Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

CEREBRO VASCULAR DISEASE (CVD)

DISUSUN OLEH :

HANIS RICALDO (202016007)

RONNA (202016020)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SINT CAROLUS

PROGRAM SARJANA NERS KEPERAWATAN

JAKARTA

2021
A. Definisi
CVD (Cerebro Vaskuler Deases) atau sering disebut dengan stroke merupakan
suatu keadaan yang mengambarkan perubahan neurologic yang disebabkan oleh adanya
gangguan suplai darah ke bagian otak (Black & Hawks , 2014).
CVD atau gangguan sebrovaskuler adalah suatu kelainan fungsional pada system
saraf pusat yang terjadi ketika pasukan darah normal ke otak terganggu (Smeltzer, Bare,
Hinkle, & Cheever, 2014)

B. Klasifikasi
CVD dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian berdasarkan patologi dan gejala klinik,
(Black & Hawks , 2014), yaitu :
1. Stroke Hemorhagik
Stroke hemorhagik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak
tertentu. Terbagi menjadi :
a. Perdarahan intraserebral, yaitu pecahnya pembuluh darah (mikroanurisma)
terutama karena hipertensi yang menyebabkan darah masuk ke dalam jaringan
otak, kemudian membentuk massa yang menekan jaringan otak dan menimbulkan
edema otak.
b. Perdarahan subarachnoid, yaitu perdarahan berasal dari pecahnya aneurisma dari
pembuluh darah sirkulasi Willisi dan cabang-cabangnya yang terdapat di luar
parenkim otak.
2. Stroke Non-Hemorhagik
Stroke Non-Hemorhagik dapat berupa iskemi atau emboli dan trombosis serebral,
biasanya terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari.
Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang dapat menyebabkan terjadinya
hipoksia dan selanjutnya menimbulkan edema sekunder. Kesadaran pasien umumnya
baik. Jenis Stroke Non-Hemorhagik yaitu :
a. TIA (Trans Ischemic Attack)
b. Stroke Involusi
c. Stroke Komplit
C. Gambar Anatomi Otak Manusia
D. Fisiologis
Berdasarkan fungsinya otak dibagi menjadi 4 bagian (Lewis, Bucher, Heitkemper, &
Harding, 2017) yaitu:
1. Otak besar (Cerebrum)
Cerebrum adalah bagian terbesar dari otak manusia yang juga disebut dengan nama
Cerebral Cortex, Forebrain atau Otak Depan. Cerebrum membuat manusia memiliki
kemampuan berpikir, analisa, logika, bahasa, kesadaran, perencanaan, memori dan
kemampuan visual. Kecerdasan intelektual atau IQ Anda juga ditentukan oleh kualitas
bagian ini.
Cerebrum secara terbagi menjadi 4 (empat) bagian yang disebut Lobus. Bagian
lobus yang menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang menyerupai parit disebut
sulcus. Keempat Lobus tersebut masing-masing adalah: Lobus Frontal, Lobus Parietal,
Lobus Occipital dan Lobus Temporal.
a. Lobus Frontal merupakan bagian lobus yang ada dipaling depan dari Otak Besar.
Lobus ini berhubungan dengan kemampuan membuat alasan, kemampuan gerak,
kognisi, perencanaan, penyelesaian masalah, memberi penilaian, kreativitas, kontrol
perasaan, kontrol perilaku seksual dan kemampuan bahasa secara umum.
b. Lobus Parietal berada di tengah, berhubungan dengan proses sensor perasaan
seperti tekanan, sentuhan dan rasa sakit.
c. Lobus Temporal berada di bagian bawah berhubungan dengan kemampuan
pendengaran, pemaknaan informasi dan bahasa dalam bentuk suara.
d. Lobus Occipital ada di bagian paling belakang, berhubungan dengan rangsangan
visual yang memungkinkan manusia mampu melakukan interpretasi terhadap objek
yang ditangkap oleh retina mata.
2. Otak kecil (Cerebellum)
Otak Kecil atau Cerebellum terletak di bagian belakang kepala, dekat dengan
ujung leher bagian atas. Cerebellum mengontrol banyak fungsi otomatis otak,
diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh, mengkontrol keseimbangan, koordinasi
otot dan gerakan tubuh. Otak Kecil juga menyimpan dan melaksanakan serangkaian
gerakan otomatis yang dipelajari seperti gerakan mengendarai mobil, gerakan tangan
saat menulis, gerakan mengunci pintu dan sebagainya. Jika terjadi cedera pada otak
kecil, dapat mengakibatkan gangguan pada sikap dan koordinasi gerak otot. Gerakan
menjadi tidak terkoordinasi, misalnya orang tersebut tidak mampu memasukkan
makanan ke dalam mulutnya atau tidak mampu mengancingkan baju.
3. Batak otak (Brainstem)
Batang otak (brainstem) berada di dalam tulang tengkorak atau rongga kepala
bagian dasar dan memanjang sampai ke tulang punggung atau sumsum tulang
belakang. Bagian otak ini mengatur fungsi dasar manusia termasuk pernapasan, denyut
jantung, mengatur suhu tubuh, mengatur proses pencernaan, dan merupakan sumber
insting dasar manusia yaitu fight or flight (lawan atau lari) saat datangnya bahaya.
Batang otak dijumpai juga pada hewan seperti kadal dan buaya. Oleh karena itu,
batang otak sering juga disebut dengan otak reptil. Otak reptil mengatur “perasaan
teritorial” sebagai insting primitif. Contohnya anda akan merasa tidak nyaman atau
terancam ketika orang yang tidak Anda kenal terlalu dekat dengan anda. Batang Otak
terdiri dari tiga bagian, yaitu:
a. Mesencephalon atau Otak Tengah (disebut juga Mid Brain) adalah bagian teratas
dari batang otak yang menghubungkan Otak Besar dan Otak Kecil. Otak tengah
berfungsi dalam hal mengontrol respon penglihatan, gerakan mata, pembesaran
pupil mata, mengatur gerakan tubuh dan pendengaran.
b. Medulla oblongata adalah titik awal saraf tulang belakang dari sebelah kiri badan
menuju bagian kanan badan, begitu juga sebaliknya. Medulla mengontrol funsi
otomatis otak, seperti detak jantung, sirkulasi darah, pernafasan, dan pencernaan.
c. Pons merupakan stasiun pemancar yang mengirimkan data ke pusat otak bersama
dengan formasi reticular. Pons yang menentukan apakah kita terjaga atau tertidur.
4. System limbic
Sistem limbik terletak di bagian tengah otak, membungkus batang otak ibarat
kerah baju. Limbik berasal dari bahasa latin yang berarti kerah. Bagian otak ini sama
dimiliki juga oleh hewan mamalia sehingga sering disebut dengan otak mamalia.
Komponen limbik antara lain hipotalamus, thalamus, amigdala, hipocampus dan
korteks limbik. Sistem limbik berfungsi menghasilkan perasaan, mengatur produksi
hormon, memelihara homeostasis, rasa haus, rasa lapar, dorongan seks, pusat rasa
senang, metabolisme dan juga memori jangka panjang.
Bagian terpenting dari Limbik Sistem adalah Hipotalamus yang salah satu
fungsinya adalah bagian memutuskan mana yang perlu mendapat perhatian dan mana
yang tidak. Misalnya Anda lebih memperhatikan anak Anda sendiri dibanding dengan
anak orang yang tidak Anda kenal. Mengapa? Karena Anda punya hubungan
emosional yang kuat dengan anak Anda. Begitu juga, ketika Anda membenci
seseorang, Anda malah sering memperhatikan atau mengingatkan. Hal ini terjadi
karena Anda punya hubungan emosional dengan orang yang Anda benci.
Sistem limbik menyimpan banyak informasi yang tak tersentuh oleh indera.
Dialah yang lazim disebut sebagai otak emosi atau tempat bersemayamnya rasa cinta
dan kejujuran. Carl Gustav Jung  menyebutnya sebagai "Alam Bawah Sadar" atau
ketidaksadaran kolektif, yang diwujudkan dalam perilaku baik seperti menolong orang
dan perilaku tulus lainnya. LeDoux mengistilahkan sistem limbik ini sebagai tempat
duduk bagi semua nafsu manusia, tempat bermuaranya cinta, penghargaan dan
kejujuran.
Peredaran darah pada otak (Price & Wilson, 2006)
Darah mengangkut zat asam, makanan dan substansi lainnya yang diperlukan
bagi fungsi jaringan hidup yang baik. Kebutuhan otak sangat mendesak dan vital,
sehingga aliran darah yang konstan harus terus dipertahankan. Suplai darah arteri ke
otak merupakan suatu jalinan pembuluh-pembuluh darah yang bercabang-cabang,
berhubungan erat satu dengan yang lain sehingga dapat menjamin suplai darah yang
adekuat untuk sel.
Otak menerima 20% curah jantung dan menggunakan 20% oksigen tubuh.
Glukosa dikatabolisme atau dibakar untuk menyediakan energy bagi otak.Subtansi
grisea memiliki kebutuhan metabolic yang lebih tinggi dibandingkan substansi alba.
Aliran darah diatur oleh kadar metabolic neuron dapat meningkatkan kadar karbon
dioksida yang menyebabkan vassodilatasi lokal. Regulassi lokal aliran daraha
memastikan darah proporsional pada kebutuhan metabolik neuron (Black & Hawks ,
Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Buku 3, 2014)
Pembuluh darah yang berperan untuk mensuplai O2 ke jaringan otak ada 4 arteri
yaitu dua arteri vertebralis dan dua arteri karotis interna, yang bercabang dan
beranastosmosis membentuk circulus willisi. Arteri karotis interna dan eksterna
bercabang dari arteri karotis komunis yang berakhir pada arteri serebri anterior dan
arteri serebri medial. Di dekat akhir arteri karotis interna, dari pembuluh darah ini
keluar arteri communicans posterior yang bersatu kearah kaudal dengan arteri serebri
posterior. Arteri serebri anterior saling berhubungan melalui arteri communicans
anterior. Arteri vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteria subklavia sisi yang sama.
Arteri subklavia kanan merupakan cabang dari arteria inominata, sedangkan arteri
subklavia kiri merupakan cabang langsung dari aorta. Arteri vertebralis memasuki
tengkorak melalui foramen magnum, setinggi perbatasan pons dan medula oblongata.
Kedua arteri ini bersatu membentuk arteri basilaris.
Sirkulasi darah ke otak terdapat sirkulasi anterior dan sirkulasi posterior.
Sirkulasi anterior adalah arteri karotis komunis dengan cabang distalnya yaitu arteri
karotis internal, arteri serebri media, dan arteri serebri anterior. Sirkulasi posterior
adalah arteri vertebrobasiliar yang berasal dari arteri vetebralis kanan dan kiri dan
kemudian bersatu menjadi areti basilaris dan seluruh percabangannya termasuk cabang
akhirnya yaitu arteri serebri posterior kanan dan kiri.
Anterior serebri memperdarahi daerah medial hemisfer serebri, lobus frontal
bagian superior dan lobus parietal bagian superior. Arteri serebri media memperdarahi
daerah frontal inferior, parietal inferior dan lobus temporal bagian lateral. Arteri
serebri posterior memperdarahi lobus oksipital dan lobus temporal bagian medial.
Batang otak diperdarahi secara ekslusif dari sirkulasi posterior. Medulla
oblongata menerima darah dari arteri vetebralis melalui arteri perforating medial dan
lateral. Sedangkan pons dan midbrain (mensefalon) menerima darah dari arteri
basilaris lewat cabangnya yaitu arteri perforating lateral dan medial.
Serebelum mendapat darah dari 3 pembuluh darah serebelar yaitu;
a. arteri serebelar posterior inferior (Posterior Cerebellar Artery/PICA) yang
merupakan cabang arteri vetebralis.
b. Arteriserebelar anterior inferior (Anterior Inferior Cerebellar Arteri/ACA) yang
merupakn cabang pertama dari arteri basilaris.
c. Ateri serebelar superior (Superior Cerebellar Artery/SCA) yang merupakan
cabang akhir dari arteri basilaris.

Saraf kranial
Saraf-saraf kranial langsung berasal dari otak dan keluar meninggalkan tengkorak
melalui lubang-lubang pada tulang yang disebut foramina. Terdapat 12 pasang saraf
kranial yang bersal dari otak adalah (Lemone, 2017) :
1. Nervus I Olfaktorius ( penghidu)
2. Nervus II Optikus (penglihatan)
3. Nervus III Okulomotorius (gerakan mata ekstraokular,pengangkatan kelopak
mata, konstriksi pupil)
4. Nervus Troklearis IV (gerakan mata ekstraokular)
5. Nervus Trigeminus V, tiga buah terdiri dari tiga buah saraf yaitu saraf
optalmikus, saraf maxilaris, dan saraf mandibularis
6. Nervus VI Abducens (gerakan bola mata lateral)
7. Nervus VII Fasialis (ekspresi wajah)
8. Nervus VIII Vestibulokolearis, Vestibularis, KOklearis VIII (keseimbangan dan
pendengaran)
9. Nervus IX Glosofaringeus( Keseimbangan)
10. Nervus X Vagus ( Menelan)
11. Nervus XI Accesorius (Gerakan leher dan bahu)
12. Nervus XII Hipoglosus (Gerakan lidah)

E. Etiologi
Penyebab dari CVD sebagian besar dipengaruhi oleh faktor resiko:
1. Hipertensi
2. Penyakit kardiovaskular embolisme serebri berasal dari jantung (Gagal jantung
kongestif penyakit jantung kongestif, hipertrofi ventrikel kiri, fibrilasi atrium)
3. Hiperkolestrol, dislipidemia
4. Diabetes melitus
5. Peningkatan hematokrit meningkatkan risiko infark serebri
6. Merokok
7. Kontrasepsi oral
8. Obesitas
9. Konsumsi alkohol
10. Usia
Faktor-faktor resiko ini akan menyebabkan dua hal dalam fisiologis cerebral yaitu:
1. Trombosis serebri
Trombus (penggumpalan) mulai terjadi saat adanya kerusakan pada garis endotelial
dari pembuluh darah. Menyebabkan terjadinya oklusi, sehingga menyebabkan
iskemia jaringan otak yang dapat menimbulkan edema dan kongesti sekitarnya. Hal
ini dapat terjadi karena penurunan aktivitas simpatis dan penurunan tekanan darah
yang dapat menyebabkan iskemia serebri. Aterosklerosis merupakan penyebab
utamanya yaitu mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya kelenturan atau
elastisitas dinding pembuluh darah (Black & Hawks, 2014).
2. Emboli serebri
Penyumbatan pada arteri serebral yang disebabkan oleh stroke embolus. Embolus
terbentuk di bagian luar otak kemudian terlepas dan mengalir melalui sirkulasi
serebral sampai embolus tersebut melekat pada pembuluh darah dan menyumbat
arteri. Beberapa keadaan dibawah ini yang dapat menimbulkan emboli yaitu
penyakit jantung rematik, infark miokardium, endokarditis (Black & Hawks, 2014)

F. Test Diagnostik
Menurut Nurarif & Kusuma (2015), pemeriksaan diagnostik sebagai berikut :
1. Angiografi serebral
Membantu menentukan penyebab dari stroke secara spesfik seperti perdarahan
arteriovena atau adanya rupture dan untuk mencari sumber perdarahan seperti
aneurisma atau malformasi vascular.
2. Lumbal pungsi
Tekanan yang meningkat dan disertai bercak darah pada cairan lumbal menunjukkan
adanya hemoragi pada intracranial. Peningkatan jumlah protein menunjukkan
adanya proses inflamasi.
3. CT Scan
Memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi hematoma, adanya jaringan otak
yang infark atau iskemia, dan posisinya secara pasti. Hasil pemeriksaan
biasanya didapatkan hiperdens fokal, kadang pemadatan terlihat di ventrikel,
atau menyebar ke permukaan otak.
4. MRI
MRI (Magnetic Imaging Resonance) menggunakan gelombang magnetic
untuk menentukan posisi dan besar/luas terjadinya perdarahan otak. Hasil
pemeriksaan biasanya didapatkan area yang mengalami lesi dan infark akibat dari
hemoragik
5. Pemeriksaan laboratorium
Parameter yang diperiksa meliputi kadar glukosa darah, elektrolit, analisa gas
darah, hematologi lengkap, kadar ureum, kreatinin, enzim jantung, prothrombin
time (PT) dan activated partial thromboplastin time (aPTT). Pemeriksaan kadar
glukosa darah untuk mendeteksi hipoglikemi maupun hiperglikemi, karena pada
kedua keadaan ini dapat dijumpai gejala neurologis. Pemeriksaan elektrolit
ditujukan untuk mendeteksi adanya gangguan elektrolit baik untuk natrium,
kalium, kalsium, fosfat maupun magnesium.

G. Penatalaksanaan
Menurut Nurarif & Kusuma (2015) terapi konservatif pada pasien perdarahan
intraserebral adalah pasien perdarahan intraserebral dengan perdarahan kecil (<10
cc) atau defisit neurologi minimal, pasien perdarahan intraserebral dengan GCS
<4; kecuali pasien perdarahan serebellar disertai kompresi batang otak masih mungkin
untuk life saving. Terapi konservatif ini meliputi
1. Terapi umum : menjaga dan mengevaluasi ABCD (Airway, Breathing, Circulation,
and Neurological Deficit).
2. Terapi khusus:
a. Hipertensi
Bila tekanan darah sistol > 220 diastol >140 mmHg, atau MAP rerata >145
mmHg dapat diberikan antihipertensi parenteral dengan nikardipin, diltiazem, atau
labetalol. Bila tekanan darah sistol 180-220 mmHg atau diastol 105-140 mmHg
atau MAP rerata 130 mmHg dapat diberikan juga obat antihipertensi seperti di
atas. Bila tekanan darah sistol <180 mmHg diastole <105, tangguhkan
pemberian antihipertensi. Pada fase akut tekanan darah tidak boleh diturunkan
lebih dari 20-25% dari MAP dalam 1 jam pertama
b. Kejang
Pada status kejang; pada saat kejang diberikan injeksi diazepam bolus lambat
intravena 5-20 mg diikuti fenitoin loading dose 15-20 mg/kg/menit dengan
kecepatan maksimum 50 mg/menit dan diberikan dosis pemeliharaan 5
mg/kg/hari. Apabila kejang tidak teratasi perlu dirawat di ICU.
c. Peningkatan tekanan intracranial
Akibat penekanan massa hematom yang besar pada jaringan otak yang
berdekatan. Biasanya timbul dalam 48 jam pertama dan dapat berlangsung dalam
2 mingu setelah perdarahan awal. Ditandai dengan perburukan gejala
neurologis dan gambaran CT Scan ulangan adanya gambaran impending
herniasi. Langkah- langkah yang dapat ditempuh adalah :
1) Nonmedikamentosa:
a) Posisi kepala dan tubuh berbaring 30-40
b) Pemberian O2 dan membuat hiperventilasi (PaO2 30-35)
c) Menghindari pemberian cairan glukosa/hipotonik
d) Posisi pasien menghindari penekanan vena jugular
e) Pemasangan urine kateter
f) Mencegah konstipasi
g) Menurunkan metabolisme dengan membuat hipotermi.
2) Medikamentosa
Obat hiperosmolar manitol dosis 0.25-1 g/kg bolus, dilanjutkan dengan 0.25-
0.5 g/kg diulang setiap 4-6 jam sekali. Terapi operatif dilakukan pada kasus
perdarahan intraserebral cerebellar dengan diameter >3 cm dengan
perburukan klinis dan penekanan pada batang otak menyebabkan
hidrosephalus akibat obstruksi ventrikel IV; perdarahan intraserebral
dengan lesi struktural seperti aneurisma, malformasi AV, atau angioma
kavernosa, yang mempunyai harapan keluaran yang baik dan lesi
strukturalnya terjangkau; pasien usia muda dengan perdarahan lobar
sedang-besar yang memburuk.

H. Diagnosa Keperawatan (PPNI, 2016)


Standar diagnosis keperawatan yang dapat diangkat:
1. Pola nafas tidak efektif
2. Penurunan kapasitas adaptif intrakranial
3. Gangguan mobilitas fisik
4. Risiko aspirasi
5. Risiko perfusi serebral tidak efektif
6. Risiko jatuh

I. Discharge Planning
1. Pertahankan BB ideal
2. Pertahankan kadar kolesterol yang normal
3. Hindari dan hentikan kegiatan merokok
4. Hindari komsumsi alcohol
5. Anjurak untuk tetap diit rendah lemak dan rendah garam
6. Kelolah stress dengan baik
7. Edukasikan tanda dan gejala stroke dan motivasi untuk segera melaporkan ke tenaga
kesehatan tentang gejalayang dialami
8. Lakukan latihan ROM pasif atau aktif bila mengalami kelemahan ekstremitas
9. Jangan menghentikan obat sendiri dan tetap kontrol rutin

DAFTAR PUSTAKA

Black, J. M., & Hawks, J. H. (2014). Keperawatan Mendikal Bedah ; Manajemen Klinis
untuk Hasil Yang diharapkan (8 ed., Vol. 1) Singapore: Elsevier.

Lemone, P. (2017). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Neurologi. Jakarta:
EGC.
Lewis, S. L., Bucher, L., Heitkemper, M. M., & Harding, M. N. (2017). Medical Surgical
Nursing Assesment and Management of Clinical problem 10 th edition. New York:
Elseivr.

Nurarif & Kusuma (2015) Aplikasi Asuhan Kperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &
NANDA NIC-NOC

Price, S. A., & Wilson, L. M. (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta: EGC.

PPNI (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnosis.
Jakarta : DPP PPNI

Smeltzer, S. C., Bare, B. G., Hinkle, J. I., & Cheever, K. H. (2014). Testbook of Medical-
Surgical Nursing. America: Lippihcott Williams & Wilkins.