31% /tahun (Bruscholi,Livestone, 2004) perubahan ini lebih
banyak terjadi pada mereka yang dirawat diklinik disbanding mereka yang tinggal
dimasyarakat.

2. Dementia multi-infark
Dementia ini merupakan jenis kedua terbanyak setelah penyakit
Alzheimer.didapatkan sebagai akibat /gejala sisa dari stroke kortikal atau subkortikal
yang berulang. Dapatan yang khas adalah bahwa gejala dan tanda menunjukan
penurunan bertingkat (stepwise), dimana setiap episode menurunkan keadaan
kognitifnya. Sedangkan pada Alzheimer gejala dan tanda akan berlangsung progresif.
Dengan MRI, lesi sering bisa dideteksi. Pemeriksaan dengan skor hachinsky dapat
membantu penegakkan diagnosis.

3. Dementia dengan badan lewy


Pada dementia jenis ini, patologinya sering kali mempunyai gambaran campuran
dengan dementia Alzheimer dan sangat jarang gambaran patologi yang hanya
menunjukkan neuropatologi dementia badan lewy.
Gambaran klinik bervariasi, tetapi selalu terdapat gambaran 2 dari 3 keadaan :
fluktuasi kognisi, halusinasi visual, dan parkinsonisme. Gambaran yang mendukung
diantaranya jatuh, sinkope, hilang kesadaran sepintas, sensitivitas neuroleptic, delusi
dan halusinasi.
Gambaran klinik khas dementia (penurunan menyeluruh fungsi kognitif yang
mengganggu fungsi sosial dan okupasional) harus juga didapati. Dibandingkan
dengan AD, gangguan memori pada DLB didapatkan lebih ringan.

4. Dementia fronto-temporal
Sindroma dementia bisa diakibatkan oleh suatu proses degenerative di region korteks
anterior otak. Pencitraan neurologic fungsional menunjukan penurunan metabolism
otak di daerah lobus temporal anterior dan frontal. Gambaran klinik menggambarkan
distribusi topografik daereah korteks temporal yang terkena, bisa unilateral dan
bilateral. Secara klinis menunjukkan gambaran gangguan perilaku yang luas dengan
awitan yang menyelinap dan biasanya terjadi antara usia 40-70 tahun.

5. Dementia pada penyakit neurologic


Berbagai penyakit neurologic sering disertai dengan gejala dementia seperti
Parkinson.

6. Sindroma amnestic dan “pelupa benigna akibat penuaan”


Gejala utama adalah gangguan memori, sedangkan pada dementia terdapat gangguan
pula pada fungsi intelektual yang lain. Pada sindroma amnestic terdapat gangguan
pada daya ingat hal yang baru terjadi dan biasanya tidak mengganggu aktivitas sehari-
hari.
Faktor resiko

Diantara faktor resiko dementia adalah penuaan yang menyebabkan terjadinya perubahan
anatomi dan biokimiawi disusunan syaraf pusat.

Prinsip utama penatalaksanaan penderita dementia

1. Optimalkan fungsi dari penderita


- Obati penyakit yang mendasarinya (hipertensi, Parkinson)
- Hindari pemakaian obat yang memberikan efek samping pada ssp
- Upayakan aktivitas mental dan fisik
- Hindari situasi yang menekan kemampuan mental, gunakan alat bantu memori
jika mungkin
- Persiapkan penderita bila akan berpindah tempat
- Tekankan perbaikan gizi
2. Kenali dan obati komplikasi
- Depresi
- Gangguan prilaku lain
- Inkontinensia

Medikamentosa

No Obat Dosis Efek samping


1 Inhibitor asetilkolinesterase 10mg/hari - Mual
(AChE-1) - Muntah
Donepezil - Nafsu makan
berkurang
- Pusing
- Sakit kepala
- Pingsan
Rivastigmin Patch : 9,5mg - Mual
Kapsul : 6mg - Muntah
2xsehari - Nafsu makan
berkurang
Sakit perut
2 Antagonis reseptor NMDA 20mg/hari - Batuk
(memantin) - Nyeri
punggung
- Muntah
- Sakit kepala
pusing
3 Kombinasi obat golongan AChE1 dengan memantin

Non-medikamentosa

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan yaitu masalah aktivitas sehari-hari agar
mandiri, meningkatkan fungsi, beradaptasi dan belajar keterampilan, serta meminimalkan
bantuan. Oleh karena itu intervensi dibagi menjadi 3 kelompok :

1. Mempertahankan fungsi
- Mengadopsi strategi untuk meningkatkan kemandirian
- Memelihara fungsi kognitif
2. Manajemen perilaku sulit : agitasi, agresi, dan psikosis
3. Mengurangi gangguan emosional komorbid

Pencegahan

1. Secarateratur memeriksa tekanan darah dan mengupayakan tekanan darah tidak


tinggi
2. Pencegahan dan perlindungan terhadap terjadinya cedera kepala
3. Melakukan kegiatan yang merangsang intelektual dan mengupayakan aktivitas
social
4. Mengupayakan diet yang cukup vitamin E
5. Makan makanan yang sehat dan tidak terlalu banyak lemak
6. Mengupayakan asupan vitamin B12 dan asam folat yang cukup
7. Tidak merokok
8. Selalu aktif secara fisik dan tidur yang cukup