Bab 1-2 RMKK
Bab 1-2 RMKK
Pengertian Kualitas
Setiap orang memliki kriteria dan sudut pandang masing-masing dalam menilai. Kualitas akan
timbul sesuai dengan kriteria yang ada, sehingga kualitas memiliki kondisi yang berubah secara dinamis
Dalam konsep kualitas, seringkali menjadi ukuran kebaikan dari produk atau jasa. Konsep ini
terdiri atas kualitas dari spesifikasi produk dan kualitas pengukuran pemenuhan persyaratan dari sebuah
produk ditetapkan.
Stephen Uselac mengatakan bahwa kualitas memiliki banyak cakupan yaitu produk, jasa, proses,
lingkungan dan manusia. beberapa ahli menginterpretasikan kualitas melalui sudut pandang masing-
masing. Definisi-definisi tersebut memiliki kesamaan dalam beberapa elemen yaitu :
Dari elemen tersebut, Goestsch dan Davis (1994, p. 4) menyimpulkan dalam sebuah definisi
kualitas :
Kualitas adalah kondisi yang terus berubah secara dinamis yang meliputi produk, jasa, proses,
lingkungan, dan manusia untuk memenuhi kriteria dan harapan.
Total Quality Management merupakan kesatuan dari fungsi perusahaan yang terdiri beberapa
konsep seperti kualitas, teamwork, produktivitas, dan kepuasan pelanggan. TQM juga menjadi bagian
dari sistem manajemen yang menjadikan kualitas sebagai salah satu strategi usaha yang berfokus pada
kepuasan pelanggan, sehingga memaksimalkan daya saing perusahaan dengan melakukan perbaikan
secara berkelanjutan pada kualitas.
Sebenarnya, bukanlah hal yang mudah untuk menentukan kapan tepatnya istilah TQM
muncul. Menurut para ahli, TQM sudah diterapkan di banyak perusahaan di berbagai negara
sebelum istilah tersebut benar-benar diketahui di seluruh dunia. Alasan utamanya adalah
adanya indikasi bahwa TQM bisa saja merupakan substitusi dari istilah yang sudah biasa
digunakan sebelumnya, yaitu Total Quaity Control (TQC). Kata kontrol kemudian diganti dengan
manajemen, karena adanya pemahaman bahwa manajemen kualitas lebih penting daripada
hanya mengontrol kualitas.
Pada tahun 1920-an, Frederick Taylor yang sekaligus dikenal sebagai bapak
manajemen mencetuskan gerakan Total Quality Management (TQM). Gerakan ini timbul seiring
dengan sulitnya menjaga kualitas yang disebabkan oleh meningkatnya volume dan
kompleksitas pemanufakturan yang kemudian menstimulasi timbulnya quality engineering pada
tahun 1920-an dan reliability engineering pada tahun 1950-an, yang mana kedua konsep
tersebut merupakan aspek fundamental dari Total Quality Management TQM).
Setelah berakhirnya perang dunia kedua, Jepang sebagai salah satu negara terbesar di
Asia menyadari bahwa sangat penting untuk menerapkan TQM. Kesadaran ini muncul karena
pada saat itu, kualitas produk Jepang kurang kompetitif untuk memasuki pasar internasional.
Sehingga, Jepang terus berupaya memperbaiki aspek manusia, proses, dan fasilitasnya
dengan harapan hal tersebut akan menghasilkan kualitas produk yang baik juga.
Benar saja, usaha perbaikan tersebut membawa kualitas produk Jepang jauh
melampaui kualitas produk hasil manufaktur negara barat pada pertengahan 1970-an. Manfaat
lain yang diperoleh Jepang dari perbaikan kualitas ini yaitu meningkatnya jumlah ekspor
Jepang. Bersamaan dengan itu, Amerika Serikat yang merasakan penetrasi pada pasarnya
oleh produk Jepang mulai mengembangkan TQM. Gerakan TQM kemudian menyebar ke
berbagai negara di dunia.
Evolusi TQM juga ditunjukkan oleh banyaknya jumlah artikel bisnis atau penelitan
mengenai TQM, manajemen kualitas, maupun manajemen terpadu. Pada 1986, 1987, dan
1988 angka penelitian mengenai TQM masih sedikit, namun jumlahnya meningkat pada awal
1990-an dan mencapai puncaknya pada 1993. Jumlah penelitian mengenai TQM kemudian
menurun pada akhir 1990-an dikarenakan istilah TQM sudah menyebar dan dipahami secara
luas di berbagai negara di dunia.
Dapat disimpulkan bahwa, istilah TQM mulai popular pada 1980-an walapun aspek-
aspek fundamentalnya mengalami perkembangan sejak 1950 sampai 1970-an. Perkembangan
teoritis dari aspek-aspek TQM berasal dari Amerika dan Jepang adalah negara yang berinisiatif
untuk menerapkan TQM, sehingga adanya pendapat bahwa TQM adalah buatan Jepang tidak
bisa dibenarkan.
Dapat kita lihat bahwa TQM mengambil peranan penting dalam persaingan global. Agar
memiliki daya kompetitif dalam persaingan global diperlukan kualitas yang terbaik untuk
kepuasan pelanggan terhadap barang dan jasa. Kualitas terbaik tersebut hanya dapat dicapai
melalui penerapan TQM yang mementingkan keterlibatan manajemen di seluruh tingkatan,
serta perbaikan berkesinambungan terhadap kemampuan manusia, proses, dan lingkungan.
Definisi kualitas sangat beragam. Menurut Crosby dalam Tjiptono, kualitas dapat disesuaikan
dengan kebutuhan pelanggan. Sementara menurut Deming tujuan kualitas adalah memenuhi kebutuhan
pelanggan yang disesuaikan dengan pasar dan biaya yang rendah. Ada 2 (dua) aspek utama dalam
kualitas menurut Juran, yaitu:
1. Dengan kualitas yang lebih tinggi suatu perusahaan dapat meningkatkan volume penjualan,
pangsa pasar, dan kepuasan pelanggan. Selain itu, perusahaan dapat bersaing dan membuat
produk laku terjual dengan harga yang lebih tinggi.
2. Dengan kualitas yang lebih tinggi suatu perusahaan dapat menurunkan ketidakpuasan
pelanggan, tingkat kesalahan, inspeksi dan pengujian, dan waktu pengiriman ke pasar. Selain itu,
perusahaan dapat meningkatkan hasil kinerja operasional.
1. Transcendental Approach
Menurut perspektif ini, kualitas adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan dan didefinisikan, tapi
mudah untuk dirasa dan diketahui. Implementasi dari perspektif dapat pada karya-karya seni
seperti rupa, tari, drama, maupun musik. Pada bagian pelayanan, perencanaan, dan produksi,
perspektif ini sulit menjadi dasar manajemen kualitasnya. Suatu perusahaan dapat
menggunakan kalimat-kalimat promosi dalam menjual prodtuk atau jasa layanannya.
2. Product-based Approach
Perspektif ini menggambarkan kualitas sebagai sesuatu yang memiliki karakteristik yang dapat
dihitung atau diukur. Sifat dari perspektif ini adalah objektif. Sementara kelemahannya adalah
tidak mampu menjelaskan perbedaan antara kebutuhan, selera, dan prioritas individual.
3. User-based Approach
Menurut perspektif ini, kualitas tergantung pada pandangan orang-orang. Produk yang memiliki
kualitas tinggi merupakan produk yang dapat memenuhi prioritas seseorang. Sehingga
perspektif ini lebih subjektif dan berorientasi pada permintaan seseorang.
4. Manufacturing-based Approach
Perspektif ini lebih mengedepankan praktik-praktik penerapan dan pemanufakturan, sehingga
mempunyai sifat yang supply base. Selain itu, perspektif ini menganggap kualitas sama dengan
persyaratannya. Sementara itu, pada sektor jasa kualitasnya bersifat operations driven. Yang
menjadi penentu dari kualitas adalah acuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
5. Value-based Approach
Perspektif ini memandang kualitas berdasarkan harga dan nilainya, serta mempunyai sifat yang
relatif. Artinya, produk yang mempunyai kualitas tinggi belum tentu yang bernilai tinggi, karena
produk yang mempunyai nilai tinggi merupakan produk yang patut dibeli.
DIMENSI KUALITAS
Berikut dimensi kualitas yang disampaikan Garvin dalam Tjiptono, antara lain:
Menurut Tjiptono, apabila dimensi-dimensi tersebut diterapkan dalam perusahaan manufaktur, maka
pelanggan dapat menggunakan kelompok karakteristik, sebagai berikut:
1. Bukti langsung, seperti sarana fisik dan komunikasi, karyawan, dan perlengkapan
2. Kehandalan merupakan keterampilan dalam memberikan pelayanan yang cepat dan
memuaskan.
3. Daya tanggap, yaitu kesadaran karyawan untuk membantu pelanggan dan melayani secara
responsive.
4. Jaminan mengandung arti bahwa karyawan dapat dipercaya dan bebas dari bahaya maupun
risiko.
5. Empati merupakan kemudahan dalam memahami keperluan pelanggan dan dapat menjalin
hubungan komunikasi yang baik dengan pelanggan.
Di jelaskan di dalam buku “Managing Quality”, Garvin (dalam Bounds, et al., 1994, pp.
46-84; Lovelock, 1994, pp. 101-107) yang menyatakan bahwa kualitas sebagai suatu konsep
sudah lama dikenal, tetapi kemunculannya sebagai fungsi manajemen baru terjadi akhir-akhir
ini. Terdapat empat era kualitas dalam pendekatan modern:
Inspeksi
Pendekatan ini digunakan pada awal abad ke-19. Inspeksi terhadap output digunakan
secara langsung dan bisa juga dengan dukungan alat tertentu yang digunakan untuk mengukur
output fisik dibandingkan dengan standar yang seragam.
Mulai awal abad ke-20, kegiatan inspeksi digabungkan secara lebih formal dengan
pengendalian kualitas yang terlihat sebagai fungsi manajemen yang berbeda.
Pengendalian Kualitas Statistikal
Pengendalian kualitas tersebut memakai pendekatan ilmiah untuk pertama kalinya pada
tahun 1931 dengan diterbitkannya hasil karya W. A. Shewhart yang mengungkapkan bahwa
variabilitas adalah suatu kenyataan dalam industri dan hal ini dapat dipahami dengan
menggunakan prinsip probabilitas dan statistik.
Terdapat dua rekan Shewhart yang memajukan teknik statistik untuk menjalankan
sampling sejumlah item yang tertentu di setiap kumpulan produksi.
Jaminan Kualitas
Terdapat beberapa pengembangan empat konsep baru dalam era saat ini yaitu:
1. Biaya kualitas adalah biaya untuk mendapatkan tingkat kualitas tertentu. Didalam biaya
kualitas ini dibagi menjadi dua bagian yaitu biaya yang dapat dihindari ( kegagalan produk
yang meliputi bahan baku rusak, jam kerja, kerugian finansial, dll) dan biaya yang tidak
dapat dihindari (inspeksi dan pengendalian kualitas yang dibuat untuk mencegah terjadinya
kerusakan)
2. Pengendalian kualitas terpadu (TQM) menurut Armand Feigenbaum mengemukakan bahwa
pengendalian harus dimulai dari perancangan produk dan berakhir hanya jika produk telah
sampai ke tangan pelanggan yang puas. Kegiatan kualitas dapat dikelompokkan menjadi 3
bagian:
Pengendalian rancangan baru
Pengendalian bahan baku yang baru datang
Pengendalian product / shop floor.
3. Realibilty engineering ada pada tahun 1950, dengan adanya kebutuhan Angkatan
Bersenjata Amerika untuk mempunyai perlatan elektronik.
4. Zero defects muncul pada tahun 1961-1962. Konsep zero defects lebih memfokuskan pada
harapan manajemen dan jalinan antar pribadi daripada keterampilan rekayasa. Tujuan
pokoknya adalah mengharapkan kesempurnaan pada saat pertama dan intinya pada
identifikasi persoalan pada sumbernya menggunakan perhatian khusus untuk mengkoreksi
pemicu adanya kesalahan karyawan seperti:
a. Minimnya pengetahuan
b. Minimnya fasilitas yang tepat
c. Minimnya perhatian, kesadaran dan motivasi karyawan.
Manajemen Kualitas Strategis
Companywide quality control adalah perluasan dari ide TQC yang disampaikan oleh
Feigenbaum. Bagian-bagiannya sebagai berikut:
Sejak awal tahun 1980an terdapat berbagai perusahaan Amerika dan Eropa yang
mengetahui peranan strategis kualitas yang telah diadopsi oleh Jepang. Kesadaran ini terlihat
terutama karena adanya banyaknya persaingan dari pemanufaktur Jepang yang mempunyai
kelebihan dalam kualitas dan kehandalan.
Selain keempat era yang telah dijelaskan diatas, Christopher Lovelock menguslkan
adanya era kelima, yaitu obsesi kualitas menyeluruh (total quality obsession).
Awal dari era kualitas kelima terjadi pada tahun 1987. Hal yang melandasi adanya era
kelima ini yaitu konsep kualitas absolut dari zero defect atau disebut dengan kualitas
menyeluruh (total quality). Untuk meraih keabsolutan dengan adanya total quality control yang
didorong oleh total quality management (TQM).
SUMBER KUALITAS
1. Program, kebijakan, dan sikap yang mengaitkan komitmen dari manajemen puncak.
2. Sistem informasi yang mengutamakan ketepatan, baik atas waktu maupun detail.
3. Desain produk yang mengutamakan keandalan dan perjanjian ekstensif produk sebelum
disebar ke pasar.
4. Kebijakan produksi dan tenaga kerja yang mengutamakan peralatan yang terpelihara
bagus, pekerja yang terlatih bagus, dan penemuan penyimpangan secara cepat.
5. Manajemen vendor yang mengutamakan kualitas sebagai target utama.
Di jelaskan di dalam buku “Managing Quality”, Garvin (dalam Bounds, et al., 1994, pp.
46-84; Lovelock, 1994, pp. 101-107) yang menyatakan bahwa kualitas sebagai suatu konsep
sudah lama dikenal, tetapi kemunculannya sebagai fungsi manajemen baru terjadi akhir-akhir
ini. Terdapat empat era kualitas dalam pendekatan modern:
Inspeksi
Pendekatan ini digunakan pada awal abad ke-19. Inspeksi terhadap output digunakan
secara langsung dan bisa juga dengan dukungan alat tertentu yang digunakan untuk mengukur
output fisik dibandingkan dengan standar yang seragam.
Mulai awal abad ke-20, kegiatan inspeksi digabungkan secara lebih formal dengan
pengendalian kualitas yang terlihat sebagai fungsi manajemen yang berbeda.
Pengendalian kualitas tersebut memakai pendekatan ilmiah untuk pertama kalinya pada
tahun 1931 dengan diterbitkannya hasil karya W. A. Shewhart yang mengungkapkan bahwa
variabilitas adalah suatu kenyataan dalam industri dan hal ini dapat dipahami dengan
menggunakan prinsip probabilitas dan statistik.
Terdapat dua rekan Shewhart yang memajukan teknik statistik untuk menjalankan
sampling sejumlah item yang tertentu di setiap kumpulan produksi.
Jaminan Kualitas
Terdapat beberapa pengembangan empat konsep baru dalam era saat ini yaitu:
1. Biaya kualitas adalah biaya untuk mendapatkan tingkat kualitas tertentu. Didalam biaya
kualitas ini dibagi menjadi dua bagian yaitu biaya yang dapat dihindari ( kegagalan produk
yang meliputi bahan baku rusak, jam kerja, kerugian finansial, dll) dan biaya yang tidak
dapat dihindari (inspeksi dan pengendalian kualitas yang dibuat untuk mencegah terjadinya
kerusakan)
2. Pengendalian kualitas terpadu (TQM) menurut Armand Feigenbaum mengemukakan bahwa
pengendalian harus dimulai dari perancangan produk dan berakhir hanya jika produk telah
sampai ke tangan pelanggan yang puas. Kegiatan kualitas dapat dikelompokkan menjadi 3
bagian:
Pengendalian rancangan baru
Pengendalian bahan baku yang baru datang
Pengendalian product / shop floor.
3. Realibilty engineering ada pada tahun 1950, dengan adanya kebutuhan Angkatan
Bersenjata Amerika untuk mempunyai perlatan elektronik.
4. Zero defects muncul pada tahun 1961-1962. Konsep zero defects lebih memfokuskan pada
harapan manajemen dan jalinan antar pribadi daripada keterampilan rekayasa. Tujuan
pokoknya adalah mengharapkan kesempurnaan pada saat pertama dan intinya pada
identifikasi persoalan pada sumbernya menggunakan perhatian khusus untuk mengkoreksi
pemicu adanya kesalahan karyawan seperti:
1. Minimnya pengetahuan
2. Minimnya fasilitas yang tepat
3. Minimnya perhatian, kesadaran dan motivasi karyawan.
Companywide quality control adalah perluasan dari ide TQC yang disampaikan oleh
Feigenbaum. Bagian-bagiannya sebagai berikut:
Sejak awal tahun 1980an terdapat berbagai perusahaan Amerika dan Eropa yang
mengetahui peranan strategis kualitas yang telah diadopsi oleh Jepang. Kesadaran ini terlihat
terutama karena adanya banyaknya persaingan dari pemanufaktur Jepang yang mempunyai
kelebihan dalam kualitas dan kehandalan.
Selain keempat era yang telah dijelaskan diatas, Christopher Lovelock menguslkan
adanya era kelima, yaitu obsesi kualitas menyeluruh (total quality obsession).
Awal dari era kualitas kelima terjadi pada tahun 1987. Hal yang melandasi adanya era
kelima ini yaitu konsep kualitas absolut dari zero defect atau disebut dengan kualitas
menyeluruh (total quality). Untuk meraih keabsolutan dengan adanya total quality control yang
didorong oleh total quality management (TQM).
SUMBER KUALITAS
6. Program, kebijakan, dan sikap yang mengaitkan komitmen dari manajemen puncak.
7. Sistem informasi yang mengutamakan ketepatan, baik atas waktu maupun detail.
8. Desain produk yang mengutamakan keandalan dan perjanjian ekstensif produk sebelum
disebar ke pasar.
9. Kebijakan produksi dan tenaga kerja yang mengutamakan peralatan yang terpelihara
bagus, pekerja yang terlatih bagus, dan penemuan penyimpangan secara cepat.
10. Manajemen vendor yang mengutamakan kualitas sebagai target utama.
PENGUKURAN KUALITAS
Pengukuran suatu kualitas ditentukan oleh kinerja dan harapan yang dapat dirasakan
(perceived performance). Model atau bentuk dari kualitas sebuah jasa (Zeithaml, Parasuraman,
dan Bery (1985)) menunjukkan bahwa persyaratan yang utama untuk mampu memberikan
sebuah kualitas dari jasa yang diharapkan, dengan cara mengidentifikasi lima bentuk gap yang
menjadi alasan terjadinya kegagalan delivery jasa, yaitu :
5. Gap (jasa yang Dapat terjadi pada saat konsumen atau pelanggan
diharapkan dengan jasa sedang mengukur prestasi dan kinerja suatu perusahaan
yang dirasakan) dengan cara yang berbeda (berlainan) dan kesalahan
dalam menerapkan persepsi kualitas yang ada.
Menurut Juran, kualitas adalah kesesuaian/kecocokan, antara produk atau jasa dengan
harapan para pemakainya. Lima desain pokok yaitu desain, sesuai, aman, tersedia, dan field
use.
Juran’s Three Basic Steps to Progress
Juran berpendapat bahwa terdapat titik bernama “diminishing-return” yang berhubungan
antara daya saing dan kualitas, sehingga ia membuat gagasan mengenai tiga langkah
perusahaan untuk pencapaian kualitas yang diakui oleh tingkat di dunia, yaitu :
1) Pencapaian perbaikan tertata rapi dengan kombinasi dan dedikasi, serta keadaan di
kala terdesak.
2) Pengadaan perluasan pelatihan.
3) Pembentukan kepemimpinan dan komitmen melebihi tingkat suatu manajemen.
3. Philip B. Crosby
Gagasan yang membuat Crosby menjadi terkenal yaitu manajemen dari Zero Defect
dengan pencegahannya (merupakan penentangan kuaitan peningkatan yang diterima secara
statistik), serta Quality Vaccine dan Fourteen Steps to Quality Improvement. Berikut merupakan
beberapa dalil dari kualitas manajemen menurut pandangan Crosby :
Dalil pertama : definisi kualitas adalah sama dengan persyaratan
Menurut Crosby, definisi kualitas yaitu pemenuhan persyaratan (conformance to
requirements). Persyaratan perubahan sesuai harapan konsumen, organisasi, sumber dan
pemasok, teknologi, pemerintah, dan persaingan pasaran.
Dalil kedua : sistem kualitas adalah pencegahan
Sistem dari kualitas menurut Crosby merupakan pencegahan dari proses kerja internal,
yaitu :
1) Perlengkapan dan fasilitas
2) Pengetahuan pelatihan
3) Prosedur dan pedoman (standar kualitas dengan operasi standar)
4) Standar mengenai prestasi dan kinerja
Dalil ketiga : kerusakan nol (zero defect) merupakan standar kerja yang harus digunakan
Crosby membuat konsep mengenai kerusakan dari nol mampu dicapai bila perusahaan
dengan perlakuan yang benar dari awal. Hal ini karena konsep mendekati yang ada di masa
lalu kurang efisien, karena jika diukur dalam rupiah mengenai hasil hitung persen yang
inefisiensi yang jumlahnya sangat minim kemudian dikalikan dengan penjualan, maka baru
disadari bahwa nilainya sangat besar.
Dalil keempat : ukuran kualitas adalah price of non conformance
Crosby berpendapat bahwa, biaya mutu yaitu sebuah pertambahan dari Price of Non
Confermance (PONC) dan Price of Confermance (POC). PONC merupakan biaya yang
dikeluarkan karena kesalahan, contohnya seperti salah pengiriman. Dengan konsep dari “Zero
Defect”, kita berharap bahwa tidak ada lagi PONC, jadi mampu melakukan penurunan fee
quality. Sedangkan POC merupakan uang yang dibayarkan untuk pengerjaan tugas yang benar
sejak awal, maka diperlukan konfirmasi mengenai syarat yang dibutuhkan konsumen. POC
memiliki cakupan uang untuk training and quality education, kalibrasi dn juga inspeksi.
Crosby’s Quality Vaccine
Terdiri dari 3 unsur, berupa :
1) Determinasi (Determintion), merupakan sikap manajemen yang tidak melakukan
penerimaan proses, jasa juga produk dengan persyaratan yang tidak terpenuhi, seperti
wrong shipment, lead-delivery, reject, scrap.
2) Pendidikan (Education)
3) Pelaksanaan (Implementation)
Berikutnya akan dibahas menganai suatu studi kasus yang berjudul “Implementasi Total Quality
Management (TQM) di Lembaga Pendidikan.” Implementasi Total Quality Management
diartikan sebagai penerapan konsep manajemen yang melibatkan kerjasama seluruh
komponen organisasi yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas produk demi kepuasan
pelanggan. Dalam dunia pendidikan, yang dimaksud dengan kepuasan pelanggan yaitu
kepuasan masyarakat terhadap output dari lembaga-lembaga pendidikan yang dapat
menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada di masyarakat.
Seperti halnya dunia industri, alasan dibalik penerapan TQM di dunia pendidikan juga
dikarenakan oleh perkembangan zaman. Ilmu pengetahuan yang berkembang semakin luas
dan teknologi yang semakin canggih, menuntut peningkatan kualitas pendidikan dalam
berbagai aspek mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output). Aspek-aspek yang
menentukan peningkatan kualitas dan mutu pendidikan yaitu aspek internal dan eksternal
sekolah.
Dalam dunia pendidikan, sekolah berperan sebagai penyedia jasa yang memberikan
layanan pendidikan. Pemerintah Indonesia memiliki standar khusus kualitas pendidikan dengan
harapan dapat memotivasi sekolah untuk memberikan pelayanan terbaik bagi peserta didik
agar dapat memenuhi atau bahkan melampaui standar mutu pendidikan tersebut. Seperti
halnya TQM di dunia industri dan komersil, penerapan TQM di dunia pendidikan juga
menjajikan manfaat berupa meningkatnya daya saing dan output yang bebas dari kerusakan.
Kualitas lulusan suatu lembaga pendidikan berbanding lurus dengan nilai jual dan daya serap
masuk ke lembaga pendidikan tersebut.
Penerapan TQM dalam dunia pendidikan di Indonesia bukanlah hal yang mudh.
Perbedaan konsep dan sudut pandang mengenai tujuan pendidikan dan upaya
implementasinya membuat perkembangan TQM terus berkutat pada tahap perencanaan saja.
Sehingga, pelaku organisasi sekolah perlu memperhatikan beberapa hal pokok dalam
penerapan TQM di dunia pendidikan, seperti perbaikan secara terus menerus, menentukan
standar mutu, perubahan kultur, perubahan organisasi, serta mempertahankan hubungan antar
pelanggan. Hal-hal pokok tersebut kurang lebih sama dengan konsep trilogy Juran, yaitu quality
planning, quality control, dan quality improvement yang lazim digunakan di dunia bisnis.
Implementasi TQM di dunia pendidikan juga diperlukan perencanaan strategis, yang
memungkinkan lembaga pendidikan dapat memprediksi tantangan dan peluang yang akan
dihadapi sehingga menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mutu pendidikan yang terus
terjaga.
Tidak berbeda dengan dunia industri, hal fundamental yang menjadi tolak ukur
keberhasilan penerapan TQM dalam pendidikan adalah komitmen dan kerjasama semua
elemen lembaga pendidikan di setiap lapisan manajemen. Manajemen puncak, dalam hal ini
adalah kepala sekolah menjadi pihak pertama yang mengaplikasikan dan menstimulasi TQM.
Selain itu, ia juga memiliki tanggung jawab dalam memimpin dan memotivasi semua guru dan
staf dalam penerapan TQM di sekolah.
BAB 2 JURNAL
Studi kasus pada jurnal “Cost of Quality: a Review and Future Research Directions”
membahas kualitas dan proses yang buruk dapat berdampak pada pendapatan dan
keuntungan perusahaan. Selain itu, kualitas produk yang buruk menyebabkan keterlambatan
pengiriman, lebih banyak waktu untuk memperbaiki masalah, dan meningkatkan biaya secara
signifikan. Pada saat ini, organisasi yang mengelolan kualitas dengan benar, maka akan
meningkatkan diferensiasi produk dan mengurangi biaya pengoperasian. Salah satu langkah
penting dalam menerapkan program peningkatan kualitas adalah mengukur dalan melaporkan
biaya kualitas atau cost of quality.
Cost of quality (COQ) atau biaya kualitas merupakan alat ukur kinerja yang
menggambarkan suatu ukuran biaya spesifik yang berkaitan dengan pencapaian atau non
pencapaian dari kualitas produk maupun jasa. Tujuan dari biaya kualitas adalah meningkatkan
kepuasan pelanggan dan produktivitas perusahaan. Setelah perusahaan menerapkan biaya
kualitas terjadi penurunan keluhan pelanggan, pengerjaan ulang, pengeluaran jaminan, biaya
kegagalan, dan peningkatan penjualan. Pengukuran COQ berfokus pada bidang dengan kinerja
buruk agar dapat langsung dievaluasi dan ditingkatkan. Selain itu, COQ dapat meningkatkan
keunggulan kompetitif organisasi melalui kualitas dan biaya yang lebih rendah. Manajemen
dapat menggunakan COQ untuk mengidentifikasi biaya dan menemukan hal-hal yang
diperlukan dalam upaya perbaikan. Dengan kata lain, biaya kualitas (COQ) merupakan suatu
alat yang sangat baik dalam menjalankan bisnis secara keseluruhan.
Adapun proses yang harus ditempuh untuk mengimplementasikan COQ (Tye et al.,
2011)
1. Mengidentifikasi biaya sesunggunya yang mana biaya kualitasnya memiliki manfaat bagi
perusahaan dengan kerangka keuangan untuk menetapkan tingkat biaya kualitas pada
perusahaan
2. Komitmen dan dukungan dari Top Management, yaitu dengan mengestimasi COQ dan
mendapatkan dukungan dari manajmene puncak
3. Mengidentifikasi anggota tim COQ setiap departemen
4. Memilih divisi perusahaan sebagai prototype. Manajemen puncak menunjuk divisi untuk
memperlihtakan bagaimana COQ sesungguhnya dihitung dan dieliminasi melalui
tindakan analisis dan pencegahan
5. Mempresentasikan program kepada manajemen puncak
6. Menyelenggarakan studi kelayakan program. Studi ini bermanfaat unutk mengetahui
penghematan biaya dan kelanjutan kelayakan program
7. Pendidikan dan pelatihan anggota
8. Penetapan prosedur internal standar akuntansi biaya
9. Mengumpulkan data dan analisis biaya kualitas
10. Melaporkan penggunaan COQ
Semua model COQ yang telah diajukan oleh peneliti sebelumnya, dihasilkam model
biaya kualitas lima langkah seperti yang dikemukakan oleh Ross (1998), yaitu.
Langkah 1: Memilih proses
Langkah 2: Menentukan informasi
Langkah 3: Mengumpulkan biaya
Langkah 4: Menganailisis biaya
Langkah 5: Memperbaiki proses
Untuk arah penelitian di masa mendatang agar berfokus pada pendorong dan hambatan
adopsi COQ, praktik pembanding COQ yang diadopsi, strategi pembelian perusahaan yang
menerapkan COQ, faktor manusia yang mengpengaruhi adopsi COQ, peran big data dalam
adosi COQ, kerangka pelatihan COQ, dan pengaruh COQ pada kinerja sosial, ekonomi dan
keuangan perusahaan.