Anda di halaman 1dari 3

Proses Pembelajaran

Karena penyampaian informasi melibatkan pembelajaran, sangat penting untuk


merubah metode pembelajaran dengan memastikan bagaimana cara yang baik untuk
menyampaikan informasi dan dapat diingat dalam jangka panjang. Memastikan bahwa
seorang klien mematuhi aturan perawatan di rumah menjadi bagian yang paling sulit dari
terapi. Menurut taksonomi tujuan pendidikan Bloom, hirarki enam tingkat pencapaian
pembelajaran berlangsung dari kurangnya informasi sampai pencapaian tujuan (lihat Gambar
16-1). Tingkatan tersebut berturut-turut adalah pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis,
sintesis, dan evaluasi. Kebanyakan pembelajaran saat ini berada pada tahap terendah yaitu
pada tahap pengetahuan. Setelah menguasai tahap ini, pembelajar hanya dapat
mendefinisikan, mengulangi, atau menyebutkan fakta; hanya sebagian pembelajaran dari
keseluruhan. Kata yang mungkin digunakan dalam menyatakan hasil kognitif dari program
pengajaran dimulai dengan tingkat pengetahuan hingga evaluasi tercantum dalam Gambar
16-2. Jika materi hanya diajarkan di tingkat yang lebih rendah dari taksonomi, proses
pembelajaran menjadi tidak lengkap.

Implikasi dari pembelajaran parsial terlihat jelas ketika diterapkan pada metode
kontrol plak. Rata-rata orang tahu dan memahami bahwa menyikat gigi dan flossing adalah
tindakan membersihkan gigi. Mereka dapat mendemonstrasikan cara menggosok gigi. Tapi
berapa banyak orang yang dapat mengevaluasi efektivitas dari upaya mereka? Berapa banyak
yang dapat menganalisis di mana letak masalah, dan berapa banyak yang dapat mengusulkan
inovasi untuk program kebersihan mulut pribadi mereka yang mungkin lebih efektif?

Mengajar di tingkat taksonomi Bloom yang lebih tinggi diperlukan untuk mencapai
jenis pembelajaran ini. Pada setiap tingkat kognitif, pembelajaran harus menampilkan
penjelasan tentang subjek, diikuti secara berurutan dengan demonstrasi, aplikasi, feedback,
dan penguatan (reinforcement). Penggunaan langkah-langkah tersebut dalam semua
pembelajaran membantu memastikan penguasaan topik atau keterampilan yang diinginkan.
Berpindah dari satu tingkat kompleksitas ke tingkat berikutnya, pelajar memperlihatkan
secara kontinu fakta-fakta yang saling berkaitan. Bahkan setelah berhasil menguasai semua
tingkat hierarki Bloom, bagaimanapun, sangat mungkin bahwa keterampilan atau bidang
studi yang dipelajari dalam lingkungan akademis atau klinis tidak diterapkan di rumah, di
lingkungan yang lebih informal secara rutin. Penerapan sehari-hari hanya terjadi setelah
seseorang telah mempelajari informasi yang cukup untuk menentukan bahwa manfaat dari
penerapannya dan menjadi termotivasi. Pendidikan melibatkan pembelajaran; penerapan
yang melibatkan motivasi diri. Pada titik ini, pengetahuan perlu dimasukkan ke dalam sistem
nilai klien yang sudah ada.

Memasukkan Pengetahuan ke dalam Sistem Nilai

Sistem dan nilai kepercayaan pribadi sangat memengaruhi perilaku individu. Nilai
dikembangkan melalui penerapan pengetahuan, yang mengharuskan seorang individu
memiliki cukup fakta untuk mengembangkan konsep dan nilai. Konsep ini digambarkan
secara grafis pada Gambar 16-3. Dasar piramida terdiri dari fakta, yang merupakan dasar dari
semua pembelajaran. Kadang-kadang kekosongan besar atau bahkan kesalahan informasi
terjadi di dalam tahap ini. Namun, terlepas dari kelengkapan atau keakuratannya, substratum
informasi ini adalah di mana konsep dibentuk dengan menggunakan kekuatan penalaran
seseorang. Suatu konsep mengorganisasi dan mengklasifikasi fakta menjadi kebiasaan atau
pola pribadi yang bermakna. Semakin banyak jumlah fakta yang benar yang didapat dari
sumber yang berbeda, semakin besar kemungkinan mengembangkan konsep yang benar. Di
atas fakta-fakta dan konsep-konsep pendukung ini ada nilai-nilai lain — keyakinan dan
pengetahuan yang penting bagi individu.

Nilai-nilai ini sama kuatnya dengan informasi pendukung. Perlu dicatat bahwa tidak
semua dental value bersifat positif. Misalnya, untuk individu yang hidup dalam kondisi
kurang mampu yang tidak menghargai dental value dari sudut pandang kesehatan atau sosial
atau di mana hilangnya gigi dianggap normal, fakta, konsep, dan nilai bersifat negatif.
Persepsi negatif ini dapat memotivasi nonpartisipasi dalam program kesehatan gigi. Juga
telah dicatat bahwa hubungan klien dengan dokter gigi mempengaruhi tingkat kecemasan
mereka dan menghasilkan kepatuhan dengan praktek perawatan kesehatan mulut yang
disarankan. Dokter gigi harus berhati-hati mempertimbangkan kemungkinan fakta dan
konsep yang dapat membentuk piramida ini ketika mencoba mengubah sistem value klien-
sistem value yang berlaku hanya untuk klien individu.

Nilai bersifat tidak netral tetapi berkaitan dengan perasaan pribadi. Ketika mereka
ditantang, mereka menghasilkan respons yang emosional dan defensif. Membuat perubahan
dalam perilaku seseorang seringkali sangat sulit dan menyebabkan konflik. Hayakawa
memperluas pemikiran ini ketika dia menulis, "proses belajar, yang juga merupakan proses
pertumbuhan, pada dasarnya adalah alat untuk menyelesaikan konflik ... sebuah konflik harus
selalu hadir sebelum pembelajaran... konflik adalah pengiring yang diperlukan untuk
mengembangkan kepribadian, dan asimilasi progresif dari rangsangan yang mengganggu
adalah satu-satunya cara praktis yang dapat mempertahankan kestabilan organisasi. Tanpa
konflik, tidak ada hasil dari pembelajaran. "

Oleh karena itu, dokter gigi perlu memahami bahwa karena adanya sistem nilai klien
tersebut, maka resistensi adalah hal normal dan perubahan permanen dalam beberapa bentuk
perilaku sulit untuk dicapai. Resistensi yang sama dari klien terjadi pada saat di tempat
praktik, atau di masyarakat, ketika program kesehatan baru diusulkan. Misalnya, disiplin gula
sulit untuk ditanamkan karena konsep dan nilai-nilai yang dibentuk pada masa kanak-kanak
oleh media dan banyaknya rak-rak berisi permen di supermarket; Upaya fluoridasi air telah
gagal di beberapa daerah karena rentetan kesalahan informasi dan fakta yang terdistorsi, yang
mengarah ke nilai-nilai yang dipegang kuat oleh mereka yang memilih menentang fluoridasi.
Resistensi terhadap perubahan semacam itu seharusnya tidak mencegah pendidikan dan
informasi tersalurkan dan tidak menekanan program pengendalian penyakit mulut yang lebih
efektif. Dalam pencarian ini, bagaimanapun, kita harus berhati-hati bagaimana kita mendekati
sistem nilai klien kami atau komunitas. Kita harus menghormati kenyataan bahwa orang lain
memiliki sistem nilai mereka sendiri yang terkait dengan ekspektasi mereka sendiri yang
mungkin sangat berbeda dari kita.