Anda di halaman 1dari 10

UJIAN AKHIR SEMESTER

“MEMBUAT BERITA TENTANG KEWARGANEGARAAN DI INDONESIA DAN


MEMBERI PENDAPAT MENGENAI BERITA TERSEBUT”

Dosen Pengampu : Istighfaris Rezki, M.E

Disusun Oleh :

Nama : Vani Vrenika

NIM : 18.72.019248

Kelas : A

Semester : V (Lima)

Mata Kuliah : Kewarganegaraan

PRODI DIII ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKARAYA
2021
Sumber : Bernas Selasa, 24 Maret 2009

Menurut pendapat saya tentang berita diatas yang berjudul “Korupsi Tak Identik Uang”
bahwa hal tersebut adalah benar. Mengapa saya mengatakan demikian, karena korupsi di zaman
sekarang sangat mengkhawatirkan, masyarakat mengetahui bahwa korupsi yang dilakukan pihak-
pihak tertentu bahkan golongan-golongan tertentu berkaitan dengan keuangan/materi. Ya, hal
tersebut benar namun ada hal yang sangat berbahaya dan perlu ditinjau kembali, yaitu korupsi
tentang komitmen seperti yang dipaparkan pada berita diatas. Apabila korupsi terhadap komitmen
terjadi, maka korupsi-korupsi yang lain akan bermunculan, maka tugas yang kita emban sebagai
warga negara Indonesia, didalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara diharapkan dapat
mencegah adanya korupsi komitmen, karena hal tersebut adalah kuncinya.
Sumber : Jawa Pos Selasa, 07 Oktober 2008

Pendapat saya tentang berita diatas yang berjudul “Mewujudkan Nilai Moral di
Kehidupan” bicara mengenai moral, istilah moral sudah tidak asing lagi ditelinga kita sebagai
warga negara Indonesia. Hal tersebut sangat mudah ketika kita mengucapkannya, tetapi akan
sangat sulit ketika kita mengimplementasikannya ke dalam kehidupan kita sehari-hari tanpa
adanya niat dalam hati. Mengapa demikian? karena masing-masing kepala memiliki sifat dan sikap
yang berbeda-beda. Berita diatas menyampaikan bahwa masyarakat memandang segala sesuatu
dari segi matrealistik kapitalistrik berdasarkan untung dan rugi, sehingga hal tersebut
menyebabkan bangsa kita belum bisa bersungguh-sungguh dalam menghidupkan dan
membangkitkan kekuatan hati nurani. Padahal segala sesuatu jika didasarkan pada hati nurani
maka akal pikiran, sikap dan tingkah laku akan memancarkan cahaya penuh bagi kemuliaan
bangsa, karena hati nurani selalu berjalan beriringan dan berdampingan dengan kebenaran tanpa
adanya dusta.
Negeri tercinta Indonesia ini dibentuk tidak untuk satu kelompok ataupun golongan, tetapi
dibentuk untuk kepentingan bersama, dan bahkan kita meyakini bahwa kepentingan rakyat
diletakkan diatas kepentingan sendiri. Pendidikan moral sudah harus ditanamkan sejak dari TK
hingga ke perguruan tinggi, hal ini sangat penting karena pendidikan moral akan memberikan
dasar pembentukan kepribadian seseorang. Dan yang tidak kalah penting setelah seseorang paham
akan teori pendidikan moral, maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengamalkannya
dan mengimplementasikannya kedalam berkehidupan berbangsa dan bernegara dengan niat dalam
hatinya.
Sumber : Pedoman Makassar Kamis, 15 September 2016
Menanggapi berita diatas yang berjudul “Diam-Diam Beralih Kewarganegaraan”, saya
merasa sangat keberatan dengan statement yang disampaikan oleh saudara Ivo Taufik, bahwa
saudara Ivo memiliki paspor ganda, yaitu paspor Indonesia dan juga paspor Belanda. Sebagai
warga negara yang baik, setiap orang berhak memiliki satu buah paspor saja berdasarkan
kewarganegaraan yang dijalani. Sebenarnya ada sesuatu hal yang perlu diluruskan dari berita ini,
yaitu sebenarnya ketika saudara Ivo sudah memilih menjadi penduduk Belanda, seharusnya dia
menyerahkan paspor Indonesianya bahkan tidak berniat untuk memperpanjang paspor tersebut
begitu pula sebaliknya. Karena setiap warga negara, khususnya warga Indonesia sangat menolak
adanya kewarganegaraan ganda, karena setiap orang hanya berhak memilih satu kewarganegaraan
saja. Seharusnya, yang harus dilakukan saudara Ivo adalah ketika dia benar-benar mencintai tanah
airnya, dia harus membuktikan cintanya tersebut dengan tetap mempertahankan status warga
negara Indonesianya bukan malah sebaliknya. Jangan sampai hanya karena alasan praktis semata,
sampai rela melepaskan status warga negaranya hal ini sangat miris bagi saya dan mungkin juga
bagi saudara yang membaca berita ini. Mungkin hanya ini saja yang bisa saya sampaikan, tentang
keprihatinan saya terhadap seseorang yang rela beralih kewarganegaraan demi sebuah alasan yang
praktis, semoga saya dan saudara-saudari semua yang membaca berita ini tetap berpegang teguh
sampai akhir hayat hanya pada satu status kewarganegaraan saja.
Sumber : Harian Bernas 2014

Menanggapi berita diatas yang berjudul “Penegakan HAM Belum Terwujud” menurut
pendapat saya pribadi, HAM (hak asasi manusia) adalah hak yang dimiliki oleh seluruh warga
negara tanpa terkecuali. Saya setuju bahwa secara sederhana, masa depan yang lebih kuat bagi
Indonesia harus dibangun atas dasar keadilan. Di negeri kita tercinta Indonesia ini sangat
disayangkan banyak pelaku-pelaku pelanggaran HAM, kejahatan kemanusiaan, kekerasaan
seksual dan lain-lain yang memerlukan perhatian yang serius. Dengan terpilihnya pemimpin baru
yakni bapak presiden Joko Widodo ditahun 2014 sampai masa jabatannya sekarang tahun 2021,
timbul banyak harapan dibenak kita semua bahwa keadilan terhadap pelanggaran HAM dapat
ditegakkan. Serta tidak lain dan tidak bukan kita sebagai warga negara Indonesia harus saling bahu
membahu, untuk membantu melakukan perlindungan bagi pembela HAM dari hal kecil yang juga
menjadi salah satu poin yang sangat disoroti.
Sumber : ASP-b Sabtu, 1 Juni 2013

Menanggapi berita diatas yang berjudul “Implementasi Pancasila Mengalami


Kesenjangan” menurut pendapat saya pribadi, pancasila adalah dasar negara yang harus kita taati
dan dilaksanakan untuk mencapai cita-cita suatu negara. Dalam mengimplementasi pancasila
memang tidaklah mudah, banyak kesenjangan yang terjadi terutama kesenjangan pelaksaan secara
yuridis kenegaraan dan tatanan praksis banyak diselewengkan. Permasalahan sosial dan politik
berpengaruh pada upaya peningkatan pemahaman nilai-nilai pancasila. Karena itu diperlukan
upaya realitis, integralistrik, komprehensif dan kontinyu untuk mengembangkan pemahaman,
edukasi, sosialisasi serta implementasi pancasila. Dalam mengimplementasikan pancasila, tak
kalah pentingnya yang harus kita lakukan adalah membudayakan lagu perjuangan sebagai lagu
wajib disamping pembelajaran pancasila/kewarganegaraan.
Sumber : Kalteng Pos 23 Oktober 2018

Menurut pendapat saya tentang berita diatas yang berjudul “Kapolsek Imbau Remaja
Bijak Gunakan Medsos”, setiap orang mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga orang
tua tidak terlepas dari penggunaaan media sosial (medsos) mulai dari facebook, whatshap,
instagram, twitter dan lain sebagainya. Bagi usia remaja, ketertarikan menggunakan internet sudah
tidak bisa dipungkiri lagi. Tetapi yang perlu diketahuilah dampak dari penggunaan internet yang
berlebihan dapat memberi dampak positif maupun negatif bagi diri sendiri maupun orang lain.
Sosialisasi literasi media yang dilakukan sangat bermanfaat terutama bagi seseorang yang sudah
memasukki usia remaja, dengan adanya sosialisasi ini remaja diharapkan dapat bijak
menggunakan media sosialnya, terutama harus sharring sebelum share informasi, maupun berita
yang diterima. Jangan cepat berekspekulasi informasi maupun berita yang diperoleh benar adanya,
tanpa disaring kebenarannya terlebih dahulu. Dan diharapkan remaja dapat menggunakan media
sosial untuk memperoleh dan mengupdate informasi maupun berita yang bermanfaat bagi diri
sendiri, karena perilaku dalam media sosial yang kedapatan menyebarkan hoax dapat dijerat
hukum pidana seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik
Nomor 19.