Anda di halaman 1dari 104

i

Tim Penyusun

Prof.Dr.dr. I Gede Putu Surya, SpOG(K)


Prof.dr. Made Kornia Karkata, SpOG(K)
dr. Tjokorda Gde Agung Suwardewa, SpOG(K)
dr. A.A.N Jaya Kusuma, SpOG(K), MARS
dr.I Nyoman Hariyasa Sanjaya, SpOG(K), MARS
dr. I Ketut Surya Negara,SpOG(K), MARS
dr. A.A.G Raka Budayasa, SpOG(K)
dr. I Wayan Artana Putra, SpOG(K)
dr.A.A .G. Putra Wiradnyana, SpOG(K)
dr.Ryan Saktika Mulyana, MBiomed, SpOG
dr.Endang Sri Widiyanti, MBiomed, SpOG
dr.Evert Solomon Pangkahila, MBiomed, SpOG

Editor
dr. A.A.N Jaya Kusuma, SpOG(K), MARS
dr. I Wayan Artana Putra, SpOG(K)
dr.Ryan Saktika Mulyana, MBiomed, SpOG

Pelayanan Antenatal Terfokus i


KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadapan Tuhan Yang


Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas perkenan-Nya,
buku Panduan Pelayanan Antenatal Terfokus dapat diselesaikan.
Lahirnya buku ini melalui berbagai telaah dan identifikasi
masalah yang dilakukan oleh seluruh tim penyusun dan editor,
adanya ketidaksesuaian antara input dan output dalam menurunkan
angka kematian ibu menjadi acuan dalam penyusunan sistem
pelayanan antenatal terfokus ini. Saat ini sistem pelayanan
antenatal terpadu yang dicanangkan pemerintah merupakan bagian
dari sistem pelayanan antenatal yang berbasis pada pendekatan
“risiko tinggi” dan “risiko rendah”, namun dalam penerapannya
masih banyak kematian ibu yang terjadi merupakan kehamilan
“risiko rendah” yang memiliki resiko kecil untuk mengalami
komplikasi dalam kehamilan dan persalinannya. Tidak terdeteksinya
kelompok resiko rendah ini akibat sistem pelayanan antenatal yang
berbasis kuantitas bukan kualitas serta mengkategorikan wanita
hamil dengan resiko tinggi sebagai kelompok yang lebih beresiko
dibandingkan kelompok resiko rendah, sehingga provider kesehatan
akan lebih memberikan perhatiannya kepada kelompok resiko tinggi
dan “mengabaikan” kelompok risiko rendah, namun tidak sedikit
kematian ibu berasal dari kelompok kehamilan resiko rendah.
Berdasarkan data RISKESDAS 2013 angka cakupan K1 meningkat
dari 92,7% pada tahun 2010 menjadi 95,2% pada tahun 2013 namun
angka kematian ibu terus meningkat, berdasarkan data SDKI tahun
2012 angka kematian ibu tahun 2012 mencapai 359 per 100.000
kelahiran hidup, hal ini mungkin terjadi akibat kurang optimalnya
proses di lapangan sebagai akibat dari sulitnya menerapkan ANC
terpadu oleh banyak provider atau masih lemahnya sistem
pengawasan pelaksanaan antenatal itu sendiri.
Diharapkan buku Panduan Pelayanan Antenatal Terfokus ini
dapat menjadi panduan untuk memberikan pelayanan antenatal

ii Pelayanan Antenatal Terfokus


yang terarah kepada seluruh seluruh provider kesehatan dalam
memberikan pelayanan kepada ibu hamil yang memiliki risiko dan
komplikasi kehamilan yang berbeda-beda.
beda. Buku ini adalah jawaban
terhadap kebutuhan para provider kesehatan di tingkat primer
hingga tersier akan adanya panduan yang singkat, padat, jelas dan
terarah dalam melakukan skrining risiko terhadap ibu hamil yang
berkunjung ke pusat pelayanan kesehatan, mudah-mudahan
mudahan buku
ini bisa menjadi pelengkap dari buku KIA dan pedoman ANC terpadu
yang sudah dipergunakan hingga saat ini.
Kepada para editor dan kontributor buku pedoman
pelayanan
elayanan antenatal terfokus ini kami ucapkan terimakasih atas
kerjasama dan kerja kerasnya sehingga buku ini dapat
terselesaikan. Semoga Buku ini menjadi bagian awal dari perjalanan
kita dalam menurunkan angka kematian ibu dan anak yang sampai
sekarang masihsih menjadi permasalahan di Indonesia. Akhir kata
semoga Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa
melimpahkan berkah dan rahmatnya pada kita semua.

Denpasar, 25 Juli 2015


Ketua Himpunan Kedokteran Fetomaternal Denpasar

dr. Anak Agung Ngurah Jaya Kusuma, SpOG(K), MARS

Pelayanan Antenatal Terfokus iii


SAMBUTAN KETUA POGI BALI

Puja dan puji kita haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widi
Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena atas Asung Kerta Wara
Nugraha-Nya buku Pedoman Pelayanan Antenatal Terfokus yang
diharapkan dapat menjadi buku panduan pelayanan antenatal bagi
seluruh provider kesehatan telah tersusun. Saya menyambut baik
tersusunnya buku pedoman pelayanan antenatal terfokus ini agar
dapat diterapkan sebagai panduan pelayanan antenatal pelengkap
yang dapat menuntun pelayanan antenatal terpadu yang sudah
dicanangkan pemerintah. Saat ini pelayanan antenatal di Bali
khusunya dan di indenesia belum dapat dilakukan seluruhnya oleh
semua provider kesehatan secara terarah di tingkat layanan primer
hingga tersier, dengan hadirnya buku Panduan Pelayanan Antenatal
Terfokus ini diharapkan kedepannya pelayanan antenatal menjadi
lebih terarah dan bisa menjadi angin segar dalam upaya
menurunkan angka kematian ibu yang saat ini masih cukup tinggi.
Dukungan dari semua masyarakat, provider kesehatan dan para
pemangku kebijakan dapat menjadi harapan baru bagi peningkatan
pelayanan antenatal bagi ibu hamil yang lebih baik, sehingga
pelayanan antenatal berkualitas dan menyentuh semua lapisan
masyarakat bukan menjadi mimpi baru namun dapat menjadi
kenyataan.
Untuk itu saya ucapkan terima kasih kepada Himpunanan
Kedokteran Fetomaternal (HKFM) Denpasar yang telah
berkontribusi dan semua tim penyusun serta tim editor yang
memberikan masukkan dalam penyusunan buku panduan ini.

iv Pelayanan Antenatal Terfokus


Mudah-mudahan buku panduan ini bermanfaat bagi kita
semua dan tujuan besar kita bersama dalam menurunkan angka
kematian ibu dapat terwujud sebagai bentuk komitmen dan
sumbangsih seluruh anggota POGI kepada masyarakat di Bali pada
khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Denpasar, 25 Juli 2015


Ketua POGI BALI

dr. Made Suyasa Jaya, SpOG(K)

Pelayanan Antenatal Terfokus v


Daftar isi

Tim penyusun ...................................................................................... i


Kata pengantar .................................................................................... ii
Sambutan ketua POGI Bali................................................................... iv
Daftar isi .............................................................................................. vi

1.Latar Belakang .................................................................................. 1


2.Pelayanan Antenatal terfokus .......................................................... 5
3.Anamnesis terarah ........................................................................... 11
4.Pemeriksaan fisik umum dan obstetri .............................................. 16
5.Pemeriksaan penunjang ................................................................... 24
6.Pengobatan dan intervensi............................................................... 38
7.Komunikasi, informasi & edukasi ..................................................... 45
8.Sistem Rujukan ................................................................................. 59
9.Lampiran dan Form ANC Terfokus.................................................... 64
10.Kepustakaan ................................................................................... 91

vi Pelayanan Antenatal Terfokus


Latar
Belakang
Pelayanan antenatal merupakan perawatan atau asuhan yang
diberikan kepada ibu hamil sebelum proses bersalin berlangsung
yang berguna untuk memfasilitasi hasil yang baik bagi ibu hamil
maupun bayinya dengan jalan menciptakan hubungan kepercayaan
dengan ibu, mendeteksi komplikasi yang dapat mengancam jiwa,
mempersiapkan kelahiran dan memberikan pendidikan kesehatan.
Asuhan Antenatal penting untuk menjamin proses alamiah kelahiran
berjalan normal dan sehat baik kepada ibu maupun bayi yang akan
dilahirkan.
Berdasarkan konsep pelayanan antenatal yang ada saat ini
pendekatan yang dilakukan adalah berbasis risiko dimana ibu hamil
diklasifikasikan kedalam kelompok resiko rendah dan risiko tinggi
serta dengan mengasumsikan semakin banyak kunjungan ibu hamil
maka akan menghasilkan outcome ibu dan bayi yang lebih baik.
Namun, banyak wanita yang dikategorikan resiko tinggi justru tidak
terjadi komplikasi dalam persalinannya, sementara wanita yang
tanpa risiko atau tergolong resiko rendah malah mengalami
komplikasi dalam kehamilan dan persalinannya.
Menggunakan pendekatan risiko dan dengan meningkatkan
jumlah kunjungan tidak selalu meningkatkan outcome kehamilan.
Namun ketika pelayanan antenatal dilakukan menggunakan
pendekatan risiko, maka tenaga kesehatan akan diarahkan untuk
lebih waspada hanya kepada ibu hamil resiko tinggi yang mungkin
tidak akan menimbulkan komplikasi selama kehamilan, sedangkan
ibu hamil “resiko rendah" mungkin tidak mendapatkan perhatian
atau mungkin tidak akan siap untuk mengenali tanda-tanda

Pelayanan Antenatal Terfokus 1


komplikasi, Selain itu banyaknya kunjungan ibu hamil ke pusat
pelayanan kesehatan akan menghabiskan biaya yang cukup besar
dan menimbulkan beban bagi ibu hamil dan keluarganya.
Berdasarkan penelitian WHO yang dilakukan di negara
berkembang didapatkan 70% ibu hamil di negara berkembang
melakukan kunjungan antenatal (K1) dan kebanyakan dari mereka
melakukan kunjungan antenatal sebanyak 4 kali. Pada semua
kelompok umur juga menunjukkan kunjungan antenatal sebanyak 4
kali atau lebih. Wanita di desa dan berpendidikan rendah juga rutin
melakukan kunjungan antenatal. Wanita hamil yang melakukan
kunjungan antenatal sebanyak 4 kali atau rata-rata 3,3 kali
cenderung persalinannya dilakukan oleh tenaga bersalin yang
terlatih.
Penyelenggaraan pelayanan antenatal terpadu sudah
berlangsung selama 5 tahun sejak diterbitkannya pedoman
antenatal terpadu tahun 2010 oleh kementrian kesehatan, namun
angka kematian ibu saat ini terus meningkat bahkan target MDGs
nyaris tidak mungkin dicapai pada akhir tahun 2015 ini, sehingga
pelaksanaan pelayanan antenatal terpadu ini perlu dilakukan
evaluasi kembali dalam pelaksanaannya. Indikator yang digunakan
untuk menggambarkan akses ibu hamil terhadap pelayanan
antenatal terpadu adalah cakupan K1 - kontak pertama dan K4 -
kontak 4 kali dengan tenaga kesehatan yang mempunyai
kompetensi, sesuai standar. Secara nasional angka cakupan
pelayanan antenatal (K1 akses) mencapai 94,24% dan K4 84,36%
sedangkan angka (K1 Trimester 1) 72,3% pada tahun 2010 menjadi
81,3% pada tahun 2013. Walaupun demikian, masih terdapat
disparitas antar provinsi dan antar kabupaten/kota yang variasinya
cukup besar dan perbedaan pendapat diantara provider. Pengertian
dari K1 Kehamilan telah berubah arti. Pengertian K1 Kehamilan yang
sebenarnya adalah pemeriksaan kesehatan seorang ibu hamil sesuai
standar untuk pertama kalinya pada tiga bulan (triwulan) pertama
kehamilan, tetapi banyak provider kesehatan diberbagai unit
pelayanan kesehatan (Puskesmas) mengartikan dari K1 Kehamilan
adalah cakupan ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal

2 Pelayanan Antenatal Terfokus


sesuai standar yang pertama kali pada masa kehamilan (tidak
tergantung usia semester kehamilan) di satu wilayah kerja pada
kurun waktu tertentu. Diharapkan Pelayanan Antenatal Terfokus ini
dapat mengembalikan pengertian kunjungan antenatal ke arah yang
benar.
Adanya kesulitan teknis di lapangan oleh para provider
kesehatan dalam menjalankan pelayanan antenatal terpadu juga
menjadi salah satu kendala, hal ini disebabkan karena belum adanya
panduan yang lebih terarah dan terfokus yang mampu menuntun
para provider kesehatan ibu hamil di lapangan dalam
mengidentifikasi risiko yang dimiliki oleh setiap ibu hamil, sehingga
untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka pelayanan antenatal
di fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta dan praktik
perorangan/kelompok perlu dilaksanakan secara terfokus
berdasarkan individu setiap ibu hamil menggunakan panduan
pelayanan antenatal terfokus. Sehingga provider kesehatan primer
sampai tersier dapat memberikan pelayanan antenatal secara
terfokus, terstruktur dan menyeluruh terhadap kemungkinan
komplikasi yang mungkin akan dihadapi oleh setiap ibu hamil.
Diharapkan dengan diadopsinya pelayanan antenatal terfokus dapat
menjadi sarana pelengkap bagi pelaksanaan proses pelayanan
antenatal terpadu yang sudah dan sedang berlangsung hingga saat
ini.
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka kami
menawarkan konsep yang sebenarnya tidak sepenuhnya baru tapi
boleh dikatakan sebagai kemasan yang lebih praktis dan efisien dari
pelayanan ante natal yang sudah berjalan selama ini, yaitu
pelayanan antenatal terfokus. Berdasarkan definisinya maka
perawatan antenatal terfokus memiliki makna memberikan fokus
perhatiannya pada penilaian ibu hamil dan tindakan yang diperlukan
dalam membuat keputusan serta memberikan pelayanan dasar
pada setiap ibu hamil. Pendekatan dalam pelayanan antenatal
kepada ibu hamil ini lebih menekankan pada kualitas daripada
kuantitas. Pendekatan pelayanan antenatal terfokus ini
menekankan tiga faktor penting: Pertama, kunjungan pelayanan

Pelayanan Antenatal Terfokus 3


antenatal adalah melakukan diagnosis dini dan melakukan terapi
dini pada ibu dan bayi baru lahir. Kedua, kebanyakan kehamilan
akan berlanjut tanpa komplikasi. Ketiga, semua wanita hamil
dianggap berisiko mengalami komplikasi karena sebagian besar
komplikasi tidak dapat diprediksi berdasarkan kategorisasi risiko.
Oleh karena itu, semua wanita hamil harus mendapatkan pelayanan
antenatal yang sama dalam mendeteksi komplikasi yang dapat
terjadi pada setiap ibu hamil.

4 Pelayanan Antenatal Terfokus


Pelayanan
Antenatal
Terfokus

Definisi Pelayanan Antenatal Terfokus


Pelayanan antenatal terfokus merupakan pendekatan baru dari ANC
yang menekankan pada kualitas pelayanan dari pada kuantitas pada
setiap kunjungan, yang disusun dalam paket-paket kunjungan yang
sesuai dengan umur kehamilan, dan menjamin setiap ibu hamil
mendapatkan pelayanan dasar ANC yang diperlukan dalam 4-5 kali
kunjungan, serta memperlakukan semua kehamilan mempunyai
risiko yang sama.

Tujuan Pelayanan Antenatal Terfokus


Setiap kunjungan dari ANC terfokus meliputi intervensi yang sesuai
dengan masalah pada periode umur kehamilan pada masa
kehamilan, yang ditujukan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan
bayinya secara menyeluruh dan untuk mempersiapkan kelahiran
bayi dan perawatan bayi baru lahir. Tujuan utama dari pelayanan
ante natal terfokus adalah membantu ibu hamil memelihara
kehamilannya melalui:
• Mengidentifikasi penyakit-penyakit yang sudah terjadi sebelum
hamil
• Melakukan deteksi dini komplikasi-komplikasi yang muncul
selama kehamilan.
• Promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.
• Mempersiapkan kelahiran dan mempersiapkan rencana
menghadapi komplikasi

Keunggulan Pelayanan Antenatal Terfokus

Pelayanan Antenatal Terfokus 5


World Health Organization (WHO) merekomendasikan empat
kunjungan perawatan antenatal bagi wanita dengan kehamilan
normal, dengan kunjungan pertama pada trimester pertama
(Idealnya sebelum 12 minggu tetapi tidak lebih dari 16 minggu), dan
pada 24-28 minggu, 32 minggu dan 36 minggu. Dengan menerapkan
Pelayanan ante natal terfokus akan menjamin ibu hamil
mendapatkan pelayanan yang lebih berkualitas, lebih cepat, lebih
murah karena hanya 4-5 kali kunjungan, serta mendapatkan
pelayanan yang sudah terbukti secara evidence base. Melalui
pelayanan antenatal terfokus akan mengembalikan pelayanan K1-K4
seperti semula, dimana kunjungan K1 benar benar dilakukan pada
trimester I (K1 murni), dan K4 adalah ibu hamil yang sudah
mendapatkan pelayanan K1, K2 dan K3 standar sesuai dengan
paket-paket ANC terfokus. Sehingga dengan melakukan pelayanan
antenatal terfokus, secara otomatis kualitas pelayanan ANC akan
meningkat, karena kualitas ANC yang terpenting ditentukan oleh
adanya kunjungan di trimester I (Kessner dkk, William Obstetri,
2010). Bila dikaitkan dengan era pelayanan BPJS sekarang ini, maka
pelayanan antenatal terfokus ini sangat tepat dilaksanakan karena
BPJS hanya menanggung biaya ANC untuk 4 kali kunjungan.

Implementasi dari Pelayanan ANC terfokus


Kegiatan Pelayanan antenatal terfokus ini disusun dalam bentuk
paket-paket kegiatan sesuai umur kehamilan dalam bentuk form
dan cheklist untuk memudahkan implementasinya. Walaupun WHO
merekomendasikan 4 paket kunjungan antenatal terfokus, kita
melakukan sedikit modifikasi dengan menambahkan satu paket
paket lagi untuk mengakomodasi kunjungan pada umur kehamilan
18-24 minggu, karena pada umur kehamilan tersebut merupakan
periode yang sangat krusial dalam melakukan deteksi cacat bawaan
pada janin. Sehingga keseluruhan paket kegiatan pelayanan ante
natal terfokus menjadi 5 paket. Disamping paket-paket tersebut
terdapat juga form klasifikasi untuk memudahkan provider didalam
menentukan mana yang harus mendapat therapi dan atau
memerlukan monitoring lebih ketat.

6 Pelayanan Antenatal Terfokus


Promosi Kesehatan dan Pencegahan Penyakit
Hal ini penting bagi para provider kesehatan dan ibu hamil untuk
berbicara tentang pentingnya masalah yang mempengaruhi
kesehatan wanita, kehamilan, rencana persalinan, nifas serta
perawatan bayi baru lahir. Diskusi ini harus mencakup bagaimana
kehamilan berlangsung dan bagaimana mempersiapkan
kelahirannya, bagaimana mengenali tanda-tanda bahaya, apa yang
harus dilakukan jika terjadi komplikasi dan dimana mendapatkan
bantuan, manfaat gizi yang baik dan istirahat yang cukup,
pentingnya kebersihan diri, risiko penggunaan tembakau, alkohol
dan obat-obatan, manfaat jarak anak, manfaat ASI eksklusif, dan
perlunya perlindungan terhadap IMS dan HIV. Pelayanan antenatal
terfokus juga harus meliputi intervensi pencegahan untuk semua
ibu hamil yang meliputi:
• Imunisasi tetanus dengan vaksinasi TT yang merupakan
vaksin murah yang membantu mencegah tetanus neonatal
dan maternal. Tetanus menyebabkan sekitar 200.000 bayi
meninggal setiap tahun dan menyumbang 8% dari seluruh
kematian neonatal.
• Pengurangan anemia defisiensi besi melalui konseling gizi
dan suplementasi besi / folat sebab Anemia defisiensi besi
adalah yang paling banyak mempengaruhi ibu hamil. Di
negara-negara endemik, pencegahan dan pengobatan
infeksi cacing tambang dan pencegahan serta pengobatan
malaria juga merupakan intervensi yang penting untuk
mengurangi anemia non gizi.

Di daerah dengan kondisi yang buruk, dengan penyakit gizi buruk,


layanan berikut harus disediakan sesuai dengan kebijakan dan
pedoman nasional:
• Perlindungan terhadap malaria bagi perempuan yang
tinggal di malaria zona endemik melalui penggunaan jaring

Pelayanan Antenatal Terfokus 7


insektisida, pengobatan pencegahan yang intermiten dan
penanganan kasus yang efektif terhadap malaria.
• Pencegahan IMS/HIV/AIDS dan pencegahan penularan dari
ibu ke anak melalui tes dan konseling HIV, profilaksis atau
pengobatan antiretroviral dan konseling asupan serta
dukungan bayi baru lahir. Transmisi HIV dari ibu ke anak
adalah sumber penularan yang paling signifikan pada
anak-anak di bawah usia 15 tahun.
• Perawatan untuk dugaan infeksi cacing tambang untuk
mencegah infeksi cacing tambang yang merupakan
penyebab utama dari anemia defisiensi besi.
• Perlindungan terhadap defisiensi vitamin A dan atau
yodium melalui suplementasi di daerah/populasi dengan
defisiensi vitamin A dan atau yodium.

Deteksi Dini dan pencegahan Komplikasi yang ada


Sebagai bagian dari penilaian yang terfokus terhadap ibu hamil,
provider kesehatan sebaiknya harus terampil dalam memberikan
konseling, informasi dan edukasi serta memeriksa wanita hamil
untuk menemukan masalah yang dapat membahayakan dirinya dan
bayi yang dikandungnya. Komplikasi seperti anemia berat, infeksi,
perdarahan vagina, pre-eklampsia/eklampsia, pertumbuhan janin
terhambat dan posisi janin abnormal setelah 36 minggu dapat
mengancam jiwa. Dan kondisi, seperti malaria,TB, HIV, sifilis, IMS
lainnya, diabetes, penyakit jantung, anemia atau malnutrisi
memerlukan perawatan khusus selama periode antenatal.

Persiapan Kelahiran dan Kesiapan menghadapi Komplikasi


pelayanan antenatal terfokus meliputi persiapan persalinan oleh ibu
hamil dan keluarganya, seperti memilih tempat persalinan,
mengidentifikasi petugas yang terampil dan pendamping kelahiran,
perencanaan biaya, perencanaan transportasi jika diperlukan, dan
menyiapkan perlengkapan untuk perawatan pasca salin. Kunjungan
antenatal juga sangat mempengaruhi seorang wanita dalam
memilih tenaga medis yang terampil untuk melahirkan dan

8 Pelayanan Antenatal Terfokus


membangun rencana untuk persalinan normal serta rencana
penanganan darurat jika terjadi komplikasi. Rencana penanganan
darurat ini harus mencakup transportasi, uang, donor darah dan
pihak yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan. Lima
belas persen dari semua wanita hamil mengalami komplikasi yang
mengancam nyawa dalam persalinannya, dan sebagian besar
komplikasi tidak bisa diprediksi sehingga setiap ibu hamil dan
keluarganya harus siap untuk menghadapi hal tersebut.

Prinsip dasar pelayanan ibu hamil


Ada beberapa prinsip umum yang merupakan bagian integral dari
pelayanan antenatal terfokus dan berkualitas tinggi untuk ibu hamil.
Perawatan tersebut harus bersifat:
• Ramah terhadap ibu hamil: kesehatan dan kelangsungan
hidup bagi ibu hamil adalah hak asasi manusia yang harus
menjadi prioritas.
• Menghormati proses pengambilan keputusan oleh ibu hamil
dan anggota keluarga dalam rumah tangga, komunikasi,
partisipasi dan kemitraan dalam membuat keputusan
• Sesuai dengan kultur dan budaya yang berlaku: Setiap
budaya memiliki keyakinan yang spesifik, ritual dan praktek
seputar kehamilan dan melahirkan. Hal ini sangat penting
bagi seorang ibu yang sedang hamil.
• Individual: Dengan mempertimbangkan semua informasi
yang diketahui tentang kesehatan ibu hamil, riwayat
kesehatan, kebiasaan sehari-hari dan gaya hidup, rumah
tangga, keyakinan, budaya, adat istiadat dan lainnya maka
tenaga medis seharusnya dapat memberikan perawatan
berdasarkan latar belakang tersebut.
• Bagian dari perawatan rumah tangga menuju perawatan
rumah sakit: komponen pelayanan antenatal terfokus dapat
diterapkan di seluruh lapisan masyarakat, Namun,
hubungan dengan sistem pelayanan kesehatan sangat
penting untuk memastikan ketersediaan petugas kesehatan

Pelayanan Antenatal Terfokus 9


masyarakat yang kompeten dan sistem rujukan yang
fungsional.
• Terpadu: perawatan antenatal terfokus termasuk IMS dan
tes/konseling untuk mendeteksi HIV dan pencegahannya,
penyediaan mikronutrien, perencanaan kelahiran,
perencanaan keadaan darurat dan konseling keluarga
berencana.

Perawatan antenatal yang efektif saja tidak akan mencegah


morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi, namun kualitas
perawatan ibu hamil memainkan peranan penting dalam
memastikan kesehatan ibu dan bayi.

10 Pelayanan Antenatal Terfokus


Anamnesis
Terarah

Anamnesa
Dalam memberikan pelayanan antenatal terpadu, ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan ketika melakukan anamnesa, yaitu:
1. Menanyakan keluhan atau masalah yang dirasakan oleh ibu
saat ini.
2. Menanyakan tanda-tanda penting yang terkait dengan
masalah kehamilan dan penyakit yang kemungkinan
diderita ibu hamil:
o Muntah berlebihan
Rasa mual dan muntah bisa muncul pada kehamilan
muda terutama pada pagi hari namun kondisi ini
biasanya hilang setelah kehamilan berumur 3 bulan.
Keadaan ini tidak perlu dikhawatirkan, kecuali kalau
memang cukup berat, hingga tidak bisa makan dan
berat badan menurun terus.
o Pusing
Pusing biasa muncul pada kehamilan muda. Apabila
pusing sampai mengganggu aktivitas sehari-hari maka
perlu diwaspadai.
o Sakit kepala
Sakit kepala yang hebat yang timbul pada ibu hamil
mungkin dapat membahayakan kesehatan ibu dan
janin.
o Perdarahan
Perdarahan waktu hamil, walaupun hanya sedikit sudah
merupakan tanda bahaya sehingga ibu hamil harus
waspada.

Pelayanan Antenatal Terfokus 11


o Sakit perut hebat
Nyeri perut yang hebat dapat membahayakan
kesehatan ibu dan janinnya.
o Demam
Demam tinggi lebih dari 2 hari atau keluarnya cairan
berlebihan dari liang rahim dan kadang-kadang berbau
merupakan salah satu tanda bahaya pada kehamilan.
o Batuk lama
Batuk lama Lebih dari 2 minggu, perlu ada pemeriksaan
lanjut. Dapat dicurigai ibu menderita TBC.
o Berdebar-debar
Jantung berdebar-debar pada ibu hamil merupakan
salah satu masalah pada kehamilan yang harus
diwaspadai.
o Cepat lelah
Dalam dua atau tiga bulan pertama kehamilan,
biasanya timbul rasa lelah, mengantuk yang berlebihan
dan pusing, yang biasanya terjadi pada sore hari.
Kemungkinan ibu menderta kurang darah.
o Sesak nafas atau sukar bernafas
Pada akhir bulan ke delapan ibu hamil sering merasa
sedikit sesak bila bernafas karena bayi menekan paru-
paru ibu. Namun apabila hal ini terjadi berlebihan maka
perlu diwaspadai.
o Keputihan yang berbau
Keputihan yang berbau merupakan salah satu tanda
bahaya pada ibu hamil.
o Gerakan janin
Gerakan bayi mulai dirasakan ibu pada kehamilan akhir
bulan ke empat. Apabila gerakan janin belum muncul
pada usia kehamilan ini, gerakan yang semakin
berkurang atau tidak ada gerakan maka ibu hamil harus
waspada.

12 Pelayanan Antenatal Terfokus


o Perilaku berubah selama hamil
Perilaku berubah seperti gaduh gelisah, menarik diri,
bicara sendiri, tidak mandi, dsb. Selama kehamilan, ibu
bisa mengalami perubahan perilaku. Hal ini disebabkan
karena perubahan hormonal. Pada kondisi yang
mengganggu kesehatan ibu dan janinnya maka akan
dikonsulkan ke psikiater.
o Riwayat kekerasan terhadap perempuan (KtP)
selama kehamilan Informasi mengenai kekerasan
terhadap perempuan terutama ibu hamil seringkali
sulit untuk digali. Korban kekerasan tidak selalu mau
berterus terang pada kunjungan pertama, yang
mungkin disebabkan oleh rasa takut atau belum
mampu mengemukakan masalahnya kepada orang lain,
termasuk petugas kesehatan. Dalam keadaan ini,
petugas kesehatan diharapkan dapat mengenali korban
dan memberikan dukungan agar mau membuka diri.
1. Menanyakan status kunjungan (baru atau lama), riwayat
kehamilan yang sekarang, riwayat kehamilan dan persalinan
sebelumnya (riwayat abortus, persalinan preterm, jumlah
anak hidup saat ini, riwayat berat badan anak lahir
sebelumnya, riwayat operasi sebelumnya, riwayat Vakum
atau Forcep sebelumnya) dan riwayat penyakit yang
diderita ibu (Hipertensi, kelainan jantung, riwayat ashma,
Diabetes militus dll).
2. Menanyakan status imunisasi Tetanus Toksoid.
3. Menanyakan jumlah tablet Fe yang dikonsumsi.
4. Menanyakan obat-obat yang dikonsumsi seperti:
antihipertensi, diuretika, anti vomitus, antipiretika,
antibiotika, obat TB, dan sebagainya.
5. Di daerah endemis malaria, tanyakan gejala malaria dan
riwayat pemakaian obat malaria.
6. Di daerah risiko tinggi IMS, tanyakan gejala IMS dan riwayat
penyakit pada pasangannya. Informasi ini penting untuk
langkah-langkah penanggulangan penyakit menular seksual.

Pelayanan Antenatal Terfokus 13


7. Menanyakan pola makan ibu selama hamil yang meliputi
jumlah, frekuensi dan kualitas asupan makanan terkait
dengan kandungan gizinya.
8. Menanyakan kesiapan menghadapi persalinan dan
menyikapi kemungkinan terjadinya komplikasi dalam
kehamilan, antara lain:
o Siapa yang akan menolong persalinan?
Setiap ibu hamil harus bersalin ditolong tenaga
kesehatan.
o Dimana akan bersalin?
Ibu hamil dapat bersalin di Poskesdes, Puskesmas atau
di rumah sakit?
o Siapa yang mendampingi ibu saat bersalin?
Pada saat bersalin, ibu sebaiknya didampingi suami
atau keluarga terdekat. Masyarakat/organisasi
masyarakat, kader, dukun dan bidan dilibatkan untuk
kesiapan dan kewaspadaan dalam menghadapi
persalinan dan kegawatdaruratan obstetri dan
neonatal
o Siapa yang akan menjadi pendonor darah apabila
terjadi pendarahan?
Suami, keluarga dan masyarakat menyiapkan calon
donor darah yang sewaktu-waktu dapat
menyumbangkan darahnya untuk keselamatan ibu
melahirkan.
o Transportasi apa yang akan digunakan jika suatu saat
harus dirujuk?
Alat transportasi bisa berasal dari masyarakat sesuai
dengan kesepakatan bersama yang dapat dipergunakan
untuk mengantar calon ibu bersalin ke tempat
persalinan termasuk tempat rujukan. Alat transportasi
tersebut dapat berupa mobil, ojek, becak, sepeda,
tandu, perahu, dsb.
o Apakah sudah disiapkan biaya untuk persalinan?

14 Pelayanan Antenatal Terfokus


Suami diharapkan dapat menyiapkan dana untuk
persalinan ibu kelak. Biaya persalinan ini dapat pula
berupa tabulin (tabungan ibu bersalin) atau dasolin
(dana sosial ibu bersalin) yang dapat dipergunakan
untuk membantu pembiayaan mulai antenatal,
persalinan dan kegawatdaruratan.

Informasi anamnesa bisa diperoleh dari ibu sendiri, suami,


keluarga, kader ataupun sumber informasi lainnya yang dapat
dipercaya. Pada kunjungan pertama perlu diinformasikan
bahwa pelayanan antenatal selama kehamilan minimal 5 kali
dan minimal 1 kali kunjungan diantar suami.

Pelayanan Antenatal Terfokus 15


Pemeriksaan
Fisik Umum
dan Obstetri

Pemeriksaan fisik umum pada kunjungan pertama:


• Pengukuran tekanan darah dilakukan pada setiap kunjungan
asuhan pranatal. Tujuan pengukuran tekanan darah untuk
mengidentifikasi ibu hamil dengan hipertensi kronik.
Tekanan darah diastolik > 80 berhubungan dengan risiko
preeklamsia. Tekanan darah diukur dengan posisi lengan ibu
hamil setinggi jantung, dalam keadaan duduk atau
berbaring setengah duduk, dengan menggunakan cuff yang
sesuai (Panjangnya 1.5 x lingkar lengan atas dan lebarnya
menutupi > 80% lengan atas).
• Pada kunjungan pertama ini tinggi badan dan berat badan
wajib diukur untuk untuk indeks massa tubuh {IMT= berat
(kg)/ tinggi kuadrat (m2)}.
• Penentuan IMT harus dilakukan pada saat awal kehamilan.
• Penentuan IMT ini berhubungan dengan risiko kehamilan
seperti diabetes dan persalinan preterm, serta risiko
persalinan seperti distosia bahu, seksio sesaria, BBLR.
• Pengukuran LILA (lingkar lengan atas)

Tabel 1. Kategori Indeks Massa Tubuh (IMT)


Kategori berat IMT
Kurus < 18.5
Normal 18.5-24.9
Gemuk 25-29.9
Obesitas (kelas I) 30-34.9
Obesitas (kelas II) 35-39.9
Obesitas ekstrim (kelas III) > 40

16 Pelayanan Antenatal Terfokus


• Harus dilakukan pemeriksaan fisik menyeluruh dan terarah
sesuai identifikasi risiko dari kepala sampai ujung kaki
(head-to-toe) termasuk pemeriksaan payudara (lihat
lampiran 1), jantung, paru dan ekstremitas.

Pemeriksaan fisik umum pada kunjungan berikutnya:


• Pemeriksaan fisik lanjutan dan pemeriksaan atas indikasi.
• Pemeriksaan tanda-tanda klinis anemia pada ibu hamil.
• Pemeriksaan fisik lanjutan Berat badan, Penambahan berat
badan yang optimal berhubungan dengan luaran kehamilan
yang lebih baik.

Tabel 2. Total penambahan berat badan ibu hamil yang dianjurkan


IMT Kehamilan Tunggal Gemeli
(Kg) (Kg)
<18.5 12.5-18 Tidak ada data
18.5-24.9 11.5-16 17-25
25.0-29.9 7-11.5 14-23
>30 5-9 11-19

• Tekanan darah harus diperiksa dan dicatat pada setiap


kunjungan.

Pemeriksaan Fisik Obstetri


Pemeriksaan fisik obstetri pada kunjungan pertama:
• Abdomen secara umum
• Vulva/ perineum untuk memeriksa adanya varises,
kondiloma, edema, hemoroid, atau kelainan lainnya.
• Pemeriksaan dalam untuk menilai: serviks*, uterus*,
adneksa*, kelenjar bartholin, kelenjar skene , dan uretra
(*bila usia kehamilan < 2 minggu)
• Pemeriksaan inspekulo untuk menilai: serviks, tanda-tanda
infeksi, dan cairan dari ostium uteri

Pelayanan Antenatal Terfokus 17


Gambar 1. tinggi fundus uteri ibu hamil dan pengukuruan tinggi
fundus uteri

Pemeriksaan fisik obstetri pada setiap kunjungan berikutnya:


• Pantau tumbuh kembang janin (fetal growth) dengan
mengukur tinggi fundus uteri. Sesuaikan dengan grafik
tinggi fundus atau lihat gambar tinggi fundus uteri ibu hamil
dan pengukuran tinggi fundus uteri.
• Tinggi fundus uteri yang normal untuk usia kehamilan 20-36
minggu dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus
(usia kehamilan dalam minggu + 2) cm. Jika -3 dari yang
seharusnya patut dicurigai PJT (pertumbuhan janin
terhambat).
• Menentukan perkiraan berat janin dengan rumus Johnson
Tausak dan menentukan kesesuaian berat janin dengan usia
janinnya berdasarkan grafik pertumbuhan janin. Jika berada
dibawah 10 persentil patut dicurigai mengalami
pertumbuhan janin terhambat dan memerlukan
penanganan lanjutan. (lihat lampiran 2).

18 Pelayanan Antenatal Terfokus


• Auskultasi denyut jantung janin, terdapat beberapa
instrument untuk mendengarkan denyut jantung janin

Dengan menggunakan stetoskop Pinard


1. Tempat mendengarkan harus tenang, agar tidak
mendapat gangguan dari suara lain.
2. Ibu hamil diminta berbaring terlentang, kakinya lurus,
bagian yangtidak perlu diperiksa ditutup, pintu atau
jendela ditutup.
3. Mencari daerah atau tempat dimana kita akan
mendengarkan. Setelah daerah ditemukan, stetoskop
pinard di pakai bagian yang berlubang luas
ditempatkan ke atas tempat atau daerah dimana kita
akan mendengarkan. Sedangkan bagian yang luasnya
sempit ditempatkan pada telinga kita dan diletakkan
tegak lurus.
4. Kepala pemeriksa dimiringkan, perhatian dipusatkan
pada denyut jantung janin. Bila terdengar suatu detak,
maka untuk memastikan apakah yang terdengar itu
denyut jantung janin, detak ini harus disesuai dengan
detak nadi ibu. Bila detak itu sama dengan nadi ibu,
yang terdengar bukan jantunt janin, tetapi detak
aortaabdominalis dari ibu.
5. Setelah pasti bahwa yang terdengar itu adalah denyut
jantung janin maka dihitung untuk mengetahu
regularitas dan frekuensinya.
6. Dihitung 3 X 5 detik secara berurutan, dengan cara ini
dapat diketahui teratur tidaknya Denyut jantung janin.

Pelayanan Antenatal Terfokus 19


Gambar 2. cara mendengarkan denyut jantung janin dengan
stetoskop pinard

Dengan menggunakan doppler


1. Nyalakan doppler, untuk memeriksa apakah doppler
dapat digunakan
2. Usahakan jelly pada abdomen ibu, tepatt pada daerah
yang telah ditentukan. Kegunaan jelly adalah sebagai
kontak kedap udara antara kulit abdomen men dengan
permukaan sensor.
3. Tempatkan sensor pada daerah yang akan didengarkan,
kemudian tekan tombol ol start untuk mendengarkan
denyut jantung janin.
4. Lakukan penyesuaian volume seperlunya dengan
menggunakan tombol pengatur volume.
5. Lihat denyut jantung janin pada angka yang ditujukan
melalui monitor

• Palpasi abdomen menggunakan manuver Leopold I-IV: I


 Leopold I : menentukan tinggi fundus uteri dan
bagian janin yang terletak di fundus uteri
(dilakukan sejak awal trimester I)
 Leopold II : menentukan bagian janin pada sisi kiri
dan kanan ibu (dilakukan mulai akhir trimester II)

20 Pelayanan Antenatal Terfokus


 Leopold III : menentukan bagian janin yang
terletak di bagian bawah uterus (dilakukan mulai
akhir trimester II)
 Leopold IV : menentukan berapa jauh masuknya
janin ke pintu atas panggul (dilakukan bila usia
kehamilan > 36 minggu)

Gambar 3. Cara melakukan palpasi abdomen dengan manuver


Leopold I-IV

Pelayanan Antenatal Terfokus 21


• Evaluasi Panggul
Pemeriksaan ini dilakukan ibu pada usia kehamilan 36
minggu. Namun biasanya dokter juga akan melakukan
pemeriksaan panggul jika ada indikasi tertentu, pada ibu
hamil, di antaranya:
1. Ada dugaan disproporsi atau ketidaksesuaian besar
bayi dan ukuran panggul ibu. Khususnya jika ukuran
bayi besar, sedangkan panggul ibu sempit. Biasanya
bayi berbobot 4 kg ke atas sulit dilahirkan secara
normal. Selain kepala tidak bisa memasuki rongga
panggul, ukuran bahu bayi yang juga lebar
menghambat bayi turun ke panggul.
2. Kelainan panggul, karena trauma kecelakaan yang
merusak bentuk panggul. Kondisi ini boleh jadi kurang
ideal bagi ibu untuk melahirkan secara normal.
3. Ibu memiliki riwayat penyakit perusak panggul, seperti
TBC tulang, rakhitis, atau polio. Bakteri TBC tulang
mampu merusak bentuk panggul, menjadi bengkok
ataupun tidak beraturan.
4. Kelainan letak bayi, misalnya posisi wajah bayi yang
langsung menghadap jalan lahir. Posisi yang benar,
adalah ubun-ubun bayilah yang menghadap jalan lahir.

Pemeriksaan panggul secara Klinis


1. Pintu Atas Panggul
Pintu atas panggul merupakan suatu bidang yang dibentuk oleh
promontorium, korpus vertebrae sakral 1 , linea innominata
terminalis, dan pinggir atas simpisis, panjang antara simpisis ke
promontorium lebih kurang 11 cm, disebut konjugata vera.
Cara mengukur konjugata vera ialah jari tengah dan telunjuk
dimasukkan ke dalam vagina untuk meraba promontorium
(konjugata diagonalis), jarak ini dikurangi 1,5 cm maka akan
didapatkan nilai konjugata vera. Salah satu tes yang digunakan
untuk menilai adanya CPD (cephalo pelvic disproporsion)

22 Pelayanan Antenatal Terfokus


adalah dengan Osborn test, Prosedur pemeriksaan test Osborn
ini, adalah sebagai berikut :
a. Dilakukan pada umur kehamilan 36 minggu
b. Tangan kiri mendorong kepala janin masuk/ke arah
PAP.
Apabila kepala mudah masuk tanpa halangan, maka hasil test
Osborn adalah negatif (-). Apabila kepala tidak bisa masuk dan
teraba tonjolan diatas simfisi, maka tonjolan diukur dengan 2
jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan. Apabila lebar
tonjolan lebih dari dua jari, maka hasil test osborn adalah
positif (+).

2. Panggul Tengah (Pelvic Cavity)


Ruang panggul ini memiliki ukuran yang paling luas.
Pengukuran klinis panggul tengah tidak dapat diperoleh secara
langsung. Terdapat penyempitan setinggi spina isciadika,
sehingga bermakna penting pada distosia setelah kepala
engagement. Jarak antara kedua spina ini yang biasa disebut
distansia interspinarum merupakan jarak panggul terkecil yaitu
sebesar 10,5 cm. Diameter anteroposterior setinggi spina
isciadica berukuran 11,5 cm. Diameter sagital posterior, jarak
antara sacrum dengan garis diameter interspinarum berukuran
4,5 cm.

3. Pintu Bawah Panggul


Pintu bawah panggul bukanlah suatu bidang datar namun
terdiri dari dua segitiga dengan dasar yang sama yaitu garis
yang menghubungkan tuber isciadikum kiri dan kanan. Pintu
bawah panggul yang dapat diperoleh melalui pengukuran klinis
adalah jarak antara kedua tuberositas iscii atau distansia
tuberum (10,5 cm), jarak dari ujung sacrum ke tengah-tengah
distensia tuberum atau diameter sagitalis posterior (7,5 cm),
dan jarak antara pinggir bawah simpisis ke ujung sacrum (11,5
cm).

Pelayanan Antenatal Terfokus 23


Pemeriksaan
Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium
• Lakukan pemeriksaan laboratorium rutin (untuk semua ibu
hamil) pada kunjungan pertama:
o Kadar hemoglobin
World Health Organisation (WHO) mendefinisikan
anemia pada kehamilan jika ditemukan Haemoglobin
Kadar Hb < 11 g/dl (pada trimester I dan III) atau < 10,5
g/dl (pada trimester II). Nilai ambang batas yang
digunakan untuk menentukan status anemia ibu hamil
berdasarkan kriteria WHO.

Tabel 3. Kriteria anemia pada ibu hamil berdasarkan WHO


Anemia Hb (gr/dl)
Normal ˃11
Ringan 10
Sedang 7-10
Berat ˂7

o Panel Anemia
Bila tersedia fasilitas pemeriksaan penunjang, tentukan
penyebab anemia berdasarkan hasil pemeriksaan darah
perifer lengkap dan apusan darah tepi.

24 Pelayanan Antenatal Terfokus


Tabel 4. Jenis anemia, diagnostik dan terapi
Jenis anemia Diagnostik Penatalaksanaan

Anemia Defisiensi Lakukan pemeriksaan


mikrositik besi ferritin. Apabila ditemukan
hipokrom kadar ferritin < 15 ng/ml,
berikan terapi besi dengan
dosis setara 180 mg besi
elemental per hari. Apabila
kadar ferritin normal,
lakukan pemeriksaan SI dan
TIBC.

Thalassemia Pasien dengan kecurigaan


thalassemia perlu dilakukan
tatalaksana bersama dokter
spesialis penyakit dalam
untuk perawatan yang lebih
spesifik

Anemia Perdarahan Tanyakan riwayat dan cari


normositik tanda dan gejala aborsi,
normokrom mola, kehamilan ektopik,
atau perdarahan pasca
persalinan

Infeksi Terapi sesuai penyakit dasar


kronik

Anemia Defisiensi berikan asam folat 1 x 2 mg


makrositik asam folat dan vitamin B12 1 x 250 –
hiperkrom dan vitamin 1000 µg
B12

Pelayanan Antenatal Terfokus 25


Note : Transfusi untuk anemia dilakukan pada pasien
dengan kondisi berikut:
• Kadar Hb <7 g/dl atau kadar hematokrit <20 %
• Kadar Hb >7 g/dl dengan gejala klinis: pusing,
pandangan berkunang-kunang, atau takikardia
(frekuensi nadi >100x permenit)

o Golongan darah ABO dan rhesus


Golongan darah A-B-O diperlukan untuk dibandingkan
dengan golongan darah bayi saat lahir apakah ada
kemungkinan inkompatibilitas gol darah A-B-O yang
memerlukan tindakan pada bayi. Golongan darah juga
perlu diketahui bila diperlukan transfusi pada ibu.
Dilakukan pada trimester pertama kehamilan.
Faktor rhesus (positif atau negatif ). Perlu perhatian
khusus bila rhesus istri negatif sedangkan rhesus suami
positif. Terdapat kemungkinan rhesus janin positif,
sehingga dapat terjadi sensitisasi pada darah ibu yang
akan menimbulkan antibodi terhadap rhesus positif. Hal
ini dapat membahayakan janin pada kehamilan
berikutnya. Untuk itu ibu hamil dengan rhesus negatif
harus diberi suntikan imunoglobulin D (rhogam) pada
kehamilan 28 minggu untuk mengikat antibodi terhadap
rhesus positif, serta dalam 72 jam setelah melahirkan
apabila bayinya rhesus positif.

o HbsAg
Hepatitis B merupakan infeksi menular serius pada hati
yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Infeksi akut
dapat terjadi pada saat tubuh terinfeksi untuk pertama
kalinya. Infeksi akut ini dapat berubah menjadi kronis
setelah beberapa bulan sejak infeksi pertama kali,
Adanya infeksi kronik Hepatitis B ditentukan dengan
hasil pemeriksaan skrining HbsAg yang (+). Setiap ibu

26 Pelayanan Antenatal Terfokus


hamil perlu dilakukan pemeriksaan HbsAg pada
trimester pertama kehamilannya.

Tabel 5. Pemeriksaan HbsAg dan penatalaksanaannya


Hasil HbsAg Penatalaksanaan

Bayi diberikan suntikan HBIG 0,5 ml IM


pada lengan atas segera setelah lahir
(dalam 12 jam kelahiran) dan vaksin
(+) hepatitis B dengan dosis 0,5 ml (5 µg) IM
pada lengan atas sisi lain pada saat yang
sama kemudian pada usia 1 bulan dan 6
bulan.
bayi hanya diberikan vaksin hepatitis B
(-) 0,5 ml (5 µg) pada usia ke-0, 1
bulan, dan 6 bulan.
Catatan: Tidak ada larangan pemberian ASI eksklusif pada
bayi dengan ibu HbsAg positif terutama bila bayi telah
divaksinasi dan diberi HBIG setelah lahir.

o Skrining Preeklampsia (PE) dan Eklampsia


Skrining Preeeklampsia dimulai pada trismester I dengan
mengeidentifikasi faktor resiko PE seperti Riwayat PE
sebelumnya, primitua, primimuda, obesitas, penyakit
jantung, dan ginjal, riwayat PE di keluarga. Bila dijumpai
faktor resiko PE dilakukan skriining dan diberikan
calsium pada trisemester I dan dilakukan pemeriksaan
Hematologi rutin, Urinalisa sejak Usia kehamilan 20
minggu. Selain itu dilakukan pemeriksaan USG Doppler
unutk mendeteksi adanya “notching” pada pemeriksaan
doppler stydu areteri uterina pada usia kehamilan 20
minggu, bila dijumpai “notching” maka dapat diberikan
aspirin 80mg/hari. Selanjutnya dilakukan pengukuran
tekanan darah dan proteinuria setiap kunjungan sesuai
bagan alur skrining PE (lampiran 9).

Pelayanan Antenatal Terfokus 27


o Tes HIV atas inisiatif Pemberi Pelayanan Kesehatan dan
Konseling (TIPK)
Program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak
(PPIA) dilakukan melalui Tes HIV atas inisiatif Pemberi
Pelayanan Kesehatan dan Konseling (TIPK) adalah suatu
tes HIV dan konseling yang diprakarsai oleh petugas
kesehatan kepada pengunjung sarana layanan kesehatan
sebagai bagian dari standar pelayanan medis. TIPK harus
dianjurkan sebagai bagian dari standart pelayanan pada
fasilitas pelayanan kesehatan. Pada ibu hamil,
penerapan TIPK dilaksanakan berdasarkan tingkat
epidemi sebagai berikut:
• Daerah dengan tingkat epidemi meluas dan
terkonsentrasi maka tenaga kesehatan wajib
menawarkan tes HIV kepada semua ibu hamil
secara inklusif pada pemeriksaan laboratorium
rutin lainnya saat pemeriksaan antenatal atau
menjelang persalinan.
• Daerah dengan epidemi HIV rendah, penawaran
tes HIV diprioritaskan pada ibu hamil dengan
IMS dan TB. Pemeriksaaan dilakukan secara
inklusif pada pemeriksaaan laboratorium rutin
lainnya saat pemeriksaan antenatal atau
menjelang persalinan.

Pemeriksaan diagnosis HIV dilakukan berdasarkan


prinsip konfidensialitas, persetujuan, konseling,
pencatatan, pelaporan dan rujukan.

Konfidensialitas
Meskipun institusi pelayanan kesehatan terikat untuk
menjaga konfidensialitas pasien mereka seperti
tercantum dalam permenkes 269 tahun 2008 tentang
rekam medis, namun ada kalanya informasi perlu dibagi
dengan petugas kesehatan lain guna kepentingan

28 Pelayanan Antenatal Terfokus


layanan kesehatan yang dibutuhkan pasien. Karena itu
perlu dibicarakan hal tersebut dengan pasien untuk
mencegah timbulnya masalah di kemudian hari.
Hasil pemeriksaan harus dirahasiakan dan hanya dapat
dibuka kepada:
• Yang bersangkutan
• Tenaga kesehatan yang menangani
• Keluarga terdekat dalam hal yang bersangkutan
tidak cakap
• Pasangan seksual
• Pihak lain sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan

Informed consent
Semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan kepada
pasien harus mendaptkan persetujuan bisa diberikan
tertulis atau lisan. Semua tindakan kedokteran yang
bersiko tinggi harus memperoleh persetujuan tertulis.
Tindakan kedokteran yang berseiko tinggi adalah
tindakan medis berdasarkan probabilitas tertentu dapat
menyebabkan kematian atau kecacatan. Dalam tes HIV
tindakan yang diambil adalah pengambilan darah vena
datau darah tepi, sehingga tidak memerlukan
persetujuan tertulis. Tes HIV pada TIPK tidak dilakukan
dalam hal pasien menolak secara tertulis atau option
out. Option out adalah pasien harus secara jelas
menyatakan penolakan dilaksanakannya tes HIV setelah
menerima informasi prates apabila ia tidak
menginginkan tes HIV tersebut. Informed consent yang
diberikan dalam hal tersebut analog dengan tes yang
dipersyaratkan dalam tindakan umum seperti
pemeriksaan rontgen.

Pelayanan Antenatal Terfokus 29


Informasi prates dan konseling
TIPK dilakukan dengan memberikan informasi pra-tes
dan konseling kepada ibu hamil. Informasi prates dan
konseling pasca tes HIV dapat diberikan oleh semua
tenaga kesehatan. Informasi prates bersifat informatif
secara singkat dan sederhana dapat dilakukan secara
individu/pasangan/ berkelompok ketika menerapkan
pendekatan TIPK (PITC), maka konseling prates yang
biasa diberikan pada Konseling tes sukarela (KTS)/VCT
disederhanakan tanpa sesi edukasi dan konseling
lengkap. Informasi prates meliputi :
• Risiko penularan penyakit kepada bayi
• Keuntungan diagnosis penyakit pada
kehamilan bagi bayi yang akan dilahirkan,
termasuk HIV, malaria, dan atau penyakit
tidak menular lainnya seperti hipertensi,
diabetes, dan lain-lain
• Cara mengurangi risiko penularan penyakit
dari ibu ke anaknya
Konseling pasca tes merupakan bagian integral dari
prose tes HIV. Semua pasien yang menjalani tes HIV
harus mendapatkan konseling pasca tes pada saat hasil
tes disampaikan, tanpa memandang hasil tes HIV nya.

Referal
Persyaratan penting lainnya bagi penerapan TIPK adalah
tersedianya rujukan ke fasilitas layanan pencegahan,
pengobatan, perawatan dan dukungan bagi pasien
termasuk ibu hamil dengan HIV.

Rekording dan reporting


Hasil pelayanan PPIA harus dicatat dan dilaporkan
dengan menjamin kerahasiaan.
Alur pemeriksaan diagnostik infeksi HIV yang
dilakukan di Indonesia umumnya adalah pemeriksaan

30 Pelayanan Antenatal Terfokus


serologis menggunakan rapid test HIV atau ELISA
Pemeriksaan diagnostik tersebut dilakukan secara serial
menggunakan tiga reagen HIV berbeda dalam hal
preparasi antigen, prinsip tes, dan jenis antigen, yang
memenuhi kriteria sensitivitas dan spesifitas. Pemilihan
jenis reagen yang digunakan berdasarkan sensitivitas
dan spesifisitas, merujuk pada Standar Pelayanan
Laboratorium Kesehatan Pemeriksa HIV dan Infeksi
Oportunistik, Kementerian Kesehatan. Untuk
pemeriksaan pertama (A1) harus digunakan tes dengan
sensitifitas yang tinggi (>99%), sedang untuk
pemeriksaan selanjutnya (A2 dan A3) menggunakan tes
dengan spesifisitas tinggi (>99%). Antibodi biasanya baru
dapat terdeteksi dalam waktu 2 minggu hingga 3 bulan
setelah terinfeksi HIV yang disebut masa jendela. Bila tes
HIV yang dilakukan dalam masa jendela menunjukkan
hasil ”negatif”, maka perlu dilakukan tes ulang, terutama
bila masih terdapat perilaku yang berisiko.Hasil
pemeriksaan dinyatakan reaktif jika hasil tes dengan
reagen 1 (A1), reagen 2 (A2), dan reagen 3 (A3)
ketiganya positif (lihat alur diagnosis di Lampiran 4).

o Rapid test atau apusan darah tebal dan tipis untuk


malaria:
Malaria adalah penyakit yang dapat bersifat akut
maupun kronik, disebabkan oleh protozoa genus
Plasmodium, ditandai dengan demam, anemia dan
splenomegali. Faktor Predisposisi Faktor lingkungan
(endemis) atau memiliki riwayat bepergian kedaerah
endemik malaria dalam 2 minggu terakhir dan Kontak
dengan vektor malaria Diagnosis ditegakkan bila
ditemukan parasit pada pemeriksaan apus darah tepi
dengan mikroskop atau hasil positif pada pemeriksaan
rapid diagnostic test (RDT).

Pelayanan Antenatal Terfokus 31


o Skrining IMS (Sifilis)
Sifilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan
oleh bakteri Treponema pallidum. Pada tahap awal
gejala sifilis bersifat lokal dan kemudian dapat menjadi
sistemik. Sifilis dapat menyebabkan abortus, persalinan
preterm, kematian janin, gangguan plasenta, gangguan
hati, limfadenopati, dan miokarditis
Untuk ibu hamil yang asimptomatik, dianjurkan
untuk skrining saat melakukan kunjungan antenatal
(lampiran 5):
o Kuantitatif: Venereal Disease Research
Laboratory (VDRL)
o Kualitatif: Rapid plasma reagin (RPR).

o Skrining TBC
Setiap ibu yang datang dengan tandan dan gejala
sebagai berikut , dianggap sebagai tersangka (suspek)
TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara
mikroskopis langsung.

Gejala utama
• Batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih
Gejala tambahan
• Dahak bercampur darah atau batuk darah
• Sesak nafas
• Badan lemas
• Nafsu makan menurun
• Berat badan menurun
• Malaise
• Berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik
• Demam meriang lebih dari satu bulan.

32 Pelayanan Antenatal Terfokus


Pemeriksaan dahak dengan pewarnaan BTA dilakukan
dengan metode SPS (sewaktu-pagi-sewaktu)
sebanyak tiga kali pengambilan, yaitu saat pertama
kali berkunjung, kemudian setelah bangun tidur pagi di
hari kedua (pot dahak dibawa pulang), dan saat
menyerahkan pot dahak di hari kedua. Foto radiologi
dianggap positif bila ditemukan gambaran infiltrat atau
kavitas.

o Skrining DMG (Diabetes Militus Gestasional)


Diabetes melitus gestasional adalah keadaan
intoleransi karbohidrat yang memiliki awitan atau
pertama kali ditemukan pada kehamilan. Skrining DMG
bersifat universal, semua ibu hamil dianjurkan untuk
menjalani pemeriksaan untuk melihat adanya diabetes
melitus gestasional, namun waktu dan jenis
pemeriksaannya bergantung pada faktor risiko yang
dimiliki ibu.
Faktor risiko diabetes melitus gestasional meliputi:
• Obesitas
• Riwayat diabetes melitus gestasional
sebelumya
• Glukosuria
• Riwayat keluarga dengan diabetes
• Abortus berulang
• Riwayat melahirkan dengan cacat bawaan
atau bayi >4000 gram
• Riwayat preeklampsia
Pasien dengan faktor risiko tersebut perlu diperiksa
lebih lanjut sesuai standar diagnosis diabetes melitus di
kunjungan antenatal pertama. Diagnosis diabetes
melitus ditegakkan bila sesuai tabel 6.

Pelayanan Antenatal Terfokus 33


Tabel 6.Diagnosis Diabetes Melitus Gestasional (GDM)
Pemeriksaan Hasil
Gula Darah sewaktu (GDS) >200 mg/dl (Disertai
gejala klasik
hiperglikemia)
Glukosa darah puasa (GDP) >126 mg/dl
Glukosa 2 jam setelah >200 mg/dl
makan (TTGO)
Kadar (HbA1C) >6,5%

Hasil yang lebih rendah perlu dikonfirmasi dengan


melakukan pemeriksaan TTGO di usia kehamilan antara
24-28 minggu. Sedangkan Pemeriksaan konfirmasi dan
pemeriksaan untuk ibu hamil tanpa faktor risiko
dilakukan pada usia kehamilan 24-28 minggu, dengan
cara sebagai berikut:
• Minta ibu untuk makan makanan yang cukup
karbohidrat selama 3 hari, kemudian berpuasa
selama 8-12 jam sebelum dilakukan
pemeriksaan.
• Periksa kadar glukosa darah puasa dari darah
vena di pagi hari, kemudian diikuti pemberian
beban glukosa 75 gram dalam 200ml air, dan
pemeriksaan kadar glukosa darah 1 jam lalu 2
jam kemudian (lampiran 6)

Diagnosis diabetes melitus gestasional ditegakkan


apabila ditemukan:

Tabel 7. Diagnosis DMG tanpa faktor resiko

Pemeriksaan Hasil
Glukosa darah puasa (GDP) >92 mg/dl atau
Glukosa 1 jam setelah makan >180 mg/dl atau
Glukosa 2 jam setelah makan >153 mg/dl

34 Pelayanan Antenatal Terfokus


Penatalaksanaan umum
• Penatalaksanaan diabetes melitus gestasional
dilakukan secara terpadu oleh dokter spesialis
penyakit dalam, dokter spesialis obstetri dan
ginekologi, ahli gizi, dan dokter spesialis anak.
• Sedapat mungkin rujuk ibu ke rumah sakit
untuk mendapatkan penatalaksanaan yang
adekuat.
• Jelaskan kepada pasien bahwa
penatalaksanaan diabetes melitus gestasional
dapat mengurangi risiko memiliki bayi besar,
mengurangi
• kemungkinan terjadinya hipoglikemia neonatal,
dan mengurangi kemungkinan bayi mengidap
diabetes di usia dewasa kelak.

Penatalaksanaan khusus
• Tujuan penatalaksanaan adalah mencapai dan
mempertahankan kadar glukosa darah puasa
<95mg/dl dan kadar glukosa 2 jam sesudah
makan <120 mg/dl.
• Pengaturan diet perlu dilakukan untuk semua
pasien:
o Tentukan berat badan ideal: BB ideal =
90% (TB-100)
o Kebutuhan kalori = (BB ideal x 25) + 10-
30% tergantung aktivitas fisik + 300 kal
untuk kehamilan
o Bila kegemukan, kalori dikurangi 20-
30% tergantung tingkat kegemukan
Bila kurus, ditambah sekitar 20-30%
sesuai kebutuhan untuk meningkatkan
BB
o Asupan protein yang dianjurkan adalah
1-1,5 g/kgBB

Pelayanan Antenatal Terfokus 35


• Pemberian insulin dilakukan di rumah sakit dan
dipertimbangkan bila pengaturan diet selama 2
minggu tidak mencapai target kadar glukosa
darah.
• Pemberian insulin dimulai dengan dosis kecil
yaitu 0,5-1,5 unit /kgBB/ hari.
• Pemantauan ibu dan janin dilakukan dengan
pemeriksaan tinggi fundus uteri, USG, dan
kardiotokografi.
• Penilaian fungsi dinamik janin plasenta (FDJP)
dilakukan tiap minggu sejak usia kehamilan 36
minggu
o Skor <5 merupakan tanda gawat janin
dan indikasi untuk melakukan seksio
sesarea. Lakukan amniosentesis dahulu
sebelum terminasi kehamilan bila usia
kehamilan <38 minggu untuk
memeriksa pematangan janin.
o Skor>6 menandakan janin sehat dan
dapat dilahirkan pada umur
kehamilan aterm dengan persalinan
normal.
• Bila usia kehamilan telah mencapai 38 minggu
dan janin tumbuh normal, tawarkan persalinan
elektif dengan induksi maupun seksio sesarea
untuk mencegah distosia bahu.
• Lakukan skrining diabetes kembali 6-12
minggu setelah bersalin. Ibu dengan riwayat
diabetes melitus gestasional perlu diskrining
diabetes setiap 3 tahun seumur hidup.

o Urine lengkap
ISK pada kehamilan didefinisikan sebagai adanya
100.000 organisme per mililiter urin pada pasien
asimtomatik, atau lebih dari 100 organisme / mL urin

36 Pelayanan Antenatal Terfokus


disertai piuria (>7 sel leukosit / mL) pada pasien
simptomatis. Jika ditemukan kecurigaan infeksi saluran
kemih dilanjutkan dengan kultur urine. Pengobatan ISK
ini penting karena ISK dapat memicu terjadinya
persalinan preterm dan ketuban pecah dini.

Pemeriksaan ultrasonografi (USG).


o Pemeriksaan USG direkomendasikan:
1. Pada awal kehamilan/dating scan (idealnya
sebelum usia kehamilan 13 minggu) untuk
menentukan usia gestasi, viabilitas janin, letak
dan jumlah janin, serta deteksi abnormalitas
janin yang berat.
2. Pada usia kehamilan sekitar 20 minggu untuk
deteksi anomali janin/anomalic scan.
3. Pemeriksaan doppler studi (a.uterina, duktus
venousus dan a cerebri media) untuk deteksi
Preeklampsia dan keadaan janin.
4. Penilaian panjang serviks untuk mengetahui
faktor resiko prematuritas.
5. Pada trimester ketiga untuk menentukan fetal
wellbeing (pemeriksaan biophysical profile),
plasenta, tali pusat, dan posisi janin.
o Lakukan rujukan untuk pemeriksaan USG jika alat atau
tenaga kesehatan tidak tersedia

Pelayanan Antenatal Terfokus 37


Pengobatan
dan Intervensi

Pemberian Tablet Besi


Pemberian 60 mg zat besi elemental segera setelah mual/muntah
berkurang dan 400 μg asam folat 1x/hari sesegera mungkin selama
kehamilan.
o Catatan: 60 mg besi elemental setara 320 mg sulfas
ferosus.
o Efek samping yang umum dari zat besi adalah gangguan
saluran cerna (mual, muntah, diare, konstipasi).
o Tablet zat besi sebaiknya tidak diminum bersama
dengan teh atau kopi karena mengganggu penyerapan.
o Jika memungkinkan, idealnya asam folat sudah mulai
diberikan sejak 2 bulan sebelum hamil (saat
perencanaan kehamilan).

Tabel 8. Jenis sediaan zat besi, dosis & kandungan besi elemental
Jenis Sediaan Dosis sediaan Kandungan besi
elemental
Sulfas ferosus 325 65
Fero fumarat 325 107
Fero glukonat 325 39
Besi polisakarida 150 150

Pemberian tablet kalsium


• Area dengan asupan kalsium rendah, suplementasi kalsium
1,5-2 g/hari dianjurkan untuk pencegahan preeklampsia bagi
semua ibu hamil, terutama yang memiliki risiko tinggi
(riwayat preeklampsia di kehamilan sebelumnya, diabetes,

38 Pelayanan Antenatal Terfokus


hipertensi kronik, penyakit ginjal, penyakit autoimun, atau
kehamilan ganda)

Pemberian DHA
• Pertumbuhan otak terbagi atas dua stadium. Stadium
pertama adalah stadium pembentukan neuron, sedangkan
stadium kedua adalah stadium pembesaran dan pematangan
neuron. Para pakar membuktikan, segera setelah terjadi
pembuahan, mekanisme pembentukan neuron bekerja
sangat cepat untuk menghasilkan neuron berjumlah ratusan
miliar. Pembentukan ini hanya berlangsung sampai usia
kehamilan 5 bulan, setelah itu neuron tak terbentuk lagi.
Pertumbuhan otak sangat bergantung pada terbentuknya
“long-chain polyunsaturated fatty acids (PUFAs)” menjadi
bagian dari fosfolipids yang terdapat pada bagian korteks
otak.
Sebagai suatu bentuk asam lemak yang essensiel LC-PUFA
harus ditambahkan pada makanan. Oleh karenanya status
PUFA pada janin sangat tergantung pada konsumsi PUFA dari
ibunya. Pada kenyataannya selama kehamilan ibu sering tidak
mendapat penambahan konsumsi dari PUFA sehingga status
LC-PUFA dalam plasmanya turun, yang ternyata sering baru
dapat kembali normal setelah 32 minggu pasca kelahiran, Hal
ini tentunya dapat merugikan proses tumbuh kembang anak
terutama pertumbuhan otaknya. Keadaan ini dapat diatasi
dengan memberikan LC-PUFA pada ibu yang sedang hamil,
serta pada bayi yang baru lahir. DHA merupakan salah satu
jenis asam lemak tidak jenuh rantai panjang (long-chain
polyunsaturated fatty acids, LCPUFA). Dalam industri pangan
komponen tersebut biasanya diperoleh dari minyak ikan,
fosfolipida kuning telur, dan fermentasi sel tunggal. Di otak,
DHA adalah membran yang paling penting berkaitan dengan
fungsi sambungan antarsel-sel saraf. Pada bayi, DHA
membantu membangun membran sel saraf dan juga
berperan penting terhadap fungsi membran pada

Pelayanan Antenatal Terfokus 39


photoreceptor yang ada di retina. DHA juga diperlukan untuk
memelihara fungsi otak tetap normal pada orang dewasa.

Pemberian Aspirin
• Pemberian 75 mg aspirin tiap hari dianjurkan untuk
pencegahan preeklampsia pada dengan gambaran “notching”
setelah dilakukan doppler studi pada usia kehamilan 20
minggu.

Pemberian Vaksin Tetanus Toxoid (TT)


• Beri ibu vaksin tetanus toksoid (TT) sesuai status
imunisasinya. Pemberian imunisasi pada wanita usia subur
atau ibu hamil harus didahului dengan skrining untuk
mengetahui jumlah dosis (dan status) imunisasi tetanus
toksoid (TT) yang telah diperoleh selama hidupnya.
Pemberian imunisasi TT tidak mempunyai interval (selang
waktu) maksimal, hanya terdapat interval minimal antar dosis
TT. Jika ibu belum pernah imunisasi atau status imunisasinya
tidak diketahui, berikan dosis vaksin (0,5 ml IM di lengan atas)
sesuai table 9.

Tabel9. Pemberian vaksin TT pada ibu hamil


TT Selang waktu minimal Lama perlindungan
Saat kunjungan pertama
TT1 (Sedini mungkin pada -
kehamilan)
4 minggu setelah TT1 (pada
TT2 3
Kehamilan)
6 bulan setelah TT2 (pada
TT3 kehamilan, jika selang waktu 5
minimal terpenuhi)
TT4 1 tahun setelah TT3 10
TT5 1 tahun setelah TT4 25
Jangan lupa untuk ingatkan ibu untuk melengkapi
imunisasinya hingga TT5 sesuia jadwal (tidak perlu

40 Pelayanan Antenatal Terfokus


menunggu sampai kehamilan berikutnya)

Dosis booster mungkin diperlukan pada ibu yang sudah


pernah diimunisasi. Pemberian dosis booster 0,5 ml IM
disesuaikan dengan jumlah vaksinasi yang pernah diterima
sebelumnya seperti pada tabel 10.

Tabel 10. Pemberian vaksin TT pada ibu hamil riwayat


imunisasi sebelumnya
Pernah Selang waktu minimal
1 Kali TT2, 4 minggu setelah TT1 (pada kehamilan)
2 Kali TT3, 6 bulan setelah TT2 (Pada kehamilan, jika
selang waktu terpenuh)
3 Kali TT4, 1 tahun setelah TT3
4 Kali TT5 , 1 tahun setelah TT4
5 Kali Tidak perlu lagi

Vaksin TT adalah vaksin yang aman dan tidak


mempunyai kontra indikasi dalam pemberiannya.
Meskipun demikian imunisasi TT jangan diberikan
pada ibu dengan riwayat reaksi berat
terhadap imunisasi TT pada masa lalunya

Pemberian Anti retroviral HIV


Berikan antiretroviral segera kepada semua Ibu hamil
dengan HIV, tanpa harus mengetahui nilai CD4 dan viral
loadnya terlebih dahulu, dan dilanjutkan seumur hidup.
(lampiran 2).

Sebelum memulai terapi ARV perlu dipertimbangkan hal-hal


berikut:

Pelayanan Antenatal Terfokus 41


• Persiapan klien secara fisik/mental menjalani terapi
melalui edukasi pra pemberian ARV
• Bila terdapat infeksi oportunistik, maka infeksi
tersebut perlu diobati terlebih dahulu. Terapi ARV
baru bisa diberikan setelah infeksi oportunistik
diobati dan stabil (kira-kira setelah 2 minggu sampai
2 bulan pengobatan). Terapi ARV dapat dimulai
dengan pemberian kotrimoksazol untuk melihat
kepatuhan dan mengobati infeksi oportunistik yang
ada
• Pada ibu hamil dengan TBC: OAT selalu diberikan
mendahului ARV sampai kondisi klinis pasien
memungkinkan (kira-kira 2 minggu sampai 2 bulan)
dengan fungsi hati baik untuk memulai terapi ARV.

Tabel 11. Pemberian antiretroviral HIV pada berbagai


situasi klinis ibu hamil
No Situasi klinis Rekomendasi pengobatan
1 ODHA hamil segera TDF (1X300 mg) + 3TC (atau
terapi ARV FTC) (1X300 mg) + EFV
(1X600 mg)
Datang pd saat
persalinan dan Alternatif:
belum TX ARV,  • AZT (2x300mg) + 3TC
Tes reaktif  ARV (2x150mg) + NVP
(1x200mg, setelah
2minggu 2x200mg)
• TDF(1x300mg) + 3TC
(atau FTC) (1x300mg) +
NVP (2x200mg)
• AZT (2x300mg) + 3TC
(2x150mg) + EFV
(1x600mg)

2 ODHA sedang Lanjutkan dengan ARV yang

42 Pelayanan Antenatal Terfokus


menggunakan ARV sama selama dan sesudah
dan kemudian persalinan
hamil

3 ODHA hamil dengan • TDF (1x300mg) + 3TC


hepatitis B yang (atau FTC) (2x150mg) +
memerlukan terapi NVP (2x200mg) atau
• TDF (1x300mg) + 3TC
(atau FTC) (1x300mg) +
EFV (1x600mg)

4 ODHA hamil dengan • Bila OAT sudah


tuberkulosis aktif diberikan, maka
dilanjutkan. Bila OAT
belum, maka diberikan
terlebih dahulu sebelum
ARV. Rejimen untuk ibu:
Bila OAT sdh diberikan
dan TB telah stabil: AZT
(d4T) + 3TC + EFV

Keterangan: AZT:Zidovudine; EFV:Efavirenz;


3TC:Lamivudine; TDF:Tenofovir; NVP:Nevirapine;
FTC:Emtricitabine; d4T: Stavudin

Tabel 12. Efek samping ARV dan kontraindikasinya


Nama Efek samping obat/ Kontraindikasi
obat efek toksik
AZT • Anemia (makin • Alergi obat
lama pajanan • Hb< 7 g/dl
makin berat, • Netropenia
namun reversible) (<750 sel/mm3)
• Mual, sakit • Disfungsi hati
kepala, mialgia, dan ginjal
insomnia

Pelayanan Antenatal Terfokus 43


NVP • Hepatotoksik • Alergi terhadap
(perlu observasi benzodiazepin
klinis dalam 12 • Disfungsi hati
minggu pertama)
• Ruam kulit
TDF • Nefrotoksik (perlu • Disfunfsi ginjal
observasi klinis
elama 6 bulan
pertama)

44 Pelayanan Antenatal Terfokus


Komunikasi,
Informasi &
Edukasi
Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) wajib dimiliki oleh setiap ibu
hamil, karena materi konseling dan edukasi yang perlu diberikan
tercantum di buku tersebut.
• Pastikan bahwa ibu memahami hal-hal berikut:
o Persiapan persalinan, termasuk:
 Siapa yang akan menolong persalinan
 Dimana akan melahirkan
 Siapa yang akan membantu dan menemani dalam
persalinan
 Kemungkinan kesiapan donor darah bila timbul
permasalahan
 Metode transportasi bila diperlukan rujukan
 Dukungan biaya
o Pentingnya peran suami atau pasangan dan keluarga
selama kehamilan dan persalinan.
o Tanda-tanda bahaya yang perlu diwaspadai:
 Sakit kepala lebih dari biasa
 Perdarahan per vaginam
 Gangguan penglihatan
 Pembengkakan pada wajah/tangan
 Nyeri abdomen (epigastrium)
 Mual dan muntah berlebihan
 Demam
 Janin tidak bergerak sebanyak biasanya
o Pemberian makanan bayi, air susu ibu (ASI) eksklusif,
dan inisiasi menyusu dini (IMD).

Pelayanan Antenatal Terfokus 45


Catatan: Konseling pemberian makanan bayi sebaiknya
dimulai sejak usia kehamilan 12 minggu dan
dimantapkan sebelum kehamilan 34 minggu.
o Penyakit yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan
janin misalnya hipertensi, TBC, HIV, serta infeksi menular
seksual lainnya.
o Perlunya menghentikan kebiasaan yang berisiko bagi
kesehatan, seperti merokok dan minum alkohol.
o Program KB terutama penggunaan kontrasepsi
pascasalin
o Informasi terkait kekerasan terhadap perempuan
o Kesehatan ibu termasuk kebersihan, aktivitas, dan
nutrisi
 Menjaga kebersihan tubuh dengan mandi teratur
dua kali sehari, mengganti pakaian dalam yang
bersih dan kering, dan membasuh vagina
 Minum cukup cairan
 Peningkatan konsumsi makanan hingga 300
kalori/hari dari menu seimbang. Contoh: nasi tim
dari 4 sendok makan beras, ½ pasang hati ayam, 1
potong tahu, wortel parut, bayam, 1 sendok teh
minyak goreng, dan 400 ml air.
 Latihan fisik normal tidak berlebihan, istirahat jika
lelah.
 Hubungan suami-istri boleh dilanjutkan selama
kehamilan (dianjurkan memakai kondom)

Dalam berkomunikasi dengan ibu, tenaga kesehatan perlu


memegang prinsip-prinsip berikut ini:
• Buat ibu merasa nyaman dan diterima dengan baik.
• Bersikap ramah, senantiasa menghargai, dan tidak
menghakimi.
• Gunakan bahasa yang mudah dimengerti dan sederhana.

46 Pelayanan Antenatal Terfokus


• Setiap kali hendak melakukan pemeriksaan atau
prosedur/tindakan klinis, minta persetujuan dari ibu dan
jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
• Rangkum informasi-informasi yang penting termasuk
informasi mengenai hasil pemeriksaan laboratorium rutin dan
pengobatan.
• Pastikan ibu mengerti tanda-tanda bahaya/kegawatdaruratan,
instruksi pengobatan, dan kapan ia harus kembali berobat
atau memeriksakan diri. Minta ibu mengulangi informasi
tersebut, atau mendemonstrasikan instruksi pengobatan.
• Lakukan konseling, anamnesis, maupun pemeriksaan di ruang
yang pribadi dan tertutup dari pandangan orang lain.
• Pastikan bahwa ketika berbicara mengenai hal yang
sensitif/pribadi, tidak ada orang lain yang dapat mendengar
pembicaraan tersebut.
• Minta persetujuan ibu sebelum berbicara dengan keluarganya.
• Jangan membahas rahasia ibu dengan rekan kerja ataupun
pihak lain.
• Pastikan semua catatan sudah dilengkapi dan tersimpan
dengan rapi serta terjaga kerahasiaannya.
• Batasi akses ke dokumen-dokumen yang memuat informasi
terkait ibu hanya kepada tenaga kesehatan yang
berkepentingan.

Konseling merupakan proses interaktif antara tenaga kesehatan dan


ibu serta keluarganya. Selama proses tersebut, tenaga kesehatan
mendorong ibu untuk saling bertukar informasi dan memberikan
dukungan dalam perencanaan atau pengambilan keputusan serta
tindakan yang dapat meningkatkan kesehatan ibu.

Langkah-Langkah Konseling
1. Ajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengerti situasi ibu
dan latar belakangnya. Lakukan klarifikasi bila diperlukan
dan jangan menghakimi.

Pelayanan Antenatal Terfokus 47


2. Identifikasi kebutuhan ibu, masalah ibu, dan informasi yang
belum diketahui ibu. Pelajari setiap masalah yang ada serta
dampaknya terhadap berbagai pihak (ibu, suami, keluarga,
komunitas, tenaga kesehatan, dan sebagainya).
3. Tanyakan pendapat ibu mengenai solusi alternatif apa yang
dapat dilakukan untuk meyelesaikan masalah yang ia
hadapi.
4. Identifikasi kebutuhan ibu terhadap informasi, sumber daya,
atau dukungan lain untuk memecahkan masalahnya.
5. Susun prioritas solusi dengan membahas keuntungan dan
kerugian dari berbagai alternatif pemecahan masalah
bersama ibu.
6. Minta ibu untuk menentukan solusi apa yang paling
memungkinkan untuk mengatasi masalahnya.
7. Buatlah rencana tindak lanjut bersama.
8. Evaluasi pelaksanaan rencana tindak lanjut tersebut pada
pertemuan konseling berikutnya.

Pencegahan Infeksi
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan tenaga kesehatan
untuk mencegah penularan penyakit dari atau kepada pasien di
fasilitas kesehatan.

Menjaga Kebersihan Tangan


• Jaga agar kuku jari-jari tangan tetap pendek.
• Tutup luka di tangan dengan bahan kedap air.
• Selalu bersihkan tangan pada situasi-situasi berikut ini:
o Sebelum dan sesudah menyentuh pasien.
o Sebelum memegang alat/instrumen invasif, baik ketika
mengenakan sarung tangan maupun tidak.
o Setelah kontak dengan cairan tubuh atau ekskresi,
membran mukosa, kulit yang tidak intak, atau kasa
penutup luka.

48 Pelayanan Antenatal Terfokus


o Ketika berpindah dari satu bagian tubuh yang
terkontaminasi ke bagian tubuh lain dari pasien yang
sama.
o Setelah kontak dengan permukaan objek yang
bersentuhan dengan pasien (termasuk peralatan medis).
o Setelah melepas sarung tangan (steril maupun non-
steril).
• Jika tangan tidak terlihat kotor, gunakan pembersih tangan
berbahan dasar alkohol (alcohol-based handrub). Jika tangan
tidak terlihat kotor namun pembersih tangan berbahan dasar
alkohol tidak tersedia, cucilah tangan dengan sabun dan air
bersih mengalir.
• Jika tangan terlihat kotor, atau bila terkena darah/cairan
tubuh, atau setelah menggunakan toilet, cuci tangan dengan
sabun dan air bersih mengalir. Cuci tangan juga dianjurkan bila
dicurigai ada paparan terhadap patogen berspora, misalnya
pada wabah Clostridium difficile. Lakukan teknik mencuci
tangan sesuai selama 40-60 detik (lihat Lampiran 7).
• Sebelum menangani obat-obatan atau menyiapkan makanan,
bersihkan tangan dengan pembersih tangan berbahan dasar
alkohol atau cuci tangan dengan sabun dan air bersih
mengalir.
• Bila di fasilitas kesehatan tidak tersedia keran dengan air
bersih mengalir, letakkan ember berisi air bersih di tempat
yang cukup tinggi dan berikan keran di dasar ember sehingga
air bisa mengalir keluar untuk cuci tangan.

Penanganan Kehamilan lewat waktu


Kehamilan umumnya berlangsung 40 minggu atau 280 hari dihitung
dari hari pertama haid terakhir. Namun sekitar 4 - 14 % atau
ratarata 10 % kehamilan akan berlangsung sampai 42 minggu atau
lebih. Kehamilan Lewat Bulan, disebut juga kehamilan serotinus,
kehamilan lewat waktu, prolonged pregnancy, postterm pregnancy,
extended pregnancy, postdate / pos datisme atau postmaturitas
adalah : Kehamilan yang berlangsung sampai 42 minggu ( 294 hari )

Pelayanan Antenatal Terfokus 49


atau lebih , dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus
Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari.
Pada dasarnya penatalaksanaan kehamilan post term
adalah menentukan tingkat kesejahteraan janin dan merencanakan
pengakhiran kehamilan.

Cara mengakhiri kehamilan lewat waktu (lampiran 8)


• Pastikan umur kehamilan dengan melihat HTA dan
pemeriksaan USG.
• Ibu hamil dengan umur kehamilan yang tidak jelas
dengan perkiraan sudah aterm ditangani dengan
melakukan NST setiap minggu dan penilaian volume air
ketuban. Pasien dengan AFI ≤ 5 cm atau dengan keluhan
gerak anak menurun dilakukan induksi persalinan.
• Jika usia kehamilan sudah diketahui dengan pasti,
pemantauan kondisi kesejahteraan janin dimulai sejak
umur kehamilan 41 minggu. NST dilakukan 2 kali
seminggu, dan USG dilakukan 2 kali seminggu.
• Induksi dilakukan pada usia kehamilan 42 minggu,
dengan mempertimbangkan kesejahteraan janin dan
kondisi serviks (Pelvik skor).
• Cara pengakhiran kehamilan, tergantung dari hasil
pemeriksaan kesejahteraan janin dan penilaian pelvik
skore (PS).

Umur kehamilan antara 41 - <42 minggu:


1. Bila kesejahteraan janin baik (USG dan NST normal).
a. Dilakukan konseling induksi atau diunggu sampai UK
42 minggu.
b. Striping membran amnion.

2. Bila kesejahteraan janin mencurigakan :


a. PS lebih atau sama dengan 5 :
• Dilakukan oksitosin drip dengan pemantauan
kardio tokografi (KTG).

50 Pelayanan Antenatal Terfokus


• Bila terdapat tanda-tanda insufisiensi plasenta,
persalinan diakhiri dengan seksio sesaria (SC).
b. PS kurang dari 5 dilakukan pemeriksaan ulangan
keesokan harinya :
• Bila hasilnya tetap mencurigakan, dilakukan
oxytocin chalenge test (OCT) :
o Bila hasil pemeriksaan OCT (+) dilakukan SC
o Bila hasil pemeriksaan OCT (-)dilakukan pemeriksaan
serial sampai 42 minggu /PS lebih dari 5
o Bila hasil pemeriksaan OCT meragukan/
tidak memuaskan dilakukan pemeriksaan
OCT ulangan keesokan harinya
3. Bila kesejahteraan janin jelek.(terdapat tanda-tanda
insufisiensi plasenta dari NST/OCT), dilakukan SC.

Umur kehamilan ≥ 42 minggu:


1. Bila kesejahteraan janin baik (USG danNST normal).
a. PS baik > 5, dilakukan induksi dengan infus oxytosin
drip.
b. PS kurang dari 5, dilakukan ripening /induksi dengan
misoprostol 25 µg tiap 6 jam pervaginam, atau
peroral 20-25 µg tiap 2 jam.
2. Bila kesejahteraan janin mencurigakan :
a. PS lebih atau sama dengan 5 :
• Dilakukan oksitosin drip dengan pemantauan
kardio tokografi (KTG).
• Bila terdapat tanda-tanda insufisiensi plasenta,
persalinan diakhiri dengan seksio sesaria (SC).
b. PS kurang dari 5 :
• Dilakukan ripening /induksi dengan misoprostol
25 µg tiap 6 jam pervaginam, atau peroral 20-25
µg tiap 2 jam, dan pemantauan KTG.
• Bila terdapat tanda-tanda insufisiensi plasenta,
persalinan diakhiri dengan seksio sesaria (SC).
3. Bila kesejahteraan janin jelek.(terdapat tanda-tanda

Pelayanan Antenatal Terfokus 51


insufisiensi plasenta dari NST/OCT), dilakukan SC
Kehamilan dengan preeklampsia, PJT dan diabetes
melitus gestasi tidak boleh dibiarkan sampai melebihi
40 minggu.

Gizi dan Makanan


• Ibu hamil harus dianjurkan untuk mengonsumsi makanan
gizi seimbang.
• Kebutuhan kalori meningkat 340-450 kkal per hari pada
trimester kedua dan ketiga. Pada kasus-kasus khusus seperti
DM, Liver dan Ginjal disarankan konsul ke bagian gizi.
• Penambahan berat badan yang dianjurkan selama
kehamilan adalah 11.5 sampai 16 kg pada ibu hamil dengan
IMT normal.
• Suplementasi asam folat sejak 4 minggu sebelum konsepsi
sampai 12 minggu kehamilan mencegah defek tuba
neuralis.
• Dosis rekomendasi untuk pencegahan primer adalah 0.4 mg
per hari. Dosis untuk pencegahan sekunder pada
perempuan dengan riwayat defek tuba neuralis pada anak
sebelumnya adalah 4 mg per hari.
• Suplementasi besi pranatal (27 sampai 30 mg per hari)
karena konsumsi rata-rata dan cadangan besi endogen
sering tidak cukup untuk pemenuhan kebutuhan besi pada
kehamilan dan karena defisiensi besi berhubungan dengan
luaran kehamilan yang buruk.
• Semua ibu hamil harus diskrining untuk anemia pada
kunjungan pranatal pertama, dan diulang pada umur
kehamilan 32-34 minggu.

Tabel 13. suplemen ibu hamil dan rekomendasinya


Suplemen Rekomendasi Level Keterangan
Kalsium Rekomendasi asupan A Suplementasi kalsium
harian 1000 sampai dapat menurunkan
1300 mg per hari tekanan darah dan

52 Pelayanan Antenatal Terfokus


Suplementasi rutin kejadian preeklamsia,
kalsium untuk tetapi tidak untuk
mencegah eklampsia mortalitas perinatal
tidak
direkomendasikan.
Suplementasi kalsium
bermanfaat pada
populasi berisiko tinggi
hipertensi dalam
kehamilan atau
dengan asupan
kalsium rendah
Asam Suplementasi asam A Suplementasi
folat folat 0.4-0.8 mg (4 mg mencegah defek tuba
untuk pencegahan neuralis
sekunder) harus
dimulai 1 bulan
sebelum konsepsi

AKG (Angka B Defisiensi folat


Kecukupan Gizi) adalah berhubungan dengan
600 mcg per hari berat bayi lahir
rendah, kelainan
jantung kongenital
dan anomali orofasial,
solusio plasenta, dan
abortus spontan
Besi Ibu hamil harus B Anemia defsiensi besi
diskrining untuk berhubungan dengan
anemia dan diterapi, persalinan preterm
kalau perlu. dan BBLR

Ibu hamil harus C


mendapat
suplementasi besi 30

Pelayanan Antenatal Terfokus 53


mg per hari

Vitamin D Suplementasi vitamin C Defisiensi vitamin D


D dapat jarang terjadi tetapi
dipertimbangkan pada berhubungan dengan
ibu hamil dengan hipokalsemia
paparan matahari yang neonatal dan
terbatas (misal osteomalasia
pengguna purdah). maternal
Namun demikian bukti
efek suplementasi
masih terbatas.
AKG 5 mcg per hari C Dosis tinggi vitamin D
(200 IU per hari) bersifat toksik.

Tabel 14. Kriteria Evidence base medicine


Kualitas
Kode Definisi
eviden
A High Evaluasi Multiple terhadap populasi,
data berasal dari multiple randomized
clinical trial (RCT) atau meta analisa
B Moderate Evaluasi terhadap populasi terbatas,
data terdiri dari Single randomized
clinical trial (RCT) atau Non-randomized
studies
C Low Evaluasi terhadap populasi terbatas,
data berasal dari konsensus, opini
expert, studi kasus.

54 Pelayanan Antenatal Terfokus


Gaya Hidup
Olahraga
• Olahraga teratur selama kehamilan dengan risiko rendah
bermanfaat karena meningkatkan kesehatan dan daya
tahan tubuh ibu hamil.
• Untuk memperbaiki fungsi kardiovaskuler, pembatasan
pertambahan berat badan ibu hamil, mengurangi
ketidaknyamanan muskuloskletal, menurunkan keluhan
kram otot dan edema tungkai, stabilitas mood dan
memperbaiki DMG dan hipertensi gestational.
• Manfaat untuk janin antara lain menurunkan massa lemak,
memperbaiki toleransi stress, dan meningkatkan maturasi
neurobehavioral.
• Olahraga dalam kehamilan meningkatkan denyut jantung
(masih aman sampai 140 pada fungsi jantung yang normal,
dapat bervariasi tergantung usia dan toleransi).
• Direkomendasikan melakukan jalan kaki, berenang, dan
olahraga lain yang tidak berat. Hindari hipoglikemia dan
dehidrasi.

Perjalanan
• Konseling dilakukan tentang penggunaan sabuk pengaman
di mobil, mencegah risiko tromboemboli vena selama
perjalanan jauh dengan pesawat terbang dengan berjalan-
jalan dan pecegahan jatuh sakit dalam perjalanan.

Hubungan seksual
• Hubungan seksual tidak berhubungan dengan luaran
kehamilan yang buruk. Namun suami istri harus waspada
bahwa hubungan seksual dapat membahayakan kehamilan.
• Semen adalah sumber prostaglandin. Pyosperma
berhubungan dengan ketuban pecah dini dan orgasme serta
stimulasi puting susu meningkatkan kontraksi.

Pelayanan Antenatal Terfokus 55


Tabel 15. Permasalahan ibu hamil sehari hari
Masalah Rekomendasi Level Keterangan
Terbang Menaiki pesawat udara aman C
untuk ibu hamil sampai 4
minggu sebelum taksiran
persalinan C
Lama perjalanan
berhubungan denganrisiko
trombosis vena
Menyusui Menyusui terbaik untuk bayi. B
Menyusui kontraindikasi pada
HIV, ketergantungan obat,
dan pemakaian obat-obatan
tertentu B
Konseling tingkah laku
terstruktur dan program
edukasi ASI meningkatkan
kesuksesan menyusui
Olahraga Ibu hamil harus menghindari C
olahraga yang berisiko jatuh
atau membahayakan perut.
Menyelam selama kehamilan C
tidak direkomendasikan
Perawatan Walaupun pewarnaan C
rambut rambut tidak jelas
berhubungan dengan
malformasi janin, paparan
terhadap tindakan ini harus
dihindari pada kehamilan dini
Berendam Kemungkinan harus dihindari B
air panas pada trimester pertama
dan sauna Paparan panas maternal pada B
kehamilan dini berhubungan
dengan defek tuba neuralis
dan keguguran

56 Pelayanan Antenatal Terfokus


Persalinan Semua ibu hamil harus C
dikonseling tentang apa yang
harus dilakukan bila ketuban
pecah, bila perssalinan
dimulai, strategi manajemen
nyeri, dan nilai dukungan
pada persalinan
Obat Hanya sedikit obat yang C Risiko yang
bebas dan aman untuk ibu hamil, berhubung -
herbal khususnya pada trimester an dengan
pertama pengobatan
individual
harus dibahas
berdasarkan
kebutuhan
pasien.
Seks Hubungan seksual selama B
kehamilan tidak berhubungan
dengan luaran kehamilan
yang buruk
Alkohol Semua ibu hamil harus B Ada bukti
diskrining apakah peminum bahwa
alkohol konseling
B efektif untuk
Tidak diketahui jumlah aman menurunkan
konsumsi alkohol selama konsumsi
kehamilan. Dianjurkan tidak alkohol ibu
minum alkohol hamil dan
morbiditas
bayinya
Napza Harus diinformasikan C Ibu hamil
potensial efek buruknya dengan keter-
terhadap janin gantungan
C obat sering
Rujukan ke unit detoksifikasi memerlukan

Pelayanan Antenatal Terfokus 57


dapat diindikasikan. intervensi
Methadone dapat khusus
menyelamatkan hidup pada
perempuan tergantung
opioid
Merokok Semua ibu hamil harus A Konseling
diskrining apakah merokok bahaya
atau tidak, konseling merokok dan
kehamilan khusus diberikan strategi
pada ibu hamil perokok multikompo -
non efektif
untuk
menurunkan
BBLR
Bekerja Bekerja dengan berdiri cukup B
lama (8jam) dan terpapar zat
kimia tertentu berhubungan
dengan komplikasi kehamilan

Seringkali informasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan


tidak diterapkan atau digunakan oleh ibu karena tidak
dimengerti atau tidak sesuai dengan kondisi ataupun
kebutuhan mereka. Hal ini dapat terjadi karena komunikasi
yang terjadi antara tenaga kesehatan dan ibu terjadi hanya
satu arah sehingga ibu tidak mendapatkan dukungan yang
cukup untuk menerapkan informasi tersebut.

58 Pelayanan Antenatal Terfokus


Sistem
rujukan

Rujukan ibu hamil dan neonatus yang berisiko tinggi merupakan


komponen yang penting dalam sistem pelayanan kesehatan
maternal. Dengan memahami sistem dan cara rujukan yang baik,
tenaga kesehatan diharapkan dapat memperbaiki kualitas
pelayanan pasien.

Indikasi Dan Kontraindikasi


Secara umum, rujukan dilakukan apabila tenaga dan perlengkapan
di suatu fasilitas kesehatan tidak mampu menatalaksana komplikasi
yang mungkin terjadi. Dalam pelayanan kesehatan maternal dan
pernatal, terdapat dua alasan untuk merujuk ibu hamil, yaitu ibu
dan/atau janin yang dikandungnya. Berdasarkan sifatnya, rujukan
ibu hamil dibedakan menjadi:
• Rujukan kegawatdaruratan adalah rujukan yang dilakukan
sesegera mungkin karena berhubungan dengan kondisi
kegawatdaruratan yang mendesak.
• Rujukan berencana adalah rujukan yang dilakukan dengan
persiapan yang lebih panjang ketika keadaan umum ibu
masih relatif lebih baik, misalnya di masa antenatal atau
awal persalinan ketika didapati kemungkinan risiko
komplikasi. Karena tidak dilakukan dalam kondisi gawat
darurat, rujukan ini dapat dilakukan dengan pilihan
modalitas transportasi yang lebih beragam, nyaman, dan
aman bagi pasien.

Adapun rujukan sebaiknya tidak dilakukan bila:


• Kondisi ibu tidak stabil untuk dipindahkan

Pelayanan Antenatal Terfokus 59


• Kondisi janin tidak stabil dan terancam untuk terus
memburuk
• Persalinan sudah akan terjadi
• Tidak ada tenaga kesehatan terampil yang dapat menemani
• Kondisi cuaca atau modalitas transportasi membahayakan

Perencanaan Rujukan
Komunikasikan rencana merujuk dengan ibu dan keluarganya,
karena rujukan harus medapatkan pesetujuan dari ibu dan/atau
keluarganya. Tenaga kesehatan perlu memberikan kesempatan,
apabila situasi memungkinkan, untuk menjawab pertimbangan dan
pertanyaan ibu serta keluarganya. Beberapa hal yang disampaikan
sebaiknya meliputi:
• Diagnosis dan tindakan medis yang diperlukan
• Alasan untuk merujuk ibu
• Risiko yang dapat timbul bila rujukan tidak dilakukan
• Risiko yang dapat timbul selama rujukan dilakukan
• Waktu yang tepat untuk merujuk dan durasi yang
dibutuhkan untuk merujuk
• Tujuan rujukan
• Modalitas dan cara transportasi yang digunakan
• Nama tenaga kesehatan yang akan menemani ibu
• Jam operasional dan nomer telepon rumah sakit/ pusat
layanan kesehatan yang dituju
• Perkiraan lamanya waktu perawatan
• Perkiraan biaya dan sistem pembiayaan (termasuk dokumen
kelengkapan untuk BPJS, Jamkesmas, atau asuransi
kesehatan lainnya)
• Petunjuk arah dan cara menuju tujuan rujukan dengan
menggunakan modalitas transportasi lain
• Pilihan akomodasi untuk keluarga

Hubungi pusat layanan kesehatan yang menjadi tujuan rujukan dan


sampaikan kepada tenaga kesehatan yang akan menerima pasien
hal-hal berikut ini:

60 Pelayanan Antenatal Terfokus


• Indikasi rujukan
• Kondisi ibu dan janin
• Rencana terkait prosedur teknis rujukan (termasuk kondisi
lingkungan dan cuaca menuju tujuan rujukan)
• Kesiapan sarana dan prasarana di tujuan rujukan
• Penatalaksanaan yang sebaiknya dilakukan selama dan
sebelum transportasi, berdasarkan pengalaman-
pengalaman rujukan sebelumnya

Hal yang perlu dicatat oleh pusat layanan kesehatan yang akan
menerima
pasien adalah:
• Nama pasien
• Nama tenaga kesehatan yang merujuk
• Indikasi rujukan
• Kondisi ibu dan janin
• Penatalaksanaan yang telah dilakukan sebelumnya
• Nama dan profesi tenaga kesehatan yang mendampingi
pasien

Saat berkomunikasi lewat telepon, pastikan hal-hal tersebut telah


dicatat dan diketahui oleh tenaga kesehatan dipusat layanan
kesehatan yang akan menerima pasien. Lengkapi dan kirimlah
berkas-berkas berikut ini (Secara langsung ataupun melalui faksimili)
sesegera mungkin:
• Formulir rujukan pasien (minimal berisi identitas ibu, hasil
pemeriksaan, diagnosis kerja, terapi yang telah diberikan,
tujuan rujukan, serta nama dan tandatangan tenaga
kesehatan yang memberipelayanan)
• Fotokopi rekam medis kunjungan antenatal
• Fotokopi rekam medis yang berkaitan dengan kondisi saat
ini
• Hasil pemeriksaan penunjang berkas-berkas lain untuk
pembiayaan menggunakan jaminan kesehatan

Pelayanan Antenatal Terfokus 61


Pastikan ibu yang dirujuk telah mengenakan gelang identifikasi. Bila
terdapat indikasi, pasien dapat dipasang jalur intravena dengan
kanul berukuran 16 atau 18. Mulai penatalaksanaan dan pemberian
obat-obatan sesuai indikasi segera setelah berdiskusi dengan tenaga
kesehatan ditujuan rujukan. Semua resusitasi, penanganan
kegawatdaruratan dilakukan sebelum memindahkan pasien. Periksa
kelengkapan alat dan perlengkapan yang akan digunakan untuk
merujuk, dengan mempertimbangkan juga kemungkinan yang dapat
terjadi selama transportasi. Selalu siap sedia untuk kemungkinan
terburuk. Nilai kembali kondisi pasien sebelum merujuk, meliputi:
• Keadaan umum pasien
• Tanda vital (Nadi, Tekanan darah, Suhu, Pernafasan)
• Denyut jantung janin
• Presentasi
• Dilatasi serviks
• Letak janin
• Kondisi ketuban
• Kontraksi uterus: kekuatan, frekuensi, durasi

Catat dengan jelas semua hasil pemeriksaan berikut nama tenaga


kesehatan dan jam pemeriksaan terakhir

Perlengkapan
Perlengkapan dan modalitas transportasi secara spesifik dibutuhkan
untuk melakukan rujukan tepat waktu (kasus kegawatdaruratan
obstetri). Pada dasarnya, perlengkapan yang digunakan untuk
proses rujukan ibu sebaiknya memiliki kriteria:
• Akurat
• Ringan, kecil, dan mudah dibawa
• Berkualitas dan berfungsi baik
• Permukaan kasar untuk menahan gerakan akibat
percepatan dan getaran
• Dapat diandalkan dalam keadaan cuaca ekstrim tanpa
kehilangan akurasinya

62 Pelayanan Antenatal Terfokus


• Bertahan dengan baik dalam perubahan tekanan jika
digunakan dalam Pesawat terbang
• Mempunyai sumber listrik sendiri (baterai) tanpa
mengganggu sumber Listrik kendaraan

Forum konsultasi ADACS (Antenatal diagnosis and counselling


service)
ADACS adalah pertemuan multi disiplin yang bertujuan untuk
melakukan diagnosis dini kelainan bawaan janin dan
manajemennya, pelayanan ini relatif baru dan merupakan
pelayanan yang pertama dan satu satunya di Bali dan dikembangan
oleh HKFM Denpasar. forum konsultasi ADACS terdiri dari kelompok
multidisiplin profesional di lingkungan yang meliputi Dokter Obstetri
konsultan fetomaternal, pediatri konsultan neonatologis, bedah
anak, anesthesia osbtetri dan konsultan Intensif care serta para
profesional yang mungkin terlibat didalamnya dengan menekankan
pada isu-isu yang berkaitan dengan konseling pra-kehamilan,
diagnosis kelainan bawaan janin dan pengelolaannya, termasuk
semua aspek etik dan medikolegal. Pertemuan mingguan yang
diadakan ini akan membahas kasus yang ada dari semua senter
kesehatan di Bali dan jika memungkinkan disajikan ke dalam grup
ADACS baik secara langsung atau menggunakan fasilitas
teleconference ke senter BIDIC RSAB Harapan Kita atau The
Women's and Children's antenatal diagnosis and counselling service
(ADACS) yang berbasis di Adelaide South Australia yang merupakan
mitra keja HKFM Denpasar.

Untuk memudahkan dan meminimalkan resiko dalam


perjalanan rujukan, keperluan untuk merujuk ibu dapat
diringkas menjadi BAKSOKU (Bidan, Alat, Keluarga, Surat,
Obat, Kendaraan, dan Uang)

Pelayanan Antenatal Terfokus 63


Lampiran &
Form ANC
Terfokus
Lampiran 1. langkah pemeriksaan payudara sendiri

Berbaring dan letakkan lengan kiri


dibawah kepala, gunakan tangan
kanan untuk memeriksa payudara
kiri. Dengan menggunakan 3 jari
lakukan gerakan melingkar.
Lakukan sebaliknya

Lihat payudara di
depan cermin dengan
posisi tangan di
pinggang, perhatikan
apakah bentuknya Angkat salah satu
simtris, apakah lengan kemudian
tampak benjolan dan raba dibawah lengan
bengkak atau tampak
dimpling pada kulit

Remas puting susu dengan


menggunakan jari telunjuk dan ibu
jari apakah teraba benjolan
disekitarnya

64 Pelayanan Antenatal Terfokus


Lampiran 2. Formula Taksiran berat janin (Johnson – Tausak) &
Kurva pertumbuhan janin

TBJ (taksiran berat janin) =


(tinggi fundus uteri (cm) – N ) x 155 gram.

Keterangan :
N= 13 bila kepala belum melewati pintu atas panggul
N= 12 bila kepala masih berada di atas spina iskiadika
N= 11 bila kepala masih berada di bawah spina iskiadika

Kurva pertumbuhan berat badan janin


terhadap usia kehamilan

Pelayanan Antenatal Terfokus 65


Lampiran 3. Bagan alur pelaksanaan TIPK pada ibu hamil

Untuk ibu hamil dengan faktor risiko yang hasil tesnya


indeterminate, tes diagnostik HIV dapat diulang dengan
bahan baru yang diambil minimal 14 hari setelah yang
pertama dan setidaknya tes ulang menjelang
Persalinan (32-36 minggu).

66 Pelayanan Antenatal Terfokus


Lampiran 4. Bagan alur penanganan pasien hamil dengan HIV

Pelayanan Antenatal Terfokus 67


Lampiran 5. Bagan alur skrining sifilis pada ibu hamil

Diagnosis definitif untuk stadium primer:


• Pemeriksaan serum lesi dengan metode ruang gelap
(darkfield examination)
• Pemeriksaan treponemal: fluorescent treponemal
antibody absorption tests (FTA-ABS),
microhemagglutination assay for antibodies to
T.pallidum (MHA-TP), T. pallidum passive particle
agglutination (TPPA), atau T. pallidum
hemoagglutination (TPHA).

68 Pelayanan Antenatal Terfokus


Lampiran 6. Bagan alur skrining DMG pada ibu hamil

Pelayanan Antenatal Terfokus 69


Lampiran 7 Langkah-langkah mencuci tangan yang benar

70 Pelayanan Antenatal Terfokus


Lampiran 8. Bagan Alur Penanganan kehamilan lewat waktu

Pelayanan Antenatal Terfokus 71


Lampiran 9. Bagan Alur Skrining Preeklampsia

Identifikasi Faktor resiko PE


Trisemester I

Skor ≥ 5 Skor < 5

Aspirin 80mg/hari
Trisemester II

Doppler arteri uterina UK 20-24 mg

Notching (+) Notching (-)

Aspirin 80mg/hari
Trisemester III

Pantau tekanan
darah dan
proteunuria

Preeklampsia Bukan
Preeklampsia

72 Pelayanan Antenatal Terfokus


Lampiran 10. Tabel skoring prediksi preeklampsia

No Variabel Skor
1 Umur > 35 tahun 1
2 Nulipara/Multipara > 10 tahun 2
3 IMT > 30 2
4 MAP ≥ 100 2
2 Riwayat Preeklampsia 3
3 Peny Ginjal,Jantung,Diabetes,APS 3
4 Uni/Bilteral Notching A.uterina 3
5 Hipertensi Kronik 4

Jika didapatkan skor ≥5 maka ibu hamil ini resiko tinggi


kehamilannya mengalami preeklampsia dan pemberian aspirin 1x80
mg dapat diberikan kepada pasien

Pelayanan Antenatal Terfokus 73


Lampiran 11. Bagan Alur Implementasi ANC Terfokus

74 Pelayanan Antenatal Terfokus


PELAYANAN ANTENATAL TERFOKUS “FOUR BASIC NEEDS”
1.Pencegahan/Promosi Kesehatan, 2. Deteksi dan penanganan penyakit dasar, 3. Deteksi
didni dan penanganan komplikasi dan 4.Persiapan persalinan dan kesiapan menghadapi
komplikasi

PAKET KUNJUNGAN I (8-13 MINGGU)

Tujuan 1. Penapisan, pencegahan penyakit dan pengobatan dini


serta menilai kesehatan ibu
2. Deteksi dan tatalaksana kondisi penyakit sebelum hamil
3. Memastikan umur kehamilan.
4. Melaksanakan edukasi dan konseling

Anamnesis 1. Memastikan dukungan suami/keluarga pada kehamilan


terarah 2. Eksplorasi dan hitung umur kehamilan dan taksiran
persalinan (dating pregnancy)
3. Eksplorasi riwayat pengobatan/penanganan penyakit
sebelum hamil (asma, jantung/ hipertensi, DM, ginjal,
hati, HIV, TB, Alergi obat/ makanan, Thalasemia, Malaria,
Epilepsi, Psikiatri, Obat yang rutin diminum, Status
Imunisasi TT, Riwayat Transfusi, dll)
4. Eksplorasi riwayat kehamilan/persalinan sebelumnya
(abortus ,prematuritas, postdate, kehamilan ganda,
kehamilan makrosomia, IUFD, kelainan bawaan, partus
lama, FE/VaE, Kuretase, SC (Corpore/ LSCS), Preeclampsia,
perdarahan antepartum/ intrapartum dan postpartum.
5. Riwayat kehamilan yang sekarang : HPHT, TP, Perdarahan,
Mual/muntah, pemakaian obat

Pemeriksaan Tekanan darah, nadi, respirasi, Temperatur, Berat Badan,


Fisik Umum Tinggi Badan, Indeks Masa Tubuh (IMT), payudara, Jantung,
dan Obstetrik Paru, Abdomen (adneksa)
Pemeriksaan dalam (menilai masalah pada organ genitalia:
vagina, cerviks, bartholin, kelenjar skene, dan uretra),
ekstremitas
Penapisan 1. Laboratorium
dan a) Panel anemia, fungsi ginjal, fungsi hati, golongan darah dan
pemeriksaan Rh, Pemeriksaan HbsAG, HIV-TIPK, darah Mal (atas indikasi),
penunjang BTA (atas indikasi), Sifilis (atas indikasi), Urine Lengkap
(bakteriuria, proteinuria), Kultur Urine (indikasi)
b) Skrining DMG untuk yang beresiko

Pelayanan Antenatal Terfokus 75


2. Ultrasound
a) Pemeriksaan USG Level I : memastikan adanya kehamilan,
lokasi kehamilan, usia kehamilan dan taksiran persalian,
janin hidup/mati, fetus, diagnosis penyakit tropoblas,
evaluasi uterus, struktur adneksa dan kavum douglasi
b) Pemeriksaan USG Level II (targeted Asessment): deteksi
perkiraan kegagalan kehamilan, jumlah
korionisitas/amnionisitas, NT pada 11-13 minggu, Doppler
study (Skrining Preeklampsia)

Pengobatan/ 1. Koreksi anemi


intervensi 2. Terapi ARV
3. Terapi bakteriuria
4. Pengobatan penyakit sebelum hamil

Preventif 1. Pemberian asam folat 400 µgram/hari sampai umur


kehamilan 12 minggu
2. Imunisasi Tetanus Toksoid (TT1,TT2) sesuai ketentuan.

Edukasi & 1. Edukasi tanda-tanda bahaya (perdarahan, mual yang


konseling berlebihan, nyeri perut)
2. Konseling Nutrisi, obat/ bahan berbahaya, aktifitas sehari
hari .
3. Kesiapan menghadapi persalinan (tempat, kapan, biaya)
dan kesiagaan menghadapi gawat darurat
4. Penjadwalan kunjungan berikutnya
Tempat Fasilitas kesehatan primer, Sekunder dan Tersier (Forum
Pelayanan Konsultasi ADACs)
dan Rujukan
Kriteria Semua kehamilan dengan komplikasi dan kelainan medis, USG
merujuk level I di Fasilitas kesehatan sekunder,USG Level II di Fasilitas
kesehatan Tersier atau tidak sesuai dengan kriteria ANC
terfokus

76 Pelayanan Antenatal Terfokus


PAKET KUNJUNGAN II (14-24 MINGGU)

Tujuan 1. Deteksi dini cacat bawaan, persalinan preterm dan


preeklampsia
2. Koreksi anemia, menangani kelainan medis yang muncul
3. Melaksanakan edukasi dan konseling

Anamnesis 1. Tanyakan keluhan yang berhubungan dengan kelainan


terarah medis yang didapatkan pada kunjungan sebelumnya
2. Keluhan yang berhubungan dengan kehamilan (sesak
nafas, demam, batuk lama, gerakan anak, perdarahan,
keluar air dari vagina, nyeri perut, sakit kepala, dll)
Pemeriksaan Tekanan darah, nadi, respirasi, temperatur, Berat Badan,
Fisik Umum tanda klinis anemia , Jantung, paru, tinggi fundus uteri (fetal
dan Obstetrik growth), DJJ, ekstremitas (odema), pemeriksaan fisik lain yg
terkait dengan hasil pemeriksaan sebelumnya

Penapisan 1. Laboratorium
dan a) UL Ulangan, Kultur (indikasi)
pemeriksaan b) Penapisan DMG untuk yang beresiko
penunjang c) Penapisan PE dan Prematuritas (Indkasi Faktor risiko
Prematur)

2. Ultrasound
a) Pemeriksaan USG Level I : Usia Gestasi, Volume air ketuban,
Fetal Growth and Wellbeing, Plasenta, panjang serviks dan
deteksi abnormalitas tali pusat
b) Pemeriksaan USG Level II : Fetal anomalic Scanning, Doppler
study (penapisan PE, IUGR), Pemeriksaan lainya tergantung
dari hasil pemeriksaan pada kunjungan sebelumnya
c) Intervensi USG : Pemeriksaan /intervensi lainnya
tergantung kondisi/kelainan yang ditemukan pada
pemeriksaan sebelumnya
Pengobatan/ 1. Koreksi anemia
intervensi 2. Terapi ARV
3. Terapi bakteriuria

Pelayanan Antenatal Terfokus 77


4. Aspirin dan Kalsium pada yang ditemukan persisten
notching pada doppler a.uterina.
5. Senam hamil
6. Terapi dan intervensi tergantung dari masalah medis ibu
dan janin yang ditemukan pada kunjungan sebelumnya

Preventif 1. Tablet besi dan asam folat


2. Imunisasi Tetanus Toksoid (TT1,TT2) sesuai ketentuan.
3. Pemberian tablet calcium
4. Pemberian tablet DHA

Edukasi & 1. Edukasi tanda bahaya, perdarahan, nyeri perut


konseling 2. Kesiapan persalinan/ kegawat daruratan
3. Edukasi tanda-tanda bahaya (perdarahan, mual yang
berlebihan, nyeri perut)
4. Konseling Nutrisi, obat/ bahan berbahaya, aktifitas sehari
hari
5. Kesiapan menghadapi persalinan (tempat, kapan, biaya)
dan kesiagaan menghadapi gawat darurat.
6. Penjadwalan kunjungan berikutnya
Tempat Fasilitas kesehatan primer, Sekunder dan Tersier (Forum
Pelayanan Konsultasi ADACs)
dan Rujukan
Kriteria Semua kehamilan dengan kelainan medis, komplikasi
merujuk kehamilan/ persalinan/ nifas. Ditemukan preeklamsia/ risiko
preeklamsia yang bermakna, USG level I di Fasilitas Kesehatan
Sekunder,USG level II di Fasilitas kesehatan tersier atau tidak
sesuai dengan kriteria ANC terfokus

78 Pelayanan Antenatal Terfokus


PAKET KUNJUNGAN III ( 24-28 MINGGU )

Tujuan 1. Deteksi dan penanganan komplikasi kehamilan dan


persalinan
2. Menilai kesehatan ibu dan janin, deteksi adanya
preeklamsia, anemia, komplikasi medis, prematuritas
3. Perencanaan kesiagaan terhadap kegawat daruratan
Anamnesis 1. Tanyakan keluhan yang berhubungan dengan kelainan
terarah medis yang didapatkan pada kunjungan sebelumnya
2. Tanyakan keluhan yang berhubungan dengan kehamilan
(sesak nafas, gerakan anak, perdarahan, keluar air dari
vagina, nyeri perut, sakit kepala, dll)

Pemeriksaan Tekanan darah, nadi, Respirasi, Temperatur, Berat Badan,


Fisik Umum tanda klinis anemia, Jantung/Paru, edema, Tinggi fundus Uteri
dan Obstetrik (fetal growth), DJJ, ekstremitas (odema), pemeriksaan fisik
lain yg terkait dengan hasil pemeriksaan sebelumnya
Penapisan 1.Laboratorium
dan a) DL
pemeriksaan b) Penapisan DMG
penunjang
2. Ultrasound
a) Pemeriksaan USG Level I : Usia Gestasi, Fetal Growth and
Wellbeing, Volume air ketuban, Plasenta, serviks dan tali
pusat
b) Pemeriksaan USG Level II: Fetal anomalic Scanning, Doppler
study
c) Intervensi USG : Pemeriksaan /intervensi lainnya tergantung
kondisi/kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan
sebelumnya

Pengobatan/ 1. Koreksi anemia


intervensi 2. Terapi ARV
3. Terapi bakateriuria
4. Aspirin dan Kalsium pada yang ditemukan persisten
notching pada doppler a.uterina

Pelayanan Antenatal Terfokus 79


5. Senam hamil
6. Terapi dan intervensi tergantung dari masalah medis ibu
dan janin yang ditemukan pada kunjungan sebelumnya

Preventif 1. Tablet besi dan asam folat


2. Imunisasi Tetanus Toksoid (TT1,TT2) sesuai ketentuan.
3. Pemberian anti- D globulin. pada ibu rhesus (-) (UK 28
minggu)
4. Pemberian tablet calcium
5. Pemberian tablet DHA

Edukasi & 1. Edukasi tanda bahaya, perdarahan,nyeri perut


konseling 2. Kesiapan persalinan/ kegawatdaruratan
3. Cara persalinan
4. Konseling Nutrisi, obat/bahan berbahaya, aktifitas sehari
hari .
5. Kesiapan menghadapi persalinan (tempat, kapan, biaya)
dan kesiagaan menghadapi gawat darurat.
6. Penjadwalan kunjungan berikutnya
Tempat Fasilitas Kesehatan Primer, sekunder dan tersier (Forum
Pelayanan Konsultasi ADACS)
dan Rujukan
Kriteria Semua kehamilan dengan kelainan medis,komplikasi
merujuk kehamilan/ persalian/ nifas, Ditemukan preeklamsia/ risiko
preeklamsia yang bermakna, USG Level I di Fasilitas Kesehatan
Sekunder dan USG Level II di fasilitas kesehatan tersier atau
tidak sesuai dengan kriteria ANC terfokus

80 Pelayanan Antenatal Terfokus


PAKET KUNJUNGAN IV ( 28-34 MINGGU)

Tujuan 1. Deteksi dan penanganan komplikasi kehamilan dan


persalinan
2. Menilai kesehatan ibu dan janin, deteksi adanya
preeklamsia, anemia, komplikasi medis, prematuritas
3. Perencanaan persalinan dan kesiagaan terhadap kegawat
daruratan (mode and timing of delivery, edukasi dan
konseling)
Anamnesis 1. Tanyakan keluhan yang berhubungan dengan kelainan
terarah medis yang didapatkan
2. Tanyakan keluhan yang berhubungan dengan
kehamilan(sesak nafas, gerakan anak, perdarahan, keluar
air dari vagina, nyeri perut, sakit kepala, dll)
Pemeriksaan Tekanan darah, nadi, Respirasi, Temperatur, Berat Badan,
Fisik Umum tanda klinis anemia, Jantung/Paru, edema , Tinggi fundus
dan Obstetrik Uteri (fetal growth), DJJ , presentasi bayi, ekstremitas
(odema), pemeriksaan fisik lain yg terkait dengan hasil
pemeriksaan sebelumnya

Penapisan 1. Laboratorium
dan a) Pemeriksaan CD4 dan viral load (pada ibu dengan HIV)
pemeriksaan
penunjang 2. Ultrasound
a) Pemeriksaan USG Level I : Usia Gestasi, Fetal Growth and
Wellbeing,- Volume air ketuban,-Plasenta,serviks dan tali
pusat
b) Pemeriksaan USG Level II: Fetal anomali Scanning, Doppler
study
c) Intervensi USG : Pemeriksaan /intervensi lainnya tergantung
kondisi/kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan
sebelumnya

Pengobatan/ 1. Koreksi anemia


intervensi 2. Terapi ARV
3. Terapi bakteriuria

Pelayanan Antenatal Terfokus 81


4. Aspirin dan Kalsium pada yang ditemukan persisten
notching pada doppler a.uterina.
5. Senam hamil
6. Terapi dan intervensi tergantung dari masalah medis ibu
dan janin yang ditemukan pada kunjungan sebelumnya

Preventif 1. Tablet besi dan asam folat


2. Pemberian tablet calcium
3. Pemberian tablet DHA

Edukasi & 1. Edukasi tanda bahaya, perdarahan,nyeri perut


konseling 2. Kesiapan persalinan/ kegawatdaruratan
3. Cara Persalinan
4. Konseling Nutrisi, obat/bahan berbahaya, aktifitas sehari
hari.
5. Kesiapan menghadapi persalinan (tempat, kapan, biaya)
dan kesiagaan menghadapi gawat darurat.
6. Penjadwalan kunjungan berikutnya

Tempat Fasilitas kesehatan primer, sekunder dan tersier (Forum


Pelayanan Konsultasi ADACS)
dan Rujukan
Kriteria Semua Kehamilan dengan kelainan medis,komplikasi
merujuk kehamilan/ persalinan/ nifas, ditemukan preeklamsia/ risiko
preeklamsia yang bremakna, USG Level I di Fasilitas Kesehatan
Sekunder dan USG Level II di Fasilitas kesehatan tersier atau
tidak sesuai dengan kriteria ANC terfokus

82 Pelayanan Antenatal Terfokus


PAKET KUNJUNGAN V ( 34-40 MINGGU)

Tujuan 1. Deteksi dan penanganan komplikasi kehamilan dan


persalinan
2. Menilai kesehatan ibu dan janin, deteksi adanya
preeklamsia, anemia, komplikasi medis, prematuritas
3. Perencanaan persalinan dan kesiagaan terhadap kegawat
daruratan (mode and timing of delivery, edukasi dan
konseling)
Anamnesis 1. Tanyakan keluhan yang berhubungan dengan kelainan
terarah medis yang didapatkan
2. Tanyakan keluhan yang berhubungan dengan
kehamilan(sesak nafas, gerakan anak, perdarahan, keluar
air dari vagina, nyeri perut, sakit kepala, dll)
Pemeriksaan Tekanan darah, nadi, Respirasi, temperatur, Berat Badan,
Fisik Umum tanda klinis anemia, Jantung/Paru, edema , Tinggi fundus
dan Obstetrik uteri, DJJ, Uteri (fetal growth), presentasi bayi, pemeriksaan
kapasitas panggul, ekstremitas (odema ), pemeriksaan fisik lain
yg terkait dengan hasil pemeriksaan sebelumnya

Penapisan 1. Laboratorium
dan a) Pemeriksaan CD4 dan viral load (pada ibu dengan HIV)
pemeriksaan
penunjang 2. Ultrasound
a) Pemeriksaan USG Level I : Usia Gestasi, Fetal Growth and
Wellbeing,- Volume air ketuban,-Plasenta,serviks dan tali
pusat
b) Pemeriksaan USG Level II: Fetal anomalic Scanning, Doppler
study
c) Intervensi USG : Pemeriksaan /intervensi lainnya tergantung
kondisi/kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan
sebelumnya

Pengobatan/ 1. Koreksi anemia


intervensi 2. Terapi ARV
3. Terapi bakteriuria

Pelayanan Antenatal Terfokus 83


4. Aspirin dan Kalsium pada yang ditemukan persisten
notching pada doppler a.uterina.
5. Senam hamil
6. Terapi dan intervensi tergantung dari masalah medisibu
dan janin yang ditemukan pada kunjungan sebelumnya

Preventif 1. Tablet besi dan asam folat


2. Pemberian tablet calcium
3. Pemberian tablet DHA

Edukasi & 1. Edukasi tanda bahaya, perdarahan,nyeri perut


konseling 2. Kesiapan persalinan/ kegawatdaruratan
3. Cara Persalinan
4. Konseling Nutrisi, obat/bahan berbahaya, aktifitas sehari
hari.
5. Kesiapan menghadapi persalinan (tempat, kapan, biaya)
dan kesiagaan menghadapi gawat darurat.
6. Penjadwalan kunjungan berikutnya
Tempat Fasilitas kesehatan primer, sekunder dan tersier (Forum
Pelayanan Konsultasi ADACS)
dan Rujukan
Kriteria Semua Kehamilan dengan kelainan medis,komplikasi
merujuk kehamilan/ persalinan/ nifas, ditemukan preeklamsia/ risiko
preeklamsia yang bermakna, USG Level I di Fasilitas Kesehatan
Sekunder dan USG Level II di Fasilitas kesehatan tersier atau
tidak sesuai dengan kriteria ANC terfokus

84 Pelayanan Antenatal Terfokus


Catatan: Paket kunjungan ditentukan berdasarkan usia
kehamilan pasien saat kunjungan dilakukan, dan pelayanan
antenatal yang diberikan sesuai dengan paket tersebut dan
paket sebelumnya (jika kunjungan sebelumnya terlewatkan)

Antenatal Care terfokus harus memenuhi syarat : 1) Umur kehamilan


pada saat datang pertama kali < 14 minggu, 2) mendapatkan
pelayanan sesuai 4 kebutuhan dasar ,3) jumlah kunjungan minimal 5
kali yaitu satu kali di trimester I , dua kali di trimester II dan dua kali

Pelayanan Antenatal Terfokus 85


86 Pelayanan Antenatal Terfokus
Pelayanan Antenatal Terfokus 87
88 Pelayanan Antenatal Terfokus
Pelayanan Antenatal Terfokus 89
90 Pelayanan Antenatal Terfokus
Pelayanan Antenatal Terfokus 91
Kepustakaan

1. Akkerman D, Cleland L, Croft G, et al, Routine Prenatal, in


Institute for Clinical Systeme Improvement, Health Care
Guideline, fifteenth ed. July 2012.
2. Anonim, Group Health, Prenatal care, Screening and testing
Guideline, June 2012.
3. Anonim, NICE Clinical Guideline, Antenatal Care , Routine
care for Healthy Pregnant Woman, Clinical Guideline March
2008.
4. Child Health Research Project. 1999. Reducing Perinatal and
Neonatal Mortality. Child Health Research Project. 1999.
Reducing Perinatal and Neonatal Mortality. Special Report,
vol.3, no.1.
5. Cunningham FG, Gant FN, Leveno KJ, dkk. Obstetri Williams.
Edisi 21. Jakarta: EGC, 2005.
6. deGraft-Johnson Jetal. 2005. Household-to-Hospital
Continuum of Maternal and New born Care. ACCESS
Program:Baltimore, MD.
7. Family Care International. 1998. Every Pregnancy Faces
Risks. Safe Motherhood Fact Sheet. Family Care
International:NewYork.
8. Gere in Netal. 2003. A framework for a new approach to
antenatal care. International Journal of Gynecology and
Obstetrics 80(2):175–182.
9. GloydS,Chair Sand Mercer M A. 2001. Antenatal syphilis
insub-Saharan Africa: Missed opportunities for mortality
reduction.Health Policy and Planning16(1):29–34.

92 Pelayanan Antenatal Terfokus


10. JHPIEGO/Maternal and Neonatal Health Program. 2001.
Focused Antenatal Care: Planning and Providing Care during
Pregnancy. JHPIEGO: Baltimore,MD.
11. JHPIEGO/Maternal and Neonatal Health Program. 2004.
Behavior Change Interventions for Safe Motherhood:
Common Problems, Unique Solutions. The MNH Program
Experience. JHPIEGO: Baltimore,MD.
12. Karkata K, M, Ed. Panduan Penatalaksanaan Kasus Obstetri,
Himpunan Kedokteran Fetomaternal, Pelawasari, 2012, h.1-
31.
13. Kasongo Project Team. 1984. Antenatal screening for
fetopelvic dystocias:A cost effective approach to the choice
of simple indicators for use by auxiliary personnel. Journal
of Tropical Medicine and Hygiene 87(4):173–183.
14. Kementrian Kesehatan Indonesia.2013. Buku Saku
pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan
Rujukan.
15. Kementrian Kesehatan Indonesia. 2013. Modul pelatihan
Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) bagi
petugas Kesehatan.
16. KinzieBand Gomez P. 2004. Basic Maternal and Newborn
Care: A Guide for Skilled Providers. JHPIEGO/MNHProgram:
Baltimore,MD.
17. Kypros A, Nicolaides, A model for a new pyramide of
prenatal care based on the 11 to 13 week’s assessment,
Wiley online Library, DOI: 10.1002/pd.2685, 2011.
18. Lilford R J and Chard T. 1983. Problems and pitfall s of risk
assessment in antenatal care. British Journal of Obstetrics
and Gynaecology 90:507–510.
19. LINKAGES Project. 2000. Maternal Nutrition: Issues and
Interventions. Acomputer based slide presentation for
advancing maternal nutrition. Academy for Educational
Development: Washington,D.C.

Pelayanan Antenatal Terfokus 93


20. Maine D. 1991. Safe Motherhood Programs: Options and
Issues. Center for Population and Family Health.
ColumbiaUniversity: NewYork.
21. McDonagh M. 1996. Is antenatal care effective in reducing
maternal morbidity and mortality? Health Policy and
Planning11(1):1–15.
22. Munjanja S P, Lindmark Gand N yströmL. 1996. Randomised
controlled trial of areduced visits programme of antenatal
care in Harare, Zimbabwe. TheLancet 348(9024): 364–369.
23. United Nations Children’s Fund (UNICEF).2002. UNICEF hails
global progress to wards elimination of maternal and
neonatal tetanus. Pressrelease, 17April. UNICEF: NewYork/
Geneva.
24. USAID. 2007. FOCUSED ANTENATAL CARE: Providing
integrated individualized care during pregnancy Antenatal
care provides a key entry point for a broad range of health
promotion and preventive health services. It is an essential
link in the household-to-hospital continuum of care. Access
to clinical and community maternal, neonatal and women’s
health services.
25. Vanneste A Metal. 2000. Prenatal screening in rural
Bangladesh:From prediction to care.Health Policy and
Planning 15 (1): 1–10.
26. Villar J and Bergsjo P. 1997. Scientific basis for the content
of routine antenatalcare. Acta Obstetricia et Gynecologica
Scandinavica 76(1):1–14.
27. Villar Jetal. 2001. WHO antenatal care randomised trial for
the evaluation of a new model of routine antenatal care.The
Lancet 357(9268) :1551 –1564.
28. VillarJandBergsjoP.2003.WHOAntenatalCareRandomizedTri
al:ManualfortheImplementationoftheNewModel.WHO/RHR
/01.30.WHO:Geneva.
29. World Health Organization (WHO) / United Nations
Children’s Fund(UNICEF). 2003.Antenatal Care in Developing
Countries: Promises, Achievements and Missed

94 Pelayanan Antenatal Terfokus


Opportunities —An Analysis of Trends, Levels and
Differentials, 1990-2001. WHO: Geneva.
30. World Health Organization (WHO). 1996. Mother-Baby
Package: Implementing Safe Mother hood inCountries.
WHO: Geneva.
31. World Health Organization (WHO).2013. guidelines on the
use of antiretroviral drugs For treating and preventing hiv
infection. Recommendations for a public health approach
32. World Health Organization (WHO). 2004. Prevention of
Mother-to-Child Transmission of HIV. Generic Training
Package. In collaboration with the U.S. Department of
Health and Human Services, Centers for Disease Control
(CDC) and Global AIDS Program (GAP). WHO:Geneva.
33. Winkjosastro H. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga. Jakarta: YBP-
SP, 2007.
34. Yuster E A. 1995. Rethinking the role of the risk approach
and antenatal care in maternal mortality reduction.
International Journal of Gynecology & Obstetrics 50
(Suppl.2): S59–S61.

Pelayanan Antenatal Terfokus 95


96 Pelayanan Antenatal Terfokus