Anda di halaman 1dari 34

10

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori
1. Pola Pembelajaran
a. Pengertian Pola Pembelajaran
Pola adalah bentuk atau model rancangan yang bisa dipakai untuk
membuat atau untuk menghasilkan suatu atau bagian dari sesuatu,
khususnya jika sesuatu yang ditimbulkan cukup mempunyai suatu yang
sejenis untuk pola dasar yang dapat ditunjukkan atau terlihat, yang mana
sesuatu itu dikatakan memamerkan pola.
Desain menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu kerangka
bentuk, rancangan. Menurut Hamdani (2011 : 172) desain berarti
membuat sketsa, pola, outline, atau rencana pendahuluan.
Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pola
memiliki arti yang sama dengan desain yaitu suatu bentuk atau rancangan
yang dibuat untuk menghasilkan sesuatu.
Pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses atau cara yang
dilakukan agar seseorang dapat melakukan kegiatan belajar. Dalam arti
luas, pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan
sistemik, yang bersifat interaktif dan komunikatif antara pendidik (guru)
dengan peserta didik, sumber belajar dan lingkungan untuk menciptakan
suatu kondisi yang memungkinkan terjadinya tindakan belajar peserta
didik, baik di kelas maupun diluar kelas, dihadiri guru secara fisik atau
tidak, untuk menguasai kompetensi yang telah ditentukan (Zaenal Arifin,
2009 : 10). Sedangkan pengertian pembelajaran menurut UU RI tahun
2003 Bab 1, pasal 1, ayat 20 adalah adalah proses interaksi peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

10
11

Desain pembelajaran menurut Syaiful Sagala (2005 : 136) adalah


pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara
khusus teori-teori pembelajaran untuk menjamin kualitas pembelajaran.
Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa penyusunan perencanaan
pembelajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan pembelajaran
yang dianut dalam kurikulum yang digunakan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pola pembelajaran adalah


seperangkat prosedur yang sistematis sebagai perancang bagi para
pengajar untuk mencapai tujuan belajar.

b. Klasifikasi Pola Pembelajaran


Barry Moris (dalam Rusman, 2011 : 134) mengklasifikasikan
empat pola pembelajaran, antara lain sebagai berikut :
1) Pola pembelajaran guru dengan siswa tanpa menggunakan alat
bantu/bahan pembelajaran dalam bentuk alat peraga. Pola
pembelajaran ini tergantung pada kemampuan guru dalam mengingat
bahan pembelajaran dan menyampaikan bahan tersebut secara lisan
kepada siswa
2) Pola (guru + alat bantu) dengan siswa. Pada pola pembelajaran ini
guru sudah dibantu oleh berbagai bahan pembelajaran yang disebut
alat peraga pembelajaran dalam menjelaskan dan meragakan suatu
pesan yang bersifat abstrak.
3) Pola (guru) + (media) dengan siswa. Pola pembelajaran ini sudah
mempertimbangkan keterbatasan guru yang tidak mungkin menjadi
satu – satunya sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran, guru
dapat memanfaatkan berbagai media pembelajaran sebagai sumber
belajar yang dapat menggantikan guru dalam pembelajaran, jadi siswa
dapat memperoleh informasi dari berbagai media sebagai sumber
belajar, misalnya dari majalah, modul, siaran radio pembelajaran,
12

televisi pembelajaran, media komputer dan internet. Pola ini


merupakan pola pembelajaran bergantian antara guru dan media dalam
berinteraksi dengan siswa.
4) Pola pembelajaran media dengan siswa atau pola pembelajaran jarak
jauh menggunakan media atau bahan pembelajaran yang disiapkan,
dalam pola ini, siswa belajar dengan media, tanpa campur tangan guru,
artinya, guru hanya sebagai fasilitator yang menyiapkan bahan atau
materi pembelajaran saja yang kemudian bahan tersebut diaplikasikan
pada media sebagai sumber belajar siswa yang utama.

2. Pembelajaran Nilai dan Norma dalam Mata Pelajaran Sosiologi


Sebelum membahas tentang Nilai dan Norma kita lihat tujuan dari Bab
Nilai dan Norma. Tujuan pembelajaran Nilai dan Norma yaitu setelah
mempelajari bab ini siswa akan dapat mengidentifikasi nilai dan norma yang ada
di masyarakat, sehingga mampu berprilaku sesuai dengan berbagai peraturan
yang berlaku di masyarakat.

Sebagai makhluk individu dan makhluk sosial manusia memiliki banyak


kebutuhan dalam kehidupannya, yang terkadang perilaku individu untuk
memenuhi kebutuhannya bertentangan dengan manusia lainnya. Fakta
membuktikan bahwa dalam kehidupan di dunia manusia itu memerlukan hidup
bersama dalam bentuk kelompok, komunitas, masyarakat, dan bangsa. Semua itu
dapat tercapai karena dalam kehidupan manusia ada nilai yang menjadi acuan,
pedoman dan kaidah dalam kehidupan bersama. Pedoman dan kaidah itu dapat
berupa pedoman tertulis dan tak tertulis.

Dalam kehidupan sendiri, nilai dan norma itu sangat bermanfaat sebagai
control social terhadap interaksi (perilaku) individu sehingga terciptanya
keteraturan sosial bermasyarakat. Sehingga terjadinya kehidupan yang dinamis,
stabil dan harmonis. Adapun peta konsep Nilai dan Norma yaitu sebagai berikut :
13

Kebutuhan pokok Perilaku Individu


masyarakat

Pemenuhan dan pelaksanaannya


diatur melalui

Yang benar dan Yang boleh dan


yang penting yang tidak

Nilai Norma

Sebagai Kontrol Sosial


terhadap

Interaksi (Perilaku) Individu

Keteraturan hidup bersama

Bagan. 2.1 Peta Konsep Nilai dan Norma

a. Nilai

1) Pengertian dan Fungsi Nilai

Nilai adalah sebuah konsep yang menunjuk pada hal-hal yang


dianggap berharga dalam kehidupan. Sesuatu itu dianggap berharga karena
hal itu baik, indah, benar dan pantas (Saptono, 2006 : 43).

Dalam sosiologi, ada berbagai pengertian yang dikemukakan para ahli


mengenai nilai. Menurut Saptono (2006:43) beberapa pengertian itu antara
lain adalah sebagai berikut:
14

(a) Menurut Anthony Giddens Nilai adalah gagasan-gagasan yang dimiliki


oleh seseorang atau kelompok tentang apa yang di kehendaki, apa yang
layak, dan apa yang baik atau buruk.

(b) Menurut Soerjono Soekanto mendefinisikan nilai sebagai konsepsi abstrak


dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang
dianggap buruk. Dengan demikian, nilai sosial adalah nilai yang dianut
oleh suatu kelompok masyarakat.

(c) Menurut Kimball Young merumuskan nilai sosial sebagai unsur-unsur


yang abstrak dan sering tidak disadari tentang benar dan pentingnya.

(d) Menurut Cycle Kluckhohn mendefinisikan nilai sebgai sebuah konsepsi,


eksplisit, atau implisit, yang khas milik seseorang individu atau kelompok,
tentang yang seharusnya di inginkan yang mempengaruhi pilihan yang
tersedia dari bentuk-bentuk, cara-cara, dan tujuan-tujuan tindakan.

(e) Menurut Robert M. Z. Lawang (dalam Siti Ngadiati, 2004 : 37)


memberikan pengertian nilai lebih dikaitkan dengan prilaku sosiaal. Ia
mengatakan bahwa nilai adalah gambaran mengenai apa yang di inginkan,
yang pantas, yang berharga dan yang mempengaruhi perilaku sosial dari
orang yang memiliki nilai itu.

Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai pada dasarnya merupakan


pandangan atau keyakinan untuk dimiliki dan dilakukan. Jika seseorang atau
masyarakat menganggap bahwa sesuatu itu bernilai, misalnya menolong orang
lain adalah sesuatu yang bernilai, maka menolong orang lain itu berharga,
berguna, dan pantas untuk dilakukan.

Keberadaan nilai-nilai sosial memiliki fungsi-fungsi tertentu dalam


masyarakat. Beberapa fungsi itu antara lain sebagai berikut:

(a) Mengarahkan masyarakat dalam berpikir dan bertingkah laku.


15

(b) Penentu bagi warga masyarakat dalam memenuhi peranan sosialnya


(mendorong/memotivasi orang untukbertindak sesuai dengan
peranannya).

(c) Alat untuk menumbuhkan solidaritas di kalangan anggota masyarakat.

(d) Pengawas (kontrol) perilaku manusia dengan daya tekan dan daya
mengikat tertentu agar orang berperilaku sesuai dengan nilai yang
dianutnya.

2) Macam-macam Nilai dalam Masyarakat

Menurut Priyono (2011 : 56) secara umum nilai-nilai sosial dalm


masyarakat dapat dibedakan menjadi 3 kelompok besar, yaitu:

a) Nilai Spiritual

Nilai spiritual adalah nilai yang ada didalam kejiwaan manusia yang
terdiri dari nilai estetika, nilai normal, nilai religius, dan nilai kebenaran
ilmiah atau logika.

Nilai spiritual berfungsi sebagai pedoman perilaku secara konkret. Nilai


spiritual ini cenderung berbentuk abstrak yang merupakan ide atau
angan-angan sesuai dengan bidang kehidupan masing-masing baik
dalam bentuk nilai moral, nilai estetika, ataupun pada nilai-nilai yang
bersifat religius. Manfaat nilai-nilai spiritual yang utama adalah
pedoman perilaku bagi warga masyarakat.

b) Nilai Material

Nilai material adalah nilai yang ada atau yang muncul karena materi
tersebut. Nilai material berfungsi sebagai ukuran untuk memberikan
nilai atau penghargaan terhadap semua benda yang ada di muka bumi
ini baik dilihat dari jumlahnya maupun dilihat dari kemanfaatannya dari
16

benda tersebut. Biasanya nilai material merupakan bahan dasar untuk


pembuatan sesuatu barang yang memberikan manfaat bagi manusia.

c) Nilai vital

Nilai vital adalah nilai yang ada karena kegunaannya. Nilai vital
berfungsi untuk menjadi dasar penilaian atau ukuran terhadap tinggi
rendahnya suatu barang yang dilihat dari fungsinya.

Ada kalanya nilai-nilai dalam masyarakat bersifat konsisten, dalam


arti saling mendukung dan menguatkan. Sebagai contoh, nilai kompetisi,
kemandirian, dan prestasi diri kesemuanya itu saling mendukunh dan
menguatkan. Akan tetapi, ada kalanya antara nilai yang satu dengan yang
lainnya saling bersaing atau bahkan bertentangan. Hal seperti ini terutama
sangat mungkin terjadi dalam masyarakat yang terdiri dari berbagai
budaya. Sebagai contoh antara nilai kebersamaan dengan nilai
kemandirian.

Menurut Bellah dalam buku Sosiologi (Saptono, 2006 : 46) apabila


terjadi pertentangan nilai, umumnya warga masyarakat akan
mengutamakan salah satu diantara nilai-nilai yang saling bertentangan
tersebut. Masyarakat barat, meskipun menjunjung tinggi nilai-nilai
komunitas, akan cenderung mengutamakan individualisme manakala
terjadi konflik. nilai Namun, itu tidak berarti mementingkan diri sendiri
(sefish). Melainkan, memberikan prioritas pada otonomi dan keyakinan
bahwa untuk menjadi diri sendiri orang harus mengambil jarak terhadap
nilai-nilai masa lalu dan kondisi lingkungan sesaat (Saptono, 2006 : 43).

Sementara itu, apabila terjadi konflik nilai seperti tersebut diatas,


masyarakat timur akan mengutamakan nilai-nilai komunitas. Hal itu karena
mereka cenderung mengutamakan nilai-nilai keseimbangan dan harmoni.
17

Menurut Kin Maryati (2007 : 26) beberapa ahli juga membagi nilai
sosial atas nilai immaterial dan nilai material, seperti pada bagan berikut
ini:

Ajaran/Ideologi
Membentuk:

Immaterial Gagasan 1. Kepribadian


2. Tingkah Laku
Religi 3. Martabat
4. Intelektual
Nilai

Kegunaan
Menghasilkan
Material sesuatu yang dapat
Kenikmatan digunakan dan
dinikmati oleh
panca indera

Bagan. 2.2 Macam-Macam Nilai Sosial

Dari bagan diatas, kita ketahui bahwa nilai tidak hanya terkandung
dalam sesuatu yang berwujud benda material saja atau yang bersifat
konkret, tetapi juga terkandung dalam sesuatu yang tidak berwujud
(abstrak). Nilai immaterial atau nilai rohani menggunakan nurani dan juga
indera, akal, perasaan, kehendak, dan keyakinan. Nilai immaterial adalah
nilai yang sulit untuk berubah. Contohnya, ideologi, gagasan (ide),
pemikiran dan sistem politik, dan peraturan-peraturan.

Nilai material atau nilai jasmani adalah nilai yang berwujud, mudah
dilihat dan diraba, dan memiliki karakteristik mudah berubah. Contoh nilai
material antara lain karya seni, gedung, jembatan, rumah, alat-alat
elektronik, dan pakaian.
18

Dalam pengalaman manusia, nilai material dan immaterial saling


berhubungan. Nilai immaterial yang menjadi landasan berpikir dari suatu
tindakan akan menghasilkan sesuatu yang konkret (nilai material). Singkat
kata, nilai material merupakan perwujudan dari nilai material (Kun
Maryati, 2007 : 27).

3) Perubahan Nilai dalam Masyarakat

Pada umumnya, nilai-nilai dalam masyarakat tidak mudah berubah.


Namun, itu tidak berarti bahwa nilai-nilai dalam masyarakat tidak berubah.
Dengan berlalunya waktu, ada nilai-nilai tertentu yang ditinggalkan oleh
masyarakat dan digantikan oleh nilai-nilai baru.

Dilihat dari sudut pandang teori fungsional structural, perubahan


nilai-nilai dalam masyarakat terjadi karena nilai-nilai tersebut sudah tidak
fungsional lagi untuk menopang keberadaan masyarakat. Konkritnya,
menurut Saptono (2006 : 47) nilai-nilai tersebut sudah tidak bisa berfungsi
sebagai sarana untuk:

(a) Mengarahkan masyarakat dalam berpikir dan bertingkah laku;

(b) Mendorong/memotivasi warga masyarakat dalam menjalankan


perannya;

(c) Menumbuhkan solidaritas dikalangan anggota masyarakat; dan

(d) Mengontrol perilaku warga masyarakat.

Sementara, dilihat dari sudut pandang teori konflik, perubahan


nilai-nilai dalam masyarakat terjadi manakala nilai tersebut dianggap
tidak lagi sesuai dengan kepentingan/rasa keadilan kelompok-kelompok
yang saling bersaing dalam masyarakat. Baik itu kelompok yang ada
dalam masyarakat itu sendiri maupun kelompok yang ada diluar
masyarakat itu.
19

Sedangkan menurut sudut pandang teori interaksi-simbolik,


perubahan nilai-nilai dalam masyarakat dimungkinkan karena
berlangsungnya proses interaksi dalam masyarakat. Baik itu interaksi
antaranggota masyarakat maupun antara anggota masyarakat itu dengan
anggota masyarakat lain. Yang jelas, melalui interaksi tersebut, mereka
saling belajar mengenai nilai-nilai yang mereka anut.

Perubahan nilai dalam masyarakat bisa terjadi karena faktor dari


dalam maupun dari luar masyarakat. Yang dimaksud faktor dari dalam
adalah sebab-sebab perubahan nilai-nilai yang berasal dari dalam
masyarakat itu sendiri.

b. Norma
1) Pengertian dan Fungsi Norma

Kita sudah membahas mengenai nilai. Nilai umumnya dijabarkan


lebih lanjut menjadi norma. Dengan demikian, nilai menjadi landasan
pembentukan norma. Nilai menjadi dasar pembenar bagi norma.

Ada beberapa definisi yang dikemukakan para ahli mengenai apa


itu norma. Beberapa diantaranya menurut Saptono (2006 : 49) adalah
sebagai berikut:

(a) Norma adalah aturan-aturan dan harapan-harapan masyarakat yang


memandu perilaku anggota-anggotanya.

(b) Norma adalah standar perilaku yang mapan yang dipelihara oleh
masyarakat.

(c) Norma adalah aturan atau pedoman yang menyatakan tentang


bagaimana seseorang seharusnya bertindak dalam situasi tertentu.
20

(d) Norma adalah rancangan ideal perilaku manusia yang memberikan


batas-batas bagi anggota masyarakat dalam mencapai tujuan hidupnya.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, norma


adalah ukuran (benar salahnya, tepat tidak tepatnya, pantas atau tidaknya)
perilaku seseorang dalam masyarakat. Norma adalah serangkaian
petunjuk hidup yang berisi perintah dan larangan yang dilengkapi sanksi
bagi para pelanggarnya.

Norma memiliki fungsi tertentu dalam kehidupan bersama warga


masyarakat. Beberapa fungsi tersebut, antara lain meliputi:

(a) Mengatur tingkah laku masyarakat agar sesuai dengan nilai yang
berlaku;

(b) Menciptakan ketertiban dan keadilan dalam masyarakat;

(c) Membantu mencapai tujuan bersama masyarakat; dan

(d) Menjadi dasar untuk memberikan sanksi kepada warga masyarakat


yang melanggar norma.

2) Macam-macam Norma dalam Masyarakat

Menurut Priyono (2011 : 63-67) norma-norma yang berlaku


dimasyarakat dapat diklasifikasikan dalam 5 jenis, yaitu norma agama,
kesusilaan, kesopanan, kebiasaan, dan hukum.

(a) Norma agama adalah suatu norma yang berdasarkan ajaran kaidah
suatu agama. Norma ini bersifat mutlak dan mengharuskan ketaatan
bagi para pemeluk atau penganutnya.

Secara universal norma agama merupakan tuntunan perilaku umat


manusia dalam memberikan pengjormatan kepada Sang Pencipta
termasuk kepada lingkungan hidup yang lain (Priyono,2011:64).
21

Contoh norma agama yaitu; syariat agama (sesuai dengan agama


masing-masing), norma perkawinan, norma pemberian zakat atau
sedekah kepada pihak lain.
(b) Norma kesusilaan, didasarkan pada hati nurani atau akhlak manusia.
Norma kesusilaan bersifat universal. Artinya, setiap orang didunia ini
memilikinya, hanya bentuk dan perwujudannya saja yang berbeda.
Misalnya, perilaku yang menyangkut nilai kemanusiaan seperti
pembunuhan, pemerkosaan, dan pengkhianatan, pada umumnya
ditolak oleh setiap masyarakat dimanapun.

(c) Norma kesopanan, adalah norma yang berpangkal dari aturan tingkah
laku yang berlaku didalam masyarakat seperti cara berpakaian, cara
bersikap dalam pergaulan, dan berbicara. Norma ini bersifat relatif.
Maksudnya, penerapannya berbeda di berbagai tempat, lingkungan,
dan waktu.

Misalnya menentukan kategori pantas dalam berbusana antara tempat


yang satu dengan yang lain terkadang berbeda. Demikian pula antara
masyarakat kaya dan masyarakat miskin.

(d) Norma kebiasaan (habit), menrupakan hasil dari perbuatan yang


dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga
menjadi kebiasaan. Orang yang tidak melakukan norma ini biasanya
dianggap aneh oleh lingkungan sekitarnya.

(e) Norma hukum, adalah himpunan petunjuk hidup atau perintah dan
larangan yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat (negara).
Sanksi norma hukum bersifat mengikat dan memaksa. Sanksi ini
dilaksanakan oleh suatu lembaga yang memiliki kedaulatan, yaitu
negara.
22

Ciri norma hukum antara lain adalah diakui oleh masyarakat


sebagai ketentuan yang sah dan terdapat penegak hukum sebagai pihak
yang berwenang memberikan sanksi. Tujuan norma hukum adalah
untuk menciptakan suasana aman dan tenteram dalam masyarakat.

Dari uraian diatas terlihat bahwa ada perbedaan antara norma-


norma tersebut. Untuk mengetahui perbedaan masing-masing dapat
dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel 2.1 Perbedaan Norma-Norma

Norma Agama Norma Norma Norma Hukum


Kesusilaan Kesopanan

Tujuan Umat manusia; penyempurnaan Pembuatannya konkret; ketertiban


manusia; jangan sampai manusia masyarakat; jangan sampai ada
menjadi jahat korban kejahatan

Isi Ditunjukkan kepada sikap batin Ditunjukkan kepada sikap batin

Asal Usul Dari Tuhan Diri sendiri Kekuasaan luar yang memaksa

Sanksi Dari Tuhan Diri sendiri Dari Dari masyarakat


masyarakat secara resmi
secara tidak
resmi

Daya Kerja Membebani Membebani Membebani Membebani


kewajiban kewajiban kewajiban kewajiban dan
memberi hak
23

3. Tinjauan Tentang Sosiologi


a. Pengertian Sosiologi

Istilah sosiologi berasal dari kata “socius” dan “logos”. Sosius


(bahasa Latin) berarti kawan, dan logos (bahasa Yunani) berarti kata atau
berbicara. Dengan demikian, ilmu sosiologi berarti ilmu yang berbicara
mengenai masyarakat.

Dibawah ini terdapat beberapa definisi sosiologi yang


diinventarisasikan oleh Soerjono Soekanto (2010 : 17) yaitu:

1) Menurut Pitrim Sorokin, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari:

(a) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan
gejala nonsosial

(b) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan
gejala nonsosial;

(c) Ciri-ciri umum semua jenis gejala sosial

2) Menurut Roucek dan Warren, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari


hubungan antarmanusia dalam kelompok-kelompok.

3) Menurut William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff, sosiologi adalah


penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu
organisasi sosial.

4) Menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, Sosiologi adalah


ilmu yang mempelajari struktur dan proses-proses sosial, termasuk
perubahan-perubahan sosial.

Adapun sifat-sifat hakikat sosiologi menurut Mahmud (2012:12)


adalah sebagai berikut:
24

1) Sosiologi merupakan suatu ilmu sosial dan bukan merupakan ilmu


pengetahuan alam ataupun ilmu pengetahuan kerohanian.

2) Sosiologi bukan disiplin normatif, melainkan disiplin yang kategoris,


arrtinya sosiologi membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini dan
bukan mengenai apa yang akan terjadi atau seharusnya terjadi.

3) Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang murni, dan bukan


merupakan ilmu pengetahuan terapan atau terpakai (applied science).

4) Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang abstrak dan bukan


merupakan ilmu pengetahuan yang konkret. Artinya, yang diperhatikan
oleh sosiologi adalah bentuk dan pola-pola peristiwa dalam masyarakat,
bukan wujudnya yang konkret.

5) Sosiologi bertujuan menghasilkan pengertian-pengertian dan pola-pola


umum.

6) Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang empiris dan rasional.

7) Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang umum dan bukan


merupakan ilmu pengetahuan yang khusus.

Sosiologi ditinjau dari sifatnya digolongkan sebagai ilmu pengetahuan


murni (pure science) bukan ilmu pengetahuan terapan (applied science).
Sosiologi dimaksudkan untuk memberikan kompetensi kepada peserta didik
dalam memahami konsep-konsep sosiologi seperti sosialisasi, kelompok
sosial, struktur sosial, lembaga sosial, perubahan sosial, dan konflik sampai
pada terciptanya integrasi sosial. Sosiologi mempunyai dua pengertian dasar
yaitu sebagai ilmu dan sebagai metode. Sebagai ilmu, sosiologi merupakan
kumpulan pengetahuan tentang masyarakat dan kebudayaan yang disusun
secara sistematis berdasarkan analisis berpikir logis. Sebagai metode,
sosiologi adalah cara berpikir untuk mengungkapkan realitas sosial yang ada
25

dalam masyarakat dengan prosedur dan teori yang dapat dipertanggung


jawabkan secara ilmiah.

Dalam kedudukannya sebagai sebuah disiplin ilmu sosial yang sudah


relatif lama berkembang di lingkungan akademika, secara teoretis sosiologi
memiliki posisi strategis dalam membahas dan mempelajari masalah-masalah
sosial-politik dan budaya yang berkembang di masyarakat dan selalu siap
dengan pemikiran kritis dan alternatif menjawab tantangan yang ada. Melihat
masa depan masyarakat kita, sosiologi dituntut untuk tanggap terhadap isu
globalisasi yang di dalamnya mencakup demokratisasi, desentralisasi dan
otonomi, penegakan HAM, good governance (tata kelola pemerintahan yang
baik), emansipasi, kerukunan hidup bermasyarakat, dan masyarakat yang
demokratis.

Pembelajaran sosiologi dimaksudkan untuk mengembangkan


kemampuan pemahaman fenomena kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran
mencakup konsep-konsep dasar, pendekatan, metode, dan teknik analisis
dalam pengkajian berbagai fenomena dan permasalahan yang ditemui dalam
kehidupan nyata di masyarakat. Mata pelajaran Sosiologi diberikan pada
tingkat pendidikan dasar sebagai bagian integral dari IPS, sedangkan pada
tingkat pendidikan menengah diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri.

b. Objek Kajian Sosiologi

Objek Kajian sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji tentang hubungan


sosial adalah masyarakat dilihat dari hubungan antar manusia dan proses
yang timbul dari hubungan manusia tersebut dalam masyaarakat.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan objek kajian sosiologi menurut
Priyono (2011 : 6) sebagai berikut:
26

a) Hakikat sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji tentang hubungan sosial,


yaitu hubungan antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat
serta hubungan antara individu dengan lingkungannya.

b) Interaksi sosial yang menyangkut semua kkomunikasi langsung maupun


tidak langsung antar warga masyarakat baik secara individual maupun
secara kkolektif.

c) Proses sosialisasi termasuk pengaruhnya terhadap perkembangan diri dan


kepribadian seseorang dalam masyarakat.

d) Struktur sosial yang terdiri dari system nilai norma, system kedudukan
dan peran dari masing-masing masyarakat dari lapisan bawah hingga
lapisan atas.

e) Keragaman kehidupan sosial budaya, termasuk nilai-nilai sosial.

f) Perubahan-perubahan sosial budaya baik dalam skala kecil maupun


dalam skala besar serta bahan kajian lain yang lebih detail yang berkaitan
dengan peerilaku sosial dalam masyarakat.

c. Ciri-Ciri Sosiologi

Sebagai ilmu pengetahuan yang memenuhi unsur-unsur ilmu


pengetahuan, menurut Siti Ngadiati (2004 : 8) Sosiologi mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut:

1) Bersifat Empiris

Artinya dalam melakukan kajiannya tetntang masyarakat,


sosiologi mendasarkannya pada observasi, tidak spekulatif, dan dengan
akal sehat.
27

2) Bersifat Teoritis

Artinya sosiologi berusaha menyusun abstraksi dari hasil-hasil


observasi secara logis, serta memiliki tujuab untuk menjelaskan
hubungan sebab akibat.

3) Bersifat Kumulatif

Artinya teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori-teori yang


telah ada, kemudian memperbaiki, memperluas, atau memperhalusnya.

4) Bersifat Non-etis

Artinya sosiologi tidak mencari baik atau buruknya suatu fakta


atau kenyataan, tetapi sebatas menjelaskan fakta atau kenyataan tersebut
secara analitis.

d. Mata Pelajaran Sosiologi di Sekolah

Sejak kurikulum 2006 diberlakukan, pelajaran sosiologi diajarkan


sejak jenjang sekolah menengah pertama, meskipun masih terpadu dengan
pelajarran lain yang masuk ke rumpun Ilmu Pengetahuan Sosial, yaitu
geografi, sejarah, dan ekonomi. Sedangkan di tingkat SMA pelajaran
sosiologi diajarkan secara mandiri, artinya Sosiologi berdiri sendiri sebagai
mata pelajaran.

Fungsi pengajaran Sosiologi di sekolah menengah adalah untuk


meningkatkan kemampuan siswa agar mampu mengaktualisasikan potensi-
potensi diri mereka, khususnya dalam mengambil dan mengungkapkan status
dan perannya masing-masing.

Adapun tujuan mata pelajaran sosiologi yaitu agar peserta didik


memiliki kemampuan sebagai berikut
28

(http://agsasman3yk.wordpress.com/pembelajaran-sosiologi-di-smama/
diakses tanggal 02/06/2014 23:47):

1) Memahami konsep-konsep sosiologi seperti sosialisasi, kelompok sosial,


struktur sosial, lembaga sosial, perubahan sosial, dan konflik sampai
dengan terciptanya integrasi sosial.

2) Memahami berbagai peran sosial dalam kehidupan bermasyarakat

3) Menumbuhkan sikap, kesadaran dan kepedulian sosial dalam kehidupan


bermasyarakat.

4) Melangsungkan komunikasi sosial untuk mencapai kemandirian dalam


keterampilan hidup di masyarakat.

4. Perubahan Sikap

a. Pengertian Sikap

Menurut Thurstone menyatakan bahwa sikap adalah:

“An attitude as the degree of positive or negative effect associated with


some psychological object tThrustone means any symbol, pharse, slogan,
person, institution, ideal, or idea, toward which people can differ with
respect to positive or negative effect” (Thurstone dalam Psikologi Sosial,
1978 : 126).

Sedangkan menurut Gerungan yang di kutip oleh Abu Ahmadi


(2007 : 150), pengertian attitude dapat diterjemahkan dengan kata sikap
terhadap objek tertentu, yang dapat merupakan sikap, pandangan atau sikap
perasaan, tetapi sikap mana disertai oleh kecenderungan untuk bertindak
sesuai dengan sikap terhadap objek tadi itu. Jadi attitude itu lebih
diterjemahkan sebagai sikap dan kesediaan beraksi terhadap suatu hal.
29

Menurut Secord & Backman yang dikutip oleh Saifudin Azwar


(2013 : 5), mendefinisikan sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal
perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi)
seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya.

Meskipun ada beberapa perbedaan dalam mendefinisikan arti dari


kata sifat namun pada dasarnya semua itu sama bahwa sikap adalah
kesiapan merespon akan suatu hal dari seseorang yang sifatnya positif
ataupun negatif.

b. Fungsi dan sumber sikap

Fungsi sikap bagi seseorang juga mempengaruhi tingkat konsistensi


orang itu dalam memegang sikapnya dan tingkat kemudahan mengubah
sikap.

Menurut Alex Sobur (2003 : 369) sikap memiliki tiga fungsi penting.
Pertama, sikap mempunyai fungsi organisasi. Keyakinan yang terkandung
dalam sikap kita memungkinkan kita untuk mengorganisasikan pengalaman
sosial kita---membebnkan padanya perintah tertentu dan memberinya
makna.

Kedua, sikap memberikan fungsi keguanaan. Kita menggunakan


sikap untuk menegaskan siakp orang lain dan selanjutnya memperoleh
persetujuan sosial.

Ketiga, sikap memberikan fungsi perlindungan. Sikap menjaga kita


dari acaman terhadap harga diri kita.

Rita L. Atkinson dan kawan-kawan dikutip oleh Alex Sobur (2003 :


369) menyebut ada lima fungsi sikap, yakni:
30

a) Fungsi Instrumental

Sikap yang kita pegang karena alasan praktis atau manfaat dikatakan
memiliki fungsi instrumental. Sikap ini semata-mata mengekspresikan
keadaanspesifik keinginan umum kita untuk mendapatkan manfaat atau
hadiah dan menghindari hukuman.

b) Fungsi Pengetahuan

Sikap yang membantu memahami dunia, yang membawa keteraturan


bagi berbagai informasi yang harus kita asimiilasikan dalam kehidupan
sehari-hari, dikatakan memiliki fungsi pengetahuan. Sikap tersebut
adalah skema penting yang memungkinkan kita mengorganisasi dan
mengolah berbagai informasi secara efisien tanpa harus memperhatikan
detailnya.

c) Fungsi Nilai-Ekspresif

Sikap yang mengekspresikan nilai-nilai kita atau mencerminkan konsep


diri kita dikatakan memiliki fungsi nilai-ekspresif.

d) Fungsi Pertahanan Ego

Sikap yang melindungi kita dari kecemasan atau ancaman bagi harga
diri kita dikatakan memiliki fungsi pertahanan ego. Konsep pertahanan
ego berasal dari teori psikoanalisis Freud salah satu mekanisme
pertahanan ego yang dijelaskan oleh Freud adalah proyeksi: individu
merepresi implus yang tidak dapat diterima kemudian mengekspresikan
sikap bermusuhan kepada orang lain yang dirasakan memiliki implus
yang sama.
31

e) Fungsi Penyesuaian Sosial

Sikap yang membantu kita merasa menjadi bagian dari komunitas,


dikatakan sikap yang memiliki fungsi penyesuaian sosial. Sebagai
contohnya adalah seseorang yang menahan keyakinan dan sikap pada
kelompok religius atau partai politik tertentu karena kawan, keluarga
dan tetangganya demikian; isi aktual keyakinan dan sikap mereka
kurang penting dibandingkan ikatan sosial yang diberikannya. Sampai
tingkat memiliki fungsi penyesuaian sosial, sikap dapat berubah jika
norma sosial berubah.

c. Pembentukan dan Perubahan Sikap

Sikap setiap orang sama dalam perkembangannya, tetapi berbeda


dalam pembentukannya. Hal ini menyebabkan adanya perbedaan sikap
seseorang atau individu dengan sikap temannya, familinya, dan
tetangganya. Banyak hal yang perlu kita ketahui untuk mengetahui
karakteristik sikap. Umpamanya, jika kita meramalkan tingkah laku
seseorang dalam waktu tertentu atau jika kita mengontrol tindakannya, kita
harus mengetahui cara sikap itu berkembang.

Dari mana datangnya sikap? Sikap timbul karena adanya stimulus.


Terbentuknya suatu sikap itu banyak dipengaruhi perangsang oleh
lingkungan sosial dan kebudayaan misalnya: keluarga, norma, golongan
agama, dan adat istiadat (Abu Ahmadi, 2007 : 156).

Pembentukan sikap bukan terbentuk begitu saja namun ada faktor-


faktor yang memepengaruhi perubahan sikap itu sendiri dan menurut Abu
Ahmadi (2007 : 157-158) ada beberapa faktor yang mempengaruhinya
diantaranya:
32

1) Faktor intern yaitu faktor yang terdapat dalam diri pribadi manusia itu
sendiri. Faktor ini berupaya selecivity atau daya pilih seseorang untuk
menerima dan mengolah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar.

Pilihan terhadap pengaruh dari luar itu biasanya disesuaikan dengan


motif dan sikap didalam diri manusia terutama yang menjadi minat
perhatianya.

2) Faktor ekstern: yaitu faktor yang terdapat diluar pribadi manusia.


Faktor ini berupa interkasi sosial diluar kelompok. Kebudayaan
manusia yang sampai padanya melalui alat-alat komunikasi seperti:
surat kabar, radio, televisi, majalah dan lain sebagainya.

Maka dapat disimpulkan bahwa dua faktor (Intern dan Ekstern)


adalah dua faktor umum yang dapat mempengaruhi sikap seseorang setelah
di proses dalam diri seseorang tersebut dengan adanya reaksi, dan bentuk
reaksi tersebut bisa berupa positif dan negatif dalam menanggapi hal-hal
yang terjadi.

Terbentuknya suatu sikap itu banyak dipengaruhi perangsang oleh


lingkungan sosial dan kebudayaan misalnya: keluarga, norma, golongan
agama, dan adat istiadat. Dalam hal ini keluarga memiliki peranan yang
besar dalam membentuk sikap putra-putranya. Sebab keluargalah sebagai
kelompok primer, bagi anak merupakan pengaruh yang paling
dominan.(Abu Hamadi, 2007 : 156)

Adapun berbagai faktor yang mempengaruhi proses pembentukan


sikap seseorang Menururut Alex Sobur (2003 : 363) yaitu:

1) Adanya akumulasi pengalaman dari tanggapan-tanggapan tipe yang


sama. Seseorang mungkin berinteraksi dengan berbagai pihak yang
mempunyai sikap yang sama terhadap suatu hal.
33

2) Pengamatan terhadap sikap yang berbeda. Seseorang dapat menentukan


sikap pro atau anti terhadap terhadap gejala tertentu.

3) Pengalaman (buruk atau baik) yang pernh dialami.

4) Hasil peniruan terhadap sikap pihak lain secara sadar atau tidak sadar).
Efektivitas pengendalian sangat bergantung pada kesiapan seseorang
dan penyerasiannya dengan keadaan mental yang bersangkutan.

Pada dasarnya, pembentukan sikap tidak terjadi dengan


sembarangan. Pembentukannya senantiasa berlangsung dalam interaksi
manusia dan berkenaan dengan objek tertentu. Interaksi sosial di dalam
kelompok maupun diluar kelompok bisa mengubah sikap atau membentuk
yang baru. Yang dimaksud dengan interaksi diluar kelompok ialah interaksi
dengan hasil kebudayaan manusia yang sampai kepadanya melalui alat-alat.
Namun, pengaruh dari luar diri manusia karena interaksi diluar kelompoknya
itu sendiri belum cukup untuk menyebabkan berubahnya sikap atau
terbentuknya sikap baru. Faktor lain yang turut memegang peranan ialah
faktor intern di dalam diri pribadi manusia itu, yakni selektivitasnya sendiri,
daya pilihannya sendiri, atau minat perhatiannya untuk menerima dan
mengolah berbagai pengaruh pengaruh yang akan datang dari luar dirinya.
Jadi, dalam pembentukan dan perubahan sikap itu, terdapat faktor intern dan
faktor ekstern pribadi individu yang memegng peranan (Alex Sobur, 2003 :
363).

Seperti yang telah dipaparkan diatas bahwa sikap tidak dibawa sejak
dilahirkan, tetapi dibentuk sepanjang perkembangan individu yang
bersangkutan. Untuk dapat menjelaskan bagaimana terbentuknya sikap akan
dapat jelas diikuti pada bagian sikap berikut ini:
34

Faktor Internal:

- Fisiologis
P ik l i

Sikap Objek Sikap

Faktor Eksternal:

- Pengalaman reaksi
- Situasi
- Norma-norma
- Hambatan
P d

Bagan 2.3 Terbentuknya sikap

Dari bagan tersebut dapat dikemukakan bahwa sikap yang ada pada
diri seseorang akan dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu faktor fisiologis dan
psikologis, serta faktor eksternal. Faktor eksternal dapat berwujud situasi yang
dihadapi oleh individu, norma-norma yang ada dalam masyarakat, hambatan-
hambatan atau pendorong-pendorong yang ada dalam masyarakat. Semuanya
ini akan berpengaruh pada sikap yang ada pada siri seseorang.

Reaksi yang dapat diberikan individu terhadap objek sikap dapat


bersifat positif, tetapi juga dapat bersifat negatif (Bimo Walgito, 2003 : 133).

Perubahan sikap pada individu, ada yang terjadi dengan mudah, ada
yang sukar. Hal ini bergantung pada kesiapan seseorang untuk menerima
atau menolak rangsangan yang datang kepadanya. Selain itu, perubahan
sikap tidak hanya menyebabkan perubahan yang terjadi pada diri seseorang,
tetapi juga menyebabkan terjadinya perubahan pada masyarakat dan
kebudayaan. Terjadinya perubahan sikap individu ini seiring dengan
pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal tersebut
35

karena perkembangan itu dapat menimbulkan pergeseran nilai dan norma,


baik dalam bidang ekonomi, sosial politik, dsb.

Pembentukan dan perubahan sikap tidak terjadi dengan sendirinya.


Sikap terbentuk dalam hubungannya dengan suatu objek, orang, kelompok,
lembaga, nilai, melalui hubungan antar individu, hubungan didalam
kelompok, komunikasi surat kabar, buku, poster, radio, televisi dan
sebagainya, terdapat banyak kemungkinan yang mempengaruhi timbulnya
sikap. Lingkungan yang terdekat dengan kehidupan sehari-hari banyak
memiliki peranan. Keluarga yang terdiri dari orang tua, saudara-saudara
dirumah memiliki peranan yang sangat penting.

Adapun perubahan sikap menurut McGuire yang dikutip oleh Masdudi


(2012 : 115) mengemukakan teorinya mengenai perubahan sikap itu
sebagai berikut:

1) Learning Theory Approach (pendekatan teori belajar)

Pendekekatn ini beranggapan, bahwa sikap itu berubah disebabkan


oleh proses atau materi yang dipelajari.

2) Perceptual Theory Approach (pendekatan teori persuasi)

Pendekatan teori ini beranggapan bahwa sikap seseorang itu berubah


bila persepsinya tentang objek itu berubah.

3) Consistence Theory Approach (pendekatan teori konsistensi)

Dasar pemikiran dari pendekatan ini adalah bahwa setiap orang akan
berusaha memelihara harmoni internasional, yaitu keserasian atau
keseimbangan (kenyamanan) dalam dirinya apabila keserasiannya
terganggu, maka ia akan menyesuaikan sikap dan perilakunya demi
kelestarian harmonisnya itu.
36

4) Functional Theory Approach (pendekatan teori fungsi)

Menurut pendekatan teori ini, bahwa sikap seseorang itu akan berubah
atau tidak, sangat tergantung pada hubungan fungsional (kemanfaatan)
objek itu bagi dirinya atau pemenuhan kebutuhan dirinya.

5. Implikasi Pola Pembelajaran Nilai dan Norma dalam Mata Pelajaran


Sosiologi Terhadap Perubahan Sikap Siswa

Belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan


suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas
dari pada itu, yakni mengalami hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil
latihan, melainkan perubahan kelakuan (Oemar Hamalik, 2005 : 36).

Menurut St. Vembrirarto (1990 : 84) mengatakan bahwa sekolah tidak


saja mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang bertujuan
mempengaruhi perkembangan intelek anak, melainkan juga memperhatikan
perkembangan jasmaninya melalui program olah raga dan kesehatan.
Disamping itu pendidikan sekolah juga memperhatikan perkembangan watak
anak melalui latihan kebiasaan dan tata tertib, pendidikan agama dan budi
pekerti, dan sebagainya. Secara singkat dapat dirumuskan bahwa pendidikan
sekolah berfungsi mengembangkan kepribadian anak secara keseluruhan.

Lembaga pendidikan formal dalam hal ini sekolah memiliki tugas


untuk membina dan mengembangkan sikap anak didik menuju ke sikap yang
diharapkan oleh lingkungannya yang sesuai dengan nilai dan norma yang ada
di masyarakat.

Sebagian perilaku manusia didasarkan pada nilai dan norma yang


dimilikinya. Menurut Fraenkel nilai merupakan standar penuntun perilaku
seseorang dalam menuntun apa yang indah, berharga, efisien atau tidaknya
sesuatu. Demikian juga norma,sebagai perwujudan yang lebih jelas dari nilai,
37

memberi tuntunan kepada manusia mana yang harus dilakukan dan mana
yang tidak. Dengan kata lain nilai dan norma merupakan standar, patokan,
atau pedoman bagi manusia untuk bertindak atau berprilaku dalam suatu
interaksi sosial (Siti Ngadiati,2004 : 46).

Semua yang kita lakukan dalam berinteraksi sosial dengan orang lain
baik disadari ataupun tidak selalu didasarkan pada nilai dan norma. Dalam
berinteraksi dengan ayah dan ibu misalnya kita menghormatinya, berkata
sopan, menuruti perintah dan nasihat-nasihatnya, membantunya, berkata serta
bersikap yang jujur kepadanya, dan sebagainya. Apa yang kita lakukan
terhadap orang tua kita itu didasari oleh nilai dan norma yang pada umumnya
berlaku di masyarakat kita. Jika kamu bertindak yang sebaliknya maka kamu
akan menerima celaan atau teguran dari orang tua dan masyarakat, hal itu
merupakan pertanda bahwa ada nilai dan norma yang terlanggar.

Ketika berinteraksi sosial disekolah, maka sejumlah nilai dan norma


menjadi pedoman bagi perilaku siswa. Misalnya siswa harus berpakaian
seragam sekolah, membayar SPP, hadir setiap hari, belajar dengan rajin,
mengerjakan tugas-tugas, menghormati guru dan sebagainya.

Demikian juga jika kita berinteraksi sosial di tengah-tengah


masyarakat maka perilaku kita diatur oleh nilai dan norma yang berlaku di
masyarakat. Misalnya kita berbicara sopan dengan orang yang lebih tua, kita
menolong orang miskin, bergotong royong, bertoleransi, bersikap demokratis,
tidak mengganggu ketenangan orang, tidak menyinggung perasaan orang,
tidak bergaul berlebihan dengan lawan jenis, dan sebagainya. Apa yang kita
lakukan dan tidak kita lakukan itu pada dasarnya didasari oleh nilai dan norma
yang berlaku dimasyarakat kita.

Mata pelajaran sosiologi membantu mengembangkan kemampuan


pemahaman siswa terhadap peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam
38

mata pelajaran sosiologi diharapkan siswa dapat mengkaji berbagai fenomena


dan permasalahan yang sering di temui dalam kehidupan sehari-hari. Materi
Nilai dan norma dalam sosiologi menjelaskan tentang nilai dan norma yang
berfungsi sebagai kontrol sosial terhadap perilaku individu sehingga
menjadikan adanya keteraturan hidup dalam masyarakat dan dapat merubah
sikap menjadi lebih positif.

Adapun ciri-ciri perubahan perilaku dalam pengertian belajar mengajar


menurut Pupu Saeful Rakhmat (2001 : 5) yaitu:

1) Perubahan terjadi secara sadar. Ini berarti bahwa seseorang yang belajar
akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekarang kurangnya ia
merasakan telah terjadinya adalah suatu perubahan dalam dirinya.

2) Perubahan dalam belajar bersifat kontinue dan fungsional. Sebagai hasil


belajar, perubahan yang terjadi dalam dirinya seseorang secara
berkesinambungan, tidak statis.

3) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif. Dalam perbuatan-


perbuatan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh
sesuatu yang baik dari sebelumnya.

4) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara. Perubahan yang


terjadi karena proses belajar bersifat menetap atau permanent.

5) Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah. Ini berarti tingkah laku itu
terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai.

6) Perubahan mencapai semua aspek tingkah laku. Perubahan yang


diperoleh seseorang setelah melalui suatu proses belajar meliputi
perubahan keseluruhan tingkah laku..

Dari penjelasan diatas maka adanya implikasi pola pembelajaran nilai


dan norma dalam mata pelajaran sosiologi terhadap perubahan sikap siswa,
39

karena pola pembelajaran memiliki tujuan menciptakan sarana yang optimal


untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Dengan demikian, pola
pembelajaran nilai dan norma yang digunakan oleh pendidik menghasilkan
perubahan yang diinginkan dalam pengetahuan dan kepribadian sehingga
siswa mampu berprilaku sesuai peraturan yang berlaku di masyarakat sesuai
dengan apa yang telah mereka pelajari.

B. Kajian Penelitian yang Relevan

Peneliti melakukan penelitian tentang Hubungan Pola Pembelajaran Nilai


dan Norma dalam Mata Pelajaran Sosiologi terhadap Perubahan Sikap Siswa di
MA Madinatunnajah Kota Cirebon. Adapun penelitian terdahulu yang dijadikan
sebagai acuan dan sebagai bahan masukan bagi penulis dalam melakukan
penelitian ini, diantaranya yaitu:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Yuyun Ratnaningsih (2005), “Hubungan


Pembelajaran Sosiologi Dengan Pembentukan Kepribadian Siswa (Studi
Kasus di MA PUI Cilimus Kab Kuningan)”. Adapun persamaan dalam
penelitian ini yaitu pada variabel X yaitu mengenai Pembelajaran Sosiologi
namun ada sedikit peebedaannya yaitu di dalam variabel X yang peneliti
lakukan, peneliti memfokuskan kepada mata pelajaran sosiologi dengan tema
nilai dan norma. Adapun perbedaan dalam penelitian ini yaitu pada variabel
Y, penelitian yang dilakukan oleh Yuyun Ratnaningsing variabel Y yaitu
Pembentukan Kepribadian Siswa, sedangkan variabel Y pada penelitian yang
dilakukan oleh peneliti yaitu Perubahan Sikap Siswa. Dan metode penelitian
yang digunakan oleh peneliti terdahulu yaitu menggunakan model kualitatif
kuantitatif sedangkan peneliti menggunakan model kuantitatif. Selain itu juga
terdapat perbedaan pada tempat penelitian, penelitian yang dilakukan oleh
Yuyun Ratnaningsih dilakukan di MA PUI Cilimus Kab. Cirebon, sedangkan
peneliti melakukan penelitian di MA Madinatunnajah.
40

2. Hasil penelitian Muamar (2012),“Pengaruh Pembelajaran Sosiologi


Terhadap Kepribadian Siswa Kelas X di MA Islamic Center Kabupaten
Cirebon”. Pada penelitian ini memiliki persamaan penelitian dengan peneliti,
yaitu jenis penelitian yang dilakukan yaitu jenis penelitian kuantitatif dan
meneliti tentang Sosiologi, dan dalam menganalisis data menggunakan rumus
produck moment.. Dan populasi penelitiannya adalah siswa kelas X.
Sedangkan adapun perbedaannya yaitu sampel yang digunakan oleh Muamar
berjumlah 50 siswa sedangkan sampel peneliti berjumlah 23. Selain itu juga
terdapat perbedaan pada tempat penelitian, penelitian yang dilakukan oleh
Muamar dilakukan di MA Islamic Center Kabupaten Cirebon, sedangkan
peneliti melakukan penelitian di MA Madinatunnajah. Dari hasil penelitian
menyimpulkan bahwa : ada pengaruh dari pembelajaran sosiologi terhadap
kepribadian siswa pada mata pelajaran sosiologi di MA Islamic Center
Kabupaten Cirebon.

3. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Nita Sari (2004), “Pengaruh


sosiologi dalam hubunganya dengan perilaku siswa dimasyarakat
(study kasus di Madrasah Aliyah kelas 2 Ash Shiddiqiyyah Kaliwadas
Sumber Kab Cirebon)”. Pada penelitian ini memiliki persamaan penelitian
dengan peneliti, yaitu jenis penelitian yang dilakukan yaitu jenis penelitian
kuantitatif dan meneliti tentang Sosiologi. Penelitian ini pun memiliki
perbedaan yaitu terdapat pada Variabel Y, Penelitian Nita Sari memilih
Perilaku Siswa di Masyarakat sebagai variabel Y sedangkan peneliti
memilih Perubahan Sikap Siswa sebagai variabel Y. Selain itu juga terdapat
perbedaan dalam objek penelitian, Nita Sari memilih siswa kelas 2 sebagai
objek penelitian sedangkan peneliti memilih siswa kelas 1 sebagai objek
penelitian. Dan terdapat perbedaan juga di tempat penelitian, tempat
penelitian yang dipilih Nita Sari adalah Madrasah Aliyah Ash Shiddiqiyah
Klaiwadas Sumber Kab Cirebon, sedangkan peneliti sendiri memilih MA
41

Madinatunnajah Kota Cirebon sebagai tempat penelitian. Adapun


kesimpulan yang dapat disimpulkan dari hasil penelitian Nita Sari yaitu
bahwa 38,6 % mengatakan bahwa siswa-siswa Ash Shiddiqiyyah dengan
skor baik dalam kelakuanya di masyarakat, hal ini tentu kurang dari
setengahnya namun kita tahu bahwa di masyarakat itu ada yang berkelakuan
baik dan adapula yang sebaliknya. Sedangkan hasil yang diinginkan oleh
peneliti dalam melakukan penelitian ini adalah bagaimana hubungan antara
pola pembelajaran nilai dan norma dalam mata pelajaran sosiologi terhadap
perubahan sikap siswa di MA Madinatunnajah Kota Cirebon.

C. Kerangka Pikir

Salah satu tujuan dari adanya pendidikan adalah merubah sikap manusia
yang tidak baik menjadi sikap yang lebih baik lagi. Dalam hubungannya dengan
alam, manusia hendaknya mengikuti aturan yang sudah ada Ini berarti bahwa
pendidikan mampu membentuk suatu kepribadian yang dihasilkan dari proses
pembelajaran yang baik kepada manusia dari kecil hingga dewasa. Dalam
pembelajaran terjadi proses internalisasi yang dapat menumbuhkan suatu
pandangan, wawasan, pengetahuan dan pemahaman kepada manusia dalam
berpikir, bertindak dan memutuskan suatu masalah sesuai dengan kerangka
pengetahuan yang didapatkannya (Ahmad Fauzi, 2012 : 12).

John Dewey yng dikutip oleh Hamdani (2013 : 173) menyatakan bahwa
pendidikan memerlukan linking science antara teori belajar dan praksis
pendidikan. Desain pembelajaran dianggap sebagai penghubung antara keduanya
karena desain pembelajaran adalah pengetahuan yang merumuskan tindakan
pembelajaran untuk mencapai hasil pembelajaran.

Dalam perkembanganya sub pokok pembelajaran Nilai dan Norma dalam


mata pelajaran sosiologi yang dipelajari siswa berisi tentang perilaku sosial
masyarakat sehingga diharapkan siswa mampu menjaga sikap dan perilaku diri
42

dalam posisi yang baik tanpa bertentangan dengan norma-norma yang ada
sehingga siswa mampu menjadi sosok yang berbudi pekerti dan mampu bersikap
sesuai Nilai dan Norma dengan baik dengan lingkunganya sebagai cerminan
bahwa positif siswa sebagai penerus bangsa.

Dengan bekal teori dan aplikasi yang didapatkan disekolah, diharapkan


para siswa mampu mengapresiasikan kedalam pelaksanaan dikehidupan nyata.
Sehingga siswa mampu merubah sikapnya menjadi lebih positif, karena
perubahan sikap siswa juga dipengaruhi oleh proses atau materi yang dipelajari.

Jadi dengan adanya pola pembelajaran nilai dan norma dalam mata
pelajaran sosiologi diharapkan siswa dapat mengamalkannya sehingga siswa
dapat mengubah sikap negatif menjadi sikap positif.

Untuk mengetahui hubungan antara pola pembelajaran nilai dan norma


dalam mata pelajaran sosiologi terhadap perubahan sikap siswa dapat dilihat
pada kerangka berikut ini:

Pola Pembelajaran Mata Pelajaran


Nilai dan Norma Sosiologi

Perubahan Sikap

Indikator:
• Siswa dapat mengidentifikasi nilai dan
norma yang ada di masyarakat
• Siswa mampu memiliki sikap sesuai dengan
nilai dan norma yang berlaku dimasyarakat
• Siswa dapat merubah sikap menjadi lebih
positif

Bagan. 2.4 Hubungan pola pembelajaran nilai dan norma dalam mata pelajaran
sosiologi terhadap perubahan sikap siswa
43

Dari bagan diatas dapat dijelaskan bahwa pola pembelajaran dilakukan


oleh guru terhadap siswa dalam merubah sikap dapat dilakukan melalui
pembelajaran nilai dan norma pada mata pelajaran sosiologi hingga siswa
mampu memenuhi indicator pencapaian dalam pembelajaran nilai dan norma
pada mata pelajaran sosiologi. Karena dengan pendidikan akan membuka
wawasan seseorang. Proses pendidikan turut membantu membentuk sikap
seseorang. Dengan demikian pendidikan nilai dan norma yang di berikan di
sekolah dalam mata pelajaran sosiologi membantu merubah sikap siswa menjadi
lebih positif, dan siswa memiliki sikap perilaku yang sesuai dengan nilai dan
norma yang berlaku dimasyarakat.

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap


permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Arikunto,
1993 : 62).

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari hipotesis dua
arah yaitu Hipotesis alternative dan hipotesis nol. Hipotesis benar jika Hipotesis
alternative (Ha) terbukti kebenarannya.

1. Hipotesis Alternative (Ha) : adanya hubungan antara Pola Pembelajaran Nilai


dan Norma dalam Mata Pelajaran Sosiologi Terhadap Perubahan Sikap Siswa
Di MA Madinatunnajah Kota Cirebon

2. Hipotesis Nihil (Ho) : Tidak adanya hubungan antara Pola Pembelajaran Nilai
dan Norma dalam Mata Pelajaran Sosiologi Terhadap Perubahan Sikap Siswa
Di MA Madinatunnajah Kota Cirebon.